Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

MODUL METABOLIK ENDOKRIN

Disusun oleh :
Frederick Putra Wijaya I1011161002

Rachel Dhea Ananda I1011161020

Dewi Sapitri I1011161032

Dhessy Susanto I1011161063

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2018
BAB 1

PENDAHULUAN

Sistem endokrin mengatur aktivitas yang lebih memerlukan durasi daripada kecepatan.
Kelenjar endokrin melepaskan hormon, yaitu caraka kimia melalui darah yang bekerja
pada sel target yang terletak pada jarak yang jauh dari kelenjar endokrin. Sebagian besar
aktivitas sel sasaran yang berada di bawah kontrol hormonal diarahkan untuk
mempertahankan homeostasis. Kelenjar endokrin sentral, yang terletak di dalam atau di
dekat dengan otak, mencakup hipotalamus, kelenjar hipofisis, dan kelenjar pineal.
Hipotalamus dan kelenjar hipofisis posterior bekerja sebagai unit untuk melepaskan
hormon yang penting dalam mempertahankan keseimbangan air, dalam persalinan, dan
dalam proses laktasi.
Hipotalamus juga menyekresi hormon regulatorik yang mengontror keluaran hormon
dari kelenjar hipofisis anterior, yang menyekresi enam hormon yang nantinya sangat
memegang kendali keluaran hormon dari beberapa kelenjar endokrin perifer. Salah satu
hormon hipofisis anterior, hormon pertumbuhan, memacu pertumbuhan dan
memengaruhi homeostasis nutrien. Kelenjar pineal menyekresi hormon yang penting
dalam mempertahankan irama biologis tubuh. Fotomikrograf kelenjar hipofisis dua-
dalam-satu. Dihubungkan oleh tangkai ke dasar otak dan diatur oleh hipotalamus,
kelenjar hipofisis yang berukuran sebesar kacang polong terdiri dari hipofisis posterior
(kanan) yang terdiri dari jaringan saraf dan melepaskan dua hormon, dan hipofisis
anterior (kiri) yang terdiri dari jaringan berkelenjar dan menyekresikan enam hormon.
Pengikatan suatu hormon ke reseptornya yang spesifik di sel sasaran memicu
serangkaian proses di dalam sel sasaran agar terjadi efek akhir hormon. Ingat kembali
bahwa cara-cara yang digunakan oleh hormon untuk menimbulkan efek fisiologiknya
bergantung pada apakah hormon bersifat hidrofilik (hormon peptida, katekolamin, dan
indolamin) atau lipofilik (hormon steroid dan tiroid). Hormon peptida, kategori kimiawi
hormon yang paling banyak, adalah rantal-rantai asam amino dengan panjang beragam.
Katekolamin, yang dihasilkan oleh medula adrenal, berasal dari asam amino tirosin.
Indolamin dihasilkan oleh kelenjar pineal dan berasal dari asam amino triptofan. Hormon
steroid, yang dihasilkan oleh korteks adrenal dan kelenjar endokrin reproduksi, adalah
lemak netral yang berasal dari kolesterol. Hormon tiroid, yang diproduksi oleh kelenjar
tiroid, adalah suatu turunan tirosin beriodium. Secara singkat, hormon hidrofilik setelah
berikatan dengan reseptor di membran permukaan akan bekerja melalui sistem caraka
kedua untuk mengubah aktivitas protein yang sudah ada, misalnya enzim, di dalam sel
sasaran, untuk menghasilkan respons fisiologis mereka.1
I. Physio Ex 9.0 Exercise 4 : Endocrinology
II. Kelembapan dan Suhu Ruang
A. Alat dan Bahan
1. Hygrometer
2. Psycometri Chart
3. Air

