Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

PRA KATA.............................................................................................................. i
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 1
1.3 Tujuan dan Manfaat .................................................................................... 1
1.4 Metode Penulisan ........................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSATAKA.......................................................................... 2
2.1 Konsep Anak ............................................................................................... 2
2.1.1 Paradigma Keperawatan Anak .......................................................... 2
2.1.2 Prinsip-prinsip perawatan anak ......................................................... 2
2.2 Perawatan Atraumatik Pada Anak............................................................... 3
2.2.1 Defenisi Perawatan Atraumatik Pada Anak ...................................... 3
2.2.2 Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak ........................................ 4
2.2.3 Reaksi Anak Terhadap Hospitalisasi ................................................ 7
2.2.4 Permainan Terapeutik ....................................................................... 9
2.2.5 Pencegahan kecelakaan pada anak.................................................. 10
2.2.6 Intervensi Keperawatan................................................................... 11
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 13
3.1 Kesimpulan................................................................................................ 13
3.2 Saran.......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan
keluarganya
merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. Dasar
pemikiran pentingnya asuhan terapeutik ini adalah bahwa walaupun ilmu pegetahuan dan
teknologi di bidang pediatrik telah berkembang pesat, tindakan yang dilakukan pada anak
tetap menimbulkan trauma, rasa nyeri, marah, cemas dan takut pada anak. Sangat disadari
bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat mengatasi masalah yang timbul
sebagai dampak perawatan tersebut diatas. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari
tenaga kesehatan, khususnya perawat dalam melaksanakan tindakan pada anak dan orang
tua (Supartini, 2004).

Beberapa bukti penelitian menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit yang dapat
menimbulkan trauma bagi anak adalah lingkungan fisik rumah sakit, tenaga kesehatan
baik dari sikap maupun pakaian putih, alat-alat yang digunakan, dan lingkunagan sosial
antar sesama pasien. Dengan adanya stresor tersebut, distres yang dapat dialami anak
adalah gangguan tidur, pembatasan aktivitas, perasaan nyeri, dan suara bising, sedangkan
dostres psikologis mencakup kecemasan, takut, marah, kecewa, sedih, malu, dan rasa
bersalah (Supartini, 2004).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang ada, masalah yang dapat dirumuskan adalah
bagaimanakah teori atau sebuah konsep tentang atraumatic care itu?.

1.3 Tujuan dan Manfaat


Adapun tujuan dan manfaat pembuatan makalah adalah untuk melatih dan menambah
pengetahuan tentang konsep atraumatic care pada anak. Di samping itu juga sebagai syarat
dari tugas mata kuliah Keperawatan Anak II.

1.4 Metode Penulisan


Dalam penulisan makalah ini digunakan metode penulisan yang berdasarkan
literatur atau metode pustaka.
BAB II

TINJAUAN PUSATAKA

2.1 Konsep Anak

2.1.1 Paradigma Keperawatan Anak


Paradigma keperawatan anak menurut (Supartini, 2004) dikelompokkan 4komponen yaitu:
a. Manusia (Anak)
Manusia sebagai klien dalam keperwatan anak adalah individu yang berusia antara 0
sampai 18 tahun, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, mempunyai kebutuhan yang
spesifik (fisik, psikologik, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa.
b. Sehat
Sehat dalam keperawatan anak adalah sehat dalam rentang sehat-sakit. Sehat adalah
keadaan kesejahteraan optimal antara fisik, mental, dan sosial yang harus dicapai sepanjang
kehidupan anak dalam rangka mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang
optimal sesuai dengan usianya.
c. Lingkungan
Lingkungan terdiri atas lingkungan interna dan lingkungan eksternal yang dapat
mempengaruhi kesehatan anak. Lingkungan interna, yaitu genetik (keturunan), kematangan
biologis, jenis kelamin, intelektual, emosi, dan adanya predisposisi atau resistensi terhadap
penyakit. Lingkungan eksternal yaitu status nutrisi, orang tua, saudara sekandung (sibling),
masyarakat atau kelompok sekolah dan lain-lain.
d. Keperawatan
Untuk memperoleh pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, perawat dapat
membantu anak dan keluarganya memenuhi kebutuhan yang spesifik dengan cara membina
hubungan terapeutik dengan anak atau keluarga melalui perannya sebagai pembela,
pemulih atau pemelihara kesehatan, koordinator, kolabolator, pembuat keputusan etik dan
perencana kesehatan.

