Anda di halaman 1dari 37

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran IPA Terpadu

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep merupakan pendekatan

pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan

pengalaman belajar yang bermakna bagi anak. Pembelajaran terpadu diyakini

sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai

dengan kebutuhan anak. Pembelajaran terpadu secara efektif akan membantu

menciptakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk melihat dan membangun

konsep-konsep yang saling berkaitan. Dengan demikian, memberikan

kesempatan kepada siswa untuk memahami masalah yang kompleks yang ada di

lingkungan sekitarnya dengan pandangan yang utuh. Dengan pembelajaran

terpadu ini siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi,

mengumpulkan, menilai dan menggunakan informasi yang ada di sekitarnya

secara bermakna. Hal itu dapat diperoleh tidak saja melalui pemberian

pengetahuan baru kepada siswa melainkan juga melalui kesempatan

memantapkan dan menerapkannya dalam berbagai situasi baru yang semakin

beragam.

Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik, dan unit

tematisnya, menurut seorang ahli yang bernama Fogarty (1991) terdapat sepuluh

9
10

tipe dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model

tersebut adalah:

Tabel 2.1 Ragam Tipe Keterpaduan

Tipe Deskripsi Kelebihan Kelemahan


Terpisah Berbagai Adanya kejelasan Keterhubungan
(Fragmented) disiplin ilmu dan pandangan yang menjadi tidak jelas;
yang berbeda terpisah dalam suatu lebih sedikit transfer
dan saling mata pelajaran pembelajaran
terpisah

Keterkaitan/ Topik-topik Konsep-konsep Disiplin-disiplin


Keterhubungan dalam satu utama saling ilmu tidak berkaitan;
(Connected) disiplin ilmu terhubung, kontent tetap
berhubungan mengarah pada terfokus pada satu
satu sama lain pengulangan disiplin ilmu
(review),
rekonseptualisasi,
dan asimilasi
gagasan-gagasan
dalam satu disiplin
Berbentuk Sarang/ Keterampilan- Memberi perhatian Pelajar dapat
kumpulan (Nested) keterampilan pada berbagai mata menjadi bingung dan
sosial, berpikir, pelajaran yang kehilangan arah
dan kontent berbeda dalam mengenai konsep-
(contents skill) waktu yang konsep utama dari
dicapai di dalam bersamaan, suatu kegiatan atau
satu mata memperkaya dan pelajaran
pelajaran memperluas
(subject area) pembelajaran
Dalam satu Persamaan- Memfasilitasi Membutuhkan
rangkaian persamaan yang transfer kolaborasi yang
(Sequence) ada diajarkan pembelajaran terus menerus dan
secara melintasi beberapa kelenturan
bersamaan, mata pelajaran (fleksibilitas) yang
meskipun tinggi karena guru-
termasuk ke guru memiliki lebih
11

Tipe Deskripsi Kelebihan Kelemahan


dalam mata sedikit otonomi
pelajaran yang untuk mengurutkan
berbeda (merancang)
kurikula

Terbagi Perencanaan Terdapat Membutuhkan


(Shared) tim dan atau pengalaman waktu, kelenturan,
pengajaran yang instruksional komitmen, dan
melibatkan dua bersama; dengan kompromi
disiplin dua orang guru di
difokuskan pada dalam satu tim, akan
konsep, lebih mudah untuk
keterampilan, berkolaborasi
dan sikap-sikap
(attitudes) yang
sama
Berbentuk jaring Pengajaran Dapat memotivasi Tema yang
laba-laba (Webbed) tematis, murid-murid: digunakan harus
menggunakan membantu murid- dipilih baik-baik
suatu tema murid untuk melihat secara selektif agar
sebagai dasar keterhubungan antar menjadi berarti, juga
pembelajaran gagasan relevan dengan
dalam berbagai kontent
disiplin mata
pelajaran

Dalam satu alur Keterampilan- Murid-murid Disiplin-disiplin


(Threaded) keterampilan mempelajari cara ilmu yang
sosoal, berpikir, mereka belajar, bersangkutan tetap
berbagai jenis memfasilitasi terpisah satu sama
kecerdasan, dan transfer lain
keterampilan pembelajaran
belajar selanjutnya
“direntangkan”
melalui
berbagai
disiplin
12

Tipe Deskripsi Kelebihan Kelemahan


Terpadu Dalam berbagai Mendorong murid- Membutuhkan tim
(Integrated) prioritas yang murid untuk melihat antardepartemen
saling tumpang keterkaitan dan yang memiliki
tindih dalam keterhubungan di perencanaan dan
berbagai antara disiplin- waktu pengajaran
disiplin ilmu, disiplin ilmu; murid- yang sama
dicari murid termotivasi
keterampilan, melihat berbagai
konsep, dan keterkaitan tersebut
sikap-sikap
yang sama
Immersed Pelajar Keterpaduan Dapat
(Terbenam) memadukan apa berlangsung di mempersempit fokus
yang dipelajari dalam pelajar itu pelajar tersebut
dengan cara sendiri
memandang
seluruh
pengajaran
melalui
perspektif
bidang yang
disukai (area of
interest)
Membentuk jejaring Pelajar Bersifat proaktif; Dapat mencegah
(Networked) melakukan pelajar terstimulasi perhatian pelajar,
proses oleh informasi, upaya-upaya
pemaduan topik keterampilan, atau menjadi tidak efektif
yang dipelajari konsep-konsep baru
melalui
pemilihan
jejaring pakar
dan sumber
daya
Sumber (Fogarty, 1991: 62)

Dari sejumlah tipe keterpaduan pembelajaran menurut Fogarty

(1991) di atas, terdapat tiga model yang potensial untuk diterapkan dalam

pembelajaran IPA terpadu pada pembelajaran di Indonesia, yaitu connected,


13

webbed, dan integrated. Tiga model tersebut dipilih karena konsep-konsep

dalam Kompetensi Dasar IPA memiliki karakteristik yang berbeda-beda,

sehingga memerlukan model yang sesuai agar memberikan hasil yang

optimal. Model keterpaduan manapun yang diterapkan oleh guru, semuanya

berdasarkan pada keterkaitan antar bidang kajian IPA sehingga dinamakan

IPA terpadu.

