Anda di halaman 1dari 21

Laboratorium Ilmu Dermatologi & Venereologi Journal Reading

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Clinical Practice Update: Pediculosis Capitis

Oleh

Ermina Adriani
NIM. 1810029028

Pembimbing

dr. Darwis Toena, Sp.KK, FINSDV, FAADV

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2018
Pembaharuan Praktis Klinis : Pedikulosis Kapitis
Britanny Bohl, Jessica Evetts, Kymberli McClain, Amanda Rosenauer, dan Emily
Stellitano

Abstrak
Tinjauan bukti terbaru mengenai modalitas pengobatan primer kutu kepala
menunjukkan peningkatan resistensi terhadap regimen yang ada sekarang. Terapi
baru dan alternatif sekarang tersedia. Algoritme terapi telah dibuat untuk
memastikan keamanan dan efikasi setiap pengobatan, dan juga untuk membantu
klinisi melalui navigasi regimen. Melalui pencarian jurnal online, 59 artikel
dipilih untuk tinjauan ini. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Medline,
Ebsco Host dan CINAHL, dengan kata kunci pencarian “Pedikulosis kapitis” dan
“kutu kepala” di judulm abstrak dan indeks. Meta analisis dan percobaan klinis
terkontrol dilihat dengan bobot lebih besar apabila mereka mempunyai jumlah
sampel lebih besar, signifikan secara statistik, dan tidak bias. Infestasi resisten
dilaporkan dalam lokalitas, perubahan regimen pengobatan diindikasikan, dan
tatalaksana alternatif dipertimbangkan. Studi terbaru dan persetujuan FDA (U.S
Food and Drug Administration) dapat merubah pilihan pengobatan yang ada
untuk Pedikulosis kapitis, termasuk benzil alkohol, ivermectin topikal, spinosad,
dan LouseBuster. Terlebih lagi, manajemen lingkungan dan pencegahan harus
dilakukan untuk mencegah reinfestasi dan untuk mencegah penyebaran kutu
kepala. Studi lebih lanjut direkomendasikan untuk menentukan keamanan jangka
panjang dari agen terapi baru dan alternatif.

Pendahuluan
Infestasi pedikulosis kapitis merupakan suatu masalah kesehatan yang
sering ditemukan, dengan jumlah kasus menyebar secara ratusan sampai ribuan di
seluruh dunia. Di Amerika Serikat, infestasi paling sering ditemukan pada anak
usia sebelum sekolah yang mendatangi tempat penitipan anak, murid sekolah
dasar, dan anggota serumah anak-anak yang terkena infestasi ini (Bowden, 2012).
Insidensinya meningkat, sebagian besar berhubungan dengan peningkatan
resistensi terhadap pengobatan dengan terapi lini pertama (Connolly, 2011;

1
Durand et al., 2012). Resistensi juga meningkat karena pengobatan yang tidak
mencukupi dan berlebihan. Produk pedikulisid yang mudah didapatkan di apotek
dan toko membuat manajemen klinis dan selektifitas sangat susah. Tinjauan ini
dimaksudkan untuk menunjukkan update informasi mengenai produk baru, dan
juga perubahan efikasi pengobatan yang sudah diketahui. Selain itu, diagnosis
adekuat, pertimbangan terapi alternatif, rekomendasi lingkungan dan edukasi
keseluruhan adalah titik poin tatalaksana pedikulosis kapitis di pusat kesehatan
primer.

Deskripsi Parasit
Kutu parasit, Pediculosis capitis, berukuran panjang 1-3 mm (Gunning,
Pippit, Kiraly, & Sayler, 2012). Warna bervariasi berdasarkan warna rambut dari
pejamu dan mempunyai rentang dari putih keabu-abuan ke warna yang lebih
gelap. Pediculosis kapitis hanya berinfestasi pada manusia. Masa hidup rerata
kutu pada kulit kepala manusia adalah 30 hari; tanpa pejamu, kutu akan mati
dalam 1-2 hari. Kutu perempuan dewasa dapat bertelur 8-10 nits perhari. Nits
adalah telur yang ditelurkan dalam jarak 1mm dari kulit kepala dimana
selanjutnya mereka pecah (Centers for Disease Control and Prevention [CDC],
2010). Mereka sangat sulit dilhat karena berkamuflase dengan rambut dan paling
gampang dilihat di garis rambut (Frankowski, Bocchini, & Council on School
Health and Committee on Infectious Diseases, 2010). Terkadang disalah kira
sebagai ketombe, ukuran kutu bervariasi dari 0,3 mm sampai 0,8 mm. Setelah 7-
12 hari, telur pecah dan melepaskan nimfa (Frankowski et al., 2010). Nimfa
tumbuh menjadi kutu dewasa 7 hari setelah pecah dari telur (CDC, 2010). Kutu
mendapatkan makanannya setiap 3-4 jam sekali dengan menginjeksikan saliva
yang memulai proses anti koagulasi dan vasodilatasi di kulit kepala; pruritus
adalah hasil dari reaksi terhadap saliva yang diinjeksikan (Frankowski et al.,
2010)

Epidemiologi
Pedikulosis kapitis adalah parasit yang menyerang individual di hampir
semua kelompok usia di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, anak-anak usia taman

2
kanak-kanan dan usia sekolah memiliki angka prevalensi infestasi paling tinggi
(Frankowski et al., 2010), di estimasikan sebanyak 6 sampai 12 juta kasus
pertahunnya (CDC, 2010). Pada beberapa area, seperti Brazil, reinfestasi dapat
terjadi 15-19 kali dalam setahun (Feldmelen & Heukelbach, 2008). Infestasi kutu
kepala disebarkan melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Kontak
kepala dengan kepala adalah bentuk transmisi paling sering. Sangat jarang
transmisi terjadi melalui penggunaan pakaian/kain, handuk, sisir, atau seprai yang
terinfestasi (CDC, 2010).

