Anda di halaman 1dari 19
  • A. Pengertian

    • 1. Sectio caesaria Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau suatu histerektomia untuk janin dari dalam rahim. ( Mochtar, 2011 ) . Sectio caesaria adalah cara melahirkan janin dengan menggunakan insisi pada perut dan uterus. (Bobak, 2010) . Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. (Rusli Muljadi dan Kristianus Cahyono. 2010)

    • 2. Pre Eklamsi Pre eklamsi ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada molahidatidosa (Wiknjosastro, 2011) Preeklamsia berat adalah suatu keadaan pada kehamilan dimana tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg atau diastolik lebih dari 110 mmHg pada dua kali pemeriksaan yang setidaknya berjarak 6 jam dengan ibu posisi tirah baring. (Bobak,2010 ) Jadi Post Sectio Caesaria dengan indikasi Preeklamsia berat adalah masa setelah proses pengeluaran janin yang dapat hidup di luar kandungan dari dalam uterus ke dunia luar dengan menggunakan insisi pada perut dan uterus karena adanya hipertensi,edema dan proteinuria.

  • B. Etiologi dan Predisposisi

  • Penyebab pre eklamsi sampai sekarang belum diketahui tetapi dewasa ini banyak ditemukan sebab Pre eklamsi adalah iskemia placenta dan kelainan 20 yang menyertai penyakit ini adalah Spasmus, Arteriola, Retensi natrium dan air juga koagulasi intravaskuler ( Wiknjasastro, 2009 ).

    Penyebab Pre Eklamsi sampai sekarang belum diketahui, telah terdapat teori yang mencoba menerangkan sebab musabab penyakit tersebut, akan tetapi tidak

    ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang dapat diterima antara lain:

    • 1. Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda, hidromnion, dan molahidatidosa

    • 2. Sebab bertambahnya, frekuensi dan makin tuanya kehamilan

    • 3. Sebab dapat terjadinya, perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dan uterus

    • 4. Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma

    Faktor predisposisi pre eklamsi yang harus diwaspadai menurut (Hanifa, 2010) antara lain Nuliparitas, riwayat keluarga dengan Eklamsi dan pre eklamsi, kehamilan ganda, diabetes, hipertensi dan molahidatidosa.

    C.

    Patofisiologi

    Patofisiologi Pre Eklamsi setidaknya berkaitan dengan fisiologis kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskuler sistemik, peningkatan curah jantung dan penurunan tekanan osmotik koloid pada pre eklamsi. Volume plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini 21 membuat perfusi ke unit janin utero plasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun. Ada beberapa indikasi dilakukan tindakan operasi sectio caesaria antaranya karena Pre Eklamsia, sebelum dilakukan tindakan operasi sectio caesaria perlu adanya persiapan, persiapan diantaranya yaitu premedikasi, pemasangan kateter dan anastesi yang kemudian baru dilakukan operasi. Dilakukannya operasi caesaria akan berpengaruh pada

    dua kondisi yaitu, Pertama, kondisi yang dikarenakan pengaruh anastesi, luka akibat operasi dan masa nifas, anastesi akan berpengaruh pada peristaltik usus, luka akibat operasi dan masa nifas, anastesi akan berpengaruh pada peristaltik usus, otot pernafasan dan kons pengaturan muntah. Sedangkan pada luka akibat operasi akan menyebabkan perdarahan, nyeri serta proteksi tubuh kurang. Pada masa nifas akan berpengaruh pada kontraksi uterus, lochea, dan laktasi. Kontraksi uterus yang berlebihan akan menyebabkan nyeri hebat. Sedangkan pada lochea yang berlebihan akan menimbulkan perdarahan. Pada masa laktasi progesteron dan esterogen akan merangsang kelenjar susu untuk mengeluarkan ASI. Kondisi kedua adalah kondisi fisiologis yang terdiri dari tiga fase yaitu taking in, taking hold, dan letting go. Pada fase taking in terjadi saat satu sampai dua hari post partum, sedangkan ibu sangat tergantung pada orang lain. Fase yang kedua terjadi pada 3 hari post partum, ibu mulai makan dan minum sendiri, merawat diri dan bayinya. Untuk fase yang ketiga ibu dan keluarganya 22 harus segera menyesuaikan diri terhadap interaksi antar anggota keluarga ( Bobak, 2010. Prawiroharjo, 2013).

