Anda di halaman 1dari 66

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran IPA terpadu

pada tema pengolahan minyak kelapa yang dikembangkan peneliti

sesuai dengan model pengembangan 4D (four D models) yang terdiri

dari Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop

(Pengembangan). Masing-masing tahap tersebut akan diuraikan sebagai

berikut:

1. Tahap Pendefisian (Define)

Proses tahap Define dilakukan beberapa analisis yaitu

melakukan analisis kurikulum SMP, analisis siswa, analisis materi,

dan perumusan tujuan pembelajaran, yang selanjutnya akan

dijelaskan sebagai berikut:

a. Analisis Kurikulum

Berdasarkan Permendiknas nomer 22 tahun 2006 Mata

Pelajaran IPA diajarkan dalam satu mata pelajaran. Oleh karena

itu, mata pelajaran IPA harus diajarkan secara terpadu.

Kurikulum yang digunakan saat ini di MTs Negeri 2 Kediri

adalah KTSP. Dengan adanya kurikulum KTSP tersebut,

menuntut agar pembelajaran IPA diajarkan secara terpadu

dengan mengaitkan ketiga disiplin ilmu Fisika, Kimia, dan

Biologi dengan suatu tema atau topik dan tidak diajarkan secara

72
73

terpisah-pisah. Namun berdasarkan hasil prapenelitian sekolah

tersebut belum menerapkan pembelajaran IPA secara terpadu.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan perangkat

pembelajaran IPA Terpadu tipe webbed pada tema pengolahan

minyak kelapa. Berdasarkan hasil kajian dari tema pengolahan

minyak kelapa yang merupakan perpaduan dari Kompetensi

Dasar (KD) 2.4 Membandingkan Sifat Unsur, Senyawa, dan

Campuran, 4.1 Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat,

4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara

berdasarkan sifat fisika dan kimia, 4.2 Melakukan Pemisahan

Campuran dengan berbagai cara Berdasarkan Sifat Fisika dan

Kimia, dan 2.4 Mendeskripsikan Penerapan Bioteknologi dan

Mendukung Kelangsungan Hidup Makhluk Hidup Manusia

melalui Produksi Pangan. Adapun hasil dari analisis kurikulum

adalah SK-KD yang hendak dipadukan. Untuk mengetahui SK-

KD yang dapat dipadukan perhatikan tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1 Penentuan Tema, Subtema, SK, KD, dan Indikator


Pembelajaran
Tema Subtema Standar Kompetensi Indikator Pembelajaran
Kompetensi Dasar
Peng- Senyawa 2. Mema- 2.4 Memban- Indikator
olahan kimia hami dingkan Sifat 1. Kognitif
Minyak yang Klasifikasi Unsur, a. Produk
Kelapa terdapat Materi Senyawa, dan 1) Menjelaskan kandungan
pada Campuran senyawa kimia dalam
minyak minyak kelapa
kelapa 4.1 Memban- 2) Membedakan sifat fisika
dingkan sifat dan kimia minyak kelapa
Sifat 4. Mema- fisika dan sifat 3) Menjelaskan teknik
fisika hami kimia zat pemisahan campuran
74

Tema Subtema Standar Kompetensi Indikator Pembelajaran


Kompetensi Dasar
dan berbagai Sifat minyak kelapa
kimia dalam 4) Mendeskripsikan penerapan
pada Perubahan bioteknologi dalam
minyak Fisika dan pengolahan minyak kelapa
kelapa Kimia.
(Kelas VII b. Proses
Semester I) 1) Membuat diagram alir
Pemisah- 4.2 Melakukan teknik pengolahan minyak
an pemisahan kelapa secara pemanasan,
campur- campuran fermentasi, dan enzimatis.
an pada dengan 2) Mempresentasikan hasil
minyak berbagai cara pengolahan minyak kelapa
kelapa berdasarkan secara enzimatis.
sifat fisika dan 3) Mengamati sifat fisika
kimia minyak kelapa berdasarkan
masing-masing teknik
pengolahannya.
Pembudi 2. Memahami 2.4 Mendes- 4) Menyusun laporan hasil
-dayaan Kelangsung- kripsikan pengamatan sifat fisika
kelapa an Hidup Penerapan pada minyak kelapa.
Makhluk Bioteknologi
Hidup dan 2. Psikomotor
(Kelas IX Mendukung a. Menggunakan gelas ukur
Semester I) Kelangsungan untuk mengukur volume
Hidup santan dan voleme minyak
Makhluk kelapa.
Hidup b. Menggunakan termometer
Manusia untuk mengukur titik didih
melalui minyak kelapa.
Produksi
Pangan 3. Afektif
a. Mengembangkan perilaku
4. Mema- 4.2 Melakukan berkarakter, meliputi: jujur
hami Pemisahan dan tanggung jawab
berbagai Sifat Campuran b. Mengembangkan
dalam dengan keterampilan sosial, meliputi:
Perubahan berbagai cara bekerjasama dan
Fisika dan Berdasarkan berpendapat.
Kimia Sifat Fisika
dan Kimia
Dengan adanya tema dan model pembelajaran tersebut

diharapkan siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih


75

menyeluruh dari suatu masalah. Untuk mengajarkan tema

pengolahan minyak kelapa maka dibutuhkan perangkat

pembelajaran IPA Terpadu yang sesuai. Pengembangan

perangkat pembelajaran IPA Terpadu tema pengolahan minyak

kelapa ini dilakukan dikarenakan belum adanya perangkat yang

sesuai di lapangan.

b. Analisis Siswa

Siswa kelas VIII MTs Negeri 2 Kediri pada umumnya

berumur antara 12 tahun sampai 13 tahun. Berdasarkan

perkembangan kognitif piaget, usia tersebut termasuk dalam

tahap operasi formal. Tahap operasi formal adalah tahap dimana

anak sudah dapat berfikir secara abstrak dalam menghadapi

situasi dan penalaran hipotesis. Siswa mampu merumuskan

suatu masalah, mampu membuat hipotesis suatu masalah, dan

mampu memecahkan masalah. Pada kelas VIII.D yang

digunakan sebagai sampel penelitian terdiri dari siswa yang

heterogen pada kelas reguler.

c. Analisis Tugas

Analisis tugas mencakup pemahaman akan tugas dalam

pembelajaran. Berdasarkan standar kompetensi dasar yang telah

diuraikan di atas maka dapat disusun tugas yang harus

dikerjakan pada pertemuan 1, 2, dan 3. Pada pertemuan 3 akhir


76

siswa diberi postest untuk mengecek pemahaman siswa setelah

memperoleh pembelajaran IPA Terpadu.

d. Analisis Konsep

Analisis konsep merupakan tahap mengidentifikasi

materi-materi penting dalam tema Pengolahan Minyak Kelapa.

Materi yang berkaitan dengan tema pengolahan minyak kelapa

sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA

Terpadu. Berikut disajikan peta standar kompetensi dan

kompetensi dasar IPA Terpadu Kelas VIII semester 2.

Tabel 4.2 Peta Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar


Fisika Biologi Kimia Tema
SK: SK: SK:
4. Memahami 2. Memahami 2. Memahami Pengolahan
berbagai Sifat Kelangsungan Klasifikasi Minyak Kelapa
dalam Hidup Makhluk Materi
Perubahan Hidup
Fisika dan
Kimia.
KD: KD: KD:
4.1 Memban- 2.4 Mendeskrip- 2.4
dingkan sifat sikan Membanding
fisika dan Penerapan kan Sifat
sifat kimia Bioteknologi Unsur,
zat dan Senyawa, dan
Mendukung Campuran
4.2 Melakukan Kelangsungan
Pemisahan Hidup
Campuran Makhluk
dengan Hidup
berbagai Manusia
cara melalui
Berdasarkan Produksi
Sifat Fisika Pangan
dan Kimia
77

Berdasarkan Tabel 4.2 di atas adapun analisis konsep

dibuat dengan mengidentifikasi tema yang sesuai dengan

kompetensi-kompetensi dasar yang telah dipadukan. Dalam

penelitian ini tema yang digunakan adalah pengolahan minyak

kelapa yang didukung oleh 4 subtema diantaranya senyawa

kimia pada minyak kelapa, sifat fisika dan kimia pada minyak

kelapa, pemisahan campuran pada minyak kelapa, dan

pembudidayaan kelapa. Subtema tersebut mengacu pada

beberapa kompetensi dasar yang saling berkaitan diantaranya:

(1) KD 4.1 Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat

(Kelas VII Semester I), (2) KD 4.2 Melakukan pemisahan

campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan

kimia (Kelas VII Semester I), (3) KD 2.4 Mendeskripsikan

penerapan bioteknologi dan mendukung kelangsungan hidup

makhluk hidup, manusia melalui produksi pangan, dan (4)

Membandingkan sifat, unsur, senyawa dan campuran.

Berdasarkan peta standar kompetensi dan kompetensi

dasar di atas, dibuat peta konsep materi sebagai berikut:


78

Peta Konsep Materi

Pengolahan Minyak Kelapa

Materi

terdiri atas

Penyaringan
Kimia
dipisahkan
Murni Campuran Kromatografi
secara yaitu
Molekul Unsur Fisika
terdiri atas terdiri atas
(O2, H2, I2) Sublimasi

terdiri atas

Unsur Senyawa homogen heterogen Destilasi

contohnya contohnya Molekul contoh contoh Ekstraksi


Senyawa
memiliki
• Khrom • Air (NaCl, HCl,
• Larutan Minyak Kelapa
(Cr) (H2O) Sifat Zat
gula
• Besi (Fe) • Garam
• Larutan
• Nikel dapur
garam
terdiri atas
(Ni) (NaCl) teknik pengolahan
(NaCl)
• Tembaga
(Cu) Konvensional
Fisika Kimia

meliputi

Pemanasan melalui proses


Fermentasi Enzimatis

Gambar 4.1 Peta Konsep Materi Pengolahan Minyak Kelapa

e. Perumusan Tujuan Pembelajaran

Tahap ini bertujuan untuk merumuskan tujuan

pembelajaran berdasarkan indikator yang telah ditentukan.

Tahap ini merupakan langkah akhir pada tahap define.

Berdasarkan analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar

maka dirumuskan suatu tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai sebagai berikut:


79

1) Kognitif

a) Produk

Secara mandiri tanpa membuka buku siswa,

siswa dapat:

(1) menjelaskan kandungan senyawa kimia dalam

minyak kelapa.

(2) memberikan minimal 2 macam contoh sifat

fisika.

(3) menjelaskan sifat kimia pada minyak kelapa.

(4) menganalisis sifat fisika pada minyak kelapa.

(5) menjelaskan pengertian campuran.

(6) menganalisis campuran heterogen pada minyak

kelapa.

(7) menjelaskan metode pemisahan campuran yakni

ekstraksi.

(8) menganalisis metode pemisahan campuran pada

minyak kelapa.

(9) menganalisis campuran heterogen pada minyak

kelapa.

(10) menganalisis metode pengolahan minyak

kelapa.

(11) menjelaskan berbagai metode yang digunakan

dalam pengolahan minyak kelapa.


80

(12) menganalisis metode pengolahan minyak kelapa

yang digunakan untuk meningkatkan mutu

minyak kelapa.

(13) menjelaskan keunggulan dan kelemahan metode

pengolahan minyak kelapa secara pemanasan.

(14) menjelaskan kegunaan enzim dalam pengolahan

minyak kelapa.

