Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hydrocephalus telah dikenal sejak zaman Hypocrates, saat itu


hydrocephalus dikenal sebagai penyebab penyakit ayan. Di saat ini dengan
teknologi yang semakin berkembang maka mengakibatkan polusi di dunia semakin
meningkat pula yang pada akhirnya menjadi faktor penyebab suatu penyakit, yang
mana kehamilan merupakan keadaan yang sangat rentan terhadap penyakit yang
dapat mempengaruhi janinnya, salah satunya adalah Hydrocephalus. Saat ini secara
umum insidennya dapat dilaporkan sebesar tiga kasus per seribu kehamilan hidup
menderita Hydrocephalus. Dan Hydrocephalus merupakan penyakit yang sangat
memerlukan pelayanan keperawatan yang khusus. Hydrocephalus itu sendiri adalah
akumulasi cairan serebro spinal dalam ventrikel serebral, ruang subaracnoid, rung
subdural.
Hydrocephalus menyerang satu dari setiap lima ratus kelahiran hidup,
sehingga menjadikannya salah satu cacat pertumbuhan yang umum, bila
dibandingkan dengan sindrom Down dan tuli. Menurut situs NIH, ada sekitar tujuh
ratus ribu anak-anak dan orang dewasa yang hidup dengan gangguan
hydrocephalus. Terdapat lebih dari 180 sebab-sebab terjadinya hidrocephalus, salah
satu yang paling umum adalah pendarahan otak yang berhubungan dengan
kelahiran prematur. Hidrocephalus sebagian besar mengenai anak laki – laki.. Salah
satu cara yang sering dilakukan untuk mengobati hydrocephalus adalah dengan
melakukan otak shunt. Hal ini sudah dikenal sejak tahun 1960. (Suriadi dan Yuliani,
2001).

1.2 Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum

1
Mampu memahami dan memberikan asuhan keperwatan pada klien dengan
Hydrocephalus.

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tentang definisi Hydrocephalus
b. Mengetahui tentang etiologi Hydrocephalus
c. Mengetahui tentang fisiologi CSF
d. Mengetahui tentang klasifikasi Hydrocephalus
e. Mengetahui tentang patofisiologi Hydrocephalus
f. Mengetahui tentang manifestasi Klinis Hydrocephalus
g. Mengetahui tentang pemeriksaan Diagnostik Hydrocephalus
h. Mengetahui dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan Hydrocephalus
i. Mengetahui tentang asuhan keperawatan Hydrocephalus

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat yang ingin diperoleh dalam penulisan asuhan keperawatan ini adalah:
Memahami dan memberikan asuhan keperwatan pada klien dengan
Hydrocephalus

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi

Hydrocephalus adalah akumulasi cairan cerebrospinal (CSS) dalam ventrikel


serebral, ruang subacarhnoid, atau ruang sub dural. (NANDA, NIC-NOC, 2012).
Hidrosefalus adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya
cairan serebrospinalis, disebabkan baik oleh produksi yang berlebihan maupun
gangguan absorpsi, dengan atau pernah disertai tekanan intrakanial yang meninggi
sehingga terjadi pelebaran ruangan-ruangan tempat aliran cairan serebrospinalis
(Darto Suharso,2009)

2
Hidrocephalus adalah: suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan cerebrospinal (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intra
kranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS
(Ngastiyah,2005). Hidrocepalus adalah akumulasi cairan serebrospinal dalam
ventrikel cerebral, ruang subarachnoid, atau ruang subdural (Suriadi,2006)

Hidrocephalus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak
seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem
Ventricular. Ketika produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal
mengakumulasi di dalam sistem Ventricular (nining,2008).

2.2 Etiologi
1. Sebab-sebab Prenatal
Sebab prenatal merupakan faktor yang bertanggung jawab atas terjadinya
hidrosefalus kongenital yang timbul in- utero ataupun setelah lahir. Seabb-sebab
ini mencakup malformasi ( anomali perkembangan sporadis ), infeksi atau kelainan
vaskuler. Pada sebagian besar pasien banyak yang etiologi tidak dapat diketahui
dan untuk ini diistilahkan sebagai hidrosefalus idiopatik.

