Anda di halaman 1dari 16

makalah etika profesi hukum

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hukum merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat

manusia sehingga di dalam masyarakat selalu ada sistem hukum, ada masyarakat ada

norma hukum (ubi societas ibi ius). Hal tersebut dimaksudkan oleh Cicero bahwa tata

hukum harus mengacu pada penghormatan dan perlindungan bagi keluhuran martabat

manusia. Hukum berupaya menjaga dan mengatur keseimbangan antara kepentingan atau

hasrat individu yang egoistis dan kepentingan bersama agar tidak terjadi konflik.

Kehadiran hukum justru mau menegakkan keseimbangan perlakuan antara hak

perorangan dan hak bersama. Oleh karena itu, secara hakiki hukum haruslah pasti dan

adil sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Hal tersebut menunjukkan pada

hakikatnya para penegak hukum (hakim, jaksa, Notaris, Advokat, dan polisi) adalah

pembela kebenaran dan keadilan sehingga para penegak hukum harus menjalankan

dengan itikad baik dan ikhlas, sehingga profesi hukum merupakan profesi terhormat dan

luhur (officium nobile). Oleh karena itu mulia dan terhormat, profesional hukum sudah

semestinya merasakan profesi ini sebagai pilihan dan sekaligus panggilan hidupnya untuk

melayani sesama di bidang hukum.

Kewenangan hukum adalah hak seorang individu untuk melakukan sesuatu tindakan

dengan batas-batas tertentu dan diakui oleh individu lain dalam suatu kelompok tertentu.

Penegak hukum mempunyai batas kewenangan profesi hukum seperti batas kewenangan

notaris, jaksa, advokat dan lain-lain.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah sebagai berikut:


1. Apa pengertian profesi dan profesi hukum?

2. Bagaimana ruang lingkup hak dan kewajiban profesi hukum?

3. Sampai di mana batas kewenangan profesi hukum?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian profesi dan profesi hukum


Dalam kamus besar bahasa Indonesia di jelaskan pengertian profesi adalah bidang

pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian ( keterampilan, kejujuran dan sebagainya )

tertentu.

Sejalan dengan pengertian profesi diatas, Habeyb menyatakan bahwa profesi adalah

pekerjaan dengan keahlian khusus sebagai mata pencarian. Sementara itu menurut

Kamaruddin, profesi ialah suatu jenis pekerjaan yang karena sifatnya menuntut

pengetahuan yang tinggi, khusus dan latihan yang istimewa.1[1]

Menurut Frans Magnis Suseno, profesi itu harus dibedakan dalam dua jenis, yaitu
profesi pada umumnya dan profesi luhur. Profesi pada umumnya, paling tidak ada dua

prinsip yang wajib ditegakkan yaitu:

1. Prinsip agar menjalankan profesinya secara bertanggung jawab; dan

2. Hormat terhadap hak-hak orang lain.

Dalam profesi yang luhur motifasi utamanya untuk memperoleh nafkah dari

pekerjaan yang dilakukannya, disamping itu juga terdapat dua prinsip yang penting,

yaitu:

a. Mendahulukan kepentingan orang yang di bantu; dan

b. Mengabdi pada tuntutan luhur profesi.2[2]

Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk

menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

Profesi hukum merupakan salah satu dari sekian profesi lain, misalnya profesi

dokter, profesi teknik, dn lain-lain. Profesi hukum mempunyai ciri tersendiri, karena

profesi ini sangat bersentuhan langsung dengan kepentingan manusia yang lazim disebut

dengan klien. Profesi hukum mempunyai keterkaitan dengan bidang-bidang hukum yang

1
2
terdapat dalam negara kesatuan Repoblik Indonesia, misalnya kehakiman, kejaksaan,

kepolisian, mahkamah agung, serta mahkamah konstitusi.3[3]

Profesi adalah pekerjaan tetap bidang tertentu berdasarkan keahlian khusus yang

dilakukan secara bertanggung jawab dengan tujuan memperoleh penghasilan.4[4]

Profesi hukum adalah profesi untuk mewujudkan ketertiban berkeadilan yang

memungkinkan manusia dapat menjalani kehidupannya secara wajar (tidak perlu

tergantung pada kekuatan fisik maupun finansial). Hal ini dikarenakan Ketertiban

berkeadilan adalah kebutuhan dasar manusia, dan Keadilan merupakan Nilai dan
keutamaan yang paling luhur serta merupakan unsur esensial dan martabat manusia.