(15) menjelaskan proses pengolahan minyak kelapa

secara enzimatis.

b) Proses

(1) Siswa dapat membuat diagram alir teknik

pengolahan minyak kelapa dengan metode

pemanasan, fermentasi, dan enzimatis secara

berkelompok.

(2) Siswa dapat mempresentasikan hasil praktikum

pengolahan minyak kelapa secara enzimatis

berdasarkan praktikum yang dilakukan.

(3) Siswa dapat mengidentifikasi sifat fisika pada

minyak kelapa berdasarkan pengamatan yang

dilakukan.

(4) Siswa dapat menyusun laporan hasil

pengamatan sifat fisika pada minyak kelapa.


81

2) Psikomotor

a) Diberikan gelas ukur, siswa dapat menggunakan gelas

ukur untuk mengukur volume santan dan voleme minyak

kelapa.

b) Diberikan termometer, siswa dapat menggunakan

termometer untuk mengukur titik didih minyak kelapa.

3) Afektif

a) Perilaku Berkarakter

Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, siswa dapat

memiliki sikap yakni:

(1) jujur dalam menyelesaikan tugas

(2) bertanggung jawab dengan tugas yang dikerjakan

b) Keterampilan Sosial

Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, siswa dapat

memiliki sikap, yakni:

(1) kerjasama antar anggota kelompok

(2) menyampaikan pertanyaan atau menyumbangkan ide

dengan santun

2. Tahap Perancangan (Design)

Tahap Design bertujuan untuk mendesain perangkat

pembelajaran yang akan dikembangkan. Perangkat pembelajaran

yang dikembangkan terdiri dari Silabus, RPP, buku siswa, LKS, dan

lembar tes hasil belajar.


82

3. Tahap pengembangan (Develop)

Tahap pengembangan terdiri dari lima tahapan, yakni telaah

Silabus, RPP, Buku Siswa, LKS, dan Tes Hasil Belajar untuk

dilakukan revisi, validasi untuk mengetahui kelayakan perangkat,

dan uji coba terbatas pada siswa. Untuk hasil telaah akan digunakan

untuk melakukan revisi pada perangkat yang dikembangkan (draf 1)

sehingga akan menjadi draf II yang akan divalidasi oleh dosen ahli

dan praktisi, kemudian diujicobakan ke siswa. Berikut akan

dijabarkan hasil yang diperoleh dari masing-masing tahapannya.

a. Telaah untuk mengetahui kebenaran dan kesesuaian isi Silabus,

RPP, Buku Siswa, LKS, dan Soal dengan Standar Kompetensi

dan Kompetensi Dasar. Tahap ini bertujuan untuk

menyempurnakan perangkat pembelajaran IPA terpadu yang

telah dibuat dan kemudian ditelaah oleh 2 dosen ahli yakni

dosen Kimia dan dosen Sains.

1) Telaah Silabus

Silabus dikembangkan dengan menjabarkan dari

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).

Silabus terdiri dari komponen identitas, SK, KD, materi

pokok, indikator, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi

waktu dan sumber belajar.

Tahap perancangan (design) silabus menghasilkan

draf I yang merupakan desain awal perangkat pembelajaran


83

IPA terpadu tema pengolahan minyak kelapa yang

kemudian mendapat saran perbaikan dari dosen ahli dalam

proses penelaahan. Adapun beberapa aspek yang ditelaah

berkaitan dengan silabus yakni sebagai berikut: (1)

Kesesuaian format silabus IPA terpadu dengan Standar

Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (2) Kesesuaian Standar

Kompetensi, Kompetensi Dasar, dengan perumusan

indikator, (3) Kesesuaian pemilihan tema dengan standar

kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator, (4)

Kesesuaian materi pelajaran dengan standar kompetensi,

kompetensi dasar dan indikator, (5) Kesesuaian kegiatan

pembelajaran dengan indikator. (6) Kesesuaian penilaian

dengan indikator, (7) Kesesuaian contoh instrumen

penilaian dengan bentuk instrumen, (8) Kesesuaian sumber

belajar dengan indikator, (9) Kesesuaian sumber belajar

dengan indikator, (10) Kesesuaian penggunaan bahasa

dengan format Ejaan Yang telah Disempurnakan (EYD).

Berdasarkan aspek yang ditelaah tersebut di atas,

adapun masukan dari dosen penelaah untuk perbaikan

silabus langsung dicek coretan-coretan pada perangkat.

Adapun hasil revisi draf 1 silabus disajikan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Revisi Draf 1 Silabus


Sebelum Revisi Setelah Revisi
a) Indikator Kognitif a) Indikator Kognitif
Terdapat kata menjelaskan kata menjelaskan pada
84

Sebelum Revisi Setelah Revisi


pada indikator kognitif produk indikator kognitif produk
diganti menyebutkan

b) Indikator Kognitif b) Indikator Kognitif


Terdapat kata membedakan Kata membedakan pada
pada indikator kognitif produk indikator kognitif produk
diganti menjelaskan
perbedaan

c) Indikator Psikomotor c) Indikator Psikomotor


(1) Mengukur volume santan Diganti menjadi:
menggunakan gelas ukur Menggunakan gelas ukur
(2) Mengukur volume minyak untuk mengukur volume
kelapa menggunakan santan dan minyak kelapa
gelas ukur

2) Telaah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP adalah penjabaran silabus yang

menggambarkan rencana prosedur dan pengorganisasian

pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang

ditetapkan dalam standar isi. Adapun beberapa aspek yang

ditelaah berkaitan dengan RPP yakni sebagai berikut: (1)

Kesesuaian format RPP IPA terpadu dengan Standar

Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (2) Kesesuaian

pencantuman identitas, (3) Kesesuaian tujuan pembelajaran

dengan indikator terpadu yang ingin dicapai, (4) Kesesuaian

uraian materi pembelajaran dengan indikator yang dicapai,

(5) Kesesuaian model pembelajaran yang digunakan dengan

materi dan indikator yang ingin dicapai, (6) Kesesuaian

langkah pembelajaran yang mengajarkan tema secara IPA


85

Terpadu, (7) Kesesuaian alat, bahan, dan sumber belajar

dengan indikator pembelajaran, (8) Kesesuaian penggunaan

bahasa dengan format Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Berdasarkan aspek yang ditelaah tersebut di atas, adapun

masukan dari dosen penelaah untuk perbaikan RPP

langsung dicek coretan-coretan pada perangkat.

Rencana pelaksanaan pembelajaran yang

dikembangkan merupakan draf 1 yang kemudian ditelaah

dan direvisi. Hasil revisi RPP draf 1 disajikan pada Tabel

4.4.

Tabel 4.4 Hasil Revisi Draf 1 RPP


Sebelum Revisi Setelah Revisi
a) Indikator Kognitif a) Indikator Kognitif
Terdapat kata menjelaskan pada Kata menjelaskan pada indikator
indikator kognitif produk kognitif produk diganti
menyebutkan

b) Indikator Psikomotor b) Indikator Psikomotor


(1) Mengukur volume santan Diganti menjadi:
menggunakan gelas ukur Menggunakan gelas ukur untuk
(2) Mengukur volume minyak mengukur volume santan dan
kelapa menggunakan gelas minyak kelapa
ukur

c) Tujuan Pembelajaran Kognitif c) Tujuan Pembelajaran Kognitif


Terdapat kata menjelaskan pada Kata menjelaskan pada indikator
indikator kognitif produk kognitif produk diganti
menyebutkan

d) Tujuan Pembelajaran Kognitif d) Tujuan Pembelajaran Kognitif


Terdapat kalimat secara mandiri Kalimat secara mandiri tanpa
tanpa membuka buku siswa, membuka buku siswa, siswa
siswa dapat pada semua poin di dapat tidak semuanya ditulis
tujuan pembelajaran kognitif pada tiap-tiap poin di tujuan
produk pembelajaran kognitif produk
melainkan ditulis secara mandiri
86

Sebelum Revisi Setelah Revisi


tanpa membuka buku siswa,
siswa dapat: pada bagian paling
atas sebelum masuk di poin
tujuan pembelajaran kognitif

e) Indikator Tujuan Pembelajaran e) Indikator Tujuan Pembelajaran


Psikomotor Psikomotor
Pada masing-masing poin Pada masing-masing poin
terdapat kata: terdapat kata:
(1) Disediakan alat dan bahan, (1) Disediakan alat dan bahan,
(2) Disediakan LP. 3, (2) Disediakan LP. 3,
(3) Disediakan LP. 3, (3) Disediakan LP. 3,
(tidak digunakan/ dihapus)
f) Kegiatan Pembelajaran f) Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan kedua, Fase 2 Pertemuan kedua, Fase 2
(mendeskripsikan pengetahuan (mendeskripsikan pengetahuan
atau keterampilan) Langkah atau keterampilan) Langkah
ketiga belum dicantumkan ketiga ditambahkan “Untuk
mengetahui sejauh mana
pemahaman siswa, guru meminta
salah satu siswa untuk
menjelaskan tahapan-tahapan
pengolahan minyak kelapa
secara enzimatis”

g) Kegiatan Pembelajaran g) Kegiatan Pembelajaran


Pertemuan Ketiga, Fase pertama Pertemuan Ketiga, Fase pertama
(menyampaikan tujuan dan (menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa) Langkah memotivasi siswa) Langkah
pertama pada kata “minyak pertama pada kata “minyak
goreng biasa” goreng biasa” diganti menjadi
“minyak kelapa sawit”.

h) Kegiatan Pembelajaran h) Kegiatan Pembelajaran


Pertemuan Ketiga, Fase kelima Pertemuan Ketiga, Fase kelima
(evaluasi) Langkah pertama pada (evaluasi) Langkah pertama pada
kata “memberikan pertanyaan” kata “memberikan pertanyaan”
diganti menjadi “memberikan
kuis”
87

3) Telaah Buku Siswa

Buku siswa adalah seperangat materi pelajaran yang

disusun secara sistematis, dan menampilkan sosok utuh dari

kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan

pembelajaran. Pengembangan buku siswa pada tahap design

merupakan hasil draf 1 yang kemudian ditelaah dan direvisi.

Adapun beberapa aspek yang ditelaah berkaitan dengan

buku siswa dapat dilihat pada lampiran 12.

