Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH OKSIDATOR PADA PENGELANTAGAN (BLEACHING)

METODE PERENDAMAN PADA KAIN KAPAS


LAPORAN
(diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Teknologi
Persiapan Penyempurnaan)

Oleh :
Lina Melinda NPM 1702 wqw wq0049
M. Rifaldy F NPM 17020054
Nanda Mutiara S NPM 17020062
Putra Nando S NPM 17020068

Dosen : Ikhwanul Muslim, S.ST., MT.


Asisten Dosen : - Eka O., S.ST.,MT.
- Yayu E. Y., S.S.T.

PRODI KIMIA TEKSTIL


POLITEKNIK STTT BANDUNG
2018
1. Maksud dan Tujuan
1.1 Maksud
Melakukan proses Pengelantangan (Bleaching) metode perendaman pada kain
kapas.

1.2 Tujuan
Menentukan titik optimum oksidator yang berpengaruh pada proses bleaching
kain kapas.

2. Teori Dasar
2.1 Kapas
Serat kapas merupakan serat alam yang berasal dari serat tumbuh-tumbuhan
yang tergolong kedalam serat selulosa alam yang diambil dari buahnya. Serat
kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk dalam jenis Gossypium.
Species yang berkembang menjadi tanaman industri kapas ialah Gossypium
hirstum, yang kemudian dikenal sebagai kapas Upland atau kapas Amerika. Serat
kapas merupakan sumber bahan baku utama pembuat kain katun termasuk kain
rajut bahan pembuat kaos murah.
Tabel Komposisi Serat Kapas :
Susunan Persen terhadap berat kering
Selulosa 94
Pektat 1,2
Protein 1,3
Lilin 0,6
Debu 1,2
Pigmen dan zat-zat lain 1,7

- Selulosa
Analisa menunjukan bahwa kapas tersusun atas selulosa. Selulosa merupakan
polimer Linear (polimer tidak bercabang) yang tersusun dari kondensiasi
(perubahan dari bentuk gas ke padat) molekul-molekul glukosa. Glukosa
C6H12O6, Selulosa (C6H10O5). Dinding skunder terdiri dari selulosa murni, dinding
primer juga mengandung selulosa.

- Pektat
Pektin adalah zat penting selain selulosa yang berfungsi menyusun serat.
Pektin adalah karbohidrat dengan BM (berat molekul) dan struktur yang hampir
sama dengan selulosa. Perbedaannya adalah, jika selulosa pecah menjadi glukosa,
sedangkan pektin terurai menjadi galaktosa, pentosa, metil alkohol.
Dengan pemasakan dalam larutan Natrium Hidroksiada (NaOH) pektin
hampir semuanya dapat hilang sedangkan selulosa tidak. Hilangnya pektin tidak
mempengaruhi kekuatan serat dan kerusakan serat.

- Protein
Protein yang ada dalam kapas adalah sisa protoplasma yang tertinggal dalam
lumen setelah selnya mati ketika buah membuka. Sifat dan komposisi protein
dalam kapas jarang diketahui.

- Lilin
Lilin tersebar diseluruh dinding primer sehingga merupakan lapisan
pelindung yang tahan air, saat serat kapas mentah. Lilin dalam serat akan
berfungsi juga sebagai pelumas saat serat dipintal.

- Debu
Berasal dari daun, kulit buah dan kotoran-kotoran yang menempel pada serat.
Proses pemasakan dan pengelantangan akan mengurangi kadar debu dalam serat.

Sifat kimia kapas :


1) Terhidrolisis dalam asam kuat sehingga kekuatan turun
2) Oksidator berlebih menghasilkan oksiselulosa
3) Menggembung dalam larutan alkali (dimanfaatkan pada proses merserasi)
Sifat fisika kapas :
1) Warna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit krem
2) 2 – 3 gram/denir, kekuatan akan meningkat 10% ketika basah
3) Mulur berkisar antara 4 – 13% bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-
rata 7%
4) MR 7 – 8,5%
5) Mudah kusut, untuk mengatasi kekusutan dapat dicampur dengan serat
poliester.

