Anda di halaman 1dari 42

PEDOMAN

PELAYANAN INSTALASI
GAWAT DARURAT (IGD)

RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING


Jl. Wates KM 5,5 Gamping, Sleman, Yogyakarta—55294
Telp. 0274 6499706, Fax. 0274 6499727
i
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GAMPING
Nomor : 2115/SK.3.2/X/2016
Tentang
PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI GAWAT DARURAT

DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GAMPING


Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan kualitas dan
keselamatan pasien, maka diperlukan adanya Pedoman
Pelayanan Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit
PKU Muhammadiyah Gamping.
b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Pedoman
Pelayanan Instalasi Gawat Darurat dengan Keputusan
Direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping.
Mengingat : 1. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan
2. Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
3. Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktek Kedokteran.
4. Surat Keputusan Badan Pelaksana Harian Rumah Sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta nomer: 0163/B-II/BPH-
III/III/2016 tanggal 2 Maret 2016 M, tentang Penetapan
Susunan Direksi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Gamping periode 2016 – 2020

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
PERTAMA KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU
MUHAMMADIYAH GAMPING TENTANG PEDOMAN
PELAYANAN INSTALASI GAWAT DARURAT

i
KEDUA : Dengan ditetapkannya keputusan ini maka keputusan
direktur RS PKU Muhammadiyah Gamping nomor:
1020/SK.3.2/XII/2015 tentang Instalasi Gawat Darurat
dinyatakan tidak berlaku.
KETIGA : Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat sebagaimana
dimaksud diktum pertama dipergunakan staf untuk menjadi
acuan dalam pelayanan pasien di ruang rawat intensif.
KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Sleman
Pada Tanggal : Oktober 2016
Direktur,

dr. H. Ahmad Faesol, Sp. Rad. M. Kes.


NBM: 797.692

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahuwata’ala, Tuhan semesta alam


yang telah memberikan Ridlo dan Petunjuk – Nya, sehingga Pedoman Pelayanan
Instalasi Gawat Darurat ini dapat diselesaikan dan dapat diterbitkan.
Panduan ini dibuat untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan pelayanan di
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping.
Untuk peningkatan mutu pelayanan diperlukan pengembangan kebijakan,
pedoman, panduan dan prosedur. Untuk tujuan tersebut panduan ini akan kami
evaluasi setidaknya setiap 2 tahun sekali. Masukan, kritik dan saran yang
konstruktif untuk pengembangan panduan ini sangat kami harapkan dari para
pembaca.

Sleman, Oktober 2015

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Halaman:

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Pedoman 2
C. Ruang Lingkup 2
D. Batasan Operasional 3
E. Landasan Hukum
BAB II STANDAR KETENAGAAN 4
A. Kualifikasi sumberdaya Insani 4
B. Distribusi ketenagaan 5
C. Pengaturan Jaga
BAB III STANDAR FASILITAS 6
A. Denah Ruang 6
B. Standar Fasilitas
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN 7
A. Peneimaan Pasien Baru 7
B. Lapor DPJP 8
C. Pemeriksaan Laboratorium 8
D. Pemeriksaan Radiologi 8
E. Pelayanan Obat Obatan 9
F. Pelayanan Transfusi Darah 10
G. Tindakan Operatif DAFTAR ISI 10
H. Pengadaan Diet Hal:11
A.I. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik / Tindakan di Luar Ruamah Sakit
J. Pelayanan Fisioterapi 16
17
ii18

20
K. Pindah Pasien keruangan Lain 11
L. Menyiapkan Pasien Pulang 12
M. Merujuk Pasien / Pindah Ruamah Sakit 14
BAB V LOGISTIK
A. Standar Alat Medis / Keperawatan 16
B. Standar Alat Rumah Tangga 17
C. Standar Alat Tulis Kantor 18
BAB VI KESELAMATAN PASIEN
A. Pengertian 20
B. Tujuan 20
C. Standar Keselamatan Pasien 21
BAB VII KESELAMATAN KERJA
A. Pendahuluan 23
B. Tujuan 23
C. Tindakan yang berisiko terpajan 24
D. Prinsip keselamatan kerja 24
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU 26
BAB IX PENUTUP 30

iii
PEDOMAN PELAYANAN UNIT GAWAT DARURAT

RS ISLAM PKU MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah Maluku Utara sebagai amal


usaha milik Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bergerak dibidang pelayanan
kesehatan selalu ingin meningkatkan pelayanannya baik sarana, prasarana
maupun kwalitas sumber daya manusianya. Sejak tahun 2009 Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Gamping telah beroperasional sebagai upaya pengembangan
dari RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dan yang pertama melakukan
pelayanan diantaranya adalah Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Rumah sakit tidak akan lengkap jika tidak mempunyai sebuah instalasi
yang bisa memberikan pelayanan bagi pasien yang mengalami keadaan
emergensi atau gawat darurat. Walaupun hanya 20-30% pasien yang datang ke
IGD benar-benar mempunyai masalah darurat, harus diasumsikan bahwa setiap
pasien yang datang ke IGD mempunyai kondisi darurat. Oleh karena itu,
pertanyaan pertama dan paling penting adalah “Apakah Keadaanya Mengancam
Jiwa?”