Berdasarkan aspek yang ditelaah tersebut di atas,

adapun masukan dari dosen penelaah untuk perbaikan buku

siswa langsung dicek coretan-coretan pada perangkat. Buku

siswa yang setelah ditelaah kemudian dilakukan revisi. Dari

revisi buku siswa dihasilkan draf 1 buku siswa. Adapun

hasil revisi draf 1 buku siswa disajikan pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Hasil Revisi Draf 1 Buku Siswa


Sebelum Revisi Setelah Revisi
a) Kata Pengantar pada buku siswa a) Kata Pengantar pada buku siswa
berisi ucapan terimakasih kepada berisi ucapan terimakasih kepada
kepada berbagai pihak untuk kepada berbagai pihak untuk
ditiadakan. ditiadakan.
Tampilan kata pengantar Tampilan kata pengantar sebelum
sebelum revisi: revisi:
88

Sebelum Revisi Setelah Revisi


b) Peta konsep materi pada buku b) Peta konsep materi pada buku
siswa disesuaikan lagi dengan siswa setelah direvisi.
susunan materi. Tampilan peta konsep setelah
Tampilan peta konsep: revisi:

c) Daftar Isi pada buku siswa


c) Daftar Isi pada buku siswa kurang
kurang tertata rapi.
Tampilan daftar isi sebelum revisi: tertata rapi.
Tampilan daftar isi setelah revisi.

d) Pada buku siswa halaman 8-9


d) Pada buku siswa halaman 8-9
tidak dituliskan lambang unsur
dituliskan lambang unsur dan
dan senyawa “besi, alumunium,
senyawanya “besi (Fe), alumunium
tembaga, timbal, merkuri, ... dst”
(Al), tembaga (Cu), timbal (Pb),
merkuri (Hg), ... dst”
e) Pada buku siswa halaman 18
penulisan belum lengkap
e) Pada buku siswa halaman 18
“1݈݇ܽ‫= ݅ݎ݋‬
penulisan dilengkapi menjadi
4,2 ݆‫ ݑܽݐܽ ݈݁ݑ݋‬1 ݆‫ = ݈݁ݑ݋‬0,24”
“1݈݇ܽ‫= ݅ݎ݋‬
4,2 ݆‫ ݑܽݐܽ ݈݁ݑ݋‬1 ݆‫= ݈݁ݑ݋‬
0,24 ݈݇ܽ‫”݅ݎ݋‬

f) Pada uji kopetensi halaman 26 f) Pada uji kopetensi halaman 26 no.1


no.1 tidak dicantumkan telah dicantumkan “Berdasarkan
“Berdasarkan bacaan di atas” bacaan di atas
89

4) Telaah LKS

Lembar kegiatan siswa (LKS) adalah pedoman yang

diberikan kepada peserta didik untuk mempermudah peserta

didik memahami konsep yang berkaitan dengan materi ajar

yakni tema pengolahan minyak kelapa melalui serangkaian

penelitian.

Lembar kegiatan siswa yang dikembangkan tersebut

merupakan draf 1 yang kemudian ditelaah dan direvisi oleh

dosen ahli. Adapun beberapa aspek yang ditelaah berkaitan

dengan LKS dapat dilihat pada lampiran 13. Berdasarkan

aspek yang ditelaah tersebut di atas, adapun masukan dari

dosen penelaah untuk perbaikan LKS dicek coretan-coretan

pada perangkat. LKS yang setelah ditelaah kemudian

dilakukan revisi. Dari revisi LKS dihasilkan draf 1 LKS.

Lembar Kegiatan Siswa yang dikembangkan

merupakan draf 1 yang kemudian setelah ditelaah dilakukan

revisi. Hasil revisi LKS draf 1 disajikan pada Tabel 4.6.


90

Tabel 4.6 Hasil Revisi Draf 1 LKS

Sebelum Revisi Setelah Revisi


a) Penulisan diagram alir a) Penulisan diagram alir

b) Gambar b) Gambar
Pada LKS gambar 5 terdapat Pada LKS gambar 5 merk produk
merk produk dihilangkan

5) Telaah Hasil Belajar

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk

mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai (Arikunto,

2009: 25).

Pengembangan tes hasil belajar pada tahap design

merupakan hasil draf 1 yang kemudian ditelaah dan direvisi.

Adapun beberapa aspek yang ditelaah berkaitan dengan tes

hasil belajar dapat dilihat pada lampiran 14. Berdasarkan

aspek yang ditelaah tersebut di atas, adapun masukan dari


91

dosen penelaah untuk perbaikan LKS dicek coretan-coretan

pada perangkat. Tes hasil belajar yang setelah ditelaah

kemudian dilakukan revisi. Dari revisi tes hasil belajar

dihasilkan draf 1 tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang

dikembangkan merupakan draf 1 yang kemudian ditelaah

dan direvisi.

Tes hasil belajar yang dikembangkan merupakan

draf 1 yang kemudian setelah ditelaah dilakukan revisi.

Hasil revisi Tes hasil belajar draf 1 disajikan pada Tabel

4.7.

Tabel 4.7 Hasil Revisi Draf 1 Tes Hasil Belajar

Sebelum Revisi Setelah Revisi


Pada LP.1 Produk no.1 tidak Pada LP.1 Produk no.1 telah
dicantumkan “Berdasarkan dicantumkan “Berdasarkan
bacaan di atas” bacaan di atas”

b. Validasi Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu

Draft II yang telah direvisi selanjutnya divalidasi

oleh dosen FMIPA dan guru IPA di MTs Negeri 2 Kediri

yang dijadikan sebagai tempat uji coba terbatas. Validasi

dilakukan oleh 2 dosen FMIPA Unesa, Dosen Fisika dan

Dosen Biologi dan 3 guru IPA.


92

1) Hasil Validasi Silabus

a) Validasi Silabus

Silabus yang telah direvisi selanjutnya

divalidasi. Hasil validasi mengenai silabus disajikan

pada Tabel 4.8. Analisis data validasi silabus secara

rinci dapat dilihat dalam Lampiran 10.

Tabel 4.8 Hasil Validasi Silabus Draf 2

No. Pernyataan Penilaian Rata- % Kriteria


V1 V2 V3 V4 V5 Rata
1. Kesesuaian 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
format silabus Layak
IPA terpadu
dengan Standar
Kompetensi dan
Kompetensi
Dasar.
2. Kesesuaian 3 3 4 4 3 3,4 85 Sangat
Standar Layak
Kompetensi,
Kompetensi
Dasar, dengan
perumusan
indikator.
3. Kesesuaian 3 3 4 3 4 3,4 85 Sangat
pemilihan tema Layak
dengan standar
kompetensi,
kompetensi
dasar, dan
indikator.
4. Kesesuaian 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
materi pelajaran Layak
dengan standar
kompetensi,
kompetensi
dasar dan
indikator.
5. Kesesuaian 3 3 3 3 3 3,0 75 Layak
kegiatan
93

No. Pernyataan Penilaian Rata- % Kriteria


V1 V2 V3 V4 V5 Rata
pembelajaran
dengan
indikator.
6. Kesesuaian 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
penilaian Layak
dengan
indikator.
7. Kesesuaian 3 3 3 3 3 3,0 75 Layak
contoh
instrumen
penilaian
dengan bentuk
instrumen.
8. Kesesuaian 3 3 4 3 3 3,2 80 Layak
rincian alokasi
waktu pelajaran
sesuai dengan
indikator yang
ingin dicapai.
9. Kesesuaian 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
sumber belajar Layak
dengan
indikator.
10. Kesesuaian 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
penggunaan Layak
bahasa dengan
format Ejaan
Yang
Disempurnakan
(EYD).

Berdasarkan tabel hasil validasi silabus di atas,

silabus yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan.

Secara umum kelayakan silabus dari lima validator diperoleh

hasil sebesar 3,34 dengan persentase sebesar 83,5%.


94

b) Hasil Validasi RPP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah

direvisi selanjutnya divalidasi. Hasil validasi mengenai RPP

disajikan pada Tabel 4.9. Adapun analisis data validasi RPP

secara rinci dapat dilihat dalam Lampiran 11.

Tabel 4.9 Hasil Validasi RPP

No. Pernyataan Penilaian Rata- % Kriteria


V1 V2 V3 V4 V5 rata

1. Kesesuaian format RPP IPA 3 4 3 4 4 3,6 90 Sangat


terpadu dengan Standar Layak
Kompetensi dan
Kompetensi Dasar
2. Kesesuaian pencantuman 3 3 3 4 3 3,2 80 Layak
identitas
3. Kesesuaian tujuan 3 4 4 3 4 3,6 90 Sangat
pembelajaran dengan Layak
indikator terpadu yang ingin
dicapai
4. Kesesuaian uraian materi 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
pembelajaran dengan Layak
indikator yang dicapai
5. Kesesuaian model 3 3 3 3 3 3,0 75 Layak
pembelajaran yang
digunakan dengan materi
dan indikator yang ingin
dicapai
6. Kesesuaian langkah 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
pembelajaran yang Layak
mengajarkan tema secara
IPA Terpadu
7. Kesesuaian alat, bahan, dan 3 3 3 4 3 3,2 80 Layak
sumber belajar dengan
indikator pembelajaran
8. Kesesuaian penggunaan 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
bahasa dengan format Ejaan Layak
Yang Disempurnakan
(EYD)
95

Berdasarkan tabel hasil validasi dari beberapa ahli

tersebut, RPP yang dikembangkan sangat layak untuk

digunakan. Secara umum kelayakan RPP yang dikembangkan

memperoleh hasil sebesar 3,40 dengan persentase sebesar

85%.

c) Hasil Validasi Buku Siswa

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah

direvisi selanjutnya divalidasi. Hasil validasi mengenai RPP

disajikan pada Tabel 4.10. Adapun analisis data validasi RPP

secara rinci dapat dilihat dalam Lampiran 12.

Tabel 4.10 Hasil Validasi Buku Siswa

Kelayakan Isi Penilaian Rata- % Kriteria


Sub Komponen Pernyataan V1 V2 V3 V4 V5 rata
A. Kesesuaian 1. Kelengkapan 3 4 4 4 4 3,8 95 Sangat
materi dengan materi Layak
standar mencakup
kompetensi semua materi
dan yang
kompetensi terkandung
dasar yang dalam tema
dipadukan pengolahan
minyak
kelapa
2. Keluasan 4 4 4 4 4 4 100 Sangat
materi yang Layak
mengaitkan
tema terpilih
secara
terpadu
antara bidang
studi kimia,
fisika, dan
biologi

3. Kedalaman 4 3 3 3 3 3,2 80 Layak


96

Kelayakan Isi Penilaian Rata- % Kriteria


Sub Komponen Pernyataan V1 V2 V3 V4 V5 rata
materi yang
mengaitkan
tema terpilih
secara
terpadu
antara bidang
studi kimia,
fisika, dan
biologi
B. Keakuratan 4. Keakuratan 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
materi konsep dan Layak
definisi
5. Keakuratan 3 3 4 2 4 3,2 80 Layak
fakta
6. Keakuratan 3 4 3 3 4 3,4 85 Sangat
gambar Layak
C. Kontekstual 7. Contoh dan 3 4 4 3 3 3,4 85 Sangat
kasus aktual Layak
8. Menggunaka 3 3 3 3 3 3,0 75 Layak
n contoh dan
kasus di
Indonesia
D. Mendorong 9. Mendorong 4 3 4 4 3 3,6 90 Sangat
rasa ingin rasa ingin Layak
tahu tahu
10. Mendorong 4 3 4 4 3 3,6 90 Sangat
keinginan Layak
untuk
mencari
infomasi
lebih jauh
97

Kelayakan Penyajian Validator Rata- % Kriteria


Sub Komponen Pernyataan V1 V2 V3 V4 V5 rata
A. Teknik 1. Konsistensi 4 3 3 4 4 3,6 90 Sangat
penyajian sistematika Layak
sajian
2. Keruntutan 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
konsep Layak
B. Pendukung 3. Pembangkit 4 3 3 3 3 3,2 80 Layak
penyajian motivasi
belajar pada
awal bab
4. Soal latihan 3 4 4 4 3 3,6 90 Sangat
pada akhir Layak
bab
5. Rangkuman 4 4 4 4 4 4,0 100 Sangat
Layak
C. Penyajian 6. Ketertautan 3 4 3 3 4 3,4 85 Sangat
pembelajaran antar bab Layak
7. Keutuhan 3 3 3 3 4 3,2 80 Layak
makna dalam
bab
Kelayakan Kebahasaan Validator Rata- % Kriteria
Sub Komponen Pernyataan V1 V2 V3 V4 V5 rata
A. Lugas 1. Ketepatan 3 3 3 3 4 3,2 80 Layak
struktur
kalimat
2. Keefektifan 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
kalimat Layak
3. Kebakuan 3 3 3 3 3 3,0 75 Layak
istilah
B. Komunikatif 4. Pemahaman 4 4 4 3 4 3,8 95 Sangat
terhadap pesan Layak
atau informasi
C. Kesesuaian 5. Ketepatan tata 3 3 4 4 3 3,4 85 Layak
dengan kaidah bahasa
bahasa 6. Ketepatan 3 4 4 4 4 3,8 95 Sangat
Indonesia ejaan Layak

Secara umum kelayakan buku siswa yang

dikembangkan memperoleh hasil sebesar 3,46 dengan

persentase sebesar 86,5%. Berdasarkan hasil analisis


98

tersebut, buku siswa yang dikembangkan sangat layak untuk

digunakan.

d) Hasil Validasi LKS

Hasil LKS yang telah direvisi selanjutnya masuk

dalam tahap validasi. Hasil validasi LKS disajikan pada

Tabel 4.11. Analisis data validasi lembar kerja siswa secara

rinci dapat dilihat dalam Lampiran 13.

