Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


Sediaan Steril Small Volume Parenteral Suspensi
Triamcinolone 10 mg /mL

Disusun oleh:

Fitriyanti Dwi Rahayu


P17335116016

Dosen Pembimbing:

Angreni Ayuhastuti, M.Si., Apt.

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG

JURUSAN FARMASI

2018
SVP SUSPENSI TRIAMCINOLONE 10 Mg /mL

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu membuat formulasi, melaksanakan pembuatan sediaan dan
melakukan evaluasi sediaan steril injeksi SVP suspensi dengan bahan aktif
Triamcinolone 10 mg/mL

II. PENDAHULUAN
Obat merupakan sedian atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan
untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi
dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatankesehatan, dan kontrasepsi. Obat didefinisikan sebagai suatu zat
yang digunakan dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau
mencegah penyakit pada manusia atau hewan (Ansel, 2014).
Berdasarkan cara pemberiannya, obat dapat diklasifikasikan kedalam 5
jenis yaitu oral, perektal, sublingual, parenteral serta langsung ke organ seperti
intrakardial (Anief, 2006). Berdasarkan beberapa cara pemberian obat diatas,
pemberian obat secara oral merupakan pilihan yang paling banyak digunakan.
Namun pemberian obat secara oral juga memiliki beberapa kelemahan yaitu
tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar dan efek yang diberikan
tidak segera karena obat harus diabsorpsi terlebih dahulu sebelum masuk ke
sistem sistemik, sehingga jika diberikan pada pasien dengan penanganan gawat
darurat pengobatan dengan sediaan oral tidak efektif. Oleh karena itu dibuat
alternatif sediaan parenteral, dimana sediaan parenteral dapat memberikan efek
yang cepat karena obat langsung masuk ke sistem sistemik tanpa mengalami
proses absorpsi terlebih dahulu.
Obat-obatan dapat disuntikkan ke hampir semua organ atau area tubuh,
termasuk sendi (intraartikular), daerah cairan sendi (intrasynovial), tulang
belakang (intraspinal), cairan tulang belakang (intratekal), arteri (intra-arteri),
dan, dalam keadaan darurat, bahkan jantung (intracardiac). Namun, sebagian
besar suntikan masuk ke pembuluh darah (intravena, IV), ke otot
(intramuskular, IM), ke dalam kulit (intradermal, ID; intrakutan), atau di bawah
kulit (subkutan) (Ansel,2014). Dalam praktikum ini, dibuat sediaan parenteral
yang pemberiannya dilakukan secara intravena yaitu injeksi intravena.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk
yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan,
yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui
kulit atau selaput lendir. Definisi steril untuk penggunaan parenteral pada
umumnya tidak berlaku untuk sediaan biologi, karena sifat khusus dan
persyaratan perizinan (Syamsuni, 2006).
Definisi injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah
bertanda volume 100 mL atau kurang (Kemenkes RI, 2014). Pemberian larutan
intravena merupakan rute pemberian cairan obat dalam jumlah besar yang akan
terdistribusi dengan cepat pada keseluruhan tubuh, agar dapat dicapai efek
terapeutik dengan cepat (Goeswin, 2009).
Triamcinolone merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat
glukokortikoid. Aksi kerja glukokortikoid sangatlah luas. Glukokortikoid
memiliki efek anti-inflamasi dan imunosupresif yang kuat, melalui
penghambatan pelepasan berbagai sitokin. Glukokortikoid juga memiliki efek
metabolik yang mendalam, yaitu konsentrasi glukosa darah dipertahankan atau
ditingkatkan oleh penurunan pemanfaatan glukosa perifer dan peningkatan
glukoneogenesis; deposisi glikogen, pemecahan protein, dan lipolisis
meningkat, dan efek pada penyerapan kalsium dan ekskresi menyebabkan
penurunan toko kalsium tubuh. Glukokortikoid memfasilitasi aksi banyak zat
endogen aktif lainnya, dan mempengaruhi fungsi sistem kardiovaskular, ginjal,
otot skelet dan CNS (Sweetman, 2009).
Triamcinolone dilaporkan memiliki waktu paruh dalam plasma sekitar 2
hingga lebih dari 5 jam. Ini terikat dengan albumin plasma ke tingkat yang jauh
lebih kecil daripada hidrokortison. Ester asetonid, diasetat, dan heksaketonida
dari triamsinolon hanya sangat lambat diserap dari tempat injeksi. Bentuk
esternyalah yang digunakan dengan tujuan pengobatan pro-longed effect
dengan rute pemberian memalui Intra-articular, Intra-dermal dan Intra-
muskular. Injeksi intra-artikular dapat digunakan untuk pengobatan misalnya,
pengobatan rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan ankylosing spondylitis.
Injeksi kortikosteroid intra-artikular dan periartikular adalah pengobatan yang
ditetapkan untuk berbagai lesi jaringan lunak dan sendi.1-3 Nyeri dan
peradangan yang berhubungan dengan rheumatoid dan juvenile idiopathic
arthritis, artropati kristal seperti gout, dan osteoarthritis dapat dikurangi dengan
injeksi dari kortikosteroid. Ester yang bekerja lebih lama methylprednisolone
acetate, triamcinolone acetonide, dan triamcinolone hexacetonide umumnya
lebih disukai (Sweetman, 2009).

