Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan atau materi semisolid
yang tumbuh dalam ovarium.,1,2,3 Kista ovarium merupakan kasus ginekologi
terbanyak dari seluruh keganasan ginekologi. Terdapat variasi yang luas dari insiden
kista ovarium, rata – rata tertinggi terdapat dinegara skandinavian 15,3-15,5 per
100.000 populasi, di Amerika 12,5 kasus per 150.000 populasi. Di Indonesia sekitar
25-50% kematian wanita usia subur disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan
kehamilan dan persalinan serta penyakit sistem reproduksi misalnya kista ovarium.3

Pada masa usia reproduktif massa ovarium yang paling sering terjadi adalah
massa ovarium yang jinak. 80-85% tumor ovarium adalah jinak, 2/3 nya terdapat pada
usia 20-44 tahun. Kemungkinan tumor ovarium menjadi ganas pada wanita kurang
dari 45 tahun adalah 1:15. Massa neoplasma lebih dari 80% adalah kista teratoma
(kista dermoid) yang terjadi pada usia reproduksi dengan usia median 30 tahun.
Peningkatan resiko tumor epitel seiring dengan peningkatan usia. Studi terbaru
menyimpulkan bahwa kista teratoma jinak adalah yang paling sering, 66% dari tumor
jinak pada wanita <50 tahun. Tumor serosa hanya 20%, umumnya jinak, tetapi 5-10%
berpotensi ke arah keganasan borderline dan 20-25% menjadi ganas. Sedangkan
untuk tumor musinosum hanya 5-10% yang menjadi ganas.2,3

Kista ovarium terpuntir adalah rotasi total atau parsial adneksa di sekitar
sumbu atau pedikel vaskulernya. Etiologi yang tepat tidak jelas. Torsi total
menyebabkan blokade vena dan limfatik yang menyebabkan stasis dan kongesti
vena, perdarahan dan nekrosis. Pasien biasanya datang dengan abdomen akut dan
pemeriksaan panggul dapat mengungkapkan massa kistik lunak yang terpisah dari
uterus. Risiko torsi adneksa meningkat 5 kali lipat selama kehamilan. Insiden adalah
5 per 10.000 kehamilan. Kista ovarium terpuntir sering terjadi pada kelompok usia
reproduktif. 1

Kista juga penyakit yang ditakuti pada kehamilan, selain kejadiannya cukup
banyak dan sering tanpa disadari tau gejala, kista juga dikhawatirkan dapat

1
mengganggu kehamilan. Namun , bukan berarti seorang wanita tidak dapat
mempertahankan janinnya. Selama pertumbuhan kista tersebut tidak menghambat
proses kehamilan, maka kehamilan bisa tetap terjadi.2,3

Jika kista dijumpai pada kehamilan, maka kehamilan dan kista ini saling dapat
mempengaruhi karena kista sangat mungkin terus berkembang selama kehamilan,
dimana hormon-hormon pada masa kehamilan dapat memicu bertambah besarnya
kista. Gangguan terhadap kehamilan tersebut antara lain dapat menyebabkan abortus
dan persalinan prematur, kelainan letak janin, gangguan terhadap proses persalinan,
dan menimbulkan gejala sesak napas karena dorongan ke diafragma. Pengangkatan
kista bergantung dari besarnya kista dan usia kehamilan. Jika ukurannya kurang dari
5cm maka dapat dilakukan pengangkatan kista saat kehamilan sudah memasuki usia
16-18 minggu. Operasi kista yang dilakukan sekitar umur 16-18 minggu ini perlu
adanya perlindungan progesteron.2,3

Berikut dipresentasikan suatu kasus pasien wanita, 28 tahun yang masuk poli
kebidanan, dengan keluhan nyeri perut kiri bawah dan sedang hamil. Dilakukan
laparotomi pada pasien dan dikeluarkan kista ovarium kiri yang terpuntir.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Ovarium

Wanita pada umumnya memiliki dua indung telur kanan dan kiri dengan
mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum kiri dan kanan.
Ovarium berukuran sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira- kira 4 cm,
lebar dan tebal kira- kira 1,5 cm.5
Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat
ditemukannya pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium.
Pinggir bawahnya bebas. Permukaan belakangnya ke atas dan belakang, sedangkan
permukaan depannya ke bawah dan depan. Ujung yang dekat dengan tuba terletak
lebih tinggi daripada ujung yang dekat dengan uterus, dan tidak jarang diselubungi
oleh beberapa fimbria dari infundibulum. Ujung ovarium yang lebih rendah
berhubungan dengan uterus dengan ligamentum ovarii proprium tempat
ditemukannya jaringan otot yang menjadi satu dengan yang ada di ligamentum
rotundum. Embriologik kedua ligamentum berasal dari gubernakulum.5
Struktur ovarium terdiri atas :

1. Korteks ovarium ; terletak di sebelah luar yang diliputi oleh epitelium


germinativum yang berbentuk kubik dan di dalam terdiri dari stroma serta
folikel- folikel primordial
2. Medulla ; terletak di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan
pembuluh- pembuluh darah, serabut – serabut saraf dan sedikit otot polos.
Diperkirakan pada wanita terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap bulan
satu folikel akan keluar, kadang- kadang dua folikel yang dalam perkembangannya
akan menjadi folikel de Graff. Folikel – folikel ini merupakan bagian terpenting dari
ovarium dan dapat dilihat di korteks ovarii dalam letak yang beraneka ragam dan
pula dalam tingkat- tingkat perkembangan dari satu sel telur dikelilingi oleh satu
lapisan sel- sel saja sampai menjadi folikel de Graff yang matang terisi dengan likour