2. Sebab-sebab Postnatal
a. Lesi masa menyebabkan peningkatan resistensi aliran liquor
serebrospinal dan kebanyakan tumor berlokasi di fosa posterior.Tumor
lain yang menyebabkan hidrosefalus adalah tumor di daerah
mesencephalon. Kista arachnoid dan kista neuroepitalial merupakn
kelompok lesi masa yang menyebabkan aliran gangguan liquor
berlokasi di daerah supraselar atau sekitar foramen magmum.
b. Perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kejadian seperti prematur,
cedera kepala, ruptura malformasi vaskuler.
c. Meningitis. Semua meningitis bakterialis dapat menyebabkan
hidrosefalus akibat dari fibrosis leptomeningeal. Hidrosefalus yang

3
terjadi biasanya multi okulasi, hal ini disebabkan karena keikutsertaan
adanya kerusakan jaringan otak
d. Gangguan aliran vena. Biasanya terjadi akibat sumbatan antomis dan
fungsional seperti akhondroplasia dimana terjadi gangguan drainase
vena pada basis krani, trombosis jugularis.

2.3 Klasifikasi Hydrocephalus


Hidrosephalus pada anak atau bayi pada dasarnya dapat di bagi dua:

Kongenital Merupakan Hidrosephalus yang sudah diderita sejak bayi dilahirkan,


sehingga ; Pada saat lahir keadaan otak bayi terbentuk kecil Terdesak oleh banyaknya
cairan didalam kepala dan tingginya tekanan intrakranial sehingga pertumbuhan sel
otak terganggu.

Bayi atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan penyebabnya adalah
penyakit- penyakit tertentu misalnya trauma, TBC yang menyerang otak dimana
pengobatannya tidak tuntas. Pada hidrosefalus di dapat pertumbuhan otak sudah
sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh sebab adanya peninggian tekanan
intrakranial.Sehingga perbedaan hidrosefalus kongenital dengan di dapat terletak
pada pembentukan otak dan pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya.
2.3.1 Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan
anak ini juga terbagi dalam dua bagian yaitu :
1. Hydrocephalus komunikan

Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga terdapat aliran


bebas CSF dalam sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan. Jenis ini tidak
terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF
terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat
pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid
dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien
memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP).

4
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk
mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau
malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan
karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadiny hemmorhage
subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan
ICP).

2. Hydrocephalus non komunikan

Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel sehingga


menghambat aliran bebas dari CSF. Biasanya gangguan yang terjadi pada
hidrosefalus kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi bentuk
hidrosefalus non komunikan. Biasanya diakibatkan obstruksi dalam sistem
ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF.

Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang berhubungan
dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space
occuping lesion) ataupun bekas luka. Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat
dari obstruksi lesi pada sistem ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas
luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien dengan garis sutura yag
berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan
intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan
ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat
pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

3. Hidrocephalus Bertekan Normal ( Normal Pressure Hidrocephalus )


Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan
serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala –
gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia
urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral

5
atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun)
ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.

2.3.2 Fisiologi Cairan Cerebro Spinalis


1. Pembentukan CSF

Normal CSF diproduksi + 0,35 ml / menit atau 500 ml / hari dengan demikian CSF
di perbaharui setiap 8 jam.Pada anak dengan hidrosefalus, produksi CSF ternyata
berkurang + 0, 30 / menit. CSF di bentuk oleh PPA;
a. Plexus choroideus (yang merupakan bagian terbesar)
b. Parenchym otak
c. Arachnoid

2. Sirkulasi CSF

Melalui pemeriksaan radio isotop, ternyata CSF mengalir dari tempat pembentuknya
ke tempat ke tempat absorpsinya. CSF mengalir dari II ventrikel lateralis melalui
sepasang foramen Monro ke dalam ventrikel III, dari sini melalui aquaductus
Sylvius menuju ventrikel IV. Melalui satu pasang foramen Lusckha CSF mengalir
cerebello pontine dan cisterna prepontis. Cairan yang keluar dari foramen Magindie
menuju cisterna magna. Dari sini mengalir ke superior dalam rongga subarachnoid
spinalis dan ke cranial menuju cisterna infra tentorial.Melalui cisterna di
supratentorial dan kedua hemisfere cortex cerebri. Sirkulasi berakhir di sinus
Doramatis di mana terjadi absorbsi melalui villi arachnoid.