B. Cara kerja
1. Disiapkan alat Hygrometer, bagian thermometer wet diujungnya
dihubungkan dengan air.
2. Saat membaca Hygrometer diperhatikan nilai suhu yang tertera di
termometer “dry” dan “wet”
3. Dihitung selisih nilai suhu antara dry dan wet.
4. Hasil selisih kemudian dicocokan pada angka di “temperature difference”
yang ada di Hygrometer, kemudian dilihat nilai thermometer dry dengan
nilai selisih yang tertera pada “temperature difference” tegak lurus. Maka
didapat nilai kelembaban udara dalam persen.
5. Dilakukan juga pengukuran menggunakan Psycometri Chart dan
bandingkan hasil dengan “temperature difference”
6. Dicatat hasil praktikum

C. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil
Tabel Hasil Praktikum
Pengukuran Hasil
thermometer 31oC
dry
thermometer 28oC
wet
Nilai selisih 3oC
Temperature 80%
different
Psycometri 80%
Chart

2. Pembahasan
Indonesia mempunyai iklim tropis dengan karakteristik kelembaban udara
yang tinggi (dapat mencapai angka 80%), suhu udara relatif tinggi (dapat
mencapai hingga 35oC). 1
Hygrometer merupakan alat yang dipakai untuk menghitung presentase
uap air (embun) yang berada di udara, atau lebih mudahnya alat untuk
mengukur tingkat kelembaban udara. Hygrometer dapat menganalisis
kelembaban udara suatu tempat, baik di dalam maupun di luar ruangan. Hasil
dari pengukuran menggunakan higrometer berupa angka kelembaban udara
dalam persen (%) dan angka suhu kering (oC) suatu tempat. Hygrometer
merupakan pengembangan dari psikrometer. Psycrometer merupakan sebuah
higrometer sederhana. Psikometer berfungsi sebagai pengukur kelembaban
udara yang terdiri dari termometer bola kering dan basah.2
Praktikum ini dilakukan didalam sebuah ruangan. Berdasarkan hasil
pengukuran pada thermometer dry didapat nilai 31oC dan pada thermometer
wet 28oC. Maka selisih dari kedua angkat tersebut adalah 3oC. Nilai selisih ini
akan disesuaikan dengan themperature different. Berdasarkan cara kerja maka
didapat nilai kelembaban udara menggunakan hygrometer yaitu sebesar 80%.
Sedangkan berdasarkan pengukuran dengan bantuan Psycometri Chart hasil
menujukan nilai yang sama yaitu 80%.
Perlu diketahui berdasarkan penelitian yang dilakukan Kusniawati, dkk,
pada lingkungan kerja sebesar 63% karyawan menanggapi bahwa kondisi
kelembaban udara ruangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja
karyawan. Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara,
biasa dinyatakan dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau
dipengaruhi oleh temperatur udara, dan secara bersama-sama antara
temperatur, kelembaban, kecepatan udara bergerak, dan radiasi panas dari
udara tersebut akan mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat
menerima atau melepaskan panas dari tubuhnya.3
Praktikum ini juga menunjukan pengaruh kelembaban udara terhadap
proses perkuliahan di kelas. Dengan adanya lingkungan yang memadai
tentunya akan membuat mahasiswa betah dan dapat berkonsentrasi.
Daftar Pustaka

1. Hall, John E, and Arthur C. Guyton. Guyton and Hall Textbook of Medical
Physiology. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier, 2011.
2. Talarosha, B. Menciptakan kenyamanan thermal dalam bangunan. Jurnal Sistem
Teknik Industri, 2005; 6(3): 148-5
3. Suherman, D., Muryanto, S., dan Sulistyowati, E. Evaluasi Mikroklimat dalam
Kandang Menggunakan Tinggi Atap Kandang Berbeda yang Berkaitan dengan
Respon Fisiologis Sapi Bali Dewasa di Kecamatan XIV Koto Kabupaten
Mukomuko. Jurnal Sain Peternakan Indonesia, 2017; 12(4): 397-410.
4. Kusniawati, A., dan Herlina, R. Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Disiplin Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Gapuraning Rahayu Ciamis. Jurnal Ekonologi
Ilmu Manajemen, 2017: 1(1), 49-69.
Lampiran

Gambar 1. Psycometri Chart


Gambar 2. Hygrometer
Gambar 3. Temperature difference pada Hygrometer