3
folikulli, mengandung estrogen dan siap untuk berovulasi.5,6. Folikel de Graff yang
matang terdiri atas :
1. Ovum ; yakni suatu sel besar dengan diameter 0,1 mm yang mempunyai
nukleus dengan anyaman kromatin yang jelas sekali dan satu nukleolus pula
2. Stratum granulosum yang terdiri atas sel- sel granulisa, yakni sel- sel bulat
kecil dengan inti yang jelas pada pewarnaan dan mengelilingi ovum ; pada
perkembangan lebih lanjut terdapat ditengahnya suatu rongga terisi likour
folikuli
3. Teka interna, suatu lapisan yang melingkari stratum granulosum dengan sel-
sel yang lebih kecil daripada sel granulosa
4. Teka eksterna, terbentuk oleh stroma ovarium yang terdesak
Pada ovulasi, folikel yang matang dan yang mendekati permukaan ovarium
pecah dan melepaskan ovum ke rongga perut. Sel- sel granulosa yang melekat pada
ovum yang membentuk korona radiata bersama- sama ovum ikut dilepas. Sebelum
dilepas, ovum mulai mengalami pematangan dalam dua tahap sebagai persiapan
untuk dapat dibuahi. 5,6
Setelah ovulasi, sel- sel stratum granulosum di ovarium mulai berproliferasi
dan masuk ke ruangan bekas tempat ovum dan likour folikuli. Demikian pula jaringan
ikat dan pembuluh- pembuluh darah kecil yang ada di situ. Biasanya timbul
perdarahan sedikit, yang menyebabkan bekas folikel diberi nama korpus rubrum.
Umur korpus rubrum ini hanya sebentar. Di dalam sel- selnya timbul pigmen kuning,
dan korpus rubrum menjadi korpus luteum. Sel- selnya membesar dan mengandung
5,6
lutein dengan banyak kapiler dan jaringan ikat diantaranya.
Di tengah- tengah masih terdapat bekas perdarahan. Jika tidak ada
pembuahan ovum, sel- sel yang besar serta mengandung lutein mengecil dan menjadi
atrofik, sedangkan jaringan ikatnya bertambah. Korpus luteum lambat laun menjadi
korpus albikans. Jika pembuahan terjadi, korpus luteum tetap ada, malahan menjadi
5,6
lebih besar, sehingga mempunyai diameter 2,5 cm pada kehamilan 4 bulan.

4
Gambar 1. Anatomi ovarium

2.2. Definisi Tumor Ovarium

Secara harfiah, Tumor adalah jaringan baru (neoplasma) yang timbul dalam
tubuh akibat pengaruh berbagai faktor penyebab dan menyebabkan jaringan
setempat pada tingkat gen kehilangan kendali normal atas pertumbuhannya. Istilah
neoplasma pada dasarnya memiliki makna sama dengan tumor. Keganasan merujuk
kepada segala penyakit yang ditandai hiperplasia sel ganas.

Tumor ovarium adalah sebuah proses penumbuhan jaringan baru yang


berasal dari ovarium baik yang bersifat jinak maupun ganas. Beberapa literatur
menggolongkan kista sebagai tumor namun beberapa literatur lain memisahkan
antara tumor dengan kista. Perlu diketahui bahwa definisi kista adalah suatu jenis
tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan.Karena secara definisi tumor
adalah jaringan, oleh karena itu beberapa literatur membedakan antara kista dengan
tumor ovarium.

5
Gambar 2 : Ilustrasi Tumor Ovarium

2.3. Epidemiologi

Berdasarkan data penilitian di Amerika Serikat, umumnya kista ovarium


ditemukan saat pasien melakukan pemeriksaan USG baik abdominal maupun
transvaginal dan transrektal.Kista ovarium terdapat disekitar 18% yang sudah
postmenopause.Sebagian besar kista yang ditemukan merupakan kista jinak, dan
10% sisanya adalah kista yang mengarah ke keganasan.

Kista ovarium fungsional umumnya terjadi pada usia produktif dan relatif
jarang pada wanita postmenopause. Secara umum, tidak ada persebaran umur yang
spesifik mengenai usia terjadinya kista ovarium.5

2.4. Sifat Kista


2.4.1 Kista Fisiologis

Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang,


dan gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran dibawah 4 cm, dapat
dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan USG, dan dalam 3 bulan akan hilang.
Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak
menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati apakah kista tersebut mengalami
pembesaran atau tidak. Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia
reproduksi karena masih mengalami menstruasi. Biasanya kista fisiologis tidak
menimbuklkan nyeri pada saat haid. Beberapa jenis kista fisiologis diantaranya adalah
kista korpus luteal, kista folikular, kista teka-lutein.4

6
2.4.2 Kista Patologis

Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker
ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi.
Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala
dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60-70%
pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer.
Angka kematian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.3

Pada kista patologis, pembesaran bisa terjadi relatif cepat, yang kadang tidak
disadari penderita. Karena, kista tersebut sering muncul tanpa gejala seperti penyakit
umumnya. Itu sebabnya diagnosa agak sulit dilakukan.Gejala gejala seperti perut
yang agak membuncit serta bagian bawah perut yang terasa tidak enak biasanya baru
dirasakan saat ukuranya sudah cukup besar. Jika sudah demikian biasanya perlu
dilakukan tindakan pengangkatan melalui proses laparoskopi.1,2

Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium. Jenis ini ada yang bersifat jinak
dan ganas. Bersifat jinak jika bisa berupa spot dan benjolan yang tidak menyebar.
Meski jinak kista ini dapat berubah menjadi ganas. Tetapi sampai saat ini, belum
diketahui dengan pasti penyebab perubahan sifat tersebut. Kista ganas yang
mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan dinding sel tebal dan tidak
teratur.Tidak seperti kista fisiologis yang hanya berisi cairan, kista abnormal
memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.1,2,3

2.5 Klasifikasi Kista

Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non


neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor jinak dibagi
dalam tumor kistik dan solid

1. Tumor Non Neoplastik


a. Tumor akibat radang
i. Abses ovarial
ii. Abses tubo-ovarial
iii. Kista tubo-ovarial