Penanganan emergensi dilakukan secara cepat, akurat dan komprehensif


oleh tenaga medis dan perawat yang profesional yang telah terlatih dengan
didukung peralatan mutahir dan dapat diandalkan. Peran dokter bersama perawat
di IGD adalah untuk menangani penyebab keadaan kedaruratan yang serius atau
yang mengancam nyawa pada pasien, bukan untuk sampai pada diagnosis pasti.
Setelah kondisi pasien stabil maka pasien akan dirujuk pada pada dokter
spesialis sesuai penyakitnya untuk mendapatkan terapi yang definitif.

4
B. Tujuan Pedoman

Pedoman pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak dalam tata cara
pelaksanaan pelayanan yang diberikan ke pasien pada umumnya dan pasien IGD
RS Islam PKU Muhammadiyah Maluku Utara

Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka, dalam melakukan pelayanan gawat
darurat di IGD RS Islam PKU Muhammadiyah Maluku Utara harus berdasarkan
pedoman pelayanan Gawat Darurat RS IGD RS PKU Muhammadiyah Maluku
Utara. Pedoman ini bertujuan memberikan arah dan petunjuk dalam pelayanan
gawat darurat

Adapun tujuan pealayanan dari Instalasi Gawat Darurat RS Islam PKU


Muhammadiyah Maluku Utara adalah:

1. Mempersingkat respon time;


2. Mampu memberi pelayanan Spesialistik sesuai dengan kemampuan klinis
(Clinical Previledges);
3. Terwujudnya pelayanan terpadu IGD yang mampu mengatasi masalah
kegawatdaruratan secara cepat untuk memilah atau mengklasifikasikan
pasien menurut keparahan dan kondisi kedaruratan (triage);
4. Terwujudnya pelayanan IGD yang cepat, akurat dan handal dalam rujukan
nasional

C. Ruang Lingkup dan Batasan Operasional

Ruang lingkup pelayanan IGD RS Islam PKU Muhammadiyah Maluku Utara


meliputi :

1. Layanan Diluar Rumah Sakit (Pre- Hospital)

5
a) Ruang lingkup ini melayani paggilan (on-call) kasus gawat darurat,
yang terjadi sehari-hari baik perorangan maupun kasus massal. Layanan
yang diberikan adalah berupa layanan on call dengan tindakan triase
lapangan, treatmen life saving, satabilisasi dan evakuasi, dengan sumber
daya perawat dan atau dokter IGD dengan transportasi ambulan gawat
darurat.
b) Layanan emergensi by phone dilakukan untuk kondisi gawat darurat
yang diberikan melalui telepon dengan memberikan arahan dan
petunjuk pertolongan pertama dan proses rujukan yang benar untuk
kebutuhan layanan gawat darurat lebih baik
2. Layanan di dalam Rumah Sakit (Intra Hospital) khususnya IGD
a) Pasien dengan kasus kasus kritis dan resusitasi (critical care)
Yaitu pasien yang tiba – tiba berada dalam keadaan gawat darurat atau
akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya
(akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolonngan secepatnya.

b) Ruang lingkup layanan tidak kritis (non emergency)


Layanan bagi klien yang datang ke IGD dengan kreteria tidak ada
ancaman kematian dan kecacatan dengan layanan bisa ditunda dengan
mendahulukan kondisi yang kritis atau gawat darurat.
Kondisi tersebut dapat disimpulkan seperti dibawah ini :

a. Keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat


b. Keadaan gawat tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota
badannya
c. Keadaan tidak gawat dan tidak darurat

6
D. Batasan Operasional

1. Instalasi Gawat Darurat


Adalah unit pelayanan di rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama
pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan
melibatkan berbagai multidisiplin.
2. Triase
Adalah pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya trauma
/ penyakit serta kecepatan penanganan dan mekanisme pemindahannya.
3. Prioritas
Adalah penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan dan
pemindahan yang mengacu tingkat ancaman jiwa yang timbul.
4. Survey Primer
Adalah deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancam
jiwa.
5. Survey Sekunder
Adalah melengkapi survei primer dengan mencari perubahan – perubahan
anatomi yang akan berkembang menjadi semakin parah dan memperberat
perubahan fungsi vital yang ada berakhir dengan mengancam jiwa bila tidak
segera diatasi.
6. Pasien Gawat darurat
Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat
dan terancam nyawanya atau anggota badannya ( akan menjadi cacat ) bila
tidak mendapat pertolongan secepatnya.
7. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan
darurat misalnya kanker stadium lanjut

7
8. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba – tiba tetapi tidak mengancam
nyawa dan anggota badannya, misalnya luka sayat dangkal.
9. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Misalnya pasien dengan ulcus tropium , TBC kulit , dan panas 1 hari, batuk
sebagainya
10. Kecelakaan ( Accident )
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang datangnya
mendadak, tidak dikehendaki sehingga menimbulkan cedera fisik, mental
dan sosial.
Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut :
a. Tempat kejadian :
1) Kecelakaan lalu lintas
2) Kecelakaan di lingkungan rumah tangga
3) Kecelakaan di lingkungan pekerjaan
4) Kecelakaan di sekolah
5) Kecelakaan di tempat – tempat umum lain seperti halnya : tempat
rekreasi, perbelanjaan, di area olah raga, dan lain – lain.
b. Mekanisme kejadian
Tertumbuk, jatuh, terpotong, tercekik oleh benda asing, tersengat,
terbakar baik karena efek kimia, fisik maupun listrik atau radiasi.
c. Waktu kejadian
1) Waktu perjalanan ( travelling / transport time )
2) Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain dan lain – lain.
11. Cidera
Masalah kesehatan yang didapat / dialami sebagai akibat trauma.
12. Kasus Masal dan Bencana
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau
manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaaan manusia, kerugian

