Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

HADITS

Disusun oleh:
1. SITI AISYAH
2. ARIA
RAMADANI
3. MUHAMMAD
YOGI
4. LAILINA

SMA PGRI TALANGPADANG


KEC. TALANGPADANG KAB.TANGGAMUS
TAHUN 2019
1
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia yang berstatuskan seorang hamba yag
diciptakan hanya untuk menyembah-Nya, ditutut untuk selalu berbuat baik kepada sesama
manusia dan sesama mahluk Allah SWT. Dalam segala hal baik yang berupa ibadah,
muamalah dan semua aspek kehdupan. semua hal yang harus senantiasa bersandarkan
kepada aturan-aturan yang telah dibuat oleh-Nya Yang diwahyukan kepada nabi kemdian
tertulis di dalam kitab alqur’an.
Pada kenyataannya aturan-aturan tesebut masih perlu untuk diperjelas (Bayan at-
Tafsir), dipertegas/ menetapkan hukum (Bayan Tasyri) dan diperinci lebih spesifik lagi
karena masih banyak ayat-ayat yang bersifa global dan umum (mujmal). Oleh karena hal
tersebut, sangat diperlukan untuk mempelajari Ilmu hadits yang fungsinya sebagai dapat
mencakup kedudukan hadits dalam islam, dalil-dalil yag mennjukkan bahw hadts sebagai
sumber ajaran islam, fungsi hadits terhadap al-qur’an dan juga mencakup perbedaan antara
al-qur’an, hadis nabawi dn hadits kudsi yang sering menuimbulkan peredaan pendapat dan
perbedan pmaknan dikalangan masyrakat dngan tujuan agar dapat bertindak sesuai dengan
apa yang telah ditulis dalam Al-qur’an atau sesuai dengan apa yang disyariatkan agama
dengan tidak menyalahi arti dan maksud serta kandungan dalam Al-qur’an itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Kedudukan Hadits dalam Islam
2. Dalil Hadits sebagai sumber ajaran Islam
3. Fungsi hadits terhadap Al- Qur’an
4. Pembagian Hadits

BAB II PEMBAHASAN

I. Kedudukan Hadits dalam Islam dan Pengertian Hadits

Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi
Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits
2
dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana
dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.
Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya
ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi,
Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.

Terlepas dari kedudukan hadits dalam Islam, para ulama sepakat bahwa Hadits Nabi adalah
sumber hukum yang kedua setelah Al-Qur’an, dan umat Islam wajib untuk melaksanakan
isinya. Hal tersebut dilandaskan kepada ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa
hadits/sunnah Nabi merupakan salah satu sumber hukum Islam. Sebagaimana dijelaskan
dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr : 7 yang artinya :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tiggalkanlah”1
Adapun mengenai bukti-bukti dari hadits tentang kedudukan hadits dalam islam sebagai
berikut :
1. Hadits Shahih
‫ ومن يأبى‬: ‫ قالوا‬,‫عن ابى هريرة رضي ا عنه أن رسول ا صلى ا عليه وسلم قال كل امتي يدخلون الجنة إل من أبى‬
‫؟ قال من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد ابى‬
“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Setiap ummatku akan masuk syurga, kecuali yang enggan’.
Mereka (para sahabat) bertanya : ‘Siapa yang enggan itu ?. Jawab Beliau : ‘Barangsiapa
yang mentaatiku pasti masuk syurga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh
ia telah enggan”.

