Anda di halaman 1dari 150

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

DI INSTALASI LABORATORIUM RUMAH SAKIT


AU dr. M. SALAMUN BANDUNG

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh Diploma III

Oleh :
Mufti Habib Abduloh 1511E1032
Hendra abdul Rojak 1511E1006
Alfian fadjrin Sofian 1511E1019
Ahmad Setiawan 1511E1018
Sri Bintang Wahyuni 1511E1044
Wasniah Wati 1511E1048
Tiara 1511E1001
Nadia Aurora 1511E1021

PROGRAM STUDI D3 ANALIS KESEHATAN


SEKOLAH TINGGI ANALIS KESEHATAN
BANDUNG
2018
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan PKL ini telah disetujui dan disahkan pada Mei 2018
Menyetujui,

Kepala Institusi Laboratorium PatKlin


RSAU dr. M. Salamun

(dr.Any Yuliani,Sp.PK,M.Kes)
NIP 196701051996932001

Mengetahui,

Ketua Sekolah Tinggi Analis Pembimbing Institusi


Bakti Asih Bandung

(Drs. Suryatmana Tanuwidjaja M.Si) (Ana Binasari, M.Si.,Med)


NIK. 0102015 NIK. 0116101

i
KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Yang
telah melimpahkan hidayahnya dan memberi kami kesempatan dalam
menyelesaikan laporan PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang kami buat ini.
Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
PKL (Praktek Kerja Lapangan) bagi para Mahasiswa dari Sekolah Tinggi Analis
Bakti Asih Bandung.
Praktek kerja lapangan ini merupakan salah satu upaya dalam menjalin
kerja sama yang baik dalam bidang kesehatan terutama pada bidang laboraotrium
kesehatan antara RSAU dr. M. salamun dan Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih
Bandung. Dan kami harap praktek kerja ini akan memberi banyak manfaat bagi
kami para mahasiswa maupun bagi pembaca.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah telah
membimbing dan membantu selama pelaksanaan praktek kerja lapangan sehingga
laporan Praktek kerja Lapangan terselesaikan , diantarannya adalah :

1. Drs.Suryatman Tanuwdjadja,.M.Si, selaku ketua Sekolah Tinggi Analis


Bakti Asih Bandung.
2. Rani Handayani, M.Si, selaku ketua prodi Diploma III Sekolah Tinggi
Analis Bakti Asih Bandung.
3. Ana Bina Sari, M.Si., Med selaku dosen pembimbing Praktek Kerja
Lapangan.
4. dr.Any Yuliani,Sp.PK,M.Kes selaku Kepala Instalasi Laboratorium Klinik
Rumah Sakit Au Dr. M. Salamun Bandung.
5. Orang tua kami tercinta yang selalu memberikan doa dan dukungan secara
moral dan material.
6. Seluruh Dosen Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih Bandung yang telah
memberikan arahan dan pembelajaran yang berharga.
7. Semua pihak yang tidak kami sebutkan satu persatu atas semua bantuan,
partisipasi dan kerjasamanya selama PKL sampai tersusun laporan ini.

ii
Susunan Laporan PKL ini sudah dibuat dengan sebaik-baiknya, namun
tentu masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu jika ada kritik atau
saran apapun yang sifatnya membangun bagi penulis, dengan senang hati
akan penulis terima.

Bandung, Mei 2018

Penyusun,

Kami

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN I
KATA PENGANTAR Ii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
A. Tujuan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan 2
B. Manfaat Kegiatan Praktek Kerja Lapangan 3
BAB II 4
PROFIL LABORATORIUM RSAU dr. M. SALAMUN 4
A. Profil Rumah Sakit 4
B. Struktur Organisasi 7
C. Pengelolaan pasien laboratorium 8
D. Beban dan Tugas 12
E. Pengelolaan Laboratorium 32
F. Kegiatan Laboratorium 34
G. Pemantapan Mutu 34
BAB III 37
KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN 37
A. Jadwal Kegiatan Praktek Kerja Lapangan 37
B. Deskripsi Umum Kegiatan Praktek Kerja Lapangan 38
C. Kegiatan Laboratorium 38
D. Prosedur Pemeriksaan Laboratorium 48
BAB IV 101
KESIMPULAN DAN SARAN 101
A. Kesimpulan 101
B. Saran 101
DAFTAR PUSTAKA 103

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Cara Kerja Pemeriksaan Glukosa 56


Tabel 3.2 Cara Kerja Pemeriksaan Kolesterol 57
Tabel 3.3 Cara Kerja Pemeriksaan Trigliserida 58
Tabel 3.4 Cara Kerja Pemeriksaan HDL 59
Tabel 3.5 Cara Kerja Pemeriksaan Ureum 60
Tabel 3.6 Cara Kerja Pemeriksaan Kreatinin 61
Tabel 3.7 Cara Kerja Pemeriksaan Alkali phosphatase (ALP) 62
Tabel 3.8 Cara Kerja Pemeriksaan Uric Acid 63
Tabel 3.9 Cara Kerja Pemeriksaan Total Protein 64
Tabel 3.10 Cara Kerja Pemeriksaan Albumin 65
Tabel 3.11 Cara Kerja Pemeriksaan Bilirubin Total dan Direk 67
Tabel 3.12 Cara Kerja Pemeriksaan Aspartat Amino Transaminase 68
Tabel 3.13 Cara Kerja Pemeriksaan Alanine Amino Trasaminase 69
Tabel 3.14 Interpretasi Hasil Pemeriksaan Golongan Darah 88
Tabel 3.15 Nilai Kritis Laboratorium 89

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Laboratorium RS AU dr. Salamun


7
Bandung
Gambar 2.2 Alur Penerimaan Pasien 8
Gambar 3.1 Interpretasi Hasil Pemeriksaan Dengue IgG dan IgM 78
Gambar 2.3 Perbandingan TAT Laboratorium setiap bulan pada setiap
100
pemeriksaan

1
BAB I

PEMBAHASAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang pesat sekarang ini,
membuat kita untuk lebih membuka diri dalam menerima perubahan-
perubahan yang terjadi akibat kemajuan dan perkembangan tersebut. Dalam
masa persaingan yang sedemikian ketatnya sekarang ini, menyadari sumber
daya manusia merupakan model utama dalam suatu usaha, maka kualitas
tenaga kerja harus dikembangkan dengan baik. Jadi perusahaan atau instansi
diharapkan memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk lebih mengenal
dunia kerja dengan cara menerima mahasiswa yang ingin mengadakan
kegiatan praktek kerja lapangan.
Praktek kerja lapangan dipandang perlu karena melihat pertumbuhan dan
perkembangan ekonomi yang cepat berubah. Praktek Kerja Lapangan (PKL)
akan menambah kemampuan untuk mengamati, mengkaji serta menilai antara
teori dengan kenyataan yang terjadi dilapangan yang pada akhirnya dapat
meningkatkan kualitas managerial mahasiswa dalam mengamati permasalahan
dan persoalan, baik dalam bentuk aplikasi teori maupun kenyataan yang
sebenarnya.
Laboratorium kesehatan adalah sarana yang melaksanakan pelayanan
pemeriksaan,pengukuran,penetapan dan penguji terhadap bahan yang berasal
dari manusia atau bahan bukan berasal dari manusia utnuk penentuan jenis
penyakit,penyebab penyakit,kondisi kesehatan atau faktor-faktor yang dapat
berpengaruh pada kesehatan perorangan dan Masyarakat.Analis Kesehatan
merupakan tenaga kesehatan yang memiliki peran penting terhadap
pemeriksaan laboratorium.
Menurut surat Menteri Kesehatan RI no. 983/Menkes/17/1992 tentang
pedoman organisasi Rumah Sakit umum adalah Rumah Sakit yang
memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik, dan
subspesialistik sedangkan klasifikasi didasarkan pada perbedaan tingkat

1
menurut kemampuan pelayan kesehatan yang dapat disediakan yaitu Rumah
Sakit kelas A, B (Pendidikan dan Non Pendidikan), C dan D.
RSAU dr. M. Salamun Bandung termasuk dalam Rumah Sakit dengan
klasifikasi sebagai Rumah Sakit kelas B sehingga merupakan sarana
pembelajaran (Pendidikan) merupakan tempat untuk mencari dan menambah
pengalaman kerja maupun lapangan kerja. RSAU dr. M. Salamun memiliki
Laboratorium sebagai salah satu sarana pendukung yang tak lepas dari setiap
Rumah Sakit guna menunjang pelayanan utama dalam menunjang diagnosik
dan perawatan penderita. Laboratorium Patologi Klinik RSAU dr. M. Salamun
memberikan pelayanan berupa pengambilan sampling, Malaria, Hematologi,
Urine dan Feses, Kimia Klinik, Serologi dan Mikrobiologi.
A. Tujuan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan
1. Tujuan Umum
Praktik Kerja Lapang bertujuan untuk memberikan pengalaman
belajar dan keterampilan kepada mahasiswa agar memperoleh hasil yang
efisien, efektif dan optimal dalam memperoleh, mengolah, menganalisis
data atau informasi serta menginterpretasikan hasil disertai sikap
profesional sesuai dengan kompetensi profesi.
2. Tujuan Khusus
1. Meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam perencanaan,
persiapan dan pengambilan spesimen pada pemeriksaan.
2. Meningkatkan motivasi mahasiswa tentang manfaat pemeriksaan
laboratorium
3. Melatih kemampuan mahasiswa dalam pengembangan kerjasama
dengan tenaga kesehatan lain
4. Melatih dan mengembangkan sikap mahasiswa dalam memberikan
pelayanan kesehatan khususnya pelayanan laboratorium klinik dan
kesehatan.

2
B. Manfaat Kegiatan Praktek Kerja Lapangan
1. Untuk Mahasiswa
Menambah pengalaman bekerja secara tim-terpadu dalam
pengkajian, penemuan masalah dan pemecahan masalah secara
langsung, sehingga tumbuh sikap profesional dalam diri dan
peningkatan keahlian, tanggung jawab dan rasa kesejawatan dalam
suatu tim kerja yang solid.
2. Untuk Institusi Pendidikan STABA
Memperoleh berbagai kasus yang dapat digunakan sebagai
materi perkuliahan, menemukan berbagai masalah untuk
pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
3. Untuk institusi RS AU DR M Salamun
Memperoleh manfaat dari bantuan tenaga mahasiswa dalam
mewujudkan program kesehatan sebagai tanggung jawabnya.

3
BAB II

PROFIL LABORATORIUM RSAU dr. M. SALAMUN

A. Profil Rumah Sakit


RS AU. Dr, M Salamun sebagai Badan Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan
Angkatan Udara telah ikut berperan aktif dalam upaya meningkatkan kesehatan
terhadap masyarakat pada umumnya dan memberikan pelayanan kesehatan
kepada prajurit TNI beserta keluarga pada khususnya. RS AU DR M Salamun
terletak di bagian Utara wilayah Kota Bandung, berlokasi di Jalan Ciumbuleuit
nomor 203, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung.
(Salamun. 2018)
Gagasan untuk membangun suatu RS AU tercetus dengan alasan bahwa
TNI AU harus mempunyai tempat penampungan penderitanya sendiri dengan
kegiatan-kegiatan yang meliputi perawatan dan pengobatan bagi para anggota TNI
AU beserta keluarganya. Serta rangkaian kegiatan bidang kesehatan Penerbangan
dengan mengadakan medical chek up, kegiatan penelitian dan pengembangan
melalui tim kesehatan khusus, serta kegiatan dukungan operasi khusus tingkat
angkatan (TNI) maupun nasional.
Pembangunan rumah sakit dimulai sejak tahun 1958 berupa pembelian
tanah. Pada bulan Maret 1963 telah dibuka ruangan darurat anak-anak untuk
menampung anak-anak anggota TNI AU yang tidak mendapatkan tempat di
rumah sakit luar dan mulai berangsur-angsur merawat penderita wanita dan laki-
laki (tentara/sipil) dengan tenaga perawatan yang sangat minimal. Kekuatan
personil sejak saat itu 79 anggota dibawah pimpinan Komandan Depot Kesehatan
002 yaitu Letkol Udara dr. Malikoel Saleh dan dibantu oleh dr. Sunarko Sarwono
sebagai dokter ahli penyakit anak-anak dengan kapasitas penderita 20 orang.
Pembangunan Depot Kesehatan 002 di mulai Agustus 1964-1969. Pada bulan Mei
1964 diadakan perluasan rumah sakit dengan membangun unit-unit ruangan anak-
anak, bangsal perwira, rekreasi dan instalasi air minum yang masing-masing dapat
terselesaikan pada bulan September 1964, Febuari 1965, dan pada akhir tahun
1965.

4
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara No.
158/PERS-MKS/1965 tanggal 31 Desember 1965 terhitung mulai tanggal 1
Januari 1966 Depot Kesehatan 002 ditetapkan menjadi Rumah Sakit “Wisma
Angkasa Dharma” dengan pimpinan seorang direktur. Sesuai dengan
pembangunan dalam kegiatan sampai akhir tahun 1968 RUSPAU memiliki
bagian-bagian sebagai bagian internis, THT, bedah, radiologi, kebidanan,
fisioterapi, laboratorium dan apotek.
Pada tahun 1970 sesuai dengan Surat Keputusan Staf Angkatan Udara No
70/PER-KS/70 tanggal 2 Mei 1970 komandan Rumah Sakit telah diganti dari
Kolonel Udara dr. Malikoel Saleh kepada kolonel Udara dr. Abdul Murad
Nasseir. Berdasarkan naskah organisasi Prosedur PUSKES TNI AU No. 103-
10/1973 maka RUSPAU telah mengadakan penyempurnaan struktur organisasi
yang disesuaikan dengan lingkup kegiatan maupun tata prosedurnya dan
penyempurnaan kapasitas yang ditingkatkan menjadi 250 tempat tidur. Pada tahun
1976, nama RUSPAU disempurnakan menjadi RSAU dr. M. Salamun. Tanggal
28 Februari 1977 tentang penentuan Rumah Sakit ABRI Tingkat II. Selanjutnya
berdasarkan keputusan KASAU No. Kep/25/III/1985 tanggal 2 Maret 1985, status
RUSPAU dr. Salamun dilaksanakan alih pembinaan Ditkes TNI AU menjadi
dibawah Lanud Husen Sastranegara.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.03.05/1/523/12
tanggal 26 Maret 2012 RSAU dr. M. Salamun menjadi tipe “B”. Luas lahan tanah
RSAU Dr. M. Salamun saat ini adalah 39.546 m2 dengan luas bangunan
10.558,19 m2.
1. Visi dan Misi Rumah Sakit :
a. Visi
Menjadi Rumah Sakit Rujukan TNI Terbaik di Jawa Barat.
b. Misi
1. Menyelenggarakan dukungan kesehatan yang diperlukan dalam
setiap operasi TNI / TNI AU.
2. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu terhadap
anggota TNI / TNI AU berikut keluarganya serta masyarakat
umum yang terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian.

5
3. Meningkatkan kemampuan profesionalisme personel secara
berkesinambungan.
2. Motto
“H E B R I N G”
H : Handal
E : Efisien
B : Bersih
R : Ramah
I : Ikhlas
N : Nyaman
G : Gemilang
3. Visi dan Misi Laboratorium
a. Visi
”Menjadi Laboratorium TNI terbaik di Jawa Barat”.
b. Misi
1. Menyelenggarakan dukungan kesehatan khususnya di bidang
laboratorium yang diperlukan oleh setiap operasi TNI / TNI
AU.
2. Menyelenggarakan pelayanan laboratorium yang bermutu
terhadap anggota TNI / TNI AU berikut keluarga serta
masyarakat umum yang terintegrasi dengan pendidikan dan
penelitian.
3. Meningkatkan kemampuan profesionalisme personil secara
berkesinambungan.

B. Struktur Organisasi
Struktur organisasi laboratorium RSAU dr. M. Salamun Bandung dapat
dilihat pada bagan di bawah ini :

6
KA. KLINPAT

TIM MUTU

SUPERVISOR

KA. UNIT PELAYANAN KA. UNIT KA. UNIT KA. UNIT


TEKNIS MEDIS PELAYANAN PELAYANAN PELAYANAN
PEMERIKSAAN ADMINISTRASI BANK DARAH

SUB UNIT
BANK DARAH

SUB UNIT SUB UNIT SUB UNIT SUB UNIT SUB SUB UNIT
RAWAT RAWAT LAYANAN PENGADAAN & UNIT PENDAFTARAN
JALAN INAP 24 JAM PERAWATAN SDM

SUB UNIT KLINIK SUB UNIT KIMIA SUB UNIT SUB UNIT
RUTIN KLINIK MIKROBIOLOGI IMUNOSEROLOGI
& SEROLOGI
Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi Laboratorium
RSAU dr. M. Salamun Bandung
(Sumber : Diklat RSAU dr. M. Salamun Bandung, 2018)

7
C. Pengelolaan pasien laboratorium
Alur penerimaan pasien laboratorium dapat dilihat pada bagan ini :

Pasien Poliklinik Pasien Ruangan


LOKET PASIEN

POLIKLINIK LABORATORIUM PERAWAT

PENDAFTARAN
PENGAMBILAN NOMOR
PASIEN ANTRIAN

LOKET PENDATAAN PASIEN


(FORMULIR
PENGAMBILAN PERMINTAAN SEP)

VALIDASI HASIL BUKU RUANGAN


PENGAMBILAN
Dilakukan oleh dokter SPECIMEN BERDASAKAN
penanggung jawab NOMOR ANTRIAN buku pencatatan
pemeriksaan dan serah

PEMERIKSAAN VALIDASI HASIL


SPECIMEN
BERDASARKAN Dilakukan oleh dokter
FORMULIR penanggung jawab

PRINT OUT
PENCATATAN PRINT OUT HASIL
HASIL HASIL

Gambar 2.2 Alur Penerimaan Pasien


1. Administrasi dan Sumber Daya Manusia (SDM)
Cara registrasi pasien RS AU dr. M. Salamun Bandung yaitu mengisi
formulir yang sudah ditentukan oleh RSAU dr. M. Salamun Bandung
dan mengambil nomor antrian diformulir tersebut ada pilihan A untuk
jalur online, B untuk jalur tidak online, C untuk laboratorium dan
Radiologi serta D anggota TNI dan pensiunan TNI.
2. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)

8
a. Bantuan Hidup Dasar (BHD)
Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah usaha yang dilakukan untuk
menjaga jalan nafas tetap terbuka, menunjang pernafasan, sirkulasi,
dan tanpa alat-alat bantu. Tujuan BHD yaitu memberikan bantuan
dengan cepat untuk mempertahankan pasokan oksigen ke otak,
jantung dan alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan
lanjutan. BHD dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Danger
Amankan diri, amankan pasien atau korban dan amankan
lingkungan.
2. Respon
Cek kesadaran dengan cara memanggil korban.
3. Call for help
Meminta bantuan atau panggil bantuan, apabila dilingkungan
Rumah Sakit hubungi dengan pemberitahuan kode blue,
apabila diluar Rumah Sakit lakukan sendiri BHD terhadap
pasien/korban.
4. Circulation
Cek nadi karotis dengan cara mengecek denyut nadi pada leher
menggunakan 3 jari, apabila tidak teraba lakukan kompresi
sebanyak 30 kali.
5. Airway
Bebas jalan nafas, apabila terjadi fraktur pada leher lakukan
jaw thrust dan bilatidak terjadi fraktur pada leher lakukan head
thilt.
6. Breathing
Beri bantuan nafas dengan cara 30 kali, kompresi 2 kali nafas
dengan perbandingan 30 : 2.
b. Cuci tangan
Kebersihan tangan dilakukan dalam 5 moment, yaitu :
a. Sebelum kontak dengan pasien.
b. Sebelum tindakan aseptik.

9
c. Setelah terkena cairan tubuh pasien.
d. Setelah kontak dengan pasien.
e. Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien.
Semua petugas dan pengunjung pasien di RS AU. Dr, M Salamun
Bandung harus memahami 5 moment cuci tangan ini, sehingga
salah satu prinsip pencegahan dan kontrol infeksi dapat berjalan
dengan baik.
Cara cuci tangan yang baik dan benar :
a. Menggunakan Cairan antiseptik tanpa air dan sabun
(waktu yang diperlukan 20-30 detik).
b. Tuangkan ± 3 cc bahan antiseptik berbasis alkohol ke
telapak tangan.
c. Ratakan dan gosok dengan kedua telapak tangan.
d. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan
telapak tangan kanan dan sebaliknya.
e. Gosok kedua tangan dan sela-sela jari.
f. Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci
lalu lakukan gerakan ke atas dan ke bawah.
g. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan
kanan dan lakukan sebaliknya.
h. Gosok memutar ujung jari-jari tangan kanan ditelapak
tangan kiri dan sebaliknya.
i. Menggunakan air dan sabun (waktu yang diperlukan
40-60 detik).
j. Basahi tangan dengan air.
k. Tuangkan sabun secukupnya.
l. Ratakan dan gosok dengan kedua telapak tangan.
m. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan
telapak tangan kanan dan sebaliknya.
n. Gosok kedua tangan dan sela-sela jari.
o. Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci
lalu lakukan gerakan ke atas dan ke bawah.

10
p. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan
kanan dan lakukan sebaliknya.
q. Gosok memutar ujung jari-jari tangan kanan ditelapak
tangan kiri dan sebaliknya.
r. Bilas kedua tangan dengan air mengalir.
s. Keringkan tangan dengan tissue sampai benar-benar
kering.
t. Gunakan tissue tersebut untuk menutup kran (KPPI RS
AU. Dr, M Salamun Bandung).
c. Penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
APAR adalah peralatan yang dapat dibawa dan dioperasikan
dengan tangan, berisi bahan pemadam bertekanan yang dapat
disemprotkan denagn tujuan memadamkan api. Penggunaan APAR
yaitu PAS. P yaitu buka pin/segel, A yaitu arahkan nouzel pada
titik api, S yaitu semprotkan dengan cara menekan tuas dengan
jarak 1-2 meter pada titik api.
d. Penggunaan Kantong Plastik sebagai tempat Sampah
a. Warna kuning
Untuk limbah infeksius seperti jaringan tubuh, kasa bekas,
infus bekas, benang hecting bekas pakai, labu tranfusi
bekas, kapas alkohol bekas, kantong urine, popok
dispposible, plester, kapas, masker, sarung tangan,
pembalut, dan sampah yang terkontaminasi cairan tubuh
pasien.
b. Warna hitam
Untuk limbah non infeksius kertas tidak terpakai, bekas
bungkus makanan atau minuman, pecahan kaca, plastik,
kresek, pembungkus spuit, kayu, kaleng, sisa makanan,
kemasan sabun/shampo/pasta gigi dan sampah yang tidak
terkontaminasi cairan tubuh pasien.
c. Warna putih

11
Sampah khusus (Daur ulang) seperti gelas, toples, prabotan,
botol dan sampah yang tidak terkontaminasi cairan tubuh
pasien yang bisa didaur ulang (PPIRS K3RS RS AU. Dr, M
Salamun).
D. Beban dan Tugas
1. Kepala Patologi Klinik
a. Nama Jabatan : Kepala Patologi Klinik
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Kepala Rumah Sakit
d. Bawahan Langsung : Tim Mutu, suvervisor. Ka Unit
Pelayanan Teknis Medis, Ka Pelayanan
Pemeriksaan, Ka. Unit Pelayanan
Administrasi dan Logistik, Ka. Bank
Darah.
e. Kualifikasi Jabatan : Dokter spesialis patologi klinik
f. Tanggung Jawab
1) Ka. Klinpat adalah pelaksanan kepala RS dalam
menyelenggarakan dukungan dan pelayanan kesehatan dibidang
Patologi Klinik RS.
2) Ka. Klinpat bertanggung jawab kepada Rumah Sakit.
g. Uraian Tugas
1) Merencanakan pengembangan laboratorium medik :
a) Menentukan jenis pemeriksaan yang harus dilakukan.
b) Menentukan jumlah komponen laboratorium (personalia,
sarana, prasarana, peralatan, logistik dan lain–lain).
2) Mengkoordinir, mengawasi, dan mengendalikan kegiatan
laboratorium, meliputi :
a) Pengambilan, pengumpulan spesimen maupun jaringan.
b) Pemilihan maupun menentukan metode pemeriksan.
c) Pemantapan kualitas laboratorium.
d) Pelaksanaan pemeriksaan laboratorium.

