Anda di halaman 1dari 24

Letak Geografis

Kalimantan Timur tidak hanya mendunia dengan wisata bahari-nya, namun wisata
budaya juga memiliki daya magis bagi wisatawan untuk menghabiskan waktu di salah satu
provinsi di Kalimantan ini. Wisata budaya yang belakangan menjadi sorotan publik adalah
budaya tarian adat suku Dayak yang berpusat di Desa Dayak Pampang Samarinda. Desa ini
sekian lama menjadi objek wisata terutama bagi mereka yang menyukai wisata budaya
sekaligus ingin mengenal seni daerah Suku Dayak
Tak berlebihan jika Desa Pampang termasuk destinasi budaya di Kalimantan Timur
yang menyimpan keunikan berbeda. Di desa ini wisatawan bisa menikmati tarian tradisional
khas Suku Dayak di rumah adat Lamin Adat Pamung Tawai. Rumah adat yang megah penuh
ukir-ukiran indah khas Dayak. Desa Pampang sendiri secara resmi menjadi desa budaya sejak
tahun 1991 dan diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur kala itu.

Samarinda sebagai ibukota provinsi Kalimantan Timur memiliki berbagai potensi


khas daerah baik dari sumber daya alam maupun manusianya. Salah satu potensinya yaitu
keberadaan suku Dayak sebagai masyarakat asli Kalimantan yang memiliki kekayaan dan
keanekaragaman budaya. Desa Pampang merupakan salah satu kampung yang dihuni oleh
masyarakat suku dayak Kenyah yang berada di kota Samarinda. Sejak tahun 1991, desa
Pampang telah diresmikan sebagai desa wisata budaya oleh Pemerintah Kota Samarinda
karena keberadaan suku Dayak Kenyah yang masih menjaga tradisi dan kebudayaan mereka.
Potensi masyarakat suku Dayak Kenyah desa Pampang antara lain karya seni dan
kegiatan kesenian baik dalam bentuk tarian, kerajinan tangan, anyaman, ukiran dan aktivitas
kebudayaan yang ditampilkan setiap minggu di Balai adat desa. Namun seiring
perkembangan jaman, dengan semakin dekatnya masyarakat desa dengan kehidupan
perkotaan mengakibatkan terjadinya modernisasi sehingga tradisi dan kebudayaan
masyarakat desa menjadi luntur. Karena itu, pengembangan desa
Pampang dapat diarahkan menuju ecomuseum budaya sehingga mampu melestarikan
kebudayaan dan memberdayakan masyarakat suku Dayak Kenyah desa Pampang sehingga
terjadi keberlanjutan dalam wisata budaya.

Lokasi proyek berada di kota Samarinda, sebagai ibukota Kalimantan Timur


perkembangan kota Samarinda selama ini hanya berpusat pada industri dan administrasi
pemerintahan. Dengan jumlah penduduk yang terbesar di pulau Kalimantan, Samarinda
berpotensi dikembangkan di berbagai bidang salah satunya pariwisata. Hal ini sejalan dengan
rencana pengembangan pemerintah yang akan menjadikan Samarinda sebagai pintu gerbang
Kalimantan Timur. Lokasi tapak berada di Samarinda utara dimana tapak berada diantara
desa Pampang dan akses menuju desa Pampang yang hanya dapat dicapai melalui 1 akses
jalan yaitu jalan Pampang sehingga lokasi ini dapat menjadi titik penghubung yang strategis
bagi pengunjung dari kota dan masyarakat desa Pampang.
Manurut Ohara (1998), Ecomuseum adalah aktivitas ekologi yang bertujuan untuk
mengembangkan sebuah kawasan menjadi sebuah museum yang hidup dimana dalam
ecomuseum terdapat 3 unsur yaitu perservasi kebudayaan dalam sebuah wilayah, pengelolaan
yang melibatkan masyarakat lokal, serta fungsi alam dan tradisi sebagai sebuah museum.
Ketiga unsur ini harus seimbang dan saling terintegrasi

Kondisi Sosial Budaya


Aset unggulan wisata Lokal
Cukup beralasan jika Desa Dayak Pampang Samarinda dinobatkan sebagai salah satu
aset unggulan wisata lokal, karena keberadaannya mampu menyedot wisatawan baik lokal
maupun asing. Secara administratif Desa Budaya Pampang ini terletak di Desa Pampang,
Kecamatan Samarinda Utara, Provinsi Kalimantan Timur.
Untuk menikmati keunikan budaya khas suku Dayak di Desa Pampang, wisatawan
harus menempuh perjalanan sejauh 23 kilometer dari pusat kota Samarinda. Perjalanan
sendiri harus melalui jalan poros Samarinda a�� Bontang. Letak Desa Pampang berada di
bagian kiri jalan poros sebelum Bandara Sungai Baru. Dari papan nama di pintu masuk
menuju kawasan Desa Dayak, wisatawan masih harus menempuh jarak kurang lebih 1
kilometer menuju lokasi.

