Anda di halaman 1dari 15

A.

Definisi
Ada beberapa definisi menurut para ahli yaitu :
Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan ditentukan sesuai
dengan jenisnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar
dari yang dapat di absorbsinya (Smeltzer & Bare, 2002 : 2357).
Fraktur femur adalah terputusnya kontiunitas batang femur yang
bisa terjadi akibat truma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari
ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang
cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok (FKUI dalam
Jitowiyono, 2010 : 15). Pasien datang dengan paha yang membesar,
mengalami deformitas dan nyeri sekali dan tidak dapat menggerakan
pinggul maupun lututnya. Fraktur dapat transversal, oblik, spiral maupun
kominutif. Sering pasien mengalami syok, karena kehilangan darah 2
sampai 3 unit kedalam jaringan, sering terjadi pada faktur ini (Smeltzer &
Bare, 2002:2379).
B. Etiologi
Menurut Sachdeva dalam Jitowiyono dkk (2010: 16), penyebab
fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1) Cedera langsung berarti pukulan/kekerasan langsung terhadap
tulang sehingga tulang patah secara spontan ditempat itu.
Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.
3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot
yang kuat.

b. Fraktur patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan
trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada
berbagai keadaan berikut :
1) Tumor tulang (jinak atau ganas), pertumbuhan jaringan baru yang
tidak terkendali dan progresif.
2) Infeksi seperti osteomielitis, dapat terjadi sebagai akibat infeksi
akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif,
lambat dan sakit nyeri.
3) Rakhitis, suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh difisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya
disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat
disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan
kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada
penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran (Jitowiyono
dkk, 2010:16).
C. Patofisiologi
Pada kondisi trauma, diperlukan gaya yang besar untuk
mematahkan batang femor individu dewasa. Kebanyakan fraktur ini terjadi
pada pria muda yang mengalami kecelakaan keendaraan bermotor atau
jatuh dari ketinggian. Biasanya, klien ini mengami trauma multipel yang
menyertainya.
Secara klinis, fraktur femur terbuka serinh menyebabkan kerusakan
neurovaskuler yang menimbulkan manifestasi peningkatan resiko syok,
baik syok hipovolemik karena kehilngan darah ( pada siap patah satu
tulang femur, diperdiksi hilangnya darah 500 cc dari sistem vaskuler )
maupun syok neorogenik karna nyeri yang sangat hebat akibat kompresi
atau kerusakan saraf yang berjalan dibawah tulang femur.
Respon terhadap pembengkakan yang hebat adalah sidrom
kompartemen. Sindrom konpartemen adalah suatu keadaan otot, pembuluh
darah, jaringan saraf akibat pembengkakan lokal yang melebihi
kemampuan suatu kopar temen / ruang lokal dengan manisfestasi gejala
yang has, meliputi keluhan nyeri hebat pada area pembengkakan,
penurunan perfusi perifer secara unilateral pada sisi distal pembengkakan,
CRT ( capillary refill time ) lebih dari 3 detik pada sisi distal
pembengkakan, penuruna denyut nadi pada sisi distal pembengkakan.
Konplikasi yang terjadi akibat situasi ini adalah kematian jaringan bagian
distal dan memberikan implikasi pada peran perawat dalam kontrol yang
optimal terhadap pembengkakan yang hebat ada klien fraktur femur.
Kerusakan fragmen tulang femur menyebabkan mebilitas fisik dan
diikuti dengan spasme otot paha yang menimbulkan defomitas khas pada
paha, yaitu pemendekan tungkai bawah. Apabila kondisi ini berlanjut
tanpa dilakukan intervensi yang optimal, akan menimbulkan resiko
terjadinya malunion pada tulang femor.
Kondisi klinis fraktur femur terbuka pada fase awal menyababkan
berbagai masalah keperawatan pada klien, meliputi respon nyeri hebat
akibat kerusakan veskuler dengan pembengkakan lokal yang menyebabkan
sindrom kopartemen yang sering terjadi pada fraktur suprakondilus,
kondisi syok hopovolemik sekunder akibat cereda vaskuler dengan
pendarahan yang hebat, hambatan mobilitas fisik sekunder akibat
kerusakan fragmen tulang, dan resiko tinggi infeksi sekunder akibat port
de entree luka terbuka. Pada fase lanjut, fraktur femur terbuka
menyebabkan kondisi malunion, non-union, dan delayed union akibat cara
mobilisasi yang salah.
Intervensi medis dengan penatalaksanaan pemasangan fiksasi
interna dan fikasi eksterna memberikan implikasi pada masalah resiko
tinggi infeksi. ( Arif Muttaqin, S. Kep, Ns : 2011)

