Anda di halaman 1dari 26

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan

menggunakan desain instruksional 4-D (four D models). Perangkat yang

dikembangkan merupakan perangkat pembelajaran IPA Terpadu tipe webbed

pada tema Pengolahan Minyak Kelapa yang terdiri atas Silabus, RPP, buku

siswa, Lembar Kegiatan Siswa dan Lembar tes hasil belajar.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Tempat pengembangan perangkat pembelajaran IPA Terpadu tema

pengolahan minyak kelapa dilaksanakan di Prodi pendidikan Sains

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri

Surabaya pada awal bulan November 2012.

2. Waktu Penelitian

Tahap uji coba perangkat pembelajaran IPA Terpadu tema

pengolahan minyak kelapa akan dilakukan pada 12 siswa MTs Negeri 2

Kediri kelas VIII semester genap tahun ajaran 2012/2013 pada tanggal 18

Februari sampai tanggal 21 Februari 2013 dan yang bertindak sebagai

guru adalah peneliti sendiri.

46
47

C. Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian ini adalah perangkat pembelajaran IPA Terpadu

tema pengolahan minyak kelapa untuk siswa kelas VIII SMP yang terdiri

dari, Silabus, RPP, buku siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan lembar tes

hasil belajar. Sedangkan saat uji coba di kelas, sasaranya adalah siswa dari

kelas VIII MTs Negeri 2 Kediri. Perangkat pembelajaran yang

dikembangkan ditelaah oleh 2 dosen ahli yang terdiri dari 1 dosen kimia dan

1 dosen sains. Selanjutnya perangkat pembelajaran tersebut divalidasi oleh 2

dosen ahli dan 3 praktisi, yakni guru IPA MTs Negeri 2 Kediri. Dari

perangkat yang sudah ditelah dan divalidasi kemudian diujicobakan pada 12

siswa kelas VIII.D MTs Negeri 2 Kediri.

D. Rancangan Penelitian

Penelitian pengembangan perangkat pembelajaran IPA terpadu ini

mengacu pada model 4D yang dikemukakan Thiagarajan (1974) yang terdiri

dari 4 tahap pengembangan yaitu Define (Pendefinisian), Design

(Perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran).

Penelitian ini hanya terbatas sampai pada tahap Develop, karena

implementasi perangkat masih merupakan tahap uji coba, yaitu suatu bentuk

pengembangan untuk menguji validitas yang digunakan. Secara ringkas

rancangan pengembangan perangkat pembelajaran ini dapat digambarkan

seperti gambar 3.1 sebagai berikut:


48

Analisis Kompetensi Dasar


P
E
N
D
Analisis Siswa
E
F
I
N
Analisis Tugas Analisis Konsep I
S
I
A
N
Spesifikasi Tujuan Pembelajaran
P
E
R
Design Awal Perangkat Pembelajaran
A
N
C
Draf 1 A
N
G
A
Telaah N

Revisi
P
E
Draf 2 N
G
E
M
Validasi B
A
N
Revisi G
A
N
Uji Coba Terbatas

Perangkat Final

Gambar 3.1 Alur Tahapan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model 4-D


(diadaptasi dari Thiagarajan dalam ibrahim: 2001)
49

Alur tahapan pengembangan perangkat pembelajaran di atas

dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tahap Pendefinisian

Tujuan tahap ini adalah memetakan dan mendefinisikan syarat-

syarat pembelajaran. Tahap ini dilakukan dengan melakukan analisis

tujuan dalam batasan materi pelajaran yang akan dikembangkan

perangkatnya. Ada 5 pokok di dalam tahap ini, yaitu analisis

Kompetensi Dasar, analisis siswa, analisis tugas, analisis konsep, dan

perumusan tujuan pembelajaran.

a. Analisis Kompetensi Dasar

Dalam analisis kompetensi dasar yang perlu

dipertimbangkan adalah kurikulum yang berlaku yaitu mengacu

pada kurikulum pendidikan Indonesia saat ini yakni Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada penelitian ini, materi IPA

Terpadu dikembangkan dengan menggunakan tipe webbed. Tema

yang digunakan yaitu pengolahan minyak kelapa.

