Anda di halaman 1dari 58

BUKU PANDUAN INSTRUKTUR

KAJIAN DHUHA QATULISTIWA ISLAM

UNIT KEGIATAN KEROHANIAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

TAHUN 2017

“Seorang Muslim dari umat terbaik telah ditakdirkan Allah menjadi manusia terbaik.Sesungguhnya
manusia hanya akan mendapatkan sesuatu dari apa yang diberikannya,bukan dari apa yang
dimintanya”.
CATATAN INSTRUKTUR

……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
IDENTITAS PEMILIK

Nama Pemilik :

Nama Panggilan :

Nim/BP :

Fakultas/Jurusan :

Program Studi :

Tempat/Tanggal Lahir :

Alamat Asal :

Nomor Handphone :

Alamat di Padang :

e-mail :

Moto :

“Tidak sepantasnyalah seorang muslim mengambil hak milik saudaranya tanpa seizing resmi dan
keridhaannya”.

Jika Menemukan buku ini harap dikembalikan kepada alamat di atas.


Tata Tertib Instruktur Kajian Dhuha

1. Hadir Tepat Waktu (on time)


2. Menghadiri setiap pertemuan kajian dhuha selama 8 kali,kecuali berhalangan
hadir karena alas an syar’i.
3. Mencarikan Instruktur pengganti jika behalangan hadir.
4. Menghadiri EDITOR (Education For Instruktur) setiap sekali seminggu.
5. Menjaga komunikasi yang baik dengan adik-adik di lingkaran.
Materi Kajian Dhuha

1. Aqidah Islam
Tujuan Instruksional Khusus :
 Pesera kajian dhuha memahami aqidah islam.
 Peserta kajian dhuha memahami rukun iman.
 Pesera kajian dhuha menerapkan rukun iman dalam kehidupan.
 Pesera kajian dhuha diharapkan menjadikan aqidah islam (rukun iman) sebagai landasan
hidup.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

I.Definisi
‘Aqidah (‫ )اَ ْل َع ِق ْيدَة‬menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (‫)ال َع ْقد‬
ْ yang
berarti ikatan, at-tautsiiqu(‫ )الت َّ ْوثِيْق‬yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu
(‫ )اْ ِإلحْ كَام‬yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (‫)الربْط بِق َّوة‬
َّ yang
berarti mengikat dengan kuat.
Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang
tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.
Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid, dan taat kepada-Nya,
beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir
baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama
(Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus)
dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara
amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’
Salafush Shalih.

II. Objek Kajian Ilmu ‘Aqidah


Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal
Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib),
kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar
hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan
terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte
yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.
Disiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama
tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.
Penamaan ‘Aqidah Menurut Ahlus Sunnah, di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama
Ahlus Sunnah adalah:
1. Al-Iman
‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-
hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan
hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang
masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering
menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.[5]
2. ‘Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)
Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu ‘aqidah dengan istilah ‘Aqidah Salaf: ‘Aqidah
Ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.[6]
3. Tauhid
‘Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau
pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid
merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena
itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.[7]
4. As-Sunnah
As-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti
jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat
Radhiyallahu anhum di dalam masalah ‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur
(populer) pada tiga generasi pertama.[8]
5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-
hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.[9]
6. Al-Fiqhul Akbar
Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-
hukum ijtihadi.[10]
7. Asy-Syari’ah
Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya
berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-
masalah ‘aqidah).[11]ikatan, at-tautsiiqu(‫ )الت َّ ْوثِيْق‬yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang
kuat, al-ihkaamu (‫ )اْ ِإلحْ كَام‬yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah
(‫)الربْط ِبق َّوة‬
َّ yang berarti mengikat dengan kuat.

Pembagian akidah tauhid

Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi
Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang
mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut
mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini
termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

1. Tauhid Al-Uluhiyyah, (al-Fatihah ayat 4 dan an-Nas ayat 3)


mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

2. Tauhid Ar-Rububiyyah, (al-Fatihah ayat 2, dan an-Nas ayat 1)


mengesakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah
yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.

3. Tauhid Al-Asma’ was-Sifat, mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya, artinya mengimani
bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhidar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmadberkata:
“Qadar adalah kekuasaan Allah”. Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan
kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi,
tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada
seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan
untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang
benar.

Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid
Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang
dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal ini sudah masuk ke dalam
kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan
hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena
hukum itu milik Allah dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata.
Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40.

Aqidah Ahlak
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa aqidah adalah dasar-dasar
pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang bersumber dari ajaran Islam yang
wajib dipegangi oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan yang mengikat.

Sementara kata “akhlak” juga berasal dari bahasa Arab, yaitu [‫ ]خلق‬jamaknya [‫ ]أخالق‬yang
artinya tingkah laku, perangai tabi’at, watak, moral atau budi pekerti. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, akhlak dapat diartikan budi pekerti, kelakuan. Jadi, akhlak merupakan sikap
yang telah melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku
atau perbuatan. Jika tindakan spontan itu baik menurut pandangan akal dan agama, maka disebut
akhlak yang baik atau akhlaqul karimah, atau akhlak mahmudah. Akan tetapi apabila tindakan
spontan itu berupa perbuatan-perbuatan yang jelek, maka disebut akhlak tercela atau akhlakul
madzmumah.

Dasar aqidah akhlak adalah ajaran Islam itu sendiri yang merupakan sumber-sumber hukum
dalam Islam yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Al Qur’an dan Al Hadits adalah pedoman hidup
dalam Islam yang menjelaskan kriteria atau ukuran baik buruknya suatu perbuatan manusia.
Dasar aqidah akhlak yang pertama dan utama adalah Al Qur’an dan. Ketika ditanya tentang
aqidah akhlak Nabi Muhammad SAW, Siti Aisyah berkata.” Dasar aqidah akhlak Nabi
Muhammad SAW adalah Al Qur’an.”

Islam mengajarkan agar umatnya melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk.
Ukuran baik dan buruk tersebut dikatakan dalam Al Qur’an. Karena Al Qur’an merupakan
firman Allah, maka kebenarannya harus diyakini oleh setiap muslim.

Dalam Surat Al-Maidah ayat 15-16 disebutkan yang artinya “Sesungguhnya telah datang
kepadamu rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan
dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahayadari Allah dan
kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-
orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izinNya, dan menunjuki
meraka ke jalan yang lurus.”

Dasar aqidah akhlak yang kedua bagi seorang muslim adalah AlHadits atau Sunnah Rasul. Untuk
memahami Al Qur’an lebih terinci, umat Islam diperintahkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah
SAW, karena perilaku Rasulullah adalah contoh nyata yang dapat dilihat dan dimengerti oleh
setiap umat Islam (orang muslim).

Makna Akidah

Akidah dalam agama islam bermakna masalah masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan
Rosulnya, yang wajib bagi setiap muslim untuk meyakininya sebagai pembenaran terhadap Allah
dan Rosul Nya

Kata akidah atau i’tiqod secara bahasa berasal dari kata al ‘aqdu yang artinya berputar sekitar
makna kokoh, kuat, dan erat.1 Adapun secara istilah umum, kata akidah bermakna keyakinan
yang kokoh akan sesuatu, tanpa ada keraguan2. Jika keyakinan tersebut sesuai dengan realitas
yang ada maka akidah tersebut benar, namun jika tidak sesuai maka akidah tersebut bathil.3

Setiap pemeluk suatu agama memiliki suatu akidah tertentu. Namun kebenaran akidah hanya ada
dalam islam. Karena dia bersumber dari Dzat yang Maha Mengetahui, yaitu Allah ta’ala.
Sehingga karenanya tidak ada perbedaan antara akidah yang dibawa oleh para Nabi dari masa ke
masa.

Adapun akidah yang bathil, mencakup semua akidah yang bertentangan dengan wahyu. Yaitu
akidah yang hanya bersumber dari akal manusia, atau berasal dari wahyu namun dirubah dan
diselewengkan. Seperti akidahnya orang yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah, atau akidahnya
orang Nashroni bahwa al masih adalah anak Allah, atau akidah syiah yang berkeyakinan bahwa
Allah menyesal setelah berkehendak, yang dinamakan akidah bada’.

Dalam definisi syar’i, akidah dalam agama islam bermakna masalah masalah ilmiyah yang
berasal dari Allah dan Rosulnya, yang wajib bagi setiap muslim untuk meyakininya sebagai
pembenaran terhadap Allah dan Rosul Nya.4

Meskipun kata akidah dalam hal ini merupakan istilah baru5 yang tidak dikenal dalam Al Qur’an
maupun Sunnah6, namun para ulama menggunakan istilah ini. Yang menunjukan kebolehan
penggunaan istilah ini. Toh, tidak ada masalah dalam penggunaan istilah jika maknanya
dipahami.

Diantara para ulama yang menggunakan istilah ini adalah Imam Al Laalakaai (418 H) dalam
kitabnya Syarhul ushul I’tiqod ahlu sunnah wal jama’ah, kemudian Imam As Shobuni (449 H)
dalam kitabnya Aqidas Salaf Ashaabul Hadits.

Kemudian ada beberapa istilah yang semakna dengan akidah yang juga digunakan oleh para
ulama, diantaranya :

Al Fiqhul Akbar

Pada awal kemunculannya kata fiqih dimaksudkan kepada ilmu tentang agama islam secara
umum, dan terkhusus ilmu berkenaan dengan akherat, masalah masalah hati, penghancur amal
dan sebagainya.7 Namun kemudian makna ini berubah menjadi ilmu tentang hukum hukum
dhohir praktis syar’I yang sekarang dikenal dengan ilmu fiqih.8

Sehingga karenanya ilmu fiqih di masa dahulu mencakup seluruh ilmu agama baik ilmu akidah
yang bersifat bathin maupun ilmu hukum-hukum yang bersifat zahir. Dari sinilah kemudian
muncul istilah Fiqhul Akbar yang dimaksudkan ilmu akidah. Karena ilmu akidah lebih agung
dibandingkan ilmu cabang hukum-hukum zahir yang merupakan Fiqhul Ashghor.

Ulama yang pertama kali menggunakan istilah ini adalah Abu Hanifah (150 H) dalam kitabnya
Al Fiqhul Akbar. Beliau berkata, “Al Fiqhul Akbar dalam agama lebih baik dari fiqih dalam ilmu,
seseorang faqih tentang bagaimana cara beribadah kepada Rabb nya lebih baik dari
mengumpulkan seluruh ilmu”9
Al Iman

Iman secara bahasa10 bermakna At Tashdiq (pembenaran)11 dan Al Iqroor (penetapan)12. Adapun
secara istilah syar’i iman adalah pembenaran dan penetapan serta ketundukan terhadap
kebenaran yang berasal dari wahyu.13 Dan para ulama sepakat bahwa Iman mencakup perkataan
dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati dan anggota badan.14

Istilah iman merupakan kata yang paling sering disebutkan dalam Al Qur’an maupun sunnah.
Diantara para ulama yang menggunakan istilah ini adalah Ibnu Mandah (395 H) dalam kitabnya
Kitabul Iman, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) juga dalam dua kitabnya yaitu Al Iman
Ausath dan Al Imanul Kabir, kemudian juga Imam Bukhori dalam S- nya membuat bab di awal
sohihnya dengan nama kitabul iman.15

As Sunnah

Kata sunnah memiliki makna yang bermacam macam tergantung disiplin ilmu masing masing16.
Dalam ilmu fiqih sunnah adalah hal hal yang jika dikerjakan mendapatkan pahala, dan jika
ditinggalkan tidak apa apa. Dalam ilmu ushul fiqih assunnah bermakna sumber wahyu kedua
setelah Al Qur’an. Dalam ilmu hadits assunnah merupakan persamaan kata dari akidah, dan
seterusnya. Terkadang juga sunnah digunakan sebagai antitesa dari kata bid’ah. Namun
kemudian banyak ulama yang menggunakan istilah sunnah ditunjukan kepada makna akidah
dikarenakan urgensi ilmu akidah yang merupakan pokok agama islam. Diantara para ulama yang
menggunakan istilah sunnah adalah Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hambal (327 H) dalam
kitabus Sunnah dan Imam Al Barbahaari (329 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah.

At Tauhid

Kata tauhid terdapat dalam hadits Mu’adz ketika diutus ke yaman diatas. Diantara para ulama
yang menggunakan kata ini adalah Ibnu Khuzaimah (311 H) dalam Kitabut Tauhid Wa Itsbaatu
Shifaatir Rabb ‘Azza Wa Jalla , juga Imam Al Maqriizi (845 H) dalam kitabnya Tajridut Tauhid
Al Mufid, serta Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) dalam Kitabut Tauhid
Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Abid. Kitab kitab yang ditulis dengan istilah tauhid hanya
membahas hal hal yang berkaitan dengan tauhid dengan ketiga macamnya, yang merupakan
bagian dari ilmu akidah. Sehingga kitab kitab akidah lebih bersifat komprehensif (syumul).
Selain membahas masalah tauhid, kitab kitab Akidah juga membahas hal hal lain seperti iman
dan rukun rukunnya, islam dan rukun rukunnya, hal hal yang bersifat ghoib, kaidah kaidah dalam
akidah yang pasti yang disepakati para ulama, wala dan baro, bantahan terhadap aliran sesat
dll.17

As syari’ah

Secara umum akidah seperti sunnah, terkadang dimaksudkan seluruh yang disyariatkan oleh
Allah kepada hambanya berupa hukum hukum yang disampaikan oleh para nabi. Terkadang
dimaksudkan hanya masalah akidah, dan terkadang dimaksudkan masalah amaliyah fiqhiyah
saja. Dalam Al Qur’an pun makna Syariah berbeda beda, terkadang syariat bermakna seluruh
ajaran yang dibawa para nabi18, terkadang dikhususkan ajaran setiap nabi yang berbeda antara
satu nabi dengan yang lainnya19, dan terkadang dikhususkan kepada kesamaan da’wah seluruh
nabi yaitu tauhid.20

Adapun secara khusus makna Syari’ah adalah akidah yang diyakini oleh ahlu sunnah wal
Jama’ah. Dan ini lah yang dimaksud oleh para ulama ketika menulis kitab kitab akidah dengan
nama As Syari’ah. Diantara ulama yang menggunakan istilah ini adalah Imam Al Ajurri (360 H)
dalam kitab beliau As Syarii’ah dan Ibnu Bathoh (387 H) dalam kitab beliau Al Ibaanah ‘Alaa
Syarii’ati Firqotun Naajiyah.

