Anda di halaman 1dari 5

Terapi awal untuk serangan akut migraine perlu dilakukan dan seringkali merupakan terapi “abortive”

terutama menggunakan obat golongan Triptan yang memiliki efektifitas tinggi pada serangan awal.

Beberapa pendekatan untuk terapi migrain yaitu:

1. stratified approach considers the severity of the migraine attack first yaitu menentukan terapi
awal berdasarkan tingkat keparahan serangan. Contoh yaitu pada kasus sakit kepala ringan-
sedang maka terapi pertama yang diberikan yaitu dengan analgesic ataupun NSAID, sedangkan
pada sakit kepala berat akan diberikan triptan atau DHE sebagai obat utama.

2. step-care-across-attacks considers side effect and cost effectiveness first yaitu merupakan terapi
berjenjang dengan mempertimbangkan efek samping serta efektifitas biaya yang digunakan dan
pemberian terapi diberikan secara bertahap hingga mendapatkan obat yang sesuai. Contohnya
yaitu pada saat ada pasien dengan sakit kepala, maka rekomendasi terapi pertama yang
diberikan berupa analgesik ringan seperti NSAID. Apabila dengan terapi awal tersebut tidak
membaik, maka diberikan golongan neuroleptic, jika gagal maka diberikan golongan triptan yang
umum digunakan dan apabila gagal makan digunakan obat golongan triptan atau DHE dengan
potensi yang lebih kuat dengan harga yang lebih mahal.

3. step-care-within-attacks yaitu memberikan terapi saat serangan dengan memberikan terapi


paling ringan terlebih dahulu, jika ternyata terapi awal tidak dapat mengatasi sakit kepala maka
secara berjenjang akan diberikan obat dengan potensi yang lebih kuat

Setiap pasien sangat mungkin memiiki respon yang unik terhadap setiap obat-obatan yang diberikan.
Adanya percobaan klinis dan penelitian berdasarkan evidence based akan lebih membantu klinisi untuk
memberikan langkah awal dalam memberikan terapi. Beberapa golongan obat yang dapat digunakan
dalam mengatasi migrain

1. ERGOTS

Ergots merupakan komponen vasokonstriksi dari ergotamine contoh golongan ergot


yaitu Ergotamine Tartrate-ET yang memiliki efektifitas lebih baik dibandingkan aspirin
dan memiliki efektifitas yang sama dengan ketoprofen, naproxen dan metoclopramide.
ET kombinasi dengan caffeine kurang efektif jika dibandingkan dengan oral sumatriptan.
Derivat ergot lainnya yaitu Dihydroergotamine- DHE yang memiliki bentuk sediaan
intravenous (IV), intramuscular (IM), subcutaneous (SC), or nasal spray (NS). DHE IV
merupakan sediaan yang memiliki efektivitas lebih kuat dibandingkan dengan bentuk
sediaan DHE lainnya. DHE NS memiliki efektifitas yang lebih rendah dibandingan
sumatriptan injeksi dan memiliki efektifitas yang sama dengan kombinasi ET dan
caffeine. Berdasarkan rekurensinya, DHE Subcutan memiliki rekurensi sakit kepala lebih
rendah dibandingkan SC sumatriptan dan IM DHE memiliki efektifitas yang sama
dengan IM meperidine

2. Triptan
Triptans merupakan kelompok 5HT 1b/1d agonis selectif. Triptan merupakan golongan
yang aman dan sangat efektif untuk terapi migraine akan tetapi tidak dapat digunakan
untuk menangani aura. Beberapa derivate dari triptan yaitu

