Anda di halaman 1dari 34

PROPOSAL PERMOHONAN KERJA PRAKTEK

Diajukan guna

Menyusun kerja praktek di konsensi

PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA. MINE GEOLOGY

Sekongkang, Sumbawa barat, Nusa Tenggara Barat

Diajukan oleh :

I gede Roy Sanjaya 410013117

Bryan Mada Permana 410013118

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

YOGYAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kurikulum yang ada di Jurusan Teknik Geologi STTNAS Yogyakarta

memang tidak mewajibkan mahasiswa untuk melakukan kerja praktek. Namun,

kerja praktek tersebut berada di salah satu tipe tugas akhir, yaitu tugas akhir tipe

II. Kerja praktek juga merupakan salah satu wadah mahasiswa untuk

mengaplikasikan atau menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.

Tingkat persaingan dalam dunia usaha yang semakin ketat seiring dengan semakin

pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini, menyebabkan dunia kerja menuntut

tersedianya tenaga kerja yang dapat menguasai pekerjaannya dengan baik,

terampil dan professional.

Perguruan tinggi sebagai suatu lembaga pendidikan bertanggung jawab

mempersiapkan calon-calon tenaga kerja yang profesional. Bila perguruan tinggi

hanya memberikan pendidikan sebatas teori saja kepada mahasiswa, akan tetapi

kurang memadai dalam prakteknya, maka perguruan tinggi tersebut hanya akan

meluluskan sarjana yang kurang mampu menerapkan ilmu yang diperolehnya

selama di bangku kuliah karena belum mengenal secara langsung dunia kerja

yang akan dimasukinya.

Menyadari akan hal ini, kami selaku mahasiswa jurusan Teknik Geologi

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta ingin melaksanakan kerja praktek

yang bisa membuat kami mampu bersaing dalam dunia kerja.


Dalam rangka merealisasikan tujuan tersebut diperlukan kerja sama antara

pihak Perguruan Tinggi dengan instansi yang terkait sebagai wadah bagi

mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan memberikan gambaran mengenai

realita yang akan dihadapi ketika menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Salah

satu instansi yang berkaitan adalah PT. AMMAN MINERAL NUSA

TENGGARA.

Tambang Batu Hijau merupakan tambang tembaga dengan mineral ikutan

emas dan terletak di sebelah barat daya pulau Sumbawa, di Kecamatan

Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi NTB, Indonesia.

1.2. Maksud dan Tujuan

Kami bermaksud melakukan kerja praktek di PT. AMMAN MINERAL

NUSA TENGGARA, selaku perusahaan yang melakukan penambangan tembaga

dan mineral ikutan emas.

Adapun tujuan Kerja Praktek yang akan dilaksanakan adalah :

1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui berbagai aspek permasalahan dalam

bidang Mine Geology di lingkungan pertambangan.

2. Mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah dalam

pertambangan khususnya pada lingkungan Mine Geology.

3. Mahasiswa diharapkan mampu mengenal dan mengetahui cara kerja perangkat-

perangkat (software) yang digunakan dalam pengambilan, pengolahan dan

interpretasi data.
4. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui arti penting dan peranan PT.

AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA terhadap masyarakat luas dengan

proses pelayanan jasa dan penentuan kebijakan.

5. Melatih para mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Geologi Regional

2.1.1. Geologi Regional Pulau Sumbawa Barat Daya

Pulau Sumbawa merupakan bagian dari sebelah timur Paparan Sunda di

dalam sistem Busur Kepulauan Sunda-Banda (Sjoekri, 1997). Busur kepulauan ini

dihasilkan dari tumbukan antara tiga Lempeng Hindia-Australia, Eurasia dan

Lempeng Pasifik (Hamilton, 1980 dalam Clode, dkk., 1999). Kepulauan Sunda-

Banda merupakan gabungan dari beberapa sistem jalur subduksi atau busur

magmatik, yaitu Busur Sunda dengan arah pergerakan ke barat dan Busur Banda

ke timur. Pulau Sumbawa yang berada di Kepulauan Nusa Tenggara terletak di

zona transisi antara kedua busur tersebut (Sjoekri, 1997). Bagian selatan dari

kepulauan Sumbawa bagian baratdaya dibatasi oleh kerak samudera yang

berumur Tersier Awal, bersifat kalium kalk-alkali rendah sampai andesit volkanik

yang alkali lemah 9 dan batuan volkaniklastik berlapis, berasosiasi dengan intrusi

intermediet dan sedikit sedimen laut dan batugamping (Hamilton, 1980 dalam

Clode, dkk., 1999).