‫اه بعلبميإه بوبسلنبم بوههبو بنائإمم فببقابل ببمع ه‬


‫ضههمم إإننهه بنائإمم بوبقابل ببمع ه‬
‫ضههمم إإنن‬ ‫صنلى ن‬
‫ت بمبلئإبكةم إإبلى الننبإيي ب‬ ‫اإ يبهقوهل بجابء م‬ ‫عن بجابإبر مببن بعمبإد ن‬
‫ضههمم إإنن املبعميبن بنائإبمةم‬ ‫ضإرهبوا لبهه بمثبلل فببقابل ببمع ه‬
‫ضههمم إإننهه بنائإمم بوبقابل ببمع ه‬ ‫ظاهن فببقاهلوا إإنن لإ ب‬
‫صاإحبإهكمم هببذا بمثبلل بفا م‬ ‫املبعميبن بنائإبمةم بواملقبمل ب‬
‫ب يبمق ب‬
‫ب النداإعبي بدبخبل الندابر بوأببكبل إممن املبمأمهدببإة‬ ‫ث بداإعليا فببممن أببجا ب‬ ‫ظاهن فببقاهلوا بمثبلههه بكبمثبإل برهجلل بببنى بدالرا بوبجبعبل إفيبها بمأمهدببةل بوبببع ب‬ ‫ب يبمق ب‬‫بواملقبمل ب‬
‫ضههمم إإنن املبعميبن‬ ‫ب النداإعبي لبمم يبمدهخمل الندابر بولبمم يبأمهكمل إممن املبمأمهدببإة فببقاهلوا أبيوهلوبها لبهه يبمفقبمهبها فببقابل ببمع ه‬
‫ضههمم إإننهه بنائإمم بوبقابل ببمع ه‬ ‫بوبممن لبمم يهإج م‬
‫ع‬ ‫اه بعلبميإه بوبسلنبم فبقبمد أب ب‬
‫طا ب‬ ‫صنلى ن‬ ‫اه بعلبميإه بوبسلنبم فببممن أب ب‬
‫طابع همبحنملدا ب‬ ‫صنلى ن‬ ‫ظاهن فببقاهلوا بفالنداهر املبجننةه بوالنداإعي همبحنممد ب‬ ‫بنائإبمةم بواملقبمل ب‬
‫ب يبمق ب‬

‫ق ببميبن الننا إ‬
‫س‬ ‫اه بعلبميإه بوبسلنبم فبمر م‬‫صنلى ن‬‫اب بوهمبحنممد ب‬‫صى ن‬ ‫اه بعلبميإه بوبسلنبم فبقبمد بع ب‬
‫صنلى ن‬
‫صى همبحنملدا ب‬ ‫اب بوبممن بع ب‬ ‫ن‬
“Artinya : Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : ‘Telah datang beberapa
malaikat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau sedang tidur. Sebagian
dari mereka berkata : Dia sedang tidur, dan yang lainnya berkata : Sesungguhnya matanya
tidur tetapi hatinya sadar. Para malaikat berkata : Sesungghnya bagi orang ini ada
perumpamaan, maka adakanlah perumpamaan baginya. Sebagian lagi berkata :
1
Moh. Matsna, Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Kelas X, (Semarang:PT Kaya Toha Saputra, 2008)
3
Sesungguhnya dia sedang tidur. Yang lain berkata : Matanya tidur tetapi hatinya sadar.
Para malaikat berkata : Perumpamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti
seorang yang membangun rumah, lalu ia menyediakan hidangan dalam rumahnya itu,
kemudian ia mengutus seorang pengundang, maka ada orang yang memenuhi
undangannya, tidak masuk ke rumah dan tidak makan hidangannya. Mereka berkata :
Terangkan tafsir dari perumpamaan itu agar orang dapat faham. Sebagian mereka berkata
lagi : Ia sedang tidur. Yang lainnya berkata : Matanya tidur, tetapi hatinya sadar. Para
malaikat berkata : Rumah yang dimaksud adalah syurga, sedang pengundang adalah
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa mentaati Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam berarti di taat kepada Allah, dan barangsiapa mendurhakai Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah mendurhakai Allah ; dan Muhammad itu
adalah pemisah diantara manusia.”(HR Bukhori)2
II. Dalil Hadits sebagai sumber ajaran Islam
Jumhur Ulama sepakat bahwa Hadits adalah sumber ajaran Islam yang kedua.
Penguatan bahwa hadits sebagai sumber ajaran islam yang kedua setelah Al-Qur’an
dijelaskan dari berbagai landasan diantaranya dari Al-Qur’an, kemudian dari hadits-hadits
Rasul dan juga pendapat para sahabat. Diantaranya ialah dalam surah ali imron berikut :
“Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (Q.S. Ali Imron : 32)
Dalam surah An-Nisaa’ juga disebutkan:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu”. (Q.S. al Nisaa {4} : 59)3
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerangkan :
“Telah aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya,
kalian tidak akan tersesat, yakni kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah Nabi-Nya.” (HR. Al-
Hakim).
III. Fungsi hadits terhadap Al- Qur’an
Untuk memahami arti dari fungsi al-Hadits dalam memahami Al-Qur'an, maka kita perlu
merujuk kepada ayat-ayat al-Qur'an yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam memang menerima wewenang khusus dari Allah Swt. untuk menjelaskan al-
Qur'an, baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun ketetapan.
Allah berfirman;

