Anda di halaman 1dari 44

HUBUNGAN ASUPAN GIZI MAKRO DENGAN STUNTING ANAK

USIA 36-48 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABERE


KECAMATAN CENDANA KABUPATEN ENREKANG TAHUN 2019

OLEH

NUR AMALIAH RAMADHANI NUR

K21115511

DOSEN PEMBIMBING 1: Dr. dr. Burhanuddin Bahar, Ms

DOSEN PEMBIMBING II: dr. Djunaidi M Dachlan, MS

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
proposal ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga
proposal ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca.

Harapan saya semoga laporan ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca mengenai Hubungan Asupan Gizi Makro dengan
Stunting, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi proposal ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Harapan saya , semoga proposal ini dapat membawa manfaat bagi kita semua.
serta membuka pandangan kita terkakit masalah kesehatan khususnya stunting.
Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan proposal ini.

2018

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah gizi merupakan suatu persoalan yang dianggap menjadi masalah

utama dalam pembangunan disuatu negara. Persoalan tersebut menjadi salah

satu poin penting yang menjadi bagian dari Milleneum Development Goals

(MDGs). Masalah gizi merupakan penyebab 1/3 dari kematian anak,

berinvestasi pada anak sama halnya berinvestasi untuk kemajuan suatu negara.

Masa anak ketika berada dibawah 5 tahun (balita) merupakan masalah kritis

dari pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia, dimana anak mengalami

perkembangan fisik secara pesat, dan masa ini juga disebut sebagai masa emas

dalam perkembangan otak (Saputra and Nurrizka, 2012).

Kebanyakan kasus pertumbuhan terjadi pada masa-masa awal kehidupan

manusia. Pada kenyataannnya terbukti bahwa hampir semua gangguan

pertumbuhan anak di negara berkembang terjadi pada dua hingga tiga tahun

pertama kehidupan Salah satu indikator terbaik untuk melihat status gizi anak

bawah lima tahun (balita) adalah pertumbuhan. Pertumbuhan pada masa ini

penting karena merupakan salah satu indikator kesehatan di masa dewasa. Pada

tahun 2015, program perbaikan gizi telah menargetkan masalah gizi, baik gizi

lebih maupun gizi kurang hanya mencapai 15,5%.(Rahayu et al., 2015).

Pemberian makanan yang tidak tepat dapat mengakibatkan cukup banyak

anak yang menderita kurang gizi. Fenomena gagal tumbuh atau growth

faltering pada anak Indonesia mulai terjadi pada usia 4-6 bulan ketika bayi

yang diberikan makanan tambahan dan terus memburuk hingga usia 18024
bulan. Kekurangan gizi member kontribusi dua pertiga kematian balita. Dua

pertiga kematian tersebut terkait praktek pemberian makanan yang tidak tepat

pada bayi dan anak usia dini (‘Isu-isu penting Gizi Ibu & Anak’, 2012).

Hingga saat ini, gizi kurang pada anak juga masih menjadi masalah

kesehatan masyarakat di berbagai negara, termaksud Indonesia. Beberapa

masalah kekurangan gizi pada balita dapat diketahui melalui beberapa

indikator. Indokator tersebut diantaranya berat kurang atau underweight jika

dilihat dari berat badan menurut umur (BB/U), pendek atau stunting jika dilihat

dari tinggi badan menurut umur (Tb/U) dan kurus atau wasting jika dilihat dari

berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Dalam hal ini, berat badan kurang

atau kurus merupakan dampak masalah gizi bersifat akut, sedangkan pendek

merupakan kekurangan gizi yang bersifat kronis (Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan, 2013)

Di Indonesia, malnutrisi yang terjadi pada anak-anak merupakan masalah

pokok kesehatan masyarakat yang harus segera diatasi karena dapat

mengganggu pertumbuhan. Gangguan pertumbuhan terjadi pada usia anak-

anak, khususnya umur dibawa 5 tahun dapat meningkatkan risiko penyakit

kronis. Salah satu gangguan pertumbuhan pada masa tersebut adalah stunting.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia dan penelitian di

Vietnam, menemukan bahwa kejadian stunting meningkat pada usia anak-anak.

Mayoritas anak-anak usia di bawah tahun dengan pertumbuhan stunted hidup

di Asia (Vaktskjold et al., 2010).


Stunting pada anak biasanya kurang disadari karena perbedaan tinggi

badan dengan anak usia normal kurang begitu terlihat. Stunting biasanya mulai

terlihat ketika anak akan memasuki masa remaja. Hal ini merupakan suatu hal

yang sangat buruk, karena semakin terlambat disadari, semakin sulit pula untuk

mengatasi masalah stunting ini (Mardiana, Kartini and Widjasena, 2012).

Stunting adalah masalah kesehatan masyarakat yang utama di Afrika, di

mana lebih dari sepertiga anak-anak di bawah 5 terlalu pendek untuk usia

mereka. Penelitian ekstensif telah menunjukkan kesehatan, ekonomi dan antar

generasi konsekuensi dari stunting adalah risiko yang lebih utama. Hilangnya

modal manusia dan produktivitas ekonomi di masa dewasa dalam risiko

timbulnya penyakit kronis dan mengurangi hasil reproduksi ibu. Stunting sering

dimulai di utero, sebagai nutrisi ibu adalah penentu pertama gizi anak status

dan berlanjut secara umum selama dua tahun pertama setelah lahir (Altare et

al., 2016)

Stunting mengindikasikan masalah kesehatan masyarakat karena

berhubungan dengan meningkatnya risiko morbiditas dan mempengaruhi

kemampuan kognitif danperkembangan anak. Stunting dipengaruhi oleh

kekurangan asupan zat gizi makro dan mikro dalam jangka waktu yang lama,

selain itu dipengaruhi oleh faktor lingkungan, social ekonomi dan intrauterine

growth retardation (IUGR) (Monteiro C.A et al, 2010). Kejadian Growth

Failure pada anak akan berdampak negative terhadap pertumbuhan baik fisik

maupun mental pada kehidupan balita selanjutnya. Penelitian yang dilakukan

oleh Hayati dkk (2012) Semakin bertambah umur semakin meningkat


prevalensi Stunting. Status Stunting berhubungan erat dengan umur, Selain itu

faktor yang mempengaruhi Stunting adalah berat lahir, Risiko Stunting anak yg

dilahirkan dengan berat anak lahir rendah (BBLR) adalah 1.81 kali lebih tinggi

dibanding anak lahir dengan berat badan normal (Nugroho, 2016).

Data WHO menunjukkan bahwa prevalensi stunting di antara anak-anak

balita adalah 32% di negara-negara berkembang. Indonesia juga dikenal

sebagai negara dengan jumlah anak-anak yang pendek (stunted) dan menjadi

negara kelima yang memiliki anak-anak kerdil di dunia setelah India, Cina,

Nigeria, dan Pakistan (Nababan, 2015). Kekurangan gizi kronis di antara anak-

anak dapat menjadi konsekuensi dari proses sosio-biologis di mana faktor-

faktor yang berbeda saling terkait. Tinggi rendah untuk usia atau stunting

adalah kondisi kronis, penyebab morbiditas dan mortalitas di Nepal, India dan

negara berkembang lainnya (Paudel et al., 2013).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun

2018 prevalensi pendek (stunting) sebesar 29.9% yang berarti terjadi

menurunan angka stunting dibandingkan tahun 2013 sebesar (37,2%) dan

pada tahun 2010 sebesar (35,6%) akan tetapi prevalensi tersebut masih di atas

ambang batas yang telah di tetapkan oleh WHO (20%). Provinsi Nusa

Tenggara timur memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi yaitu (33%)

(Kementrian kesehatan RI, 2018).