Cardwell dan Issacks (1981 dalam Sjoekri, 1997), menjelaskan bahwa

lempeng Indo-Australia menunjam ke dalam Busur Banda dengan arah tegak

lurus dengan arah pergerakannya (Gambar 2.1). Hal ini mengakibatkan bagian

timur dari busur ini membuat gerakan melipat ke belakang ke arah persimpangan

dengan lempeng Pasifik yang sedang bergerak ke arah barat.


Gambar 2.1 Peta Geologi Pulau Sumbawa (Garwin, 2002)

Secara stratigrafi, Pulau Sumbawa bagian barat daya tersusun atas

kompleks batuan volkanik-plutonik berumur Tersier, yang ditutupi oleh produk

volkanik berumur Kuarter-Resen (Gambar 2.2). Batuan tertua yang tersingkap

berupa batuan volkanik-sedimenter yang terdiri dari batuan piroklastik halus-

kasar, dan perlapisan batugamping. Berdasarkan kelimpahan fosil foraminifera

pada lapisan batugamping, unit batuan ini berumur Miosen Awal hingga Miosen

Tengah (Sudrajat dkk., 1998). Batuan ini memiliki ketebalan hingga 1500 m

(Garwin, 2000).

Batuan termuda di daerah ini adalah produk dari vulkanisme Kuarter dan

Resen, yang secara umum bersumber dari sebelah utara Pulau Lombok dan Pulau

Sumbawa. Aliran debris menutupi sebagian besar dataran tengah Pulau Lombok,

dan memisahkan batuan Kuarter di utara dengan busur volkanik tererosi di

selatan.
Batuan aglomerat-breksi dan piroklastik halus muncul di daerah pesisir di

bagian barat dan tengah Pulau Sumbawa. Batuan volkanik ini umumnya berlapis

dan 10 pada beberapa daerah batuan ini berinterkalasi dengan lapisan batupasir

kasar (Sudrajat dkk., 1998). Sikuen batuan volkaniklastik ini menutupi secara

tidak selaras unit batuan volkano-sedimenter dan satuan batuan terobosan.

Seri batuan volkaniklastik di daerah Sumbawa diterobos oleh unit batuan

intrusif. Pada Pulau Sumbawa bagian barat daya, batuan intrusi ini umumnya

memiliki afinitas kalk-alkali dengan kompisisi batuan diorit, andesit-basalt,

diorite kuarsa, tonalit hingga granodiorit. Batuan intrusi ini diperkirakan berumur

Miosen Tengah-Pliosen berdasarkan hubungan potong-memotong dan perajahan

radiometric (Garwin, 2000). Geometri dari batuan intrusi ini berupa dike dan stock

dengan arah umum timur-barat dan barat laut. Batuan intrusi ini berasosiasi

dengan aktifitas volkanik, dengan litologi yang terdiri dari diorit hornblenda,

tonalit porfiri, diorite kuarsa, dan breksi instrusif (breksi diaterma). Unit batuan

intrusi ini memiliki hubungan dengan proses mineralisasi bijih ekonomis di

beberapa tempat di Pulau Sumbawa, termasuk Batu Hijau. Kubah breksi

berkomposisi dasitik yang terletak sekitar 2,5 km dari Batu Hijau, diduga sebagai

bagian akhir dari rangkaian intrusi. Mineralisasi bijih logam ekonomis di daerah

ini dominan berasosiasi dengan stock tonalit porfir.