12
e) Perawatan alat-alat laboratorium.
f) Penyajian hasil pemeriksaan laboratorium.
g) Pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan laboratorium.
h) Pemeliharaan kesehatan dan keselamatan kerja.
3) Mengkoordinir kegiatan rujukan :
a) Menentukan jenis pemeriksaan yang dirujuk.
b) Melakukan koordinasi prosedur rujukan.
4) Pembinaan dan pengembangan :
a) Melaksanakan pembinaan bagi staff dan pelaksanaan teknis
laboratorium.
b) Menyesuaikan sarana dan prasarana serta pelayanan
laboratorium menurut perkembangan.
h. Wewenang :
1) Menyusun rencana kerja.
2) Mengkoordinasikan, mengendalikan dan memantau pelaksanaan
kerja dilaboratorium.
3) Mengadakan koordinasi vertikal dan horizontal dalam rangka
meningkatkan mutu pelayanan laboratorium.
4) Menandatangani surat dan dokumen yang ditetapkan menjadi
wewenangnya.
5) Melaksanakan kesiapan rujukan.
6) Melaksanakan pembinaan bagi staff dan teknis laboratorium.
7) Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan.
2. Tim Mutu
a. Nama Jabatan : Tim Mutu
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Klinpat
d. Bawahan Langsung : Tim Mutu, supervisor. Ka. Unit
Pelayanan Teknis Medis, Ka.
Pelayanan Pemeriksaan, Ka. Unit

13
Pelayanan Administrasi dan Logistik,
Ka. Bank Darah.
e. Kualifikasi Jabatan : Letkol
f. Tanggung Jawab
1) Tim mutu adalah pelaksana Ka. Klinpat untuk terlaksananya
pelayanan laboratorium yang bermutu.
2) Tim mutu bertanggung jawab terhadap Ka. Klinpat.
g. Uraian Tugas
1) Merencanakan tentang mutu pemeriksaan.
2) Menyarankan jenis reagen yang atau dipakai melalui laporan
kepada Ka. Klinpat.
3) Menyarankan peralatan yang baik untuk dipakai kepada Ka.
Klinpat.
4) Menyarankan secara periodik diadakan kalibrasi.
5) Melakukan pemantapan untuk internal dan eksternal.
6) Ikut dalam pengawasan terhadap dalam quality control sehari-
hari yang dikerjakan oleh para pelaksana (Pemantapan Mutu
Internal).
7) Mengerjakan pemantapan mutu eksternal sampai memantau
hasil yang didapat atau mendapatkan nilai.
8) Memecahkan dan memberiksan solusi jika terjadi masalah atau
penurunan kualitas pemeriksaan dan melaporkan kepada Ka.
Klinpat
h. Wewenang
1) Harus mempunyai rencana kegiatan secara periodik.
2) Harus melaksanakan pelayanan sesuai dengan keahliannya.
3) Harus melakukan pembinaan terhadap pelaksana pemeriksa.
4) Harus melakukan koordinasi dengan bagian lain.
5) Harus memberikan solusi dalam pemecahan masalah kualitas
pemeriksaan.
3. Supervisor
a. Nama Jabatan : Supervisor

14
b. Unit kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun.
c. Atasan langsung : Ka. Klinik patologi
d. KualifiKasi jabatan : Letnan/Kolonel/Mayor/PNS golongan
III atau masa kerja lebih dari 10 tahun
e. Tanggung Jawab
1) Pelaksana dan wakil Ka. Klinpat yang diberi tugas dan tanggung
jawab yang sama.
2) Mengawasi pelaksanaan dan pelayanan di laboratorium
(administrasi dan pemeriksaan).
3) Membuat laporan kegiatan.
4) Menerima serah terima tugas piket analis hari sebelumnya
dengan analis piket alat pada hari tersebut dan dari piket alat
kepada piket analis hari tersebut.
5) Bertanggung jawab atas pengaturan petugas jaga analis yang
berhalangan hadir, diganti dengan petugas lainnya.
f. Wewenang
1) Memeberikan masukan kepada atasan dalam hal teknis
pelayanan laboratorium.
2) Mengawasi pelaksanaan kegiatan pelayanan laboratorium.
3) Mewakili Ka. Klinpat dalam hal teknis pelayanan pemeriksaan
bila yang bersangkutan berhalangan.
4. Ka. Unit Pelayanan Teknis Medis
a. Nama Jabatan : Ka. Unit Pelayanan Teknis Medis
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Kinik RS AU.
Dr, M Salamun.
c. Atasan Langsung : Tim Mutu, Ka. Klinpat
d. Bawahan Langsung : Sub Unit Rawat Jalan, Sub Unit Rawat
Inap, Sub Unita Pelayanan 24 Jam
e. KualifiKasi Jabatan : D-III Analis Kesehatan
f. Tanggung Jawab

15
1) Ka. unit pelayanan teknik medis adalah pelaksana Ka. Klinpat
untuk menyelenggarakan pelayanan di laboratorium.
2) Bertanggung jawab kepada Ka Klinpat dan tim mutu
g. Uraian Tugas
1) Mengawasi, mengkoordinir dan mengevaluasi rawat jalan, rawat
inap, pelayanan 24 jam dan Bank Darah sesuai prosedur yang
telah ditetapkan.
2) Mengatur pembagian jadwal jaga.
3) Mengatur pembagian jaga hari libur.
4) Mengatur pembagian tugas analis bila ada analis yang
berhalangan hadir.
5) Memberikan laporan evaluasi kepada atasan.
6) Memberi masukan kepada Ka. Klinik Patologi tentang teknis
pelayanan yang disesuaikan dengan rencana pengembangan
laboratorium.
h. Wewenang
1) Memeberikan masukan kepada atasan dalam hal teknis
pelayanan laboratorium.
2) Mengawasi pelaksanaan kegiatan pelayanan laboratorium.
3) Membuat daftar tugas dan jaga.
4) Mewakili Ka. Klinpat dalam teknis pelayanan pemeriksaan bila
yang berangkutan berhalangan.
5) Mengajukan perbaikan alat laboratorium, reagen, alat habis
pakai dan ATK.
5. Sub Unit Pelayanan 24 Jam
a. Nama Jabatan : Sub Unit Pelayanan Laboratorium 24
Jam
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Unit Pelayanan Teknis Medis
d. KualifiKasi Jabatan : PNS golongan II (D-III Analis
Kesehatan)

16
e. Tanggung Jawab
1) Bertanggung jawab kepada Ka. Unit pelayanan teknis medis.
2) Bertanggung jawab atas pelayanan laboratorium 24 jam.

f. Uraian Tugas
1) Berkoordinasi dengan petugas medis, analis, perawat, petugas
administrasi dan keuangan untuk pelaksanaan pelayanan
laboratorium cito 24 jam.
2) Melaksanakan pemeriksaan laboratorium.
3) Memberikan laporan pelayanan kepada Klinik Patologi melalui
Ka. Unit pelayanan teknis medis dan Ka. Unit pelayanan
Laboratorium.
g. Wewenang
Memberikan masukan kepada Ka. Klinpat melalui Ka. Unit
pelayanan teknis medis laboratorium tentang pelayanan laboratorium
24 jam.
6. Sub Unit Pelayanan Laboratorium Rawat Inap
a. Nama Jabatan : Sub Unit Pelayanan Laboratorium
Rawat Inap
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Unit Pelayanan Teknik Medis
d. KualifiKasi Jabatan : PNS golongan II (DIII-Analis
Kesehatan)
e. Tanggung Jawab
1) Sub unit pelayanan rawat inap adalah pelaksana Ka. Unit
pelayanan teknis medis dalam menyelenggarakan pelayanan
laboratorium rawat inap.
2) Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan pelayanan
laboratorium rawat inap.
f. Uraian Tugas

17
1) Berkoordinasi dengan petugas medis, analis, perawat, petugas
administrasi dan keuangan untuk pelaksanaan pelayanan
laboratorium rawat inap.
2) Memberikan masukan kepada Ka. Unit Pelayanan Teknis Medis
tentang pembagian tugas analis, tugas jaga, pergantian petugas
yang tidak hadir dan usulan pengembangan pelayanan
laboratorium di unit rawat inap.
3) Melaksanakan pemeriksaan laboratorium.
4) Memberikan laporan pelayanan kepada Klinik Patologi melalui
Ka. Unit pelayanan teknis medis.
g. Wewenang
Memberikan masukan kepada Ka. Klinpat melalui
koordinator pelayanan medis tentang pelayanan laboratorium rawat
inap.
7. Sub Unit Pelayanan Laboratorium Rawat Jalan
a. Nama Jabatan : Sub Unit Pelayanan Laboratorium
Rawat Jalan
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Unit Pelayanan Teknis Medis
d. KualifiKasi Jabatan : PNS golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung Jawab
1) Bertanggung Jawab kepada Ka. unit pelayan teknis medis dalam
menyelenggarakan pelayanan di unit laboratorium.
2) Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan pelayanan
laboratorium rawat jalan.
f. Uraian Tugas
1) Berkoordinasi dengan petugas medis, analis, perawat, petugas
administrasi dan keuangan untuk pelaksanaan pelayanan
laboratorium rawat jalan.

18
2) Memberikan masukan kepada Ka. Unit Pelayanan Teknis Medis
tentang pembagian tugas analis, tugas jaga, pergantian petugas
yang tidak hadir dan usulan pengembangan pelayanan
laboratorium di unit rawat jalan.
3) Melaksanakan pemeriksaan laboratorium.
4) Memberikan laporan pelayanan kepada Klinik Patologi melalui
Ka. Unit pelayanan teknis medis dan Ka. Laboratorium.
g. Wewenang
Memberikan masukan kepada Ka. Klinpat melalui koordinator
pelayanan teknis medis tentang pelayanan laboratorium rawat jalan.
8. Ka. Unit Pelayanan Pemeriksaan
a. Nama Jabatan : Ka. Unit Pelayanan Pemeriksaan.
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Klinpat
d. Bawahan Langsung : Sub Unit Klinik Rutin, Sub Unit Kimia
Klinik, Sub Unit Imunologi, Sub Unit
Hematologi, Sub Unit Mikrobiologi.
e. Kualifikasi Jabatan : D-III Analis Kesehatan
f. Tanggung Jawab
1) Pelaksana Ka. Klinpat dalam menyelenggarakan pelayanan
pemeriksaan di unit laboratorium.
2) Bertanggung jawab kepada Ka. Klinpat.
3) Bertanggung jawab atas terlaksananya pelayanan pemeriksaan
klinik rutin, hematologi, kimia klinik, imunoserologi dan
bakteriologi.
g. Uraian Tugas
1) Mengawasi, mengkoordinir dan mengevaluasi pelayanan
pemeriksaan klinik rutin, hematologi, kimia klinik,
imunoserologi dan bakteriologi.
2) Mengatur pembagian tugas analis.

19
3) Mengatur pembagian tugas analis bila ada analis yang
berhalangan hadir.
4) Memberikan laporan evaluasi kepada atasan.
5) Memberi masukan kepada Ka. Klinik Patologi tentang teknis
pelayanan pemeriksaan yang disesuaikan dengan rencana
pengembangan laboratorium.
h. Wewenang
1) Memberikan masukan kepada atasan dalam hal teknis pelayanan
pemeriksaan laboratorium.
2) Mengawasi pelaksanaan kegiatan pelayanan pemeriksaan
laboratorium.
3) Mewakili Ka. Klinik Patologi dalam hal teknis pelayanan
pemeriksaan bila yang bersangkutan berhalangan.
9. Ka. Unit Klinik Rutin
a. Nama Jabatan : Ka. Unit Klinik Rutin
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Unit Pelayanan Pemeriksaan
d. KualifiKasi Jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung Jawab
1) Sub unit klinik rutin adalah pelaksana Ka. Unit pelayanan
pemeriksaan dalam menyenggarakan pelayanan di laboratorium
klinik rutin.
2) Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan pemeriksaan
klinik rutin.
f. Uraian Tugas
1) Mengkoordinir pelayanan pemeriksaan Klinik Rutin.
2) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal Klinik
rutin.
3) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Eksternal Klinik
rutin.

20
4) Mengkoordinir pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dan
Pemantapan Mutu Klinik Rutin.
5) Bertanggung jawab atas pemakaian alat habis pakai dan reagen
klinik rutin.
6) Bertangung jawab atas pemakaian pemeliharaan alat klinik
rutin.
g. Wewenang
Memberikan masukan kepada Ka. Klinik Patologi melalui Ka.
Unit pelayanan pemeriksaan tentang pelaksanaan quality Control
dan pemeriksaan Klink Rutin.
10. Sub Unit Mikrobiologi
a. Nama Jabatan : Sub Unit Mikrobiologi
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Sub Unit Pelayanan Pemeriksaan
d. Kualifikasi Jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung Jawab
1) Sub unit mikrobiologi bertanggung jawab kepada Ka. Sub Unit
pelayanan pemeriksaan.
2) Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan pelayanan
mikrobiologi.
f. Uraian Tugas
1) Mengkoordinir pelayanan pemeriksaan mikrobiologi.
2) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal
mikrobiologi.
3) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Eksternal
mikrobiologi.
4) Mengkoordinir pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dan
Pemantapan Mutu mikrobiologi.
5) Bertanggung jawab atas pemakaian alat habis pakai dan reagen
mikrobiologi.

21
6) Bertangung jawab atas pemakaian pemeliharaan alat
mikrobiologi.
g. Wewenang
Memberikan masukan kepada Ka. Klinik Patologi melalui Ka.
Unit pelayanan pemeriksaan tentang pelaksanaan quality control dan
pemeriksaan mikrobiologi.

11. Sub Unit Hematologi


a. Nama Jabatan : Sub Unit Hematologi
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Sub Unit Pelayanan Pemeriksaa
h. KualifiKasi Jabatan : PNS Golongan II/ (D-III Analis
Kesehatan)
d. Tanggung Jawab
1) Sub unit mikrobiologi bertanggung jawab kepada Ka. Sub Unit
pelayanan pemeriksaan.
2) Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan pelayanan
Hematologi.
e. Uraian Tugas
1) Mengkoordinir pelayanan pemeriksaan Hematologi.
2) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal
Hematologi.
3) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Eksternal
Hematologi.
4) Mengkoordinir pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dan
Pemantapan Mutu Hematologi.
5) Bertanggung jawab atas pemakaian alat habis pakai dan reagen
Hematologi.
6) Bertangung jawab atas pemakaian pemeliharaan alat
Hematologi.
f. Wewenang

22
Memberikan masukan kepada Ka. Klinik Patologi melalui Ka.
Unit pelayanan pemeriksaan tentang pelaksanaan quality control dan
pemeriksaan Hematologi.
12. Sub Unit Imunologi
a. Nama Jabatan : Sub Unit Imunologi
b. Unit Kerja : Laboratorium Patologi Klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan Langsung : Ka. Sub Unit Pelayanan Pemeriksaan
i. Kualifikasi Jabatan : PNS Gol II/ (D-III Analis Kesehatan)
d. Tanggung Jawab
1) Sub unit mikrobiologi bertanggung jawab kepada Ka. Sub Unit
pelayanan pemeriksaan.
2) Bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan pelayanan
Imunologi.
e. Uraian Tugas
1) Mengkoordinir pelayanan pemeriksaan Imunologi.
2) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal
Imunologi.
3) Mengkoordinir pelaksanaan Pemantapan Mutu Eksternal
Imunologi.
4) Mengkoordinir pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dan
Pemantapan Mutu Imunologi.
5) Bertanggung jawab atas pemakaian alat habis pakai dan reagen
Imunologi.
6) Bertangung jawab atas pemakaian pemeliharaan alat Imunologi.
f. Wewenang
Memberikan masukan kepada Ka. Klinik Patologi melalui Ka.
Unit pelayanan pemeriksaan tentang pelaksanaan quality control dan
pemeriksaan Imunologi.
13. Petugas Bagian Imunologi
a. Nama jabatan : Petugas Bagian Imunologi

23
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Sub unit immunologi
j. Kualifikasi jabatan : D-III Analis Kesehatan
d. Tanggung jawab
1) Pelaksanaan sub unit imunologi dalam menyelenggarakan
pelayanan laboratorium.
2) Melaksanakan pemeriksaan dan kegiatan pemantapan mutu
imunologi.
e. Uraian tugas
1) Melakukan pemeriksaan imunologi.
2) Melakukan pemeriksaan dan pemantapan mutu eksternal
imunologi.
3) Melakukan pemeriksaan dan pemantapan mutu internal
imunologi.
4) Membuat pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dan
pemantapan mutu imunologi.
5) Bertanggung jawab atas pemakaian reagen dan alat habis pakai.
6) Bertanggung jawab atas pemakaian reagen dan alat
laboratorium.
7) Melaksanakan tugas jaga sesuai dengan daftar jaga.
f. Wewenang
1) Melakukan pemeriksaan imunologi dari pasien rawat inap dan
rawat jalan.
2) Melakukan pemeriksaan dan pemantapan mutu eksternal
imunologi.
3) Mengajukan kebutuhan reagen, alat habis pakai dan alat
pemeriksaan imunologi melalui penanggungjawab reagen dan
alat inventaris laboratorium.
14. Ka. Sub Unit Pelayanan Administrasi
a. Nama jabatan : Ka. Sub Unit Pelayanan Administrasi

24
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. Klinpat
d. Bawahan langsung : Sub unit pengadaan, Sub unit SDM,
Sub unit perawatan, Sub unit
pendaftaran
k. Kualifikasi jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung jawab
1) Bertanggung jawab kepada Ka. Klinik dan tim mutu.
2) Bertanggung jawab untuk menyusun merekapitulasi usulan
kebutuhan setiap sebulan sekali, penerimaan dan pemakaian dari
reagen dan alat habis pakai, alat-alat laboratorium, alat tulis
kerja, alat rumah tangga dari masing-masing penanggung jawab
dan membuat laporan hasil kegiatannya untuk diserahkan
kepada Ka. Klinik patologi.
f. Uraian tugas
1) Mengkordinir penyusun dan rekapitulasi usulan kebutuhan,
penerimaan, pemakaian dari reagen dan alat habis pakai untuk
selanjutnya di buat laporan.
2) Mengkordinir penyusun dan rekapitulasi usulan kebutuhan,
penerimaan, pemakaian dari reagen dan alat habis pakai untuk
selanjutnya di buat laporan.
3) Mengkordinir penyusun dan rekapitulasi usulan kebutuhan,
ATK dan alat habis pakai untuk selanjutnya di buat laporan.
4) Mengkordinir pendaftaran pasien rawat inap maupun rawat jalan
5) Membuat usulan kebutuhan tenaga laboratorium kepada Ka.
Klinpat.
6) Mengkoordinir orientasi tenaga baru.
g. Wewenang
1) Mengkoordinis pembuatan usulan kebutuhan laboratorium

25
2) Membuat hasil laporan rakapitulasi seluruh penerimaan,
pemakaian, dan keadaan alat laboratorium, reagen dan alat habis
pakai ATK dan alat rumah tangga.
15. Sub Unit Pengadaan
a. Nama jabatan : Sub Unit Pengadaan
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. unit pelayanan administrasi dan
logistik
d. Kualifikasi jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung jawab
1) Sub unit pengadaan adalah pelaksana Ka. Unit Pelayanan
Administrasi dan logistik.
2) Melakukan kordinasi dengan seluruh petugas laboratorium
dalam menyusun kebutuhan alat laboratorium, reagen alat habis
pakai, membuat daftar permntaan, penerimaan, penyimpanan
pemeliharaan dan pendistribusian alat laboratorium, reagen, alat
habis pakai dan ATK.
f. Uraian tugas
1) Menyusun kebutuhan alat laboratorium, reagen, alat habis pakai
dan ATK sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
2) Menerima dan menyimpan alat labratorium, reagen, alat habis
pakai dan ATK sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
3) Mengatur pendistribusian alat labratorium, reagen, alat habis
pakai dan ATK sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
4) Mengadakan pemeliharaan alat-alat laboratorium.
5) Melaksanakan pelaporan kegiatan kepada Ka. Unit Pelayanan
Administrasi.
g. Wewenang

26
1) Membuat daftar permintaan alat laboratorium, reagen, alat habis
pakai dan ATK dan diajukan ke Ka. Unit Pelayanan
Administrasi.
2) Menerima dan menyimpan alat labratorium, reagen, alat habis
pakai dan ATK sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
3) Mengatur pendistribusian alat labratorium, reagen, alat habis
pakai dan ATK sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
4) Memberikan masukan kepada Ka. Unit Pelayanan Administrasi
dalam hal kebutuhan alat labratorium, reagen, alat habis pakai
dan ATK.
16. Sub Unit Sumber Daya Manusia
a. Nama jabatan : Sub Unit Sumber Daya Manusia
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. Unit Pelayanan Administrasi dan
logistik
d. Kualifikasi jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung jawab
1) Sub unit SDM adalah pelaksana Ka. Unit Pelayanan
Administrasi dan logistik dalam menyelenggarakan pelayanan di
laboratorium patologi klinik.
2) Melakukan koordinasi kepada seluruh petugas laboratorium
untuk inventarisasi data pegawai dan penyusunan, perencanaan,
pengembangan SDM melalui pendidikan dan pelatihan
kebutuhan tenaga di klinik patologi.
f. Uraian tugas
1) Berkoordinasi dengan seluruh staff laboratorium untuk
menyusun dan melengkapi data kepegawaian di klinik patologi.
2) Berkoordinasi dengan seluruh staff dalam penyusunan,
perencanaan, pengembangan, pendidikan dan pelatihan bagi

27
staff laboratorium dan mengajukannya kepada klinik patologi
melalui Ka. Unit Administrasi dan Ka. laboratorium.
3) Memberikan laporan pelatihan dan pendidikan staff
laboratorium kepada kepala klinik patologi melalui administrasi
laboratorium.
g. Wewenang
Memberikan masukan kepada kepala klinik patologi melalui
Ka. Unit Administrasi laboratorium dengan perencanaan,
pengembangan, pendidikan dan pelatihan bagi staff laboratorium.
17. Sub Unit Perawatan
a. Nama jabatan : Sub Unit Perawatan
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. Unit pelayanan administrasi dan
logistik
d. KualifiKasi jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung jawab
1) Sub unit perawatan bertanggung jawab kepasa Ka. Unit
pelayanan administrasi dan logistik.
2) Melakukan kordinasi dengan seluruh petugas laboratorium
dalam melakukan alat-alat dan inventaris laboratorium.
f. Uraian tugas
1) Menyusun perencanaan kalibrasi alat-alat laboratorium.
2) Mengadakan pemeliharaan alat-alat laboratorium.
3) Melaksakan pelaporan kegiatan kepada Ka. Unit pelayanan
administrasi.

g. Wewenang
1) Membuat daftar permintaan alat laboratorium.
2) Menerima dan menyimpan alat laboratorium dan alat inventaris.
3) Mengatur pendistribusian alat laboratorium.

28
4) Memberi masukan kepada Ka. Unit Pelayanan Administrasi
dalam kebutuhan alat laboratorium.
5) Mengajukan perbaikan alat laboratorium.
18. Sub Unit Pendaftaran
a. Nama jabatan : Sub Unit Pendaftaran
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. Unit pelayanan administrasi dan
logistik
d. Kualifikasi jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung jawab
1) Sub unit pendaftaran adalah pelaksaan Ka. Unit pelayanan
administrasi dan logistik.
2) Mengkordinir penerimaan dan pendaftaran pasien yang memuat
identitas antara lain nama, umur, jenis kelamin, status,
pemberian nomor registrasi laboratorium.
f. Uraian tugas
1) Mengkordinir pasien rawat inap dan rawat jalan.
2) Mengkordinir pemberian nomor registrasi laboratorium.
3) Mengkordinir pencatatan dan pelaporan.
g. Wewenang
1) Memberikan nomor laboratorium.
2) Mencatat dan mengarsipkan data-data pasien.
19. Ka. Unit Pelayanan Bank Darah
a. Nama jabatan : Ka. Unit Pelayanan Bank Darah
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. Klinpat
d. Bawahan langsung : Sub unit bank darah
e. KualifiKasi jabatan : D-III Analis kesehatan
f. Tanggung jawab

29
1) Ka. Unit bank darah adalah pelaksana Ka. klinpat untuk
menyelenggarakan pelayanan bank darah di unit bank darah
rumah sakit.
2) Bertanggung jawab kepada Ka. Klinpat.
3) Bertanggung jawab untuk merencanakan, melaksanakan,
mengawasi dan mengendalikan seluruh kegiatan bank darah.
g. Uraian tugas
1) Meningkatkan mutu pelayanan darah sesuai dengan hasil analisa
data, evaluasi serta perkembangan kebutuhan.
2) Mengupayakan peningkatan kualitas pelayanan transfusi darah.
3) Membuat laporan berkala tahunan.
4) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas BDRS
dalam pendidikan dan pelatihan di bidang transfusi darah.
h. Wewenang
1) Mengusulkan rencana/program pemgembangan BDRS sesuai
dengan kebutuhan.
2) Menentukan keputusan berkenaan dengan kebijakan pelayanan
dan pengembangan bank darah.
3) Memberiksan teguran dan peringatan kepada staf yang tidak
disiplin.
20. Sub Unit Pelayanan Bank Darah
a. Nama jabatan : Sub Unit Pelayanan Bank Darah
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. unit pelayanan bank darah
d. KualifiKasi jabatan : PNS Golongan II (D-III Analis
Kesehatan)
e. Tanggung jawab : Bertanggung jawab atas terlaksananya
kegiatan pelayanan bank darah
f. Uraian tugas
1) Mengkordinir pelayanan bank darah.

30
2) Mengkordinir pelaksanaan pemantapan mutu internal bank
darah.
3) Mengkordinir pelaksanaan pemantapan mutu eksternal bank
darah.
4) Mengkoordinir pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan dan
pemantapan mutu bank darah.
5) Bertanggung jawab atas pemakaian alat habis pakai dan reagen
bank darah.
6) Bertanggung jawab atas pemakaian dan pemeliharaan alat bank
darah.
g. Wewenang
Memberikan masukan kepada Ka. Klinik patologi melalui Ka.
Unit pelayanan bank darah tentang pelaksanaan QC dan pemeriksaan
bank darah.
21. Pelaksana Bagian Phlebotomy
a. Nama jabatan : Pelaksana Bagian Phlebotomy
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. Unit pelayanan pemeriksaan
d. KualifiKasi jabatan : D-III Analis kesehatan / Perawat
e. Tanggung jawab
1) Melaksanakan sampling darah dalam mendukung dan
menyelenggarakan pelayanan laboratorium.
2) Melaksanakan pemeriksaan dan pelayanan yang optimal di
laboratorium.
f. Uraian tugas
1) Melakukan pengambilan spesimen darah semua pasien rawat
jalan.
2) Melakukan pemisahan darah sesuai dengan jenis pemeriksaan.
g. Wewenang
1) Melakukan pengambilan darah sesuai prosedur.