2.4 Patofisiologi

6
2.5 Manifestasi Klinis

Gejala yang nampak dapat berupa (Ngastiyah, 1997; Depkes;1998) dalam


NANDA, NIC- NOC , 2012 :
1. TIK yang meninggi: muntah, nyeri kepala, edema pupil saraf otak II
2. Pada bayi biasanya disertai pembesaran tengkorak
3. Kepala bayi terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan tubuh
4. Ubun-ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya
teraba tegang dan mengkilat dengan perebaran vena di kulit kepala
5. Sutura tengkorak belum menutup dan teraba melebar
6. Terdapat sunset sign pada bayi (pada mata yang kelihatan hitam-
hitamnya, kelopak mata tertarik ke atas)
7. Bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan dan penipisan tulang
suborbital
8. Sklera mata tampak di atas iris
9. Pergerakan mata yang tidak teratur dan nistagmus tak jarang terdapat
10. Kerusakan saraf yang memberi gejala kelainan neurologis berupa
gangguan kesadaran motorik atau kejang-kejang, kadang-kadang
gangguan pusat vital.

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

Selain dari gejala-gejala klinik, keluhan pasien maupun dari hasil pemeriksaan
fisik dan psikis, untuk keperluan diagnostik hidrosefalus dilakukan pemeriksaan-
pemeriksaan penunjang( , yaitu :
1. Rontgen foto kepala
Dengan prosedur ini dapat diketahui:
- Hidrosefalus tipe kongenital/infantile, yaitu: ukuran kepala, adanya
pelebaran sutura, tanda- tanda peningkatan tekanan intrakranial
kronik berupa imopressio digitate dan erosi prosessus klionidalis
posterior.

7
- Hidrosefalus tipe juvenile/adult oleh karena sutura telah menutup
maka dari foto rontgen kepala diharapkan adanya gambaran kenaikan
tekanan intrakranial.
2. Transimulasi
Syarat untuk transimulasi adalah fontanela masih terbuka,
pemeriksaan ini dilakukan dalam ruangan yang gelap setelah pemeriksa
beradaptasi selama 3 menit. Alat yang dipakai lampu senter yang
dilengkapi dengan rubber adaptor. Pada hidrosefalus, lebar halo dari tepi
sinar akan terlihat lebih lebar 1-2 cm.
3. Lingkaran kepala
Diagnosis hidrosefalus pada bayi dapat dicurigai, jika penambahan
lingkar kepala melampaui satu atau lebih garis-garis kisi pada chart (jarak
antara dua garis kisi 1 cm) dalam kurun waktu 2-4 minggu. Pada anak
yang besar lingkaran kepala dapat normal hal ini disebabkan oleh karena
hidrosefalus terjadi setelah penutupan suturan secara fungsional.
4. Ventrikulografi
Yaitu dengan memasukkan konras berupa O2 murni atau kontras lainnya
dengan alat tertentu menembus melalui fontanela anterior langsung
masuk ke dalam ventrikel. Setelah kontras masuk langsung difoto, maka
akan terlihat kontras mengisi ruang ventrikel yang melebar. Pada anak
yang besar karena fontanela telah menutup untuk memasukkan kontras
dibuatkan lubang dengan bor pada kranium bagian frontal atau
oksipitalis. Ventrikulografi ini sangat sulit, dan mempunyai risiko yang
tinggi. Di rumah sakit yang telah memiliki fasilitas CT Scan, prosedur
ini telah ditinggalkan.
5. CT Scan kepala
Pada hidrosefalus obstruktif CT Scan sering menunjukkan adanya
pelebaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. Dapat terjadi di atas
ventrikel lebih besar dari occipital horns pada anak yang besar. Ventrikel
IV sering ukurannya normal dan adanya penurunan densitas oleh karena
terjadi reabsorpsi transependimal dari CSS.

8
Pada hidrosefalus komunikans gambaran CT Scan menunjukkan dilatasi
ringan dari semua sistem ventrikel termasuk ruang subarakhnoid di
proksimal dari daerah sumbatan.
6. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Untuk mengetahui kondisi patologis otak dan medula spinalis dengan
menggunakan teknik scaning dengan kekuatan magnet untuk membuat
bayangan struktur tubuh

