Anda di halaman 1dari 11

BAB II

DEFINISI
Ada bermacam-macam pengertian dari asma bronkial. Berikut beberapa definisi
tersebut:
Asma bronkial adalah suatu bronkospasme yang sifatnya irreversibel dengan
latar belakang alergi (Tabrani, 1998). Asma bronkial adalah penyakit jalan napas
obstruktif intermiten, reversibel di mana trakea dan bronki nerespons dalam secara
hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Smeltzer & Bare, 2001).

KLASIFIKASI
Berdasarkan penyebabnya asma bronkial dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga)
tipe, yaitu:
a. Ekstrinsik (Alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor
pencetus yang spesifik, seperti: debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan
(antibiotik dan aspirin), dan spora jamur.
Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik
terhadap alergi, oleh karena itu jjika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti
yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.

b. Intrinsik (Non Alergik)


Ditandai dengan adanya reaksi non alergik yang bereaksi terhadap pencetus yang
tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti: udara dingin ayau bisa juga disebabkan
oleh adanya infeksi saluran pernapasan dan emosi. Serangan asma ii menjadi
lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang
menjadi bronkitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma
gabungan.

c. Asma Gabungan
Bentuk asma yang paling umum, asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk
alergik dan non-alergik.

ETIOLOGI
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma bronkial.
a. Faktor Predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi
biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga menderita penyakit alergi. Karena
adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial
jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersensitivitas saluran
pernapasan juga bisa diturunkan.

1
b. Faktor Presipitasi
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan, misalnya: debu, bulu
binatang, serbuk bunga, bakteri, dan polusi
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut, misalnya: makanan dan obat-obatan.
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit

Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfer yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan
asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan mosim, seperti: musim
hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin,
serbuk bungan dan debu.

Stres
Stres/gangguan emosi dapt menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul
harus segera diobati penderita asma yang mengalamu stres/gangguan emosi perlu
diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena, jika stresnya
belum diatasi maka gejala asma belum bisa diobati.

Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja mempunya hubungan langsung dengan sebab terjadinya
serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana seseorang bekerja, misalnya:
orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi
lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu hari libur atau cuti.

Olah Raga/Aktivitas Jasmani yang Berat


Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas
jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan
serangan asma. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi segera setelah
selesai aktivitas tersebut.

2
PATOFISIOLOGI
Alergen Idiopatik/non alergik
(serbuk sari, debu, bulu binatang) (cuaca dingin, latihan fisik, stres)
makan, jamur agen farmakologi

inflamasi pada saluran pernafasan atas


(trakea dan bronki)

bronki menjadi hiper responsif

terjadi ikatan antigen dan antibodi yang mengakibatkan pelepasan


sel-sel mast (histiacin, bradikin, protogandin)

kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki


dan menyempitkan jalan nafas

mengakibatkan bronkospasme pembengkakan membran pembentukan mukus


mukosa, dispnue yang banyak

gangguan suplai O2 oleh bronkospasme


sekret spasme bronkus

gangguan pertukaran gas tidak efektifnya


kebersihan jalan nafas
intoleransi

3
MANIFESTASI KLINIK
a. Batuk
b. Mengi
c. Sesak
d. Gelisah pada malam hari
e. Nafsu/dada seperti tertekan
f. Takikardi
g. Retraksi
h. Hipoksia
i. Takipnea (pernafasan cepat)
j. Hiperkapnia
k. Ansietas

PENATALAKSANAAN
Prinsip umum pengobatan asma bronkial adalah:
a. Menghilangkan obstruksi jalan napas sengan segera
b. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
c. Memberikan penjelasan kepada penderita ataupun keluarga tentang penyakit
asma, baik pengobatannya naupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga
penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerja sama dengan
dokter atau perawat yang merawatnya.

