Anda di halaman 1dari 5

3.

Lawang Sewu (Semarang)


Lawang Sewu merupakan gedung gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota
Semarang, Jawa Tengah. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische
Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.
Terletak di bundaran Tugu Muda.

Lawang Sewu

Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama Het hoofdkantor van de
Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (yang digunakan untuk Kantor Pusat NIS). pada
mulanya kegiatan administrasi perkantoran dilakukan di Stasiun Semarang Gudang (Samarang
NIS), namun dengan berkembangnya jalur jaringan kereta yang begitu pesat, mengakibatkan
bertambahnya kebutuhan personil teknis dan tenaga administrasi yang besar
Pada akibatnya kantor NIS di stasiun Samarang NIS tidak lagi memadai. Berbagai solusi dilakukan
NIS antara lain menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai solusi sementara.
Apalagi letak stasiun Samarang NIS berada di dekat rawa sehingga urusan sanitasi dan kesehatan
pun menjadi pertimbangan penting. Maka, diusulkanlah alternatif lain: yaitu membangun kantor
administrasi di lokasi baru. kemudian dibangunlah Lawang Sewu di ujung Bodjongweg Semarang
(sekarang Jalan Pemuda).
Lawang Sewu saat masih dipakai sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). (Dok. Museum Kereta

Api Semarang/Repro/Deddy Sinaga)

Jakarta, CNN Indonesia -- Lawang Sewu kerap diidentikkan dengan ruang bawah tanahnya,
berikut cerita-cerita angker yang dilekatkan. Namun demikian itu tak menafikan keindahan
Lawang Sewu secara keseluruhan.

Ruang bawah tanah Lawang Sewu, kini lembap, digenangi air, berlangit-langit rendah, dan
gelap. Pernah jadi penjara bagi para pejuang kemerdekaan, fungsinya sebenarnya dari
ruang tersebut adalah sebagai drainase, saluran air.

“Pengunjung dibolehkan ke ruang bawah tanah tak lain agar dapat mengetahui kecerdasan
arsitektur zaman dulu,” ujar Waluya, pemandu wisata di Lawang Sewu.

Lawang Sewu, yang berada di Simpang Lima Semarang, berdiri berdampingan dengan
bangunan-bangunan lama yakni Gereja Katedral Belanda, Museum Mandala Bhakti (dahulu
Pengadilan Hindia Belanda), dan Wisma Perdamaian (dahulu kantor residen). Di tengah-
tengah adalah Wilhelminaplein
(Taman Wilhelmina) tempat
PILIHAN REDAKSI berdirinya Tugu Muda.
 Ada 3922 Anak Tangga Menuju Surga di Hawaii
Di sini pengunjung dapat melihat-
 Clown Motel, Hotel Badut Seram di Tengah Gurun
lihat museum, galeri, serta peta-peta
 Tak Semua Orang Menikmati Hangatnya Hawaii dan foto-foto zaman dulu. Kota Lama
 Industri Wisata Paris Berusaha Bangkit Semarang berada di timur laut
Lawang Sewu, merentang sepanjang
2,7 kilometer dari Simpang Lima
hingga Jembatan Berok, menyimpan 101 bangunan cagar budaya, termasuk di dalamnya
Gereja Blenduk.

Pembangunan Lawang Sewu oleh Hindia Belanda berlangsung sepanjang 1904-1907 untuk
Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat
Administrasi Kereta Api - NIS). NIS menunjuk Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J.
Quendag dari Amsterdam sebagai arsiteknya.

Pembangunannya dilakukan dalam empat tahap. Satu tahap satu gedung. Gedung yang
pertama dibangun adalah bagian belakang, pada 1904, sebagai tempat percetakan tiket
kereta api. Gedung berikutnya adalah gedung utama, gedung dengan kaca patri indah, pada
1905-1907, yang jadi ruang direksi PT Kereta Api.

Kompleks bangunan ini dikenal masyarakat dengan sebutan “Lawang Sewu” atau pintu
seribu karena jumlah pintu dan jendelanya banyak, sehingga disebut “sewu” (seribu, bahasa
Jawa untuk menyebut sesuatu yang banyak sekali). Sedangkan jumlah persisnya 928 pintu
dan jendela.

Banyaknya jumlah pintu dan jendela tak lepas dari iklim Indonesia yang tropis, agar sirkulasi
udara lancar. Gedung ini juga punya koneksi antarruang dengan pertimbangan keamanan.