8
harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan prasarana
umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat
dan pembangunan nasional yang memerlukan pertolongan dan bantuan.
Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau
kegagalan dari salah satu system / organ di bawah ini, yaitu :
a. Susunan saraf pusat
b. Pernafasan
c. Kardiovaskuler
d. Hati
e. Ginjal
f. Pancreas
Kegagalan ( kerusakan ) System / organ tersebut dapat disebabkan oleh :
a. Trauma / cedera
b. Infeksi
c. Keracunan ( poisoning )
d. Degerenerasi ( failure)
e. Asfiksi
f. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar ( excessive loss
of water and electrolit )
g. Dan lain-lain.

Kegagalan sistim susunan saraf pusat, kardiovaskuler, pernafasan dan


hipoglikemia
dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat ( 4–6menit ),
sedangkan kegagalan sistim/organ yang lain dapat menyebabkan
kematian dalam waktu yang lama.
Dengan demikian keberhasilan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat
(PPGD) dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh :
a. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat

9
b. Kecepatan meminta pertolongan
c. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan
a. Ditempat kejadian
b. Dalam perjalanan ke rumah sakit
c. Pertolongan selanjutnya secara baik di rumah sakit

E. Landasan Hukum
1. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Surat Keputusan Badan Pelaksana Harian Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta nomer 015/B-II/BPHII/XII/2014 tanggal
12 Desember 2014 M, tentang Susunan Direksi Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II.
5. Kep.Men.Kes RI.No. 856/MenKes/SK/IX/2009 tentang Standart
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit

10
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Pola ketenagaan dan kualifikasi sumber daya manusia (SDM) Instalasi Gawat
Darurat mengacu pada buku Pedoman Pelayanan Gawat Darurat Departemen
Kesehatan tahun 2009, secara rinci disajikan pada tabel di bawat ini:

Nama Jmlh Kondisi


Pendidikan Sertifikasi Ket.
Jabatan K.Butuh Riil
Ka.Instal Dokter ACLS/ATLS/NLS/ 1 1
asi Spesialis FCCS/USLS/ECL
Emergency S/

Koordinat Dokter ACLS/ATLS/ 1 1


or Medis umum GELS/PPGD

Dokter Dokter ACLS/ATLS/ 10 22 (1) Parttime


Jaga Spesialis GELS/PPGD /konsulen
Emergensi
(1) & dokter (2) 6 tetap yang
umum (2) lain Partime

Superviso S2 PPGD/EKG/HOPE 1 1
r Keperawatan /Paramedik/Manaj
. emen Kep.

Koordinat S1/DIII Kep. BTLS/BCLS/ 6 6


or shift PPGD/GELS

Perawat S1/DIII Kep. PPGD/BCLS 17 13


Pelaksana

11
Care SMA /S1 BLS 10 6 1 shift harusnya
Giver & 3
Satpam
1 satpam 2 care
giver

Pendaftar DIII RM BLS 5 5 Masih gabung


an bagian RM

Petugas Asisten BLS 4 1 Belum setiap


Farmasi hari standnbay
Apoteker farmasi di IGD

B. Distribusi Ketenagaan

Pola pengaturan ketenagaan Instalasi Gawat Darurat yaitu :

1. Untuk Dinas Pagi (mulai jam 08.00 – 14.00 WIB)

Yang bertugas sejumlah 5 - 6 ( dua ) perawat orang dengan 1 koordinator


shift dan 2 oarang dokter jaga dengan kategori perawat : 1 supervisor, 1
koordinator shift, dan 3 atau 4 perawat pelaksana.

2. Untuk Dinas Sore (14.00 – 21.00 WIB)


Yang bertugas sejumlah 4-5 0rang Perawat dengan kategori 1 orang
coordinator shift dan 3-4 perawat pelaksana , dan 2 dokter jaga
3. Dinas Malam (21.00 – 07.00 WIB)
Yang bertugas sejumlah 4 orang perawat dengan kategori 1 orang coordinator
shift dan 3 orang perawat pelaksana , dan 1 orang dokter jaga.

12
C. Pengaturan Jaga

1. Pengaturan Jaga Perawat IGD


a. Pengaturan jadwal dinas perawat IGD dibuat dan di pertanggung
jawabkan oleh supervisor IGD dan disetujui oleh supervisor SDI dan
Manajer Keperawatan
b. Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke
perawat pelaksana IGD setiap satu bulan.
c. Untuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada hari
tertentu, maka perawat tersebut dapat mengajukan permintaan dinas pada
buku permintaan. Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga
yang ada (apa bila tenaga cukup dan berimbang serta tidak mengganggu
pelayanan, maka permintaan disetujui).
d. Setiap tugas jaga/shift harus ada perawat penanggung jawab shift
(koordinator Shift) dengan syarat pendidikan minimal D III Keperawatan
dan masa kerja minimal 2 tahun, serta memiliki sertifikat tentang kegawat
daruratan.
e. Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, dinas sore, dinas malam, lepas
malam, libur dan cuti.
f. Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat
jaga sesuai jadwal yang telah ditetapkan (terencana), maka perawat yang
bersangkutan harus memberitahu Karu IGD : 2 jam sebelum dinas pagi, 4
jam sebelum dinas sore atau dinas malam. Sebelum memberitahu Karu
IGD, diharapkan perawat yang bersangkutan sudah mencari perawat
pengganti, Apabila perawat yang bersangkutan tidak mendapatkan
perawat pengganti, maka supervisor IGD akan mencari tenaga perawat
pengganti yaitu perawat yang hari itu libur.
g. Apabila ada tenaga perawat tiba–tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang
telah ditetapkan (tidak terencana), maka supervisor IGD akan mencari

13
perawat pengganti yang hari itu libur atau perawat IGD yang tinggal di
asrama. Apabila perawat pengganti tidak di dapatkan, maka perawat yang
dinas pada shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.