Berdasarkan hasil surve PSG yang di selenggarakan tahun 2015, prevalensi

balita stunting adalah 29%,. Angka ini mengalami menurunan pada tahun 2016

menjadi 27.5%. Namun, prevalensi balita stunting kembali meningkat 29.6%


pada tahun 2017. Prevalensi balita pendek dan sangat pendek usia 0-59 bulan

di Indonesia tahun 2017 adalah 9.8% dan 19.8%. berdasarkan data Lkj-IP

Dinas Kesehatan Provensi Sulawesi Selatan Tahun 2015 prevalensi stunting di

Kabupaten Enerekang mencapai 39.6%. Laporan Penilaian Satus Gizi (PSG)

Dinas Kesehatan Enrekang melapor bahwa prevalensi sunitng di kecamatan

Cendana Kabupaten Enrekang mencapai 25% dari jumlah sasaran yaitu sekitar

196 balita dari jumlah sasaran 776 balita.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut

untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Hubungan Asupan Gizi Makro dengan

Stunting anak usia 36-48 bulan di wilayah kerja Puskesma Kabere Kecamatan

Cendana Kabupaten Enrekang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang di angkat

adalah, adakah hubungan antara asupan gizi makro dengan stunting pada anak

balita usia 36-48 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kabere Kecamatan

Cendana kabupaten Enrekang?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujun untuk menganalisis hubungam

antara asupan gizi makro dengan stunting pada anak balita usia 36-48 bulan

tahun di wilaya kerja Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten

Enrekang.
2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui bagaimana hubungan asupan gizi dengan kejadian

stunting anak usia 36-48 di wilayah kerja puskesmas Kabere

Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang

b. Mengkaji asupan zat gizi makro anak usia 36-48 tahun di wilayah kerja

puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabpaten Enrekang

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu

pengetahuan kesehatan khususnya di bidang gizi terutama mengenai

hubungan asupan gizi makro dengan stunting pada anak balita usia 36-48

bulan di wilayah kerja puskesma kabere kecamatan Cendana Kabupaten

Enrekang,

2. Manfaat Praktisi Langsung

Hasil Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian

lainnya yang berkaitan dengan Hubungan Asupan Zat Gizi Makro dengan k

Stunting anak usia 36-48 bulan di wilayah kerja Puskesma Kabere

Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang

3. Manfaat Peneliti Sendiri

Penelitian ini merupakan pengalaman berharga dan wadah latihan

untuk memperoleh wawasan dan ilmu pengetahuan dalam menerapkan

ilmu yang telah diterima selama masa perkuliahan di ruang lingkup Ilmu

Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Asupan Gizi

Asupan Gizi yang Diperlukan Tubuh - Zat gizi adalah bahan-bahan kimia

dalam makanan yang memberikan energi bagi tubuh. Kebutuhan energi

berbeda bagi setiap orang, bervariasi tergantung umur, jenis kelamin dan

aktivitas fisik. Anak-anak sangat membutuhkan nutrisi untuk

perkembangannya sedang orang dewasa membutuhkannya untuk menjaga

tubuh tetap sehat dan berkualitas. Asupan gizi erat kaitannya dengan pola

konsumsi makan. Pola Komsumsi pangan adalah berbagai informasi yang

memberikan gambaran mengenai jenis, frekuensi, dan jumlah bahan pangan

yang dimakan tiap hari oleh satu orang atau merupakaan cirri khas untuk

sesuatu kelompok masyarakat tertentu. Pola konsumsi adalah frekuensi jumlah

serta jenis makanan yang dikonsumsi. Tujaannya untuk mencapai serta

memelihara kesehatan dan status gizi optimal, untuk itu tubuh perlu

mengkonsumsi makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi yang

seimbang sesuai Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) (Almatsir, 2004)

Yang dimaksud dengan PUGS adalah pedoman dasar tentang gizi

seimbang yang disusun sebagai penuntun pada perilaku konsumsi makanan di

masyarakat secara baik dan benar. Berdasarkan fungsi utama zat gizi makanan

haru mengandung sumber energy, sumber protein, dan sumber zat pengatur.

Untuk memudahkan penyususnan menu sehari-hari yang bervariasi dan bergizi


dapat digunakan daftar bahan makan penukar. Penukar ini dapat digunakan

dalam keadaan sehat maupun sakit(Sulistyoningsih, 2011).

Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi hidup manusia. Pangan yang

di konsumsi beragam jenis dengan berbagai cara pengolahannya. Di

masyarakat dikenal pola pangan atau kebiasaan makan yang ada pada

masyarakat dimana seseorang anak hidup. Tingakat Konsumsi makan dikenal

oleh kualitas dan kuantitas makanan. Agar dalam konsumsi makanan sehari-

hari mempunyai kualitas dan kuantitas yang baik, maka dalam memilih dan

konsumi makanan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut (Almatsir, 2004) :

1. Adekuat, artinya makanan tersebut member zat gizi, fiber, energy dalam

jumlah cukup.

2. Seimbang, artinya makanan tersebut member zat gizi lainnya.

3. Kontrol kalori artinya makanan tersebut tidak memberikan kalori yang

berlebihan.

4. Moderat (tidak berlebihan) artinya makan tersebut tidak berlebihan

dalam hal lemak, garam, gula, dan zat lainnya.

5. Bervariasi artinya makanan yang dikonsumsi berbeda setiap harinya.

Asupan Zat gizi yang di konsumsi sangat erat kaitannya dengan kebiasaan

makan seseorang. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi asupan zat gizi

seseorang, yaitu sebagai berikut (Sulistyoningsih, 2011):

1. Faktor Ekonomi

Variabel ekonomi yang cukup dominan dalam mempengaruhi

konsumsi pangan adalah pendapan keluarga dan harga. Meningkatnya


pendapatan keluarga akan meningkatkan peluangg untuk membeli

pangan dengan kuantitas dan kualitas yang baik, sebaliknya penurunan

pendaptan akan menyebabkan mwnurunnya daya beli pangan baik

secara kualitas maupun kuantitas.

2. Faktor Sosial Budaya

Pantangan dalam mengkonsumsi jenis makakan tertentu dapat

dipengaruhi oleh faktor budaya/kepercayaan. Pantangan yang didasari

oleh kepercayaan umumnya mengandung perlmabang atau nasihat yang

dianggap baik ataupun tidak baik yang lambat laun akan menjadi

kebiasaan/adat. Kebudayaan suatu masyarakat mempunyai kekuatan

yang cukup besar untuk mempengaruhi seseorang dalam memilih dan

mengolah pangan yang di konsumsi.

3. Lingkungan

Faktor lingkungan cukup besar pengaruhnya terhadap pembentukan

perilaku makan. Lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan

keluarga, sekolah serta adanya promosi melalui media elektronik

maupun cetak. Kebiasaan makan dalam keluarga sangat berpengaruh

besar terhadap pola makan seseorang, kesukaan sseorang terhadap

makanan terbentuk dari kebiasaan makanan yang terdapat dalam

keluarga.