31
2) Melakukan pemisahan specimen sesuai dengan standar
pelayanan medis.
22. Pelaksana Tugas Dinas Pagi Dan Piket
a. Nama jabatan : Pelaksana Tugas Dinas Pagi Dan Piket
b. Unit kerja : Laboratorium patologi klinik RS AU.
Dr, M Salamun
c. Atasan langsung : Ka. Lab
d. KualifiKasi jabatan : D-III Analis kesehatan
e. Tanggung jawab
Pelaksana jaga pagi dan piket adalah tata cara pergantian
dinas piket laboratorium dan yang dimaksud dengan:
Dinas pagi : 07.00-15.00 WIB
Piket : 15.00-08.00 WIB
f. Uraian tugas:
1) Dinas pagi:
a) Masuk jam 07.00 WIB.
b) Serah terima peralatan serta tanggung jawab dengan jaga
malam.
c) Mengisi daftar hadir dan membaca buku komunikasi.
d) Mempersiapkan tugas.
e) Pulang jam 15.00 WIB setelah serah terima dengan petugas
piket.
2) Piket
a) Masuk jam 15.00 WIB.
b) Serah terima peralatan serta tanggung jawab dengan dinas
pagi.
c) Mengisi daftar hadir.
d) Membaca buku komunikasi.
e) Pulang jam 08.00 WIB setelah serah terima dengan dinas
pagi.
E. Pengelolaan Laboratorium
1. Alur pemeriksaan dan alur sampel

32
Cara registrasi pasien Laboratorium pertama mengisi formulir yang
sudah ditentukan oleh RS AU. Dr, M Salamun dan mengambil nomor
antrian di formulir tersebut ada pilihan A untuk jalur online, B untuk jalur
yang tidak online, C untuk Laboratorium dan Radiologi serta D anggota
TNI dan pensiunan TNI. Pilih loket C untuk Laboratorium. Formulir
tersebut dibagian administrasi laboratorium, apabila formulirnya belum
dilegalisir pasien harus melegalisir ke bagian kassa. Apabila sudah
dilegalisir formulir akan dicatat dibuku bagian administrasi laboratorium
dan pasien akan diberi nomor untuk diambil sampelnya dan pengambilan
hasil pemeriksan Laboratorium.
Kegiatan pemeriksaan sampel meliputi beberapa tahap seperti pra-
analitik, analitik, serta pasca-analitik sesuai dengan metode yang
digunakan. Hasil pemeriksaan dicatat pada lembar permintaan
pemeriksaan lalu akan disalin pada buku log catatan pemeriksaan harian.
Untuk hasil yang diberika kepada pasien lembar hasil diketik kemudian
hasil diserahkan kepada pasien atau ruangan tempat pasien dirawat. Untuk
hasil pemeriksaan dilalukan proses validasi hasil lebih dahulu sebelum
hasil diserahkan kepada pasien atau ruangan tempat apsien dirawat.
Pengarsipan yang dilakukan meliputi semua hasil pencatatan sumua
dokumen yang brehubungan dengan kegiatan di RS AU. Dr, M Salamun
yaitu: pengarsipan lembar permintaan pemeriksaan, pengarsipan
pencatatan barang dan pengarsipan catatan keuangan. Alat-alat yang
digunakan di Laboratorium RS AU. Dr, M Salamun. Dicatat pada buku
khusus alat yang meliputi, nama jenis atau merek, jumlah, keadaan, dan
pemakaian.
2. Administrasi
Cara penerimaan pasien di Laboratorium yaitu, pasien akan ditanya
formulir pemeriksan dan ditanya kartu berobatnya. Dibagian administrasi
akan mencatat formulir pemeriksaan pasien dan pemberian nomor antrian
pada pasien. Kegiatan administrasi dimulai dari pendaftaran yang
mengikuti proses pemberian nomor urut pemeriksaan, pencatatan identitas
pasien yang meliputi nama, alamat, tanggal lahir, jenis kelamin,

33
pangkat/NRP, dokter permohonan, asal ruangan pasien, bulan dan tanggal
pemeriksaan, serta jenis pemeriksaan.
Bagian analis sampling akan memanggil satu persatu pasien yang
sudah mendaftar sesuai nomor yang diberi oleh bagian administrasi.
Pasien akan disampling darahnya atau sampelnya yang kemudian akan
dilakukan pemeriksaan sesuai dengan parameter yang diminta serta sampel
akan diperiksan oleh bagian analis. Setelah pemeriksaan selesai hasil akan
diberikan pada pasien sesuai TAT (Turn Around Time) sampai hasil
diprint dan divalidasi oleh Penanggung Jawab Laboratorium.
F. Kegiatan Laboratorium
Jenis-jenis pasien yang dapat dilayani di RS AU. Dr, M Salamun Bandung
dibagi menjadi empat kategori yaitu :
1. BPJS
a. PBI (Penerima Bantuan Iuran)
b. Non PBI :
1) TNI
2) Non TNI : Askes & Mandiri
2. Non BPJS
a. Umum
b. Kontraktror
Jenis pelayanan yang terdapat di RSAU dr. M. Salamun Bandung
terdiri dari pasien rawat jalan dan pasien rawat inap. Pasien rawat jalan
terdiri dari pasien poliklinik dan pasien dari luar yang mendapat rujukan.
Pasien rawat inap adalah pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan
rawat inap sampai dinyatakan boleh meninggalkan rumah sakit oleh dokter
yang bersangkutan. Jenis pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium RS
AU. Dr, M Salamun
G. Pemantapan Mutu
Peningkatan mutu pelayanan laboratorium dilaksanakan melalui berbagai
upaya salah satunya melalui pelaksanaan kegiatan pemantapan mutu. Pemantapan
mutu laboratorium kesehatan adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk

34
menjamin ketelitian dan ketetapan hasil pemeriksaan laboratorium. Kegiatan
pemantapan mutu (quality assurance) mengandung komponen-komponen :
1. Pemantapan Mutu Internal (PMI)
Pemantapan Mutu Internal adalah kegiatan pencegahan dan pengawasan
yang dilaksanakan oleh masing-masing laboratorium secara terus-
menerus agar diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat. Cakupan objek
pemantapan mutu internal meliputi aktivitas: tahap pra analitik, tahap
analitik dan pasca analitik. Tujuan :
a. Pemantapan dan penyempurnaan metode pemeriksaan dengan
mempertimbangkan aspek analitik dan klinis.
b. Mempertinggi kesiagaan tenaga, sehingga pengeluaran hasil yang
salah tidak terjadi dan perbaikan kesalahan dapat dilakukan segera.
c. Memastikan bahwa semua proses mulai dari persiapan pasien,
pengambilan, penyimpanan dan pengolahan spesimen sampai
dengan pencatatan dan pelaporan telah dilakukan dengan benar.
d. Mendeteksi kesalahan dan mengetahui sumbernya.
e. Membantu perbaikan pelayanan penderita melalui peningkatan mutu
pemeriksaan laboratorium.
2. Pemantapan Mutu Eksternal (PME)
Pemantapan Mutu Eksternal adalah kegiatan yang diselenggarakan secara
periodik oleh pihak lain diluar laboratorium yang bersangkutan untuk
memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam bidang
pemeriksaan tertentu. Pemantapan Mutu Eksternal, pelaksanaannya
dengan mengikuti Program Nasional Pemantapan Kualitas Laboratorium
Kimia Klinik (PNPKLK-K) yang diadakan oleh Pusat Laboratorium
Departemen Kesehatan RI, PDS Patologi Klinik Pusat dan PME regional
dengan pelaksanaannya di Balai Laboratorium Kesehatan bidang-bidang
yang diujikan antara lain :
a. Kimia klinik : Urea, kreatinin, bilirubin, SGOT, SGPT,
protein total, glukosa, trigliserida dan
kolesterol, elektrolit (Na, K, Cl).

35
b. Hematologi : Hemoglobin, hitung leukosit, trombosit,
PT-APTT.
c. Mikrobiologi : BTA
d. Urinalisis : Urine dan tes kehamilan
e. Imunologi : HIV
f. Feses : Telur Caci

36
BAB III

KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Jadwal Kegiatan Praktek Kerja Lapangan


Kegiatan PKL ini dilakukan setiap hari, dengan dibagi kedalam beberapa
jadwal. Jadwal pagi dimulai dari jam 07.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB dan
dilanjutkan oleh mahasiswa yang mendapat jadwal siang pada jam 14.00 WIB
sampai dengan 21.00 WIB dan jadwal malam pada jam 21.00 WIB sampai dengan
09.00 WIB. Jadwal pada hari sabtu dan minggu, mahasiswa datang jam 07.00
WIB pagi untuk yang berdinas di laboratorium central sampai pemeriksaan dari
seluruh ruangan sudah selesai diperiksa, sedangkan untuk yang berdinas di
laboratrium UGD mahasiwa PKL berdinas seperti hari-hari biasanya yaitu sampai
pukul 15.00 WIB. Semua kegiatan pada jadwal siang dan malam dilakukan di
laboratorium UGD.
B. Deskripsi Umum Kegiatan Praktek Kerja Lapangan
Dalam PKL ini pembagian kerja dan waktu kerja mahasiswa diatur oleh
koordinator dari Laboratorium RS AU. Dr, M Salamun yang berwenang untuk
membuat jadwal. Setiap harinya mahasiswa mendapatkan bagian kerja yang
berbeda-beda mulai dari hematologi, kimia klinik, imunoserologi, urin dan feces,
BTA, gula darah, sampling dan administrasi. Semua mahasiswa melakukan masa
orientasi terlebih dahulu selama 3 hari. Pada tahap ini mahasiswa belum
diperbolehkan secara langsung melakukan kegiatan-kegiatan laboratorium mulai
dari pendaftaran sampai dengan pemberian hasil, mahasiswa hanya dapat melihat
dan mengamati alur pemeriksaan serta bagaimana proses pemeriksaan
berlangsung. Setelah masa orientasi selesai, mahasiswa diperbolehkan untuk
melakukan kegiatan laboratoium secara langsung mulai dari pendaftaran hingga
pemberian hasil pada pasien. Mahasiswa berkewajiban memeriksa serta mengolah
sampel sesuai dengan prosedur dan selalu mengkomunikasikan segala kegiatan
pemeriksaan sampel tersebut pada pegawai laboratorium. Semua kegiatan yang
dilakukan dicatat dalam log book dan ditandatangan oleh pembimbing lahan

37
(karyawan) Laboratorium RS AU dr. M. Salamun yang telah ditentukan sejak
awal mulai PKL.
Kegiatan lainnya yang dilakukan dalam pembuatan laporan ini adalah
dengan mengumpulkan data hasil pemeriksaan pasien laboratorium guna
mendapatkan data yang akan diolah setiap harinya. Data yang didapat diolah
dengan menggunakan aplikasi Excel agar dapat di buat grafik, setiap hari data
dimasukkan kemudian diolah dan hasil akhir dibuat Grafik.
Pengumpulan data diambil dari lembar copy hasil pemeriksaan
laboratorium yang ada di administrasi, kemudian data yang diolah meliputi :
1. Jam Input
2. Jam Output
3. Jam Sampel Datang
Sehingga dari data diatas tersebut kita bisa mendapatkan hasil Turn
Around Time (TAT) atau waktu yang dibutuhkan oleh jenis pemeriksaan tertentu
dimulai dari pendaftaran di administrasi hingga hasil diberikan kepada pasien,
kegiatan tersebut meliputi :
1. Pendaftaran pasien Laboratorium di Administrasi
2. Pengambilan Sampel
4. Penulisan Jurnal pemeriksaan
5. Pemeriksaan Sampel
6. Verifikasi hasil
7. Validasi hasil
8. Pemberian hasil kepada pasien.
C. Kegiatan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium di RS AU. Dr, M Salamun Bandung
dilaksanakan pada pukul 07.00–15.30 WIB di laboratorium central dan di
laboratorium UGD selama 24 jam. Pelayanan yang diberikan di laboratorium
central meliputi pemeriksaan hematologi lengkap, kimia klinik lengkap,
mikrobiologi, urine rutin dan imunoserologi. Sedangkan pelayanan yang diberikan
di laboratorium UGD diantaranya hematologi (tanpa MDT), kimia klinik (gula

38
darah, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, Albumin, elektrolit, CKMB, Troponin I
dan BNP) dan urine rutin.

1. Kegiatan Pra Analitik


a. Penyimpanan Reagen (FIFO)
Suatu teknik kegiatan penempatan reagen dan bahan berbahaya dan
beracun untuk menjaga kualitas dan kuantitas B3 dan atau mencegah
dampak negatif B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia,
dan makhluk hidup lainnya. Prosedur penyimpana reagen :
1) Simpanlah reagen dan B3 ditempat yang telah ditentukan.
2) Bacalah simbol dan label juga lembar data keselamatan bahan
(Material Safety Data Sheet) setiap akan mempergunakan
reagen dan B3.
3) Cara menyimpan reagen dan B3 di unit laboratorium.
a) Reagen berbahaya dan beracun disimpan dilemari khusus
yang diberi simbol dan label.
b) Alat / Bahan Medis habis pakai dan alkes disimpan pada
lemari/rak sendiri.
c) Reagen yang perputaranya cepat disimpan di tempat khusus
yang mudah terjagkau untuk mempercepat pergantian.
d) Reagen disimpan dilemari es pada suhu 2º-8ºC sesuai
dengan petnjuk penyimpanan
e) Reagen disimpan dalam lemari khusus pada suhu 15°-25°C
bersamaan dengan reagen kering sesuai dengan petunjuk
penyimpanan.
f) Untuk mencegah kadaluarsa, penyimpanan semua reagen
dengan cara FIFO (First In First Out) / barang yang datang
terdahulu dikeluarkan dulu dengan ketentuan.
(1) Label Merah

39
(a) Reagen dengan batas kadaluarsa terpendek
(<1bulan).
(b) Reagen paling dahulu digunakan.

(2) Label Kuning


(a) Reagen dengan batas kadaluarsa 1 bulan < ED < 3
bulan.
(b) Reagen digunakan setelah label merah terpakai
(3) Label Hijau
Reagen dengan batas kadaluarsa terpanjang.
Apabila stok reagen dengan batas kadaluarsa semua
sama, warna merah ditempel pada kemasan yang
ditempatkan paling depan dan harus dipergunakan
terlebih dahulu, kemudian warna kuning dan terakhir
warna hijau.
b. Quality Control
Merupakan salah satu komponen dalam proses control dan merupakan
elemen utama dari sistem manajemen mutu. Memonitor proses yang
berhubungan dengan hasl tes serta dapat mendeteksi adanya kesalahan
yang bersumber dari alat, keadaan lingkungan atau operator.
Memberikan keyakinan bagi laboratorium bahwa hasil yang
dikeluarkan adalah akurat.
Prosedur:
1) Lakukan quality control setiap hari.
2) Sesuaikan quality control dengan prosedur kerja bahan quality
control.
3) Catat hasil dalam buku arsip quality control.
Kontrol mutu laboratorium
Prosedur :
1) Validasi metode tes untuk akurasi, presisi, rentang yang dapat
dilaporkan.

40
a) Lakukan quality control setiap hari oleh petugas dimana
hasilnya maksimal ± 2SD
b) Tulis hasil quality control di buku QC untuk tiap bidang
pemeriksaan selanjutnya lakukan validasi.
c) Kerjakan pemeriksaan sampel.
2) Surveilans harian dari hasil oleh staf laboratorium berkualitas
harus memadai.
3) Langkah koreksi cepat bila dijumpai ada kekurangan
a) Apabila QC melebihi 2SD maka lakukan penelusuran
apakah disebabkan oleh alat atau reagen dan kemudian
lakukan control ulang.
b) Apabila sudah dilakukan control ulang, control masih
belum masuk, maka lakukan kalibrasi dan selanjutnya
lakukan control kembali.
4) Pengetesan reagensia
a) Lakukan pengecekan suhu kulkas
b) Lakukan pengecekan tanggal kadaluwarsa reagen
c) Lakukan pengecekan makroskopis reagen.
5) Dokumentasi hasil dan langkah koreksi
a) Tulis hasil pemeriksaan laboratorium di jurnal setiap hari
b) Arsipkan dokumen tiap 1 bulan sekali.
Kalibrasi di Laboratorium RSAU dr. M. Salamun Bandung
dilaukan oleh pihak dari pemilik alat sebagai perwakilannya yang
disebut teknisi alat, kecuali untuk alat Hematology analyzer dikerjakan
oleh pegawai laboratorium sendiri saat akan menggunakan bahan
kontrol dengan LOT yang baru dengan cara:
1) Pilih pilihan Calibration pada alat
2) Klik Change
3) Masukan no. LOT yang tertera pada bahan kalibrasi
4) Kemudian klik Result dan sedot bahan kalibrasi hingga hasilnya
keluar, dilakukan 3x secara berurutan

41
5) Masukan hasil kalibrasi kedalam format Calibration pada alat
dengan hasil yang baik yaitu mendekati nilai LOT.
c. Persiapan Pasien
Pasien laboratorium mendaftarkan diri terlebih dahulu ke bagian
informasi dengan membawa surat pengantar untuk pemeriksaan
laboratorium. Setelah itu petugas akan mendata jenis pemeriksaan apa
saja dan pasien diperkenankan memasuki ruang sampling untuk
pengambilan bahan pemeriksaan.
1) Kimia Klinik
Ada beberapa pemeriksaan dimana pasien diharuskan
berpuasa selama 10-12 jam. Pemeriksaan tersebut diantaranya
glukosa, kolesterol total, trigliserida, urea, asam urat, HDL
kolesterol, LDL kolesterol. Untuk pemeriksaan glukosa 2 jam
post prandial pasien diharuskan puasa 2 jam setelah makan.
Sedangkan untuk pemeriksaan kimia lainnya pasien tidak
diharuskan puasa setelah makan.
2) Hematologi
Pada pemeriksaan hematologi, pengambilan bahan
pemeriksaan darah dilakukan pada waktu dan kondisi yang
relatif sama untuk meminimalisasi perubahan pada sirkulasi
darah, seperti lokasi pengambilan, waktu pengambilan, serta
kondisi pasien (tidak diharuskan berpuasa, kecuali pada
pemeriksaan Laju Endap Darah).
3) Mikrobiologi
Pada pemeriksaan BTA, pengambilan sampel biasanya
dilakukan 2 kali pengambilan yaitu sampel pagi, dan sewaktu.
Pasien disarankan agar minum air teh manis pada malam hari
sebelum tidur karena dapat menyuburkan pertumbuhan Bakteri
Tahan Asam (BTA) atau meminum obat batuk GG jika
mengalami kesulitan dalam mengeluarkan dahak.

42
4) Urine Rutin
Untuk pemeriksaan urine rutin, pengambilan sampel
biasanya dilakukan oleh pasien sendiri (kecuali dalam keadaan
yang tidak memungkinkan). Bahan pemeriksaan urine yang
ideal adalah urine pancaran tengah (midstream), dimana pasien
disarankan untuk aliran pertama urine dibuang dan aliran urine
selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah disediakan.
d. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dari pasien rawat inap dilakukan oleh
perawat dengan metode open system kemudian dikirim ke
laboratorium, sedangkan untuk pasien rawat jalan dan medical check-
up dilakukan oleh petugas laboratorium dengan metode open system
dan close system. Adapun jenis sampel yang diambil terdiri dari:
1) Darah
a) Pemeriksaan Hematologi
Banyaknya sampel yang diperlukan disesuaikan
dengan kebutuhan, untuk pemeriksaan darah rutin atau
pemeriksaan LED, dilakukan fungsi vena. Darah diambil
sebanyak ± 3-5 cc kemudian dimasukkan ke dalam tabung
vakum bertutup lavender (tabung yang mengandung
antikoagulan EDTA).
b) Pemeriksaan Kimia
Sampel darah diambil sebanyak ± 3-5 cc kemudian
dimasukkan ke dalam tabung vakum bertutup kuning atau
merah, kemudian disentrifuge sehingga darah dan serum
menjadi terpisah. Serum adalah bahan yang digunakan
untuk pemeriksaan kimia klinik. Sedangkan untuk
pemeriksaan glukosa dapat diambil dari perifer karena
jumlah serum/plasma yang diperlukan hanya 10 µl.
c) Darah Kapiler
Tempat pengambilan:

43
Pada dewasa : Ujung jari tangan atau cuping telinga
Pada bayi : Ujung ibu jari kaki atau tumit
Alat : Blood lancet (Disposible lancet)
Cara pangambilan:
(1) Pilih jari tangan yang akan dilakukan penusukan.
(2) Desinfeksi tempat penusukan terlebih dahulu dengan
kapas alkohol lalu dibiarkan kering.
(3) Kulit ujung jari ditegangkan dengan ujung jari.
(4) Penusukan dilakukan dengan cepat dan tepat, dengan
arah lancet tegak lurus.
(5) Tetes darah pertama dibuang (mungkin tercampur
alkohol), kemudian tetes berikutnya dapat digunakan
(kecuali untuk pemeriksaan trombosit tetes darah
pertama yang digunakan).
d) Darah Vena
Pengambilan sampel di Laboratorium Klinik RSAU
dr. M. Salamun menggunakan 2 macam metode yaitu
metode open system dan close system. Metode close system
dan open system diterapkan untuk pasien rawat jalan
sedangkan metode open system diterapkan diruangan rawat
inap atau bila metode close system tidak berhasil.
Tempat pengambilan:
Pada umumnya semua vena yang letaknya superfisial
dapat digunakan, tetapi yang sering ialah:
(1) Dewasa : Vena mediana
(2) Bayi, anak kecil : Vena femoralis (pada paha), sinus
sagitalis (di kepala).
(3) Metode Open System
Alat : Spuit, Kapas alkohol, Kasa steril,
Torniquet, Plester.
Cara pengambilan:

44
(a) Siapkan spuit, kapas alkohol, kasa steril, torniquet
dan plester.
(b) Pasang manset/karet torniquet pada lengan atas ±
7-10 cm (4 jari) di atas fossa cubiti.
(c) Tentukan vena yang akan ditusuk. Untuk vena
yang tidak terlihat dilakukan dengan cara
memasang torniquet terlebih dahulu, kemudian
dilakukan palpasi.
(d) Lepas torniquet apabila tempat tusukan sudah
yakin.
(e) Desinfeksi tempat yang akan ditusuk dengan kapas
alkohol.
(f) Pasang torniquet lagi.
(g) Supaya vena tidak bergerak kulit ditegangkan pada
bagian terjauh dari vena dengan ibu jari kiri.
(h) Vena ditusuk dengan lubang jarum menghadap ke
atas pada posisi sudut sekitar 15 sampai 30 derajat.
(i) Lepaskan torniquet sesegera mungkin ketika darah
sudah terambil.
(j) Darah vena diambil sebanyak 3 ml atau sesuai
yang diperlukan dengan menggunakan spuit.
(k) Kapas kering ditempelkan pada kulit yang ditusuk,
setelah volume darah yang dibutuhkan tercapai,
kemudian spuit ditarik perlahan.
(l) Jarum dari spuit dilepaskan dan darah dialirkan ke
dalam wadah atau tabung yang tersedia melalui
dinding tabung.
(m) Luka tempat pengambilan darah ditutup dengan
plester steril.
(n) Buang jarum pada tempatnya.

45
(o) Berikan pengarahan pada pasien agar tidak melipat
tangannya sesudah lokasi tusukan diberi plester.
(4) Metode Close System
Alat : Venous collection system, Kapas alkohol,
Kasa steril, Torniquet, Plester.

Cara pengambilan:
(a) Siapkan venous collection system, kapas alkohol,
kasa steril, torniquet dan plester.
(b) Pasang manset/karet torniquet pada lengan atas ±
7-10 cm (4 jari) di atas fossa cubiti.
(c) Tentukan vena yang akan ditusuk. Untuk vena
yang tidak terlihat dilakukan dengan cara
memasang torniquet terlebih dahulu, kemudian
dilakukan palpasi.
(d) Lepas torniquet apabila tempat tusukan sudah
yakin.
(e) Desinfeksi tempat yang akan ditusuk dengan kapas
alkohol.
(f) Pasang torniquet lagi
(g) Pegang bagian tutup yang berwarna dengan satu
tangan, kemudian putar dan lepaskan bagian yang
berwarna putih dengan tangan lainnya
(h) Pasang dengan cara memutar jarum pada Holder,
dan putar jarum dengan rapat ke dalam Holder.
(i) Lakukan penusukan vena dengan tepat dan benar.
(j) Masukkan tabung pertama ke dalam Holder.
(k) Dorong tabung ke jarum sampai ke ujung Holder,
gunakan ibu jari untuk mendorong tabung,
sementara jari telunjuk dan jari tengah memegang

46
ujung tepi Holder. Darah akan mulai mengalir ke
dalam tabung.
(l) Lepaskan torniquet sesegera mungkin saat darah
mulai mengalir ke dalam tabung.
(m) Tekan secara perlahan pinggiran Holder dengan
ibu jari untuk melepaskan stopper dari Holder.
(n) Jarum dicabut cepat dan bekas tempat tusukan
ditekan dengan kasa steril.
(o) Homogenisasi tabung K3 EDTA yang telah diisi
dengan specimen.
(p) Luka tempat pengambilan darah ditutup dengan
plester steril.
(q) Buang jarum pada tempatnya.
(r) Berikan pengarahan pada pasien agar tidak melipat
tangannya sesudah lokasi tusukan diberi plester.
2) Urine Rutin dan Reduksi
Untuk pemeriksaan urine rutin dan reduksi diambil urine
sebanyak ± 10 cc.
3) Faeces
Untuk sampel faeces bisa diambil kapan saja, tetapi yang perlu
diperhatikan adalah cari bagian yang mencurigakan, misalnya
bagian yang ada darah dan lendir.
2. Kegiatan Analitik
Sampel yang telah diambil kemudian diperiksa sesuai dengan
pemeriksaan yang diminta pada formulir. Pemeriksaan yang bisa
dilakukan dilaboratorium central dan laboratorium UGD diantaranya
hematologi ( hb, leukosit, trombosit, dan PCV kemudian ada
pemeriksaan Diff Count, Laju Endap darah (LED), Waktu Perdarahan
(BT), Waktu Pembekuan (CT) , Golongan darah, Rhesus, Malaria), kimia
klinik (gula darah sewaktu, gula darah puasa, gula darah 2 jam post
prandial, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, albumin, dan protein total),

47
faeces rutin (makroskopis, mikroskopis dan darah samar), urine rutin
(urine indikasi, makroskopis, dan mikroskopis) dan serologi (HIV,
HbsAg, Anti HCV, TPHA, Widal, IgG IgM Dengue, IgG Salmonella dan
NS-1). Untuk pemeriksaan yang hanya bisa di laboratorium central
diantaranya hematologi (PT, APTT, Morfologi Darah Tepi, HbA1c),
kimia klinik (Asam urat, cholesterol, HDL cholesterol, LDL cholesterol,
trigliserida, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek,
Alkaliposfatase), dan mikrobiologi (BTA). Sedangkan pemeriksaan yang
hanya bisa dilakukan dilaboratorium UGD diantaranya elektrolit (Na, K,
Cl), analisa gas darah (AGD), CKMB, BNP, Troponin I.
3. Kegiatan Pasca Analitik
Hasil pemeriksaan yang telah didapatkan kemudian ditulis di formulir
permintaan yang nantinya akan disalin mengggunakan komputer. Hasil
tersebut kemudian dijadikan print-out yang akan diberikan kepada pasien
atau dokter pengirim.
D. Prosedur Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan Hematologi Manual
a. Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)
Metode : Westergreen
Prinsip : Darah ditambahkan dengan antikoagulan disimpan
pada tabung westergreen maka sel-sel darah akan
mengendap.
Alat : Tabung westergreen, Rak Tabung westergreen dan
penghisap.
Bahan : Darah vena,
Cara Kerja:
1) Siapkan tabung EDTA.
2) Ambil darah vena sebanyak 2 cc.
3) Masukkan darah ke dalam tabung EDTA, homogenkan.
4) Hisap dengan tabung westergreen sampai batas angka nol.
5) Simpan pada rak tabung westergreen selama 1 jam.