2. Pengaturan Jaga Dokter IGD


a. Pengaturan jadwal dokter jaga IGD menjadi tanggung jawab koordinator
dokter jaga dan Ka Instalasi Gawat Darurat dengan disetujui oleh Manajer
Pelayanan dan penunjang medik.
b. Jadwal dokter jaga IGD dibuat untuk jangka waktu 1 bulan serta sudah
diedarkan ke unit terkait dan dokter jaga yang bersangkutan 1 minggu
sebelum jaga di mulai.
c. Apabila dokter jaga IGD karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
d. Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke koordinator dokter jaga atau Ka Instalasi Gawat
Darurat paling lambat 3 hari sebelum tanggal jaga, serta dokter tersebut
wajib menunjuk dokter jaga pengganti.
e. Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke koordinator dokter jaga atau Ka Instalasi Gawat
Darurat dan di harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga
pengganti, apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan, maka Ka
Instalasi Gawat Darurat wajib untuk mencarikan dokter jaga pengganti,
yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu libur atau dirangkap
oleh dokter jaga ruangan. Apabila dokter jaga pengganti tidak di dapatkan
maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.
f. Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke koordinator dokter jaga atau Ka Instalasi Gawat
Darurat dan di harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga
pengganti, apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan, maka Ka

14
Instalasi Gawat Darurat wajib untuk mencarikan dokter jaga pengganti,
yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu libur atau dirangkap
oleh dokter jaga ruangan. Apabila dokter jaga pengganti tidak di dapatkan
maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.
3. Pengaturan Jadwal Dokter Konsulen

a. Pengaturan jadwal jaga dokter konsulen menjadi tanggung jawab


Manager Pelayanan medik dan Penunjang medik
b. Jadwal jaga dokter konsulen dibuat untuk jangka waktu 3 bulan serta
sudah diedarkan ke unit terkait dan dokter konsulen yang bersangkutan 1
minggu sebelum jaga di mulai.
c. Apabila dokter konsulen jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
d. Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Manager Pelayanan atau ke petugas sekretariat
paling lambat 3 hari sebelum tanggal jaga, serta dokter tersebut wajib
menunjuk dokter jaga konsulen pengganti.
e. Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Manager Pelayanan atau ke petugas sekretariat dan
di harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga konsulen
pengganti, apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan, maka Manager
Pelayanan wajib untuk mencarikan dokter jaga konsulen pengganti.

15
BAB III

STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang

PANEL & SDP


WA S HI NG

R.
OK EM ERGENCY RECOV ERY & S CRA B I NG

RUA NG TI NDA K A N

T UNGGU IGD
RUANG
N U R SE ST AT I O N KM KM
RES P I RATORY CA R
(A S THM A B AY )

OB S ERV A S I 4

RUA NG GUDA NG
OB AT I GD CRI TI CAL CARE RUA NG
NON EM ERGENCY

RUA NG K EGA WATA N R U AN G R U AN G


K EB I DA NA N (P ONEK )
R ESU SI T ASI I SO L ASI PER I K SA
OB S ERV A S I 3 OB S ERV A S I 2 OB S ERV A S I 1

U
Alur Ambulance => => => => => => Drop Area
DENAH I G D

Keterangan :
Ruang IGD terdiri dari beberapa ruang yaitu :
1. Ruang Droup Zone (tempat penurunan pasien)
2. Dekontaminasi area
3. Parker ambulan gawat darurat
4. Ruang Triase Primer dan tempat satpam serta care giver sebagai customer
servis IGD
5. Ruang Triase Skunder (oleh perawat & atau dokter)
6. Ruang Isolasi IGD
7. Pendaftaran IGD
8. Ruang Non Emergensi
9. Ruang Periksa Emergency

16
10. Ruang Critical Care terdiri dari Ruang :
a. Nurse Station
b. Resusitasi
c. Periksa, tindakan & Observasi (4) ruang
d. Kegawatan Kebidanan (Ponek)
e. Gudang farmasi IGD
f. Tindakan Minor
g. Respiratory care (AsthmaBay)
h. Kamar Operasi Emergency
i. Ruang scrubing & Recovery room
11. Tempat cuci alat alat IGD (washing)
12. Ruang edukasi
13. Ruang tunggu keluarga dan pasien
14. Kamar mandi pasien dan petugas
15. Ruang ganti laki-laki dan perempuan
16. Kamar jaga dokter

B. Denah Fasilitas
1. Ruang Resusitasi :
a. 3 tempat pasien lengkap dengan 3 outlet O2 sentral dan 3 suction
sentral
b. 3 gantungan infuse menempel di langit-langit
c. 3 bedsite monitor dengan 3 monitor diluar ruang resusitasi
d. 3 lampu periksa yang menempel didinding
e. 1 wastafel
f. 1 handwash
g. 2 Troly emergency (satu troly untuk obat Hight alert)
h. 1 troly mobile
i. 1 almari alat dan obat-obat emergency