Fungsi
Kesenian Tarian Adat Suku Dayak dan rumah Lamin Adat Pamung Tawai

Secara rutin setiap pekan masyarakat lokal Desa Pampang mengggelar pertunjukan
tarian adat Suku Dayak. Bagi wisatawan yang ingin menikmati sajian tarian adat tersebut bisa
datang hari Minggu atau sehari sebelumnya, karena pagelaran ini hanya digelar setiap hari
Minggu dari pukul 14.00 WITA s/d 15.00 WITA.
Tarian adat Suku Dayak ini digelar di rumah adat yang disebut Lamin Adat Pamung
Tawai. Rumah adat ini terbuat dari kayu Ulin dengan hiasan dan ukiran di hampir semua
bagian dindingnya. Hal ini terlihat jelas dari dinding utama (backdrop) dipenuhi ukiran
Dayak dengan warna hitam, putih, dan kuning yang dominan. Begitu juga dengan tiang
penyangga rumah yang berdiameter dua meter dihiasi ukiran indah. Pada bagian atap yang
terbuat dari kayu Sirap, terdapat ukiran kokoh di tengah dan sudut-sudutnya.

Keragaman Tarian Khas Suku Dayak


Budaya unggulan Desa Dayak Pampang Samarinda ini memang didominasi jenis
tarian adat. Tercatat beberapa jenis tarian yang dapat dinikmati para wisatawan tiap hari
Minggu, yaitu Tari Bangen Tawai, Hudoq, Kanjet Anyam Tali, Ajay Pilling, Kancet Lasan,
Nyalama Sakai, Kancet Punan Lettu, dan masih banyak lagi. Uniknya sebelum salah satu
tarian dimulai, pembawa acara akan menjelaskan makna dari tarian yang akan digelar.
Contohnya Tarian Kanjet Anyam Tali yang menggambarkan perbedaan suku, budaya,
bangsa, dan bahasa namun tetap satu. Semua tarian yang digelar di Desa Pampang ini
melibatkan seluruh masyarakat tua maupun muda.
Untuk bisa menyaksikan pagelaran budaya tarian adat di Desa Dayak Pampang
Samarinda ini pengunjung dikenakan biaya Rp15.000 per orang. Setelah menikmati sajian
tarian, para wisatawan dapat berfoto bersama penduduk asli setempat, tentunya dengan
mengenakan baju adat Suku Dayak. Umumnya untuk berfoto bersama penduduk asli
bertelinga panjang dikenakan biaya tambahan.
Rumah Lamin adalah rumah adat dari Kalimantan Timur. Rumah Lamin adalah
identitas masyarakat Dayak di Kalimantan Timur. Rumah Lamin mempunyai panjang sekitar
300 meter, lebar 15 meter, dan tinggi kurang lebih 3 meter. Rumah Lamin juga dikenal
sebagai rumah panggung yang panjang dari sambung menyambung. Rumah ini dapat
ditinggal oleh beberapa keluarga karena ukuran rumah yang cukup besar. Salah satu rumah
Lamin yang berada di Kalimantan Timur bahkan dihuni oleh 12 sampai 30 keluarga. Rumah
Lamin dapat menampung kurang lebih 100 orang. Pada tahun 1967, rumah Lamin diresmikan
oleh pemerintah Indonesia

Ciri khas
Rumah Lamin memiliki beberapa ciri khas yang umumnya dapat langsung
dikenali.[1] Pada badan rumah Lamin, banyak ditemukan ukiran-ukiran atau gambar yang
mempunyai makna bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur. Salah satu fungsi dari
ukiran-ukiran atau gambar pada tubuh rumah Lamin adalah untuk menjaga keluarga yang
hidup dalam rumah dari bahaya. Bahaya disini adalah ilmu-ilmu hitam yang umumnya ada di
masyarakat Dayak yang digunakan untuk mencelakai seseorang.
Rumah Lamin mempunyai warna khas yang dipakai untuk menghias badan
rumah. Warna khas itu adalah warna kuning dan hitam. Namun, tidak hanya dua warna itu
yang digunakan untuk menghias rumah Lamin. Setiap warna yang dipakai untuk menghias
rumah Lamin mempunyai makna. Warna kuning melambangkan kewibawaan, warna merah
melambangkan keberanian, warna biru melambangkan kesetiaan, dan warna putih
melambangkan kebersihan jiwa. Rumah Lamin dibuat dari kayu. Kayu yang digunakan untuk
membuat rumah Lamin adalah kayu Ulin. Kayu ini dikenal oleh masyarakat Dayak dengan
nama kayu besi. Konon, apabila kayu ulin terkena air maka kayu ini akan semakin keras. Hal
ini terbukti dari lamanya usia rumah Lamin yang dibuat dengan menggunakan kayu
ulin. Hanya saja, ada berbagai kesulitan untuk menemukan kayu ini di hutan. Halaman rumah
Lamin biasanya dipenuhi dengan patung-patung atau totem. Patung-patung atau totem ini
merupakan dewa-dewa yang dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai penjaga rumah dari
bahaya. Rumah Lamin terbagi atas tiga ruangan yaitu ruangan dapur, ruangan tidur, dan
ruang tamu. Ruang tidur terletak berderet dan umumnya dimiliki oleh masing-masing
keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut. Ruang tidur juga dibedakan antara ruang tidur
lelaki dan ruang tidur perempuan kecuali jika sang lelaki dan perempuan sudah
menikah. Ruang tamu umumnya digunakan untuk menerima tamu dan juga untuk
pertemuan adat. Ruang tamu adalah ruangan kosong yang panjang. Di sisi luar rumah Lamin,
ada sebuah tangga yang digunakan untuk masuk ke dalam. Tangga ini mempunyai bentuk
dan model yang sama baik pada rumah Lamin yang dihuni masyarakat Dayak kelas
menengah ke atas maupun masyarakat Dayak kelas menengah ke bawah. Di bagian bawa
rumah Lamin biasanya digunakan untuk memelihara ternak.