Pengobatan pada asma bronkial dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:


a. Pengobatan Non Farmakologik
1. memberikan penyuluhan
2. menghindari faktor pencetus
3. pemberian cairan yang adekuat
4. fisioterapi
5. beri oksigen tambahan bila perlu

b. Pengobatan Farmakologik
1. Simpatomimetik. Nama obat: Orsiprenalin (Alupent), Fenoterol (Berotec),
Terbutalin (Bricasma)
2. Santin (Teofilin). Nama obat: Aminofilin (Amicam Supp), Aminofilin
(Euphilin Retard), Teofilin (Amilex)
3. Kromolin
4. Ketolifen

4
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
a. Aktivitas/istirahat
Gejala:
- Keletihan, kelelahan, malaise
- Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit
bernafas
- Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi
- Dyspnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan
Tanda:
- Keletihan, gelisah, insomnia
- Kelemahan umum/ kehilangan massa otot

b. Sirkulasi
Gejala:
- Pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda:
- Peningkatan tekanan darah
- Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia
- Distensia vena leher (penyakit berat)
- Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung
- Bunyi jantung redup (berhubungan dengan peningkatan diameter ap dada)
- Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis
- Pucat dapat menunjukkan anemia

c. Integritas ego
Gejala:
- Peningkatan faktor resiko, perubahan pola hidup
Tanda:
- Ansietas, ketakutan, peka rangsang

d. Makanan/cairan
Gejala:
- Mual/muntah
- Nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema)
- Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernafasan
- Penurunan berat badan tetap (emfisema) penaikan berat badan
menunjukkan edema (bronkitis)
Tanda:
- Turgor kulit buruk, edema dependen
- Berkeringat, penuruna berat badan, penurunan massa otot/lemak subkutan
(emfisema)

5
- Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali (bronkitis)

e. Hygiene
Gejala:
- Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan
aktivitas sehari-hari
Tanda:
- Kebersihan, buruk, bau badan

f. Pernafasan
Gejala:
- Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala
menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja, cuaca atau episode
berulangnya sulit nafas (asma), rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk
bernafas (asma)
- “lapar udara” kronis
- Bentuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat
bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2
tahun. Produksi sputum (hijau, putih dan kuning) dapat banyak sekali
(bronkitis kronis)
- Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini
meskipun dapat terjadi produktif (emfisema)
- Riwayat pneumonia berulang: terpajan pada polusi kimia/iritan pernafasan
dalam jangka panjang (mis., rokok sigaret) atau debu/asap (mis., abses,
debu atau batu bara, serbuk gergaji)
- Faktor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa-anti tripsin (emfisema)
- Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus
Tanda:
- Pernafasan: biasanya cepat, dapat lambat, penggunaan otot bantu
pernapasan
- Dada: hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, gerakan diafragma
minimal
- Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema);
menyebar, lembut atau krekels, ronki, mengi sepanjang area paru.
- Perkusi: hiperesonan pada area paru
- Warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku.

g. Keamanan
Gejala:
- Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan
- Adanya/berulangnya infeksi
- Kemerahan/berkeringat (asma)

h. Seksualitas

6
Gejala:
- Penurunan libido

i. Interaksi sosial
Gejala:
- Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, ketidak mampuan
membaik/penyakit lama
Tanda:
- Ketidakmampuan untuk/membuat mempertahankan suara pernafasan
- Keterbatasan mobilitas fisik, kelainan dengan anggota keluarga lalu

j. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala:
- Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kesulitan menghentikan
merokok, penggunaan alkohol secara teratur, kegagalan untuk membaik.

PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Mempertahankan patensi jalan napas
2. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas
3. Meningkatkan masukan nutrisi
4. Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi
5. Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program
pengobatan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Jalan nafas inefektif b/d bronkospasme d/d kesulitan bernapas, kecepatan
bernapas, penggunaan otot bantu pernapasan, bunyi nafas tidak normal.
Kriteria Hasil: - Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih
dan jelas.

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri:
 Auskultasi bunyi napas, catat  Beberapa derajat spasme
adanya bunyi napas tambahan, mis., bronkus terjadi dengan obstruksi
mengi jalan napas dan dapat/tidak
dimanifestasikan adanyan bunyi
napas advertisius.
 Kaji/pantau frekuensi  Takipnea biasanya ada pada
pernapasan, catat rasio beberapa derajat dan dapt ditemukan
inspirasi/ekspirasi pada penerimaan atau selama
stres/adanya proses infeksi akut.

