Anda di halaman 1dari 43

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kanker Serviks

1. Pengertian Kanker Serviks

Kanker serviks adalah penyakit keganasan pada serviks yang dapat

disembuhkan dan dicegah ketika telah didiagnosis lebih awal (WHO,

2013). Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks,

serviks merupakan bagian bawah dari uterus, berbentuk silindris,

menonjol dan berhubungan dengan vagina melalui ostium uteri

eksternum (Kemenkes, 2015).Kanker serviks merupakan salah satu

jenis keganasan atau neoplasma yang terletak di daerah serviks, leher

rahim atau mulut rahim Rasjid (2010).

2. Penyebab Kanker Serviks

Penyebab yang paling utama pada kanker serviks adalah HPV

(Human Papillomavirus), HPV merupakan sekelompok virus yang

terdiri dari 150 jenis virus yang dapat menginfeksi pada sel-sel di

permukaan kulit (Nurwijaya, Andrijono, & Suhaeimi,2012). HPV

adalah virus berukuran kecil (kurang lebih 55 mm), virus yang

mengandung DNA yang menginfeksi kebanyakan mamalia dan banyak

binatang spesies non mamalia (Behrman, Kliegman, & Arvin, 2000).

Kebanyakan HPV tidak berbahaya dan tidak menunjukkan gejala yang

11
12

serius. Subagja (2014), menyebutkan sebanyak 40 tipe HPV dapat

ditularkan melalui hubungan seksual. Ada 13 tipe HPV yang dapat

menyebabkan kanker serviks, yaitu HPV tipe 16, 18, 31, 33, 39,

45,

51, 52, 56, 58, 59, dan 69yang berisiko tinggi untuk ditularkan melalui

hubungan seksual. Tipe yang paling berbahaya adalah tipe 16 dan 18

yang menyebabkan sekitar 80% terjadinya kanker serviks. HPV yang

cenderung berisiko rendah atau HPV yang tidak menyebabkan kanker

serviks dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak

kelamin, terutama oleh hubungan seks vaginal dan anal

Tabel 2. 1. Klasifikasi Tipe HPV (Human Papiloma Virus) dengan lesi dan

perjalanan penyakit (Norwitz& John Schorge, 2007).

Tipe HPV Lesi Perjalanan Penyakit

HPV-6 kondiloma akunminatum Jinak

kondiloma datar jinak

HPV-6, HPV-11 verrucous cancer destruksi local

kondiloma akuminatum

kondiloma datar

HPV-16, HPV-18 lesi putih, datar neoplastik

HPV-31, HPV-33 papulosis bowenoid prekanker → kanker

HPV-39, HPV-42
13

Pada umumnya kanker serviks paling banyak terjadi yang

disebabkan karena penularan melalui hubungan seksual sebesar 90%

dan sebanyak 10% terjadi karena nonseksual (Nurwijaya, Andrijono, &

Suhaeimi, 2012). Pada beberapa kasus kanker serviks banyak terjadi

karena pertama kali melakukan hubungan seksual, mempunyai

beberapa pasangan seksual, penyakit menular seksual, merokok,

imunosupresi, dan pemakaian obat kontrasepsi (American Cancer

Society (ACS), 2012).

3. Faktor Risiko Kanker Serviks

Faktor risiko adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan atau

meningkatkan kemungkinan seseorang untuk menderita penyakit

tertentu. Infeksi HPV tidak cukup untuk menimbulkan kanker serviks,

virus tersebut akan mudah berkembang jika didukung oleh faktor risiko

kanker serviks. Beberapa faktor risiko yang dapat menjadi penyebab

kanker serviks adalah sebagi berikut:

a. Faktor Presipitasi Kanker Serviks

a) Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)

HIV adalah virus penyebab AIDS (Aquired Immuno

Deficiency Syndrome). Setelah terkena HIV dan menderita

AIDS, membuat perempuan yangmenderita HIV AIDS akan

mengalami penurunan kekebalan tubuh sehingga kurang

mampu untuk melawan infeksi HPV dan kanker secara dini

(Nurwijaya, Andrijono, & Suhaeimi, 2012).


14

b) Infeksi Clamydia

Clamydia adalah organisme yang dapat menembus

membranmukosa tubuh dan dapat menyebabkan infeksi

saluran reproduksi. Penularannya melalui hubungan seksual

(Hegner, & Caldwell, 2003).

c) Infeksi Herpes Simplex Tipe 2

Virus ini ditularkan terutama melalui kontak seksual

langsung. Penderita virus herpes lebih berisiko mengalami

kanker serviks daripada yang tidak mengalaminya (Hegner,

& Caldwell, 2003).

b. Faktor Predisposisi Terjadinya Kanker Serviks

a) Umur

HPV ditransmisikan melalui hubungan seksual. Oleh karena

itu, umur yang rentan terkena HPV adalah umur pada saat

sistem reproduksi mulai berfungsi, yaitu umur kurang dari

50 tahun. Perempuan yang berusia < 50 tahun lebih berisiko

terinfeksi HPV 1,38 kali lebih tinggi dibandingkan dengan

perempuan ≥ 50 tahun (Li, Changdong, 2010). Risiko kanker

serviks meningkat antara umur 20 sampai 30 tahun dan

menurun pada umur >50 tahun. Hal tersebut mendorong

program deteksi dini untuk menganjurkan perempuan usia

20 sampai 50 tahun yang


15

telah berhubungan seks untuk melakukan pemeriksaan

deteksi dini kanker serviks.

b) Status Pernikahan

Status pernikahan terkait dengan hubungan seksual. Di

Indonesia, karena menanyakan jumlah pasangan seks atau

pernah berhubungan seks masih dianggap tabu dan tidak

etis, maka yang ditanyakan adalah status pernikahan, yaitu

menikah, tidak menikah (belum menikah\ pernah menikah).

Salah satu faktor protektif untuk terinfeksi HPV adalah tidak

melakukan hubungan seksual. Oleh karena itu, perempuan

yang telah melakukan hubungan seks memiliki risiko lebih

tinggi dibandingkan dengan yang tidak melakukan

hubungan seks, akan tetapi Li (2010) menemukan bahwa

perempuan yang tidak menikah (termasuk belum menikah,

bercerai, dan janda) lebih rentan terinfeksi HPV 1,7 kali

dibandingkan perempuan menikah.

c) Status Sosio-ekonomi (Tingkat Pendidikan)

Satatus sosio-ekonomi seseorang biasanya diukur

daritingkat pendapatan atau tingkat pendidikan. Asumsinya

adalah semakin tinggi tingkat pendapatan atau

pendidikan,maka semakin tinggi pula kemampuandan

kesadaran untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker

serviks. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang


16

dilakukan di Mozambik,yaitu perempuan yang

berpendidikan rendah memiliki risiko 18 kali lebih tinggi

terhadap kanker serviks dibandingkan dengan yang

berpendidikan tinggi (Rostad, Schei, & Costa, 2003).

d) Merokok

Perempuan yang merokok lebih mudah dua kali

kemungkinan terkena kanker serviks dibandingkan dengan

perempuan yang tidak merokok (Nurwijaya, Andrijono, &

Suhaeimi, 2012). Kandungan rokok yang berasal dari

tembakau mengandung nitrosamine dan derivat nikotin

bersifat karsiogenik karena mudah diabsorbsi kedalam darah

sehingga bisa merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi

kemampuan tubuh utuk melawaninfeksi HPV pada serviks

(Subja, 2014).

e) Jumlah Pasangan Seks

Infeksi HPV berkaitan erat dengan perilaku seksual.