B. Ruang Lingkup Hak dan Kewajiban Profesi Hukum

Ruang Lingkup Etika Profesi Hukum adalah Untuk melaksanakan suatu fungsi,

pada semua ini dalam setiap bidang pada dasarnya terdapat beberapa unsur pokok, yaitu :

Tugas, yang merupakan kewajiban dan kewenangan. Aparat, orang yang melaksanakan

tugas tersebut. Lembaga, yang merupakan tempat atau wadah yang dilengkapi dengan

sarana dan prasarana bagi aparat yang akan melaksanakan tugasnya. Bagi seorang aparat,

mendapatkan tugas merupakan mendapatkan kepercayaan untuk dapat mengemban tugas

dengan baik dan harus dikerjakan dengan sebaiknya. Untuk mengerjakan tugas tersebut

akan terkandung sebuah tanggung jawab dalam melaksanakan dan mengerjakan tugas

tersebut.

Tanggung jawab dapat dibedakan menjadi 3 hal yakni : moral, tehnis profesi dan

hukum. Tanggung jawab hukum merupakan tanggung jawab yang menjadi beban aparat

untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan rambu-rambu hukum yang telah ada, dan

wujud dari pertanggung jawaban ini merupakan sebuah sanksi. Sementara itu tanggung

jawab moral merupakan tanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma yang

berlaku dalam lingkungan kehidupan yang bersangkutan (kode etik profersi). Pada

3
4
dasarnya tuhan menciptakan manusia tidaklah sendiri diperlukannya berinteraksi dan

bekerjasama dengan oranglain dalam melakukan tugasnya. Namun dalam menjalankan

tugasnya sering kali manusia harus berbenturan dengan satu samalain. Dalam hal ini

dibutuhkan sebuah pranata sosial berupa aturan-aturan hukum. hukum melalui peradilan

akan memberikan prelindungan hak, terhadap serangan atas kehormatan dan harga diri

serta memulihkan hak yang terampas.

Pengembangan profesi termasuk profesi hukum sebenarnya tergantung dari pribadi

yang bersangkutan karena mereka secara pribadi mempunyai tanggung jawab penuh atas
mutu pelayanan profesinya dan harus secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan warga

masyarakat yang memerlukan pelayanan dalam bidang hukum, untuk itu tentunya

memerlukan keahlian yang berkeilmuan serta dapat dipercaya.

Pemenuhan nilai-nilai yang terkandung dalam etika profesi berupa kesediaan

memberikan pelayanan profesional dibidang hukum terhadap masyarakat dengan

keterlibatan penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas

yang berupa kewajiban terhadap masyarakat yang membutuhkan pelayanan hukum yang

diserta refleksi yang seksama merupakan wujud dari kewajiban profesi.

Didalam kewajiban hukum sendiri, kepentingan tidak semata mata pada

kesadaran terhadap kewajiban untuk taat pada ketentuan undang-undang saja, tetapi juga

kepada hokum yang tidak tertulis. Bahkan kesadaran akan kewajiban hokum ini sering

timbul dari kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang nyata.

Kewajiban hukum dan kewajiban profesi terletak pada kesadaran akan kewajiban

pada orang lain, yaitu mengingat, memperhatikan, dan menghormati serta tidak

merugikan kepentingan orang lain tanpa mengabaikan kepentingan sendiri atau organisasi

profesinya.5[5]

Contoh kewajiban Profesi hukum yaitu profesi Notaris, kewajiban notaris

menurut UUJN (pasal 16) adalah

5
a. Bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang

terkait dalam perbuatan hukum.

b. Membuat akta dalam bentuk minuta akta dan menyimpannya sebagai bagian dari

protokol notaris, dan notaris menjamin kebenarannya. Notaris tidak wajib menyimpan

minuta akta apabila akta dibuat dalam bentuk akta originali.

c. Mengeluarkan grosse akta, salinan akta dan kutipan akta berdasarkan minuta akta.

