Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TIJNAUAN KEPUSTAKAAN

A. MALARIA

1. PENGERTIAN MALARIA

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa)

dari genus plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.

Istilah malaria diambil dari dua kata bahasa Italia yaitu mal (buruk) dan area

(udara) atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang

mengeluarkan bau busuk. Penyakit ini juga mempunyai nama lain, seperti demam

roma, demam rawa, demam tropik, demam pantai, demam charges, demam kura

dan paludisme (Prabowo, 2008).

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan plasmodiu, yaitu makluk

hidup bersel satu yang termasuk kedalam kelompok protozoa. Malaria ditularkan

melalui nyamuk Anopheles betina yang menyandung plasmodium didalamnya.

Plasmodium yang terbawa melelui gigitannyamuk akan hidup dan berkembang

biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini menyerang semua kelompok

umur baik laki-laki maupun perempuan. Orang yang terkena malaria akan

memiliki gejala: demam, mengigil, berkeringat, sakit kepala, mual atau muntah.

Penderita yang menunjukan gejala klinis harus menjalani tes laboratorium untuk

menkonfirmasi status positif malarianya. (Kemenkes, 2016).


2. ETIOLOGI MALARIA

Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium. Pada manusia

plasmodium terdiri dari 4 spesies, yaitu plasmodium falciparum, plasmodium

vivax, plasmodium malariae, dan plasmodium ovale. Akan tetapi jenis spesies

plasmodium falciparum merupakan penyebab infeksi berat bahkan dapat

menimbulkan kematian (Harijanto, 2010).

3. GEJALA MALARIA

Malaria adalah penyakit dengan gejala demam, yang terjadi tujuh hari

sampai dua minggu sesudah gigitan nyamuk yang infektif. Adapun gejala-gejala

awal adalah demam, sakit kepala, menggigil dan muntah-muntah (Soedarto,

2011).

Menurut Harijanto, dkk (2010) gejala klasik malaria yang umum terdiri dari

tiga stadium (trias malaria) yaitu:

a. Periode dingin. Mulai menggigil, kulit dingin, dan kering, penderita sering

membungkus diri dengan selimut atau sarung dan saat menggigil seluruh tubuh

sering bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti

orang kedinginan. Periode ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti

dengan peningkatan temperatur.

b. Periode panas. Penderita berwajah merah, kulit panas dan kering, nadi cepat

dan panas badan tetap tinggi dapat mencapai 400C atau lebih, respirasi

meningkat, nyeri kepala, terkadang muntah-muntah, dan syok. Periode ini lebih
lama dari fase dingin, dapat sampai dua jam atau lebih diikuti dengan keadaan

berkeringat.

c. Periode berkeringat. Mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah,

temperatur turun, lelah, dan sering tertidur. Bila penderita bangun akan merasa

sehat dan dapat melaksanakan pekerjaan seperti biasa.

Menurut Anies (2006) malaria komplikasi gejalanya sama seperti gejala

malaria ringan, akan tetapi disertai dengan salah satu gejala dibawah ini:

a. Gangguan kesadaran (lebih dari 30 menit).

b. Kejang.

c. Panas tinggi disertai diikuti gangguan kesadaran.

d. Mata kuning dan tubuh kuning.

e. Pendarahan dihidung, gusi atau saluran pencernaan.

f. Jumlah kencing kurang (oliguri).

g. Warna air kencing (urine) seperti air teh.

h. Kelemahan umum.

i. Nafas pendek.

4. DIAGNOSIS MALARIA

Soerdarto (2011) mengatakan diagnosis malaria ditegakkan setelah

dilakukan wawancara (anamnesis), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

laboratorium. Akan tetapi diagnosis pasti malaria dapat ditegakkan jika hasil

pemeriksaan sediaan darah menunjukakan hasil yang positif secara mikroskopis

atau Uji Diagnosis Cepat (Rapid Diagnostic Test= RDT).


a. Wawancara (anamnesis)

Anamnesis atau wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi

tentang penderita malaria yakni, keluhan utama: demam, menggigil, dan

berkeringat yang dapat disertai sakit kepala, mual muntah, diare, nyeri otot,

pegal-pegal, dan riwayat pernah tinggal di daerah endemis malaria, serta

riwayat pernah sakit malaria atau minum obat anti malaria satu bulan terakhir,

maupun riwayat pernah mendapat tranfusi darah.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik terhadap penderita dapat ditemukan mengalami

demam dengan suhu tubuh dari 37,50C sampai 400C, serta anemia yang

dibuktikan dengan konjungtiva palpebra yang pucat, pambesaran limpa

(splenomegali) dan pembesaran hati (hepatomegali).