Penelitian di Kosta Rika menemukan peningkatan risiko

terhadap infeksi HPV risiko tinggi berbanding lurus dengan

peningkatan jumlah partner seks. Perempuan yang memiliki

pasangan seks ≥ 4 berisiko 2 hingga 3,5 kali lebih tinggi

untuk terinfeksi HPV dibandingkan dengan yang hanya

memiliki satu pasangan seks. Di Mozambik, perempuan

yang memiliki pasangan seks > 6 berisiko 6 kali lebih


17

tinggi untuk kanker leher rahim dibandingkan dengan yang

memiliki pasangan seks hanya 1 sampai 5 orang (Almonte,

et al, 2008).

f) Kontrasepsi Hormonal

Kontrasepsi oral atau lebih dikenal dengan pil KB

merupakan salah satu faktor yang masih diduga berkaitan

dengan terjadinya kanker leher rahim. Perempuan yang

didiagnosa positif HPV dan pernah menggunakan

kontrasepsi oral kurag dari 5 tahun memiliki risiko 3 kali

lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak pernah

menggunakan kontrasepsi oral. Selain itu, perempuan yang

menggunakan kontrasepsi hormonal lebih mudah untuk

terpajan HPV dibandingkan dengan yang menggunakan

kontrasepsi barrier (penghalang) atau yang tidak pernah

berhubungan seks. Hal tersebut dimungkinkan karena

penggunaan kontrasepsi hormonal dapat mempengaruhi

perubahan lendir serviks dan perubahan respon imun

sehingga meningkatkan kerentanan serviks terhadap infeksi

HPV (Zeliha, 2015).

g) Umur Pertama Menikah dengan Kejadian Lesi Prakanker

Umur pertama kali melakukan hubugan seks terkait erat

dengan infeksi HPV yang menjadi penyebab utama lesi

prakanker leher rahim karena epitel serviks yang belum


18

matang sehingga meningkatkan kerentanan terhadap agen

kanker dan penyakit menular seksual lainnya. Hasil

penelitian Sinaga (2009) yaitu umur pertama menikah

memiliki hubungan kuat dengan kejadian lesi prakanker,

dimana perempuan yang menikah pada usia kurang dari 20

tahun memiliki risiko 2,6 kali lebih tinggi dibandingkan

yang menikah pada usia 20 tahun atau lebih untuk

mengalami kanker serviks.

h) Jumlah Pasangan Seks Dengan Kejadian Lesi Prakanker

Virus HPV merupakan virus yang ditransmisikan melalui

hubungan seksual. Jumlah pasangan seks berkaitan erat

dengan usia pertama kali melakukan hubungan seks pada

penelitian. Semakin muda seorang

perempuan mulai berhubungan seks, semakin

banyak pula pasangan seks yang pernah ia miliki, maka

semakin tinggi pula risiko untuk terinfeksi HPV dan terkena

kanker serviks. Hasil penelitian ini menemukan bahwa

perempuan yang memiliki pasangan seks lebih dari 1 orang

tidak berbeda risikonya untuk mengalami

kejadian lesi prakanker dengan

perempuan yang hanya memiliki 1 pasangan seks. Hasil

tersebut berbeda dengan penelitian Susanti (2010) yang

menemukan bahwa jumlah pasangan seks berhubungan erat

dengan kejadian lesi prakanker serviks, dimana perempuan


19

yang memiliki pasangan seks lebih dari 1 orang berisiko 3,8

kali lebih tinggi untuk mengalami lesi prakanker

dibandingkan dengan perempuan yang memiliki hanya 1

pasangan seks.

i) Paritas dengan Kejadian Lesi Prakanker

Kaitan tingginya paritas dengan kejadian kanker leher rahim

adalah semakin banyak anak yang dilahirkan oleh seorang

perempuan, maka semakin sering pula serviksnya

mengalami infeksi, infeksi pada serviks tersebut mungkin

dapat meningkatkan kerentanan terhadap virus

(Wiknjosastro,1999 dalamHertina dan Suhartini, 2010).Hal

tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Sinaga (2009) yang

menemukan bahwa jumlah anak yang dilahirkan

berhubungan kuat dengan lesi lebih tinggi untuk mengalami

kejadian lesi prakanker dibandingkan dengan yang memiliki

≤ 2 anak.

j) Defisiensi Zat Gizi

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa defisiensi asam

folat dan pada perempuan yang rendah mengonsumsi beta

karoten dan vitamin (A,C, dan E) dapat meningkatkan risiko

terkena kanker serviks (Novak, et al, 2012).

k) Hygiene dan Sirkumsisi


20

Diduga adanya pengaruh mudah terjadi kanker serviks pada

perempuan yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini

dikarenakan pada pria nonsirkumsisi, hygiene penis tidak

terawat sehingga banyak terdapat kumpulan smegma

(Barrbara, et al. 2008).

4. Tanda dan Gejala Kanker Serviks

Kanker serviks stadium dini menurut Subagja (2014), memiliki

gejala kanker tidak tampak sehingga sering disebut dengan silent

killer. Pada tahap pra kanker (displasia) sampai stadium I tidak ada

keluhan sama sekali sehingga banyak perempuan yang tidak merasakan

sama sekali. Biasanya, gejala baru muncul ketika sel serviks yang

abnormal telah berubah menjadi ganas dan menyusup ke jaringan di

sekitarnya. Pada saat itu akan timbul gejala-gejala berikut:

a. Nyeri pada perut bagian bawah

b. Menstruasi yang tidak normal, waktunya memanjang dan jumlahnya

lebih banyak.

c. Keputihan yang menetap dengan cairan yang encer, berwarna pink,

cokelat, mengandung darah atau berwarna hitam serta berbau busuk.

d. Perdarahan vagina yang tidak normal, yaitu di luar masa menstruasi,

setelah melakukan hubungan seksual atau dispareunia, dan setelah

menopause(Nurwijaya, Andrijono, & Suhaeimi, 2012).

Pada stadium lanjut, biasanya akan timbul gejala-gejala berikut:


21

a. Perdarahan post coitus (setelah berhubungan seksual)

b. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun secara drastis, dan

cepat merasa lelah

c. Nyeri pangul dan tungkai

d. Vagina mengeluarkan urin atau feses bahkan terjadi patah tulang

panggul.

e. Tidak dapat buang air kecil (karena saluran kemih tersumbat)

f. Nyeri punggung

g. Salah satu kaki bengkak dikarenakan kanker yang menyumbat

pembuluh limfe

h. Batuk-batuk dikarenakan kanker telah menyebar hingga ke paru-

paru.