2.1.2 Prinsip-Prinsip Perawatan Anak


Prinsip-prinsip dalam asuhan keperawatan anak (Hidayat, 2005) yaitu:


Anak bukan miniature orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik. Prinsip ini
mengandung arti bahwa tidak boleh memandang anak dari ukuran fisik saja, karena
anak mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju proses kematangan

Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai dengan
tahap perkembangan.

Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan
peningkatan derajat kesehatan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian.

Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada
kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggungjawab komprehensif dalam
memberikan asuhan keperawatan anak misalnya anak tidak merasakan gangguan
psikologis, rasa cemas dan takut.

Praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk
mencegah, mengkaji, mengintervensi, dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan
menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral (etik) dan aspek
hukum (legal).

Tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau
kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sabagai makhluk biopsikososial dan
spiritual dalam konteks keluarga dan masyarakat.

Pada masa yang akan datang kecendrungan keperawatan anak berfokus pada ilmu
tumbuh kembang .

2.2 Perawatan Atraumatik Pada Anak

2.2.1 Defenisi Perawatan Atraumatik Pada Anak


Menurut Hidayat (2005), atraumatik care adalah perawatan yang tidak menimbulkan
adanya trauma pada anak maupun keluarga. Perawatan tersebut difokuskan dalam
pencegahan terhadap trauma yang merupakan bagian dalam keperawatan anak. Perhatian
khusus kepada anak sebagai individu yang masih dalam usia tumbuh kembang, sangat
penting karena masa anak merupakan proses menuju kematangan.

Dengan demikian, atraumatik care sebagai bentuk perawatan terapeutik dapat diberikan
kepada anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan
keperawatan yang diberikan seperti memperhatikan dampak tindakan yang diberikan
dengan melihat prosedur tindakan atau aspek lain yang kemungkinan berdampak adanya
trauma (Hidayat, 2005).
Menurut (Whaley and Wong 1995) dalam Wong (2005) atraumatic care merupakan sebagai
ketetapan dan kepedulian dari tim pelayanan kesehatan melalui intervensi yang
meminimalkan atau meniadakan stressor yang dialami oleh anak dan keluarga di rumah
sakit baik fisik maupun psikis. Perawatan atraumatik juga disebut dengan perawatan yang
terapeutik yang meliputi pada pencegahan trauma, hasil diagnosa, dan mengurangi dampak
kondisi-kondisi yang akut maupun kronis. Dan Wiggins (1994) dalam (Wong, 2005)
mengungkapkan bahwa stresor lingkungan yang sering dialami oleh anak adalah
lingkungan rumah sakit yang tidak nyaman bagi mereka yang mengakibatkatkan anak
stress selam dirawat dirumah sakit.

2.2.2 Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak

Pada umumnya anak yang dirawat di rumah sakit akan timbul rasa takut baik pada dokter
maupun perawat, apalagi jika anak telah mempunyai pengalaman mendapatkan imunisasi.
Dalam bayangannya, perawat atau dokter akan menyakiti dan menyuntik. Selain itu anak
juga merasa terganggu hubungannya dengan orang tua dan saudaranya. Lingkungan di
rumah tentu berbeda bentuk dan suasananya dengan ruang perawatan. Reaksi pertama
selain ketakutan, tidak mau makan dan minum bahkan menangis. Untuk mengatasi masalah
tersebut adalah memberikan perawatan atraumatik.
Ada beberapa prinsip perawatan atraumatik yang harus dimiliki oleh perawat anak
(Hidayat, 2005) yaitu:

1. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga.