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Sediaan Parenteral
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi - bagi yang
bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini
antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan preparat irigasi
(misalnya infus). Sediaan parental merupakan jenis sediaan yang unik di
antara bentuk sediaan obat terbagi - bagi, karena sediaan ini disuntikan
melalui kulit atau membran mukosa ke bagian tubuh yang paling efesien,
yaitu membran kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari
kontaminasi mikroba dan dari bahan - bahan toksis lainnya, serta harus
memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Semua bahan dan proses yang
terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk
menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia
atau mikrobiologis (Priyambodo, B., 2007).
Produk steril yang banyak diproduksi di industri farmasi adalah dalam
bentuk larutan terbagi (ampul) dan bentuk serbuk padat siap untuk digunakan
dengan diencerkan terlebih dahulu dengan larutan pembawa (vial). Sediaan
parental, bisa diberikan dengan berbagai rute : intra vena (i.v), sub cutan (s.c),
intradermal, intramuskular (i.m), intra articular, dan intrathecal. Bentuk
sediaan sangat mempengaruhi cara (rute) pemberian. Sediaan bentuk
suspensi, misalnya tidak akan pernah diberikan secara intravena yang
langsung masuk ke dalam pembuluh darah karena adanya bahaya hambatan
kapiler dari partikel yang tidak larut, meskipun suspensi yang dibuat telah
diberikan dengan ukuran partikel dari fase dispersi yang dikontrol dengan hati
- hati. Demikian pula obat yang diberikan secara intraspinal (jaringan syaraf
di otak), hanya bisa diberikan dengan larutan dengan kemurnian paling tinggi,
oleh karena sensivitas jaringan syaraf terhadap iritasi dan kontaminasi
(Priyambodo, 2007).
3.2 Small Volume Parenteral
Larutan Parenteral Volume Kecil (Small Volume Parenteral/SVP) adalah
injeksi yang dikemas menurut label pada kemasan, mengandung 100 mL atau
kurang. Termasuk ke dalam kategori SVP adalah kemasan injeksi dalam
ampul, vial, alat suntik, cartridges, vial, atau kemasan lain dengan kapasitas
volume 100 mL atau kurang. Formulasi sediaan parenteral volume kecil relatif
sederhana : berbahan aktif, eksipien yang digunakan untuk berbagai tujuan,
sistem pelarut (lebih disukai air), dan kemasan serta penutup kemasan yang
sesuai (Goeswin, 2009).
SVP meliputi semua tipe produk parenteral, untuk aplikasi topikal
oftalmik, atau injeksi menrut berbagai rute (Goeswin, 2009) :
1. Rute primer : i.m. (intramuskular), i.v. (intravena), s.c. (subcutan).
2. Rute sekunder : hiper dermoklisis, intraperitonial, intraarterial,
intraartikular, intra kardiak, intrasisternal, intradermal, intralesional,
intraokular, intrapleural, intratekal, intrauterin, intraventrikular.
Penggunaan utama SVP (Goeswin, 2008).
1. Injeksi Terapeutik
Termasuk dalam injeksi terapeutik ini adalah injeksi antiinfeksi, steroid,
hormon, vitamin, agen kardiovaskular, barbiturat, agen CNS, protein, dan
bermacam-macam obat lainnya. Injeksi biasanya berupa larutan yang
mengandung bahan tambahan.
2. Produk Oftalmik
Produk oftalmik berbentuk obat dalam larutan, suspensi, gel atau salap,
diberikan secara topikal pada permukaan kornea mata. Termasuk produk
oftalmik adalah larutan pencuci dalam ukran SVP. Sediaan oftalmik harus
steril. Karena dipakai secara topikal, tidak disyaratkan bebas pirogen.
Salap mata harus steril, bebas dari partikel logam, dan dikemas dalam tube
untuk menjaga sterilitas. Karena sediaan oftalmik merupakan sediaan dosis
ganda, harus ditambahkan pengawet antimikroba.
3. Agen Diagnostik Termasuk Diagnostik Radio Farmasetika
Produk ini terutama digunakan untuk evaluasi fungsi organ. Kebanyakan
produk digunakan dalam waktu singkat (beberapa jam) sesudah dibuat
karena waktu paruhnya sangat singkat. Walaupun umumnya tidak
dilakukan pengujian karena segera digunakan, produk disyaratkan steril
dan bebas pirogen.
4. Ekstrak Alergenik
Ekstrak alergenik adalah konsentrat steril (larutan atau suspensi) dari zat
(alergan) yang bertanggung jawab terhadap sensitivitas pada manusia,
dapat digunakan untuk tujuan terapeutik atau diagnostik. Ekstrak
berbentuk cair (cairan garam fisiologis sebagai pengencer) atau gliserin
(50% gliserin sebagai pengencer). Disterilkan dengan cara penyaringan
aseptik.
Karakteristik dasar SVP (Goeswin, 2009)
1. Sterilitas
2. Bebas pirogen
3. Bebas dari partikel partikulat
4. Stabilitas (stabil secara fisika dan kimia)
5. Isotonisitas
3.3 Keuntungan dan Kerugian Sediaan Injeksi
Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi (Syamsuni, 2006) :
Keuntungan :
1. Bekerja cepat, misalnya injeksi adrenalin pada syok anafilaksis.
2. Dapat digunakan untuk obat yang rusak jika masuk ke cairan lambung
atau tidak diabsorpsi baik oleh cairan lambung.
3. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin.
4. Dapat digunakan sebagai depo terapi.
Kerugian
1. Karena bekerja cepat, jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan
pencegahan.
2. Cara pemberian lebih sukar, harus memakai tenaga khusus.
3. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan.
4. Secara ekonomis lebih mahal dibandingkan dengan sediaan yang
digunakan per oral.
3.4 Triamcinolone
Triamcinolone merupkan obat yang termasuk ke dalam golongan
obat glukokortikoid. Aksi kerja glukokortikoid sangatlah luas.
Glukokortikoid memiliki efek anti-inflamasi dan imunosupresif yang kuat,
melalui penghambatan pelepasan berbagai sitokin. Glukokortikoid juga
memiliki efek metabolik yang mendalam, yaitu konsentrasi glukosa darah
dipertahankan atau ditingkatkan oleh penurunan pemanfaatan glukosa
perifer dan peningkatan glukoneogenesis; deposisi glikogen, pemecahan
protein, dan lipolisis meningkat, dan efek pada penyerapan kalsium dan
ekskresi menyebabkan penurunan toko kalsium tubuh. Glukokortikoid
memfasilitasi aksi banyak zat endogen aktif lainnya, dan mempengaruhi
fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot skelet dan CNS (Sweetman,
2009).
Triamcinolone dilaporkan memiliki waktu paruh dalam plasma
sekitar 2 hingga lebih dari 5 jam. Ini terikat dengan albumin plasma ke
tingkat yang jauh lebih kecil daripada hidrokortison. Ester asetonid,
diasetat, dan heksaketonida dari triamsinolon hanya sangat lambat diserap
dari tempat injeksi. Bentuk esternyalah yang digunakan dengan tujuan
pengobatan pro-longed effect dengan rute pemberian memalui Intra-
articular, Intra-dermal dan Intra-muskular. Injeksi intra-artikular dapat
digunakan untuk pengobatan misalnya, pengobatan rheumatoid arthritis,
osteoarthritis, dan ankylosing spondylitis. Injeksi kortikosteroid intra-
artikular dan periartikular adalah pengobatan yang ditetapkan untuk
berbagai lesi jaringan lunak dan sendi.1-3 Nyeri dan peradangan yang
berhubungan dengan rheumatoid dan juvenile idiopathic arthritis, artropati
kristal seperti gout, dan osteoarthritis dapat dikurangi dengan injeksi dari
kortikosteroid. Ester yang bekerja lebih lama methylprednisolone acetate,
triamcinolone acetonide, dan triamcinolone hexacetonide umumnya lebih
disukai (Sweetman, 2009).
Dosis Triamcinolone Acetonide injeksi (Aberg dkk, 2009).
1. Untuk intra-articular, intra-bursal, dan tebdon sheats (dewasa) :
 Sendi kecil : 2,5-5 mg mungkin bias mencapai 10 mg.
 Sendi besar : 5-15 mg mungkin bias mencapai 40 mg.
2. Untuk intra-dermal (dewasa) : 1 mg
3. Untuk intra-muskular, rata-rata : 2,5-100 mg/hari
 Anak-anak (initial age) : 0,11-1,6 mg/kg/hari dalam dosis
terbagi 3-4 kali sehari.
 Anak-anak (6-12 tahun) : 40 mg.
 Anak-anak >12 tahun dan dewasa : 60 mg.
 Demam/pollen asthma : 40-100 mg (single injection).
 Multiple sclerosis (acute exacerbation) : 160 mg setiap hari
selama 1 minggu dilanjut dengan 64 mg setiap hari selama 1
minggu.
IV. FORMULASI
1. Triamcinolone Acetonide

Struktur

BM : 434,5
Pemerian Serbuk hablur, putih sampai krim, berbau sangat lemah
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1286).
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol
mutlak, dalam kloroform dan methanol.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1286).
Stabilitas
 Panas Pada suhu 80ºC selama 8 jam, Triamcinolone Acetonide
terdegradasi sebesar 4,90 ± 0,10%
(dalam jurnal Stability Indicating HPTLC Determination of
Triamcinolone Acetonide in Bulk and Sterile Injectable
Suspension)
 Hidrolisis Dalam larutan asam pada suhu 80ºC selama 8 jam akan
terdegredasi sebesar 6.98 ± 0,15%
(dalam jurnal Stability Indicating HPTLC Determination of
Triamcinolone Acetonide in Bulk and Sterile Injectable
Suspension)
 Oksidasi Harus terlindung dari paparan oksigen.
(The Pharmaceutical Codex, hlm 1080)
 Cahaya Harus terhindari dari paparan cahaya langsung
(The Pharmaceutical Codex, hlm 1080)
 pH Stabil pada pH 3,5-4,2
(The Pharmaceutical Codex, hlm 1080)
pH sediaan Sedian suspense memiliki pH 5,0-7,5
berdasarkan (USP 30 – NF 25)
farmakope
Kesimpulan :
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : ester
Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : suspense
Cara sterilisasi sediaan :
Panas basah dengan autoklaf pada suhu 121ºC selam 15 menit pada tekanan 15 psig
Kemasan :
Glass container tipe I (Borosilikat)
Eksipien

2. Sodium Metabisulfit

Rumus Kimia Na2S2O5 (BM : 190,10)


Pemerian Kristal prisma yang tidak berwarna atau seperti bubuk
kristal putih hingga krem-putih yang memiliki bau sulfur
dioksida dan rasa asam, garam. Natrium metabisulfit
mengkristal dari air dingin sebagai hidrat yang mengandung
tujuh molekul air
(HOPE Edisi 6, hlm 654, pdf)
Kelarutan Mudah larut dalam air. Sedikit larut dalam etanol 96%.
(British Pharmacopeia, hlm 5509 pdf)
Stabilitas Pada paparan udara dan kelembaban, natrium metabisulfit
secara perlahan teroksidasi menjadi natrium sulfat.
Penambahan asam kuat ke dalam padatan dapat
melepaskan sulfur dioksida.Dalam air, natrium metabisulfit
segera dikonversi menjadi ion natrium dan bisulfit. Larutan
metabisulfit juga terurai di udara, terutama pada
pemanasan. Solusi yang dilakukan harus disterilisasi
dengan autoklaf harus diisi kontainer di mana udara telah
diganti dengan gas lembam, seperti itu sebagai nitrogen.
Harus disimpan dalam wadah tertutup dengan baik,
terlindung dari cahaya, di tempat yang sejuk dan kering.
(HOPE Edisi 6, hlm 654, pdf)
Kegunaan Antioksidan
(HOPE Edisi 6, hlm 654 pdf)
Inkompatibilitas Natrium metabisulfit bereaksi dengan simpatomimetik dan
obat lain yang merupakan turunan orto-atau para-
hydroxybenzyl alkohol untuk membentuk turunan asam
sulfonat yang memiliki sedikit atau tidak ada aktivitas
farmakologis. Obat-obat yang paling penting yang harus
diinaktivasi ini adalah epinefrin (adrenalin) dan turunannya.
Selain itu, natrium metabisulfit tidak sesuai dengan
kloramfenikol karena reaksi yang lebih kompleks, juga
menginaktivasi cisplatin dalam larutan. Natrium
metabisulfit tidak sesuai dengan phenylmercuric asetat
ketika diautoklaf dalam persiapan tetes mata.
(HOPE Edisi 6, hlm 654 pdf)