7
 Disfungsi pernapasan adalah
 Catat adanya derajat dispnea, variabel yang tergantung pada tahap
ansietas, distres pernapasan, proses akut yang menimbulkan
penggunaan otot bantu napas perawatan di Rumah Sakit.
 Peninggian kepala tempat tidur
 Tempatkan/atur posisi pasien memudahkan fungsi pernapasan
senyaman mungkin, mis., peninggian dengan menggunakan gravitasi.
kepala tempat tidur 15-30°, duduk
pada sandaran tempat tidur.  Pencetus tipe reaksi alergi
 Pertahankan udara pernapasan dapat mentriger episode
lingkungan/minimalkan polusi akut.
lingkungan, mis., debu, asap, dll.  Hidrasi membantu menurunkan
 Tingkatkan masukan cairan kekentalan sekret, penggunaan cairan
sampai dengan 3000 ml/hari sesuai hangat dapat menurunkan spasme
toleransi jantung. Berikan/anjurkan bronkus.
minum air hangat.
Kolaborasi:  Merilekskan otot halus dan
 Berikan obat-obatan sesuai menurunkan spasme jalan napas,
indikasi, mis., bronkodilator. mengi, dan produksi mukosa.

2. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas)
oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara d/d dispnea, bingung, gelisah,
ketidakmampuan mengeluarkan sekresi, perubahan tanda vital.
Kriteria Hasil:
- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat

INTERVENSI RASIONAL
 Kaji frekuensi, kedalaman  Berguna dalam evaluasi derajat
pernapasan, catat penggunaan otot distres pernafasan/kronisnya proses
bantu pernapasan penyakit
 Tinggikan kepala tempat tidur,  Pengiriman oksigen dapat
bantu klien untuk memilih posisi yang diperbaiki dengan posisi duduk tinggi
mudah untuk bernafas, dorong nafas dan latihan nafas untuk menurunkan
dalam perlahan kolaps paru
 Kaji / awasi secara rutin kulit  Sianosis mungkin perifer
dan warna membran mukosa (terlihat pada kuku)
 Auskultasi bunyi nafas, cata area  Bunyi nafas mungkin redup
penurunan udara/bunyi tambahan karena penurunan aliran udara atau
area konsolidasi, adanya
mengidentifikasi spasme bronkus
 Awasi tanda vital dan irama  Takikardi, disritmia dan
jantung penurunan td dapat menunjukkan

8
efek hipoksemia sistemik pada fungsi
jantung
Kolaborasi
 Berikan oksigen sesuai indikasi  Dapat memperbaiki/mencegah
buruknya hipoksia

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d dispnea, produksi sputum,
anoreksia, mual/muntah d/d penurunan sensori pengecap, keengganan untuk
makan.
Kriteri hasil:
- Menunjukkan BB meningkatkat
- Mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda
malnutrisi.
- Melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk menngkatkan dan
mempertahankan BB yang tepat.

INTERVENSI RASIONAL
 Catat status nutrisi pasien pada  Berguna dalam mendefinisikan
penerimaan , catat turgor kulit, BB derajat/luasnya masalah dan pilihan
dan derajat kekurangan BB, intervensi yang tepat.
ketidakmampuan menelan.
 Pastikan pola diet biasa pada  Membantu dalam
pasien yang disukai/tidak disukai mengidentifikasi kebutuhan khusus.
Pertimbangan keinginan individu
dapat memperbaiki masukan diet.
 Awasi pemasukan/pengeluaran  Berguna dalam mengukur
dan BB secara periodik. keefektifan nutrisi dan dukungan
cairan.
 Selidiki anoreksia, mual dan  Dapat mempengaruhi pilihan
muntah. Catat kemungkinan dengan diet dan mengidentifikasi
obat, awasi frekuensi, volume, pemecahan masalah untuk
konsistensi feses. meningkatkan pemasukan nutrien.
 Berikan periode istirahat sering.  Membantu menhemat energi
khususnya bila kebutuhan
metabolik meningkat saat demam.
 Berikan perawatan mulut  Menurunkan rasa tidak enak
karena sisa sputum/obat yang
merangsang pasien muntah.
 Anjurkan makan sedikit tapi  Memaksimalkan masukan nutrisi
sering dengan makanan TKTP tanpa kelemahan, menurunkan
iritasi gaster.
 Motivasi orang terdekat untuk  Membuat lingkungan sosial
membawa makanan dari rumah dan lebih normal selama makan dan