Arah umum kelurusan yang berkembang di Pulau Sumbawa bagian

baratlaut memiliki pola barat-baratlaut dan tenggara berdasarkan gambaran dari

citra satelit foto udara dan pengamatan terhadap sesar dan rekahan pada singkapan

di lapangan. Pola struktur ini dinterpretasikan sebagai hasil kompresi utara-selatan


yang berasosisasi dengan subduksi Tersier sepanjang busur Sunda-Banda ke

selatan (Meldrum dkk., 1994 dalam Ali, 1997).

Hasil pengamatan kelurusan topografi, dan data rekahan sesar pada

singkapan menunjukkan bahwa struktur umum bagian barat Pulau Sumbawa

berarah barat-barat laut dan timur laut memanjang sampai ke bagian selatan dari

Pulau Sumbawa. Struktur-struktur tersebut merupakan hasil dari kompresi yang

berarah utara-selatan yang berasosiasi dengan proses subduksi berumur Tersier

disepanjang bagian selatan dari Busur Sunda-Banda (Meldrum dkk., 1994 dalam

Ali, 1997).

Hasil pengamatan kelurusan topografi, dan data rekahan sesar pada

singkapan menunjukkan bahwa struktur umum bagian barat Pulau Sumbawa

berarah barat- barat laut dan timur laut memanjang sampai ke bagian selatan dari

Pulau Sumbawa. Struktur-struktur tersebut merupakan hasil dari kompresi yang

berarah utara-selatan yang berasosiasi dengan proses subduksi berumur Tersier

disepanjang bagian selatan dari Busur Sunda-Banda (Meldrum dkk., 1994 dalam

Ali, 1997).
Gambar 2.2 Peta Geologi Pulau Sumbawa Baratdaya (Garwin, 2000)

2.2. Geologi Daerah Batu Hijau

2.2.1. Fisiografi dan Morfologi Batu Hijau

Endapan Porfiri Cu-Au Batu Hijau terletak di Pulau Sumbawa

bagian barat daya. Pulau Sumbawa merupakan bagian dari sebelah timur

Paparan Sunda, di dalam sistem busur kepulauan Sunda-Banda (Sjoekri,

1997). Endapan Porfiri Batu Hijau merupakan bagian dari busur magmatik

berumur Neogen (Carlile dan Mitchell, 1994 dalam Garwin, 2000).

Secara umum morfologi daerah Batu Hijau memperlihatkan

kenampakan satuan perbukitan volkanik dan satuan perbukitan intrusi.

Satuan perbukitan volkanik tersusun oleh litologi berupa batuan andesit

volkaniklastik dan intrusi andesit porfiri, sedangkan satuan perbukitan

intrusi tersusun oleh batuan intrusi berupa diorit dan tonalit. Satuan

perbukitan volkanik memperlihatkan bukit-bukit yang relatif terjal dengan


vegetasi hutan tropis, sedangkan satuan perbukitan intrusi memperlihatkan

morfologi yang sedikit terjal dengan vegetasi yang berupa hutan tropis

(Garwin, 2000).

2.2.2. Struktur Geologi Batu Hijau

Pola struktur utama yang ada di daerah Batu Hijau terdiri dari

struktur berarah barat-baratlaut (W-NW) yaitu Zona Sesar Tongoloka-

Puna, Katala, dan Petung, serta struktur berarah utara-timurlaut (N-NE)

yaitu Zona Patahan Nono, Bambu, dan Rene. Zona struktur merupakan data

sesar pada pemetaan permukaan dan lubang bor. Struktur sesar dapat

diinterpretasikan dari pengukuran densitas rekahan pada conto inti bor

(RQD), dan keterdapatan gouge dan zona ubahan mineral lempung (Clode

dkk., 1998). Secara umum, patahan-patahan tersebut hanya sedikit

mengakibatkan penggantian dari zonasi alterasi dan zonasi mineralisasi

Zona Sesar Tongoloka-Puna terdiri dari pusat tubuh bijih, panjang ±

600 m dengan arah barat-baratlaut, kemiringan 60°-70°. Endapan yang

terletak pada timurlaut yaitu Zona Sesar Katala, panjang ± 525 m dengan

arah barat-baratlaut dan kemiringan 67° ke arah timurlaut. Zona Sesar Nono

dan Bambu berarah utara- timurlaut dan kemiringan 75° ke arah barat-

baratlaut. Batas selatan terjadi pada bagian tenggara dari endapan dengan

arah utara-timurlaut dan kemiringan 75°-80° ke arah tenggara. Urat-urat dan

dike kecil pada peta permukaan menunjukkan pola yang sama dengan

struktur berarah timurlaut.