3. CMC-Na

Rumus Kimia [9004-32-4]


Pemerian Karboksimetilselulosa natrium berwarna putih sampai
hampir putih, tidak berbau, tidak berasa, butiran granular.
Sedikit higroskopik.
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 119. Pdf)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam aseton, etanol (95%), eter,dan
toluene. Mudah tersebar di air pada semua suhu,
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 120. Pdf)
Stabilitas Di bawah kondisi kelembaban tinggi, natrium
karboksimetilselulosa dapat menyerap sejumlah besar (>
50%) air. Dalam larutan berair stabil pada pH 2–10;
presipitasi dapat terjadi di bawah pH 2, dan viskositas
larutan menurun dengan cepat di atas pH 10. Umumnya,
larutan menunjukkan viskositas maksimum dan stabilitas
pada pH 7-9.
Karboksimetilselulosa natrium dapat disterilisasi dalam
keadaan kering dengan mempertahankannya pada suhu
160ºC selama 1 jam. Namun, proses ini menghasilkan
penurunan viskositas yang signifikan dan beberapa
penurunan sifat larutan yang dibuat dari bahan yang
disterilkan.
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 120. Pdf)
Kegunaan Coating agent; stabilizing agent; suspending agent; tablet
and capsule disintegrant; tablet binder; viscosity-
increasing agent; water-absorbing agent.
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 119. Pdf)
Inkompatibilitas Karboksimetilselulosa natrium tidak sesuai dengan larutan
asam kuat dan dengan garam terlarut dari besi dan beberapa
logam lain, seperti aluminium, merkuri, dan seng. Ini juga
tidak sesuai dengan permen xanthan. Presipitasi dapat
terjadi pada pH <2, dan juga ketika dicampur dengan etanol
(95%). Carboxymethylcellulose sodium membentuk
coacervates kompleks dengan gelatin dan pektin. Ini juga
membentuk kompleks dengan kolagen dan mampu memicu
protein tertentu yang bermuatan positif
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 120. Pdf)

4. Natrium Klorida

Pemerian Serbuk Kristal putih tidak berwarna, rasa asin, hablur


berbentuk kubus
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 903).
Kelarutan Sedikit larut dalam ethanol, 1 : 10 dalam glycerin, 1 : 250
dalam ethanol 95%, 1 : 2,8 dalam air, 1 : 2,6 dalam air suhu
100⁰C
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 903).
Stabilitas Stabil terhadap panas dan dapat disterilisasi dengan metode
panas lembab menggunakan autoklaf, stabil terhadap cahaya,
stabil terhadap pH injeksi 4,5 – 7,0
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 903).
Kegunaan Bahan Pengisotonis
Inkompatibilitas Larutan natrium klorida bersifat korosid terhadap zat besi.
Bereaksi membentuk endapan garam perak, timbal dan
merkuri. Zat pengoksidasi kuat dapat membebaskan klorin
dari larutan natrium yang diasamkan klorida. Kelarutan metil
paraben sebagai pengawet antimikroba dapat menurunkan
kelarutan natrium hidroksida. Viskositas gel karbomer dan
larutan hidroksietil selulosa dikurangi dengan penambahan
natrium klorida
(Handbook of Pharmaceutical Exipients Edisi 2009, hlm 63).
Cara Sterilisasi Bahan Dengan menggunakan autoklaf (sterilisasi panas lembab) pada
suhu 121⁰C selama 15 menit.

5. Asam Sitrat

Pemerian Kristas tidak berwarna atau transparan, Kristal putih, tidak


berbau, mempunyai rasa asam yang kuat
(HOPE Edisi 6, hlm 181. pdf).
Kelarutan Larut dalam kurang dari satu bagian air.
(HOPE Edisi 6, hlm 181. pdf).
Stabilitas Asam sitrat monohidrat kehilangan air kristalisasi di udara
kering atau ketika dipanaskan sampai sekitar 408C. Sedikit
kering di udara lembab. Bahan monohidrat atau anhydrous
harus disimpan dalam wadah kedap udara di tempat yang
sejuk dan kering
(HOPE Edisi 6, hlm 182. pdf).
Kegunaan Pendapar
Inkompatibilitas Asam sitrat tidak sesuai dengan kalium tartrat, alkali dan basa
karbonat alkali dan bikarbonat, asetat, dan sulfida.
Ketidakcocokan juga termasuk oksidator, basa, reduktor, dan
nitrat. Ini berpotensi meledak dalam kombinasi dengan nitrat
logam. Pada penyimpanan, sukrosa dapat mengkristal dari
sirup dengan adanya asam sitrat.
(HOPE Edisi 6, hlm 182. pdf).
Cara Sterilisasi Bahan Dengan menggunakan autoklaf (sterilisasi panas lembab) pada
suhu 121⁰C selama 15 menit.

6. Natrium Sitrat

Pemerian Tidak berbau, tidak berwarna, monoklinik Kristal atau serbuk


Kristal putih dengan rasa garam
(HOPE Edisi 6, hlm 640. pdf).
Kelarutan Larut dalam 1,5 bagian air, larut dalam 0,6 bagian air
mendidih, praktis tidak larut dalam etanol 95%.
(HOPE Edisi 6, hlm 640. pdf).
Stabilitas Sodium sitrat dihidrat adalah bahan stabil. Larutan berair
dapat disterilisasi dengan autoklaf. Pada penyimpanan, larutan
berair dapat menyebabkan pemisahan partikel padat kecil dari
wadah kaca. Bahan curah harus disimpan dalam wadah kedap
udara di tempat yang sejuk dan kering.Stabil pada pH injeksi
4,5 – 7,0
(HOPE Edisi 6, hlm 640. pdf).
Kegunaan Pendapar
Inkompatibilitas Larutan berair sedikit bersifat basa dan akan bereaksi dengan
zat asam. Garam alkaloid dapat diendapkan dari larutan berair
atau hidro-alkohol. Garam kalsium dan strontium akan
menyebabkan pengendapan dari sitrat yang sesuai.
Ketidakcocokan lainnya termasuk basa, reduktor, dan
oksidator
(HOPE Edisi 6, hlm 641. pdf).
Cara Sterilisasi Bahan Dengan menggunakan autoklaf (sterilisasi panas lembab) pada
suhu 121⁰C selama 15 menit.

7. Benzalkonium klorida

Pemerian Putih atau putih kekuningan, tidak berbentuk serbuk,


berbentuk seperti gelatin
(HOPE Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam eter, sangat larut dalam aseton,
etanol 95%, metanol, propanol dan air
(HOPE Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)
Stabilitas
 Panas Dapat disterilisasi dengan menggunakan autoklaf (HOPE
Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)
 Hidrolisis/oksid Stabil dalam bentuk larutan
asi (HOPE Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)
Harus terlindung dari cahaya
 Cahaya (HOPE Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)

 pH efektivitas 4-10
antimikroba (HOPE Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)
injeksi
Kegunaan Pengawet antimikroba
(HOPE Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)
Inkompabilitas Tidak kompatibel dengan aluminium, surfaktan anionik,
sitrat, kapas, fluorescein, hidrogen peroksida,
hypromellose, iodida, kaolin, lanolin, nitrat, surfaktan
nonionik dalam konsentrasi tinggi, permanganat, protein,
salisilat, garam perak, sabun, sulfonamida, tartrat, seng
oksida, seng sulfat, beberapa campuran karet, dan
beberapa campuran plastik
(HOPE Edisi 6 2009, hlm. 56 pdf)

8. Aqua pro injeksi

Pemerian Cairan jenrnih, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.
Dimurnikan dengan cara destilasi atau reverse osmosis. Tidak
mengandung zat tambahan lain
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 764 pdf)
Kelarutan Dapat berampur dengan pelarut polar lainnya.
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 764 pdf)
Stabilitas pH untuk digunakan pada sediaan injeksi 5,0 -7,0.
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 764 pdf)
Kegunaan Pembawa
(HOPE Edisi 6 2009, hlm 764 pdf)
Inkompabilitas (Tidak ditemukan di pustaka HOPE Edisi 6, 2009)

V. PENDEKATAN FORMULA

No. Nama Bahan Jumlah (%) Kegunaan


1. Triamcinolone 1,266 b/v Bahan Aktif
Acetonide
2. Sodium Metabisulfit 0,01 b/v Antioksidan
3. NaCl 0,1789 b/v Bahan Pengisotonis
4. Benzalkonium klorida 0,01 b/v pengawet
5. CMC-Na 0,75 b/v Suspending agent
6. Asam sitrat 0,6178 b/v dapar
7. Natrium sitrat 0,1499 b/v Dapar
8. Aqua pro injeksi Ad 100 b/v Pembawa

VI. PERHITUNGAN TONISITAS, OSMOLARITAS, DAPAR

Perhitungan Dapar
pH stabilitas : 3,5-4,2
pH target sediaan : 4
pKa : 4,761
Mr. Asam sitrat : 210,14
Mr Na-sitrat : 294,10

