Anda di halaman 1dari 18

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini berjudul pengaruh komposisi ampas tebu dan ranting kayu terhadap

karakterisasi bio-oil hasil pirolisis. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan proporsi

perbandingan dari ampas tebu dan limbah ranting kayu rambutan pada suhu dan komposisi bahan

yang optimum, yang dapat menghasilkan energy alternatif (bio-oil) yang dapat di pakai sebagai

bahan bakar alternatif. Dalam pembahasan ini akan membahas tentang hasil rendemen dari bahan

yang digunakan, nilai densitas, viskositas, pH, kadar asam asetat dan nilai kalor.

4.1 Rendemen

Rendemen merupakan perbandingan jumlah antara berat bahan hasil pirolisis dengan berat

total bahan sebelum melakukan pirolisis. Rendemen mengunakan satuan persen (%). Dengan

adanya hasil rendemen dapat diketahui hasil bio-oil yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai

rendemen bahan hasil pirolisis, maka semakin banyak bio-oil yang dihasilkan. Dalam penelitian

ini hasil rendemen didapatkan dari hasil pirolisis campuran ampas tebu (bagasse) dan ranting

pohon rambutan dengan variabel heating rate dan waktu tinggal yang berbeda beda yaitu pada

suhu 450˚C dan 500˚C. serta dengan komposisi bahan yang berbeda, yakni perbandingan antara

tebu dan ranting berturut turut sebesar 1:1, 1:3, dan 3:1.

Tabel 4.1.1 Rendemen produk Pirolisis

bahan Suhu 1:1 1:3 3:1

450 54.456 45.170 46.261


arang
500 49.744 43.475 40.917
450 22.105 28.427 21.735
Gas
500 25.165 26.361 29.133

450 23.439 26.403 32.004


oil+tar
500 25.091 30.164 29.951

Dari tabel diatas hasil rendemen produk oil+tar yang dihasilkan rata – rata sebesar

27,282% untuk suhu 450˚C, dan 28,102 % untuk suhu 500 ˚C. hasil tersebut memperlihatkan

rendemen produk oil+tar yang menghasilkan paling besar, yaitu pada suhu 500 ˚C dengan

komposisi perbandingan antara tebu dan ranting sebesar 1:3, dan yang menghasilkan paling kecil

pada suhu 450 ˚C dengan perbandingan komposisi sebesar 1:1. Rendemen arang bernilai rata-rata

48,629 % untuk suhu 450˚C, dan 44,712% untuk suhu 500 ˚C. hasil rendemen terbesar pada arang

berasal dari sampel dengan suhu 450 ˚C, dengan perbandingan komposisi 1:1. Hasil terkecil pada

sampel dengan suhu 500˚C dengan komposisi perbandingan 1:3. Rendemen gas rata – rata

24,089% untuk suhu 450˚C, dan 26,886% untuk suhu 500˚C. hasil rendemen terbesar pada gas

diperoleh pada sampel dengan suhu 500 ˚C dengan komposisi perbandingan bahan sebesar 3:1,

dan hasil rendeman terkecil pada gas diperoleh dari sampel dengan suhu 450 ˚C dengan komposisi

perbandingan bahan sebesar 3:1


grafik hubungan antara komposisi bahan dengan
yield pada suhu 450
60.000
50.000
40.000
yield

30.000
20.000
10.000
0.000
arang gas oil+tar
bahan

1:3 1:1 3:1

Grafik 4.1.1 grafik hubungan antara komposisi bahan dengan yield pada suhu 450˚C

Pada gambar grafik 4.1.1 menunjukkan perbedaan hasil rendemen (yield) yang dihasilkan

pada suhu 450˚C. Hasil rendemen pada arang paling besar dihasilkan pada komposisi bahan tebu

dan ranting rambutan, dengan perbandingan 1:1 dengan nilai 54,456%, dan hasil rendemen terkecil

pada arang dihasilkan pada komposisi bahan 1:3 dengan nilai 45,170%. Hal ini disebabkan dalam

proses pirolisis terjadi proses devolatilisasi. Devolatilisasi merupakan proses pengeluaran volatil

dari biomassa menghasilkan unsur-unsur C, H, O yang bernama fixed carbon. Fixed carbon dari

biomassa bereaksi bersama udara media gasifikasi membentuk syngas. Fixed carbon sendiri

merupakan sautu senyawa yang memiliki kecenderungan menjadi arang. Apabila dilihat dari

proximate dan ultimate, kandungan yang terdapat pada ampas tebu dan ranting rambutan yakni C,