2.2.3. Stratigrafi Batu Hijau

Berdasarkan proses mineralisasi, batuan di Batu Hijau dapat

dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu batuan pra-mineralisasi dan batuan host-

mineralisasi. Batuan pra-mineralisasi mendominasi penyebaran litologi di

area penambangan, yang terdiri atas batuan volkanik, intrusi andesit, dan

intrusi diorit. Batuan yang berperan dalam mineralisasi (host-mineralisasi)

tersusun atas batuan intrusi tonalit. Batuan pra- mineralisasi di Batu Hijau

berumur pertengahan Miosen Awal hingga pertengahan Pliosen Awal,

sedangkan batuan host-mineralisasi berumur pertengahan Pliosen Tengah

(Garwin, 2000).

Stratigrafi daerah Batu Hijau dimulai dari satuan batuan yang paling

tua ke muda adalah Satuan Batuan Volkanik, Satuan Andesit Porfir, Satuan

Diorit, dan Satuan Tonalit (Gambar 2.3; Gambar 2.4; Gambar 2.5). Satuan

Batuan Volkanik terdiri dari batuan volkaniklastik berukuran halus (tuf

halus), tuf kristal, dan intrusi andesit porfiritik. Intrusi kedua adalah diorit

kuarsa porfiritik dan diorit kuarsa ekuigranular. Semua seri batuan ini

diintrusi oleh batuan tonalit tua dan batuan tonalit muda (Garwin, 2000).

Urutan pembentukan batuan didasarkan pada hubungan potong-memotong

antara batuan (Gambar 2.3).


Gambar 2.3 Kolom stratigrafi satuan litologi di daerah Batu Hijau
(Garwin,2000)

Gambar 2.4 Penampang litologi section 050 area penambangan terbuka Batu Hijau
Gambar 2.5 Peta geologi area penambangan terbuka Batu Hijau (Tim Geologi
PT.NNT, 2010)
1. Satuan Tuf Andesitic

Tuf andesitik merupakan litologi yang paling dominan di Batu

Hijau. Batuan ini memiliki ketebalan batuan lebih dari 1500 m. Satuan tuf

andesitik ini terdiri atas dua unit batuan utama, yakni tuf halus dan tuf

kristal. Kontak antara dua unit batuan tersebut bersifat gradasional (Garwin,

2000).

Secara makroskopis, kenampakan batuan secara umum berwarna

abu-abu gelap, struktur masif, kaya akan kristal dan litik berupa

batulempung tufaan, batupasir, breksi, dan konglomerat. Tuf halus yang

berada di bagian bawah tersusun oleh batu lempung tufaan, batupasir, dan

breksi dengan ketebalan 150-200 m (Gerteisen, 1998). Pada area tambang,

tuf halus ini tersusun oleh 10-20% pecahan plagioklas dan hornblenda serta

litik berukuran < 2mm.

Tuf halus ini ditutupi secara selaras oleh tuf kristal yang memiliki

ketebalan 275-300 meter. Pecahan kristal pada unit ini berbentuk

membundar sampai menyudut. Batuan ini tidak memiliki perlapisan dan

memiliki pemilahan yang buruk.

Massa dasar dari unit ini mengandung butir berukuran lempung,

gelas, dan hancuran fragmen kristal. Garwin (2000) menginterpretasikan

bahwa unit batuan ini berumur Miosen Awal - Miosen Tengah, diendapkan

pada daerah fore arc dalam lingkungan bawah laut. Ketidakhadiran aliran

lava dalam unit batuan ini mengindikasikan bahwa sumber erupsi jauh dari
daerah Batu Hijau. Pengendapan unit Tuf andesitik tersebut seiring dengan

aktivitas volkanik andesitik yang terjadi di daerah ini.