17
j. 3 oksigen tabung mobile
k. 1 CPR Board
l. 1 ventilator portable
m. 1 easymove
n. 1 pressur bag
o. 3 tempat sampah
2. Nurse station :
a. 1 meja nurse staion
b. 4 kursi gerak
c. 2 kursi pasien atau keluarga
d. 2 line & Billing computer
e. 3 line telpon (2 internal dan 1 akses langsung)
f. 2 head set
g. 1 wastafel & 1 hand wash
h. 3 biilling cabinet
i. 1 set Alat vital sign
j. 1 tabung APAR
k. 1 lampu baca rontgen
l. 1 Pneumatic Cub
m. 1 tombol alarm dan Gas
n. 1 tempat sampah
3. Pemeriksaan & Observasi
a. 4 tempat bed mobile
b. 2 tempat respiratori care (kursi Sofa)
c. 4 area tempat infuse menggantung di langit-langit
d. 3 wastafel
e. 1 bedside monitor
f. 5 outlet oksigen & suction sentral
g. 5 lampu periksa

18
h. 2 nebuliser mobile
i. 2 troly tindakan minor dan bedah
j. 2 troly tindakan bedah dan keperawatan
k. 1 alat APAR
l. 3 tempat sampah

4. Ruang Gudang Farmasi


a. 2 almari obat dan alkes
b. 1 rak alkes dan stok alat2 stabilisasi (spt Bidai dan balutan)
c. 2 bok Obat dan alkes ambulans gawat darurat
d. 1 billing cabinet obat Hight alert & narkotik dan tempat stok linen
dan perlak
e. 1 tempat sampah
5. Ruang Tindakan Minor
a. 1 meja operasi
b. 1 lampu operasi
c. 1 troly tindakan minor
d. 2 outlet oksigen & suction central
e. 2 tiang infuse (1 nempel di langit-langit)
f. 3 tempat sampah
6. Ruang Ponek
a. 1 Meja Obgin
b. 1 inkubator transfer (infan warmer)
c. 1 lampu emergensi
d. 1 tiang infuse
e. 2 outlet oksigen & suction sentral
f. 1 suction bayi
g. 1 timbangan bayi
h. 1 set partus

19
i. 1 set Doppler
j. 3 tempat sampah
7. Ruang Cuci alat
a. 3 wastafel cuci alat
b. 3 tempat sampah
c. 3 Locker penyimpan alat
8. Kamar operasi emergensi & Scrubbing & RR
a. 1 set lampu operasi
b. 3 outlet gas (02,N2O,Bar)
c. 1 lampu baca rontgen
d. 2 kran tempat scubbing
e. 1 outlet o2 & suction sentral
9. Ruang Triase
a. 1 Meja triase
b. 1 set vital sign
c. 1 biliing kabinet
10. Ruang Periksa non ermergensi
a. 1 meja periksa
b. 1 komputer line & billing
c. 4 tempat tidur
d. 3 gantungan infuse nempel dilangit-langit
e. 1 line telpon internal
f. 3 tempat sampah
11. Ruang Isolasi
a. 1 tempat tidur
b. 1 oksigen tabung
c. 1 almari APD
d. 3 tempat sampah

20
12. Ruang Tunggu
a. 5 kursi panjang
b. 1 TV
c. 1 meja pengisian blangko pendaftaran
d. 1 APAR
e. 1 hand scrub
f. 1 tempat sampah
g. 1 tempat koran

21
BAB III

TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Tata Laksana Pendaftaran Pasien

1. Petugas Penanggung Jawab adalah petugas admission


2. Perangkat Kerja Komputer line & Rekam Medis, barcord serta kartu
kendali
3. Tata Laksana Pendaftaran Pasien IGD
a. Pendaftaran pasien yang datang ke IGD dilakukan oleh pasien /
keluarga dibagian pendaftaran.
b. Bila keluarga tidak ada petugas IGD bekerja sama dengan satpam atau
care giver untuk membantu mencari identitas pasien
c. Sebagai bukti pasien sudah mendaftar di bagian admission akan
memberikan status untuk diisi oleh dokter IGD yang bertugas.
d. Bila pasien dalam keadaan gawat darurat, maka akan langsung
diberikan pertolongan di IGD, sementara keluarga / penanggung jawab
melakukan pendaftaran di bagian admission

B. Tata Laksana Pelayanan Triase


1. Petugas Penanggung Jawab Dokter jaga dan perawat Koordinator shift IGD
2. Perangkat Kerja
a. Stetoscope ,Tensimeter, Saturasi O2, Temperatur digital, dan Jam
b. RM 3a