D. Pathways
Etiologi

Trauma (langsung atau tidak langsung), patologi

Fraktur (terbuka atau tertutup)

Kehilangan integritas Perubahan fragmen tulang Fraktur terbuka ujung tulang


tulang kerusakan pada jaringan dan menembus otot dan kulit
pembuluh darah

Ketidakstabilan posisi Luka


fraktur, apabila organ Perdarahan lokal
fraktur digerakkan
Gangguan
Hematoma pada daerah integritas kulit
Fragmen tulang yang patah fraktur
menusuk organ sekitar
Kuman mudah masuk
Aliran darah ke daerah distal
Gangguan rasa berkurang atau terhambat
nyaman nyeri Resiko tinggi
infeksi
(warna jaringan pucat, nadi
lemas, cianosis, kesemutan)
Sindroma kompartemen
keterbatasan aktifitas
Kerusakan neuromuskuler
Defisit perawatan diri
Gangguan fungsi organ distal

Gangguan mobilitas fisik

E. Manifestasi Klinik
Menurut Smeltzer & Bare (2002:2358), manifestasi klinis fraktur
adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas,
krepitasi, pembengkakan lokal dan perubahan warna.
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah. Pergeseran fragmen pada
fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas ekstremitas, yang
bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas yang
normal. Ektremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi
normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
c. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang, yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
yang dinamakan krepitasi yang teraba akibat gesekan antara fragmen
satu dengan yang lainnya. ( uji kripitasi dapat membuat kerusakan
jaringan lunak lebih berat).
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa
baru terjadi setelah bebebrapa jam atau hari setelah cedera.
F. Komplikasi
Komplikasi fraktur yang terpenting adalah :
a. Komplikasi awal
1) Syok, dapat berakibat fatal dalam beberapa jam setelah edema
2) Emboli lemak, dapat terjadi 24-72 jam
3) Sindrom kompartemen, perfusi jaringan dalam otot kurang dari
kebutuhan
4) Infeksi dan tromboemboli
5) Koagulopati intravaskular diseminata
b. Komplikasi lanjutan
1) Mal-union/ non union
2) Nekrosis avaskular tulang
3) Reaksi terhadap alat fiksasi interna ( Suratun, 2008: 151).

G. Pemeriksaan Diagnosis
a. Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
b. Skan tulang, scan CT/MRI: memperlihatkan fraktur, juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d. Hitung darah lengkap: HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur) perdarahan bermakna
pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel.
e. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beeban kreatinin untuk klirens
ginjal.
f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
transfusi multipel, atau cidera hati ( Doenges dalam Jitowiyono,
2010:21).
H. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan kedaruratan
Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak
menyadari adanya fraktur, dan berusaha berjalan dengan tungkai yang
patah. Maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi
bagian tubuh segera sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang
mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat
dilakukan pembidaian, ektremitas harus disangga diatas dan dibawah
tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi dan angulasi. Gerakan
angulasi patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan
lunak, dan perdarahan lebih lanjut.
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai
sementara dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan
kencang. Pada cedera ekstremitas atas lengan dapat dibebat dengan dada,
atau lengan yang cedera dibebat dengan sling.
Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk
mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam.