5. Patofisiologi Kanker Serviks

Tahapan progresi infeksi HPV pada risiko tinggi kanker serviks

untuk lesi prakanker dan invasif, lesi prakanker disebut juga sebagai lesi

intraepitel serviks (Cervical Intraepithelial Neoplasma) merupakan

awal dari perubahan menuju karsinoma serviks uteri. Diawali dengan

NIS I (CIN I) yang secara klasik dinyatakan dapat berkembang menjadi

NIS II dan menjadi NIS III, setelah itu berkembang menjadi karsinoma

serviks. Konsep regresi spontan serta lesi yang persisten menyatakan

bahwa tidak semua lesi prakanker akan berkembang menjadi lesi invasif

sehingga diakui masih cukup banyak faktor yang mempengaruhi.


22

Gambar 2. 1. Perjalanan Penyakit Kanker Serviks.

Sumber : Williams, 2008.

6. Patogenesis Kanker Serviks

Gomez dan Santos (2007) menyebutkan bahwa penularan HPV

terutama melalui kulit ke kulit. Sel basal epitel skuamosa berlapis yang

terinfeksi oleh HPV. Jenis sel lain relatif resisten terhadap HPV.

Diasumsikan bahwa siklus replikasi HPV dimulai dengan masuknya

virus ke dalam sel-sel dari lapisan basal dari epitel. Infeksi HPV pada

lapisan basal menyebabkan abrasi ringan atau mikrotrauma pada

epitel. Setalah masuk ke dalam sel inang, proses replikasi HPV terjadi

di permukaan epitel. Pada lapisan basal, replikasi virus dianggap tidak

produktif, dan virus melakukan replikasi episom secara perlahan dengan

menggunakan mesin replikasi DNA inang untuk mensintesis DNA-nya

rata-rata satu kali per siklus sel. Didalam keratinosit yang berbeda dari

lapisan suprabasal epitel, virus beralih ke mode lingkaran-


23

berputar dari replikasi DNA, membuat DNA bereplikasi dengan cepat,

mensintesis protein kapsid, dan menyebabkan perakitan virus.

a. Biomolekuler

Kanker serviks merupakan salah satu contoh terbaik untuk

memahami bagaimana infeksi virus dapat menyebabkan keganasan.

Tipe HPV risiko tinggi dapat dibedakan dari tipe HPV risiko rendah

dengan struktur dan fungsi produk E6 dan E7. Dalam lesi jinak yang

disebabkan oleh HPV, DNA virus terletak di ekstrakromosomal

dalam nukleus. Pada highgrade neoplasia intraepitel dan kanker

invasif, DNA HPV umumnya terintegrasi dalam genom inang.

Integrasi dari DNA HPV mengganggu dan menghapus daerah E2,

yang menyebabkan hilangnya ekspresi. Hal ini mengganggu fungsi

E2, yang biasanya mengatur transkripsi dari gen E6 dan E7, dan

mengarah kepada peningkatan ekspresi gen E6 dan E7. Fungsi dari

E6 dan produk E7 selama infeksi HPV produktif adalah untuk

menumbangkan jalur pertumbuhan sel reguler dan memodifikasi

lingkungan seluler untuk memfasilitasi replikasi virus.

Produk gen E6 dan E7 melakukan regulasi kembali siklus

pertumbuhan sel inang dengan mengikat dan menonaktifkan dua

protein penekan tumor, yaitu protein penekan tumor (p53) dan

produk gen retinoblastoma (PRB). Produk gen HPV E6 mengikat

p53 dan menargetkan untuk degradasi cepat. Akibatnya, kegiatan


24

normal p53 yang mengatur penangkapan G1, apoptosis, dan

perbaikan DNA menjadi tidak berfungsi. Protein HPV E6 risiko

rendah tidak mengikat p53 pada tingkat tidak terdeteksi dan tidak

berpengaruh pada stabilitas p53 in vitro. Produk gen HPV E7

mengikat PRB dan pengikatan ini mengganggu hubungan anatara

PRB Dan faktor transkripsi seluler E2F-1 yang mana akan

mengakibatkan pembebasan E2F-1, yang memungkinkan

transkripsi gen yang produknya dibutuhkan agar sel dapat memasuki

fase S dari siklus sel. Produk gen E7 dapat berikatan dengan protein

seluler mitotik interaktif lainnya seperti cyclin E. Hasilnya adalah

stimulasi seluler sintesis DNA dan proliferasi sel. Protein E7 dari

tipe HPV risiko rendah mengikat PRB dengan penurunan afinitas.

Selanjutnya, produk gen E5 menginduksi peningkatan aktifitas

protein kinase mitogen yang telah teraktivasi, sehingga

meningkatkan respon seluler terhadap faktor pertumbuhan dan

diferensiasi. Hal ini menyebabkan proliferasi terus menerus dan

menunda diferensiasi pada sel inang.

Inaktifasi protein p53 dan PRB dapat menimbulkan tingkat

proliferasi meningkat dan ketidakstabilan genomik. Akibatnya,

didalam sel inang semakin banyak terakumulasi kerusakan DNA

yang tidak bisa diperbaiki, menyebabkan sel-sel kanker berubah.

Selain efek onkogen diaktifkan dan ketidakstabilan kromosom,

mekanisme potensial berkontribusi terhadap transformasi termasuk


25

metilasi dari virus dan DNA seluler, aktivasi telomerase, dan faktor

hormonal dan imunogenetik.

b. Riwayat Alami Kanker Serviks

Patogenesis kanker serviks dimulai dengan infeksi HPV dari

epitel serviks selama hubungan seksual. Riwayat alami kanker

serviks adalah proses penyakit yang berkesinambungan berkembang

secara bertahap dari neoplasia intraepitel serviks (CIN) ringan ke

derajat yang lebih parah dari neoplasia (CIN 2 dan CIN 3) dan

akhirnya menjadi kanker invasif. Perkembangan lesi tingkat tinggi

(CIN 2 atau 3) dan kanker invasif biasanya berhubungan dengan

konversi genom virus dari bentuk episom menjadi bentuk yang

terintegrasi, berasam dengan inaktivasi atau penghapusan daerah E2

dan ekspresi produk gen E6 atau E7. Beberapa peneliti telah

membandingkan tipe HPV dengan derajat berbeda dari CIN dan

telah mengambil kesimpulan bahwa CIN I dan CIN 2 atau CIN 3

adalah proses yang berbeda, dengan mengindikasikan CIN I adalah

terbatas pada infeksi HPV yang ditularkan melalui seksual dan CIN

2 atau CIN 3 menjadi satu- satunya prekursor kanker serviks.

Perkembangan kanker umumnya terjadi selama periode 10 sampai

20 tahun. Beberapa lesi menjadi kanker lebih cepat, kadang- kadang

dalam waktu dua tahun.


26

7. Stadium Kanker Serviks

Stadium adalah derajat keparahan penyakit yang ada didalam tubuh.

