Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH BAKTERIOLOGI MEDIK

“Pseudomonas aeruginosa”

Disusun oleh:
Rizki Insyani Putri ( 163-069)

JURUSAN S1 BIOLOGI MEDIK FAKULTAS BIOLOGI

UNIVERSITAS NASIONAL

JAKARTA

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


“Persyaratan utama setiap rumah sakit ialah tidak membahayakan pasien“, kata
Florence Nightingale. Ternyata, pasien dalam menjalani perawatan di rumah sakit dapat
terinfeksi oleh mikroorganisme yang bersifat patogen. Istilah bagi infeksi ini yaitu penyakit
nosokomial yang telah dikenal sekitar tahun 1960-an. Pada abad ke-18, pencegahan
tersebarnya penyakit dalam masyarakat, orang sakit akan dikucilkan di rumahsakit demam,
rumah sakit cacar, sanatorium tuberkulosis, atau “rumah hama”. Rumahsakit ini merupakan
bangsal yang luas dan penuh sesak, pasien saling berdesakan sehingga infeksi mudah menjalar
dari satu pasien ke pasien yang lain.
Pelopor perbaikan rumah sakit, Sir James Y. Simpson mengatakan bahwa di dalam
mengobati orang sakit, maka akan berbahaya bila mereka dikumpulkan dan dapat diselamatkan
bila mereka saling dipisahkan. Hal ini disebabkan adanya infeksi nosokomial. Nosokomial
berasal dari kata Yunani berarti “di rumah sakit”. Jadi, infeksi nosokomial adalah infeksi yang
diperoleh selama dalam perawatan di rumah sakit.
Salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial yaitu Pseudomonas
aeruginosa. P. aeruginosa disebut patogen oportunistik, yaitu memanfaatkan kerusakan pada
mekanisme pertahanan inang untuk memulai suatu infeksi. Spesies Pseudomonas tersebar
luas di tanah dan di dalam air, tumbuhan dan hewan. Pseudomonas aeruginosa bersifat invasif
dan toksigenik, menimbulkan infeksi pada penderita bila fungsi pertahanan host abnormal,
dan merupakan patogen nosokomial yang penting. Kelompok Pseudomonas adalah batang
gram-negatif, motil dan aerob; beberapa diantaranya menghasilkan pigmen yang larut
dalam air. Bakteri ini dapat tinggal pada manusia yang normal, dan berlaku sebagai saprofit
pada usus normal dan pada kulit manusia. Tetapi, infeksi P.aeruginosa menjadi problema
serius pada pasien rumah sakit yang menderita kanker, fibrosis kistik dan luka bakar. Angka
fatalitas pasien-pasien tersebut mencapai 50 %. P. aeruginosa termasuk dalam genus
Pseudomonas, yang ditentukan oleh Migula pada tahun 1984. Yang termasuk dalam genus
tersebut adalah bakteri gram negatif, berbentuk tangkai, polar dan berflagel.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas terstruktur
mata kuliah Bakteriologi Medik. Selanjutnya untuk mengetahui lebih dalam tentang bakteri
“Pseudomonas aeruginosa” dan toksin yang dihasilkan, serta mengetahui morfologi,
patogenesis, waktu generasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri
Pseudomonas aeruginosa.

1.3 Rumusan Masalah


1. Bagaimana klasifikasi ilmiah dari bakteri “Pseudomonas aeruginosa” ?
2. Bagaimana morfologi dari bakteri “Pseudomonas aeruginosa” ?
3. Berapa lama “Pseudomonas aeruginosa” ?
4. Bagaimana epidemiologi dan patogenesis dari bakteri “Pseudomonas aeruginosa” ?
5. Bagaimana gejala dan penyakit dari “Pseudomonas aeruginosa” ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ilmiah


Pseudomonas aeruginosa termasuk kedalam Gamma Proteobacteria dan famili
Pseudomonadaceae. Berdasarkan pada conserved macromolecules (misalnya 16S ribosomal
RNA) famili Pseudomonadaceae mencakup hanya anggota dari genus Pseudomonas yang
dibagi menjadi delapan kelompok. Pseudomonas aeruginosa adalah spesies jenis kelompok
tersebut yang terdiri dari 12 anggota lain. Adapun taksonomi dan klasifikasi Pseudomonas
aeruginosa adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Pseudomonadales
Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Pseudomonas
Spesies : Pseudomonas aeruginosa