Satu lokasi favorit berfoto saat ke Lawang Sewu adalah dinding kaca patri berukuran tinggi
lebih dari 2 meter.

Kaca Patri di Lawang Sewu, Semarang (CNN Indonesia/Silvia Galikano)

Kaca yang terbagi menjadi empat panel besar ini mencerminkan cerita eksploitasi besar-
besaran hasil alam Nusantara. Flora dan fauna kita diangkut kereta dan dikumpulkan di
kota-kota pelabuhan Pulau Jawa sebelum diperdagangkan di dunia, untuk memperkaya
Belanda dan keluarga kerajaannya di bawah perlindungan Dewi Fortuna.

Detailnya seperti berikut: Di panel tengah-bawah berjajar Dewi Fortuna, si dewi


keberuntungan yang berbaju merah, roda bersayap lambang kereta api, dan Dewi Sri, dewi
kemakmuran Suku Jawa. Panel di atasnya adalah tumbuhan dan hewan yang
menggambarkan Nusantara sebagai negeri kaya akan hasil bumi berikut simbol kota-kota
dagang Batavia, Surabaya, dan Semarang.

Simbol kota-kota dagang Belanda, yakni Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag, berderet di
panel kiri. Panel kanan menampilkan ratu-ratu Belanda.

Tak berhenti di situ daya tarik Lawang Sewu. Waluya menjelaskan, dari sisi arsitektur,
gedung ini dibangun tanpa menggunakan semen, melainkan adonan bligor, atau ada juga
yang menyebutnya pese, yakni istilah lokal untuk menyebut campuran pasir, kapur, dan batu
bata merah.

Kelebihan bligor dibanding semen adalah bangunan jadi tak mudah retak, tak heran jika tak
ditemukan retakan di Lawang Sewu. Bligor juga lebih awet dan menyerap air, sehingga
ruang dalamnya sejuk.

Konstruksinya juga tanpa besi. Atapnya dibuat berbentuk melengkung setengah lingkaran
tiap setengah meter untuk mengurangi tekanan. Struktur atap dari bata yang disusun miring
layaknya struktur jembatan.

“Kalau menggunakan besi, tekanannya berat,” kata Waluya.

Gedung yang paling akhir dibangun tahun 1916, kali ini menggunakan besi dan material
lokal. Bata, genting, kaca, hingga ubin, semua buatan Semarang dan sekitarnya.

Alasannya, saat itu di Eropa sedang Perang Dunia I. Pengiriman barang dari Belanda
lambat, sehingga barang-barang lokal pun jadi prioritas.

Pendudukan Jepang

Pada zaman Jepang, bangunan ini dijadikan markas militer Jepang, Kempetai dan
Kidobutai. Saat itulah pecah Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945)
antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai.
Pertempuran ini dimenangkan AMKA dengan korban jiwa 2000 orang Semarang dan 850
orang Jepang.

Untuk mengenang pahlawan yang gugur pada Pertempuran Lima Hari di Semarang itulah
dibangun Tugu Muda pada 1951 di Wilhelminaplein yang ada di seberang Lawang Sewu.
Selain itu, bekas makam di area depan Lawang Sewu diberi penanda berupa potongan rel
kereta api yang dibenamkan di tanah secara vertikal dan 20 centimeter menyembul keluar.

Taman Tengah Lawang Sewu, Semarang (CNN Indonesia/Silvia Galikano)



Setelah Kemerdekaan, bangunan ini berfungsi sebagai kantor Djawatan Kereta Api
Repoeblik Indonesia (DKARI), Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer
(Kodam IV/Diponegoro), dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan
Jawa Tengah sampai 1994. Dari 1994 hingga sekarang, bangunan yang juga masuk
dalam daftar bangunan cagar budaya ini kosong.

Lawang Sewu kini dikelola PT KAI dan menjadi atraksi wisata sejarah yang menarik
di Kota Semarang.

Catatan bagi hendak ke Lawang Sewu, jangan segan-segan menggunakan


pemandu wisata karena banyak informasi tak tertulis di brosur disampaikan langsung
oleh pemandu. Jangan ragu juga untuk bertanya banyak-banyak

Bagi yang ingin mengunjungi ruang bawah tanah, mesti bersabar, karena ruang
tersebut kini sedang dalam perawatan dan baru akan dibuka untuk umum tahun
depan