Stadium digunakan untuk menilai risiko dan prognosis dengan sejauh

mana karakteristik yang spesifik dari kanker pasien dan untuk

menentukan cara pengobatan yang tepat. Penilaian dilakukan dua kali,

pertama sebelum pengobatan, menggunakan pemeriksaan pencitraan

medis dan klinis sehingga dapat menentukan pengobatan yang tepat dan

benar, yang kedua, jika pengobatan dengan cara pembedahan

pengangkatan jaringan, maka diperlukan penilaian untuk memverifikasi

keberhasilan tindakan pembedahan (Gomez, & Santos, 2007).

Pembagian stadium kanker serviks yang sering digunakan adalah

sistem pembagian stadium yang diperkenalkan oleh International

Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). Pada sistem tersebut,

angka romawi O samapai IV menggambarkan stadium kanker (Subagja,

2014). Penyakit pra kanker, setiap tahap kanker utama dari I sampai IV,

dan subdivisi dari setiap stadium dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 2. 2 Klasifikasi Stadium Kanker Serviks (FIGO) dan TNM (UICC)

Stadium TNM Gambaran Terapi


Stadium 0 Tis Karsinoma Insitu/Intraepitelial
Stadium 1 T1 Tumor terbatas pada serviks
(perluasan pada korpus uteri Cone biopsy
tidak dinilai)
1A T1a Karsinoma Invasif preklinik, Atau
27

diagnostik hanya mikroskopik,


luas lesi kurang dari 3 cm, invasi Histerektomi
astromal minimal, kedalaman transvaginal
lesi kurang dari 5 mm dari
lapisan basal, menyebar
horizontal tidak lebih dari 7 mm
1B T1b Ukuran tumor lebih besar dari
T1a
Stadium 2 T2 Karsinoma menginvasi dapat
sampai sebagian uterus dan 2/3
atas vagina, namun tidak sampai
dinding pangul atau 1/3 bawah
vagina Histeroktomi
2A T2a Tanpa invasi parametrium radikal dengan
2B T2b Dengan invasi parametrium limfadenektomi
panggul dan
Stadium 3 T3 Karsinoma meluas sampai evakuasi
dinding panggul dan / atau kelenjar limf
mengenai 1/3 bawah vagina dan paraaorta (bila
/ atau ada hidronefrosis atau ada metastasis
gangguan fungsi ginjal disertai dengan
3A T3a Tumor mengenai 1/3 bawah radioterapi
vagina, tak ada perluasan ke pascabedah)
dinding panggul
3B T3b Tumor meluas ke dinding
panggul dan / atau menyebabkan
hidronefrosis atau gangguan
fungsi ginjal
Stadium 4A T4 Tumor menginvasi mukosa Radioterapi /
kandung kemih atau rectum dan radiasi paliatif
/ atau meluas keluar dari pelvis dan kemoterapi
minor
Stadium 4B M1 Metastis jauh ke organ lain

Sumber: European Society for Medical oncology (ESMO), 2012.


28

Gambar 2. 2. Stadium Kanker Serviks Berdasarkan Klasifikasi FIGO.

Sumber: (Clamisao, et al. 2007).

8. Penatalaksanaan Kanker Serviks

1. Stadium 0 dan IA 1

a. Konisasi

Konisasi adalah pengobatan dengan operasi standar. Konisisasi

dilakukan dengan cara membuat insisi atau potongan berbentuk

kerucut pada jaringan serviks disekitar orifisium uteri yang


29

menghubungkan vagina dengan bagian dalam serviks, lalu

kemudian dibuang. Jika pada pemeriksaan histopatologi, pada

bagian yang kerucut yang telah dipotong tidak terdapat sel-sel

tumor lagi, maka berarti pengobatan tersebut kuratif dan tidak

perlu dilakukan perawatan lebih lanjut (European Society for

Medical Oncology (ESMO), 2012).

b. Pengobatan Adjuvan Ketika Ada Risiko Kekambuhan

Pengobatan ini adalah untuk mengurangi risiko kekambuhan.

Jika setelah konisasi dilakukan pemeriksaan histopatologi dan

dinyatakan bahwa tumor sembuh, maka tidak diperlukan

pengobatan adjuvant. Namun bila ditemukan bahwa tumor telah

menyebar lebih luas melebihi stadium IA1, pengobatan adjuvant

sangat diperlukan. Pengobatan adjuvant akan

dilakukan bersamaan dengan radioterapi dan kemoterapi

(ESMO, 2012).

2. Stadium IA 2

a. Operasi (Trachelectomy dan Histerectomy)

Pengobatan standar adalah dengan melakukan bedah atau

operasi. Operasi dapat dilakukan dengan trachelectomy maupun

hysterectomy (European Society for Medical Oncology, 2012).

Trachelectomy merupakan teknik operasi yang terdiri dari atas

limfadenektomi kelenjar getah bening pelvis dengan laparaskopi

dan diikuti dengan reseksi sebagian


30

dari serviks, parametrium, dan sepertiga vagina proksimal.

Bagian dari serviks yang dipotong pada segmen bawah uterus

meninggalkan bagian ismus dan korpus uteri yang bertujuan

untuk mempertahankan fungsi reproduksi (Rasjidi & Nurseta,

2008). Histerectomy merupakan suatu prosedur pengangkatan

sebagian atau seluruh rahim (Rasjidi, 2008).

b. Pengobatan Adjuvan

Seperti yang telah disebutkan diatas, pengobatan adjuvant

adalah pengobatan yang diberikan selain operasi jika diduga

masih ada sel kanker setelah dilakukannya operasi, atau jika

kanker meluas ke jaringan sekitarnya, seperti parametria atau

kelenjar getah bening (ESMO, 2012).

3. Stadium IB 1

Ada beberapa pilihan pengobatan untuk kanker serviks stadium IB 1

ini, yaitu:

a. Hysterectomy

b. Radioterapi digabungkan dengan iradiasi eksternal ditambah

dengan bracytherapy, yang merupakan iradiasi topikal dari jarak

pendek yang dilakukan tepat pada tumor (ESMO, 2012).

Bracytherapy adalah pengobatan keganasan dengan cara

menanamkan sumber radioaktif dekat dengan tumor yang dituju.

Sumber ini akan mengeluarkan sinar radioaktif dengan


31

dosis tinggi, namun demikian jaringan disekitar tumor harus

dilindungi dari penyinaran (Djojodibroto, 2009).

c. Gabungan radioterapi dan pembedahan.

4. Stadium IB 2 sampai IV A

Pengobatan standar dengan melakukan radioterapi bersamaan

dengan kemoterapi. Radiasi bertujuan membunuh tumor primer dan

kelenjar getah bening yang berpotensi. Obat yang paling umum

digunakan untuk kemoterapi adalah cisplastin (Subagja, 2014).

5. Stadium IV B

Pasien dengan stadium IVB yang memiliki prognosis yang buruk

akan diberi pengobatan paliatif. Radiasi pelvis dilakukan untuk

mengontrol perdarahan vagina serta nyeri. Kemoterapi sistemik

disarankan untuk meringankan gejala dan memperpanjang

kelangsungan hidup secara keseluruhan. Regimen kemoterapi

digunakan untuk kelompok perempuan yang mengalami

kekambuhan (Hoffman, et al, 2012).