Tabel 3.1 Penentuan Tema, Subtema, SK, KD, dan Indikator Pembelajaran

Tema Subtema Standar Kompetensi Indikator Pembelajaran


Kompetensi Dasar
Peng- Senyawa 2. 2.4 Indikator
olahan kimia Memahami Membanding- 1. Kognitif
Minyak yang Klasifikasi kan Sifat a. Produk
Kelapa terdapat Materi Unsur, 1) Menjelaskan kandungan
pada Senyawa, dan senyawa kimia dalam minyak
minyak Campuran kelapa
kelapa 2) Membedakan sifat fisika dan
kimia minyak kelapa
Sifat 4. 4.1 3) Menjelaskan teknik
fisika Memahami Membanding- pemisahan campuran minyak
50

Tema Subtema Standar Kompetensi Indikator Pembelajaran


Kompetensi Dasar
dan berbagai kan sifat fisika kelapa
kimia Sifat dalam dan sifat kimia 4) Mendeskripsikan penerapan
pada Perubahan zat bioteknologi dalam
minyak Fisika dan pengolahan minyak kelapa
kelapa Kimia.
(Kelas VII b. Proses
Semester I) 1) Membuat diagram alir teknik
pengolahan minyak kelapa
secara pemanasan,
Pemisah- 4.2 Melakukan fermentasi, dan enzimatis.
an pemisahan 2) Mempresentasikan hasil
campur- campuran pengolahan minyak kelapa
an pada dengan secara enzimatis.
minyak berbagai cara 3) Mengamati sifat fisika
kelapa berdasarkan minyak kelapa berdasarkan
sifat fisika dan masing-masing teknik
kimia pengolahannya.
4) Menyusun laporan hasil
pengamatan sifat fisika pada
minyak kelapa.
Pem- 2. 2.4
budidaya Memahami Mendeskripsi- 2. Psikomotor
an Kelangsung- kan Penerapan a. Menggunakan gelas ukur
kelapa an HidupBioteknologi untuk mengukur volume
Makhluk dan santan dan voleme minyak
Hidup Mendukung kelapa.
(Kelas IXKelangsungan b. Menggunakan termometer
Semester I) Hidup untuk mengukur titik didih
Makhluk minyak kelapa.
Hidup Manusia
melalui 3. Afektif
Produksi a. Mengembangkan perilaku
Pangan berkarakter, meliputi: jujur dan
tanggung jawab
4. 4.2 Melakukan b. Mengembangkan keterampilan
Memahami Pemisahan sosial, meliputi: bekerjasama
berbagai Campuran dan berpendapat.
Sifat dalam dengan
Perubahan berbagai cara
Fisika dan Berdasarkan
Kimia Sifat Fisika
dan Kimia
51

b. Analisis Siswa

Dalam tahap ini analisis siswa yang dilakukan adalah

mengetahui karakteristik siswa, meliputi usia, kemampuan

akademik siswa, dan pengalaman siswa. Berdasarkan hal tersebut

karakteristik siswa adalah:

2.1 Siswa kelas VIII (usia rata-rata di atas 12 tahun)

2.2 Berdasarkan perkembangan kognitif piaget, usia tersebut

termasuk dalam tahap operasi formal. Tahap operasi formal

adalah tahap dimana anak sudah dapat berfikir secara abstrak

dalam menghadapi situasi dan penalaran hipotesis.

2.3 Kemampuan akademik siswa yang heterogen, hal ini dapat

dilihat dari hasil ujian yang telah dilaksanakan.

c. Analisis Tugas

Analisis tugas mencakup pemahaman akan tugas dalam

pembelajaran. Berdasarkan standar kompetensi dasar yang telah

diuraikan di atas maka dapat disusun tugas yang harus dikerjakan

pada pertemuan 1, 2, dan 3. Pada pertemuan 3 akhir siswa diberi

postest untuk mengecek pemahaman siswa setelah memperoleh

pembelajaran IPA Terpadu.

d. Analisis Konsep

Analisis konsep dibuat dengan mengidentifikasi tema yang

sesuai dengan kompetensi-kompetensi dasar yang telah dipadukan.

Dalam penelitian ini tema yang digunakan adalah pengolahan


52

minyak kelapa yang didukung oleh 4 subtema diantaranya senyawa

kimia pada minyak kelapa, sifat fisika dan kimia pada minyak

kelapa, pemisahan campuran pada minyak kelapa, dan

pembudidayaan kelapa. Berikut disajikan peta standar kompetensi

dan kompetensi dasar IPA Terpadu:

Tabel 3.2 Peta Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPA


Terpadu Kelas VII Semester 2
Fisika Biologi Kimia Tema
SK: SK: SK:
4. Memahami 2. Memahami 2. Memahami Pengolahan
berbagai Sifat Kelangsungan Klasifikasi Minyak Kelapa
dalam Hidup Makhluk Materi
Perubahan Hidup
Fisika dan
Kimia.
KD: KD: KD:
4.1 Membanding- 2.4 Mendeskripsikan 2.4
kan sifat fisika Penerapan Membanding
dan sifat kimia Bioteknologi kan Sifat
zat dan Mendukung Unsur,
Kelangsungan Senyawa, dan
4.2 Melakukan Hidup Makhluk Campuran
Pemisahan Hidup, Manusia
Campuran melalui
dengan Produksi
berbagai cara Pangan
Berdasarkan
Sifat Fisika
dan Kimia