[𝐴]
pH = pKa + log [𝐻𝐴]
[𝐴]
4 = 4,761 + log [𝐻𝐴]
[𝐴]
-0,761 = log [𝐻𝐴]
[𝐴]
0,1734 = [𝐻𝐴]
[A] = 0,1734 [HA]

[𝐾𝑎]×[𝐻+]
ß = C × 2,303 × ([𝐾𝑎]+[𝐻+])²
[10ˉ4 ´⁷⁶¹]×[10ˉ⁴]
0,01 = C × 2,303 × ([10ˉ4 ´⁷⁶¹]+[10ˉ⁴])²
0,01 = C × 2,303 × 0,1259
C = 0,0345

C = [A] + [HA]
0,0345= 0,1734 [HA] + [HA]
0,0345= 1,1734 [HA]
[HA] = 0,0294 M

[A] = 0,1734 [HA]


[A] = 0,1734 × 0,0294
[A] = 5,0983 × 10ˉ³ M

Asam sitrat
𝑔 1000
M = 𝑀𝑟 × 𝑉
𝑔 1000
0,0294 = 210,14 × 150
g = 0,9268
0,9268 𝑔
% = × 100% = 0,6178%
150 𝑚𝐿
Natrium sitrat
𝑔 1000
M = 𝑀𝑟 × 𝑉
𝑔 1000
5,0983 × 10ˉ³ = 294,10 × 150
g = 0,2249
0,2249 𝑔
% = × 100% = 0,1499%
150 𝑚𝐿

Perhitungan Tonisitas
Kesetaraan : Triamcinolone : 394,5
Triamcinolone Acetonide : 434,5
434,5
= 1,10167
394,4
Triamcinolone Acetonide : 1,10167 × 10 mg/mL = 11,0167 mg/mL
Kadar kemurnian Triamcinolone Acetonide
Triamcinolone Acetonide untuk injeksi mengandung Triamcinolone Acetonide
tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 115%, perhitungan bahan aktif
dilebihkan 15%.
Triamcinolone Acetonide = 11,0167 mg/mL
Dalam 10 mL = 11,0167 mg/mL × 10 mL
= 110,167 mg
Dilebihkan 15% = 110,167 mg + (15% x 110,167 mg)
= 126,6921 mg / 10mL
= 1266,921 mg/100mL
1,2669 𝑔
% (dalam persen) = × 100% = 1,2669%
100 𝑚𝐿
Tonisitas
1. Triamcinolone Acetonide
Non-elektrolit = Liso = 1,9
BM = 434,5
17 ×Liso 17 ×1,9
E = = = 0,0743%
𝐵𝑀 434,5

E dalam formula = 0,0743% × 1,2669% = 0,0941%

2. Sodium Metabisulfit
Nilai E = 0,67% / 1%
E dalam formula =E×C
= 0,67% × 0,1%
= 0,067%
3. Benzalkonium klorida
Nilai E = 0,16% / 1%
E dalam formula =E×C
= 0,16% × 0,01%
= 0,0016%
4. CMC-Na
Nilai E = 0,03% / 1%
E dalam formula =E×C
= 0,03% × 0,75%
= 0,0225%
5. Asam sitrat
Nilai E = 0,18% / 1%
E dalam formula =E×C
= 0,18% × 0,6178%
= 0,1112%
6. Natrium sitrat
Nilai E = 0,31% / 1%
E dalam formula =E×C
= 0,31% × 0,1499%
= 0,0465%
7. Total nilai E = 0,0941% + 0,067% + 0,0016% + 0,0225% +
0,1112% + 0,0465%
= 0,3429%
8. NaCl yang dibutuhkan = 0,9% - 0,3429% = 0,5571%

Perhitungan Dosis
Untuk injeksiIntra-articular, intra-bursal, tendon sheats
2,5 𝑚𝑔
Sendi kecil : 110,167 𝑚𝑔 × 10 mL = 0,2269 mL
5 𝑚𝑔
× 10 mL = 0,4539 mL
110,167 𝑚𝑔
5 𝑚𝑔
Sendi besar : 110,167 𝑚𝑔 × 10 mL = 0,4539 mL
15 𝑚𝑔
× 10 mL = 1,3616 mL
110,167 𝑚𝑔
1 𝑚𝑔
Untuk intra-dermal (dewasa) : × 10 mL = 0,0908 mL
110,167 𝑚𝑔
2,5 𝑚𝑔
Untuk intra-muskular (rata-rata) : × 10 mL = 0,2269 mL
110,167 𝑚𝑔
100 𝑚𝑔
× 10 mL = 9,0771 mL
110,167 𝑚𝑔

 Anak-anak (Initial age)


0,11 𝑚𝑔
× 10 mL = 0,01 mL/kg/ hari (dosis terbagi 3-4 kali sehari)
110,167 𝑚𝑔
1,6 𝑚𝑔
× 10 mL = 0,1452 mL/kg/ hari (dosis terbagi 3-4 kali sehari)
110,167 𝑚𝑔

 Anak-anak (6-12 tahun)


40 𝑚𝑔
× 10 mL = 3,6309 mL
110,167 𝑚𝑔

 Anak-anak >12 tahun dan dewasa


60 𝑚𝑔
× 10 mL = 5,4463 mL
110,167 𝑚𝑔

Untuk demam/ pollen asthma


40 𝑚𝑔
× 10 mL = 3,6309 mL
110,167 𝑚𝑔
100 𝑚𝑔
× 10 mL = 9,0771 mL
110,167 𝑚𝑔
Untuk multiple selerosis (acute exacerbation
160 𝑚𝑔
× 10 mL = 14,5234 mL (selama 1 minggu), dilanjut dengan
110,167 𝑚𝑔
64 𝑚𝑔
× 10 mL = 5,8094 mL (setiap hari selama 1 minggu)
110,167 𝑚𝑔

Volume pemberian
1. Untuk injeksi IA, IB dan tendon sheats :
Sendi kecil : 0,2269 mL – 0,4539 mL, bisa mencapai 0,9077 mL.
Sendi besar : 0,4539 mL – 1,3616 mL, bisa mencapai 3,630 mL.
2. Untuk intra-dermal : 0,0908 mL
3. Untuk IM , rata-rata : 0,2269 mL – 9,0771 mL
Anak-anak (initial age) : 0,01 mL/kg/hari - 0,1452 mL/kg/hari
dosis terbagi 3-4 kali
Anak-anak 6-12 tahun : 3,6309 mL
Anak-anak < 12 tahun dan dewasa : 5,4463 mL
Demam / pollen asthma : 3,6309 mL – 9,0771 mL
Multiple sclerosis : 14,5234 mL selama 1 minggu dan dilanjut
dengan 5,8094 mL setiap hari selama 1
minggu.

VII. PENIMBANGAN
Dibuat 6 vial (@ 10 mL) = 6 x 10 mL = 60 mL
Dilebihkan 0,7 mL @vial = 10 mL + 0,7 mL = 10,7 mL
Untuk 6 vial = 6 × 10,7 mL = 64,2 mL ~ 100 mL
Penimbangan dibuat sebanyak 100 mL berdasarkan pertimbangan volume
terpindahkan dan kehilangan selama proses produksi.

No. Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang

1 Triamcinolone Acetonide 434,5


Kesetaraan = 394,4 = 1,10167

1,10167 × 10 mg/mL = 11,0167 mg/mL

Dalam 10 mL = 11,0167 mg/mL × 10 mL

= 110,167 mg
Dilebihkan 15% =110,167mg+ (15% x 110,167
mg)

= 126,6921 mg / 10mL

= 1266,921 mg/100mL

= 1,2669 g
0,1 gram
2. Sodium Metabisulfit 0,01% 100 ml
𝑥 100 ml = 0,1 g
0,01 gram
3. Benzalkonium klorida 0,01% 100 ml
𝑥 100 ml = 0,01 g
0,75 gram
4. CMC-Na 0,75% 100 ml
𝑥 100 ml = 0,75 g
0,6178 gram
5. Asam sitrat 0,6178% 100 ml
𝑥 150 ml = 0,6178 g
0,1499 gram
6. Natrium sitrat 0,1499% 100 ml
𝑥 150 ml = 0,1499 g
0,5571 gram
7. NaCl 0,5571% 100 ml
𝑥 100 ml = 0,5571 g
Ad 150 mL (untuk dapar)
4. Aqua pro injeksi

VIII. STERILISASI
a. Alat

Nama Alat Cara Sterilisasi Waktu Sterilisasi Jumlah

Beaker glass 1000 ml Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1


Beaker glass 50 ml Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 2
Panas lembab.
Gelas ukur 250 ml Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Panas lembab.
Gelas ukur 10 ml Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Batang pengaduk Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 2
Corong kaca Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1
Kaca arloji Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 5
Spatel Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 4
Buret Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1
Panas lembab.
Membran filter 0,22 µm Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Panas lembab.
Membran filter 0,45 µm Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Panas lembab.
Labu erlenmeyer 500 ml Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 1
Panas lembab.
Pipet tetes Autoklaf 121oC, 15 menit, 15 psi 3
Tutup karet pipet tetes Desinfeksi Direndam alkohol 70%, 24 jam 3
Cawan penguap Panas kering, Oven 170oC, 60 menit 1

b. Wadah

No. Nama wadah Jumlah Cara sterilisasi (lengkap)