48
6) Hitung kecepatan pengendapan eritrosit setelah 1 jam (mm/jam)
Nilai rujukan:
Laki – laki : 0 – 10 mm/jam
Perempuan : 0 – 20 mm/jam
b. Waktu Perdarahan (Bleeding Time)
Metode : Duke.
Prinsip : Dibuat perdarahan atau luka kecil dan tiap 30 detik
diteteskan pada kertas saring, hitung waktu sampai
tidak terjadi lagi perdarahan.
Alat : Kapas alkohol, kertas saring, blood lancet,
stopwatch.
Cara kerja :
1) Ujung telinga dibersihkan dengan kapas alkohol, kemudian
ditusuk dengan blood lancet dan stopwatch dijalankan.
2) Darah yang keluar pertama diisap dengan kertas saring,
kemudian usap setiap 30 detik dan stopwatch dihentikan setelah
darah tidak dapat diisap lagi dan waktunya dicatat.
Perhitungan:
Jumlah tetesan darah (kecuali tetesan pertama) x 30 detik
Nilai rujukan : 1 – 3 menit.
c. Waktu Pembekuan (Clotting time)
Metode : Slide.
Prinsip : Darah diteteskan pada objek glass, kemudian dilihat
terjadinya bekuan dengan bantuan sebuah jarum,
pembekuan terjadi pada saat adanya pembentukan
fibrin.
Alat : Objek glass, blood lancet dan stopwatch.
Cara kerja:
1) Objek glass yang bersih dan kering disiapkan kemudian
stopwatch dijalankan pada saat darah diambil.
2) Jarum dilepas dan darah diteteskan diatas objek glass.

49
3) Tiap 30 detik ditarik dengan jarum lanset untuk melihat
terjadinya benang fibrin.
4) Bersamaan dengan adanya benang fibrin stopwatch dihentikan.
5) Waktu pembekuan adalah waktu darah masuk ke spuit sampai
terjadinya benang fibrin.
Nilai rujukan: 1-7 menit.
d. Hitung Jenis Leukosit
Metode : SADT (Sediaan Apus Darah Tepi).
Prinsip : Darah dipaparkan pada objek glass dan diwarnai
dengan zat warna, pengamatan dengan mikroskop.
Alat : Objek glass, Mikroskop.
Bahan : Darah, Oil imersi, Methanol, Pewarna giemsa.
Cara kerja :
1) Darah diteteskan pada objek glass bersih dan bebas lemak.
2) Dengan menggunakan objek glass lain dibuat apusan.
3) Dikeringkan dan difiksasi dengan methanol selama 2 menit,
kemudian warnai dengan giemsa (giemsa : buffer, 1:1) selama
10-15 menit.
4) Dicuci dengan air kran secara perlahan dan dikeringkan.
5) Diperiksa dengan mikroskop menggunakan oil imersi pada
perbesaran lensa objektif 100x.
Nilai rujukan :
Basofil : 0 – 1%
Eosinofil : 1 – 4%
Batang : 3 – 5%
Segmen : 35 – 70%
Limfosit : 20 – 40%
Monosit : 2 – 10%
e. Pemeriksaan Malaria
Metode : Sediaan Apus Darah Tepi (SADT).

50
Prinsip : Apus tipis darah difiksasi dengan methanol dan
diwarnai dengan giemsa akan terlihat adanya parasit
pada sediaan apus.
Bahan : Methanol, Pewarna giemsa.
Cara kerja :
1) Apus darah tipis dibuat pada objek glass.
2) Preparat dibiarkan kering pada suhu kamar.
3) Fiksasi dengan methanol selama 2 menit.
4) Diwarnai dengan giemsa (giemsa : buffer, 1:1) selama 10-15
menit, dicuci dengan air kran dan dikeringkan.
5) Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa objektif
100x menggunakan oil imersi.
f. Pemeriksaan Mikrofilaria
Prinsip : Darah dibuat tetes tebal, kemudian dilisiskan dan
selanjutnya diwarnai dengan giemsa.
Bahan : Methanol, Reagen Giemsa.
Cara Kerja :
1) Teteskan darah pada kaca objek dan buat apusan berbentuk oval.
2) Keringkan dengan posisi horizontal agar ketebalan merata.
3) Keesokan harinya darah dihemolisis dengan air bersih dengan
cara meneteskan air pada preparat hingga menutupi seluruh
preparat.
4) Setelah 1 – 2 menit cairan darah dibuang dan preparat
dikeringkan (warna merah hilang).
5) Preparat yang sudah kering difiksasi dengan methanol bersih.
6) Larutan giemsa dienderkan dengan larutan buffer atau aquadest
1:10 atau 1:14.
7) Preparat yang sudah kering ditetesi dengan larutan giemsa
selama 10 menit untuk pengenceran 1 : 10 dan 15 menit untuk
pengenceran 1 : 14

51
8) Setelah cukup waktunya, preparat dibilas dengan air bersih, hati-
hati supaya preparat tidak rusak.
2. Pemeriksaan Hematologi Otomatis
a. Hematologi Analyzer
Prinsip Kerja
Metode impedansi digunakan untuk menentukan volume dan jumlah
sel. Dalam metode ini, volume diketahui dengan menggunakan suatu
fokus lensa kamera kecil. Arus akan melewati fokus lensa kamera
tersebut dari satu sisi ke sisi lainnya. Jika suatu sel tidak dapat
melewati suatu bidik kamera maka akan menyebabkan voltase
berdenyut. Amplitudo voltase berdenyut akan sebanding dengan
perbandingan volume sel dengan volume yang melewati fokus lensa
kamera. Hal tersebut digunakan untuk menentukan banyaknya sel
yang diperoleh dengan menghitung denyut voltase.
Cara Pengoperasian :
1) Pastikan reagen (diluent, lyse, cleaner) dan saluran pembuangan
telah terpasang semua dengan baik.
2) Tekan tombol power ON / OFF. Tunggu sampai jarum keluar
dan layar menunjukkan parameter yang diperiksa.
3) Tekan START UP. Tunggu sampai layar menunjukkan
parameter yang diperiksa dengan nilai dengan batas toleransi.
4) Lakukan kalibrasi dengan menekan MENU. Pilih
CALIBRATION lalu tekan ENTER.
5) Pilih CALIBRATOR lalu tekan ENTER.
6) Masukkan nilai mean. Isap standar minimal 3 kali sampai keluar
CV%.
7) Tekan MAIN. Masuk ke program SAMPLE COUNT.
8) Tekan ID. Masukkan identitas sampel yang akan diperiksa.
Tekan ENTER atau ESC.
9) Hisap sampel darah. Tunggu hingga hasil muncul pada layar
b. Tes Koagulasi untuk pemeriksaan PT dan aPTT

52
Prinsip Kerja:
Pengukuran waktu pembekuan berdasarkan pada penentuan
dari variasi oscilation amplitude yang dicatat melalui sebuah
inductive displacement sensor. Ayunan konstan pendular ball pada
media viskositas yang tetap diperoleh dari 2 jalur kurva pada kuvet
melalui aplikasi dari:
Penciptaan sebuah elektro-magnetik yang secara bergantian
pada bidang yang berhadapan pada setiap lubang pengukuran oleh 2
koil yang terpisah. Intensitas dari medan magnet dapat bervariasi
tergantung dari test yang akan dilakukan (PT, aPTT atau
Fibrinogen). Ketika viskositas bahan naik, oskilasi amplitudo bola
menurun. Sebuah perhitungan algoritma digunakan untuk
menghitung perbedaan amplitudo yang terjadi untuk menentukan
waktu pembekuan.
Cara Pengoperasian:
1) Prothrombin Time (PT):
a) Letakkan kuvet bersama steel ball di kolom inkubasi selama
3 menit sebelum melakukan pemeriksaan
b) Tekan Menu (Test Mode) lalu tekan enter, pilih no 1 (PT)
masukkan no pasien sesuai dengan banyak test lalu tekan
enter dan layar akan berubah ke layar kerja.
c) Setelah 3 menit pipetkan 50 µl plasma ke dalam kuvet,
tekan tombol timer untuk memulai inkubasi.
d) Hisap reagen neoplastine Cl Plus sebanyak 100 µL.
e) Pada detik 50 alarm akan berbunyi menandakan waktu
inkubasi sudah hampir selesai. Pindahkan kuvet ke kolom
pengukuran
f) Pipetkan reagen neoplastine Cl Plus sebanyak 100 µL ke
dalam kuvet lalu segeratekan tombol pipet untuk
mengaktifkan timer.
g) Catat waktu pembekuannya.

53
Nilai Rujukan : 10 – 14 detik
2) Activated Partial Thromboplastin Time (APTT)
a) Letakkan kuvet bersama steel ball di kolom inkubasi selama
3 menit sebelum melakukan pemeriksaan.
b) Tekan Menu (Test Mode) lalu tekan enter, pilih no 2
(APTT) masukkan no pasien sesuai dengan banyak test lalu
tekan enter dan layar akan berubah ke layar kerja.
c) Setelah 3 menit pipetkan 50 µl plasmadan 50 µl reagen CK
Prest ke dalam kuvet, tekan tombol timer untuk memulai
inkubasi.
d) Hisap reagen STA ® CaCl2 sebanyak 50 µl.
e) Pada detik 170 alarm akan berbunyi menandakan waktu
inkubasi sudah hampir selesai. Pindahkan kuvet ke kolom
pengukuran.
f) Pipetkan reagen STA ® CaCl2 sebanyak 50 µl ke dalam
kuvet lalu segeratekan tombol pipet untuk mengaktifkan
timer.
g) Catat waktu pembekuannya.
Nilai rujukan : 26 – 36 detik.
c. Pemeriksaan HbA1c
Metode : Auto analyzer
Prinsip Kerja:
Sampel darah dimasukkan ke dalam cartridge yang berisi
reagen untuk pemeriksaan HbA1c. Cartridge dimasukkan ke dalam
alat. Sampel darah secara otomatis akan diencerkan dan dicampur
dengan larutan yang terdapat dalam Cartridge.
Cara pengoperasian:
1) Ambil dan gunakan sampling device dari Cartridge.
2) Isi kapiler sebanyak 1,5 µl: posisikan ujung tip menyentuh
sampel pasien.
a) Sampel Pasien Darah Kapiler

54
b) Sampel Pasien dari Tabung
c) Hindari terjadi overfill (melebihi batas)
3) Masukkan sampling device kedalam cartridge
4) Masukkan cartridge kedalam alat.
Penggunaan: Kapiler yang sudah diisi specimen, harus dijalankan
dalam waktu 2-3 menit. Jika analisis disimpan terlalu lama sebelum
dilakukan analisis, sampel akan kering dan koagulasi. Kode error
akan muncul pada alat.
Analisis Sampel: Waktu untuk running sampel pasien selama 3
menit, 15 detik.
3. Pemeriksaan Kimia Klinik secara Manual
a. Pemeriksaan Glukosa
Metoda : GOD – PAP
Prinsip :
Glukosa oksidase mengkatalisis oksidasi dari glukosa menurut
persamaan berikut:
Glukosa + O2 + H2O  Asam Glukonat +H2O2
Peroksida yang terbentuk akan bereaksi dengan 4-amino antipyrine
dan asam 4-hidroksibenzoid dengan adanya peroksidase (POD) dan
membentuk N-(4-antipyrin)-p-benzoquimene. Dengan penambahan
multarotase akan mempercepat reaksi. Intensitas warna yang
terbentuk sebanding dengan konsentrasi glukosa.
Alat:
1) Mikropipet 1000 µL.
2) Mikropipet 10 µL.
3) Tabung reaksi.
Bahan:
1) Serum.
2) Reagen Glukosa terdiri dari:
a) Phosphat buffer
b) 4-Aminophenazone

55
c) Glucose Oksidase
d) Peroxidase
e) Chlorophenol

Cara Kerja:
1) Disiapkan reagen pada temperatur kamar.
2) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
3) Dipipet kedalam tabung
Tabel 3.1 Cara Kerja Pemeriksaan Glukosa
Blanko Sampel Standar
Sampel - 10 L -
Standar - - 10 L
Reagen 1000 µL 1000 µL

4) Dikocok, inkubasi selama 20 menit pada temperature 20-250C


atau selama 10 menit pada temperatur 370C.
5) Dibaca pada  546 nm, sebelumnya dilakukan blanko.
Perhitungan :
𝑎𝑏𝑠𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Konsentrasi Glukosa = 𝑎𝑏𝑠𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Nilai rujukan :
Glukosa puasa : 70 – 100 mg/dL
Glukosa 2 jam pp : < 150 mg/dL
b. Pemeriksaan Cholesterol
Metoda : CHOD – PAP
Prinsip :
Cholesterol dan esternya dibebaskan dari lipoprotein oleh enzim
cholesterol esterase menghasilkan cholesterol dan asam lemak.
Cholesterol yang terbentuk dioksidasi oleh enzim cholesterol
oksidase menghasilkan H2O2. H2O2 yang terbentuk akan bereaksi
dengan 4-aminoantipirin dan phenol membentuk kompleks yang
berwarna. Warna yang terbentuk dibaca pada panjang gelombang
546-500 nm.

56
𝐶𝐻𝐸
Cholesterol ester + H2O → Cholesterol + Asam lemak
𝐶𝐻𝑂
Choleterol + O2 → Cholesterol-3-1 + H2O2
𝑃𝑒𝑟𝑜𝑥𝑖𝑑𝑎𝑠𝑒
2H2O + 4-Aminoantypirin + Phenol → Kompleks berwarna.
Alat:
1) Mikropipet 1000 µL.
2) Mikropipet 10 µL.
3) Tabung reaksi
Bahan:
1) Serum.
2) Reagen Cholesterol yang terdiri dari :
a) Goods buffer pH 6,7.
b) Cholesterolesterase.
c) Phenol.
d) 4-aminoantipiryne.
e) Peroksidase.
Cara Kerja:
1) Disiapkan reagen pada temperatur kamar.
2) Disiapkan alat dan bahan.
3) Dipipet kedalam tabung
Tabel 3.2 Cara Kerja Pemeriksaan Cholestrol
Serum / plasma 10 L
Reagen 1000 L
4) Dikocok, inkubasi selama 20 menit pada temperature 20 –
250C atau selama 10 menit pada temperatur 370C.
5) Dibaca pada  546 nm, sebelumnya dilakukan blanko.
Perhitungan :
𝑎𝑏𝑠𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Konsentrasi cholesterol = 𝑎𝑏𝑠𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Nilai rujukan : <200 mg/Dl


c. Pemeriksaan Trigliserida

57
Metode :GPO-PAP
Prinsip :
𝐿𝑃𝐿
Trigliserida → Glyserol + Fatty Acid
𝐺𝐾
Glyserol + ATP → Glyserol - 3 - Phospate + ADP
𝐺𝑃𝑂
Glyserol – 3 – phospate + O2→ Dihydroxyceton –
phospatase + H2O2.
𝑃𝑂𝐷
2H2O2 + 4 – Aminoantipyrine + Cholorophenol → chinonimine +
HCl + 4H2O.
Reagen Kit Diasys :
1) Buffer Ph 7,2 50 mmol /L
2) 4 - Cholrophenol 4 mmol /L
3) ATP 2 mmol /L
4) Mg2+ 15 mmol /L
5) Glycerolkinase  0,4 KU /L
6) Peroksidase  2 KU /L
7) Lipoprotein lipase  2 KU /L
8) 4 – Amino antipirin 0,5 mmol /L
9) Glyserol  0,5 KU /L
Cara Kerja:
1) Siapkan reagen pada suhu kamar.
2) Siapkan alat dan bahan.
3) Pipet kedalam tabung
Tabel 3.3 Cara Kerja Pemeriksaan Trigliserida
Blanko Sampel Standar
Sampel - 10 L -
Standar - - 10 L
Reagen 1000 L 1000 L 1000 L

4) Campur dan inkubasi selama 20 menit pada suhu 250C – 270C


atau 10 menit pada suhu 370C. Pembacaan konsentrasi stabil

58
dalam 60 menit dan dibaca dengan eppendrof 6122 dengan
panjang gelombang 546 nm.
Nilai rujukan :< 150 mg / dL.
d. Pemeriksaan HDL
Metoda : Presipitasi PTA (Phosphotungtic Acid)
Prinsip :
LDL dan VLDL diendapkan secara khusus oleh asam
phospatungstic dan ion – ion magnesium, setelah itu dipisahkan
dengan sentrifugasi. High Density Lipoprotein (HDL) tetap dalam
supernatant. Penentuan HDL cholesterol dilakukan dengan
mereaksikan supernatant HDL dengan reagen cholesterol dan dibaca
pada  546 nm.
Alat:
1) Mikropipet 100 µL.
2) Mikropipet 200 µL.
3) Mikropipet 500 µL.
4) Mikropipet 1000 µL.
5) Tabung reaksi
Bahan:
1) Sampel (Serum).
2) Reagen HDL.
Cara kerja:
1) Disiapkan reagen pada temperatur kamar.
2) Disiapkan alat dan bahan.
3) Dipipet kedalam tabung
Tabel 3.4 Cara Kerja Pemeriksaan HDL
Blanko Sampel Standar
Sampel - 10 L -
Standar - - 10 L
Reagen 1000 L 1000 L 1000 L

59
4) Homogenkan, inkubasi selama 10 menit pada temperatur 15 -
250C atau selama 5 menit pada temperatur 370C. Ukurlah
absorban sampel tehadap blanko pada  546 nm.
Perhitungan:
Konsentrasi HDL – Cholesterol = Absorban x faktor.
Faktor : 310 mg/ dL
Nilai rujukan:
Laki- laki : >55 mg/dL
Perempuan : > 65 mg/dL
e. Pemeriksaan LDL
Metoda : Formula Friedwald.
Prinsip :
Low Density Lipoprotein (LDL) diedapkan oleh heparin pada
titik iso elektriknya (pH 5,12). Setelah sentrifugasi LDL tetap berada
dalam supernatan dan dapat ditentukan dengan metoda enzimatik.
𝑇𝑟𝑖𝑔𝑙𝑖𝑠𝑒𝑟𝑖𝑑𝑎
LDL = Cholesterol total – – HDL Cholesterol
5

Nilai rujukan : < 150 mg/dL


f. Pemeriksaan Ureum
Metoda : Enzimatik-UV
Prinsip :
𝑈𝑟𝑒𝑎𝑠𝑒
Urea + 2H2O → 2NH4+ + -Ketoglutarate + NADH aaL-
Glu+NAD+ + H2O.
Cara Kerja :
1) Disiapkan reagen pada temperatur kamar.
2) Disiapkan alat dan bahan.
3) Kemudian pipet sesuai dengan kolom berikut :
Tabel 3.5 Cara Kerja Pemeriksaan Ureum
Blanko Sampel Standar
Sampel - 10 L -
Standar - - 10 L
Reagen 1000 L 1000 L 1000 L

60
4) Campur atau homogenkan, dan baca absorban selama 25 detik
dan 75 detik.
Perhitungan :
𝑎𝑏𝑠𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Konsentrasi urea = 𝑎𝑏𝑠𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Nilai rujukan : 10 – 50 mg/dL


g. Pemeriksaan Kreatinin
Metoda : Jaffe tanpa deproteinisasi.
Prinsip :
Kreatinin dengan asam pikrat dalam suasana basa akan
membentuk senyawa kompleks yang berwarna. Intensitas warna
yang terbentuk sebanding dengan kadar kreatinin.
Alat:
1) Mikropipet 200 L
2) Mikropipet 1000 L
3) Tabung Reaksi
Bahan:
Reagent creatinin, terdiri dari:
1) Asam pikrat.
2) NaOH.
Kedua larutan dicampur dengan perbandingan 1 : 1
Cara Kerja:
1) Disiapkan reagen yang akan digunakan pada temperatur kamar.
2) Disiakan alat dan bahan yang akan digunakan.
3) Dipipet kedalam tabung
Tabel 3.6 Cara Kerja Pemeriksaan Kreatinin
Sampel
Serum 200 L
Reagen Kerja 1000 L

61
4) Campur hingga homogen, inkubasi selama 8 detik pada
temperatur kamar. Baca konsentrasi kreatinin pada  546 nm.
Nilai rujukan :
Laki – laki : 0,6 – 1,2 mg/Dl
Perempuan : 0,5 – 1,0 mg/dL
h. Pemeriksaan Alkali Phospatase (ALP)
Metode : DGKC
Prinsip :
P-nitrophenil phospat + H2O  Phospat + p-nitrophenol.
Reagen :
1) Kit Roche MPR2.
2) Reagen I : 10 x15 mL.
3) Reagen 1a 2 botol x 25 tablet
Cara Kerja :
1) Disiapkan reagen pada temperatur kamar.
2) Disiapkan alat dan bahan.
3) Dipipet kedalam tabung
Tabel 3.7 Cara Kerja Pemeriksaan Alkali Phospatase (ALP)
Reagen ( 250C, 300C, 370C ) 500 µL
Serum 10 µL

4) Campur, baca dengan eppendrof 4153 absorbannya setelah 1


menit dengan panjang gelombang 405 nm.
i. Pemeriksaan Uric Acid
Metoda : Enzimatik Trinder / Uricase
Prinsip :
𝑢𝑟𝑖𝑐𝑎𝑠𝑒
Asam urat + O2 + 2H2O→ Alantoin + CO2 + H2O2
𝑝𝑒𝑟𝑜𝑥𝑖𝑑𝑎𝑠𝑒
2H2O2 + 4-AAP + DHBS → Cromogen + 4H2O
Asam urat dioksidasi oleh Uricase menjadi Alantoin dan peroxida.
DHBS, 4-Aminoantipyrine dan peroxida dengan adanya peroxidase
menghasilkan kromogen berwarna yang diukur pada panjang

62
gelombang 546 nm yang sebanding dengan kadar asam urat dalam
sampel.
Alat:
1) Mikropipet 1000 µL.
2) Mikropipet 20 µL.
3) Tabung reaksi.
Bahan:
1) Serum.
2) Reagen asam urat.
Cara Kerja:
1) Dipipet ke dalam tabung
2) Dicampur hingga homogen dan inkubasi selama 15 – 30 menit
pada suhu kamar kemudian diukur absorban sampel dan standar
terhadap blanko pada panjang gelombang 546 nm.
Tabel 3.8 Cara Kerja Pemeriksaan Uric Acid
Blanko Standar Sampel
Sampel - - 10 µl
Standar - 10 µl -
Reagen 500 µl 500 µl 500 µl

Perhitungan:
𝐴𝑏𝑠𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Cons Asam Urat = 𝐴𝑏𝑠𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Nilai rujukan :
Laki – laki : 3,4 – 7,0 mg/dL
Perempuan : 2,4 – 5,7 mg/dL
j. Pemeriksaan Total Protein
Metode : Biuret
Prinsip :
Protein bereaksi dengan ion cupri dalam larutan alkali
membentuk kompleks berwarna ungu. Intensitas warna yang
teerbentuk sesuai dengan kadar protein dalam sampel, dibaca pada 
546 nm.

63
Alat:
1) Mikropipet 10 L
2) Mikropipet 1000 L
3) Tabung reaksi
Bahan:
1) Serum
2) Reagen protein yang terdiri dari :
R1 : Hydroxyde de sodium 80 mmol /L
Tetrate de sodium et potassium 12,8 mmol / L
R2 : Hydroxyde de sodium 100 mmol /L
Tetrate desodium et potassium 16 mmol /L
Iodure de potassium 15 mmol /L
Sulfate de cuivre 6 mmol /L
Standard 5,0 g / L
Cara kerja:
1) Disiapkan reagen pada temperatur kamar
2) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
Tabel 3.9 Cara Kerja Pemeriksaan Total Protein
Blanko Standar Sampel
Sampel - - 20 L
Standar - 20 L -
Reagen 1000 L 1000 L 1000 L

3) Dipipet kedalam tabung


4) Dihomogenkan, inkubasi selama 5 menit pada temperatur
kamar. Baca pada  546 nm, sebelumnya dilakukan blanko.
Perhitungan:
𝑎𝑏𝑠𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Konsentrasi Protein Total=𝑎𝑏𝑠𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Nilai rujukan : 6,6 – 8,7 g/dL


k. Pemeriksaan Albumin
Metoda : Tes Kolorimetri Brom Cresol Green.
Prinsip :

64
Albumin dengan bromcresol green membentuk senyawa
kompleks yang berwarna pada pH 4,2. Intensitas warna yang
terbentuk sesuai dengan kadar albumin dalam sampel.
Alat:
1) Clinipet 10 L
2) Clinipet 1000 L
3) Tabung reaksi
4) Fotometer
Bahan:
1) Serum
2) Reagen albumin
Cara kerja:
1) Siapkan reagen yang akan digunakan pada suhu kamar
2) Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
3) Dipipet kedalam tabung sesuai dengan :
Tabel 3.10 Cara Kerja Pemeriksaan Albumin
Blanko Standar Sampel
Sampel - - 10 L
Standar - 10 L -
Reagen 1000 L 1000 L 1000 L

4) Homogenkan, diinkubasi selama 5 menit pada suhu kamar


5) Baca absorban sampel dan standar terhadap blanko
Perhitungan :
𝑎𝑏𝑠𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Konsentrasi Albumin = 𝑎𝑏𝑠𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Standar = 5 g/dL
Nilai rujukan :3,5 – 5,0 g/dL
l. Bilirubin Total dan Direk
Metoda : Azobilirubin menurut Jendrassik dan Grof
Prinsip :

65
Bilirubin bereaksi dengan diazotoned sulfanilic acid akan
membantuk suatu zat yang berwarna merah dalam larutan netral dan
biru dalam larutan alkaline. Bilirubin glukoronides yang biasa larut
dalam air beraksi langsung (direct), sedangkan bilirubin yang bebas
(indirect) hanya akan bereaksi bila ada aceletato. Bilirubin total
dalam serum atau plasma ditentukan dengan menggunakan metode
Jendrassik dan Grof yaitu dengan mengikatnya dengan diazotied
sulfanilic acid setelah penambahan caffeine, sodium benzoate, dan
sodium acetate. Azobilirubin yang berwarna biru akan terbentuk
dalam alkaline fehling II. Senyawa biru ini juga dapat ditentukan
secara selektif dengan adanya hasil samping yang berwarna kuning
yang dapat diukur pada  578 nm. Bilirubin direk diukur dalam
bentuk zat azo berwarna merah pada  546 nm dengan menggunakan
metode Scheilong dan Wende. Metode ini dibuat berdasarkan
definisi bilirubin direk yaitu sebagai jumlah bilirubin yang dapat
ditentukan setelah bereaksi selama 5 menit tanpa penambahan
acceletator.
Alat:
1) Clinipet 200 L
2) Clinipet 50 L
3) Clinipet 1000 L
4) Tabung Reaksi
5) Photometer
Bahan:
Merckotest, terdiri dari :
1) Sulfanilic acid
2) Sodium Nitrit
3) Acceletator
4) Fehling ll
Cara kerja:
1) Siapkan reagen yang akan digunakan

66
2) Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
3) Dipipet kedalam tabung

Tabel 3.11 Cara Kerja Pemeriksaan Bilirubin Total dan Direk


Bilirubin Total Bilirubin Direct
Sampel Blanko Sampel
Asam Sulfanilat 200 L 200 L AsamSulfanilat 200 L
Sodium nitrat 50 L - Sodium nitrat 50 L
1000
Acceletator 1000 L 1000 L Acceletator
L
NaCl
NaCl Fisiologis - - -
Fisiologis
Serum/ plasma 200 L 200 L Serum/ plasma 200 L
Campur, inkubasi 10 menit pada temperatur
Campur, inkubasi 5 menit
kamar
pada temperatur kamar
Fehling ll 1000 L 1000 L
Campur inkubasi 10 menit pada temperatur kamar

4) Bilirubin total dibaca pada  578 nm, dan bilirubin direk dibaca
pada  546 nm
Perhitungan :
Bilirubin Total = A Sampel x F ( 10,5 )
Bilirubin Direk = A Sampel x F ( 14,0 )
Nilai rujukan :
Bilirubin Total : < 1,0 mg/dL
Bilirubin Direct : < 0,25 mg/dL
m. SGOT / AST ( Aspartat Amino Transaminase )
Metoda : Tes Optimasi sesuai rekom IFCC
Prinsip :
2 – oksoglutarat + L- Aspartate  Glutamat + Oksaloasetate
Oksaloasetae + NADH + H  Mlat + NAD
Kecepatan penurunan kadar NADH diukur secara fotometris dan
berbanding lurus dengan aktivitas AST dalam sampel.