2.2 Pengelantangan
Pengelantangan dikerjakan terhadap bahan tekstil bertujuan menghilangkan
warna alami yang disebabkan oleh adanya pigmen-pigmen alam atau zat-zat
lain, sehingga diperoleh bahan yang putih. Pigmen-pigmen alam pada bahan
tekstil umumnya terdapat pada bahan dariserat-serat alam baik serat tumbuh-
tumbuhan maupun serat binatang yang tertentu selama masa pertumbuhan.
Sedangkan bahan tekstil dari serat sintetik tidak perlu dikelantang, karena
pada proses pembuatan seratnya sudah mengalami pemurnian dan pengelantangan,
tetapi untuk bahan tekstil yang terbuat dari campuran serat sintetik dan serat
alam diperlukan proses pengelantangan terutama prosesnya ditujukan
terhadap serat alamnya. Untuk menghilangkan pigmen-pigmen alam tersebut
hanya dapat dilakukan dalam proses pengelantangan dengan menggunakan zat
pengelantang yang bersifat oksidator atau yang bersifat reduktor.
Pengelantangan dapat dilakukan sampai memperoleh bahan yang putih sekali,
misalnya untuk bahan-bahan yang akan dijual sebagai benang putih atau kain
putih, tetapi dapat pula dilakukan hanya sampai setengah putih khususnya
untuk bahan-bahan yang akan dicelup atau berdasarkan penggunaan akhirnya.
2.2.1 Mekanisme Pengelantangan
Proses pengelantangan ini dilakukan dengan merendam bahan dengan suatu
larutan yang mengandung zat pengelantang yang bersifat oksidator maupun zat
pengelantang yang bersifat reduktor. Senyawa-senyawa organik dalam bahan
yang mempunyai ikatan rangkap dioksidasi atau direduksi menjadi ikatan tunggal
atau menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga bahan tekstil tersebut
menjadi putih.

2.2.2 Zat Pengelantanagan

Zat pengelantang yang bersifat oksidator ada dua golongan, yaitu yang
mengandung khlor dan yang tidak mengandung khlor.

Zat pengelantang oksidator yang mengandung khlor, di antaranya :

- Kaporit (CaOCl2)
- Natrium hipokhlorit (NaOCl)
- Natrium khlorit (NaOClO2)

Zat pengelantang oksidator yang tidak mengandung khlor, di antaranya :


- Hidrogenperoksida (H2O2)
- Natrium peroksida (Na2O2)
- Natrium perborat (NaBO 3)
- Kaliumbikhromat (K2Cr2O7)
- Kaliumpermanganat (KMnO2)

Zat Pengelantang yang bersifat reduktor, antara lain :

- Sulfur dioksida (SO2)


- Natrium sulfit (Na2SO3)
- Natrium bisulfit (NaHSO3)
- Natrium hidrosulfit (Na2S2O4)
2.2.3 Metode Pengelantangan

Metoda yang digunakan untuk proses pengelantangan dapat dilakukan


secara baik maupun kontinyu. Pengelantangan pada kondisi suhu kamar dapat
juga dilakukan dengan menggunakan bakatau J-BOX tanpa pemanasan. Pada
sistem kontinyu (dibenam peras) dengan larutan pengelantang dan didiamkan
selama waktu tertentu bergantung dari khlor aktif yang digunakan.

3. Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat 3.1.2 Bahan
1) Beker gelas 1) Kain kapas
2) Kasa + kaki tiga + bunsen 2) NaOH
3) Neraca 3) Stabilizer
4) Batang pengaduk 4) Pembasah
5) Jas lab + Masker
3.2 Diagram Alir

Timbang kain & zat sesuai


resep

Buat larutan & masukkan


kedalam beker gelas

Proses pengelantangan

Proses pengasaman

Proses anti khlor

Kain di cucipanas dan dingin

Pengeringan

Evaluasi Kain

3.3 Resep Pemasakan


1) NaOH = 5 g/L
2) Oksidator = 20 ml/L, 25 ml/L, 30 ml/L
3) Pembasah = 1 ml/L
4) Stabilizer = 1 ml/L
5) Vlot = 1 : 30
6) Suhu Larutan = Suhu Kamar
7) Waktu = 45 menit
3.4 Fungsi Zat
1) NaOH = zat yang akan menyabunkan lemak, malam, minyak
menjadi sabun yang larut dalam air dan
menggelembungkan serat sehingga mudah menyerap
larutan pemasakan.
2) Zat Pembasah = zat yang membantu proses penyerapan larutan secara
merata dan cepat pada bahan.