Manifestasi klinis
Kutu rambut dan nits ditemukan hampir secara ekslusif di kulit kepala,
terutama di daerah sekitar dan belakang telinga, dan juga di dekat garis leher.
Gejala paling sering dari infestasi adalah pruritus kulit kepala, walaupun reaksi ini
disebabkan oleh hipersensitivitas lambat enzim pada saliva kutu. Gejala ini
biasanya bertambah intens dalam 3-4 minggu setelah infestasi pertama. Pasien
dengan infestasi berulang akan mengalami pruritus dalam waktu 1-2 hari setelah
pajanan. Kebanyakan pasien akan datang ke dokter dengan keluhan gatal di kulit
kepala dan iritasi paling sering di daerah oksipital dan area di belakang telinga,
perasaan geli karena ada sesuatu yang bergerak di rambut, atau iritabilitas dan
kesusahan tidur karena kutu kepala menjadi lebih aktif padamalam hari
(Connolly, 2011). Reaksi gigitan biasanya sangat ringan dan ditemukan sangat
jarang di antara rambut. Karena rasa gatal yang intens, eritema sekunder,
persisikan, dan ekskoriasi dari kulit dapat terjadi karena garukan. Pada infestasi
tetap berkepanjangan, kulit dapat berlikenifikasi dan hiperpigmentasi. Pada anak-
anak, infestasi kutu kepala adalah yang pertama kali dicurigai apabila anak terlihat
menggaruk kepalanya dengan intens. Kelesuan dan performa di sekolah yang
buruk juga dapat menjadi tanda, mengindikasikan adanya distraksi pada anak.
Pada kasus kasus jarang, siklus gatal-garuk dapat berujung pada infeksi sekunder
seperti impetigo, selulitis dan pioderma (CDC, 2010).

3
Diagnosis
Terdapat beberapa perspektif kontroversial mengenai diagnosis kutu
kepala. Tetapi, penelitian dan opini ahli mengarahkan klinisi terhadap
rekomendasi spesifik. Seseorang dapat dianggap terinfestasi apabila kutu hidup
ditemukan saat inspeksi kulit kepala. Adanya nits terkadang di salah gunakan
untuk diagnosis. Nits dapat tidak hidup dan terkadang tetap ada sampai beberapa
hari setelah telur menetas. Tetapi, dokter harus mempertimbangkan nits sekitar 1
cm dari kulit kepala masih mungkin hidup. Adanya nits dalam jarak sedekat ini
dengan kulit kepala harus meningkatkan kecurigaan pemeriksa dan menjadi tanda
untuk pencarian keseluruhan kutu yang masih hidup. Diagnosis dan
penatalaksanaan harus dilakukan hanya pada individu dengan kutu yang masih
hidup (Feldmeier, 2010; Finlay & MacDonald, 2008; Frankowski et al., 2010;
Goundrey-Smith, 2011; Gunning et al., 2012; Mumcuoglu, Meinking, Burkhart,
& Burkhart, 2006; Tebruegge, Pantazidou & Curtis, 2011).
Deteksi kutu hidup dilakukan dengan inspeksi visual langsung, sisir
kering, atau sisir basah. Inspeksi visual meliputi membelah rambut dengan stik
skrining atau objek linear, seperti spatel lidah atau alat tulis, sembari mencari kutu
yang masih hidup. Utilisasi metode ini menjadikan susahnya pemeriksaan secara
sistematik. Deteksi kutu menggunakan sisir serit ditemukan lebih efektif secara
signifikan, dan dua kali lebih cepat daripada deteksi menggunakan inspeksi visual
(Mumcuoglu, Friger, Ioffe-Uspensky, Ben-Ishai, & Miller, 2001).
Diagnosis kutu rambut paling baik dilakukan dengan menyisir rambut
individual menggunaan sisir serit (Balcioglu et al., 2008; Feldmeier, 2012; Finlay
& MacDonald, 2008; Frankowski et al., 2010; Goundrey-Smith, 2011; Gunning et
al. 2012; Ibarra, 2010; Jahnke, Bauer, Hengge, & Feldmeter, 2009; Mumcuoglu et
al., 2001, 2006; Tebruegge et al., 2011) Sisir ini dibuat khusus untuk deteksi kutu
dan memiliki jarak kurang dari 3mm antara giginya. Pemeriksaan ini
direkomendasikan dilakukan pada rambut basah, karena lingkungan yang basah
dapat memperlambat gerak kutu, membantu deteksi mereka. Sisir harus disisirkan
sampai ujung giginya menyentuk kulit kepala dan disisirkan di rambut dari akar
ke ujung rambut (lihat gambar 1). Setelah setiap sisiran, sisir harus dilihat untuk
mencari kutu. Waktu yang cukup diperlukan untuk penyisiran yang teliti agar

4
tidak ada kutu hidup yang terlewat. Tempat predileksi yang disenangi kutu
termasuk belakang rambut, area belakang telinga, retroaurikular, dan tengkuk
leher (Feldmeier, 2012; Frankowski et al., 2010; Gunning et al., 2012; Madke &
Khopkar, 2012; Shmidt & Levitt, 2012).

Tatalaksana Rekomendasi
Modalitas pengobatan bervariasi, dari pediculicides yang dipelajari dengan
baik hingga pengobatan rumahan yang belum terbukti. Pembaruan ini akan
membahas rejimen pengobatan alternatif yang direkomendasikan, meliputi
perawatan farmakologis dan non-farmakologis. Hanya yang paling relevan
dengan praktik klinis sekarang yang akan dibahas; pengobatan rumahan, seperti
dengan mayonais atau alat rumah tangga lainnya, tidak akan dibahas.
1. Permetrin
Permetrin (Nix) pertama kali dikenalkan pada tahun 1986 hanya dengan resep dan
dapat didapatkan tanpa resep pada tahun 1990 (Frankowski et al., 2010).
Pengobatan ini bekerja dengan menghambat influks ion sodium, menyebabkan
paralisis kutu dan kematian (Eisenhower & Farrington, 2012). Penelitian yang
mendukung sifat amat permetrin membuatnya menjadi agen lini pertama
walaupun resistensi regional telah dilaporkan (Bowerman, Gomez, Austin, &
Wold, 1987; Brandenburg et al., 1986; Diamantis, Morrell, & Burkhart, 2009;
Finlay & MacDonald, 2008; Frankowski et al., 2010; Gunning et al., 2012;
Heukelback, Pilger, Khakban, Ariza, & Feldmeler, 2008; Meinking et al., 2002;
Meinking et al., 2007; Taplin, Meinking, Castillero, & Sanchez, 1986). Tetapi,
penelitian terbaru menemukan typing DNA dari kutu pada beberapa lokasi di
Amerika Serikat dan Kanada, angka mutasi T1 (mutasi gen yang paling
bertanggung jawab pada resistensi permetrin) bervariasi antara 84,4% dan 99,6%.
Sangat penting untuk diingat bahwa penelitian hanya memeriksa jumlah kecil
kutu dari hanya 12 negara bagian Amerika serikat dan mempelajari potensial
terhadap resistensi dibanding penilaian klinis resistensi sebenarnya (Yoon et al,
2014). Informasi mengenai resistansi regional, apabila ada, dapat diakses melalui
situs web CDC atau departemen kesehatan lokal.