Alat :

67
1) Clinipet 50 µL
2) Clinipet 500 µL
3) Tabung reaksi

Bahan :
1) Serum / plasma
2) Reagen SGOT/AST
Cara kerja:
1) Siapkan reagen yang akan digunakan pada temperatur kamar
2) Siapkan alat dan bahn pemeriksaan
3) Pipet ke dalam kuvet
Tabel 3.12 Cara Kerja Pemeriksaan SGOT / AST
( Aspartat Amino Transaminase )
Sampel
Serum/Plasma 50 L
Reagen 500L

4) Kocok hingga homogen dan diikubasi selama 1 menit pada


temperatur 370C, baca aktivitas enzim dengan menggunakan
photometer dengan faktor 952 pada  340 nm
Perhitungan : Aktivitas enzim = A/ menit x F
Nilai rujukan :
Laki – laki : <37 IU/L
Perempuan : <31 IU/L
n. SGPT / ALT (Alanine Amino Transaminase)
Metoda : Tes Optimasi Recom IFCC
Prinsip : 2 – Oksoglutarat + L – Alanine  Glutamat + pyruvat
Piruvat + NADH + H  Lactat + NAD
Kecepatan penurunan kadar NADH diukur secara fotometris dan
berbanding lurus dengan aktivitas ALT.
Alat :
1) Clinipet 50 L

68
2) Clinipet 500 L
3) Cuvet
4) Photometer

Bahan:
1) Serum/plasma
2) Reagen SGPT/ALT
Cara kerja:
1) Disiapkan reagen pada temperatur kamar
2) Disiapkn alat dan bahan pemeriksaan
3) Diisikan kedalam kuvet
Tabel 3.13 Cara Kerja PemeriksaanSGPT / ALT
(Alanine Amino Transaminase)
Sampel
Serum / Plasma 50 L
Reagen 500 L

4) Kocok hingga homogen dan inkubasi selama 1 menit pada


temperatur 370C, baca aktivias enzim dengan menggunakaan
fotometer dengan faktor 952 pada  340 nm
Perhitungan : Aktivitas enzim =A / Menit X F
Nilai rujukan :
Laki – laki : < 40 IU/L
Perempuan : < 31 IU/L
o. Pemeriksaan CKMB, Troponin I dan BNP
Metode : Immunoassay Fluoresensi
Prinsip Kerja :
Analisis didasarkan pada jumlah konsentrasi fluoresensi dari
zona pada tes perangkat, The Meter mendeteksi dalam pengukuran
terdeteksi dengan Dia analit (s) dalam spesimen berbanding lurus.
Hasil dari fluoresensi ditampilkan pada layar meter sekitar 20 menit
dari penambahan spesimen.

69
Cara Kerja :
1) Hidupkan alat alere, lalu siapkan bahan yang diperlukan.
2) Pipet darah dengan menggunakan pipet khusus untuk
pemeriksaan CKMB dan Troponin. Darah yang dipakai adalah
darah yang ada didalam tabung berwarna ungu (EDTA).
3) Pemipetan darah harus sampai keluar ke kantong pipet.
4) Kemudian, sampel darah dimasukkan kedalam kit secara
berlahan.
5) Masukkan kit ke dalam alat alere untuk dibaca.
6) Baca hasil yang telah keluar baik di display maupun pada print
outnya.
Catatan: Hasil akan keluar dalam waktu ± 20 menit.
4. Pemeriksaan Kimia Klinik secara Otomatis
a. Kimia Analyzer
Cara mengoprasikan alat yaitu:
1) Hidupkan alat dengan menekan tombol ON.
2) Tekan ENTER.
3) Muncul tampilan pada layar (main menu), Pilih
CONCENTRATION.
4) Tekan ENTER.
5) Muncul pada layar tampilan FILE MENU.
6) Pilih jenis pemeriksaan sesuai dengan pemeriksan yang
diinginkan dengan menekan tombol Page down , Page up.
7) Tekan ENTER.
8) Tunggu pemanasan (insert base line).
9) Tekan ENTER.
10) Muncul kode pasien.
11) Diisi kode sampel, kemudian ada perintah insert sample dengan
menekan tombol pada bagian bawah. Tunggu hingga hasil
keluar.
12) Setelah selesai jangan lupa cuci dengan menekan tombol Wash

70
b. Gula Darah Strip
Pemeriksaan POCT dengan menggunakan dengan gula Strip
merupakan cara cepat untuk mendeteksi glukosa darah. Keuntungan
pemeriksaan ini sampel yang digunakan sedikit sehingga dapat
diambil dari kapiler. Selain itu juga hasil dapat keluar hanya dalam
waktu beberapa detik saja. Metode ini sangat berguna untuk pasien
UGD yang kondisinya buruk sehingga membutuhkan pemeriksaan
glukosa darah yang cepat (cyto) atau monitoring gula darah pasien
rawat inap.
Cara Kerja:
1) Pastikan nomor chip alat sama dengan nomor stik reagen.
2) Masukkan stik reagen ke dalam lubang alat. Tunggu hingga
muncul angka pada display.
3) Tunggu hingga display menunjukkan masukkan sampel darah.
4) Masukkan sampel darah ke bagian reagen. Sampel bisa darah
dari perifer, vena, serum atau plasma sejumlah ±10µL.
5) Tunggu hingga display menunjukkan angka kadar gula dalam
sampel.
6) Cabut stik dan segera dibuang ke tempat pembuangan infeksius.
5. Pemeriksaan Klinik Rutin Dan Cairan Tubuh
a. Pemeriksaan Urine Rutin
1) Pemeriksaan Urine Secara Makroskopik
a) Warna
Urine normal berwarna kuning muda adapun macam-
macam warna urine yang mungkin ada adalah jernih, kuning
campur darah, putih susu dan lain- lain.

b) Kekeruhan
Amati urine yang akan diperiksa apakah urine keruh
pada saat dikeluarkan atau setelah didiamkan beberapa saat,

71
hasil pemeriksaan dinyatakan dengan jernih, agak keruh,
keruh, sangat keruh. Urine normal adalah jernih.
c) Bau
Aroma pada urine disebabkan oleh adanya asam
organik yang mudah menguap dan jika didiamkan beberapa
saat akan berbau amoniak sebagai hasil fermentasi
amonium. Urine normal berbau amonia, sedangkan dalam
keadaan patologis dapat berbau busuk.
2) Pemeriksaan Urin Secara Mikroskopik
Prinsip:
Berat jenis unsur – unsur sedimen organik dan non
organik lebih besar daripada berat jenis urine sehingga dengan
cara disentrifuge maka zat– zat tersebut akan mengendap.
Alat:
a) Sentrifuge
b) Tabung reaksi
c) Objek glass
d) Mikroskop
Cara Kerja:
a) Urine dikocok dalam botol supaya tercampur merata,
masukkan ± 5 cc urine kedalam tabung sentrifuge dan
diputar selama 5 menit pada kecepatan 2000 rpm.
b) Cairan bagian atas dituangkan sehingga volume cairan
menjadi 1 ml.
c) Diteteskan 1 tetes pada objek glass dan tutup dengan deck
glass.
d) Amati dengan mikroskop dengan perbesaran mula–mula
10x lalu dengan 40x.
Nilai rujukan:
a) Leukosit : < 6/ lapang pandang
b) Eritrosit : 0-1/ lapang pandang

72
c) Epitel : ada, sedikit
d) Kristal : Oksalat, urat, fosfat, karbonat.
b. Pemeriksaan Urin Secara Kimiawi
Metoda : Carik Celup
Prinsip :
1) Pemeriksaan Glukosa ( Reduksi )
Carik celup dilekati kertas berisi dua macam enzim, yakni
glukosa oksidase dan peroksida bersama dengan semacam zat
seperti iodide sebagai kromogen yang akan berubah warna jika
dioksidasi.
𝐺𝑙𝑢𝑐𝑜𝑠𝑎𝑂𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎𝑠𝑒
Glukosa → Asam Glukonat + Hydrogen peroksida
𝑃𝑒𝑟𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎𝑠𝑒 1
→ H2O + O2 . O2 yang terbentuk akan mengoksidase
2

iodide, menghasilkan warna cokelat. Semakin banyak glukosa


semakin tua warna cokelat yang terjadi.
2) Pemeriksaan Protein
Adanya protein dalam urine akan mempengaruhi pH,
perubahan pH akan merubah warna indikator. Derajat perubahan
warna ditentukan oleh kadar protein dalam urine.
3) Pemeriksaan Bilirubin
Bilirubin dengan garam diazonium (2-6 diclorobenzene-
diazoniumfloroborat) dalam suasana asam membentuk
azobilirubin yang berwarna merah violet.
4) Pemeriksan Urobilinogen
Urobilinogen dengan para-aminobenzaldehide dalam
suasana asam akan membentuk senyawa azo yang berwarna
merah.

5) Pemeriksaan Keton

73
Natriumnitroprusid sebagai oksidator kuat dengan asam
asetoasetat dan aseton yang bersifat basa membentuk senyawa
yang berwarna violet.
6) Pemeriksaan Nitrit
Nitrit dengan para-arsinilic acid dan
tetrahydrobenzoquinolin dalam suasana asam akan membentuk
senyawa yang berwarna merah muda.
7) Pemeriksaan pH
Kombinasi indikator methyl red dan bromthymol blue
yang terkandung pada carik memungkinkan perubahan warna
carik sesuai dengan pH urine
8) Pemeriksaan Berat Jenis
Bromthymol blue dengan methylvinyl ether maleic acid
sodium salt akan memberikan warna pada urine dengan bj ≥ 0,5.
9) Pemeriksaan Eritrosit
Peroksida oleh peroksidase yang ada pada Hb membentuk
On dan H2O. On yang terbentuk akan mengoksidasi benzidin
(kromogen) membentuk senyawa hijau biru.
10) Pemeriksaan Leukosit
Asam karbonat esther oleh esterase yang terdapat pada
granulosit akan membentuk indoxyl. Indoxyl di oksidasi
terbentuk senyawa indigo yang berwarna indigo.
Alat dan Bahan:
1) Strip carik celup
2) Alat Urinalisa
3) Urine
Cara Kerja:
1) Celupkan strip carik celup kedalam urine yang telah
dihomogenisasi.
2) Amati warna yang terbentuk.

74
3) Bandingkan dengan warna standard yang tertera pada kemasan,
untuk mengetahui kadar protein secara kuantitatif.
4) Baca strip carik celup dengan menggunakan alat pembaca
(reader).
Cara pengoperasian:
1) Tekan tombol power dibagian belakang alat.
2) Tunggu sampai alat siap hingga muncul kata READY (START)
pada display kemudian tekan START.
3) Test strip yang telah siap dibaca kemudian diletakkan pada alat.
4) Kemudian tunggu beberapa saat hingga test strip dibaca oleh alat
dan hasil akan dicetak secara otomatis.
5) Hasil yang sudah dicetak selanjutnya dikonfirmasi dengan
pemeriksaan sedimen urin secara mikroskopis.
6. Pemeriksaan Faeces Rutin
a. Pemeriksaan Makroskopik
1) Warna
Faeces normal berwarna kuning agak cokelat, warna
abnormal faeces adalah hitam, abu – abu, hijau, merah, dan lain
-lain.
2) Konsistensi
Normalnya adalah lunak berbentuk atau lembek, dalam
keadaan abnormal dapat berupa cair, keras dan lain – lain.
3) Bau
Bau faeces disebabkan oleh adanya skatol dan indol.
4) Darah, pus, dan lendir
Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dan pus,
sedangkan lendir ada sedikit.
b. Pemeriksaan Mikroskopik
Metode : Eosin

75
Prinsip :
Faeces dibuat menjadi sediaan menggunakan larutan eosin 1
% kemudian diperiksa dibawah mikroskop.
Cara Kerja:
Buat sediaan faeces di atas objek glass, tetesi eosin 1 % dan
periksa di bawah mikroskop dengan perbesaran lensa objektif 10 x
lalu 40x.
Interpretasi hasil:
Melaporkan adanya eritrosit, leukosit, amoeba, sisa makanan,
telur cacing. Faeces normal ditemukan adanya :
1) Sel epitel : <1 / lpb
2) Leukosit : <5 / lpb
3) Eritrosit : <1 / lpb
4) Sisa makanan
7. Pemeriksaan Immuno-Serologi
a. Pemeriksaan Widal
Metoda : Slide
Prinsip : Antigen + antibodi  Aglutinasi
Alat dan Bahan :
1) Serum
2) Mikropipet
3) Reagen Widal (antigen O dan H)
4) Slide atau porselen
Cara Kerja :
1) Diteteskan 20 L serum diatas slide sebanyak 8 buah.
2) Tambahkan masing – masing satu tetes reagen widal jenis
antigen O dan H.
3) Dicampur hingga homogen dan digoyang selama satu menit.
4) Aglutinasi yang terbentuk dibaca dibawah mikroskop
dinyatakan sebagai titer.

76
Interpretasi Hasil:
Hasil Positif : Titer widal : 1/80, 1/160, 1/320, 1/640
Hasil Negatif : Tidak terjadi aglutinasi.
b. Pemeriksaan HbsAg
Metoda :Immunochromatography Test
Prinsip :
HBsAg pada serum akan berikatan dengan anti HBs yang
terdapat pada tes area sehingga menghasilkan garis berwarna merah.
Ikatan HBsAg dengan anti HBsAg bergerak sepanjang membran
karena adanya gaya kapilaritas membran. Hasil dinyatakan positif
bila terbentuk dua buah garis berwarna merah.
Alat dan Bahan:
1) Strip hepatitis B
2) Serum
Cara Kerja:
1) Strip dicelupkan ke dalam serum sampai tanda batas.
2) Angkat strip kemudian tunggu 10-15 menit.
Interpretasi Hasil:
Hasil Positif : Terlihat dua garis berwarna merah
Hasil Negatif : Terlihat satugaris berwarna merah
c. Pemeriksaan Dengue IgG dan IgM
Metode : Immunochromatography Test
Prinsip :
IgG dan atau IgM Dengue pada serum akan berikatan dengan
anti human IgG/IgM Dengue yang terdapat pada tes area sehingga
menghasilkan garis berwarna merah. Ikatan IgG/IgM Dengue dengan
anti human IgG/IgM Dengue bergerak sepanjang membran karena
adanya gaya kapilaritas membran.Hasil dinyatakan positif bila
terbentuk garis berwarna merah pada tes dan kontrol.

77
Cara kerja:
1) Device test dikeluarkan dari kantung aluminium foil, kemudian
ditempatkan pada permukaan kering dan datar.
2) Ditambahkan 5 µl sampel serum/plasma kedalam sumur lubang
sampel.
3) Ditambahkan 3-4 tetes diluent kedalam lubang bulat paling
ujung.
4) Baca hasil dalam 20 menit.

Interpretasi Hasil :
1) IgM Positif

IgM C
2) IgG Positif

3) IgM Positif IgG C


dan IgG Positif
IgG IgM C
4) Negatif

5) Invalid / gagal

IgG

Gambar 3.1 Interpretasi Hasil Pemeriksaan


Dengue IgG dan IgM
d. Tes Kehamilan
Metode : Immunochromatography Test
Prinsip :
HCG dalam urine akan berikatan dengan anti alpa HCG pada
membrane strip, dengan adanya gaya kapiler ikatan tersebut akan
bergerak ke atas dan memberikan ikatan dengan anti beta HCG.

78
Kelebihan anti alpa HCG akan berikatan dengan HCG monoclonal
lengkap dan membentuk ikatan sandwich. Hasil positif terlihat
sebagai dua garis berwarna merah.
Alat dan Bahan:
1) Strip Pregnancy Test
2) Urine
Cara kerja:
1) Strip dicelupkan ke dalam urine sampai tanda batas.
2) Strip diangkat dan ditunggu beberapa saat di atas permukaan
yang datar.
3) Hasil dinyatakan positif apabila terlihat dua garis berwarna
merah dan hasil dinyatakan negatif apabila terlihat satu garis
berwarna merah.
e. Pemeriksaan IgM Anti Salmonella
Metode : Immunochromatography Test
Prinsip :
IgM Salmonella typhipada serum akan berikatan dengan anti
human IgM Salmonella yang terdapat pada tes area sehingga
menghasilkan garis berwarna merah. Ikatan IgM Salmonella
typhidengan anti human IgM Salmonella bergerak sepanjang
membran karena adanya gaya kapilaritas membran.Hasil dinyatakan
positif bila terbentuk dua buah garis berwarna merah.
Cara Kerja:
1) Biarkan alat dan buffer test untuk mencapai suhu ruang sebelum
digunakan.
2) Buka aluvoil dengan merobek pada tempat yang ditentukan.
3) Keluarkan alat dan loop sampel. Beri label pasien.
4) Tempatkan alat pada tempat yang datar
5) Teteskan 5µL darah, serum atau plasma kedalam lubang A
dengan menggunakan mikropipet atau sampel loop yang tersedia.

79
Celupkan sampel loop pada sampel dan tempelkan (Blot) sampel
pada lubang ‘A’
6) Tambahkan 5 tetes buffer kedalam lubang ‘B’
7) Baca hasil tes setelah 10-15 menit.
f. Pemeriksaan HIV
Metode : Immunochromatography Test
Prinsip :
Untuk deteksi antibodi HIV dalam serum pasien. Membran alat
dilapisi dengan anti IgG HIV yang akan bereaksi dengan antibodi di
dalam serum. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya garis warna
merah pada tes dan kontrol.
Cara Kerja:
1) Biarkan alat dan sampel untuk mencapai suhu ruang sebelum
digunakan.
2) Buka alat dengan merobek kemasan.
3) Tempatkan alat pada tempat yang datar.
4) Teteskan 3 tetes serum / plasma pada membran sampel. Biarkan
hingga seluruh membran terbasahi dengan gaya kapilaritas .
5) Baca hasil tes setelah 10 menit, jangan dibaca lebih dari 20
menit.
Interpretasi Hasil :
Hasil Positif : Terdapat dua garis warna merah pada
control (C) dan test (T).
Hasil Negatif : Terdapat satu garis warna merah pada
control (C).
Hasil Invalid : Hanya terdapat satu garis warna merah
pada test (T).
g. Anti-HCV
Metode : Immunochromatography Test

80
Prinsip :
Untuk deteksi antibodi HCV dalam serum pasien. Membran
alat dilapisi dengan anti IgG HCV yang akan bereaksi dengan
antibodi di dalam serum. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya
garis warna merah pada tes dan kontrol.
Cara Kerja :
1) Biarkan alat dan sampel untuk mencapai suhu ruang sebelum
digunakan.
2) Buka alat dengan merobek kemasan.
3) Tempatkan alat pada tempat yang datar.
4) Teteskan 3 tetes serum / plasma pada membran sampel. Biarkan
hingga seluruh membran terbasahi dengan gaya kapilaritas .
5) Baca hasil tes setelah 10 menit, jangan dibaca lebih dari 20
menit.
Interpretasi Hasil:
Hasil Positif : Terdapat dua garis warna merah pada
control (C) dan test (T).
Hasil Negatif : Hanya terdapat satu garis warna pada pada
control (C).
Hasil Invalid : Hanya terdapat satu garis warna merah
pada test (T).
h. NS – 1 (Non Struktural-1)
Metode : Immunochromatography Test
Prinsip :
Membran alat dilapisi dengan anti Ns-1 yang akan bereaksi
dengan antibodi di dalam serum. Hasil positif ditandai dengan
terbentuknya garis warna merah pada tes dan kontrol.
Cara Kerja :
1) Biarkan alat dan sampel untuk mencapai suhu ruang sebelum
digunakan.
2) Buka alat dengan merobek kemasan.

81
3) Tempatkan alat pada tempat yang datar.
4) Teteskan 3 tetes serum / plasma pada membran sampel. Biarkan
hingga seluruh membran terbasahi dengan gaya kapilaritas .
5) Baca hasil tes setelah 10 menit, jangan dibaca lebih dari 20
menit.
Interpretasi Hasil :
Hasil Positif : Terdapat dua garis warna merah pada
control (C) dan test (T).
Hasil Negatif : Hanya terdapat satu garis warna merah
pada control (C).
Hasil Invalid : Hanya terdapat satu garis warna merah
pada test (T).
i. TPHA (Treponema Pallidum Hemaglutination Assay)
Metode : Immunochromatography
Prinsip :
The Sifilis Test adalah immunoassay berbasis perangkat
mambran kualitatif untuk mendeteksi antibodi TP (IgG dan IgM)
dalam darah utuh, serum atau plasma. Dalam prosedur test ini
antigen sifilis rekombinan bergerak diwilayah garis uji perangkat.
Setelah spesimen ditambahkan ke sumur spesimen dari perangkat,
bereaksi dengan antigen sifilis partikel dilapisi dalam ujian.
Campuran ini bermigrasi chromatographycally sepanjang strip uji
dan berinteraksi dengan antigen sifilis yang bergerak. Ganda format
test antigen dapat mendeteksi baik IgG dan IgM dalam spesimen.
Jika spesimen mengandung antibodi TP, garis berwarna akan muncul
diwilayah ini, menunjukan hasil positif. Jika spesimen ini tidak
mengandung antibodi TP, garis berwarna tidak akan muncul
diwilayah ini, menunjukan hasil negatif. Untuk melayani sebagai
kontrol prosedural, garis berwarna akan selalu muncul di kontrol
wilayah line, mwnunjukan bahwa volome yang tepat dari spesimen
telah ditambahkan dan wicking membran telah terjadi.

82
Cara Kerja:
1) Biarkan alat dan sampel untuk mencapai suhu ruang sebelum
digunakan.
2) Buka alat dengan merobek kemasan.
3) Tempatkan alat pada tempat yang datar.
4) Teteskan 1 tetes serum / plasma dan buffer 1 tetes pada strip.
Biarkan hingga seluruh membran terbasahi dengan gaya
kapilaritas.
5) Baca hasil tes setelah 10 menit, jangan dibaca lebih dari 20
menit.
Interpretasi Hasil :
Hasil Positif : Terdapat dua garis warna merah pada pada
control (C) dan test (T).
Hasil Negatif : Hanya terdapat satu garis warna merah
pada control (C).
Hasil Invalid : Hanya terdapat satu garis warna merat pada
test (T).
j. Antigen Malaria
Metode : Immunochromatography Test dan Mikroskopis
Prinsip :
1) Sediaan Apus Darah Tepi
Apus tipis darah difiksasi dengan methanol dan diwarnai
dengan giemsa akan terlihat adanya parasite pada sediaan.
2) Immunochromatography Test
Rapid test adalah pemeriksaan malaria secara kualitatif,
prinsip pemeriksaan ini yaitu membrane mendeteksi antigen p.
falcifarum p. ovale, p. malariae dalam darah. Membran dilapisi
dengan antibodi anti-HRP II dan antibodi anti aldolase. Selama
pengujian spessimen darah bereaksi dengan konjugasi pewarna,
yang sudah dilapisi pada strip. Akan terjadi reaksi kapilaritas
dimana campuran darah dan buffer akan bergerak ke atas pada

83
membrane dan terjadi reaksi antara darah dengan antibodi anti-
HRP II pada membrane p. falcifarum sehingga akan membentuk
garis berwarna merah. Jika darah mengandung HRP-II atau
plasmodium aldose dan atau keduanya, maka garis berwarna
merah akan muncul di daerah p.f atau pada daerah garis pan,
atau dua garis berwarna akan muncul pada daerah p.f dan daerah
pan. Garis berwarna merah akan selalu muncul pada daerah
garis control hal ini menunjukkan bahwa volume specimen yang
dimasukkan sudah cukup untuk pemeriksaan.
Bahan:
1) Methanol
2) Pewarna Giemsa
Cara Kerja:
1) Sediaan Apus Darah Tepi
a) Apus darah tipis dibuat pada objek glass.
b) Preparat dibiarkan kering pada suhu kamar.
c) Fiksasi dengan methanol selama 2 menit.
d) Diwarnai dengan giemsa selama 20-30 menit, cuci dengan
air mengalir kemudian keringkan.
e) Amati dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa objektif
100x dengan menggunakan oil imersi.
2) Immunochromatography Test
a) Biarkan alat dan sampel untuk mencapai suhu ruang
sebelum digunakan.
b) Buka alat dengan merobek kemasan.
c) Tempatkan alat pada tempat yang datar.
d) Teteskan 5 µL serum / plasma pada membran sampel
e) Tambahkan 3 tetes buffer pada lubang buffer
f) Biarkan hingga seluruh membran terbasahi dengan gaya
kapilaritas

84
g) Baca hasil tes setelah 10 menit, jangan dibaca lebih dari 20
menit.
8. Pemeriksaan Mikrobiologi
a. Pemeriksaan BTA
Metode : Ziehl Neelsen
Prinsip :
Dinding bakteri yang tahan asam mempunyai lapisan lilin dan lemak
yang sukar ditembus cat, dengan pengaruh fenol dan pemanasan
maka lapisan lilin dan lemak itu dapat ditembus cas basic fuchsin.
Alat:
1) Objek glass
2) Bunsen
3) Pinset
4) Ose
5) Mikroskop
Bahan:
Larutan Ziehl Neelsen yang tediri dari :
1) Karbol funchsin
2) Asam alkohol
3) Metilen blue
Cara kerja:
1) Buat apusan / sediaan pada kaca objek, fiksasi.
2) Warnai dengan karbol fuchsin selama 5 menit sambil dipanasi
dengan api kecil di bawah sediaan. Panasnya dipertahankan
sampai keluar uap tapi jangan sampai mendidih.
3) Cuci dengan air mengalir.
4) Cuci dengan asam alkohol selama 20 detik sampai zat warna
pertama hilang.
5) Cuci dengan air mengalir.
6) Warnai dengan methylen blue 1 % selama 10 – 20 detik.
7) Cuci dengan air mengalir dan keringkan.