Bentuk dan Tata Ruang


Rumah Lamin berbentuk persegi panjang dan memiliki atap yang berbentuk
seperti pelana. Rumah ini mempunyai tinggi kurang lebih 3 meter dari tanah. Rumah Lamin
memiliki lebar kurang lebih 15-25 meter dan panjang 200-300 meter. Rumah Lamin
dibangun dengan beberapa tiang penyangga untuk menopang rumah. Tiang-tiang penyangga
rumah Lamin dibagi atas dua bagian. Tiang penyangga inti adalah tiang yang menyangga
atap rumah Lamin. Tiang penyangga lainnya adalah tiang yang menopang lantai-lantai rumah
lamin. Tiang-tiang ini berbentuk seperti tabung. Pintu masuk rumah Lamin dihubungkan
dengan beberapa tangga sebagai jalan masuk ke dalam rumah. Pada halaman depan rumah
Lamin terdapat patung-patung atau totem yang dibuat dari kayu. Pada bagian tengah rumah
ada sebuah tiang besar yang dibuat dari kayu yang berfungsi untuk mengikat ternak atau
hewan peliharaan. Bagian ujung atap rumah Lamin dihiasi dengan kepala Naga yang terbuat
dari kayu

Sebelum perubahan
Fungsi ruang yang terdapat di dalam rumah lamin adat lama dilakukan berdasarkan
pengelompokan status pernikahan dan perbedaan gender. Pengelompokan tersebut dilakukan
karena fungsi dari rumah itu sebagai tempat tinggal rumah para bangsawan.
Pengelompokan fungsi ruang, dan penggunaan ruang.

Munculnya ruang yang digunakan dan ditinjau dari status, dan perbedaan jenis
kelamin. Ruang di dalam satu rumah yang dapat dikelompokkan menjadi tiga fungsi,
dikelompokkan berdasarkan status pernikahan, perbedaan jenis kelamin dan kepentingan
ruangan yang digunakan, yaitu
1. Fungsi primer, sebuah ruangan yang dianggap penting digunakan para pemimpin
keluarga dalam memutuskan sebuah keputusan dalam kepemimpinan Suku Dayak
Kenyah, yaitu pagen sebuah ruang terbuka yang biasa disebut masyarakat luas adalah
teras.
2. Fungsi sekunder, ruangan yang lebih rendah kepentingannya dan digunakan sebagai
tempat berkumpulnya keluarga secara menyeluruh yang bertempat tinggal di dalam
rumah lamin adat, yaitu dalam amin sebuah ruang tertutup yang dapat dimasukin para
keluarga saja.
3. Fungsi tersier, sebuah ruang pelengkap dari fungsi yang lainnya, yaitu tilong (kamar).
Perbedaan fungsi ruang dapat dipengaruhi juga oleh kebutuhan dan penggunaan ruang
masing-masing didalam rumah lamin adat.

Perbedaan fungsi ruang.


Selain berfungsi sebagai rumah tinggal secara komunal yang terdiri dari dua belas
kepala keluarga, fungsi dari ruang rumah lamin adat digunakan sebagai ritual adat yang
dipercaya oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah, pemanfaatan ruang dalam, yang digunakan
sebagai ritual adat, yaitu
1. Upacara ritual adat kelahiran anak, ruang yang digunakan para wanita yang mau
melahirkan (dalam amin) akan dikumandangkan bunyi-bunyian dari gong dan
gendang yang terus dikumandangkan pada saat terdengar tangisan bayi yang baru saja
lahir yang dilakukan pada ruang pagen. Hal itu dilakukan bermaksud agar tidak
terdengar oleh binatang-binatang di dalam hutan, dikarenakan adanya pantangan.
Pantangan yang terjadi di dalam masyarakat Dayak Kenyah yang baru lahir ketika
suara tangisan terdengar oleh binatang maka anak yang baru lahir tersebut akan sial
sepanjang zaman.
2. Pemberian nama pada anak, Pemberian nama dilakukan oleh pui (nenek), uwih (ibu),
tu ampe (bibi perempuan) berasal di dalam lingkungan keluarga, sedangkan pihak
laki-laki ataupun amay (ayah)nya sendiri pantang memberikan nama.

Pemanfaatan ruang dalam, upacara adat kelahiran anak.

3. Upacara kematian Suku Dayak Kenyah, merupakan acara setangis. Para keluarga
menangis pelan-pelan dan mendendangkan syair pujian atas jasa mereka yang telah
meninggalkan keluarga. Mayat ditaruh dalam peti mati setelah dikremasi dalam tikat.
Di samping itu, para pemuda membuat tekalong (rumah-rumahan) sambil
mendengarkan petuah dari kepala suku. Upacara kematian tersebut dilakukan sebelum
penguburan. Tempat tinggal mereka, dan menggunakan ruang dalam amin dan pagen
untuk menunjang upacara kematian.
Pemanfaata ruang dalam, upacara adat kematian.

Penghubung ruang yang digunakan, adanya sebuah lubang pada dinding yang
digunakan untuk menunjang acara adat, dimaksudkan agar mereka yang dibatasi oleh gender
dalam penggunaan ruang dapat menyatu untuk menghormati upacara adat yang mereka
percaya.