5
Untuk pengobatan, krim diberikan pada rambut dan kulit kepala selama 10 menit
lalu dibilas dengan air. Pemberian kedua dianjurkan diberikan 7-10 hari
setelahnya untuk memastikan penyembuhan. Permetrin aman untuk bayi 2 bulan
dan lebih, dan masuk dalam kategori B untuk kehamilan. Stough dan kolega
melaporkan angka kesuksesan 43-45% untuk permetrin (Stough, Shellabarger,
Quiring, & Gavrielsen, 2009). Diantara pedikulisid yang tersedia, permetrin
merupakan yang paling murah, bersama dengan piretrin atau piperonil butoksida
dengan biaya $20.

2. Piretrin/piperonil butoksida (PPB)


Seperti permetrin, piretrin/piperonil butoksida (PPB) 4% (Pronto, RID) juga telah
dilaporkan resistensinya. Walaupun begitu, PPB mempunyai sifat aman yang
telah diketahui dan masih lanjut direkomendasikan sebagai terapi lini pertama
walaupun resistensi regional telah dilaporkan (Diamantis et al., 2009; Finlay &
MacDonald, 2008; Frankowski et al., 2010; Gunning et al., 2012). Resiko
teoretikal sensitivitas silang dengan alergi tumbuhan, seperti ragweed dan
krisantemum ditemukan, tetapi jarang (Prescriber’s Letter, 2010). Tetapi, pada
kasus alergi tumbuhan yang parah, termasuk masuk akal untuk
merekomendasikan permetrin dibandingkan dengan PPB topikal. PBB bekerja
dengan cara yang mirip dengan permetrin, tetapi tambahan piperonil butoksida
menghambat metabolisme piretrin oleh kutu, meningkatkan waktu bunuh, dan
karena itu, membuatnya lebih efektif (Elsenhower & Farrington, 2012).
Sebelum aplikasi, rambut harus dicuci bersih dengan sampo dan dikeringkan
dengan handuk. Produk diberikan dan dibilas setelah 10 menit. Pemberian kedua
dilakukan 7 hari setelah pemberian pertama untuk memastikan penyembuhan.
PBB dapat diberikan pada pasien usia 2 tahun dan lebih tua, dan termasuk dalam
kategori C obat kehamilan. Seperti permetrin, biaya pengobatannya sekitar $20.

3. Malation
Losion malation 0,5% (Ovide) adalah agen ovisidal yang harus diresepkan oleh
dokter. Malation merupakan organofosfat lemah yang menghambat aktivitas
kolinesterase kutu kepala, menyebabkan toksisitas akut yang diikuti kematian sel

6
(Taro Pharmaceuticals, 2013). Malation telah dibuktikan aman dan efektif dengan
angka resistensi rendah pada usia 6 tahun dan keatas (Chosidow et al., 2009;
Frankowski et al., 2010; Gunning et al., 2012; Lebwohl, Clark & Levitt, 2007;
Meinking et al., 2004; 2007; Nofal, 2010; Taro Pharmaceuticals, 2013).
Penggunaan losion malation di kontraindikasikan pada neonatus dan bayi karena
terdapat peningkatan peremabilitas kulit kepala, yang dapat berujung pada
peningkatan absorpsi (Taro Pharmaceuticals, 2013). Obat ini masuk dalam
kategori B obat kehamilan (Taro Pharmaceuticals, 2013).
Losion malation harus diberikan pada rambut kering dalam jumlah cukup untuk
membasahi rambut dan kulit kepala. Malasion bersifat rentan terbakar, sehingga
pengering rambut dan perangkat penghasil panas lain tidak boleh digunakan.
Direkomendasikan setelah pemberian losion, rambut harus dikeringkan dengan
udara ruangan saja. Setelah 8-12 jam, rambut dibersihkan dengan sampo, dibilas
dan sisir serit digunakan untuk melepaskan kutu-kutu yang mati dan telur.
Pemberian kedua dilakukan setelah 7-9 hari dari pemberian pertama (Lebwohl et
al., 2007; Taro Pharmaceuticals, 2013). Harga Ovide adalah $185 per botol.

4. Benzil Alkohol
Losion benzil alkohol 5% (Ulefsia) telah diizinkan oleh FDA untuk indikasi kutu
kepala pada pasien usia 6 bulan dan lebih tua sejak 2009 (FDA, 2009). Zat ini
bekerja dengan menghambat penutupan spiral respirasi melalui obstruksi, yang
menyebabkan asfiksiasi (Lexi-Comp Online, 2012; Shionogi Pharma, Inc., 2012).
Obat yang harus diresepkan dokter ini merupakan alternatif pedikulisid non-
neurotoksik untuk orang tua yang khawatir tentang pemberian agen-agen
pedikulisid.
Dalam masalah keamanan, benzil alkohol diklasifikasikan kategori B
untuk obat kehamilan. Apabila pengobatan menggunakan benzil alkohol, neonatus
dapat beresiko terkena “Gasping Syndrome” karena barrier kulit yang imatur dan
tingginya rasio permukaan kulit terhadap massa tubuh (Shionogi Pharma, Inc.,
2012). Walaupun eksposur sistemik benzil alkohol dalam penggunaan secukupnya
rendah dibanding yang dilaporkan dalam kasus dengan “gasping syndrome”,

7
jumlah minimal benzil alkohol dimana toksisitas terjadi masih belum diketahui
(Shionogi Pharma, Inc., 2012).
Losion benzil alkohol harus diberikan pada rambut yang kering sampai
tersaturasi. Setelah 10 menit, losion harus dibilas bersih dari rambut dan kulit
kepala dengan air. Selanjutnya rambut dapat dibersihkan dengan sampo, dan
apabila diinginkan, sisir serit dapat digunakan untuk memberihkan kutu yang
mati. Benzil alkohol membunuh kutu tetapi tidak ovisidal, sehingga pemberian
kedua diperlukan satu minggu setelah pemberian pertama (Meinking et al., 2010).
Obat ini diklasifikasikan kategori B untuk kehamilan. Penelitian melaporkan
angka kesuksesan 75%-76,2% losion benzil alkohol pada hari 14 setelah
pemberian pertama (Meinking et al., 2010). Setiap botoh 8 ons berharga $63
sampai $81, dan diperlukan sampai 6 botol setiap pemberiannya tergantung
panjang rambut.