Ushulud Din

Ashlu atau pokok adalah apa yang dibangun diatasnya sesuatu. Maka ushulud din adalah sesuatu
yang agama dibangun diatasnya. Dan agama islam dibangun diatas akidah yang benar. Sehingga
para ulama menggunakan istilah ini dengan makna ilmu akidah. Dan ini yang kita kenal dalam
perguruan perguruan tinggi di timur tengah, saudi arabia khususnya fakultas yang berkonsentrasi
membahas akidah adalah fakultas ushuluddin. Diantara ulama yang menggunakan istilah ini
adalah Abu Hasan Al Asy’ari (324 H)dalam kitab beliau Al Ibanah ‘An Ushulid Diyanah, dan
Ibnu Bathoh(387 H) dalam kitabnya Asy Syarhu wal Ibanag ‘An Ushulis sunnah Wad Diyanah.
Wallahu ‘Alam

Daftar Pustaka :

Http://islamislami.com/2016/03/28/aqidah-islam-pengertian-dan-pembagiannya/

Http://id.wikipedia.org/wiki/Akidah_islam
2.Islam dan Silaturrahmi

TujuanInstruksional Khusus :

 Diharapkan Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui tentang ajaran agama Islam
secara benar dan menyeluruh.
 Diharapkan Mahasiswa dapat berprilaku sesuai kaidah Islam.
 Diharapkan Mahasiswa dapat memahami keutamaan silaturrahim.
 Diharapkan Mahasiswa dapat menjalin silturrahim dengan sesama muslim.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

A. ISLAM

1.pengertian Islam

Islam (Arab: al-islām, ‫ اإلسالم‬Tentang suara ini dengarkan : "berserah diri kepada Tuhan") adalah
agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang
pengikut di seluruh dunia,[1][2] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama
Kristen.[3] Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: ‫هللا‬,
Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk
kepada Tuhan"[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi
perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi
dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul
terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Islam berasal dari kata Arab "aslama-yuslimu-islaman" yang secara kebahasaan berarti
"menyelamatkan", misal teks "assalamu alaikum" yang berarti "semoga keselamatan menyertai kalian
semuanya". Islam atau Islaman adalah masdar (kata benda) sebagai bahasa penunjuk dari fi'il (kata
kerja), yaitu "aslama" bermakna telah selamat (kala lampau) dan "yuslimu" bermakna "menyelamatkan"
(past continous tense).

2. Sejarah Islam

Sejarah Islam adalah sejarah agama Islam mulai menurun dalam wahyu pertama di 622 seperti
diungkapkan Rasul terakhir, Muhammad bin Abdullah di Gua Hira, Arab Saudi sampai sekarang.
B. SILATURAHIM

1.Pengertian Silaturrahim

Silaturrahim (shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari washala-
yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya
arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut
rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau
kekerabatan itu. Di dalam al-Quran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna
rahim atau kerabat.

Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim (silaturahmi) artinya adalah hubungan kekerabatan.

Pengertian Syar‘i

Banyak nash syariat yang memuat kata atau yang berkaitan dengan shilah ar-rahim. Maknanya
bersesuaian dengan makna bahasanya, yaitu hubungan kekerabatan. Syariat memerintahkan agar kita
senantiasa menyambung dan menjaga hubungan kerabat (shilah ar-rahim). Sebaliknya, syariat melarang
untuk memutuskan silaturahim. Abu Ayub al-Anshari menuturkan, “Pernah ada seorang laki-laki
bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku perbuatan yang akan memasukkan
aku ke dalam surga.” Lalu Rasulullah saw. menjawab:
ُ َ َ َ ُ ْْ ُ ً ْ َ ُ ْ ُ َ َ َ َّ ْ َ ُ َ َ َ َّ ُ َ َ َ َّ
«‫هللا ت ْع ُبد‬ ‫شك ل‬
ِ ‫»الر ِحم وت ِصل الزكاة وتؤ ِ ِت الصالة وت ِقيم شيئا ِب ِه ت‬
Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi. (HR al-Bukhari).

Hadist ini, meskipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah perintah. Pemberitahuan bahwa
perbuatan itu akan mengantarkan pelakunya masuk surga, merupakan qarînah jâzim (indikasi yang
tegas). Oleh karena itu, menyambung dan menjaga shilaturahmi hukumnya wajib, dan memutuskannya
adalah haram. Rasul saw. pernah bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan (ar-rahim). (HR al-Bukhari dan
Muslim).

Sekalipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah larangan; ungkapan 'tidak masuk surga' juga
merupakan qarînah jâzim, yang menunjukkan bahwa memutus hubungan kekerabatan (shilah ar-rahim)
hukumnya haram.

Oleh karena itu, Qadhi Iyadh menyimpulkan, "Tidak ada perbedaan pendapat bahwa shilah ar-rahim
dalam keseluruhannya adalah wajib dan memutuskannya merupakan kemaksiatan yang besar.
Untuk memenuhi ketentuan hukum tersebut, kita harus mengetahui batasan mengenai siapa saja
kerabat yang hubungan dengannya wajib dijalin, dan aktivitas apa yang harus dilakukan untuk menjalin
silaturahmi itu?

Dengan menganalisis makna ar-rahim atau al-arham yang terdapat dalam nash, dan pendapat para
ulama tentangnya, bisa ditentukan batasan kerabat tersebut. Kata ar-rahim dan al-arhâm yang terdapat
di dalam nash-nash yang ada bersifat umum, mencakup setiap orang yang termasuk arhâm (kerabat).
Ketika menjelaskan makna al-arhâm pada ayat pertama surat an-Nisa’, Imam al-Qurthubi berkata, "Ar-
rahim adalah isim (sebutan) untuk seluruh kerabat dan tidak ada perbedaan antara mahram dan selain
mahram."

Ibn Hajar al-‘Ashqalani dan al-Mubarakfuri mengatakan, "Ar-Rahim mencakup setiap kerabat. Mereka
adalah orang yang antara dia dan yang lain memiliki keterkaitan nasab, baik mewarisi ataupun tidak,
baik mahram ataupun selain mahram."

Asy-Syaukani mengatakan, "Shilah ar-rahim itu mencakup semua kerabat yang memiliki hubungan
kekerabatan yang memenuhi makna ar-rahim (kerabat)."

Allah Swt. memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kerabat (QS an-Nisa’4: 36); memberi kepada
kerabat (QS an-Nahl 16: 90); memberikan hak kepada kerabat (QS ar-Rum 30: 38); meski dalam hal itu
sebagian mereka lebih diutamakan dari sebagian yang lain (QS al-Anfal 8: 75 dan al-Ahzab 33: 6). Rasul
saw. pernah bersabda:
ُ ْ ْ ُ ْ َ ْ ُ ْ ْ َ ْ َ ْ َ ُ ْ ُ َ َ َّ ُ َ َ َ َ َ َ ْ ُ َ َ َ َ َ َّ ُ َ َ ْ َ َ َ ْ َ
«‫ط َيد‬
ِ ِ ‫»ادناك ادناك ثم واخاك واختك وأباك امك تعول ِبمن وِابدأ العليا المع‬

Tangan yang memberi itu di atas (lebih utama) dan mulailah dari orang yang menjadi tanggungan
(keluarga)-mu, ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, orang yang lebih dekat
denganmu, orang yang lebih dekat denganmu (HR al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ibn Hibban).

Semua itu adalah bagian dari aktivitas silaturahmi. Dari gambaran seperti itu, para ulama manarik
pengertian silaturahmi. Menurut Al-Manawi, silaturahmi adalah menyertakan kerabat dalam kebaikan.
Imam an-Nawawi mengartikan silaturahmi sebagai berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan kondisi
orang yang menyambung dan yang disambung; bisa dengan harta, kadang dengan bantuan, kadang
dengan berkunjung, mengucap salam, dan sebagainya.

Abu Thayyib mengartikan silaturahmi sebagai ungkapan tentang berbuat baik kepada kerabat, orang
yang memiliki hubungan nasab dan perkawinan; saling berbelas kasihan dan bersikap lembut kepada
mereka, mengatur dan memelihara kondisi mereka, meski mereka jauh atau berbuat buruk. Memutus
silaturahmi berlawanan dengan semua itu.

Ibn Abi Hamzah berkata, "Silaturahmi bisa dilakukan dengan harta, menolong untuk memenuhi
keperluan, menghilangkan kemadaratan, muka berseri-seri, dan doa."
Pengertian yang bersifat menyeluruh adalah menyampaikan kebaikan yang mungkin disampaikan dan
menghilangkan keburukan yang mungkin dihilangkan, sesuai dengan kesanggupan.”Tentang siapa yang
termasuk orang yang menyambung silaturahmi, Rasul saw. pernah bersabda:
َ ‫ت إ َذا َّال ِذ ْي ْال َواص َل َو َل ِك َّن ب ْال ُم َك ِاف ِء ْال َواص ُل َل ْي‬
«‫س‬
ْ َ ُ ُ ُ َ ََ َ َ
ِ ِ ِ ِ ِ ‫»وصلها ر ِحمه ق ِطع‬

“Orang yang menghubungkan silaturahmi bukanlah orang yang membalas hubungan baik. Akan tetapi,
orang yang menghubungkan silaturahmi adalah orang yang ketika kekerabatannya diputus, ia
menghubungkannya. (HR al-Bukhari).

Menyambung silaturahmi adalah jika hubungan kerabat (shilah ar-rahim) diputus, lalu dihubungkan
kembali. Orang yang melakukannya berarti telah menghubungkan silaturahmi. Adapun jika kerabat
seseorang menghubunginya, lalu ia menghubungi mereka, hal itu adalah balas membalas; termasuk
aktivitas saling menjaga silaturahmi, bukan menyambung silaturahmi.

Kesimpulan

Dari paparan di atas, maka silaturahmi adalah hubungan kerabat; berupa hubungan kasih-sayang,
tolong-menolong, berbuat baik, menyampaikan hak dan kebaikan, serta menolak keburukan dari
kerabat yaitu ahli waris dan ûlu al-arhâm.

Hubungan dengan selain mereka tidak bisa disebut silaturahmi, karena tidak terpenuhi adanya
ikatan kekerabatan (ar-rahim). Ikatan dengan sesama Muslim selain mereka adalah ikatan persaudaraan
karena iman yaitu ikatan ukhuwah (silah al-ukhuwah), bukan silaturahmi. Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.

Kata tersebut sudah menjadi bahasa Indonesia. Penulisan alih kata (translatter) yang tepat
untuk“shilaturrahim”adalah silaturahim, sesuai dengan pengertian bahasa dan etimologi yang akan kita
bahas dalam tulisan ini.Penulisan alih kata yang kurang tepat, dan sering kita temukan di media cetak
untuk “shilatur rahim” adalah dengan “silaturahmi” karena tidak sesuai dengan pengertian etimologi dan
terminologi.

Secara etimologi, silaturahim adalah ungkapan gabungan antara mudhaf (yang disandarkan), yakni
‘Shilah’ dan mudhaf ilaihi (tempat penyandaran mudhaf), yakni ‘Rahim’. Shilah merupakan mashdar dari
washala, artinya menggabungkan sesuatu kepada sesuatu saat ada kaitan dengannya, lawan kata dari
hijran (meninggalkan). Sedangkan ar-rahimu pecahan kata rahima.
Sedangkan secara terminologi, Imam Nawawi memberi batasan, “Shilatur rahim artinya berbuat baik
kepada kerabat sesuai dengan kondisi yang menyambung maupun yang disambung. Kadang kala dengan
harta benda, pelayanan, kunjungan, salam, dan lain-lain.”

Ibnu Manzhur menjelaskan adanya kaitan antara kedua pengertian etimologi dan terminologi. Ia
katakan, “Shilatur rahim merupakan kiasan tentang berbuat baik kepada kerabat yang ada hubungan
nasab maupun perkawinan, bersikap sayang dan santun kepada mereka, memperhatikan kondisi
mereka, meskipun mereka jauh atau menyakiti. Qath’ur rahim adalah lawan katanya. Seolah-olah
dengan berbuat baik kepada mereka hubungan kekerabatan, perkawinan, dan hubungan sah telah
terjalin.”

Mengenai batasan rahim yang wajib disambung, Nawawi berkata, “Para ulama berbeda pendapat
tentang batasan rahim yang wajib disambung. Ada yang berpendapat, setiap rahim itu muhrim. Di mana
jika salah satunya perempuan dan yang lain laki-laki, tidak boleh menikah. Ada lagi yang berpendapat,
ia bersifat umum mencakup semua yang ada hubungan rahim dalam hak waris. Antara yang muhrim dan
tidak, sama saja. Inilah pendapat yang benar sesuai dengan sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya
kebaikan yang paling baik adalah jika seseorang menyambung kerabat cinta ayahnya.”

Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-
istilah "keagamaan" yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali
menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenarannya dari segi bahasa , walaupun semua
pihak menyadari bahwa tujuannya adalah mencipakan keharmonisan antara sesama.

Hemat saya, paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah
tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam
dan kedua berpijak pada arti kebahasan.

Menurut pandangan pertama - dari segi hukum - kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram.
Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa,
demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan serta tidak
mengundang dosa. Jika demikian, halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang
tadinya haram dan berakibat dosa. menjadi halal dengan jalan memohon maaf.

Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan
keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang dinamai makruh atau yang
tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (suami-istri, mislanya) merupakan
sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak
dikaitkan dengan pengertian hukum.

Menurut pandangan kedua - dari segi bahasa - akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai
bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata
berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti
"menyelesaikan problem", "meluruskan benang kusut", "melepaskan ikatan", dan "mencairkan yang
beku".

Daftar Pustaka :

· Hasbi, Muzakar, Kahar. Sejarah Perkembangan Kebudayaan dan Peradaban Islam. Solo Press
: Bandung, 2006

· Mubarok, Jaih, Metodologi Study Islam. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung, 2000

· Nasution, Harun. Islam. Penerbit Universitas Indonesia : Jakarta, 1919

3.Membangun Jiwa Ukhuwah Islamiyah.

Tujuan Instruksional Khusus :

 Menciptakan rasa tolong menolong antar sesama muslim.


 Membangun persatuan islam antar sesama muslim.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
A. Definisi Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada
mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan
mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Ukhuwah islamiyah
berarti “persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Kata ukhuwah
berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan
menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna:
Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

B. Macam-Macam Ukhuwah Islamiyah

Al-Qur’an memperkenalkan empat macam persaudaraan:

1. Ukhuwah ‘ubudiyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.


2. Ukhuwah Insaniyah (basyariyah) yaitu seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena
mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu. Rasulullah Saw. juga menekankan
lewat sabda beliau: “Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” serta “Hamba-hamba
Allah semuanya bersaudara”
3. Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan
kebangsaan.
4. Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antarsesama Muslim. Rasulullah Saw. bersabda,
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang datang sesudah
(wafat)-ku”.

C. Hakekat Ukhuwah Islamiyah

1. Nikmat Allah

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-
Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Q.S. Ali Imron:103)

2. Perumpamaan tali tasbih

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain
kecuali orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S.Az-Zukhruf :67)

3. Merupakan arahan Rabbani

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Al-Anfal:63)

4. Merupakan cermin kekuatan iman

“Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara


kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (Q.S.
Al-hujurat:10)

D. Keutamaan Ukhuwah Islamiyah

1. Mereka merasakan buah dari lezatnya iman.


Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
“Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah
dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah,
dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam
api neraka.” (HR. Bukhari)
2. Mereka berada dalam naungan cinta Allah,
Di akhirat Allah SWT berfirman,
“Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan
menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.” (HR.
Muslim).

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam. bersabda, “Ada seseorang yang mengunjungi


saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika
berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau
mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan
sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena
aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang
diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana
kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

3. Mereka adalah ahli Syurga di akhirat kelak.


Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Barangsiapa yang mengunjungi
orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru,
‘Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah
mendapatkan salah satu tempat di surga.” (HR. At-Tirmidzi)

4. Bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan diri kepada Allah.

5. Diampuni dosanya oleh Allah.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Jika dua orang Muslim bertemu dan
kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua
tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.”

