Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Masa Nifas


Periode postpartum adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin
hingga kembalinya traktus reproduksi (alat-alat kandungan) wanita pada
kondisi tidak hamil (Varney, 2008; Saifuddin, 2009; Sulistyawati 2009;
Prawiroharjo, 2010; Mochtar, 2011).
Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2009). Biasanya
masa nifas dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai 6 minggu (42
hari) (Prawirohardjo, 2010; Mochtar, 2011).
1. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Asuhan masa nifas bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan
bayi yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan
komplikasi penyakit yang mungkin terjadi, penyediaan pelayanan
pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi dan nutrisi
bagi ibu ( Prawiroharjo, 2009).
Menurut Sulistyawati (2009), Tujuan asuhan masa nifas meliputi :
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bayi ibu dan
bayi
Fasilitas dan dukungan dari tenaga kesehatan dalam upaya untuk
menyesuaikan peran barunya sebagai ibu dan pendampingan
keluarga dalam bentuk pola baru untuk kelahiran anak
berikutnya. Jika ibu dapat melewati masa nifas dengan baik,
maka kesejahteraan fisik dan psikologis bayipun akan
meningkat.
b. Pencegahan, diagnosa dini dan pengobatan komplikasi pada ibu
Dengan asuhanpada masa nifas, kemungkinan munculnya
permasalahan dan komplikasi akan lebih cepat terdeteksi dan
penanganan lebih maksimal.

3
c. Merujuk ibu ke tenaga ahli bila perlu
Bidan senantiasa mendampingi pasien dan keluarga dalam
mengambil keputusan yang tepat, sesuai kondisi pasien sehingga
kejadian mortilitas dapat dicegah.
d. Mendukung dan memperkluat keyakinan ibu, serta
memungkinkan ibu agar mampu melakukan perannya dalam
situasi keluarga dan budaya yang khusus
Ketrampilan bidan sangat dituntut dalam memberikan
pendidikan kesehatan. Ketrampilan yang harus dikuasai oleh
bidan, antara lain materi sesuai kondisi pasien, teknik
penyampaian, media yang digunakan dan pendekatan psikologis
yang efektif sesuai budaya setempat.
e. Imunisasi ibu terhadap tetanus
Dengan pemberian asuhan yang maksimal, kejadian tetanus
dapat dihindari meskipun untuk saat ini angkja kejadian tetanus
sudah banyak mengalami penurunan.
f. Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian
makan anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang
baik antara ibu dan anak
Bidan tidak hanya memberikan pemantauan sebatas lingkup
permasalahan ibu, tetapi bersifat menyeluruh terhadap ibu dan
anak. Bidan akan mengkaji pengetahuan ibu dan keluarga
mengenai upaya peningkatan kesehatan keluarga.

Menurut Saifuddin (2009) dan Prawiroharjo (2012), asuhan


masa nifas melalui kunjungan-kunjungan masa nifas mempunyai
tujuan untuk :
a. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
b. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan adanya
gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya

4
c. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada
masa nifas
d. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan
mengganggu kesehatan ibu nifas dan bayinya.
2. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Menurut Sulistyawai (2009), peran dan tanggung jawab bidan
dalam masa nifas antara lain :
a. Teman terdekat sekaligus pendamping ibu nifas dalam
menghadapi saat-saat kritis masa nifas
b. Pendidik dlam usaha pemberian pendidikan kesehatan terhadap
ibu dan keluarga
c. Pelaksanaan asuhan kepada pasien dalam hal tindkaan
perawatan, pemantauan, penanganan masalah, rujukan dan
deteksi dini komplikasi masa nifas
Sedangkan menurut Bahiyatun (2009), peran dan tanggung jawab
bidan dalam masa nifas dengan memberikan perawatan dan
dukungan sesuai keadaan ibu, yaitu melalui kemitraan (partnership)
dengan itu, selain itu dengan cara antara lain :
a. Mengkaji kebutuhan asuhan
b. Menentukan diagnosa dan kebutuhan
c. Menyusun rencana asuhan berdasarkan prioritas masalah
d. Melaksanakan asuhan kebidanan yang telah diberikan
e. Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang diberikan
f. Memberikan reenca tindak lanjut asuhan kebidnana bersama
klien
3. Tahapan Masa Nifas
Tahapan yang terjadi pada masa nifas menurut Saleha (2009) dan
Mochtar (2011), adalah sebagai berikut :
a. Periode immediatepostpartum
Periode ini dimulai segera setelah plasenta lahir sampai 24
jam post partum. Pada masa ini sering kali terdapat masalah-

5
masalah seperti perdarahan yang teradi akibat atonia uteri,
retensio sisa plasenta. Oleh karena itu, harus dilakukan
pemeriksaan kontraksi, Tinggi Fundus uteri, pengeluaran
lochea, tekanan darah, suhu, nadi serta pernafasan.
b. Periode early postpartum (24 jam- 1 miggu)
Pada periode ini, untuk memastikan involusio uteri berjalan
normal, tidak terjadi perdarahan, lochea tidak berbau, ibu tidak
demam, ibu mendapatkan asupan gizi yang baik, serta ibu dapat
menyusui bayinya dengan baik.
c. Periode late postpartum (1-5 minggu)
Periode ini tetap dilakukan perawatan serta pemeriksaan
sehari-hari dan melakukan konseling KB
4. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Menurut Mochtar (2014) dalam masa Nifas ada 3 kali kunjungan
yang harus dilakukan yaitu kujungan nifas I/KF 1, KF II dan KF III,
diantaranya adalah :
a. Kunjungan I : 6 jam - 3 hari setelah persalinan
1) Memastikan involusi uterus
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan
3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan
istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada tanda-
tanda infeksi
5) Bagaimana perawatan bayi sehari-hari
b. Kunjungan II : 4 – 28 hari setelah persalinan
1) Bagaimana persepsi ibu tentang persalinan dan kelahiran bayi
2) Kondisi payudara
3) Ketidaknyamanan yang dirasakan ibu
4) Istirahat ibu
c. Kunjungan III : 29 - 42 hari setelah persalinan
1) Permulaan hubungan seksual

6
2) Metode KB yang digunakan
3) Latihan pengencangan otot perut
4) Fungsi pencernaan, konstipasi dan bagaimana
penanganannya
5) Hubungan bidan, dokter dan RS dengan masalah yang ada
6) Menanyakan pada ibu sudah haid atau belum.