Berdasarkan peta standar kompetensi dan kompetensi dasar di atas, dibuat

peta konsep materi sebagai berikut:


53

Peta Konsep Materi

Pengolahan Minyak Kelapa


Materi

terdiri atas

Penyaringan
Kimia
dipisahkan
Murni Campuran Kromatografi
secara yaitu
Molekul Unsur Fisika
terdiri atas terdiri atas
(O2, H2, I2) Sublimasi

terdiri atas

Unsur Senyawa homogen heterogen Destilasi

contohnya contohnya Molekul contoh contoh Ekstraksi


Senyawa
memiliki
• Khrom • Air (NaCl, HCl,
• Larutan Minyak Kelapa
(Cr) (H2O) Sifat Zat
gula
• Besi (Fe) • Garam
• Larutan
• Nikel dapur
garam
terdiri atas
(Ni) (NaCl) teknik pengolahan
(NaCl)
• Tembaga
(Cu) Konvensional
Fisika Kimia

meliputi

Pemanasan melalui proses


Fermentasi Enzimatis

Gambar 3.2 Peta Konsep Materi Pengolahan Minyak Kelapa

e. Perumusan Tujuan Pembelajaran

Berdasarkan analisis standar kompetensi dan kompetensi

dasar maka dirumuskan suatu tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai sebagai berikut:

1) Kognitif

a) Produk

Secara mandiri tanpa membuka buku siswa, siswa

dapat:
54

(1) menjelaskan kandungan senyawa kimia dalam


minyak kelapa.
(2) memberikan minimal 2 macam contoh sifat fisika.
(3) menjelaskan sifat kimia pada minyak kelapa.
(4) menganalisis sifat fisika pada minyak kelapa.
(5) menjelaskan pengertian campuran.
(6) menganalisis campuran heterogen pada minyak
kelapa.
(7) menjelaskan metode pemisahan campuran yakni
ekstraksi.
(8) menganalisis metode pemisahan campuran pada
minyak kelapa.
(9) menganalisis campuran heterogen pada minyak
kelapa.
(10) menganalisis metode pengolahan minyak kelapa.
(11) menjelaskan berbagai metode yang digunakan dalam
pengolahan minyak kelapa.
(12) menganalisis metode pengolahan minyak kelapa
yang digunakan untuk meningkatkan mutu minyak
kelapa.
(13) menjelaskan keunggulan dan kelemahan metode
pengolahan minyak kelapa secara pemanasan.
(14) menjelaskan kegunaan enzim dalam pengolahan
minyak kelapa.
(15) menjelaskan proses pengolahan minyak kelapa
secara enzimatis.
b) Proses

(1) Diberikan buku siswa, siswa dapat membuat


diagram alir teknik pengolahan minyak kelapa
dengan metode pemanasan, fermentasi, dan
enzimatis secara berkelompok.
55

(2) Diberikan LKS, siswa dapat mempresentasikan hasil


praktikum pengolahan minyak kelapa secara
enzimatis berdasarkan praktikum yang dilakukan.
(3) Diberikan LKS, siswa dapat mengidentifikasi sifat
fisika pada minyak kelapa berdasarkan pengamatan
yang dilakukan.
(4) Diberikan LKS, siswa dapat menyusun laporan hasil
pengamatan sifat fisika pada minyak kelapa.
2) Psikomotor

a) Diberikan gelas ukur, siswa dapat menggunakan gelas ukur

untuk mengukur volume santan dan voleme minyak kelapa.

b) Diberikan termometer, siswa dapat menggunakan termometer

untuk mengukur titik didih minyak kelapa.

3) Afektif

a) Perilaku Berkarakter

Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, siswa dapat memiliki

sikap yakni:

(1) jujur dalam menyelesaikan tugas

(2) bertanggung jawab dengan tugas yang dikerjakan

b) Keterampilan Sosial

Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, siswa dapat memiliki

sikap, yakni:

(1) kerjasama antar anggota kelompok

(2) menyampaikan pertanyaan atau menyumbangkan ide

dengan santun
56

2. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini dilakukan perancangan perangkat pembelajaran.

Dalam tahap ini dilakukan penyusunan materi dan soal (isi pelajaran

yang hendak disampaikan) adalah (1) penyusunan tes acuan patokan,

merupakan langkah awal yang menghubungkan antara tahap define

dan tahap design. Tes disusun berdasarkan hasil perumusan tujuan

pembelajaran khusus. Tes ini merupakan suatu alat pengukur

terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa setelah kegiatan

belajar mengajar; (2) pemilihan media yang sesuai dengan tujuan,

untuk menyampaikan materi pelajaran; (3) pemilihan format. Hasil

tahap ini biasanya berupa rancangan awal perangkat draft I. Adapun

perangkat pembelajran yang akan dihasilkan adalah perangkat

pembelajaran IPA Terpadu Tipe Webbed pada tema Pengolahan

Minyak Kelapa di kelas VIII MTs. Jika draft I selesai dirancang maka

akan diseminarkan, kemudian akan direvisi kembali sehingga

menghasilkan draft II yang kemudian akan ditelaah oleh 2 dosen

sains.