2.2 Morfologi
Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri
gram negatif yang berbentuk batang halus dan
lengkung, motil, berukuran 0,6 x 2 μm. Bakteri ini
dapat ditemukan soliter, berpasangan dan kadang-
kadang membentuk rantai pendek (gambar 1). P.
aeruginosa merupakan bakteri motil karena
mempunyai flagela monotrika (flagel tunggal pada
kutub) dan memerlukan oksigen untuk motilitas.
(Gambar 1 Pseudomonas aeruginosa pewarnaan gram)
Pseudomonas aeruginosa adalah aerob obligat yang tumbuh dengan mudah pada
banyak jenis media pembiakan, kadang-kadang berbau manis seperti anggur atau seperti bau
corn taco. Beberapa strain dari P.aeruginosa menghemolisis agar darah. P.aeruginosa tumbuh
dengan baik pada suhu 37-42 ᵒC; pertumbuhannya pada suhu 42 ᵒC membantu membedakan
spesies ini dari spesies Pseudomonas lain dalam kelompok fluoresen. Bakteri ini oksidase
positif dan tidak meragikan karbohidrat. Tetapi banyak strain mengoksidasi glukosa.
Pseudomonas aeruginosa memiliki kebutuhan nutrisi yang sederhana seperti amonia
dan karbon dioksida sebagai satu-satunya sumber nitrogen dan karbon. Suasana aerob
diperlukan untuk pertumbuhan dan metabolisme optimal, tetapi kebanyakan strain
P.aeruginosa juga dapat tumbuh dengan lambat dalam kondisi anaerobik jika tersedia nitrat
(NO3) sebagai akseptor elektron.
Pseudomonas aeruginosa dapat menghasilkan satu atau lebih pigmen. Beberapa
pigmen tersebut antara lain:
 Piosianin. Pigmen berwarna biru  Piorubin, pigmen berwarna merah
 Pioverdin, pigmen berwarna kehijauan  Piomelanin, pigmen berwarna hitam
Piosiani merupakan pigmen nonfluoresen dan pioverdin merupakan pigmen fluoresen.
Strain P. Aeruginosa menghasilkan dua jenis pigmen yang larut air yaitu pioverdin dan
piosianin. Piosianin berasal dari kata pyocyaneus merujuk pada biru nanah, ini merupakan
karakteristik infeksi supuratif yang disebabkan oleh P. Aeruginosa.
Pseudomonas aeruginosa dalam biakan dapat menghasilkan berbagai jenis koloni,
sehingga memberi kesan biakan dari campuran berbagai spesies bakteri. Tiap jenis mempunyai
aktivitas biokimia dan enzimatik yang berbeda dan pola kepekaan antimikroba yang berbeda
pula. Isolat P. aeruginosa dapat menghasilkan tiga jenis koloni. Isolat dari tanah atau air
mempunyai ciri koloni yang kecil dan tidak rata. Pembiakan dari spesimen klinik biasanya
menghasilkan satu atau dua tipe koloni yang halus yaitu : 1) Koloni besar dan halus dengan
permukaan rata dan meninggi, 2) Koloni halus dan mukoid sebagai hasil produksi berbahan
dari alignat. Tipe ini sering didapat dari sekresi saluran pernafasan dan saluran kemih. Koloni
halus dan mukoid dianggap berperan dalam kolonisasi dan vilurensi.

Gambar 2: koloni Pseudomonas aeruginosa pada agar (kiri), pigmen piosianin yang dihasilkan strain
piosianogenik (kanan)
Alginat adalah suatu ekspolosakarida yang merupakan polimer dari glucuronic acid dan
mannuronic acid, berbetuk gel kental di sekeliling bakteri. Alginat memungkinkan bakteri-
bakteri untuk membentuk biofilm. Alginat dapat melindungi bakteri dari pertahanan tubuh
inang seperti limfosit, fagosit, silia di saluran pernafasan, antibodi dan komplemen.
Kemampuan P. Aeruginosa membentuk biofilm membuat bakteri ini resisten terhadap
antibiotik. Strain mukoid dari P. Aeruginosa paling sering di isolasi dari pasien dengan cystic
fibrosis (CF) dan biasanya ditemukan dalam jaringan paru-paru dari individu tersebut.

Pseudomonas aeruginosa mampu mentolerir terhadap berbagai kondisi fisik termasuk


suhu. Bakteri ini resisten terhadap konsentrasi tinggi garam, zat pewarna, antiseptik dan
berbagai antibiotik yang sering digunakan.