c. Pemerikasaan laboratorium

Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah

yang menurut teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darah (SDr,

sediaan darah) tebal dan preparat darah tipis, untuk menentukan ada tidaknya

parasit malaria dalam darah. Tes diagnostik cepat Rapid Diagnostic Test

(RDT) adalah pemeriksaan yang dilakukan bedasarkan antigen parasit

malaria dengan imunokromatografi dalam bentuk dipstick. Test ini digunakan

pada waktu terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) atau untuk memeriksa malaria

pada daerah terpencil yang tidak ada tersedia sarana laboratorium.

Dibandingkan uji mikroskopis, tes ini mempunyai kelebihan yaitu hasil

pengujian cepat diperoleh, akan tetapi Rapid Diagnostic Test (RDT)


sebaiknya menggunakan tingkat sentitivity dan specificity lebih dari 95%

(Soerdato, 2011).

d. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita,

meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit

dan trombosit (Widoyono, 2008).

5. PENGOBATAN MALARIA

Pengobatan malaria hendaknya dilakukan setelah diagnosis malaria

dikonfirmasi melalui pemeriksaan klinis dan laboratorium. Pengobatan sebaiknya

memperhatikan tiga faktor utama, yaitu spesies plasmodium, status klinis

penderita dan kepakaan obat terhadap parasit yang menginfeksi. Obat anti malaria

yang dapat digunakan untuk memberantas malaria diantaranya malaria falcifarum

adalah artemisinin dan deriviatnya, chinchona alkaloid, meflokuin, balofantrin,

sulfadoksin-pirimetamin, dan proguanil. Sedangkan untuk mengobati malaria

vivax dan malaria ovale, menggunakan obat anti malaria klorokuin. Namun bila

digunakan sebagai terapi radikal pemberian klorokuin diikuti dengan pemberian

primakuin, tidak terkecuali infeksi yang disebabkan plasmodium malariae, jenis

obat klorokuin tetap digunakan (Harijanto, 2010).

Beberapa obat antibiotika dapat bersifat sebagai antimalaria. Khusus di

Rumah Sakit, obat tersebut dapat digunakan dengan kombinasi obat antimalaria

lain, untuk mengobati penderita resisten multidrugs. Obat antibiotika yang sudah

diujicoba sebagai profilaksis dan pengobatan malaria diantaranya adalah derivate


tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, sulfametoksazol-trimetoprim dan

siprofloksasin. Obat-obat tersebut digunakan bersama obat anti malaria yang

bekerja cepat dan menghasilkan efek potensiasi antara lain dengan kina (Depkes,

2006).

1. Pengobatan malaria falciparum

a. Lini pertama

Artesunat+Amodiakuin+Primakuin

Dosis artesunat= 4mg/kgBB (dosis tunggal), amodiakuin=

10mg/kgBB (dosis tunggal), primakuin= 0,75 mg/kgBB (dosis

tunggal). Apabila pemberian dosis tidak memungkinkan berdasarkan

berat badan penderita, pemberian obat dapat diberikan berdasarkan

golongan umur. Dosis makasimal penderita dewasa yan dapat

diberikan untuk artesunat dan amodiakuin masing- masing 4 tablet, 3

tablet untuk primakuin (Depkes, 2006).

Tabel Pengobatan Lini Pertama Untuk Malaria falciparum


Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1 bln 2-11 bln 1-4 th 5-9 th 10-14 th ≥15 th
Hari Jenis obat
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4
I Primakuin - - ¾ 1½ 2 2-3
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4
II
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
III Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4

Kombinasi ini digunakan sebagai pilihan utama untuk pengobatan

malaria falciparum. Pemakaian artesunat dan amodiakuin bertujuan


untuk membunuh parasit stadium aseksual, sedangkan primakuin

bertujuan untuk membunuh gametosit yang berada di dalam darah.

Pengobatan lini kedua malaria falciparum diberikan bila

pengobatan lini pertama tidak efektif (Depkes, 2006).

b. Lini kedua

Kina+Doksisiklin/Tetrasiklin+Primakuin

Dosis kina=10 mg/kgBB/kali (3x/hari selama 7 hari), doksisiklin=

4 mg/kgBB/hr (dewasa, 2x/hr selama 7 hari), 2 mg/kgBB/hr (8-14

th, 2x/hr selama 7 hari), tetrasiklin= 4-5 mg/kgBB/kali (4x/hr

selama 7 hari). Apabila pemberian dosis obat tidak

memungkinkan berdasarkan berat badan penderita, pemberian obat

dapat diberikan berdasarkan golongan umur (Depkes, 2006).