1. Wadah OTM 1
Direndam dengan cairan desinfektan
selama 24 jam.
Direndam dengan cairan desinfektan
2. Tutup wadah OTM 1 selama 24 jam
3. Vial 5 Panas kering, Oven, 170oC, 60 menit
4. Tutup karet vial 6 Desinfeksi, direndam alkohol 70%, 24 jam

IX. PROSEDUR PEMBUATAN


RUANG PROSEDUR
1. Semua alat dan wadah dicuci bersih, dibilas dengan aquadest
Grey Area dan dikeringkan
(Sterilisasi Alat) 2. Semua alat dan bahan disterilisasi dengan cara sterilisasi yang
sesuai.
3. Setelah sterilisasi, semua alat dimasukkan ke dalam pass box
untuk dipindahkan ke white area.
Bahan - bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan suspensi
White Area injeksi ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik yang
(Ruang Penibangan) sudah dikalibrasi.
1. Triamcinolon acetonide ditimbang sebanyak 1,2669 gram
pada kaca arloji steril tertutup dan diberi label nama dan
jumlah bahan.
2. CMC-Na ditimbang sebanyak 0,75 gram pada kaca arloji steril
tertutup dan diberi label nama dan jumlah bahan,
penimbangan langsung.
3. Benzalkonium klorida ditimbang sebanyak 0,01 gram pada
kaca arloji ditutup menggunakan alumuniun foil dan diberi
label nama dan jumlah bahan.
4. Natrium metabisulfit ditimbang sebanyak 0,1 gram pada kaca
arloji ditutup menggunakan alumuniun foil dan diberi label
nama dan jumlah bahan
5. Asam sitrat ditimbang sebanyak 0,9267 gram pada kaca arloji
ditutup menggunakan alumuniun foil dan diberi label nama
dan jumlah bahan
6. Natrium sitrat ditimbang sebanyal 0,2249 gram pada kaca
arloji ditutup menggunakan alumuniun foil dan diberi label
nama dan jumlah bahan
7. Natrium Klorida ditimbang sebanyak 0,5571 gram pada kaca
arloji steril tertutup dan diberi label nama dan jumlah bahan.
8. Setelah dilakukan penimbangan, bahan-bahan dimasukkan
kedalam pass box yang berada di ruang penimbangan untuk
diambil di ruang dispensing.
White Area Bahan - bahan diambil dari passbox. Meja kerja dibagi menjadi 3
Grade A Background area yaitu area bersih, rung kerja dan ruang kotor. Meja kerja
C dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan desinfektan.
(Ruang Pembuatan dapar “
Pencampuran) 1. Asam sitrat sebanyak 0,9267 g dilarutkan dalam 10 mL aqua
pro injeksi di gelas kimia 250 mL
2. Natrium sitrat sebanyak 0,2249 g dilarutkan dalam 10 mL
aqua pro injeksi di gelas kimia 50 mL. kemudian dituangkan
ke dalam gelas kimia utama. Bilas dengan 5 ml aqua pro
injeksi sebanyak 2 kali.
3. Tambahkan aqua pro injeksi mencapai 80% ke dalam gelas
kimia utama.
4. pH dapar dicek dengan pH meter.
5. Jika sudah sesuai. Maka larutan dituangkan ke dalam labu
ukur 150 mL, tambahkan qua pro injeksi ad tanda batas.

Pencampuran bahan :
1. Sejumlah air dipanaskan untuk memanaskan mortir dan
stamper.
2. Dapar sitrat dipanaskan sebanyak 15 mL.
3. CMC-Na sebanyak 0,75 gram dimasukan ke dalam mortir
panas lalu tuangkan dapar sitrat yang sudah dipanaskan,
digerus ad terbentuk mucilago.
4. Natrium betabisulfit sebanyak 0,1 gram dilarutkan dengan
dapar sitrat sebanyak 10 ml dalam gelas kimia 50 ml, diaduk
hingga larut. Larutan natrium metabisulfit ditambahkan
kedalam mortir, gelas kimia dibilas dengan 2 ml dapar sitrat
sebanyak 2 kali kemudian diaduk hingga homogen.
5. Benzalkonium klorida sebanyak 0,01 gram dilarutkan dengan
dapar sitrat sebanyak 10 ml dalam gelas kimia 50 ml, diaduk
hingga larut. Larutan Benzalkonium klorida ditambahkan
kedalam mortir, gelas kimia dibilas dengan 2 ml dapar sitrat
sebanyak 2 kali kemudian diaduk hingga homogen.
6. Natrium Klorida sebanyak 0,5771 gram dilarutkan dengan
dapar sitrat sebanyak 10 ml dalam gelas kimia 50 ml, diaduk
hingga homogen. Larutan Natrium Klorida dimasukkan
kedalam mortir, gelas kimia dibilas dengan 2 ml dapar sitrat
sebanyak 2 kali kemudian diaduk hingga homogen.
7. Campuran yang ada pada mortir dituangkan ke dalam gelas
kimia 100 mL. triamcinolone acetonide ditambahkan ke dalam
gelas kimia tersebut sedikit demi sedikit sambil diaduk ad
larut.
8. Campuran yang ada pada mortir dituangkan ke dalam gelas
kimia 100 mL, tambahkan dapar sitrat ad 70% kemudian
dilakukan pengecekan pH.
9. Campuran yang ada pada gelas kimia 100 kemudian
ditransfer ke ruang filling dengan transfer box.
White Area 1. Campurat yang ada pada gelas kimia 100 mL dituangkan
(ruang Fillimg) kedalam labu ukur 100 mL, kemudian ditambahkan dapar
Grade A background sitrat ad tanda batas.
B 2. Setelah diaduk homogen, larutan suspensi dituang kedalam
vial steril sebanyak 10,7 ml dengan menggunakan syring 15
ml steril.
3. Vial ditutup dengan rubber stopper dan aluminium cap hingga
rapat kemudian ditransfer ke ruang sterilisasi dengan transfer
box.
1. Vial ditutup dengan tutup karet. Dilanjutkan dengan tutup vial
White Area aluminium, setelah itu dimasukkan ke dalam mesin untuk
(Ruang Capping mengencangkan penutup aluminium.
Alumunium Foil) 2. Sediaan ditransfer ke ruang sterilisasi dengan transfer pass
box.
White Area 1. Dilakukan evaluasi sediaan.
(Ruang Evaluasi) 2. Sediaan diberi etiket dan brosur kemudian dikemas dalam
wadah sekunder.

X. DATA PENGAMATAN EVALUASI

Evaluasi Fisika
1. a. Jenis evaluasi : Uji pH
b. Prinsip evaluasi :Pengukuran pH menggunakan pH meter
(Potensiometri) yang mampu mengukur skala
dengan harga pH mencapai 0,02 unit pH.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1563).
c. Prosedur evaluasi :
Pembakuan pH meter
1) Dua larutan dapar dipilih untuk pembakuan pH meter.
2) Sel diisi dengan salah satu larutan dapar untuk pembakuan pada
suhu larutan uji yang akan diukur
3) Suhu larutan dikontrol, dikalibrasi untuk membuat pH identic sesuai
dengan yang tercantum pada table.
4) Elektroda dan sel dibilas beberapa kali dengan larutan dapar untuk
pembakuan kedua.
5) Sel diisi dengan larutan tersebut pada suhu yang sama dengan
larutan uji
6) Harga pH dibaca.

Pengukuran pH larutan uji


1) Elektroda dan sel dibilas beberapa kali dengan larutan uji
2) Sel diisi dengan sedikit larutan uji
3) Harga pH dibaca.
d. Jumlah sampel : 1 vial
e. Persyaratan : pH berada pada rentang 3,5-4,2
f. Hasil pengamatan : Pengukuran pH
1 4,31
2 4,29
3 4,32
Rata-rata ± SD 4,3062 ± 0,0125

g. Kesimpulan : tidak memenuhi syarat.