Tabel 4.11 Hasil Validasi LKS

No. Pernyataan Penilaian Rata- % Kriteria


rata
V1 V2 V3 V4 V5
1. Segi Penyajian
materi
a. Judul harus 3 3 4 4 3 3,4 85 Layak
sesuai dengan
materi
b. Materi sesuai 2 3 3 3 3 2,8 70 Layak
dengan
perkembangan
anak
c. Materi disajikan 2 4 3 4 4 3,4 85 Layak
secara
sistematis dan
logis
d. Materi disajikan 2 3 3 3 3 2,8 70 Layak
secara
sederhana
e. Menunjang 3 4 4 4 4 3,8 95 Sangat
keterlibatan dan Layak
kemauan siswa
untuk ikut aktif
2. Segi tampilan
a. Penyajian 2 4 4 4 3 3,4 85 Layak
sederhana, jelas,
dan mudah
dipahami
b. Gambar sesuai 3 4 4 4 4 3,8 95 Sangat
dengan Layak
99

No. Pernyataan Penilaian Rata- % Kriteria


rata
V1 V2 V3 V4 V5
konsepnya
c. Tata letak 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
gambar, tabel, Layak
dan pertanyaan
tepat
d. Judul, 3 3 3 3 4 3,4 85 Sangat
keterangan, Layak
instruksi,
pertanyaan
harus jelas
e. Mengembangka 3 3 3 3 3 3,0 75 Layak
n minat dan
mengajak siswa
untuk berpikir

Secara umum kelayakan lembar kerja siswa yang

dikembangkan memperoleh hasil sebesar 3,32 dengan

persentase sebesar 83%. Berdasarkan hasil analisis pada tabel

di atas, lembar kerja siswa yang dikembangkan sangat layak

untuk digunakan.

e) Hasil Validasi Tes Hasil Belajar

Hasil evaluasi tes hasil belajar yang telah direvisi

selanjutnya masuk dalam tahap validasi. Hasil validasi tes

hasil belajar disajikan pada Tabel 4.12. Analisis data validasi

tes hasil belajar secara rinci dapat dilihat dalam Lampiran 14.
100

Tabel 4.12 Hasil Validasi Tes Hasil Belajar

No. Elemen yang Ditelaah Penilaian Rata- % Kriteria


V1 V2 V3 V4 V5 rata
1. Ranah Materi
a. Butir soal sesuai indikator 2 3 3 4 4 3,2 80 Layak
b. Batasan pertanyaan dan 3 3 3 4 3 3,2 80 Layak
jawaban yang diharapkan jelas
c. Isi materi sesuai dengan tujuan 3 3 3 3 4 3,2 80 Layak
pengukuran.
d. Isi materi sesuai dengan jenjang 2 3 4 4 4 3,4 85 Sangat
Layak
2. Ranah Konstruksi
a. Rumusan kalimat dalam bentuk 3 3 3 2 4 3,0 75 Layak
kalimat tanya atau perintah
yang menuntut jawaban
singkat. 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
b. Ada petunjuk yang jelas Layak
mengenai cara menyelesaikan
atau mengerjakan soal. 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
c. Butir soal tidak bergantung Layak
pada butir soal lainnya
3. Ranah Bahasa
a. Rumusan kalimat yang 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
digunakan komunikatif. Layak
b. Kalimat menggunakan bahasa 3 3 4 4 4 3,6 90 Sangat
yang baik dan benar serta Layak
sesuai dengan ragam bahasa.
c. Ragam kalimat tidak 3 3 3 3 3 3,0 75 Layak
menimbulkan penafsiran
ganda. 3 3 3 4 4 3,4 85 Sangat
d. Menggunakan bahasa atau kata Layak
kerja yang umum (bukan
bahasa lokal)

Secara umum kelayakan tes hasil belajar yang dikembangkan memperoleh

hasil sebesar 3,04 dengan persentase kelayakan sebesar 76%.

Berdasarkan hasil analisis di atas, tes hasil belajar yang

dikembangkan layak untuk digunakan.


101

c. Uji Coba Terbatas

Perangkat pembelajaran IPA terpadu tema pengolahan

minyak kelapa ini diuji cobakan secara terbatas pada 12 siswa MTsN

2 Kediri. Uji coba pada pertemuan pertama dilakukan di ruang kelas

dengan tujuan agar penyampaian materi lebih maksimal dan pada

pertemuan kedua dan pertemuan ketiga berada di Laboratorium IPA

karena pada pertemuan ini dilakukan praktikum yang membutuhkan

ruang gerak yang luas. Dokumentasi uji coba terbatas dapat dilihat

pada Lampiran 20. Dengan mengetahui hasil uji coba tersebut maka

akan diketahui kelayakan perangkat yang dikembangkan.

1) Keterbacaan Buku Siswa dan LKS

Teknik analisis keterbacaan buku siswa dan LKS

dilakukan dengan meminta siswa untuk memberi koreksi

mengenai keterbacaan buku siswa dan LKS. Analisis

keterbacaan buku siswa dan LKS secara rinci disajikan pada

Tabel 4.13.

Tabel 4.13 Analisis Keterbacaan Buku Siswa dan LKS

No. Aspek Σ Jawaban Persentase


siswa (%)
1. Apakah isi buku siswa
ini mudah Anda
pahami?
4. Sangat mudah - -
3. Mudah 12 100
2. Sulit - -
1. Sangat sulit - -

2. Apakah penampilan
buku siswa ini
102

No. Aspek Σ Jawaban Persentase


siswa (%)
menarik?
4. Sangat menarik 4 33,33
3. Menarik 8 66,67
2. Kurang menarik - -
1. Tidak menarik - -
3. Apakah prosedur
percobaan yang
disajikan dalam LKS
mudah dipahami?
4. Sangat Mudah - -
3. Mudah 10 83,33
2. Sulit 2 16,67
1. Sangat sulit - -
4. Menurut pendapatmu,
apakah bahasa yang
digunakan dalam buku
siswa dan LKS mudah
Anda pahami?
4. Sangat Mudah - -
3. Mudah 11 91,67
2. Sulit 1 8,33
1. Sangat sulit - -
5. Kalimat atau alinea
mana dari buku siswa
ini yang sulit?
4. Sangat Mudah 1 8,33
3. Mudah 9 75,00
2. Sulit 2 16,67
- -
1. Sangat sulit
6. Apakah ilustrasi atau
gambar pada buku
siswa ini mudah
dipahami dan
memperjelas uraian?
4. Sangat Mudah 3 -
3. Mudah 9 75,00
2. Sulit - -
- -
1. Sangat sulit
103

Berdasarkan tabel analisis keterbacaan buku siswa dan LKS

di atas disajikan dalam bentuk grafik pada tiap-tiap


tiap tiap aspek sebagai

berikut:

Keterangan:
Keterbacaan Buku Siswa dan LKS
A : Isi buku siswa
100 B : Prosedur Percobaan LKS
Persentase (%)

80 C : Bahasa
60 Sangat Sulit D : Kalimat
40 Sulit E : Gambar
20 Mudah
0 Sangat Mudah
A B C D E

Aspek Penilaian

4.2 Hasil Penilaian Keterbacaan Buku Siswa dan LKS

Keterbacaan Buku Siswa dan LKS Keterangan:


F : Tampilan Buku Siswa
70
60
Persentase (%)

50
40 Tidak Menarik
30 Kurang Menarik
20
Menarik
10
0 Sangat Menarik

Aspek Penilaian

4.3 Hasil Penilaian Keterbacaan Buku Siswa dan LKS

Berdasarkan angket keterbacan


eterbacan buku siswa dan LKS yang

yang diisi oleh siswa disajiakan dalam bentuk tabel dan grafik

sebagaimana tabel 4.13 dan grafik keterbacaan buku siswa dan

LKS di atas.
atas. Pada aspek pertama tentang isi buku siswa 100%
104

siswa menyatakan bahwa buku siswa mudah dipahami. Salah satu

dari 12 siswa yang dijadikan sampel mengemukakan alasannya

bahwa buku siswa mudah dipahami karena berkaitan dengan

lingkungan sekitar dan mudah digambarkan. Pada aspek tampilan

buku, diperoleh persentase 66,67% yang menyatakan bahwa buku

siswa sangat menarik dan 33,33% siswa menyatakan alasannya

bahwa buku siswa menarik karena buku siswa berwarna-warni

dan bergambar. Pada aspek prosedur percobaan LKS diperoleh

persentase 83,33% siswa menyatakan alasannya bahwa LKS

mudah dipahami karena urutannya teratur dan disertai gambar

sebagai penjelas. Namun, ada 16,67% siswa yang menyatakan

bahwa prosedur percobaan LKS sulit, hal ini dikarenakan

kalimatnya terlalu berbelit-belit dan bacaannya terlalu banyak.

Dari aspek bahasa buku siswa dan LKS diperoleh persentase

91,67% yang menyatakan bahwa buku siswa dan LKS ini mudah

untuk dipahami karena bahasanya tidak terlalu tinggi, namun ada

8,33% siswa yang menyatakan bahwa bahasa buku siswa dan

LKS sulit untuk dipahami. Pada aspek kelima tentang kesulitan

kalimat, sebanyak 8,33% siswa menyatakan bahwa kalimat yang

digunakan dalam penyusunan buku siswa dan LKS sangat mudah,

sebanyak 75,00% siswa menyatakan bahwa kalimat yang

digunakan dalam penyusunan buku siswa dan LKS mudah, dan

sebanyak 16,67% bahwa kalimat yang digunakan dalam


105

penyusunan buku siswa dan LKS sulit dipahami. Pada aspek

keenam tentang gambar buku sebanyak 25,00% siswa

menyatakan bahwa gambar yang terdapat dalam buku siswa

sangat menarik dan sebanyak 75,00% siswa menyatakan bahwa

gambar yang terdapat dalam buku siswa menarik. Hal ini

dikarenakan alasan bahwa keterangan gambar dalam buku siswa

membantu menjelaskan uraian kalimat dalam buku siswa.

Berdasarkan hasil analisis keterbacaan buku siswa dan

LKS tersebut dapat disimpulkan bahwa buku siswa dan LKS

mudah dipahami dan menarik.

2) Keterlaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Pengamatan terhadap keterlaksanaan rencana

pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada Lampiran 15.

Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung pengamatan

dilakukan oleh dua orang pengamat yang terdiri dari guru MTs

Negeri 2 Kediri dan mahasiswi prodi pendidikan sains angkatan

2009. Keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA

terpadu tipe webbed dengan tema Pengolahan Minyak Kelapa

pada pertemuan pertama disajikan pada tabel 4.14, pertemuan

kedua disajikan pada tabel 4.15 dan pada pertemuan ketiga

disajikan pada tabel 4.16.


106

Tabel 4.14 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan RPP Pertemuan I


Rata- Rata-rata Ket.
No. Aspek yang diamati rata tiap tiap tahap
aspek

I. Persiapan 3,50 3,50 Sangat


baik
II. Pelaksanaan
A. Pendahuluan
Fase 1 (Menyampaikan informasi memotivasi
siswa)
1. Memberikan motivasi kepada siswa dengan 3,00 baik
menampilkan video miyak kelapa
2. Mengarahkan siswa menyatakan rumusan 2,50 3,00 Cukup
masalah baik
3. Menyatakan tujuan pembelajaran/ indikator 3,50 Sangat
baik
B. Kegiatan Inti
Fase 2 (Menyajikan atau menyampaikan
informasi)
1. Menyampaikan informasi kepada siswa 3,50 Sangat
tentang berbagai teknik pengolahan minyak baik
kelapa 3,50
2. Mengarahkan siswa membaca bahan ajar 3,50 Sangat
baik
3. Membahas bersama materi yang berkitan 3,50 Sangat
dengan tema pengolahan minyak kelapa baik
Fase 3 (Mengorganisasikan siswa kedalam
kelompok-kelompok belajar)
1. Membagi siswa kedalam kelompok belajar 3,50 Sangat
3,25 baik
2. Mengarahkan masing-masing kelompok 3,00 baik
mendiskusikan teknik pengolahan minyak
kelapa dan membuat diagram alir
Fase 4 (Membimbing kelompok bekerja dan
belajar)
1. Membimbing kelompok saat membuat 3,00 baik
diagram alir 3,25
2. Mengamati kinerja siswa dan memberikan 3,50 Sangat
penilaian kepada siswa baik

Fase 5 (Evaluasi)
1. Memberikan pertanyaan yang berhubungan 3,00 3,00
dengan materi Baik
107

Rata- Rata-rata Ket.


No. Aspek yang diamati rata tiap tiap tahap
aspek

C. Penutup
Fase 6 (Memberikan Penghargaan)
1. Memberikan penghargaan kepada 3,50 Sangat
kelompok yang melakukan presentasi baik
dengan baik 3,17
2. Membimbing siswa membuat kesimpulan 3,00 baik
3. Menutup pembelajaran 3,00 baik

D. Suasana Kelas
1. Kesesuaian KBM dengan tujuan 3,00 Baik
pembelajaran
2. Penguasaan konsep 3,50 Sangat
3,20 baik
3. Kesesuaian sintaks dengan model 3,00 Baik
pembelajaran
4. Guru antusias 3,00 Baik
5. Siswa antusias 3,50 Sangat
baik
E. Alokasi waktu 3,00 3,00 Baik
Rata-rata 3,21

Keterlaksanaan pembelajaran di kelas pada pertemuan pertama

diperoleh rata-rata 3,21 dengan persentase keterlaksanaan pembelajaran

sebesar 80,25%. Berdasarkan skor kriteria, secara umum rata-rata

keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama adalah terlaksana

dengan baik. Perhitungan secara rinci disajikan pada Lampiran 15. Hal ini

berarti menunjukkan bahwa proses belajar mengajar yang dilaksanakan

berlangsung praktis.
108

Tabel 4.15 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan RPP Pertemuan II

Rata- Rata- Ket.


No. Aspek yang diamati rata rata
tiap tiap
aspek tahap
I. Persiapan 4,00 4,00 Sangat
Baik
II. Pelaksanaan
A. Pendahuluan
Fase 1 (Menyampaikan tujuan dan memotivasi
siswa)
1. Mengulas materi pada pertemuan 3,00 Baik
sebelumnya 3,25
2. Menyatakan tujuan pembelajaran/ indikator 3,50 Sangat
Baik
B. Kegiatan Inti
Fase 2 (Mendeskripsikan Pengetahuan dan
Keterampilan)
1. Meminta siswa membaca bahan ajar terkait - Tidak
pengolahan minyak kelapa terlaksana
2. Menjelaskan tahapan-tahapan pengolahan 3,00 Baik
minyak kelapa secara enzimatis 2,17
3. Menunjuk salah satu siswa dalam 3,50 Sangat
kelompok untuk menjelaskan tahapan- Baik
tahapan pengolahan minyak kelapa secara
enzimatis

Fase 3 (Membimbing Pelatihan)


1. Mengarahkan siswa untuk berkumpul 3,50 Sangat
dengan anggota kelompoknya. Baik
2. Menjelaskan petunjuk kerja pada LKS 1 3,50 3,50 Sangat
Baik
3. Mengarahkan masing-masing kelompok 3,50 Sangat
untuk melakukan percobaan sesuai Baik
petunjuk pada LKS 1

Fase 4 (Mengecek pemahaman dan


Memberikan umpan balik)
1. Mengamati kinerja siswa dan meberikan 4,00 Sangat
penilaian kepada siswa dalam kelompok 3,75 Baik
2. Membimbing siswa yang kesulitan saat 3,50 Sangat
melakukan pengamatan Baik
109

Rata- Rata- Ket.


No. Aspek yang diamati rata rata
tiap tiap
aspek tahap
C. Penutup
Fase 5 (Memberikan kesempatan untuk
Pelatihan)
1. Memberikan kuis kepada siswa yang - Tidak
berhubungan dengan kegiatan praktikum terlaksana
2. Menyimpulkan materi yang telah dipelajari 3,00 1,83 Baik
3. Menutup pembelajaran 2,50 Cukup
Baik
D. Suasana Kelas
1. Kesesuaian kelas dengan tujuan 3,00 Baik
pembelajaran
2. Penguasaan konsep 3,50 Sangat
3,40 Baik
3. Kesesuaian sintaks dengan model 3,50 Sangat
pembelajaran Baik
4. Guru antusias 3,50 Sangat
Baik
5. Siswa antusias 3,50 Sangat
Baik
E. Alokasi waktu 3,00 3,00 Baik
Rata-rata 3,11

Keterlaksanaan pembelajaran di kelas pada pertemuan kedua

diperoleh rata-rata 3,11 dengan persentase keterlaksanaan pembelajaran

sebesar 75,63%. Berdasarkan skor kriteria, secara umum rata-rata

keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua adalah baik. Namun

terdapat sedikit hambatan sebesar 10% dengan tidak terlaksananya aspek

ke-1 pada fase 2 yakni aspek membaca buku siswa dan pada aspek ke-1 fase

5 yakni aspek pemberian kuis kepada siswa. Perhitungan secara rinci

disajikan pada Lampiran 15. Hal ini berarti menunjukkan bahwa proses

belajar mengajar yang dilaksanakan berlangsung praktis.


110

Tabel 4.16 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan RPP Pertemuan III


Rata-rata Rata- Ket.
No. Aspek yang diamati tiap rata tiap
aspek tahap

I. Persiapan 3,50 3,50 Sangat


Baik
II. Pelaksanaan
A. Pendahuluan
Fase 1 (Menyampaikan Tujuan dan
Memotivasi siswa)
1. Memberikan motivasi kepada siswa 3,00 Baik
2. Mengarahkan siswa menyatakan rumusan 3,00 3,17 Baik
masalah
3. Menyatakan tujuan pembelajaran/ 3,50 Sangat
indikator Baik
B. Kegiatan Inti
Fase 2 (Menyajikan atau menyampaikan
informasi)
1. Mempresentasikan hasil praktikum 3,50 3,75 Sangat
pertemuan sebelumnya Baik
2. Memberikan penjelasan tentang petunjuk 4,00 Sangat
praktikum pada LKS 2 Baik
Fase 3 (Mengorganisasikan siswa dalam
kelompok-kelompok belajar)
1. Mengarahkan siswa dalam kelompok 4,00 Sangat
untuk mengamati sifat fisika minyak Baik
kelapa
2. Mengarahkan siswa untuk membuat 3,00 3,50 Baik
laporan praktikum
3. Mengamati kinerja siswa dan meberikan 3,50 Sangat
penilaian kepada siswa dalam kelompok Baik
Fase 4 (Membimbing kelompok bekerja dan
belajar)
1. Membantu siswa yang kesulitan saat 3,50 3,50 Sangat
melakukan pengamatan Baik
C. Penutup
Fase 5 (Evaluasi)
1. Memberikan evaluasi kepada masing- 4,00 4,00 Sangat
masing siswa Baik
Fase 6 (Memberikan Penghargaan)
1. Memberikan penghargaan kepada 4,00 Sangat
kelompok yang anggotanya aktif, cakap, 3,25 Baik
kompak, dan disiplin
111

Rata-rata Rata- Ket.


No. Aspek yang diamati tiap rata tiap
aspek tahap

2. Menutup pembelajaran 2,50 Cukup


Baik
D. Suasana Kelas
1. Kesesuaian kelas dengan tujuan 3,00 Baik
pembelajaran
2. Penguasaan konsep 3,00 Baik
3. Kesesuaian sintaks dengan model 3,50 3,4 Sangat
pembelajaran Baik
4. Guru antusias 3,50 Sangat
Baik
5. Siswa antusias 4,00 Sangat
Baik
E. Alokasi waktu - - -
Rata-rata 3,12

Keterlaksanaan pembelajaran di kelas pada pertemuan kedua

diperoleh rata-rata 3,12 dengan persentase keterlaksanaan pembelajaran

sebesar 77,5%. Berdasarkan skor kriteria, secara umum rata-rata

keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan ketiga adalah sangat baik.

Perhitungan secara rinci disajikan pada Lampiran 15. Namun terdapat

sedikit hambatan sebesar 22,5% pada aspek alokasi waktu.

Tabel 4.17 Hasil Penilaian Keterlaksanaan Perangkat


Pembelajaran
Pertemuan Model Persentase Persentase Kriteria
Ke- Pembelajaran Keterlaksanaan Hambatan
(%) (%)
Pertama STAD 80,25 0 Baik
Kedua DI 75,63 10 Baik
Ketiga STAD 77,5 5,26 Baik
Dari Tabel 4.22, secara keseluruhan kemampuan guru dalam

mengelola pembelajaran memiliki persentase keterlaksanaan pada

pertemuan I adalah terlaksanan seluruhnya sebesar 80,25%, pada


112

pertemuan II adalah terlaksana sebesar 75,63% dan hambatan

sebesar 10%,, dan pertemuan III adalah terlaksana sebesar 77,5%


7 dan

hambatan sebesar 5,26%.


5,26%. Kemampuan guru dalam mengelola

pembelajaran pada masing-masing


masing pertemuan dan hambatan yang

dialami peneliti selama mengajar disajikan dalam bentuk grafik,

dapat dilihat pada Gambar 4.4.


4.4

Keterangan:
Penilaian Keterlaksanaan RPP
1: Pertemuan I
90
Rata-rata Hasil Penilaian

80 2: Pertemuan II
70 3: Pertemuan III
60
50
40
Keterlaksanaan
30
20 Hambatan
10
0
1 2 3
Pertemuan Ke-
Ke

Gambar 4.4 Hasil Penilaian Keterlaksanaan RPP

3) Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa adalah tingkat ketuntasan yang

diperoleh siswa terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.