4. Agama

Pantanga yang didasari agama, khususnya islam disebut haram dan

individu yang melanggar hujumannya berdosa. Adanya pantangan


terhadap makanan/minuman tersebut membahayakan jasmani dan rohani

bagi yang mengkonsumsinya. Konsepnya halal dan haram sangat

mempengaruhi pemilihan bahan makanan yang akan dikonsumsi.

5. Pendidikan

Pendidikan dalam hal ini biasanya dikaitkan dengan pengetahuan,

akan mempengaruhi terhadap pemilihan bahan makanan dan pemenuhan

kebutuhan gizi. Salah satu contoh, prinsip yangdimiliki seseorang

dengan pendidikan rendah biasanya adalah yang penting menyenangkan,

sehingga porsi bahn makanan sumber karbohidrat lebih banyak

dibandingkan dengan kelompok bahan makanan yang lain.

B. Tinjauan Umum Tentang Zat Gizi Makro

1. Karbohidrat

a. Definisi

Karbohidrat adalah sumber energi utama penduduk dunia. Angka

tepatnya tergantung pada berbagai hal, antara lain geografi, budaya dan

tingkat ekonomi. Karbohidrat sendiri terbagi atas dua macam kelompok

berdasarkan susunan molekulnya, yaitu karbohidrat sederhana dan

karbohidrat kompleks. Karbohidrat sederhana adalah karbohidrat yang

tersusun dari 1 (monosakarida) hingga 2 (disakarida) molekul, jenis dari

karbohidrat sederhana adalah gula pasir, sirup dan madu. Sedangkan

karbohidrat kompleks adalah karbohidrat yang terbentuk oleh hampir

20.000 unit molekul monosakarida, jenis dari karbohidrat kompleks adalah

sumber bahan pokok seperti padi, umbi-umbian, jagung dan gandum.


Karbohidrat yang dikonsumsi oleh manusia akan diubah menjadi glukosa

(Farizi, Zulfikir Ali, 2013).

Menurut definisi, karbohidrat merupakan makromolekul yang terdiri

hanya dari karbon, hidrogen, dan oksigen biasanya dengan H rasio atom O

dari dua banding satu (seperti dalam air). Dalam fungi (jamur), karbohidrat

memiliki beberapa fungsi penting seperti transportasi dan energi

konstituen struktural dinding sel. Karbohidrat dapat lebih dikelompokkan

ke dalam empat kategori yaitu monosakarida, disakarida, oligosakarida,

dan polisakarida (Orire and Sadiku, 2014).

b. Fungsi

Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena

merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang

harganya relatif murah. Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-

tumbuhan. Melalui proses fotosintesis, klorofil tanaman dengan

bantuan sinar matahari mampu membentuk karbohidrat dari

karbondioksida (CO2) yang berasal dari udara dan air (H2O) dari tanah.

Karbohidrat yang menghasilkan adalah karbohidrat sederhana glukosa

disamping itu, dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di udara (Giessen,

2013).

Adapun fungsi karbohidrat yaitu (Sediaoetama, 2012):

a. Sumber Energi

Fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi

tubuh. Karbohidrat merupakan sumber utama energi bagi


penduduk diseluruh dunia, karena banyak di dapat di alam dan

harganya relatif murah. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4

kkalori. Sebagian karbohidrat di dalam tubuh berada dalam

sirkulasi darah sebagai glukosa untuk keperluan energi segera,

sebagai disimpan sebagai glikogen dalam hati dan jaringan

otot, dan sebagian diubah menjadi lemak untuk kemudian

disimpan sebagai cadangan energi di dalam jaringan lemak.

Seseorang yang memakan karbohidrat dalam jumlah berlebihan

akan menjadi gemuk. Sistem saraf sentral dan otak sama sekali

tergantung pada glukosa untuk keperluan energinya.

b. Pemberi rasa manis pada makanan

Karbohidrat memberikan rasa manis pada makanan,

khususnya mono dan disakarida. Sejak lahir manusia menyukai

rasa manis. Alat kecapan pada ujung lidah merasakan rasa

manis tersebut. Gula tidak mempunyai rasa manis yang sama.

c. Penghemat protein

Bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein

akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, dengan

mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat pembangun.

Sebaliknya, bila karbohidrat makanan mencukupi, protein

terutama akan digunakan sebagai zat pembangun.

d. Pengatur metabolisme lemak


Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang

tidak sempurna, sehingga menghasilkan bahan-bahan keton

berupa asam asetoasetat, aseton, dan asam beta hidroksi butirat.

e. Membantu pengeluaran feses

Karbohidrat membantu pengeluaran feses dengan cara

mengatur peristaltik usus dan memberikan bentuk pada feses.

Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltik usus,

sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap banyak

air dalam usus besar sehingga memberikan bentuk pada sisa

makanan yang akan dikeluarkan.

c. Sumber Karbohidrat

Sumber utama karbohidrat di dalam makanan berasal dari tumbuh-

tumbuhan, dan hanya sedikit saja yang termasuk bahan makanan

hewani. Di dalam tumbuhan karbohidrat mempunyai dua fungsi utama,

ialah sebagai simpanan energi dan sebagai penguat struktur tumbuhan

tersebut. Yang merupakan sumber energi terutama terdapat dalam

bentuk zat tepung dan zat gula(Sediaoetama, 2010).

Sumber karbohidrat adalah padi-padian atau serealia, umbi-

umbian, kacang-kacangan, dan gula. Hasil olahan bahan-bahan ini

adalah bihun, mie, roti, tepung-tepungan, selai, sirup, dan sebagainya.

Sebagian besar sayur dan buah tidak mengandung karbohidrat. Sayur,

umbi-umbia seperti wortel dan bit serta sayur daun-daunan. Bahan

makanan hewani seperti daging, ayam, ikan, telur, dan susu sedikit
sekali mengandung karbohidrat. Sumber karbohidrat banyak dimakan

sebagai makanan pokok di Indonesia adalah beras, jagung, ubi,

singkong, talas, dan sagu.

d. Kebutuhan Sehari

Bila tidak ada karbohidrat, asam amino dan gliserol yang berasal

dri lemak dapat di ubah menjadi glukosa untuk keperluan energy otak

dan system saraf. Oleh sebab itu, tidak ada ketentuan tentang kabutuhan

karbohidrat sehari manusia. Untuk memelihara kesehatan WHO

menganjurkan 55-75% konsumsi energy total berasal dari karbohidrat

kompleks dan paling banyak hanya 10% berasak dari gula sederhana

(Almatsier, 2004)

Demikian pula ada anjuran kebutuhan sehari secara khusus untuk

serat makanan. Lembaga kanker Amerika mengnjurkan makan 20-30

gram serat perhari. Di Indonesia pada saat ini tidak ada kekhawatiran

kekurangan makanan serat, bila diperhatikan pola makan yang ada

dengan makanan pokok, kacang-kacangan, sayuran dan buah buahan

dalam jumlah yang cukup (Almatsier, 2004)

Angka kecukupan karbohidrat yang dianjurkan untuk anak-anak

(individu) di Indonesia :

No Kelompok Umur BB (kg) TB (cm) Karbohidrat


Anak :
1 0-6 Bulan 6.0 61 58
2 1-11 Bulan 9.0 71 82
3 1-3 Tahun 13.0 91 155
4 4-6 Tahun 19.0 112 220
5 7-9 Tahun 27.0 130 254
Sumber : PMK Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013
2. Lemak

a. Definisi

Lemak adalah sekelompok ikatan organik yang terdiri atas unsur-

unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Lemak memiliki sifat dapat larut

dalam zat-zat pelarut tertentu (zat pelarut lemak), seperti eter,

petroleum benzene. Lemak yang mempunyai titik lebur tinggi bersifat

padat, sedangkan lemak yang mempunyai titik lebur rendah bersifat

cair. Lemak yang padat pada suhu ruangan disebut lemak, sedangkan

yang cair pada suhu ruangan disebut minyak (Sediaoetama, 2010).

b. Fungsi Lemak

Berbagai fungsi lemak antara lain (L.Achadi E, 2007):

1. Sebagai sumber energy menghasilkan kalori 9 kkal setiap gram

lemak

2. Sebagai sumber asam lemak esensial asam lonoleat dan asam

linolenat

3. Lemak sebagai pelarut vitamin juga membantu transportasi dan

absrobsi vitamin A,D,E, dan K

4. Lemak menghemat penggunaan protein untuk sintesa protein

5. Lemak mambantu sekresi asam lambung dan pengosongan

lambung.