22
3. Tata Laksana Pelayanan Triase IGD
a. Pada proses pertama dilakukan oleh security atau care giver yang
menerima untuk memisahkan ke ruang kritikal atau ke triase skunder
atau ruang non emergensi
b. Perawat dan atau dokter jaga UGD melakukan pemeriksaan pada
pasien secara lengkap dan menentukan prioritas penanganan.
c. Prioritas pertama ( I, tertinggi, emergency ) yaitu mengancam jiwa /
mengancam fungsi vital, pasien ditempatkan diruang resusitasi
d. Prioritas kedua ( II, medium, urgent ) yaitu potensial mengancam jiwa
/ fungsi vital, bila tidak segera ditangani dalam waktu singkat.
Penanganan dan pemindahan bersifat terakhir. Pasien ditempatkan di
ruang kritikal (ruang periksa & observasi
e. Prioritas ketiga ( III, rendah, non emergency ) yaitu memerlukan
pelayanan biasa, tidak perlu segera. Penanganan dan pemindahan
bersifat terakhir. Pasien ditempatkan diruang periksa non emergensi
f. Prioritas ke empat dengan kategori meninggal langsung di arahkan ke
ruang jenasah

C. Tata Laksana Sistim Komunikasi IGD


1. Petugas Penanggung Jawab
a. Petugas Operator
b. Dokter / perawat IGD
2. Perangkat Kerja
a. Pesawat telpon
b. Hand phone
3. Tata Laksana Sistim Komunikasi IGD
a. Antara IGD dengan unit lain dalam RS Islam PKU Muhammadiyah
Maluku Utara adalah dengan nomor extension masing-masing unit

23
b. Antara IGD dengan dokter konsulen / rumah sakit lain / yang terkait
dengan pelayanan diluar rumah sakit adalah menggunakan pesawat
telephone melalui operator dan atau nomor telpon langsung dari IGD
c. Antara IGD dengan petugas ambulance yang berada dilapangan
menggunakan pesawat telephone dan handphone
d. Dari luar RS Islam PKU Muhammadiyah Maluku Utara dapat
langsung melalui operator

D. Tata Laksana Pengisian Informed Consent


1. Petugas Penangung Jawab : Dokter jaga IGD
2. Perangkat Kerja : Formulir Persetujuan Tindakan
3. Tata Laksana Informed Consent

a. Dokter IGD yang sedang bertugas menjelaskan tujuan dari pengisian


informed consent pada pasien / keluarga pasien disaksikan oleh perawat
b. pasien menyetujui, informed consent diisi dengan lengkap disaksikan
oleh perawat.
c. Setelah diisi dimasukkan dalam status medik pasien

E. Tata Laksana Pelayanan Non Emergency


1. Petugas Penanggung Jawab

a. Perawat Admission
b. Perawat IGD
c. Dokter jaga IGD
2. Perangkat Kerja
a. Alat pemeriksaan dan tindakan non emergensi
b. Computer line & billing

24
3. Tata Laksana Pelayanan Non Emergency

a. Pasien / keluarga pasien mendaftar dibagian admission


b. Dilakukan triase untuk penempatan pasien diruang non emergensi
c. Pasien dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter jaga IGD
d. Dokter jaga menjelaskan kondisi pasien pada keluarga / penanggung
jawab
e. Bila perlu dirawat / observasi pasien dianjurkan kebagian admission.
f. Bila tidak perlu dirawat pasien diberikan resep dan bisa langsung pulang
g. Pasien dianjurkan untuk kontrol kembali sesuai kasus ke spesialistik
yang berkaitan

F. Tata Laksana Pelayanan Visum Et Repertum


1. Petugas Penanggung Jawab
a. Petugas Rekam Medis
b. Dokter jaga IGD
2. Perangkat Kerja : Rekam medis Formulir Visum Et Reprtum
3. Tata Laksana Pelayanan Visum Et Repertum
a. Petugas IGD menerima surat permintaan visum et repertum dari bagian
RM berdasar permintaan dari pihak kepolisian
b. Surat permintaan visum et repertum diserahkan kebagian rekam medik
c. Petugas rekam medik menyerahkan status medis pasien kepada dokter
jaga yang menangani pasien terkait
d. Setelah visum et repertum diselesaikan oleh rekam medik maka lembar
yang asli diberikan pada pihak kepolisian

G. Tata Laksana Pelayanan Death On Arrival ( DOA)


1. Petugas Penanggung Jawab
a. Dokter jaga IGD

25
b. Perawat
c. Bina Rohani
2. Perangkat Kerja
a. Senter
b. Stetoscope
c. EKG
d. Surat Kematian
3. Tata Laksana Death On Arrival UGD ( DOA )

a. Pasien dilakukan triase dan pemeriksaan oleh dokter jaga UGD


b. Bila dokter sudah menyatakan meninggal, maka dilakukan perawatan
jenazah
c. Dokter jaga IGD membuat surat keterangan meninggal
d. Jenazah dipindahkan / diserah terimakan di ruangan jenazah dengan
bagian Bina Ruhani dan keamanan

H. Tata Laksana Sistim Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit


1. Petugas Penanggung Jawab :Perawat, dokter dan driver
2. Perangkat Kerja
a. Ambulan
b. Handphone
3. Tata Laksana Sistim Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit
a. Perawat dan atau dokter setelah menerima panggilan kemudian
melakukan triase, pemeriksaan, dan tindakan layanan.
b. Perawat yang mendampingi pasien memberikan informasi mengenai
kondisi pasien yang akan dibawa, kepada perawat IGD RS Islam PKU
Muhammadiyah Maluku Utara.
c. Isi informasi mencakup :
1) Keadaan umum ( kesadaran dan tanda – tanda vital )

26
2) Peralatan tambahan yang diperlukan di IGD
3) Kemungkinan untuk dirawat di unit intensive care
4) Perawat IGD melaporkan pada dokter jaga IGD & coordinator
Shift serta menyiapkan hal-hal yang diperlukan sesuai dengan
laporan yang diterima dari petugas ambulance

