Anda di halaman 1dari 9

A.

PENGERTIAN

Fraktur adalah rusaknya keutuhan struktur tulang (Brooker, 2008). Fraktur


menurut Dorland (2012), adalah pemecahan suatu bagian, khususnya tulang ; pecah
atau rupture pada tulang. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan
terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Doengoes (2000) fraktur adalah
pemisahan atau patahnya tulang. Sehingga fraktur servikal adalah terpisahnya
kontinuitas tulang pada vertebra servikalis. Fraktur servikal pang sering disebabkan
oleh benturan kuat, atau
trauma pukulan di kepala. Atlet yang terlibat dalam olahraga impact, atau berpartisip
asi dalam olahraga memiliki resiko jatuh akibat benturan di leher (ski, menyelam,
sepak bola, bersepeda) terkait dengan fraktur servikal. Setiap cedera kepala atau
leher harus dievaluasi adanya fraktur servikalis. Sebuah fraktur servikal merupakan
suatu keadaan kedaruratan medis yang membutuhkan perawatan segera. Spine
trauma mungkin terkait cedera saraf tulang belakang dan dapat mengakibatkan
kelumpuhan, sehingga sangat penting untuk menjaga leher.

B. KLASIFIKASI TRAUMA SERVIKAL


1. Klasifikasi berdasarkan mekanisme traumaa.
a. Trauma hiperfleksi1)
1. Subluksasi anterior
Terjadi robekan pada sebagian ligament di posterior tulang leher;ligament
longitudinal anterior utuh. Termasuk lesi stabil.
Tanda penting pada subluksasi anterior adalah adanya angulasu ke posteri
os (kifosis) local pada tempat kerusakan ligament. Tanda-tanda lainnya:
jarak yang melebar antara prosesus spinosus, dansubluksasi sendi
apofiseal.
2. Bilateral interfacetal dislocation
Terjadi robekan pada ligament longitudinal anterios dan
kumpulanligament di posterior tulang leher. Lesi tidak stabil.
Tampak dislokasi anterior korpus vertebrae. Dislokasi total sendi
apofiseal.
3. Flexion tear drop fracture dislocationTenaga fleksi murni ditambah
komponen kkompresi menyebabkanrobekan pada ligament longitudinal
anterior dan kumoulanligament posterior disertai fraktur avulse pada
bagian antero-inferior konspur vertebra. Lesi tidak stabil. Tampak tulang
servikaldalam fleksi: fragmen tulang berbentuk segitiga pada
bagianantero-inferior korpus vertebrae, pembengkakan jaringan
lunak pravertebral.
4. Wedge fracture
Vertebra terjepit sehingga berbentuk baji. Ligament longitudinalanterior
dan kumoulan ligament posterior utuh sehingga lesi ini bersifat stabil.
5. Clay shovelers fractureFleksi tulang leher dimana terdapat kontraksi
ligament posterior tulang leher mengakibatkan terjadinya fraktur oblik
pada prosesusspinosus; biasanya pada C4-C7 atau Th1.

b. Trauma fleksi rotasi


Terjadi dislkasi interfacetal pada satu sisi. Lesi stabil walaupunterjadinya
kerusakan pada ligament posterior termasuk kapsul sendiapofiseal yang
bersangkutan dan vertebra proksimalnya dalam posisioblik, sedangkan
distalnya tetap dalam posisi lateral.
c. Trauma hiperkstensi
1. Fraktur dislokasi hiperekstensi
Dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus artikularis, lamina
dan prosesus spinosus. Fraktur avulse korpus vertebra bagian postero-
inferior. Lesi tidak stabil karena terdapat kerusakan pada elemen posterior
tulang leher dan ligament yang bersangkutan.
2. Hangmans fractureTerjadi fraktur arkus bilateral dan silokasi anterior C2
terhadap C3.
d. Ekstensi rotasi
Terjadinya fraktur pada prosesus artikularis satu sisi.
e. Kompresi vertical
Terjadinya fraktur ini akibat diteruskannya tenaga trauma melaluikepala,
kondilus oksipitalis, ke tulang leher.

Klasifikasi berdasar derajat kestabilan.