a) Sumatriptan
Sumatriptan tersedia dalam bentuk injeksi SC, oral, NS dan ionophoretic patch.
Ketika dibandingkan dengan pemberian oral, sediaan SC lebih efektif pada 2 dan
4 jam jika dibandingkan dengan DHE SC ataupun IN. Sumatriptan akan lebih
efektif untuk mengurangi atau menghilangan sakit kepala dalam jangka waktu
pendek akan tetapi DHE memeiliki tingkat rekurensi yang rendah (kurang dari 24
jam). Apabila diberikan saat aura akan tetapi sebelum onset terjadinya sakit
kepala, sumatriptan kurang efektif dalam mencegah terjadinya serangan sakit
kepala sedang hingga berat. Dosis efektif untuk sakit kepala dalam 2-4 jam yaitu
100mg selanjutnya untuk dosis kedua per oral sumatriptan tidak memberikan
manfaat tambahan untuk menghilangkan sakit kepala lebih lanjut ataupun
mencegah sakit kepala dating kembali.
b) Almotriptan
Almotriptan merupakan triptan dengan sediaan peroral yang memiliki waktu
paruh sedikit lebih lama jika dibandingkan dengan sumatriptan (3.1 jam : 2
jam). Manfaat meredakan sakit kepala didapatkan pada pemberian dosis diatas
6.25mg. Dosis terbaik yaitu 6.25 dan 12.5 mg yang memiliki toleransi lebih baik
jika dibandingkan dengan 100mg oral sumatriptan
c) Eletriptan
d) Eletriptan memiliki bioavailabilitas lebih tinggi, massa paruh lebih panjang dan
lebih cepat di absoprsi dibandingkan dengan sumatriptan. Dosis eletriptan yaitu
20mg, 40mg dan 80 mg. Semua dosis lebih efektif jika dibandingkan dengan oral
sumatriptan pada dosis 50-100mg. Eletriptan memiliki tingkat rekurensi lebih
rendah dan memiliki efek pereda sakit kepala lebih baik terutama dalam
menangani gejala terkait migraine seperti mual, photophobia, phonophobia dan
disabilitas terkait migraine.
e) Frovatriptan
Frovatriptan memiliki afinitas paling tinggi terhadap reseptor 5HT-1B/1D dan
memiliki selektifitas terhadap cerebral vascular system dengan aktifitas
vasokonstriksi arteri coroner yang terbatas. Frovatriptan memiliki massa paruh
terpanjang dibandingkan jenis triptan lainnya (26 jam). Frovatriptan memiliki
manfaat yang signifikan untuk meredakan sakit kepala dalam 2 jam pada dosis
>2.5 mg.
f) Naratriptan
Naratriptan memiliki masa paruh lebih panjang dan bioavailabilitas lebih tinggi
dibandingkan dengan sumatriptan akan tetapi tingkat respon kerja lebih rendah
dibandingkan jenis triptan yang lain. Naratriptan apabila dibandingkan dengan
sumatriptan memiliki tingkat rekurensi sakit kepala lebih rendah setelah setelah
4 jam namum memiliki tingkat rekurensi yang sama setelah 24 jam.
g) Rizatriptan
Rizatriptan memiliki efektifitas yang baik dalam mengurangi sakit kepala dan
menghilangkan nyeri setelah 2 jam pada rentang dosis 5-40mg. Rizatriptan dosis
tinggi (40mg) memiliki efektifitas lebih baik dibandingkan 100mg oral
sumatriptan akan tetapi pada dosis yang lebih rendah keduanya memiliki
efektifitas yang sama
h) Zolmitriptan
Zolmitriptan terdesia dalam bentuk oral dan IN. Pada dosis 2.5 dan 5 mg
memiliki manfaat untuk mengurangi sakit kepala dan menghilangkan nyeri
dalam 2 dan 4 jam. Zolmitriptan memiliki tingkat respon terhadap sakit kepala
yang tinggi jika dibandingkan dengan jenis triptan lainnya (Terkecuali
sumatriptan. Apabila dibandingkan dengan 100 mg oral sumatriptan, tidak
didapatkan perbedaan manaat yang signifikan akan tetapi zolmitriptan memiliki
manfaat sedikit lebih baik dalam mengurangi sakit kepala rekuren dan tidak
bermanfaat saat aura ataupun sebelum sakit kepala .