Pembelajaran IPA Terpadu merupakan konsep pembelajaran yang

banyak berhubungan dengan obyek nyata dan dilakukan dengan situasi yang

lebih alami serta dapat menghubungkan pengetahuannya dalam penerapan

dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPA terpadu adalah

pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman

sesungguhnya. Pembelajaran ini dapat memberi pengalaman langsung

sehingga peserta didik dapat menemukan sendiri suatu konsep IPA yang

bermakna dan otentik (Mitarlis dan Mulyaningsih, 2009: 12).

Tujuan pembelajaran IPA Terpadu (Mitarlis dan Mulyaningsih,

2009: 12) sebagai berikut:

1. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran

2. Meningkatkan minat dan motivasi

3. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus

Prinsip-prinsip pembelajaran terpadu secara umum dapat

diklasifikasikan menjadi: (1) prinsip penggalian tema; (2) prinsip

pengelolaan pembelajaran; (3) prinsip evaluasi; dan (4) prinsip reaksi. Ilmu
14

pengetahuan merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah

mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri: objektif,

metodik, sistematis, universal, dan tentatif, Ilmu Pengetahuan Alam

merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dan segala isinya

(Puskur, 2006:4).

B. Pembelajaran Terpadu Tipe Webbed

Pembelajaran Terpadu Tipe Webbed adalah pembelajaran terpadu

yang menggunakan pendekatan tematik. Kelebihannya antara lain

penyelesaian tema sesuai minat akan memotivasi anak untuk belajar, lebih

mudah dilakukan, terutama bagi guru-guru yang belum berpengalaman,

memudahkan perencanaan, dan memberikan kemudahan bagi anak didik

dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.

Pada tipe ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema

terlebih dahulu, setelah tema terbentuk maka dikembangkan sub-sub tema

dengan memperhatikan kaitannya pada bidang-bidang studi lain, diagram

jaring laba-laba (webbed) disajikan seperti pada gambar berikut:


15

Sub Tema
Sub Tema
Sifat Fisika dan Kimia
Senyawa Kimia dalam
pada Minyak Kelapa
Minyak Kelapa

Pengolahan
Minyak Kelapa

Sub Tema Sub Tema


Pembudidayaan Kelapa Pemisahan Campuran
pada Minyak Kelapa

Gambar 2.1 Diagram Jaring Laba-Laba (Webbed)


(diadopsi dan diadaptasi dari Mitarlis dan Mulyaningsih, 2009:4)

C. Karakteristik Perangkat Pembelajaran Webbed yang akan

dikembangkan

Perangkat pembelajaran adalah salah satu wujud persiapan yang

dilakukan oleh guru sebelum mereka melakukan proses pembelajaran.

Perangkat pembelajaran yang harus disiapkan dalam pengembangan

pembelajaran IPA terpadu tidak berbeda dengan pembelajaran pada umumnya

yaitu perlu disiapkan mulai dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran,

buku siswa bila perlu, lembar kerja siswa (LKS), petunjuk praktikum, lembar

evaluasi, serta kunci penyelesaiannya (Mitarlis dan Mulyaningsih, 2009: 21).

Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu yanga akan dikembangkan oleh

peneliti adalah silabus, RPP, bahan ajar (buku siswa dan LKS), dan tes hasil

belajar.
16

1. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau

kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar

kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan

pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian,

penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar (BSNP, 2006).

Adapun beberapa prinsip pengembangan silabus, antara lain

(BSNP, 2006):

a. Ilmiah, keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam


silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara
keilmuan.
b. Relevan, cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan
penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan
fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
c. Sistematis, komponen-komponen silabus saling berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.
d. Konsisten, adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara
kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman
belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
e. Memadai, cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran,
pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup
untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
f. Aktual dan kontekstual, cakupan indikator, materi pokok,
pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian
memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir
dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
g. Fleksibel, Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi
keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang
terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
h. Menyeluruh, Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah
kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

Silabus merupakan salah satu penjabaran kurikulum. Produk

pengembangan kurikulum ini memuat pokok-pokok yang memberikan


17

rambu-rambu dalam menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam

pembelajaran, yakni; kompetensi apa yang hendak dicapai, bagaimana

memfasilitasi peserta didik untuk menguasai kompetensi itu, dan

bagaimana mengetahui tingkat pencapaian kompetensi oleh peserta didik.

Berdasarkan komponen-komponen silabus, adapun langkah-

langkah pengembangan silabus dijabarkan sebagai berikut:

a. Mengisi Identitas Silabus Pembelajaran

Identitas terdiri dari nama sekolah, kelas/semester, mata pelajaran,

dan standar kompetensi. Identitas silabus ditulis di atas matriks

silabus.

b. Menuliskan Standar Kompetensi

Standar Kompetensi adalah kualitas kemampuan peserta didik yang

menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan

yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar

Kompetensi diambil dari Standar Isi (Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar) Mata Pelajaran.

c. Menuliskan Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang

harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai Standar

Kompetensi mata pelajaran tertentu. Kompetensi Dasar dipilih dari

yang tercantum dalam Standar Isi.