Hysterectomy, seperti yang telah dijelaskan di atas, merupakan

salah satu cara untuk pengobatan kanker serviks. Hoffman et al

(2012) menyatakan bahwa terdapat tiga jenis operasi hysterectomy

yang dibagi berdasarkan derajat reseksinya, yaitu:

a. Simple Hysterectomy (Type I)


32

Hysterectomy tipe 1 disebut juga extrafascial hysterectomy atau

simple hysterectomy,membuang uterus dan serviks tetapi tidak

mengharuskan pemotongan pada parametrium. Pilihan tipe ini

biasanya adalah benigna ginekologi patologi, penyakit kanker

serviks invasif, dan kanker serviks stadium IA1.

b. Modified Radical Hysterectomy (Type II)

Tipe ini membuang serviks, vagina bagian proksimal, dan

jaringan parametrial dan paraserviks. Tipe ini digunakan untuk

pasien kanker serviks dengan stadium IA1 setelah melakukan

konisasi yang tidak memungkinkan lagi bila harus dilakukan

konisasi ulang.

c. Radical Hysterectomy (Type III)

Tipe hysterectomy ini mengharuskan reseksi besar pada

parametria. Ruang kosong pada bagian paravesikal dan

pararektal dibuka. Arteri uterus diligasi di tempatnya semula

dari arteri iliaka internal, dan semua jaringan sebelah medial

direseksi. Eksisi parametrium diperpanjang ke dinding pelvis.

Ureter sepenuhnya dibedah dari tempatnya, dan kandung kemih

dan rektum dimobilisasi untuk memperluas pembuangan

jaringan. Septum rektovaginal dibuka untuk meletakkan rektum

jauh dari vagina, dan ligamen uterosakral diletakkan dekat

dengan rektum.
33

9. Pencegahan Kanker Serviks

National Health Service (NHS) Inggris Raya (2013) menyebutkan

tidak ada cara tunggal yang benar-benar dapat mencegah kanker

serviks, tetapi ada beberapa hal yang dapat membantu mengurangi

risiko, yaitu:

1) Seks yang aman

Sebagian besar kasus terjadinya kanker serviks berkaitan dengan

infeksi HPV. HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual tanpa

pengaman, sehingga pengaman atau kondom dapat digunakan saat

berhubungan seksual agar mencegah penularan HPV dan

mengurangi risiko kanker serviks. Risiko terkena infeksi HPV

meningkat bila melakukan hubungan seksual di usia muda dan

memiliki banyak pasangan seksual, meskipun perempuan yang yang

hanya memiliki satu pasangan juga akan berisiko terkena kanker

serviks.

2) Melakukan Deteksi Kanker Serviks

Deteksi dini kanker serviks adalah pengujian pra-kanker dan kanker

pada perempuan yang tidak memiliki gejala dan mungkin merasa

sangat sehat. Ketika skrining mendeteksi lesi pra-kanker, kanker

dapat dengan mudah diobati bila diketahui sedini mungkin. Skrining

juga dapat mendeteksi kanker pada tahap awal dan memiliki potensi

lebih tinggi untuk disembuhkan. Dikarenakan lesi pra-kanker

memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang,


34

skrining dianjurkan bagi setiap perempuan mulai dari usia 30

sampai 49 tahun setidaknya sekali dalam seumur hidup dan idealnya

lebih sering (WHO, 2014).

3) Hindari merokok

Seseorang yang tidak merokok dapatmengurangi kemungkinan

terkena kanker serviks. Sebaliknya, orang yang merokok mudah

terkena kanker karena kandungan zat yang ada didalam rokok yang

bersifat karsinogenik, dan kemungkinan orang yang merokok tidak

dapat melawan HPV di tubuh yang dapat menyebabkan kanker

serviks.

4) Melakukan Vaksin Kanker Serviks

Vaksin HPV terdiri dari dua macam yang dapat melindungi dari dua

jenis virus yang menyebabkan kanker serviks, yaitu tipe 16 dan 18.

Kedua vaksin bekerja dengan baik jika diberikan sebelum paparan

HPV. Oleh karena itu, adalah lebih baik untuk melakukannya

sebelum aktivitas seksual pertama. Program imunisasi ini diberikan

kepada anak-anak ketika berusia 9 sampai 13 tahun karena pada usia

inilah yang paling memungkinkan untuk mencegah kanker.

Walaupun vaksin HPV secara signifikan dapat mengurangi risiko

terkena kanker serviks, hal ini tidak menjamin bahwa tidak akan

terkena kanker serviks. Orang yang telah diberi vaksin tetap harus

melakukan skrining kanker serviks secara berkala (WHO, 2014).


35

B. Deteksi Dini Kanker Serviks

1. Pengertian Deteksi Dini Kanker Serviks

Deteksi dini kanker serviks adalah usaha upaya pemeriksaan untuk

mengidentifikasi kemungkinan suatu kelainan pada orang yang tidak

mempunyai keluhan atau gejala dari kelianan tersebut (Mandel,

2008).Deteksi dini kanker serviks adalah pengujian pra-kanker dan

kanker pada perempuan yang tidak memiliki gejala dan mungkin

merasa sangat sehat (WHO,2014). Deteksi dini kanker merupakan

usaha untuk mengidentifikasi atau mengenali penyakit atau kelainan

yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes (uji),

pemeriksaan, atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara tepat

untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat, benar-benar

sehat, dan yang tampak sehat tapi sesungguhnya menderita kelainan

(Rasjidi, 2010).

2. Tujuan Deteksi Dini Kanker Serviks

Deteksi dini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit pada

stadium yang lebih awal atau dengan kata lain menemukan adanya

kelainan sejak dini, yaitu kanker yangmasih dapat disembuhkan.Tujuan

terpenting dari deteksi dini kanker serviks adalah membantu agar

kualitas hidup perempuan yang terdiagnosis kanker serviks lebih lama

dan lebih baik (Mandel, 2008).


36

3. Manfaat Deteksi Dini Kanker Serviks

Manfaat Deteksi dini kanker serviks menurut Rasjidi, (2010), yaitu:

a. Dapat menemukan kondisi medis atau stadium kanker serviks pada

tahap awal dan mengobati prakanker serviks sebelum menjadi

kanker serviks

b. Mengurangi jumlah kesakitan dan kematian akibat kanker serviks.

c. Biaya deteksi kanker serviks jauh lebih murah dibandingkan dengan

biaya pengobatan kanker serviks.

4. Cara Melakukan Deteksi Kanker Serviks

Deteksi dini kanker serviks pada perempuan minimal satu kali

pada usia 35-40 tahun. Jika fasilitas tersedia lakukan tiap10 tahun pada

perempuan usia 35-55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih, lakukan tiap

5 tahun pada perempuan usia 35-55 tahun. Ideal atau optimal

perempuan melakukan deteksi tiap 3 tahun pada perempuan usia 25-60

tahun (Rasjidi, 2009).

a. Prosedur Deteksi Dini Kanker Serviks

Prosedur untuk melakukan deteksi dini kanker serviksmenurut

Soebachman (2011) yaitu sebagai berikut :

1) Para perempuan harus mulai melakukan deteksi sekitar 3 tahun

setelah mereka melakukan hubungan seks, tetapi tidak lebih tua

dari usia 21 tahun.