7
b. Tumor lain
i. Kista folikel
ii. Kista korpus lutein
iii. Kista teka-lutein
iv. Kista inklusi germinal
v. Kista endometrium
2. Tumor Neoplastik Jinak
a. Kistik
i. Kistoma ovarii simpleks
ii. Kistadenoma ovarii musinosum
iii. Kistadenoma ovarii serosum
iv. Kista endometroid
v. Kista dermoid
b. Solid
i. Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma,
limfangioma
ii. Tumor Brenner
iii. Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma).3
1. Kista Ovarium Non-Neoplastik
a. Tumor Akibat Radang
Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang terjadi pada adneksa.
Tumor ini cukup jarang. Proses pembentukan tumor ini didahului oleh
masuknya bakteri kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing dan menuju
ke adneksa. Kemudian terjadilah infeksi dan terjadi proses imunologis
sehingga terbentuk abses.3

b. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer
yang setelah bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses
atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista.bisa di dapati satu kista
atau beberapa dan besarnya biasanya berdiameter 1-1 ½cm.Dalam

8
menangani tumor ovarium timbul persoalan apakah tumor yang dihadapi itu
neoplasma atau kista folikel. Umumnya jika diameter tumor tidak lebih dari 5
cm, dapat di tunggu dahulu karena kista folikel dalam 2 bulan akan hilang
sendiri.1,3
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak
sampai saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung
estrogen sebagai respon terhadap hipersekresi FSH (folikel stimulating
hormon) dan LH (luteinizing hormone) normalnya ditemui saat menopause
berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran limit 2,5 cm); berasal dari folikel
ovarium yang gagal mengalami involusi atau gagal meresorpsi cairan. Dapat
multipel dan bilateral. Biasanya asimtomatik.3

Gambar 3 : Kista Folikel

c. Kista Korpus Lutein


Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan
menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum akan
mempertahankan diri (korpus luteum persisten); perdarahan yang terjadi di
dalamnya akan menyebabkan kista, berisi cairan berwarna merah coklat
karena darah tua. Pada pembelahan ovarium kista korpus luteum memberi
gambaran yang khas.Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri
atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka.Penanganan kista luteum ini
menunggu sampai kista hilang sendiri. Dalam hal ini dilakukan operasi atas

9
dugaan kehamilan ektopik terganggu,kista korpus luteum diangkat tanpa
mengorbankan ovarium.1,3

Gambar 4 : Kista Korpus Luteal

d. Kista Teka Lutein


Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan
mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka.Tumbuhnya kista ini ialah akibat
pengaruh hormone koriogonadrotropin yang berlebihan.1,3
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung telur
yang fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh
penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus
menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya berisi cairan bening, berwarna seperti
jerami; biasanya berhubungan dengan tipe lain dari growth indung telur, serta
terapi hormon.

10
Gambar 5 : Kista Teka Lutein

e. Kista Inklusi Germinal


Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada wanita usia
lanjut dan besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di bawah permukaan
ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel kubik atau torak rendah,
dan isinya cairan jernih dan serous.1,3

Gambar 6 : Kista Inklusi Germinal

11
f. Kista Endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium. Akibat proliferasi dari
sel yang mirip dinding endometrium, umumnya berisi darah yang merupakan
hasil peluruhan dinding saat menstruasi.1

1. Neoplasia Jinak
1.1. Kistik:
1.1.1. Kistoma Ovari Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis
dan cairan di dalam kista jernih, serous dan berwarna kuning. Pada dinding
kista tampak lapisan epitel kubik. Terapi terdiri atas pengangkatan kista
dengan reseksi ovarium, akan tetapi jarinngan yang dikeluarkan harus
segera diperiksa secara histologik untuk mengetahui apakah ada
keganasan.1,3

1.1.2. Kistadenoma Ovarii Serosum


Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir sama dengan
kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang sama.
Kista ini sering ditemukan bilateral (10-20%) daripada kistadenoma
musinosum. Tumor serosa dapat membesar sehingga memenuhi ruang
abnomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran kistadenoma
musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, tetapi dapat juga lobulated
karena kista serosum pun dapat berbentuk multikolur, meskipun lazimnya
berongga satu. Warna kista putih keabuan.
Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam
rongga kista sebesar 50% dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi
kista cair, kuning dan kadang-kadang coklat karena bercampur darah. Tidak
jarang, kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh dengan
pertumbuhan papiler (solid papiloma)
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan gambaran
makroskopis kistadenoma serosum papileferum yang ganas dari yang jinak,
bahkan pemeriksaan rnikroskopis pun tidak selalu mernberikan kepastian.

12
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi
epitel kubik atau torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti sel
yang besar dan gelap warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel
permukaan ovarium (germinal epithelum), maka bentuk epitel pada papil
dapat beraneka ragam, tetapi sebagian besar terdiri atas epitel bulu getar
seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler dapat ditemukan pengendapan
kalsium dalam stromanya yang dinamakan psamoma. Adanya psamoma
menunjukkan bahwa kista adalah kistadenoma ovarium serosum papiliferum,
tetapi bukan ganas.
Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa proliferatif.
Kebanyakan ditemukan pada pemeriksaan rutin dari pelvis. Kadang-kadang
pasien mengeluh rasa ketidaknyamanan daerah pelvis dan pada
pemeriksaan ditemukan massa abdomen atau pun ascites. Kelainan ekstra
abdomen jarang ditemukan pada keganasan ovarium kecuali pada stadium
terminal. 1,2,6
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliterasi dan stratifikasi
epitel, serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara
makroskopik digolongkan ke dalam kelompok tumor ganas. 30-35% dari
kistadenoma serosum mengalami perubahan keganasan. Bila terdapat
implantasi pada peritoneum disertai dengan ascites, prognosis penyakit
adalah kurang baik.
Meskipun diagnosis histopatologis pertumbuhan tumor tersebut
mungkin jinak (histopathologically benign), tetapi secara klinis harus
dianggap sebagai neoplasma ovarium ganas (clinicaly malignant).
Terapi pada umumnya adalah pengangkatan tumor. Tetapi oleh karena
berhubung dengan besarnya kemungkinan keganasan perlu dilakukan
pemeriksaan yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadang--
kadang perlu diperiksa sediaan yang dibekukan (frozen section) pada saat
operasi, untuk menentukan tindakan selanjutnya pada waktu operasi.1,3