5. Spinosad
Spinosad (Natroba) merupakan pedikulisid topikal baru yang efektif dan
nyaman digunakan untuk pengobatan kutu rambut (Stough et al., 2009). Spinosad
adalah produk fermentasi dari Saccharopolyspora spinosa, yang pertama kali
diidentifikasi dan dikembangkan dari sampel tanah yang diambil di Karibian pada
tahun 1982. Zat ini telah digunakan sebagai produk insektisida sejak 1997 (Cole
& Lundquist, 2011). Spinosad memiliki sifat ovisidal pada embrio nit (Cole &
Lundquiest, 2011), dan memprovokasi hipereksitasi dan kematian dengan
paralisis pada kutu yang hidup (Gunning et al., 2012). Spinosad tidak memerlukan
penyisiran nit karena sifat ovisidalnya (Stough et al.m 2009)> Obat ini
diindikasikan pada anak-anak berusia 6 bulan dan lebih tua, dan harus dihindari
pada anak bayi kurang darai 6 bulan karena mengandung benzil alkohol;
penelitian pada anak usia 6 bulan keatas mengindikasikan tidak adanya absorpsi
aktif bahan aktif (ParaPRO, 2015). Zat ini diklasifikasikan sebagai kategori B
pada kehamilan dan harus diberikan dengan resep dokter. Karena bentuknya
suspensi, sangat penting untuk mengocok botolnya dengan baik sebelum
pemberian. Gunning et al. (2012) menganjurkan pemberi untuk menginstruksikan
pasien untuk mengaplikasikan obat ini dalam jumlah cukup ke rambut yang

8
kering selama 10 menit, bilas bersih, dan diulang dalam 7 hari hanya apabila kutu
yang hidup masih terlihat. Spinosad telah memperlihatkan kesuksesan terapi
setinggi 84% sampai 87% (Stough et al., 2009). Harga dari obat ini sekitar $220.

6. Ivermectin topikal
Losion ivermectin 5% (Sklice) juga baru saja diizinkan oleh FDA untuk
digunakan pada pengobatan kutu kepala. Obat ini bekerja dengan terikat secara
selektif ke kanal klorida berpintu glutamat pada sel saraf dan otot parasit,
menyebabkan paralisis dan kematian kutu (Meinking, Mertz-Rivera, Vellar, &
Bell, 2012). Izin dikeluarkan pada tahun 2012 untuk indikasi kutu kepala pada
dewasa dan anak-anak usia 6 bulan dan lebih. Penggunaan ivermectin topical
harus dihindari pada bayi dengan usia dibawah 6 bulan karena resiko peningkatan
absorbsi di barrier kulit mereka yang masih imatur (Eisenhower & Farrington,
2012). Selain itu, karena obat ini belum diteliti pada wanita hamil, obat ini
diklasifikasikan kategori C untuk ibu hamil (Eisenhower & Farrington, 2012).
Walaupun efek samping sangat lemah ketika digunakan secara topikal, apabila
secara tidak sadar dikonsumsi, pasien dapat memerlukan cairan parenteran dan
elektrolit, bantuan pernapasan, agen pressor, dan/atau bilas lambung (Eisenhower
& Farrington, 2012).
Losion Ivermectin harus diaplikasikan pada rambut kering dalam jumlah
cukup untuk melapisi rambut dan kulit kepala secara komplit. Selanjutnya rambut
dibilas setelah 10 menit. Informasi pabrik meintruksikan pengobatan tidak boleh
diulang tanpa menghubungi petugas kesehatan sebelumnya (Eisenhower &
Farrington, 2012). Ivermectin memiliki angka kesuksesan 73,8% di hari ke 15
setelah pengobatan (Pariser, Meinking, Bell & Ryan, 2012). Seperti Spinosad,
produk ini harus diberikan dengan resep dokter dan berharga sekitar $270 per
pengobatan.

Pengobatan Alternatif
1. Lindan
Lindan 1% (Kwell) adalah sebuah organoklorida dan pembunuh pelan kutu. Obat
ini tidak lagi direkomendasikan sebagai pedikulisid oleh American Academy of

9
Pediatrics (AAP) (Eisenhower & Farrington, 2012). Sejak 1995, lindan telah
dianggap sebagai terapi lini kedua, artinya hanya dapat digunakan apabila seluruh
terapi lini pertama untuk kutu telah gagal (Thomas et al., 2006; FDA, 2009;
Frankowski et al., 2010). FDA menentukan keuntungan lindan melebihi resiko
yang ada apabila penggunaannya tepat (FDA, 2009). Tetapi, penggunaan
berlebihan, penyalahgunaan, atau ingesti kecelakaan lindan dapat bersifat toksik
ke sistem saraf pusat (CDC, 2010). FDA mengeluarkan panduan kesehatan publik
menghalangi penggunaan lindan topikal pada neonatus dan bayi, anak-anak, usia
tua, orang dengan berat badan dibawah 50kg, orang dengan HIV, orang dengan
penyakit kejang, dan perempuan yang sedang hamil atau menyusui (Elsenhower
& Farrington, 2012; FDA, 2009). Obat ini telah diklasifikasikan dalam kategori C
untuk kehamilan (Humphreys et al., 2008); Meinking et al., 2010). Pemberian
label untuk produk lindan termasuk peringatan untuk menggunakan lindan
sebagai terapi lini kedua dan menyatakan bahwa produk ini harus digunakan
secara hati-hati pada populasi yang disebutkan di atas.
Untuk menggunakannya, aplikasikan 1 ons atau 30 mL (2 ons atau 60mL
maksimal untuk rambut yang panjang atau tebal) Lindan ke rambut kering.
Setelah 4 menit, tambahkan air dan usap hingga berbusa. Langsung bilas dengan
air hangat, tidak panas. Hindari kontak yang tidak diperlukan pada anggota tubuh
yang lain, terutama mata. Setelah pemberian, rambut basah harus disisr dengan
sisir serit untuk membersihkan nits. Jangan gunakan lagi untuk pengobatan ulang.
Berdasarkan siklus kehidupan kutu dan ova, eradikasi tunggal tidak akan
mengeradikasi kutu, pengobatan 2-3 kali mungkin diperlukan, dan FDA telah
menyimpulkan bahwa hal ini tidak aman (Lebwohl et al., 2007). Lindan berharga
$126 sampai $137 untuk botol 60mL.
2. Ivermectin Oral
Ivermectin Oral (Stromectol) tidak diizinkan oleh FDA untuk digunakan sebagai
pengobatan Pediculosis capitis (CDC, 2010; Frankowski et al., 2010). Ini adalah
sebuah obat anti helmintes yang diizinkan FDA untuk pengobatan onkoserkiasis
dan strongiloidiasis, keduanya adalah penyakit parasit. Obat ini telah digunakan
dalam dosis tunggal oral 200 mikrogram/kg, diulang dalam 7-10 hari, dan telah
menunjukkan keefektifitasannya terhadap kutu rambut (Ameen et al., 2010;