2.3 Epidemiologi
Pseudomonas aeruginosa pertama kali diisolasi dari nanah hijau dengan Gessard tahun
1882. Hal ini kemudian terbukti terlibat dalam berbagai infeksi manusia dari sepsis neonatal
dan membakar sepsis terhadap infeksi paru-paruakut dan kronis. Pseudomonas aeruginosa
dibedakan sebagai patogen oportunistik, menyebabkan infeksi pada pasien dengan cacat fisik,
fagositosis, atau kekebalan pada mekanisme pertahanan tuan rumah. Membuktikan berbagai
ekologis dan kemampuan bertahan hidup yang luas, Pseudomonas aeruginosa juga merupakan
patogen tanaman penting, mempengaruhi tembakau, tomat dan selada, bisa ditemukan di
lingkungan air yang paling segar, termasuk daerah lembab di rumah sakit.
Pseudomonas aeruginosa menyebabkan kontaminasi pada perlengkapan anestesi dan
terapi pernafasan, cairan intravena, bahkan air hasil proses penyulingan. Endoskopi, termasuk
bronkoskopi adalah alat-alat medik yang paling sering dihubungkan dengan berjangkitnya
infeksi nosokomial. Suatu penelitian di AS membuktikan bahwa dari 414 pasien yang
menjalani prosedur bronkoskopi didapati 9.4% infeksi saluran nafas atas dan bawah serta
infeksi lewat aliran darah, dan pada 66.7% dari infeksi tersebut didapati Pseudomonas
aeruginosa sesudah dilakukan kultur. Karena merupakan patogen nosokomial, maka metode
untuk mengendalikan infeksi ini mirip dengan metode untuk patogen nosokomial lainnya.
Kemampuannya untuk tumbuh subur dalam lingkungan yang basah menuntut perhatian khusus
pada bak cuci, bak air, pancuran, bak air panas, dan daerah basah yang lain.
2.4 Patogenesis
Kemampuan Pseudomonas aeruginosa mennyerang jaringan bergantung pada
produksi enzim-enzim dan toksin-toksin yang merusak barier tubuh dan sel-sel inang.
Endotoksin Pseudomonas aeruginosa seperti yang dihasilkan bakteri gram negative lainnya,
menyebabkan gejala sepsis dan syokseptic. Bakteri yang baru diisolasi dari paru-paru
penderita fibrosis kistik bersifat mukoid. Lapisan alginat yang mengelilingi bakteri dan
mikrokoloni bakteri dalam paru-paru berfungsi sebagai adhesion dan kemungkinan mencegah
fagositosis bakteri, bahkan dapat meningkatkan resistensi Pseudomonas aeruginosa terhadap
antibiotika.
Strain Pseudomonas aeruginosa yang mempunyai sistem sekresi tipe III yaitu sekresi
tipe III adalah sistem yang dijumpai pada bakteri gram negative, teridir dari 30 rotein yang
terbentang dari bagian dalam hingga luar membrane sel bakteri, berfungsi seperti jarum suntik
yang menginjeksi toksin-toksin secara langsung ke dalam sel inang sehingga memungkinkan
toksin mencegah netralisasi antibody. Pseudomonas aeruginosa bersifat pathogen hanya bila
memasuki daerah dengan sistem pertahanan yang tidak normal, misalnya saat membrane
mukosa dan kulit robek karena kerusakan jaringan langsung, sewaktu penggunaan kateter
intravena atau kateter air kemih, atau bila terdapat nuetropenia, seperti pada kemoterapi kanker.

