Anda di halaman 1dari 19

PEMIMPIN MUSLIM VERSUS PEMIMPIN NON-MUSLIM:

ANTARA CITA DAN FAKTA

Mata kuliah: Islamic Studies

Dosen Pengampu: Dr. Mokhamad Abdul Aziz, S.Sos.I

Oleh:

Abdurrahman Syafrianto

MONASH INSTITUTE SEMARANG

TAHUN 2018

1
PENDAHULUAN

Indonesia yang dikenal dengan negara yang penduduknya mayoritas


beragama Islam. Dewasa ini, tengah dikejutkan dengan polemik yang kian
marak menjadi perdebatan di panggung poliitk Indonesia yakni persoalan
kepemimpinan. Sebab, warga negara Indonesia dibenturkan pada dua pilihan
yang itu menjadi realita di lapangan yaitu pemimpin muslim tapi zalim atau
pemimpin non-muslim tapi adil

M. Quraish Shihab (1994: 157) menyatakan bahwa di dalam kitab suci


al-Quran terdapat dua istilah yang menjadi deskriptif tentang kepemimpinan
yaitu khalifah dan imam. Secara semantik istilah khalifah dan imam memliki
makna yang sama. Khalifah berasal dari akar kata khulafa’ yang bermakna “di
belakang”. Kemudian dalam perkembangannya seringkali diartikan sebagai
“pengganti”, karena logikanya yang menggantikan selalu berada di belakang,
sesudah yang digantikannya.
Sedangkan istilah imam menurut Al-Tabrasi, dalam tafsirnya
sebagaimana yang dikutif Shihab (1994: 163), dikatakan bahwa kata imam
mempunyai makna yang sama dengan khalifah. Namun, lebih lanjut ia
mengatakan bahwa kata imam untuk keteladanan, karena terambil dari kata
yang mengandung makna “di depan”. Karena itu, kita dapat memperoleh
informasi tentang sifat-sifat terpuji dari seorang khalifah, dengan cara
menelusuri ayat-ayat yang menggunakan kata imam.

Dalam hal ini Zakir Naik, seorang penceramah asal India berpendapat
bahwa seorang muslim tidak boleh memilih pemimpin non-muslim walau dia
bekerja dengan baik. Sebab, kalau merujuk pada al-Qur’an, kesuksesan
seoarang pemimpin bukan dilihat dari hasil pembangunan infrastruktur,
melainkan kesuksesan yang sesungguhnya adalah iman (keyanikan). Apakah
dia beriman kepada Allah dan al-Qur’an? Ia pernah membangun masjid,
tempat beribadah orang muslim, tapi ia tidak sholat. Prilaku semacam itu
sama saja dengan prilaku orang munafik (hipokrit).

2
Naik juga mengakatan bahwa makna kata auliya’ dalam al-Qur’an, tidak
spesifik diartikan pemimpin semata, melainkan pemimpin bagian dari makna
auliya’ (Naik, 2017). Sedangkan tidak sedikit kaum intelektual muslim liberal
yang tidak berlatarkan hukum Islam (syariah), mereka menawarkan ijtihad
politik baru yang mendukung presiden dari non-muslim serta membolehkan
untuk melakukan kerjasama dalam pemerintahan meskipun dalam negara
tersebut mayoritas beragama Islam.

Adapun tokoh-tokoh dari kaum intelektual muslim liberal tersebut


yaitu: Mahmud Muhammad Thoha, seorang insinyur asal Sundan. Dia adalah
pendiri the Republican Brother, sebuah kelompok reformis Islam di Sudan;
Abdullah Ahmed al-Naim, dia juga berasal dari Sudan. Dia memiliki status
sebagai Sarjana Hukum (SH) dan sekaligus sebagai juru bicara tentang ide-
ide Mahmud Muhammad Thoha; Thariq al-Bisri, intelektual muslim asal
Mesir dan seorang sejarawan; Asghar Ali Angginer, intelektual muslim liberal
asal India, seorang sarjana Teknik; Muhamad Said al-Ashmauri, seorang
sarjana muslim liberal asal Mesir yang pernah meraih penghargaan
internasional tentang HAM pada 1994, di New York Amerika Serikat atas
karyanya tentang HAM dan mempromosikan rule fo law (Manan, 2016: 95).

A. Kepemimpinan dan Teori Munculnya Pemimpin


Kpemimpinan secara luas dapat diartikan sebagai proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki
kelompok dan budayanya. Kepemimpinan dipahami dalam dua pengertian
yaitu sebagai kekuatan untuk menggerakkan dan memengaruhi orang.
Kepemimpinan hanya sebuah alat, sarana atau proses untuk membujuk orang
agar bersedia melakukan sesuatu secara sukarela atau sukacita. Dalam
berorganisasi, ada beberapa faktor yang dapat menggerakkan orang lain,
yaitu ancaman, penghargaan, otoritas, dan bujukan (Rivai, 2003: 3).
Menurut Veithzal Rivai (2003: 4), kepemimpinan pada hakikatnya
adalah:

3
- Proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada
pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
- Seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan,
kepercayaan, kehormatan, dan kerja sama yang bersemangat dalam
mencapai tujuan bersama.
- Melibatkan tiga hal, yaitu pemimpin, pengikut dan situasi tertentu.
- Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai
tujuan. Sumber pengaruh dapat secara formal maupun informal.
Ada juga yang mengatakan kepemimpinan adalah proses di mana
individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan
bersama (Northouse, 2013: 5). Ada pula yang berpendapat bahwa
kepemimpinan adalah seni dan ilmu (Silalahi, 2013: 9).
Menurut Kartini Kartono (2016: 33), ada 3 (tiga) teori yang
menjelaskan kemunculan pemimpin, yaitu:
1. Teori Genetis
Teori tersebut menyatakan bahwa:
a. Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh
bakat-bakat alami yang luar biasa sejak lahirnya.
b. Dia ditaldirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi
yang bagaimanapun juga, yang khusus.
c. Secara filosofi, teori tersebut menganut pandangan deterministis.
2. Teori Sosial (lawan dari teori genetis)
Teori tersebut menyatakan bahwa:
a. Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan dibentuk, tidak
dilahirkan begitu saja.
b. Setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan
Pendidikan, serta didorong oleh kemauan sendiri.
3. Teori ekologis atau sintetis (muncul sebagai reaksi dari kedua teori
tersebut terlebih dahulu), menyatakan bahwa seorang akan sukses
menjadi pimpinan, bila sejak lahirnya dia telah memiliki bakat-bakat
kepemimpinan, dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui
pengalaman dan usaha Pendidikan, juga sesuai dengan tuntunan
lingkungan/ ekologisnya.
Dalam bahasa Inggris pemimpin disebut leader, yang berasal dari akar
kata to lead. Dalam kata itu terkandung beberapa arti yang saling erat
berhubungan, yaitu; bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil

4
langkah pertama, berbuat paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran-
pendapat-tindakan orang lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang
lain melalui pengaruhnya. Karena itu, seorang pemimpin adalah orang yang
bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat
paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran-pendapat-tindakan orang
lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui
pengaruhnya. Tidak mengherankan apabila pemimpin disebut dengan
berbagai nama; pemuka, pelopor, pengarah, pembimbing, penuntun,
penggerak, dan sebagainya (Mangunhardjana, 1995: 11).
Menurut M. Lilik Zubaidi (2011: 42), di dalam konsep (manhaj) Islam,
pemimpin merupakan orang yang diamanahi sebagai ujung dan dasar sebuah
organiasi. Ia menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat Islam.
Dalam kehidupan berjamaah, pemimpin dianalogikan sebagai kepala dari
seluruh anggota tubuhnya. Ia memiliki peranan yang strategis dalam
mengatur pola dan gerakan. Logika sederhananya, kecakapan dalam
memimpin akan mengarahkan umatnya kepada tujuan yang ingin dicapai,
yakni kejayaan dan kesejahteraan umat dengan iringan ridlo Allah Swt..
Dalam bangunan masyarakat Islam, pemimpin berada pada posisi yang
strategis yang menentukan perjalanan umatnya. Apabila masyarakat
memiliki pemimpin yang memenuhi kualifikasi sepertihalnya: prima,
produktif, dan cakap dalam pengembangan dan pembangkitan daya juang
dan kreatifitas amaliyah, maka dapat dipastikan perjalanan umatnya akan
mencapai keberhasilan. Begitupun sebaliknya, manakala suatu umat
dipimpin oleh pemimpin yang tidak termasuk dalam kualifikasi, karena
memiliki banyak kelemahan, baik dalam hal keilmuan, manajerial, maupun
dalam hal pemahaman dan nilai tanggung jawab, serta lebih mengutmakan
hawa nafsunya dalam pengambilan keputusan dan tindakan, maka dapat
dipastikan, bangunan jamaah akan mengalami kemunduran dan bahkan akan
mengalami kehancuran.
B. Mimilih Pemimpin

5
Untuk memenuhi kebutuhan kepemimpinan dalam suatu organiasi atau
dalam koteks ini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentu ada
persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang calon pemimpin.
Karena itu, ada persayaratan yang harus dipenuhi yaitu dapat memimpin
orang lain ke arah pencapaian tujuan organisasi, dan dapat menjalin
komunikasi antarmanusia, karena organisasi itu selalu bergerak atas dasar
interakasi antarmanusia.

Menurut O. Jeff Haris (dalam Kartono, 2016: 218), orang-orang perlu


dipilih sebagai kandidat-kandidat atau calon pemimpin adalah mereka yang
mempunyai kualifikasi antara lain sebagai berikut:

1. Memiliki Kemauan untuk Memikul Tanggung Jawab

Bila seorang pribadi menerima tugas kepemimpinan, dia harus berani


memikul tanggung jawab bagi setiap tingkah lakunya, sehubungan dengan
tugas-tugas dan peranan yang harus dilakukan. Kebanyakan pemimpin
merasakan, bahwa peranan sebagai pemimpin itu mengandung banyak
tekanan dan tuntutan, terutama penggunaan waktu, usaha, pengetahuan
yang diperlakukan untuk melaksanakan tugas-tugas secara efektif dan
tugas-tugas tersebut menuntut energi yang banyak sekali.