37

2) Pengujian harus dilakukan setiap tahun jika tes Pap Smear biasa

digunakan, atau setiap 2 tahun jika tes berbasis cairan

digunakan.

3) Dimulai pada usia 30 tahun, para perempuan yang mempunyai

hasil test normal sebanyak 3x berturut-turut mungkin dapat

menjalani tes Pap Smear setiap 2 sampai 3 tahun sekali.

4) Pilihan lain untuk perempuan di atas 30 tahun adalah menjalani

tes Pap Smear setiap 3 tahun sekali ditambah tes HPV DNA.

5) Perempuan yang memiliki faktor resiko tertentu (seperti infeksi

HIV atau punya imunitas lemah) harus mendapatkan tes pap

smear setiap tahun.

b. Hal Yang Dihindari Sebelum Melakukan Deteksi

Beberapa hal yang harus dihindari sebelum melakukan deteksi

menurut Soebachman (2011). Hal ini bertujuan untuk keakuratan

hasil dari pemeriksaan deteksi, dimanahal-hal yang harus dihindari

adalah sebagai berikut:

1) Jangan menjadwalkan tes diwaktu haid (terutama pada

pemiriksaan Pap Smear)

2) Jangan berhubungan seksual selama 48 jam sebelum

melakukan tes

3) Jangan melakukan douche (menyemprotkan air kedalam

vagina untuk keperluan pembersihan) 48 jam sebelum tes.


38

4) Jangan menggunakan pembalut, busa pengendalian kelahiran,

jeli, obat-obatan atau krim vagina lainnya selama 48 jam

sebelum tes.

c. Metode Deteksi Dini Kanker Serviks

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan

screening atau deteksi kanker serviks adalah sebagai berikut:

1) Pap Smear Test

Pap smear test atau papanicolaou smear test merupakan

pemeriksaan leher rahim (serviks) menggunakan alat yang

dinamakan speculum dan dilakukan oleh bidan ataupun ahli

kandungan. Pemeriksaan ini bermanfaat mengetahui adanya

HPV ataupun sel karsinoma penyebab kanker serviks (Tilong,

2012).

Metode deteksi dini kanker serviks yang umum dilakukan

adalah pap smear atau papanicolau test (Alliance Cervical

Cancer Prevention (ACCP), 2009).Pap smear test cenderung

murah, cepat dan bisa dilakukan di unit pelayanan kesehatan

terdekat, seperti puskesmas, rumah bersalin, rumah sakit, klinik,

praktik dokter, dan lain sebagainya. Pap smear test bisa

dilakukan kapan saja, kecuali sedang haid, atau sesuai petunjuk

dokter. Pap smear test, sebaiknya dilakukan 1 x setahun oleh

setiap perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual

(Tilong, 2012).
39

Namun, disamping kelebihan, pemeriksaan pap smear juga

ada kekurangannya, yakni sampel yang diambil tidak dari

seluruh bagian serviks sehingga ada bagian yang bisa saja tidak

terdeteksi.Selain itu, pada pemeriksaan pap smear kemungkinan

tidak memperlihatkan kondisi sel yang sebenarnya dan

mempunyai akuransi antara 80-90 % (Soebachman,

2011).Beberapa perempuan yakin bahwa mereka boleh berhenti

melakukan tes pap Smear dan pemeriksaan panggul setelah

berhenti mempunyai anak. Keyakinan ini sungguh

keliru,bagaimanapun mereka harus terus megikuti pedoman

deteksi dini tersebut (Soebachman, 2011).

2) IVA (Inspeksi Visual Asam-Asetat)

IVA singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat,

yaitu suatu metode pemeriksaan dengan mengoles serviksa atau

leher rahim menggunakan lidi wotten yang telah dicelupkan ke

dalam asam asetat atau asam cuka 3-5 % dengan mata telanjang

(Kumalasari & Andhyantoro, 2012).Jika terjadi lesi kanker,

maka akan terjadi perubahan warna agak keputihan pada leher

rahim yang diperiksa. Daerah yang tidak normal akan berubah

warna menjadi putih (acetowhite) dengan batas yang tegas, dan

mengindikasikan bahwa serviks mungkin memiliki lesi

prakanker. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat


40

dianggap tidak ada infeksi pada serviks (Kumalasari &

Andhyantoro, 2012).

IVA dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda

yang mencurigakan, maka metode deteksi lainnya yang lebih

lanjut harus dilakukan. Metode tersebut memiliki sejumlah

keunggulan dibandingkan dengan pap smear test yang selama

ini lebih popular (Tilong, 2012). Adapun beberapa efektivitas

metode IVA dibandingkan pap smear adalah sebagai berikut :

1) Tidak memerlukan alat tes laboratorium yang canggih (alat

pengambil sampel jaringan, preparat, regen, mikroskop,

dan lain sebagainya).

2) Tidak memerlukan teknisi lab khusus untuk pembaca hasil

tes.

3) Hasilnya langsung diketahui, tidak memakai waktu

berminggu-minggu.

4) Sensitivitas IVA dalam mendeteksi kelainan leher rahim

lebih tinggi daripada pap smear test (sekitar 75%).

Meskipun dari segi kepastian lebih rendah (sekitar 85%).

5) Biayanya sangat murah (bahkan gratis bila dipuskesmas).

Pemeriksaan IVA dianjurkan untuk fasilitas dengan sumber

yang daya rendah bila dibandingkan dengan jenis skrining yang

lain dikarenakan, Pertama, mudah dilakukan, aman, dan tidak

mahal. Kedua, akuransinya sama dengan tes-


41

tes yang lain. Ketiga, dapat dipelajari dan dilakukan oleh

hampir semua tenaga kesehatan yang sudah terlatih.Keempat,

dapat dilakukan di semua jenjang pelayanan kesehatan (rumah

sakit, puskesmas, pustu, polindes, dan klinik dokter spesialis,

dokter umum, dan bidan). Kelima, langsung ada hasilnya

sehingga dapat segera dilakukan pengobatan dengan krioterapi,

yaitu pembekuan serviks berupa penerapan pendinginan secara

terus-menerus selama 3 menit untuk membekukan dan diikuti

pencairan selama 5 menit, kemudian diikuti dengan pembekuan

lagi selama 3 menit dengan menggunakan CO2 atau NO2

sebagai pendingin. Keenam, sebagian besar peralatan dan

bahan untuk pelayanan mudah didapat.Ketujuh, tidak bersifat

invasif dan dapat mengidentifikasi lesi prakanker secara efektif

(Kumalasari dan Andhyantoro, 2012).