2.5 Gejala Klinis


Pseudomonas aeruginosa menimbulkan infeksi pada luka dan luka bakar terutama
dengan nanah hijau kebiruan disebabkan pigmen piosianin, meningitis terjadi apabila masuk
lewat punksi lumbal dan infeksi saluran kemih apabila masuk bersama kateter dan peralatan
lain atau dalam larutan untuk irigasi. Keterlibatan saluran pernafasan terutama dari respirator
yang terkontaminasi mengakibatkan pneumonia yang disertai nekrosis. Bakteri ini sering
ditemukan pada perenang dengan otitis ekterna yang ringan serta dapat menyebabkan otitis
eksterna invasif (malignan) pada penderita diabetes. Infeksi pada mata yang dengan cepat
menyebabkan kerusakan mata, hal ini sering terjadi setelah cidera atau pembedahan.
Bayi atau orang dengan imunitas yang lemah dapat menyerang aliran darah dan
mengakibatkan sepsis yang fatal. Biasanya terjadi pada penderita leukimia atau limfoma yang
mendapat pengobatan antineoplastik atau terapi radiasi serta pada penderita luka bakar berat.
Pada sebagian besar infeski, gejala dan tanda-tanda tidak spesifik dan berkaitan dengan orang
yang terlibat. Kadang-kadang verdoglobin (suau produk pemecah haemoglobin) atau pigmen
yang berfluoresen dapat dideteksi pada luka, luka bakar atau urin dengan penyinaran fluoresen
ultraviolet. Neksrosis hemoragik pada kulit sering terjadi pada sepsis akibat P. aeruginosa.
Lesi yang disebut ekstima gangrenosum dikelilingi oleh eritma dan sering tidak berisi nanah.
P. aeruginosa dapat dilihat pada spesimen pada lesi ektima yang diberi pewarnaan gram dan
biakannya positif.
Suatu studi di Kanada membuktikan P. aeruginosa sebagai penyebab berjangkitnya
folikulitis yang berhubungan dengan penggunaan kolam renang, sauna serta kolam hidroterapi.
Pada penderita yang kebanyakan pada anak-anak dapat dijumpai pruritus folikular,
makulopapular, vesikular atau lesi pustular disetiap bagian tubuh yang terendam air. Pada anak
yang terinfeski setelah menggunakan kolam renang yang terkontaminasi, 10-40 jam kemudian
dapat dijumpai nyeri hebat ditelapak kaki dan diikuti bengkak, kemerahan dan rasa panas.
Gejala paling berat berupa demam (37,7-38,8°C), malaise dan rasa mual. Kumpulan gejala akut
ini disebut pseudomonas hot foot syndrome.

Gambar 3 gejala klinis dari infeksi Pseudomonas aeruginosa : luka dengan nanah hijau kebiruan (kiri), ektima
gangrenosum (kanan)