    • D. Manifestasi Klinis

    Manifestasi klinik yang muncul pada penderita Pre Eklamsi Berat

    menurut Bobak ( 2009 ) adalah:

    • 1. Pre Eklamsi Ringan

      • a. Bila tekanan sistolik > 140 mmHg kenaikan 30 mmHg diatas tekanan biasa, tekanan distolik 90 mmHg, kenaikann 40 mmHg diatas tekanan biasa, tekanan darah yang meninggi ini sekurangnya diukur 2x dengan jarak 6 jam

      • b. Proteinuria sebesar 300 mg/dl dalam 25 jam atau > 1 gr/dl secara random dengan memakai contoh urin siang hari yang dikumpulkan pada dua waktu dengan jarak 6 jam karena kehilangan protein adalah bervariasi

      • c. Edema dependent, bengkak dimata, wajah, jari, bunyi pulmoner tidak terdengar. Edema timbul dengan didahului penambahan berat badan ½ kg dalam seminggu atau lebih. Tambahan berat badan yang banyak ini disebabkan oleh retensi air dalam jaringan dan kemudian baru edema nampak, edema ini tidak hilang dengan istirahat.

    • 2. Pre Eklamsi Berat

      • a. Tekanan Darah sistolik > 160 mmHg dan diastolik > 110 mmHg pada dua kali pemeriksaan yang setidaknya berjarak 6 jam dengan posisi ibu tirah baring

      • b. Proteinuria > 5 gram dalam urin 24 jam atau lebih dari +3 pada pemeriksaan diagnostik setidaknya pada 2x pemeriksaan acak menggunakan contoh urin yang diperoleh cara bersih dan berjarak setidaknya 4 jam

      • c. Oliguria < 400 mml dalam 24 jam

      • d. Gangguan otak atau gangguan penglihatan

      • e. Nyeri ulu hati

      • f. Edema paru/ sianosis

    3.

    Eklamsia

    • a. Kejang kejang / koma

    • b. Nyeri pada daerah frontal

      • c. Nyeri epigastrium

    • d. Penglihatan semakin kabur

      • e. Mual, muntah

    • E. Jenis sectio caesaria Menurut Mochtar Rustam (2009) jenis-jenis sectio caesarea adalah :

    1.

    transperitonealis

    • a. Sectio Caesarea klasik (korporal) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kirakira sepanjang 10 cm. Kelebihan :

    1) Mengeluarkan janin lebih cepat 2) Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih 3) Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan :

    Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada riperitonearisasi yang baik Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan

    • b. Sectio Caesarea ismika (profunda) Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.

    • c. Kelebihan :

    1) Penjahitan luka lebih mudah 2) Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

    3) Tumpang tindih dari peritoneal flat baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga periutoneum 4) Perdarahan kurang 5) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteri spontan kurang atau lebih kecil. Kekurangan :

    1) Luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat menye- babkan uterine putus dan terjadi perdarahan hebat. 2) Keluhan pada kandung kemih postoperatif tinggi.

    • 2. Sectio Caesarea ekstraperitonealis Sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.

    • F. Indikasi Sectio Caeasarea Indikasi untuk seksio sesaria menurut (Mochtar, Rustam, 2009).

      • a. Indikasi untuk ibu Plasenta previa, Distocia serviks, Ruptur uteri mengancam, Disproporsi cepalo pelviks, Pre eklamsi dan eklamsi, Tumor, Partus lama.

      • b. Indikasi untuk janin 1. Mal presentasi janin a) Letak lintang 1) Bila ada kesempitan panggul sectio caesarea adalah cara terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup. 2)Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio caesarea. 3) Multipara letak lintang dapat lebih dulu dengan cara yang lain

    b) Letak bokong Dianjurkan seksio sesaria bila ada Panggul sempit, Primigravida, Janin besar, Presentasi dahi dan muka bila reposisi dan cara lain tidak berhasil, Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil, atau Gemeli. 2. Gawat Janin Segera lakukan operasi agar tidak terjadi keracunan atau kematian janin, sesuai dengan indikasi sectio caesarea. Kontra indikasi

    • a) Janin mati atau berada dalam keadaan kritis, kemungkinan janin hidup kecil. Dalam hal ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi.

    • b) Janin lahir ibu mengalami infeksi yang luas dan fasilitas untuk section caesarea ekstra peritoneal tidak ada.

    • c) Kurangnya pengalaman dokter bedah dan tenaga medis yang kurang memadai.