18

d. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran

Dalam mengidentifikasi materi pokok harus mempertimbangkan:

relevansi materi pokok dengan SK dan KD; tingkat perkembangan

fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;

kebermanfaatan bagi peserta didik; struktur keilmuan; kedalaman dan

keluasan materi; relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan

tuntutan lingkungan; dan alokasi waktu.

e. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman

belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi

antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan

sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.

f. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penjabaran dari kompetesi dasar dan merupakan

sub-kompetensi dasar. Indikator dirumuskan sesuai dengan

karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik dan

dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan atau dapat

diobservasi, sebagai acuan penilaian.Dengan demikian indikator

pencapaian kompetensi mengarah pada indikator penilaian.

g. Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan

berdasarkan indikator. Di dalam kegiatan ini terdapat tiga komponen


19

penting, yang meliputi: (a) teknik penilaian, (b) bentuk instrumen,

dan (c) contoh instrumen.

h. Menentukan Alokasi Waktu

Alokasi waktu adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk

ketercapaian suatu Kompetensi Dasar tertentu, dengan

memperhatikan minggu efektif per semester, alokasi waktu mata

pelajaran, dan jumlah kompetensi per semester.

i. Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang diperlukan dalam

proses pembelajaran, yang dapat berupa: buku teks, media cetak,

media elektronika, nara sumber, lingkungan alam sekitar, dan

sebagainya.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Dalam dokumen KTSP, disebut bahwa RPP adalah penjabaran

dari silabus yang menggambarkan rencana prosedur dan pengorganisasian

pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan dalam

standar isi. RPP digunakan sebagai pedoman guru dalam melaksanakan

pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapanagan. Dalam

Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 Permendiknas butir II B dinyatakan

bahwa RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu

kali pertemuan atau lebih.


20

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, dalam

menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi yang

memayungi Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di

dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran, Materi

Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian

(dalam Ibrahim, 2010: 132).

Menurut Permendiknas Nomor 41 tahun 2007, adapun komponen

RPP adalah sebagai berikut:

a. Identitas mata pelajaran

Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas,

semester, program/program keahlian. Mata pelajaran atau tema

pelajaran, jumlah pertemuan.

b. Standar Kompetensi

Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal

peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap,

dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau

semester pada suatu mata pelajaran.

c. Kompetensi dasar

Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai

peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan

penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.


21

d. Indikator pencapaian kompetensi

Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau

diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar

tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator

pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja

operasional yang diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan,

sikap, dan keterampilan. Contoh kata kerja operasional antara lain

mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan,

menceritakan kembali, mempraktekkan, mendemonstrasikan,

mendeskripsikan. Indikator dikembangkan oleh guru sekolah sesuai

dengan kondisi daerah dan sekolah masing-masing. Dalam membuat

indikator ini, guru juga perlu melihat KD yang sama di kelas sebelum

dan sesudahnya agar leih tepat dalam menentukan indikator sesuai

dengan kelas di mana KD tersebut diajarkan.

e. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang

diharapakan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi

dasar.

Tujuan pembelajaran dibuat berdasarkan SK, KD, dan indikator yang

telah ditentukan. Tujuan ini difokuskan tergantung pada indikator

yang dirumuskan dari SK dan KD pada standar Isi mata pelajaran

yang akan dipelajari siswa.


22

f. Materi ajar

Materi ajar memuat fakta. Konsep, prinsip, dan prosedur yang

relevan, yang ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai rumusan

indikator pencapaian kompetensi.

g. Alokasi waktu

Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian

KD dan beban belajar.

h. Metode pembelajaran

Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai

kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan.

Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan

kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan

kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

i. Kegiatan pembelajaran

1) Pendahuluan

Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan

pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi

dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi

aktif dalam proses pembelajaran.


23

2) Inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai

KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif,

inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik

untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup

bagi pemrakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan

bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta

didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik

melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

3) Penutup

Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri

aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk

rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik,

dan tindak lanjut.

j. Penilaian hasil belajar

Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan

dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada

Standar Penilaian.

k. Sumber Belajar

Penentuan sumber belajar didasarkan padastandar kompetensi dan

kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan

indikator pencapaian kompetensi.


24

3. Bahan Ajar

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk

membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar

mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan

tidak tertulis (Depdiknas, 2008). Dalam website Dikmenjur dikemukakan

pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi

pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis,

menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa

dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa

dapat mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis

sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara

utuh dan terpadu.

Depdiknas (2008), lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar

berfungsi sebagai:

a. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya

dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi

kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.

b. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya

dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi

kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.

c. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.


25

Terdapat sejumlah alasan, mengapa guru perlu untuk

mengembangkan bahan ajar, yakni antara lain; ketersediaan bahan

sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan

pemecahan masalah belajar. Pengembangan bahan ajar harus

memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan

kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Pada kurikukulum

tingkat satuan pendidikan, standard kompetensi lulusan telah

ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk mencapainya

dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada

para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru

dituntut untuk mempunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar

sendiri (Depdiknas, 2008).

Depdiknas (2008), disebutkan bahwa adapun tujuan dan

manfaat penyusunan bahan ajar antara lain sebagai berikut :

a. Bahan ajar disusun dengan tujuan:

1) Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan

kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa,

yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan

setting atau lingkungan sosial siswa.

2) Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di

samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.

3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.


26

b. Manfaat penyusunan bahan ajar :

Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila

seorang guru mengembangkan bahan ajar sendiri, yakni antara

lain; pertama, diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan

kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kedua,

tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit

untuk diperoleh, ketiga, bahan ajar menjadi labih kaya karena

dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi,

keempat, menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman

guru dalam menulis bahan ajar, kelima, bahan ajar akan mampu

membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru

dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada

gurunya.