Dampak perpisahan dari keluarga, anak akan mengalami gangguan psikologis seperti
kecemasan, ketakutan, kurangmya kasih sayang, gangguan ini akan menghambat proses
penyembuhan anak dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Bila
anak dirawat di rumah sakit dan selama itu tidak boleh berhubungan dengan orang tuanya,
maka ia akan merasa ditolak oleh keluarga dan mengakibatkan anak cendrung emosi saat
kembali pada keluarganya. Pada umumnya anak bereaksi negatif waktu pulang ke rumah
(Mc.Ghie, 1996) dalam Juli (2008). Selama anak mengalami hospitalisasi, keluarga
memainkan peran bersifat dukungan moril seperti kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan
dukungan materil berupa usaha keluarga untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga. Jika
dukungan tersebut tidak ada, maka keberhasilan untuk penyembuhan sangat berkurang.
Untuk mencegah atau meminimalkan dampak perpisahan dari keluarga dapat dilakukan
dengan cara melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak dengan cara
membolehkan mereka untuk tinggal bersama anak selama 24 jam (rooming in), jika tidak
mungkin untuk rooming in, beri kesempatan orang tua untuk melihat anak setiap saat
dengan maksud mempertahankan kontak antar mereka dan mempertahankan kontak dengan
kegiatan sekolah, diantaranya dengan memfasilitasi pertemuan dengan guru, teman sekolah
dan lain-lain (Supartini, 2004).

2. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada


anak.
Melalui peningkatan kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak mampu dalam
kehidupannya. Anak akan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari, selalu
bersikap waspada dalam segala hal. Serta pendidikan terhadap kemampuan dan
keterampilan orang tua dalam mengawasi perawatan anak. Dan fokuskan intervensi
keperawatan pada upaya untuk mengurangi ketergantungan dengan cara memberi
kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua.

3. Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)

Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak.
Proses pengurangan rasa nyeri tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat
dikurangi melalui berbagai teknik misalnya, distraksi, relaksasi, imaginary. Apabila
tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada
anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Untuk meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri dilakukan dengan
cara mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang
mnimbulkan rasa nyeri, yaitu dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan dan
memberikan dukungan psikologis pada orang tua. Lakukan permainan terlebih dahulu
sebelum melakukan persiapan fisik anak, misalnya dengan bercerita yang berkaitan dengan
tindakan atau prosedur yang akan dilakukan pada anak. Aktivitas bermain dilakukan
perawat pada anak akan memberikan keuntungan seperti meningkatkan hubungan antara
klien (anak dan keluarga dan perawat karena bermain merupakan alat komunikasi yang
efektif antara perawat dan klien, aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan
perasaan mandiri pada anak, dan bisa mengekspresikan perasaan anak. Pertimbangkan
untuk menghadirkan orang tua pada saat dilakukan atau prosedur yang menimbulkan rasa
nyeri apabila mereka tidak dapat menahan diri, bahkan menangis bila melihatnya. Dalam
kondisi ini, tawarkan pada anak dan orang tua untuk mempercayakan kepada perawat
sebagai pendamping anak.

Tunjukkan sikap empati sabagai pendekatan utama dalam mengurangi rasa takut akibat
prosedur yang menyakitkan. Pada tindakan pembedahan elektif, lakukan persiapan khusus
jauh hari sebelumnya apabila memungkinkan. Misalnya, dengan mengorientasikan kamar
bedah, tindakan yang akan dilakukan dan lain-lain.

4. Tidak melakukan kekerasan pada anak

Secara umum kekerasan didefenisikan sebagai sutu tindakan yang dilakukan oleh individu
terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan psikis. Kekerasan pada
anak adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau individu pada mereka yang belum
genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan psikis terganggu (Sugiarno,
2007).
Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam
kehidupan anak. Apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka
kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan
kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat kondisi anak seperti
melakukan tindakan keperawatan yang berulang-ulang (dalam pemasangan IVFD).

