Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

Air tanah merupakan sumber daya alam terbarukan (renewable natural resources) yang
mempunyai peran penting dalam penyediaan kebutuhan air bagi masyarakat, baik secara individu
maupun kelompok. Mengingat pentingnya peran air tanah, maka pemanfaatan air tanah harus
didasarkan pada keseimbangan dan kelestarian air tanah yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan.

Peningkatan jumlah penduduk dan perubahan tata guna lahan yang terjadi akan berimbas pada
peningkatan akan kebutuhan air dan berkurangnya area resapan air. Kondisi tersebut menyebabkan
terjadinya fluktuasi permukaan air tanah, dan tingkat fluktuasinya dapat berbeda-beda, bergantung
pada karakteristik akuifer, iklim, curah hujan, dan jumlah kepadatan penduduk.

Penurunan muka air tanah sangat signifikan terjadi, terutama pada akifer dalam. Sumber air tanah
berasal dari daerah resapan air yang lokasinya jauh dan pengalirannya sampai ke daerah
pengambilan air memerlukan waktu hingga ratusan tahun.

Di Bandung terdapat Cekungan Bandung. Pengendapan di dalam Cekungan Bandung sendiri yang
dimulai sekitar 126.000 tahun lalu, berupa batuan klastika gunung api dan sedimen danau. Analisis
umur absolut tanah purba (paleosol) di bawahnya yang diperkirakan sebagai batuan dasar
Cekungan Bandung memberikan umur rata-rata 135.000 tahun yang lalu. Di antara tanah purba
dan batuan terbawah Cekungan Bandung terdapat banyak lapisan tefra atau abu gunungapi. Hal
itu mengindikasikan adanya kegiatan vulkanisme yang mengawali pembentukan Danau Bandung.
Bahkan air tanah di Cekungan Bandung umurnya mencapai ribuan tahun. Penurunan muka air
tanah pada akifer dangkal tidak separah pada akifer dalam. Hal itu bisa terjadi karena air tanah
lebih cepat terisi kembali oleh air permukaan di sekitarnya, terutama air hujan di musim hujan
(Sunardi dan Koesoemadinata, 1997).
KEADAAN UMUM LOKASI

1. Topografi, Tatanan Geologi, dan Sungai

Daerah Bandung merupakan suatu cekungan yang dikelilingi kompleks pegunungan Tangkuban
Parahu di sebelah utara, sedangkan di bagian selatan oleh kompleks pegununang Patuha Malabar.
Dibagian barat cekungan, muncul sederetan intrusi andesit dan dasit yang membentuk punggung-
punggung tak teratur. Kompleks pegunungan Krenceng dan Gunung Mandalawangi membatasi
cekungan ini di sebelah timur.

Kelerengan daerah bandung dan sekitarnua dapat dipisahkan menjadi tiga satuan, yakni daerah
dengan kelerengan datar-landai (ketinggian 600 – 700 m), daerah dengan kelerengan sedang (700
– 1150 m) dan daerah dengan kelerengan curam sampai terjal (>1150 m).

Satuan batuan daerah Bandung dan sekitarnya berdasarkan litologi dan penafsiran sedimentasi
penyusunnya adalah seperti pada tabel sebagai berikut :

Tabel 1. Stratigrafi daerah Bandung


Sungai utama yang mengalir di Cekungan Bandung yakni Sungai Citarum dengan sejumlah anak
sungainya. Di bagian utara terutama Sungai Cibeureum, Sungai Cikapundung, dan Sungai
Cikerub. Sedangkan di bagian selatan terdapat Sungai Ciwidey, Sungai Cisangkuy, dan Sungai
Citarik.

2. Iklim

Secara umum daerah Bandung dan sekitarnya mempunyai iklim tropis, dengan suhu udara antara
22,6 – 23,9° C, dan kelembaban berkisar 70 – 83%.

Jumlah curah hujan rata – rata tahunan bervariasi, dari 1700 mm di bagian tengah arah tenggara
Kota Bandung sampai lebih dari 3000 mm di bagian Selatan. Curah hujan rata – rata bulanan di
atas 200 mm terjadi pada November – April, sedangkan relative kering, yaitu di bawah 200 mm
terjadi pada bulan Mei – Oktober.