I. Tata Laksana Sistim Rujukan


1. Petugas Penanggung Jawab : Dokter dan Perawat IGD
2. Perangkat Kerja : persetujuan tindakan dan Formulir rujukan
3. Tata Laksana Sistim Rujukan IGD
a. Alih Rawat
1) Dokter atau Perawat IGD menghubungi rumah sakit yang akan
dirujuk
2) Dokter jaga IGD memberikan informasi pada dokter jaga rumah
sakit rujukan mengenai keadaan umum pasein ( SPO - IGD – 020 )
3) Bila tempat telah tersedia di rumah sakit rujukan, perawat IGD
menghubungi ambulance 118 sesuai kondisi pasien
b. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pasien / keluarga pasien dijelaskan oleh dokter jaga mengenai
tujuan pemeriksaan diagnostik, bila setuju maka keluarga pasien
harus mengisi informed consent
2) Perawat IGD menghubungi rumah sakit rujukan
3) Perawat IGD menghubungi petugas ambulance RS Islam PKU
Muhammadiyah Maluku Utara
c. Spesimen
1) Pasien / keluarga pasien dijelaskan mengenai tujuan pemeriksaan
specimen
2) Bila keluarga setuju maka harus mengisi inform consent

27
3) Dokter jaga mengisi formulir pemeriksan, dan diserahkan kepetugas
laboratorium
4) Petugas laboratorium melakukan rujukan ke laboratorium yang
dituju

28
BAB V

LOGISTIK

Kelengkapan fasilitas dan peralatan mendukung pelayanan sesuai dengan


kebutuhan standar pelayanan IGD. Evaluasi kebutuhan fasilitas dan peralatan sesuai
dengan angka kasus yang masuk dalam pelayanan IGD. Pengadaan, pemeliharaan
dan perbaikan, dan pelatihan pemakaian fasilitas dan peralatan di lakukan sesuai
program.
A. Prasarana
Fasilitas alat – alat / obat – obatan dan ruangan Instalasi Gawat Darurat harus
memenuhi persyaratan sehingga Penanggulangan Penderita Gawat Darurat dapat
dilakukan secara optiimal.

Kriteria :

Gedung untuk pelayanan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat harus


sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan dengan optimal.

1. Lokasi gedung Instalasi Gawat Darurat harus mudah dicapai dengan tanda /
penunjuk arah yang jelas dari jalan maupun dari dalam rumah sakit.
2. Pintu Instalasi Gawat Darurat menghadap ke depan sehingga ambulans tidak
perlu mundur
3. Ruang Triase :
1) Digunakan untuk seleksi pasien sesuai tingkat kegawatan penyakitnya.
2) Terletak berdampingan dengan tempat perawatan, chief nurse / dokter
jaga sehingga dengan mudah dapat mengawasi semua kegiatan di pintu
masuk, ruang tunggu, ruang tindakan, dan ruang resusitasi.
4. Ruang Resusitasi
1) Letaknya harus berdekatan dengan ruang triase

29
2) Keadaan ruangan harus menjamin ketenangan
5. Ruang tindakan dan lavase
Ruang tindakan diutamakan untuk tindakan bedah.

6. Ruang Periksa , Tindakan dan Observasi ( tergantung kebutuhan )


7. Wastafel
8. Tempat stok obat – obatan, alat dan linen
9. Susunan ruangan harus sedemikian rupa sehingga :
1) Arus penderita dapat lancar dan tak ada "cross infection"
2) Kegiatan mudah dikontrol oleh koordinator shift pada saat itu
10. Ruang tunggu.
11. Komunikasi telepon / radio keluar rumah sakit dan telepon intern di
Instalasi Gawat Darurat dan Rumah Sakit
12. Fasilitas alat – alat dan obat – obat di Instalasi Gawat Darurat harus
sedemikian rupa sehingga resusitasi dan "life support" dapat dilakukan
B. Peralatan
1. Alat – alat / obat – obatan yang perlu untuk resusitasi :
a. Suction manual / sentral
b. Oksigen lengkap dengan Flow meter, cateter dan masker
c. Respirator mobile
d. Laringoskop lurus dan bengkok (anak dan dewasa)
e. Magill forceps
f. Pipa endotracheal semua ukuran
g. Pipa nasotracheal semua ukuran
h. Orofaringeal Airway/ guedel/ Mayo
i. Syringe : 3, 5,10 dan 20 cc
j. IV catheter no 14,16, 18, 20, 22 dan 24
k. Bic Nat
l. Pethidin/ Morphin

30
m. Adrenalin dan Sulfas Atropin
n. Dektrose 40 %.
o. ECG
p. Bedside monitor
q. Defibrilator
r. Infus / transfusi set + cairan glukose 10 % - 20 %, NaCl, Ringer,
s. Cricothyroidoctomy
t. Gunting besar
2. Alat – alat / obat – obat untuk menstabilisasi penderita ( life support ) :
a. Neck Collar
b. Bidai - bidai segala ukuran untuk tungkai, lengan, tulang punggung
c. Perban segala ukuran
d. Sonde lambung
e. Foley catheter segala ukuran
f. Long Spine Board
3. Alat – alat tambahan untuk diagnosa dan terapi :
a. Head Lamp
b. THT set
c. Gips
d. ObsGyn set
e. Benang – benang / jarum segala jenis dan ukuran
f. Set Tindakan Bedah Minor
4. Alat – alat keamanan dan pendidikan :
a. Pemadam kebakaran/ APAR
b. Komunikasi keluar / ke dalam baik radio, telepon, atau handy talk
c. Manual / buku pedoman penanggulangan penderita gawat darurat dan
korban bencana

