Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan praktek korupsi dari tahun ke tahun semakin meningkat, baik dari
kuantitas atau jumlah kerugian keuangan negara maupun dari segi kualitas semakin
sistematis, canggih serta lingkupnya sudah meluas dalam seluruh aspek masyarakat.
Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana
tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan
berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi tidak lagi dapat
digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi suatu kejahatan luar
biasa (extraordinary crime). Karena metode konvensional yang selama ini digunakan
terbukti tidak bisa menyelesaikan persoalan korupsi yang ada di masyarakat maka
dalam penanganannya pun juga harus menggunakan cara-cara luar biasa (extra-
ordinary).

Sejarah pembentukan Tim Pemberantasan Korupsi sesungguhnya sudah dimulai sejak


tahun 1960 dengan munculnya Perppu tentang pengusutan, penuntutan dan
pemeriksaan tindak pidana korupsi. Perpu itu lalu dikukuhkan menjadi
UU No.24/1960. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melancarkan “Operasi
Budhi”, khususnya untuk mengusut karyawan-karyawan ABRI yang dinilai tidak
becus.
Pada akhir 1967 Presiden Soeharto membentuk Tim Pemberantasan Korupsi (TPK)
dengan Kepres No. 228/1967 tanggal 2 Desember 1967 dan dasar hukumnya masih
tetap UU 24/1960. Para anggota tim ini merangkap jabatan lain seperti Jaksa Agung,
Kapolri, Menteri Kehakiman, dan Panglima ABRI. Hasil kerja tim ad-hoc ini
kemudian berhasil menyeret 9 orang yang diindikasikan “koruptor”.

Presiden Soeharto juga membentuk Komisi Empat pada Januari 1970, untuk
memberikan penilaian obyektif” terhadap langkah yang telah diambil pemerintah, dan
memberikan “pertimbangan mengenai langkah yang lebih efektif untuk memberantas
korupsi”.

Pada era Megawati sebagai Presiden, berdasarkan UU Nomor 30 Tahun 2002


dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). Komisi superbody yang memiliki 5 tugas dan 29 wewenang yang
luar biasa. Meskipun seringkali menuai kritik dari berbagai kalangan namun apa yang
telah dilakukan oleh KPK sedikit banyak memberikan harapan bagi upaya penuntasan
beberapa kasus korupsi di Indonesia.

Tim pemberantasan korupsi yang terakhir dibentuk adalah Tim Koordinasi


Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) yang dibentuk Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 11
Tahun 2005 pada tanggal 2 Mei 2005. Ada dua tugas utama yang diemban tim,
Pertama, melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan sesuai dengan
ketentuan hukum acara yang berlaku terhadap kasus dan/atau indikasi tindak pidana
korupsi. Kedua, mencari dan menangkap pelaku yang diduga keras melakukan tindak

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 1


pidana serta menelusuri asetnya dalam rangka pengembalian keuangan secara
optimal.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Berdirinya Lembaga Penegak Hukum, Pemberantasan, dan Pencegahan


Korupsi?
2. Lembaga Yang Memiliki Peran Dalam Pencegahan Dan Penanggulangan
Korupsi?
3. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)?

C. TUJUAN
1. Berdirinya Lembaga Penegak Hukum, Pemberantasan, dan Pencegahan
Korupsi!
2. Lembaga Yang Memiliki Peran Dalam Pencegahan Dan Penanggulangan
Korupsi!
3. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)!

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 2


BAB II
PEMBAHASAN
A. Berdirinya Lembaga Penegak Hukum, Pemberantasan, dan Pencegahan
Korupsi
Ada sejumlah lembaga yang memiliki peran dalam pencegahan dan penang- gulangan
korupsi, antara lain: Kepolisian, Kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan
Pengadilan.

Gambar 6.5

Lembaga yang berperan dalam pencegahan dan penaggulangan korupsi

(Sumber: dokumen TrimKom)

B. Lembaga Yang Memiliki Peran Dalam Pencegahan Dan Penanggulangan


Korupsi
1. Kepolisian
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik
Indonesia disebutkan bahwa Kepolisian di samping berfungsi dalam
Harkamtibnas, perlindungan dan pengayoman, pelayanan masyarakat namun juga
bertugas untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindakan
pidana.

2. Kejaksaan
Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik
Indonesia, disebutkan bahwa Kejaksaan berwenang untuk melaku- kan penyidikan
terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang, termasuk di antaranya
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001.

3. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 3


KPK dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. Undang-
undang ini terbit dengan pertimbangan penegakan hukum untuk memberantas
tindak pidana korupsi yang dilakukan secara konvensional selama ini terbukti
mengalami berbagai hambatan. Saat ini korupsi telah menjadi kejahatan luar biasa
(extraordinary crime) sehingga harus ditangani secara luar biasa (extraordinary
measures). Persepsi publik terhadap kejaksaan dan kepolisian dan atau lembaga
pemerintah dipandang belum berfungsi secara efektif dan efisien dalam
penanganan kasus-kasus korupsi sehingga masyarakat telah kehilangan
kepercayaan (losing trust). Selain itu, korupsi terbukti telah merugikan keuangan
negara, perekonomian negara, dan menghambat pembangunan nasional. Untuk itu,
diperlukan metode penegakan hukum secara luar biasa melalui pembentukan suatu
badan khusus yang mempunyai kewenangan luas, serta bebas dari kekuasaan
manapun dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, yang pelaksanaannya
dilakukan secara optimal, intensif, efektif, profesional, serta berkesinambungan
(Santoso P., 2011)
a. Pasal 6 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 menyebutkan KPK mempunyai
tugas:

 Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak


pidana
korupsi
 Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak
pidana korupsi
 Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana
korupsi
 Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi;
 Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.

b. KPK menurut pasal 7 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 mem- punyai


kewenangan:
 Mengoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana
korupsi
 Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana
korupsi
 Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada
instansi yang terkait
 Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; dan
 Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi.

c. Pasal 8 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 menyebutkan KPK berwenang:


 Melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi yang
menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan
tindak pidana korupsi, dan instansi yang dalam melaksanakan pelayanan publik.
 Mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak pidana
korupsi yang sedang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan.

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 4


 Mengambil alih penyidikan atau penuntutan, kepolisian atau kejaksaan wajib
menyerahkan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan
dokumen lain yang diperlukan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari 29
kerja, terhitung sejak tanggal diterimanya permintaan komisi pemberantasan
korupsi.
 Membuat dan menandatangani berita acara penyerahan sehingga segala tugas dan
kewenangan kepolisian atau kejaksaan pada saat penyerahan tersebut beralih
kepada kpk.

d. Pasal 11 Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 menyatakan bahwa dalam


melaksanakan tugas KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan tindak pidana korupsi yang:

 Melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang
ada kaitannya
dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau
penyelenggara negara
 Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
 Menyangkut kerugian negara paling sedikit rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).

e. Pasal 12 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa dalam


melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana KPK
berwenang:
 Melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan
 Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang bepergian
ke luar negeri
 Meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang
keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa
 Memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir
rekening yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain
yang terkait
 Memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk memberhentikan
sementara tersangka dari jabatannya
 Meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada
instansi yang terkait
 Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan
perjanjian lainnya atau pencabutan sementara perizinan, lisensi serta konsesi yang
dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau terdakwa yang diduga berdasarkan
bukti awal yang cukup ada hubungannya dengan tindak pidana korupsi yang
sedang diperiksa
 Meminta bantuan interpol indonesia atau instansi penegak hukum negara lain
untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar
negeri
 Meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakukan
penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara tindak
pidana korupsi yang sedang ditangani.

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 5


C. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)
Pengadilan Tipikor merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan
peradilan umum dan berkedudukan di setiap ibu kota kabupaten/kota yang daerah
hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan. Khusus
untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta Pengadilan Tipikor berkedudukan di setiap kota
madya yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang
bersangkutan. Pengadilan Tipikor diatur dalam Undang-Undang Nomor 46 Tahun
2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Pengadilan Tipikor berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara:

 Tindak pidana korupsi;


 Tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah tindak pidana
korupsi; dan/atau
 Tindak pidana yang secara tegas dalam undang-undang lain ditentukan sebagai tindak
pidana korupsi.

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 6


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Korupsi di Indonesia sudah ‘membudaya’ sejak zaman dahulu yakni dimulai periode
pra-kemerdekaan, sesudah kemerdekaan, di era Orde Lama, Orde Baru, berlanjut
hingga era Reformasi.

Lembaga yang memiliki peran dalam pencegahan dan penang-gulangan korupsi,


antara lain: Kepolisian, Kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Pengadilan.

B. SARAN
Dengan selesainya makalah yang berjudul Berdirinya Lembaga Penegak Hukum,
Pemberantasan, dan Pencegahan Korupsi, kami menyadari bahwa penulisan makalah
ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kepada para pembaca
kiranya berkenan memberikan kritik dan saran guna memperbaiki penulisan makalah
ini agar menjadi lebih baik. Terima Kasih

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 7


DAFTAR PUSTAKA

Batennie, Faisal. 2012. “Pendidikan Anti Korupsi Untuk Perguruan Tinggi”. http://stkip-
ktb.ac.id/content/pendidikan-anti-korupsi-untuk-perguruan-tinggi diakses 2 April 2014.
Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2014 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi Tahun 2014.
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi. 2006. Memahami untuk Membasmi: Buku Saku untuk

Memahami Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi.

Komisi Pemberantasan Korupsi. 2013. Semua Bisa Beraksi. Jakarta: Komisi


Pemberantasan Korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi. 2013. Strategi Komunikasi Pendidikan dan Budaya Anti
Korupsi. Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi.

Diploma IV Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Gorontalo Page 8