3. Neuroleptic
Golongan neuroleptik bermanfaat sebagai tambahan untuk obat spesifik migrain
ataupun sebagai terapi primer. Neuroleptik memiliki sediaan oral dan parenteral dan
sangat berguna untuk mengobati gejala terkait migrain seperti mual dan muntah.
Neuroleptic merupakan antidopaminergik dan termasuk didalamnya yaitu
metoclopramide, prochlorperazine, chlorpromazine, haloperidol, dan droperidol.
a) Metoclopramide tersedia dalam sediaan oral dan IV. Metoclopramide IV
memiliki manfaat lebih baik dibandingkan ibuprofen. Metoclopramide IV
kombinasi dengan dimenhydrate IM dalam dosis berulang memiliki efektifitas
yang sama dengan sumatriptan SC dalam kondisi kegawatan. Metoclopramide
oral telah dipelajari secara luas sebagai terapi tambahan bersama dengan NSAID
atau obat spesifik migraine lainnya sebagai terapi primer pada penanganan
migrain akut. Namun, sebagai monoterapi untuk migrain akut, belum terbukti
efektif. Metoclopramide harus diberikan pada dosis 10 mg IV atau 10-20 mg
untul sediaan tablet oral atau sirup setiap 8 jam
b) Prochlorperazine tersedia dalam sediaan oral, IV, dan PR. Proklorperazin IV telah
terbukti secara signifikan mengurangi nyeri kepala dan memiliki efek lebih baik
dibandingkan divalproex IV dalam mengurangi nyeri akut dan mual pada
keadaan darurat. Proklorperazin dapat diberikan mulai dosis 7,5 hingga 15 mg
IV selama 5-10 jam, per rektal 25 mg atau oral 5-10 mg setiap 8 jam
c) Chlorpromazine tersedia dalam sediaan oral dan IV dan terbukti efektif dalam
menghilangkan sakit kepala dan mengurangi mual setelah 30 menit. Manfaat
Chlorpromazine dapat digunakan pada jenis migrain dengan aura ataupun
migrain tanpa aura. Klorpromazin oral belum dipelajari sebagai terapi migrain
primer tetapi sama dengan jenis neuroleptik lainnya yang memiliki manfaat
sebagai tambahan atau adjuvant. Dosis yang digunakan yaitu 25-50 mg per oral
atau 10-25 IV setiap 6 jam.
d) Droperidol hanya tersedia dalam sediaan parenteral dan signifikan secara
statistik dalam mengurangi mual dan menghilangkan sakit kepala pada 2
jam. Droperidol dianggap efektif pada kondisis status migrainosus,
migrain refraktori, dan migrain akut sedang hingga berat.
e) Atypical Antipsychotics adalah senyawa serotonergik dan adrenergik yang dapat
membantu dalam keadaan akut ataupun sebagai obat ajuvan. Beberapa contoh
obat yaitu Olanzapine yang dapat mengurangi angka kejadian sakit kepala dan
mengurangi intensitas sakit kepala. Pada dosis 5 dan 10 mg digunakan sebagai
pencegahan harian. Contoh lainnya yaitu Quetiapine yang memiliki manfaat
untuk penurunan frekuensi migraine
4. NSAID
Meskipun nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAID) merupakan terapi analgesik
yang tidak spesifik dan bukan terapi spesifik untuk pengobatan migrain, beberapa jenis
NSAID telah dipelajari untuk pengobatan migraine akut. NSAID merupakan inhibitor
sintesis prostaglandin utama yang melalui aktivitas pada dua subtipe enzim
cyclooxygenase (COX1 dan COX2). Namun, beberapa NSAID (yaitu indometasin dan
diklofenak) menghambat sintesis leukotrien pada mekanisme 5-lipoxegynase dan
memiliki efek antagonis langsung pada prostaglandin.
a. Aspirin dalam dosis rendah merupakan inhibitor COX 1 selektif dan memiliki efek
dalam mempengaruhi agregasi platelet dan hanya pada dosis menengah dan
dosis yang lebih tinggi akan memberikan efek antiinflamasi yang signifikan.
Apabila 1000 mg Aspirin dibandingkan dengan 50 mg sumatriptan oral atau 400