H, dan O. memiliki nilai yang hampir serupa dan keduanya cukup besar. Dimana total kandungan

fixed carbon pada ampas tebu sebesar 97,1% dan ranting kayu sebesar 99,2%, sehingga keduanya

akan menghasilkan nilai arang yang cukup besar.


Selanjutnya hasil rendemen pada gas dengan suhu 450˚C, hasil yang terbesar dihasilkan

pada komposisi perbandingan bahan antara tebu dan ranting rambutan, yakni 1:3 sebesar 28,427%.

Sedangkan hasil yang terkecil didapatkan pada perbandingan komposisi 3:1 sebesar 21,735%. Hal

ini terjadi karena apabila dilihat dari karakteristik bahan, berat serbuk kayu lebih besar

dibandingkan dengan berat ampas tebu. Pada proses pirolisis apabila bahan semakin kecil, maka

pembakaran tidak sempurna karena serbuk akan lebih banyak yang menggumpal. Akibatnya,

bahan baku yang masuk ke dalam reaktor tidak akan langsung terbakar, dan gas serta asap yang

mengandung uap air sulit keluar. Hal ini diduga pada serbuk yang lebih halus, asap yang dihasilkan

akan kontak dengan bahan baku yang masuk berikutnya. Hal ini menyebabkan serbuk terionisasi

sehingga bermuatan negatif (-) dan serbuk dapat menempel pada dinding atas reactor yang

bermuatan positif (+), karena adanya listrik pemanas di dinding reaktor. Banyaknya serbuk halus

yang menempel dapat menyebabkan screw feeder tersumbat. Hal ini dibuktikan dengan adanya

asap yang keluar melalui screw feeder. (Wibowo, 2015)

Pada oil+tar dengan suhu yang sama, hasil rendemen tertinggi diperoleh pada komposisi

perbandingan tebu dan ranting rambutan yakni 3:1 sebesar 32,004%. Sedangkan hasil yang terkecil

diperoleh pada perbandingan komposisi sebesar 1:1 sebesar 23.439%. Hal ini terjadi disebabkan

kandungan logam pada ampas tebu lebih rendah dibandingan kandungan logam pada ranting

rambutan. kandungan logam sangat berpengaruh pada nilai bio-oil yang dihasilkan. Karena apabila

suatu bahan mengandung logam yang banyak, maka akan mengakibatkan produk yang bersifat

non-condesable. Dimana pada saat proses perengkahan lebih banyak menghasilkan fraksi-fraksi

hidrokarbon ringan yang tidak dapat dikondensasi. Semakin besarnya kadar logam yang digunakan

memungkinkan semakin banyaknya fraksi-fraksi hidrokarbon rantai pendek yang terbentuk dan
tidak dapat dikondensasikan, sehingga yield bio-oil yang dihasilkan akan semakin lebih kecil.

(Sunarno, etal. 2012).

grafik hubungan antara komposisi bahan dengan yield


pada suhu 500
60.000
50.000
40.000
yield

30.000
20.000
10.000
0.000
arang gas oil+tar
bahan

1:3 1:1 3:1

Grafik 4.1.2 grafik hubungan antara komposisi bahan dengan yield pada suhu 500˚C

Pada gambar grafik 4.1.2 menunjukkan perbedaan hasil rendemen (yield) yang dihasilkan

pada suhu 500˚C. Hasil rendemen pada arang paling besar dihasilkan pada komposisi bahan tebu

dan ranting rambutan, dengan perbandingan 1:1 dengan nilai 49,744%, dan hasil rendemen terkecil

pada arang dihasilkan pada komposisi bahan 1:3 dengan nilai 40,917%. Hal ini terjadi karena

alasan yang sama dengan kondisi pada saat suhu 450 ˚C, yakni proses devolatilisasi yang terjadi

pada proses pirolisis. Devolatilisasi merupakan proses pengeluaran volatil dari biomassa

menghasilkan unsur-unsur C, H, O yang bernama fixed carbon. Fixed carbon dari biomassa

bereaksi bersama udara media gasifikasi membentuk syngas, dan fixed carbon ranting lebih besar

dari pada bagasse.