85
8) Periksa dengan mikroskop.
Interpretasi Hasil :
Negatif : Tidak ditemukan BTA dalam 100 LP
Scanty : Ditemukan 1-9 BTA/100 LP
1+ : Ditemukan 10-99 BTA/100 LP
2++ : Ditemukan 1-10 BTA/ 1 LP
3+++ : Ditemukan >10 BTA / 1 LP
b. Pemeriksaan Gram
Metode : Gram
Prinsip :
a. Gram Positif (+)
Peptidoglikan bakteri yang tebal dan lapisan lemak yang
tipis pada dinding bakteri berkaitan kuat dengan gentian violet.
Lugol memperkuat ikatan lalu diberikan alkohol sehingga
melunturkan lemak, karena bakteri gram positif (+) lemaknya
tipis sehingga warna unggu pada gentian violet yang lunturpun
sedikit dan bakteri tetap dipenuhi warna ungu. Karena sudah
dipenuhi dengn warna ungu maka tidak bisa lagi berikatan
dengan fuchsin.

b. Gram Negatif (-)


Peptidoglikan bakteri yang tipis dan lapisan lemak yang
tebal pada dinding bakteri maka saat berikatan dengan gentian
viiolet, ikatan yang terjadi adalah ikatan lemah, lalu dieri lugol
yang memperkuat ikatan tersebut dengan gentian violet, namun
tidak terlalu memberiarti yang signifikan sehingga bakteri gram
(-) yang memiliki lemak tebal ketika diberi alkohol maka lemak
akan luntur dengan zat warna gentian violet. Karena tidak
terwarnai maka bakteri akan menyerap warna fuchsin yaitu
merah.

86
Alat:
1) Objek glass
2) Bunsen
3) Pinset
4) Ose
5) Mikroskop
Bahan:
1) Gentian violet
2) Lugol
3) Alcohol 96%
4) Carbol fuchsin
Cara kerja:
1) Buat sedian pada objek gelas, keringkan, kemudian fiksasi diatas
bunsen.
2) Tuangkan dengan larutan gentian violet (sesudah sediang
dingin), biarkan selama 5 menit.
3) Zat warna dibuang dan bubuhi dengan larutan lugol, diamkan
selama kira-kira 1-3 menit.
4) Lugol dibuang dan preparat dicelupkan ke dalam alcohol 96 %
sampai warna gentian violet lepas.
5) Cuci dengan air mengalir sampai bersih, kemudian warnai
dengan carbol fuchsin diamkan 1-2 menit.
6) Kemudian cuci dengan air mengalir, keringkan dan lihat
dibawah mikroskop.
Interpretasi Hasil :
Gram Positif : Ungu
Gram Negative : Merah
c. Pemeriksaan Kultur Jaringan
Nama Alat : BACT / ALERT 3D
Metode : Colorimetrik

87
Prinsip : BACT /ALERT 3D memanfaatkan sensor kolometri
dan pantulan cahaya untuk memantau keberadaan dan produksi karbon
dioksida (CO₂) yang dilarutkan dalam medium kultur. Ketika
pertumbuhan mikroorganisme menghasilkan CO₂, warna sensor gas-
permeable yang dipasang dibagian bawah, yaitu botol kultur akan
berubah warna dari biru-hijau ke kuning. Hasil warna lebih terang
dalam peningkatan pantulan unit seperti yang dipantau oleh system.
Pantulan botol dipantau dan dicatat oleh instrument setiap 10 menit.
Cara Kerja :
1) Hidupkan UPS
- Tekan powerswitch on yang terletak dibagian belakang alat,
tunggu hingga keluar menu utama keluar
2) Cara memasukan botol sampel kultur jaringan kedalam alat
Bact / Alert 3D
- Dari menu utama pilih “Load Bottles”, kemudian akan
muncul “Load Screen”.
- Scan bercode pada botol
- Masukan ID pasien lengkap
- Setelah selesai memasukan ID pasien, masukan botol
sampel kedalam cell yang lampu indikatornya hidup
- Tekan gambar “check”
3) Setelah sampel dimasukan kedalam alat Bact / Alert 3D, lihat
grafis pertumbuhan kultur jaringan setiap hari.
Interpretasi Hasil :
Negatif : Warna Hijau
Positif : Warna Kuning
(*) : Negative sampai saat ini
(?) : Tidak ada identitas botol
ʘ : Cell yang tidak digunakan

88
Nama Alat : Vitek 2 – technology
Metode : Colorimetrik
Prinsip : Tes kepekaan dilakukan mengacu kepada CLSI,
dalam konsentrasi MIC Sistem mampu melakukan tes secara
terpisah antara ID/AST Advanced Expert System (AES) :
membantu interpretasi dan validasi hasil tes kepekaan antimikroba
secara sistematis dan otomatis meminimalkan kesalahan karena
faktor manusia.
Cara kerja :
1) Hidupkan sistem vitek 2
2) Tekan tombol ON pada UPS
3) Masukan username dan password
4) Untuk masuk ke menu aplikasi vitek 2 compact double klik
gambar vitek 2 systems
5) Klik ok
9. Bank Darah
a. Pemeriksaan Golongan Darah
Metode : Slide
Prinsip : Antigen + Antibody →Aglutinasi
Bahan :
1) Anti A
2) Anti B
3) Anti AB
4) Anti D
Cara kerja:
1) Pada objek glass diteteskan 1 tetes darah dari ujung jari pasien
dari 3 tempat yang terpisah.
2) Ditambah antisera A, B, dan AB dicampur lalu diamati adanya
aglutinasi.

89
Interpretasi Hasil:
Tabel 3.14 Interpretasi Hasil Pemeriksan Golongan Darah
Anti A Anti B Anti AB Rhesus Gol. Darah
Positif
+ - + + A+
+ - + - A-
- + + + B+
- + + - B-
- - - + O+
- - - - O-
+ + + + AB+
+ + + - AB-

b. Pemeriksaan Cross Match


Metode : Gell Test
Prinsip : Material gel dengan “sephedex”, aglutinasi yang
berukuran besar akan berada pada permukaan gel dan aglutinasi yang
berukuran besar akan berada pada permukaan gel dan aglutinasi yang
lebih kecil ukurannya dapat lewat pori-pori gel tergantung ukurannya
dan sel yang tidak beraglutinasi akan langsunng mengendap di dasar.

Alat:
1) Incubator
2) Centrifuge
3) Gell test
Cara kerja:
1) Buat suspensi sel Os & Donor dengan konsentrasi 1%.
2) Masukkan 500uL Diluent 2 dengan Dispensor ke dalam tabung.
3) Tambahkan masing-masing 5uL sel darah merah pekat kedalam
tabung Os & Donor.
4) Kocok-kocok hingga homogen  Suspensi sel 1%.

90
5) Sediakan Liss / Coombs Card, kemudian berikan identitas Os /
Donor, buka penutup alumunium. Dengan bantuan mikropipet,
teteskan :
a) Mayor : 50 uL Suspensi Sel Donor + 25uL Serum Os.
b) Minor : 50 uL Suspensi Sel Os + 25 uL Serum Donor.
c) AC : 50 uL Suspensi Sel Os + 25 uL Serum Os.
6) Masukkan card ke ID Incubator.
Inkubasi 37ºC, 15 menit ( tekan tombol timer 1/2/3 ).
7) Setelah selesai, masukan kartu ke ID Centrifuge.
8) Tekan tombol Start ( lama pemutaran 10 menit ).
9) Baca reaksi.

10. Nilai Kritis Laboratorium Rutin


Tabel 3.15 Nilai Kritis Laboratorium
GLUKOSA < 50 mg/Dl
> 500 mg/Dl
HB < 5,0 g/Dl
> 18,0 g/Dl
TROMBOSIT < 50.000 sel/mm³
> 1.000.000 sel/mm³
PT > 35 detik
Aptt > 60 detik
NATRIUM < 120 mmol/L
> 150 mmol/L
KALIUM < 3,0 mmol/L
> 7,5 mmol/L
KLORIDA < 80 mmol/L
> 120 mmol/L

11. Bentuk Limbah yang Dihasilkan di Instalasi Laboratorium RSAU


Dr. M. Salamun
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
di laboratorium RSAU Dr. M. Salamun diantaranya menggunakan alat
pelindung diri (APD) lengkap seperti jas laboratorium, sarung tangan,
masker, dan sepatu tertutup. Menerapkan dan mempratekan cara mencuci
tangan yang baik dan benar membuang sampah pada masing-masing

91
kantong plastik sesuai jenis sampah seperti kantong plastik kuning untuk
sampah medis, hitam untuk non medis, dan putih untuk daur ulang.
Pengolahan limbah di RSAU dr. M. Salamun meliputi
pembuangan sempel pasien seperti darah dan urin dibuang pada wastafel
khusus (spoolhoek), jarum suntik (spuit) habis pakai dibuang pada
tempat khusus spuit, tabung, tip, objek glass bekas sampel direndam pada
larutan klorit sebelum dicuci dan disterilisasi pada suhu 620C selama 2
jam serta pot dahak, pot feses dan strip rapid, urine dan glukosa darah
dibuang langsung kekantong plastik warna kuning dan strip rapid yang
hasilnya reaktif pada pemeriksaan imunoserologi disimpan pada boks
khusus dan untuk kantong darah yang sudah kadaluarsa dibuang didalam
kantong plastik berwarna kuning (Laboratorium RSAU dr. M. Salamun).
Limbah rumah sakit merupakan limbah yang dihasilkan oleh
seluruh kegiataan rumah sakit yang terdiri dari limbah klinis yang
bersifat infksius dan non klinis limbah. Salah satu sumber penghasil
limbah klinis yaitu laboratorium. Penanganan limbah khususnya limbah
klinis harus ditangani dengan benar agar tidak menimbulkan dampak
negatif bagi masyarakat maupun pencemaran terhadap lingkungan.
Bentuk limbah yang dihasilkan diinstalasi laboratorium RSAU Dr. M.
Salamun adalah sebagai berikut:
a. Limbah Medis
Limbah Medis Laboratorium merupakan limbah yang
dihasilkan dari aktifitas laboratorium yang bersifat infeksius. Limbah
klinis terdiri dari:
1) Limbah padat laboratorium yaitu limbah yang berasal dari alat
suntik bekas, alat disposable penampung specimen, sarung
tangan, bekas reagen dan lain-lain yang kemudian akan diambil
oleh pihak ketiga yaitu Wastek.
2) Limbah cair laboratorium yaitu limbah yang berasal dari alat
sisa spesimen (darah, urin, fesses, sputum), sisa pelarut organik,
sisa reagen, dan air pencucian alat laboratorium.

92
b. Limbah Non Medis
Limbah Non Medis Laboratorium merupakan limbah domestik
umum yang terdiri dari kertas, tissue, plastik dan lain-lain.
Alur Pengolahan Limbah Medis
a. Limbah Cair
Proses pengelolahan limbah cair di RSAU dr.M. Salamun
melalui media Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) “Biodetox”
di RSAU Dr. M. Salamun terdiri dari pengolahan fisika, pengolahan
kimia, pengolahan biologi, pengolahan lumpur, pengolahan lanjutan
dan penampungan limbah cair.
1) Limbah cair dari tiap klinik, bagian atau ruangan masuk
kepenampungan sementara ( Bak Kontrol, septic tank, sumpit),
kemudian dipompa secara gravitasi menuju IPAL, untuk
selanjutnya mengalami proses pengolahan.
2) Dilanjutkan dengan proses pengolahan fisika dengan cara
memisahkan limbah padat dan cair secara otomatis mengunakan
Noggearth, kemudian limbah di tampung dalam bak primer.
3) Limbah cair bergerak menuju kebeberapa bak penampungan
yaitu bak exolisasi, bak klali payer dan bak buffer :
a) Bak exsolisasi terdapat dapat dua pompa exolisasi yang
berfungsi untuk menyalurkan limbah ke bak klali payer dan
juga terdapat plep zasmen yaitu plep yang mengatur besar
kecilnya air limbah yang akan masuk kedalam bak
berikutnya.
b) Bak klali payer yaitu bak penampungan yang berfungsi
sebagai pengendapan lumpur.
c) Bak buffer terdapat dua unit pompa yang berfungsi untuk
menyalurkan limbah selanjutnya kedalam biodetox. Prinsip
bak buffer sama seperti bak exolisasi.
4) Limbah masuk kedalam biodetox untuk dilakukannya proses
pengolahan biologi. Biodetox berfungsi untuk mengurangi

93
substansi organik yang terdegradasi baik terlarut maupun
kolodial dengan bantuan bakteri pada kondisi tanpa atau dengan
oksigen.
5) Limbah diproses dengan cara desinfeksi dengan desinfektan atau
klorin. Dengan mencampurkan kaporit dengan air limbah
kemudian dimixer secara merata. Lalu didiamkan agar kaporit
larut, setelah larut masukan air limbah kedalam tank klorin.
6) Air limbah kemudian ditarik oleh pompa filter untuk selanjutnya
masuk kedalam Tangki Multi Media Filter (MMF). Dalam
MMF terdapat grepel (batu besar), kuarsen (batu kecil), silika
(pasir kasar), silika (pasir halus), dan karbon aktif. Air limbah
yang telah dilakukan serangkain proses sebelum dibuang
kelingkungan/badan air dilakukan uji terlebih dahulu kedalam
bak uji (kolam ikan).
b. Limbah Padat
Limbah Padat dari tiap ruangan yang ditampung pada tempat
sampah infeksius (keresek kuning) diambil oleh cleaning searvice
untuk dibawa ke Tempat pembuangan sampah (TPS) khusus untuk
sampah infeksius kemudian setiap seminggu tiga kali sampah
dibawa oleh PT. Wastek untuk di olah atau dibakar (insenerator)
A. Temuan-temuan di Lapangan
Terdapat beberapa temuan baru yang kami temukan selama melakukan
kegiatan praktek kerja lapangan (PKL) di Laboratorium RSAU dr. M. Salamun.
Temuan tersebut berupa pengetahuan dan keterampilan yang baru didapatkan
selama kegiatan PKL maupun yang sudah di dapatkan di kampus namun berbeda
dengan di lapangan.
Beberapa contoh pengetahuan dan keterampilan yang baru didapatkan
selama kegiatan PKL diantaranya :
1. Pemeriksaan Cross match dengan metode gel.
Pemeriksaan Cross match yang digunakan di Laboratorium
RSAU dr. M. Salamun adalah dengan metode gel. Cross match dengan

94
metode gel memiliki kelebihan dalam segi efisiensi waktu pengerjaan,
dimana prosedur pemeriksaannya lebih mudah, lebih cepat, lebih
terstandarisasi dan hasil lebih obyektif dibandingkan dengan metode
tabung. Selain itu Cross match dengan metode gel hasil reaksinya lebih
stabil, sampel yang diperlukan hanya sedikit dan tidak ada tahap
pencucian sehingga dapat terhindar dari terjadinya reaksi “false
negative”.
2. Pemeriksaan CKMB (Creatinin Kinase M-B), troponin dan BNP (Brain
Natriuretic Peptide)
Pemeriksaan CKMB, troponin dan BNP diperiksa secara
immunoassay fluoresensi menggunakan alat alere. Pemeriksaan CKMB,
troponin dan BNP ini tidak dipraktekan di kampus sehingga ini menjadi
penemuan baru bagi kami.
3. Beberapa pemeriksaan serologi yang diperiksa dengan metode
immunokromatografi.
Terdapat beberapa pemeriksaan serologi yang tidak kami
praktekan di kampus, diantaranya pemeriksaan NS-1, anti HCV, TPHA
dan IgM anti Salmonella yang diperiksa secara immunokromatografi.
Meskipun begitu, terdapat beberapa pemeriksaan serupa yang telah di
ajarkan dan kami dipraktekan di kampus seperti pemeriksaan HbsAg,
IgG Dengue dan IgM Dengue yang diperiksa secara
immunokromatografi. Selain penemuan berupa pengetahuan dan
keterampilan baru, terdapat pula beberapa temuan berupa pengetahuan
dan keterampilan di lapangan yang berbeda dengan yang sudah
didapatkan di kampus, diantaranya:
1. Pembacaan titer widal
Secara keseluruhan prosedur pemeriksaan widal yang dilakukan
di Laboratorium RSAU dr. M. Salamun hampir sama dengan yang di
praktekan di kampus, namun terdapat perbedaan pada cara penentuan
titernya. Penentuan titer widal Laboratorium RSAU dr. M. Salamun
dilakukan dengan melihat aglutinasi yang terjadi, pembacaan aglutinasi

95
dilakukan dengan cara dilihat secara langsung atau di lihat menggunakan
mikroskop. Penentuan titer widal dengan cara seperti ini lebih cepat
sehingga mengefisiensikan waktu, namun hasilnya sangat subyektif
karena tergantung keterampilan petugas.
Sedangkan penentuan titer widal yang dipraktekan di kampus
dilakukan dengan metode tabung. Penentuan titer widal dengan metode
tabung memiliki prosedur yang cukup panjang sehingga membutuhkan
waktu yang cukup lama. Hal ini dirasa tidak efisien waktu dan tidak
seimbang dengan jumlah pasien yang diperiksa.
2. Penggunaan autoclick
Berdasarkan praktek lapangan yang telah kami lakukan,
didapatkan bahwa untuk pengambilan darah melalui kapiler atau untuk
pemeriksaan Waktu Perdarahan (BT) dan Waktu Pembekuan (CT) tidak
menggunakan alat bantu autoclick. Hal ini berbeda dengan pada saat
praktek di kampus. Berdasarkan praktek di kampus penggunaan autoclick
diperlukan karena untuk pemeriksaan Waktu Perdarahan (BT) memiliki
standar kedalaman tusukan yaitu 2 mm. Selain itu penggunaan autoclick
pada sampling kapiler berguna untuk menyesuaikan kedalaman tusukan
secara pasti sesuai dengan keadaan pasien yang akan di ambil darahnya.
3. Penggunaan darah EDTA untuk pemeriksaan LED
Berbeda dengan praktek yang dilakukan pada saat kegiatan PKL
di Laboratorium RSAU dr. M. Salamun, berdasarkan teori dan praktek
yang telah kami lakukan di kampus, pemeriksaan LED dilakukan
menggunakan darah dengan anti koagulan NA sitrat karena penggunaan
antikoagulan NA sitrat merupakan gold standar untuk pemeriksaan LED.
4. Konsentrasi giemsa untuk pewarnaan MDT (Morfologi Darah Tepi)
Berdasarkan praktek lapangan yang telah kami lakukan,
didapatkan bahwa untuk mewarnai MDT menggunakan pewarnaan
giemsa dengan pengenceran 1:1. Sedangkan pada praktek yang dilakukan
di kampus, pewarnaan MDT menggunakan giemsa dengan konsentrasi

96
3%. Adapun berdasarkan Ganda Soebrata, pewarnaan untuk MDT
dilakukan dengan menggunakan giemsa 10%.
B. Evaluasi Alur Kerja
Berdasarkan hasil praktek kerja lapangan (PKL) yang telah kami
laksanakan di Laboratorium RSAU dr. M. Salamun Bandung, mulai dari
pra analitik, analitik, dan post analitik sudah cukup baik dan terorganisir
sehingga dapat mengurangi kesalahan pada saat pengolahan data,
pengolahan sampel sampai pengeluaran hasil. Pada tahap pra analitik
dimulai dengan pendaftaran dimana bagian admistrasi menerima formulir
permintaan pemeriksaan laboratorium dan melengkapi identitas pasien.
Dalam mendata pasien banyak ditemukan formulir dengan identitas yang
kurang lengkap sehingga pihak adminitrasi harus menanyakan kembali
identitas pasien, baik pasien umum bahkan seorang pejabat di RSAU Dr.
M. Salamun Bandung.
Setelah itu, pihak adminitrasi menanyakan persiapan pasien, karena
dalam beberapa parameter pemeriksaan ada yang mengharuskan pasien
berpuasa, seperti pemeriksaan glukosa puasa, 2 jam PP, asam urat,
kolesterol, dan LED. Tidak sedikit pasien yang tidak berpuasa bahkan
tidak bisa melakukan pemeriksaan laboratorium dikarenakan waktu puasa
yang melebihi waktu seharusnya. Lamanya waktu untuk menunggu di
loket pendaftaran, membuat pasien yang hendak melakukan pemeriksaan
laboratorium harus menambah waktu berpuasanya. Hal ini perlu
diperhatikan, karena waktu puasa yang terlalu lama dapat mempengaruhi
hasil pemeriksaan, dan pasien tidak dapat mengetahui hasil yang
sebenarnya apabila pasien tetap memeriksakan ke laboratorium.
Pemanggilan pasien ke dalam area sampling untuk pengambilan bahan
pemeriksaan sudah dilakukan dengan baik, dan ditambah dengan
pemberlakuan sistem antri kepada pasien sehingga tahap pra analitik dapat
berjalan dengan lancar. Proses sampling sudah dilakukan dengan baik oleh
tenaga flebotomi ditambah dengan dimulainya penggunaan close system
yang sekarang banyak dilakukan oleh tenaga-tenaga flebotomi karena

97
dapat mengefektifkan waktu pengambilan sampel. Metode ini tentunya
sangat membantu ketika banyak pasien yang datang untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium, sehingga pasien tidak terlalu lama menunggu
karena keefektifan dan keefisienan waktu sangat berpengaruh pada bentuk
pelayanan yang baik. Untuk menghindari terjadinya sampel yang tertukar
maka dapat diantisipasi dengan pemberian label pada tabung sampel
pasien saat awal pasien datang. Selain bentuk pelayanan yang baik saat
sampling, pengecekan sampel sebelum diolah juga dilakukan dengan baik,
sehingga dapat meminimalisir kesalahan pada tahap pra analitik.
Setelah proses pra analitik berjalan dengan baik, sampel kemudian
dilanjutkan pada tahap analitik dimana tahap ini merupakan proses
pemeriksaan sampel sesuai dengan pemeriksaan yang diinginkan. Tahap
ini dimulai dari pendataan sampel ke dalam jurnal pemeriksaan, kemudian
pelabelan sampel sesuai dengan nomor urut yang tertulis di jurnal
pemeriksaan, kemudian dilakukan pengolahan sampel. Tahap-tahap
tersebut dilakukan dengan baik dan berurutan sehingga kesalahan pada
tahap analitik dapat di minimalisir. Pengolahan sampel ini perlu
diperhatikan seperti pada pemeriksaan kimia klinik. Pemeriksaan kimia
klinik dilakukan oleh alat otomatis sehingga bahan pemeriksaan yang di
gunakan juga harus dengan kualitas yang baik, karena apabila kualitas
bahan pemeriksaan yang digunakan tidak baik maka selain dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan tetapi juga dapat sangat berpengaruh
pada alat yang digunakan. Pada tahap pengolahan sampel untuk kimia
klinik pengolahan sampel perlu diperhatikan baik pada alat (tabung) yang
digunakan untuk menampung whole blood juga pada cara pengolahan
bahan pemeriksaan. Tabung yang digunakan harus dalam keadaan bersih
dan sebaiknya menggunakan tabung kaca karena akan dapat mempercepat
pembekuan darah sehingga serum yang dihasilkan pun tentunya
mempunyai kualitas yang baik. Selain pengolahan sampel pada kimia
klinik yang harus diperhatikan, pada pemeriksaan hematologi juga perlu

98
diperhatikan sampel yang akan diperiksa, apakah terdapat bekuan atau
sampel dalam keadaan lisis.
Setelah hasil didapatkan kemudian hasil tersebut dicatat pada
jurnal pemeriksaan dan dicatat pada formulir pemeriksaan yang kemudian
akan didata dan diprint. Apabila terdapat hasil yang tinggi atau rendah
diperlukan pengulangan pemeriksaan terlebih dahulu menggunakan alat
yang berbeda seperti misalnya untuk pemeriksaan hematologi yang
menggunakan 2 alat sebelum hasilnya dikeluarkan karena hasil yang tinggi
atau rendah dapat terjadi akibat kesalahan pada proses pemeriksaan,
apabila hasil yang didapat masih tinggi atau rendah perlu dilaporkan pada
dokter dan kemudian divalidasi dengan melihat diagnosa atau riwayat
diagnosa sebelumnya pada pasien, jika sesuai dengan diagnosa atau
riwayat diagnosa sebelumnya , maka hasil dapat dikeluarkan. Jika tidak
sesuai dengan diagnosa atau riwayat diagnosa sebelumnya maka
diperlukan pengambilan sampel ulang karena dikhawatirkan sampel rusak
seperti lisis. Lebih baik jika pengulangan pemeriksaan untuk memastikan
hasil yanng sebenarnya menggunakan proses manual sebagai
perbandingannya.
Dalam keadaan darurat terkadang untuk mendapatkan hasil yang cepat
sering dilakukan hal yang berbeda seperti misalnya pemeriksaan yang
seharusnya menggunakan serum karena sampel tersebut belum membeku
dan hasil dituntut harus cepat maka digunakan sampel yang digunakan
untuk pemeriksaan hematologi yang berisi darah EDTA. Sampel plasma
dapat kami gunakan untuk beberapa pemeriksaan yang seharusnya
menggunakan serum meskipun hal tersebut tidak terlalu mempengaruhi
hasil yang signifikan untuk pemeriksaan kimia klinik. Namun hal tersebut
akan sangat berpengaruh untuk pemeriksaan yang menggunakan metode
immunokromatografi karena hal tersebut dapat mengakibatkan hasil
menjadi positif palsu. Antibodi yang terdapat dalam rapid akan mengikat
senyawa yang terdapat dalam antikoagulan yang mengakibatkan hasil
tersebut positif maka hasil tersebut tidak valid.