3.5 Skema Proses Cara Perendaman


Oksidator, stabilizer dan zat pembasah
NaOH
Suhu kamar

1. Perhitungan
5’ Contoh Uji 1 dengan Waktu 15 menit
4.1
- Berat Bahan = gram

Sabun (Teepol)

60-70oC

15’
4. Perhitungan Resep
4.1 Contoh Uji 1 dengan Konsentrasi 20 ml/L Oksidator
- Berat Bahan = 5,54 gram
- Vlot = 1 : 30 = 5,54 : (30 x 5,54)
= 5,54 : 166,2
- Larutan = 166,2 mL
20 𝑚𝐿
- H2O2 = x 166,2 mL
1000 𝑚𝐿
= 3,324 mL ≈ 3,3 mL
5𝑔
- NaOH = x 166,2 mL
1000 𝑚𝐿
= 0,831 gram
1 𝑚𝐿
- Pembasah = x 166,2 mL
1000 𝑚𝐿
= 0,1662 mL ≈ 0,2 mL
1 𝑚𝐿
- Stabilizer = x 166,2 mL
1000 𝑚𝐿
= 0,1662 mL ≈ 0,2 mL
- Pelarut = 1662,2 – (3,3 + 0,2 + 0,2)
= 166,2 – 3,7
= 162,5 mL

4.2 Contoh Uji 2 dengan konsentrasi 25 ml/L Oksidator


- Berat Bahan = gram
- Vlot = 1 : 30 =: (30 x)
= :
- Larutan = mL
20 𝑚𝐿
- H2O2 = x mL
1000 𝑚𝐿
= mL
5𝑔
- NaOH = x mL
1000 𝑚𝐿
= gram
1 𝑚𝐿
- Pembasah = x mL
1000 𝑚𝐿
= mL
1 𝑚𝐿
- Stabilizer = x mL
1000 𝑚𝐿
= mL
- Pelarut = – (+ +)
=-
= mL

4.3 Contoh Uji 3 dengan konsentrasi 30 ml/L Oksidator


- Berat Bahan = gram
- Vlot = 1 : 30 =: (30 x)
= :
- Larutan = mL
20 𝑚𝐿
- H2O2 = x mL
1000 𝑚𝐿
= mL
5𝑔
- NaOH = x mL
1000 𝑚𝐿
= gram
1 𝑚𝐿
- Pembasah = x mL
1000 𝑚𝐿
= mL
1 𝑚𝐿
- Stabilizer = x mL
1000 𝑚𝐿
= mL
- Pelarut = – (+ +)
=-
= mL

5. Penyabunan
- Berat Bahan Total = 5,54 + 5,52 + 5,56
= 16,62 gram
- Vlot = 1: 30
= 16,62 : (30 x 16,62)
= 16,62 : 498,6
- Larutan = 498,6 mL
1 𝑚𝐿
- Sabun = x 498,6 mL
1000 𝑚𝐿
= 0,4986 mL ≈ 0,5 mL
- Pelarut = 498,6 – 0,5
= 498,1 mL
6. Pembahasan
6.1 Hasil Evaluasi
No Sebelum Bleaching Sesudah Bleaching
Kain CU Rangking Kain CU Rangking
1 3 3

2 2 2

3 1 1
6.2 Grafik Penilaian

Grafik Hasil Bleaching variasi Oksidator


3.5
3
2.5
Rangking

2
1.5
1
0.5
0
0 5 10 15 20 25 30 35
Variasi Oksidator (mL/L)

Dapat dilihat pada grafik bahwa semakin banyak penambahan oksidator pada
kain uji, maka hasil bleachingnya pun semakin terlihat putih.
Hal ini terjadi karena senyawa-senyawa organik dalam bahan yang
mempunyai ikatan rangkap dioksidasi oleh H2O2 menjadi ikatan tunggal atau
menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga bahan (kapas) tersebut menjadi
putih. Semakin banyak penambahan oksidator maka akan menjadikan bahan
semakain putih.

7. Kesimpulan
Dari hasil praktikum dan data percobaan maka didapat titik optimum
penambahan oksidator pada proses bleaching yaitu dengan konsentrasi 30 mL/L.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Proses Pemasakan (Scouring). Tersedia : http://textilereference.


blogspot.com/2012/11/proses-pemasakan-scouring-process.html [Daring].
(27 September 2018).