Selanjutnya hasil rendemen pada gas dengan suhu 500˚C, hasil yang terbesar dihasilkan

pada komposisi perbandingan bahan antara tebu dan ranting rambutan, yakni 1:3 sebesar 29,113%.

Sedangkan hasil yang terkecil didapatkan pada perbandingan komposisi 1:1 sebesar 25,165%. Hal
ini terjadi dikarenakan alasan yang sama pada suhu 450˚C, yakni perbedaan karakteristik bahan

yang menjadi penyebabnya. Karena pada pirolisis, apabila bahan semakin kecil, maka pembakaran

akan tidak sempurna karena akan lebih banyak serbuk yang menggumpal. Akibatnya, bahan baku

yang masuk kedalam reaktor tidak langsung terbakar, dan gas serta asap yang mengandung uap

air akan sulit untuk keluar.

Pada oil+tar dengan suhu yang sama, hasil rendemen tertinggi diperoleh pada komposisi

perbandingan tebu dan ranting rambutan yakni 3:1 sebesar 30,164%. Sedangkan hasil yang terkecil

diperoleh pada perbandingan komposisi sebesar 1:1 sebesar 25.091%. Hal ini terjadi dikarenakan

alasan yang sama seperti pada suhu pirolisis 450 ˚C, yakni perbedaan kandungan logam yang

terdapat ampas tebu dengan ranting pohon. Ranting pohon memiliki kandungan logam lebih tinggi

dibandingkan kandungan logam yang terdapat pada ampas tebu. Semakin banyak kandungan

logam, maka akan mengakibatkan produk yang bersifat non-condensable. Hal ini dikarenakan

semakin besarnya kadar logam yang digunakan memungkinkan semakin banyaknya fraksi-fraksi

hidrokarbon rantai pendek yang terbentuk dan tidak dapat dikondensasikan, sehingga yield bio-oil

yang dihasilkan akan semakin lebih kecil.


Hubungan antara kedua grafik pada suhu 450˚C dan 500˚C

Arang yang dihasilkan dari kedua grafik diatas cukup berbeda, yang mana pada suhu 450

˚C memiliki nilai yield pada arang lebih tinggi dibandingkan dengan suhu 500˚C. Hal ini terjadi

dikarenakan semakin tinggi suhu, maka akan semakin berkurang kadar arang yang dihasilkan. Ini

terjadi disebabkan karena proses dekomposisi yang terus berlangsung pada suhu yang lebih tinggi,

dan juga apabila dilakukan proses pirolisis pada suhu yang lebih tinggi, rantai karbon akan lebih

banyak yang terputus. Hal ini mengakibatkan nilai arang yang dihasilkan akan lebih sedikit

(Wibowo, 2013)

Produk pirolisis ini diperoleh dari reaksi dekomposisi termal senyawa-senyawa yang

terkandung di dalam bahan. Dimana bila laju dekomposisi berjalan cepat maka gas yang dihasilkan

dari proses pirolisis akan semakin banyak, gas dari proses pirolisis selanjutnya didinginkan

sehingga menghasilkan sebuah cairan dan cairan tersebut dimaksud bio-oil. Dari grafik diatas

dapat dilihat antar keduanya bahwa gas yang dihasilkan pada suhu 500 ˚C lebih tinggi daripada

gas yang dihasilkan apda suhu 450˚C, ini sesuai dengan teori yang ada. Karena pada dasarnya

produk yang dihasilkan tergantung pada suhu proses dan bahan baku yang digunakan. Semakin

tinggi suhu untuk proses pirolisis cepat akan menghasilkan gas yang semakin meningkat, ini

berhubungan dengan termodinamika reaksi [Hampshire, 2004].


