Anda di halaman 1dari 2

Gus Sholah: Pemilih Jokowi Berkurang

Jika ….
Oleh Ismed Eka Kusuma -
Maret 17, 2018 20:10

Jakarta, Aktual.com – Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur, KH
Salahuddin Wahid mengatakan Joko Widodo (Jokowi) harus menggandeng tokoh Islam
dalam Pemilihan Presiden 2019.

“Saya kira begitu. Kalau bukan dari Islam pemilih Pak Jokowi bisa jauh berkurang,” kata Gus
Sholah, sapaan akrab adik kandung Gus Dur itu di Jombang, Sabtu (17/3).

Menurut rektor Universitas Hasyim Asyari itu, Jokowi bisa memilih tokoh Islam dari
kalangan partai politik maupun nonparpol.

“Banyak pilihan. Dari parpol misalnya Rommy (ketua umum PPP M Romahurmuziy, red), ia
calon yang baik. Dari luar parpol misalnya Pak Mahfud MD, juga calon yang baik,” katanya.

Menurut mantan ketua PBNU itu, pemilihan calon wakil presiden yang tepat akan turut
menentukan kemenangan pasangan capres-cawapres mendatang karena capresnya hampir
pasti hanya dua, yakni Jokowi dan Prabowo Subianto.

“Calon ketiga sulit untuk diwujudkan. Jadi tinggal siapa yang jadi pendamping dua calon itu.
Masih ada waktu beberapa bulan untuk menentukan,” katanya.
Mantan wakil ketua Komnas HAM itu pun tak setuju seandainya Pilpres 2019 hanya diikuti
satu calon.

“Calon tunggal kurang bagus bagi demokrasi,” kata cawapres pada Pilpres 2004 berpasangan
dengan Wiranto itu.

(Ismed Eka Kusuma)


Polda Jabar Antisipasi Kampanye Hitam
dan Politik Uang di Pilkada
CDB Yudistira, Jurnalis · Sabtu 20 Januari 2018 19:28 WIB

BANDUNG – Guna mengantisipasi adanya kampanye hitam (black campaign) dan politik
uang (money politic) saat masa kampanye di Jabar, Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto
mengingatkan kembali kepada partai politik dan para calon yang akan maju dalam pilkada
untuk menaati ketentuan yang sudah ada.

Guna mengantisipasi hal itu pun, Agung menuturkan, pihaknya telah membentuk tim yang
nantinya untuk disiapkan jntuk lakukan pemantauan dan pengawasan selama berjalannya
pilkada serentak di Jabar.

"Saya sudah sampaikan kita bentuk tim cyber, tim money politic dan black campaign. Jadi,
begitu ada informasi, nanti babinkamtibmas dan Babinsa melapor kita akan tindak lanjuti,"
terang Agung di Lapangan Gasibu, Bandung, Sabtu (20/1/2018).

Agung menyebutkan, setiap tahapan Pilkada telah diatur tata tertibnya. Begitu halnya pada
saat kampanye. Setiap pasangan calon (paslon) dan peserta kampanye di larang untuk
memepersoalkan Pancasila dan UUD 45, menghina seseorang, agama, suku, ras dan
golongan.

Selain itu, dalam kampanye, dilarang melakukan penghasutan serta mengadu domba partai
politik dan masyarakat.

"Apabila ada ketentuan yang dilanggar, Polda Jabar akan mengambil sikap yakni
mengusulkan pembatalan atau penundaan kepada KPU Jabar, kemudian bekerja sama dengan
Bawaslu untuk membubarkan kampanye yang tidak terdaftar. Sementara untuk tindak
pidananya, bersama dengan Kejati dan Bawaslu mengedepankan Sentra Gakumdu
(penegakan hukum terpadu)," kata Agung.