3. Tahap Pengembangan

Desain awal perangkat pembelajaran dianggap sebagai draf I.

Draf I akan di telaah oleh ahli materi dan ahli pendidikan. Dari

kegiatan tersebut akan diperoleh banyak masukan serta saran untuk

perbaikan perangkat pembelajaran. Dari kegiatan ini akan dihasilkan

draf II yang merupakan hasil revisi draf I.


57

Draf II selanjutnya akan divalidasi oleh dosen 2 ahli dan 3

praktisi yakni guru IPA MTs Negeri 2 Kediri. Tujuan dilakukannya

validasi adalah untuk menentukan kelayakan perangkat pembelajaran

yang dikembangkan. Draf II yang sudah divalidasi dan direvisi

kemudian diujicobakan secara terbatas di MTs Negeri 2 Kediri pada

kelas VIII.D yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan refleksi

untuk perbaikan perangkat pembelajaran. Dari kegiatan ini akan

dilakukan revisi II sehingga dihasilkan draf III. Setelah telaah draf III

akan dilakukan revisi III dan proses pengeditan sehingga dihasilkan

perangkat final.

E. Definisi Operasional Variabel

Untuk menyamakan persepsi antar penulis dan pembaca, maka perlu

diberi penjelasan tentang definisi operasional yang digunakan sebagai

berikut:

1. Kelayakan pengembangan perangkat pembelajaran merupakan hasil

validasi dari 3 dosen ahli dan 2 praktisi yakni guru IPA MTs Negeri 2

Kediri terhadap perangkat pembelajaran IPA Terpadu tipe webbed pada

tema pengolahan minyak kelapa yang dinilai dari kelayakan isi, penyajian,

dan kebahasaan. Validasi perangkat pembelajaran ini menggunakan

instrumen validasi perangkat pembelajaran IPA Terpadu untuk

memberikan penilaian dan saran pada perangkat pembelajaran yang

dikembangkan meliputi silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, buku


58

siswa, lembar kerja siswa, dan tes hasil belajar. Perangkat pembelajaran

dikatakan baik dan layak untuk diujicobakan, apabila rata-rata hasil

validasi ≥ 2,51. Selain itu, kelayakan juga dinilai dari aspek keterbacaan

buku siswa dan LKS dikatakan baik jika presentase diperoleh ≥ 61%

(diadopsi dari Riduwan, 2010).

2. Kepraktisan perangkat pembelajaran merupakan persentase terlaksananya

Kegiatan Belajar Mengajar serta hambatan yang dialami oleh guru mulai

dari tahap persiapan sampai tahap penutup sesuai dengan rencana

pelaksanaan pembelajaran. Dikatakan praktis perangkat pembelajaran

tersebut apabila keterlaksanaan pembelajaran lebih tinggi dibandingkan

hambatan selama berlangsungnya pembelajaran. Untuk memperoleh

datanya menggunakan lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran

dan terlaksana dengan baik apabila mendapat rata-rata ≥ 2,51 (diadopsi

dari Riduwan, 2010).

3. Keefektifan perangkat pembelajaran merupakan penilaian terhadap hasil

belajar siswa dan respon siswa selama mengikuti pembelajaran. Hasil

belajar adalah kemampuan siswa dalam mencapai indikator pada aspek

kognitif produk. Hasil belajar siswa pada aspek kognitif produk diperoleh

dengan menggunakan lembar tes. Siswa dikatakan berhasil apabila

mendapat nilai ≥ 75. Sedangkan respon siswa adalah antusias dan

tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan perangkat yang

dikembangkan yaitu perangkat pembelajaran IPA Terpadu tipe webbed

pada tema pengolahan minyak kelapa. Data ini diperoleh menggunakan


59

lembar angket respon siswa dan mendapat respon positif apabila

presentase respon ≥ 61% (diadopsi dari Riduwan, 2010). Pembelajaran

dikatakan efektif apabila jumlah siswa yang tuntas lebih banyak

dibandingkan siswa yang tidak tuntas dalam mengerjakan lembar tes hasil

belajar siswa pada kognitif produk dan memperoleh respon positif dari

siswa.

F. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan peneliti untuk

memperoleh data penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini

dijabarkan sebagai berikut :

1. Lembar Telaah dan Validasi Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu

Lembar telaah ini bertujuan memperoleh saran dan masukan

tentang pengembangan perangkat pembelajaran IPA terpadu tema

pengolahan minyak kelapa. Telaah bahan ini berdasarkan kesesuaian

bahan ajar dengan kriteria komponen bahan ajar berupa materi,

kebahasaan, dan penyajian. Lembar penilaian penelaah ini diberikan

kepada 2 pakar yang terdiri dari 2 dosen FMIPA Unesa dan akan divalidasi

oleh 3 dosen ahli FMIPA Unesa dan 2 guru IPA MTs Negeri 2 Kediri.

Telaah akan dilakukan sebelum perangkat pembelajaran diuji coba

terbataskan pada siswa. Pada lembar telaah berisikan nama penelaah,

bentuk instrumen, tujuan telaah, kriteria, dan pemberian saran. Instrumen


60

telaah dan validasi dapat dilihat pada lampiran I. Lembar telaah dan

validasi yang digunakan adalah:

a. Lembar telaah dan validasi silabus IPA terpadu tema pengolahan

minyak kelapa

b. Lembar telaah dan validasi RPP IPA terpadu tema pengolahan minyak

kelapa

c. Lembar telaah dan validasi buku siswa IPA terpadu tema pengolahan

minyak kelapa

d. Lembar telaah dan validasi LKS IPA terpadu tema pengolahan

minyak kelapa

e. Lembar telaah dan validasi lembar evaluasi IPA terpadu tema

pengolahan minyak kelapa

Tujuan dari telaah dan validasi adalah untuk mengetahui tingkat

kelayakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan.

2. Hasil Belajar Siswa

Pada penelitian ini, hasil belajar siswa diperoleh setelah proses

pembelajaran selesai dinyatakan dengan ketercapaian indikator

pembelajaran menggunakan ranah penilaian yaitu kognitif produk.

Penyusunan soal tes aspek kognitif produk berdasarkan pada tujuan

pembelajaran yang hendak dicapai dengan mempertimbangkan aspek

taksonomi Bloom. Tes disusun dalam bentuk pilihan ganda yang berjumlah

20 butir soal. Bentuk ini dipilih peneliti karena pertimbangan:

a. Melatih siswa belajar menganalisis jawaban melalui bacaan


61

b. Tidak ada unsur subyektif yang mempengaruhi dalam pemeriksaan

c. Sistem penilaiannya mudah

Ketercapaian indikator ranah afektif dan psikomotor diukur

dengan menggunakan lembar penilaian afektif dan psikomotor sesuai

dengan rubrik yang telah ditentukan.

Pengukuran indikator afektif dilakukan saat kegiatan

pembelajaran berlangsung di dalam kelas, pengamatan dilakukan oleh

para observer sehingga diperoleh dari tiap siswa.

Untuk pengukuran psikomotor dilakukan secara berkelompok,

yakni saat melakukan praktikum, hal yang diukur adalah kemampuan

menggunakan gelas ukur dan kemampuan menggunakan termometer.

3. Angket Respons Siswa

Lembar angket respons siswa digunakan untuk mengetahui respons

siswa terhadap perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan. Angket

ini berisi tentang tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran

menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan. Angket

respons siswa ini diisi oleh siswa diakhir proses pembelajaran, angket

diberikan satu persatu pada siswa dan diminta untuk menjawabnya dengan

sebenar-benarnya tanpa pengaruh siswa lain. Dari hasil angket tersebut,

kemudian dianalisis.
62

G. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk menilai kelayakan perangkat

pembelajaran yang telah dikembangkan dalam penelitian ini antara lain:

1. Metode Validasi

Metode validasi ini digunakan untuk memperoleh data validasi dan

penilaian mengenai perangkat pembelajaran yang dikembangkan. alat

yang digunakan dalam metode validasi ini yaitu lembar validasi

perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Alat yang digunakan dalam

metode validasi ini yaitu lembar validasi perangkat pembelajaran IPA

terpadu tipe webbed tema “Pengolahan Minyak Kelapa” yang akan

divalidasi oleh dua dosen ahli dan tiga guru IPA MTs Negeri 2 Kediri.

2. Metode Observasi

Alat yang digunakan dalam metode ini yaitu lembar keterlaksanaan

perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Metode ini dilakukan

dengan mengamati keterlaksanaan perangkat pembelajaran yang

dikembangkan pada saat dilakukan ujicoba terbatas oleh dua orang

pengamat. Pengamat terdiri dari dua orang guru IPA dan mahasiswa

sains. Pengamat menilai dengan memberikan tanda checklist (√) pada

kolom yang tersedia di lembar keterlaksanaan sesuai dengan skala

penilaian.

3. Metode Tes

Metode tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa

setelah dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan perangkat


63

pembelajaran IPA terpadu tema “Pengolahan Minyak Kelapa” yang

diajarkan. Soal yang digunakan berupa soal pilihan ganda.