Sedangkan menurut Bahiyatun (2009) dan Sulistyawati (2009),


kebijakan program nasional masa nifas dilakukan sebanyak 4 kali untuk
mencegah, mendeteksi dan menangani maslah yang terjadi.
Tabel 2.1 Program nasional masa nifas
No. Waktu Tujuan
1 6-8 jam setelah 1. Mencegah perdarahan karena antonia uteri
persalinan 2. Mendeteksi dan merawat penyebab
perdarahan dan rujuk jika perdarahan
berlanjut
3. Memberiukan konseling pada ibu atau
anggota keluarga mengenai bagaimana cara
mencegah perdarahan masa nifaskarena
antonia uteri
4. Pemberian ASI awal
5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
yang baru lahir
6. Menjaga bayi tetap sehat dan mencegah
hipotermi
7. Jika ia adalah petugas yang menolong proses
persalinan, maka ia harus tinggal dengan ibu
danbayi selama 2 jam pertama
2 6 hari stelah 1. Memastikan involusi uterus berjalan dengan
persalinan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah

7
umbilicus, tidak ada perdarahan abnomal dan
tidak berbau
2. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi
ataupun perdarahan abnormal
3. Memastikan ibu mendapatkan cukup
makanan, cairan dan istirahat
4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai
asuhan pada bayi, tali pusat, ,enjaga bayi tetap
hangat dan merawat bayi sehari-hari
3 2 minggu setelah 1. Memastikan involusi uterus berjalan dengan
persalinan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnomal dan
tidak berbau
2. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi
ataupun perdarahan abnormal
3. Memastikan ibu mendapatkan cukup
makanan, cairan dan istirahat
4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai
asuhan pada bayi, tali pusat, ,enjaga bayi tetap
hangat dan merawat bayi sehari-hari
4 6 minggu setelah 1. Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-
persalinan kesulitan yang ia atau bayinya alami
2. Memberikan konseling KB secara dini
Sumber : (Bahiyatun, 2009 dan Sulistyawati, 2009)

8
B. Proses Laktasi dan Menyusui
1. Anatomi dan Fisiologi
a. Anatomi Payudara
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :
1) Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar
2) Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah
3) Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak
payudara

Keterangan :
1) Korpus
Korpus alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu.
Bagian dari alveolus adalah sel aciner, jaringan lemak, sel plasma,
sel otot polos dan pembuluh darah. Lobulus, yaitu kumpulan dari
alveolus. Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi
15-20 lobus pada tiap payudara. ASI disalurkan dari alveolus ke
dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus
bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus
laktiferus).
2) Areola
Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar,
akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di
dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat oto

9
tpolos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.polos
yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.
3) Papilla atau puting
Bagian yang menojol yang dimasukan ke mulut bayi untuk aliran
air susu
b. Fisiologi
Pelepasan ASI berada di bawah kendali neuro-endokrin.
Rangsangan sentuhan pada payudara (bayi mengisap) akan
merangsang produksi ASI. Hisapan bayi yang memicu pelepasan ASI
dari alveolus mamae melalui ductus ke sinus lactiferous, oksitosin
memasuki darah dan menyebabkan kontraksi sel. Kontraksi ini yang
mendorong ASI keluar dari alveoli melalui ductus menuju sinus
lactiferous, tempat ASI di simpan. Pada saat bayi menghisap, ASI di
dalam sinus keluar ke mulut bayi.
2. Dukungan Bidan dalam Pemberian ASI
Bidan mempunyai peranan yang sangat istimewa dalam menunjang
pemberian ASI. Peran bidan dapat membantu ibu untuk memberikan ASI
dengan baik dan mencegah masalah-masalah umum terjadi.
Peranan awal bidan dalam mendukung pemberian ASI adalah :
a. Meyakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi
dari payudara ibunya.
b. Membantu ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui
bayinya sendiri.
Bidan dapat memberikan dukungan dalam pemberian ASI, dengan :
a. Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama
beberapa jam pertama.Bayi mulai meyusu sendiri segera setelah
lahir sering disebut dengan inisiasi menyusu dini (early initiation)
atau permulaan menyusu dini. Hal ini merupakan peristiwa
penting, dimana bayi dapat melakukan kontak kulit langsung
dengan ibunya dengan tujuan dapat memberikan kehangatan.
Selain itu, dapat membangkitkan hubungan/ ikatan antara ibu dan

10
bayi. Pemberian ASI seawal mungkin lebih baik, jika
memungkinkan paling sedikit 30 menit setelah lahir.
b. Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu.
Tujuan dari perawatan payudara untuk melancarkan sirkulasi
darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu, sehingga
pengeluaran ASI lancar. Perawatan payudara dilakukan sedini
mungkin, bahkan tidak menutup kemungkinan perawatan
payudara sebelum hamil sudah mulai dilakukan. Sebelum
menyentuh puting susu, pastikan tangan ibu selalu bersih dan cuci
tangan sebelum menyusui. Kebersihan payudara paling tidak
dilakukan minimal satu kali dalam sehari, dan tidak
diperkenankan mengoleskan krim, minyak, alkohol ataupun sabun
pada puting susunya.
c. Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.
Membantu ibu segera untuk menyusui bayinya setelah lahir
sangatlah penting. Semakin sering bayi menghisap puting susu
ibu, maka pengeluaran ASI juga semakin lancar. Hal ini
disebabkan, isapan bayi akan memberikan rangsangan pada
hipofisis untuk segera mengeluarkan hormon oksitosin yang
bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI. Pemberian
ASI tidak terlepas dengan teknik atau posisi.
Posisi menyusui dapat dilakukan dengan menempatkan bayi
didekat ibu pada kamar yang sama (rawat gabung).
Rawat gabung adalah merupakan salah satu cara perawatan
dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan,
melainkan ditempatkan bersama dalam ruangan selama 24 jam
penuh. Manfaat rawat gabung dalam proses laktasi dapat dilihat
dari aspek fisik, fisiologis, psikologis, edukatif, ekonomi maupun
medis.