E. Proses Terbentuknya Ukhuwah Islamiyah :

1. Melaksanakan proses Ta’aruf

Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Dimulai dari perkenalan kepada
penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah
laku, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Selanjutnya interaksi berlanjut ke
pengenalan pemikiran (Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan terhadap
suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi dan diikuti, dan lain
sebagainya. Pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan
kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia
tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses
ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.
2. Melaksanakan proses Tafahum

Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan


keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya
meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia
tunaikan. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui
kekuatan dan kelemahannya dan menerima perbedaan.

3. Melakukan At-Ta’aawun

Bila saling memahami sudah lahir, maka timbullah rasa ta’awun (saling tolong-
menolong), yang dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran
(berdiskusi dan saling menasehati), dan aman (saling bantu membantu).

4. Melaksanakan proses Takaful

Takaful adalah rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Takaful adalah


tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat
yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan
memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun
setelah diberi, air itu diberikan lagi kepada sahabat yang lain, terus begitu hingga semua
mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri
dibandingkan dirinya (itsar). Inlah ciri utama dari ukhuwah islamiyah. Seperti sabda Nabi
SAW: “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu
mencintai dirimu sendiri”. (HR. Bukhari-Muslim).

F. Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah:

1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada
seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya.
Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu
Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut
menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu
orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku
mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah
mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
2. Memohon didoakan bila berpisah
“Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan
malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga seperti itu” (H.R. Muslim)
3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika
kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R.
Muslim)
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
“Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya
diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’)
5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara).
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu.
7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya.
8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya.
9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan.

Daftar Pustaka :

www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2016/10/09/102299/102299.html

http://kumpulan-makalah-islami.blogspot.co.id/2009/06/ukhuwah-islamiyah.html

4.Praktek Penyelenggaraan Jenazah

Tujuan Instruksional Khusus :

 Diharapkan Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tata cara dalam


penyelenggaraan jenazah.
 Diharapkan Mahasiswa mampu mengambil hikmah dan pengetahuan dari langkah-
langkah dalam menyelenggarakan jenazah menurut agama Islam.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

A. Pengertian Sholat Jenazah

Sholat jenazah adalah sholat yang hukumnya adalah fardhu kifayah dan merupakan sholat
yang dilakukan dengan 4 kali takbir. Fardhu kifayah sendiri artinya wajib dan ditujukan oleh
orang banyak. Namun, jika sebagian orang muslim sudah melakukannya maka kewajiban
tersebut telah gugur bagi muslim yang lainnya. Namun, jika seluruh kaum muslimin
meninggalkan sholat jenazah maka kaum muslimin tersebut berdosa.
Hukum Sholat Jenazah adalah Fardhu Kifayah” artinya wajib bagi kita umat muslim untuk
mensholati muslim lainnya yang telah meninggal, jika tidak dilaksanakan maka ini menjadi
tanggung jawab seluruh umat muslim.
Nabi Muhamad SAW bersabda dalam hadistnya tentang keutamaan sholat jenazah :
“Barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga ikut menshalatkannya, maka dia mendapatkan satu
qirath, dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga ikut mengantar ke kubur, maka mendapatkan dua
qirath”. Ditanyakan, “Apakah yang dimaksudkan dengan dua qirath itu? ” Beliau menjawab, “Seperti
dua gunung yang besar.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

B. Tata Cara Memandikan


Seorang petugas memulai dengan melunakkan persendian jenazah tersebut. Apabila
kuku-kuku jenazah itu panjang, maka dipotongi. Demikian pula bulu ketiaknya. Adapun bulu
kelamin, maka jangan mendekatinya, karena itu merupakan aurat besar. Kemudian petugas
mengangkat kepala jenazah hingga hampir mendekati posisi duduk. Lalu mengurut perutnya
dengan perlahan untuk mengeluarkan kotoran yang masih dalam perutnya. Hendaklah
memperbanyak siraman air untuk membersihkan kotoran-kotoran yang keluar.
Petugas yang memandikan jenazah hendaklah mengenakan lipatan kain pada tangannya
atau sarung tangan untuk membersihkan jasad si mayit (membersihkan qubul dan dubur si mayit)
tanpa harus melihat atau menyentuh langsung auratnya, jika si mayit berusia tujuh tahun ke atas.
Mewudhukan Jenazah
Selanjutnya petugas berniat (dalam hati) untuk memandikan jenazah serta membaca
basmalah. Lalu petugas me-wudhu-i jenazah tersebut sebagaimana wudhu untuk shalat. Namun
tidak perlu memasukkan air ke dalam hidung dan mulut si mayit, tapi cukup dengan
memasukkan jari yang telah dibungkus dengan kain yang dibasahi di antara bibir si mayit lalu
menggosok giginya dan kedua lubang hidungnya sampai bersih. Selanjutnya, dianjurkan agar
mencuci rambut dan jenggotnya dengan busa perasan daun bidara atau dengan busa sabun. Dan
sisa perasan daun bidara tersebut digunakan untuk membasuh sekujur jasad si mayit.

Membasuh Tubuh Jenazah

Setelah itu membasuh anggota badan sebelah kanan si mayit. Dimulai dari sisi kanan
tengkuknya, kemudian tangan kanannya dan bahu kanannya, kemudian belahan dadanya yang
sebelah kanan, kemudian sisi tubuhnya yang sebelah kanan, kemudian paha, betis dan telapak
kaki yang sebelah kanan.
Selanjutnya petugas membalik sisi tubuhnya hingga miring ke sebelah kiri, kemudian
membasuh belahan punggungnya yang sebelah kanan. Kemudian dengan cara yang sama petugas
membasuh anggota tubuh jenazah yang sebelah kiri, lalu membalikkannya hingga miring ke
sebelah kanan dan membasuh belahan punggung yang sebelah kiri. Dan setiap kali membasuh
bagian perut si mayit keluar kotoran darinya, hendaklah dibersihkan.

Banyaknya memandikan: Apabila sudah bersih, maka yang wajib adalah memandikannya
satu kali dan mustahab (disukai/sunnah) tiga kali. Adapun jika belum bisa bersih, maka ditambah
lagi memandikannya sampai bersih atau sampai tujuh kali (atau lebih jika memang dibutuhkan).
Dan disukai untuk menambahkan kapur barus pada pemandian yang terakhir, karena bisa
mewangikan jenazah dan menyejukkannya. Oleh karena itulah ditambahkannya kapur barus ini
pada pemandian yang terakhir agar baunya tidak hilang.

Dianjurkan agar air yang dipakai untuk memandikan si mayit adalah air yang sejuk,
kecuali jika petugas yang memandikan membutuhkan air panas untuk menghilangkan kotoran-
kotoran yang masih melekat pada jasad si mayit. Dibolehkan juga menggunakan sabun untuk
menghilangkan kotoran. Namun jangan mengerik atau menggosok tubuh si mayit dengan keras.
Dibolehkan juga membersihkan gigi si mayit dengan siwak atau sikat gigi. Dianjurkan juga
menyisir rambut si mayit, sebab rambutnya akan gugur dan berjatuhan.

Setelah selesai dari memandikan jenazah ini, petugas mengelapnya (menghandukinya)


dengan kain atau yang semisalnya. Kemudian memotong kumisnya dan kuku-kukunya jika
panjang, serta mencabuti bulu ketiaknya (apabila semua itu belum dilakukan sebelum
memandikannya) dan diletakkan semua yang dipotong itu bersamanya di dalam kain kafan.
Kemudian apabila jenazah tersebut adalah wanita, maka rambut kepalanya dipilin (dipintal)
menjadi tiga pilinan lalu diletakkan di belakang (punggungnya).

C. Tata Cara Mengkafani Jenazah

Dibentangkan tiga lembar kain kafan, sebagiannya di atas sebagian yang lain. Kemudian
didatangkan jenazah yang sudah dimandikan lalu diletakkan di atas lembaran-lembaran kain
kafan itu dengan posisi telentang. Kemudian didatangkan hanuth yaitu minyak wangi (parfum)
dan kapas. Lalu kapas tersebut dibubuhi parfum dan diletakkan di antara kedua pantat jenazah,
serta dikencangkan dengan secarik kain di atasnya. Kemudian sisa kapas yang lain yang sudah
diberi parfum diletakkan di atas kedua matanya, kedua lubang hidungnya, mulutnya, kedua
telinganya dan di atas tempat-tempat sujudnya, yaitu dahinya, hidungnya, kedua telapak
tangannya, kedua lututnya, ujung-ujung jari kedua telapak kakinya, dan juga pada kedua lipatan
ketiaknya, kedua lipatan lututnya, serta pusarnya. Dan diberi parfum pula antara kafan-kafan
tersebut, juga kepala jenazah.

Selanjutnya lembaran pertama kain kafan dilipat dari sebelah kanan dahulu, baru
kemudian yang sebelah kiri sambil mengambil handuk/kain penutup auratnya. Menyusul
kemudian lembaran kedua dan ketiga, seperti halnya lembaran pertama. Kemudian menambatkan
tali-tali pengikatnya yang berjumlah tujuh utas tali. Lalu gulunglah lebihan kain kafan pada
ujung kepala dan kakinya agar tidak lepas ikatannya dan dilipat ke atas wajahnya dan ke atas
kakinya (ke arah atas). Hendaklah ikatan tali tersebut dibuka saat dimakamkan. Dibolehkan
mengikat kain kafan tersebut dengan enam utas tali atau kurang dari itu, sebab maksud
pengikatan itu sendiri agar kain kafan tersebut tidak mudah lepas (terbuka).

D. Tata Cara Sholat Jenazah

Niat Sholat Jenazah :


Niat untuk jenazah laki-laki :
"Ushalli 'alaa haadzal mayyiti arba'a takbiiraatin fardhal kifaayati makmuuman/imaaman lillaahi
ta'aalaa"
Artinya : Saya niat shalat atas mayyit (laki-laki) ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah
SWT.
Niat untuk jenazah perempuan :
"Ushalli 'alaa haadzihil maytati arba'a takbiiraatin fardhal kifaayati makmuuman/imaaman
lillaahi ta'aalaa"
Artinya : Saya niat shalat atas mayyit (perempuan) ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah
SWT.

Takbir Pertama
Setelah takbir dilanjutkan dengan membaca ta'awudz lalu dilanjutkan dengan membaca al
fatihah, tanpa disertai dengan doa iftitah ataupun surat pendek seperti sholat pada umumnya. ini
berdasarkan pendapat banyak ulama bahwa dalam sholat jenazah tidak diwajibkan membaca doa
iftitah.
Bacaan Ta'awwudz :
A'uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim
Artinya : Aku berlindung dari syaitan yang terkutuk
Lalu Dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah.
Takbir kedua

Bacaan setelah takbir kedua yaitu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. berikut bacaan
doanya . . .

ِ ‫صلَيْتَ علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم‬


‫وباركْ علي محمد وعلي أل محمد كما باركت‬ َ ‫ص ِ ِّل علي محمد وعلي أ ِل محمد كما‬
َ ‫أللهم‬
‫علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد‬

Allaahumma shalli 'alaa muhammadin, wa 'alaa aali muhammadin, kamaa shallaita 'alaa
ibraahiima, wa 'alaa aali ibraahiima. Wa baarik 'alaa muhammadin, wa 'alaa aali muhammadin,
kamaa baarakta 'alaa ibraahiima, wa 'alaa aali ibraahiima. Fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid.

Artinya:
“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah
memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan
Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau
umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”
Takbir ketiga
Bacaan doa setelah melakukan takbir ketiga adalah sebagai berikut .
Allaahummaghfirlahu, warhamhu, wa 'aafihi, wa'fu 'anhu, wa akrim nuzuulahu, wa wassi'
madkhalahu, waghsilhu bimaa-in watsaljin wabaradin, wanaqqihi minal khathaayaa kamaa
yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi, wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa ahlan
khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, waqihi fitnatal qabri wa 'adzaabannaar.
Artinya:
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah
kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun
sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih
baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah istrinya dengan isri yang
lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka.
Takbir ke empat
Bacaan doa setelah takbir ke empat yaitu membaca doa di bawah ini
ُ‫حر ْمنا أَجْ َرهُ والتَ ْفتِ ِّنا بَع َده‬
ِ َ ‫الل ُه ِّم الت‬
Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu, walaa taftinnaa ba'dah
Artinya :
Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah
pada kami setelah kematiannya.
Salam
Terakhir adalah melakukan salam dengan menengok ke kanan dan kekiri sebagaimana dalam
sholat biasanya . . .
ُ‫علَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َركَاتُه‬
َ ‫سالَ ُم‬
َّ ‫ال‬
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh
Artinya :
"Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga untuk kalian semua"
Do’a sholat jenazah
Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’
Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa
Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi,
Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa
A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-
kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan
air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang
putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga
(atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang
lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa

kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663) .


Alloohumaghfir Lihayyinaa Wa Mayyitinaa Wa Syaahidinaa Wa Ghoo’ibinaa Wa Shoghiirinaa
Wa Kabiirinaa Wa Dzakarinaa Wa Untsaanaa. Alloohumma Man Ahyaitahu Minnaa Fa Ahyihi
‘Alal Islaam, Wa Man Tawaffaitahu Minnaa Fatawaffahu ‘Alal Iimaan. Alloohumma Laa
Tahrimna Ajrahu Wa Laa Tudhillanaa Ba’dahu

“Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang
hadir di antara kami dan yang tidak hadir ,laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang
Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang
Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan
menghalangi kami untuk tidak memper-oleh pahalanya dan jangan sesatkan kami
sepeninggalnya.” ( HR. Ibnu Majah 1/480, Ahmad 2/368, dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/251)
Alloohumma Inna Fulaanabna Fulaanin Fii Dzimmatika, Wa Habli Jiwaarika, Fa Qihi Min
Fitnatil Qobri Wa ‘Adzaabin Naari, Wa Anta Ahlal Wafaa’i Wal Haqqi. Faghfirlahu Warhamhu,
Innaka Antal Ghofuurur Rohiim
“Ya, Allah! Sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu.
Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha
Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha
Pengampun lagi Penyayang.” (HR. Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/251 dan Abu
Dawud 3/21)
Alloohumma ‘Abduka Wabnu Amatikahtaaja Ilaa Rohmatika, Wa Anta Ghoniyyun ‘An
‘Adzaabihi, In Kaana Muhsinan, Fa Zid Fii Hasanaatihi, Wa In Kaana Musii’an Fa Tajaawaz
‘Anhu
Ya, Allah, ini hambaMu, anak ham-baMu perempuan (Hawa), membutuh-kan rahmatMu, sedang
Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam
amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya. (HR. Al-
Hakim. Menurut pendapatnya: Hadits ter-sebut adalah shahih. Adz-Dzahabi menyetujuinya
1/359, dan lihat Ahkamul Jana’iz oleh Al-Albani, halaman 125.
Daftar Pustaka :

Kamianakislam.blogspot.com/2013/06/tata-cara-shalat-jenazah—bacaannya

https://dalamislam.com>Shalat

www.academia.edu/.../Makalah_Niat_Bacaan_dan_Tata_Cara_Shalat_Jenazah

5. Pendidikan Rumah Tangga dan Adab Sopan Santun

Tujuan Instruksional Khusus :


 Diharapkan Mahasiswa dapat mengetahui adab dalam rumah tangga menurut Islam.
 Diharapkan Mahasiswa dapat menerapkan adab sopan santun atau etika yang baik dalam
kehidupan sehari-hari.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
A. Pendidikan Rumah Tangga
1. Memilih Pasangan Hidup yang Baik

Menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-
dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan
syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan
penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Setiap muslim yang ingin beruntung dunia dan akhirat hendaknya memilih pasangan
hidup dengan kriteria sebagai berikut:

a. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih pasangan
hidup, minimal harus terdapat syarat ini. karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“ sesungghnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa”. (QS. Al
Hujurat: 13)

Sedangkan taqwa adalah menjaga diri dari adzab Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya
dan menjauhi larangan-Nya. Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk memdapatkan
calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seseorang yang taat kepada aturan agama.
Rasulullah S.A.W pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,

“wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena
parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya
(keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,


“jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka
nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih
pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa
saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya. Maka
pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena
salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang
baik. Rasulullah S.A.W bersabda,

“orang yang dikendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu
agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

b. Al Kafa’ah (Sekufu)

Yang dimaksud dengan sekufu atau al kafa’ah secara bahasa adalah sebanding dalam hal
kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya. Al Kafa’ah secara syariat menurut mayoritas
ulama adalah sebanding dalam agama, nasab (kturunan), kemerdekaan dan pekerjaan. Atau
dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan satus sosial. Banyak dalil yang menunjukkan
anjuran ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

“wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-
wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang
baik untuk wanita-wanita yang baik pula”. (QS. An Nur: 26)

Salah satu hikmah dari anjuan ini adalah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial
dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin
Haritsah r.a, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah S.A.W, dinikahkan dengan
Zainab binti Jahsy r.a. Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki
biasa yang tidak tampan. Walhasil pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama.

c. Menyenangkan jika dipandang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan, membolehkan
kita untuk menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria memilih calon pasangan. Karena
paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan
hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka
mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan
ketentraman dalam hati.
Allah Ta’ala berfirman,

“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu
sendiri agar kamu merasa tentram dengannya.” (QS. Ar- Ruum: 21)

d. Subur (mampu menghasilkan keturunan)

Diantara hikmah dari pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan dan memperbanyak
jumlah kaum muslimin dan memperkuat izzah (kemuliaan) kaum muslimin. Karena dari
pernikahan diharapkan lahirlah anak-anak kaum muslimin yang nantinya menjadi orang-orang
yang shalih yang mendakwahkan islam. oleh karena itulah, Rasulullah S.A.W menganjurkan
untuk memilih calon istri yang subur,

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya
ummatku.” (HR. An Nasa’I, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul
Mashabih)

2. Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan untuk membentuk pribadi
anak yang berkarakter dan menjunjung tinggi nilai-nilai islam dalam kehidupan. Untuk itu peran
orang tua dalam memeberikan pendidikan kepada anak sangat urgen dilakukan di tengah-tengah
kehidupan masyarakat yang saat ini mengalami keprihatianan moral.

Islam memandang bahwa pentingnya peran orang tua dalam menentukan kepribadian anak,
sebagimana di dalam hadits Rasulullah S.A.W.

“setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Muttafaq’alaih)

Sebagian ulama menafsirkan fitrah yang dimaksud adalah potensi,baik itu akal (‘aql), hati
(qalb) dan jiwa (nafs) yang dibentuk melalui pola asuh kedua orang tua sedini mungkin. Imam
Al-Ghazali menilai perananorang tua yang terpenting dalam fungsi didiknya, adalah sebagai jalur
pengembangan “naluri beragama secara mendasar”pada saat anak-anak usia balita sebagai fitrah
mereka. Pembiasaan ibadah-ibadah ringan seperti membaca doa sebelum dan sesudah makan,
membaca doa setiap melakukan aktifitas, menghormati orang yang lebih tua, bahakan
mengajarkan anak kalimat-kalimat thoyyibah (laailaahaillallah) sejak anak mulai belajar
berbicara.

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi seseorang dan orang tua
sebagai kuncinya. Pendidikan dalam keluarga terutama berperan dalam pengembangan watak,
kepribadian, nilai-nilai budaya, nilai-nilai keagamaan dan moral, serta keterampilan sederhana.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ajaran islam, fungsi dan peranan keluarga dalam
pendidikan anak sebagai berikut:

a. Yang memberikan keyakinan agama

Sebagaimana Alquran telah mengisahkan tentang Nabi-nabi dan orang-orang sholeh


mengenai keyakinan terhadap Tuhan, seperti Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail, Lukman
kepada anaknya, bahwa mengajarkan tauhid kepada anak mutlak dilakukan oleh kedua orang tua,
agar anak mampu menyakini adanya Tuhan yang wajib disembah, sehingga enggan melakukan
hal-hal yang dilarang oleh agama. Dengan demikian peran orang tua diharapkan mampu menjadi
teladan dalam beribadah kepada Allah S.W.T.

b. Yang menanamkan nilai-nilai moral dan budaya


Beberapa hadis Nabi S.A.W yang menjelaskan mengenai hal ini adalah:
1) Memberikan nama yang baik
2) Memberikan makanan yang halal
3) Mengajari membaca Alquran
4) Melatih sopan santun
5) Mencintai Nabi Muhammad S.A.W

c. Yang memberikan teladan

Dalam hal ini orang tua harus memulai segala kebaikan mulai dari diri sendiri
(ibda’binafsih), dalam penerapannya harus memulai pendekatan, melalui (moral knowing),
memberi tahu kepada anak mengenai kebaikan, dan melalui (moral feeling) memberi tahu
kepada anak manfaat yang di dapat setelah melakukan kebaikan. Pendekatan tersebut dilakukan
secara berulang-ulang dan berkelanjutan sehingga diharapkan dapat menjadi kebiasaan (moral
behaviour) bagi anak untuk selalu melakukan kebaikan.

d. Yang memberikan keterampilan dasar

Memberikan keterampilan kepada anak, dalam sebuah hadis, Rasulullah S.A.W bersabda:

“kewajiban orang tua terhadap anaknya itu antara lain harus mengajari menulis, renang
dan memanah” (HR. Imam Baihaqi)

Dalam hadis lain, ditambah dengan mengajarkan anak berkuda. Keterampilan-keterampilan


tersebut menjadi kebutuhan hidup pada zaman itu, sehingga peran keluarga dipandang perlu
membekali anak-anaknya.

e. Yang memberikan perlindungan

Sebagaimana yang terkemuka di dalam Alquran surah At-Tahrim ayat 6 yang artinya,

“peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka...”.


peran keluarga sebagai pemberi perlindungan terhadap anak, yakni:

1) Melindungi akalnya dengan ilmu pengetahuan yang diperlukan dan disesuaikan dengan
kebutuhan anak.
2) Melindungi hatinya dari segala penyakit hati, senantiasa mengingatkan anak untuk
berdzikir kepada Allah swt. Dimanapun dan kapanpun.
3) Melindungi tubuhnya dari segala yang membahayakan, termasuk memberikan makanan
dan minuman yang sehat, bergizi dan halal.

3. Perempuan Akan Menjadi Madrasah Pertama Bagi Anak-anaknya

Seorang perempuan adalah ibu yang berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan
kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam
pendidikan di sekolah manapun.

a. Perempuan harus berpendidikan, terlebih dalam hal agama dan akhlak


b. Jadilah seorang perempuan yang berpendidikan, karena masa depan anak-anakmu berasal
dari pendidikan yang kamu berikan dirumah.
c. Entah berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang perempuan wajib berpendidikan
tinggi.
d. Setiap anak diwariskan 1 kromosom kecerdasan ibunya, oleh karena itu jadilah ibu yang
berpendidikan bukan yang cantik.

B. Adab Sopan Santun

Sopan santun merupakan cermin prilaku baik batin seseorang. Prilaku kita merupakan imbas
dari fikiran kita, dan watak yang baik dan perilaku dipaparkan dalam tindakan kita. Banyak
diantara kita telah melupakan beberapa tata krama yang diajarkan guru, orang tua, kakek-nenek
dan lainnya. Padahal, perihal akhlak tentu saja menjadi kunci bagi generasi masa depan mereka.
Itu sebabnya kita tak henti-hentinya ditanamkan sopan santun oleh orang tua kita.

1. Adab dan Etika Berbicara

kita manusia, setiap hari, dan hampir setiap saat, menggunakan dan membutuhkan
komunikasi. Salah satu alat komunikasi yang sering kita gunakan adalah bahasa lisan. Dalam
menggunakan bahasa atau berbicara dengan lawan bicara kita tentu harus menggunakan bahasa
yang baik, mudah dipahami dan dimengerti. Rasulullah telah mencontohkan kepada kita. Betapa
lembut dan santunnya Rasulullah. Sehingga masing-masing lawan bicaranya merasa dia yang
paling di muliakan Rasulullah. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim harus menunjukkan
kata-kata yang baik dalam setiap bicara. Berikut ini adalah beberapa etika berbicara yang
dituntun dalam islam:

a. Berkata baik atau diam


b. Sedikit bicara lebih utma
c. Dilarang membicarakan setiap yang didengar
d. Jangan mengutuk dan berbicara kotor
e. Jangan senang berdebat meski benar
f. Dilarang berdusta untuk membuat orang tertawa
g. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna.
h. Menghindari perbuatan yang menggunjing
i. Membicarakan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya.
j. Menghindari perkataan kasar, keras, dan ucapan yang menyakitkan perasaan.

2. Adab dan Sopan Santun Terhadap Orangtua


a. Tidak memandang orangtua dengan pandangan yang tajam atau tidak menyenangkan.
b. Tidak meninggikan suara ketika berbicara dengan orang tua.
c. Tidak mendahului mereka dalam berkata-kata
d. Tidak duduk di depan orang tua sedangkan mereka berdiri
e. Lebih mengutamakan orang tua daripada diri sendiri

Daftar Pustaka :

muslim.or.id
6.Pentingnya sholat berjamaah.

Tujuan Instruksional Khusus :

 Dapat mengetahui pengertian sholat berjamaah


 Dapat menentukan dalil dan hukum dari sholat berjamaah
 Dapat memahami ketentuan sholat berjamaah
 Dapat menentukan hikmah dan manfaat dari sholat berjamaah
 Dapat mengetahui keutamaan sholat berjamaah.

A.Pengertian Sholat Berjamaah


Salat berjamaah adalah salat yang dikerjakan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih,
seorang menjadi imam dan yang lain menjadi makmum dengan syarat-syarat yang telah
ditentukan.
Melaksanakan salat berjamaah hukumnya sunah muakkad, artinya sunah yang dikuatkan atau
dianjurkan. Melaksanakan salat berjamaah lebih utama dibandingkan salat sendirian (munfarid).
Keutamaan melaksanakan salat berjamaah antara lain di jelaskan dalam hadis dari Ibnu Umar r.a
yang artinya : Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: "shalat berjamaah itu lebih
utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.
(H.R. Muslim)

Dengan demikian, orang yang melaksanakan sholat berjamaah sesuai dengan syarat-syarat yang
telah ditentukan akan memperoleh keutamaan 27 kali lipat dibandingkan orang sholat sendirian.
melaksanakan sholat berjamaah di masjid lebih utama dibandingkan sholat di rumah. Abu
hurairah berkata yang artinya: Bahwa Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita ketentuan-
ketentuan untuk mendapatkan petunjuk, yaitu sholat di masjid ketika sudah di serukan suatu
azan.

B.Dalil dan hukum dari sholat berjamaah

Dari Abu Darda’ radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun,
kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama’ah, terkecuali syaitan telah menguasai
mereka. Maka hendaklah kamu senan-tiasa bersama jama’ah (golongan yang banyak), karena
sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)’.
(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan )
Sebagian ulama menyatakan hukum shalat berjamaah adalah fardhu 'ain (wajib bagi
seluruh individu muslim laki-laki) berdasarkan QS An-Nisa' 4:102 dan dua hadits yang disebut
di bawah. Namun mayoritas ulama madzhab empat menilai dalil-dalil tersebut menunjukkan
bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. Yaitu, wajib bagi seluruh muslim laki-laki,
tapi gugur kewajiban itu apabila ada sebagian muslim yang melakukannya.

1. Al Quran surah An-Nisa' 4:102

‫ت‬ِ ْ ‫س َجد ُوا فَ ْليَ ُكونُوا ِم ْن َو َرائِ ُك ْم َو ْلتَأ‬ َ ‫طائِفَةٌ ِم ْن ُه ْم َمعَكَ َو ْليَأ ْ ُخذُوا أَ ْس ِل َحت َ ُه ْم فَإِذَا‬
َ ‫ص ََلة َ فَ ْلتَقُ ْم‬
َّ ‫َوإِذَا ُك ْنتَ فِي ِه ْم فَأَقَ ْمتَ لَ ُه ُم ال‬
‫صلُّوا َمعَكَ َو ْليَأ ْ ُخذُوا ِحذْ َر ُه ْم َوأ َ ْس ِل َحت َ ُه ْم ۗ َودَّ الَّذِينَ َكفَ ُروا لَ ْو ت َ ْغفُلُونَ َع ْن أ َ ْس ِل َحتِ ُك ْم َوأَ ْمتِ َعتِ ُك ْم‬ َ ُ‫طائِفَةٌ أ ُ ْخ َر ٰى لَ ْم ي‬
َ ُ‫صلُّوا فَ ْلي‬ َ
ُ
‫ضعُوا أ ْس ِل َحتَ ُك ْم ۖ َو ُخذوا‬َ َ
َ َ ‫ض ٰى أ ْن ت‬ َ
َ ‫ط ٍر أ ْو ُك ْنت ُ ْم َم ْر‬ ً َ
َ ‫احدَة ً ۚ َو ََل ُجنَا َح َعلَ ْي ُك ْم إِ ْن َكانَ بِ ُك ْم أذى ِم ْن َم‬ ً ُ
ِ ‫فَيَ ِميلونَ َعلَ ْي ُك ْم َم ْيلَة َو‬
‫عدَّ ِل ْلكَافِ ِرينَ َعذَابًا ُم ِهينًا‬ َ َ‫َّللاَ أ‬
َّ ‫ِحذْ َر ُك ْم ۗ إِ َّن‬

Artinya: Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka mereka


(sahabatmu) lalu kamu hendak melaksanakan salat bersama-sama mereka, ...

2. Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan:

‫ ثم‬، ‫ ثم آمر رجَلً فيؤم الناس‬، ‫ ثم آمر بالصَلة فيؤذن لها‬، ‫ لقد هممت أن آمر بحطب فيحتطب‬، ‫و الذي نفسي بيده‬
‫ و الذي نفسي بيده لو يعلم أنه يجد َع ْرقا ً سمينا ً أو ِم ْرماتَيْن حسنتين لشهد‬، ‫أخالف إلى رجاَلً فأحرق عليهم بيوتهم‬
‫العشاء‬

Artinya: Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak
menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan
adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan
mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.

3. Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim (muttafaq alaih) menyatakan:

‫ و لقد هممت‬، ً‫ و لو يعلمون ما فيهما ألتوهما و لو حبوا‬، ‫إن أثقل الصَلة على المنافقين صَلة العشاء و صَلة الفجر‬
‫ ثم انطلق معي برجال معهم حزم من حطب إلى قوم َل يشهدون‬، ‫ ثم آمر رجَلً يصلي بالناس‬، ‫أن آمر بالصَلة فتقام‬
‫ فأحرق عليهم بيوتهم‬، ‫الصَلة‬

Artinya: Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat isya' dan shalat subuh.
Seandainya mereka tahu keutamaannya niscaya mereka akan datang walaupun dengan
merangkak. Aku telah memerintahkan agar shalat dilaksanakan. Kemudian aku memerintahkan
seorang lelaki untuk shalat dengan yang lain (secara berjamaah)...
C. Ketentuan Sholat Berjamaah

a. Syarat Imam

Imam dalam shalat berjamaah berarti seseorang yang memimpin pelaksanaan shalat berjamaah.
Dengan demikian, jika ada beberapa orang yang hendak mendirikan shalat (sedikitnya dua
orang), salah satunya dapat diangkat sebagai imam. Menurut para ahli fiqih (fuqaha), syarat-
syarat seorang imam sebagai berikut. Orang yang lebih dalam ilmu agamanya. Lebih fasih
bacaan Al-Qur’an serta banyak hafalannya. Memahami hukum-hukum shalat. Imam adalah
orang yang mempunyai akhlak mulia dan dicintai oleh makmumnya. Bersedia menjadi imam,
dalam arti tidak sebab dipaksa. Imam laki-laki bisa memimpin jamaah laki-laki dan perempuan.
Imam perempuan hanya boleh memimpin jamaah perempuan.

b. Syarat Makmum

Makmum adalah orang yang berada di belakang imam dan mengikuti imam dalam mengerjakan
shalat. Adapun syarat-syarat yang wajib dipenuhi untuk makmum menurut fuqaha adalah
sebagai berikut. Ketentuan dan Hikmah Shalat Berjamaah Berniat menjadi makmum.
Mengetahui dan mengikuti gerakan imam. Tidak mendahului gerakan imam. Berada dalam satu
tempat dengan imam. Tempat berdirinya tidak lebih depan dari imam atau di belakang imam.
Melaksanakan shalat seperti yang dilakukan imam. (Sulaiman Rasyid. 1995: halaman 109–113)

c. Macam Makmum

Dalam shalat jamaah ada dua macam makmum, yaitu makmum muwafik dan makmum masbuk.
Makmum muwafik adalah makmum yang dapat mengikuti shalat bersama imam dari awal
hingga akhir. Makmum masbuk adalah makmum yang tertinggal rakaat dari imam. Beberapa
ketentuan sebagai makmum masbuk sebagai berikut. Jika makmum mendapati imam masih
takbiratul ihram hendak- nya segera membaca Surah al- Fatihah . Akan tetapi, jika imam rukuk,
sementara bacaan surahnya belum selesai, hendaknya makmum langsung turut rukuk. Jika
makmum mendapati imam sedang rukuk, hendaknya setelah takbiratul ihram, makmum
langsung rukuk. Jika dalam keadaan ini, makmum dapat di hitung mendapatkan satu rakaat. Jika
makmum mendapati imam dalam posisi gerakan setelah rukuk, makmum melaksanakan
takbiratul ihram. Selanjutnya, makmum turut mengikuti gerakan imam. Dalam keadaan
demikian, makmum dianggap tertinggal rakaatnya sehingga perlu menambah rakaat yang
tertinggal setelah imam selesai shalat.Saf dalam Shalat Berjamaah

Menata barisan atau saf dalam shalat berjamaah adalah ajaran agama yang wajib diperhatikan.
Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw. bahwa kesempurnaan dalam shalat dipengaruhi
juga oleh kesempurnaan dalam meluruskan shaf. Berikut ini ketentuan dalam shaf shalat
berdasar hadis-hadis Rasulullah saw. Jika makmum hanya seorang diri, berada di sebelah kanan
imam dengan posisi sejajar dan tidak berada di depan imam. Jika makmum terdiri atas dua orang
posisinya berada dalam satu barisan di belakang imam. Jika terdiri atas imam, dua makmum
laki-laki dan seorang makmum perempuan maka kedua makmum laki-laki berada di belakang
imam. Sementara, makmum perempuan berada di belakang makmum laki-laki dengan jarak
yang agak jauh. Untuk makmum seorang laki-laki dan seorang perempuan, posisi makmum laki-
laki berada di samping imam dan yang perempuan berada di barisan tersendiri di belakangnya
dengan jarak yang agak jauh. Jika imam perempuan, posisi makmum perempuan berada dalam
satu barisan dengan imamnya, tidak di belakangnya. Jika imam seorang laki-laki dan makmum
seorang perempuan, posisi makmumnya wajib berada di belakang imam agak jauh. Dalam hal
ini, jika dilakukan di tempat tersendiri dan tertutup, makmum hendaknya istrinya sendiri
ataupun mahramnya. Jika shaf terdiri atas laki-laki dewasa dan anak-anak, serta perempuan
dewasa dan anak-anak, barisan di belakang imam adalah makmum laki-laki dewasa, dan
belakangnya yaitu barisan anak laki-laki. Dengan jarak yang jauh, diikuti dengan barisan
makmum anak-anak perempuan, sedangkan makmum perempuan dewasa berada di barisan
belakangnya.
D. Hikmah Dan Manfaat Dari Sholat Berjamaah

Banyak umat Islam yang menganggap remeh urusan shalat berjamaah. Kenyataan ini dapat kita
lihat di sekitar kita. Masih bagus mau shalat, pikir kebanyakan orang, sehingga tidak berjamaah
pun dianggap sudah menjadi muslim yang baik, layak mendapat surga dan ridha Allah. Padahal,
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dalam shahihain, sampai pernah hendak membakar rumah
para sahabat yang enggan berjamaah. Kisah ini seharusnya dapat membuka mata kita betapa
pentingnya berjamaah dalam melaksanakan rukun Islam kedua ini.

Jika mengamati hadits-hadits yang berkaitan dengan shalat berjamaah, barangkali kita dapat
menyimpulkan sendiri bahwa hukum shalat berjamaah “nyaris” wajib. Bagaimana tidak,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan bahwa hanya ada tiga hal yang dapat
menjadi alasan bagi kita untuk meninggalkan shalat berjamaah; hujan deras, sakit, dan ketiduran.
Di luar itu, beliau akan sangat murka melihat umat Islam menyepelekan shalat berjamaah.

Perhatian besar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini cukup beralasan. Karena di dalam
shalat berjamaah terdapat banyak hikmah dan manfaat bagi umat Islam, baik untuk maslahat
dien, dunia, dan akhirat mereka. Berikut ini beberapa hikmah dan manfaat yang bisa diunduh
umat Islam dari shalat berjamaah.

1. Allah telah mensyariatkan pertemuan bagi umat ini pada waktu-waktu tertentu. Ada yang
dilaksanakan secara berulang kali dalam sehari semalam, yaitu shalat lima waktu dengan
berjamaah di masjid. Ada juga pertemuan yang dilaksanakan sekali dalam sepekan, yaitu shalat
Jum'at. Ada juga yang dilangsungkan setelah pelaksanaan ibadah yang agung, dan terulang dua
kali setiap tahunnya. Yaitu Iedul Fitri sesudah pelaksanaan ibadah puasa Ramadlan dan Iedul
Adha sesudah pelaksanaan ibadah Haji. Dan ada juga yang dilaksakan setahun sekali yang
dihadiri umat Islam dari seluruh penjuru negeri, yaitu wukuf di Arafah. Semua ini untuk
menjalin hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama umat Islam, juga dalam rangka
membersihkan hati sekaligus dakwah ke jalan Allah, baik dalam bentuk ucapan maupun
perbuatan.

2. Sebagai bentuk ibadah kepada Allah melalui pertemuan ini dalam rangka memperoleh pahala
dari-Nya dan takut akan adzab-Nya.

3. Menanamkan rasa saling mencintai. Melalui pelaksanaan shalat berjamaah, akan saling
mengetahui keadaan sesamanya. Jika ada yang sakit dijenguk, ada yang meninggal di antarkan
jenazahnya, dan jika ada yang kesusahan cepat dibantu. Karena seringnya bertemu, maka akan
tumbuh dalam diri umat Islam rasa cinta dan kasih saying.

4. Ta'aruf (saling mengenal). Jika orang-orang mengerjakan shalat secara berjamaah akan
terwujud ta'aruf. Darinya akan diketahui beberapa kerabat sehingga akan tersambung kembali
tali silaturahim yang hampr putus dan terkuatkan kembali yang sebelumnya telah renggang. Dari
situ juga akan diketahui orang musafir dan ibnu sabil sehingga orang lain akan bisa memberikan
haknya.

5. Memperlihatkan salah satu syi'ar Islam terbesar. Jika seluruh umat Islam shalat di rumah
mereka masing-masing, maka tidak mungkin diketahui adanya ibadah shalat di sana.

6. Memperlihatkan kemuliaan kaum muslimin. Yaitu jika mereka masuk ke masjid-masjid dan
keluar secara bersamaan, maka orang kafir dan munafik akan menjadi ciut nyalinya.

7. Memberi tahu orang yang bodoh terhadap syariat agamanya. Melalui shalat berjamaah,
seorang muslim akan mengetahui beberapa persoalan dan hukum shalat yang sebelumnya tidak
diketahuinya. Dia bisa mendengarkan bacaan yang bisa dia petik manfaat sekaligus dijadikan
pelajaran. Dia juga bisa mendengarkan beberapa bacaan dzikir shalat sehinga lebih mudah
menghafalnya. Dari sini, orang yang belum mengetahui tentang syariat shalat, khususnya, bisa
mengetahuinya.

8. Memberikan motifasi bagi orang yang belum bisa rutin menjalankan shalat berjamaah,
sekaligus mengarahkan dan membimbingnya seraya saling mengingatkan untuk membela
kebenaran dan senantiasa bersabar dalam menjalankannya.

9. Membiasakan umat Islam untuk senantiasa bersatu dan tidak berpecah belah. Dalam
berjamaah terdapat kekuasaan kecil, karena terdapat imam yang diikuti dan ditaati secara tepat.
Hal ini akan membentuk pandangan berIslam secara benar dan tepat tentang pentingnya
kepemimpinan (imamah atau khilafah) dalam Islam.

10. Membiasakan seseorang untuk bisa menahan diri dari menuruti kemauan egonya. Ketika dia
mengikuti imam secara tepat, tidak bertakbir sebelum imam bertakbir, tidak mendahului gerakan
imam dan tidak pula terlambat jauh darinya serta tidak melakukan gerakan bebarengan
dengannya, maka dia akan terbiasa mengendalikan dirinya.

11. Membangkitkan perasaan orang muslim dalam barisan jihad, sebagaimana yang Allah
firmankan,

ٌ‫صفًّا َكأَنَّ ُه ْم بُ ْنيَانٌ َم ْرصُوص‬ َ ‫ب الَّ ِذينَ يُقَا ِتلُونَ فِي‬


َ ‫س ِبي ِل ِه‬ َّ َّ‫إِن‬
ُّ ‫َّللاَ يُ ِح‬

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. Ash Shaff: 4)

Orang yang mengerjakan shalat lima waktu dengan berjamaah dan membiasakan diri untuk
berbaris rapi, lurus dan rapat, akan menumbuhkan dalam dirinya kesetiaan terhadap komandan
dalam barisan jihad sehingga dia tidak mendahului dan tidak menunda perintah-peritnahnya.

12. Menumbuhkan perasaan sama dan sederajat dan menghilang status sosial yang terkadang
menjadi sekat pembatas di antara mereka. Di sana, tidak ada pengistimewaan tempat bagi orang
kaya, pemimpin, dan penguasa. Orang yang miskin bisa berdampingan dengan yang kaya, rakyat
jelata bisa berbaur dengan penguasa, dan orang kecil bisa duduk berdampingan dengan orang
besar. Karena itulah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk menyamakan shaff
(barisan) shalat. Beliau bersabda, "janganlah kalian berselisih yang akan menyebabkan
perselisihan hati-hati kalian." (HR. Muslim)

13. Dapat terlihat orang fakir miskin yang serba kekurangan, orang sakit, dan orang-orang yang
suka meremehkan shalat. Jika terlihat orang memakai pakaian lusuh dan tampak tanda kelaparan
dan kesusahan, maka jamaah yang lain akan mengasihi dan membantunya. Jika ada yang tidak
terlihat di masjid, akan segera diketahui keadaannya, apakah sakit atau meremehkan kewajiban
shalat berjamaah. Orang yang sakit akan dijenguk dan diringankan rasa sakit dan kesusahannya,
sedangkan orang yang meremehkan shalat akan cepat mendapat nasihat sehingga akan tercipta
suasana saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

14. Akan menggugah keinginan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
dan para shabatnya. Melalui shalat berjamaah, umat Islam bisa membayangkan apa yang pernah
dijalani oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersama para shabatnya. Sang imam seolah
menempati tempat Rasulullah yang para jamaah seolah menempati posisi sahabat.

15. Berjamaah menjadi sarana turunnya rahmat dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

16. Akan menumbuhkan semangat dalam diri seseorang untuk meningkatkan amal shalihnya
dikarenakan ia melihat semangat ibadah dan amal shalih saudaranya yang hadir berjamaah
bersamanya.
17. Akan mendapatkan pahala dan kebaikan yang berlipat ganda, sebagaimana yang disabdakan
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "shalat berjamaah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat
sendirian." (HR. Muslim)

18. Menjadi sarana untuk berdakwah, baik dengan lisan maupun perbuatan. Berkumpulnya kaum
muslimin pada waktu-waktu tertentu akan mendidik mereka untuk senantiasa mengatur dan
menjaga waktu.

E.Keutamaan Sholat Berjamaah.

 Salat berjama'ah lebih utama daripada salat sendirian, dengan pahala 27 derajat Setiap
langkahnya diangkat kedudukannya 1 derajat dan dihapuskan baginya satu dosa
 Dido'akan oleh para malaikat
 Terbebas dari pengaruh (penguasaan)
 Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat
 Mendapatkan balasan yang berlipat ganda
 Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain
 Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih dengan mematuhi
tata tertib hubungan antara imam dan ma'mum, misalnya tidak boleh menyamai apalagi
mendahului gerakan imam dan menjaga kesempurnaan shaf-shaf salat
 Merupakan pantulan kebaikan dan ketaqwaan

7.Ibadah Sholat-Sholat Sunat Pembinaan Kepribadian

Tujuan Instruksional Khusus :

 Pesera kajian dhuha mengetahui keutamaan sholat sunnah.


 Peserta kajian dhuha dapat menerapkan dan melaksanakan sholat sunnah dalam
kehidupan sehari-hari.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Shalat Tahajjud dan Keutamaannya

Qiyamul lail adalah ibadah yang ditunaikan di malam hari, walau hanya sesaat. Di dalamnya ada
shalat, membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya. Disebut qiyamul lail (menghidupkan malam)
tidak mesti menghidupkan dengan mayoritas malam.

Dalam Muroqi Al-Falah disebutkan bahwa qiyamul lail yang terpenting adalah menyibukkan
malam hari dengan ibadah (ketaatan). Ada juga pendapat lain yang mengatakan sudah disebut
qiyamul lail walau hanya sebentar dengan membaca Al-Qur’an, mendengar hadits, berdzikir atau
bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinukil dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah,
34: 117)

Adapun shalat tahajud adalah shalat malam secara khusus. Sebagian ulama menganggap bahwa
shalat tahajud adalah shalat malam yang dikerjakan setelah bangun tidur.

Al-Hajjaj bin ‘Amr Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa salah seorang di antara
kalian jika bangun tidur lalu melaksanakan shalat malam sampai datang Shubuh, berarti ia telah
melaksanakan tahajud. Karena yang dimaksud shalat tahajud adalah shalat setelah tidur.