9
untuk membagi dengan pasien kecuali membantu memenuhi kebutuhan
kontraindikasi personal.
Kolaborasi
 Rujuk ke ahli diet untuk  Memberikan bantuan dalam
menentukan komposisi diet. perencanaan diet dengan nutrisi
adekuat

4. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan utama (penurunan


kerja silia, menetapnya sekret).
Kriteria Hasil:
- Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi
- Perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri:
 Kaji dan awasi suhu tubuh  Demam dapat terjadi karena
infeksi atau dehidrasi
 Diskusikan kebutuhan nutrisi  Malnutrisi dapat mempengaruhi
adekuat kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi

Kolaborasi:  Dikakukan untuk


 Dapatkan spesimen sputum mengidentifikasi organisme penyebab
dengan batuk dan pengisapan untuk dab kerentanan terhadap berbagai anti
pewarnaan gram, /kultur/sensitifitas mikrobial

5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi b/d kurang informasi/tidak mengenal


sumber informasi d/d pernyataanpertanyaan tentang informasi
Kriteria Hasil:- Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan

INTERVENSI RASIONAL
 Jelaskan tentang proses penyakit  Menurunkan ansietas dan dapat
individu menimbulkan perbaikan partisipasi
pada rencana pengobatan
 Instruksikan rasional untuk  Napas bibir dan napas perut
latihan napas, batuk efektif, dan (abdominal) menguatkan otot
latihan kondisi umum pernapasan, membantu
meminimalkan kolaps jalan napas
kecil. Latihan kondisi umum
meningkatkan toleransi aktivitas,
kekuatan otot dan rasa sehat

10
 Diskusikan pentingnya  Menurunkan pemajanan dan
menghindari orang yang sedang insiden mendapatkan infeksi saluran
infeksi pernapasan aktif pernapasan atas
 Kaji efek bahaya merokok dan  Penghentian rokok dapat
nasehatkan meghentikan merokok menghambat kemajuan PPOM.
pada pasien dan atau orang terdekat
 Diskusikan obat pernapasan,  Pentung bagi pasien memahami
efek samping dan reaksi yang tidak perbedaan antara efek samping
diinginkan mengganggu dan merugikan
 Tunjukkan/ajarkan teknik  Pemberian obat yang tepat
penggunaan inhaler meningkatkan keefektifannya.

DAFTAR PUSTAKA
Baratawidjaja, K. (1990) “Asma Bronchiale”, dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam,
Jakarta : FK UI.
Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”, Jakarta :
AGC.
Crockett, A. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”, Jakarta :
Hipocrates.
Crompton, G. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”,
Blacwell
Scientific Publication.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000) “Rencana Asuhan
Keperawatan”, Jakarta : EGC.
Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”, Jakarta : EGC.
Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”, Volume 1,
Jakarta :
EGC.
Price, S & Wilson, L. M. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit”,
Jakarta : EGC.
Pullen, R. L. (1995) “Pulmonary Disease”, Philadelpia : Lea & Febiger.
Rab, T. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”, Jakarta : Hipokrates.
Rab, T. (1998) “Agenda Gawat Darurat”, Jakarta : Hipokrates.
Reeves, C. J., Roux, G & Lockhart, R. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”,
Buku
Satu, Jakarta : Salemba Medika.
Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”, Jakarta : Info Medika.
Sundaru, H. (1995) “Asma ; Apa dan Bagaimana Pengobatannya”, Jakarta : FK
UI.

11