13
Gambar 7 : Kista Ovarium Serosum

1.1.3. Kistadenoma Ovarii Musinosum


Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini mungkin muncul
sebagai tumor unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia mucinosum
dari mesothelium. Tumor mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan
pada penderia yang muda. Paling sering pada wanita berusia antara 20-50
tahun dan jarang sekali pada masa prapubertas. Tumor evarium ini terbanyak
ditemukan bersama-sama dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua
tumor ini merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma
ovarii musinosum nerupakan 40% dari seluruh kelompok neoplasma
ovarium.
Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin, permukaan berbagala
(lobulated) dan umumnya multitokular dan odematosa; lokular yang
mengandung niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya. Kira-kira
10% dapat mencapai ukuran yang amat besar dan pada tumor ini tidak dapat
ditemukan jaringan yang normal lagi. Tumor biasanya unilateral, akan tetapi
dapat juga dijumpai yang bilateral (8-10%).
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabuan terutama apabila
terjadi perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada
permukaan terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat

14
dan berwarna kuning sampai coklat tergantung dari percampurannya dengan
darah.
Pemeriksaan mikroskopik: tampak dinding kista dilapisi oleh epital
torak tinggi dan sel-sel goblet yang terisi lendir. Sel-sel epitel yang terdapat
dalam satu lapisan bersifat odernatus dan mempunyai potensi untuk tumbuh
seperti struktur kelenjar, kelenjar-kelenjar menjadi kista-kista baru, yang
menyebabkan kista menjadi multilokuler. Jika terjadi suatu sobekan pada
dinding kista (spontan ataupun pada saat operasi), maka sel-sel epitel dapat
tersebar pada permukaan peritoneum rongga perut, dan sekresinya
menyebabkan pseudomiksoma peritonei. Akibat pseudorniksoma peritonei
timbul penyakit menahun dengan musin terus bertambah dan menyebabkan
banyak perlengketan. Akhirnya penderita meninggal karena ileus. Pada kista
kadang-kadang ditemukan daerah padat dan pertumbuhan papiler.1,3

1.1.4. Kista Endometroid


Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas sewaktu
haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak terletak dalam
rahim tetapi melekat pada dinding luar ovarium. Akibat peristiwa ini setiap kali
haid, lapisan tersebut menghasilkan darah haid yang akan terus menerus
tertimbun dan menjadi kista. Kista ini bisa 1 pada dua indung telur. Timbul
gejala utama yaitu rasa sakit terutama sewaktu haid/ sexual intercourse. 1,3

Gambar 8 :Kista Endometroid

15
1.1.5. Kista Dermoid
Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium yang kistik,
dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25% dari semua
kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa reproduksi walaupun
dapat ditemukan pada anak kecil. Tumor ini dapat mencapai ukuran sangat
besar, sehingga beratnya mencapai beberapa kilogram.
Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang sempurna saat
pembentukan lapisan embrional. Lapisan ektoderm yang saat dewasa akan
menjadi sel sel folikel rambut, tulang, serta gigi secara tidak sempurna
tumbuh di sekitar ovarium. Kista ini tidak mempunyai ciri yang khas.Dinding
kista kelihatan putih keabuan dan agak tipis.Konsistensi tumor sebagian
kistik kenyal, di bagian lain padat. Dapat ditemukan kulit, rambut kelenjer
sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat
(mesodemal) dan mukosa traktus gasttrointotinelis, epitel saluran kista
terdapat produk kelenjer sebasea berupa massa lembek seperti lemak,
bercampur dengan rambut.
Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri
mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan
dinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum.
Perubahan keganasan dari kista sangat jarang, hanya 1,5% dari semua kista
dermoid dan biasanya pada wanita lewat menopause.1,3

Gambar 9 : Kista Dermoid

16
1.2. Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma.Akan tetapi, ini
tidak berarti bahwa termasuk suatu neoplasma yang ganas, meskipun
semuanya berpotensi maligna. Potensi menjadi ganas sangat berbeda pada
berbagai jenis, umpamanya sangat rendah pada fibroma ovarium dan sangat
tinggi pada teratoma embrional yang padat.1,6

1.2.1. Fibroma ovarii


Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium, kurang dari
1%. Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel
mesenkim yang multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma
ovarium dan paling sering ditemukan pada penderita menopause.
Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg,
dengan 90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah
jambu keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan
apabila lunak disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat
dengan sel-sel di tengah jaringan kolagen. Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar
kistik, maka disebut kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar biasanya
mempunyai tangkai dan dapat terjadi torsi. Pada tumor ini sering ditemukan
sindroma Meigs (tumor ovarii, ascites, hidrotoraks). 1,2,6

1.2.2. Tumor Brenner


Merurupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang
ditemukan, biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause.
Frekuensinya 0,5% dari semua tumor ovarium. Besar tumor ini beraneka ragam,
dari sangat kecil ke yang beratnya beberapa kilogram. Lazimnya tumor ini
unilateral. Pada pembelahan berwarna kuning muda seperti fibroma, dengan
kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor ini temukan sindroma Meigs.
Gambar mikroskopis tumor ini sangat khas, terdiri dari 2 elemen, yakni sarang-
sarang yang terdiri atas epitel epitel, yang dikelilingi jaringan ikat yang luas dan
padat.
Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika masih
kecil, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan histopatologik

17
ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam beberapa kasus tumor ini
menunjukkan keganasan pada histopatologi dan klinisnya.1,2,6

1.2.3. Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor)


Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral dan besarnya
bervariasi antara 0,5-16 cm. Beberapa dari tumor ini menyebabkan gejala
maskulinasi, terdiri atas hirsutisme, pembesaran klitoris, atrofi memmae, dan
perubahan suara.