5. Modifikasi lingkungan fisik.

Melalui modifikasi lingkungan fisik rumah sakit yang bernuansa anak dapat meningkatkan
keceriaan, perasaan aman, dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu
berkembang dan merasa nyaman di lingkungannya. Modifikasi ruang perawatan dengan
cara membuat situasi ruang rawat seperti di rumah dan Ruangan tersebut memerlukan
dekorasi yang penuh dengan nuansa anak, seperti adanya gambar dinding berupa gambar
binatang, bunga, tirai dan sprei serta sarung bantal yang berwarna dan bercorak binatang
atau bunga, cat dinding yang berwarna, serta tangga yang pegangannya berwarna ceria.
Wong (2005) mengungkapkan ada 3 prinsip perawatan atraumatik yang harus dimiliki oleh
tim kesehatan dalam merawat pasien anak yaitu diantaranya adalah mencegah atau
meiminimalkan stressor fisik dan psikis yang meliputi prosedur yang menyakitkan seperti
suntikan, kegelisahan, ketidakberdayaan, tidur yang tidak nyaman, pengekangan, suara
bising, bau yang tidak sedap dan lain-lain, mencegah dampak perpisahan orang tua dan
anggota keluarga yang lain, bersikap empati kepada keluarga dan anak yang sedang dirawat
serta memberikan pendidikan kesehatan tentang kondisi sakit yang dialami anak.

2.2.3 Reaksi Anak Terhadap Hospitalisasi

Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak,
pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan
koping yang dimilikinya,pada umumnya,reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan
karena perpisahan,kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri.

Reaksi anak pada hospitalisasi:

1. Masa bayi (0-1 Tahun)

Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas:


o
Menangis keras
o
Pergerakan tubuh yang banyak
o
Ekspresi wajah yang tak menyenangkan
2. Masa todler (2-3 Tahun)
Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan. Disini respon perilaku anak berlangsung
dalam beberapa tahap yaitu:

Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain

Putus asa menangis berkurang, anak tak aktif, kurang menunjukkan minat
bermain, sedih, apatis.

Pengingkaran/denial terhadap kecemasan

Mulai menerima perpisahan

Membina hubungan secara dangkal

Anak mulai menyukai lingkungannya

2. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun )



Menolak makan

Sering bertanya

Menangis perlahan

Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan

Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan
malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak,tidak mau
bekerja sama dengan perawat.
4. Masa sekolah 6 sampai 12 tahun
Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai,
keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol
berdampak pada perubahan peran dlm klg, kehilangan klp sosial,perasaan takut
mati, kelemahan fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal.
5. Masa remaja (12 sampai 18 tahun )
Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Saat MRS
cemas karena perpisahan tersebut. Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol Reaksi
yang muncul :

Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan

Tidak kooperatif dengan petugas

Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon:



bertanya-tanya

menarik diri

menolak kehadiran orang lain. Reaksi orang tua
terhadap hospitalisasi

2.2.4 Permainan Terapeutik

Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan merupakan suatu
metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi
waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih
dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik,
mental dan perkembangan emosinya. Dengan bermain anak dapat menstimulasi
pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan
seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya.
Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka
mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan
cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal
sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan
cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat
kesempatan bermain. Macam – macam bermain :
1. Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa yang
diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :

a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)


Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut,
memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan
kadang-kadang berusaha membongkar.
b. Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
c. Bermain drama (Dramatic Play)
Misalnya bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-temannya.

d. Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain. Untuk di hospitalisasi bermain fisik
harus disesuaikan dengan kemampuan dan kesehatan anak saat itu.

2. Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan mendengar.
Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan sesuatu
untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Contoh: Melihat gambar di buku/majalah ,mendengar cerita atau musik, menonton televisi
dan sebagainya.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam bermain, yaitu
apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :

a. Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energy untuk aktif
bermain.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan.
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain.

2.2.5 Pencegahan kecelakaan pada anak

Ada beberapa cara pencegahan kecelakaan terhadap anak sebagai berikut (Sacharin,
1996).

1. Jatuh dari tempat tidur


Hal ini merupakan kecelakaan yang umum terjadi pada anak-anak di bangsal rumah sakit.
Tempat tidur harus dirancang sehingga bagian sisi tempat tidur dapat dikunci dan cukup
tinggi sehingga anak yang mulai berjalan tidak dapat memanjat keluar. Karena itu perawat
harus menjamin bahwa sisi tempat tidur terkunci setelah menyelesaikan suatu tindakan.
2. Mandi
Tersiram air panas ataupun tenggelam merupakan konsekuensi dari perencanaan dan
prosedur yang sembrono. Oleh karena itu suhu air harus aman bagi anak. Untuk mencegah
tenggelam maka diperlukan pengawasan yang konstan selama mandi. Tidak selalu
memungkinkan untuk mencegah anak masuk kamar mandi, karena hal ini sebagian besar
tergantung pada penataan bangsal.
3. Obat-obatan Penyimpanan
Obat-obatan secara aman merupakan ketentuan hukum yang mengikat semua perawat.
Selama pembagian obat harus dibawah pengawasan perawat.
4. Peralatan (rumah sakit)
Setiap peralatan yang digunakan harus dalam keadaan dapat dipakai dan secara mekanis
dan listrik dalam keadaan aman seperti termometer, mainan dari rumah sakit, spuit, dan
lain-lain.

