Anda di halaman 1dari 6

Topik : IVA Test

Nama Mahasiswa : Heni Susilowati (P07124215055)

( Jurnal : Factors Associated with Uptake of Visual


Inspection with Acetic Acid (VIA) for Cervical
Cancer Screening in Western Kenya)

 11% atau 273 perempuan dari 2505 mendapatkan


pemeriksaan IVA .
 Tidak ada perbedaan status demografi (usia,tk
pendidikan,pekerjaan) antara wanita yang mendapatkan
IVA dan yang tidak.
 Perbedaan Jarak tempuh ke pelayanan kesehatan tidak
berhubungan dengan IVA test.
 Pengetahuan tentang bagaimana wanita diskrining IVA
berhubungan dengan rendahnya cakupan IVA ( OR: 0,53
CI: 0,68-0,77) seperti ketakutan screening akan
mengungkap kanker (OR: 0,7)
 Peserta/sample berpikir bahwa yang harus mendapatkan
screening adalah wanita yang sudah memiliki gejala CA
servix (OR: 2,21 ; 95% CI 1,24-3,93)

Jurnal : Prevalence and factors associated with VIA positive


result among clients screened at Family Guidance Association
PHENOMENON OF of Ethiopia, south west area office, Jimma model clinic,
INTEREST Jimma, Ethiopia 2013: a cross-sectional study

 klien yang memulai hubungan seksual kurang dari 16


tahun 2,2 kali (AOR [95% CI] 2.2 [1.1, 4.3]) lebih
cenderung memiliki VIA positif dibandingkan dengan
mereka yang memulai hubungan seksual pada usia 16 atau
lebih tahun.

Jurnal : Perception and satisfaction of cervical cancer


screening by Visual Inspection with Acetic acid (VIA) at
Meknes-Tafilalet Region, Morocco: a population-based cross-
sectional study

 Rendahnya kesadaran tentang kanker serviks (19,6%) dan


penerimaan yang sangat tinggi dari VIA skrining (94,5%).
 Dari 306 wanita disaring, 99% menyatakan bahwa mereka
akan merekomendasikan pengujian VIA untuk teman-
teman dan saudara perempuan.
 Mayoritas (96,3%) perempuan percaya bahwa screening
oleh VIA bisa menyelamatkan nyawa mereka; kanker
serviks adalah kekhawatiran bagi 98,6%; dan hanya 11,6%
merasa cemas tentang mengulangi tes VIA.
 Mayoritas perempuan (98,6%) merasa puas dengan
layanan yang diterima di Puskesmas.
Jurnal : Assessment of community health volunteers’
knowledge on cervical cancer in Kadibo Division, Kisumu
County: a cross sectional survey

 Rata-rata, 95 (50,5%) memiliki pengetahuan rendah, 15


(8,0%) memiliki pengetahuan sedang dan 78 (41,5%)
memiliki pengetahuan tinggi tentang tanda-tanda dan
gejala kanker servix. 77 (41,0%) memiliki pengetahuan
tinggi, 40 (21,2%) memiliki pengetahuan sedang dan 71
(37,8%) memiliki pengetahuan yang rendah ketersediaan
layanan skrining.
 Pendidikan ( p = 0,012, χ 2 = 3,839), pekerjaan ( p <
0,0001, χ 2 = pusat 12,722), dan kesehatan attachment (p
<0,0001, χ 2 = 71,013) merupakan faktor signifikan dalam
menentukan pengetahuan faktor risiko kanker servix.
 Pengetahuan tentang tanda-tanda dan gejala kanker serviks
ditentukan oleh pendudukan CHVs ( p = 0.030, χ 2 =
15,110) dan tahun kerja sebagai CHV sebuah ( p = 0.014, χ
2 = 8,451).
 Tingkat pendidikan ( p = 0,011, χ 2 = 8,605), pekerjaan ( p
= 0,002, χ 2 = pusat 18,335) dan kesehatan lampiran ( p <
0,0001,χ 2 = 101,705) yang signifikan dalam menentukan
pengetahuan tentang ketersediaan layanan skrining di
berbagai fasilitas kesehatan.