A. Stabil
B. Tidak stabil
Stabilitas dalam hal trauma tulang servikal dimaksudkan tetap utuhnya
komponen ligament - skeletal pada saat terjadinya pergeseran satu segmen
tulang leher terhadap lainnya. Cedera dianggap stabil jika bagian yang terkena
tekanan hanya bagian medulla spinalis anterior, komponen vertebral tidak
bergeser dengan pergerakan normal, ligament posterior tidak rusak sehingga
medulla spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi dan burst fraktur adalah
contoh cedera stabil. Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat
bergeser dengan gerakan normal karena ligament posteriornya rusak atau
robek, fraktur medulla spinalis disebut fraktur tidak stabil jika kehilangan
integritas dari ligament posterior. Menentukan stabil atau tidaknya fraktur
membutuhkan pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan radiografi minimal ada 4
posisi yaitu antero posterior, lateral, oblik kanan dan akiri. Dalam menilai
stabilitas vertebra, ada tiga unsur yang harus dipertimbangkan yaitu
kompleks posterior (kolumna posterior), kompleks media dan kompleks anteri
or (kolumna anterior).

C. JENIS FRAKTUR SERVIKALJenis fraktur daerah servikal, sebagai berikut:


1. Fraktur atlas C1
Fraktur ini terjadi pada kecelakaan jatuh dari ketinggian dan posisi kepala
menopang badan dan daerah servical mendapat tekanan hebat. Condylus
occipitalis pada basis crani dapat menghancurlan cincin tulang atlas. Jika tidak
ada cedera angulasi dan rotasi maka pergeseran tidak berat dan medulla
spinalis tidak ikut cedera. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah posisi
anteroposterior dengan mulut pasien dalam keadaan terbuka. Terapi untuk
fraktur tipe stabil seperti fraktur atlas ini adalah immobilisasi servical dengan
collar plaster selama 3 bulan.
2. Pergeseran C1 C2 (Sendi Atlantoaxial)
Atlas dan axis dihubungkan dengan ligamentum tranversalis dari atlas yang
menyilang di belakang prosesus odontoid pada axis. Dislokasi sendi
atlantoaxial dapat mengakibatkan arthritis rheumatoid karena
adanya perlunakan kemudian aka nada penekanan ligamentum tranversalis.
Fraktur dislokasi termasuk fraktur basis prosesus odontoid. Umumnya
ligamentum tranversalis masih utuh dan prosesus odontoid pindah dengan
atlas dan dapat menekan medulla spinalis. Terapi utnuk fraktur
tidak bergeser yaitu imobilisasi vertebra cervical. Terapi untuk fraktur geser
atlantoaxial adalah reduksi dengan traksi continues.
3. Fraktur kompresi corpus vertebral
Tipe kompresi lebih sering tanpa kerusakan ligamentum spinal namun dapat
mengakibatkan kompresi corpus vertebralis. Sifat fraktur ini adalah tipe tidak
stabil. Terapi untuk fraktur tipe ini adalah reduksi dengan plasticcollar selama
3 minggu (masa penyembuhan tulang).
4. Flexi subluksasi vertebral cervical
Fraktur ini terjadi saat pergerakan kepala kearah depan yang tiba-tiba
sehingga terjadi deselerasi kepala karena tubrukan atau dorongan pada kepala
bagian belakang, terjadi vertebra yang miring ke depan diatas vertebra yang
ada dibawahnya, ligament posterior dapat rusak dan fraktur ini singkat disebut
subluksasi, medulla spinalis mengalami kontusio dalam waktu singkat.
Tindakan yang diberikan untuk fraktur tipe ini adalah ekstensi cervical
dilanjutkan dengan imobilisasi leher terekstensi dengan collar selama 2 bulan.
5. Flexi dislokasi dan fraktur dislokasi cervical
Cedera ini lebih berat dibanding fleksi subluksasi. Mekanisme terjadinya
fraktur hampir sama dengan fleksi subluksasi, posterior ligament robek dan
posterior facet pada satu atau kedua sisi kehilangan kestabilannya dengan
bangunan sekitar. Jika dislokasi atau fraktur dislokasi pada C7– Th1 maka
posisi ini sulit dilihat dari posisi foto lateral maka posisi yang terbaik untuk
radiografi adalah “swimmer projection”
Tindakan yang dilakukan adalah reduksi fleksi dislokasi ataupun
fraktur dislokasi dari fraktur cervical termasuk sulit namun traksi skull
continudapat dipakai sementara.
6. Ekstensi sprain (kesleo) cervical (Whiplash injury)
Mekanisme cedera pada jaringan lunak yang terjadu bila leher tiba-tiba
tersentak ke dalam hiperekstensi. Biasanya cedera ini terjadi setelah tertabrak
dari belakang; badan terlempar ke depan dan kepala tersentak
ke belakang. Terdapat ketidaksesuaian mengenai patologi yang tepat tetapi
kemungkinan ligament longitudinal anterior meregang atau robek dan diskus
mungkin juga rusak. Pasien mengeluh nyeri dan kekakuan pada leher, yang
refrakter dan bertahan selama
setahun atau lebih lama. Keadaan ini sering disertai dengan gejala lain yang
lebih tidak jelas, misalnya nyeri kepala, pusing,depresi, penglihatan kabur dan
rasa baal atau parestesia pada lengan. Biasanya tidak terdapat tanda-tanda
fisik, dan pemeriksaan dengan sinar-X hanya memperlihatkan perubahan kecil
pada postur. Tidak ada bentuk terapi yang telah terbukti bermanfaat, pasien
diberikan analgetik dan fisioterapi.
7. Fraktur pada cervical ke-7 (Processus Spinosus)Prosesus spinosus C7 lebih
panjang dan prosesus ini melekat pada otot.Adanya kontraksi otot akibat
kekerasan yang sifatnya tiba-tiba akanmenyebabkan avulse prosesus spinosus
yang disebut “clay shoveler’s fracture”. Fraktur ini nyeri tapi tak berbahaya.

