Anda di halaman 1dari 4

JURNAL REVIEW : KEBIJAKAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA

Penyusun :
Diah Ulfa Hidayati
NIM. P1337424718029
Prodi Magister Terapan Kebidanan

Pendahuluan
Keluarga berencana adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera
dengan membatasi kelahiran. Itu bermakna adalah perencanaan jumlah keluarga dengan
pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan
kelahiran seperti kondom, IUD, implant, pil, suntikan, dan sebagainya. Tujuan program keluarga
berencana adalah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dalam rangka mewujudkan
NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat
yang sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan
penduduk. Cina, India, Amerika, dan Indonesia merupakan Negara dengan populasi terbanyak di
dunia. Masing-masing Negara menjalankan program keluarga berencana di negaranya dengan
kebijakan yang berbeda.

Review
Pada tahun 1980, Cina menjalankan kebijakan terkait keluarga berencana dengan
menggalakkan program satu anak. Namun, kebijakan tersebut berubah pada tahun 2016.
Keluarga di Cina diperbolehkan memiliki dua anak apabila salah satu orangtua (ayah atau ibu) di
keluarga tersebut merupakan anak tunggal. Pemerintah Cina mengubah kebijakan ini karena
meninjau konsekuensi pasar tenaga kerja kedepannya. Populasi di Cina sebagian besar
merupakan penduduk usia tua, sehingga dianggap sudah tidak produktif lagi untuk bekerja.
Apabila program satu anak tetap dijalankan, pemerintah meramalkan akan terjadi penurunan
jumlah tenaga kerja di masa mendatang, yang juga berdampak pada penurunan perekonomian
Cina. Sehingga, pemerintah mulai menjalankan program dua anak per 1 Januari 2016-sekarang.
Pemerintah juga telah memprediksi bahwa program dua anak memang belum dapat menurunkan
populasi di Cina hingga tahun 2030 mendatang. Namun, pemerintah akan mengupayakan
pemerataan program migrasi sehingga penyebaran penduduk merata.
Kebijakan program keluarga berencana di Cina dan Indonesia memiliki kesamaan. Di
Indonesia, kebijakan keluarga berencana juga digalakkan dengan program “dua anak cukup”.
Namun, program ini belum berjalan dengan baik, karena masih banyak keluarga di Indonesia
yang memiliki anak lebih dari dua. Kesadaran untuk menggunakan alat kontrasepsi wanita di
Indonesia sudah tinggi, namun penggunaan alat kontrasepsi disini lebih bertujuan untuk
menjarakkan kelahiran daripada menjarangkan kelahiran. Masih berkembangnya kepercayaan
“banyak anak banyak rezeki” di masyarakat pedesaan juga menjadi factor ketidakberhasilan
program ini. Jadi, meskipun cakupan program keluarga berencana sudah mencapai 90%, masalah
pertumbuhan penduduk di Indonesia belum dapat terselesaikan. Dalam hal ini dibutuhkan usaha
dari pemerintah, BKKBN, penyedia pelayanan kesehatan, dan pihak-pihak lain yang terkait
untuk lebih mempromosikan lagi program “dua anak cukup”.
Di Texas, Amerika Serikat, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk pemotongan
anggaran penyediaan layanan keluarga berencana sebesar $ 37.9 juta per tahun. Semula,
anggaran layanan keluarga berencana diberikan untuk wanita kurang mampu yang ingin
menggunakan alat kontrasepsi. Namun hal ini disalahgunakan. Banyak penyedia pelayanan
keluarga berencana yang memberikan pelayanan ini kepada remaja. Sehingga banyak wanita
kurang mampu yang tidak mendapatkan pelayanan kontrasepsi. Hal ini tentunya mempengaruhi
peningkatan jumlah penduduk terutama pada populasi yang kurang mampu. Sehingga dapat
menurunkan kesejahteraan penduduk tersebut.
Hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah pusat
menggelontorkan dana alokasi khusus (DAK) 2018 untuk Subbidang Keluarga Berencana