10
Chosidow et al., 2010; Currie, Reynolds, Glasgow, & Bowden, 2010;
Dourmishev, Dourmishev, & Schwartz, 2005). Tetapo karena potensi
neurotoksisitasnya ketika melewati sawar otak, direkomendasikan ivermectin
untuk dihindari pada anak-anak dengan berat kurang dari 15 kg (Eisenhower &
Farrington, 2012; Martinez-Diaz & Mancini, 2010). Obat ini juga tidak
direkomendasikan pada perempuan hamil dan menyusui (Madke & Khopkar,
2012), dan termasuk dalam klasifikasi obat kategori C untuk ibu hamil. Biaya
pengobatan dengan obat ini adalah $20-$60, tergantung berat pasien.
3. Trimetroprim-sulfametoksasol
Trimetroprim sulfametoksasol oral (Bactrim, Septra, Sulfatrim), yang banyak
dilaporkan membunuh bakteri siimbiotik di flora normal usus kutu kepala,
sehingga mengganggu kemampuannya untuk mengsintesis vitamin B, telah
diusulkan sebagai obat efektif terhadap kutu kepala. tetapi, FDA masih belum
mengevaluasi penggunaannya (AAP, 2009; Frankowski et al., 2010; Frankowski
& weiner, 2002; Hipolito, Mallorca, Zuniga-Macaraig, Apolinario & Wheeler-
Sherman, 2001). Penggunaan trimetroprim-sulfametoksasol harus
dipertimbangkan terhadap resiko reaksi alergi yang berat dan mengancam jiwa,
seperti Steven-Johnson atau sindrom hipersensitivitas obat (Martinez-Diaz &
Mancini, 2010). Obat ini juga diklasifikasikan sebagai kategori C untuk
kehamilan. Biaya pengobatan ini sekitar $10-$15.
4. Minyak esensial (minyak pohon teh, minyak lavender, minyak eukaliptus)
Tidak ada percobaan klinis terkontrol yang mendemonstrasikan efikasi,
efek samping potensial, atau toksisitas minyak eukaliptus, lavender dan pohon
teh. Karena itu, hal ini tidak dapat direkomendasikan sebagai pilihan pengobatan
(Connolly, 2011; Eisenhower & Farrington, 2012; Tebruegge et al., 2011).
5. Sisir basah
Metode penyisiran basah untuk eradikasi kutu kepala dapat digunakan
dengan kombinasi bersama pedikulisid topikal atau sebagai monoterapi. Studi
acak terkontrol mengevaluasi efektivitasnya sebagai monoterapi masih terbatas.
Tetapi, sebuah meta analisis dari 5 studi tetang penggunaan sisir basah untuk
tatalaksana pedikulosis kapitis menunjukkan angka kesembuhan variabel dari
38% sampai 57% ketika dilakukan setiap 3-4 hari (Tebruegge & Runnacles,

11
2007). Walaupun metode ini banyak menghabiskan waktu dan tenaga,
dibandingkan dengan pengobatan standar dengan pedikulisid, metode ini murah,
tidak invasif, alternatif non-kimia yang mungkin lebih disukai oleh pasien atau
orang tua yang berharap untuk menghindari penggunaan bahan kimia (Connolly,
2011; Gunning et al., 2012).
Untuk melakukan penyisiran basah ini, rambut harus dalam keadaan basan
dan sebuah lubrikan (sesuai pilihan pasien) diaplikasikan untuk memfasilitasi
proses; kondisioner, cuka, atau minyak zaitun bisa digunakan (Connolly, 2011).
Rambut harus disisir secara sistematis dari akar ke ujung rambut dengan sisir
serit. Penyisiran harus dilakukan setiap 3 hari selama 2 minggu, walaupun
penyisiran sampai 24 hari dapat meningkatkan kesembuhan (Gunning et al.,
2012). Tidak ada efek samping yang dilaporkan mengenai metode ini. Metode ini
di anggap sebagai pilihan yang murah dan mudah diakses.
6. LouseBuster
LouseBuster adalah peralatan medis yang dibuat khusus untuk membunuh
kutu dan telur kutu (Rush, Rock, Jones, Malenke, & Clayton, 2011). Alat ini
menawarkan pengobatan alternatif non-kimia untuk kutu kepala, dan
dikembangkan berdasarakan observasi bahwa air panas dan udara panas
membunuh kutu dan telur pada objek. The University of utah pertama kali
mencoba alat ini pada anak-anak usia 6 tahun dan lebih untuk menilai keamanan
dan efikasi; LouseBuster selanjutnya dikembangkan (Elsenhower & Farrington,
2012). LouseBuster berharga $2.000 dan setiap pengobatan seharga $11. Desikasi
kutu dinilai mencapai 94,8% ketika alat digunakan oleh operator yang
berpengalaman dan 93,6% apabila digunakan oleh operator junior (Rush et al.,
2011). Keuntungan dari LouseBuster adalah tidak adanya resistensi (Madke &
Khopkar, 2012) dan satu-satunya efek samping yang dilaporkan adalah
ketidaknyamanan yang dirasakan selama perawatan, yang selanjutnya dapat
dihilangkan dengan menjauhkan pasien dari panas (Goates et al., 2006).
LouseBuster menawarkan alternatif yang aman dan efektif dibanding pengobatan
farmakologis, tetapi studi yang ada masih terbatas dan ketersediaan lokal masih
belum diketahui.