Bagi negara-negara berkembang dan miskin, dianjurkan

untuk melakukan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam

Asetat) yang lebih murah dan mudah sehingga diharapkan

terjadi peningkatan cakupan deteksi dini lesi prakanker

sebelum terjadinya kanker serviks stadium lanjut.Semakin

dini lesi prakanker ditemukan, maka semakin mudah pula

untuk disembuhkan dan dicegah menjadi kanker serviks

(ACCP, 2009). Dalam hal ini beberapa kategori yang dapat


42

dipergunakan dalam pemeriksaan metode IVA menurut Tilong

(2012). Berikut adalah beberapa kategori yang dapat

dipergunakan pada pemeriksaan dengan metode IVA yakni :

a) IVA negatif yang merupakan serviks normal.

b) IVA radang , yakni serviks dengan radang (senvisitis) atau

kelainan jinak lainnya (polip serviks).

c) IVA positif, yakni apabila ditemukan bercak putih (aceto

white epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran

temuan screening kanker serviks dengan metode IVA

karena temuan ini mengarah pada diagnosis serviks

prakanker.

d) IVA kanker serviks. Tahap ini berupaya untuk penurunan

temuan stadium kanker serviks sehingga masih akan

bermanfaat bagi penurunan kematianakibat kanker serviks,

yakni ditemukan pada stadium invasif dini (IB- IIA).

Program deteksi dini kanker serviks di Puskesmas Pisangan

Ciputat Tangerang Selatan menggunakan metode IVA

(Inspeksi Visual Asam-asetat) yang dilakukan setiap hari

Jum’at, dan promosi kesehatan terkait kanker serviks dan

deteksi kanker serviks namun pelaksanaan promosi kesehatan

ini dilakukan oleh pertugas kesehatan pada awal terbentuknya

program tersebut. Pemeriksaan IVA di Puskesmas Pisangan


43

dilakakan oleh Bidan, dan tidak membutuhkan biaya atau gratis

jika di Puskesmas.

3) Thin Prep (Liquid Base Cytology)

Metode thin prep lebih akurat dibandingkan dengan pap

smear test. Jika pap smear test hanya mengambil sebagian dari

sel-sel di serviks atau leher rahim, maka thin prep akan

memeriksa seluruh bagian serviks atau leher rahim yang tentu

hasilnya pun akan jauh lebih akurat dan tepat (Tilong, 2012).

Thin prep adalah screening sel-sel abnormal dengan cara

visualisasi sama halnya seperti pap smear. Thin prep juga

berfungsi mendekteksi kelainan pada mulut rahim dengan

berbasis cairan. Cairan seperti getah pada leher rahim, lalu

dijadikan sampel, dan dimasukkan ke dalam suatu cairan,

kemudian dibawa ke laboratorium (Tilong, 2012).

Waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan thin prep,

yaitu dalam waktu 3 tahun pertama setelah melakukan

hubungan seksual atau telah mencapai umur 21 tahun.

Kemudian, setiap tahun pemeriksaan ini sebaiknya juga

dilakukan secara rutin. Apabila ada gejala infeksi HPV, maka

pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan lebih sering. Namun,

metode thin prep tergolong baru sehingga belum tersedia secara

luas (Tilong, 2012).


44

Metode Thin Prep memiliki beberapa kelebihan. Adapun

beberapa kelebihan metode thin prep adalah Pertama,

pengambilan sampel serviks yang lebih baik. Kedua, lebih

akurat mendeteksi kelainan dengan keakuratan mencapai 100%.

Ketiga, lebih akurat mendeteksi sel yang abnormal. Keempat,

diagnosis dari hasil pemeriksaan akan lebih tepat dan pasti

(Tilong, 2012).

4) Tes Schiller

Serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat

warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang

abnormal warnanya menjadi putih atau kuning (Indrawati,

2009). Untuk membantu menentukan stadium kanker,

dilakukan beberapa pemeriksaan; sistoskopi, rontgen dada,

urografi intravena, sigmoidoskopi, scanning tulang dan hati,

barium enema (Indrawati, 2009).

5) Koloskopi

Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan

adanya infeksi atau kejanggalan, maka selanjutnya prosedur

kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang

dilengkapi lensa pembesar untuk mengamati bagian yang

terinfeksi. Hal ini bertujuan untuk menentunkan keberadaan lesi

atau jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim

(Tilong, 2012).
45

Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan alat kolposkop

yaitu alat mikroskop binokuler dengan sumber cahaya yang

terang untuk memperbesar gambaran visual serviks (Rasjidi,

2008). Kolposkopi bisa digunakan untuk screening primer

secara rutin. Setelah melakukan pemeriksaan cara pap smear,

selanjutnya dinyatakan abnormal pada leher rahim sehingga

sebaiknya dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan kolposkopi

(Tilong, 2012).

Koloskopi bisa dimanfaatkan untuk melakukan

pemantauan terhadap kelainan prakanker dan melihat

perkembangan terapi. Koloskopi dapat melihat pola abnormal

pembuluh darah, bercak-bercak putih pada serviks, peradangan,

dan erosi atau pengerutan jaringan serviks yang semuanya

menunjukkan adanya perubahan sel kanker. Apabila

pemeriksaan kolposkopi atau biopsi tidak menunjukkan

penyebab abnormalitas dari pap smear test, maka pasien

dianjurkan untuk melakukan pengambilan jaringan yang lebih

luas (Tilong, 2012).

5. Peran Puskesmas Terhadap Pencegahan Kanker serviks

Ada tiga tahap pencegahan kanker serviks, yaitu pencegahan primer

dengan vaksin HPV (Human Papiloma Virus) pada anak SD kelas lima

dan kelas enam, pencegahan sekunder melalui deteksi dini kanker serviks

dengan pemeriksaan IVA (Visual Asam Asetat), pencegahan tersier pada


46

pasien yang terdiagnosis positif kanker serviks. Peran Puskesmas dalam

mendeteksi kanker serviks menjadi salah satu program yang terpenting

dalam pendeteksian dini. Tes IVA kini menjadi promosi yang digalakkan

di puskesmas-puskesmas di Indonesia karena tingginya angka kasus

kanker serviks (Kemenkes, 2016).

C. Perempuan Usia Reproduktif

Perempuan Usia Reproduktif adalah perempuan yang berusia 15

tahun sampai 49 tahun(WHO, 2013). Usia tersebut merupakan usia yang

sistem reproduksinya mulai berkembang dan berfungsi secara maksimal,

sehinga kemungkinan akan mudah untuk terserang berbagai

penyakit.Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

(BKKBN) tahun 2014, menyebutkan bahwa perempuan usia reproduktif

yaitu perempuan yang telah berusia 15 tahun samapi 49 tahun baik yang

sudah menikah ataupun belum penah menikah, dikatakan perempuan usia

reproduktif dimana keadaan sistem reproduksinya berfungsi baik yang bisa

kemungkinan terjadi kehamilan jika dibuahi.

Pada masa reproduktif ini terjadi perubahan fisik, seperti perubahan

warna kulit, perubahan payudara, pembesaranperut, pembesaran rahim, dan

mulut rahim. Masa ini merupkan masa terpenting bagi wanita dan

berlangsung kira-kira 33 tahun. Menstruasi pada masa ini paling teratur dan

siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan kehamilan.