6. Memberi tekstur khusus dan kelezatan makanan

7. Sebagai pelumas dan membantu pengeluarab sisa pencernaan

8. Memelihara suhu tubuh


9. Melindungi organ jantung, hati, ginjal dari benturan dan bahaya

lainnya.

c. Sumber Lemak

Minyak nabati seperti minyak kelapa sawit, kelapa, kacang tanah,,

kacang kedelai, jagung, margarinn, mentega, lemak daging hewa, dam

ayam merupakan sumber lemak. Selain itu kacng-kacangan, biji-bijian,

krim, susu, keju, dan kuning telur vserta makanan berlemak atau

bersantan juga sebagai sumber lemak. Sayur dan buah umumnya sedikit

mengandung lemak, kecuali kelapa dan alpukat (L.Achadi E, 2007).

Minyak ikan merupakan sumber minyak hewani. Minyak ikan

merupakan salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak yang kaya

manfaat. Minyak ikan mengandung sekitar 25% asam lemak jenuh dan

75% asam lemak tak jenuh, selain itu minyak ikan mengandung vitamin

A dan vitamin D, dua jenis vitamin yang larut dalam lemak dalam

jumlah tinggi. Minyak ikan lebih banyak mengandung asam lemak tak

jenuh jamak. Minyak ikan mempunyai profil asam lemak yang hampir

sama dengan kultivan (ikan) (Almatsier, 2004).

d. Kebutuhan Lemak

WHO menganjurkan konsumsi lemak berkisar 15-30 persen dari

total kebutuhan energy. Jumlah tersebut dianggap memenuhi

kebutuhan lemak esensial dan membantu penyerapan vitamin larut

lemak. Dari kebutuhan tersebut paling banyak 10% berasal dari lemak
jenuh 3-7 % lemak tidak jenuh dan konsumsi kolesterol dianjurkan

kurang dari 300 mg sehari (56).

Masukan lemak setelah umur 6 bulan sebanyak 30-35% dari jumlah

energy seluruhnya masih dianggap normal, akan tetapi seharusnya lebih

rendah. Diet rendah lemak dapat menimbulkan rasa capek dan

menghilangkan rasa kenyang. Sebaliknya pemberian lemak berlebihan

dapat menyebabkan obesitas 57

Di dalam hidangan sebaliknya dari jumlah kalori total sebesar 15-

20% berasal dari lemak, sehingga kebutuhan akan lemak dapat dihitung

tegas, karena kebutuhan energy dapat di tentukan dengan jelas. Di

Negara-negara kaya, bagian energy berasal dari lemak mencapai 30-

40% dari kalori total. Jumlah ini dianggap terlalu tinggi karena

masyarakat menunjukkan kesehatan yang tidak optoimal. Dalam

hidangan rata-rata Indonesia, lemak hanya meberikan iuran kalori

sebanyak 76% dari energy total. Jumlah ini dianggap terlalu rendah.

Dengan mengitungkan berbagai factor, dianggap bahwa kebutuhan

lemak di islam hidangan sebaiknya memberikan 15-20% dari kalori

total akan memenuhi kebutuhan tiga sudut keperluan diatas (M

Andriani, 2012)

Angka Kecukupan Lemak (AKG 2013)


No Kelompok Umur BB (kg) TB (cm) Karbohidrat
Anak :
1 0-6 Bulan 6.0 61 34
2 1-11 Bulan 9.0 71 36
3 1-3 Tahun 13.0 91 44
4 4-6 Tahun 19.0 112 62
5 7-9 Tahun 27.0 130 72

3. Protein

a. Definisi

Protein berasal dari bahasa Yunani yaitu proteos, yang berarti yang

utama atau yang di dahulukan. Kata ini diperkenalkan oleh ahli kimia

belanda, Gerardus Mulder (1802-1880). Ia berpendapat bahwa protein

adalah zat yang paling penting dalam setiap organisme. Protein adalah

komponen darah sel dan dibutuhkan untuk pertumbuhan, penggantian

dan perbaikan sel. Istilah protein yang berarti to take first place

diperkenalkan Mulder, seorang pakar kimia Belanda pada tahun 1938.

Mulder menyebutkan bahwa protein adalah zat makanan mengandung

nitrogen, diyakininya sebagai faktor penting untuk menjalankan fungsi-

fungsi tubuh, sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya

protein (E.E Sibagariang, 2010).

Protein adalah makromolekul polimer terbuat dari blok bangunan

asam amino yang diatur dalam rantai linear dan bergabung bersama

oleh ikatan peptida. Struktur primer biasanya diwakili olehurutan huruf

lebih alfabet 20 huruf terkait dengan asam amino 20 alami. Protein

adalah blok bangunan utama dan molekul fungsional sel, mengambil

hampir 20% dari berat sel eukariotik ini, kontribusi terbesar setelah air
(70%). Struktur protein prediksi adalah salah satu masalah yang paling

penting dalambiologi komputasi modern (Mandle, 2012).

Masa balita merupakan masa tumbuh kembang yang kemungkinan

besar mengalami gangguan protein yang kronis pada anak-anak dapat

menyebabkan pertumbuhan anak-anak menjadi terhambat dan tampak

tidak sebanding dengan usianya. Pada keadaan yang lebih buruk, dapat

mengakibatkan berhentinya proses pertumbuhan dan pada anak tampak

gejala-gejala khususnya seperti kulit bersisik, pucat, bengkak, dan

perubahan warna rambut (Suharjo, 2005)

b. Fungsi Protein

Protein merupakan konstituen penting bagi semua jaringan tubuh

yang mempunyai fungsi yaitu (Beck, 2011):

a. Protein menggantikan protein yang hilang selama proses

metabolisme yang normal dan proses pengausan yang normal.

Protein akan hilang dalam pemmbentukan rambut serta kuku, dan

sebagai sel-sel mati yang lepas dari permukaan kulit serta traktus

alimentarius, dan dalam sekresi pencernaan.

b. Protein menghasilkan jaringan yang baru. Jaringan baru terbentuk

selama masa pertumbuhan. Selain iitu juga terbentuk keteika

sembuh dari cidera, kehamilan, dan laktasi.

c. Protein diperlukan dalam pembuatan protein yang baru dengan

fungsi khusus di dalam tubuh yaitu enzim, hormon, dan

hemoglobin.
c. Bahan makan sumber protein

Protein dalam tubuh manusia diperoleh dari bahan makanan, baik

yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Protein yang berasal dari

hewan disebut protein hewani, sedangkan yang berasal dari tumbuhan

disebut protein nabati. Sumber protein dari beberapa bahan makanan

adalah daging, telur, susu, ikan, beras, kacang-kacangan, dan buah-

buahan (Beck, 2011).

d. Kebutuhan dan Kecukupan Protein

Kebutuhann protein menurut WHO adalah konsumsi yang

diperlukan untuk mencegah kehilangan protein tubuh dan

memungkinkan produksi yang diperlukan dalam masa pertumbuhan,

kehamilan, atau menyusui (M Andriani, 2012).