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) sebesar Rp 2,3 triliun pada 2018. Jumlah
tersebut meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar Rp 1,1
triliun. Kenaikan DAK tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas program KB dengan
membentuk kampung KB yang merupakan program baru pemerintah. Dari jumlah tersebut
anggaran tersebut, sekitar Rp 1,8 triliun digunakan kebutuhan non-fisik. Kebutuhan tersebut di
antaranya terdiri dari operasional kegiatan di kampung KB dan operasional penyuluhan.
Dengan adanya kenaikan anggaran tersebut, diharapkan program KB di Indonesia dapat
berjalan dengan efektif dan terpenuhinya tujuan KB untuk menciptakan keluarga kecil yang
bahagia dan sejahtera.
Di Jharkhand, India, kebijakan keluarga berencana berfokus pada penggunaan metode
kontrasepsi operatif. Hal ini menyebabkan rendahnya cakupan program keluarga berencana di
India. Survei Kesehatan Keluarga Nasional (NFHS) menguraikan bahwa penggunaan praktik
kontrasepsi telah meningkat pesat tetapi lebih condong ke metode kontrasepsi terminal terutama
sterilisasi wanita. Selain metode operatif, metode reversibel seperti IUCD (alat kontrasepsi intra
uterine), kontrasepsi oral (pil kontrasepsi) dan kondom adalah metode yang paling umum
digunakan. Penggunaan metode kontrasepsi saat ini di Jharkhand hanya 35,7%. Metode
sterilisasi perempuan sebesar 23,4% dan sterilisasi laki-laki hanya 0,4%. Sedangkan metode
konvensional seperti IUCD-0,6%, pil oral -3,8% dan kondom-2,7%. Pemerintah menetapkan
kebijakan baru dengan menggalakkan penggunaan metode kontrasepsi implan dan suntikan.
Namun, hal ini masih mengalami masalah dalam proses ketersediaannya. Kontrasepsi suntik
hanya tersedia melalui pribadi atau saluran pemasaran sosial, karena penggunaannya terbatas.
Terdapat perbedaan penggunaan metode kontrasepsi antara India dan Indonesia. Di
Indonesia, sebagian besar PUS peserta KB masih mengandalkan kontrasepsi suntikan (59,57%)
dan pil (20,71%) dari total pengguna KB. Sedangkan persentase pengguna Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP) terbesar adalah pengguna IUD (7,30%) dan implan (6,21%). Adapun
peserta KB pria yang ada hanya mencapai sekitar 1,27% (MOP = 0,27% dan Kondom = 1%).
Selain itu, tidak ada masalah dalam ketersediaan alat kontrasepsi, baik untuk di daerah pedesaan
maupun perkotaan. Masih rendahnya penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang membuat
pemerintah lebih menggalakkan penggunaan metode tersebut. Pemerintah mengeluarkan
kebijakan dengan menggratiskan pelayanan metode kontrasepsi jangka panjang (IUD dan
implant) dalam upaya untuk mempromosikannya. Metode ini dirasa lebih menguntungkan
karena memiliki jangka waktu penggunaan yang lebih lama dibandingkan dengan metode
reversible lainnya dan dengan efektifitas yang tinggi.

Kesimpulan
Terdapat beberapa perbedaan kebijakan tentang keluarga berencana di Cina, Texas , Jharkhand,
dan Indonesia baik dari segi program, penganggaran, dan metode kontrasepsi yang digunakan.
Sumber
1. White K, Hopkins K, Aiken ARA. The Impact of Reproductive Health Legislation on
Family Planning Clinic Services in Texas. American Journal of Public Health. 2015;105
(5):70-74
2. Samal J, Dehury RK. Family Planning Practices, Programmes and Policies in India
Including Implants and Injectables with a Special Focus on Jharkhand, India: A Brief
Review. Journal of Clinical and Diagnostic Research. 2015;9(11): LE01-LE04
3. Wang F, Zhao L, Zhao Z. China’s family planning policies and their labor market
consequences. Journal of Population Economics European Society. 2016;30(1):31-68.