2.6 Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan
pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri.
Kista ovarium timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus
menstruasi.1
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.4

a. Riwayat kista ovarium sebelumnya


b. Siklus menstruasi yang tidak teratur
c. Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas
d. Menstruasi dini
e. Tingkat kesuburan
f. Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang
g. Terapi tamosifen pada kanker mamma
Sedangkan pada tumor padat, etiologi pasti belum diketahui, diduga akibat
abnormalitas pertumbuhan sel embrional, atau sifat genetis kanker yang
tercetus oleh radikal bebas atau bahan bahan karsinogenik.

2.7. Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan
diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur
akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5-2
cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit,

18
korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif.
Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar
kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.1,6

Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista
fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang
kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh
gonadotropin, termasuk FSH dan HCG.1,2
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin
atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia
tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-
kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, hcg menyebabkan kondisi
yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi
dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene
citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai
dengan pemberian HCG.1,2
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan
tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia
yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh
ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan
sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan
keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas
yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel
granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial.
Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan
germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.Endometrioma
adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada sindroma ovari
pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik
berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram.1,2

19
2.8. Tanda dan Gejala
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala
dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak
spesifik.4,6

Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:

a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering
berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan
nyeri spontan dan sakit diperut.
d. Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut:

a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta organ di dalam rongga perut
c. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan
d. Gangguan buang air besar dan kecil.
e. Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.4

2.9. Diagnosis
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik.
Namun biasanya sangat sulit untuk menemukan kista melalui pemeriksaan
fisik. Maka kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis
kista ovarium. Pemeriksaan yang umum digunakan adalah :
1. Ultrasonografi (USG)
Alat peraba (transducer) digunakan untuk memastikan keberadaan kista,
membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau
padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat
memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.5,6

20
Dari gambaran USG dapat terlihat:

a. Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval) dan
terlihat sangat echolucent dengan dinding yang tipis/tegas/licin, dan di
tepi belakang kista nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding
depannya.
b. Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler
(bersepta-septa).
c. Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal
echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di dalam
kista.

Gambar 11 : Gambaran Kista pada USG

2. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan lab dapat berguna sebagai screening maupun diagnosis
apakah tumor tersebut bersifat jinak atau ganas.Berikut pemeriksaan yang
umum dilakukan untuk mendiagnosis kista ovarium.

 Pemeriksaan Beta-HCG : Pemeriksaan ini digunakan untuk screening


awal apakah wanita tersebut hamil atau tidak. Pemeriksaan ini dapat
menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.
 Pemeriksaan Darah Lengkap : Untuk sebuah penyakit keganasan, dapat
diperkirakan melalui LED. Parameter lain seperti leukosit, HB, HT juga
dapat membantu pemeriksa menilai keadaan pasien.

21
 Urinalisis : Urinalisis penting untuk mencari apakah ada kemungkinan
lain, baik batu saluran kemih, atau infeksi dan untuk menyingkirkan
diagnosis banding.
 Pemeriksaan Tumor Marker : Tumor marker spesifik pada keganasan
ovarium adalah CA125. CEA juga dapat diperiksa, namun CEA kurang
spesifik karena marker ini juga mewakili keganasan kolorektal, uterus dan
ovarium.

3. Pemeriksaan Patologi Anatomi


Merupakan pemeriksaan untuk memastikan tingkat keganasan dari tumor
ovarium. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersama dengan proses
operasi, kemudian sampel difiksasi dan diperiksa dibawah mikroskop.6

2.10. Penatalaksanaan

1. Observasi dan Manajemen Gejala


Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama
1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah
satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas. Apabila
terdapat nyeri, maka dapat diberikan obat-obatan simptomatik seperti penghilang
nyeri NSAID1,2,4
2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan
pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya kista
yang ganas tumbuh dengan cepat dan pasien mengalami penurunan berat badan
yang signifikan. Akan tetapi kepastian suatu kista itu bersifat jinak atau ganas jika
telah dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi setelah dilakukan pengangkatan
kista itu sendiri melalui operasi. Biasanya untuk laparoskopi diperbolehkan pulang
pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi diperbolehkan pulang pada
hari ke-8 atau ke-9.1,2,4
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalui screening USG umumnya
dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala maupun tanpa

22
gejala. Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi anatomi untuk
memastikan keganasan sel dari tumor tersebut.1,2,4,6

Gejala Kehamilan dengan Kista Ovarium


Kebanyakan kista ovarium tidak menunjukan gejala dan tanda. Sebagian
besar gejala dan tanda yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan, aktivitas
hormonal atau komplikasi tumor tersebut. Gejala dan tanda tersebut berupa benjolan
diperut, mungkin ada keluhan rasa berat. Gangguan atau kesulitan defekasi karena
desakan, udem tungkai karena tekanan pada pembuluh balik atau limfa dan rasa
sesak karena desakan diafragma ke kranial.
Bila kista tersebut menghasilkan hormon, kadang ada gangguan hormonal
berupa haid. Mungkin timbul komplikasi berupa ascites, atau gejala sindrom perut
akut, akibatnya putaran tangkai tumor atau gangguan peredaran darah karena
penyebab lain.
Kista ovarium sering dijumpai selama masa kehamilan, dan telah dilaporkan
insiden terjadinya dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dilaporkan oleh The
California Cancer Registry setidaknya 1 : 100 hingga 1 : 2000 kasus kista ovarium
pada kehamilan.
Kebanyakan massa ovarium bersifat asimptomatik selama massa kehamilan.
Beberapa dapat menimbulkan tekanan atau nyeri akut abdomen yang berhubungan
dengan torsi, ruptur dan perdarahan. Kehilangan darah yang signifikan juga cukup
dapat mengakibatkan keadaan hypovolemia. Pada umumnya kista terjadi pada
trimester kedua kehamilan. Dan biasanya ukurannya kurang dari 6 cm dan bertahan
selama masa kehamilan dan dapat sembuh dan hilang secara alami sebelum atau
setelah janin lahir. Namun apabila ukuran kista lebih dari 12 cm, harus segera
ditatalaksana untuk mencegah komplikasi. Untuk kista yang berukuran 5-10cm,
tatalaksananya masih kontroversial dan resiko untuk timbulnya komplikasi dapat
timbul dari ruptur kistanya.
Ketika sebuah kista ovarium menimbulkan gejala nyeri pada abdomen atau
pelvis, nyeri tersebut dapat disebabkan dari :

- Ruptur pada kista


- Pertumbuhan janin dan penarikan

23
- Perdarahan kista
- Torsi atau terpelintirnya kista

Apabila kista telah mencapai ukuran yang besar, gejala-gejala lain dapat timbul
sebagai akibat daripada tekanan atau distorsi dari struktur anatomi sekitarnya.