12
Pencegahan
Fokus pencegahan pada pedikulosis kapitis mencankup deteksi, kontrol
dan pengobatan lebih baik untuk mencegah penyebaran infestasi. Manajemen
lingukan juga merupakan sebuah faktor, seperti praktik higienitas standar.
Untuk mencegah penyebaran lebih jauh, edukasi mengenai deteksi dini
harus dipromosikan. Klinisi, perawat di sekolah, dan pekerja komunitas harus
mengedukasi komunitas mengenai tanda dan gejala pedikulosis kapitis. Orang tua
dan klinis perlu pengetahuan mengenai skrining dan diagnosis. Untuk mengurangi
transmisi, komunitas dan anak-anak harus diajarkan mengenai praktik kebersihan
secara keseluruhan, seperti tidak berbagi sisir, sikat, topi, dan bantal.
Ketika seseorang ditemukan terinfestasi, majemen mengikuti pedoman
berdasar bukti harus diimplementasikan. Anak-anak yang diketahui memiliki kutu
kepala harus dirujuk untuk mendapatkan pengobatan dan diekslusi dari sekolah
sampai sehari setelah pengobatan selesai (AAP, 2009). Klinisi yang
merekomendasikan rejimen pengobatan harus berhati-hati dan waspada terhadap
indikasi resistensi infestasi. Peraturan “No Nit Policies” yang mengharuskan
anak-anak untuk bebas dari nits sebelum kembali ke sekolah dan institusi
penitipan anak harus diabaikan. Hanya sebagian kecil anak dengan nits di kulit
kepala mereka juga terinfestasi oleh kutu yang hidup. Mengekslusi anak-anak
dengan nits akan berlanjut pada pengobatan yang tidak diperlukan dan hilangnya
hari produktif kerja/sekolah (Frankowski et al., 2010; Gunning et al., 2012;
Mumcuoglu et al., 2006). Utilisasi dari “no nit policies” tidak efektif dalam
mengkontrol transmisi dan karena itu, tidak direkomendasikan (AAP, 2009).
Penelitian melibatkan sekolah yang mempromosikan “bug-busting”
periodik di sekolah telah menunjukkan pengurangan insidensi infestasi dan
permintaan untuk pengobatan dari staff. Hal ini mengizinkan staff kesehatan
untuk fokus pada keluarga dengan infestasi persisten. Orang tua diinstruksikan
untuk menskrining anak mereka melalui penyisiran basah dengan sisir serit.
Orang-orang yang terinfestasi lalu akan diobati sesuai dengan rekomendasi terapi.
Metode ini efektif dan gampang diterima oleh orang tua (Ibarra et al., 2007).
Ketika seseorang didiagnosis dengan infestasi dan memulai sebuah
regimen pengobatan, seluruh anggota rumah tangga dan yang berkontak dekat

13
harus juga diperiksa apakah ada infestasi. Selanjutnya apabila ditemukan kutu
hidup, mereka harus diobati (Frankowski et al., 2010; Feldmeier, 2010; Gunning
et al., 2012; Madke & Khopkar, 2012; Mumcuoglu et al., 2006; Tebruegge et al.,
2011).

Manajemen Lingkungan
Walaupun cara primer transmisi adalah melalui kontak kepala dengan
kepala, terdapat debat mengenai potensial reinfestasi dari sumber fomite. Karena
alasan ini, disinfestasi lingkungan dianjurkan untuk menghilangkan bakteri secara
adekuat dan mencegah relaps. Sangat disarankan untuk mencuci pakaian, handuk,
dan seprai yang digunakan dalam dua hari di temperatur minimal 60 derajat
celcius, atau meletakkan benda tersebut dalam pengering dengan panas tinggi
selama paling tidak 40 menit. Sisir dan sikat dapat direndam dalam air bersuhu 60
derajat celcius selama paling tidak 10 menit untuk membunuh kutu dan telur
(Canyon & Speare, 2010; Diamantis et al., 2009; Eisenhower & Farrington, 2012;
Finlay & MacDonald, 2008; Gunning et al., 2012; Ibarra, 2010; Izri & Chosidow,
2006; Lebwohl et al., 2007; Speare, Cahill & Thomas, 2003; Takano-Lee, Edman,
Mullens, & Clark, 2005; Tebruegge et al., 2011). Barang-barang yang tidak dapat
dicuci atau diletakkan di pengering dapat dimasukkan dalam kantung plastik
selama 2 minggu (Diamantis et al., 2009; Finlay & MacDonald, 2008; Frankowski
et al., 2010; Lebwohl et al., 2007).
Sangat diperlukan untuk mengasapi karpet, kursi mobil, bantal dan matras
karena kutu tidak dapat hidup jauh dari pejamu manusia lebih dari 48-55 jam.
Mengindari penggunaan benda-benda ini untuk sementara waktu di anjurkan.
Vakum adalah alternatif aman dari pengasapan (Diamantis et al., 2009;
Eisenhower & Farrington, 2012; Frankowski et al. 2010; Finlay & MacDonald,
2008; Lebwohl et al., 2007; Shmidt & Levitt, 2012).

Kesimpulan
Kutu kepala adalah masalah kesehatan dunia yang banyak menghabiskan
dana di Amerika Serikat, produktifitas kerja, dan waktu sekolah. Ketersediaan
luas pedikulisid dan pengobatan alternatif dapat sulit dinavigasi oleh klinisi.

14
Sebuah algoritma (gambar 2) dikembangkan untuk memasukkan terapi baru dan
alternatif, dekontaminasi lingkungan dan rekomendasi keseluruhan. Pedoman ini
ditujukan untuk diinterpretasikan klinisi pusat kesehatan pertama bergantung
lingkungan pasien individual, kebutuhan dan keinginan.