2
Shahih Riwayat Bukhari (No. 7281). Fathul Baari (XIII/249-250)
3
Departemen agama RI, Al-qur’an dan terjemahnya (media insani, Surakarta) hal.
4
“... dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Q.S. al Nahl
{16} : 44)
Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman;
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu
dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk
dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S. Al Nahl {16} : 64)
Secara rinci fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1) Al-Hadits berfungsi sebagai Penguat Hukum yang sudah ada di dalam Al-Qur’an.
Fungsi ini sering disebut dengan bayan at-taqrir atau disebut juga dengan bayan at-
ta'kid dan bayan al-itsbat. Yang dimaksud ini ialah menetapkan dan memperkuat apa yang
telah diterangkan di dalam al-Qur'an. Sehingga fungsi al-Hadits dalam hal ini hanya
memperkokoh isi kandungan al-Qur'an, seperti ayat al-Qur'an surah al-Maidah ayat 6
tentang wudlu atau surah al-Baqoroh ayat 185 tentang melihat bulan di-taqrir dengan
Hadits-hadits diantaranya yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Untuk jelasknya
dapat dilihat berikut ini.
Contoh dari bayan taqriri ialah Allah berfirman dalam al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 6
tentang keharusan berwudlu sebelum melakukan shalat, yang berbunyi:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki....”
Ayat di atas di-taqrir oleh Hadits riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah, yang berbunyi;
(‫ضأ ب )رواه البخاري‬
‫ى يبتببو ن‬ ‫صلبةه بممن أبمحبد ب‬
‫ث بحت ن‬ ‫ لب تهمقببهل ب‬: ‫ى اه بعلبميإه بوبسلنبم‬ ‫بقابل برهسموهل اإ ب‬
‫صل ن‬
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak diterima shalat seorang hamba
yang berhadats sebelum ia berwudlu”.(HR. Bukhori).
Contoh lain, ayat al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 185 tentang melihat bulan, yang berbunyi
"… Karena itu, barangsiapa yang pada saat itu melihat bulan, hendaklah ia berpuasa…"
Ayat di atas di-taqrir oleh al-Hadits riwayat Muslim dari Ibnu Umar yang berbunyi sebagai
berikut;
‫صموهمموا لرؤ يته وأفتروا لرؤيته‬
‫ه‬
" berpuasalah karena terlihatnya hilal dan berbukalah karena terlihatnya hilal (juga)”4
Dan masih terdapat banyak lagi contoh-contoh yang lainnya, yang menjelaskan fungsi al-
Hadits dalam memperkuat apa yang terdapat dalam al-Qur'an. Dengan demikian hukum

4
Muhammad nashiruddin al-albani, (Terjemah tamamul minnah. 2006: Pekalongan) hal. 439
5
tersebut mempunyai dua sumber dan terdapat pula dua dalil. Yaitu dalil-dalil yang tersebut
di dalam Al-Qur’an dan dalil penguat yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.