d. Wajib memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam UUJN, kecuali ada alasan

untuk menolaknya. Yang dimaksud dengan alasan menolaknya adalah alasan: yang
membuat notaris berpihak, yang membuat notaris mendapat keuntungan dari isi akta,

Notaris memiliki hubungan darah dengan para pihak, akta yang dimintakan para pihak

melanggar asusila atau moral.6[6]

C. Batas Kewenangan Profesi Hukum

Pengertian kewenangan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah

kekuasaan membuat keputusan memerintah dan melimpahkan tanggung jawab kepada

orang lain. Berbicara kewenangan memang menarik, karena secara alamia manusia

sebagai mahluk social memiliki keinginan untuk diakui ekstensinya sekecil apapun dalam

suatu komunitasnya,dan salah satu factor yang mendukung keberadaan ekstensi tersebut

adalah memiliki kewenangan.

Secara pengertian bebas kewenangan adalah hak seorang individu untuk melakukan

sesuatu tindakan dengan batas-batas tertentu dan diakui oleh individu lain dalam suatu

kelompok tertentu.

Adapun batas kewenangan profesi hukum, di antaranya adalah :

1. Batas kewenangan profesi Notaris

Kewenangan notaris tersebut dalam Pasal 15 dari ayat (1) sampai dengan ayat (3)

UUJN, yang dapat dibagi menjadi ( Habib Adjie, 2008 : 78) :

a. Kewenangan Umum Notaris.

6
b. Kewenangan Khusus Notaris.

c. Kewenangan notaris yang akan ditentukan kemudian.

Kewenangan Umum Notaris

Pasal 15 ayat (1) UUJN menegaskan bahwa salah satu kewenangan notaris yaitu

membuat akta secara umum. Hal ini dapat disebut sebagai Kewenangan Umum Notaris

dengan batasan sepanjang :

1. Tidak dikecualikan kepada pejabat lain yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

2. Menyangkut akta yang harus dibuat adalah akta otentik mengenai semua
perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan hukum untuk

dibuat atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.

3. Mengenai kepentingan subjek hukumnya yaitu harus jelas untuk kepentingan

siapa suatu akta itu dibuat.

Namun, ada juga beberapa akta otentik yang merupakan wewenang notaris dan juga

menjadi wewenang pejabat atau instansi lain, yaitu (Habib Adjie, 2008 : 79) :

a. Akta pengakuan anak di luar kawin (Pasal 281 BW),

b. Akta berita acara tentang kelalaian pejabat penyimpan hipotik (Pasal 1227 BW),

c. Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan konsinyasi (Pasal 1405, 1406

BW),

d. Akta protes wesel dan cek (Pasal 143 dan 218 WvK),

e. Surat kuasa membebankan Hak Tanggungan (Pasal 15 ayat [1] UU No.4 Tahun 1996),

f. Membuat akta risalah lelang.

Berdasarkan wewenang yang ada pada notaris sebagaimana tersebut dalam Pasal 15

UUJN dan kekuatan pembuktian dari akta notaris, maka ada 2 hal yang dapat kita

pahami, yaitu :
1. Notaris dalam tugas jabatannya memformulasikan keinginan/tindakan para pihak

ke dalam akta otentik, dengan memperhatikan aturan hukum yang berlaku.

2. Akta notaris sebagai akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang

sempurna, sehingga tidak perlu dibuktikan atau ditambah dengan alat bukti yang

lainnya. Jika misalnya ada pihak yang menyatakan bahwa akta tersebut tidak

benar, maka pihak yang menyatakan tidak benar inilah yang wajib membuktikan

pernyataannya sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kewenangan Khusus Notaris


Kewenangan notaris ini dapat dilihat dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN yang mengatur

mengenai kewenangan khusus notaris untuk melakukan tindakan hukum tertentu,

seperti :

a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan

dengan mendaftarkannya di dalam suatu buku khusus.

b. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftarkannya dalam suatu buku

khusus.

c. Membuat salinan (copy) asli dari surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang

memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.

d. Melakukan pengesahan kecocokan antara fotokopi dengan surat aslinya .

e. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta.

f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan, atau

g. Membuat akta risalah lelang

Khusus mengenai nomor 6 (membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan)

banyak mendapat sorotan dari kalangan ahli hukum Indonesia dan para notaris itu sendiri.