Tabel Pengobatan Lini Kedua Untuk Malaria falciparum


Hari Jenis obat Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-11 bln 1-4 th 5- 9 th 10-14 th ≥ 15 th
Kina * 3x½ 3x1 3x½ 3x2-3
Doksisiklin - - - 2x1** 2x1***
I Primakuin - ¾ 1½ 2 2-2
Kina * 3x½ 3x1 3x½ 3x2-3
Doksisiklin - - - 2x1** 2x1***
II-VII
* : dosis diberikan per kgBB

** : 2x50 mg doksisiklin

*** : 2x100 mg doksisiklin

2. Pengobatan malaria vivax dan malaria ovale

a. Lini pertama
Klorokuin+Primakuin

Kombinasi ini digunakan sebagai piliha utama untuk pengobatan

malaria vivax dan ovale. Pemakaian klorokuin bertujuan

membunuh parasit stadium aseksual dan seksual. Pemberian

primakuin selain bertujuan untuk membunuh hipnozoit di sel hati,

juga dapat membunuh parasit aseksual di eritrosit (Depkes, 2006).

Dosis total klorokuin= 25 mg/kgBB (1x/hr selama 3 hari),

primakuin= 0,25 mg/kgBB/hr (selama 14 hari).

Apabila pemberian dosis obat tidak memungkinkan berdasarkan berat

badan penderita obat dapat diberikan berdasarkan golongan umur,

sesuai dengan tabel.

Tabel Pengobatan Lini Kedua Untuk malaria vivax dan malaria ovale
Hari Jenis obat Jumlah tablet menurut kelompok umur (dosis tunggal)
0-1 bln 2-11 bln 1-4 th 5-9 th 10-14 th ≥15 th
Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
I Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1

Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
II Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1

Klorokuin 1/8 ¼ ½ 1 1½ 2
III Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
IV-XIV Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1

Pengobatan efektif apabila sampai dengan hari ke 28

setelah pemberian obat, ditemukan keadaan sebagai berikut: klinis

sembuh (sejak hari keempat) dan tidak ditemukan parasit stadium

aseksual sejak hari ketujuh. Pengobatan tidak efektif apabila dalam

28 hari setelah pemberian obat:


 Gejala klinis memburuk dan parasit aseksual positif, atau

 Gejala klinis tidak memburuk tetapi parasit aseksual tidak

berkurang atau timbul kembali setelah hari ke-14.

 Gejala klinis membaik tetapi parasit aseksual timbul

kembali antara hari ke-15 sampai hari ke-28 (kemungkinan

resisten, relaps atau infeksi baru).

b. Lini kedua (pengobatan malaria vivax resisten klorokuin)

Kina+Primakuin

Dosis kina= 10 mg/kgBB/kali (3x/hr selama 7 hari), primakuin=

0,25 mg/kgBB (selama 14 hari). Dosis obat juga dapat ditaksir

dengan menggunakan tabel dosis berdasarkan golongan umur sebagai

berikut:

Tabel Pengobatan Malaria vivax Resisten Klorokuin


Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1 bln 2-11 bln 1-4 th 5-9 th 10-14 th ≥ 15 th
1-7 Kina * * 3x½ 3x1 3x2 3x3
1-14
Hari Primakuin
Jenis obat - - ¼ ½ ¾ 1

*: dosis diberikan per kgBB

Pengobatan malaria vivax yang relaps

Sama dengan regimen sebelumnya hanya dosis primakuin yang

ditingkatkan. Dosis klorokuin diberikan 1 kali perhari selama 3 hari,

dengan dosis total 25 mg/kgBB dan primakuin diberikan selama 14 hari

dengan dosis 0,5 mg/kgBB/hari. Dosis obat juga dapat ditaksir dengan

menggunakan tabel dosis berdasarkan golongan umur (Depkes, 2006).