Dalam kondisi suhu operasi proses pirolisis, perbandingan komposisi bahan 3:1 diperoleh

nilai gas yang lebih tinggi pada suhu 500 ˚C dibandingkan dengan nilai gas pada suhu 450 ˚C. Hal

ini berbanding terbalik pada nilai bio-oil yang dihasilkan. Pada suhu operasi 450 ˚C, diperoleh

nilai bio-oil yang lebih tinggi dibandingkan pada suhu operasi 500 ˚C. Hal ini terjadi karena proses

dekomposisi senyawa kimia dalam bahan lebih sempurna ketika suhu operasi 450 ˚C dibandingkan

dengan suhu 500 ˚C (Haram, 2018)

4.2. Densitas

Densitas atau Massa jenis adalah suatu besaran kerapatan massa benda yang skalar

satuannya dinyatakan dalam berat benda per satuan volume benda tersebut. Besaran densitas dalam

SI adalah kg/m3 . Besaran massa jenis dapat membantu menerangkan mengapa benda yang

berukuran sama memiliki berat yang berbeda, bahwa densitas gas bervariasi tergantung pada

tekanan, tetapi densitas cairan tidak demikian; maka dapat kita simpulkan bahwa gas dapat

dimampatkan sedangkan cairan tidak dapat dimampatkan


grafik hubungan densitas berdasarkan komposisi
bahan dan suhu
1.065
1.060
1.055
1.050
densitas

1.045
450
1.040
500
1.035
1.030
1.025
1:3 1:1 3:1
komposisi

Grafik 4.2. Grafik hubungan densitas berdasarkan komposisi bahan dan suhu

Grafik diatas menunjukan hasil dari analisis pengujian densitas dari ampas tebu (bagasse)

dan ranting pohon rambutan. Hasil analisis yang diperoleh pada suhu 450˚C dengan komposisi

1:3, 1:1, dan 3:1 berturut-turut sebesar 1,061 gr/ml, 1,053 gr/ml, dan 1,052 gr/ml, dan Pada suhu

500˚C dengan komposisi 1:3, 1:1, dan 3:1 berturut-turut sebesar 1,044 gr/ml, 1,041gr/ml, dan

1,040 gr/ml.

Perbedaan hasil densitas pada setiap sampel disebabkan oleh perbandingan komposisi

bahan pirolisis dan faktor suhu yang digunakan serta terdapat banyak tar dan kandungan asam kuat

yang didapat pada saat pirolisis.

Apabila dilihat dari grafik diatas, nilai densitas tertinggi pada suhu 450˚C dicapai dengan

perbandingan komposisi bagasse dan ranting kayu 1:3 dengan nilai densitas sebesar 1.061 gr/ml,

dan nilai paling rendah dicapai dengan perbandingan bagasse dan ranting rambutan sebesar 3:1

dengan nilai densitas sebesar 1,052 gr/ml.


Selanjutnya, pada suhu 500 ˚C nilai densitas paling tinggi diperoleh pada perbandingan

komposisi bagasse dan ranting kayu 1:3 dengan nilai sebesar 1,044 gr/ml, dan nilai paling rendah

dicapai oleh perbandingan komposisi bagasse dan ranting kayu 3:1 dengan nilai sebesar 1,040

gr/ml.

Adapun perbedaan nilai densitas bio-oil dipengaruhi oleh kandungan air yang terkandung

di dalam bio-oil. Semakin tinggi kandungan air didalam bio-oil, maka akan semakin kecil nilai

densitas yang didapatkan, begitu pula sebaliknya. Dengan densitas yang lebih kecil, penggunaan

bio-oil sebagai bahan bakar akan lebih menguntungkan, karena lebih ringan. Berdasarkan data

Proximate dan Ultimate, kandungan air dalam bagasse sebesar 49%, sedangkan kandungan air

dalam ranting kayu rambutan sebesar 28%. (Arizanova, 2012)

Kedua grafik diatas menunjukkan perbedaan hasil yang cukup signifikan antara kedua

suhu, yakni 450˚C dan 500˚C. Nilai densitas yang didapatkan cenderung lebih optimum pada suhu

450˚C dibandingkan nilai densitas yang didapatkan pada suhu 500˚C. hal ini terjadi disebabkan

Penurunan suhu menyebabkan semakin rapatnya molekul-molekul air, sehingga massa jenis pun

meningkat.
4.3. Viskositas

Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan tekanan

maupun tekanan. Viskositas menjelaskan ketahanan internal fluida untuk mengalir dan mungkin

dapat dipikirkan sebagai pengukuran pergeseran fluida.