3. Penggunaan Lahan
Gambar 1. Tata Guna Lahan Bandung dan Sekitarnya

Dengan pembagian penggunaan lahan seperti pada gambar, maka kebutuhan air dari waktu ke
waktu dapat diprakirakan, sehingga penggunaan air tanag untuk berbagai keperluan dapat
direncanakan, dan pencemaran yang mungkin terjadi terhdapa air tanah yang berasal dari
pemukiman, industri, buangan sampah, dan pertanian dapat dicegah.

4. Penduduk dan Pasokan Air

Penduduk di Cekungan Bandung cukup padat, yaitu sekitar 4,4 juta orang (tahun 1995) dengan
pertambahan sekitar 3 – 4% setiap tahun.
Pasokan air bersih yang dikelola oleh PDAM Kotamadya (Kodya) Dati II Bandung saat ini berasal
dari air permukaan, mata air, dan air tanah yang masing – masing berurutan sebesar 2000 l/detik,
175,6 l/detik, dan 99,6 l/detik.
CEKUNGAN AIR TANAH/AKIFER

Akifer merupakan sebuah formasi geologi atau unit geologi dimana didalamnya terdapat lapisan
air yang dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga, kepentingan umum, pertanian dll.
Terdapat empat jenis formasi batuan yang dapat berfungsi sebagai akifer antara lain pasir dan
kerikil yang tidak terkonsolidasi, batuan pasir, batuan karbonat dan batuan vulkanik. Akifer juga
dapat terjadi pada kondisi dimana terdapat zona keretakan dari batuan beku, metamorf atau batuan
sedimen (Lehr & Keeley, 2005).

Beberapa akifer memiliki cakupan luas yang cukup besar dan dapat digambarkan sebagai tempat
penyimpanan air tanah secara alami. Air memasuki akifer dapat secara alami maupun melalui
daerah resapan. Berikut adalah jenisjenis akifer (Kondoatie, 2008) (Hendarmawan,2002)

a. Akifer tertekan/terbatas (confined aquifer) adalah akifer yang jenuh air yang dibatasi oleh
lapisan atas dan bawahnya merupakan akuiklud (kedap air) dan tekanan airnya lebih besar dari
tekanan atmosfir. Pada lapisan pembatasnya tidak ada air yang mengalir (no flux).
b. Akifer semi tertekan (semi confined/leaky aquifer) adalah akifer yang jenuh air yang dibatasi
oleh lapisan yang berupa aquitard (semi kedap air) dan lapisan bawahnya merupakan akuiklud.
Pada lapisan pembatas di bagian atasnya karena bersifat aquitardmasih ada air yang mengalir
ke akifer tersebut (influx), walaupun hidraulik konduktivitasnya jauh lebih kecil dibandingkan
hidraulik konduktivitas akifer. Tekanan airnya pada akifer lebih besar dari tekanan atmosfir.
c. Akifer semi tertekan (semi confined/leaky aquifer) adalah akifer yang jenuh air yang dibatasi
oleh lapisan yang berupa aquitard (semi kedap air) dan lapisan bawahnya merupakan akuiklud.
Pada lapisan pembatas di bagian atasnya karena bersifat aquitard masih ada air yang mengalir
ke akifer tersebut (influx) walaupun hidraulik konduktivitasnya jauh lebih kecil dibandingkan
hidraulik konduktivitas akifer. Tekanan airnya pada akifer lebih besar dari tekanan atmosfir.
d. Akifer tak tertekan (unconfined aquifer) adalah akifer jenuh air (saturated). Lapisan pembatas
di bagian bawahnya merupakan akuiklud. Pada bagian atasnya ada lapisan pembatas yang
mempunyai konduktivitas hidraulik lebih kecil dari pada konduktivitas hidraulik dari akifer.
Akifer ini juga mempunyai muka air tanah yang terletak pada lapisan pembatas tersebut.
e. Akifer artesis (artesian aquifer) adalah confined aquifer di mana ketinggian hidrauliknya
(potentiometric surface) lebih tinggi dari muka tanah. Oleh karena itu, apabila pada ukuifer ini
dilakukan pengeboran maka akan timbul pancaran air (spring), karena air yang keluar dari
pengeboran ini berusaha mencapai ketinggian hidraulik tersebut.