2) Al-Hadits berfungsi sebagai penafsir atau pemerinci apa-apa yang terdapat dalam al-
Qur'an.
Fungsi ini sering juga disebut dengan Bayan at-Tafsir, ialah penjelasan al-Hadits terhadap
ayat-ayat yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut, seperti pada ayat-ayat
yang mujmal, muthlaq, dan Am. Maka fungsi al-Hadits dalam hal ini, memberikan perincian
(tafshil) dan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang masih mujmal (global),
memberikan taqyid (batasan) terhadap ayat-ayat yang masihmuthlaq, dan
memberikan takhshish (pengkhususan) terhadap ayat-ayat yang masih umum.
Contoh al-Hadits yang merinci ayat-ayat al-Qur'an
Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat al-Qur'an yang bersifat mujmal, sedangkan ayat
mujmal artinya ayat yang ringkas dan mengandung banyak makna yang perlu dijelaskan.
yang memerlukan perincian. Sebagai contoh adalah ayat-ayat tentang perintah shalat, puasa,
zakat, dan lain sebagainya. Ayat-ayat itu masih bersifat global, atau meskipun diantaranya
sudah ada perincian, akan tetapi masih memerlukan uraian lebih lanjut secara pasti. Hal ini
karena, dalam ayat-ayat tersebut tidak dijelaskan misalnya, bagaimana cara
mengerjakannya, apa sebabnya, apa syarat-syaratnya dan lain sebagainya. Maka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjelaskannya secara terperinci. Diantara contoh
perincian itu adalah al-Hadits yang berbunyi;
‫صللموا بكبما برأبميتههممونإى أه ب‬
‫صيلى‬ ‫ب‬
"Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat."
Al-Hadits tersebut menjelaskan firman Allah dalam al-Qur'an yang memerintahkan shalat,
sebagaimana ayat 43 dari surah al-Baqarah, yang berbunyi;
“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.”
Dengan demikian, maka al-Hadits di atas menjelaskan bagaimana seharusnya shalat
dilakukan, sebagai perincian dari perintah shalat dalam ayat tersebut5.
Contoh al-Hadits yang men-taqyid ayat-ayat yang muthlaq
Kata Muthlaq artinya Kata yang menunjuk pada hakikat kata itu sendiri apa adanya, dengan
tanpa memandang kepada jumlah maupun sifatnya. Maka fungsi al-Hadits yang men-
taqyid ayat-ayat yang muthlaq ini berarti membatasi ayat-ayat yang muthlaq dengan sifat,

5
Zainuddin, MZ. Dkk, studi hadits, (Surabaya: IAIN sunan ampel press,2011) hal 58-66
6
keadaan, atau syarat-syarat tertentu. Contoh dari bagian ini adalah firman Allah dalam al-
Qur'an surah al-Maa'idah ayat 38 yang berbunyi:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya...” (Al-
Maa’idah {5} : 38)

Ayat ini tidak menjelaskan sampai di manakah batas pencurian yang dipotong tangannya
ataupun batas tangan yang akan dipotong. Maka, dari al-Haditslah didapat penjelasannya,
bahwa batas pencurian yang dipotong tangannya adalah pencurian yang senilai seperempat
dinar atau lebih sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi
‫ق إإلن فإي هرمبإع إدميبنالر فب ب‬
(‫صاإعلدا )رواه مسلم‬ ‫لب تهمق ب‬
‫طهع يبهد النساإر ه‬
"Tangan pencuri tidak dipotong, melainkan pada (pencurian senilai) seperempat atau
lebih." (H.R. Muttafaq 'alaih, Hadits ini menurut lafadz Muslim)

Ataupun Hadits lain yang menjelaskan tentang batasan potong tangan yaitu sampai
pergelangan tangan. Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur'an yang bersifat muthlaq yang perlu
di-taqyid oleh al-Hadits.
Contoh al-Hadits yang men-takakhshis ayat-ayat yang am.
Kata am ialah kata yang menunjuk atau memiliki makna dalam jumlah yang banyak. Sedang
kata takhshish atau khash ialah kata yang menunjuk arti khusus, tertentu atau tunggal. Maka
yang dimaksud dengan men-takhshish ayat yang am adalah membatasi keumuman ayat al-
Qur'an, sehingga tidak berlaku pada bagian-bagian tertentu. Contoh pada bagian ini adalah
firmah Allah dalam al-Qur'an surah al-Nisaa ayat 11 yang berbunyi;
“ Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu :
bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan …”(An-Nisaa
{4} : 11)
Ayat tersebut masih bersifat umum, mencakup seluruh anak laki-laki maupun anak
perempuan tanpa melihat perbedaan agama orang tua dan anak ataupun hal-hal yang
lainnya. Keumuman ayat ini kemudian di-takhshish oleh Hadits Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
(‫ث املبقاتإهل إمبن املبممقتهموإل بشميلئا )رواه أحمد‬
‫لب يبإر ه‬
"Pembunuh tidak berhak menerima hari warisan (dari orang yang dibunuh). (H.R. Ahmad)
3) Terkadang al-Hadits menetapkan dan membentuk hukum yang tidak terdapat di
dalam Al-Qur’an.