Tabel Pengobatan Malaria vivax yang Relaps

Hari Jenis obat Jenis obat menurut kelompok golongan umur


0-1 bln 2-11 bln 1-4 th 5-9 th 10-14 th ≥15 th
1 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
Primakuin - - ½ 1 1½ 2
2 Klorokuin ¼ ½ - 2 3 3-4
Primakuin - - ½ 1 1½ 2
3 Klorokuin 1/8 ¼ ½ 1 1½ 2
Primakuin - - ½ 1 1½ 2
4-14 Primakuin - - ½ 1 1½ 2

3. Pengobatan malaria malariae

Klorokuin 1 kali perhari selama 3 hari, dengan dosis total 25

mg/kgBB. Klorokuin dapat membunuh parasit bentuk aseksual dan

seksual P. malariae. Pengobatan dapat juga diberikan berdasarkan

golongan umur penderita (Depkes, 2006).

Tabel pengobatan malaria malariae

Hari Jenis obat Jumlah tablet menurut kelompok golongan umur


0-1 bln 2-11 1-4 th 5-9 th 10-14th ≥ 15
I Klorokui ¼ bln
½ 1 2 3 th
3-4
II Klorokui
n ¼ ½ 1 2 3 3-4
III Klorokui
n 1/8 ¼ ½ 1 1½ 2
n

4. Kemoprokfilaksis

Kemoprofilaksis bertujuan untuk mengurangi resiko terinfeksi

malaria sehingga bila terinfeksi maka gejala klinisnya tidak berat.

Kemoprofilaksis ini ditujukan kepada orang yang bepergian ke daerah

endemis malaria dalam waktu yang tidak terlalu lama, seperti turis,
peneliti, pegawai kehutanan dan lain-lain. Untuk kelompok atau

individu yang akan bepergian atau tugas dalam jangka waktu yang

lama, sebaiknya menggunakan personal protection seperti pemakaian

kelambu, kawat kassa, dan lain-lain.

Oleh karena P. falciparum merupakan spesies yang virulensinya

cukup tinggi maka kemoprofilaksisnya terutama ditujukan pada infeksi

spesies ini. Sehubungan dengan laporan tingginya tingkat resistensi P.

falciparum terhadap klorokuin, maka doksisiklin menjadi pilihan.

Doksisiklin diberikan setiap hari dengan dosis 2 mg/kgBB selama tidak

lebih dari 4-6 minggu. Kemoprofilaksis untuk P. vivax dapat diberikan

klorokuin dengan dosis 5 mg/kgBB setiap minggu. Obat tersebut

diminum 1 minggu sebelum masuk ke daerah endemis sampai 4

minggu setelah kembali.

Tabel Dosis Pengobatan Pencegahan Dengan Klorokuin

Golongan umur (thn) Jumlah tablet klorokuin (dosis tunggal, 1x/minggu)


<1 ¼
1-4 ½
5-9 1
10-14 1½
>14 2

6. PENCEGAHAN MALARIA

a. Menghindari gigitan nyamuk malaria

Pada daerah yang jumlah penderitanya sangat banyak, tindakan untuk

menghindari gigitan nyamuk sangat penting, di daerah pedesaan atau pinggiran

kota yang banyak sawah, rawa-rawa atau tambak ikan (tambak sangat ideal
untuk perindukan nyamuk malaria), disarankan untuk memakai baju lengan

panjang dan celana panjang saat keluar rumah, terutama pada malam hari

karena nyamuk penular malaria aktif menggigit pada waktu malam hari.

Kemudian mereka yang tinggal di daerah endemis malaria sebaiknya

memasang kawat kasa di jendela pada ventilasi rumah, serta menggunakan

kelambu saat akan tidur. Setelah itu masyarakat juga bisa memakai anti

nyamuk (mosquito repellent) saat hendak tidur terutama malam hari agar bisa

mencegah gigitan nyamuk malaria (Prabowo, 2008).

b. Membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa Untuk membunuh jentik dan

nyamuk malaria dewasa dapat dilakukan beberapa cara yaitu:

1) Penyemprotan rumah, Penyemprotan insektisida pada rumah di daerah

endemis malaria, sebaiknya dilakukan dua kali dalam setahun dengan

interval waktu enam bulan.

2) Larvaciding, Merupakan kegiatan penyemprotan pada rawa-rawa yang

potensial sebagai tempat perindukan nyamuk malaria.