11
d. Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.
Pemberian ASI sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal,
bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat
menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat
mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam
lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan
akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat
berpengaruh pada rangsangan produksi berikutnya.
e. Memberikan kolustrum dan ASI saja.
ASI dan kolustrum merupakan makanan yang terbaik untuk bayi.
Kandungan dan komposisi ASI sangat sesuai dengan kebutuhan
bayi pada keadaan masing-masing. ASI dari ibu yang melahirkan
prematur sesuai dengan kebutuhan prematur dan juga sebaliknya
ASI dari ibu yang melahirkan bayi cukup bulan maka sesuai
dengan kebutuhan bayi cukup bulan juga.
f. Menghindari susu botol dan “dot empeng”.
Pemberian susu dengan botol dan kempengan dapat membuat
bayi bingung puting dan menolak menyusu atau hisapan bayi
kurang baik. Hal ini disebabkan, mekanisme menghisap dari
puting susu ibu dengan botol jauh berbeda.

3. Manfaat Pemberian ASI


a. Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang
terbaik, terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga
bermanfaat bagi ibu.
b. ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk
memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya
c. Pada umur 6 sampai 12 bulan, ASI masih merupakan makanan
utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi.
d. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

12
e. Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari
kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena
masih memberikan manfaat.
f. ASI disesuaikan secara unik bagi bayi manusia.
g. Dokter sepakat bahwa ASI mengurangi resiko infeksi lambung-usus,
sembelit, dan alergi.
h. Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit.
Contohnya, ketika si ibu tertular penyakit (misalnya melalui
makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi sang ibu
terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI.
i. Bayi ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level
bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang seiring dengan
diberikannya kolostrum dan mengatasi kekuningan, asalkan bayi
tersebut disusui sesering mungkin dan tanpa pengganti ASI.
j. ASI selalu siap sedia setiap saat bayi menginginkannya, selalu dalam
keadaan steril dan suhu susu yang pas
k. Manfaat ASI bagi ibu :
1) Pemberian ASI membantu ibu untuk memulihkan diri dari
proses persalinan.
2) Wanita yang menyusui bayinya akan lebih cepat pulih/ turun
berat badannya.
3) Ibu yang menyusui, yang belum mendapatkan menstruasi akan
kecil kemungkinan untuk menjadi hamil.
4) Pemberian ASI adalah cara terbaik utuk ibu mencurahkan kasih
sayangnya.
l. Manfaat ASI bagi semua orang :
1) Pemberian ASI tidak memerlukan persiapan khusus
2) ASI selalu tersedia dan gratis
3) Ibu menyusui yang siklus mensruasinya belum pulih kembali
akan memperoleh perlindungan sepenuhnya dari kemungkinan
hamil.

13
4. Upaya Memperbanyak ASI
a. Hisapan Bayi dan Keteraturan Bayi Menghisap
Semakin sering bayi menyusu pada payudara ibu, maka produksi
dan pengeluaran ASI akan semakin banyak. Akan tetapi, frekuensi
penyusuan pada bayi prematur dan cukup bulan berbeda. Produksi
ASI bayi prematur akan optimal dengan pemompaan ASI lebih dari 5
kali/hari selama bulan pertama setelah melahirkan. Pemompaan
dilakukan karena bayi prematur belum dapat menyusu. Sementara itu,
pada bayi cukup bulan frekuensi penyusuan paling sedikit 8 kali/hari
pada periode awal setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan ini
berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormon dalam kelenjar
payudara (Vivian & Tri, 2011).
Isapan anak akan merangsang otot polos payudara untuk
berkontraksi yang kemudian merangsang susunan saraf di sekitarnya
dan meneruskan rangsangan ini ke otak. Otak akan memerintahkan
kelenjar hipofisis posterior untuk mengeluarkan hormon pituitarin
lebih banyak, sehingga kadar hormon estrogen dan progesteron yang
masih ada menjadi lebih rendah. Pengeluaran hormon pituitarin yang
lebih banyak akan mempengaruhi kuatnya kontraksi otot – otot polos
payudara (Bahiyatun, 2009).
b. Makanan
Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat berpengeruh
terhadap produksi ASI. Apabila makanan yang ibu makan
mengandung cukup gizi dan pola makan yang teratur, maka produksi
ASI akan berjalan dengan lancar. Hal ini dikarenakan kelenjar
pembuat ASI tidak dapat bekerja dengan sempurna tanpa makanan
yang cukup. Untuk membentuk produksi ASI yang baik, makanan ibu
harus memenuhi jumlah kalori, protein, lemak dan vitamin serta
mineral yang cukup selain itu ibu dianjurkan minum lebih banyak ± 8-
12 gelas/hari 2010).