Kegawatdaruratan kehamilan dengan Kista Ovarium


Wanita hamil dengan kista ovarium biasanya menunjukkan gejala yang
asimptomatik, dengan penampakan kista ovarium dijumpai secara tidak sengaja pada
pemeriksaan ultrasonography pada pemeriksaan rutin janin dan pemeriksaan pelvik.
Beberapa kista ovarium dapat juga disertai gejala-gejala, beberapa ada yang parah,
namun kista ovarium yang ganas umumnya tidak menyebabkan gejala-gejala hingga
mencapai stadium lanjut.
Nyeri dan rasa tidak nyaman dapat dialami pada bagian bawah abdomen.
Torsi (terpuntir) atau ruptur dapat mengakibatkan nyeri yang lebih parah. Rupturnya
kista ovarium dikarakteristikkan sebagai nyeri yang tiba-tiba, unilateral, nyeri pelvis
yang tajam.
Torsi dari ovarium diartikan sebagai rotasi total daripada kista ovarium
disekitar vasskularisasinya dan pembuluh limfatiknya. Torsi ovarium selama
kehamilan dilaporkan sebagai kasus gawat darurat pada bagian obstetrik ginekologi
sebanyak 3% dari total kasus gawat darurat pada bagian obstetrik dan ginekologi
lainnya. Torsi ovarium yang total dapat mengakibatkan sumbatan total daripada
pembuluh vena dan limfatik yang akan menyebabkan kongesti vena, perdarahan dan
nekrosis, akhirnya kista akan tertekan dan ruptur. Umumnya pasien datang dengan
keluhan nyeri akut pada kuadran bawah abdomen dan pada pemeriksaan pelvik akan
tampak massa kistik yang menekan yang terpisah dari uterus.

Komplikasi kehamilan dengan Kista Ovarium


Pada trimester pertama kehamilan, kista ovarium biasanya bersifat fungsional
tanpa komplikasi. Setelah 16 minggu kehamilan, frekuensi dari kista ovarium
dilaporkan sebanyak 0,5-3,0%. Hampir seluruh kista unilokuler dengan diameter <5cm
dan persisten pada trimester kedua dan ketiga tidak diikuti dengan komplikasi dan
tidak bergejala selama kehamilan dan hanya perlu untuk secara rutin diperiksa pada

24
pemeriksaan kehamilan rutin. Jika kista berukuran lebih besar daripada 5-6cm pasien
harus direncanakan pemeriksaan USG secara berkala pada 16 minggu gestasi
karena mempertimbangkan waktu terbaik untuk resolusi kista.
Kista ovarium selama kehamilan diyakini disebabkan oleh stimulasi daripada
sistem hormonal, seperti fetal gonadotropin, estrogen dan hCG plasenta. Beberapa
komplikasi yang mungkin terjadi pada kehamilan dengan kista ovarium :
1.Torsi Ovarium

2. Malpresentasi janin

3. Sumbatan pada jalan lahir

4. Instabilitas hemodinamik

5. Retensi urin

Penatalaksanaan Kehamilan dengan Kista Ovarium

Kista ovarium selama massa kehamilan dapat diklarifikasikan berdasarkan


ukurannya : 5cm (50%), 5-10cm (25%), >10cm (25%). Sebanyak 49% kista ovarium
yang berukuran >5cm dapat sembuh tanpa intervensi. Tindakan operatif abdomen
selama kehamilan dapat menimbulkan komplikasi, termasuk keguguran spontan,
ketuban pecah dini dan persalinan peterm.

Intervensi operatif dianjurkan pada kondisi seperti :

- Dicurigai sebagai suatu keganasan


- Terdapat gejala dari komplikasi akut yang berkembang
- Terdapat kista >5cm yang menetap pada usia kehamilan 16-18 minggu atau
menunjukkan 30-50% peningkatan ukuran selama masa kehamilan

25
PENATALAKSANAAN KISTA OVARIUM DENGAN KEHAMILAN

 Bila kehamilan muda ditemukan kista jinak yang kecil, pengangkatan diundur
(karena corpus luteum yang terletak pada kista terangkat sehingga
menyebabkan keguguran)
 Operasi diundur sampai setelah trimester 1 setelah produksi progesteron
diambil alih oleh plasenta
 Untuk mengurangi terjadinya keguguran :
berikan progesteron 3 hari pre op + 2 hari post op 25 mg/hari IM kemudian
3x10 mg/ per oral selama 7 hari, kemudian dosis dikurangi sedikit- sedikit

 Bila ada keluhan akut, dan keganasan operasi tidak ditunda


 Pertimbangan pengangkatan kista ovarium pada kehamilan tua melihat perlu
diangkat atau tidaknya, besarnya, posisinya, cepat/tidak berkembangnya, dan
tuanya kehamilan.
 Bila ukurannya sedang dan letaknya diatas operasi ditunda sampai setelah
partus.