2.6 Penyakit yang Ditimbulkan


Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen opprtunistik yang memanfaatkan
kerusakan pada mekanisme pertahan inang untuk memulai suatu infeksi. Baketri ini dapat
menginfeksi hampir setiap jaringan atau lokasi tubuh seperti infeksi saluran kemih, saluran
pernafasan, dermatitis, infeksi jaringan lunak, bakterimia, infeksi tulang dan sendi, infeksi
saluran pencernaan dan bermacam-macam infeksi sistemik terutama pada penderita luka bakar,
kanker dan penderita AIDS yang mengalami penurunan sistem imun. P. aeruginosa menjadi
masalah yang serius pada pasien rumah sakit yang menderita kanker, cystic fibrosis (CF) dan
luka bakar. Angka fatalitas kasus (case fatality) pasien tersebut 50%. Selain itu, P.
aeruginosa dapat menghasilkan salah satu infeksi opportunistik ekstraintestinal yang
disebabkan oleh anggota dari Enterobacteriaceae serta dapat menyebabkan infeksi pada mata
dan telinga.
Pseudomonas aeruginosa juga sering menyebabkan ositis eksternal pada telinga
perenang dan ositis ekternal invasif (malignan) pada penderita diabetes yang jarang terjadi
tetapi dapat menyebabkan kematian. Folikulitis pada kulit dapat terjadi setelah berendam pada
kolam air panas yang terkontaminasi P. aeruginosa. Bakteri ini dapat menyebabkan
konjungtivitis, kreatitis atau endoptalmitis pada mata akibat trauma atau kontaminasi pada obat
mata/larutan lensa kontak. Keratitis dapat berlangsung cepat dan merusak kornea dalam waktu
24-48 jam. Jangkauan infeksi yang disebabkan oleh P. aeruginosa pada manusia dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1 jangkauan Infeksi oleh P. aeruginosa pada manusia
2.7 Pengobatan
Pseudomonas aeruginosa meningkat secara klini karea resisten terhadap berbagai
antimikroba dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan tingkat Multi Drug Resistance
(MDR) yang tinggi. Definisi MDR-PA (Multi Drug Resistance- Pseudomonas aeruginosa)
adalah resisten P. aeruginosa terhadap beberapa antimikroba diantaranya β-laktam,
carbapenem, aminoglkosida dan fluoroquinon.
Infeski yang telah terbentuk sulit untuk diobati karena P. aeruginosa sering resisten
terhadap antimikrobial. P. aeruginosa tidak boleh diobati dengan terapi obat tunggal karena
tingkat keberhasilan rendah dan bakteri dengan cepat menjadi resisten. Pengobatan P.
aeruginosa dilakukan secara kombinasi seperti penisillin anti- P. aeruginosa (tikarsilin atau
piperasilin) dan aminoglikosida. Obat lainnya yang bekerja aktif terhadap P. aeruginosa
diantaranya aztreonam, imipenem, kuinolon yang termasuk ciprofloxacin dan sefalosporin
yang terbaru (ceftazidime dan cefoperazone). Ceftezidime digunakan dalam terapi primer
infeksi P. aeruginosa. Pola kepekaan bakteri ini bervariasi secara geografik, maka diperluka
tes kepekaan sebagai pedoman untuk pemilihan terapi antimikroba.
2.8 Pencegahan
Pseudomonas aeruginosa merupaka flora normal pada tubuh dan tidak akan
menimbulkan penyakit selama pertahanan tubuh normal. Oleh karena itu, upaya pencegahan
yang paling baik adalah dengan menjaga daya tahan tubuh agar tetap tinggi. Menjaga jumlah
netrofil tetap diatas 500/µl merupakan salah satu upaya untuk membatasi infeksi pada pasien
dengan penurunan sistem imun. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara membersihkan
kateter segera setelah dipakai, melakukan perawatan khusus pada pasien luka bakar dan pasien
dengan sistem imun yang rendah.
Pencegahan kontaminasi terhadap kolam renang umum, dilakukan klorinasi terhadap
air, menghindari lantai kolam renang yang kasar untuk mengurangi gesekan pada kulit dan
membersihkan lantai kolam renang beserta saluran air menggunakan senyawa ammonium
quaternium diikuti penggunaan ozone untuk memecah biofilm.
Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen nosokomial sehingga metode untuk
mengendalikan infeski ini mirip dengan metode untuk patogen nosokomial lainnya.
Kemampuannya untuk tumbuh subur dalam lingkungan yang basah menuntut perhatian khusus
pada bak cuci, bak air, pancuran, bak air panas dan daerah basah lain. Vaksin dari jenis yng
tepat yang diberikan pada penderita dengan risiko tinggi akan memberikan perlindungan
terhadap sepsis akibat Pseudomonas. Penggunaan vaksin telah digunakan secaa ekperimental
pada penderita leukimia, luka bakar, fibrosis kistik dan imunosupresi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri gram-negatif termasuk dalam family
pseudbmonadaceae, merupakan pathogen opurtunistik pada manusia. Alginat dan
lipopolisakarida melindungi organisme ini dari pertahanan tubuh inang. Kemampuan
Pseudomonas aeruginosa menyerang jaringan bergantung pada produksi enzim-enzim dan
toksin-toksin, misalnya endotoksin menyebabkan gejala sepsis dan syok septic, eksotoksik A
menyebabkan nekrosis jaringan, enzim-enzim ekstraseluler bersifat histotoksik dan
mempermudah invasi ke dalam pembuluh darah.
Pseudomonas aeruginosa dapat menginfeksi hampir setiap jaringan atau lokasi tubuh
dan penyebab sepsis yang umum dijumpai pada pasien di unit perawatan intensif. Sering
menginfeksi pasien luka bakar derajat II dan III. Menyebabkan meningitis, infeksi saluran
kemih, pneumonia disertai nekrosis, otitiseksterna ringan pada perenang, otitis eksterna
invasive pada penderita diabetes, infeksi mata setelah cedera atau pembedahan, dan lain-lain.
Pada sebagian besar infeksi, gejala dan tanda-tandanya tidak spesifik.
Pseudomonas aeruginosa terdapat di tanah dan air, pada beberapa orang merupakan
flora normal di kolon. Pseudomonas aeruginosa dijumpai di banyak tempat di rumah sakit,
perlu perhatian khusus pada lingkungan yang basah. Biakan merupakan tes spesifik untuk
diagnosis infeksi Pseudomonas aeruginosa.
DAFTAR PUSTAKA

Evita Mayasari. 2005, Pseudomonas aeruginosa Karakteristik, Infeksi dan Penanganan


(Tesis), Universitas Sumatera Utara.

Lay, Bibiana W, dan Hastowo, Sugyo. 1992, Mikrobiologi , Rajawali Press , Jakarta.

Volk, W.A and M.F. Wheeler.1993, Mikrobiologi Dasar, Edisi Kelima , Jilid I, Penerbit
Erlangga , Jakarta.
Strateva T and Daniel Y. 2009. Pseudomonas aeruginosa – A Phenomenon of Bacterial
Resistance. Journal of Medical Microbiology 58: 1133-1148
Todar K. 2011. Online Textbook of Bacteriology.
http://textbookfbacteriology.net/pseudomonas.html [08 November 2019]
Fadhilah D. 2018. Taksonomi dan karakteristik Pseudomona aeruginosa.
www.ilmuveteriner.com [08 November 2019]]
Fadhilah D. 2018. Pencegahan dan Pengobatan Pseudomona aeruginosa.
www.ilmuveteriner.com [08 November 2019]]