Karena peranan kepemimpinan itu harus memenuhi persyaratan-


persyaratan yang cukup berat, maka diharapkan agar orang-orang yang
diserahi jabatan pemimpin itu benar-benar menghendaki peranannya dan
sanggup menerima tanggungjawab.

Oleh kekuasaan dan kewibaannya, dia mendapat status posisi, serta


pengahrgaan tertentu (motivasi pribadi). Dia harus mampu membawa
pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama (Kartono, 2016: 219).
Karena itu, tidak dapat dipungkuri bahwa menjadi seorang pemimpin
harus mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktunya.

2. Kemampuan untuk Menjadi Perseptif.

6
Persepsi adalah kemampuan untuk melihat dan menanggapi realitas
nyata. Dalam hal ini pemimpin perlu mempunyai daya persepsi—disertai
kepekaan yang tinggi—terhadap semua situasi organiasi yang
dibawahinya yaitu mengamati segi-segi kekuasaan dan kelemahannya.

Pemimpin juga harus mampu melakukan introspeksi, melihat ke


dalam diri sendiri agar dapat mengetahui kemampuan dan kelemahannya.

3. Kemampuan untuk Menanggapi secara Objektif


Objektivitas merupakan kemampuan untuk melihat masalah-masalah
secara rasional, impersonal tanpa prasangka. Objektivitas juga merupakan
unsur penting dari pengambilan keputusan secara analitis, sehingga
mengahasilkan keputusan yang bijaksana.
4. Kemampuan untuk Menetapkan Prioritas secara Tepat.
Seorang pemimpin itu harus benar-benar mahir memilih mana bagian
yang penting yang harus didahulukan dan mana yang kurang penting
sehingga bisa ditunda pelaksanaannya.
5. Kemampuan untuk Berkomunikasi
Kemampuan untuk memberikan informasi dengan cermat, tepat, dan
jelas, dan sebaliknya pula kemampuan untuk menerima informasi dari
luar dengan kepekaan tinggi, merupakan syarat mutlak pemimpin efektif.
Dia mampu menjabarkan Bahasa policy ke dalam Bahasa operasional yang
jelas dan singkat (Kartono, 2016: 219-220).
6. Kualitas agamanya (spiritualistas)

Diskursus mengenai pemimpin muslim dan non muslim tidak kunjung


usai. Karena itu, sebagai insan yang beragama, sebagaimana spirit yang
dibawa Pancasila dalam hal ini sila pertama, tentu rakyat Indonesia
memiliki keyakinan masing-masing dalam menentukan pemimpinnya.
Baik seorang muslim maupun penganut agama lain, mereka memiliki
standar kualifikasi dalam menentukan pilihannya. Standar tersebut bisa
berdasarkan teks (baca: kitab) suci agamanya, atau berasal dari standar
lain, sepertihalnya kebaikan, kemaslahatan, keuntungan, atau standar etis
pribadi yang lain.

7
Di Indonesia, keadaan demikian juga berlaku untuk tingkat lokal
(baca: daerah). Agama memang menjadi “pra-syarat” seorang warga
negara di Indonesia, apalagi seorang yang akan memimpin bangsa dan
negaranya, sebagaimana spirit yang diajarkan Pancasila. Dewasa ini,
memang ada upaya-upaya penggiringan opini bahwa agama bukan urusan
publik, sehingga negara tidak perlu ikut campur membahas persoalan
agama masing-masing penduduknya. Padahal, sangat jelas bahwa agama
menjadi amanat konstitusi yang tidak perlu dipersoalkan keberadaannya.
Tidak hanya itu, bahkan negara memiliki tugas melindungi dan menjamin
hak semua warga negara untuk dapat menjalankan ajaran agama sesuai
dengan keyakinannya masing-masing.

Semangat bergama itulah yang harus dipupuk oleh setiap warga


negara yang tinggal di Indonesia. Tanpa itu, kita sama saja telah
mengkhianati tujuan para founding fathers bangsa Indonesia. sebab,
Pancasila dan Undang-Udang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia
1945 - sebagai dasar negara dan konstitsi tertinggi bangsa indonesia -
merupakan kesepakatan bersama anak bangsa dengan cita-cita luhur
yang berspektrum luas, yang harus dijaga dan dijalankan oleh bangsa
Indonesia (Aziz, 2016).