Angka Kecukupan Protein 2013 :

No Kelompok Umur BB (kg) TB (cm) Protein


Anak :
1 0-6 Bulan 6.0 61 12
2 1-11 Bulan 9.0 71 18
3 1-3 Tahun 13.0 91 26
4 4-6 Tahun 19.0 112 35
5 7-9 Tahun 27.0 130 49

C. Tinjauan Umum Tentang Stunting

1. Pengertian stunting

Pendek dan sangat pendek (stunting) merupakan status gizi yang

didasarkan pada indeks panjang badan menurut umut (PB/U) atau tinggi

badan menurut umur (TB/U). stunting (tubuh pendek) merupakan keadaan


tubuh yang pendek atau sangat pendek sehingga melampaui defisit -2 SD

dibawah median tinggi dan panjang badan (Manary dan solomons, 2009).

Menurut Word Health Organizion (WHO), stunting merupakan kegagalan

mencapai peryumbuhan yang optimal. Keadaan pendek (stunting) pendek

merupakaan indikator kesehatan anak yang menggambarkan kejadian gizi

kurang yang berlangsung dalam waktu yang lama (kronis) dan di pengaruhi

oleh keadaan lingkungan dan social ekonomi.

Stunting dapat diagnosis melalui indeks antropometri tinggi badan

menurut umur maupun panjang badan menurut umur yang mencermingkan

pertumbuhan linear yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan

indikasi gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau

kesehatan. Menurut WHO (2016) status stunting dapat dihitung dengan

menggunakan buku antropometri 5-19 tahun yaitu dengan menghitung Z-

score TB/U untuk masing masing anak

2. Faktor Terjadinya Stunting

Stunting pada anak disebabkan oleh beberapa factor. Factor-faktor

tersebut bisa dari diri sendiri maupun diluar diri dari anak tersebut. Faktor

penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh factor langsung dimana

stunting dapat berawal dari Kondisi gizi ibu hamil, bahkan sebelum hamil

akan menentukan pertumbuhan janin. Ibu hamil yang kekurangan gizi akan

berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, dan ini merupakan

penyebab utama stunting. Setelah lahir, bayi yang tidak disusui secara baik

akan berisiko menderita berbagai infeksi penyakit karena pola makan yang
tidak cukup asupan gizinya dan tidak higienis. Setelah lahir, bayi yang

tidak disusui secara baik akan berisiko menderita berbagai infeksi penyakit

karena pola makan yang tidak cukup asupan gizinya dan tidak higienis.

Pemberian Makanan Bayi dan Anak sangat menentukan petumbuhan anak.

Setelah usia 5 tahun. Anak perlu mendapat asupan gizi dapat memenuhi

kebutuhan asupan gizi mikro, gizi makro serta aman. Kemudian factor

tidak langsung seperti pola asuh, kondisi social ekonomi, ketahanan

pangan, ketersediaan air bersih dan akses terhadap berbagai sarana

pelayanan dasar (Khoeroh and Indriyanti, 2015).

Berikut penjelasan mengenai penyebab terjadinya stunting yaitu :

a. Faktor langsung

1. Asupan gizi balita

Pemenuhan zat gizi yang adekuat, baik gizi makro

maupun gizi mikro sangat dibutuhkan untuk menghindari atau

memperkecil risiko stunting. Kualitas dan kuantitas MP-ASI

yang baik merupakan komponen penting dalam makanan

karena mengandung sumber gizi makro dan mikro yang

berperan dalam pertumbuhan.Pemberian makanan yang tinggi

protein, calsium, vitamin A, dan zinc dapat memacu tinggi

badan anak. Pemberian asupan gizi yang adekuat

berpengaruh pada pola pertumbuhan normal sehingga dapat

terkejar (catch up)(Lppm, Hang and Pekanbaru, 2015)


Makanan yang diberikan kepada balita tidak hanya

sekedar kenyang, tetapi juga haru mengandung zat gizi baik

makronutrient dan mikronutrient yang dibutuhkan oleh tubuh.

Masalah gizi balita seperti stunting dapat muncul karena

proporsi makanan yang dikosumsi tidak tepat.hal ini dapat

disebabkan karena daya beli masyarakat yang kurang atau

ketidak tahuan orang tua untuk memberikan gizi yang

seimbang bagi balita. Sesuai dengan kajian teori bahwa kalori

merupakan jumlah energi yang diterima oleh balita. Sumber

energi dapat berupa karbohidrat dan lemak, kekurangan energi

dapat menyebabkan balita berat badannya turun dalam waktu

yang sebentar dan menyebabkan gangguan gizi akut seperti

gizi kurang dan gizi buruk, begitupun ketika dalam keadaan

lebih akan menimbulkan masalah gizi lebih (Suliastiningsih

and Madi, 2013)

Untuk melakukan pencegahan stunting pada anak maka

perlu perbaikan gizi pada masa balita khusus untuk bayi dan

anak telah dikembangkan standar emas makanan bayi yaitu:

1) inisiasi menyusu dini; 2) memberikan ASI eksklusif sampai

bayi berusia 6 bulan; 3) pemberian makanan pendamping ASI

yang berasal dari makanan keluarga, diberikan tepat waktu

mulai bayi berusia 6 bulan; dan 4) ASI terus diberikan sampai

anak berusia 2 tahun (Bappenas RI., 2011).


2. Penyakit infeksi

Penyakit infeksi dapat menggangu pertumbuhan linier

dengan terlebih dahulu mempengaruhi status gizi anak

balita. Hal ini terjadi karena penyakit infeksi dapat

menurunkan intake makanan, mengganggu absorbsi zat

gizi, menyebabkan hilangnya zat gizi secara langsung,

meningkatkan kebutuhan metabolic. Terdapat interaksi

bolak-balik antara status gizi dengan penyakit infeksi.

Malnutrisi dapat meningkatkan risiko infeksi, sedangkan

infeksi dapat menyebabkan malnutrisi yang mengarahkan

ke lingkaran setan. Apabila kondisi ini terjadi dalam

waktu lama dan tidak segera diatasi maka dapat

menurunkan intake makanan dan mengganggu absorbsi zat

gizi, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting

pada anak (Aridiyah, Rohmawati and Ririanty, 2015).

Status kesehatan berupa penyakit infeksi memiliki

hubungan positif terhadap indeks status gizi TB/U. Hal ini

disebabkan karena sebagian besar anak dalam penelitian ini

memiliki penyakit infeksi. Penyakit infeksi yang sering

diderita anak adalah diare dan infeksi saluran pernapasan

akut (ISPA). Jika kondisi ini terjadi secara berulang-ulang

dalam jangka waktu yang lama, maka dapat menyebabkan

terjadinya masalah gizi, terjadinya masalah gizi pendek


(TB/U) sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung

lama seperti kemiskinan, pola asuh yang kurang tepat, dan

sering menderita penyakit secara berulang-ulang (Indo,

Priyono and Ratnawati, 2015)

b. Faktor tidak langsung

1. Ketersediaan pangan

Akses pangan pada rumah tangga menurut Bappenas

adalah kondisi penguasaan sumberdaya (sosial, teknologi,

finansial/keuangan, alam, dan manusia) yang cukup untuk

memperoleh dan/atau ditukarkan untuk memenuhi kecukupan

pangan, termasuk kecukupan pangan di rumah tangga.