Untuk mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan

tuntutan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik,

diperlukan analisis terhadap SK-KD, analisis sumber belajar, dan

penentuan jenis serta judul bahan ajar. Analisis dimaksud

dijelaskan sebagai berikut:

1) Analisis SK-KD

Analisis SK-KD dilakukan untuk menentukan kompetensi-

kompetensi mana yang memerlukan bahan ajar.


27

2) Analisis Sumber Belajar

Sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan

penyusunan bahan ajar perlu dilakukan analisis. Analisis

dilakukan terhadap ketersediaan, kesesuaian, dan

kemudahan dalam memanfaatkannya. Caranya adalah

menginventarisasi ketersediaan sumber belajar yang

dikaitkan dengan kebutuhan.

3) Pemilihan dan Penentuan Bahan Ajar

Pemilihan dan penentuan bahan ajar dimaksudkan untuk

memenuhi salah satu kriteria bahwa bahan ajar harus

menarik serta dapat membantu siswa mencapai kompetensi.

Bahan ajar dapat berupa handout, buku, lembar kegiatan siswa

(LKS), modul, brosur atau leaflet, Wallchart, Foto/Gambar,

Model/Maket. Dalam menyusun bahan yang perlu diperhatikan adalah

bahwa judul atau materi yang disajikan harus berintikan KD atau

materi pokok yang harus dicapai oleh peserta didik. Bahan ajar yang

dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari buku siswa dan LKS

yang termasuk kedalam bahan ajar cetak

a) Buku siswa

Buku siswa adalah seperangkat materi pelajaran yang disusun

secara sistematis, dan menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang

akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pasal 43 peraturan


28

pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 dinyatakan bahwa kepemilikan

buku teks pelajaran harus mencapai rasio 1:1, atau satu buku teks

pelajaran diperuntukkan bagi seorang siswa. Menurut Peraturan

Menteri Pendidikan Indonesia (Permendiknas) Nomor 11 Tahun 2005

buku teks pelajaran adalah buku acuan wajib untuk digunakan di

sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan

keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan

penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan

kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun

berdasarkan standar nasional pendidikan.

Beberapa karakteristik buku teks pelajaran adalah: (1) memiliki

landasan keilmuan yang jelas dan mutakhir; (2) berisi materi yang

memadai, bervariasi, mudah dibaca, dan sesuai dengan kebutuhan

siswa; (3) disajikan secara sistematis, logis, dan teratur; (4)

meningkatkan minat siswa untuk belajar; (5) berisi materi yang

membantu siswa untuk memecahkan masalah keseharian; (6) memuat

materi refleksi dan evaluasi diri untuk mengukur kompetensi yang

telah dan akan dipelajari.

b) Lembar Kegiatan Siswa

Depdiknas (2008: 13), Lembar kegiatan siswa (LKS) adalah

lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta

didik. Lembaran kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah


29

untuk menyelesaikan suatu tugas. Lembar kegiatan untuk mata

pelajaran IPA harus disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran

IPA, salah satu pendekatan yang disarankan yaitu pendekatan

keterampilan proses. Untuk membuat LKS baik untuk eksperimen

maupun non-eksperimen, ada dua hal yang harus dikerjakan guru

dalam mengembangkan keterampilan proses, yaitu mengikuti langkah-

langkah penyusunan LKS dan memperhatikan aturan-aturan

penyusunan LKS media hand-outs pembelajaran (Kamalia Devi, dkk,

2009:32).

a. Bentuk-bentuk LKS

1) LKS Eksperimen

LKS untuk eksperimen berupa lembaran kerja yang memuat

petunjuk praktikum yang menggunakan alat-alat dan bahan-bahan.

Sistematika LKS umumnya terdiri dari judul, pengantar, tujuan,

alat bahan, langkah kerja, kolom pengamatan, pertanyaan.

a) Pengantar, pengantar LKS berisi uraian singkat yang

mengetengahkan bahan pelajaran (berupa konsep-konsep

IPA) yang dicakup dalam kegiatan/praktikum.

b) Tujuan, memuat tujuan yang berkaitan dengan permasalahan

yang diungkapkan di pengantar

c) Alat dan bahan, memuat alat dan bahan yang diperlukan


30

d) Langkah Kegiatan, merupakan instruksi untuk melakukan

kegiatan. Untuk mempermudah siswa melakukan praktikum,

langkah kerja ini dibuat secara sistematis. Bils perlu

menggunakan nomor urut dan menambah tampilkan sketsa

gambar.

e) Tabel Pengamatan, dapat berupa tabel-tabel data untuk

mencatat data hasil pengamatan yang diperoleh dari

praktikum.

f) Pertanyaan berupa pertanyaan yang jawabannya dapat

membantu siswa untuk mendapatkan konsep yang

dikembangkan atau untuk mendapatkan kesimpulan.