14
c. Ketenganan Jiwa dan Fikiran
Faktor mental dan psikologis ibu menyusui sangat besar
pengaruhnya terhadap proses menyusui dan kelancaran produksi ASI.
Persaan stress, tertekan, dan tidak nyaman yang dialami oleh seorang
ibu dapat menghabat jumlah ASI yang keluar (Bahayatun, 2009).
d. Penggunaan Alat Kontrasepsi
Penggunaan alat kontrasepsi pada ibu menyusui, pelu diperhatikan
agar tidak mengurangi produksi ASI. Contoh alat kontrasepsi yang
bisa digunkan adalah kondom, IUD, pil khusus menyusui atau suntik
hormonal 3 bulanan (Vivian, 2011) .
e. Perawatan Payudara
Perawatan payudara bermanfaat untuk merangsang payudara
sehingga mempengaruhi hipofisis untuk mengeluarkan hormon
prolaktin dan oksitosin oksitosin (Vivian & Tri, 2011). Sedangkan
menurut Bahiyatun (2009), otot – otot payudara terdiri dari otot – otot
polos. Otot – otot ini akan berkontraksi lebih apabila diberi
rangsangan. Rangsangan pada payudara dapat dilakukan dengan
masase atau mengurut atau menyiram payudara dengan air hangat dan
dingin secara bergantian.
f. Istirahat
Faktor istirahat mempengaruhi produksi dan pengeluaran ASI.
Apabila kondisi terlalu capek, kurang istirahat, maka ASI juga
berkurang (Vivian & Tri, 2011).
g. Hindari konsumsi Rokok dan Alkohol
Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu
hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan
menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat
pelepasan oksitosin. Meskipun minuman alkohol dosis rendah disatu
sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membatu proses
pengeluaran ASI, namun disisi lain etanol dapat menghambat
produksi oksitosin (Vivian & Tri, 2011).

15
h. Pijat oksitosin
Pijat oksitosin, yaitu pemijatan sepanjang tulang belakang
(vertebrae) sampai tulang costae kelima atau keenam akan
memberikan rasa nyaman dan rileks pada ibu setelah mengalami
proses persalinan sehingga sekresi hormone prolaktin dan oksitosin
tidak terhambat (Roesli, 2008). Hormon oksitosin ini yang akan
merangsang mioepitel payudara untuk berkontraksi sehingga ASI
Akan di keluarkan dengan lancar pula.
i. Mengkonsumsi jantung pisang batu
Jantung pisang batu merupakan jenis tanaman yang mengandung
laktagogum memiliki potensi alam menstimulasi hormon oksitoksin
dan prolaktin seperti alkaloid, polifenol, steroid, flavonoid dan
substansi lainnya paling efektif dalam meningkatkan dan
memperlancar produksi ASI. (Murtiana, 2011).
Hasil penelitian sejalan dengan teori Lingga dalam Murtiana
(2011), yang menyatakan bahwa jantung pisang batu memiliki
beberapa senyawa yang dapat meningkatkan produksi dan kualitas
ASI. Peningkatan produksi ASI dipengaruhi oleh adanya polifenol
dan steroid yang mempengaruhi reflek prolaktin untuk merangsang
alveoli yang bekerja aktif dalam pembentukan ASI. Hasil penelitian
ini juga menyatakan bahwa peningkatan produksi ASI juga
dirangsang oleh hormon oksitosin. Peningkatan hormon oksitosin
dipengaruhi oleh polifenol yang ada pada jantung pisang batu yang
akan membuat ASI mengalir lebih deras dibandingkan dengan
sebelum
mengkonsumsi jantung pisang batu.
j. Mengkonsumsi Jamu Uyup – Uyup
Menurut Suharmiati (2003) jamu uyup-uyup bermanfaat untuk
menigkatkan produksi ASI pada ibu yang menyusui. Komposisi jamu
uyup-uyup antara lain kencur, kunyit, lempuyang, temu giring,
temulawak dan daun katu. Kencur (Kaemferia galanga L.) bermanfaat

16
sebagai penyegar dan penghangat badan, sehingga mempengaruhi
keadaan ibu untuk menyusui. Kunyit (Curcuma domestika Val.)
banyak mengandung curcumin, karbohidrat, protein, vitamin c,
kalium, fosfor, Fe serta lemak yang membantu memenuhi kebutuhan
nutrisi ibu sehingga menunjang produksi ASI. Lempuyang (Zingiber
spp.) bermanfaat untuk menambah nafsu makan, penambah darah dan
memulihkan kondisi wanita yang baru melahirkan. Temu giring
(Curcuma heyneana) yang bermanfaat untuk mengobati perasaan
tidak tenang. Temulawak (Curcuma xanthorriza) dan daun katuk
(Sauropus androgynus Merr.) bermanfaat untuk memperbanyak
produksi ASI.
Menurut Sari (2003) dalam penelitiannya, jamu uyup-uyup dapat
memperlancar pengeluaran ASI karena dapat merangsang hormon
prolaktin secara tidak langsung sebagai salah satu mekanisme suatu
senyawa laktagogum (pelancar pengeluaran air susu), mengandung
protein, mineral dan vitamin-vitamin. Komponen protein berkhasiat
merangsang peningkatan sekresi air susu, sedangkan steroid dan
vitamin A berperan merangsang proliferasi epitel alveolus yang baru,
dengan demikian terjadi peningkatan alveolus.
k. Mengkonsumsi Daun Pepaya
Beberapa penelitian telah dilakukan oleh Entin (2002) yang
membuktikan bahwa daun katuk, daun pare, dan daun pepaya
merupakan suplemen yang merupakan tanaman tradisional dan
memiliki potensi meningkatkan produksi susu. Ternyata daun pepaya
memiliki khasiat tertinggi dibandingkan daun katuk dan daun pare.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Entin (2002), menyatakan bahwa
pengeluaran ASI dengan mengkonsumsi minuman daun pepaya akan
mempercepat kelancaran ASI, karena daun pepaya digunakan untuk
menambah nafsu makan. Daun pepaya mengandung berbagai zat,
antara lain vitamin A, B1, kalori, protein, lemak, hidratarang, kalsium,
fosfor, besi dan air.

