Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Arus Listrik


Arus listrik telah dipilih sebagai besaran dasar atau besaran pokok karena
nilainya bersifat makroskopis sehingga mudah diukur. Arus listrik dibedakan
menjadi dua, yaitu arus listrik searah (direct current = DC), dan arus bolak-balik
(alternating current = AC). DC disebabkan oleh sumber arus berkutub tetap,
sedangkan AC oleh sumber DC mengenai kutub positif dan negatif, sedangkan
untuk AC tidak mengenai kedua kutub ini [2].
Arus searah dulu dianggap sebagai arus positif yang mengalir dari ujung
positif sumber arus listrik ke ujung negatifnya. Pengamatan-pengamatan yang
lebih baru menemukan bahwa sebenarnya arus searah merupakan arus negatif
(elektron) yang mengalir dari kutub negatif ke kutub positif. Aliran elektron ini
menyebabkan terjadinya lubang-lubang bermuatan positif, yang "tampak"
mengalir dari kutub positif ke kutub negatif [2].

Gambar II. 1 Rangkaian Alat Arus Searah [2].


II.2 Rangkaian Tahanan
Tahanan atau resistor merupakan komponen yang selalu dijumpai disetiap
rangkaian elektronika, baik terjadi oleh tahanan murni maupun komponen
rangkaian lainnya. Misalnya pada kapasitor, induktor, dioda, ataupun juga oleh
kawat atau konduktor. Tahanan itu (jika bersuhu tetap) nilainya tetap, sehingga
memenuhi hukum Ohm. Secara eksperimen untuk dapat memperoleh resistor
tetap, dapat dilakukan dengan mengalirkan arus listrik pada rangkaian pada selang
waktu singkat, sehingga kenaikan suhunya bisa diabaikan karena terlalu kecil [2].
II.3 Resistor Pada Rangkaian Seri dan Paralel
Untuk sebuah rangkaian seri yang terdiri atas dua resistor, arusnya sama
besar pada kedua resistor tersebut karena jumlah muatan yang melewati R1 pasti
juga melewati R2 dalam selang waktu yang sama. Namun jika resistor-resistor
dihubungkan secara paralel, beda potensial pada resistor adalah sama [3].

Gambar II.2 Rangkaian seri [3].

Gambar II.3 Rangkaian paralel [3].


II.4 Hukum Kirchoff
Hukum kirchoff 1 berbunyi “Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik
percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan”.
Yang kemudian di kenal sebagai hukum Kirchoff I. Secara matematis dinyatakan
[3]:
Imasuk = Ikeluar atau ∑I masuk = ∑I keluar

(2.1)
Hukum Kirchoff 2 berbunyi: "Dalam rangkaian tertutup, jumlah aljabar
GGL (E) dan jumlah penurunan potensial sama dengan nol". Maksud dari jumlah
penurunan potensial sama dengan nol adalah tidak ada energi listrik yang hilang
dalam rangkaian tersebut, atau dalam arti semua energi listrik bisa digunakan atau
diserap [3].
Aturan Kirchoff yang pertama adalah suatu pernyataan tentang kekekalan
muatan listrik. Semua muatan yang memasuki titik tertentu dalam sebuah
rangkaian harus keluar dari titik tersebut karena muatan tidak dapat bertambah
pada sebuah titik. Sedangkan aturan Kirchoff yang kedua diturunkan dari hukum
kekekalan energi. Jika kita menggerakkan sebuah muatan mengitari satu
rangkaian loop tertutup. Ketika muatannya kembali ketitik awal, sistem muatan
rangkaian pastilah memiliki energi total yang sama dengan sebelum muatannya
bergerak. Jumlah kenaikan energi jika muatannya melewati suatu elemen pastinya
sama dengan jumlah penurunan energi ketika muatan melewati elemen-elemen
yang lain. Energi potensial turun setiap kali muatan melewati suatu penurunan
tegangan disatu resistor atau potensial bertambah setiap kali muatan bergerak
melewati sebuah baterai dari kutub negatif kekutub positif [4].
II.5 Teori Thevenin
Teori Thevenin mengatakan bahwa sebuah rangkaian yang mengandung
beberapa sumber tegangan dan hambatan dapat diganti dengan sebuah sumber
tegangan yang dipasang seri dengan sebuah hambatan (resistor). Dengan kata lain
rangkaian elektronika yang rumit dapat disederhanakan menjadi sebuah rangkaian
hambatan linier yang terdiri dari 1 sumber arus dengan 1 resistor. Penyederhanaan
rangkaian komplek menjadi sederhana dengan mengikuti teori Thevenin dapat
dilihat seperti pada gambar berikut ini [4]:

(a) (b)
Gambar II.4 (a) Sebuah rangkaian kompleks dengan beban (RL), (b)
Disederhanakan menjadi rangkaian Thevenin [4].
II.6 Teori Norton
Arus Norton, IN, didefinisikan sebagai arus beban saat hambatan beban
dihubung singkat. Karena ini, arus Norton terkadang disebut juga dengan arus
hubung singkat (Short – Circuit Current, ISC). Sebagai definisi [5] :
Arus Norton : IN = ISC (2.2)
Hambatan Norton, RN, adalah hambatan yang diukur oleh ohmmeter pada
terminal beban saat seluruh sumber diturunkan menjadi nol dan hambatan beban
dibuka (dilepas). Sebagai definisi Hambatan Norton [5] :
RN = ROC (2.3)
Karena hambatan Thevenin dan hambatan Norton memiliki definisi yang
sama, maka dapat dituliskan [5]
RN = RTH (2.4)
Penurunan ini menunjukan bahwa hambatan Thevenin sama dengan
hambatan Norton [5].
Gambar di bawah ini memperlihatkan sebuah kotak hitam (Black Box) yang
mengandung rangkaian apa saja dengan sumber searah dan hambatan linier [5].

a a
Rangkaian dengan
sumber DC dan
Tahanan Linier RL RL
IN RN

b
b
(a) (b)
Gambar II.5 (a) kotak hitam yang mengandung rangkaian linier di dalamnya, (b)
rangkaian setara Norton [5].
Norton membuktikan bahwa rangkaian dalam kotak hitam seperti pada
Gambar II.5 (a) di atas akan menghasilkan tegangan beban yang sama dengan
rangkaian sederhana. Gambar II.5 (b) sebagai penurunan, theorema Norton
terlihat sebagai berikut [5].
VL = IN (RN // RL) (2.5)