2) LKS Non-Eksperimen

LKS non eksperimen berupa lembaran kegiatan yang memuat teks

yang menuntun siswa melakukan kegiatan diskusi suatu materi

pembelajaran.

b. Langkah-langkah penyusunan LKS

Untuk mengembangkan LKS ada langkah-langkah yang dapat

diikuti yaitu:

1) Mengkaji materi yang akan dipelajari siswa yautu dari kompetensi

dasar, indikator hasil belajarnya dan sistematika keilmuannya

2) Mengidentifikasi jenis keterampilan proses yang akan

dikembangkan pada saat mempelajari materi tersebut


31

3) Menentukan bentuk LKS yang sesuai dengan materi yang akan

dikembangkan pada saat mempelajari materi tersebut

4) Merancang kegiatan yang akan ditampilkan pada LKS sesuai

dengan keterampilan proses yang akan dikembangkan

5) Mengubah rancangan menjadi LKS dengan tata letak yang

menarik, mudah dibaca dan digunakan

6) Menguji coba LKS apakah sudah dapat digunakan siswa untuk

melihat kekurangan-kekurangannya

7) Merevisi kembali LKS

c. Struktur LKS

Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut:

1) Judul

2) Petunjuk belajar (Petunjuk siswa)

3) Kompetensi yang akan dicapai

4) Informasi pendukung

5) Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja

6) Penilaian

4. Tes Hasil Belajar

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh

mana tujuan sudah tercapai (Arikunto, 2009: 25). Evaluasi pengajaran

merupakan suatu komponen dalam sistem pengajaran. Sedangkan sistem

pengajaran itu sendiri merupakan implementasi kurikulum, sebagai upaya


32

untuk menciptakan belajar di kelas. Fungsi utama evaluasi dalam kelas

adalah untuk menentukan hasil-hasil urutan pengajaran.

Dengan mengukur evaluasi maka akan digunakan alat evaluasi yang

biasa disebut dengan instrumen. Terdapat dua teknik dalam evalusi yaitu

non tes meliputi: (1) skala bertingkat; (2) kuesioner; (3) daftar cocok; (4)

wawancara; dan (5) pengamatan. Teknik tes meliputi: (1) tes diagnostik;

(2) wawancara; (3) tes sumatif.

D. Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian pengembangan.

Model pengembangan perangkat pembelajaran menurut Thiagarajan, Semmel

dan Semmel (dalam Ibrahim, 2001: 4-10) adalah model 4-D (four D models)

yang terdiri dari define (pendefinisian), design (perancangan), develop

(pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Karena pada pengembangan

ini hanya sampai pada uji coba terbatas, maka penelitian ini hanya sampai

pada tahap pengembangan saja. Hal ini dikarenakan penelitian pengembangan

yang dilaksanakan hanya ditujukan untuk keperluan sendiri, maka tahapan

penyebaran tidak dilakukan.

1. Tahap Pendefinisian (Define)

Tujuan tahapan ini adalah menetapkan dan mendefinisikan

syarat-syarat pembelajaran. Dalam menentukan dan menetapkan syarat-

syarat pembelajaran diawali dengan analisis tujuan dari batasan materi


33

yang dikembangkan perangkatnya. Tahap ini meliputi 5 langkah pokok,

yaitu (1) analisis kurikulum; (2) analisis siswa; (3) analisis tugas; (4)

analisis konsep; (5) perumusan tujuan pembelajaran (Ibrahim, 2002: 4-

5).

Ada 5 langkah pokok dalam tahap define yaitu:

a. Analisis Kurikulum

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada analisis ini

adalah kurikulum yang digunakan mengacu pada kurikulum

pendidikan Indonesia saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP).

b. Analisis Siswa (Learner Analysis)

Analisis ini dilakukan dengan memperhatikan ciri,

kemampuan, dan pengalaman siswa, baik sebagai kelompok

maupun individu. Analisis siswa meliputi karakteristik siswa

antara lain kemampuan akademik, usia, dan tingkat kedewasaan,

motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan

psikomotor, kemampuan bekerjasama, keterampilan sosial, dan

sebagainya.

c. Analisis Tugas (Task Analysis)

Analisis tugas bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan-

keterampilan utama yang akan dikaji oleh peneliti dan

menganalisisnya kedalam himpunan keterampilan tambahan yang


34

mungkin diperlukan. Analisis ini memastikan ulasan yang

menyeluruh tentang tugas dalam materi pembelajaran.

d. Analisis Konsep (Concept Analysis)

Analisis konsep dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-

konsep utama yang akan diajarkan, menyusun secara sistematis

dan merinci konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam

SK/KD. Hasil analisis konsep dapat berupa peta konsep.

e. Perumusan Tujuan Pembelajaran (Specifying Instructional

Objectives)

Tahap ini dilakukan untuk mengkonversikan hasil analisis

tugas dan analisis konsep menjadi tujuan pembelajaran khusus

yang selanjutnya menjadi dasar bagi penyususnan tes, dan

pemilihan pola materi pembelajaran khusus yang selanjutnya

menjadi dasar bagi penyususnan tes, dan pemilihan pola materi

pembelajaran.

Tujuan yang dirumuskan harus operasional dan

memperhatikan berbagai wacana kemampuan peserta didik, seperti

produk, proses, psikomotor, dan keterampilan sosial yang

diturunkan dari indikator tertentu dalam pembelajaran.

2. Tahap Perancangan (Design)

Menurut Ibrahim, (2002: 11) Tujuan tahap ini adalah untuk

menyiapkan prototipe perangkat pembelajaran. Tahap ini terdiri dari 3


35

langkah, yaitu (1) penyusunan tes acuan patokan, merupakan langkah

awal yang menghubungkan antara tahap define dan tahap design. Tes

disusun berdasarkan hasil perumusan tujuan pembelajaran khusus. Tes

ini merupakan suatu alat mengukur terjadinya perubahan tingkah laku

pada diri siswa setelah kegiatan belajar mengajar; (2) pemilihan

media yang sesuai tujuan, untuk menyampaikan materi pelajaran; (3)

pemilihan format.