17
Selain itu, daun pepaya juga mengandung Enzim Papain dan
kalium, fungsi enzim berguna untuk memecah protein yang dimakan
sedangkan kalium berguna untuk memenuhi kebutuhan kalium dimasa
menyusui. Jika kekurangan kalium maka badan akan terasa lelah, dan
kekurangan kalium juga menyebabkan perubahan suasana hati
menjadi depresi, sementara saat menyusui ibu harus berfikir positif
dan bahagia (Ayuni, 2012). Daun pepaya juga diperkaya dengan
hormon pengencang serta vitamin A yang merangsang pengeluaran
hormon wanita dan merangsang indung telur mengeluarkan hormone
wanita. Dari hormon tersebut kelenjar susu akan lancar dan bentuk
payudara semakin ideal.
5. Tanda Bayi Cukup ASI
a. Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau 24 jam minimal mendapatkan ASI
8 kali pada 2-3 minggu pertama
b. Bayi sering buang air besar (BAB) berwarna kekuningan berbiji
c. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6-8 kali/hari dan
warnanya jernih sampai kuning muda
d. Ibu dapat mendengar suara menelan yang pelan ketika bayi menelan
ASI
e. Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui
f. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal
g. Pertumbuhan berat badan (BB) dan tinggi (TB) bayi sesuai dengan
grafik pertumbuhan
h. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan
rentang usianya)
i. Bayi kelihatan puas, sewaktu – waktu saat lapar akan bangun dan
tidur dengan cukup
j. Sesudah menyusu atau minum bayi tampak puas, tidak menangis dan
dapat tidur nyenyak

18
6. ASI Eksklusif
a. Pengertian ASI Eksklusif
Menurut World Health Organization (WHO) ASI Eksklusif adalah
pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air
putih, air jeruk, ataupun makanan tambahan lain sebelum mencapai
usia 6 bulan
b. Tahapan ASI
1) Kolostrum
Cairan kental dengan warna kekuningan – kuningan, lebih
kuning dibandingkan susu yang matur. Kolostrum disekresi oleh
kelenjar payudara pada hari pertama sampai ketiga atau keempat.
Kolostrum lebih banyak mengandung protein dibandingkan
dengan ASI matur tetapi kadar karbohidrat dan lemak lebih
rendah. Mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak
dibanding dengan ASI matur.
Fungsi kolostrum memberikan gizi dan proteksi, yang terdiri
dari :
a) Imunoglubulin : melapisi dinding usus yang berfungsi untuk
mencegah penyerapan protein yang mungkin menyebabkan
alergi
b) Lisosom : berfungsi sebagai anti bakteri dan juga menghambat
pertumbuhan berbagai virus. Kadar lisosom pada kolostrum
dan air susu jauh lebih besar kadarnya dibanding air susu sapi
c) Laktobasillus : laktobasillus ada di dalam usus bayi dan
menghasilkan berbagai asam yang mencegah pertumbuhan
kuman pathogen. Untuk pertumbuhannya, laktobasillus
membutuhkan gula yang mengandung nitrogen yaitu faktor
bifidus yang terdapat di dalam kolostrum dan air susu ibu
d) Faktor bifidus tidak terdapat di dalam susu sapi : faktor bifidus
menyebabkan bayi tidak diare jika minum air susu ibu.

19
2) ASI Peralihan/ ASI Transisi
ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum menjadi
ASI matang/matur Ciri dari susu pada masa peralihan adalah
sebagai berikut:
a) Peralihan ASI dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur
b) Di sekresi dari hari ke 4 sampai hari ke 10 dari masa laktasi
c) Kadar protein makin rendah, sedangkan kadar karbohidrat dan
lemak makin tinggi
3) Air susu matang (matur)
Ciri dari susu matur adalah sebagai berikut :
a) ASI matur berupa cairan berwarna putih kekuning –
kuningan yang diakibatkan warna garam Ca-caseinant,
riboflavin dan karoten yang terdapat di dalamnya ASI yang
disekresikan pada hari ke 10 dan seterusnya
b) Tidak menggumpal jika dipanaskan
c) Terdapat anti mikrobial faktor
c. Manfaat ASI
1) Bayi
a) Mempunyai komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi
yang dilahirkan
b) Jumlah kalori yang terdapat dalam ASI dapat memenuhi
kebutuhan bayi sampai umur 6 bulan
c) ASI mengandung zat pelindung /antibodi yang melindungu
terhadap penyakit
d) Dengan diberikannya ASI maka akan memperkuat ikatan
batin ibu dan bayi
e) Mengurangi kejadian molaklusi akibat penggunaan dot yang
lama
2) Ibu
a) Mencegah perdarahan masa nifas

20
Hormon oksitosin merangsang kontraksi uterus sehingga
menjepit pembuluh darah yang bisa mencegah terjadinya
perdarahan
b) Mempercepat involusi uterus
Dengan dikeluarkannya hormon oksitosin, maka akan
merangsang kontraksi uetrus sehingga proses involusi uterus
dapat berlangsung secara maksimal
c) Sebagai salah satu metode KB sementar
Metode Amenorhoe Laktasi (MAL) merupakan metode
kontrasepsi sementara sederhana yang bisa efektif digunakan
tanpa alat kontrasepsi apapun sampai ibu belum mendapatkan
menstruasi
3) Keluarga
a) Mudah pemberiannya
Pemberian ASI tidak merepotkan seperti susu formula yang
harus mencuci botol dan mensterilkan sebelum digunakan,
sedangkan ASI tidak perlu disterilkan karena sudah steril
b) Menghemat biaya
Artinya ASI tidak perlu dibeli, karena bisa diproduksi oleh ibu
sendiri sehingga keuangan keluarga tidak banyak berkurang
dengan adanya bayi.
4) Negara
a) Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. ASI
mengandung zat – zat kekebalan yang bisa melindungi bayi
dari penyakit sehingga resiko kematian dan kesakitan akan
menurun
b) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
Hal ini disebabkan karena bayi jarang sakit sehingga
menurunkan angka kunjungan ke rumah sakit yang tengtunya
memerlukan biaya untuk perawatan
c) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa

21
ASI mengandung docosahexaenoic acid (DHA) dan
arachidonic acid (AA) yaitu asam lemak tak jenuh rantai
panjang yang diperlukan untuk pembentukan sel – sel otak
yang optimal yang bermanfaat untuk kecerdasan bayi
d. Komposisi gizi dalam ASI
1) Nutrien (zat gizi) yang sesuai untuk bayi
a) Lemak
Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak. Kadar lemak
dalam ASI mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam
ASI lebih dulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol oleh
ezim lipase yang terdapat pada ASI. Disamping lemak, ASI
mengandung asam lemak esensial, asam linoleat (Omega 6)
dan asam linolenat (Omega 3). Kadar lemak ASI matur, dapat
berbeda menurut lama menyusui.
b) Foremilk / ASI matang
(1) Lebih encer
(2) Penghilang rasa haus bayi
(3) Keluar setelah masa keluarnya kolostrum
(4) Kaya laktosa dan protein
c) Hindmilk
(1) Lebih kental
(2) Penghilang rasa lapar
(3) Keluar beberapa saat setelah foremilk
(4) Lebih banyak lemak
Ciri – ciri bayi kekurangan hindmilk
(1) Feses berwarna hijau
(2) Bayi lebih sering gumoh
(3) Bayi rewel dan mudah lapar
(4) BB naik perlahan
(5) Pantat bayi lebih sering lecet
(6) Bayi langsung BAB saat menyusu

22
d) Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. Laktosa
mudah diurai menjadi glukosa dan galaktosa dengan bantuan
enzim laktase yang sudah ada dalam saluran pencernaan
sejak lahir. Laktosa mempunyai manfaat diantaranya
mempertinggi absorbsi kalsium dan merangsang
pertumbuhan laktobasillus bifidus.
e) Protein
Protein dalam ASI adalah kasein dan whey. Kadar protein
ASI sebesar 0,99 % dan 60 % diantaranya adalah whey yang
lebih mudah dicerna dibandingkan kasein
f) Garam dan mineral
Garam organik yang terdapat dalam ASI terutama adalah
kalsium, kalium dan natrium dari asam klorida dan fosfat.
Yang terbanyak adalah kalium, sedangkan kadar Cu, Fe dan
Mn yang merupakan bahan untuk pembuat darah relatif
sedikit. Ca dan P yang merupakan bahan pembentuk tulang
kadarnya cukup. Kadar garam dan mineral yang rendah
dalam susu diperlukan oleh bayi baru lahir, dikarenakan
ginjal bayi baru lahir belum dapat mengkonsentrasikan air
kemih dengan baik.
g) Vitamin
ASI cukup mengandung vitamin D, E dan K. Vitamin E
terdapat pada kolostrum, vitamin K diperlukan sebagai
katalisator dalam proses pembekuan darah dan terdapat
dalam ASI dalam jumlah yang cukup dan mudah diserap.
ASI cukup mengandung vitamin yang diperlukan bayi.
2) Zat protektif
a) Laktobasillus bifidus
Berfungsi untuk mengubah laktosa menjadi asam laktat dan
asam asetat yang menjadikan saluran pencernaan menjadi

23
asam sehingga menghambat pertumbuhan mikroorganisme (
E. Coli penyebab diare pada bayi), shigela dan jamur.
b) Laktoferin
Merupakan protein yang berikatan dengan zat besi. Dengan
mengikat zat besi, maka laktoferin bermanfaat untuk
menghambat pertumbuhan kuman tertentu (Stafilokokus dan
E.Coli), selain itu juga menghambat pertumbuhan jamur
candida.
c) Lisozim
Enzim yang dapat memecah dinding bakteri dan
antiinflamantori, bekerja bersama peroksida dan askorbat
untuk menyerang E. Coli dan salmonela.
3) Faktor antistreptokokus
Berfungsi untuk melindungi bayi terhadap infeksi kuman
4) Antibodi
ASI terutama kolostrum mengandung imunoglobulin.
Antibodi dalam ASI dapat bertahan di dalam saluran pencernaan
bayi karena tahan terhadap asam dan enzim proteolitik saluran
pencernaan dan membuat lapisan pada mukosanya sehingga
mencegah bakteri pathogen dan enterovirus masuk ke dalam
mukosa usus
5) Tidak menimbulkan alergi
Pada bayi baru lahir, sistem IgE belum sempurna.
Pemberian susu formula akan merangsang aktivasi sistem ini dan
dapat menimbulkan alergi. ASI tidak menimbulkan efek ini.
Pemberian protein asing yang ditunda sampai umur 6 bulan akan
mengurangi kemungkinan alergi ini.
7. Cara Merawat Payudara
Perawatan payudara (Breast Care) adalah suatu cara merawat
payudara yang dilakukan pada saat kehamilan atau masa nifas untuk
produksi ASI, selain itu untuk kebersihan payudara dan bentuk putting

24
susu yang masuk ke dalam atau datar. Puting susu demikian sebenarnya
bukanlah halangan bagi ibu untuk menyusui dengan baik dengan
mengetahui sejak awal, ibu mempunyai waktu untuk mengusahakan agar
puting susu lebih mudah sewaktu menyusui. Disamping itu juga sangat
penting memperhatikan kebersihan personal hygiene (Rustam, 2009).
a. Tujuan Perawatan Payudara
Perawatan Payudara pasca persalinan merupakan kelanjutan
perawatan payudara semasa hamil, mempunyai tujuan antara lain:
1) Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari
infeksi.
2) Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecet.
3) Untuk menonjolkan puting susu.
4) Menjaga bentuk buah dada tetap bagus
5) Untuk mencegah terjadinya penyumbatan
6) Untuk memperbanyak produksi ASI
7) Untuk mengetahui adanya kelainan (Notoadmojo, 2008).
b. Akibat Jika Tidak Dilakukan Perawatan PayudaraBerbagai dampak
negatif dapat timbul jika tidak dilakukanperawatan payudara sedini
mungkin. Dampak tersebut meliputi :
1) Puting susu kedalam
2) ASI lama keluar
3) Produksi ASI terbatas
4) Pembengkakan pada payudara
5) Payudara meradang
6) Payudara kotor
7) Ibu belum siap menyusu
8) Kulit payudara terutama puting akan mudah lecet
(Prawirohardjo, 2010).
c. Cara merawat payudara pada masa nifas :
1) Mencuci tangan
2) Duduk dengan nyaman