2.11. Prognosis

Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di
jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Apabila sudah dilakukan operasi,
angka kejadian kista berulang cukup kecil yaitu 13%.
Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan
stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering
ditemukan sudah dalam stadium akhir.1

26
BAB III

ILUSTRASI KASUS

Seorang pasien wanita, 28 tahun , masuk Bangsal Poli kebidanan RST


Reksodiwiryo padang, tgl. 23 Maret 2018, jam 110.00 dengan keluhan

Anamnesa :

 Nyeri perut sebelah kiri semakin meningkat dirasakan sejak satu hari yang
lalu, nyeri perut sudah dirasakan sejak 1 minggu yang lalu hilang timbul
 Mual (-), muntah (-), perut terasa penuh (+)
 Tidak ada demam.
 Terasa ada benjolan diperut sejak satu hari yang lalu
 Tidak ada keluhan keluar darah dari kemaluan.
 Tidak ada riwayat keputihan atau perdarahan paska senggama.
 Pasien sedang hamil anak pertama.
 Tidak haid sejak lebih kurang 3 bulan yang lalu, HPHT : 24/12/17, TP : 1/10/18
 Riwayat menstruasi : menarche usia 13 tahun, teratur setiap bulan, 5- 7 hari,
2-3 kali ganti duk/hari, tidak ada nyeri.
 Gerak anak belum dapat dirasakan.
 RHM : mual (+), muntah (-), perdarahan (-)
 ANC : ke bidan 2x sejak kehamilan 2 bulan, belum pernah ke SpOG
 Buang air besar dan kecil tidak ada keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, hati ginjal, DM atau hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada keluarga yang menderita sakit seperti ini. Tidak ada riwayat penyakit
keturunan, menular atau kejiwaan.

27
Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan :

Riwayat Perkawinan : 1 x bulan Oktober tahun 2017

Riwayat Kehamilan / Abortus / Persalinan : 1/0/0

1. Sekarang

Riwayat imunisasi : tidak ada

Riwayat kontrasepsi : tidak ada

Permeriksaan Fisik :

Keadaan Umum : sedang

Kesadaran : composmentis cooperatif

Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 94 x/menit, teratur

Nafas : 20 x/menit.

Suhu : afebril

Mata : konjunctiva tak anemis, sklera tak ikterik

Leher : JVP 5-2 cmH2O, Kelenjar thyroid tidak membesar.

Thorax :

Jantung : I. ictus cordis tak terlihat

P. ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Pk. Batas jantung normal

A. S1-2, teratur, bising tidak ada.

28
Paru : I. Gerakan kiri dengan kanan sama

P. Fremitus kiri sama dengan kanan


Pk. Sonor

A. vesikuler normal, ronkhi dan wheezing tidak ada.

Abdomen : Status Obstetri dan Ginekologi

Genitalia : Status Ginekologi.

Ekstremitas : edema tidak ada, refleks fisiologis normal, refleks patologis tidak
ada.

29
Status Obstetri :

Abdomen : I : tampak sedikit membuncit.

P : Supel, teraba massa sebesar kepala bayi diregio kiri bawah,


permukaan rata, konsistensi kistik, dapat digerakkan,

NT (+), NL(-), DM (-)

Teraba FUT setinggi 3 jari diatas simpisi pubis ,Ballotement (+)

Pe : tympani.

Au :Bising usus (+) normal.

Genitalia : I. V/U tenang, PPV (-)

Pemeriksaan Penunjang :

Laboratorium :

Hemoglobin : 10,2 gr%

Leukosit : 5400 /mm3

Trombosit : 296.000 /mm3

Waktu perdarahan : 2’30’’

Waktu pembekuan : 4’15’’

SGOT : 16 U/L

SGPT : 6 U/L

Ureum : 12 U/L

Kreatinin : 0,6 U/L

Gula darah sewaktu : 89 mg%

30
Hasil USG :

Tampak gambaran hipoechoic ukuran 17,6cm x 17,0 cm

Janin hidup tunggal intra uterin

Aktivitas gerak janin baik

CRL uk : 67,6mm

FHM (+)

Kesan : Kista ovarium sinistra ukuran 17,6cm x 17,0cm

Gravid 13-14 minggu, janin hidup tunggal intra uterine.

31
Diagnosa : Akut abdomen ec Suspek Kista Ovarium Terpuntir pada G1P0A0H0

Gravid 13 – 14 minggu

Janin hidup tunggal intrauterin

Sikap : Kontrol keadaan umum, tanda vital

Crossmatch PRC 2 unit

Cygest 800mg 1 jam pre op

Persiapan laparotomi

Rencana : Laparotomi

Jam 15.00 WIB dilakukan Laparotomi

Setelah peritoneum dibuka, dilakukan eksplorasi tampak adanya massa kistik dari
adnekssa kiri sebesar kepala bayi yang terpuntir 2x berwarna merah kecoklatan .
Uterus tampak membesar sesuai kehamilan 13-14 minggu.

Kesan : kista ovarium sinistra terpuntir

Dilakukan salphingoophorektomi sinistra

Kista ovarium kiri di PA kan, dengan hasil PA ( benign cystic teratoma )

Diagnosa : Post Salphingoophorektomi sinistra ai kista ovarium terpuntir pada


G1P0A0H0 gravid 13-14 minggu

Janin hidup tunggal intrauterin

Tatalaksana :

 observasi KU, VS, PPV


 IVFD RL 20 gtt
 Inj. Ceftriaxone 2x1 gr (IV)
 Cygest 800mg/rektal/12 jam
 Pronalges Supp K/P

32
33
BAB IV

DISKUSI

Telah dilaporkan pasien 28 tahun dengan diagnosis akut abdomen ec suspek kista
ovarium terpuntir pada G1P0A0H0 gravid 13-14 minggu.Janin hidup tunggal
intrauterin . Setelah dilakukan pemeriksaan, pasien dilakukan laparotomi.

Ada beberapa permasalahan yang akan didiskusikan:

1. Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?


2. Apakah tindakan laparotomi sudah tepat pada pasien ini?

1. Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?