Jurnal : Men’s knowledge and attitudes about cervical cancer


screening in Kenya

 sebagian besar orang pernah mendengar kanker serviks (N


= 101, 91,8%) dan skrining kanker serviks (N =
98,89,1%), kesadaran metode skrining spesifik dan HPV
adalah rendah.
 pengetahuan khusus tentang kanker serviks juga rendah,
dengan Pengetahuan Skor rata-rata 7.2 (SD +/- 3,0).
 Meskipun 79,1% (N = 87) laki-laki benar menunjukkan
bahwa skrining dapat membantu mencegah kanker serviks,
hanya 51,8% (N = 57) tahu bahwa bahwa ada pengobatan
untuk kanker serviks.
 Pengetahuan tentang faktor risiko juga rendah; hanya
27,3% (N = 30) laki-laki tahu bahwa mencuci vagina tidak
mengurangi risiko kanker serviks dan hanya 20,0% (N =
22) tahu bahwa kanker serviks disebabkan oleh infeksi
HPV
 Pria dengan pendidikan tinggi memiliki signifikan lebih
tinggi Pengetahuan Skor (p = 0,003). Pria yang mencapai
lebih tinggi dari pendidikan sekolah menengah memiliki
rata-rata tertinggi Pengetahuan Skor (10,2 +/- 2,4)
 Dari 110 orang yang diwawancarai, hanya 48,2% (N = 53)
berpikir pasangan mereka adalah pada risiko untuk kanker
serviks, sedangkan 21,8% (N = 24) tidak berpikir pasangan
mereka berisiko terkena kanker serviks, dan 30,0% (N =
33) tidak yakin.
 Persepsi risiko kanker serviks tidak berbeda secara
signifikan dengan status HIV atau perkotaan / pedesaan.
 Semua pria yang disurvei (N = 110, 100%) melaporkan
bahwa mereka akan memungkinkan dan bahkan
mendorong pasangan untuk diskrining untuk kanker
serviks.
 Empat puluh satu laki-laki (37,3%)merasa bahwa
keputusan untuk mendapatkan disaring harus dilakukan
oleh pasangan mereka sendiri, sementara 68 (61,8%)
merasa bahwa keputusan harus dibuat bersama-sama;
hanya satu orang dilaporkan bahwa ia harus membuat
keputusan sendiri.
 Dalam bivariat analisis, orang dari daerah pedesaan secara
signifikan lebih mungkin untuk berpikir bahwa skrining
harus menjadi keputusan bersama dibandingkan dengan
laki-laki dari pusat perkotaan (p = 0,017).
 Prevalensi kanker di Indonesia pada tahun 2013, yaitu
kanker serviks sebesar 0,8% dan kanker payudara sebesar
0,5%. Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Maluku Utara,
dan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki prevalensi
kanker serviks tertinggi yaitu sebesar 1,5% (Kementerian
Kesehatan, 2016).
 Tahun 2013 World Health Organization
(WHO)menyebutkan, diperkirakan ada 500.000 pengidap
kanker serviks setiap tahunnya di dunia dan 274.000 atau
54,8% kasus kematian terjadi setiap tahun. Sekitar 80%
dari semua kematian akibat kanker serviks dilaporkan
berasal dari negara-negara berkembang.
 Data Kesehatan Provinsi DIY tahun 2016 menunjukkan
angka kejadian kanker serviks di Kota Yogyakarta
sebanyak 341 kasus, di Kabupaten Sleman sebanyak 962
kasus, di Kabupaten Gunungkidul sebanyak 105 kasus,
Kabupaten Kulonprogo sebanyak 205 kasus, dan
terbanyak berada di Kabupaten Bantul sebanyak 1.355
kasus (Dinas Kesehatan DIY, 2016)
 Dalam tahun 2016 di Daerah Istimewa Yogyakarta didapat
sebanyak 41.604 orang melakukan penapisan kanker
serviks dengan metode IVA. Hasil menunjukkan terdapat
2.834 orang atau 6,8 % IVA positif serta 52 orang atau
sebanyak 0,1 % dengan kecurigaan kanker serviks (Ditjen
P2P, Kemenkes RI, 2017).
 Data Dinkes DIY selama 5 tahun terakhir menunjukkan
Kabupaten Bantul memiliki angka pencapaian penapisan
kanker serviks dengan metode IVA terendah sebesar 4, 83
%. Penapisan kanker seviks dengan metode IVA di
Kabupaten Bantul lebih rendah dibanding dengan Kulon
Progo yaitu sebanyak 2% atau sekitar 1.381 dari 68.624
perempuan usia subur di Kabupaten Kulon Progo.
Kabupaten Sleman, Kabupaten Kota dan Kabupaten
Gunung Kidul tidak melaporkan cakupan penapisan
kanker serviks menggunakan metode IVA (Dinas
Kesehatan DIY, 2016).