25
3) Membuka pakaian atas
4) Membersihkan puting susu dengan mengompresnya
menggunakan kapas dan baby oil
Pengurutan pertama
5) Melicinkan kedua tangan dengan baby oil
6) Menempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara
7) Melakukan pengurutan dimulai kearah atas, lalu telapak tangan
kiri ke arah sisi kiri dan telapak tangan kanan ke arah sisi kanan
8) Melakukan terus pengurutan ke bawah/ ke samping selanjutnya,
pengurutan melintang telapak tangan mengurut ke depan, lalu
kedua tangan dilepas dari payudara
9) Mengulangi gerakan 20-30 kali tiap satu payudara
Pengurutan kedua
10) Telapak tangan kiri menopang payudara kiri, kemudian 2/3 jari
tangan kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai
dari pangkal payudara dan berakhir pada puting sus. Melakukan
tahap yang sama pada payudara kanan kurang lebih 2 kali
gerakan setiap payudara
Pengurutan ketiga
11) Menyokong payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain
mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi kea rah
puting susu kurang lebih 30 kali
Pengompresan
12) Mengompres kedua payudara dengan waslap hangat lalu
mengganti dengan kompres waslap dingin selama satu menit,
kompres bergantian selama tiga kali berturut-turut dan akhiri
dengan kompres air hangat
13) Bias hanya dengan dibasuh menggunakan air hangat 2-3 x,
kemudian air dingin 2-3 x dan diakhiri dengan menggunakan air
hangat 2-3 x.

26
Pengosongan ASI
14) Mengeluarkan ASI dengan meletakkan ibu jari dan jari telunjuk
kira-kira 2,5 sammpai dengan 3 cm dari puting susu
15) Meletakkan jari-jari tersebut sedemikian rupa sehingga
penampung ASI berada dibawahnya
16) Menekan payudara ke arah dada dan perhatikan agar jari-jari
jangan diregangkan. Angkat payudara yang agak besar dahulu,
lalu tekanlah kea rah dada
17) Gerakan ibu jari dan telunjuk ke arah puting susu untuk menekan
dan mengosongkan tempat penampungan susu pada payudara
tanpa rasa sakit
18) Mengulangi gerakan itu untuk mengosongkan daerah
penampungan air susu. Gunakan kedua tangan pada masing-
masing payudara.
19) Menggunakan BH yang menyangga
8. Cara Menyusui yang Benar
Keberhasilan menyusui bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya,
tetapi merupakan keterampilan yang perlu diajarkan. Agar ibu berhasil
menyusui, perlu dilakukan berbagai kegiatan saat antenatal, intranatal,
dan postnatal. Salah satu hal yang perlu diajarkan ke ibu yaitu cara
menyusui yang benar, berikut langkah-langkahnya :
a. Cuci tangan dengan air yang bersih dan mengalir
b. Ibu duduk dengan santai kaki tidak boleh menggantung
c. Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola sekitarnya.
Manfaatnya adalah sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban
puting susu.
d. Posisikan bayi dengan benar
1) Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat
lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan
ibu.

27
2) Perut bayi menempel ke tubuh ibu
3) Mulut bayi berada didepan puting ibu
4) Lengan yang dibawah merangkul tubuh ibu, jangan berada di
antara tubh ibu dan bayi. Tangan yang diatas boleh dipegang ibu
atau diletakkan di atas dada ibu
5) Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus
e. Ibu memegang payudara dengan ibu jari diatas dan jari yan lain
menopang dibawah serta jangan menekan puting susu dan areolanya
f. Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar,
kemudian dengan cepat kepala bayi di dekatkan ke payudara ibu dan
puting serta areola dimasukkan ke dalam mulut bayi.
g. Cek apakah perlekatan sudah benar
1) Dagu menempel ke payudara ibu
2) Mulut terbuka lebar
3) Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah, masuk ke
dalam mulut bayi
4) Bibir bayi terlipat keluar
5) Pipi bayi tidak boleh kempot (karena bayi tidak menghisap, tetapi
memerah ASI)
6) Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi
menelan
7) Ibu tidak kesakitan
8) Bayi tenang
h. Setelah bayi menghisap, ibu tidak lagi memegang/menyangga
payudaranya
i. Ibu memperhatikan bayi selama menyusui
j. Jika bayi sudah selesai menyusu, lepas isapan bayi dengan :
1) Jari kelingking dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut
ATAU
2) Dagu bayi ditekan ke bawah

28
k. Setelah selesai menyusu, mengoleskan sedikit ASI pada puting susu
dan areola dan membiarkannya kering dengan sendirinya.
l. Menyendawakan bayi
1) Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu kemudian
punggung ditepuk perlahan-lahan sampai bayi bersendawa (bila
tidak bersendawa tunggu 10-15 menit) ATAU
2) Bayi ditengkurapkan dipangkuan ibu dengan menyangga dahi bayi,
kemudian punggung atas ditepuk perlahan-lahan sampai bayi
bersendawa (bila tidak bersendawa tunggu 10-15 menit)
m. Menyusukan kedua payudara secara bergantian
n. Menyusukan bayi setiap saat (on demand).

