Anda di halaman 1dari 5

KETERKAITAN INDIKATOR BOD, DO, N2, DAN O2

Salah satu kriteria kualitas air adalah derajat keasaman (pH). Pada dasarnya, air yang
baik adalah air yang tidak tercemar. Dalam kodisi demikian, berarti air bersifat netral,
sedangkan apabila di dalam perairan terdapat zat pencemar, sifat air dapat berubah menjadi
asam atau basa.
Menurut Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep-03/MNKLH/II/1991, 1
Februari 1991 ditetapkan bahwa air limbah pabrik boleh dibuang ke sungai atau lingkungan
jika pH air limbah tersebut berkisar 6 sampai 9. Sedangkan menurut Surat Keputusan
Gubernur Jawa Tengah No. KS.48 / 1978 tanggal 10 November 1978, ditetapkan bahwa pH
air limbah yang diperbolehkan adalah 6,5 – 8,5. Beberapa sifat fisis yang disyaratkan antara
lain air tidak berwarna, tidak berbau, dan mempunyai temperatur 10oC lebih rendah atau
lebih tinggi dari temperatur sungai (badan air).
pH merupakan kriteria kualitas kimia. Selain kualitas kimia, kualitas fisik dan biologi
juga menjadi kriteria kualitas air. Kualitas fisik meliputi warna, suhu, dan kekeruhan,
sedangkan kualitas biologis menyangkut keberadaan lumut, mikroorganisme patogen, dan
sejenisnya. Kualitas kimia selain pH meliputi pula kadar oksigen terlarut atau Dissolved
Oxygen (DO), kadar limbah organik yang diukur dari banyaknya oksigen yang diperlukan
untuk mendegradasi (memecah) sampah organik yang dikenal dengan istilah Biological
Oxygen Demand(BOD), dan kadar limbah anorganik yang diukur dari banyaknya oksigen
yang diperlukan untuk memecah limbah anorganik yang dikenal sebagai angka Chemical
Oxygen Demand (COD).
Apabila di dalam perairan banyak mengandung sampah organik, jumlah oksigen yang
diperlukan oleh mikroorganisme untuk memecah sampah tersebut akan besar, dan ini berarti
angka BOD-nya tinggi. Angka BOD tinggi berarti angka DO rendah. Dengan banyak oksigen
yang digunakan untuk memecah sampah maka kadar oksigen yang terlarut dalam air akan
menurun, demikian pula untuk angka COD.
Perairan yang mempunyai BOD tinggi umumnya akan menimbulkan bau tidak sedap,
sebab apabila BOD tinggi berarti DO rendah dan berarti pula pemecahan sampah organik
akan berlangsung anaerob (tanpa oksigen).Proses anaerob merupakan pecahan sampah
(oksidasi) yang tidak menggunakan oksigen sehingga akan dihasilkan senyawa-senyawa
NH3, H2S, CH4 yang berbau tidak sedap. Tingginya BOD dan COD serta rendahnya DO
menyebabkan hewan-hewan dan tumbuhan air tidak dapat berkembang dengan baik dan
bahkan mati.

pH
Air murni pada keadaan normal memiliki pH = 7. Air yang ada di alam pada umumnya
memiliki pH antara 6,5 – 8,0. Di luar daerah tersebut dapat dipastikan air tersebut telah
tercemar. Air minum yang baik memiliki pH= 7,06 . Air dengan derajat keasaman rendah
bersifat korosif dan tidak baik untuk pertanian dan kesehatan.

Nilai pH pada banyak perairan alami berkisar antara 4 – 9, kehadiran CO2 dan sifat basa
yang kuat dari ion natrium, kalium dan kalsium dalam air laut cenderung mengubah keadaan
ini, sehingga air laut sedikit lebih basa berkisar antara 7,5 – 8,4. sistem karbondioksida –
asam karbonat – bikarbonat berfungsi sebagai buffer yang dapat mempertahankan pH air laut
dalam suatu kisaran yang sempit. pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena
mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat
membunuh hewan budidaya. Pada pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang,
sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernafasan menurun, aktifitas
pernafasan naik dan selera makan akan berkurang, hal sebaliknya terjadi pada suasana basa.
Disolved Oxygen (DO) / Oksigen terlarut
Oksigen yang terlarut dalam air sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup
makhluk hidup air. Agar ikan dapat hidup, dalam air harus mengandung sedikitnya 5 ppm
oksigen. Kurangnya kadar oksigen dalam air disebabkan oleh bakteri, protozoa, cacing, dan
pencemaran detergen. Jika keberadaan oksigen menipis, maka banyak makhluk hidup dalam
air mati dan menyebabkan pergeseran kehidupan air dari aerobik menjadi anaerobik, karena
kehidupan mikroorganisme aerobik diganti oleh mikroorganisme anaerobik. Hasil penguraian
zat – zat organik oleh mimkroorgaanisme anaerobik adalah gas yang berbau dan beracun,
misalnya H2S, CH4, dan NH3.
Kelarutan oksigen ke dalam air terutama dipengaruhi oleh faktor suhu. Kelarutan gas
oksigen pada suhu rendah relative lebih tinggi. Hubungan antara suhu dengan kelarutan
oksigen dalam air dapat pada tabel dibawah ini.