    • G. Adaptasi Post Sectio Caesaria Adapun adaptasi post sectio caesaria menurut Bobak, Lowdermik, Jensen (2010) meliputi :

    1. Adaptasi Fisiologi Perubahan fisiologis pada masa post partum menurut

    Bobak, Lowdermik, Jensen (2010) meliputi :

    • Involusi Yaitu suatu proses fisiologi pulihnya kembali alat kandungan ke keadaan sebelum hamil, terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil karena cytoplasmanya yang berlebihan dibuang. 1) Involusi uterus Terjadi setelah placenta lahir, uterus akan mengeras karena kontraksi dan reaksi pada otot-ototnya, dapat diamati dengan pemeriksaan. Tinggi Fundus Uteri :

    • a) Setelah placenta lahir hingga 12 jam pertama Tinggi Fundus Uteri 1 2 jari dibawah pusat.

    • b) Pada hari ke-6 tinggi Fundus Uteri normalnya berada di pertengahan simphisis pubis dan pusat.

    • c) Pada hari ke-9 / 12 tinggi Fundus Uteri sudah tidak teraba.

    2) Involusi tempat melekatnya placenta Setelah placenta dilahirkan, tempat melekatnya placenta menjadi tidak beraturan dan ditutupi oleh vaskuler yang kontraksi serta trombosis pada endometrium terjadi pembentukan scar sebagai proses penyembuhan luka. Proses penyembuhan luka pada endometrium ini memungkinkan untuk implantasi dan pembentukan placenta pada kehamilan yang akan datang.

    • Lochea Yaitu kotoran yang keluar dari liang senggama dan terdiri dari jaringanjaringan mati dan lendir berasal dari rahim dan liang senggama. Menurut pembagiannya sebagai berikut :

    1) Lochea rubra Berwarna merah, terdiri dari lendir dan darah, terdapat pada hari kesatu dan kedua. 2) Lochea sanguinolenta Berwarna coklat, terdiri dari cairan bercampur darah dan pada hari ke3 - 6 post partum. 3) Lochea serosa Berwarna merah muda agak kekuningan, mengandung

    4)

    serum, selaput lendir, leucocyt dan jaringan yang telah mati, pada hari ke-7 - 10. Lochea alba Berwarna putih / jernih, berisi leucocyt, sel epitel, mukosa serviks dan bakteri atau kuman yang telah mati, pada hari ke-1 2 minggu setelah melahirkan.

    • 2. Adaptasi psikososial Ada 3 fase perilaku pada ibu post partum menurut Bobak, Lowdermik, Jensen (2009) yaitu :

      • a. Fase “taking in” (Fase Dependen)

    1) Selama 1 - 2 hari pertama, dependensi sangat dominan pada ibu dan ibu lebih memfokuskan pada dirinya sendiri.

    2) Beberapa hari setelah melahirkan akan menangguhkan keterlibatannya dalam tanggung jawab sebagai seorang ibu dan ia lebih mempercayakan kepada orang lain dan ibu akan lebih meningkatkan kebutuhan akan nutrisi dan istirahat. 3) Menunjukkan kegembiraan yang sangat, misalnya menceritakan tentang pengalaman kehamilan, melahirkan dan rasa ketidaknyamanan.

    • b. Fase “taking hold” (Fase Independen) 1) Ibu sudah mau menunjukkan perluasan fokus perhatiannya yaitu dengan memperlihatkan bayinya. 2)

    Ibu mulai tertarik melakukan pemeliharaan pada bayinya.

    3) Ibu mulai terbuka untukmenerima pendidikan kesehatan bagi diri

    dan bayinya.

    • c. Fase “letting go” (Fase Interdependen)

    1)

    Fase ini merupakan suatu kemajuan menuju peran baru.

    2) Ketidaktergantungan dalam merawat diri dan bayinya lebih

    3)

    meningkat. Mengenal bahwa bayi terpisah dari dirinya.

    H.

    Komplikasi

    Kemungkinan komplikasi dilakukannya pembedahan SC menurut Wiknjosastro

    (2013)

    Komplikasi yang bersifat ringan seperti kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas yang bersifat berat seperti peritonitis, sepsis.

    • 2. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.

    • 3. Komplikasi lain seperti luka kandung kemih, kurang kuatnya jaringan parut pada dinding uterus sehingga bisa terjadi ruptur uteri pada kehamilan berikutnya.

    I.