Berkaitan dengan soal kepemimpinan spiritual ini, A. Riawan Amin


dalam bukunya yang berjudul The Celestial Management (dalam Buseri,
2006: 5), menekankan pada tiga akronim yakni ZIKR, PIKR dan MIKR.
ZIKR berisikan Zero base yakni memandang segala sesuatu dengan bersih,
apa adanya dan bebas prasangka. Iman, memberikan kekuatan spiritual,
menghilangkan rasa cemas dan takut. Konsisten, menjaga arah tujuan
sampai pada titik sasaran. Result oriented, yakni menuju hasil yang murni:
mardlatillah. Kemudian PIKR yaitu dimulai dengan power sharing,
information sharing, knowledge sharing dan rewards sharing. Kalau ZIKR
titik beratnya merangsang pribadi yang ulung, PIKR memberikan resep
dan prasarat agar kru yang terhimpun dalam sebuah tim melenggangkan

8
keunggulannya. Jika pribadi-pribadi matang yang dibentuk dari konsep
ZIKR bertemu dengan sebuah tim yang solid yang terlahir dari perut PIKR,
mereka akan menjadi tim unggulan (the winning team). The winning team
berkaitan dengan MIKR yakni militan, intelek, kompetetif dan regeneratif.

Sesungguhnya beberapa hal yang diutarakan di sini barulah sedikit


cuplikan dari luasnya dasar spiritual kepemimpinan yang islami, dan
inipun sekali lagi tergantung dari (1) Sempit luasnya pemahaman
pemimpin terhadap ajaran agamanya, (2) Seberapa jauh penghayatan
spiritualnya, dan (3) Seberapa jauh konsistensi keberagamaannya (Buseri,
2006: 6).

C. Pemimpin Muslim yang Zalim


Sejarah perpolitikan Indonesia telah mencatat bahwa dunia politik
indonesia telah dinodai oleh pemimpin yang zalim yang notabenenya
beragama Islam. Sebab, ada beberapa kepentingan yang sering
mempengaruhi para pemimpin kita di antaranya:
1. Kepentingan pribadi
2. Kepentingan kelompok atau golongan
3. Kepentingan pihak asing
Dari ketiga kepentingan tersebut, kita dapat membedakan antara
pemimpin yang terhormat dan ikhlas, atau pemimpin pengkhianat yang
menjadi agen (antek-antek) pihak asing.
Para pemimpin yang terhormat tentu kualifikasinya tidak hanya cukup
beragama Islam. Sebab, agama Islam yang disandang oleh pemimpin tersebut
masih harus dibuktikan dalam kiprah politiknya. Apakah ia berpolitik dengan
memperjuangkan agama Islam atau tidak. Bila dia memperjuangkan Islam
dan hanya untuk kemaslahatan aqidah (ideologi) maka barulah dia dikatakan
pemimpin yang Islami. Sebab, sudah jelas para pemimpin yang terhormat dan
ikhlas hanyalah mereka yang mengkaitkan aktivitas politiknya dengan
kepentingan-kepentingan vital yang telah ditetapkan oleh ideologi yang
diyakini oleh rakyatnya. Dengan kata lain, mereka senantiasa berusaha
merealisasikan kepentingan ideologis saja bukan yang lain.

9
Adapun para pemimpin yang mengkhianati rakyat dengan
kekuasaannya adalah mereka yang menjalankan aktivitas politiknya menurut
kepentingan selain kepentingan ideologisnya. Hal ini akhirnya menempatkan
mereka sebagai pengkhianat yang mana lebih mengutamakan khidmatnya
bagi kepentingan pihak asing daripada kepentingan umat dan rakyatnya
sendiri, dengan motif apapun (Fachry, 2000: 90-91).
Selain itu, situasi perpoltikan Indonesia yang kian “hedonis” merupakan
momok bagi bangsa ini. Pasalnya, perilaku para politisi saat ini banyak yang
terjebak dalam sikap yang hedonistis; ditambah gaya hidup anak muda
zaman sekarang, sepertinya negara ini layak disebut negeri hedomis.
Memang gaya hidup bermewah-mewahan dan terkesan glamor sudah
menjadi fenomena yang menjangkiti para petinggi di negeri ini. Padahal, gaya
hidup seperti itulah yang menjadi salah satu penyebab utama maraknya
korupsi di Indonesia.
Selain itu, sikap hidup hedonistis di kalangan petinggi negara ini
disebabkan oleh mereka yang menganggap dirinya sebagai pejabat, bukan
pemimpin. Pejabat adalah seoarang yang memiliki jabatan. Menganngap diri
sebagai pejabat bisa dianalogikan dengan ketika kita mempunyai rumah atau
kendaraan yang setiap saat bisa digunakan sesuai dengan keinginan. Dengan
modus kepemilikian yang seperti ini, membuat mereka ingin memanfaatkan
jabatannya sesuai dengan dorongan nafsunya, sehingga jabatan akan menjadi
properti yang bisa dimanfaatkan kapan saja dan di manapun mereka berada
asalkan upaya pemanfaatan itu bisa dilakukan.
Beda lagi dengan pemimpin adalah teladan, cermin, dan mempunyai
tanggungjawab atas amanat yang diemban. Pada dasarnya, setiap manusia
dilahirkan sebaga pemimpin, baik pemimpin untuk dirinya sendiri, keluarga,
atau pemimpin bagi siapapun yang berada di bawah tanggungjawabnya.
Ketika ia dipilih dan dingkat menjadi pejabat dengan tugas-tugas yang
melekat pada jabatannya, maka ia akan menganggap jabatan itu sebagai
tanggung jawab kemanusiaan yang harus ditunaikan (Aziz, 2016: 8).
4. Pemimpin Non-Muslim yang Adil