2. a. Jenis evaluasi : Uji kebocoran
b. Prinsip evaluasi :Untuk sediaan bening tidak berwarna : wadah
taaran tunggal yang masih panas setelah
disterilkan, dimasukkan ke dalam larutan metilen
blue 0,1%. Jika ada wadah bocor maka larutan
metilen blue akan masuk ke dalam karena
perubahan tekanan di luar dan didalam wadah
tersebut.
(Goeswin, 2009).
c. Prosedur evaluasi :
Untuk larutan tidak berwarna
1) Wadah tekanan tunggal yang masih panas setelah proses sterilisasi
dimasukkan ke dalan larutan metilen biru.
2) Jika ada kebocoran maka larutan larutan metilen biru akan masuk ke
dalam karena perubahan tekanan di luar dan di dalam wadah
tersebut sehingga larutan akan berubah menjadi warna biru.
Untuk larutan berwarna
1) Dilakukan dengan membalikkan posisi wadah
2) Wadah sediaan tunggal ditempatkan di atas kertas saring atau kapas.
3) Jika terjadi kebocoran maka kertas saring atau kapas aka basah dan
berwarna.
d. Jumlah sampel : 1 vial
e. Persyaratan : larutan dalam wadah tidak berubah menjadi warna
biru atau kertas saring/kapas yang digunakan
tidak basah dan berwarna.
f. Hasil pengamatan : larutan tidak berubah menjadi warna biru
g. Kesimpulan : memenuhi syarat.
3. a. Jenis evaluasi : Uji Keseragaman sediaan
b. Prinsip evaluasi : dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu keseragaman
bobot dan keseragaman kandungan.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1526).
c. Prosedur evaluasi :
Metode keragaman bobot
1) Diambil tidak kurang dari 30 satuan
2) Timbang seksama sejumlah cairan yang dikeluarkan dari 10 wadah
satu persatu.
3) Jika perlu dilakukan perhitungan kesetaraan bolume setelah
penetapan bonot jenis.
4) Hitung volume zat aktif dalam tiap wadah dari hasil penetapan
kadar
5) Hitung nilai penerimaan

Metode keseragaman kandungan


1) Diambil tidak kurang dari 30 satuan
2) Lakukan penetapan kadar pada sejumlah tertentu bahan yang sudah
dikocok dan dipindahkan dari masing-masing wadah dalam kondisi
penggunaan yang normal dan dinyatakan hasil dalam dosis terbagi
3) Hitung nilai penerimaan

d. Jumlah sampel : tidak dilakukan


e. Persyaratan : memenuhi nilai penerimaan <15%
f. Hasil pengamatan :-
g. Kesimpulan :-

4. a. Jenis evaluasi : Uji Penetapan Volume Injeksi dalam Wadah


b. Prinsip evaluasi : pengukuran volume dalam wadah dengan
menggunkan gelas ukur 10 mL
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1570).
c. Prosedur evaluasi :
1) Isi dari tiap wadah diambil dengan menggunakan jarum suntuk
hipodermik kering berukuran tidak lebih dari volume yang akan
diukur dengan dilengkapi jarum suntuk no.021 panjang tidak kurang
dari 20 mm.
2) Gelembung udara dikeluarkan dari jarum suntuk.
3) Isi dari tiap jarum suntik dipindahkan tanpa mengosongkan bagian
jarum.
4) Dipindahkan ke dalam gelas ukur kering sehingga volume yang
diukur sekurang-kurangnya 40% dari kapasitas yang tertera,
5) Cara lain, isi dari jarum suntuk dapat dipindahkan ke dalam gelas
piala kering yang telah ditara.
6) Volume dalam mL diperoleh dari perhitungan berat dalam gram
dibagi bobot jenis cairan.
7) Isi dari 2 atau 3 wadah 1 mL atau 2 mL dapat digabungkan untuk
pengukuran dengan menggunakan jarum suntik kering terpisah untuk
mengambil isi tiap wadah
8) Isi dari wadah 10mL atau lebih dapat ditentukan dengan membuka
wadah , memindahkan isis secara langsung ke dalam gelas ukur atau
gelas piala yang telah ditara.
9) Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah bila diui
satu per satu, atau bila volume 1 mL atau 2 mL tidak kurang dari
volume wadah yang tertera pada etiket bila isi digabung. Bila wadah
dosis ganda, dengan alat suntuk terpisah sejumlah dosis. Volume dari
alat suntik yang diambil tidak kurang dari dosis yang tertera. Untuk
injeksi yang mengandung minyak, bila perlu dipanaskan dan segera
kocok sebelum memisahkan isi. Dinginkan hingga suhu 25ºC
sebelum pengukuran volume.
d. Jumlah sampel : 3 vial
e. Persyaratan : volume tidak kurang dari 10 mL
f. Hasil pengamatan :
Pengukuran Volume (mL)
1 10,50
2 10,50
3 10,00
g. Kesimpulan : Rata-rata ± SD 10,3333± 0,2357
memenuh syarat
5. a. Jenis evaluasi : Penetapan waktu rekonstitusi
b. Prinsip evaluasi : dilakukan dengan melihat lama waktu yang
dibutuhkan endapan untuk terlarut kembali.
c. Prosedur evaluasi :
1) Vial berisi serbuk disiapkan
2) Pembawa dimasukkan ke dalam gelas ukur sejumlah 10 mL
3) Pembawa dimasukkan ke dalam vial berisi serbuk kering sampai tada
batas.
4) Vial kemudian dikocok hingga serbuk terlarut sempurna
5) Waktu rekosntitusi dicatat.

d. Jumlah sampel : 1 vial


e. Persyaratan : emdapat dapat terlarut sempurna < 30 detik
f. Hasil pengamatan : 3,09 detik

g. Kesimpulan : memenuhi syarat


Evaluasi Kimia

6. a. Jenis evaluasi : Penetapan kadar dalam injeksi


b. Prinsip evaluasi : dilakukan dengan metode kromatografi cair
kinerja tinggi (KCKT).
(USP 30 – NF 25).
c. Prosedur evaluasi :
1. Fase gerak : 30% acetonitrile dalam air
2. Larutan standard internal : Triamcinolon USP.NF dilarutkan
dalam metanol, diketahui konsentrasi sekitar 200µg/mL, kemudian
dipipet sebanyak 20 mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50
mL, diencerkan dengan larutan standard internal sampai tanda
batas. Konsentrasi larutan diketahui 80µg/mL.
3. Persiapan pengujian
1) Dilarutkan sejumlah mL sediaan uji ke dalam metanol hingga
didapatkan konsentrasi sekitar 200µg/mL.
2) Larutan dipipet sebanyak 20 mL kemudian dimasukkan ke
dalam labu ukur 50 mL encerkan dengan larutan standard
internal.
4. Prosedur pengujian
1) Sesuai dengan prosedur pengujian krim Triamcinolone
Acetonide, perhitungan respon puncak :
(CD/V) × (Ru/Rs)
C : konsentrasi Triamcinolone Acetonide (mg/mL)
D : factor pengencer
V : volume
Ru : respon puncak Triamcinolone Acetonide
Rs : respon puncak baku pembanding
d. Jumlah sampel : tidak dilakukan pengujian
e. Persyaratan : sediaan injeksi mengandung TriamcinoloneSodium
tidak kurang dari 90 % dan tidak lebih dari 120%.
f. Hasil pengamatan :-
g. Kesimpulan :-

Evaluasi Biologi

7. a. Jenis evaluasi : Uji sterilisasi


b.Prinsip evaluasi : Menguji suatu bahan dengan teknik inokulasi
langsung atau filtrasi langsung untuk melihat ada
tidaknya pertumbuhan mikroba, menggunakan
media tioglikonat cair dan soybean casein digest.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1359).

c. Prosedur evaluasi :
Metode penyaringan/filtrasi membran
1) Membran penyaring yang digunakan memiliki porositas 0,45 µm.
2) Peralatan filtrasi disterilkan terlebih dahulu dengan cara yang
sesuai.
3) Larutan uji kemudian disaring menggunakan membran dalam
kondisi aseptic.
4) Kemudian, membran dipindahkan secara aseptic ke dalam media.
5) Lakukan inkubasi.

Metode inokulasi langsung


1) Sejumlah sediaan dimasukkan ke dalam media.
2) Kemudian, ditambahkan sejumlah kecil inoculum.
3) Pada kedua cara digunakan mikroba yang sama seperti tertera pada
uji fertilitas untuk anaerob, aerob dan kapang.
4) Uji fertilitas dilakukan sebagai control positif.
5) Semua wadah diinkubasi.

d. Jumlah sampel : tidak dilakukan pengujian


e. Persyaratan : media yang berisi sedian tidak ditumbuhi
mikroorganisme.
f. Hasil pengamatan :-
g. Kesimpulan :-

8. a. Jenis evaluasi : Uji endotoksin bakteri


b. Prinsip evaluasi : Dilakukan menggunakan Limulus amebocyte lysate
(LAL). Teknik pengujian menggunakan jendal gel
dan fotometrik.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1359).
c. Prosedur evaluasi :
Teknik jendal gel
1) Dilakukan penetapan titik akhir reaksi dengan membandingkan
langsung enceran dari zat uji dengan enceran baku dan jumlah
endotoksin dinyatakan dalam unit endotoksin.