2.7 Penatalaksanaan
Penanganan hidrocefalus masuk pada katagori ”live saving and live
sustaining” yang berarti penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang
dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Keterlambatan akan
menyebabkan kecacatan dan kematian sehingga prinsip pengobatan
hidrocefalus harus dipenuhi yakni:
1. Mengurangi produksi cairan serebrospinal dengan merusak pleksus
koroidalis dengan tindakan reseksi atau pembedahan, atau dengan obat
azetasolamid (diamox) yang menghambat pembentukan cairan
serebrospinal.
2. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi caira serebrospinal
dengan tempat absorbsi, yaitu menghubungkan ventrikel dengan
subarachnoid
3. Pengeluaran cairan serebrospinal ke dalam organ ekstrakranial, yakni :
a. Drainase ventrikule-peritoneal
b. Drainase Lombo-Peritoneal
c. Drainase ventrikulo-Pleural
d. Drainase ventrikule-Uretrostomi
e. Drainase ke dalam anterium mastoid
f. Mengalirkan cairan serebrospinal ke dalam vena jugularis dan
jantung melalui kateter yang berventil (Holter Valve/katup Holter)
yang memungkinkan pengaliran cairan serebrospinal ke satu arah.
Cara ini merupakan cara yang dianggap terbaik namun, kateter

9
4. Tindakan bedah pemasangan selang pintasan atau drainase
dilakukan setelah diagnosis
5. lengkap dan pasien telah di bius total. Dibuat sayatan kecil di daerah
kepala dan dilakukan pembukaan tulang tengkorak dan selaput otak,
lalu selang pintasan dipasang. Disusul kemudian dibuat sayatan
kecil di daerah perut, dibuka rongga perut lalu ditanam selang
pintasan, antara ujung selang di kepala dan perut dihubiungakan
dengan selang yang ditanam di bawah kulit hingga tidak terlihat dari
luar.
6. Pengobatan modern atau canggih dilakukan dengan bahan shunt atau
pintasan jenis silicon yang awet, lentur, tidak mudah putus.
Ada 2 macam terapi pintas / “ shunting “:
a. Eksternal
- CSS dialirkan dari ventrikel ke dunia luar, dan bersifat hanya
sementara. Misalnya: pungsi lumbal yang berulang-ulang untuk
terapi hidrosefalus tekanan normal.
b. Internal
- CSS dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain
- Ventrikulo-Sisternal, CSS dialirkan ke sisterna magna (Thor-
Kjeldsen) Ventrikulo-Atrial, CSS dialirkan ke sinus sagitalis
superior
- Ventrikulo-Bronkhial, CSS dialirkan ke Bronhus. Ventrikulo-
Mediastinal, CSS dialirkan ke mediastinum Ventrikulo-Peritoneal,
CSS dialirkan ke rongga peritoneum. b. “Lumbo Peritoneal
Shunt”
- CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke rongga
peritoneum dengan operasi terbuka atau dengan jarum Touhy
secara perkutan.
1. Teknik Shunting:
- Sebuah kateter ventrikular dimasukkan melalui kornu oksipitalis
atau kornu frontalis, ujungnya ditempatkan setinggi foramen
Monroe.
1
0
- Suatu reservoir yang memungkinkan aspirasi dari CSS untuk
dilakukan analisis Sebuah katup yang terdapat dalam sistem
Shunting ini, baik yang terletak proksimal dengan tipe bola atau
diafragma (Hakim, Pudenz, Pitz, Holter) maupun yang terletak
di distal dengan katup berbentuk celah (Pudenz). Katup akan
membuka pada tekanan yang berkisar antara 5-150 mm, H2O.
- Ventriculo-Atrial Shunt. Ujung distal kateter dimasukkan ke
dalam atrium kanan jantung melalui v. jugularis interna (dengan
thorax x-ray ® ujung distal setinggi 6/7).
2. Ventriculo-Peritneal Shunt
3. Slang silastik ditanam dalam lapisan subkutan
4. Ujung distal kateter ditempatkan dalam ruang peritoneum.
5. Pada anak-anak dengan kumparan silang yang banyak,
memungkinkan tidak diperlukan adanya revisi walaupun badan
anak tumbuh memanjang.
6. Komplikasi yang sering terjadi pada shunting: infeksi, hematom
subdural, obstruksi, keadaan
7. CSS yang rendah, ascites akibat CSS, kraniosinostosis.