10
Non-Muslim berarti orang yang tidak beragama Islam. Ruang
lingkupnya sangat luas sekali, karena mencakup seluruh agama yang ada di
muka bumi ini dengan berbagaimacam bentuk kepercayaan dan variasi
ritualnya. Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan
tentang kelompok non-muslim secara umum, yaitu di Surah al-Hajj (22) ayat
17 dan Surah al-Jatsiyah (45) ayat 24, sebagai berikut:
‫هاَدوا ا وٱلصب إٔيِن وٱلنصرى وٱللمجوُس وٱل نذي ن‬
‫ه‬ ‫ن ألشنرك نوُوا ا إ إ ن‬
‫ن ٱلل ن ن‬ ‫ن ن إ ن‬ ‫ن صن ن ن ن صن ن ص ن ن ن‬ ‫ن ن ن‬ ‫ذي ن‬ ‫مننوُا ا ونٱل ن إ‬‫ن نءا ن‬ ‫ذي ن‬ ‫ن ٱل ن إ‬
‫إإ ن‬
‫شليءء ن‬
١٧ ‫شإهيِد د‬ ‫ى كن ل‬
‫ل ن‬ ‫ه ع نل ص‬ ‫مةةة إ إ ن‬
‫ن ٱلل ن ن ن‬ ‫م ٱلل إ‬
‫قيِ صن ن‬ ‫ل ب ل نين نهن لم ي لنو ن‬
‫ص ن‬ ‫ي نلف إ‬
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi,
orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan
orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara
mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala
sesuatu.” (QS al-Hajj [22]: 17)

‫عللممم إ إلن ن‬ ‫ة‬


‫ههه لم‬ ‫ملن إ‬ ‫ماَ ل ننهمُ ب إذ صنل إ ن‬
‫ك إ‬ ‫ماَ ي نلهل إك نننا إ إنل ٱلد نلهرر ون ن‬
‫ت ونن نلحنيِاَ ون ن‬ ‫حنيِاَت ننناَ ٱلد دلننيِاَ ن ن ن‬
‫موُ ن‬ ‫ي إ إنل ن‬ ‫وننقاَنلوُا ا ن‬
‫ماَ ه إ ن‬
‫إ إنل ي نظ ندنوُ ن‬
٢٤ ‫ن‬
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan
membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak
mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja. (QS al-Jatsiyah [45]: 24)
Dalam kandungan kedua ayat tersebut terdapat lima kelompok yang
dikategorikan sebagai kelompok non-muslim yaitu ash-shab’iah atau ash-
shabiin, al-majus, al-musyrikin, al-dahriyah atau al-dahriyun, dan ahli kitab.
Masing-masing kelompok dapat dijelaskan secara ringkas, sebagai berikut:
1. Al-Shab’iah, yaitu kelompok yang mempercayai pengaruh planet
terhadap alam semesta.
2. Al-Majus, adalah para penyembah api yang mempercayai bahwa jagat
raya dikontrol oleh dua sosok Tuhan, yaitu Tuhan Cahaya dan Tuhan
Gelap yang masing-masing bergerak kepada yang baik dan yang jahat,
yang bahagia dan yang celaka, dan seterusnnya.

11
3. Al-Musyrikin, kelompok yang mengakui ketuhanan Allah Swt., tapi
dalam praktiknya menyekutukan-Nya dengan yang lain, seperti
penyembahan berhala, matahari, dan malaikat.
4. Al-Dahriyah, kelompok ini selain tidak mengakui bahwa dalam alam
semesta ini ada yang mengaturnnya, juga menolak adanya Tuhan
Pencipta. Menurut meraka alam semesta ini eksis dengan sendirinya.
Kelompok ini identik dengan kaum ateis masa kini.
5. Ahli kitab. Dalam hal ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama.
Menurut mazhab Hanafi, orang yang termasuk ahli kitab ialah orang
yang menganut salah satu agama Samawi yang mempunyai kitab suci
seperti Taurat, Injil, Suhuf, Zabur, dan lainnya. Akan tetapi, menurut
mazhab Syafi’i dan Hambali pengertian ahli kitab terbatas pada kaum
Yahudi dan Nasrani. Kelompok non-muslim ini disebut juga dalam ahli
zimmah, yaitu komunitas Yahudi dan Nasrani yang berdomisili di
wilayah umat Islam dan mendapat perlindungan pemerintah muslim
(Manan, 2018: 91-93).
Ada beberapa ayat muwalah yang kemudian diartikan sebegai
larangan untuk memilih orang non-muslim sebagai pemimpin. Namun dalam
hal ini, Sayyid Tantawi dalam bukunya yang berjudul Tafsir al-Wasith
menafsirkan ayat muwalah dengan penjelasan bahwa “Muwalah yang
dilarang adalah yang mengakibatkan kerugian bagi kaum Muslimin dan
Agama. Muwalah (dukungan dan pengangkatan atas non-Muslim) yang
dilarang adalah yang di dalamnya ada unsur tipuan dan penistaan Agama
atau menggangu dan meruguikan kaum Muslimin serta menghapus
kemaslahatan mereka.” Karena itu, muwalah atau dukungan dengan syarat
bermanfaat bagi umat dan agama, tidak termasuk muwalah yang dilarang.
Sedangkan, Imam Fakhrudin ar-Razi, ketika menafsirkan ayat tentang
muwalah mengatakan bahwa yang dilarang adalah menjadikan pemimpin
non-Muslim mutlak (sendiri) tanpa ada partner yang beriman
menemaninaya. (Manan, 2016: 96)
Namun, Al-Nai’am (dalam Manan, 2016: 101) menjelaskan bahwa
pemikiran politik Islam yang menolak presiden non-Muslim memimpin di