Teknik fotometrik
1) Mencakup metode turbidimetri yang didassarkan pada
pembentukkan kekeruhan setelah penguraian substrat endogen dan
metode kromogenik yang didasarkan pada pembentukkan warna
setelah terjadi penguraian kompleks kromogen-peptida sintetik.

d. Jumlah sampel : tidak dilakukan pengujian


e. Persyaratan : tidak lebih dari 3,6 unit endotoksin FI per mg
Furosemide.
f. Hasil pengamatan :-
g. Kesimpulan :-
9. a. Jenis evaluasi : Uji efektivitas pengawet
a. Prinsip evaluasi : Menunjukkan efektivitas pengawet antimikroba yang
ditambahkan pada sediaan yang dibuat dengan bahan
pembawa berair
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1354).
b. Prosedur evaluasi :
1) Pengujian dilakukan dalam 5 wadah asli bila volume sediaan tiap
wadah mecukupi dan wadah sediaan dapat ditusuk secara aseptic
dengan jarum suntik melalui tutup karet elastrometrik.
2) Inokulasi tiap wadah dengan satu inokula baku yang tela disiapkan
dan diaduk.
3) Volume suspense inokula baku yang digunakan antara 0,5% dan 1%
dari volume sediaan.
4) Kadar mikroba uji yang ditambahkan pada sediaan seperti halnya
kadar akhir sediaan uji setelah inokula ± 10ˉ5 koloni /mL.
5) Kadar awal mikroba viable dalam sediaan uji diperkirakan
berdasarkan kadar mikroba dalam inokula standard ditetapkan dengan
metode angka lempeng total.
6) Inkubasi wadah pada suhu 22,5±2,5ºC.
7) Ambil sampel dari setiap wadah pada interval waktu yang ditetapkan.
8) Catat setiap perubahan penampilan yang diamati pada interval
tersebut.
c. Jumlah sampel : tidak dilakukan pengujian
d. Persyaratan :-
e. Hasil pengamatan :-
f. Kesimpulan :-

XI. PEMBAHASAN

Dalam praktikum dilakukan pembuatan sediaan parenteral steril yaitu


injeksi SVP suspense Triamcinolone 10mg/mL yang diberikan secara intra-
articular, intra-dermal dan intra-muskular (Sweetman,2009). Injeksi adalah
sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang
disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau
selaput lendir. Definisi steril untuk penggunaan parenteral pada umumnya tidak
berlaku untuk sediaan biologi, karena sifat khusus dan persyaratan perizinan
(Syamsuni, 2006). Definisi injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas
dalam wadah bertanda volume 100 mL atau kurang (Kemenkes RI, 2014).
Pembuatan sediaan injeksi SVP suspensi Triamcinolone ini digunakan
dalam pengobatan rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan ankylosing
spondylitis. Triamcinolone memiliki efek anti-inflamasi dan imunosupresif
yang kuat, melalui penghambatan pelepasan berbagai sitokin (Sweetman,
2009).
Triamcinolone yang digunakan adalah bentuk esternya, yaitu
Triamcinolone acetonide lambat diserap oleh tubuh. Hal tersebut sesuai dengan
tujuan penggunaan efek lokal dan diperlama (Sweetman, 2009). Karena efek
yang diharapkan dari penggunaan Triamcinolone acetonide ini adalah efek lokal
dan diperlama, maka Triamcinolone acetonide dibuat dalam sediaan injeksi
suspensi dengan rute pemberian IA, IM dan ID. Triamcinolone acetonide
memiliki kelarutan praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol
mutlak, kloroform dan metanol. Namun, triamcinolone memiliki ke stabilan
dalam air (Kemenkes RI, 2014). Berdasarkan data kelarutannya tersebut,
Triamcinolone acetonide dibuat dalam bentuk sediaan suspense dalam air.
Berdasarkan perhitungan dosis, volume pemberian injeksi Triamcinolone
acetonide dalam sekali injeksi <10mL maka sediaan Triamcinolone acetonide
dibuat injeksi small volume parenteral (SVP). Larutan Parenteral Volume Kecil
(Small Volume Parenteral/SVP) adalah injeksi yang dikemas menurut label pada
kemasan, mengandung 100 mL atau kurang (Goeswin,2009).
Triamcinolone acetonide pada suhu 80ºC selama 8 jam akan terdegradasi
sebanyak 4,90 ± 0,10 % (Kulyadi & Sathyanarayana, 2016). Degradasi bahan
aktif tersebut terjadi setelah pemaparan dalam waktu yang lama. Sehingga,
Triamcinolone acetonide tetap dapat disterilisasi akhir menggunakan autoklaf
pada suhu 121ºC selama 15 menit dan dengan tekanan 15 psig.
Proses pembuatan injeksi SVP suspensi Triamcinolone acetonide harus
dikerjakan pada kondisi yang bebas mikroorganisme viabel untuk menghindari
bahaya infeksi atau keadaan ini disebut sebagai steril. Untuk mendapatkan
sediaan yang steril maka semua proses, alat dan bahan yang digunakan adalah
steril. Alat-alat harus disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakanm metode
sterilisasi yang sesuai. Untuk alat yang terbuat dari kaca maka metode sterilisasi
yang sesuai dan biasa digunakan adalah metode panas kering dengan
menggunakan oven pada suhu 170⁰C selama 1 jam, sedangkan untuk alat yang
terbuat dari membrane berpori dapat dilakukan sterilisasi dengan menggunakan
metode panas lembab menggunakan autoklaf pada suhu 121⁰C selama 15 menit.
Bahan yang digunakan pada formula harus dilakukan sterilisasi dengan metode
sterilisasi yang sudah tercantum dalam monografi masing-masing bahan.
Ruangan tempat dilakukannya proses pembuatan juga memiliki kelas yang
dikelompokan berdasarkan kebersihan, jumlah partikel dan mikroorganisme
yang terdapat pada masing-masing kelas. Pada saat proses sterilisasi alat
dilakukan di ruang Grey Area, sedangkan White Area digunakan untuk proses
pencampuran sampai dengan penutupan (Aultons dan Taylor , 2013).
Dalam sediaan parenteral terdapat beberapa syarat yang harus
diperhatikam salah satunya adalah isotonis. Sediaan injeksi harus dibuat isotonis.
Isotonis adalah pada saat tekanan osmotis yang terdapat dalam obat sama dengan
tekanan osmotis yang terdapat dalam tubuh. Pada saat obat terlalu hipotonis
maka sel akan mengembang lalu pecah tetapi apabila terlalu hipertonis maka sel
akan mengkerut dan mengalami kerusakan yang reversible (Aultons dan Taylor,
2013). Maka peting untuk sediaan injeksi dibuat isotonis. Berdasarkan
perhitungan tonisitas, sediaan injeksi SVP suspensi dengan bahan aktif
Triamcinolone acetonide 10mg/mL bersifat hipotonis sehingga perlu ditambahka
bahan pengisotonis. Bahan pengisotonis yang digunakan adalah NaCl 0,9%
(Rowe dkk, 2009).
Triamcinolone memiliki kelarutan yang praktis tidak larut dalam air. Hal
tersebut dapat menimbulkan permasalahan dimana partikel-partikel dari
Triamcinolone acetonide akan cepat mengendap dan bila dibiarkan akan
menyebabkan caking, maka dalam formulasi perlu ditambahkan suspending
agent yang dapat bekerja sebagai peninkat viskositas dan mencegah penurun
partikel. Suspending agent yang digunakan adalah CMC-Na (Sweetman,2009).
Alasan pemilihan CMC-Na sebagai suspending agent adalah karena pH
stabilitas CMC-Na sesuai dengan pH stabilitas bahan aktif, selain itu, CMC-Na
juga tahan terhadap paparan panas dan dapat disterilisasi akhir menggunakan
autoklaf (Sweetman,2009).
pH stabilitas Triamcinolone acetonide adalah 3,5-4,2. Rentang pH dari
Triamcinolone acetonide adalah <2, maka pada formula perlu ditambahkan
bahan pendapar. Bahan pendapar yang sesuai dengan pH stabilitas bahan aktif
tersebut adalah dapar sitrat (Sweetman, 2009). Dapar digunakan dengan tujuan
untuk menjaga agar pH sediaan stabil pada rentang pH stabilitasnya. Pada pH
stabilitasnyalah bahan aktif mengalami proses degradasi paling minimum.
Berdasarkan perhitungan dosis Triamcinolone acetonide termasuk sediaan
multiple dose. Sediaan multiple dose memungkinkan terjadinya kontaminasi
karena masuknya jarum suntik berulang kali. Sehingga, pada formulasi sediaan
injeksi multiple dose dapat ditambahkana pengawet (Aultons, 2013). Bahan
pengawet yang ditambahkan adalah Benzalkonium klorida. Benzalkonium
klorida dipilih dengan alasan pH efektivitas dari bahan tersebut sesuai dengan
pH stabilitas bahan aktif, yaitu efektif sebagai pengawet pada pH 4-10 (Rowe,
2009).
Triamcinolone acetonide tidak stabil apabila terdapat udara (Lund, 1994).
Dalam formulasi perlu ditambahakan antoksidan untuk mengurangi atau
menghambat laju oksidasi yang disebabkan adanya oksigen tersebut. Bahan
antioksidan yang digunakan adalah Natrium Metabisulfit. Selain dengan
menambahkan antioksidan, udara yang ada pada vial harus digantikan dengan
udara yang inert seberti Nitrogen (Sweetman, 2009).
Injeksi suspense Triamcinolone acetonide mengandung Triamcinolone
acetonide tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 115% (US Pharmacopoeia
Convention, 2007). Pada saat proses pembuatan dapat terjadi kehilangan bahan.
Berdasarkan kemurniannya, maka pada formula ditambahkan 15% untuk
mencegah terjadinya kehilangan bahan pada saat proses pembuatan. Volume
sediaan harus memenuhi syarat penetapan volume injeksi dalam wadah. Untuk
injeksi yang memiliki volume 10 mL dalam satu wadah maka perlu ditambahkan
0,7 mL untuk tiap wadahnya untuk larutan kental (Kemenkes RI, 2014).
Triamcinolone acetonide merupakan bahan yang dapat terdegradasi dan
mengalami dekomposisi apabila terpapar cahaya matahari (Lund, 1994).
Kemasan yang digunakan pada injeksi suspensi Triamcinolone acetonide adalah
vial berwarna coklat dan disimpan dalam wadah yang terlindung dari paparan
cahaya matahari langsung.
Hasil evaluasi yang didapatkan dari sediaan injeksi suspense
Triamcinolone acetonide tidak semua memenuhi syarat. pH stabilitas dari
Triamcinolone acetonide adalah 3,5 – 4,2 (Lund,1994). Setelah dilakukan
evaluasi, rata-rata dari pH sediaan injeksi yang dibuat adalah 4,3067 ± 0,0125.
Hasil pH tersebut tidak masuk diantara rentang pH stabilitas Triamcinolone
acetonide namun masuk pada rentang pH sediaan injeksi rekonstitusi
Triamcinolone acetonide, yaitu 5,0-7,0 (US Pharmacopoeia Convention, 2007).
Uji kebocoran dilakukan dengan menggunakan 1 vial dengan cara
dibalikkan, tidak ditemukan adanya tanda kebocoran pada sediaan injeksi, hal ini
dikarenakan kemasan yang digunakan adalah kemasan yang tidak rusak dan
memenuhi persyaratan yang terdapat pada masing-masing monografi. Uji
penetapan volume injeksi dilakukan menggunakan 3 vial, masing-masing vial
memiliki volume 10 mL. hal tersebut memenuhi syarat penetapan volume injeksi
dimana volume sediaan tidak kurang dari yang tertera pada etiket. Untuk
pengujian waktu rekonstitusi memiliki syarat serbuk dapat larut sempurna dalam
waktu kurang dari 30 detik. Setelah dilakukan evalusi, serbuk kering dapat
melarut dalam pembawanya dalam waktu kurang dari 30 detik dengan rata-rata
waktu rekonstitusi adalah 3,09 detik dan memenuhi syarat pengujian.

