Anda di halaman 1dari 3

Hubungan Media Pembelajaran dengan Teori Perkembangan Mental Piaget

Media pembelajaran berperan sangat penting dalam proses perkembangan


mental siswa, baik dari ranah kognitif, afektif sampai psikomotor. Menurut (Dewi,
2017) untuk merangsang semua aspek perkembangan anak tidak bisa lepas dari
media pembelajaran. Misalnya anak usia dini proses pembelajarannya dilakukan
melalui bermain dengan menggunakan media pembelajaran baik media nyata,
media audio, maupun media visual. Teori perkembangan mental Piaget terdiri dari
4 tahapan perkembangan yaitu tahap sensori motorik (sensori-motor stage), tahap
pre-operasi (pre operational stage), tahap operasi konkrit (concrete operational
stage), dan tahap operasi formal (formal operational stage) (Ruseffendi, 2006).
Setiap tahapan perkembangan mental mempunyai sifat atau ciri khas
masing-masing yang dapat diasah dan ditingkatkan melalui penggunaan media
pembelajaran yang sesuai dengan setiap tahapan perkembangan.
1. Tahap sensori motorik (sensori motor stage) (0-2 tahun)
Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-
lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak karena
adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan situasi yang
baru. Perkembangan yang terjadi pada tahap ini adalah dari gerak refleks dan
gerak mata sampai pada kemampuan untuk makan, melihat, memegang, berjalan,
dan berbicara. Pada akhir tahap ini, anak belajar mengaitkan simbol benda dengan
benda konkretnya, hanya saja masih kesulitan. Pada akhir tahap ini pula, anak
mulai melakukan percobaan coba-coba berkenalan dengan benda-benda konkret
(dengan menyusunnya, mengutakatik, dan lain-lain). Pembelajaran anak pada
tahap ini lebih ke kebiasaan-kebiasaan rutin dan menggunakan media yang
dijumpai setiap hari. Misalnya wadah yang diisi dengan beberapa mainan
kemudian digoyangkan sampai bersuara sehingga anak merasa penasaran, bunyi-
bunyian terompet, mainan berbagai bentuk yang memberikan sensasi berbeda
ketika dipegang, sampai mainan bebek yang dijumpainya saat mandi.
2. Tahap pre operasi (pre operational stage) (2-7 tahun)

Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu tahap berpikir pre konseptual (sekitar
usia 2 – 4 tahun), dimana representasi suatu objek dinyatakan dengan bahasa,
gambar dan permainan khayalan. Kedua, tahap berpikir intuitif (sekitar usia 4 – 7
tahun), dimana pada tahap ini representasi suatu objek didasarkan pada persepsi
pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran. Anak mengaitkan pengalaman yang
ada pada dunia luar dengan pengalaman pribadinya (Alhaddad, 2012).
Anak mengira bahwa cara berpikirnya dan pengalamannya dimiliki pula
oleh orang lain. Oleh karena itu, kita menemukan bahwa anak-anak pada tahap ini
sangat egois, tidak memperbolehkan barang mainannya, makanannya, dan lain-
lainnya, dijamah oleh anak lain. Contoh lain yaitu ketika bermain puzzle anak
ingin memainkannya sendiri atau bermain dengan kelompoknya saja tanpa mau
bergantian. Selain itu pada tahap ini anak mengira bahwa benda-benda tiruan itu
memiliki sifat-sifat benda yang sebenarnya. Contoh untuk ini misalnya perlakuan
anak terhadap bonekanya, seperti perlakuannya terhadap anak yang sebenarnya
(mengajak bicara, memberi makan dan minum, menyuruh tidur, dan lain-lain).
Anak masih kesulitan untuk memikirkan dua aspek atau lebih dari suatu
benda secara serempak. Ia akan kesulitan jika ia diminta untuk mengumpulkan
kelereng besar dan berwarna hijau misalnya. Namun, anak mulai dapat
membilang dengan menggunakan benda konkret, misalkan jari tangannya atau
lidi. Media pembelajaran yang cocok digunakan pada kisaran umur ini harus
aman, sederhana, mudah ditemui di lingkungan sekitar anak, desainnya menarik
dengan warna-warna yang mencolok untuk menarik minat belajar anak. Antara
lain seperti balok/kotak warna-warni, kotak-kotak huruf, puzzle, dan boneka
(Dewi, 2017).
3. Tahap operasi konkret (concrete operational stage) (7-11 atau 12 tahun)
Tahap ini merupakan tahap anak-anak sekolah dasar pada umumnya. Pada
tahap ini, anak dapat memahami operasi (logis) dengan bantuan benda-benda
konkret. Pada permulaan tahap ini, egoismenya mulai berkurang. Anak mulai
bersedia bermain dengan teman-temannya, tukar-menukar mainan, dan lain-
lainnya. Mampu berkecimpung dalam hubungan kompleks antara kelompok-
kelompok. Mampu melihat sudut pandangan orang lain. Pada tahap ini, anak
belajar membedakan antara perbuatan salah yang disengaja dengan kesalahan
yang tidak disengaja. Media pembelajaran pada anak tahap ini lebih menggunakan
media realia, misalnya pada pembelajaran mengenai macam tulang daun media
yang digunakan yaitu berbagai macam tulang daun tanaman asli yang dihadirkan
di kelas. Sehingga pemahaman anak terbantu dengan benda konkret yang
dilihatnya saat pembelajaran.
4. Tahap operasi formal (formal operational stage) (11-12 tahun keatas)

Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan
pemikiran teoritis formal, mampu menyusun hipotesis, dapat mengambil
kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu. Mulai belajar merumuskan
hipotesis (perkiraan) sebelum ia berbuat (Alhaddad, 2012). Misalnya ia dapat
memperkirakan apa yang akan terjadi pada waktu menggoreng bila ia
memasukkan daging ayam ke dalam panci penggorengan berminyak yang sangat
panas. Untuk itu, dalam pembelajaran Biologi pada tahap perkembangan ini anak
dapat diajak untuk melakukan praktikum, dimulai dari yang paling sederhana
seperti praktikum respirasi menggunakan balon sampai praktikum rumit yang
memerlukan konsentrasi tinggi. Media pembelajaran yang dapat digunakan
semakin beragam, seperti misalnya grafik, diagram, gambar, kaset audio, benda
nyata, model, spesimen, film, mikroskop dsb. Contohnya pada materi kelas X
tentang Protista, anak diajak untuk melakukan pengamatan dengan menggunakan
media mikroskop. Pada tahap ini penggunaan media pembelajaran bertujuan
untuk mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan, menyediakan
pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materi-materi yang
lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam.

Daftar Rujukan
Alhaddad, I. 2012. Penerapan Teori Perkembangan Mental Piaget pada Konsep
Kekekalan Panjang, Infinity Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika
STKIP Siliwangi Bandung, 1(1), 31-44.
Dewi, K. 2017. Pentingnya Media Pembelajaran untuk Anak Usia Dini.
Palembang: UIN Raden Fatah.
Ruseffendi, E.T. 2006. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.
Bandung.