12
negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sekalipun dijabarkan
dari sumber-sumber wahyu fundamental Islam sebenrnya bukanlah wahyu,
tetapi tidak lebih sekadar produk penafsiran manusia atau sumber-sumber
tertentu. Produk penafsiran tersebut memang tidak dapat dibantah sebab
lahir dalam sebuah konteks historis tertentu yang secara mendasar berbeda
dengan zaman sekarang. Saat ini diskriminasi berdasarkan agama
sebagaimana yang lazim berlaku pada masa klasik secara moral tertolak dan
secara politik sudah tidak dapat diterima lagi. Ayat-ayat yang melarang umat
Islam memilih pemimpin non-Muslim sudah tidak relavan digunakan lagi.
5. Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Perspektif al-Qur’an

Perdebatan mengenai boleh tidaknya memilih pemimpin non-muslim


hampir selalu berangkat dari dalil al-Qur’an, sebagai berikut: QS al-Imran: 28,
al-Maidah: 51 dan al-Mumtahanah: 1. Karena itu, hampir selalu yang menjadi
inti perdebatan adalah interpretasi dari kata auliya’ yang terdapat dalam ayat
tersebut. Apakah kata auliya’ itu berarti pemimpin, sehingga tidak boleh
mengangkat seorang non-muslim menjadi pemimpin ataukah kata auliya’
diartikan bukan pemimpin, melainkan teman, kekasih, kerabat, dan
pelindung, sehingga kita boleh memilih pemimpin non-muslim. Argumentasi
interpretasi dalil naqli ini akan dikuatkan oleh fakta sosio-historis yang
berkaitan dengan pengangkatan pemimpin non-muslim, sesuai dengan
keyakinan mereka masing-masing.

Dalam kondisi yang demikian, kedua belah pihak akan terhenyak, ketika
tiba-tiba muncul pernyataan: “Lebih baik pemimpin non-Muslim asal adil,
jujur, baik, cerdas, pekerja keras, tidak korupsi, daripada pemimpin muslim
yang khianat, jahat, bejat, bodoh, malas, tukang, dan korup.” Kelompok yang
memilih pemimpin non-Muslim akan merasa di atas angin, apalagi saat ini
Islam tengah mengalami krisis kepemimpinan yang adil. Sebaliknya,
kelompok yang kontra akan mencari pembenaran, agar tidak dipimpin oleh
orang non-Muslim.

13
Sesungguhnya di dalam al-Qur’an terdapat percakapan Allah Swt.
dengan Nabi Ibrahim as. mengenai kepemimpinan yang akan berlaku
setelahnya. Berikut terjemahannya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji
Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan
sempurna. Dia (Allah) berfirman: Sesungguhnya Aku menjadikan engaku
menjadi pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia Ibrahim berkata: “Dan (juga)
dari anak cucuku?” Allah berfirman: “(Benar tetapi) janjiku tidak berlaku bagi
orang-orang Dhalim” (QS al-Baqarah: 124). Menurut Dr. Mohammad Nasih al-
Hafidh, orang-orang jarang mengangkat ayat ini. Padahal, ayat ini menjadi
penguat argumentasi bahwa poin penting dalam diri pemimpin manusia
adalah mereka yang adil, bukan yang zalim.

Islam sangat memerintahkan dan menekankan agar hamba-Nya


berbuat adil sekaligus melaknat orang-orang yang berbuat dhalim. Spirit ini
tidak dapat dipisahkan dengan seorang yang menyatakan dirinya Muslim.
Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-
benar kedhaliman yang besar” (QS Luqman: 13). Dari kedua ayat di atas,
kesimpulan yang dapat ditarik tentu sangat jelas bahwa kedhaliman yang
paling besar adalah orang yang menyekutukan Allah Swt.. Lalu akan muncul
retorik, apakah orang non-muslim itu termasuk orang yang menyekutukan
Allah? Dan pertanyaan yang paling besar kepada bangsa Indonesia adalah
dari sekian banyak umat Islam, apakah tidak ada satu pun calon pemimpin
yang adil (Aziz, 2016).