3. Tahap Pengembangan (Develop)

Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan

perangkat pembelajaran yang telah direvisi oleh pakar, sehingga layak

digunakan dalam uji coba terbatas. Tahap ini dilakukan melalui 2

langkah: (1) validasi perangkat pembelajaran diikuti dengan revisi, (2)

uji coba pengembangan terbatas siswa (Ibrahim, 2002: 11).

E. Pengolahan Minyak Kelapa

Kelapa termasuk tanaman khas daerah tropis. Kelapa (Cocos nucifera

L.) termasuk famili Areceaceae (Palmae) genus Cocos. Dilihat dari fisiknya,

batang kelapa dalam keadaan lurus, ramping, dan tidak bercabang. Tingginya

mencapai 10-14 dengan jenis akar serabut. Biasanya pohon kelapa tumbuh di

pantai sampai ketinggian 900 m dari permukaan laut dengan pH tanah 6,2-8,3.

Selain itu, taman yang tumbuh subur pada curah hujan 1.800-2.500 dan

kisaran suhu 28-320C. Daunnya berpelepah atau bersirip genap, yaitu sekitar
36

30-40 pelepah dengan panjang 2-4 meter. Tanaman kelapa dalam akan

berbuah setelah berumur 7 tahun. Buah kelapa yang muda bisa dipanen

setelah berumur 6-7 bulan, sedangkan buah kelapa yang tua berumur 11-12

bulan.

Buah kelapa berbentuk bulat panjang dengan ukuran kurang lebih

sebesar kepala manusia. Buah terdiri dari sabut (ekskarp dan mesokarp),

tempurung (endokarp), daging buah (endosperm) dan air buah. Tebal sabut

kelapa kurang lebih 5 cm dan tebal daging buah 1 cm atau lebih. Bunga betina

tanaman kelapa akan dibuahi 18-25 hari setelah bunga berkembang dan akan

menjadi masak (ripe) setelah 12 bulan (Ketaren, 1986:298).

Menurut klasifikasi tanaman kelapa digolongkan dalam:

Kingdom : Plantae

Division : Spermathophyta

Subdivision : Angiospermae

Class : Monocotyledone

Family : Arecaceae (Palmae)

Subfamili : Cocoidae

Genus : Cocos

Species : Cocos nucifera Linneus

(Sumber: www.plantamor.com)
37

1. Senyawa dalam Minyak Kelapa

Minyak kelapa adalah minyak yang berwarna kuning pucat

sampai tidak berwarna, atau lemak semi padat berwarna putih yang

diperoleh dari daging buah kelapa. Minyak kelapa merupakan bagian

yang paling berharga dari buah kelapa. Minyak kelapa dapat diekstrak

dari daging kelapa segar yang telah dikeringkan (kopra). Di dalam

minyak kelapa tersusun oleh suatu senyawa kimia. Senyawa merupakan

salah satu dari beberapa komponen partikel materi. Adapun komposisi

penyusun materi meliputi unsur, senyawa, dan campuran.

2. Sifat Fisika dan Kimia Minyak Kelapa

Pada dasarnya minyak dan lemak tidak dapat terpisah dari sifat

fisika dan sifat kimia. Minyak kelapa secara fisik berwujud cairan yang

berwarna bening sampai kuning kecoklatan dan mengkarakteristiknya bau

yang khas. Titik bekunya pada derajat panas 18-200C, dan mulai mencair

pada 23-260C. Berat jenisnnya 0,91-0,93 tergantung suhunya.

3. Pemisahan Campuran pada Minyak Kelapa

Berdasarkan beberapa proses pengolahan minyak kelapa tersebut,

secara umum pengolahan minyak kelapa menggunakan metode ekstraksi.

Ekstraksi adalah salah satu metode yang digunakan dalam pemisahan

campuran.
38

4. Pembudidayaan Kelapa

Pembudidayaan minyak kelapa dapat dilakukan menggunakan

teknik bioteknologi konvensional atau tradisional. Bioteknologi dapat

digolongkan menjadi bioteknologi konvensional/ tradisional dan modern.

Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi yang memanfaatkan

jasa mikroorganisme untuk memproduksi alkohol, asam asetat, gula, atau

bahan makanan, seperti tempe, tape, oncom, dan kecap. Proses yang

dibantu mikroorganisme, misalnya dengan fermentasi, hasilnya antara

lain tempe, tape, kecap, dan sebagainya termasuk keju dan yoghurt.

Proses tersebut dianggap sebagai bioteknologi konvensional.

Bioteknologi konvensional bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan

pemanasan dan dengan menggunakan jasa mikroorganisme.

F. Teori Belajar yang Mendukung

1. Teori Jean Piaget

Dalam Suprijono (2010:23), Piaget menggambarkan

perkembangan kognitif sebagai berikut:

Tahap Umur Ciri Pokok Perkembangan


Sensorimotor 0-2 tahun Berdasarkan tindakan langkah
demi langkah
Praoperasi 2-7 tahun Penggunaan simbol/bahasa
Tanda
Konsep intuitif
Operasi Konkret 8-11 tahun Pakai aturan jelas/logis
Reversibel dan kekekalan
39

Tahap Umur Ciri Pokok Perkembangan


Operasi Konkret 11 tahun ke Hipotesis
atas Abstrak
Deduktif dan induktif
Logis dan Probabilitas
Sumber: (Suprijono: 2010:23)

Perkembangan kognitif yang digambarkan Piaget merupakan

proses adaptasi intelektual. Adaptasi ini merupakan proses yang

melibatkan skemata, asimilasi, akomodasi, dan equilibration. Skemata

adalah struktur kognitif berupa ide, konsep, gagasan. Asimilasi ialah

proses perubahan apa yang dipahami sesuai dengan struktur kognitif

(skemata) yang ada sekarang. Asimilasi adalah proses pengintegrasian

informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki oleh

individu. Akomodasi adalah proses penyesuaian struktur kognitif

kedalam situasi baru. Equilibriation adalah pengaturan diri secara

mekanis untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan

akomodasi (Suprijono, 2010:23).