Masalah ketersediaan ini tidak hanya terkait masalah daya beli

namun juga pada pendistribusian dan keberadaan pangan itu

sendiri, sedangkan pola konsumsi pangan merupakan susunan

makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah dan

frekuensi dan jangka waktu tertentu. Aksesibilitas pangan

yang rendah berakibat pada kurangnya pemenuhan konsumsi

yang beragam, bergizi, seimbang dan nyaman di tingkat

keluarga yang mempengaruhi pola konsumsi pangan dalam

keluarga sehingga berdampak pada semakin beratnya masalah

kurang gizi masyarakat (Bappenas RI., 2011).

Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada

kurangnya pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu


sendiri. Oleh karena itu penanganan masalah gizi ini tidak

hanya melibatkan sektor kesehatan saja namun juga

melibatkan lintas sektor lainnya (Bappenas RI., 2011)

2. Status gizi ibu hamil

Status gizi yang baik penting untuk dipertahankan selama

masa kehamilan.Ibu hamil membutuhkan peningkatan asupan

energi dan berbagai zat gizi lainnya yang diperlukan untuk

pertumbuhan dan perkembangan janin. Asupan ibu yang tidak

mencukupi dapat mengganggu proses pertumbuhan dan

perkembangan janin. Berdasarkan hipotesis Barker, ibu yang

mengalami kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi yang

kekurangan gizi pula.Kekurangan gizi sejak dalam kandungan

berpengaruh terhadap perkembangan organ janin seperti

jantung dan hati termasuk pertumbuhannya. Janin yang

mengalami malnutrisi yang sejak dalam kandungan juga

memiliki kemungkinan lebih besar untuk lahir stunting

(Yustiana and Nuryanto, 2014)

Anak mengalami stunting, disebabkan karena pada saat

didalam kandungan anak sudah mengalami retardasi

pertumbuhan atau pertumbuhan yang terhambat saat masih

didalam kandungan (Intra Uterine Growth

Retardation/IUGR). IUGR ini disebabkan oleh kemiskinan,

penyakit dan defisiensi zat gizi. Artinya ibu dengan dengan


gizi kurang sejak trimester awal sampai akhir kehamilan akan

melahirkan BBLR, yang kedepannya anak akan beresiko

esar menjadi stunting (Swathma, Lestari and Ardiansyah,

2016)

3. Panjang Badan Lahir

Stunting merupakan keadaan tubuh pendek sebagai akibat

dari malnutrisi knonik.Stunting dapat dinilai menggunakan

indikator panjang badan menurut umur (PB/U). Seorang bayi

baru lahir dikatakan stunting apabila panjang badan lahir <

46,1 cm untuk laki – laki dan < 45,4 cm untuk perempuan.

Stunting berdampak jangka panjang bagi pertumbuhan

manusia. Dampak jangka panjang ini dapat dihindari dengan

memberikan intervensi pada bayi stunting hingga usia 2 tahun

agar dapat mengejar tumbuh kembang pada periode

selanjutnya. Oleh karena itu, deteksi dini kejadian stunting

sangat dibutuhkan (Yustiana and Nuryanto, 2014)

4. Asi Eksklusif

ASI Eksklusif menurut Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu

Ibu Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa

menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau

minuman lain yang diberikan kepada bayi sejak baru

dilahirkan selama 6 bulan. Pemberian ASI eksklusif


memberikan berbagai manfaat untuk ibu dan bayi dimana ASI

merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis,

ekonomis, mudah dicerna, memiliki komposisi zat gizi yang

ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan

bayi dan ASI mendukung pertumbuhan bayi terutama tinggi

badan karena kalsium ASI lebih efisien diserap dibanding

susu pengganti ASI. Sehingga bayi yang diberikan ASI

Eksklusif cenderung memiliki tinggi badan yang lebih tinggi

dan sesuai dengan kurva pertumbuhan dibanding dengan bayi

yang diberikan susu formula. ASI mengandung kalsium yang

lebih banyak dan dapat diserap tubuh dengan baik sehingga

dapat memaksimalkan pertumbuhan terutama tinggi badan

dan dapat terhindar dari resiko stunting (Indrawati and

Warsiti, 2016)

5. Status ekonomi

Status ekonomi yang rendah berhubungan dengan

keterbatasan keluarga dalam memenuhi kebutuhan akan zat

gizi baik makro maupun mikro. Status ekonomi keluarga yang

rendah akan memengaruhi kualitas maupun kuantitas bahan

makanan yang dikonsumsi oleh keluarga. Makanan yang

didapat biasanya akan kurang bervariasi dan sedikit

jumlahnya terutama pada bahan pangan yang berfungsi untuk

pertumbuhan anak seperti sumber protein, vitamin dan


mineral sehingga meningkatkan risiko kurang gizi pada anak.

Selain itu, kondisi rendahnya kualitas dan kuantitas makanan

yang dikonsumsi ibu hamil berpotensi juga memengaruhi

produksi ASI.Akibat dari produksi ASI yang tidak lancar

bahkan kurang, maka anak tidak mendapat cukup asupan zat

gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangannya

melalui ASI, akibatnya berisiko mengalami gizi kurang

maupun gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Senada

dengan hasil penelitian Fatmah dan Nurasiah, bahwa keluarga

yang memiliki sosial ekonomi yang mapan cenderung lebih

mengonsumsi makanan ringan yang mengandung tinggi

energi dibandingkan kelompok keluarga yang memiliki sosial

ekonomi rendah yang hanya memilih konsumsi makanan

ringan berkalori rendah (Bwalya et al., 2015).

3. Factor genetic

Tinggi badan orang tua merupakan salah satu faktor yang

berhubungan dengan kejadian stunting. Hal ini dikarenakan

tinggi badan anak merupakan salah satu bentuk dari ekskpresi

genetik dari orang tua. (Indo, Priyono and Ratnawati,

2015).Tinggi badan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti

faktor genetik, asupan nutrisi dan juga penyakit yang diderita.Jika

ibu dan ayah bayi baru lahir tergolong pendek karena menderita

penyakit atau kurangnya asupan gizi sejak masa kanak – kanak


maka stunting yang terjadi pada keturunannya masih bisa

ditanggulangi. Namun jika tinggi ibu dan ayah bayi tergolong

pendek karena adanya gen dalam kromosom yang membawa sifat

stunting, maka keturunannnya memiliki kemungkinan lebih besar

untuk mewarisi gen tersebut. Hal ini menyebabkan stunting yang

terjadi pada keturunannya sulit untuk ditanggulangi (Yustiana and

Nuryanto, 2014).