Kemungkinan ini dibagi berdasarkan usiadimana usia 20-29 tahun

kemungkinan hamil sebesar 95%, usia 30-an tahun mengalami


47

penurunan presentasi, dimana kemungkinan hamil 90%, sedangkan di usia

40-an tahun hanya 40% kemungkinan terjadinya kehamian (Depkes, 2003).

Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali. Kondisi yang perlu

dipantau pada masa sreproduktif adalah perawatan antenatal, jarak

kehamilan, deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks, serta infeksi

menular seksual (Kumalasari, & Andhyantoro, 2012).

D. Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah sebuah hasil dari tahu yang terjadi melalui

proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu

(Notoatmodjo,2011).Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil

pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar,

insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi

pikiran-pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses

dari usaha manusia untuk tahu (Bakhtiar, 2012). Pengetahuan deteksi

dini adalah kepandaian mengenai deteksi dini yang merupakan hasil

tahu dari segala sesuatu tentang deteksi dini yang telah didapatkan

melalui proses belajar atau pengalaman dengan menggunakan

pancaindera (Rasjidi, 2010).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang. Karena dari pengalaman dan

penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan


48

lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan(Bakhtiar, 2012).

2. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan menurut

Notoatmodjo (2011) dan Mubarak (2007), yaitu:

a. Pendidikan

Pendidikan adalah meningkatkan dan memberikan pengetahuan

melalui bimbingan dari seseorang kepada orang lain. Hasil akhir

dari bimbingan yang diharapkan adalah menimbulkan sikap positif

serta meningkatkan pemahaman masyarakat atau individu tentang

aspek-aspek yang dipelajari.

b. Usia

Usia individu berkaitan dengan pengetahuan individu. Semakin

bertambah usia seseorang baik secara fisik dimana akan hilang

ciri-ciri lama dan muncul ciri-ciri baru, maka perkembangan

psikologis semakin matang dalam taraf berpikir dan memperoleh

informasi.Pada dewasa muda, individu memiliki peningkatan

kebiasaan dalam berpikir rasional, memiliki pengalaman hidup dan

pendidikan yang memadai serta secara psikososial dianggap lebih

mampu untuk memecahkan tugas pribadi dan sosial.

c. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang dialami seseorang dalam

berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungnan


49

pengalaman yang kurang baik seseorang akan berusaha melupakan,

namun jika pengalaman terhadap objek tersebut menyenangkan

maka secara psikologis akan timbul kesan yang mendalam. Kesan

yang mendalam dan membekas akhirnya dapat pula membentuk

sikap dalam hidupnya.

Lama bekerja dan status perkawinan juga masuk ke dalam bagian

pengalaman yang mempengaruhi pengetahuan. Lama kerja

merupakan salah satu alat yang dapat mempengaruhi kemampuan

seseorang dengan melihat lama kerja dan dapat menilai sejauh

mana pengalamannya (Bachori, 2006).

d. Kebudayaan dan Lingkungan Sekitar

Lingkungan social budaya yang mempengaruhi pengetahuan

seseorang dapat bersumber dari pandangan agama, kelompok

etnis yang mempengaruhi proses memperoleh informasi atau

pengetahuan khususnya dalam penerapan nilai-nilai keagamaan.

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai

pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.

e. Informasi

Informasi yang didapatkan dapat mempengaruhi fungsi kognitif

dan afektif.Fungsi kognitif diantaranya berfungsi untuk

menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap,

perluasan sistem, keyakinan masyarakat, dan penjelasan nilai-nilai

tertentu.Kemudahan memperoleh suatu informasi dapat


50

membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh

pengetahuan yang baru.

3. Kategori Pengetahuan

Arikunto (2010), menjelaskan untuk mengetahui kategoritingkat

pengetahuan yang dimiliki seseorang dibagi menjadi 3 tingkatan,

yaitu: pengetahuan baik lebih dari 75% sampai 100% bila subyek

mampu menjawab dari seluruh pertanyaan yang diajukan, pengetahuan

cukup berkisar antara 56 sampai 75% bila subyek mampu menjawab

dengan benar dari seluruh pertanyaan, dan pengetahuan kurang baik

apabila subyek menjawab pertanyaan dibawah 55% dari seluruh

pertanyaan.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari

subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin

kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-

tingkatan diatas (Notoatmodjo, 2011).

4. Pengetahuan Deteksi Dini Kanker Serviks

Pengetahuan deteksi dini adalah kemampuan menangkap suatu

obyek atau informasi tentang deteksi dini kanker serviks yang telah

didapatkan melalui proses belajar atau pengalaman dengan

menggunakan pancaindera (Rasjidi, 2010). Sumber pengetahuan

deteksi dini kanker serviks yang didapat bisa meningkatkan sikap

perempuan untuk melakukan deteksi dini kanker serviks.Semakin


51

tinggi pengetahuan seseorang, semakin tinggi pula minat seseorang

untuk melakukan sikap terhadap stimulus (Pradana & Rusda, 2011).

Perempuan yang kurang akan pengetahuan tentang kanker

serviks akan mempengaruhi sikap perempuan untuk melakukan deteksi

dini kanker serviks, hal itu dapat dibuktikan dari penelitian yang

dilakukan oleh Dimyati, (2012) di Jakarta tentang pengetahuan deteksi

dini kanker serviks, dimana pengetahuan responden tentang deteksidini

kanker serviks kurang (46,7%), sedangkan responden yang memiliki

tingkat pengetahuan cukup (31,3%), dan yang memiliki tingkat

pengetahuan baik sebesar (22%).Hasil penelitian yang dilakukan oleh

Syahputra, 2016 di Pekanbaru dapat diketahui jika mayoritas

pengetahuan perempuan pekerja seks tentang pap smear dan IVA masih

sangat kurang yaitu 78,1%. Penelitian tersebut serupa dengan penelitian

di RSUD Sukoharjo yang dilakukan oleh Kusumawati pada tahun 2013

dimana tingkat pengetahuan perempuan tentang deteksi dini kanker

serviks masih tergolong kurang sekitar 56% dan yang berpengetahuan

baik sebesar 43,8%.

Hal ini justru bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan

oleh Zuliyanti & Wiatuti, (2016) di Kebumen, menunjukkan bahwa 40

responden (53,3%) memiliki tingkat pengetahuan baik, 22 responden

(29,3%) memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 13 responden

(17,3%) memiliki tingkat pengetahuan kurang tentang deteksi dini

kanker serviks, hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan tidak

pernah melakukan deteksi dini kanker serviks sebelumnya berisiko 1,38

kali lebih tinggi untuk mengalami lesi prakanker dibandingkan dengan

perempuan yang pernah melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker


52
serviks sebelumnya. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian

Susanti (2010) yang menyatakan perempuan yang tidak pernah

melakukan pemeriksaan deteksi dini berpeluang 1,26 kali lebih tinggi

untuk mengalami kejadian lesi prakanker.


53