Pada bagian atas dari tuf kristal terdapat batuan aglomerat dengan

fragmen berukuran bongkah (> 64 mm) yang tertanam dalam matriks tuf

litik kristal. Unit batuan aglomerat hanya memiliki jumlah kecil di area

penambangan. Unit aglomerat ini kemungkinan diendapkan sebagai

endapan laharik dalam lingkungan pengendapan subaerial dan

subaquaeous.

2. Satuan Andesit Porfiri

Batuan ini berumur lebih muda dari batuan Andesit Porfir, dan secara

geokimia memiliki kesamaan kandungan K2O < 0,8% dan secara tekstural

menunjukkan tekstur porfiritik hingga ekuigranular (Mitchell dkk., 1998).

Secara umum, intrusi diorit di Batu Hijau dikelompokkan menjadi 2, yaitu:

a. Diorit kuarsa ekuigranular

Diorit kuarsa ekuigranular merupakan intrusi pra-mineralisasi

terbesar. Secara regional batuan ini memotong batuan andesit porfiritik

dan diorit kuarsa porfiritik. Batuan ini berbutir halus-sedang, tekstur

ekuigranular, holokristalin. Fenokris berukuran 1-3 mm berupa

plagioklas, hornblenda, dan kuarsa. Masadasar berupa mikrokristalin

kuarsa dan plagioklas.

b. Diorit kuarsa porfiritik

Diorit kuarsa porfiritik merupakan batuan masif dengan tekstur


porfiritik. Unit ini sudah teralterasi kuat, berbutir halus-sedang,

masadasar berupa plagioklas, kuarsa, hornblenda, dengan fenokris berupa

plagioklas, hornblenda, dan biotit. Di area penambangan batuan ini

membentuk stock dan beberapa dike kecil.

3. Satuan Tonalit Porfiri

Batuan tonalit porfir menorobos kontak antara batuan volkanik dan

batuan diorit kuarsa ekuigranular. Batuan ini membentuk stock dan dike

yang semakin melebar ke dalam dan menyempit ke arah permukaan. Batuan

tonalit merupakan batuan pembawa mineralisasi di endapan pofiri Cu-Au

Batu Hijau. Pada daerah penelitian, intrusi tonalit ini terbagi menjadi dua,

yaitu tonalit tua dan tonalit muda, berdasarkan hubungan potong-memotong

dan perajahan radiometrik (Garwin, 2000). Kedua intrusi ini mempunyai

kesamaan komposisi dan fenokris, perbedaannya terletak pada umur,

persentase urat kuarsa, kelimpahan dan ukuran fenokris kuarsa, serta kadar

Cu dan Au-nya. Kedua unit batuan tersebut memiliki umur yang berdekatan

yaitu tonalit tua 3,76 ± 0,10 Ma, sedangkan tonalit muda 3,74 ± 0,14 Ma.

Menurut Mitchell, dkk. (1998), tonalit tua dan tonalit muda mempunyai

karakteristik sebagai berikut:

a. Tonalit teralterasi kuat

Batuan ini bertekstur porfiritik, berukuran butir halus-sedang,

fenokris berupa kuarsa berukuran 0,7-1 mm dengan kelimpahan lebih dari

20%, bentuk kristal umumnya anhedral-subhedral, dengan masa dasar yang


equigranular tersusun oleh kuarsa, hornblenda, dan plagioklas. Dalam

sayatan tipis, dapat terlihat bahwa plagioklas dalam batuan ini diidentifikasi

sebagai oligoklas (An40-50), dan beberapa sebagai andesin (An>50).

Plagioklas ini secara intersif telah terubah dan terpotong oleh urat kuarsa.

Mineral mafik sebagian besar telah terubah menjadi biotit sekunder dan

klorit. Satuan batuan ini didaerah penelitian disetarakan dengan tonalit tua.

Tonalit teralterasi lemah

Tonalit muda merupakan satuan intrusi batuan yang termuda di Batu

Hijau. Menurut Mitchell, dkk. (1998), tonalit muda berwarna abu-abu

terang, dengan ukuran butir medium-kasar, dicirikan dengan tekstur

porfiritik, fenokris berupa kuarsa (5-10 mm), plagioklas, dan hornblenda (2-

10 mm), dengan masa dasar yang equigranular, berukuran kasar-sedang.