    Penatalaksanaan

    Penatalakanaan yang diberikan pada pasien Post SC diantaranya:

    • 1. Penatalaksanaan secara medis

      • a) Analgesik diberikan setiap 3 4 jam atau bila diperlukan seperti Asam Mefenamat, Ketorolak, Tramadol.

      • b) Pemberian tranfusi darah bila terjadi perdarahan partum yang hebat.

      • c) Pemberian antibiotik seperti Cefotaxim, Ceftriaxon dan lain-lain. Walaupun pemberian antibiotika sesudah Sectio Caesaria efektif dapat dipersoalkan, namun pada umumnya pemberiannya dianjurkan.

      • d) Pemberian cairan parenteral seperti Ringer Laktat dan NaCl.

  • 2. Penatalaksanaan secara keperawatan

    • a) Periksa dan catat tanda tanda vital setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada 4 jam kemudian.

    • b) Perdarahan dan urin harus dipantau secara ketat

    • c) Mobilisasi Pada hari pertama setelah operasi penderita harus turun dari tempat tidur dengan dibantu paling sedikit 2 kali. Pada hari kedua penderita sudah dapat berjalan ke kamar mandi dengan bantuan.

    • d) Pemulangan Jika tidak terdapat komplikasi penderita dapat dipulangkan pada hari kelima setelah operasi

  • Menurut “ Bobak” ( 2009 ), “ Wiknjasastro” ( 2012 )

    • 1. Tujuan pengobatan

      • a) Menurunkan Tekanan Darah dan menghasilkan vasospasme

      • b) Mencegah terjadinya eklamsi

      • c) Anak / bayi hidup, dengan kemungkinan hidup besar

      • d) Persalinan harus dengan trauma yang sedikit jangan sampai

    menyebabkan penyakit pada kehamilan dan persalinan berikutnya

    • e) Mencegah timbulnya kejang f.Mencegah hipertensi yang menetap

    • 2. Dasar Pengobatan

      • a) Istirahat

      • b) Diit rendah garam

      • c) Obat obat anti hipertensi

      • d) Luminal 100 mg ( IM )

      • e) Sedatif ( untuk mencegah timbulnya kejang )

      • f) Induksi persalinan

  • 3. Pengobatan jalan ( dirumah ) Indikasi untuk perawatan di Rumah Sakit adalah a) TD < 140/90 mmHg

    • b) Proteinuria positif akut

    • c) Penambahan BB 1 kg / lebih dalam 1 minggu harus dilakukan observasi yang teliti

    • d) Sakit kepala, penglihatan dan edema jaringan dari kelopak mata

    • e) BB ditimbang 2x sehari

    • f) TD diukur 4 jam sekali

    • g) Cairan yang masuk dan keluar dicatat

    • h) Pemeriksaan urine tiap hari, proteinuria ditentukan kuantitatif

    • i) Pemeriksaan darah j.Makanan yang sedikit mengandung garam

    • k) Sebagai pengobatan diberikan luminal ( 4 x 30 MgSO4 ) kalau ada edema dapat diberikan NH4cl + 4 gram sehari tapi jangan lebih dari 3 hari.

  • J. Asuhan Keperawatan

    1. Pengkajian

    • Identitas klien Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agama, alamat, status perkawinan, ruang rawat, MR , diagnosa medik, tanggal masuk tanggal pengkajian, tanggal operasi, serta penanggung jawab.

    • Riwayat kesehatan

      • - Riwayat kesehatan sekarang Biasanya klien mengeluh nyeri atau tidak nyaman dari berbagai sumber misalnya trauma bedah/ insisi, nyeri distensi kantung kemih meliputi keluhan atau berhubungan dengan gangguan atau penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi.

      • - Riwayat kesehatan dahulu Didapatkan data klien pernah riwayat sc sebelumnya, tekanan darah tinggi, panggul ibu sempit, serta letak bayi sungsang. Meliputi penyakit yang lain dapat mempengaruhi penyakit sekarang, apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama.

      • - Riwayat kesehatan keluarga Keluarga ada yang mengalami riwayat SC dengan indikasi letak sungsang, panggul sempit, dan sudah riwayat SC sebelumnya atau penyakit yang lain.

  • Riwayat menstruasi Kaji menarche, siklus haid, lama haid, ganti duk, masalah dalam menstruasi

  • Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang Pada saat dikaji klien melahirkan pada kehamilan ke berapa, lama masa kehamilan, dan kelainan selama hamil, kaji tanggal persalinan, jenis persalinan, penyulit persalinan, keadaan anak, apgar score dan lain-lain.