Pemberian ASI jangan dijadwal. Pada hari-hari pertama ASI belum


banyak sehingga bayi akan sering meminta menyusu. Apabila ASI sudah
banyak, bayi akan mengatur sendiri kapan ia ingin menyusu. Pada hari-
hari pertama menyusu dari satu payudara antara 5-10 menit dan boleh dari
kedua payudara karena ASI belum banyak. Setelah ASI banyak bayi perlu
mengosongkan salah satu payudara baru menyusu pada payudara lainnya.
Untuk penyusuan berikutnya mulai dari payudara yang belum kosong.
Pengosongan payudara setiap kali menyusui mempunyai tiga keuntungan :
a. Merupakan umpan balik untuk merangsang pembentukan ASI
kembali
b. Mencegah terjadinya bendungan ASI dan komplikasinya
Bayi mendapatkan komposisi yang lengkap (susu awal dan susu akhir).
9. Masalah dalam Pemberian ASI
a. Puting yang terbenam
Puting terbenam saat hamil bukan merupakan masalah karena
puting masih akan bertambah lentur setelah bayi lahir dan bayi tidak
menghisap dari puting tetapi dari areola. Puting terbenam setelah
kelahiran dapat dicoba ditarik menggunakan nipple puller beberapa
saat sebelum bayi disusui. Sebelum ASI keluar puting dan areola

29
dimasukkan ke dalam mulut bayi dan bayi akan dapat menarik puting
ke luar.
b. Puting lecet
Puting lecet biasanya terjadi karena perlekatan ibu-bayi sewaktu
menyusui tidak benar. Seringkali juga dapat disebabkan infeksi oleh
Candida. Pada keadaan puting susu lecet, maka dapat dilakukan :
1) Periksa apakah perlekatan ibu-bayi salah
2) Periksa apakah terdapat infeksi oleh Candida berupa kulit yang
merah, berkilat, dan terasa sakit
3) Ibu terus memberikan ASI apabila luka tidak begitu sakit. Kalau
sangat sakit ASI dapat diperah.
4) Olesi puting susu dengan ASI dan dibiarkan kering
5) Jangan mencuci daerah puting dan areola dengan sabun
c. Nyeri hebat pada payudara
Pada sebagian besar kasus masalah merupakan respons terhadap
perbaikan teknik menyusui dan kemungkinan disebabkan oleh
peningkatan tekanan dalam duktus akibat perpindahan ASI yang tidak
efisien. Meskipun hal ini bisa terjadi selama menyusui, biasanya
terjadi setelahnya sehingga dapat dibedakan dari sensasi let-down,
yang dirasakan oleh sebagian ibu sebagai nyeri yang mengambang.
Nyeri hebat pada peyudara sangat jarang diakibatkan oleh infesi
akibat peradangan pada duktus.
d. Mastitis
Mastitis adalah peradangan payudara yang disebabkan oleh stasis
dan infeksi yang terjadi biasanya pada masa nifas atau sampai 3
minggu setelah persalinan. Mastitis juga dipengaruhi oleh usia, paritas
dan riwayat mastitis sebelumnya (Tri Anasari dan Sumarni, 2014).
Mastitis umumnya mengakibatkan satu atau lebih bagian yang
berdekatan meradang karena akibat dipaksanya ASI masuk ke dalam
jaringan ikat payudara dan tampak daerah yang memisahkan antara
sisi yang memerah dan sisi yang membengkak.

30
Mastitis non-infeksi (intramamae akut) disebabkan oleh stasis ASI
yang terjadi selama beberapa hari pertama akibat pembengkakan
payudara yang belum membaik atau ketika teknik menyusui yang
tidak tepat berakibat pada ASI dari satu bagian atau lebih payudara
yang tidak disusukan ke bayi. Payudara yang sakit sangat dianjurkan
untuk tetap disusukan ke bayi karena jika tidak disusukan stasis akan
semakin berlanjut dan bakteri pathogen akan bereplikasi dan akan
terjadi abses. Mastitis dapat ditangani dengan memperbaiki teknik
menyusui dan membiarkan bayi menyelesaikan payudara pertama
dulu. Obat-obatan yang sebaiknyadiberikan untuk ibu yaitu antibiotic
(sefaleksin, flukloksasilin, atau eritromisin) secara profilaksis.
Mastitis infeksi/infeksi payudara superficial disebabkan oleh
kerusakan epitelium, yang menyebabkan bakteri dapat masuk ke
jaringan dibawahnya. Kerusakan tersebut akibat cara menyusui yang
kurang benar yang menyebabkan trauma puting. Tindakan yang perlu
dilakukan saat mastitis :
1) Kompres hangat
2) Masase pada punggung untuk merangsang pengeluaran
oksitosin agar ASI dapat menetes keluar
3) Pemberian antibiotika
4) Istirahat dan pemberian obat penghilang sakit kalau perlu
e. Abses payudara
Abses payudara disebabkan oleh pembengkakan fluktuatif di
daerah yang belum meradang. Nanah dapat keluar dari putting.
Payudara yang terinfeksi tidak boleh disusukan tetapi tetap harus
dikeluarkan ASI nya. Setelah memungkinkan untuk menyusui,
payudara segera disusukan agar menghindari kemungkinan abses
berikutnya.
f. Sumbatan pada duktus
Benjolan pada daerah payudara biasa terjadi. Ibu biasanya merasa
ada pembengkakan jaringan glandular. Daerah tersebut akan terasa

31
kaku dan nyeri (kadang kemerahan). Ini terjadi karena tidak
meratanya perpindahan ASI (akibat kurang optimalnya penempelan
bayi ke payudara) dan ASI yang dikeluarkan mencoba menempati
lebih banyak ruang daripada ruang yang tersedia sehingga
menyebabkan pembengkakan alveolus.
g. Bintik putih
Lubang duktus di ujung puting dapat tersumbat oleh granula putih
atau oleh epitelium yang tumbuh berlebihan. Granula putih muncul
disebabkan oleh agregasi dan penggabungan kumpulan molekul
kasein tempat ditambahkannya material lain. Benjolan keras ini dapat
menyumbat duktus ASI karena perlahan membuat jalan menuju
puting, yang dapat dipindahkan oleh bayi selama proses menyusu atau
pemerasan ASI secara manual.
Epithelial yang tumbuh berlebihan menjadi penyebab tersering
penghalang fisik. Lepuh berwarna putih terdapat di permukaan puting
dan secara efektif menutup satu dari beberapa titik keluar puting, yang
bermuara di satu atau lebih bagian penghasil ASI pada payudara.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan menyusui bayi. Setelah itu,
setelah bayi disusui d(dan kulit telah menghalus), bercak putih
tersebut dapat dihilangkan dengan kuku yang bersih, flannel kasar,
atau jarum steril.

32