7
Fungsi ini sering juga disebut dengan Bayan Tasyri. Kata tasyri artinya pembuatan,
mewujudkan atau menetapkan aturan atau hukum, atau disebut juga dengan bayan za'id
'ala al-Kitab al-Karim (tambahan terhadap nash al-Qur'an). Disebut tambahan di sini,
karena sebenarnya di dalam al-Qur'an sendiri ketentuan-ketentuan pokoknya sudah ada,
sehingga datangnya Hadits tersebut merupakan tambahan terhadap ketentuan pokok itu.
Maka yang dimaksud dengan bayan tasyridi sini adalah penjelasan al-Hadits yang berupa
penetapan suatu hukum atau aturan-aturan syara' yang tidak didapati nashnya dalam al-
Qur'an. RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini berupaya menunjukkan suatu
kepastian hukum terhadap beberapa persoalan yang muncul pada saat itu, dengan sabdanya
sendiri.
Contoh dari penetapan hukum yang baru ialah sebuah hadits yang melarang seseorang
memadu istrinya dengan bibinya, baik dari pihak ibu maupun dari pihak bapak. Rasul
bersabda yang artinya:
“seorang wanita tidak boleh dikawini bersamaan (dimadu) dengan bibinya atau bersamaan
(dimadu) dengan putri saudara istrinya (keponakan istri).6
Contoh lainnya yaitu hukum merajam wanita yang masih perawan, hukum membasuh
bagian atas sepatu dalam berwudlu, hukum tentang ukuran zakat fitrah, dan hukum tentang
hak waris bagi seorang anak. Suatu contoh, dapat dikemukakan di sini Hadits tentang zakat
fitrah, yang berbunyi sebagai berikut;
‫صالعا إممن تببملر أبمو ب‬
‫صالعا إممن بشإعميلر بعلبى هكيل هحححرر‬ ‫ضابن بعلبى الننا إ‬
‫س ب‬ ‫ض بزبكاةب املفإ م‬
‫طإر إممن بربم ب‬ ‫ى اه بعلبميإه بوبسلنبم فببر ب‬ ‫إإنن برهسموبل اإ ب‬
‫صل ن‬
(‫أبمو بعمبلد بذبكلر أبمو أهمنبثى إمبن مالهممسلإإمميبن )رواه مسلم‬
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah
kepada umat Islam pada bulan Ramadlan satu sukat (sha') kurma atau gandum untuk setiap
orang, baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan”.

Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang termasuk bayan tasyri ini wajib
diamalkan, sebagaimana kewajiban mengamalkan Hadits-hadits lainnya. Ibnu Qoyyim
berkata, bahwa Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berupa
tambahan terhadap al-Qur'an merupakan kewajiban atau aturan yang harus ditaati, tidak
boleh menolak apalagi mengingkarinya, dan bukanlah sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam tersebut mendahului al-Qur'an melainkan semata-mata melaksanakan perintah-
Nya.
IV. Pembagian Hadits

6
Moh. Matsna,l-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Kelas X, (Semarang:PT. Karya Toha Saputra, 2008) hal 129
8
Hadits Mutawatir
a. Pengertian Hadits Mutawatir
Secara etimologi, kata mutawatir berarti : Mutatabi’ (beriringan tanpa jarak). Dalam terminologi
ilmu hadits, ia merupakan haidts yang diriwayatkan oleh orang banyak, dan berdasarkan logika atau
kebiasaan, mustahil mereka akan sepakat untuk berdusta. Periwayatan seperti itu terus menerus
berlangsung, semenjak thabaqat yang pertama sampai thabaqat yang terakhir.
Dari redaksi lain pengertian mutawatir adalah :
‫س أبمخبببر بإإه بجمحبحابعةل ببلح بهغَموا إفى مالكح بمثبرإة بممببلغَلحا تهإحميهل مالبعابدةب تببواطههؤههمم بعلبحى مالكبححإذ إ‬
‫ب‬ ‫مبحا بكابن بعمن بممحهسمو ل‬
Hadits yang berdasarkan pada panca indra (dilihar atau didengar) yang diberitakan oleh segolongan
orang yang mencapai jumlah banyak yang mustahil menurut tradisi mereka sepakat berbohong.