Penghubung ruang dalam amin dan pagen serta peletakan peti mati, dalam upacara
adat kematian Dayak Kenyah.

Setelah perubahan
Fungsi ruang, rumah lamin adat saat ini sudah mengalami perubahan. Tidak lagi
menjadi sebuah rumah tempat tinggal kaum bangsawan melainkan menjadi rumah pentas
budaya. Fungsi rumah lamin yang sudah mengalami perubahan dan penggunaan dapat
menjadi rumah tinggal sementara para sanak keluarga yang datang dari tempat tinggal asal
mereka. Fungsi rumah lamin yang digunakan di dalam rumah juga mengalami pemisahan
ruang, sehingga terbentuk ruang dalam satu halaman yang berbeda fungsi. Hal tersebut
ditujukan agar, masyarakat luas dapat tetap mengetahui pekerjaan apa yang dilakukan pada
ruang yang dialih fungsikan sebagai tempat pagelaran budaya mereka. Selain itu terdapat
pula penambahan ruang akibat pengaruh modernisasi yang menjadi salah satu kebutuhan
yang menunjang kehidupan di dalamnya.

Fungsi rumah lamin adat setelah perubahan

Dalam rumah adat lamin yang sekarang, tidak adanya pengelompokan secara khusus
dikarenakan fungsi di dalam rumah sudah jauh berbeda dan adanya pengaruh dan campur
tangan dari pemerintah setempat. Tempat berlangsungnya kegiatan pentas budaya berada
pada ruang terbuka dari rumah lamin, yaitu pagen.

Fungsi rumah lamin adat setelah perubahan.


Di dalam bangunan utama rumah lamin adat setelah perubahan akibat modernisasi
terdapat pagelaran pentas budaya yang dilakukan di ruang pagen (Teras). Hal tersebut
dilakukan agar dapat menarik para wisatawan dan dapat menjadi tradisi budaya yang mereka
tanamkan sejak jaman nenek moyang.

Letak ruang ukir kayu dan ruang sulam manik.

Peletakan ruang sebelum dan sesudah perubahan, terdapat pengaruh dari peletakan
ruang pada rumah lamin adat. Pengaruh dari peletakan ruang berdasarkan keputusan adat,
yang mengandung makna dan arti tersendiri.

Orientasi bangunan
Orientasi bangunan lamin adat, dapat mempengaruhi pola tata letak ruang dalam. Hal
tersebut dikarenakan arah peletakan ruang dalam mempunyai kesakralan tersendiri yang
dipunya oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah. Setiap ruang alur sirkulasi berupa koridor
yang dapat menembus ruang di antara aktivitas area tempat duduk, dan berlanjut ke area
makan serta ke luar melalui pintu ruang servis menuju dapur pada bangunan
[Widayati, 2014]

Orientasi yang mempunyai arti sendiri, yaitu


1. Utara yang berarti Hulu sungai yang merupakan ”HULU” artinya orang yang berasal
dari Hulu Mahakam yang berarti Dayak.
2. Timur yang merupakan gejala alam tempat arah terbitnya matahari biasa digunakan
masyarakat Dayak untuk menjadi patokan tampak depan rumah mereka para
bangsawan dan menjadi patokan yang menandakan mereka yang sudah pergi Ke
Tuhan mereka (meninggal)
3. Selatan yang artinya Hilir sungai merupakan arah orientasi yang berada di daerah
paling atas dari air merupakan tempat tinggal masyarakat Dayak Kenyah yang sudah
melakukan perkawinan antar suku dan sedang mempunyai penyakit yang menular.
4. Barat merupakan arah terbenamnya matahari yang digunakan sebagai patokan
tampak depan rumah para masyarakat biasa Dayak Kenyah dan menjadi patokan
orang yang sudah meninggal.

Peletakan keempat penjuru mata angin dilakukan para tetua yang mempunyai
kepercayaan yang kuat dilakukan para tetua terhadap hal yang gaib.
Zonasi dan hirarki ruang
Zonasi ruang pada ruang lamin adat sebelum perubahan merupakan ruang dengan
tingkat keprivasian yang sangat tinggi dah hanya pihak keluarga saja yang dapat
mencapainya.

Letak ruang ukir kayu dan ruang sulam manik

Tingkatan keprivasian sesusai zonasi ruang yang terdapat dirumah lamin adat
tergantung aktifitas yang terjadi pada pelaku ruang di dalam rumah lamin adat. Perbedaan
aktivitas ritual adat membuat sebuah ruang di dalam rumah lamin adat menjadi ruang yang
cukup meluas lingkupnya. Ento uma (Ruang kolong).
Berdasarkan pengelompokan ruang, fungsi ruang, dan penggunaan ruang, sebelum
perubahan dan setelah perubahan terdapat ruang yang digunakan masih sama seperti dahulu
kala. Ruang tersebut merupakan ruang bawah atau kolong rumah pada rumah panggung.
Rumah panggung pada masyarakat suku Dayak Kenyah tidak berfungsi sebagi ruang
berlangsungnya aktifitas, tetapi sebagai tempat penyimpanan kayu ulin yang digunakan untuk
perapian, pengukiran, dan memperbaiki rumah. Digunakan sebagai tempat penyimpanan peti
mati, yang sudah disediakan sebelum mereka meninggal dunia.
Ruang Kolong atau mereka sebut dengan nama ento uma, merupakan ruang yang
dihuni oleh roh jahat atau bali tana, sehingga mereka tidak menggunakan ruang tersebut
untuk beraktifitas sesuai kepercayaan mereka. [Conley, 1973]
Ruang kolong atau ento uma.