Pasien datang ke poliklinik kebidanan dengan keluhan nyeri perut kiri bawah
hilang timbul sejak 1 minggu yang lalu dan semakin meningkat sejak 1 hari yang lalu.
Demam tidak ada, mual ada, muntah tidak ada. Pasien sedang hamil anak pertama.
Tidak haid sejak 3 bulan yang lalu dari HPHT. Pasien control kehamilan kebidan 2x,
belum pernah kontrol dan USG ke SpOG.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan vital sign dalam batas normal. Pada
pemeriksaan abdomen, pada inspeksi didapatkan perut tampak sedikit membuncit.
Pada pemeriksaan palpasi didapatkan FUT setinggi 3 jari diatas simpisis pubis,
ballottement (+), teraba massa kistik di kuadran kiri bawah, NT(+), NL(-),DM(-). Pada
pemeriksaan genitalia tidak didapatkan perdarahan pervaginam. Pada hasil
laboratorium didapatkan hasil dalam batas normal. Pada pemeriksaan USG
ditemukan kesan gravid 13-14 minggu sesuai biometri dan suatu gambaran kista
ovarium sinistra ukuran 17,6cm x 17,0cm . Pemikiran kearah suatu torsi kista ovarium
atau terpuntir ditegakkan berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik dan penunjang.

Kemudian pasien didiagnosis dengan akut abdomen ec suspek kista ovarium terpuntir
pada G1P0A0H0 gravid 13-14 minggu. Diagnosis pada pasien ini sudah tepat
berdasarkan temuan anamnesa, pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang.

34
2.Apakah tindakan laparotomi sudah tepat pada pasien ini?

Pada pasien ini dilakukan tindakan laparotomi emergensi dan ditemukan


adanya kista ovarium kiri sebesar kepala bayi yang berwarna merah kecoklatan yang
terpuntir, kemudian dilakukan tindakan salphingooophorektomi sinistra. Tindakan
pembedahan pada pasien ini merupakan tindakan yang tepat, karena kasus ini
merupakan suatu kasus emergensi, yang bila tidak ditangani secara cepat, dapat
menimbulkan komplikasi yang berbahaya.

Kista berdiameter kurang dari 6 cm dan tampak jinak pada ultrasound


umumnya diperlakukan secara konservatif karena dapat mengalami resolusi spontan.
Kista luteal Corpus mengecil hingga 12 hingga 16 minggu. Kista berukuran lebih dari
10 cm biasanya direseksi karena peningkatan risiko keganasan, ruptur atau torsi.
Penatalaksanaan kista antara 5 hingga 10 cm masih kontroversial. Jika kista
mengandung septae, nodul, papillary excrescences atau komponen padat maka
reseksi dianjurkan. Dengan penampilan kistik sederhana dapat dikelola dengan penuh
harapan dengan pengawasan USG serial. Namun mungkin memerlukan laparotomi
eksplorasi darurat untuk kista pecah, terpuntir atau infark sebanyak 50% kasus.
Dengan munculnya teknik pencitraan seperti ultrasound resolusi tinggi, MRI dan
Doppler warna transvaginal, manajemen yang diharapkan menjadi jauh lebih umum.

Jika kista ovarium didiagnosis pada trimester pertama, lebih baik menunggu
hingga 16 minggu ketika implantasi kehamilan lebih aman dan juga kista dapat
menghilang secara spontan. Tumor persisten diterapi dengan kistektomi atau
ovorektomi seperti yang diindikasikan. Tumor atau kista ovarium dapat dengan mudah
diangkat hingga 28 minggu setelah kehamilan tidak mudah dijangkau dan dapat
memicu persalinan prematur. Kista indung telur yang pecah, atau mengalami torsi
atau jika menunjukkan bukti keganasan, membutuhkan pembedahan segera, terlepas
dari periode kehamilan.

Kistektomi sederhana dapat dilakukan tanpa adanya keganasan yang jelas.


Sebelumnya melepas puntiran dari pedikel dihindari untuk mencegah emboli dan zat
beracun yang berhubungan dengan hipoksia, dari memasuki sirkulasi perifer. Tetapi
baru-baru ini, mengembalikan sirkulasi ovarium dengan melepas puntiran kista

35
ovarium , telah terbukti menghasilkan jaringan ovarium yang baik tanpa komplikasi
sistemik .

Abortus tampaknya sangat jarang terjadi dan suplementasi progesteron pasca


operasi dianjurkan ketika korpus luteum dihilangkan sebelum 7 sampai 9 minggu
kehamilan.

36
BAB V

KESIMPULAN

1. Kista terpuntir adalah suatu diagnosis yang memerlukan tindakan operasi segera
dan dapat terjadi selama kehamilan.
2. Teknik bedah harus dipertimbangkan dalam pengembangan torsi adneksa tanpa
memandang usia gestasional.

37
Daftar Pustaka

1. Born C, Wirth S, Sta¨ bler A, Reiser M. Diagnosis of adnexaltorsion in the


third trimester of pregnancy: a case report. Abdom Imaging 2004;29:123–7.
http://dx.doi.org/10.1007/s00261-003-0079-.

2. Mancuso A, Broccio G, Angio LG, Pirri V. Adnexal torsion in pregnancy. Acta


ObstetGynecol Scand 1997;76:834
http://dx.doi.org/10.3109/00016349709047791.

3. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 4, editor : Saifuddin A.B,dkk.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2008;13-14

4 Medscape Reference, Ovarium Anatomy, Available at


http://emedicine.medscape.com/article/1949171-overview#aw2aab6b3, Last
Update October 3, 2013. Accessed on April 23, 2014.

5. Medscape Reference, Ovarian


Cysthttp://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#a0101, Last
Update August 19, 2013. Accessed on April 23, 2014.

6. Schorge et al. William’s Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic Oncology


Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills..2008

7. Jim Baum. Ovarian Pathology. Illustrated Review of obgyn sonography.


Tersedia dalam http://prosono.ieasysite.com/2.2_gyn_pathology_ovary.pdf
8. Yen CF, Lin SL, Murk W, Wang CJ, Lee CL, Soong YK, Arici A. Risk analysis
of torsion and malignancy for adnexal mases during pregnancy. Fertil
Steril. 2009;91(5):1895–902. doi:
10.1016/j.fertnstert.2008.02.014. [PubMed] [Cross Ref]

38