Gambar 2. Air Tanah

Susunan stratigrafi yang disederhanakan dari data pemboran yang ada, dapat membagi akuifer
menjadi :

a. Akuifer dangkal. Ditemukan pada kedalaman antara 0 – 35 m dibawah muka tanah, jenis
akuifernya tidak tertekan.
b. Akuifer Tengah. Mempunyai kedalaman sekitar 40 – 150 m dibawah muka tanah, terutama
disusun oleh Formasi Cibeureum dan Formasi Kosambi. Akuifer ini merupakan akuifer
setengah tertekan sampai tertekan.
c. Akuifer Dalam. Mempunyai kedalaman lebih dari 150 m dibawah muka tanah, disusun
terutama oleh Formasi Cikapundung, merupakan akuifer setengah tertekan.
Gambaran umum mengenai muka air tanah berikut perubahannya pada akuifer tengah (40 – 50 m)
dan akuifer dalam (150 – 250 m) adalah sebagai berikut :

a. Daerah Batujajar, Ngamprah dan Cimahi Tengah. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada
akuifer tengah antara 9.08 m hingga 68.44 m dibawah muka tanah.
b. Daerah Cimahi Selatan dan Margaasih. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer
tengah dan dalam di daerah ini masing-masing berkisar antara 16.4 – 92.14 m dibawah muka
tanah.
c. Daerah Bandung Kulon dan Andir. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer tengah
di daerah ini masing-masing berkisar antara 40.35 – 59.84 m dibawah muka tanah.
d. Daerah Margahayu, Katapang dan Soreang. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada
akuifer tengah di daerah ini berkisar antara 2.08 – 33.82 m dibawah muka tanah.
e. Daerah Dayeuhkolot. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer tengah di daerah ini
berkisar antara 19.43 – 72.62 m dibawah muka tanah.
f. Daerah Bojongsoang, Pameungpeuk, Banjaran dan Ciparay. Mempunyai kedudukan muka air
tanah pada akuifer tengah di daerah ini berkisar antara 9.25 – 32.92 m dibawah muka tanah.
g. Daerah Majalaya. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer tengah di daerah ini
berkisar antara 36.13 – 47.35 m dibawah muka tanah.
h. Daerah Paseh, Cikancung dan Cicalengka. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer
tengah di daerah ini berkisar antara 2.20 – 17.21 m dibawah muka tanah.
i. Daerah Cimanggung, Rancaekek, Cikeruh dan Cileunyi. Mempunyai kedudukan muka air
tanah pada akuifer tengah di daerah ini berkisar antara 18.00 – 64.64 m dibawah muka tanah.
j. Daerah Ujung Berung dan Cibiru. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer tengah
di daerah ini berkisar antara 15.66 – 32.53 m dibawah muka tanah.
k. Daerah Sapan, Rancasari dan Margacinta. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer
tengah di daerah ini berkisar antara 11.69 – 34.12 m dibawah muka tanah.
l. Daerah Bandung Wetan, Sumur Bandung, Regol, Bandung Kidul, Bojongloa Kaler dan Kidul,
Babakan Ciparay. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer tengah di daerah ini
berkisar antara 14.99 – 31.69 m dibawah muka tanah.
m. Daerah Batununggal dan Kiaracondong. Mempunyai kedudukan muka air tanah pada akuifer
tengah di daerah ini berkisar antara 39.98 - 54.04 m dibawah muka tanah.
n. Daerah Arcamanik, Cicadas, Cibeunying Kaler, dan Kidul. Mempunyai kedudukan muka air
tanah pada akuifer tengah di daerah ini berkisar antara 13.21 – 40.04 m dibawah muka tanah.
o. Daerah Coblong, Cicendo, Sukajadi, Sukasari dan Cidadap. Mempunyai kedudukan muka air
tanah pada akuifer tengah di daerah ini berkisar antara 8.21 – 53.69 m dibawah muka tanah.