Ruang kolong atau ento uma tidak mempunyai arti dan makna tersendiri dikarenakan
tidak adanya aktifitas yang melainkan hanya untuk penyimpanan peti mati dan kayu ulin.

Penyimpanan Kayu Ulin dan Peti Mati pada Ento Uma

Pola ruang kolong atau Ento Uma yang digunakan sebagai tempat penyimpanan dan terdapat ukiran
patung di depan rumah.
Ornamen dan Langgam

Pada bagian dinding ini mengisahkan tentang silsilah orang dayak dalam bentuk
ukiran, dimana seorang raja yang memimpin dan menjaga setiap kepala sub suku dayak yang
digambarkan dalam bentuk patung manusia di bagian tengah. Terdapat guci yang terletak
tepat dibawah kaki patung manusia yang mengumpulkan semua kepala suku dan gong pada
bagian atasnya sebagai penutup agar tidak tercerai berai. Sedangkan tiap kepala suku ini
digambarkan dalam bentuk bulatan putih yang dihubungkan dengan garis lengkung yang
sambung menyambung dan saling terikat.

Unsur Tangible Salah satu ciri khas dari desa Pampang adalah ornamentasi khas suku
Dayak Kenyah yang membedakan desa ini dengan desa-desa yang lainnya sehingga
ornamentasi ini menjadi elemen pembentuk suasana khas desa Pampang yang menjadi unsur
Heritage yang dipertahankan oleh masyarakat suku Dayak Kenyah dari kebudayaannya.
Ornamentasi ini biasanya terdapat pada bubungan atap, dinding, kolom, dan lain-lain.
Bangunan umum memiliki lebih banyak ornamentasi dibandingkan bangunan rumah tinggal.

Ornament dinding
Pilar dengan ornamen manusia dan garis-garis lengkung

Tangga lamin dengan ukiran berbentuk manusia dan buaya.

Ornamen yang terdapat pada lamin adat suku Dayak Kenyah di desa Pampang
memiliki beberapa bentuk dasar yaitu bentuk hewan, seperti buaya, harimau atau singa,
burung enggang, bentuk manusia, garis lengkung dan lingkaran, gong dan guci.

Penampilan Ruang
Penampilan ruang yang menunjang terjadinya perubahan, terdapatnya elemen
pembentuk ruang yang terdapat di ruang Pagen atau teras. Ruang yang dihiasi dengan
ornament budaya yang memiliki makna tersendiri dari pembuatannya. Ukiran di dalam ruang
Pagen Lamin adat tedapat bentuk yang berbentuk manusia, fauna (burung enggang, macan,
dan naga) dan flora (daun paku). Makna dari setiap bentuk ukiran tersebut, yaitu

1. Bentuk hewan, seperti buaya, harimau atau singa, burung enggang


2. Bentuk manusia
3. Garis lengkung dan lingkaran
4. Gong
5. Guci

Ukiran Dayak Kenyah menjadi Dominasi dari tampilan ruamh lamin adat dan secara
visual makna simbolki dari aspek warna, peletakan ukiran merupakan wujud dari sebuah nilai
kebersamaan di dalam rumah lamin dan menjadi sebuah satu kesatuan dari Suku Dayak
Kenyah, [Widayati, 2014]. Elemen pembentuk ruang tersebut adalah dinding, kolom dan
konsol.

Elemen pembentuk ruang.

Dengan adanya elemen pembentuk ruang, kebutuhan manusia akan identitas diri,
kenyamanan dan rasa aman, serta terdapatnya hubungan yang berkaitan langsung dengan
manusia dan ruang teritorialnya, [Wilson, 1971]

Burung Enggang

Gambar detail burung enggang

Keberadaan ornamen burung enggang merepresentasikan dan memiliki kemiripan


dengan suatu objek. Burung enggang termasuk dalam benda fisik tiga dimensi yang
menyerupai apa yang direpresentasikannya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ornamen burung
enggang dapat digolongkan kedalam sebuah ikon.
Dari segi mitos dan kepercayaannya burung enggang dianggap sebagai dewa atau
hewan suci. Indeks mengacu pada kenyataan hubungan alamiah yang bersifat kausal, sebab
akibat. Melalui pengertian ini, keberadaan ornamen burung enggang dapat digolongkan ke
dalam indeks.

Pemaknaan Denotasi

Burung enggang sendiri merupakan suatu tanda yang identik dengan Kalimantan,
karena burung enggang merupakan salah satu burung endemi yang ditemukan di Kalimantan.
Dengan demikian, burung enggang pada sebuah ornamen memiliki makna burung enggang
merupakan lambang dari Kalimantan.

Pemaknaan Konotasi

Makna yang ingin disampaikan melalui ornamen burung enggang ialah sebagai
pemersatu, tidak hanya suku Kenyah saja, tetapi juga bagi suku-suku dayak yang lain.
Anggapan ini timbul dari sifat burung enggang yang walaupun dari segi fisiknya termasuk
besar namun rendah hati, setia dan berani. Melalui lambang burung enggang ini masyarakat
dayakdiharapkan memiliki sikap yang berani,setia dan rendah hati.