2.8 Komplikasi
Komplikasi Hidrocefalus menurut Prasetio (2004):
1. Peningkatan TIK
2. Pembesaran kepala
3. kerusakan otak
4. Meningitis, ventrikularis, abses abdomen
5. Ekstremitas mengalami kelemahan, inkoordinasi, sensibilitas kulit
menurun
6. Kerusakan jaringan saraf
7. Proses aliran darah terganggu

1
1
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

An. A umur 1,5 bulan datang ke Rumah Sakit dibawah oleh keluarga karena
mengalami pembesaran kepala sejak 10 hari sebelum masuk RS yang semakin
lama semakin membesar keluarga menagatakn anaknya tidak mempunyai riwayat
kejang, muntah (-), demam (-). Setelah dilakukan pemerikasaan fisik GCS : 15,
adanya pembesaran kepala, klien tampak lemah, adanya Ubun-ubun besar
melebar, terba tegang/menonjol, dahi nampak melebar dan kulit kepala tipis,
tegap mengkilap dengan pelebaran vena-vena kulit kepala, HR: 131, RR: 48X/i

3.1 IDENTITAS ANAK

Nama : AN. A
Umur : 1,5 Bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat tgl Lahir : 23/08/2018
Tanggal Masuk :
Tgl Pengkajian : 08/10/2018
Diagnosa Medis :

3.2 IDENTITAS ORANG TUA

Nama ayah/ ibu : Ny. R


Umur : 25 THN
Pekerjaan : IRT
Pendidikan terakir :
Suku/Bangsa : Batak
Alamat : Dusun VI jl. Binjai KM 10.2 gg. Jadi kel paya

3.3 KEDUDUKAN ANAK DALAM KELUARGA DAN KEDUDUKAN


SEKARANG
Lahir Lahir
Kehamilan Abortus jk Keadaan sekaran
mati hidup
sakit Mati Sebab
I
II - - 2 P √ - -
1
2
3.4 RIWAYAT KESEHATAN
A. Keluhan Utama : An. A umur 1,5 bulan datang ke Rumah Sakit
dibawah oleh keluarga karena mengalami pembesaran kepala sejak 10
hari sebelum masuk RS yang semakin lama semakin membesar, keluarga
menagatakn anaknya tidak mempunyai riwayat kejang, muntah (-),
demam (-).
B. Penyebab : Keluarga mengatakan sebelumnya anaknya tidak
sakit seperti demam, kejang atau pun muntah, pembesaran kepala
semakin bertambah semakin hari
C. Resume : Keluarga menagatakn anaknya tidak mempunyai
riwayat kejang, muntah (-), demam (-). Setelah dilakukan pemerikasaan
fisik GCS : 15, adanya pembesaran kepala, klien tampak lemah, adanya
Ubun-ubun besar melebar, terba tegang/menonjol, dahi nampak melebar
dan kulit kepala tipis, tegap mengkilap dengan pelebaran vena-vena kulit
kepala, HR: 131, RR: 48X/i

3.5 RIWAYAT KESEHATAN LALU


1. Prenatal care
a. Ibu memeriksakan kehamilannya setiap minggu di Rumah sakit
Keluhan selama hamil yang dirasakan oleh ibu, tapi oleh dokter
dianjurkan untuk : Tidak ada
2. Natal
a. Tempat melahirkan : Klinik Bersalin
b. Jenis persalinan : Normal
c. Penolong persalinan : dokter
d. Komplikasi yang dialami oleh ibu pada saat melahirkan dan setelah
melahirkan : Tidak ada .
3. Post natal
a. Kondisi bayi : Lahir cukup bulan, langsung menangis saat
lahir, BBL : 2800 gr, TB : 45 cm

1
3
3.6 RIWAYAT KESEATAN KELUARGA
1. Orang tua : Orang tua klien tidak ada yang memiliki
penyakit infeksi maupun keturunan
2. Saudara kandung : Tidak memiliki penyakit yang sama
dengan klien
3. Penyakit keturunan : Keluarga mengatakan tidak ada anggota
keluarga yang mempunyai penyakit keturunan
4. Anggota keluarga yang meninggal : Tidak ada anggota keluarga yang
meninggal

3.7 PEMERIKSAAN FISIK


1. Kepala
b. Inspeksi :
- Anak dapat melihat keatas atau tidak.
- Adanya Pembesaran kepala.
- Dahi menonjol dan mengkilat. Serta pembuluh darah terlihat jelas.
b. Palpasi :
- Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
- Fontanela : fontanela tegang keras dan sedikit tinggi dari
permukaan tengkorak.
2. Pemeriksaan Mata :
3. Akomodasi.
4. Gerakan bola mata.
5. Luas lapang pandang
6. Konvergensi.
7. Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat
keatas. Stabismus, nystaqmus, atropi optic.