Ketuntasan hasil belajar diukur dari pemberian tes hasil belajar

menggunakan instrumen tes hasil belajar (Lampiran 16). Hasil

belajar siswa dinilai berdasarkan ketercapaian indikator pada

setiap aspek penilaian yakni, aspek kognitif (yang terbagi

menjadi produk dan proses), aspek afektif, dan aspek


113

psikomotor. Proses evaluasi dilakukan pada kelas subjek

penelitian yaitu kelas VIII.D.

a) Hasil Belajar Kogitif Produk

Dalam pengukuran hasil belajar indikator kognitif,

terdapat dua aspek yang dinilai, yaitu produk dan proses.

Hasil penilaian aspek kognitif produk dinilai berdasarkan

ketercapaian indikator yang dijabarkan pada soal evaluasi

yang diberikan pada peserta didik saat akhir pembelajaran

menggunakan perangkat pembelajaran IPA terpadu tema

pengolahan minyak kelapa. Adapun hasil rekap ketercapaian

indikator pembelajaran berdasarkan penilaian aspek kognitif

produk dijabarkan pada Tabel 4.18 dan gambaran visual pada

hasil belajar kognitif produk siswa digambarkan dalam

bentuk diagram batang pada Gambar 4.5.

Tabel 4.18 Nilai Tes Hasil Belajar Siswa

No. Nama Nilai Keterangan


Siswa
1. Siswa 1 60 Tidak tuntas
2. Siswa 2 85 Tuntas
3. Siswa 3 90 Tuntas
4. Siswa 4 90 Tuntas
5. Siswa 5 70 Tidak tuntas
6. Siswa 6 70 Tidak tuntas
7. Siswa 7 90 Tuntas
8. Siswa 8 80 Tuntas
9. Siswa 9 80 Tuntas
10. Siswa 10 80 Tuntas
11. Siswa 11 50 Tidak tuntas
12. Siswa 12 50 Tidak tuntas
114

Penilaian Kognitif Produk

90
80
Nilai Siswa 70
60
50
40
30 Nilai Post-tes
tes
20
10
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Siswa

Gambar 4.5 Hasil Penilaian Kognitif Produk

Dari Tabel 4.18 Nilai tes hasil belajar siswa di atas,

terdapat 7 siswa yang tuntas dalam mengerjakan soal tes

hasil belajar siswa dan 5 siswa tidak tuntas dalam

mengerjakan soal tes hasil belajar siswa. Hasil analisis

perhitungan tes hasil belajar siswa secara rinci terdapat pada

Lampiran
ampiran 16, sedangkan perhitungan secara ringkas

disampaikan pada Tabel 4.18.


4

b) Hasil Belajar Kogitif Proses

Pada penilaian aspek kognitif proses dinilai

berdasarkan ketercapaian indikator pembelajaran. Hasil

belajar kognitif proses merupakan penilaian proses pada saat

siswa melakukan praktikum. Penilaian proses ini dilakukan

oleh guru
guru saat berlangsungnya praktikum dan siswa
s

mengerjakan LKS yang diberikan oleh guru.. Penilaian


115

kognitif proses ini berdasarkan rubrik LP 2 pada Lampiran

16.. Adapun hasil ketercapaian indikator aspek kognitif

proses disajikan
di pada Tabel 4.19 dan digambarkan dalam

bentukk diagram batang pada Gambar 4.6.


4.6

Tabel 4.19 Hasil Penilaian Kognitif Proses


No. Aspek yang diamati Kelompok Rata
Rata- %
I II III rata
1. Merumuskan masalah 3 3 3 3,00 100
2. Menentukan variabel 3 3 3 3,00 100
3. Mencatat hasil pada 3 3 3 3,00 100
tabel
4. Menganalisis data 3 3 2 2,67 89
5. Menggambar grafik 0 0 2 0,66 22,22
6. Membuat kesimpulan 3 1 2 2,00 66,67
Skor Rata-rata
Rata 83,33 72,22 83,33 79,61 79,61

Keterangan:
Penilaian Kognitif Proses
1: Merumuskan masalah
3 2: Menentukan Variabel
Rata-rata Nilai Siswa

2.5 3: Mencatat hasil pada tabel


2 4: Menganalisis data
1.5 Kelompok I 5: Menggambar Grafik
1 Kelompok II 6: Membuat kesimpulan
0.5 Kelompok III
0
1 2 3 4 5 6
Aspek yang diamati

Gambar 4.6 Hasil Penilaian Kognitif Proses

Berdasarkan analisis pada Tabel 4.19 di atas, secara

umum penilaian kognitif proses ini merupakan skor rata-rata


rata

dari tiap-tiap
tiap tiap aspek yang diamati dari ketiga kelompok.
116

Kemudian diperoleh skor rata-rata


rata rata dengan persentase

79,61%.
%.

c) Hasil Belajar Afektif

Ketercapaian indikator pada aspek penilaian afektif

pada saat kegiatan belajar mengajar yang dinilai berdasarkan

sikap siswa baik secara sosial maupun karakter. Penilaian

berdasarkan rubrik LP 5 pada Lampiran 16.. Adapun hasil

ketercapaian indikator pada aspek


aspek afektif dijabarkan pada

Tabel 4.20 dan digambarkan dalam bentukk diagram batang

pada Gambar 4.7.


4.7

Tabel 4.20 Hasil Pengukuran Aspek Afektif


Pertemuan Mengajukan Bertanggung Bekerjasama Berpendapat
Pertanyaan Jawab
I 89,6 91,7 91,7 75
II 75 79,7 95,8 95,8
III 77,1 91,7 87,5 85,4
Rata-rata 80,57 87,7 91,7 85,4
Kriteria Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik

Keterangan:
Grafik Penilaian Afektif
1: Mengajukan pertanyaan
100 2: Bertanggung jawab
80 3: Bekerjasama
Nilai Siswa

60 4: Berpendapat
Kelompok I
40
Kelompok II
20 Kelompok III
0
1 2 3 4
Aspek yang diamati

Gambar 4.7 Hasil Penilaian Afektif


117

Berdasarkan analisis pada Tabel 4.25 untuk aspek

mengajukan pertanyaan diperoleh rata-rata 80,57 dengan

kriteria sangat baik, untuk aspek bertanggung jawab

diperoleh rata-rata 87,7 dengan kriteria sangat baik, untuk

aspek bekerjasama diperoleh rata-rata 91,7 dengan kriteria

sangat baik, dan untuk aspek berpendapat diperoleh rata-rata

85,4 dengan kriteria sangat baik. Penilaian afektif ini

diperoleh pada saat pembelajaran dikelas dan pada saat

berlangsungnya kegiatan praktikum yang dilakukan oleh

seorang pengamat.

d) Hasil Belajar Psikomotor

Hasil penilaian aspek psikomotor dinilai berdasarkan

ketercapaian indikator pada saat peserta didik melakukan

percobaan yang menggunakan gelas ukur dan termometer.

Penilaian pada aspek psikomotor ini tidak serta merta

dilakukan oleh masing-masing individu namun dinilai dari

masing-masing kelompok saat praktikum dilakukan. Dari

situlah siswa dinilai keterampilannya dalam menggunakan

alat berupa gelas ukur dan termometer sesuai dengan rubrik

LP 3 pada Lampiran 16. Adapun hasil rekap ketercapaian

indikator pembelajaran berdasarkan penilaian aspek

psikomotor dijabarkan pada Tabel 4.21 sebagai berikut:


118

Tabel 4.21 Hasil Penilaian Psikomotor


No. Kelompok Nama Menggunakan Menggunakan
Gelas Ukur Termometer
1. Siswa 1 90 81,25
2. Siswa 2 90 81,25
3. I Siswa 3 90 81,25
4. Siswa 4 90 81,25
5. Siswa 5 80 68,75
6. Siswa 6 80 68,75
7. II Siswa 7 80 68,75
8. Siswa 8 80 68,75
9. Siswa 9 75 75
10. Siswa 10 75 75
11. III Siswa 11 75 75
12. Siswa 12 75 75
Rata
Rata-rata 81,67 75

Penilaian Psikomotor

82
Rata-rata Nilai Siswa

80
78
Penggunaan Gelas
76
Ukur
74 Penggunaan
72 Termometer

70
1 2
Penilaian Psikomotor

Gambar
ambar 4.8 Hasil Penilaian Psikomotor

4) Respon Siswa

Respon siswa terhadap pembelajaran IPA terpadu

dengan tema pengolahan minyak kelapa diperoleh dengan

menggu
menggunakan instrumen pada Lampiran 17. Dari hasil angket

yang diberikan kepada siswa setelah dilakukan penelitian


119

selama 3 kali pertemuan. Angket respon siswa diisi setelah

keseluruhan kegiatan pembelajaran selesai. Data yang

diperoleh disajikan secara ringkas pada Tabel 4.22 sedangkan

pengolahan data secara lengkap terdapat pada Lampiran 17.

Tabel 4.22 Hasil Respon Siswa


No. Pernyataan Persentase
(%)
1. Proses belajar mengajar IPA terpadu tipe webbed 100
dengan tema “Minyak Kelapa” berlangsung menarik
dan menyenangkan
2. Model pembayaran IPA terpadu merupakan hal baru 25
bagi saya
3. Model pembelajaran IPA terpadu berhubungan dengan 100
kehidupan nyata
4. Mendapatkan soal yang berhubungan dengan 100
kehidupan nyata sangat menarik bagi saya
5. Masalah yang dimunculkan dekat dengan kehidupan 91,67
sehari-hari
6. Pembelajaran bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari 100
7. Pembelajaran sistematis dan jelas 100
8. Materi yang diajarkan jelas 100
9. Petunjuk yang diberikan guru selama kami 100
mengerjakan LKS sangat jelas dan bermanfaat
10. Setelah mengikuti pembelajaran IPA terpadu, saya 100
dapat mengerjakan soal-soal yang berhubungan
dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari
11. Tes yang diberikan sesuai dengan yang disampaikan 100
saat pembelajaran
12. Saya termotivasi mengikuti pembelajaran IPA terpadu 91,67
13. Saya berminat untuk mengikuti kegiatan belajar 91,67
mengajar berikutnya dengan menerapkan
pembelajaran IPA terpadu
14. Saya senang jika pembelajaran IPA terpadu diterapkan 100
di SMP
15. Dengan pembelajaran IPA terpadu tipe webbed saya 91,67
dapat memadukan konsep-konsep yang saling terkait

Berdasarkan pada Tabel 4.26 menunjukan bahwa penilaian

siswa terhadap kegiatan belajar menggunakan pembelajaran IPA


120

Terpadu tipe webbed tema pengolahan minyak kelapa mayoritas siswa

memberikan respon positif dengan persentase rata-rata sebesar 92,78%.

B. Pembahasan

1. Kelayakan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu tema

Pengolahan Minyak Kelapa

Tujuan penelitian yang digunakan adalah mendeskripsikan

kelayakan perangkat pembelajaran melalui validasi pakar meliputi

silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, buku siswa, lembar

kegiatan siswa dan tes hasil belajar, serta validitas keterbacaan

buku siswa, dan respon siswa.