Berkaitan dengan soal kepemimpinan, ada beberapa ayat di dalam al-


Qur’an yang menyinggung persoalan tersebut antara lain: surah Al-Baqarah
ayat 30; Al-An’am ayat 165, Shad ayat 26; An-Nisa ayat 59, juga Ali Imran ayat
28.

Islam lebih banyak menyoroti masalah sumber daya manusianya.


Karena itu, mengenai manajemen sumber daya manusia, Ab. Aziz Yusof
(dalam Buseri, 2006: 2), membagi menjadi hard dimension of human

14
dimension of human resources dan soft dimension of human resources. Islam
lebih memperhatikan aspek soft dimension (spesifik orientasi, motivasi, value
dan sikap) yang sangat berharga bagi seorang manajer menjalankan
kepemimpinannya. Banyak sekali ayat atau hadis yang berbicara mengenai
aspek ini.

Terdapat beberapa azas bangunan kepemimpinan, di antaranya:

1. Power sesuai dengan yang diberikan oleh pemberi kekuasaan. Dalam


pandangan filsafat Islam, bahwa di atas rakyat dan presiden itu masih
ada lagi yang maha memiliki power ialah Tuhan, oleh sebab itu baik
rakyat maupun presiden harus menanamkan pada dirinya bahwa
mereka juga memiliki power sebagai pemberian dari Tuhan, itulah yang
disebut dengan amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada
pemberi. Jadi setiap pemimpin mesti memiliki dua amanah yakni
amanah dari organisasi/lembaga sekaligus amanah dari Tuhannya.
Kesadaran spiritualitas ini memberikan corak kepemimpinan yang
sangat berketuhanan dan manusiawi, dia akan membawa organisasinya
ke arah visi ketuhanan dan kemanusiaan, bukan ke arah keserakahan.

2. Wewenang (authority). Kewenangan adalah batasan gerak seorang


pemimpin sesuai dengan apa yang telah diberikan oleh pemberinya.
Dalam pandangan Islam, wewenang juga dua lapis, yakni wewenang
yang diperoleh sejalan dengan ruang lingkup tingkatan tugas dan
tanggung jawab pemimpin, serta wewenang yang diberikan oleh Tuhan
sebagai khalifah-Nya, yakni memiliki kewenangan atas bumi dan segala
isinya, dengan tugas memakmurkan bumi ini.

3. Kesadaran spiritual adanya kewenangan yang berlapis ini akan


menumbuhkan pertanggung jawaban atas jalannya wewenang yang
diterimanya, bahkan akan mempertanggung jawabkan di hadapan Yang
Maha Kuasa kelak. Bilamana seorang pemimpin sudah memiliki power,
wewenang dan amanah, maka dia akan memiliki wibawa atau

15
pengaruh. Menurut Daniel Katz and Robert L Kahn, esensi dari
kepemimpinan organisasi adalah penambahan pengaruh di samping
kerelaan mekanik melalui arahan yang rutin dari organisasi
sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Hoy and Miskel, (1991:252)
yang kemudian dikutif oleh Buseri (2006: 3)

4. Iman yang akan mengcover power, authority dan amanah tersebut


sehingga kepemimpinan akan dibangun atas dasar bangunan yang
komprehensip, kuat dan berorientasi jauh ke depan (visioner) tidak
sekedar melihat manajemen hanya diorientasikan kepada masalah
mondial/duniawi semata.

5. Seorang pemimpin yang kuat imannya, dia memahami bahwa


kemampuan memimpin yang dia miliki adalah pemberian Tuhannya.
Dia menyadari punya kekurangan, dan di saat itu dia juga mudah
bertawakkal kepada Tuhannya. Sehingga keberhasilan dan kegagalan
baginya akan memiliki makna yang sama, karena keduanya diyakini
sebagai anugerah sekaligus pilihan Tuhannya. Disini pentingnya zero
power. Takwa sebagai azas kepemimpinan bukan dalam arti yang
sempit., yakni takwa berarti berhati-hati dan teliti. Oleh sebab itu dalam
surah Al- Hasyr 18 mengenai perencanaan, Allah memulai menyeru
dengan seruan: ”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah”, baru
dilanjutkan dengan perintah mengamati kondisi kekinian yang
digunakan untuk menyusun rencana ke depan. Setelah itu ditutup
dengan seruan “bertakwalah” kembali. Ini menunjukkan perencanaan
dan implementasi rencana harus dengan kehati-hatian dan ketelitian
dalam mengumpulkan data, pula dalam mengimplementasikannya.

6. Musyawarah, diterangkan dalam surah As-Syura: 38 dan Ali Imran ayat


159.

‫ونأ نلمنرهن لم ن‬
‫شوُنرىص ب ل نين نهن لم‬
‫ن‬
‫شاَوإلرهن لم إفي ٱللألممةر‬‫ون ن‬

16
Musyawarah penting karena kepemimpinan berkaitan dengan
banyak orang. Melalui musyawarah akan terbangun tradisi keterbukaan,
persamaan dan persaudaraan.