Grafik hubungan viskositas berdasarkan komposis


berdasarkan komposisi bahan dan suhu
2.700
2.600
2.500
viskositas

2.400
2.300 450
2.200 500

2.100
2.000
1:3 1:1 3:1
komposisi

Gambar 4.3. Viskositas Bio-Oil Campuran Ampas Tebu dan Ranting Pohon Rambutan

Dari grafik batang viskositas Bio-Oil diatas, kedua suhu memberikan hasil analisis

viskositas yang didapatkan memiliki nilai yang cenderung menurun. Kandungan air yang cukup

banyak di dalam bio-oil telah menyebabkan bilangan viskositas menjadi lebih rendah. Pada

perbandingan komposisi 1:3, bagasse memiliki komposisi lebih sedikit dibandingkan ranting kayu

rambutan. Hal ini menyebabkan presentase nilai viskositas pada perbandingan 1:3 lebih besar dari

pada yang lainya pada kedua suhu 450 ˚C dan 500 ˚C. Hal ini dikarenakan kandungan air dari

ranting kayu 28% sedangkan baggasse memiliki kandungan air sebesar 46-52%. (Joko

Sulistyo,2007)
Dapat dilihat pada grafik diatas, nilai viskositas paling besar dihasilkan pada suhu pirolisis

500 ˚C dibandingkan dengan suhu pirolisis 450 ˚C. Ini disebabkan apabila proses pirolisis

dilakukan dalam kondisi suhu lebih tinggi, maka kandungan air akan semakin berkurang, dan nilai

viskositas akan naik. Dengan viskositas yang lebih rendah, maka akan lebih memudahkan proses

pemindahan bio-oil dari suatu tempat ke tempat yang lain.

4.4. Kadar Asam Asetat

Sebagian produk hasil pirolisis, bio-oil yang dihasilkan bersifat asam. Hal ini dikarenakan

bio-oil mengandung senyawa asam asetat. Kandungan senyawa yang umum dihasilkan dari proses

pirolisis yang bersifat tidak mudah terbakar adalah asam asetat. Senyawa ini terbentuk akibat

proses oksidasi didalam sistem pirolisis.

grafik hubungan NaOH berdasarkan komposisi


bahan baku dan suhu
10.000
9.000
8.000
7.000
kadar NaOH

6.000
5.000
4.000 450
3.000 500
2.000
1.000
0.000
1:3 1:1 3:1
komposisi

Gambar 4.4. Kadar Asam Asetat Bio-Oil Ampas Tebu

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kadar asam asetat bio-oil

ampas tebu dan ranting pohon rambutan dilihat dari jumlah NaOH yang dibutuhkan saat proses

titrasi. Karena pada dasarnya, semakin tinggi NaOH maka cairan akan semakin asam. Kadar asam
asetat tertinggi diperoleh pada suhu 450˚C dengan perbandingan komposisi 3:1 yaitu 8,9 ml

NaOH. Kadar asam asetat terendah diperoleh pada suhu 500˚C dengan perbandingan komposisi

3:1 yaitu 7 ml. Hasil pengujian asam asetat pada masing-masing sampel menunjukkan bahwa

perbedaan kandungan asam asetat terjadi karena banyak mengandung komponen asam-asam kuat

lain selain asam asetat. Bio-oil mempunyai standar warna dari hijau gelap sampai dengan merah

gelap mendekati hitam tergantung dari bahan dan proses yang digunakan untuk mendapatkan

produk. Bio-oil tersusun dari berbagai komponen kimia dari bahan-bahan kimia yang mudah

menguap seperti formaldehid, asam asetat, fenol, dan anhydrosugar.

Pada saat titrasi, perubahan warna yang terjadi yaitu dari yang semula berwarna kuning

gading menjadi merah muda. Perubahan warna yang terjadi karena nilai kadar asam asetat yang

berbeda. Hasil titrasi berwarna merah muda menunjukkan bahwa nilai kadar asam asetat sudah

maksimal yang dimiliki bio-oil.