Fenokris hornblende yang berukuran cukup besar membuat tonalit muda

mudah dikenali. Perbedaan antara tonalit muda dengan tonalit tua adalah

kehadiran fenokris kuarsa yang relatif lebih kasar yakni 8-10 mm dan

bentuk kristal rounded-bipyramid. Mineral mafik hadir lebih sedikit dalam

tonalit muda dengan masadasar yang relatif lebih kasar daripada tonalit tua.

Hornblenda hanya mengalami perubahan menjadi mineral biotit sekunder

dalam jumlah kecil. Urat-urat kuarsa sangat jarang dijumpai dan bahkan

kadang-kadang absen. Satuan batuan ini didaerah penelitian disetarakan

dengan tonalit muda.

2.2.4. Alterasi Hidrothermal dan Mineralisasi Batu Hijau

Alterasi hidrotermal yang berhubungan erat dengan mineralisasi


pada sistem porfiri Batu Hijau terbagi menjadi beberapa tahap berdasarkan

waktu pembentukannya (Mitchell, dkk., 1998), yaitu :

1. Alterasi tingkat awal (early alteration)

Alterasi tingkat awal terdiri dari proses biotisasi fenokris dan

masadasar mineral mafik serta pembentukan shreddy biotit, magnetit,

kuarsa dan anhidrit berasosiasi dengan biotit-kuarsa±magnetit stringer,

urat biotit serisit dan potong- memotong urat tipe A dan AB. Alterasi

awal terjadi pada bagian dalam dan proksimal intrusi tonalit. Pada tingkat

ini terdapatkalkosit, digenit dan digenit-bornit.

2. Alterasi tingkat transisi (transitional alteration)

Alterasi tingkat transisi ditandai dengan terubahnya biotit menjadi

klorit, oligoklas menjadi albit di sepanjang urat dan hadir serisit±kalsit.

Berasosiasi dengan urat AB dan B. Magnetit terubah menjadi

hematit.Mineralisasi berupa bornit dan kalkopirit.

3. Alterasi tingkat akhir (late alteration)

Alterasi tingkat akhir dicirikan oleh kehancuran feldspar (feldspar

destruction), alterasi serisit dan pembentukan urat sulfida tipe D. Urat

terisi oleh pirit dan kuarsa±kalkopirit. Urat pada Tahap alterasi ini

umumnya dikelilingi oleh halo urat-urat kecil pirit-biotit dan feldspar

yang terubahkan menjadi serisit. Pada perbatasan suatu tipe endapan

alterasi, tahapan alterasi ini sulit dibedakan dengan bagian luar tahap

alterasi transisi. Hal ini umumnya disebut “zona propilitik” (Clode dkk.,
1999).

4. Alterasi tingkat sangat akhir (very late alteration)

Alterasi tingkat sangat akhir dicirikan oleh kehancuran feldspar,

tetapi berbeda dengan late alteration, feldpar digantikan oleh smektit

berasosiasi dengan serisit dan klorit. Mineral sulfida berupa sphalerit,

galena, tennantit, pirit, kalkopirit dan sedikit bornit.

5. Alterasi zeolit (zeolit alteration)

Alterasi zeolit dicirikan oleh kehadiran mineral zeolit (stilbit dan

laumonit) yang terbentuk pada temperatur rendah. Dimana hadir dengan

munculnya kalsit, kuarsa, dan kristobalit yang mengisi rekahan/rongga.


Gambar 2.10 Peta alterasi area penambangan terbuka Batu Hijau (Tim Geologi
PT.NNT, 2010).