Ulama mutaqaddimin berbeda pendapat dengan ulama muta’akhirin tentang syarat-syarat hadits
mutawatir. Ulama mutaqaddimin berpendapat bahwa hadits mutawatir tidak termasuk dalam
pembahasan ilmu isnad al-hadits, karena ilmu ini membicarakan tentang shahih tidaknya suatu
khabar, diamalkan atau tidak, adil atau tidak perawinya. Sementara dalam hadits mutawatir masalah
tersebut tidak dibicarakan. Jika sudah jelas statusnya sebagai hadits mutawatir, maka wajib diyakini
dan diamalkan.

Hadits Masyhur
Menurut bahasa, masyhur berarti “sesuatu yang sudah tersebar dan popular”. Sedangkan menurut
istilah ada beberapa definisi, antara lain :
‫صبحاببإه بعبدمد ل يبمبلههغ بحند بتحبواإتر ببمعبد ال ن‬
‫صبحاببإه بوإممن ببمعإدإهمم‬ ‫مبحابربواهه إمبن ال ن‬
“Hadits yang diriwayatkan dari sahabat tetapi bilangannya tidak sampai pada tingkatan mutawatir,
kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan orang yang setelah mereka.”

Hadits masyhur ada yang berstatus shahih, hasan dan dhaif. Hadits masyhur yang berstatus shahih
adalah yang memenuhi syarat-syarat hadits shahih baik sanad maupun matannya. Seperti hadits
ibnu Umar.
‫اإبذا بجابءهكهم مالهجممبعهه فبمليبمغَإسمل‬
“Barang siapa yang hendak pergi melaksanakan shalat jumat hendaklah ia mandi.”

Pembagian hadits dari segi Kualitas


1. Hadits shahih Menurut bahasa berarti “sah, benar, sempurna, tiada celanya”.
2. Hadits Hasan dari segi bahasa hasan dari kata al-husnu (‫ ) الحسن‬bermakna al-jamal (‫)الجمال‬
yang berarti “keindahan”.

9
3. Hadits Dhaif Hadits Dhaif bagian dari hadits mardud. Dari segi bahasa dhaif (‫ )الضعيف‬berarti
lemah lawan dari Al-Qawi (‫ )القوي‬yang berarti kuat

BAB III PENUTUP

Kesimpulan
o Hadits/Sunnah Nabi merupakan salah satu sumber hukum Islam. Sebagaimana
dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr : 7 yang artinya :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tiggalkanlah”
o Mengenai dalil-dalil yang menyebutkan bahwa hadits hukum islam, diantaranya Dalam
surah An-Nisaa’ juga disebutkan:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu”. (Q.S. al Nisaa {4} : 59)7
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menerangkan :
“Telah aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh
kepadanya, kalian tidak akan tersesat, yakni kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah
Nabi-Nya.” (HR. Al-Hakim).
o Al-Hadits berfungsi sebagai Penguat Hukum yang sudah ada di dalam Al-Qur’an.
Fungsi ini sering disebut dengan bayan at-taqrir atau disebut juga dengan bayan at-
ta'kid dan bayan al-itsbat.
o Al-Hadits berfungsi sebagai penafsir atau pemerinci apa-apa yang terdapat dalam al-
Qur'an.
7
Departemen agama RI, Al-qur’an dan terjemahnya (media insani, Surakarta) hal.
10
Fungsi ini sering juga disebut dengan Bayan at-Tafsir, ialah penjelasan al-Hadits
terhadap ayat-ayat yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut, seperti pada
ayat-ayat yang mujmal, muthlaq, dan Am. Maka fungsi al-Hadits dalam hal ini,
memberikan perincian (tafshil) dan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang
masih mujmal (global).

11