XII. KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan steril injeksi/ infus adalah sebagai berikut.

No. Nama Bahan Jumlah (%) Kegunaan


1. Triamcinolone 1,266 Bahan Aktif
Acetonide
2. Sodium Metabisulfit 0,01 Antioksidan
3. NaCl 0,1789 Bahan Pengisotonis
4. Benzalkonium klorida 0,01 Pengawet
5. CMC-Na 0,75 Suspending agent
6. Asam sitrat 0,6178 Dapar
7. Natrium sitrat 0,1499 Dapar
8. Aqua pro injeksi Ad 100 Pembawa
Jenis sterilisasi yang digunakan dalam pembuatan Triamcinolone
Acetonide 1,2669% suspense untuk injeksi adalah sterilisasi akhir dengan
menggunkan metode sterilisasi basah menggunakan autoklaf pada suhu 121ºC
selama 15 menit dengan tekanan 15 psig. Dari evaluasi didapatkan bahwa sediaan
injeksi yang dibuat adalah Triamcinolone acetonide memenuhi syarat
(berdasarkan hasil evaluasi).

XIII. DAFTAR PUSTAKA

Aberg, J.A., dkk. (2009). Drug Information Handbook. Edisi 15. Lexi-Comp for
the American Pharmacists Association
Anief, Moh. (2006). Ilmu Meracik Obat, Jakarta : Universitas Gadjah Mada Press
Ansel, H.C., dan Allen (2014). Pengantar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI
Press. Jakarta
Aulton, M.E., dan Taylor K.M.G., (2013), Aulton’s Pharmaceutics: The Design
and Manufacture of Medicines, Fourth Edition, Churcihill Livingstone
Elsevier
British Pharmacopeia Commisions. (2009). Brtitsh Pharmacopeia. Volume I & 2.
London: Medianes and Health Care Product Regulatory Agency (MHRA).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesiaedisi V,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Goeswin, Agoes. (2009). Sediaan Farmasi Steril. Bandung: Penerbit ITB.

Kulyadi, Girish Pal & Sathyanarayana, Maddukrishna Badamane. (2016).


Stability Indicating HPTLC Determination of Triamcinalone Acetonide in
Bulk Drug and Sterile Injectable Suspension. Journal of Young
Pharmacists, Vol 8, Issue 4.
Lund, Walter. (1994). The Pharmaceutical Codex Principles and Practice Of
Pharmaceutics (12th ed). London:The pharmaceutical Press.
Priyambodo, B., (2007). Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta : Global
Pustaka Utama
Rowe, Raymond C. dkk (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th
edition. London: Pharmaceutal Press.
Sweetman, Sean. C. (2009). Martindale The Complete Drug Reference 36th ed.
London: The Pharmaceutical Press.
Syamsuni. (2012). Ilmu Resep. Jakarta: EGC.

U.S. Pharmacopeia Convention. (2007). The United States Pharmacopeia, USP


30/The National Formulary, NF 25. Rockville, MD: U.S.
Pharmacopeial Convention, Inc.

XIV. LAMPIRAN
Etiket

Kemasan
Brosur

FUROSEMIDE
INJEKSI
Tiap ml mengandung:
Triamcinolone Acetonide ................................................................. 11 mg

INDIKASI
Obat ini digunakan dalam berbagai kondisi seperti gangguan alergi, radang sendi, penyakit darah, masalah pernapasan,
kanker tertentu, penyakit mata, gangguan usus, kolagen dan penyakit kulit. Bicarakan dengan dokter Anda tentang risiko
dan manfaat dari triamsinolon, terutama jika itu akan disuntikkan di dekat tulang belakang Anda (epidural). Efek samping
yang jarang namun serius dapat terjadi dengan penggunaan epidural. Triamcinolone acetonide dikenal sebagai hormon
kortikosteroid (glukokortikoid). Ia bekerja dengan menurunkan respons kekebalan tubuh Anda terhadap penyakit-penyakit
ini dan mengurangi gejala seperti pembengkakan.

KONTRA INDIKASI
Triamcetonide Injection dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap komponen apa pun dari produk ini.
Persiapan kortikosteroid intramuskular merupakan kontraindikasi untuk purpura trombositopenik idiopatik.

EFEK SAMPING
Kemerahan atau rasa sakit di tempat suntikan, sakit perut, sakit kepala, pusing, kesulitan tidur, atau kenaikan berat badan
dapat terjadi. Jika salah satu dari efek-efek ini bertahan atau menjadi lebih buruk, beri tahu dokter atau apoteker Anda
segera. Ingat bahwa dokter Anda telah meresepkan obat ini karena dia telah menilai bahwa manfaatnya bagi Anda lebih
besar daripada risiko efek samping. Banyak orang yang menggunakan obat ini tidak memiliki efek samping yang serius.
Obat ini dapat meningkatkan tekanan darah Anda. Periksa tekanan darah Anda secara teratur dan beri tahu dokter Anda jika
hasilnya tinggi.

DOSIS
1. Untuk injeksi IA, IB dan tendon sheats :
Sendi kecil : 0,2269 mL – 0,4539 mL, bisa mencapai 0,9077 mL.
Sendi besar : 0,4539 mL – 1,3616 mL, bisa mencapai 3,630 mL.
2. Untuk intra-dermal : 0,0908 mL
3. Untuk IM , rata-rata : 0,2269 mL – 9,0771 mL
Anak-anak (initial age) : 0,01 mL/kg/hari - 0,1452 mL/kg/hari dosis terbagi 3-4 kali
Anak-anak 6-12 tahun : 3,6309 mL
Anak-anak < 12 tahun dan dewasa : 5,4463 mL
Demam / pollen asthma : 3,6309 mL – 9,0771 mL
Multiple sclerosis : 14,5234 mL selama 1 minggu dan dilanjut dengan 5,8094 mL
setiap hari selama 1 minggu.

KEMASAN
Isi 1 vial @10 mL

PENYIMPANAN
Simpan pada suhu kamar (25O C – 30O C), terlindung dari cahaya matahari langsung.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Dibuat oleh:
PT Pharamecia
Bandung – Indonesia
Uji Kebocoran

Uji pH

Uji Penetapan Volume Injeksi