D. Kerangka Teori

Untuk hubungan asupan zat gizi makro dengan stunting nak usia 36-

48 bulan di wilayah , dapat disajikan dalam kerangka teori sebagai beriku:

KERANGAKA TEORI

Kondisi Ekonomi
Politik dan sosial
masyarakat

Sosial Ekonomi Keluarga Pengetahuan dan


1. Pendapatan Keluarga sikap
2. Pendidikan
3. Besar Keluarga
4. Agama
5. Lingkungan Pola Konsumsi
1. Zat Gizi Makro
2. Zat Gizi Mikro
Ketahanan Pangan
1. Daya Beli
2. Kualitas dan
kuantitas makanan

Stunting

Sumber : UNICEF 1996 dalam Jayanti (2015)


BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Karbohidrat

Asupan Zat Gizi Makro Protein

Lemak

Stunting

Kalsium

Zat Besi
Asupan Zat Gizi Mikro

Seng

Iodium

: Variabel yang Diteliti

: Variabel yang Diteliti

: Variabel yang tidak Diteliti


Berdasarkan kerangka konseptual penelitian diketahui bahwa terdapat 2
variabel penelitian yaitu variable Independent yang meliputi asupan, peotein,
lemak, dan larbohidrat. Sedangkan variable dependent pada penelitian ini yaitu
kejadian stunting. Sehingga dalam menentukan kerangka konsep dipilih yang
berpengaruh secara langsung terhadap kejadian stunting pada anak usia 36-48
bulan.

B. Defenisi Oprasional dan Kriteria Objektif


Definisi Kriteria Skala
Variabel Instrumen
Operasional Objektif
Stunting Keadaan tinggi Mengukur
anak yang tidak dengan
sesuai dengan menggunakan 1. 0 = Stunting
umur dengan microtoice (-2 SD)
indikator 2. 1 = Anak Ordinal
pengukuran Tidak Stunting
TB/U dengan (>-2 SD)
mengacu pada
standar WHO
Asupan Zat Gizi Makro
Asupan Jumlah asupan Wawancara
Lemak lemak dalam dengan
g/hari kemudian menggunakan 1 = cukup
dibandingkan From Food (Usia 1-3 tahun
dengan angka Recall = 44g, Usia 4-6
kecukupan gizi tahun = 62 g Ordinal
(AKG) tahun 0 = tidak
2013 yang di cukup) (>Usia
anjurkan yaitu : 1-3 tahun = 44
Usia 1-3 tahun g, Usia 4-6
= 44 g tahun = 62 g)
Usia 4-6 tahun
= 62 g
Asupan Jumlah asupan Wawancara 1 = cukup
Protein protein dalam dengan (Usia 1-3 tahun
g/hari kemudian menggunakan = 26g, Usia 4-6
dibandingkan From Food tahun = 45 g
dengan angka Recall 0 = tidak cukup Ordinal
kecukupan gizi (>Usia 1-3
(AKG) tahun tahun = 26 g,
2013 yang di Usia 4-6 tahun
anjurkan yaitu : = 35 g)
Usia 1-3 tahun :
26 g
Usia 4-6 tahun :
35 g
Asupan Jumlah asupan Wawancara
Karbohidrat karbohidrat dengan
dalam g/hari menggunakan 1 = cukup
kemudian From Food (Usia 1-3 tahun
dibandingkan Recall = 155 g, Usia
dengan angka 4-6 tahun = Ordinal
kecukupan gizi 220 g)
(AKG) tahun 0 = tidak
2012 yang di cukup) (>Usia
anjurkan, yaitu 1-3 tahun = 155
usia 1-3 tahun : g, Usia 4-6
155 g tahun = 220 g)
Usia 4-6 tahun ;
220 g

C. Hipotesis Penelitian
1. Hipotesis Nul (H0)
a. Tidak terdapat hubungan antara asupan zat gizi makro dengan stunting
di wilayah kerja Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten
Enrekang
b. Tidak terdapat hubungan asupan protein dengan stunting di wilayah
kerja Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang
c. Tidak terdapat hubungan asupan lemak dengan stunting di wilayah
kerja Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang
d. Tidak terdapat hubungan asupan karbohidrat dengan stunting di
wilayah kerja Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten
Enrekang
2. Hipotesis Alternatif
e. Terdapat hubungan antara asupan zat gizi makro dengan stunting di
wilayah kerja Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten
Enrekang
f. Terdapat hubungan asupan protein dengan stunting di wilayah kerja
Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang
g. Terdapat hubungan asupan lemak dengan stunting di wilayah kerja
Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang
h. Terdapat hubungan asupan Karbohidrat dengan stunting di wilayah
kerja Puskesmas Kabere Kecamatan Cendana Kabupaten Enrekang
BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang di gunakan adalah deskriptif analitik dengan

rancangan crosssectional yaitu suatu rancangan penelitian yang mengetahui

hubungan antara variabel independen yang meliputi, hubungan asupan zat gizi

makro dengan stunting di wilayah kerja Puskesmas Kabere Kecamatan

Cendana Kabupaten Enrekang

B. Waktu dan tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah X. Pemilihan lokasi ini didasarkan

karena …….. Pengumpulan data akan dilaksanakan pada bulan ......-..... 2018.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Penelitian

Menurut (Notoatmodjo, 2010), populasi merupakan keseluruhan objek

penelitian atau objek yang diteliti Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh anak usia 36-48 bulan di wilayah X.

2. Sampel

Sampel penelitian ditentukan pada jumlah populasi yang diteliti sesuai

dengan kemampuan peneliti dalam hal pendanaan, tenaga, dan waktu.

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi

(Notoatmodjo, 2010). Sampel pada penelitian ini yaitu sebagian anak usia

36-48 bulan di wilayah X


D. Teknik Pengumpulan Data

Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

teknik Probability Sampling jenis Simple Random Sampling. Menurut

Sasatroasmono Teknik simple Random Sampling adalah memilih sampel

secara acak individu dengan populasi. Dalam penelitian ini, penelitian

mengambil besar sampel dengan menggunakan undian.

E. Pengolahan dan Analisis Data

1. Pengolahan data

Adapun proses pengolahan data yang dilakukan, yaitu sebagai berikut:

a. Editing

Editing adalah kegiatan uyang dilakukan setelah peneliti

menghimpun data di lapangan. Pemeriksaan data dilakukan sebelum

data di olah. Dengan perkataan lain, data atau keterangan yang telah

dikumpulkan dalam recard book, daftar pertanyaan maupun pada

interview guide perlu dibaca sekali lagi dan diperbaiki.

b. Pemberian Kode (Coding)

Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah memberikan kode

data yang tersedia kemudian mengklarifikasikan data sesuai kebutuhan

penelitian. Kegunaan coding ini adalah untuk mempermudah pada

saaat analisis data

c. Scoring

Scoring merupakan langkah selanjutnya setelah responden

memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada pada


lembar kuesioner. Scaring jawaban dimulai dari jawaban terendah

kemudian dijumlah untuk mengetahui akor total.

d. Tabulasi

Tabulasi adalah memasukkan data pada table tertentu dan

mengukur serta menghitungnya. Kegiatan ini dilakukan dengan cara

memasukkan data yang diperoleh kedalam table-tabel sesuai variable

penelitian.

2. Analisis data

a. Analisis univariat

Analisis univariat digunakan untuk mengetahui distribusi

frekuensi dan prsentase dari masing-masing variable yang diteliti baik

variable bebas maupun variable terikat

b. Analisis bivariat

Analisisi ini merupakan analisis dari variable yang diteliti dan

digunakan untuk membuktikan atau mengetahui hubungan yang

bermakna atau tidak pada kedua variable yaitu hubungan antara

dependent dan independent. Dalam penelitian ini, analisis data yang

digunaka adalah teknik analisis dengan menggunaka uji Chi Square

dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji ini dugunakan untuk mengetahu

hubungan antara asupan gizi makro dengan stunting anak usia 36-48

bulan. Analisis data tersebut dilakukan dengan menggunakan program

computer (SPSS)
F. Penyajian Data

Data yang telah dianalisis selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel yang

disertai dengan asumsi penjelasanny


DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. (2004) PRINSIP DASAR ILMU GIZI.