4.5 pH

Nilai pH merupakan salah satu parameter kualitas dari Bio-Oil yang dihasilkan.

Pengukuran nilai pH dalam Bio-Oil yang dihasilkan bertujuan untuk mengetahui tingkat proses

penguraian bahan baku secara pirolisis, juga untuk menghasilkan asam alami.
Grafik hubungan pH berdasarkan komposisi bahan
dan suhu
2.300
2.250
2.200
2.150
2.100
pH

2.050 450
2.000
500
1.950
1.900
1.850
1:3 1:1 3:1
komposisi

Grafik 4.5.1 Pengaruh suhu terhadap pH bio-oil dengan komposisi 1:1, 1:3, dan 3:1.

Hasil pengukuran nilai pH Bio-Oil ampas tebu dan ranting pohon rambutan mempunyai

kadar pH yang berbeda-beda. Dapat dilihat pada grafik 4.5.1 nilai pH terendah didapatkan pada

suhu 500°C dengan perbandingan komposisi 3:1 yaitu 2,019 dan nilai pH tertinggi didapatkan

pada suhu 450°C dengan perbandingan komposisi 1:3 yaitu 2,264. Derajat keasaman bio-oil

disebabkan adanya kandungan asam organik yang dihasilkan dalam proses pirolisis. Dari hasil

yang didapatkan semakin tinggi suhu, maka akan semakin kecil kadar pH yang dihasilkan. Ini

terjadi disebabkan, semakin tinggi suhu yang dilakukan untuk pirolisis akan mengakibatkan unsur-

unsur yang terdapat didalam bio-oil terurai.

Nilai pH ini menunjukkan bahwa Bio-Oil yang dihasilkan saat pirolisis bersifat asam. Nilai

pH rendah dikarenakan terdapat material yang besifat asam, salah satunya fenol. Kemungkinan

besar pada pH yang rendah mengandung fenol yang tinggi. Pada proses pirolisis, terjadi

pemecahan selulosa dan lignin serta zat extraktif yang bersifat asam, sehingga menyebabkan

kandungan asam tinggi (asam asetat dan asam lainnya). Keasaman yang tinggi membuat Crude
Bio-Oil hanya dapat digunakan sebagai bahan bakar langsung seperti boiler, penggunaan untuk

mesin tidak disarankan karena dapat menyebabkan mesin berkarat akibat kandungan asam yang

tinggi. Untuk dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin, harus dilakukan Upgrading dengan

cara catalytic cracking, dimana senyawa dengan berat molekul tinggi akan terpecah menjadi

senyawa alkana (Boateng, 2010).

4.6. Nilai Kalor

Nilai kalor merupakan suatu angka yang menyatakan jumlah energy panas (kalor) yang

dilepaskan bahan bakar pada waktu terjadinya oksidasi unsur-unsur kimia yang ada pada bahan

bakar tersebut. Nilai kalor berhubungan langsung dengan kadar C dan H yang terkandung oleh

bahan bakar padat. Semakin besar kadar keduanya, maka makin besar pula nilai kalor yang

dikandung. Nilai kalor pembakaran menunjukkan energi kalor yang dikandung dalam tiap satuan

massa bahan bakar.

Grafik bom kalorimeter


1700.000
1650.000
1600.000
1550.000
Nilai Kalor

1500.000
1450.000
450
1400.000
1350.000 500
1300.000
1250.000
1200.000
1:3 1:1 3:1
komposisi

Gambar 4.6.1 Grafik Bom calorimeter


Dari grafik diatas menunjukkan perbedaan nilai kalor yang cukup signifikan pada setiap

suhu dan komposisinya. Nilai kalor pembakaran menunjukan energi kalor yang dikandung dalam

setiap satuan massa bahan bakar. Menurut teori, nilai kalor akan meningkat seiring dengan

peningkatan nilai suhu.

Hasil penelitian menunjukkan kadar kalor akan semakin tinggi apabila suhu meningkat.

dapat dilihat pada grafik, pada suhu 500˚C menghasilkan nilai kalor yang lebih optimum daripada

pirolisis yang dilakukan pada suhu 450˚C. Hal ini disebabkan suhu yang lebih tinggi akan

mengakibatkan proses pembakaran pada pirolisis lebih optimum, sehingga pengurangan kadar air

yang ada didalam bahan akan lebih maksimum dengan pembakaran pada suhu tinggi,.