 Tahun 2013 World Health Organization (WHO)


menyebutkan, diperkirakan ada 500.000 pengidap kanker
serviks setiap tahunnya di dunia dan 274.000 atau 54,8%
kasus kematian terjadi setiap tahun. Sekitar 80% dari
semua kematian akibat kanker serviks dilaporkan berasal
dari negara-negara berkembang.
 Data Kesehatan Provinsi DIY tahun 2016 menunjukkan
angka kejadian kanker serviks di Kota Yogyakarta
sebanyak 341 kasus, di Kabupaten Sleman sebanyak 962
kasus, di Kabupaten Gunungkidul sebanyak 105 kasus,
Kabupaten Kulonprogo sebanyak 205 kasus, dan
terbanyak berada di Kabupaten Bantul sebanyak 1.355
kasus (Dinas Kesehatan DIY, 2016)
 Data Dinkes DIY selama 5 tahun terakhir menunjukkan
Kabupaten Bantul memiliki angka pencapaian penapisan
kanker serviks dengan metode IVA terendah sebesar 4, 83
%. Penapisan kanker seviks dengan metode IVA di
Kabupaten Bantul lebih rendah dibanding dengan Kulon
Progo yaitu sebanyak 2% atau sekitar 1.381 dari 68.624
perempuan usia subur di Kabupaten Kulon Progo.
IDENTIFIKASI
Kabupaten Sleman, Kabupaten Kota dan Kabupaten
MASALAH
Gunung Kidul tidak melaporkan cakupan penapisan
kanker serviks menggunakan metode IVA (Dinas
Kesehatan DIY, 2016).
 Pengetahuan tentang bagaimana wanita diskrining IVA
berhubungan dengan rendahnya cakupan IVA ( OR: 0,53
CI: 0,68-0,77) seperti ketakutan screening akan
mengungkap kanker (OR: 0,7)
 Pengetahuan tentang tanda-tanda dan gejala kanker serviks
ditentukan oleh pendudukan CHVs ( p = 0.030, χ 2 =
15,110) dan tahun kerja sebagai CHV sebuah ( p = 0.014, χ
2 = 8,451).
 Dalam bivariat analisis, orang dari daerah pedesaan secara
signifikan lebih mungkin untuk berpikir bahwa skrining
harus menjadi keputusan bersama dibandingkan dengan
laki-laki dari pusat perkotaan (p = 0,017).
 Semua pria yang disurvei (N = 110, 100%) melaporkan
bahwa mereka akan memungkinkan dan bahkan
mendorong pasangan untuk diskrining untuk kanker
serviks.

RUMUSAN MASALAH
 Telah dilaporkan bahwa prevalensi IVA pada PUS di
Kabupaten Bantul sebesar 4,83% , sejalan dengan laporan
tersebut angka cakupan IVA di Bantul lebih rendah
daripada 4 Kabupaten yang ada di Provinsi Yogyakarta.
Padahal insidensi kanker serviks di Provinsi Yogyakarta
tertinggi ditempati oleh Kabupaten Bantul yaitu sebanyak
1.355 kasus.
 Menurut teori Green kurangnya minat ibu untuk
melakukan pemeriksaan IVA kemungkinan diperngaruhi
oleh faktor enabeling (social support). Jadi apakah ada
hubungan antara dukungan suami dengan perilaku
pemeriksaan IVA pada pasangan usia subur?

 apakah ada hubungan antara dukungan suami dengan


PERTANYAAN
perilaku pemeriksaan IVA pada pasangan usia subur?
PENELITIAN
DESAIN PENELITIAN Crossectional

KERANGKA/LANDASAN
TEORI

Variabel Bebas Variabel Terikat


Perilaku pemeriksaan
Dukungan suami
IVA
KERANGKA KONSEP 1. YA
1. meningkat
2. Tidak
2. Tidak

1.

 Ya
 Tidak
Terdapat hubungan antara dukungan suami dengan perilaku
HIPOTESIS
pemeriksaan IVA pada pasangan usia subur.

Nama Variabel Definisi oprasional Skala Kode


Dukungan suami Penilaian ibu tentang Nominal 1 = Ya
(variabel bebas) dukungan yang 2 = Tidak
didapatkan dari suami
terkait perilaku
pemeriksaan IVA
Perilaku IVA Respon atau reaksi Nominal 1 = meningkat
(variabel terikat) ibu pasangan usia 2 = Tidak
subur dalam
melakukan
pemeriksaan IVA .