15
Daftar Pustaka

Ameen, M., Arenas, R., Villanueva-Reyes, J., Ruiz-Esmenjaud, J., Millar, D.,
DominguezDuenas, F.,… Rodriguez-Alvarez, M. (2010). The Pediatric
Infectious Disease Journal, 29(11), 991-993.
American Academy of Pediatrics (AAP). (2009). Pediculosis capitis (head lice).
Red Book Online, 1, 495. Retrieved from http://aapredbook.aappublications.
org/cgi/content/full/2009/1/3.94
Balcioglu, C., Burgess, I.F., Limoncu, M.E., Sahin, M.T., Ozbel, Y., Bilac, C., ...
Larsen, K.S. (2008). Plastic detection comb better than visual screening for
diagnosis of head louse infestation. Epidemiology and Infection, 136(1),
1425-1431.
Bowden, V.R. (2012). Losing the louse: How to manage this common infestation
in children. Pediatric Nursing, 38(5), 253-255.
Bowerman, J.G., Gomez, M.P., Austin, R.D., & Wold, D.E. (1987). Comparative
study of permethrin 1% creme rinse and lindane shampoo for the treatment
of head lice. Pediatric Infectious Disease Journal, 6(3), 252-255.
Brandenburg, K., Deinard, A.S., DiNapoli, J., Englender, S.J., Orthoefer, J., &
Wagner, D. (1986). 1% permethrin cream rinse vs. 1% lindane shampoo in
treating pediculosis capitis. American Journal of Diseases of Children,
140(9), 894-896.
Canyon, D.V., & Speare, R. (2010). Indirect transmission of head lice via
inanimate objects. Open Dermatology Journal, 4(1), 72-76. Centers for
Disease Control and Prevention (CDC). (2010). Parasites: Head lice.
Retrieved from http://www.cdc.gov/parasites/lice/head/treatment.html
Chosidow, O., Giraudeau, B., Cottrell, J., Izri, A., Hofmann, R., Mann, S., &
Burgess, I. (2010). Oral ivermectin versus malathion lotion for difficult-to-
treat head lice. New England Journal Of Medicine, 362(10), 896-905.
Cole, S., & Lundquist, L. (2011). Spinosad for treatment of head lice infestation.
The Annals of Pharmacotherapy, 45(7-8), 954-959.
Currie, M.J., Reynolds, G.J., Glasgow, N.J., & Bowden, N.J. (2010). A pilot study
of the use of oral ivermectin to treat head lice in primary school students in
Australia. Pediatric Dermatology, 27(6), 595-599.
Diamantis, S.A., Morrell, D.S., & Burkhart, C.N. (2009). Treatment of head lice.
Dermatologic Therapy, 22(1), 273-278.
Dourmishev, A.L., Dourmishev, L.A., & Schwartz, R.A. (2005). Ivermectin:
Pharmacology and application in dermatology. International Journal of
Dermatology, 44(12), 981-988.

16
Durand, R., Bouvresse, S., Berdjane, Z., Izra, A., Chosidow, O., & Clark, J.M.
(2012). Insecticide resistance in head lice: Clinical, parasitological and
genetic aspects. Clinical Microbiology and Infection, 18, 338-344
Eisenhower, C., & Farrington, E. (2012). Advancements in the treatment of head
lice in pediatrics. Journal of Pediatric Healthcare, 26(6), 451-461.
Feldmeier, H. (2010). Diagnosis of head lice infestations: An evidence-based
review. The Open Dermatology Journal, 4(1), 69-71.
Feldmeier, H. (2012). Pediculosis capitis: New insights into epidemiology,
diagnosis, and treatment. European Journal of Microbiology & Infectious
Diseases, 31(1), 2105-2110.
Feldmeier, H., & Heukelbach, J. (2008). Epidermal parasitic skin diseases: A
neglected category of poverty-associated plagues. Bulletin of the World
Health Organization. Retrieved from http://
www.who.int/bulletin/volumes/87/2/07-047308/en/
Finlay, J., & MacDonald, N.E. (2008). Head lice infestations: A clinical update.
Pediatric Child Health 2008, 13(8), 692-696.
Frankowski, B.L., Bocchini, A.B., Jr., & Council on School Health and
Committee on Infectious Diseases. (2010). Head lice. Pediatrics, 126(2),
392-403. Frankowski, B., & Weiner, L.B. (2002). Head lice. Pediatrics,
110(3), 638-643.
Goates, B., Atkin, J., Wilding, K., Birch, K., Cottam, M., Bush, S., & Clayton, D.
(2006). An effective nonchemical treatment for head lice: A lot of hot air.
Pediatrics, 118(5), 1962-1970.
Goundrey-Smith, S. (2011). Looking at the life cycle and treatment of head lice.
British Journal of School Nursing, 6(3), 123-126.
Gunning, K., Pippitt, K., Kiraly, B., & Sayler, M. (2012). Pediculosis and scabies:
A treatment update. American Family Physician, 86(6), 535-541.
Heukelbach, J., Pilger, D., Khakban, A., Ariza, L., & Feldmeier, H. (2008). A
highly efficacious pediculicide based on dimeticone: Randomized observer
blinded comparative trial. BioMed Central Infectious Diseases, 8(115).
Hipolito, R., Mallorca, F., Zuniga-Macaraig, Z., Apolinario, P., & Wheeler-
Sherman, J. (2001). Head lice infestation: Single drug versus combination
therapy with one percent permethrin and trimethoprim/sulfamethoxazole.
Pediatrics, 107(3), E30.
Humphreys, E.H., Janssen, S., Heil, A., Hiatt, P., Solomon, G., & Miller, M.D.
(2008). Outcomes of the California ban on pharmaceutical lindane: Clinical
and ecologic impacts. Environmental Health Perspectives, 116 (3), 297-302.
Ibarra, J. (2010). Diagnosis of head lice in the community. British Journal of
School Nursing, 5(4), 191-194.