Berkurangnya kadar air akan menghasilkan nilai kalor yang lebih tinggi.

Dari kedua suhu yang digunakan dalam proses pirolisis, terjadi perbedaan hasil yang

didasari oleh perbedaan komposisi. Pada perbandingan komposisi tebu dan ranting dengan

perbandingan komposisi 1:3 lebih besar dibandingan dengan komposisi 3:1. Hal tersebut

dikarenakan kandungan komposisi bahan yang berbeda. Pada komposisi 1:3 komposisi ranting

kayu rambutan lebih banyak dari pada ampas tebu. Kandungan yang terdapat dari ranting kayu

lebih bagus untuk nilai kalornya, dan juga memiliki kandungan air yang lebih sedikit. Dalam

proses pirolisis, untuk mengetahui besar atau kecilnya nilai kalor dapat dilihat dari kadar air yang

terkandung dalam bahan. Apabila bahan tersebut mempunyai kadar air yang lebih besar, maka

nilai kalor akan kecil. hal serupa terjadi pada komposisi tebu dan ranting dengan perbandingan

3:1. Nilai kalor yang didapatkan lebih kecil dibandingkan dengan komposisi 1:3 karena memiliki

bahan yang mengandung ampas tebu lebih banyak. Ampas tebu sendiri memiliki kandungan air

sebesar 49% sedangkan ranting kayu 28%.


BAB V

PENUTUP

KESIMPULAN

a) Pembuatan bio oil dilakukan dengan metode pirolisis. Variabel yang digunakan adalah

perbedaan suhu pirolisis dan komposisi bahan. Suhu yang digunakan dalam proses ini

sebesar 450 ˚C dan 500˚C, sedangkan bahan yang digunakan adalah ampas tebu dan ranting

pohon rambutan dengan komposisi berturut 1:3, 1:1, dan 3:1. Bio-oil yang dihasilkan

memilik sifat-sifat fisis sebagai berikut: warna coklat gelap, pH 2,019-2,264; massa jenis

1,04 – 1,061 gr / ml; viskositas 2,248 cP – 2,596 cP; asam asetat dari 7,0-8,9 mgr/ml dan

nilai kalor dari 1380,279– 1642,708 kal/gr.

b) Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil bio oil terbanyak terjadi pada saat proses

pirolisis dengan suhu 450 ˚C dengan perbandingan 3:1, menghasilkan nilai bio oil sebesar

32,004%

c) Proses pirolisis yang menghasilkan banyak arang maka pada saat pirolisis tersebut proses

pembakaran tidak sempurna dan panas dalam reaktor tidak menyebar sempurna pada bahan

biomassa dan sebalikanya jika hasil Bio-Oil yang dihasilkan banyak maka pembakaran di

dalam reaktor pada saat pirolisis efisien atau mendekati sempurna. Hasil arang terbesar

terjadi pada saat proses pirolisis berlangsung pada suhu 450 ˚C dengan perbandingan

komposisi bahan sebesar 1:1 dengan nilai sebesar 54,456%

d) Semakin tinggi suhu, maka akan semakin kecil kadar pH yang dihasilkan. Ini terjadi

disebabkan, semakin tinggi suhu yang dilakukan untuk pirolisis akan mengakibatkan

unsur-unsur yang terdapat didalam bio-oil terurai. pH terbesar terjadi pada saat proses

pirolisis dengan suhu 450 ˚C dengan perbandingan komposisi sebesar 1:3, yakni 2,264%
e) Dalam proses pirolisis, untuk mengetahui besar atau kecilnya nilai kalor dapat dilihat dari

kadar air yang terkandung dalam bahan. Apabila bahan tersebut mempunyai kadar air yang

lebih besar, maka nilai kalor akan kecil. Nilai kalor terbesar didapatkan pada kondisi

operasi pirolisis dengan suhu 500 ˚C dengan perbandingan komposisi sebesar 1:3, yakni

2509,279 kal/g