2. Teori Vygotsky

Teori Vygotsky digunakan dalam pembelajaran sosial untuk

menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran

kooperatif, pembelajaran berbasis kegiatan dan penemuan. Empat

prinsip kunci pada teori Vygotsky, yang pertama (1) adalah

menekankan pada hakikat sosial dari pembelajaran. Pada pembelajaran

kooperatif, siswa dihadapkan pada proses berfikir teman sebaya


40

mereka, metode ini tidak hanya membuat hasil belajar terbuka untuk

seluruh siswa, tetapi juga membuat proses berfikir siswa lain terbuka

untuk seluruh siswa (Nur, 2008:4). Konsep kunci kedua (2) menurut

Vygotsky adalah zone of proximal development di mana fungsi mental

yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau

kerjasama antar individu, sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu

terserap ke dalam individu tersebut (Slavin dalam Trianto, 2007:30).

Konsep ketiga (3) pemagangan kognitif yang mengacu pada proses di

mana seorang siswa tahap demi tahap memperoleh keahlian dalam

interaksinya dengan seorang pakar, pakar itu bisa orang dewasa atau

kawan sebaya yang telah menguasai permasalahannya. Konsep

keempat (4) scaffolding atau dukungan tahap demi tahap untuk belajar

dan pemecahan masalah (Nur, 2008:5-6). Dukungan tersebut dapat

berupa petunjuk, peringatan, dorongan, memberikan contoh, dan lain-

lain. Pada teori Vygotsky mendukung pembelajaran IPA terpadu

terutama pada model pembelajaran kooperatif.

3. Teori Kontruktivis

Hakekat dari teori konstruktivis adalah siswa harus

menjadikan informasi itu miliknya sendiri (Brooks, 1990; Leinhardt,

1992; Brown et al., 1989). Teori konstruktivis memandang siswa

secara terus-menerus memeriksa informasi-informasi baru yang

berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan-aturan


41

lama tersebut jika tidak sesuai lagi. Pandangan ini mempunyai

keterlibatan yang mendalam dalam pengajaran, sebagaimana diuraikan

terdahulu bahwa teori ini menganjurkan peranan yang lebih aktif bagi

siswa dalam pembelajaran mereka sendiri dibandingkan dengan apa

yang saat ini dilaksanakan pada mayoritas kelas. Karena

penekanannya pada siswa sebagai siswa yang aktif, strategi

konstruktivis sering disebut pengajaran yang terpusat pada siswa atau

student-centered instruction. Sedangkan guru hanya berperan

membantu siswa menemukan fakta, konsep, atau prinsip bagi diri

mereka sendiri. Hal ini akan menyebabkan pemahaman pada siswa

lebih mendalam karena siswa memperoleh dan menerapkan informasi

sesuai dengan pengalamannya sendiri (Nur, 2008:2-3).

4. Teori Skema

Hampir semua yang dipelajari dalam pembelajaran di kelas

disimpan dalam memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori

jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum.

Prinsip paling penting dari teori skema (Anderson dan

Bower, 1983) adalah bahwa informasi yang pas dengan skema yang

ada lebih mudah dipahami, dipelajari, dan diserap daripada informasi

yang tidak pas dengan skema yang ada (dalam Nur, 2008:53).

Skema menyerupai suatu kerangka garis besar, dengan

berbagai konsep atau ide yang berbeda yang dikelompokkan di bawah


42

naungan kategori yang lebih besar. Berbagai macam aspek skema

dapat dihubungkan oleh sederetan proporsi, atau keterkaitan (Nur,

2008:53). Pada teori ini mendukung pembelajaran IPA terpadu karena

pada IPA terpadu konsep yang dihubungkan dibentuk dalam sebuah

skema atau yang biasa disebut dengan peta konsep.

5. Motivasi Belajar

Motivasi adalah satu komponen paling penting dari

pembelajaran dan satu komponen yang paling sukar untuk diukur

(Nur, 2008:2). Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan,

sebab motivasi dijadikan sebagai alat agar siswa terlibat dalam

akademik. Selain itu, motivasi juga penting dalam menentukan

seberapa banyak siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran

atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada

mereka (Nur, 2008:3).

Garner, dkk (1991) mengemukakan bahwa, siswa yang

termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif

yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu

akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik

(dalam Nur, 2008:3-4). Motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi

intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Cara untuk meningkatkan minat

intrinsik siswa antara lain (1) membangkitkan minat siswa; (2)

mempertahankan rasa ingin tahu; (3) menggunakan berbagai macam


43

model presentasi yang menarik; (4) membantu siswa menetapkan

tujuan mereka sendiri. sedangkan motivasi ekstrinsik dapat berupa

pujian, nilai, pengakuan, hadiah, atau penghargaan lain.

5. Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil-hasil penelitian yang relevan disajikan dalam tabel 2.2.