Karena itulah akan sedikit dibahas mengenai masalah ini.


Pasal 15 ayat (2) huruf j UUJN memberikan kewenangan kepada notaris untuk membuat

akta di bidang pertanahan. Ada tiga penafsiran dari pasal tersebut (Habib Adjie, 2008 :

84) yaitu:

1. Notaris telah mengambil alih semua wewenang PPAT menjadi wewenang notaris

atau telah menambah wewenang notaris.

2. Bidang pertanahan juga ikut menjadi wewenang notaris.

3. Tidak ada pengambil alihan wewenang dari PPAT ataupun dari notaris, karena

baik PPAT maupun notaris telah mempunyai wewenang sendiri-sendiri.

Jika kita melihat dari sejarah diadakannya notaris dan PPAT itu sendiri maka akan

nampak bahwa memang notaris tidak berwenang untuk membuat akta di bidang

pertanahan. PPAT telah dikenal sejak sebelum kedatangan bangsa penjajah di negeri

Indonesia ini, dengan berdasar pada hukum adat murni yang masih belum diintervensi

oleh hukum-hukum asing. Pada masa itu dikenal adanya (sejenis) pejabat yang bertugas

untuk mengalihkan hak atas tanah di mana inilah yang merupakan cikal bakal dari

keberadaan PPAT di Indonesia. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa lembaga PPAT

yang kemudian lahir hanya merupakan kristalisasi dari pejabat yang mengalihkan hak

atas tanah dalam hukum adat. Adapun mengenai keberadaan notaris di Indonesia yang

dimulai pada saat zaman penjajahan Belanda ternyata sejak awal memang hanya

memiliki kewenangan yang terbatas dan sama sekali tidak disebutkan mengenai

kewenangan notaris untuk membuat akta di bidang pertanahan.

Namun, hal ini akan menjadi riskan jika kita melihat hierarki peraturan yang mengatur

mengenai keberadaan dan wewenang kedua pejabat negara ini. Keberadaan notaris

ditegaskan dalam suatu UU yang di dalamnya menyebutkan bahwa seorang notaris

memiliki kewenangan untuk membuat akta di bidang pertanahan. Sedangkan keberadaan

PPAT diatur dalam suatu PP (No.37 Tahun 1998) yang secara hierarki tingkatannya lebih
rendah jika dibandingkan dengan UU (No.30 Tahun 2004) yang mengatur keberadaan

dan wewenang notaris.

Sampai sekarang pun hal ini masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan baik pakar

hukum maupun notaris dan/atau PPAT itu sendiri. Jalan tengah yang dapat diambil adalah

bahwa notaris juga dapat memiliki wewenang di bidang pertanahan sepanjang bukan

wewenang yang telah ada pada PPAT.

Kewenangan Notaris Yang Akan Ditentukan Kemudian

Yang dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) UUJN dengan kewenangan yang akan
ditentukan kemudian adalah wewenang yang berdasarkan aturan hukum lain yang akan

datang kemudian (ius constituendum) (Habib Adjie, 2008 : 82). Wewenang notaris yang

akan ditentukan kemudian, merupakan wewenang yang akan ditentukan berdasarkan

peraturan perundang-undangan. Batasan mengenai apa yang dimaksud dengan peraturan

perundang-undangan ini dapat dilihat dalam Pasal 1 angka 2 UU no. 5 Tahun 1986 tetang

Peradilan Tata Usaha Negara (Habib Adjie, 2008 : 83), bahwa : Yang dimaksud dengan

peraturan perundang-undangan dalam undang-undang ini ialah semua peraturan yang

bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh Badan Perwakilan Rakyat

Bersama Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, serta semua

keputusan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di tingkat pusat maupun tingkat

daerah, yang juga mengikat secara umum.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa kewenangan notaris yang akan ditentukan

kemudian tersebut adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga

negara (Pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat) atau Pejabat Negara yang

berwenang dan mengikat secara umum. Dengan batasan seperti ini, maka peraturan

perundang-undangan yang dimaksud harus dalam bentuk undang-undang dan bukan di

bawah undang-undang.7[7]

2. Batas kewenangan Profesi Jaksa

7
Kewenangan jaksa menurut pasal 30 ayat 1-3 UU 16/2004 adalah sebagai berikut:

a. Pidana

b. Perdata dan tata usaha negara

c. Ketertiban dan ketentraman rakyat

Adapun kewenangan Jaksa dibidang pidana adalah sebagai berikut:

1. Melakukan penuntutan.

2. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan inkracht.

3. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, pengawasan,


dan lepas bersyarat.

4. Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan UU.

5. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan

tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan.

Kewenangan Jaksa dibidang perdata dan tata usaha negara adalah Dengan kuasa

khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama

negara atau pemerintah.

Kewenangan Jaksa di bidang ketertiban dan ketentraman rakyat adalah sebagai

berikut:

a. Peningkatan kesadaran hukum masyarakat

b. Pengamanan kebijakan penegakkan hukum

c. Pengawasan peredaran barang cetakan

d. Pengawasan kepercayaan yg dapat membahayakan masyarakat & negara

e. Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama

f. Penelitian dan pengembangan hukum serta statik kriminal8[8]

3. Batas Kewenangan Profesi Advokat

8
Problematika secara sosiologis keberadaan advokat di tengah-tengah masyarakat

seperti buah simalakama. Fakta yang tidak terbantahkan adalah keberadaan advokat

sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang tersandung perkara

hukum. Tetapi ada juga sebagian masyarakat menilai bahwa keberadan advokat dalam

sistem penegakan hukum tidak diperlukan, penelitian negatif ini tidak terlepas dari sepak

terjang dari advokat sendiri yang kadang kala menjalankan tugas dan fungsinya sebagai

aparat penegak hukum tidak sesuai dengan harapan dan yang paling disayangkan adalah

sebagian kecil advokat menjadi bagian dari mafia peradilan.


Kedudukan advokat dalam sistem penegakan hukum sebagai penegak hukum dan

profesi terhormat. Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya advokat seharusnya

dilengkapi oleh kewenangan sama dengan halnya dengan penegak hukum lain seperti

polisi, jaksa dan hakim. Kewenangan advokat dalam sistem penegakan hukum menjadi

sangat penting guna menjaga keindependensian advokat dalam menjalanakan profesinya

dan juga menghindari adanya kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh penegak

hukum yang lain.

Aparat penegak hukum seperti hakim, jaksa dan polisi dalam menjalankan tugas dan

fungsinya diberikan kewenangan tetapi Advokat dalam menjalankan profesinya tidak

diberikan kewenangan. Melihat kenyataan tersebut maka diperlukan pemberian

kewenangan kepada advokat. Kewenangan tersebut diperlukan selain untuk menciptakan

kesejajaran diantara aparat penegak hukum juga untuk menghindari adanya multi tafsir

diantara aparat penegak hukum yang lain dan kalangan advokat itu sendiri terkait dengan

kewenangan. Sementara UU No. 18/2003 tentang Advokat tidak mengatur tentang

kewenangan Advokat di dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai aparat penegak

hukum. Dengan demikian maka terjadi kekosongan norma hukum terkait dengan

kewenangan Advokat tersebut. Perlu diketahui bahwa profesi advokat adalah merupakan

organ negara yang menjalankan fungsi negara.


Dengan demikian maka profesi Advokat sama dengan Kepolisian, Kejaksaan dan

Kehakiman sebagai organ negara yang menjalankan fungsi negara. Bedanya adalah kalau

Advokat adalah lembaga privat yang berfungsi publik sedangkan Kepolisian, Kejaksaan

dan Kehakiman adalah lembaga publik. Jika Advokat dalam menjalankan fungsi dan

tugasnya diberikan kewenangan dalam statusnya sebagai aparat penegak hukum maka

kedudukannya sejajar dengan aparat penegak hukum yang lain. Dengan kesejajaran

tersebut akan tercipta keseimbangan dalam rangka menciptakan sistem penegakan hukum

yang lebih baik.