Perencanaan, organisasi, pengarahan dan pengawasan selalu saja


terkait dengan sejumlah orang, maka keterbukaan, persamaan dan
persaudaraan akan mem-back up lancarnya proses manajemen
tersebut. Sebuah visi dan misi organisasi, akan semakin baik bilamana
dibangun atas dasar musyawarah, akan semakin sempurna dan akan
memperoleh dukungan luas, sense of belonging and sense of
responsibility karena musyawarah sebagai bagian dari sosialisasi
(Buseri, 2006: 6).

KESIMPULAN

Kepemimpinan adalah suatu seni atau proses untuk mempengaruhi


seseorang atau banyak orang dalam menggapai tujuan yang dicita-citakan
oleh organisasi atau dalam konteks ini adalah Negara Kesatuan Republik
Indoensia (NKRI). Untuk memenuhi kebutuhan kepemimpinan dalam suatu
organiasasi atau negara, tentu ada persyaratan-persyaratan yang harus
dipenuhi oleh seorang calon pemimpin. Persyaratan yang paling mendasar
ialah dapat memimpin orang lain ke arah pencapaian tujuan organisasi dan
dapat menjalin komunikasi antarmanusia, karena organisasi itu selalu
bergerak atas dasar interkasi sosial.

Dalam konteks negara Indonesia, sebagaimana spirit yang terkandung


dalam sila pertama yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”. Tentu rakyat Indonesia
memiliki keyakinan masing-masing dalam menentukan siapa yang berhak
menempati posisi nahkoda.

Dalam hal ini, warganegara Indonesia yang mayoritas penduduknya


beragama Islam dibenturkan pada dua pilihan yang amat membingungkan,
yaitu pemimpin muslim tapi zalim atau pemimpin non-muslim tapi adil.

17
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Zakir Naik seorang penceramah asal
India tetap pada pendiriannya untuk tidak menganjurkan warganegara
Indoensia untuk menjadikan seorang pemimpin dari kalangan non-muslim.

Islam sangat memerintahkan dan menekankan agar hamba-Nya


berbuat adil dan sebaliknya melaknat orang-orang yang berbuat dhalim.
Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-
benar kedhaliman yang besar” (QS Luqman: 13). Dari sepenggal ayat tersebut
dapat ditarik benang merah bahwa kedhaliman yang paling besar adalah
orang yang menyekutukan Allah Swt.. Oleh karena itu, sudah barang tentu
kita sebagai umat yang sadar mana yang lebih membawa kepada
kemudaratan. Tentu, kita akan memilih pemimpin muslim yang benar-benar
memiliki spirit keislaman yang tinggi, agar terwujudnya masyakat yang
berada dalam baingkai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Gafur (Negara yang
dalam sistem kehidupannya menerapkan prnsip-prinsip islam).

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga menjadi solusi dari


problematika kepemimpinan yang terjadi di negara tercinta yaitu Indonesia.
Di samping itu, penulis menyadari bahwa pada hakikatnya manusia tidak bisa
luput dari salah dan dosa. Karena itu, penulis membuka pintu lebar-lebar
untuk kritik dan saran. Wallahu a’lam bi al-Shawwab

Daftar Pustaka

Aziz, Mokhamad Abdul. 2016. Membangun Umat dan Bangsa. Yogyakarta: CV


Bulaksumur Empat.

Fachry, M. 2002. Multi Partai Menuju Kehidupan Islam: Study Kritis


Standarisasi Partai-Partai Islam. Jakarta: Taghyir Press.

Buseri, Kamrani. 2006. Peran Spiritualitas (Agama) dalam Penyelenggaraan


Kepemimpinan. Banjarmasin.

18
Kartono, Kartini. 2016. Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah pemimpin
Abnormal itu? Depok: PT Rajagrapindo Persada.

Manan, Abdul. 2018. Perbandingan Politik Hukum Islam dan Barat. Jakarta:
Prenamedia Group.

Mangunhardjana, A.M. SJ. 1995. Kepemimpinan. Yogyakarta: Penerbit


Kanisius.

Northouse, Peter G. 2013.. Kepemimpinan. Jakarta: PT Indeks.

Rivai, Veithzal. 2003. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT


RajaGrafindo Persada.

Shihab, M. Quraish. 1994. Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu


dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

Silalahi, TB. 2013. Pemimpin Masa Depan: Teori dan Praktik. Jakarta: Pena
Semsesta.

Aziz, Mokhamad Abdul. 2016. “Muslim Memilih Pemimpin”. Jakarta: PB HMI


https://www.pbhmi.or.id/opini/775/muslim-memilih-pemimpin.html
diakses 25/02/2018.

Naik, Zakir. 2017. “Ditanya Jemaah Soal Pemimpin non-Muslim, Ini jawaban
Zakir Naik” https://nasional.tempo.co/read/861904/ditanya-jemaah-
soal-pemimpin-non-muslim-ini-jawaban-zakir-naik diakses
27/02/2018.

19