Dari sini kita dapat melihat bahwa qiyamul lail ternyata memiliki makna lebih umum dari shalat
tahajud. Qiyamul lail bisa mencakup shalat malam dan selainnya. Qiyamul lail bisa mencakup
shalat yang dikerjakan sebelum dan sesudah tidur.

Sedangkan tahajud yang dimaksud adalah shalat secara khusus. Namun ada dua pendapat dalam
hal ini. Ada yang menganggap tahajud adalah shalat malam secara mutlak sebagaimana
anggapan kebanyakan ulama. Ada pula ulama yang menganggap tahajud adalah shalat malam
yang dilakukan setelah bangun tidur. Demikian disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 2:
232.

Imam Al-Qurthubi misalnya ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

َ‫سى لَكَ نَافِلَة بِ ِه فَت َ َه َّجدْ اللَّ ْي ِل َو ِمن‬


َ ‫َمحْ مودا َمقَاما َربُّكَ يَ ْب َعثَكَ أ َ ْن َع‬

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah
tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS.
Al-Isra’: 79). Yang dimaksud tahajjud di sini ada kaitannya dengan kata hajada yang berarti tidur
malam.

Salah satu keutamaan atau manfaat sholat sunnah dhuha yaitu dilancarkannya pintu rezeki bagi
orang yang menunaikannya. Selain itu, ternyata ada beberapa Keutamaan Sholat Dhuha yang
Sangat Luar Biasa, seperti; orang yang menunaikan sholat dhuha pahalanya menyamai pahala
orang haji dan umrah yang sempurna, akan dimudahkan dan dicukupi segala urusannya hingga
akhir siang, dan masih banyak lagi.

Sungguh sangat luar biasa. Untuk itu, mulai sekarang jangan sungkan-sungkan lagi ya untuk
menunaikan sholat sunnah yang satu ini. Karena banyak sekali manfaat dan keutamaan yang
dapat kita peroleh.

Dan berikut adalah beberapa Hikmah dan Keutamaan Shalat Sunah Dhuha selengkapnya:

Keutamaan dan Hikmah Shalat Sunah Dhuha

Sholat Dhuha = Mengganti Sedekah Dengan Seluruh Persendian

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda;

ْ ‫صدَقَة أ َ َحدِك ْم ِم ْن سالَ َمى ك ِل َعلَى ي‬


‫صبِح‬ َ ‫صدَقَة ت َ ْسبِي َحة فَك ُّل‬ َ ‫صدَقَة ت َ ْه ِليلَة َوك ُّل‬
َ ‫صدَقَة تَحْ ِميدَة َوك ُّل‬ َ ‫يرة َوك ُّل‬ َ ‫َوأ َ ْمر‬
َ ‫صدَقَة ت َ ْك ِب‬
ِ ‫صدَقَة بِ ْال َم ْعر‬
‫وف‬ َ ‫صدَقَة ْالم ْنك َِر َع ِن َونَ ْهى‬
َ ‫َان ذَلِكَ ِم ْن َويجْ ِزئ‬ ِ ‫ض َحى ِمنَ يَ ْر َكعه َما َر ْكعَت‬
ُّ ‫ال‬

Artinya :

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap
bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa
sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan
takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada
ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa
dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at. (HR. Muslim no.
720).

Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan
dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

َ ‫علَى آدَ َم بَنِى ِم ْن إِ ْن‬


‫سان ك ُّل خلِقَ إِنَّه‬ ِ ‫َم ْف‬
َ َ‫صل َوثَالَ ِث َمائ َ ِة ِستِين‬

Artinya :

Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360
persendian. (HR. Muslim no. 1007).
Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun
sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana
disebutkan pula dalam hadits dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫س ِم ْعت يَقول ب َر ْيدَةَ أَ ِبى‬ ِ َّ -‫وسلم عليه هللا صلى‬- ‫ان فِى « يَقول‬
َ ‫َللا َرسو َل‬ ِ ‫س‬ ِ َ‫صل َوثَالَث ِمائ َ ِة ِستُّون‬
َ ‫اإل ْن‬ ِ ‫صدَّقَ أ َ ْن َف َع َل ْي ِه َم ْف‬
َ َ ‫ع ْن يَت‬
َ ‫ك ِل‬
‫صل‬ ِ ‫صدَقَة ِم ْن َها َم ْف‬ َّ
َ ». ‫َللاِ َرسو َل يَا ذَلِكَ ي ِطيق الذِى فَ َم ِن قَالوا‬ ْ َ
َّ ‫ش ْىء أ ِو تَدْفِن َها ال َمس ِْج ِد فِى النُّخَا َعة « قَا َل‬ َّ ‫ق َع ِن تن َِحي ِه ال‬ ِ ‫ط ِري‬ َّ ‫ال‬
‫ض َحى فَ َر ْكعَتَا تَ ْقد ِْر لَ ْم فَإِ ْن‬
ُّ ‫َع ْنكَ تجْ ِزئ ال‬

Artinya :

Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.”
Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh
persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan,
“Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak
mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at. (HR. Ahmad, 5:
354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, "Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan
keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia.
Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at" (Syarh Muslim, 5: 234).

Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Hadits Abu Dzar dan hadits
Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat
Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at
shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah
sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus” (Nailul Author, 3: 77).

Shalat Dhuha = Akan Dicukupi Urusan di Akhir Siang

Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda;

َّ ‫ار أَ َّو ِل ِم ْن َر َكعَات أَ ْربَعِ َع ْن تَ ْع ِج ْز لَ آد َ َم ابْنَ يَا َو َج َّل َع َّز‬


‫َللا قَا َل‬ ِ ‫آخ َره أ َ ْكفِكَ النَّ َه‬
ِ

Artinya :

Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di
awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang. (HR. Ahmad (5/286),
Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh
Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung
pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang
membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari
terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya
bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, 4: 118)

At Thibiy berkata, “Yaitu engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta
akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang
dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha),
maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).

Shalat Dhuha = Mendapat Pahala Haji dan Umrah yang Sempurna

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

َ َ‫َللاَ يَذْكر قَعَدَ ث َّم َج َما َعة فِى ْالغَدَاة‬


« ‫صلَّى َم ْن‬ َّ ‫ش ْمس ت َْطل َع َحتَّى‬
َّ ‫صلَّى ث َّم ال‬ ْ ‫» َوع ْم َرة َح َّجة َكأَجْ ِر لَه كَان‬. ‫قَا َل قَا َل‬
َ ‫َت َر ْكعَتَي ِْن‬
َّ -‫وسلم عليه هللا صلى‬- « ‫ت َا َّمة ت َا َّمة ت َا َّمة‬
‫َللاِ َرسول‬

Artinya :

Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir
pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti
memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna
dan sempurna. (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Al Mubaarakfuri rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi (3: 158)
menjelaskan, “Yang dimaksud ‘kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at’ yaitu setelah
matahari terbit. Ath Thibiy berkata, “Yaitu kemudian ia melaksanakan shalat setelah matahari
meninggi setinggi tombak, sehingga keluarlah waktu terlarang untuk shalat. Shalat ini disebut
pula shalat Isyroq. Shalat tersebut adalah waktu shalat di awal waktu."

Sholat Dhuha = Termasuk Shalat Awwabin (Orang yang Kembali Taat)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda;

‫أواب إل الضحى صالة على يحافظ ل‬، ‫األوابين صالة وهي‬

Artinya :

Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah
shalat awwabin. (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At
Targhib wa At Tarhib 1: 164)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama
yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6:
30).

Itulah beberapa Keutamaan dan Manfaat Sholat Dhuha yang tentunya sangat luar biasa. Semoga
kita semua termasuk orang-orang yang selalu menunaikan sholat shunnah dhuha. Amien ya Rab.

Shalat Rawatib, yaitu shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu baik dikerjakan sebelum atau
sesudah shalat fardhu. Shalat rawatib yang dikerjakan sebelumm shalat frdhu disebuat shalat
qabliyah, dan uang dikerjakan sesudah shalat fardhu disebut shalat ba'diyah.

Shalat rawatib tersebut adalah :

- Dua/empat rakaat sebelum zhuhur

- Dua rakaat setelah zhuhur

- Dua rakaat sesudah maghrib

- Dua rakaat sesudah isya

- Dua rakaat sebelum shalat shubuh

Dari Abdullah bin Umar ia berkata : Saya ingat dari Rasulullah SAW mengerjakan shalat dua
rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sesudah zhuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat
sesudah isya dan dua rakaat sebelum shubuh. (HR. Al-Bukhori).

Keutamaan shalat sunnah rawatib dinyatakan dalam hadits-hadits berikut :


Dari Aisyah ra, dari Nabi SAW beliau telah bersabda : "Dua rakaat sebelum fajar itu lebih baik
daripada dunia dan segala isinya." (HR. Muslim).

"Siapa yang shalat sehari semalam 12 rakaat maka dibangunlah baginya sebuah rumah di syurga,
yaitu 4 rakaat sebelum zhuhur, 2 rakaat sesudah zhuhur, 2 rakaat seudah maghrib, 2 rakaat
sesudah isya, dan 2 rakaat sebelum shubuh." (HR. At-Turmudzi adn ia menyatakan bahwa hadits
ini hasan dan shahih).

Ibadah Shalat-shalat Sunnah Pembentukan Kepribadian

Sholat dan Membangun Karakter

Pernahkah terpikirkan selain perintah wajib yang disematkan, sholat sebenarnya adalah media /
perangkat kerja yang berfungsi untuk membangun karakter setiap pribadi yang mendirikannya?.
Coba perhatikan makna pada ayat Al-Qur’an berikut: “Innassholaata Tanha ‘Anil Fakhsyaai Wal
Munkar”(Q.S. 29:45);Sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Jadi, bila sholat didirikan dengan baik; mengikuti tata cara yang benar mulai dari sebelum sholat
itu dikerjakan, banyak karakter positif yang akan terbentuk. Dan pada gilirannya, berbagai
macam perilaku yang tidak membangun (negatif) bisa dihindari.

Benarkah sesederhana itu? Ya, memang begitu. Sebagai media, sholat mestinya sama dengan
program olah raga atau diet (pola makan) yang teratur. Bila program-program kesehatan itu
dilakukan dengan baik dan rutin serta mengikuti panduan-panduan yang dibenarkan, maka
kesehatan raga dan jiwa adalah sebuah keniscayaan.

Lupakan orang yang sholat tapi masih saja berperilaku dan berkarakter buruk karena menurut Dr.
Bilal Philips—cendekiawan muslim asal Kanada, kini tinggal di Qatar—sholat bagi orang-orang
itu hanyalah “mindless routine” saja: rutinitas yang kosong belaka, yang penting gugur
kewajiban, tanpa sebuah refleksi, tanpa upaya untuk melihat kembali apa yang sudah diperbuat
selama ini. Dan, yang lebih parah lagi, tanpa usaha yang keras untuk mengingat sang pencipta;
menyadari sepenuhnya dengan siapa dia sedang berhadapan / berdialog setiap kali sholat
dikerjakannya. Dengan begitu, sholat tidak lebih dari sekedar aktifitas pergerakan badan, disertai
komat-kamit yang tak memiliki makna.
Sholat memang hanya sebuah media. Namun, ia bisa menjadi satu-satunya alat yang sangat
praktis dan ekonomis dan bisa diandalkan untuk membangun karakter yang baik, karena sholat
sejatinya memiliki basis sistem manajemen (diri) yang efektif dengan intensitas rutinitas dan
substansi kegiatan yang sangat kuat.

Secara empiris, tidak sedikit orang yang memberikan testimoni bahwa dengan sholat yang baik
(khusyu’ dan mengikuti tata cara yang dibenarkan) banyak manfaat yang mereka alami dan
rasakan. Selain untuk membangun karakter tadi, juga untuk mendapatkan ketenangan jiwa.
Berikut beberapa karakter baik yang bisa dibangun melalui sholat.

Pertama, sholat bisa membentuk kedisiplinan. Tak ada media dan strategi yang bisa diandalkan
untuk membentuk kedisiplinan se-sistematis sholat. Bila Rhenald Kasali mengisahkan
kedisiplinan para ksatria Samurai dalam bukunya: “Self-Driving: Menjadi Driver atau
Passenger?” (2015), sebenarnya ia hanya sedang menceritakan sebuah kelompok yang memiliki
prinsip kuat berupa self-discipline (disiplin diri) yang mereka pegang teguh secara turun
temurun. Guru besar ekonomi dan manajemen UI ini tidak sedang mengetengahkan sebuah
media / strategi bagaimana kedisiplinan bisa dibentuk. Dalam konteks inilah sholat bisa hadir
sebagai tawaran.

Bila sholat wajib lima waktu saja dilakukan dengan baik (dilakukan dengan khusyu’, tepat waktu
dan berjamaah), seseorang bahkan bisa menyaingi kedisiplinan para Samurai yang sudah
memulai tanggung jawabnya sejak bangun pagi. Sebagai contoh, sholat Shubuh adalah ritual
yang dilakukan pagi sekali. Bahkan kalau mau, ritual sholat lainnya bisa dilakukan beberapa jam
sebelum itu, yaitu sholat Tahajud (dilakukan setelah bangun tidur di malam hari antara pukul 12
malam sampai sebelum waktu Shubuh tiba).

Bahkan lagi, bila seseorang ingin menantang dirinya sendiri untuk melatih kedisplinannya, ada
sekitar 15-an sholat (sunnah) yang bisa dilakukan secara rutin.

Prinsip yang kuat berupa disiplin diri, fokus dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan—
seperti yang dijelaskan oleh Rhenald Kasali melalui kisah Samurai dalam bukunya itu—
sebenarnya sudah ada dalam semangat dan ruh sholat. Bagaimana mungkin kedisplinan tidak
terbentuk bila jadwal-jadwal sholat itu dilakukan secara rutin, teratur dan ajeg?
Kedua, sholat bisa dijadikan media untuk memotivasi diri. Dalam penelitiannya yang melibatkan
sekitar 500 orang, Richard St. John pernah mengatakan: “most successful people keep pushing
themselves”;orang yang sukses selalu menjaga motivasi diri. Berbagai cara bisa mereka lakukan
untuk menjaga, memantik dan menghidupkan semangat itu. Di sinilah sholat hadir sebagai salah
satu strateginya.

Biasanya, bila waktu sholat tiba, seseorang yang akan menjalankannya hampir pasti didera rasa
malas yang amat berat, bahkantak jarang rasa kesia-siaan pun muncul (seperti pertanyaan: untuk
apa sih sholat ini?, keuntungan apa yang aku akan dapatkan dengan sholat ini?). Bila dalam
sholat saja—yang frekuensi rutinitasnya sangat rapat antara sholat yang satu dan sholat
berikutnya, dan pada saat yang sama tak pernah diketahui manfaat langsung apa yang akan
didapat darinya—kita mampu memotivasi diri untuk melaksanakannya tepat waktu, dan bahkan
berjama’ah, bukan tidak mungkin kita akan terbiasa memotivasi diri untuk melakukan kegiatan-
kegiatan lainnya.