99
Setelah proses analitik berjalan dengan baik, maka selanjutnya proses
pasca analitik. Proses pasca analitik dilakukan dengan baik dimana hasil
yang telah didapat dari proses analitik kemudian didata dan hasil diprint
sesuai dengan parameter yang diperiksakan. Hasil yang telah diprint
kemudian dikonfirmasi oleh dokter patologi klinik, dan setelah
dikonfirmasi hasil dapat dikeluarkan. Namun Ada beberapa pasien yang
menunggu hasil pemeriksaan sejak pagi, akan tetapi hasil pemeriksaan
belum bisa dikeluarkan dikarenakan dilakukannya pengulangan
pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena hasil dari laboratorium perlu
dikonsultasikan dulu kepada dokter patologi klinik.
C. Evaluasi Administrasi Laboratorium
Suatu sistem laboratorium yang baik dapat terlihat dari sistem
administrasi yang baik. Sistem administrasi dilakukan tidak hanya pada
saat pendaftaran pasien tetapi di dalam laboratorium pun dilakukan sistem
administrasi. Di dalam laboratorium banyak kegiatan yang mengharuskan
terdapatnya sistem administrasi, seperti: administrasi sampel, administasi
alat dan bahan habis pakai, administrasi keuangan sampai dengan hasil
pemeriksaan sampel yang didalamnya meliputi proses pencatatan dan
pelaporan.
Laboratorium RSAU Dr. M. Salamun Bandung sudah
melaksanakan kegiatan administrasi yang baik dan terorganisir. Dimulai
dari pendaftaran pasien sampai pengeluaran hasil, kemudian administrasi
alat dan bahan habis pakai, pemasukan alat dan bahan yang diperlukan,
pencatatan bahan pemeriksaan yang mengharuskan pemeriksaan dilakukan
di laboratorium klinik lain seperti bahan pemeriksaan Patologi Anatomi
dan mikrobiologi, kebutuhan darah untuk transfusi yang didapatkan dari
PMI, semuanya memiliki pencatatan masing-masing dan selalu dipantau
pemasukan atau pengeluarannya, sehingga sistem administrasi dapat
berjalan dengan baik.
Laboratorim RSAU Dr. M. Salamun Bandung menerima pasien dari
semua kalangan seperti kalangan militer atau TNI, pasien umum,

100
JAMKESMAS, BPJS, Kontraktor, dll yang tentunya memiliki perbedaan
pada setiap administrasinya baik dalam kewajiban pembayaran maupun
kelengkapan data dan berkas yang harus ada pada saat akan melakukan
pemeriksaan laboratorium. Dengan demikian bagian administrasi harus
selalu menyampaikan tentang hal tersebut kepada pasien sehingga tidak
terjadi kerugian bagi kedua belah pihak baik pihak laboratorium maupun
pihak pasien. Untuk pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium klinik
luar seperti bahan pemeriksaan Patologi Anatomi atau mikrobilogi perlu
dikenakan biaya tambahan bagi pasien swasta.
Sistem administrasi yang terdapat di laboratorium RSAU Dr. M. Salamun
Bandung sudah berjalan dengan baik karena sudah menggunakan sistem
komputerisasi sehingga data yang disimpan di dalamnya akan tersimpan
dengan baik dan rapi. Informasi pasien pun baik dari identitas lengkap
sampai hasil terakhir yang dikeluarkan oleh laboratorium akan mudah
untuk didapatkan. Selain pencatatan dilakukan dengan menggunakan
sistem komputerisasi pencatatan pun terlebih dahulu dilakukan di dalam
masing-masing buku administrasi. Sistem administrasi yang baik akan
sangat mempengaruhi sistem laboratorium.
D. Evaluasi Metode Pemeriksaan
Secara umum metode pemeriksaan yang digunakan di laboratorim
RS AU. Dr, M Salamun Bandung sudah menggunakan alat otomatis
sehingga pemeriksaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien, tetapi ada
juga pemeriksaan yang menggunakan metode manual. Untuk mendapatkan
setiap hasil pemeriksaan yang baik maka alat otomatis perlu mendapatkan
perawatan yang baik. Perawatan alat otomatis secara berkala sangat
diperlukan karena kebanyakan alat otomatis sangat sensitif. Selain itu,
pengontrolan alat otomatis harus dilakukan secara rutin menggunakan
bahan kontrol tertentu, hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa alat
dan metode pemeriksaan pada alat otomatis ada dalam kondisi yang baik
sehingga dapat dipastikan pula pemeriksaan sampel yang dilakukan akan
memberikan hasil yang valid. Jika proses pengontrolan atau Quality

101
Control tidak baik dimana hasilnya keluar dari range normal yang
ditentukan, pemeriksaan dilakukan menggunakan metode manual.
Alat yang canggih harus didukung oleh sumber daya manusia
(SDM) yang mengerti, paham dan mampumengoperasikan alat tersebut
sehingga jika ada kerusakan kecil maka dapat dicarikan jalan keluar atau
solusi untuk mengatasi masalah atau kerusakan tersebut. Pada
kenyataannya tidak semua SDM yang ada di laboratorium ini dapat
mengatasinya sehingga seharusnya dilakukan pelatihan terhadap pagawai
laboratorium tentang bagaimana cara mengoperasikan alat otomatis dan
hasil pelatihan di komunikasikan terhadap pegawai laboratorium dapat
mengaplikasikan hasil pelatihan tersebut di laboratorium.
E. Evaluasi Turn Around Time (TAT) Laboratorium RSAU Dr. M.
Salamun Bandung.
Hasil kegiatan dari pelaporan Turn Around Time (TAT) yang telah
PERBANDINGAN
dilaksanakan TAT
didapatkan grafik sebagai LABORATORIUM
berikut
Grafik SETIAP BULAN
diatas didapat PADA
berdasarkan hasilSETIAP
pengumpulan data hasil
PEMERIKSAAN
pemeriksaan pasien laboratorium yang diolah dan dibuat laporan sehingga
didapat
6:00 kesimpulan bahwa hasil TAT dari pengolahan data pasien bulan
WAKTU (JAM:MENIT)

TAT HASIL PEMERIKSAAN


Januari
4:48 - Maret 2018 mendekati TAT yang telah ditetapkan di
LABORATORIUM RSAU
3:36Gambar 4.1 DR.M.SALAMUN JANUARI
Perbandingan Tat Laboratorium Setiap Bulan
2018
2:24
pada Setiap Pemeriksaan TAT HASIL PEMERIKSAAN
1:12
Laboratorium Patologi Klinik RSAU Dr. M. LABORATORIUM
Salamun yangRSAU
sesuai
0:00 DR.M.SALAMUN FEBRUARI
PEMERIKSAAN…
PEMERIKSAAN…
PEMERIKSAAN…
PEMERIKSAAN…
PEMERIKSAAN…
PEMERIKSAAN…

PEMERIKSAAN GDN +…
PEMERIKSAAN…
PEMERIKSAAN KIMIA +…
PEMERIKSAAN URIN +…
PEMERIKSAAN URIN +…
PEMERIKSAAN URIN +…
PEMERIKSAAN KIMIA
PEMERIKSAAN URIN

dengan Standar Nasional (yang sebagian besar di 2018


tetapkan dalam SPM
tahun 2008) serta standar dari WHO. TAT HASIL PEMERIKSAAN
LABORATORIUM RSAU
DR.M.SALAMUN MARET
2018
KETETAPAN TAT HASIL
PEMERIKSAAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 LABORATORIUM RSAU
DR.M.SALAMUN
PARAMETER PEMERIKSAAN

Gambar 2.3 Perbandingan TAT Laboratorium setiap bulan pada setiap


pemeriksaan

102
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Selama melakukan Praktek Kerja Lapangan di RSAU dr. M.
Salamun yang berlangsung sejak 04 juni 2018 s/d 30 juli 2018. dapat
disimpulkan bahwa :
1. Menambah pengetahuan dan pengalaman dan keterampilan dalam
bidang kesehatan khususnya di bidang laboratorium.
2. Melatih dan menambah keterampilan dalam penanganan pasien,
pengolahan sampel, serta pemeriskaan sampel.
3. Melatih dan mengembangkan sikap mahasiswa dalam memberikan
pelayanan kesehatan khususnya pelayanan laboratorium klinik dan
kesehatan.
4. Melatih kemampuan mahasiswa dalam pengembangan kerjasama
dengan tenaga kesehatan lain.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan praktek kerja lapangan di RSAU Dr. M.


Salamun, Maka direkomendasikan beberapa saran- saran sebagai berikut :
1. Untuk mahasiswa perlu meningkatkan keahlian, tanggung jawab dan rasa
kesejawatan dalam suatu tim kerja yang solid.
2. Untuk meningkatkan efisiensi pada pendidikan perlu diperoleh berbagai
macam kasus dilaboratorium dan dapat diterapkan pada perkuliahan
maupun dunia kerja kedepannya.
3. Untuk intitusi RSAU Dr. M. Salamun diperlukan program kesehatan
Laboratorium yang lebih baik dan dapat bekerjasama dengan mahasiswa
agar tercapainya suatu tujuan.

103
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI 1908, Standar Pelayanan Rumah Sakit. Jakarta:


Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan RI 2014, Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia


No. 269/MenKes/III/2014 Tentang Rekam Medis. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.

Durachim, Adang. Eem.(2012). Penentuan Jurnal Praktikum Hematologi III.


Bandung: Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih Bandung.

Kurniati, Iis (2011). Penentuan Jurnal Pratikum Mikrobiologi 2. Bandung:


Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih Bandung.

Machali (2017). Instalasi Pengelolahan Air Limbah. Bandung: RSAU. Dr, M


Salamun.

Notoatmojo, 2003. Laboratorium Kesehatan. Serang.

Riyani, Ani. (2012). Chlinical Chemistri Laboratory Manual. Bandung: Sekolah


Tinggi Analis Bakti Asih Bandung. Program Diplomat III.

Yuliani, Ani (2017). Phelebotomi 1. Bandung; RSAU. Dr, M Salamun. Salamun.


2018.

Sejarah RSAU Dr. M. Salamun Bandung. https://idslide.net/document/sejarah-rs-


salamun.html?2

104
Lampiran

Lampiran 1 Bagan Struktur Organisasi RSAU dr. M. Salamun Bandung


seperti yang ditunjukan pada gambar 1.

Gambar 1. Bagan Struktur Organisasi


RSAU dr. M. Salamun Bandung

105
Lampiran 2 panduan kerja pemeriksaan kimia klinik menggunakan BT 3500
seperti yang ditunjukan pada gambar 2.

Gambar 2. Instrumen auto analyzer BT 3500

1. Prinsip :
Chemical analyzer bekerja simultan atas multi parameter yang diperiksa
dan berbagai metoda yaitu kolorimetrik, Fixed time, dan enzymatic
pekerjaan ini diatur secara aplikatif.
2. Cara kerja :
a) Dipastikan alat tersambung dengan UPS----ON. Cek Vacum pump----
lampu di ON
b) Dinyalakan alat (Tombol power ada di belakang alat)----ON
c) Dinyalakan monitor----ON----(terjadi hubungan otomatis antara
software dan alat di tandai dengan nyala lampu pada alat dan alat
memulai proses “Diagnosa Otomatis”).
d) Alat akan melakukan “Automatic Diagnostic” (Initializing), sampai
alat ready (15-20 menit)—pastikan semua langkah harus “Passed” /
lulus, jika tidak, dilakukan inisialisasi ulang dengan menekan tombol
F5 (atau gambar Reset)- proses akan diulang kembali. Jika masih
belum “Passed”, matikan alat---dibiarkan sebentar—dinyalakan lagi.

106
e) Dimasukkan kode / acces password--- (ganti password sesuai
ketentuan tiap 3 bulan)
User Name : USER
Password : Laboratorium
f) Dicek volume reagen, isi jika kurang
g) Dilakukan wash kuvet (klik gambar wash with water)—sebelum RUN
QC
h) Dilakukan kalibrasi (sebulan sekali atau jika diperlukan)
i) Dilakukan QC Test (setiap pagi dan atau jika terjadi penambahan
reagen)
j) Alat siap digunakan untuk pemeriksaan sampel
k) Diprint hasil (jika diinginkan / diperlukan)
l) Dilakukan wash kuvet (jika ingin mematikan alat, maka gambar
“wash cuvette” yang di klik.
m) Dimatikan monitor computer----OFF
n) Dimatikan alat----OFF
o) Dimatikan UPS----OFF---Vacum Pump (Eksternal) otomatis akan
OFF / mati
2. Fungsi
Untuk Pemeriksaan Kimia klinik Seperti :
 Glukosa  SGOT
 Ureum  SGPT
 Creatinin  Bilirubin Total
 Asam Urat  Bilirubin Direk
 Cholesterol  Alkali Fospatase
 Cholesterol-HDL  Protein Total
 Cholesterol-LDL  Albumin
 Trygliserida

107
Lampiran 3 Panduan kerja pemeriksaan haemostatis menggunakan
Hemakoagulasi ( PT & APTT ) seperti yang ditunjukan pada gambar 3.

Gambar 3. Alat Hemakoagulasi ( PT & APTT )


1. Prinsip :
Alat Haemostatis dalam pengerjaannya mengukur waktu bekuan darah
baik secara ekstrinsik maupun intrinsik dengan menggunakan aplikasi
yang disediakan.
2. Cara kerja :
a) Cara kerja Prothombin Time (PT)
1) Kuvet dan steball dimasukkan kedalam kolom inkubasi.
2) Ditekan menu 1 (Test Mode)
3) Pilih jenis pemeriksaan (PT), dimasukkan jumlah tes dan no ID
pasien.
4) Dipipet 50 l plasma kedalam kuvet pada kolom inkubasi.
5) Ditekan timer inkubasi selama 60 detik (alarm berbunyi pada
detik ke 50).
6) Disiapkan dalam pipet 100 µl Neuplastin Cl Plus (Start Reagen).
7) Pada detik ke 50 dipindahkan kuvet kedalam pengukuran.
8) Ditekan tombol pip pada detik ke 60, bersamaan dengan
dimasukkannya start reagen kedalam kuvet.
9) Dicatat hasil.

108
b) Cara kerja Activated Partial Tromboplastin Time (APTT)
1) Kuvet dan stelball dimasukkan kedalam kolom inkubasi.
2) CaCl2 dalam aliquot ditempatkan pada tempat inkubasi vial
reagen disamping tempat pipet (untuk mencegah kontaminasi).
3) Ditekan menu 1 (Test Mode)
4) Pilih jenis pemeriksaan aPTT (dimasukkan jumlah tes dan no ID
pasien)
5) Dipipet 50 µl plasma + 50 µl Ck pres kedalam kuvet kedalam
kolom inkubasi.
6) Ditekan timer inkubasi selama 180 detik (alarm berbunyi pada
detik ke 170)
7) Disiapkan dalam pipet 50 µl CaCl2 (Start Reagen)
8) Pada detik ke 170, dipindahkan kuvet kedalam kolom
pengukuran.
9) Ditekan tombol pip pada detik ke 180, bersamaan dengan
dimasukkannya start reagen kedalam kuvet.
10) Dicatat hasil aPTT.

3. Fungsi
Untuk pemeriksaan Prothrombin Time (PT) and Activated Partial
Thromboplastin Time (APTT)

109
Lampiran 4 Panduan kerja pemeriksaan urinalisis menggunkan BA600 seperti
yang ditunjukan pada gambar 4.

Gambar 4. Alat BA600

1. Prinsip :
Masukan Strip uji pada tempatnya, lalu tekan tombol test kemudian strip
akan masuk ke dalam alat. Alat akan menganalisa berbagai macam uji. Alat
pembaca berisi LED yang memancarkan cahaya.

2. Cara kerja :
A. Pemeriksaan Makroskopis
1. Celupkan strip pada sampel
2. Strip urin dimasukkan kedalam alat BA600
3. Tekan tombol “ test “
4. Tunggu selama 5 detik, lalu hasil akan keluar dengan otomatis

B. Pemeriksaan Mikroskopis ( Sedimen )


1. Disentrifuge ± 5cc urin dengan kecepatan 3000 rpm selama 5-10
menit
2. Dibuang supernatan

110
3. Ditegakkan kembali posisi tabung sehingga sisa supernatan yang
tidak terbuang tercampur dengan sedimen
4. Dituang sediemn pada kaca objek, ditutup dengan kaca penutup
5. Dilihat dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x dan 40x.

3. Fungsi
Untuk Pemeriksaan Urin Secara Makroskopis
Seperti :
 PH
 Berat Jenis
 Bilirubil
 Blood
 Urobilin
 Nitrit
 dll

111
Lampiran 5 Panduan kerja pemeriksaan Glukosa menggunakan alat Fotometer
seperti yang ditunjukan pada gambar 5.

Gambar 5 Alat Fotometer

1. Prinsip :
LED merupakan diode semikonduktor yang dapat memancarkan
cahaya dengan rentang panjang gelombang yang sempit sehingga
cahaya yang dihasilkan dapat dianggap bersifat monokromatis. LED
yang digunakan berbeda bergantung pada warna larutan. Misalkan larutaan
kuning maka LED yang digunakan harus berwarna biru. Hal ini disebabkan
warna kuning merupakan warna komplementer dari warna biru.
CdS merupakan detektor cahaya yang sangat peka terhadap
perubahan intensitas cahaya yang mengenai permukaannya. Prinsip kerja
fotosel CdS sebagai detektor adalah perubahan nilai resistansi atau
hambatan fotosel berbanding terbalik dengan intensitas cahaya yang
mengenai permukaannya. Jika dihubungkan dengan multimeter atau
avometer CdS menjadi konduktor yang buruk atau CdS memiliki
resistansi atau hambatan besar pada saat cahaya gelap atau redup, dan

112
sebaliknya CdS menjadi konduktor yang baik atau CdS memiliki resistansi
kecil pada saat cahaya terang.
Seperti yang diketahui bahwa suatu zat berwarna, karena zat
terssebut menyerap radiasi elektromagnetik. Oleh sebab itu jika zat dengan
konsentrasi tertentu dimasukan ke dalam tabung reaksi kemudian
disinari dengan LED maka sebagian sinar diserap dan sebagian lagi
diteruskan. Oleh sebab itu jika konsentrasi zat tinggi, cahaya yang diserap
makin banyak dan cahaya yang diteruskan makin sedikit, sehingga
hambatan yang dihasilkan makin besar.
2. Cara Kerja
Sebelum mengunakan Photometer pasti kan kuvet telah terpasang dan
pompa peristaltik telah di lingkari selang. Kabel di hubungkan dengan arus
listrik 220 V. Untuk memilih metode yang di gunakan di pilih pada touch
screen,semua pengaturan dapan kita atur pada alar tersebut.
3. Fungsi
Alat ini memliki fungsi untuk mengukur intensitas atau kekuatan cahaya
suatu larutan. Sebagian besar laboratorium klinik menggunakan alat ini
karena alat ini dapat menentukan kadar suatu bahan didalam cairan tubuh
seperti serum atau plasma. Polarimetri adalah meteode yang digunakan
untuk analisis komponen menggunakan polarimeter.

113
Lampiran 6 panduan kerja Strip Tes Imunoserologi seperti yang ditunjukan
pada gambar 6.

Gambar 6 Strip imunoserologi

1. Prinsip :
Membran Rapid test dilapisi rekombinan antigen setiap pemeriksaannya
yang ditempatkan pada wilayah garis test. Pada waktu pemeriksaan darah
utuh (whole blood) atau serum / plasma spesimen akan bereaksi dengan
partikel antigen setiap pemeriksaan yang dilapiskan pada membran test
tersebut. Berdasarkan sistem kapiler spesimen tersebut akan bermigrasi maju
secara kromatografi dan apabila dalam spesimen tersebut mengandung
antibodi salah satu pemeriksaan maka akan bereaksi dengan rekombinan
antigen tersebut yang dilapiskan pada membran berbentuk garis warna.
Terbentuknya garis berwarna ini mengindikasikan hasil positif sementara
ketiadaan garis berwarna mengindikasikan hasil negatif.

2. Cara kerja:
 Cara kerja HIV
1. Sebelum membuka pouch dibiarkan terlebih dahulu pada suhu
kamar, dibuka sealed pouch dan diambil test kaset dari
bungkusnya dan digunakan sesegera mungkin

114
2. Ditempatkan test kaset pada permukaan yang bersih dan rata
3. Untuk spesimen Serum atau Plasma :
 Disedot spesimen menggunakan dropper lalu ditahan pada
posisi vertical di atas sumur spesimen lalu diteteskan 1
tetes serum/plasma (kira-kira 25µ) pada area sumur test
tersebut. Lalu ditambahkan 1 tetes buffer (kira-kira 40µ).
Mulai start timer, hindarkan terbentuknya gelembung
diatas permukaan sumur spesimen

 Cara kerja HbsAg


1. Sebelum membuka pouch dibiarkan terlebih dahulu pada suhu
kamar, dibuka sealed pouch dan ambil test strip dari bungkusnya
dan digunakan sesegera mungkin. Hasil terbaik akan dicapai apabila
pemeriksaan dilakukan kurang dari 1 jam
2. Untuk spesimen serum atau plasma:
Dengan posisi tanda panah menghadap kearah bawah, dicelupkan
test strip secara vertical pada serum/plasma selama 10-15 detik.
Ketika mencelupkan test strip pada spesimen usahakan jangan
melampaui garis maksimum yang tertera pada test strip
3. Ditempatkan test strip pada permukaan non-absorbent yang rata.
Start timer dan ditunggu sampai garis warna muncul. Dibaca hasil
pada 15 menit. Jangan baca hasil lebih dari 30 menit.
 Cara kerja IgM, IgG
1. Sebelum membuka pouch dibiarkan terlebih dahulu pada suhu
kamar, dibuka sealed pouch dan diambil test device dari
bungkusannya dan digunakan sesegera mungkin

2. Ditempatkan test device pada permukaan yang bersih dan rata


3. Disedot spesimen menggunakan dropper lalu ditahan pada posisi
vertical di atas sumur spesimen lalu diteteskan 1 tetes spesimen
(kira-kira 10 mikro), lalu ditambahkan 2-3 tetes buffer (kira-kira 70
mikro). Mulai start timer

115
4. Ditunggu sampai garis warna muncul. Dibaca hasil pada 15 menit.
Jangan baca hasil lebih dari 20 menit

3. Fungsi
Untuk pemeriksaan HIV, HBSag, dan IgM, IgG

116
Lampiran 7 Panduan kerja Alat Mikroskop seperti yang ditunjukan pada gambar
7.

Gambar 7 Mikroskop

1. Prinsip :
Prinsip kerja mikroskop adalah obyek ditempatkan di ruang dua lensa
obyektif sehingga terbentuk bayangan nyata terbalik dan diperbesar. Lensa
okuler mempunyai peran seperti lup, sehingga pengamat dapat melakukan
dua jenis pengamatan yaitu dengan mata tak berakomodasi atau dengan
mata berakomodasi maksimum. Pilihan jenis pengamatan ini dapat
dilakukan dengan cara menggeser jarak benda terhadap lensa obyektif yang
dilakukan dengan tombol soft adjustment (tombol halus yang digunakan
untuk menemukan fokus). Kegiatan berikut ini akan memperlihatkan
pembentukan bayangan pada mikroskop.
2. Cara Kerja
1. Siapkan preparat
2. Simpan preparat pada meja kerja mikroskop
3. Atur lensa objektif, kondensor, diafragma,dan pengaturan cahaya yang
di butuhkan

117
4. Cari lapang pandang
5. Amati preparat
3. Fungsi
 Pengatur Kasar dan Halus Komponen ini letaknya pada bagian
lengan dan berfungsi untuk mengatur kedudukan lensa objektif
terhadap objek yang akan dilihat. Pada mikroskop dengan tabung
lurus/tegak, pengatur kasar dan halus untuk menaikturunkan tabung
sekaligus lensa onbjektif.
 Cermin. Cermin mempunyai dua sisi, sisi cermin datar dan sisi
cermin cekung, berfungsi untuk memantulkan sinar dan sumber
sinar. Cermin datar digunakan bila sumber sinar cukup terang, dan
cermin cekung digunakan bila sumber sinar kurang. Cermin dapat
lepas dan diganti dengan sumber sinar dari lampu.
 Kondensor Kondensor tersusun dari lensa gabungan yang berfungsi
mengumpulkan sinar.
 Lengan Dengan adanya engsel antara kaki dan lengan, maka lengan
dapat ditegakkan atau direbahkan. Lengan dipergunakan juga untuk
memegang mikroskop pada saat memindah mikroskop.
 Diafragma Diafragma berfungsi mengatur banyaknya sinar yang
masuk dengan mengatur bukaan iris. Letak diafragma melekat pada
diafragma di bagian bawah. Pada mikroskop sederhana hanya ada
diafragma tanpa kondensor.
 Tabung. Di bagian atas tabung melekat lensa okuler, dengan
perbesaran tertentu (15X, 10X, dan 15 X). Dibagian bawah tabung
terdapat alat yang disebut revolver. Pada revolver tersebut terdapat
lensa objektif.
 Lensa obyektif Lensa objektif bekerja dalam pembentukan bayangan
pertama. Lensa ini menentukan struktur dan bagian renik yang akan
terlihat pada bayangan akhir.

118
 Lensa Okuler Lensa mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas
tabung, berdekatan dengan mata pengamat. Lensa ini berfungsi
untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif.
Perbesaran bayangan yang terbentuk berkisar antara 4 - 25 kali.
 Kaki Kaki berfungsi menopang dan memperkokoh kedudukan
mikroskop. Pada kaki melekat lengan dengan semacam engsel, pada
mikroskop sederhana (model student).
 Meja preparat Meja preparat merupakan tempat meletakkan objek
(preparat) yang akan dilihat. Objek diletakkan di meja dengan dijepit
dengan oleh penjepit. Dibagian tengah meja terdapat lengan untuk
dilewat sinar.

119
Lampiran 8 panduan kerja Tempat penanganan sampel BTA seperti yang
ditunjukan pada gambar 8.

Gambar 8. Tempat penanganan sampel

1. Prinsip:
Melakukan pewarnaan dengan pemanasan bakteri
Mycobakterium Tubercolose akan menyerap zat warna, dan tahan
terhadap asam alkohol, sehingga tampak sebagai bakteri
berbentuk batang berwarna merah.