b. Prinsip penanganan fraktur


Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan
pengambilan fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
1) Reduksi fraktur
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen
tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis
a) Reduksi tertutup : pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan
dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya ( ujung-
ujungnya saling berhubungan ) dengan manipulasin atau traksi
manual.
b) Traksi : dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan
imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang
terjadi.
c) Redusi terbuka : pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka.
Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi
interna dapat berupa pin, kawat, skrup, plat, paku atau batangan
logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang
dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
2) Imobilisasi fraktur
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi,
atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi
eksterna dan interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan,
gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna.
3) Mempertahankan dan mengembalikan fungsi : segala upaya diarahkan
pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi
harus dipertahankan sesuai kebutuhan.
4) Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur: diperlukan
berminggu-minggu sampai berbulan–bulan untuk kebanyakan fraktur
untuk mengalami penyembuhan. Adapun faktor yang mempercepat
penyembuhan fraktur adalah:
a) Imobilisasi fragmen tulang
b) Kontak fragmen tulang maksimal
c) Asupan darah yang memadai
d) Nutrisi yang baik
e) Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang
f) Hormon– hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D, steroid
anabolik
g) Potensial listrik pada patahan tulang
Faktor – faktor yang memperhambat penyembuhan tulang
a) Trauma lokal ekstensif
b) Kehilangan tulang
c) Imobilisasi tak memadai
d) Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang
e) Infeksi
f) Penyakit tulang metabolik
g) Nekrosis avaskuler
h) Usia (lansia sembuh lebih lama) (Smeltzer & Bare, 2002 : 2359)
I. Konsep Dasar Keperawatan
1. Asuhan keperawatan pre-operatif
a. Pengkajian
1) Aktivitas/istirahat
- Kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
- Keterbatasan mobilitas
2) Sirkulasi
- Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
- Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
- Tachikardi
- Cailary refil melambat
- Pucat pada bagian yang terkena
- Masa hematoma pada sisi cedera
3) Neurosensori
- Kesemutan
- Kelemahan

4) Kenyamanan
- Nyeri tiba-tiba saat cidera
- Spasme/ kram otot
5) Keamanan
- Laserasi kulit
- Perdarahan
- Perubahan warna
- Pembengkakan lokal
b. Diagnosis keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul:
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (fraktur)
2) Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kerusakan
neuromuskuler, tekanan dan disuse
3) Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya
kemampuan menjalankan aktivitas.
4) Resiko infeksi berhubungan dengan trauma, imunitas tubuh
primer menurun, prosedur invasive
5) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang
6) Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d
kurang paparan terhadap informasi, terbatasnya kognitif
c. Rencana Perawatan Fraktur
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1 Nyeri akut b/dSetelah dilakukan AsuhanManajemen nyeri :
agen injuri fisik,keperawatan  Kaji
…. nyeri secara
fraktur jam tingkat komprehensif termasuk lokasi,
kenyamanan klien karakteristik, durasi, frekuensi,
meningkat, tingkatnyeri kualitas dan faktor presipitasi.
terkontrol dg KH:  Observasi reaksi nonverbal
 Klien melaporkan nyeridari ketidak nyamanan.
berkurang dg scala 2-3  Gunakan teknik komunikasi
 Ekspresi wajah tenang terapeutik untuk mengetahui
 klien dapat istirahat danpengalaman nyeri klien
tidur sebelumnya.
 Kontrol faktor lingkungan
yang mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan.
Kurangi faktor presipitasi nyeri.
 Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologis/non
farmakologis).
 Ajarkan teknik non
farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi
nyeri..
 Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
 Evaluasi tindakan pengurang
nyeri/kontrol nyeri.
 Kolaborasi dengan dokter bila
ada komplain tentang
pemberian analgetik tidak
berhasil.