Alterasi yang berkembang pada daerah Batu Hijau berdasarkan

karakteristik alterasi dan asosiasi mineral ubahannya dapat diklasifikasikan

menjadi 5 zona alterasi (Mitchell dkk., 1998), yaitu:


a. Parsial Biotit

Zona alterasi ini merupakan zona alterasi awal yang terbentuk pada

batuan tonalit. Alterasi ini dicirikan mineral hornblenda yang sebagian

terubah menjadi biotit, disamping masih ditemukannya mineral

hornblenda primer yang utuh. Alterasi ini dapat dibedakan dengan

alterasi biotit sekunder dengan masih ditemukannya kristal hornblenda

yang berbentuk prismatik. Penyebaran Zona Alterasi Partial Biotit

mengikuti pola penyebaran intrusi tonalit muda.

b. Biotit Sekunder

Zona ini merupakan alterasi tingkat awal yang dicirikan dengan

hadirnya biotit sekunder dan magnetit serta umumnya berasosiasi dengan

urat kuarsa, dan hornblenda yang teralterasi menjadi biotit. Mineral

plagioklas bersifat relatif stabil namun dapat teralterasi menjadi biotit,

kalsit, anhidrit, K-feldspar pada bagian pinggir atau bidang belahan.

Alterasi ini juga biasanya ditandai dengan asosiasi mineral porfiri tingkat

tinggi seperti bornit, digenit, magnetit, serta secara bergradasi keluar

menjadi kalkopirit dan pirit. Intensitas alterasi pada zona alterasi ini pada

umumnya lebih tinggi daripada zona alterasi parsial biotit.

c. Pale Green Mica (PGM)

Zona ini merupakan alterasi tingkat transisi yang dicirikan dengan

kehadiran mika hijau yang mengandung klorit dan serisit, klorit overprint

dengan biotit sekunder, berasosiasi dengan kalkopirit dan urat tipe B.


d. Klorit-Epidot

Klorit-epidot merupakan alterasi tingkat awal yang dicirikan

dengan hadirnya klorit dan epidot, serta pirit, magnetit, kalsit. Plagioklas

teralterasi menjadi epidot dan kalsit serta mineral-mineral mafik menjadi

klorit.

e. Hancuran Feldspar (Feldspar Destructive)

Zona alterasi yang terbentuk paling akhir, dicirikan dengan clay,

serisit, andalusit, dan piropilit. Zona ini dicirikan dengan biotit, magnetit

yang rusak, dan berasosiasi dengan urat yang terisi mineral pirit.

2.3. Peranan Mine Geology dalam Pertambangan

Geologi sebagai ilmu yang mempelajari bumi, mempunyai peranan

penting di dalam bidang pertambangan terutama dalam penataan lingkungan

daerah pertambangan, yang kajian utamanya adalah membahas karakteristik

fisik dan kimiawi lingkungan pertambangan yang meliputi aspek-aspek

Klimatologi, Geomorfologi, Geologi, dan Hidrogeologi. Bentuk roman

muka bumi (bentang alam) yang sesuai untuk suatu kawasan pertambangan

ditentukan berdasarkan hasil pengamatan terhadap lansekap lapangan yang

meliputi relief, kemiringan lereng, ketinggian daerah (elevasi), pola

pengaliran sungai, litologi, dan struktur geologi yang berkembang.

Pembukaan kawasan pertambangan pada daerah dengan morfologi

curam/terjal perlu ditunjang oleh beberapa kegiatan geologi

teknik/hidrogeologi seperti pemeliharaan stabilitas lereng (slope stability)


dan penirisan (dewatering), untuk menghindari terjadinya longsor/runtuhan

akibat dibukanya jalan (road cuts) dan sistem penambangan yang

diterapkan. Dalam suatu operasi pertambangan, perlu dipertimbangkan

faktor dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh pengambilan tanah

penutup, batuan dan mineral-mineral ekonomis.

Dalam industri pertambangan, seseorang yang berprofesi sebagai ahli

geologi adalah yang bertugas untuk mencari, menghitung nilai ekonomis

cadangan bahan – bahan galian atas dasar data – data geologi yang

dikumpulkannya baik data permukaan bumi maupun bawah permukaan

bumi. Data – data geologi ini adalah data dasar yang sangat penting selain

untuk mencari dan menghitung cadangan, juga sangat penting dalam

perencanaan tambang itu sendiri.

Setelah bahan galian ditemukan dan bernilai ekonomis, barulah bahan

galian itu dibongkar, dimuat dan diangkut. Inilah profesi tambang – ilmu

tambang yang sebenarnya. Jadi jelaslah bahwa profesi geologi adalah

tenaga eksplorasi sedangkan profesi tambang – ilmu tambang sebagai

tenaga eksploitasi.