2. Cara kerja :
1. Diambil pot dahak dan kaca sediaan yang beridentitas sama.
2. Dibuka pot dahak secara hati – hati
3. Dibuat sediaan hapus dahak menggunakan ose dengan urutan
sebagai berikut:
 Dipanaskan ose diatas nyala api spirtus sampai merah dan
dibiarkan sampai dingin.
 Diambil sedikit dahak dari bagian yang kental (purulent)
menggunakan ose yang telah disterilkan.

120
 Dioleskan dahak pada kaca sediaan kaca sediaan secara
merata, sesuai ukuran 2 x 3 cm.
 Diratakan dengan menggunakan tusuk gigi
 Dimasukan ose kedalam pasir – alcohol 70% digoyang –
goyangkan untuk melepaskan partikel yang melibat ose
 Didekatkan ose pada lampu spirtus hingga kering,
kemudian dibakar hingga membara, kemudian disimpan
 Dikeringkan sediaan diudara terbuka ± 15 – 30 menit.
 Diambil kaca sediaan dengan pinset, kemudian dilewatkan
di atas lampu spirtus sebanyak 3 kali memerlukan waktu ±
3 – 5 menit.
3. Fungsi
Tempat untuk pembuatan preparat BTA

121
Lampiran 9 panduan kerja alat Elektrolit seperti yang ditunjukan pada
gambar 9.

Gambar 9. Alat Elektrolit

1. Prinsip :
sampel akan ditarik oleh elektroda yang sensitif terhadap ion-
ion tersebut. Kemudian digunakan elektroda reference untuk
membandingkan naik turunnya potensial. ketika ion-ion elektrolite
masuk pada elektrode timbul potensial listrik sebanding dengan
konsentrasi ion elektrolite . kemudian potensial listrik tersebut
dikuatkan dan dikonversikan melalui prosesor menjadi nilai
konsentrasi elektrolit.
Penggunan elektrode selektif ion atau ISE (Ion Selective
Electrode). Dimana pada alat ini ada 4 buah elektrode yaitu Na+
electrode, K+ elektrode, Cl- elektrode dan Referens elektrode.
Elektrolit analyzer dapat mendeteksi ion garam anorganik, ion
kalsium sampel bahan kecil.

2. Cara kerja Elektrolit


 Masukkan sampel pada alat

122
 “Holding sample” tunggu sampai pemberitahuan “remove
sample”
 Tekan tombol 1 (syrine)
 Tunggu sampai hasil keluar

3. Fungsi
Disamping sebagai pengantar aliran listrik, elektrolit juga mempunyai banyak
manfaat, tergantung dari jenisnya. Contohnya :
 Natrium : fungsinya sebagai penentu utama osmolaritas dalam darah
dan pengaturan volume ekstra sel.
 Kalium : fungsinya mempertahankan membran potensial elektrik
dalam tubuh.
 Klorida : fungsinya mempertahankan tekanan osmotik, distribusi air
pada berbagai cairan tubuh dan keseimbangan anion dan kation dalam
cairan ekstrasel.
 Kalsium : fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot,
deposit utamanya berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan, kalsium
ini dapat berpindah ke dalam darah.
 Magnesium : Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur
pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatan kontraksi
jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh.

123
Lampiran 10 panduan kerja alat Centifuge seperti yang ditunjukan pada
gambar 10.

Gambar 10. Alat Centrifuge

1. Prinsip :
Alat laboratorium yang memanfaatkan gaya sentrifugal , yaitu gaya yang
timbul akibat benda yang diputar dari satu titik sebagai porosnya . untuk
memisahkan partikel dari satu benda cair atau dengan kata lain memisahkan
benda cair dari kepadatan yang berbeda .benda cair ini merupakan cairan
tubuh , contoh darah , serum , air seni , bahan reaksi lainnya , atau
campuran dari kedua duanya dengan zat tambahan lain.

2. Fungsi
memisahan molekular dari sel atau organel subselular. Pemisahan
tersebut berdasarkan konsep bahwa partikel yang tersuspensi di sebuah
wadah akan mengendap ke dasar wadah karena adanya gaya gravitasi.
Sehingga laju pengendapan suatu partikel yang tersuspensi tersebut dapat
diatur dengan meningkatkan atau menurunkan pengaruh gravitasional
terhadap partikel.

124
Lampiran 11 panduan kerja alat CKMB Alere seperti yang ditunjukan
pada gambar 11.

Gambar. 11 Alat CKMB Alere

1. Prinsip :
CK-MB terdiri dari 2 sub unit CK–M dan CK–B, dimana sub unit CK–M
dihambat oleh antibodi spesifik dan hanya aktivitas sub unit CK-B yang
setara dengan setengah aktivitas iso enzim MB yang diperiksa dengan cara
kinetik enzimatik. Creatin phosphat dan ADP dengan adanaya enzim creatin
kinase akan berubah menjadi creatin dan ATP, dimana ATP ini bersama
glukosa oleh enzim heksokinase diubah menjadi glukosa-6-phosphat dan
ADP. Glukosa-6-phosphat bersama NADP oleh enzim G-6-P-DH akan
diubah menjadi gluconat-6-phosphat dan NADPH. Aktivitas CK-B sebanding
dengan perubahan NADP. Hasil yang terukur kemudian dikonversikan
dengan CKMB.

2. Fungsi
Untuk diagnosis AMI (Acute Myocardial Infarct)

125
Lampiran 12 Panduan kerja alat kultur jaringan ditunjukan pada gambar 12

Gambar 12. Alat BACT/ALERT 3D

1. Prinsip :
BACT /ALERT 3D memanfaatkan sensor kolometri dan pantulan cahaya
untuk memantau keberadaan dan produksi karbon dioksida (CO₂) yang dilarutkan
dalam medium kultur. Ketika pertumbuhan mikroorganisme menghasilkan CO₂,
warna sensor gas-permeable yang dipasang dibagian bawah, yaitu botol kultur
akan berubah warna dari biru-hijau ke kuning. Hasil warna lebih terang dalam
peningkatan pantulan unit seperti yang dipantau oleh system. Pantulan botol
dipantau dan dicatat oleh instrument setiap 10 menit.
2.Fungsi
Mendeteksi bakteri atau jamur dalam darah dan cairan tubuh steril lainnya
Alat ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi mycobacterium .

126
Lampiran 13 Panduan kerja alat kultur jaringan ditunjukan pada gambar 13

Gambar 13. Alat Vitek 2 – technology


1. Prinsip :
Tes kepekaan dilakukan mengacu kepada CLSI, dalam konsentrasi MIC
Sistem mampu melakukan tes secara terpisah antara ID/AST Advanced
Expert System (AES) : membantu interpretasi dan validasi hasil tes kepekaan
antimikroba secara sistematis dan otomatis meminimalkan kesalahan karena
faktor manusia.

2. Fungsi :
Alat kesehatan ini penting karena selain bisa mengecek jenis kuman,
mereka juga bisa mendeteksi kepekaan kuman terhadapat antibiotik. Banyak
kuman yang memiliki tingkat resistensi yang tinggi terhadap antibiotik. Hal
ini terjadi karena pemberian antibiotik yang sembarangan dan zat kimia yang
banyak tersebar di sekitar kita. Agar resistensi antibiotic tidak terjadi, tenaga
kesehatan diharapkan untuk tidak mudah memberikan antibiotik karena
beberapa kuman dan virus bisa mati sendiri tanpa perlu obat karena tubuh
memiliki sistem pertahanannya sendiri.

127
Lampiran 14 Ruang IPAL RSAU dr. M. Salamun Bandung

Nougrat
Biodetox

BIODEKSTRAN Untuk Proses Aserasi Instalasi Pengolahan Limbah

Alat Filtrasi dan klorisasi Bak uji (indikator ikan mas)

128
Lampiran 15
Intensitas pemeriksaan yang dilakukan selama Praktek Kerja Lapangan di RS AU
dr. M. Salamun Bandung.
Nama Pemeriksa Mufti Habib Abduloh (1511E1032)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 621 Glukosa sewaktu 732
Hb 621 Glukosa puasa 712
Leukosit 621 Glukosa 2jam PP 712
Trombosit 632 Ureum 402
Hematocrit 632 Kreatinin 401
Eritrosit 20 Asam urat 202
Diff count 305 Kolestrol 351
LED 61 Kolestrol HDL 347
Waktu pendarahan (BT) 102 Kolestrol LDL 347
Waktu pendarahan (CT) 102 Trigliserida 351
Golongan darah 56 SGOT 398
Rhesus 56 SGPT 398
Malaria 15 Bilirubin Total 15
Morfologi darah tepi 10 Bilirubin Direct 15
PT 12 Bilirubin Indirect 15
APTT 12 Alkali fosfate 10
PT-INR 12 Protein total 11
 URINE Albumin 10
Urine rutin 145 Globulin 10
Protein 62 CKMB 14
Glukosa 51 Natrium 32
Test kehamilan 20 Kalium 32
 SEROLOGI/ Kalsium 32
IMUNOLOGI
IgG Dengue 27 Klorida 32
IgM Dengue 27 Troponin 1 14
Widal 31  FESES
HbsAg 109 Feses lengkap 78
Anti HCV 100  MIKROB
IOLOGI
TPHA 98 Gram 10
IgM Anti Salmonella 95 BTA 50
HIV 110  BANK
DARAH
NS 1 21 Crossmatch 56
 SAMPLING 310

129
Nama Pemeriksa Hendra Abdul Rojak (1511E1006)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 631 Glukosa sewaktu 816
Hb 631 Glukosa puasa 820
Leukosit 631 Glukosa 2jam PP 820
Trombosit 641 Ureum 345
Hematocrit 641 Kreatinin 345
Eritrosit 31 Asam urat 199
Diff count 316 Kolestrol 351
LED 50 Kolestrol HDL 350
Waktu pendarahan (BT) 111 Kolestrol LDL 350
Waktu pendarahan (CT) 111 Trigliserida 351
Golongan darah 61 SGOT 395
Rhesus 61 SGPT 395
Malaria 12 Bilirubin Total 16
Morfologi darah tepi 11 Bilirubin Direct 16
PT 9 Bilirubin Indirect 16
APTT 9 Alkali fosfate 12
PT-INR 9 Protein total 14
 URINE Albumin 13
Urine rutin 160 Globulin 13
Protein 43 CKMB 12
Glukosa 34 Natrium 34
Test kehamilan 12 Kalium 34
 SEROLOGI/ Kalsium 34
IMUNOLOGI
IgG Dengue 30 Klorida 34
IgM Dengue 30 Troponin 1 12
Widal 29  FESES
HbsAg 112 Feses lengkap 69
Anti HCV 111  MIKROB
IOLOGI
TPHA 98 Gram 6
IgM Anti Salmonella 94 BTA 53
HIV 113  BANK
DARAH
NS 1 18 Crossmatch 61
 SAMPLING 319

130
Nama Pemeriksa Alfian fadjrin Sofian (1511E1019)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 641 Glukosa sewaktu 745
Hb 641 Glukosa puasa 750
Leukosit 641 Glukosa 2jam PP 750
Trombosit 661 Ureum 355
Hematocrit 661 Kreatinin 355
Eritrosit 20 Asam urat 169
Diff count 401 Kolestrol 341
LED 50 Kolestrol HDL 340
Waktu pendarahan (BT) 121 Kolestrol LDL 340
Waktu pendarahan (CT) 121 Trigliserida 341
Golongan darah 54 SGOT 375
Rhesus 54 SGPT 375
Malaria 21 Bilirubin Total 19
Morfologi darah tepi 14 Bilirubin Direct 19
PT 7 Bilirubin Indirect 19
APTT 6 Alkali fosfate 12
PT-INR 6 Protein total 19
 URINE Albumin 16
Urine rutin 150 Globulin 16
Protein 34 CKMB 11
Glukosa 29 Natrium 32
Test kehamilan 10 Kalium 32
 SEROLOGI/ Kalsium 32
IMUNOLOGI
IgG Dengue 33 Klorida 32
IgM Dengue 33 Troponin 1 11
Widal 26  FESES
HbsAg 123 Feses lengkap 67
Anti HCV 100  MIKROB
IOLOGI
TPHA 67 Gram 7
IgM Anti Salmonella 84 BTA 43
HIV 123  BANK
DARAH
NS 1 15 Crossmatch 54
 SAMPLING 318

131
Nama Pemeriksa Ahmad Setiawan (1511E1018)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 621 Glukosa sewaktu 728
Hb 621 Glukosa puasa 732
Leukosit 621 Glukosa 2jam PP 732
Trombosit 681 Ureum 332
Hematocrit 681 Kreatinin 332
Eritrosit 21 Asam urat 156
Diff count 412 Kolestrol 331
LED 51 Kolestrol HDL 343
Waktu pendarahan (BT) 124 Kolestrol LDL 343
Waktu pendarahan (CT) 124 Trigliserida 343
Golongan darah 57 SGOT 334
Rhesus 57 SGPT 334
Malaria 20 Bilirubin Total 17
Morfologi darah tepi 13 Bilirubin Direct 17
PT 6 Bilirubin Indirect 17
APTT 6 Alkali fosfate 11
PT-INR 6 Protein total 18
 URINE Albumin 15
Urine rutin 120 Globulin 15
Protein 24 CKMB 10
Glukosa 19 Natrium 31
Test kehamilan 9 Kalium 31
 SEROLOGI/ Kalsium 31
IMUNOLOGI
IgG Dengue 34 Klorida 31
IgM Dengue 34 Troponin 1 10
Widal 27  FESES
HbsAg 124 Feses lengkap 57
Anti HCV 104  MIKROB
IOLOGI
TPHA 63 Gram 8
IgM Anti Salmonella 81 BTA 47
HIV 122  BANK
DARAH
NS 1 11 Crossmatch 57
 SAMPLING 321

132
Nama Pemeriksa Sri Bintang Wahyuni (1511E1044)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 629 Glukosa sewaktu 738
Hb 629 Glukosa puasa 722
Leukosit 629 Glukosa 2jam PP 722
Trombosit 689 Ureum 312
Hematocrit 689 Kreatinin 312
Eritrosit 17 Asam urat 146
Diff count 420 Kolestrol 351
LED 41 Kolestrol HDL 353
Waktu pendarahan (BT) 130 Kolestrol LDL 353
Waktu pendarahan (CT) 130 Trigliserida 353
Golongan darah 41 SGOT 364
Rhesus 41 SGPT 364
Malaria 13 Bilirubin Total 13
Morfologi darah tepi 13 Bilirubin Direct 13
PT 6 Bilirubin Indirect 13
APTT 6 Alkali fosfate 12
PT-INR 6 Protein total 12
 URINE Albumin 11
Urine rutin 121 Globulin 11
Protein 22 CKMB 17
Glukosa 15 Natrium 39
Test kehamilan 8 Kalium 39
 SEROLOGI/ Kalsium 39
IMUNOLOGI
IgG Dengue 35 Klorida 39
IgM Dengue 35 Troponin 1 17
Widal 22  FESES
HbsAg 129 Feses lengkap 50
Anti HCV 112  MIKROB
IOLOGI
TPHA 64 Gram 5
IgM Anti Salmonella 74 BTA 48
HIV 129  BANK
DARAH
NS 1 19 Crossmatch 41
 SAMPLING 312

133
Nama Pemeriksa Wasniah Wati (1511E1048)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 630 Glukosa sewaktu 778
Hb 630 Glukosa puasa 762
Leukosit 630 Glukosa 2jam PP 762
Trombosit 670 Ureum 322
Hematocrit 670 Kreatinin 322
Eritrosit 18 Asam urat 116
Diff count 411 Kolestrol 341
LED 43 Kolestrol HDL 363
Waktu pendarahan (BT) 132 Kolestrol LDL 363
Waktu pendarahan (CT) 132 Trigliserida 343
Golongan darah 40 SGOT 334
Rhesus 40 SGPT 344
Malaria 12 Bilirubin Total 10
Morfologi darah tepi 15 Bilirubin Direct 10
PT 8 Bilirubin Indirect 10
APTT 8 Alkali fosfate 13
PT-INR 8 Protein total 14
 URINE Albumin 10
Urine rutin 131 Globulin 10
Protein 23 CKMB 12
Glukosa 15 Natrium 35
Test kehamilan 6 Kalium 35
 SEROLOGI/ Kalsium 34
IMUNOLOGI
IgG Dengue 33 Klorida 35
IgM Dengue 33 Troponin 1 12
Widal 20  FESES
HbsAg 122 Feses lengkap 40
Anti HCV 110  MIKROB
IOLOGI
TPHA 63 Gram
IgM Anti Salmonella 70 BTA 32
HIV 122  BANK
DARAH
NS 1 12 Crossmatch 40
 SAMPLING 309

134
Nama Pemeriksa Tiara (1511E1001)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 629 Glukosa sewaktu 739
Hb 629 Glukosa puasa 729
Leukosit 629 Glukosa 2jam PP 729
Trombosit 689 Ureum 315
Hematocrit 689 Kreatinin 315
Eritrosit 27 Asam urat 145
Diff count 450 Kolestrol 359
LED 46 Kolestrol HDL 358
Waktu pendarahan (BT) 121 Kolestrol LDL 358
Waktu pendarahan (CT) 121 Trigliserida 358
Golongan darah 56 SGOT 368
Rhesus 56 SGPT 368
Malaria 17 Bilirubin Total 17
Morfologi darah tepi 17 Bilirubin Direct 17
PT 8 Bilirubin Indirect 17
APTT 8 Alkali fosfate 16
PT-INR 6 Protein total 16
 URINE Albumin 16
Urine rutin 131 Globulin 16
Protein 19 CKMB 15
4rGlukosa 15 Natrium 34
Test kehamilan 8 Kalium 34
 SEROLOGI/ Kalsium 34
IMUNOLOGI
IgG Dengue 27 Klorida 34
IgM Dengue 27 Troponin 1 15
Widal 22  FESES
HbsAg 130 Feses lengkap 44
Anti HCV 123  MIKROB
IOLOGI
TPHA 56 Gram 5
IgM Anti Salmonella 47 BTA 48
HIV 130  BANK
DARAH
NS 1 17 Crossmatch 56
 SAMPLING 305

135
Nama Pemeriksa Nadia Aurora (1511E1021)
Rumah Sakit RS TNI AU Dr.M Salamun

 HEMATOLOGI JUMLAH  KLINIK JUMLAH


Darah lengkap 644 Glukosa sewaktu 738
Hb 644 Glukosa puasa 726
Leukosit 644 Glukosa 2jam PP 726
Trombosit 649 Ureum 318
Hematocrit 649 Kreatinin 318
Eritrosit 15 Asam urat 19
Diff count 412 Kolestrol 359
LED 42 Kolestrol HDL 356
Waktu pendarahan (BT) 123 Kolestrol LDL 356
Waktu pendarahan (CT) 123 Trigliserida 356
Golongan darah 44 SGOT 356
Rhesus 44 SGPT 356
Malaria 14 Bilirubin Total 19
Morfologi darah tepi 15 Bilirubin Direct 19
PT 8 Bilirubin Indirect 19
APTT 8 Alkali fosfate 12
PT-INR 5 Protein total 12
 URINE Albumin 11
Urine rutin 131 Globulin 11
Protein 23 CKMB 12
4rGlukosa 14 Natrium 39
Test kehamilan 7 Kalium 39
 SEROLOGI/ Kalsium 39
IMUNOLOGI
IgG Dengue 37 Klorida 39
IgM Dengue 37 Troponin 1 12
Widal 27  FESES
HbsAg 125 Feses lengkap 47
Anti HCV 114  MIKROB
IOLOGI
TPHA 65 Gram 4
IgM Anti Salmonella 76 BTA 38
HIV 127  BANK
DARAH
NS 1 13 Crossmatch 44
SAMPLING 118

136
Lampiran 16
Lembar Formulir Permintaan Laboratorium ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Gambar 16. Lembar Formulir Permintaan Laboratorium

137
Lampiran 17
Menjelaskan Tentang Lembaran Hasil Pemeriksaaan Laboratorium

Gambar 17. Lembaran Hasil Pemeriksaaan Laboratorium

138
Daftar istilah
(Hematocrit) : mengukur persentase volume darah yang diambil oleh
(hematology) : ilmu yang mempelajari hal darah.
(histological) : berhubungan dengan jaringan tubuh. Terkait hcv,
perbaikan histologis berarti perbaikan pada jaringan hati,
dengan penurunan pada radang ataufibrosis dalam
perbandingan dengan biopsi sebelumnya.
(hypoglycemia) : tingkat gula yang rendah di dalam darah.
(hypoxemia) : tingkat oksigen dalam darah yang rendah.
(tracebility) : adalah sifat hasil suatu pengukuran atau nilai suatu
standar yang dapat dihubungkan dengan acuan tertentu,
biasanya standar nasional atau internasional, melalui
suatu rantai pembandingan yang tidak terputus yang
semuanya mempunyai ketidakpastian tertentu.
Aids : adalah penyakit akibat defisiensi sistem kekebalan tubuh
akibat infeksi hiv.
Akurasi : adalah ukuran yang menunjukan derajat kedekatan hasil
analisis dengan analit yang sebenarnya. Akurasi nilai
yang menyatakan tingkat kebenaran hasil pengukuran
sesuai dengan standar.
Akut : adalah gejala atau tanda-tanda yang dimulai dan
memburuk dengan cepat, lihat disini perbedaan penyakit
akut dan kronis.
Antikoagulan : adalah zat yang mencegah pembekuan darah.
Antiseptik : adalah agen kimia yang dapat diterapkan di jaringan
hidup untuk menghancurkan kuman.
Arteri : adalah pembuluh darah berdinding tebal yang membawa
darah dari jantung kesemua organ, jaringan, termasuk
otot, otak dan hati.
Asam asetat : adalah asam ditemukan dalam cuka. Asam asetat juga
digunakan untuk melarutkan zat-zat yang dibutuhkan
untuk membuat obat dan produk-produk lainnya, seperti
plastic.

139
Asam urat : zat kimia hasil metabolisme purin. Purin adalah protein
yang ditemukan dalam banyak makanan dan minuman,
seperti jeroan, melinjo dan bayam.
Bahan kontrol : adalah bahan atau substansi yang digunakan untuk
memantau ketepatan dan ketelitian suatu pemeriksaan
atau untuk mengawasi kualitas pemeriksaan.
Bakteri phatogent : adalah bakteri yang dapat menimbulkan penyakit.
Desinfeksi : adalah tindakan untuk membunuh bibit penyakit yang
berada di luar tubuh.
Edema : pembengkakan yang disebabkan oleh penumpukan cairan
pada jaringan tubuh.
Elektrolit : zat mineral yang sangat penting untuk fungsi tubuh
normal. Elektrolit sering hilang waktu muntah-muntah
atau diare.
Elisa : (enzyme-linked immunosorbent assay) tes laboratorium
yang sangat peka untuk menentukan ada/tiadanya
antibodi terhadap hiv dalam darah atau cairan tubuh lain.
Embolism : penyumbatan pembuluh darah oleh benda asing (mis.
Bekuan darah, udara).
Epitel (epithelium) : lapisan (termasuk kulit) yang melindungi organ tubuh
luar dan dalam, termasuk pembuluh darah.
Fibrosis : kerusakan hati ditandai oleh jaringan hati berserat.
Lihat sirosis.
Gejala (symptom) : keadaan atau keluhan yang menyertai infeksi atau
penyakit.
Hemoglobin (hb) : protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen
Hepatitis : radang hati akibat virus atau alasan lain.
Hospes : adalah manusia atau hewan yang ditumpangi sesuatu
parasit.
Infeksi : adalah masuknya disertai pertumbuhan dan perkembang
biakan sesuatu bibit pentakit didalam tubuh manusia atau
hewan sehingga timbul gejala-gejala penyakit.
Insomnia : kelainan/kesulitan tudur.
Insulin : hormon yang mengatur metabolisme karbohidrat.

140
Isolasi : adalah pemisahan penderita penyakit infeksi dari orang-
orang sehat di sekitarnya untuk menghindari terjdinya
penularan.
Jaringan (tissue) : satu kumpulan sel yang sejenis yang bertindak bersama-
sama untuk mengerjakan fungsi tertentu. Ada
empat jaringan dasar di dalam tubuh, yakni epitelium,
sendi penyambung, otot dan saraf.
Kalibrator : adalah bahan atau substansi yang digunakan untuk
mengkalibrasi peralatan.
ke sel di seluruh tubuh.
Kontaminasi : adalah pengotoranpermukaan tubuh atau benda-benda
oleh sesuatu bibit penyakit.
Kuvet : adalah wadah yang digunakan sebagai tempat campuran
hasil reaksi yang akan dianalisa di jalur cahaya pada
fotometer.
Masa inkubasi : adalah waktu antara masuknya suatu bibit penyakit
kedalam tubuh sampai yimbulnya gejala-gejala penyakit.
Parasit : adalah oerganisme (mahkluk hidup) yang
hidupnya menumpang pada mahkluk hidup lain dan
merugikan mahluk hidup yang ditumpanginnya.
Sampel : adalah satu atau lebih bagian yang diambil dari suatu
sistem dan dimaksudkan untuk memperoleh informasi,
sebagai dasar untuk mengambil keputusan terhadap
sistem tersebut atau produksinya.
Satuan : adalah patokan untuk mengukur suatu besaran.
sel darah merah.
Serum : adalah komponen darah berbentuk cair yang tidak lagi
mengandung sel darah tanpa mengandung faktor
pembekuan.
Specimen : adalah sekumpulan dari satu bagian atau lebih bahan
yang diambil langsung dari suatu system.
Standar : adalah zat yang konsenterasi atau kemurniannya
diketahui dan diperoleh dengan cara penimbangan.

141
Turn around time : adalah waktu yang dibutuhkan oleh jenis pemeriksaan
tertentu mulai dari pengambilan sampel sampai hasil
pemeriksaan diberikan kepada pasien.
Validasi : adalah upaya yang dilakukan untuk memantapkan
kualitas hasil pemeriksaan.

142
TAMBAHKAN
1. DAFTAR ISTILAH
2. ALAT PADA LAMPIRANNYA + KAN
FUNGSI ALAT………ITU APA
3. KESIMPULAN JAWABAN DARI TUJUAN
4. SARAN JAWABAN DARI MANFAAT

SELAMAT MENGERJAKAN SAYA TUNGGGU…..

143