3) Biological control, Biological control merupakan kegiatan penebaran ikan

kepala timah (panchax-panchax) dan ikan guppy/ wader cetul (lebistus

retculatus), karena ikan-ikan tersebut berfungsi sebagai pemangsa jentik

nyamuk malaria (Anis, 2006).

c. Mengurangi tempat perindukan nyamuk malaria

Tempat perindukan vektor malaria bermacam-macam, tergantung spesies

nyamuknya. Ada nyamuk malaria yang hidup dikawasan pantai, rawa-rawa,

empang, sawah, tambak ikan, bahkan ada yang hidup di air bersih pada
pegunungan. Akan tetapi pada daerah yang endemis malaria, masyarakatnya

harus menjaga kebersihan lingkungan (Prabowo, 2008).

d. Pemberian obat pencegahan malaria.

Pemberian obat pencegahan (profilaksis) malaria bertujuan agar tidak

terjadinya infeksi, dan timbulnya gejala-gejala malaria. Hal ini sebaiknya

dilakukan pada orang-orang yang melaksanakan perjalanan ke daerah endemis

malaria (Anis, 2006).

7. PENULARAN MALARIA

Penyakit malaria ditularkan melalui dua cara, yaitu alamiah dan non

alamiah. Penularan secara alamiah adalah melalui gigitan nyamuk Anopheles yang

mengandung parasit malaria, sedangkan non alamiah penularan yang tidak

melalui gigitan nyamuk Anopheles.

a. Penularan secara alamiah (natural infection)

Menurut Bruce-Chwatt (Maulana, 2004) penularan secara alamiah yaitu

infeksi terjadi melalui paparan gigitan nyamuk Anopheles betina yang infektif.

Sumber infeksi malaria pada manusia selalu sangat dekat dengan seseorang,

apakah sebagai penderita malaria atau karier.

b. Penularan bukan alamiah

1) Malaria bawaan (konginetal), malaria pada bayi yang baru lahir disebabkan

ibunya menderita malaria. Penularan ini diakibatkan adanya kelainan pada

sawar plasenta (selaput yang menghalangi plasenta), sehingga tidak ada


penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya. Selain melalui plasenta,

penularan juga bisa melalui tali pusat.

2) Penularan secara mekanik terjadi melalui transfusi darah atau jarum suntik.

Infeksi malaria melalui tranfusi darah menghasilkan siklus eritrositer karena

tidak malalui sporozoit (siklus hati) sehingga dapat dengan mudah diobati.

8. PENYEBARAN MALARIA

Penyebaran malaria disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya sebagai

berikut :

a. Perubahan lingkungan yang tidak terkendali dapat menimbulkan tempat

perindukan nyamuk malaria.

b. Banyaknya nyamuk Anopheles spp yang telah dikonfirmasi sebagai vektor

malaria (17 spesies) dari berbagai macam habitat.

c. Mobilitas penduduk yang relatif tinggi menuju daerah endemis malaria.

d. Perilaku masyarakat yang memungkinkan terjadinya penularan.

e. Semakin meluasnya penyebaran parasit malaria yang telah resisten terhadap

obat anti malaria.

f. Terbatasnya akses pelayanan kesehatan untuk menjangkau seluruh desa yang

bermasalah malaria, karena hambatan geografis, ekonomi dan sumber daya

(Soedarto, 2011)

9. PENGENDALIAN MALARIA

1. Pengelolaan lingkungan
Pengelolaan lingkungan adalah suatu kegiatan yang meliputi

perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan. Kegiatan modifikasi dan

manipulasi faktor lingkungan atau interaksinya dengan manusia untuk

mencegah atau membatasi perkembangan vektor dan mengurangi kontak antar

manusia dengan vektor.

2. Manupulasi lingkungan

Suatu pengkondisian lingkungan yang bersifat sementara sehingga tidak

menguntungkan bagi perkembangbiakan vektor meliputi:

1) Pemberantasan larva dengan cara source reduction; adalah upaya manipulasi

lingkungan dengan penggelontoran, perubahan salinitas, membersihkan

tanaman air yang mengapung, pembersihan lumut, dan lain-lain.

2) Plumbing; pembuatan saluran (pipa) penghubung tempat perindukan ke

kelaut.

3) Reboisasi hutan bakau.

3. Cara hayati

Teknik hayati pada dasarnya mencakup tentang konversi, inokulasi dan

inundasi. Cara hayati dapat dilaksanakan dengan ikan pemakan jentik (larva),

bakteri, dan cendawan.

1) Konversi merupakan teknik untuk pelestarian dari predator.

2) Inokulasi adalah prinsip populasi sebagai agent dapat bertambah sendiri

pada suatu lokasi.

3) Inundasi adalah dengan membuat rearing, kultur masal dilepas pada suatu

areal supaya mengenai sasaran, tidak tertuju pada pelestarian.