Anda di halaman 1dari 3

PENOLAKAN RESUSITASI

( DO NOT RESUSCITATE / DNR )


No. Dokumen No Revisi : Halaman :

010/IGD/X/2016 01 1/3
RS PKU MUHAMMADIYAH
.
GAMPING

Ditetapkan oleh Direktur Utama


STANDAR Tanggal terbit
PROSEDUR
OPERASIONAL 6 Oktober 2016
dr. H. Ahmad Faesol, Sp. Rad., M. Kes
NBM: 797.692
PENGERTIAN Tindakan Do Not Resusitate (DNR) adalah suatu tindakan dimana
apabila pasien mengalami henti jantung dan atau henti nafas para
medis tidak akan dipanggil dan tidak akan melakukan usaha
tindakan resusitasi jantung paru dasar maupun lanjut.
TUJUAN Tujuan pembuatan Panduan Do Not Resusitate ( DNR ) meliputi :
1. Sebagai acuan penerapan langkah-langkah Untuk memastikan
bahwa pengambilan keputusan Do Not Resusitate (DNR)
tidak disalah artikan / di salah interprestasikan.
2. Sebagai acuan penerapan langkah-langkah Untuk memastikan
terjadinya komunikasi, pencatatan, dan terstandarisasi tentang
pengambilan keputusan Do Not Resusitate (DNR).
KEBIJAKAN Surat Keputusan Kepala Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
gamping Nomer: 1653/SK.3.2/X/2016 tentang Kebijakan Hak
dan Kewajiban Pasien dan Keluarga
PROSEDUR 1. Merupakan langkah penentuan atau pengambilan keputusan
oleh tenaga medis untuk tidak melakukan resusitasi kepada
pasien yang mengalami kegawatan.
2. Harus tetap ada anggapan untuk tetap melakukan resusitasi
kecuali sudah ada keputusan baik secara lisan dan tulisan
untuk tidak melakukan resusitasi.
3. Keputusan tindakan DNR harus dicatat pada rekam medis
pasien.
4. Pasien harus diberikan informasi sejelas-jelasnya tentang
kondisi dan penyakit serta kemungkinan terjadi henti
nafas/henti jantung dan kemungkinan adanya tindakan DNR
yang akan dilakukan, antara lain :
a. Kondisi pasien dan diagnose penyakit.
b. Prognosis penyakit.
c. Alternatif upaya medis.
PENOLAKAN RESUSITASI
( DO NOT RESUSCITATE / DNR )
No. Dokumen No Revisi : Halaman :

010/IGD/X/2016 01 2/3
RS PKU MUHAMMADIYAH
.
GAMPING
b. Akhibat dan resiko yang mungkin terjadi.
5. Informasi diberikan oleh dokter penanggung jawab pasien
dengan menggunakan teknik komunikasi yang baik.
6. Keluarga mengisi formulir DNR yang telah ada dengan
sebelumnya diberi informasi sejelas-jelasnya.
7. RJP sebaiknya tidak dilakukan apabila :
a. RJP dinilai tidak dapat mengembalikan fungsi jantung dan
pernafasan pasien.
b. Pasien dewasa, yang kompeten secara mental dan memiliki
kapasitas untuk mengambil keputusan, menolak untuk
dilakukan usaha RJP.
c. Terdapat alasan yang valid, kuat, dan dapat diterima
mengenai pengambilan keputusan untuk tidak melakukan
tindakan RJP.
d. Terdapat perintah DNR sebelumnya yang valid, lengkap,
dan dengan alasan kuat.
e. Pada pasien-pasien yang berada dalam fase terminal
penyakitnya / sekarat, dimana tindakan RJP tidak dapat
menunda fase terminal / kondisi sekarat pasien dan tidak
memberikan keuntungan terapeutik (resiko / bahayanya
melebihi keuntungan).
8. Keputusan melakukan DNR harus merupakan langkah terbaik
bagi pasien dan sudah di diskusikan dengan pasien.
9. Di status rekam medis pasien harus tercantum data-data:
a. Tulisan “Pasien ini tidak dilakukan resusitasi”.
b. Tulis tanggal dan waktu pengambilan keputusan.
c. Indikasi / alasan tindakan DNR.
d. Batas waktu berlakunya intruksi DNR.
e. Nama dokter penanggung jawab pasien.
f. Ditanda tangani oleh dokter penanggung jawab pasien
(yang mengambil keputusan).
10. Pada pasien akan dipasang Gelang warna ungu.
11. Pada beberapa kasus, tidak terdapat batasan waktu
pemberlakuan instruksi DNR, misalnya : keganasan fase
terminal.
12. Pada pasien asing (luar negeri) dan populasi etnis minoritas
dimana terdapat kesulitan pemahaman bahasa, harus terdapat
PENOLAKAN RESUSITASI
( DO NOT RESUSCITATE / DNR )
No. Dokumen No Revisi : Halaman :

010/IGD/X/2016 01 3/3
RS PKU MUHAMMADIYAH
.
GAMPING
layanan penerjemah yang kompeten.
13. DNR hanya berarti tidak dilakukan tindakan RJP. Penanganan
dan tatalaksana pasien lainnya tetap dilakukan dengan
optimal.
UNIT TERKAIT IGD, Kamar Bedah, Instalasi Rawat inap, ICU