Aspek sosial

Bentuk burung enggang dalam ornamen digunakan sebagai pengingat bahwa


persatuan antar masyarakat dayak merupakan hal yang penting terutama disaat semakin
banyaknya suku- suku pendatang dan pengaruh-pengaruh yang dibawanya, sebagai pengingat
bahwa mereka harus juga dapat mempertahankan tradisi dan ciri khasnya ditengah banyaknya
pengaruh-pengaruh dari luar.

Buaya

Gambar detail ornamen buaya

Ornamen Buaya merepresentasikan dan memiliki kemiripan dengan suatu objek.


Dapat ditarik kesimpulan bahwa ornamen Buaya dapat digolongkan kedalam sebuah ikon.
Masyarakat dayak Kenyah beranggapan bahwa buaya merupakan salah satu binatang melata
yang melambangkan dunia bawah. Motif buaya memiliki nilai magis dan dipercaya sebagai
penjelmaan dewa atau roh nenek moyang. Keberadaan ornamen buaya dalam masyarakat
dayak Kenyah menjadi simbol dunia bawah, air, kesuburan, dan kesaktian. (Sunaryo, 103)
Ornamen buaya ini mengajarkan keahlian baik berburu maupun berperang pada masa lalu.

Pemaknaan Denotasi

Makna yang diwujudkan melalui keberadaan ornamen buaya adalah kekuatan dan
kelihaian. Buaya sendiri merupakan salah satu hewan yang banyak terdapat di hutan hujan
tropis yang memiliki banyak sungai seperti Kalimantan.

Pemaknaan Konotasi

Makna yang ingin disampaikan melalui ornamen buaya ialah mencerminkan


kekuatan, magis, kesaktian, air, dan kesuburan. Masyarakat dayak Kenyah sebagian masih
percaya pada hal- hal yang bersifat magis dan supranatural, sehingga buaya merupakan salah
satu hewan penting dalam kebudayaan mereka.

Aspek sosial

Bentuk buaya dalam ornamen digunakan sebagai lambang kekuatan dan kesaktian,
pengingat bahwa dalam situasi sulit sekalipun harus tetap kuat disaat semakin banyaknya
suku- suku pendatang dan pengaruh-pengaruh yang dibawanya, dibutuhkan suatu sikap
bahwa mereka harus juga dapat mempertahankan tradisi dan ciri khasnya ditengah banyaknya
pengaruh-pengaruh dari luar.

Harimau

Motif harimau merepresentasikan dan memiliki kemiripan dengan suatu objek.


harimau termasuk dalam benda fisik tiga dimensi yang menyerupai apa yang
direpresentasikannya.

Dari segi mitos dan kepercayaannya harimau dianggap sebagai hewan suci. Indeks
mengacu pada kenyataan hubungan alamiah yang bersifat kausal. Melalui pengertian ini,
ornamen harimau dapat digolongkan ke dalam indeks. Sebagai motif perlamangan, binatang
darat memiliki makna kekuatan, kepahlawanan, keberanian, kesucian, dan penolak yang
jahat. (Sunaryo, 122)

Simbol merupakan tanda yang ditentukan oleh suatu aturan yang berlaku umum, dan
merupakan kesepakatan bersama atau konvensi (perjanjian). Ornamen harimau dalam
masyarakat dayak Kenyah menjadi simbol kepemimpinan, kekuatan, kepahlawanan,
keberanian, kendaraan roh/dewa, kesucian, dan penolak bala yang dapat melindungi
masyarakat dayak Kenyah

Pemaknaan Denotasi

Makna yang diwujudkan melalui keberadaan ornamen harimau adalah kekuatan,


keberanian, dan kegesitan. Merupakan lambang kebangsawanan atau status sosial seseorang
dalam masyarakat dayak Kenyah. Harimau sendiri merupakan predator utama yang berada
dipuncak rantai makanan di darat.

Pemaknaan Konotasi

Makna yang ingin disampaikan melalui ornamen harimau ialah kewibawaan,


kekuatan, kepahlawanan dan kekuasaan yang dimiliki pemimpin suku dan kaum
bangsawaannya sebagai pelindung bagi desanya. Hal ini dapat dilihat dari segi fisiknya yang
kuat. Ini mencerminkan bahwa pemimpin haruslah mampu menjaga masyarakatnya.

Aspek sosial

Harimau dari sudut pandang masyarakat dayak Kenyah merupakan sebuah lambang
kebangsawanan seseorang. Motif yang hanya boleh digunakan oleh raja dan kaum
bangsawannya.

Manusia
Penggambaran sosok manusia dilambangkan sebagai sosok nenek moyang dan simbol
kekuatan gaib penolak bala. Ornamen manusia merepresentasikan dan memiliki kemiripan
dengan suatu objek. Sehingga dapat digolongkan ke dalam ikon.
Motif manusia ini sebagai pengingat akan nenek moyang dan dianggap dapat menjaga
mereka dari kemalangan ataukejahatan orang lain. Masyarakat Dayak Kenyah masih ada
yang percaya terhadap hal-hal gaib. Sehingga pada lamin banyak terdapat patung ataupun
ukiran yang berbentuk manusia. Melalui pengertian ini, keberadaan ornamen manusia dapat
digolongkan ke dalam indeks.
Keberadaan ornamen manusia dalam masyarakat Dayak Kenyah menjadi simbol raja
dan nenek moyang yang dapat melindungi dari roh jahat. Berkaitan dengan pemujaan leluhur
dan persembahan.