31
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN (PASIENT SAFETY)

A. Pengertian
Keselamatan Pasien ( Patient Safety ) Adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman.
1. Sistem tersebut meliputi :
a. Asesmen resiko
b. Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko
pasien
c. Pelaporan dan analisis insiden
d. Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
e. Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko
2. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :
a. Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
b. Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
3. Tujuan
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat
c. Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di rumah sakit
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )

B. Standar Keselamatan Pasien


1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

32
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi
dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

C. Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )


Adverse Event :
Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien.
Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis
karena tidak dapat dicegah.

D. KTD Yang Tidak Dapat Dicegah


Unpreventable Adverse Event :
Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan
pengetahuan mutakhir.

E. Kejadian Nyaris Cedera ( KNC )


Near Miss :
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission ) atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission ), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :
1. Karena “ keberuntungan”
2. Karena “ pencegahan ”
3. Karena “ peringanan ”

33
F. Kesalahan Medis
Medical Errors:
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien

G. Kejadian Sentinel
Sentinel Event :
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius;
biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat
diterima, seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah. Pemilihan kata
“sentinel” terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi ( seperti, amputasi pada
kaki yang salah ) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan
adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.

H. Tata Laksana
1. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada
pasien
2. Melaporkan pada dokter jaga IGD
3. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
4. Mengobservasi keadaan umum pasien
5. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir “ Pelaporan Insiden
Keselamatan”

34
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. Pendahuluan
HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV
menjadi lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejal. Setiap
hari ribuan anak berusia kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 -
49 tahun terinfeksi HIV. Dari keseluruhan kasus baru 25% terjadi di Negara -
negara berkembang yang belum mampu menyelenggarakan kegiatan
penanggulangan yang memadai.

Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan


kasus yang sangat bermakna. Ledakan kasus HIV / AIDS terjadi akibat
masuknya kasus secara langsung ke masyarakat melalui penduduk migran,
sementara potensi penularan dimasyarakat cukup tinggi (misalnya melalui
perilaku seks bebas tanpa pelingdung, pelayanan kesehatan yang belum aman
karena belum ditetapkannya kewaspadaan umum dengan baik, penggunaan
bersama peralatan menembus kulit : tato, tindik, dll).

Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular


melalui tindakan pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan
bahwa menurut data PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada
pendonor sebesar 2,08% pada tahun 1998 dan angka kesakitan hepatitis C
dimasyarakat menurut perkiraan WHO adalah 2,10%. Kedua penyakit ini
sering tidak dapat dikenali secara klinis karena tidak memberikan gejala.

Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat


keinginan untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa
melindungi semua pihak dari penyebaran infeksi. Upaya pencegahan

35
penyebaran infeksi dikenal melalui “ Kewaspadaan Umum “ atau “Universal
Precaution” yaitu dimulai sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus
menjadi ancaman bagi “Petugas Kesehatan”.

Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan


kontak langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus
tentunya mempunyai resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan
wajib menjaga kesehatan dan keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit
agar dapat bekerja maksimal.

B. Tujuan
1. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat
melindungi diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.
2. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya
mempunyai resiko tinggi terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat
kerjanya, untuk menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas harus
menerapkan prinsip “Universal Precaution”.

C. Tindakan yang beresiko terpajan


1. Cuci tangan yang kurang benar.
2. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
3. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
5. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
6. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

36
D. Prinsip Keselamatan Kerja
Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja
adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan
sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan
pokok yaitu :

1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang


2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

37
BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Indikator mutu yang digunakan di RS Islam PKU Muhammadiyah Maluku


Utara dalam memberikan pelayanan adalah angka kematian di IGD bukan DOA
penanganan dengan varibel jumlah penderita yang meninggal di IGD pada 24 jam
pertama berbanding dengan jumlah penderita gawat darurat pada 1 bulan. Dalam
pelaksanaan indikator mutu menggunakan penghitungan jumlah kematian di IGD dan
jumlah kasus true emergensi dievaluasi serta dilaporkan setiap bulan pada panitia
mutu dan direktur pelayanan.

Indikator mutu yang kedua adalah kualitas pelayanan dalam tindakan, salah
satu indicator adalah dalam pemasangan infuse sekali tusuk . Dalam pelaksanaanya di
ambil sampling 1 bulan berap persen keberhasilan pemasangan sekali tusuk dibagi
jumlah pemasangan lebih dari satu kali tusuk. Evaluasi ini di evaluasi selama 3 bulan
dan dilaporkan pada panitya mutu dan direktur pelayanan.

38
BAB IX

PENUTUP

Pedoman layanan IGD RS Islam PKU Muhammadiyah Maluku Utara sebagai


bagian dari arah dan petunjuk pelayanan yang datang membutuhkan pertolongan
yang cepat,tepat dan akurat dengan tetap memperhatikan keselamatan pasien dan
petugas rumah sakit. Semoga dengan pedoman ini dapat tercipta layanan yang
bermutu dan handal. Pedoman ini tidak menutup kemungkinan untuk dapat dikoreksi
dan diperbaiki untuk keselarasan dan kesempurnaan.

39