4. Metode Angket

Metode angket yang digunakan adalah lembar angket respon siswa

dan lembar keterbacaan buku siswa dan LKS yang dinilai oleh siswa

sendiri dan untuk mengumpulkan data respon siswa terhadap

keterlaksanaan penggunaan perangkat pembelajaran yang dikembangkan.

H. Metode Analisis Data

Data yang terkumpul berdasarkan hasil penelitian kemudian dianalisis

menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis ini digunakan untuk

menentukan:

1. Analisis Kelayakan perangkat

Adapun analisis kelayakan perangkat meliputi:

a. Analisis Kebenaran dan Kesesuaian Isi Buku Siswa dan LKS

dengan Konsep Pembelajaran IPA Terpadu

Perangkat silabus, RPP, buku siswa, LKS, dan tes hasil

belajar yang dikembangkan akan divalidasi oleh dua orang ahli

materi dan tiga guru mata pelajaran IPA untuk memberikan penilaian

sesuai dengan intrumen yang digunakan. Analisis hasil validasi

dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan

menggunakan persentase. Analisis ini dilakukan dengan

membandingkan skor hasil pengumpulan data dari seluruh validator


64

dengan skor kriteria. Analisis validasi pakar menggunakan angket

dengan model check list (√) yang digunakan untuk menilai perangkat

pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti apakah telah layak

dengan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa. Analisis

angket validasi pakar menggunakan rumus:

∑ ୗ୩୭୰ ୘୭୲ୟ୪
Kelayakan =
∑ ୗ୩୭୰ ୏୰୧୲ୣ୰୧ୟ

∑ Skor kriteria = jumlah item x jumlah responden

Berdasarkan hasil analisis validasi akan diperoleh empat

kriteria rata-rata yaitu seperti pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Kriteria Skala Penilaian Validasi

Skor Validasi Kriteria Penilaian


1 Tidak baik
2 Kurang baik
3 Baik
4 Sangat baik
(Diadopsi dari Riduwan, 2010)

Hasil dari analisis lembar validasi pakar tersebut digunakan

untuk mengetahui kelayakan perangkat pembelajaran IPA terpadu

dengan menggunakan interpretasi skala sebagai berikut:

Tabel 3.4 Kriteria Interpretasi Skor Validasi Kelayakan

Rerata Skor
Kategori
Validasi
1,00 – 1,75 Tidak Layak
1,76 – 2,50 Kurang Layak
2,51 – 3,25 Layak
3,26 – 4,00 Sangat Layak
(Diadopsi dari Riduwan, 2010)
65

Berdasarkan kriteria tersebut, perangkat pembelajaran IPA

terpadu yang dikembangkan dianggap layak apabila dalam penilaian

validator pada setiap kriteria mencapai skor rerata ≥ 2,51.

b. Analisis Kesesuaian RPP Berdasarkan Kaidah Webbed

Kesesuaian RPP pembelajaran IPA Terpadu yang

dikembangkan peneliti dari skor hasil telaah perangkat pembelajaran

oleh para penelaah. Setelah ditelaah, kemudian divalidasi. Skor tiap

aspek diperoleh dari tiap validator kemudian dihitung rata-ratanya.

Kemudian rata-rata skor dari seluruh aspek dijumlahkan dan

dianalisis dengan menggunakan rumus persentase. Setelah ditelaah,

kemudian divalidasi. Skor tiap aspek diperoleh dari tiap validator

kemudian dihitung rata-ratanya. Kemudian rata-rata skor dari

seluruh aspek dijumlahkan dan dianalisis dengan menggunakan

rumus persentase. Setelah besar nilai persentase diketahui kemudian

dikonversikan kedalam bentuk kriteria penilaian skor sebagai

berikut:

ߑ‫݈ܽݐ݋ݐ ݎ݋݇ݏ‬
%‫= ݊ܽ݇ܽݕ݈ܽ݁ܭ‬ ‫ݔ‬100%
‫ܽ݅ݎ݁ݐ݅ݎ݇ ݎ݋݇ݏ‬

Adapun kriteria skor yaitu seperti pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Kriteria persentase kelayakan perangkat pembelajaran

Persentase (%) Kategori


0 - 20 Tidak Layak
21 – 40 Kurang Layak
41 - 60 Cukup Layak
61 – 80 Layak
81 – 100 Sangat Layak
(Diadopsi dari Riduwan 2010)
66

c. Analisis Keterbacaan Buku Siswa Dan LKS

Untuk menganalisis keterbacaan buku siswa dilakukan

dengan cara menghitung persentase jawaban tiap pertanyaan. Hasil

jawaban tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif

untuk mengetahui keterbacaan buku siswa. Data keterbacaan buku

siswa dianalisis menggunakan persentase rumus sebagai berikut:

݆‫݈ܽ݉ݑ‬ℎ ݆ܽ‫݉݁ݐ݅ ݎ݁݌ ܾ݊ܽܽݓ‬


%݇݁‫= ݑ݇ݑܾ ܾ݊ܽܽܿܽݎ݁ݐ‬ ‫ݔ‬100%
݆‫݈ܽ݉ݑ‬ℎ ‫݉݁ݐ݅ ݎ݁݌ ܾ݊ܽܽݓ݆ܽ ݈ܽݐ݋ݐ ݎ݋݇ݏ‬

Tabel 3.6 Kriteria persentase keterbacaan buku siswa dan LKS

Persentase (%) Kategori


0 - 20 Sangat Lemah
21 – 40 Lemah
41 - 60 Cukup
61 – 80 Kuat
81 – 100 Sangat Kuat
(Diadopsi dari Riduwan 2010)

2. Analisis Keterlaksanaan RPP di kelas

Analisis ini digunakan untuk menilai keterlaksanaan pembelajaran

yang dikembangkan saat ujicoba terbatas dilaksanakan yang diamati

terdapat di RPP. Analisis keterlaksanaan pembelajaran diamati melalui

RPP. Skala presentasi untuk menentukan keterlaksanaan RPP dengan

menggunakan rumus:
ఀௌ௞௢௥ ௄௘௧௘௥௟௔௞௦௔௡௔௔௡
(%) ‫= ݊ܽܽ݊ܽݏ݈݇ܽݎ݁ݐ݁ܭ‬ ఀௌ௞௢௥ ௄௥௜௧௘௥௜௔
‫ݔ‬100%

Σ Skor kriteria = jumlah item x jumlah responden

Dari rumus di atas, dapat diketahui tingkat keterlaksanaan perangkat

tersebut dengan menggunakan kriteria penilaian sebagai berikut:


67

Tabel 3.7 Interpretasi Skor Rata-Rata Keterlaksanaan RPP

Persentase (%) Kategori


0 - 20 Tidak baik
21 – 40 Kurang baik
41 - 60 Cukup baik
61 – 80 Baik
81 – 100 Sangat baik
(Diadopsi dari Riduwan 2010)

Penentuan kriteria keterlaksanaan pembelajaran berdasarkan

persentase keterlaksanaan RPP dalam pembelajaran dan penilaiannya.

Keterlaksanaan pembelajaran dikatakan baik jika persentase yang

diperoleh ≥ 61 dengan kriteria layak.

2. Analisis Tes Hasil Belajar

Analisis tes hasil belajar siswa digunakan untuk mengetahui

persentase pencapaian ketuntasan siswa dan indikator pembelajaran tiap

individu. Hasil belajar siswa dinilai dari tiga aspek penilaian, yaitu

kognitif, psikomotorik, dan afektif.

a. Hasil Belajar Kognitif

1) Kognitif Produk

Penilaian kognitif produk digunakan untuk mengetahui

hasil belajar dalam memahami materi yang telah diajarkan dalam

pembelajaran. Untuk itu hasil nilai yang didapat oleh siswa

digunakan rumus sebagai berikut:

‫݈݁݋ݎ݁݌݅݀ ݃݊ܽݕ ݎ݋݇ݏ‬ℎ


݈݊݅ܽ݅ = × 100
‫݉ݑ݉݅ݏ݇ܽ݉ ݎ݋݇ݏ‬
68

Hasil belajar kognitif produk ini akan digunakan untuk

mengetahui nilai hasil belajar siswa dan ketuntasan hasil belajar

siswa. Siswa dinyatakan tuntas dalam pembelajaran jika mencapai

nilai ketuntasan ≥75%. Berikut kriteria interpretasi skor penilaian

kognitif produk.

Tabel 3.8 Kriteria Interpretasi Skor Penilaian Kognitif Produk


Persentase Kategori
0% - 20% Sangat Kurang
21% - 40% Kurang
41% - 60% Cukup
61% - 80% Baik
81% - 100% Sangat baik
(Diadopsi dari Riduwan, 2010)

2) Kognitif Proses

Penilaian kognitif proses dilakukan saat berlangsungnya

kegiatan praktikum dengan siswa mengerjakan LKS yang

diberikan oleh guru. Penilaian kognitif proses didasarkan rubrik LP

2 pada lampiran 3. Penilaian aspek kognitif proses dapat dilakukan

dengan menggunakan persamaan matematis untuk mengolah data

tersebut adalah:

ୱ୩୭୰ ୷ୟ୬୥ ୢ୧୮ୣ୰୭୪ୣ୦ ୲୧ୟ୮ ୩ୣ୪୭୫୮୭୩


% ݈ܰ݅ܽ݅ ‫= ݏ݁ݏ݋ݎܲ ݂݅ݐ݅݊݃݋ܭ‬ ‫ݔ‬100%
ୱ୩୭୰ ୫ୟ୩ୱ୧୫୳୫

Penilaian kognitif proses tersebut dikonversikan dengan kriteria

sebagai berikut:

Tabel 3.9 Kriteria Interpretasi Skor Penilaian Kognitif Proses

Persentase Kategori
0% - 20% Sangat Kurang
21% - 40% Kurang
41% - 60% Cukup
69

Persentase Kategori
61% - 80% Baik
81% - 100% Sangat baik
(Diadopsi dari Riduwan, 2010)

b. Hasil Belajar Afektif

Penilaian afektif siswa dapat diukur dengan lembar

pengamatan afektif siswa yang mempunyai kriteria:

4 = Sangat baik 3 = Baik 2 = Cukup Baik 1 = Kurang baik

Penilaian aspek afektif dapat dilakukan dengan menggunakan

persamaan matematis untuk mengolah data tersebut adalah:

୨୳୫୪ୟ୦ ୱ୩୭୰ ୷ୟ୬୥ ୢ୧୮ୣ୰୭୪ୣ୦ ୱ୧ୱ୵ୟ


Nilai = ୨୳୫୪ୟ୦ ୱ୩୭୰ ୫ୟ୩ୱ୧୫୳୫
x 100

Penilaian afektif siswa dikonversikan dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.10 Skala Interpretasi kriteria penilaian afektif

Skor Presentase (%) Kriteria


A 100 – 80 Sangat baik
B 79 – 65 Baik
C 64 – 50 Cukup
D 49 – 35 Kurang
E 34 – 0 Sangat kurang

c. Hasil Belajar Psikomotor

Penilaian aspek pikomotor digunakan untuk mengukur

kemampuan siswa. Karena dalam pembelajaran yang diharapkan

dalam perangkat ini siswa tidak hanya diharapkan mengetahui konsep,

melainkan juga diharapkan dapat menggunakan kemampuan

psikomotoriknya. Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan

menggunakan persamaan matematis sebagai berikut:


70

‫݈݁݋ݎ݁݌݅݀ ݃݊ܽݕ ݎ݋݇ݏ‬ℎ


% ݈ܰ݅ܽ݅ ‫= ݎ݋ݐ݋݉݋݇݅ݏ݌‬ ‫ݔ‬100%
‫݉ݑ݉݅ݏ݇ܽ݉ ݎ݋݇ݏ‬

Penilaian psikomotor siswa tersebut dikonversikan dengan kriteria

sebagai berikut:

Tabel 3.11 Kriteria Interpretasi Skor Penilaian Psikomotor

Persentase Kategori
0% - 20% Sangat Kurang
21% - 40% Kurang
41% - 60% Cukup
61% - 80% Baik
81% - 100% Sangat baik
(Diadopsi dari Riduwan, 2010)

3. Analisis Respons Siswa

Analisis lembar angket respons siswa berisi tentang tanggapan

siswa terhadap kegiatan pembelajaran menggunakan perangkat

pembelajaran yang telah dikembangkan. Analisis respons siswa terhadap

perangkat pembelajaran disusun berdasarkan skala Guttman dalam bentuk

pernyataan.

Tabel 3.12 Kriteria Skala Guttman

Jawaban Nilai/Skor
Ya 1
Tidak 0
(Diadopsi dari Riduwan, 2010)

Data hasil respons siswa dianalisis secara deskriptif

kuantitatif dengan medeskripsikan persentase dalam setiap

pertannyaan. Perhitungan setiap kategori dianalisis dengan persentase

sebagai berikut:

ߑ‫ܻܽ ܾ݊ܽܽݓܽܬ‬
ܲ‫= ܽݓݏ݅ݏ ݏ݊݋݌ݏ݁ݎ ݁ݏܽݐ݊݁ݏ݁ݎ‬ ‫ݔ‬100%
ߑܵ݇‫ܽ݅ݎ݁ݐ݅ݎܭ ݎ݋‬
71

ΣSkor kriteria = Skor maksimal x Σ item pertanyaan x Σresponden

Analisis respons siswa terhadap perangkat pembelajaran IPA

Terpadu tema pengolahan minyak kelapa dilakukan dengan

penyebaran angket kemudian dianalisis menggunakan metode

deskriptif kuantitatif. Angket yang telah diisi dihitung berdasarkan

kriteria skala pada Tabel 3.13. Adapun presentase kriteria respon

siswa, sebagai berikut:

Tabel 3.13 Interpretasi Skor Respons Siswa

Presentase (%) Kriteria


0 – 20 Sangat tidak merespon
21 – 40 Tidak merspon
41 – 60 Kurang Merespon
61 – 80 Merespon
81 – 100 Sangat merespon
(Diadopsi dari Riduwan, 2010)

Respons siswa akan medapatkan hasil positif jika presentase yang

didapatkan ≥ 61%.