mg ibuprofen, aspirin memiliki efektifitas yang sama untuk mengurangi sakit
kepala dan menghilangkan gejala migrain yang terkait tetapi tidak dapat
menghilangkan nyeri pada 2 jam. Akan tetapi Aspirin memiliki efektifitas lebih
rendah jika dibandingkan dengan ergotamine.
b. Ibuprofen dalam dosis 200 dan 400 mg lebih unggul dalam meredakan
sakit kepala ringan dan sedang untuk 2 jam. Dosis 400 mg merupakan
satu-satunya dosis efektif untuk sakit kepala berat. Ibuprofen dosis rendah
(200 mg) memiliki manfaat lebih rendah jika dibandingkan dengan
kombinasi acetaminophen, aspirin, dan kafein. Namun, dosis ibuprofen
yang lebih tinggi dapat menimbulkan lebih banyak efek samping, terutama
gangguan pencernaan.
c. Ketoprofen pada dosis 75mg dan 150 mg memiliki manfaat yang sama dengan
2.5 mg zolmitriptan oral
d. Diclofenac tersedia dalam sediaan oral, IM, and IV. Dalam semua bentuk
sediaan, diclofenac memiliki manfaat lebih unggul dalam mengurangi sakit
kepala jika dibandingkan dengan acetaminophen dalam 1 dan 2 jam
5. Opiates dan barbiturate
Opiates dibuat secara endogen di otak dan disintesis secara komersial untuk
pengobatan nyeri akut. Pada migrain, penggunaan opiat sering dikaitkan dengan efek
toleransi, ketergantungan, dan kronifikasi sakit kepala. Beberapa jenis obat yang bisa
mencari pilihan terapi yaitu Acetaminophen/codeine yang memiliki manfaat yang sama
dengan aspirin. Butorphanol adalah agonis reseptor K yang tersedia dalam sediaan IN
dan IM yang memiliki manfaat untuk menurunkan risiko depresi pernapasan
dibandingkan dengan morfin atau agonis reseptor u lainnya. Risiko ketergantungan dan
toleransi opiat parenteral tidak berkurang bahkan memungkinkan untuk timbulnya
resiko withdrawal. Butalbital adalah satu-satunya senyawa barbiturat yang diteliti untuk
pengobatan migrain dan tersedia secara komersial dalam kombinasi dengan aspirin, dan
kafein. Memiliki manfaat menghilangkan sakit kepala dalam 4 jam. Meskipun
butorphanol lebih unggul dalam efikasi pada 2 jam, kombinasi butalbital memiliki efek
samping yang lebih sedikit. Namun, kombinasi Sumatriptan dan naproxen lebih unggul
jila dibandingkan dengan butalbital.
6. Terapi lain: Antiepileptic drugs adalah obat pencegahan migrain yang umum dan
sejumlah obat golongan antiepileptic telah dipelajari juga untuk pengobatan migrain
akut. Infus asam valproik telah diteliti baik dalam kombinasi dengan ergotamin ataupun
kombinasi dengan obat neuroleptik, serta sebagai obat tunggal dalam penangan
migrain akut. IV valproate dengan dosis 15 mg / kg memiliki manfaat mengurangi sakit
kepala secara dalam waktu yang cepat (10 menit). Perbandingan 500 mg IV valproate
dengan 10 mg metoclopramide dan 1 mg IV DHE atau SC sumatriptan menunjukkan
valproate lebih bermanfaat untuk menghilangkan sakit kepala pada 1, 2, dan 4 jam serta
bermanfaat dalam memperbaiki gejala lain yang terkait seperti fotofobia, fonofobia, dan
mual.
Terapi lain yang dapat menjadi pilihan yaitu pemberian Corticosteroids. Kortikosteroid
dianggap dapat mengurangi peradangan neurogenik yang berkaitan dengan migrain,
kemungkinan karena efeknya pada akses hipotalamus-hipofisis. Prednison,
metilprednisolon, dan deksametason adalah terapi umum untuk migrain akut baik
dalam sediaan IV maupun oral. Deksametason IV dibandingkan dengan IV
valproate,memiliki manfaat yang sama dalam mengurangi nyeri akan tetapi tidan efektif
untuk menangani aura