Tabel 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan


Nama Judul Tahun Hasil
Sri Sumrati Pengembangan Bahan Ajar Tema 2012 Bahan ajar yang
Pestisida Dengan Pendekatan dikembangkan ini layak
SETS untuk SMP Kelas VIII digunakan dengan
persentase sebesar 77,5%
berdasarkan hasil validasi
dari dosen dan guru IPA,
kelayakan materi dengan
persentase 82% dengan
kriteria sangat layak, dan
LKS yang dikembangkan
dinyatakan layak dengan
prsentase 75%.
Muhandisatul Pengembangan Perangkat 2012 Perangkat pembelajaran ini
Ummah Pembelajaran IPA Terpadu SMP layak digunakan dengan
Tipe Webbed pada Tema hasil yang diperoleh
Makanan dan Kesehatan berdasarkan keterlaksanaan
perangkat yang telah
dikembangkan 3 pertemuan
diperoleh rata-rata sebesar
3,53 dengan kriteria sangat
baik dan berdasarkan respon
siswa diperoleh persentase
sebesar 88,25%.
Muvita Kurnia Pengembangan Perangkat 2012 Perangkat pembelajaran ini
Pembelajaran IPA Terpadu Tipe layak digunakan dengan
Webbed dengan Tema Otak-Otak hasil yang diperoleh
Bandeng untuk Kelas VIII SMP berdasarkan keterlaksanaan
Negeri 2 Cerme-Gresik kegiatan pembelajaran pada
pertemuan pertama sebesar
3,37 dan pertemuan kedua
3,42 dengan kriteria sangat
baik, aktivitas siswa yang
menunjukkan kegiatan aktif
siswa memperoleh
presentase sebesar 70,62%.
44

G. Kerangka Penelitian

KARAKTERISTIK IPA TIPE KETERPADUAN KARAKTERISTIK


TERPADU WEBBED MATERI

• Pada aspek biologis, IPA Pembelajaran Materi diambil dari hasil


mengkaji berbagai persoalan Terpadu Tipe Webbed adalah analisis SK dan KD meliputi:
yang berkaitan dengan berbagai pembelajaran terpadu yang 1. Senyawa Kimia dalam
fenomena pada makhluk hidup menggunakan pendekatan minyak kelapa
pada berbagai tingkat organisasi tematik. Pengembangannya 2. Sifat fisika dan kimia
kehidupan dan interaksinya dimulai dengan menentukan minyak kelapa
dengan faktor lingkungan, pada tema terlebih dahulu, setelah 3. Pemisahan Campuran
dimensi ruang dan waktu. tema terbentuk maka 4. Pengolahan Minyak
• Pada aspek fisis, sains dikembangkan sub-sub tema Kelapa
memfokuskan diri pada benda dengan memperhatikan Berdasarkan Materi tersebut
tak hidup yang dikenal dalam kaitannya pada bidang- di atas menghasilkan suatu
kehidupan sehari-hari seperti bidang studi lain. tema:
air, tanah, udara, dsb.
• Pada aspek kimia, sains Pengolahan Minyak Kelapa
mengkaji berbagai
fenomena/gejala kimia baik
pada makhluk hidup maupun
makhluk tak hidup yang ada di
alam semesta.

KARAKTERISTIK PERANGKAT YANG DIKEMBANGKAN

Perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi RPP, silabus, buku


siswa, LKS, dan tes hasil belajar siswa. Karakteristik perangkat yang
dikembangkan tersebut harus mencakup:

• kompetensi yang harus dicapai meliputi indikator dan materi pelajaran


• strategi, metode, media, bahan ajar, dan lingkungan pembelajaran
• evaluasi dan penilaian yang ditagih kepada peserta didik
• Buku siswa berisi materi yang memadai, bervariasi, mudah dibaca, dan
sesuai dengan kebutuhan siswa
• LKS berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu
kegiatan
• Evaluasi mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Gambar 2.2 Kerangka Penelitian


45

H. Kerangka Konseptual

PEMBELAJARAN DI LAPANGAN HARAPAN

1. Pembelajaran IPA di MTs belum diajarkan Kurikulum benar-benar


secara terpadu, masih terpisah-pisah antara sesuai dengan kebutuhan
pelajaran Biologi, Kimia, dan Fisika pengembangan potensi
berdasarkan data angket responden yang peserta didik di sekolah yang
menyatakan hal ini sebanyak 100%. bersangkutan di masa
2. Sebanyak 96% siswa kelas VIII MTs Negeri sekarang dan yang akan datang dengan
2 Kediri tertarik jika pelajaran IPA dikaitkan mempertimbangkan
dengan dengan permasalahan kehidupan kepentingan lokal, nasional, dan
sehari-hari. tuntutan global dengan semangat
manajemen berbasis sekolah (MBS).

MASALAH

Dibutuhkan perangkat pembelajaran IPA Terpadu SMP yang mampu menyajikan konsep-konsep yang
saling berkaitan sehingga pengetahuan siswa bersifat holistik dan lebih bermakna.

TEORI YANG MENDASARI PENELITIAN YANG RELEVAN

1. Teori Jean Piaget menekankan pada proses 1. Pengembangan Bahan Ajar Tema
asimilasi dan akomodasi. Pestisida Dengan Pendekatan SETS
untuk SMP Kelas VIII.
2. Teori Vygotsky memiliki 4 prinsip kunci, 2. Pengembangan Perangkat
yaitu hakikat sosial, zone of proximal Pembelajaran IPA Terpadu SMP Tipe
development, pemagangan kognitif, dan Webbed pada Tema Bencana Alam di
scaffolding. Kelas VII.
3. Teori Konstruktivisme menyatakan bahwa 3. Pengembangan Perangkat
siswa harus menjadikan informasi itu Pembelajaran IPA Terpadu Tipe
Webbed dengan Tema Otak-Otak
miliknya sendiri.
Bandeng untuk Kelas VIII SMP
4. Teori skema mengarah pada memori Negeri 2 Cerme-Gresik
semantik.
5. Teori motivasi

SOLUSI

Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu Tipe webbed dengan Tema Pengolahan Minyak
Kelapa untuk Siswa SMP Kelas VIII.

Gambar 2.3 Kerangka Konseptual