Suatu data geologi berisi data – data penting dan dapat diterjemahkan

ke dalam informasi yang dapat digunakan langsung untuk memecahkan

persoalan eksplorasi bahan galian, persoalan lingkungan maupun persoalan

keteknisan lainnya. Keadaan geologilah yang menentukan tingkat

kesuburan tanah untuk pertanian, banyaknya air yang bisa tersedia bagi
kehidupan sehari – hari, banyaknya minyak bumi, batubara dan energi

lainnya, banyaknya bahan galian / mineral untuk industri, bahan bangunan

untuk konstruksi dan juga ada tidaknya letusan gunung api, gerakan tanah,

longsor dan bencana alam lainnya yang mengancam keselamatan manusia.


BAB III

RUANG LINGKUP KERJA PRAKTEK

3.1. Lokasi Kerja Praktek

Untuk tempat pelaksanaan Kerja Praktek adalah di konsesi PT. AMMAN

MINERAL NUSA TENGGARA. Mine Geology, Sekongkang, Sumbawa

Barat, NTB.

3.2. Bidang Pembahasan

Kerja Praktek (KP) ini terbatas pada bidang pembahasan bagaimana

menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan pertambangan

terkait dengan Mine Geology di PT. AMMAN MINERAL NUSA

TENGGARA.

Nb: Tema kegiatan dapat disesuaikan dengan pertimbangan efektifitas dan

efisiensi dari PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA.

3.3. Lingkup Waktu dan Kegiatan

Waktu pelaksanaan Kerja Praktek direncanakan dari 25 Juni 2017 sampai

dengan 25 Juli 2017 (Tabel 1).


Tabel 1. Rencana kegiatan

Juni Juli
No Macam Kegiatan
IV I II III
Pengenalan lingkup kerja di PT. AMMAN
1
MINERAL NUSA TENGGARA
Menjalankan tugas yang diberikan oleh
2 PT. AMMAN MINERAL NUSA
TENGGARA
3 Pembuatan laporan

Rencana kegiatan tersebut dapat berubah dengan menyesuaikan tugas yang

diberikan oleh PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA. Pada dasarnya,

rencana tersebut merupakan suatu gambaran kasar pencapaian target Kerja

Praktek yang akan dilaksanakan sehingga pelaksanaan Kerja Praktek diharapkan

dapat berlangsung secara optimal dan efisien dalam skala ruang dan waktu.

Kami juga sangat berharap kepada PT. AMMAN MINERAL NUSA

TENGGARA apabila jawaban dari proposal yang kami ajukan dijawab selambat-

lambatnya 3 minggu sebelum tanggal pelaksanaan.

3.4. Hasil Kerja Praktek

Hasil kerja praktek diwujudkan dalam bentuk laporan Kerja Praktek. Laporan

Kerja Praktek disetujui oleh dosen pembimbing dan pembimbing kerja praktek di

PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA.


BAB IV

PENUTUP

Pelaksanaan Kerja Praktek ini diharapkan menjadi jalinan kerjasama yang

baik antara lembaga pendidikan dan pihak perusahaan, yaitu antara Sekolah

Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta khususnya Jurusan Teknik Geologi dan

PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA. Merupakan suatu kesempatan

yang berharga apabila kami (mahasiswa) dapat melakukan Kerja Praktek yang

didukung oleh PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA, sehingga dapat

membuka wawasan dan pengalaman mahasiswa pada bidang geologi teknik

dalam dunia pertambangan. Hasil dari Kerja Praktek ini akan disusun dalam

bentuk laporan hasil penelitian dan akan dipresentasikan di lingkungan Jurusan

Teknik Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta. Besar harapan

atas terkabulnya permohonan Kerja Praktek ini. Atas perhatian dan bantuannya,

kami ucapkan banyak terima kasih.


LAMPIRAN

Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan, kami lampirkan beberapa

dokumen, antara lain :

- Surat pengantar kerja praktek dari Sekolah Tinggi Teknologi Nasional

Yogyakarta.

- Scan KTM & KTP.

- Transkrip Nilai.