D. ETIOLOGI
Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas
(44%),kecelakaan olah raga (22%), terjatuh dari ketinggian (24%), dan
kecelakaankerja. Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relative rapuh
namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan.
Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu:
a. Fraktur akibat peristiwa trauma
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang
dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran
atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada
tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak.
Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak.
Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada
kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan
fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain
akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering
dikemukakan pada tibia, fibula atau metatarsal terutama pada atlet, penari atau
calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
c. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut
lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh

E. TANDA DAN GEJALA1.

1. Nyeri pada leher atau tulang belakang

2. Nyeri tekan ketika dilakukan palpasi disepanjang tulang belakang

3. Paralisis atau hasil pemeriksaan fungsi motorik abnormal.


4. Parestesia.

5. Priapisme.

6. Pernafasan diafragma.

7. Renjatan neurogenik.

Hal yang perlu di observasi adalah tekanan darah, status pernapasan, dancidera
sistemik.
1. Trauma kaudal servikalis dan torakalis tinggi, menyebabkan
hipotensiringan dan bradikardi (simpatektomi fungsional yang berespon
terhadapinfuse kritaloid atau koloid).
2. Pemeriksaan neurologik pada pasien sadar di pusatkan pada nyeri
leher atau punggung, hilangnya tenaga ekstermitas, tingkat sensoris dari
tubuh,reflek tendon dalam (biasanya tidak ada dibawah tingkat cedera
kodeakut).
3. Cedera di atas servikalis 5, menyebabkan quadriplegi dan
gagal pernapasan.
4. Pada C 5 dan C 6 bisep lemah, C4 dan C5 deltoideus dan supra
sertainfraspinatus lemah.
5. Cedera C 7, menyebabkan kelemahan trisep, ekstensor pergelangan
tangandan pronator lengan bawah.
6. Cedera T 1 dan dibawahnya menyebabkan paraplegi dan hilang sensoris.
7. Kompresi pada region torak bawah dan lumbalis menyebabkan
konusmedularis atau sindrom kauda equina.
8. Dislokasi hiperrefleksi dari vertebra servikalis menyebabkan kuadriplegia
traumatik.
9. Fraktur kompresi tunggal dari vertebra torakis biasanya stabil tapi
dapat berkaitan dengan kompresi kauda anterior dan membutuhkan dekro
mpesidan stabilisasi dengan pemasangan batang metal.
10. Kompresi singkat dari kauda servik asli dan rusaknya substansia grisea
sentralis terjadi kelemahan lengan, sering dengan hilangnya sensasi
tusukan tajam pada lengan dan bahu, tenaga dan sensasi pada tubuh dan
tungkai berkurang. Abnormalitas fungsi kandung kemih bervariasi.
Dan prognosis kesembuhannya baik.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar X spinalMenentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur, dislokasi),
untuk kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
2. CT SCANMenentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun structural.
3. MRIMengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi.
4. Mielografi.Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika
faktor putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang suban
akhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelahmengalami
luka penetrasi).
5. Foto rontgen torak, memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan
padadiafragma, atelektasis).
6. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur volume
inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikal
bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus
/ototinterkostal).
7. GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Marilyn E.
Doengoes, 2000)
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelemahan.

2. Nyeri berhubungan dengan agen cedera.

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan


sensorik.

4. Resiko kerusakana integritas kulit berhubungan dengan kerusakan


neuromuscular.

5. Konstipasi berhubungan dengan adanya kelemahan neuromuscular.

6. Ansietas berhubungan dengan proses penyakit.