  • Riwayat nifas

    • - Dikaji tinggi fundus uteri

    • - Lochea Lochea rubra terdiri dari sebagian besar darah, dan robekan tropoblastik.

    • - Lochea serosa terdiri dari darah yang sudah tua ( coklat ), banyak serum.Jaringan sampai kuning cair 3 sampai 10hari.

    • - Lochea alba terus ada hingga kira-kira 2-6 minggu setelahpersalinan. Kekuningan berisi

    selaput

    lendir leucocye

    dan

    kuman yang telah mati.Jumlah lochea digambarkan seperti sangat

    sedikit, moderat dan berat.

    • Pemeriksaan Fisik

      • - Keadaan umum, tingkat kesadaran, tanda-tanda vital.

        • a) Kepala Rambut : rambut dapat bersih atau kotor, warna bervariasi sesuia dengan ras, rambut rontok atau tidak. Mata : penglihatan baik/tidak, kongjungtiva anemis/tidak,sklera ikterik/tidak. Hidung : hidung simetris / tidak, bersih/tidak, secret ada/tidak, ada pembengkakan/tidak. Telinga : ganggua pendengaran/tidak, adanya serumen tidak, simetris atau tidak. Mulut : kebersihan mulut, mukosa bibir dan kebersihan gigi

        • b) Leher : Adanya pembengkakan kelenjer tyroid/tidak, warna kulit leher.

        • c) Thorax : Payudara : ASI ada/tidak, putting susu menonjol/tidak.

        • d) Paru- paru I : simetris kiri kanan/ tidak P: teraba massa / tidak P: perkusi diatas lapang paru biasanya normal A : suara nafas biasanya normal ( vesikuler )

    • e) Jantung I: ictus cordis terlihat/tidak P: ictus cordis terba/tidak P: suara ketuk jantung A: reguler, adakah bunyi tambahan tidak

    • f) Abdomen I: abdomen mungkin masih besar atau menonjol, terdapat luka operasi tertutup perban A: bising usus +/- P: nyeri pada luka operasi, TFU di umbilicus setelah janin lahir P: difan muskuler pertahanan otot

    • g) Genetalia ; Lihat keadaaan perineum bersih/tidak, jumlah dan warna lochea post sc hari ke3 biasanya warna lochea rubra, dan berapa kali ganti duk.

    • h) Ekstremitas :Post sc dapat terjadi kelemahan sebagai dampak anestesi yang mendefresikan sistem saraf pada muskulosskletal sehingga menurunkan yonus otot.

    • i) Data Sosial Ekonomi Sectio caeserae dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dengan berbagai indikasi.

    • j) Data Spiritual Pasien dengan post SC sulit melaksanaakan ibadah karena kondisi kelemahan setelah SC.

    • k) Pemeriksaan Penunjang Data laboratorium : pemeriksaan Hb dan leukosit, biasanya pasien dengan post sc akan mengalami kekurangan darah dan peningkatn leukosit.

    k. Diagnosa Keperawatan

    • 1. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan trauma pembedahan post

    op SC.

    • 2. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka post op

    • 3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi penyakit.

    l. intervensi

     

    No.

    Diagnosa

    Tujuan/Kriteria Hasil

     

    Intervensi

     

    Keperawatan

    (NOC)

    (NIC)

    1

    Gangguan

    Setelah dilakukan asuhan

    Pain Management

     

    keperawatan selama ....

    x24

    jam

    lakukan

    pengkajian

    rasa

    nyeri

    secara komprehensif

    nyaman (

    diharapkan nyeri berkurang

    termasuk

     

    lokasi,

    nyeri )

    dengan indicator: Pai pain

    karakteristik,

    durasi,

    frekuensi,

    kualitas

    dan

    berhubungan

    Level,Pa pain

    faktor presipitasi

    control,Co com

     

    Observasi

    reaksi

    dengan

    nonverbal

     

    dari

    trauma

    fort level

    ketidaknyamanan

    Gunakan teknik

    pembedahan

    Mampu mengontrol nyeri

    komunikasi terapeutik untuk

    post op SC.