Pemaknaan Denotasi

Manusia menjadi lambang individu yang dapat terus menjalankan tradisi dari nenek
moyang, yang melanjutkan keberadaan suku, masadepan suku. Manusia juga diartikan
sebagai lambang raja yang menjadi panutan masyarakatnya.

Pemaknaan Konotasi

Makna yang ingin disampaikan melalui ornamen manusia ialah sebagai pelindung dan
penolak bala, karena dipercaya merupakan perwujudan dari nenek moyang yang selalu
menjaga mereka.

Aspek sosial

Bentuk manusia dalam ornamen digunakan sebagai pengingat bahwa persatuan antar
masyarakat dayak merupakan hal yang penting dan utama, karena setiap inidividunya
memiliki peran dalam masa depan suku.
Garis Lengkung dan Bentuk Lingkaran

Garis lengkung dan lingkaran merupakan bentukan dasar yang sering dijumpai dalam
ukiran suku dayak. Ornamen lengkung dan lingkaran tidak merepresentasikan dan memiliki
kemiripan dengan suatu objek, sehingga tidak dapat digolongkan sebagai ikon. Garis
lengkung dan lingkaran mengambil motif dasar tumbuhan yang distilasi sedemikian rupa
sehingga tidak menyerupai bentuk aslinya. Garis lengkung dan lingkaran merupakan
representasi dari bentuk tumbuhan. Bentukannya mirip dengan tanaman pakis yang daun
mudanya melengkung dan berbentuk spiral. Ornamen garis lengkung dan lingkaran dapat
digolongkan ke dalam indeks. Indeks yang terwujud ialah bahwa keberadaan garis lengkung
dan lingkaran dalam ornamen merupakan sebuah representasi dari lingkungan hidupnya.
Dalam masyarakat Dayak Kenyah merupakan simbol keturunan masyarakat dayak yang tidak
putus-putusnya yang dapat mempersatukan masyarakat dayak dan melambangkan tiap-tiap
kepala suku dan sub suku dayak yang ada di Kalimantan. Ornamen garis lengkung dan
lingkaran ini mengajarkan tentang persaudaraan.

Pemaknaan Denotasi

Makna yang diwujudkan melalui keberadaan ornamen garis lengkung dan lingkaran
adalah lambang persatuan seluruh masyarakat dayak yang ada di Kalimantan sebagai suatu
yang harus dipertahankan. Garis lengkung berbentuk seperti sulur dan pakis-pakisan yang
banyak tumbuh di hutan Kalimantan.

Pemaknaan Konotasi

Makna yang ingin disampaikan melalui ornamen garis lengkung dan lingkaran ialah
sebagai perlambangan dari seluruh kepala suku dayak yang saling berkait, terjalin satu
dengan yang lain dengan garis yang saling menyambung.

Aspek sosial

Garis lengkung dan bentuk lingkaran sebagai lambang dari keturunan dan tiap kepala
suku dayak yang ada di Kalimantan. Bentuk lengkung dan lingkaran dalam ornamen
digunakan sebagai lambang persatuan antar masyarakat dayak.
Guci dan Gong

Ornamen guci dan gong merepresentasikan dan memiliki kemiripan dengan suatu
objek. ornamen Guci dan Gong dapat digolongkan kedalam sebuah ikon. Masyarakat Dayak
Kenyah beranggapan bahwa guci dan gong merupakan harta berharga karena merupakan
benda warisan dari zaman nenek moyang. Guci dan gong dapat digolongkan ke dalam indeks.
Guci dan Gong merupakan sebuah harta berharga terutama gong karena tidak semua orang
memiliki, dan guci biasanya digunakan untuk pembayaran denda adat jika melanggar aturan.
Ornamen guci dan gong dalam masyarakat dayak Kenyah menjadi simbol kekayaan yang
dapat digunakan sebagai alat pembayaran.
Denotasinya ialah sebagai suatu bentuk penghargaan terhadap benda-benda
peninggalan nenek moyang. Serta sebagai pembayaran denda adat bagi masyarakat Dayak
Kenyah. Guci dan gong sendiri merupakan suatu tanda yang identik dengan nenek moyang
suku dayak yang berasal dari dataran Cina yang bermigrasi pada masa lalu ke pulau
Kalimantan, dan termasuk dalam golongan Proto Melayu.
Konotasinya ialah sebagai kenangan terhadap nenek moyang dan merupakan hal yang
berharga. Digunakan sebagai pelindung dari kekuata-kekuatan jahat.
Aspek sosialnya ialah sebagai pengingat bahwa asal nenek moyang suku dayak yang
berasal dari Yunan, Cina. Benda-benda ini di bawa nenek moyang suku dayak dalam
perjalanan migrasi ke Kalimantan.

Faktor pembeda
Faktor modernisasi menyebabkan pertentangan kehidupan tradisional dan modernisasi
yang meliputi: Perubahan tata nilai dalam masyarakat; Perubahan pola piker kehidupan
masyrakat; Kebutuhan dasar manusia; Gaya hidup dalam konsep pembangunan ekonomi; dan
budaya [Wahyu, 2005]
Penambahan ruang dari pergantian fungsi ruang.