2.2.6 Intervensi Keperawatan


Fokus intervensi keperawatan
1. Upaya meminimalkan stresor atau penyebab
stress Dapat dilakukan dengan cara :

Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan

Mencegah perasaan kehilangan control

Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri

2. Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan



Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak

Modifikasi ruang perawatan

Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah

Surat menyurat, bertemu teman sekolah

3. Mencegah perasaan kehilangan kontrol:



Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif.

Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan

Buat jadwal untuk prosedur terapi,latihan,bermain

Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam
perencanaan kegiatan

4. Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri


Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang
menimbulkan rasa nyeri

Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak

Menghadirkan orang tua bila memungkinkan

Tunjukkan sikap empati

Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui
cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak
menerima informasi ini dengan terbuka
5. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak


Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar .
Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak.

Meningkatkan kemampuan kontrol diri.

Memberi kesempatan untuk sosialisasi.

Memberi support kepada anggota keluarga.

6. Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit



Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak.

Mengorientasikan situasi rumah sakit.

Pada hari pertama lakukan tindakan :



Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya.

Kenalkan pada pasien yang lain.

Berikan identitas pada anak.

Jelaskan aturan rumah sakit.

laksanakan pengkajian.

Lakukan pemeriksaan fisik.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Atraumatic care merupakan asuhan keperawatan yang tidak menimbulkan trauma pada
anak dan keluarganya dan merupakan asuhan yang teurapetik karena bertujuan sebagai
therapi pada anak. Atraumatic care merupakan bentuk perawatan teurapetik yang diberikan
oleh tenaga kesehatan dalam tatanan kesehatan anak, melalui penggunakan tindakan yang
dapat mengurangi stres fisik maupun stres psikologis yang dialami anak maupun orang
tuanya. Atraumatic car ebukan suatu bentuk intervensi yang nyata terlihat, tetapi
memberikan perhatian pada apa, siapa, dimana, mengapa dan bagaimana prosedur
dilakukan pada anak dengantujuan mencegah dan mengurangi stres fisik maupun
psikologis. Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak.
Sekarang banyak dijual berbagai macam mainan anak-anak, jika orang tua tidak selektif
dalam memilih jenis permainan pada anaknya atau kurang memahami fungsinya maka alat
permainan tersebut yang sudah dibeli tidak akan berfungsi secara efektif.

3.2 Saran

Diharapkan dengan adanya penjelasan mengenai perawatan atraumatik, dapat menunjang


kita dalam proses pembelajaran pada mata kuliah Keperawatan Anak I serta menjadi bahan
pembelajaran. Oleh karena itu dengan adanya bahan materi ini diharapkan kita dapat
mengaplikasikan konsep ini saat praktek keperawatan anak di RS dan dalam melaksanakan
profesi kita sebagai perawat nantinya.
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz Hidayat. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2 Cetakan 3 Jilid

Ke 2. Jakarta: Salemba Medik.

Bets, Cecili Lynn.. 2009. Buku Saku : Keperawatan Pediatric Edisi 5 Cetakan Pertama.

Jakarta: EGC.

Erwandino. 2012. Atraumatic Care. Diakses dalam

Http://Erwandoni.Blogspot.Com/2012/06/Normal-0-False-False-False-En- Us-X-
None.Html Pada tanggal 12 Februari 2013 pada pukul 10.00 WITA. Kurniawati, Sri. 2009.
Skripsi: Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang
III RSU Dr. Pirngadi Medan. Medan: USU Repository.

Mansjoer, Arif Et All. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta : Media
Aesculapius.