Almatsir (2004) Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Altare, C. et al. (2016) ‘Factors associated with stunting among pre-school
children in southern highlands of Tanzania’, Journal of Tropical
Pediatrics, 62(5), pp. 390–408. doi: 10.1093/tropej/fmw024.
Aridiyah, F. O., Rohmawati, N. and Ririanty, M. (2015) ‘Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Pedesaan
dan Perkotaan ( The Factors Affecting Stunting on Toddlers in Rural and
Urban Areas )’, E-jurnal Pustaka Kesehatan, 3(1).
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2013) ‘Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2013’, Laporan Nasional 2013, pp. 1–384. doi: 1
Desember 2013.
Bappenas RI. (2011) Rencana aksi nasional pangan dan gizi 2011-2015. Jakarta.
Beck, M. (2011) Ilmu Gizi dan Diet Hubungannya dengan Penyakit-Penyakit
untuk Perawat dan Dokter. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica.
Bwalya, B. B. et al. (2015) ‘Factors Associated with Stunting among Children
Aged 6-23 Months in Zambian : Evidence from the 2007 Zambia
Demographic and Health Survey’, 3(1), pp. 116–131.
E.E Sibagariang (2010) Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Trans Info
Media.
Farizi, Zulfikir Ali, F. L. N. (2013) ‘Beda Makanan, Beda Kemampuan Perhatian:
Studi Eksperimen Tentang Pengaruh Glycemic Index Caution Terhadap
Kemampuan Deteksi Sinyal’, Psikologi Islam, 10(2).
Indo, D., Priyono, P. and Ratnawati, L. Y. (2015) ‘Determinan Kejadian Stunting
pada Anak Balita Usia 12-36 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Randuagung Kabupaten Lumajang ( Determinants of Stunting among
Children Aged 12-36 Months in Community Health Center of
Randuagung , Lumajang Distric )’, 3(2), pp. 349–355.
Indrawati, S. and Warsiti (2016) Kejadian Stunting pada Anak Usia Kejadian
Stunting pada Anak Usia 2-3 Tahun di Desa Karangrejek. Universitas
‘Aisyah Yogyakarta.
‘Isu-isu penting Gizi Ibu &amp; Anak’ (2016). Available at:
https://www.unicef.org/indonesia/id/A6_-_B_Ringkasan_Kajian_Gizi.pdf
(Accessed: 14 April 2018).
Kementrian kesehatan RI (2018) ‘Hasil utama riskesdas 2018’, p. 61. doi: 1
Desember 2013.
Khoeroh, H. and Indriyanti, D. (2015) ‘Evaluasi Penatalaksanaan Gizi Balita
Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Sirampog’, Unnes Journal of
Public Health, 4(1), pp. 54–60.
L.Achadi E (2007) Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT.Rajagrafindo
Persada.
Lppm, M., Hang, S. and Pekanbaru, T. (2015) ‘Permasalahan Anak Pendek
(Stunting) dan Intervensi untuk Mencegah Terjadinya Stunting (Suatu
Kajian Kepustakaan) Stunting Problems and Interventions to Prevent
Stunting (A Literature Review)’, Jurnal Kesehatan Komunitas, 2(6), pp.
254–261. Available at:
http://ejournal.htp.ac.id/stikes/pdf.php?id=JRL0000099.
M Andriani, W. b (2012) Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana Predana
Media Group.
Mandle, A. K. (2012) ‘Protein Structure Prediction Using Support Vector
Machine’, International Journal on Soft Computing, 3(1), pp. 67–78. doi:
10.5121/ijsc.2012.3106.
Mardiana, Kartini, A. and Widjasena, B. (2012) ‘Media Medika’, Pemberian
Cairan Karbohidrat Elektrolit, Status Hidrasi dan Kelelahan pada
Pekerja Wanita, 46(36), pp. 6–11.
Nababan, D. (2015) ‘Mother and Child Nutrition ; ( A Review of Stunting Studies
)’, International Journal of Sciences: Basic and Applied Research
(IJSBAR), 4531, pp. 13–20.
Notoatmodjo (2010) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugroho, A. (2016) ‘Determinan Growth Failure (Stunting) Pada Anak Umut 1 S
/ D 3 Tahun (Studi Di Kecamatan Tanjung Karang Barat Kota Bandar
Lampung)’, VII(3), pp. 470–479.
Orire, A. M. and Sadiku, S. O. E. (2014) ‘Effects of carbohydrate sources on the
growth and body compositions of African catfish (Clarias gariepinus)’,
International Journal of Fisheries and Aquaculture, 6(5), pp. 55–61. doi:
10.5897/IJFA13.0378.
Paudel, R. et al. (2013) ‘Risk Factors for Stunting Among Children: A
Community Based Case Control Study in Nepal’, Kathmandu University
Medical Journal, 10(3). doi: 10.3126/kumj.v10i3.8012.
Rahayu, A. et al. (2015) ‘Riwayat Berat Badan Lahir dengan Kejadian Stunting
pada Anak Usia Bawah Dua Tahun’, Kesmas: National Public Health
Journal. doi: 10.21109/kesmas.v10i2.882.
Saputra, W. and Nurrizka, R. H. (2012) ‘Faktor Demografi dan Risiko Gizi Buruk
dan Gizi Kurang’, Makara Kesehatan, 16(2), pp. 95–101.
Sediaoetama, A. D. (2010) Ilmu Gizi profesi Jilid II. Jakarta: Dian Rakyat.
Suharjo (2005) Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta: Bumi Askara.
Suliastiningsih, A. and Madi, D. A. M. Y. (2013) ‘Kurangnya Asupan Makan
sebagai Penyebab Kejadian Bslita Pendek’, Jurnal Dunia Kesehatan, 5(1),
pp. 71–75.
Sulistyoningsih (2011) Gizi untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Swathma, D., Lestari, H. and Ardiansyah, R. T. (no date) ‘ANALISIS FAKTOR
RISIKO BBLR, PANJANG BADAN BAYI SAAT LAHIR DAN
RIWAYAT IMUNISASI DASAR TERHADAP KEJADIAN STUNTING
PADA BALITA USIA 12-36 BULAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KANDAI KOTA KENDARI TAHUN 2016’. Available at:
https://media.neliti.com/media/publications/186294-ID-analisis-faktor-
risiko-bblr-panjang-bada.pdf (Accessed: 19 April 2018).
Vaktskjold, A. et al. (2010) ‘ORIGINAL RESEARCH STUNTED GROWTH IN
A COHORT OF TWO-YEAR OLDS IN THE KHANH HOA
PROVINCE IN VIETNAM – A FOLLOW-UP STUDY’, Journal of Rural
and Tropical Public Health JRuralTropPublicHealth, 9. Available at:
https://pdfs.semanticscholar.org/c3a2/c0efe546945dbec828b77618976233
c0c6d5.pdf (Accessed: 15 April 2018).
Yustiana, K. and Nuryanto (2014) ‘PERBEDAAN PANJANG BADAN BAYI
BARU LAHIR ANTARA IBU HAMIL KEK DAN TIDAK KEK’,
Journal of Nutrition College, 3(1), pp. 235–242.