Kewenagan Advokat dari Segi Kekuasaan Yudisial Advokat dalam sistem kekuasaan

yudisial ditempatkan untuk menjaga dan mewakili masyarakat. Sedangkan hakim, jaksa,

dan polisi ditempatkan untuk mewakili kepentingan negara. Pada posisi seperti ini

kedudukan, fungsi dan peran advokat sangat penting, terutama di dalam menjaga

keseimbangan diantara kepentingan negara dan masyarakat. Ada dua fungsi Advokat

terhadap keadilan yang perlu mendapat perhatian. Yaitu pertama kepentingan, mewakili

klien untuk menegakkan keadilan, dan peran advokat penting bagi klien yang

diwakilinya. Kedua, membantu klien, seseorang Advokat mempertahankan legitimasi

sistem peradilan dan fungsi Advokat. Selain kedua fungsi Advokat tersebut yang tidak

kalah pentingnya, yaitu bagaimana Advokat dapat memberikan pencerahan di bidang

hukum di masyarakat. Pencerahan tersebut bisa dilakukan dengan cara memberikan

penyuluhan hukum, sosialisasi berbagai peraturan perundang-undangan, konsultasi

hukum kepada masyarakat baik melalui media cetak, elektronik maupun secara langsung.

Fakta yang tidak terbantahkan bahwa keberadaan Advokat sangat dibutuhkan oleh

masyarakat, khususnya masyarakat yang tersandung perkara hukum, untuk menunjang

eksistensi Advokat dalam menjalankan fungsi dan tugasnya dalam sistem penegakan

hukum, maka diperlukan kewenangan yang harus diberikan kepada Advokat.

Kewenangan Advokat tersebut diperlukan dalam rangka menghindari tindakan

kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum yang lain (Hakim,
Jaksa, Polisi) dan juga dapat memberikan batasan kewenangan yang jelas terhadap

advokat dalam menjalankan profesinya. Dalam praktik seringkali keberadaan Advokat

dalam menjalankan profesinya seringkali dinigasikan (diabaikan) oleh aparat penegak

hukum. Hal ini mengakibatkan kedudukan advokat tidak sejajar dengan aparat penegak

hukum yang lain.

Dari kondisi itu tampak urgensi adanya kewenangan advokat didalam menjalankan

fungsi dan tugasnya dalam sistem penegak hukum. Kewenangan advokat tersebut

diberikan untuk mendukung terlaksananya penegakan hukum secara baik.9[9]

9
BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

1. Pengertian profesi dan profesi hukum

Profesi adalah pekerjaan tetap bidang tertentu berdasarkan keahlian khusus yang
dilakukan secara bertanggung jawab dengan tujuan memperoleh penghasilan.

Profesi hukum adalah profesi untuk mewujudkan ketertiban berkeadilan yang

memungkinkan manusia dapat menjalani kehidupannya secara wajar (tidak perlu

tergantung pada kekuatan fisik maupun finansial). Hal ini dikarenakan Ketertiban

berkeadilan adalah kebutuhan dasar manusia, dan Keadilan merupakan Nilai dan

keutamaan yang paling luhur serta merupakan unsur esensial dan martabat manusia.

2. Ruang lingkup hak dan kewajiban profesi hukum

Kewajiban hukum dan kewajiban profesi terletak pada kesadaran akan kewajiban

pada orang lain, yaitu mengingat, memperhatikan, dan menghormati serta tidak

merugikan kepentingan orang lain tanpa mengabaikan kepentingan sendiri atau organisasi

profesinya

3. Batas Kewenangan Profesi Hukum

Menjelaskan kewenangan profesi hukum diantaranya batas kewenangan notaris,

jaksa, dan advokat.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari kesempurnaan

oleh sebab itu Kritik dan Saran yang membangun semangat, kami harapkan demi

kesempurnaan makalah kami.


DAFTAR PUSTAKA
Supriadi, Etika dan Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia ( Cet. I; Jakarta:
Sinar Grafika, 2006 ), h. 16.
Sufirman Rahman dan Qamar Nurul, Etika Profesi Hukum ( Cet. I; Makassar:
Pustaka Refleksi, 2014 ), h. 76-77.
Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum ( Cet. III., Bandung: PT Citra
Aditya Bakti, 2006), h. 74.
http://grupsyariah.blogspot.com/2012/04/hak-dan-kewajiban-etika-profesi-
hukum.html
https://zulpiero.wordpress.com/2010/04/26/kewenangan-kewajiban-dan-larangan-
notaris-dalam-uujn/
http://catatanpenailahi.blogspot.com/2014/10/makalah-etika-profesi-hukum-
tentang.html