Struktur dan Konstruksi


Sebelum pembuatan lamin dimulai, terlebih dahulu kepala kampung, kepala adat dan
para orang tua memilih dua orang warga untuk mencari lasan palaki (lahan tempat
didirikannya lamin), yaitu sebidang tanah yang subur, kering dan biasanya menghadap ke
sungai. Untuk menentukan lahan yang tepat, dua orang yang telah ditugaskan tersebut
menunggu pertanda dari roh nenek moyang melalui perantara burung elang.

Setelah mendapatkan lasan palaki, dipilih beberapa orang lagi untuk menentukan
waktu pembangunan lamin. Orang-orang ini akan melihat pertanda dari matahari dan bulan.
Pada masa-masa tersebut, orang-orang ini harus berpuasa dengan tidak memakan apapun
kecuali nasi, tidak berkumpul dengan istri, tidak bepergian jauh, hanya mengenakan pakaian
putih dan rambut digundul. Hal ini berlangsung beberapa hari sampai datangnya pertanda.

Pada hari pertama dari waktu yang telah ditentukan, dilakukan persembahan sesajen
kepada para roh nenek moyang berupa beberapa ekor ayam dan telur ayam mentah. Hal ini
dilakukan agar mendapat restu dari roh nenek moyang. Pertanda baik akan didapatkan jika
ada burung elang yang datang tepat diatas lasan palaki, berputar di udara sebanyak delapan
kali dan meninggalkan tempat tersebut menuju ke suatu arah dengan tidak berbelok.

Sebelum memulai pembangunan lamin, terlebih dahulu diadakan sebuah upacara adat
dengan sesajen berupa puluhan ternak seperti ayam, babi dan kerbau untuk berpesta pora.
Setelah upacara selesai, baru pembangunan lamin dimulai. Adapun komponen lamin adalah :

1. Tiang bawah
Sukaq adalah tiang bawah (tiang utama) yang berfungsi sebagai pondasi
bangunan lamin. Sukaq dibuat dari kayu ulin (kayu besi) berdiameter ó - 1 m dan
panjang 6 m, dipancang ditanah dengan kedalaman 2 m dan berjarak 4 m antar tiang
satu dengan tiang yang lain.
2. Tangga
Lamin mempunyai beberapa buah can (tangga) yang dibuat dari batang pohon
berdiameter 30 - 40 cm. Tangga ini bisa dibalik atau kalau perlu dinaikkan dan
diturunkan

3. Lantai
Asoq (lantai lamin) terdiri dari tiga bagian, yaitu usoq (serambi), bilik (kamar tidur)
dan jayung (dapur). Asoq tersusun atas 4 lapisan, yaitu merurat (gelagar pertama),
matuukng (gelagar kedua), lala (lantai bagian bawah) dan diatas lala dipasang lantai
yang sebenarnya. Asoq terbuat dari jejeran kayu meranti yang di buat papan dengan
ukuran 1x10 m.
4. Dinding dan Tiang Atas
Dinding lamin terbuat dari jejeran papan berbahan kayu meranti. Dinding inilah yang
akan membentuk peruntukan ruang pada lamin. Dinding bagian luar dilapisi dengan
ornament-ornament ukiran khas suku Dayak. Sedangkan tiang atas dibuat dari batang
pohon belengkanai berdiameter 0,5 m. Fungsi utama tiang-tiang atas adalah untuk
menyangga atap pada bagian usoq (serambi) karena tidak berdinding. Tiang-tiang atas
juga berfungsi sebagai hiasan karena dipahat menjadi patung-patung dengan berbagai
bentuk, pada umumnya berbentuk wajah manusia dan binatang.

5. Atap
Kepang (Atap), terbuat dari jejeran kepingan kayu keras berukuran 70 x 40 cm. Setiap
lembaran kayu tersebut diberi lubang sebagai tempat pengikat, kemudian disusun
dengan teratur, sehingga bagian tepi lembar yang satu menutupi tepi lembar yang
lainnya. Bagian puncak atap ditutup dengan kulit kayu keras yang diikat sedemikian
rupa sehingga cukup kuat untuk menahan terpaan angin. Pada bagian ujung-ujung
atap dipasang hiasan berupa kayu les yang sudah diukir dan mencuat sampai 2 m.

Ukuran sebuah lamin bervariasi menyesuaikan kebutuhan. Panjangnya berkisar antara 100 -
200 m dan lebarnya antara 20 – 25 meter, serta dapat menampung 60 keluarga. Secara umum
pembagian ruang pada lamin adalah sebagai berikut :

Usoq yang panjang dapat menampung ratusan tamu, ditempat inilah diadakan
beberapa upacara atau ritual adat yang diselenggarakan secara gotong royong. Namun jika
usoq sudah tidak mampu menampung, maka upacara tersebut diadakan di
halaman/pekarangan. Halaman lamin yang luas juga menjadi tempat bermain anak-anak
setiap hari. Selain itu, di pojok-pojok halaman menjadi tempat peletakan patung-patung
persembahan nenek moyang berukuran besar berdiameter ó - 1 m dan tingginya 3 - 4 m.
Wajah-wajah patung tersebut bervariasi, diantaranya berupa sosok hantu-hantu yang
mengerikan, sosok wajah wanita cantik, sosok manusia jadi-jadian dan lain-lain. Halaman
bagian samping sampai belakang lamin berfungsi sebagai kebun, dengan ditumbuhi
bermacam-macam pohon sayur-sayuran dan buah-buahan.

Sumber : Taman Budaya Kalimantan Timur, 1976