3.8 PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Kimia klinik
1. Hati
- Albumin 2.3 g/dl 3.5-6.0

1
4
Metabolisme karbohidrat
- Glukosa darah 75 mg/dl 40-60
2. Ginjal
- Blood urea nitrogen (BUN) 2 mg/dl 9-21
- Ureum 4 mg/dl 19-44
- Kreatinin 0.29 mg/dl 0.7-1.3
3. Elektrolit
- Natrium (Na) 145 mE/L 135-155
- Kalium (K) 3.8 mE/L 3.6.-5.5
- Klorida (Cl) 106 mE/L 96-106
4. Imunoserelogi
Procalcitonin 0.37 mE/L < 0.05

3.9 ANALISA DATA

Data Etiologi Problem


Ds: Peningkatan Perfusi jaringan
Kelurga mengatakan anaknya tekanan tidakefektif:
mengalami pembesaran kepala sejak intrakranial, serebral
10 hari sebelum masuk RS yang hipervolemia.
semakin hari semakin bertambah
Do:
- Dahi klien menonjol dan
mengkilat,
- Nampak pembesaran kepala
Ds:- penekanan lobus Gangguan
Do: oksipitalis karena persepsi sensori
- strabismus ( juling ), klien meningkatnya TIK
tidak dapat melihat keatas “
sunset eyes ”
- kontriksi penglihatan perifer.

1
5
3.10DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perfusi jaringan tidakefektif: serebral
2. Gangguan persepsi sensori

3.11RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI
DX. KEP
Perfusi jaringan Setelah dilakukan tindakan - Kaji status neurologis yang
serebral keperawatan 3x24 jam berhubungan dengan tanda-
tidakefektif tidak terjadi peningkatan tanda peningkatan tekanan
tekanan intrakranial intrakranial, terutama GCS.
dengan kriteria hasil: - Monitor tingkat kesadaran,
- Tekanan intrakranial 0- sikap reflek, fungsi motorik,
15 mmHg. sensorik tiap 1-2 jam.
- Perfusi otak lebih dari - Naikkan kepala dengan
50 mmHg. sudut 15-450, tanpa bantal
- Kesadaran (tidak hiperekstensi atau
Komposmetis fleksi) dan posisi netral
- Tidak terjadi nyeri (posisi kepala sampai
kepala lumbal ada dalam garis
- TTV normal lurus
- tampak rileks, tidak - Berkolaborasi dengan
meringis kesakitan dokter untuk melakukan
pembedahan, untuk
mengurangi peningkatan
tekanan intracranial
Gangguan Tidak terjadi disorientasi - Mempertahankan visus
persepsi sensori pada anak dengan kriteria agar tidak terjadi
hasil: penurunan visus yang
- Penurunan visus tidak lebih parah
bertambah lebih parah - Berikan tempat yang
- Anak bisa mengenali nyaman dan aman
lingkungan sekitarnya 1
6
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan.

Hidrocephalus adalah: suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan


bertambahnya cairan cerebrospinal (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan
intra kranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengalirnya CSS. Merupakan sindroma klinis yang dicirikan dengan dilatasi
yang progresif pada sistem ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari
jaringan–jaringan serebral selama produksi CSF berlangsung yang meningkatkan
kecepatan absorbsi oleh vili arachnoid. Akibat berlebihannya cairan
serebrospinalis dan meningkatnya tekanan intrakranial menyebabkan terjadinya
peleburan ruang – ruang tempat mengalirnya liquor. Berdasarkan letak obstruksi
CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagian yaitu :
- Hidrochepalus komunikan
- Hidrochepalus non-komunikan

Dan berdasarkan waktu pembentukan hidrosefalus pada bayi dan anak juga
terbagi dalam dua bagian, yaitu :
- Kongenital
- Di dapat
Insidens hidrosefalus pada anak-anak belum dapat ditentukan
secara pasti dan kemungkinan hai ini terpengaruh situasi
penanganan kesehatan pada masing-masing rumah sakit.
4.2 Saran

Tindakan alternatif selain operasi diterapkan khususnya bagi kasus-kasus


yang yang mengalami sumbatan didalam sistem ventrikel. Dalam hal ini maka
tindakan terapeutik semacan ini perlu.

1
7
DAFTAR PUSTAKA

18