Mengacu pada hasil dan analisis yang telah dipaparkan

sebelumnya selajutnya akan didiskusikan hasil penelitian yang

dilakukan agar diperoleh suatu pembenaran antara hasil penelitian

dan kajian teoritis. Berikut akan dibahas hasil validasi dari

perangkat yang dikembangkan.

a. Kebenaran dan Kesesuaian Isi Buku Siswa dan LKS

dengan Konsep Pembelajaran IPA Terpadu

Pada pembelajaran IPA terpadu tipe webbed, buku

siswa yang dikembangkan pembahasannya adalah tematik

dengan memadukan SK dan KD yang saling berkaitan. Secara

menyeluruh hasil validasi yang didapatkan pada buku siswa

sebesar 3,46. Berdasarkan kriteria interpretasi skor validasi


121

pada Tabel 3.4, buku siswa yang dikembangkan dianggap

layak digunakan karena mencapai skor rerata ≥ 2,6.

Adapun kelengkapan, keleluasaan, dan kedalaman

materi secara keseluruhan mendapatkan penilaian sangat baik.

Penyajian awal buku siswa yang dikembangkan terdapat peta

konsep yang digunakan untuk penghubung keterkaitan antar

bab, selain itu penggunaan peta konsep ini diharapkan siswa

dapat menyerap materi yang dipelajari dalam memori semantik

dan memori jangka panjang. Hal ini sesuai dengan teori skema

yang menyatakan bahwa memori semantik secara mental

diorganisasikan dalam jaringan hubungan ide-ide yang

berhubungan atau saling berkaitan dan disebut skemata.

Lembar Kegiatan Siswa (LKS) adalah panduan siswa

yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau

pemecahan masalah. Lembar kegiatan siswa memuat

sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh

siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya

pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian

hasil belajar yang harus ditempuh. Hasil validasi lembar

kegiatan siswa yang menyatakan materi sesuai dengan

perkembangan anak mendapatkan skor 3,32 dengan kriteria

sangat baik.
122

Dari segi penyajian materi, pada poin materi disajikan

secara sistematis dan logis mempunyai nilai rata-rata

berdasarkan hasil validasi yang dilakukan oleh lima validator

masing-masing sebesar 2, 4, 3, 4, dan 4. Kelima nilai tersebut

jika diinterpretasikan menurut skala pada Tabel 3.4 berarti

sangat baik. Secara menyeluruh hasil validasi yang diperoleh

dari pengembangan lembar kegiatan siswa sebesar 3,32.

Menurut (Riduwan, 2010), skor hasil validasi LKS berada

dalam rentang 3,26-4,00 dapat dikategorikan sangat baik.

Secara ringkas hasil validasi lembar kegiatan siswa dapat

dilihat pada Tabel 4.11.

b. Kesesuaian RPP Berdasarkan Kaidah Webbed

Berdasarkan hasil skor rata-rata validasi RPP pada

Tabel 4.9 secara keseluruhan, RPP yang dikembangkan

mendapatkan penilaian kelayakan oleh pakar sebesar 3,40 dan

persentase sebesar 83,5%. Hal ini sesuai dengan pernyataan

(Ridwan, 2010), bahwa skor hasil validasi RPP berada dalam

rentang (81-100)% dapat dikategorikan sangat layak. Secara

ringkas hasil validasi rencana pelaksanaan pembelajaran yang

telah dikembangkan dalam penelitian, dapat dilihat pada Tabel

4.9. RPP yang dikembangkan berkriteria sangat layak karena

format RPP IPA Terpadu yang telah dikembangkan telah


123

disesuaikan dengan kurikulum KTSP, dimana pembelajaran

IPA di SMP dilaksanakan secara terpadu.

Seperti yang diungkap dalam Permendiknas Nomor 41

tahun 2007, adapun salah satu komponen RPP terkait dengan

kegiatan pembelajaran bahwa langkah-langkah kegiatan

pembelajaran dalam RPP terdiri dari 3 tahap yaitu kegiatan

awal/pendahuluan, inti, dan penutup. Dalam kegiatan

pembelajaran yang dikembangkan dalam RPP sudah

melibatkan siswa secara aktif dengan mengajukan pertanyaan,

melakukan diskusi kelompok, dan kegiatan praktikum yang di

dalamnya menuntut keaktifan siswa sehingga siswa dapat

menggali informasi sendiri. Hal tersebut sesuai dengan

karakteristik pembelajaran IPA terpadu dalam Depdiknas

(2006) yaitu penanaman kebermaknaan konsep pada siswa.

c. Keterbacaan Buku Siswa dan LKS

Berdasarkan data rekapitulasi tentang keterbacaan buku

siswa dan LKS yang terdapat pada Tabel 4.13 menyatakan

bahwa isi buku yang dikembangkan disesuaikan dengan

standar kompetensi dan kompetensi dasar mengenai senyawa,

unsur, dan campuran, sifat fisika dan kimia suatu zat,

pemisahan campuran, serta bioteknologi. Dari segi isi buku

siswa, responden menyatakan bahwa buku siswa mudah

dipahami sebesar 100%. Dari segi tampilan, responden


124

menyatakan bahwa tampilan buku siswa menarik dengan

persentase sebesar 66,67% dan 33,33% responden menyatakan

sangat menarik. Sedangkan pada prosedur percobaan LKS,

responden menyatakan bahwa prosedur percobaan LKS mudah

dipahami sebesar 83,33% dan menyatakan sulit untuk

dipahami sebesar 26,67%. Pada aspek bahasa buku siswa dan

LKS, responden menyatakan 91,67% bahasa buku dan LKS

mudah dipahami dan sebesar 8,33% responden menyatakan

bahwa bahasa buku dan LKS sulit dipahami. Pada aspek

gambar, responden menyatakan bahwa sebanyak 75% gambar

pada buku siswa menarik dan sebesar 25% siswa menyatakan

gambar pada buku siswa sangat menarik. Pada aspek kesulitan

kalimat, responden menyatakan bahwa sebanyak 75%

responden menyatakan bahwakalimat buku mudah dipahami,

sebanyak 8,33% responden menyatakan bahwa buku siswa

sangat mudah dipahami, dan sebesar 16,67% buku siswa

menyatakan sulit dipahami. Sehingga, dapat disimpulkan

bahwa buku siswa dan LKS mudah untuk dipahami dan

menarik.
125

2. Kepraktisan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu Tipe

Webbed

a. Keterlaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti harus

melakukan perencanaan sebelumnya dengan menyusun

silabus, RPP, buku siswa, LKS, dan lembar tes hasil belajar.

Silabus adalah penjabaran standar kompetensi dan kompetensi

dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,

dan indikator pencapaian kompetensi (Buku Saku KTSP, 2009:

29). Silabus yang dikembangkan mendapatkan penilaian

kelayakan oleh pakar sebesar 3,34 dan persentase sebesar

83,5%. Secara umum kelayakan silabus mendapatkan kriteria

baik. Silabus yang dikembangkan sudah terdapat materi

penjabaran yang disesuaikan dengan standar kompetensi dan

kompetensi dasar, kegiatan pembelajaran, dan perumusan

indikator disesuaikan dengan standar kompetensi dan

kompetensi dasar. Secara ringkas hasil validasi silabus dapat

dilihat pada Tabel 4.8.

Kegiatan belajar mengajar dilakukan berdasarkan tiga

RPP selama tiga kali pertemuan. Pada kegiatan pembelajaran

ini, peneliti menggunakan model pembelajaran yang berbeda

pada masing-masing pertemuan disesuaikan dengan materi

yang akan disajikan. Pada pertemuan pertama dan ketiga


126

menggunakan model pembelajatan tipe STAD sementara pada

pertemuan kedua menggunakan model pembelajaran langsung

(DI) karena pada pertemuan ini terdapat sejumlah materi berisi

tahapan-tahapan yang perlu dideklaratifkan. Hasil pengamatan

keterlaksanaan kegiatan pembelajaran pada pertemuan

pertama, kedua, dan ketiga terdapat pada Tabel 4.14, Tabel

4.15, dan Tabel 4.16 yang menunjukkan bahwa aspek-aspek

yang diamati memperoleh kategori baik, sangat baik, dan

sangat baik. Skor rata-rata tiap tahap pengelolaan pembelajaran

dapat dilihat pada Tabel 4.17. Kondisi ini disebabkan kegiatan

pembelajaran selalu megacu pada RPP yang telah disiapkan

peneliti secara maksimal, tersusun rapi, dan berurutan. Skor

terbaik yang didapatkan oleh peneliti yaitu pada fase evaluasi

pada pertemuan ketiga, karena kedua pengamat memberikan

nilai 4,00 dengan kriteria sangat baik. Evaluasi merupakan

salah satu ciri pembelajaran kooperatif tipe STAD (Arends

2008: 21).

Penyajian pembelajaran yang dilakukan salah satunya

menggunakan peta konsep, dimana siswa dapat melihat

keterhubungan antar konsep pembelajaran IPA terpadu. Hal ini

dimaksudkan agar siswa dapat menyimpan materi yang mereka

pelajari ke dalam memori semantik, yaitu suatu bagian dari


127

memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan

pengetahuan umum.

Pada awal kegiatan pembelajaran terdapat kegiatan

motivasi. Motivasi dilakukan guna membangkitkan minat

belajar siswa. Hal ini dikarenakan dalam proses belajar,

motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak

memiliki motivasi dalam belajar tidak akan mungkin seseorang

tersebut melakukan aktivitas belajar. Pada pembelajaran materi

Pengolahan Minyak Kelapa ini, guru memberikan motivasi

belajar pada pertemuan pertama dan ketiga. Pada pertemuan

kedua tidak diberikan motivasi karena pada pertemuan ini

merupakan kelanjutan dari materi pada pertemuan pertama dan

masih ada unsur keterkaitannya dengan pertemuan pertama.

Pada pertemuan pertama dan ketiga kegiatan motivasi

mendapatkan kategori sangat baik yang berturut-turut

mendapatkan skor 3 dan 3 dari masing-masing pengamat.

Pada pertemuan pertama dan ketiga fase menyajikan

informasi, mengorganisasikan siswa kedalam kelompok

belajar, dan membimbing kelompok terlaksana dengan sangat

baik. Pada fase ini kegiatan yang paling dominan yaitu

interaksi antara guru dengan siswa pada saat penyampaian

materi dan interaksi antara siswa dengan siswa dalam diskusi

kelompok. Menurut teori Vygotsky, siswa perlu belajar dan


128

bekerja secara berkelompok sehingga siswa dapat saling

berinteraksi dan diperlukan bantuan guru kepada siswa dalam

kegiatan pembelajaran. Pada pembelajaran yang diterapkan

siswa dihadapkan pada kegiatan membuat diagram alir

bersama kelompok belajar sehingga dibutuhkan aktivitas sosial

yang mendukung berlangsungnya pembelajaran kooperatif

tersebut, selain itu siswa juga dapat membangun

pemahamannya sendiri melalui kegiatan yang dilakukan

ataupun melalui interaksi dengan teman sebayanya. Hal ini

sesuai dengan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa

perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana anak

secara aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap

realita melalui pengalaman dan interaksi mereka (Brooks,

1990, Leinhardt, 1992; Brown, et al., 1989 dalam Nur,

2008:2).

Pada pertemuan kedua fase mendeskripsikan

pengetahuan dan keterampilan, membimbing pelatihan,

mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik kepada

siswa juga terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan yang

paling dominan pada fase ini adalah saat mendeskripsikan

pengetahuan dan keterampilan, siswa benar-benar

memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru kemudian

mempraktikkannya dalam bentuk kegiatan praktikum yang


129

bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai

dengan pembelajaran IPA terpadu yang merupakan konsep

pembelajaran yang banyak berhubungan dengan obyek nyata

dan dilakukan dengan situasi yang lebih alami serta dapat

menghubungkan pengetahuannya dalam penerapan dalam

kehidupan sehari-hari (Mitarlis dan Mulyaningsih, 2009: 12).

b. Hambatan pada Proses Pembelajaran

Hambatan yang terjadi pada proses pembelajaran

disebabkan karena tidak terlaksananya beberapa aspek dalam

lembar keterlaksanaan RPP yang dilakukan oleh peneliti.