Administrasi analgetik :.
 Cek program pemberian
analgetik; jenis, dosis, dan
frekuensi.
 Cek riwayat alergi.
 Tentukan analgetik pilihan,
rute pemberian dan dosis
optimal.
 Monitor TV
 Berikan analgetik tepat waktu
terutama saat nyeri muncul.
 Evaluasi efektifitas analgetik,
tanda dan gejala efek samping.
2 Resiko terhadapSetelah dilakukan askep …Memberikan posisi yang
cidera b/djam terjadipeningkatannyaman untuk Klien:
kerusakan Status  Berikan posisi yang aman
keselamatan
neuromuskuler, Injurifisik Dg KH : untuk pasien dengan
tekanan  Bebas dari cidera
dan meningkatkan obsevasi pasien,
disuse  Pencegahan Cidera beri pengaman tempat tidur
 Periksa sirkulasi periper dan
status neurologi
 Menilai ROM pasien
 Menilai integritas kulit pasien.
 Libatkan banyak orang dalam
memindahkan pasien, atur
posisi
3 Sindrom defisitSetelah dilakukan akep …Bantuan perawatan diri
self care b/djam kebutuhan  Monitor kemampuan pasien
ADLs
kelemahan, terpenuhi dg KH: terhadap perawatan diri
fraktur  Pasien dapat  Monitor kebutuhan akan
personal hygiene, berpakaian,
 Melakukan aktivitas toileting dan makan
sehari-hari.  Beri bantuan sampai pasien
 Kebersihan diri pasienmempunyai kemapuan untuk
terpenuhi merawat diri
 Bantu pasien dalam memenuhi
kebutuhannya.
 Anjurkan pasien untuk
melakukan aktivitas sehari-
hari sesuai kemampuannya
 Pertahankan aktivitas
perawatan diri secara rutin
4 Risiko infeksi b/dSetelah dilakukan asuhanKonTrol infeksi :
imunitas  Bersihkan lingkungan setelah
tubuhkeperawatan … jam tidak
primer menurun,terdapat faktor risikodipakai pasien lain.
prosedur invasive,infeksi dan infeksi Batasi pengunjung bila perlu.
fraktur terdeteksi dg KH:  Intruksikan kepada
 Tdk ada tanda-tanda infeksi pengunjung untuk mencuci
V/ tangan saat berkunjung dan
sesudahnya.
 Gunakan sabun anti miroba
untuk mencuci tangan.
 Lakukan cuci tangan sebelum
dan sesudah tindakan
keperawatan.
 Gunakan baju dan sarung
tangan sebagai alat pelindung.
 Pertahankan lingkungan yang
aseptik selama pemasangan
alat.
 Lakukan perawatan luka,
dainage, dresing infus dan dan
kateter setiap hari.
Tingkatkan intake nutrisi dan
cairan
berikan antibiotik sesuai
program.
 Jelaskan tanda gejala infeksi
dan anjurkan u/ segera lapor
petugas
Monitor V/S
Proteksi terhadap infeksi
 Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal.
Monitor hitung granulosit dan
WBC.
Monitor kerentanan terhadap
infeksi..
 Pertahankan teknik aseptik
untuk setiap tindakan.
 Inspeksi kulit dan mebran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase.
Inspeksi kondisi luka, insisi
bedah.
 Ambil kultur, dan laporkan
bila hasil positip jika perlu
 Dorong istirahat yang cukup.
 Dorong peningkatan mobilitas
dan latihan sesuai indikasi
T5 Kerusakan Setelah dilakukan askep …Terapi ambulasi
mobilitas fisikjam  Kaji kemampuan pasien dalam
terjadipeningkatan
berhubungan Ambulasi :Tingkatmelakukan ambulasi
dengan patahmobilisasi, Perawtan
 Kolaborasi dg fisioterapi untuk
tulang diri Dg KH : perencanaan ambulasi
 Peningkatan aktivitas fisik Latih pasien ROM pasif-aktif
sesuai kemampuan
 Ajarkan pasien berpindah
tempat secara bertahap
 Evaluasi pasien dalam
kemampuan ambulasi

Pendidikan kesehatan
 Edukasi pada pasien dan
keluarga pentingnya ambulasi
dini
 Edukasi pada pasien dan
keluarga tahap ambulasi
 Berikan reinforcement positip
atas usaha yang dilakukan
pasien.
6 Kurang Setelah dilakukan askep ….Pendidikan kesehatan :
pengetahuan Jam pengetahuan klienproses penyakit
tentang penyakitmeningkat dg KH:  Kaji pengetahuan klien.
 Klien
dan perawatannya dapat
 Jelaskan proses terjadinya
b/d kurangmengungkapkan kembalipenyakit, tanda gejala serta
paparan terhadapyg dijelaskan. komplikasi yang mungkin
informasi,  Klien kooperatif saatterjadi
keterbatan dilakukan tindakan  Berikan informasi pada
kognitif keluarga tentang
perkembangan klien.
 Berikan informasi pada klien
dan keluarga tentang tindakan
yang akan dilakukan.
 Diskusikan pilihan terapi
 Berikan penjelasan tentang
pentingnya ambulasi dini
 Jelaskan komplikasi kronik
yang mungkin akan muncul