17
Ibarra, J., Fry, F., Clarice, W., Olsen, A., Vander Stichele, R.H., Lapeere, H., …
& Smith, J.L. (2007). Overcoming health inequalities by using the bug
busting ‘wholeschool approach’ to eradicate head lice. Journal of Clinical
Nursing, 16, 1955-1965.
Izri, A., & Chosidow, O. (2006). Efficacy of machine laundering to eradicate head
lice: Recommendations to decontaminate washable clothes, linens, and
fomites. Clinical Infectious Diseases, 42(1), e9-e10.
Jahnke, C., Bauer, E., Hengge, U.R., & Feldmeier, H. (2009). Accuracy of
diagnosis of pediculosis capitis visual inspection vs. wet combing. Archives
of Dermatology, 143(3), 309-313.
Lebwohl, M., Clark, L., & Levitt, J. (2007). Therapy for head lice based on life
cycle, resistance, and safety considerations. Pediatrics, 119(5), 965-974.
Lexi-Comp Online. (2012) Benzyl alcohol. Retrieved from
http://online.lexi.com/lco/action/doc/retrieve/docid/patch_f/171 5959
Madke, B., & Khopkar, U. (2012). Pediculosis capitis: An update. Indian Journal
of Dermatology, Venereology, and Leprology, 78(4), 429-438.
Martinez-Diaz, G., & Mancini, A. (2010). CNE series. Head lice: Diagnosis and
therapy. Dermatology Nursing, 22(4), 2-8.
Meinking, T.L., Clineschmidt, C.M., Chen, C., Kolber, M.A., Tipping, R.W.,
Furtek, C.I.,... Guzzo, C.A. (2002). An observerblinded study of 1%
permethrin crème rinse with and without adjunctive combing in patients
with head lice. Journal of Pediatrics, 141(5), 665-670.
Meinking, T.L., Vicaria, M., Eyerdam, D.H., Villar, M.E., Reyna, S., & Suarez,
G. (2004). Efficacy of a reduced application time of Ovide Lotion (0.5%
malathion) compared to Nix Crème Connolly, M. (2011). Current
recommended treatments for head lice and scabies. Prescriber, 22(1-2), 26-
39.
Meinking, TL., Mertz- Rivera, K., Vellar, ME., & Bell, M . (2012). Assessment of
the safety and efficacy of three concentrations of topical ivermectin lotion as
a treatment for head lice infestation. International Journal of Dermatology,
52(1), 106-112.
Meinking, T.L., Vicaria, M.A., Eyerdam, D.H.,VVillar, M.E., Reyna, S., &
Suarez, G. (2007). A randomized, investigatorblinded, time ranging study of
the comparative efficacy of 0.5% malathion gel versus Ovide Lotion (0.5%
malathion) or Nix Creme Rinse (1% permethrin) used as labeled, for the
treatment of head lice. Pediatric Dermatology, 24(4), 405-411.
Meinking, T.L., Villar, M.E., Vicaria, M., Eyerdam, D.H., Paquet, D.,
MertzRivera, K., ... Reyna, S. (2010). The clinical trials supporting benzyl
alcohol lotion 5% (Ulesfia): A safe and effective topical treatment for head
lice (pediculosis humanus capitis). Pediatric Dermatology, 48, 19-24.

18
Mumcuoglu, K.Y., Friger, M., Ioffe-Uspensky, I., Ben-Ishai, F., & Miller, J.
(2001). Louse comb versus direct visual examination for the diagnosis of
head louse infestations. Pediatric Dermatology, 18 (1), 9-12.
Mumcuoglu, K.Y., Meinking, T.A., Burkhart, C.N., & Burkhart, C.G. (2006).
Head louse infestations: The “no nit” policy and its consequences.
International Journal of Dermatology, 45(1), 891-896.
Nofal, A. (2010). Oral Ivermectin for head lice: A comparison with 0.5% topical
malathion lotion. Journal der Deutschen Dermatologischen Gesellschaft,
8(12), 985-988.
ParaPRO. (2015). Natroba (spinosad) topical suspension, 0.9%. Retrieved from
http://natroba.com/about-head-lice.html
Pariser, D., Meinking, T., Bell, M., & Ryaan, W. (2012). Topical 0.5%
invermectin lotion for treatment of head lice. New England Journal of
Medicine, 367(9), 1161-1167.
Prescriber’s Letter. (2010). Treatment of head lice – An update. Retrieved from
http://prescribersletter.therapeuticresearch.com/pl/ArticleDD.aspx?nidchk=1
&cs=STUDENT&s=PRL&pt=2&fpt=31&dd=260911&pb=PRL&searchid=
40339222&segment=2608
Rush, S., Rock, A., Jones, S., Malenke, J., & Clayton, D. (2011). Efficacy of the
LouseBuster, a new medical device for treating head lice (Anoplura:
Pediculidae). Journal of Medical Entomology, 48(1), 67-72.
Shionogi Pharma, Inc. (2012). Ulesfia lotion [prescribing information]. Retrieved
from http://www.ulesfialotion.com/pdf/Ulesfia_Prescribing_Information.pdf
Shmidt, E., & Levitt, J. (2012). Dermatologic infestations. International Journal
of Dermatology, 51(2), 131-141.
Speare, R., Cahill, C., & Thomas, G. (2003). Head lice on pillows, and strategies
to make a small risk even less. International Journal of Dermatology, 42(1),
626-629.
Stough, D., Shellabarger, S., Quiring, J., & Gabrielsen, A. (2009). Efficacy and
safety of spinosad and permethrin creme rinses for pediculosis capitis (head
lice). Pediatrics, 124(3), e389-395.
Takano-Lee, M., Edman, J.D., Mullens, B.A., & Clark, J.M. (2005). Transmission
potential of the human head louse, pediculus capitis (anuplura: pediculidae).
International Journal of Dermatology, 44(1), 811-816.
Taplin, D., Meinking, T.L., Castillero, P.M., & Sanchez, R. (1986). Permethrin
1% creme rinse for the treatment of Pediculus humanus var capitis
infestation. Pediatric Dermatology, 3(4), 344-348.
Taro Pharmaceuticals. (2013). Malathion Lotion USP, 0.5%. Retrieved from
http://www.taro.com/sites/default/files/USA-Products-Rx/Malathion-
prescribing-info.pdf

19
Tebruegge, M., & Runnacles, J. (2007). Is wet combing effective in children with
pediculosis capitis infestation? Archives of Disease in Childhood, 92(9),
818-820.
Tebruegge, M., Pantazidou, A., & Curtis, N. (2011). What’s bugging you? An
update on the treatment of head lice infestation. Archives of Disease in
Childhood –Education & Practice Edition, 96(1), 2-8.
Thomas, D.R., McCarroll, L., Roberts, R., Karunaratne, P., Roberts, C., Casey,
D., ... Hemingway, J. (2006). Surveillance of insecticide resistance in head
lice using biochemical and molecular methods. Archives of Diseases in
Childhood, 91(9), 777-778.
U.S. Food and Drug Administration (FDA). (2009a). FDA approves benzyl
alcohol lotion for the treatment of head lice, 2009. Retrieved from
http://www.fda.gov/NewsEvents/Newsroom/PressAnnouncement
s/ucm149562.htm
U.S. Food and Drug Administration (FDA). (2009b). FDA public health advisory:
safety of topical lindane products for the treatment of scabies and lice.
Retrieved from http://
www.fda.gov/drugs/drugsafety/postmarketdrugsafeyinformationforpatientsa
ndproviders/ucm110845.htm
Yoon, K., Previte, D., Hodgdon, H., Poole, B., Kwon, D., El-Ghar, G., … Clark,
J. (2014). Knockdown resistance allele frequencies in North American Head
Louse (anoplura: pediculidae) populations. Journal of Medical Entomology,
51(2), 450-457.

20