Artinya, nilai positif dari sholat (pahala, masuk surga, dekat dengan Tuhan) bila jujur diakui,
sebenarnya hanya terjadi di alam persepsi saja. Dengan kata lain, para pelaku sholat tidak pernah
tahu manfaat langsung yang akan mereka peroleh persis setelah sholat selesai dilakukan. Oleh
karenanya, bila untuk kegiatan yang “tak bermanfaat langsung” seperti itu kita bisa memotivasi
diri untuk segera melakukannya, seharusnya kita lebih mampu memotivasi diri untuk melakukan
hal-hal yang memberikan manfaat langsung.

Ketiga, sholat adalah media untuk melatih fokus.Dalam sholat, istilah ini dikenal dengan
khusyu’. Sholat adalah media yang sangat baik, mudah, praktis serta efisien untuk melatih
kekhusyu’an (fokus) itu. Sholat sebenarnya sudah “tersedia” dalam bentuk gerakan dan bacaan
dari satu langkah ke langkah berikutnya secara tertib. Langkah-langkah itulah yang, kalau
disadari, sebenarnya memberi jalan keluar bagi kita untuk fokus (khusyu’). Maka, setiap
mengerjakan sholat, lakukan saja langkah ini:fokuslah pada setiap satu gerakan dan satu bacaan
saja, lalu nikmati prosesnya, dan begitu seterusnya. Cara ini bisa kita lakukan untuk kegiatan lain
dalam kehidupan sehari-hari; fokus pada satu langkah saja, nikmati prosesnya dan begitu
seterusnya. Dengan kata lain, hanya fokus melakukan langkah yang paling kecil dan paling
sederhana, dan begitu seterusnya sampai akhir / sampai tujuan yang diinginkan tercapai.

Keempat, sholat adalah media untuk melatih keikhlasan / ketulusan. Bayangkan saja ini: Anda
melakukan sholat di malam buta, tanpa siapapun yang menemani kecuali temaram lampu serta
semilir angin malam. Sulit diterima akal sehat bahwa seseorang mau melakukan kegiatan itu
tanpa keikhlasan. Sedikit saja Anda tidak ikhlas / tulus melakukannya, pasti Anda lebih memilih
selimut hangat membungkus tubuh di atas tempat tidur yang nyaman. Bila sholat malam—
bersama dengan segala godaannya itu—Anda sering lakukan dengan keikhlasan / ketulusan,
maka mudah bagi Anda mengatur keikhlasan—bersamaan dengan kemampuan memotivasi
diri—untuk, misalnya, sholat tepat waktu dan / atau berjamaah di masjid.

Kelima, sholat adalah media untuk melatih Punctuality / Kebiasaan tepat waktu. Perintah
Rasulullah SAW pun sangat jelas dan tegas tentang ketepatan-waktu ini: “Assholatu ‘alaa
Waqtihaa” Sholatlah tepat pada waktunya. Mental “tepat waktu” akan terbentuk dengan baik bila
dengan kemauan keras sholat dikerjakan persis setelah kumandang adzan dilantunkan.

Banyak sekali manfaat bila mental “tepat waktu” itu terbangun dengan baik. Misalnya,
pekerjaan-pekerjaan penting meski tak mendesak bisa cepat selesai dikerjakan. Dengan begitu,
kita segera bisa melakukan hal-hal lain yang dianggap perlu. Lebih lagi, dengan mental “tepat
waktu” pekerjaan lain bisa diselesaikan lebih awal bahkan jauh dari tenggat waktu yang
ditentukan.

Keenam, sholat bisa membentuk karakter kooperatif. Ini berkaitan dengan team-work. Artinya,
orang yang biasa sholat berjamaah memiliki kebiasaan hidup mengutamakan kepentingan
bersama. Ini juga menyangkut komunikasi untuk kepentingan kelompok yang lebih besar, belajar
komunikasi persuasif untuk mengajak orang lain melakukan kegiatan baik secara bersama.
Dengan kata lain, orang yang biasa mendirikan sholat berjamaah mampu bekerja dengan baik
dalam tim / team-work.Bagaimana itu bisa terjadi? Karena ia terbiasa mengutamakan
kepentingan bersama melalui kebiasan sholat berjamaah itu.

Bahkan bila dia sedang tidak bisa mengikuti jamaah di masjid tersebut—karena terlambat,
misalnya—dia tetap bisa berjamaah dengan cara menunggu kesempatan datangnya orang lain
(dalam ilmu Fiqih ini disebut dengan ma’mum masbuk), dan diajaknya untuk berjamaah. Di
sinilah, kemampuan komunikasi dan berbicara secara persuasif bisa dilatih secara praktis.

Semua karakter positif di atas sangat bisa dilatih melalui sholat yang dilakukan dengan baik dan
benar (khusu’, tepat waktu dan berjamaah). Karena sholat memiliki intensitas rutinitas yang
tertib. Menurut konsep Mielinisasi—salah satunya diperkenalkan oleh Daniel Coyle dengan
“deep practice”-nya—bahwa sel saraf otak akan membentuk Myelin (bungkus, Mielinisasi =
pembungkusan) bila terjadi pengulangan (berpikir, bergerak). Semakin sering pengulangan
terjadi maka mielinisasi semakin kuat. Dengan begitu, karakter-karakter positif tersebut di atas
semakin melekat pada setiap pribadi yang mengerjakan sholat dengan baik dan benar, rutin dan
disiplin.

Daftar Pustaka :

https://rumaysho.com/13929-qiyamul-lail-shalat-tahajud-dan-shalat-malam.html
www.blogkhususdoa.com/2015/03/4-keutamaan-sholat-dhuha-yang-sangat.html?m=1

makhluqbumi.blogspot.co.id/2010/06/macam-macam-sholat-sunnah-dan.html?m=1

www.kompasiana.com/sogyl1118/sholat-dan-membangun-
karakter_57ba97391493734312dedcd2

8. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Tujuan Instruksional Khusus :

 Diharapkan Mahasiswa memiliki sikap optimis dalam menuntut ilmu pengetahuan.


 Diharapkan Mahasiswa mengetahui tokoh-tokoh dan ilmuwan Islam.
 Diharapkan Mahasiswa mengetahui sejarah pengetahuan dalam Islam.
 Diharapkan Mahasiswa mampu mengembangkan teknologi dan mengharumkan agama
Islam di mata dunia.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN ISLAM

Gagasan islamisasi, sebagai fenomena modernitas, menarik untuk dicermati dan menjadi great
project bagi kalangan masyarakat Muslim. Gagasan ini muncul untuk merespons perkembangan
pengetahuan modern yang didominasi peradaban Barat non-Islam. Dominasi peradaban sekuler
menjadi faktor dominan dari kemunduran umat Islam. Padahal, dalam sejarah awal
perkembangannya, umat Islam mampu membuktikan diri sebagai kampiun pertumbuhan
peradaban dan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam terus memudar
seiring dengan merosotnya kekuasaan politik Islam. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di
dunia Barat, secara tidak langsung, berimplikasi positif bagi dunia Islam. Paling tidak, dunia
Islam sadar akan terbelakangnya peradaban dan ilmu pengetahuan di kalangan mereka.
Sehingga, berangkat dari kesadaran dimaksud, pada awal abad kedua puluh Islam mengalami
dinamika baru melalui reorientasi dan transformasi ajarannya. Kebangkitan Islam pada awal
abad ini diidentifikasi sebagai upaya memandang modernisasi yang berkembang dalam bingkai
Islam. Dalam bahasa Huntington, ia dipahami sebagai perwujudan dari penerimaan terhadap
modernitas, penolakan terhadap kebudayaan Barat, dan re-komitmen terhadap Islam sebagai
petunjuk hidup dalam dunia modern. Dari sini nyata bahwa kebangkitan Islam bukan berarti
menolak kehidupan modern. Ia justru mendorong umatnya untuk menjalani arus kehidupan
modern yang memang tak terbendung. Sehingga, Islam dapat mengartikulasikan ajarannya dalam
semua sisi kehidupan modern. Respons terhadap modernisasi disikapi umat Islam dengan tetap
bertopang pada ajaran Islam. Wujud nyata dari sikap umat adalah munculnya proses islamisasi
kehidupan modern di kalangan masyarakat Islam. Maka, tidak berlebihan, bila sejak tahun 1970-
an konsep islamisasi pengetahuan mulai dibumikan oleh al-Attas. Kebangkitan Islam, yang
secara massif dibarengi simbolisasi Islam dalam kehidupan masyarakat Muslim, semakin
mendorong isu islamisasi. Sehingga, pada dekade tahun 1980–an yang merupakan titik awal
gerakan al-Faruqi, isu islamisasi ini mengambil obyek ilmu pengetahuan. Di sini al-Faruqi
berupaya memadukan nilai etis dan agama dengan ilmu pengetahuan modern. Proses islamisasi
ilmu pengetahuan tidak diarahkan untuk menolak pengetahuan yang ada. Kecuali itu, ia
merupakan upaya holistik dalam upaya integrasi dua kajian, wahyu dan alam, untuk menemukan
alternatif metode pengetahuan yang mampu mengeluarkan manusia modern dari krisis peradaban
destruktif. Pelibatan aspek wahyu dalam metode pengetahuan, sebagai proses islamisasi,
berbanding terbalik dengan metode yang berkembang di kalangan ilmuan Barat modern. Metode
pengetahuan modern tidak lagi mempertimbangkan aspek nilai, apalagi wahyu, dan bahkan
secara ekstrim ia tidak lagi memberikan tempat pada nilai-nilai manusiawi. Ini terlihat dari
pernyataan Sardar bahwa desakan untuk menolak semua pertimbangan nilai dalam rangka
memperoleh ilmu pengetahuan menyebabkan metode pengetahuan modern memperlakukan
obyek penyelidikan, baik manusia maupun bukan manusia, sebagai benda mati yang bisa
dieksploitasi, dimanipulasi dan dibedah atas nama sains. Menyadari kondisi demikian, ilmuan
Muslim berupaya mengajukan metode pengetahuan dengan bertumpu pada ajaran Islam.

TOKOH ILMUAN MUSLIM

Usaha-usaha ilmuan Muslim itu memusatkan diri di sekitar masalah islamisasi ilmu
pengetahuan. Beperapa tokoh yang memiliki concern besar dalam persoalan ini, antara lain
adalah

Syed Muhammad Naquib al-Attas,

Isma’il Raji al-Faruqi,

Ziauddin Sardar.

Maka, dengan mempertimbangkan uraian di atas, kajian ini berupaya menelusuri bagaimana
konsep islamisasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh ketiga tokoh tersebut. Konsep
yang ditawarkan al-Faruqi adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak semuanya kontradiktif dengan
nilai-nilai Islam, sehinga menurutnya, islamisasi pengetahuan adalah melakukan penyaringan
dari ilmu pengetahuan yang telah ada dengan mempertimbangkan nilai-nilai Islam. Metode
konsepsi yang demikian dianggap sebagai metode integrasi antara teori dan tradisi keilmuan
Islam dan keilmuan Barat yang sekuler. Sedangkan Sardar berpandangan bahwa islamisasi ilmu
pengetahuan adalah proses yang memulai pengembangan semua cabang ilmu dari titik awal.
Dari pada “mengislamkan” disiplin-disiplin yang telah berkembang dalam peradaban Barat,
kaum Muslim lebih tepat untuk mengkonstruk paradigma-paradigma Islam, karena dengan itulah
tugas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan urgen masyarakat Muslim bisa terlaksana.
Pengembangan melalui strategi ini akan menghindari kontaminasi dari pemikiran Barat yang
memang memiliki paradigma dan semangat yang berbeda dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan. Sementara al-Attas memiliki alasan yang hampir sama dengan apa yang
dikemukakan oleh Sardar, namun dengan implementasi yang berbeda. Al-Attas berpendapat
bahwa islamisasi harus menyeluruh dari filosofi, paradigma hingga proses pembelajarannya yang
menyesuaikan dengan karakteristik keilmuan Islam. Proses pembelajarannya mengamini dan
melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh para intelektual Muslim pada masa lalu. Dominasi
intelektual Muslim pada periode keemasan Islam merefleksikan keunggulan sistem pendidikan
atau pembelajaran ilmu pengetahuan.

WESTERNISASI DAN ISLAMISASI ILMU

Westernisasi Ilmu Pengetahuan

Pada zaman modern, filsafat Imman-uel Kant sangat berpengaruh. Kant menjawab keraguan
terhadap ilmu penge-tahuan yang dimunculkan David Humme yang skeptik.Menurut Kant,
pengetahuan adalah mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin, karena tidak
bersandarkan ke-pada panca indera. Dalam pandangan Kant, di dalam metafisika, tidak terdapat
pernyataan-pernyataan sintetik – a priori sep-erti yang ada di dalam matematika, fisika dan ilmu-
ilmu yang berdasar kepada fak-ta empiris.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Mengingat bahwa Islamisasi Ilmu Pengetahuan, yang populer di tahun 80-an, sejatinya telah
dicanangkan kurang lebih dua dekade sebelumnya oleh Syed Mu-hammad Naquib al-Attas,
maka kajian mengenai substansi Islamisasi ilmu penge-tahuan kontemporer akan lebih jelas jika
merujuk kepada konsep-konsepnya. Selain itu, konsep-konsep yang diajukannya berdasarkan
pernahaman yang mendalam terhadap pandangan hidup dan peradaban manusia Barat dan
epistemologinya.

Syed Naquib Al-Attas


Syed Muhammad Naquib al-Attas menyadari bahwa “virus” yang terkandung dalam Ilmu
Pengetahuan Barat modern-sekuler merupakan tantangan yang paling besar bagi kaum Muslimin
saat ini. Dalam pandangannya, peradaban Barat modern telah membuat ilmu menjadi
problema-tis. Selain telah salah-memahami makna ilmu, peradaban Barat juga telah
menghi-langkan maksud dan tujuan ilmu.Sekalipun, peradaban Barat modern meng-hasilkan
juga ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut juga telah menyebab-kan kerusakan
dalam kehidupan manusia.Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, Westernisasi
ilmu adalah basil dan kebingungan dan skeptisisme. Westernisasi ilmu telah mengangkat
kera­guan dan dugaan ke tahap metodologi ‘il­miah.’ Bukan hanya itu, Westernisasi ilmu juga
telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keil-muan. Menurutnya
lagi, Westernisasi ilmu tidak dibangun di atas Wahyu dan keper-cayaan agama. Namun dibangun
di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spe-kulasi filosofis yang terkait dengan kehidu-pan
sekular yang memusatkan manusia se-bagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan
nilai-nilai etika dan mor-al, yang diatur oleb rasio manusia, terus menerus berubah.

Karena ilmu pengetahuan dalam bu-daya dan peradaban Barat itujustru meng-hasilkan krisis
ilmu pengetahuan yang berkepanjangan, Syed Muhammad Naquib al-Attas berpendapat ilmu
yang berkembang di Barat tak semestinya harus diterapkan di dunia Muslim. Ilmu bisa
di-jadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup
se-suatu kebudayaan.Sebabnya, ilmu bukan be-bas-nilai (value-free), tetapi sarat nilai (value
laden).

Memang antara Islam dengan filsafat dan sains modern, sebagaimana yang disadari oleh Syed
Muhammad Naquib al-Attas terdapat persamaan khususnya dalam hal-hal yang menyangkut
sumber dan metode ilmu, kesatu-an cara mengetahui secara nalar dan em-pins, kombinasi
realisme, idealisme dan pragmatisme sebagai fondasi kognitif bagi filsafat sains; proses dan
filsafat sains. Bagaimanapun, ia menegaskan terdapat juga sejumlah perbedaan mendasar dalam
pandangan hidup (divergent worldviews) men-genai Realitas akhir. Baginya, dalam Islam,
Wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas dan kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk
ciptaan dan Pencipta.