Adapun hambatan yang dialami peneliti adalah saat

berlangsungnya kegiatan pembelajaran yang terjadi pada

pertemuan kedua dan ketiga. Adapun hambatan yang dialami

peneliti pada pertemuan kedua disebabkan karena tidak

terlaksananya aspek ke-1 pada fase 2 yakni aspek membaca

buku siswa dan aspek ke-1 pada fase 5 yakni aspek pemberian

kuis kepada siswa. Sehingga pada pertemuan kedua diperoleh

hambatan dengan persentase sebesar 10%. Sementara

hambatan pada pertemuan ketiga sebesar 5,26%. Hal ini

disebabkan karena aspek pengelolaan waktu yang melebihi

alokasi waktu yang semestinya. Peneliti mengalami kendala

ketika memberikan bimbingan praktikum, hal ini dikarenakan

pengetahuan siswa terhadap penggunaan gelas ukur dan


130

termometer masih kurang. Selain itu, siswa merasa kesulitan

saat melakukan praktikum pada pertemuan ketiga sehingga

peneliti harus menjelaskan secara rinci terkait langkah-langkah

praktikum yang dilakukan pada pertemuan ketiga tentang

pengamatan sifat fisika minyak kelapa. Akibat hal tersebut

kegiatan praktikum membutuhkan waktu yang lebih lama dari

alokasi waktu yang semestinya. Namun dari keseluruhan

kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama tiga kali

pertemuan menejemen waktu dapat terkontrol dengan baik.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan

bahwa implementasi kegiatan pembelajaran di kelas selama

tiga kali pertemuan berlangsung praktis. Hal ini dikarenakan

keterlaksanaan pembelajaran berlangsung baik dengan tingkat

hambatan kecil dan masih dapat di atasi dengan baik.

3. Keefektifan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu Tipe

Webbed

a. Hasil Belajar Siswa

1) Hasil Belajar Kognitif Produk

Pengembangan perangkat yang terakhir yaitu tes

hasil belajar. Tes hasil belajar yang dikembangkan

berdasarkan tujuan yang akan dicapai. Hal ini sesuai

dengan pengertian tes hasil belajar yaitu kegiatan

pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan


131

sudah tercapai, dalam penyusunan tes hasil belajar siswa

mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan. Hasil

validasi yang didapatkan pada tes hasil belajar sebesar

3,33 dengan persentase 83,25%. Menurut (Riduwan, 2010)

skor hasil validasi tes hasil belajar berada dalam rentang

(81-100)% dapat dikategorikan sangat baik.

Sebuah tes dilakukan untuk mengetahui sejauh

mana siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran. Pada

penelitian ini dilakukan post-test pada akhir pertemuan.

Skor diperoleh peserta didik dengan mengerjakan lembar

tes hasil belajar siswa yang telah dikembangkan peneliti

guna mengukur ketercapaian indikator pembelajaran.

Ketuntasan individu yang didapatkan pada hasil post-test

sebanyak 7 siswa dinyatakan tuntas, sedangkan terdapat 5

siswa yang tidak tuntas. Pada ketuntasan individu

ketetapan ketuntasan menurut KTSP sekolah pada

pelajaran IPA terpadu adalah 75. Hal ini menyatakan

bahwa secara klasikal keseluruhan siswa belum tuntas

belajarnya, karena presentase siswa yang tuntas berada di

dibawah standar ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu

75%. Hasil belajar kognitif produk dapat dilihat pada

Tabel 4.18.
132

Siswa yang tidak tuntas dalam mengerjakan tes

hasil belajar siswa dikarenakan siswa masih merasa

kesulitan dalam memahami soal yang berbentuk analisis

dalam aspek ranah kognitif pada taksonomi bloom. Selain

itu, ada beberapa siswa yang masih kesulitan dalam

memahami petunjuk soal. Jika dilihat dari hasil belajar

kognitif produk dapat dikatakan bahwa pembelajaran

berlangsung efektif karena jumlah siswa yang tuntas lebih

banyak dibandingkan jumlah siswa yang tidak tuntas

dalam mengerjakan tes hasil belajar siswa.

Kegiatan praktikum yang dilaksanakan juga dapat

meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa dikarenakan

siswa dapat secara aktif membangun pengetahuan mereka

sendiri, memproses masukan dari dunia luar, dan

menentukan apa yang mereka pelajari. Hal ini sesuai

dengan teori konstruktivisme dan teori dari Vygotsky,

yaitu ide bahwa siswa harus menjadikan informasinya itu

miliknya sendiri.

2) Hasil Belajar Kognitif Proses

Ketercapaian indikator pada ranah kognitif proses

pada Tabel 4.19 diperoleh persentase rata-rata sebesar

79,61%, apabila nilai persentase tersebut diinterpretasikan

dalam skala pada tabel 3.9 berada pada rentang 61-80 %


133

dengan berkriteria baik. Hasil belajar kognitif proses

diperoleh pada saat berlangsungnya kegiatan praktikum

dengan mengisi LKS yakni meliputi membuat rumusan

masalah, menentukan variabel, mencatat hasil praktikum

pada tabel, menganalisis data, menggambar grafik, dan

membuat kesimpulan. Pada hasil kognitif proses ini

terdapat satu aspek yang persentasenya hanya 22,22%

yakni pada aspek membuat grafik. Pada aspek ini hanya

satu kelompok yang menggambar grafik sesuai dengan

petunjuk pada LKS. Dua kelompok tidak menggambar

grafik dikarenakan waktu pembelajaran telah habis

sehingga tidak sempat menggambar grafik.

3) Hasil Belajar Afektif

Ketercapaian indikator afektif dari Tabel 4.20 pada

ranah afektif diperoleh persentase rata-rata sebesar

86,34%. Apabila persentase tersebut diinterpretasikan

dalam skala tabel berada pada rentang (81-100) % dan

berkriteria sangat baik dengan skor A. Hasil belajar afektif

diperoleh pada saat kegiatan belajar mengajar yang dinilai

dari beberapa aspek berdasarkan sikap siswa baik secara

sosial maupun karakter selama pembelajaran. Berdasarkan

penilaian pengamat semua aspek yakni mengajukan

pertanyaan, bertanggung jawab, bekerjasama, dan


134

berpendapat masing-masing mendapatkan persentase

80,57%, 87,70%, 91,70%, dan 85,40% dan dari semua

aspek mendapatkan skor A dengan kategori sangat baik.

Hal ini dikarenakan semua siswa yang mengikuti uji coba

sangat antusias selama mengikuti pembelajaran, rasa

keingintahuan yang tinggi dari masing-masing siswa yang

tergabung dalam kelompok sehingga dari penilaian afektif

mendapatkan penilaian yang sangat baik.

4) Hasil Belajar Psikomotor

Hasil belajar psikomotor ditinjau dari kegiatan siswa

selama mengikuti kegiatan praktikum. Proses penilaian

dilakukan saat siswa dalam kelompok secara terampil

dalam menggunakan alat meliputi penggunaan gelas ukur

dan termometer sesuai dengan rubrik yang telah dibuat.

Jadi, untuk penilaian psikomotornya dilakukan saat siswa

secara individu dalam kelompok melakukan praktikum.

Pada penilaian psikomotor untuk aspek menggunakan

gelas ukur memperoleh persentase rata-rata sebesar

81,67% dengan kriteria sangat baik dan pada aspek

penggunaan termometer memperoleh persentase rata-rata

sebesar 75% dengan kriteria baik. Kedua aspek tersebut

dapat terlaksana dengan baik dikarenakan sebelum

dilakukan praktikum guru terlebih dahulu menjelaskan


135

cara penggunaan gelas ukur dan termometer kepada

seluruh siswa dalam uji coba terbatas.

Ketuntasan belajar dapat dipengaruhi oleh banyak

faktor. Salah satu diantaranya adalah faktor motivasi.

Garner, dkk (1991) mengemukakan bahwa, siswa yang

termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan

proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari

materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan

mengendapkan materi itu dengan lebih baik (dalam Nur,

2008:3-4). Motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi

intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Cara untuk

meningkatkan minat intrinsik siswa antara lain (1)

membangkitkan minat siswa; (2) mempertahankan rasa

ingin tahu; (3) menggunakan berbagai macam model

presentasi yang menarik; (4) membantu siswa menetapkan

tujuan mereka sendiri. Sedangkan motivasi ekstrinsik

dapat berupa pujian, nilai, pengakuan, hadiah, atau

penghargaan lain. Pembelajaran IPA terpadu tipe webbed

pada tema pengolahan minyak kelapa ini memunculkan

rasa keingintahuan siswa, sehingga hal tersebut mampu

memotivasi siswa untuk aktif mengikuti pembelajaran.


136

b. Respon Siswa

Berdasarkan pada Tabel 4.22 menunjukan bahwa

penilaian siswa terhadap kegiatan belajar menggunakan

pembelajaran IPA Terpadu tipe webbed tema pengolahan

minyak kelapa mayoritas siswa memberikan respon positif

dengan persentase rata-rata sebesar 92,78%. Jika nilai

persentase tersebut diinterpretasikan dalam skala pada tabel

3.12 berada pada rentang (81-100)% sesuai dengan kriteria

bahwa siswa sangat merespon.

Berdasarkan data rekapitulasi respon siswa yang

ditunjukkan pada Tabel 4.26 menyatakan bahwa proses

belajar mengajar IPA terpadu tipe webbed dengan tema

“pengolahan minyak kelapa” berlangsung menarik dan

menyenangkan. Persentase responden yang menyatakan ini

sebesar 100%. Pernyataan bahwa siswa termotivasi untuk

mengikuti pembelajaran IPA terpadu, siswa berminat untuk

menerapkan kegiatan belajar mengajar berikutnya dengan

menerapkan pembelajaran IPA terpadu, siswa merasa senang

jika pembelajaran IPA terpadu diterapkan di SMP, dengan

pembelajaran IPA terpadu tipe webbed siswa dapat

memadukan segala konsep-konsep yang saling terkait,

sehingga setelah mengikuti pembelajaran IPA terpadu, siswa

dapat mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan


137

masalah dalam kehidupan sehari-hari. Presentase yang

menyatakan hal ini sebesar 91,67%, 91,67%, 100%, 91,67%,

100%. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran IPA terpadu

tipe webbed memiliki kelebihan, yaitu: (1) penyelesaian tema

sesuai dengan minat akan memotivasi anak untuk belajar; (2)

pendekatan tematik dapat memotivasi siswa; dan (3)

memberikan kemudahan bagi anak didik dalam melihat

kegiatan-kegiatan anak dan ide-ide berbeda yang terhubung

(Fogarty, 1991:56).

Berdasarkan hasil belajar siswa dilihat dari aspek

kognitif produk berdasarkan penilaian terhadap tes hasil

belajar siswa serta siswa yang membrikan respons positif

terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat

dikatakan bahwa pembelajaran IPA Terpadu tipe webbed

pada tema pengolahan Minyak Kelapa berlangsung efektif.