    (tahu penyebab nyeri, mampu

    mengetahui

    pengalaman

    menggunakan

    tehnik

    nyeri pasien

     

    Kaji

    kultur

    yang

    nonfarmakologi

    untuk

    mempengaruhi respon nyeri

    mengurangi nyeri, mencari

    Evaluasi

    pengalaman

    nyeri

    masa lampau

     

    bantuan)

    Analgesic Administration

    Melaporkan bahwa nyeri

    Tentukan

     

    lokasi,

    berkurang

    dengan

    karakteristik, kualitas,

    dan

    menggunakan manajemen

    derajat

    nyeri

    sebelum

    nyeri

    pemberian obat

    Mampu mengenali nyeri

    Cek

    instruksi

    dokter

    (skala, intensitas,

    frekuensi

     
       

    dan tanda nyeri)

     

    tentang jenis obat, dosis,

    Menyatakan

    rasa

    nyaman

    dan frekuensi

    setelah nyeri berkurang

     

    Cek riwayat alergi

     

    Pilih analgesik

    yang

    diperlukan

    atau kombinasi

    dari analgesik

    ketika

    pemberian lebih dari satu

    2

    resiko

    Setelah

    dilakuakan

    asuhan

    infection Control (Kontrol

    infeksi

    keperawatan

    infeksi)

    selama

    .....

    x24

    jam

    berhubungan

    diharapkan

    resiko

    infeksi

    Bersihkan

    lingkungan

    terkontrol dengan indicator:

       

    dengan

    Immune Status Knowledge

    :

    Menunjukkan kemampuan

    setelah dipakai pasien lain

    trauma

    Infection controlRisk control

    Pertahankan teknik isolasi

    jaringan / luka

    Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

    Batasi pengunjung

    bila

    post op

    Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan

    perlu Instruksikan

    pada

    serta penatalaksanaannya,

    pengunjung

    untuk

    untuk mencegah timbulnya

    mencuci

    tangan

    saat

    infeksi

    berkunjung

    dan

    setelah

    Jumlah leukosit dalam batas normal

    berkunjung

    meninggalkan

    Menunjukkan prilaku hidup sehat

    pasien

    Gunakan

    sabun

    antimikrobia

    untuk

    cuci

    tangan

    Cuci tangan setiap

    sebelum

    dan

    sesudah

    tindakan kperawatan Infection Protection(Proteksi

         

    Terhadap Infeksi) Monitor tanda dan gejala infeksi istemik dan lokal Monitor hitung granulosit, WBC Monitor kerentanan terhadap infeksi Batasi pengunjung

    3

    Kurang

    Setelah

    dilakukan

    asuhan

    Teaching : Disease Process

    pengetahuan

    keperawatan

    selama

    x24

    Berikan penilaian tentang

    berhubungan

    jam

    diharapkan pengetahuan

    tingkat pengetahuan pasien

    dengan

    klien

    meningkat

    dengan

    tentang proses penyakit

    tidak mengena

    indicator: Kowlwdge

    :disease

    yang spesifik

    sumber

    process

    Kowledge:

    health

    Jelaskan patofisiologi dari

    informasi

    Behavior

    penyakit dan bagaimana hal

    penyakit

    Pasien dan keluarga

    ini berhubungan dengan

    menyatakan

    pemahaman

    anatomi dan fisiologi,

    tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan

    dengan cara yang tepat. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul

    Pasien dan keluarga mampu

    pada penyakit, dengan

    melaksanakan

    prosedur

    yang

    cara yang tepat

    dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat

    Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat

    DAFTAR PUSTAKA

    Bobak, 2010, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Hidayat, Asri. 2009. Asuhan Patologi Kebidanan Jogjakarta : Nuha Medika. Hollingworth, Tony. 2011. Diagnosis Banding Dalam Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta : EGC. Mochtar, Rustam. 2011. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC. Rusli Muljadi dan Kristianus Cahyono. 2010. Imaging Ginekologi Onkologi. Jakarta:

    Sagung Seto. Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Edisi 7. Jakarta:EGC Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Edisi 7. Jakarta:EGC

    KEPERAWATAN MATERNITAS

    LAPORAN PENDAHULUAN POST PARTUM SECTIO CAESAREA

    DENGAN INDIKASI PRE EKLAMSIA BERAT ( PEB )

    KEPERAWATAN MATERNITAS LAPORAN PENDAHULUAN POST PARTUM SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PRE EKLAMSIA BERAT ( PEB )

    DISUSUN OLEH :

    WAHYUNI SATRIA

    (2018131022)

    PROGRAM STUDI PROFESI NERS

    FAKULTAS SAINS TEKNOLOGI KESEHATAN

    UNIVERSITAS SAHID SURAKARTA

    2018/2019