Pandangan-hidup dalam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality
and truth). Realitas dan kebe-naran dalam Islam bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik
dan keterlibatan manusja dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada di
dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Real
itas dan kebenaran dimaknaj berdasar-kan kajian metafisis terhadap dunia yang nampak dan
tidak nampak.
Jadi, pandangan-hidup Islam mencalc-up dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus
dihubungkan dengan cara yang sangat mendalain kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat
memiliki signifikansj yang terakhir dan final.

Pandangan hidup Islam tidak ber-dasarkan kepada metode dikotomis sep-erti obyektif dan
subyektif, historis dan normatjf. Namun, realitas dan kebenaran dipahamj dengan metode yang
menyatu-kan (tawbid). Pandanganhjdup Islam ber-sumber kepada wahyu yang didukung oleh
akal dan intuisi. Substansi agama seperti: nama, keimanan dan pengamalannya ibadahnya,
doktrinya serta sistem teolog-inya telah ada dalam wahyu dan dijelas-kan oleh Nabi.

Islam telah lengkap, sempurna dan otentik. Tidak memerlukan progresifitas, perkenibangan dan
perubahan dalam hal-hal yang sudah sangat jelas (al-ma‘lum min al-din bi al-darürah).
Pandanganhidup Islam terdiri dan berbagai konsep yang saling terkait seperti konsep Tuhan,
wahyu, pen-ciptaan, psikologi manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan kebaikan serta
kebahagiaan.Konsep-konsep tersebut yang menen-tukan bentuk perubahan, perkembangan dan
kemajuan Pandanganhjdup Islam dibangun atas konsep Tuhan yang unik, yang tidak ada pada
tradisi filsafat, budaya, peradaban dan agama lain.

Oleh sebab itu, Islam adalah agama sekaligus peradaban. Islam adalah aga-ma yang mengatasi
dan melintasi waktu karena sistem nilai yang dikandungnya adalah mutlak. Kebenaran nilai
Islam bu-kan hanya untuk masa dahulu, namun juga sekarang dan akan datang. Nilai-nilai yang
ada dalam Islam adalah sepanjang masa. Jadi, Islam memuliki pandanganhjdup mutlaknya
sendiri, merangkumj persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran, alam se-mesta dli. Islam
memuliki penafsjran on-tologis, kosmologis dan psikologus tersendini terhadap hakikat. Islam
meno-lak ide dekonseknasj nilai karena merelat-ifkan semua sistem akhlak.

memasukkan unsur-unsur Islam be-serta konsep.konsep kunci dalam setiap bidang dan ilmu
pengetahuan saat ini yang relevant.Jika kedua proses tersebut selesai di-lakukan, maka Islamisasi
akan membebas-kan manusia dan magik, mitologi, animis-me, tradisi budaya nasional yang
berten-tangan dengan Islam, dan kemudian dan kontrol sekular kepada akal dan
bahasan-ya.Islamisasi akan membebaskan akal manusia dan keraguan (sbakk), dugaan (zann)
dan argumentasi kosong (miro/) menuju keyakmnan akan kebenaran mefi-genai realitas spiritual,
intelligible dan ma-ten.42 Islamisasi akan mengeluarkan penal-siran-penafsiran ilmu
pengetahuan kon-temporer dan ideologi, makna dan ungkapan sekular.
KRIFIK TERHADAP ISLAMISASI ILMU

Menurut Faziur Rahman, ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan kare-na tidak ada yang salah di
dalam ilmu pengetahuan. Masalahnya hanya dalam menyalahgunakan,Bagi Faziur Rahman, ilmu
pengetahuan memiliki dua kualitas, seperti “senjata bermata dua” yang harus digunakan dengan
hati-hati dan bertang-gung-jawab sekaligus sangat penting menggunakannya secara benar ketika
rnemperolehnya..

Syed Muhammad Naquib al-Attas mene-gaskan ilmu pengetahuan dalam hal-hal yang yakin,
adalah final, tidak terbuka untuk direvisi oleh generasi kemudian, selain elaborasi dan aplikasi.
Penafsiran baru hanya benar terkait dengan aspek-aspek ilmiah al-Qur’an dan fenomena alam.

Kritik terhadap Is-lamisasi ilmu penge-tahuan juga diajukan Abdul Karim Sorush. Ia
menyimpulkan, Is-lamisasi ilmu penge-tahuan tidak logis atau tidak mungkin (the inipos-sibility
or illogicality of Is-lamization of knowledge). Alasannya, Realitas bu-kan Islami atau bukan pula
tidak Islami. Kebe-naran untuk hal tersebut bukan Islami atau bukan pula tidak Isla-mi. Oleh
sebab itu, Sains sebagai proposi-si yang benar, bukan Is-lami atau bukan pula tidak Islami.

Namun, pemahaman Bassam Tibi tentang Islamisasi sebagai pribumisasi yang terkait dengan
lokal tidaklah tepat. Islam-isasi bukanlah memisahkan antara lokal menentang universal ilmu
pengetahuan Barat. Pandangan Bassam Tibi terhadap Islamisasi ilmu muatannya lebih politis dan
sosiologis. Hanya karena ummat Islam berada di dalam dunia berkembang dan Barat adalah
dunia rnaju, maka gagasan Is-lamisasi ilmu merupakan gagasan lokal yang menentang gagasan
global. Padahal, munculnya Islamisasi ilmu pengetahuan disebabkan perbedaan pàndangan-alam
antara Islam dan agama atau budaya lain berbeda. Islamisasi bukan saja mengkri-tik budaya dan
peradaban global Barat. Ia juga mentransforinasi bentuk-bentuk lokal, etnik supaya sesuai
dengan pandan-gan-alam Islam. Islamisasi adalah menjadi-kan bentuk-bentuk budaya, adat,
tradisi dan lokalitas universal agar sesuai dengan agama Islam yang universal.

Sekalipun istilah Islamisasi adalah baru, namun konsep yang terkandung di dalam kata tersebut
bukanlah baru. Al­Qur’an, misalnya telah mengislamkan sejumlah kosa-kata Arab yang
digunakan pada saat itu. Al-Qur’än mengislamkan struktur-struktur konseptual, bidang-bidang
semantik dan kosa kata. Khususn-ya istilah-istilah dan konsep-konsep kun-ci, yang digunakan
untuk memproyeksi-kan hal-hal yang bukan dan pandangan hidup Islam.
Pada “zaman pertengahan,” Islamis­asi telah dilakukan khususnya oleh para teolog Muslim
seperti al-Ghazali, Fa-khruddin al-Razi, Sayfuddin al-Amidi dan lain-lain. Dengan pengetahuan
Islam yang mendalam, mereka menyaring filsafat Yu-nani kuno untuk disesuaikan dengan
pemikiran Islam. Sebagai hasilnya, ada hal-hal dan filsafat Yunani kuno yang diteri-ma dan ada
juga yang ditolak.Ringkasnya, gagasan Islamisasi ilmu kontemporer yang diformulasikan Syed
Muhammad Naquib al-Attas merupakan suatu “revolusi epistemologis” yang meru­pakan
merupakan jawaban terhadap krisis epistemologis yang melanda bukan hanya dunia Islam tapi
juga budaya dan peradaban Barat

PANDANGAN ISLAM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN

Pertama, periode tersebut ditandai banyak perkembangan baru dalam pemikiran Islam. Penyebab
utamanya adalah kontak dan interaksi yang intensif pada beberapa kasus, bahkan berupa
benturan fisik antara dunia Islam dan peradaban Barat. Gagasan seperti “kemoderenan” serta
modernisme, westernisasi atau pembaratan, dan sekularisme menjadi objek utama perhatian para
pemikir muslim. Demikian luasnya penyebaran gagasan baru itu, sehingga tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa pemikiran baru Islam lahir dari keinginan untuk menanggapi fenomena
tersebut..

Sejak abad ke-19, usaha untuk memberi tanggapan tersebut melahirkan sebuah diskursus
pemikiran antara Islam dan ilmu pengetahuan yang amat beragam. Tanggapan tersebut dapat
berarti usaha apologetis untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan di
Barat sebenarnya bersifat Islami. Dapat juga merupakan usaha mengakomodasi sebagian nilai
dan gagasan ilmu pengetahuan modern karena dianggap Islami, dengan menolak sebagian lain.
Tidak bisa dipungkiri, usaha Islamisasi berbagai cabang ilmu pengetahuan dan penciptaan
sebuah filsafat ilmu pengetahuan Islam, pada akhirnya adalah upaya untuk merekonstruksi
pandangan dunia serta epistemologi Islam Dinasti Usmani di Turki. Proses ini terutama
disebabkan oleh kemajuan teknologi militer Barat. Setelah pendudukan Napoleon, Muhammad
Ali memainkan peran penting dalam kampanye militer melawan Perancis. Ia diangkat oleh
penguasa Utsmani menjadi Pasya pada tahun 1805, dan memerintah Mesir sampai dengan tahun
1848. Percetakan yang pertama didirikan di Mesir awalnya ditentang para ulama karena salah
satu alatnya menggunakan kulit babi. Buku-buku ilmu pengetahuan dalam bahasa Arab
diterbitkan. Muhammad Ali mendirikan beberapa sekolah teknik dengan guru-guru asing. Ia
mengirim lebih dari 400 pelajar ke Eropa untuk mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan
dan Islamisasi Ilmui pengetahuan Setidaknya sejak 1970-an hingga sekitar awal 1990-an,
berkembang sebuah wacana baru tentang Islam dan ilmu pengetahuan, dengan munculnya
gagasan Islamic science (ilmu pengetahuan Islam) atau Islamization of knowledge (Islamisasi
ilmu). Terlepas dari siapa yang pertama menggunakan istilah ini, dalam kenyataannya cukup
beragam (kelompok) pemikir muslim yang memaknai istilah ini dengan berbeda-beda, bahkan
tidak jarang terdapat pertentangan pendapat. Karena yang lebih populer adalah istilah dalam
bahasa Inggris itu, ada beberapa hal penting dan menarik untuk dicatat dalam kaitanya dengan
penggunaan kata ilmu pengetahuan atau sains, Islamisasi, Pertama, perkembangan berbagai
istilah ini menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapkan ilmu pengetahuan modern
kepada perkembangan intelektual Islam. Seperti telah dipaparkan di atas, sebetulnya hal ini telah
dimulai sejak akhir abad ke-19. Namun, tidak efektifnya usaha mengejar ketertinggalan muslim
dari Barat di masa lalu, pada perkembanganya hal tersebut mengkerucut dan mengkristal
menjadi gerakan dengan orientasi baru pada beberapa kelompok.

Perkembangan teknologi sebagai buah dari perkembangan ilmu pengetahuan ini juga amat
memukau banyak orang, tidak terkecuali umat Islam. Sebagai akibat dari fenomena itu, sebagian
ilmuwan muslim hanya berusaha mengejar ketertinggalan umat Islam dengan mengambil alih
secara menyeluruh teknologi dan ilmu pengetahuan Barat modern. Namun, sebagian lain tidak
puas dengan sikap itu dan menuntut Islamisasi ilmu pengetahuan atau pengembangan ilmu
pengetahuan Islam. Para penggagas ilmu pengetahuan Islam atau Islamisasi memulai
argumennya dari premis bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai. Karena itulah nilai-nilai
sebuah agama dapat masuk dalam pembicaraan tentang ilmu pengetahuan.

Jelas bahwa ilmu pengetahuan Islam adalah sebuah istilah modern. Kita tak bisa menemukan
padanan istilah ini dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam masa yang disebut Zaman
Keemasan Islam. Bahkan, bisa jadi istilah ini digunakan pertama kali oleh kaum orientalis ketika
kajian-kajian orientalisme modern dimulai akhir abad yang lalu. Pada tahun 1920-an, misalnya,
sejarawan ilmu pengetahuan George Sarton dalam karya monumentalnya menggunakan istilah
ini untuk menyebut sebuah periode dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan ketika
dengan dukungan penguasa, para ilmuwan muslim (dan sebagian kecilnya adalah non-muslim)
menghasilkan karya-karya besar dalam bidang ilmu pengetahuan. Orientalis George Anawati
bahkan menyebutkan adanya upaya-upaya “Islamisasi” cabang-cabang ilmu yang diperoleh
terutama dari tradisi Yunani itu. Ia juga menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan alam adalah
bidang yang paling sedikit terkena Islamisasi dibandingkan dengan, misalnya, metafisika.

Jadi, di sini istilah Islami digunakan untuk menyebut dua hal sekaligus: yang pertama adalah
suatu periode sejarah, sebagaimana istilah modern, abad pertengahan, klasik atau Yunani
digunakan; yang kedua, suatu aktivitas yang disusupi nilai Islam. Kedua makna ini kerap muncul
dalam perbincangan kontemporer tentang ilmu pengetahuan modern dalam islam

PENUTUP
Dalam Islam, Ilmu merupakan salah satu perantara untuk memperkuat keimanan. Iman
hanya akan bertambah dan menguat, jika disertai ilmu pengetahuan. Seorang ilmuan besar,
Albert Enstein mengatakan bahwa “Science without Religion is blind, and Religion without
science is lame”, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.

Ajaran Islam tidak pernah melakukan dikotomi antar ilmu satu dengan yang lain. Karena dalam
pandangan islam, ilmu agama dan umum sama-sama berasal dari Allah. Islam juga
menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari setiap
ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan Al-qur’an merupakan sumber dan rujukan utama ajaran-
Nya memuat semua inti ilmu pengetahuan, baik yang menyangkut ilmu umum maupun ilmu
agama. Memahami setiap misi ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah memahami prinsip-
prinsip Al-quran. Kata “Islamisasi” dalam makalah ini dapat dipahami dengan beberapa catatan.
Pertama, unsur Islam dalam islamisasi tidak mesti dipahami secara ketat sebagai ajaran yang
harus ditemukan rujukannya secara harfiah dalam Al-qur’an dan hadits. Tetapi sebaiknya dilihat
dari segi spiritnya yang tidak boleh bertentangan dengan ajaran-ajaran fundamental islam.
Seperti kepercayaan kepada yang gaib, malaikat, Tuhan dan juga wahyu. Adapun rujukannya
disamping Al-quran dan hadits bisa saja berasal dari sumber yang bermacam-macam, seperti
Yunani, Persia, India, pada masa lalu bahkan Barat pada masa sekarang. Kedua, Islamisasi tidak
semata-mata berupa pembelaan sains dengan ayat Al-quran atau hadits yang dipandang cocok
dengan penemuan ilmiah, tetapi beroperasi pada level Epistemologi. Terakhir, Islamisasi
didasarkan pada pada asumsi bahwa ilmu tidak pernah sama sekali terbebas dari nilai. Dalam
menatap era globalisasi, ada beberapa model islamisasi pengetahuan yang bisa dikembangakan,
diantaranya: model purifikasi, model modernisasi islam, dan model neo-modernisme

DAFTAR PUSTAKA

Kartanegara, Mulyadhi, 2003, Pengantar Epistemologi Islam, Mizan Media Utama, Bandung.

Bahtiar, Amsal, 2005, Filsafat Ilmu, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Nata, Abuddin, dkk, 2003, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, UIN Jakarta Press, Jakarta.