Kelarutan oksigen tersebut diatas berlaku untuk air tawar, sedangkan kelarutan oksigen
pada air laut relatif lebih rendah 1–5 ppm dari angka tersebut di atas karena pengaruh
salinitas (kadar garam). Kadar garam ini mempengaruhi kelarutan gas-gas air. Kelarutan
oksigen ini sangat penting karena menentukan jumlah (kadar) oksigen terlarut dalam air.
Besarnya kandungan oksigen di dalam air pada suatu perairan sangat menentukan kehidupan
organisme air. Batas-batas toleransi organisme terhadap kadar oksigen tergantung pada jenis
organisme tersebut dalam air. Secara umum batas minimum kadar oksigen yang mendukung
kehidupan organisme akuatik adalah 3-5 ppm.

Karbondioksida bebas (CO2)


Karbondioksida yang terdapat di dalam air dapat diperoleh dari:
 Difusi dari atmosfer secara langsung
 Air tanah yang melewati tanah organik
 Air hujan, air hujan yang jatuh ke permukaan bumi secara teoritis memiliki kandungan
karbondioksida sebesar 0,55 – 0,6 mg/l
 Hasil penguraian bahan organik di dasar perairan
 Dari hasil proses pernafasan (respirasi) hewan dan tumbuhan air,
 Hasil proses pemecahan/ penguraian senyawa-senyawa kimia.
Sebagaimana dengan faktorkimia lainnya, kelarutan karbondioksida ini dipengaruhi oleh
faktor suhu, pH dan senyawa karbondioksida. Kelarutan karbondioksida dalam air dapat
dilihat pada Tabel di bawah ini.
Pengaruh suhu terhadap kelarutan karbon dioksida di perairan alami Suhu (oC)

Pengaruh karbondioksida terhadap kehidupan organisme air dapat secara langsung


(proses respirasi) maupun tidak langsung (proses fotosintesis). Secara umum pengaruh
karbondioksida terhadap organisme air adalah sebagai berikut:
a) Pada kisaran 15 ppm akan mempengaruhi kehidupan ikan (organisme akuatik) karena
merupakan racun bagi organisme tersebut.
b) Dibutuhkan oleh tanaman berhijau daun (berklorofil) untuk proses fotosintesis.
c) Dapat mempertahankan kestabilan pH dalam air, terutama dalam bentuk senyawa
karbonat/ bikarbonat. Hal tersebut, berarti dapat mempertahankan kondisi lingkungan
perairan yang stabil untuk mendukung kehidupan organisme.

Biological Oxygen Demand (BOD) / Kebutuhan Oksigen Biologis


Biological Oxygen Demand (BOD) menunjukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
bakteri untuk menguraikan (mengoksidasi) zat organik dalam air. Besar kecilnya BOD dapat
menunjukan tingkat pencemaran air oleh zat organik. Makin besar harga BOD makin banyak
zat organik yang mencemari air dan makin sedikit jumlah oksigen yang terlarut (DO).
Apabila di dalam perairan banyak mengandung sampah organik, jumlah oksigen yang
diperlukan oleh mikroorganisme untuk memecah sampah tersebut akan besar, dan ini berarti
angka BOD-nya tinggi. Angka BOD tinggi berarti angka DO rendah. Dengan banyak oksigen
yang digunakan untuk memecah sampah maka kadar oksigen yang terlarut dalam air akan
menurun, demikian pula untuk angka COD. Perairan yang mempunyai BOD tinggi umumnya
akan menimbulkan bau tidak sedap, sebab apabila BOD tinggi berarti DO rendah dan berarti
pula pemecahan sampah organik akan berlangsung anaerob (tanpa oksigen). Air yang bersih
adalah yang B.O.D nya kurang dari 1 mg/l atau 1ppm, jika B.O.D nya di atas 4 ppm, air
dikatakan tercemar.

Chemical Oxygen Demand (COD) / Kebutuhan Oksigen Kimia


Chemical Oxygen Demand (COD) menyatakan jumlah oksigen (O2) yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi zat – zat organik dalam 1 liter sampel air (sebagai oksidator digunakan
K2Cr2O4). Harga COD merupakan ukuran bagi pencemaran oleh zat – zat organik yang
secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis sehingga menyebabkan berkurangnya
oksigen terlarut dalam air.
COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigenyang diperlukan untuk
mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air Chemical oxygen
Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia (KOK) merupakan jumlah oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik yang ada dalam sampel air atau banyaknya
oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi CO2 dan H2O. COD
adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik dalam air,
sehingga parameter COD mencerminkan banyaknya senyawa organik yang dioksidasi secara
kimia. Tes COD digunakan untuk menghitung kadar bahan organik yang dapat dioksidasi
dengan cara menggunakan bahan kimia oksidator kuat dalam media asam.

Sumber:
http://www.malalea.com/2017/05/parameter-kimia-air-ph-do-co2-bod-cod.html
http://www.bintangmedia.id/indikator-kualitas-air-ph-bod-do-cod/