Anda di halaman 1dari 6

Teori Akuntansi

“Riset Empiris dalam Bidang Akuntansi Keperilakuan”


SAP 14

Dosen Pengampu: Dr. Gerianta Wirawan Yasa, S.E., M.Si.

Oleh:
Ni Made Harista Dwi Anggreni
(1607532099 / 29)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
2018
PENGERTIAN AKUNTANSI KEPERILAKUAN
Dalam pemilihan dan penetapan suatu keputusan bisnis melibatkan aspek-aspek
keperilakuan dari para pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi tidak dapat
dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan informasi yang dapat
dihasilkan oleh akuntansi. Oleh karena itu, akuntansi keperilakuan dapat didefinisikan
sebagai suatu subdisiplin ilmu akuntansi yang melibatkan aspek-aspek keperilakuan manusia
terkait dengan proses pengambilan keputusan ekonomi. Penjelasan ini menunjukkan adanya
aspek keperilakuan pada akuntansi, baik dari pihak pelaksana/penyusun informasi maupun
pihak pemakai informasi akuntansi. Pihak pelaksana/penyusun informasi akuntansi adalah
seseorang atau kumpulan orang yang mengoperasikan sistem informasi akuntansi dari awal
sampai dihasilkannya laporan keuangan.
Pihak-pihak yang dievaluasi kinerjanya akan memberikan suatu kontribusi negatif
pada organisasi (cenderung bersikap tidak fungsional). Untuk itu, motivasi dan perilaku dari
pelaksana sistem informasi akuntasni menjadi aspek penting dari suatu sistem informasi
akuntansi. Di sisi lain, pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu pemakai internal (internal users) dan pemakai eksternal (external users). Pemakai
laporan keuangan oleh pihak internal dimaksudkan untuk melakukan serangkaian evaluasi
kinerja. Sedangkan pihak eksternal, menggunakan laporan keuangan dengan cara yang sama
seperti pihak internal, tetapi mereka lebih fokus pada jumlah investasi yang mereka tanamkan
dalam organisasi tersebut. Pencatatan akuntansi dapat dijalankan hanya secara minimal atau
bahkan tidak sama sekali ketika pihak eksternal tidak memperoleh manfaat yang berarti dari
akuntansi. Disinilah letak perilaku pihak eksternal yang dapat memaksa para akuntan untuk
memperhatikan dan memperbaiki akuntansi agar dapat digunakan secara maksimal oleh
pihak eksternal. Dengan kata lain, para akuntan berusaha agar akuntansi dapat merangsang
pihak eksternal sedemikian rupa sehingga mereka memanfaatkan informasi yang dihasilkan
oleh sistem akuntansi.

PERKEMBANGAN SEJARAH AKUNTANSI KEPERILAKUAN


Sejak tahun 1950-an, beberapa riset akuntansi mulai mencoba menghubungkan
akuntansi dengan aspek perilaku. Hal ini dimulai oleh Argyris pada tahun 1952. Selain itu,
Binberg dan Shields (1989) mengklasifikasikan riset akuntansi keperilakuan dalam lima
aliran (school), yaitu pengendalian manajemen (management control), pemrosesan informasi
akuntansi (accounting information processing), desain sistem informasi (information system
design), riset audit (audit research) dan sosiologi organisasional (organizational sociology).

1
Informasi akuntansi dirancang untuk berfungsi sebagai suatu dasar bagi banyak pengambilan
keputusan penting di dalam maupun di luar perusahaan. Sistem informasi dimanfaatkan untuk
membantu dalam proses perencanaan, pengoordinasian dan pengendalian yang kompleks,
serta akivitas yang saling berhubungan untuk memotivasi karyawan pada semua tingkatan di
dalam perusahaan. Prosedur akuntansi umumnya digunakan untuk melaksanakan banyak
fungsi penting organisasional yang secara fundamental sudah menjadi sangat teknis.
Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek akuntansi
manajemen khususnya penganggaran (budgeting), namun yang dominan dalam hal ini terus
berkembang dan bergeser searah akuntansi keuangan, sistem informasi akuntansi dan audit.
Banyak volume riset atas akuntansi keperilakuan dan meningkatnya sifat spesialisasi riset,
serta tinjauan studi secara periodik, akan memberikan manfaat untuk beberapa tujuan berikut
ini:
1. Memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang
ingin diperkenankan
2. Membantu dalam mengindentifikasikan kesenjangan riset
3. Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui
sebidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen dan perpajakan
Perkembangan yang pesat dalam akuntansi keperilakuan lebih disebabkan karena
akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu sosial secara menyeluruh. Akuntansi
keperilakuan menggunakan metodologi ilmu pengetahuan perilaku untuk melengkapi
gambaran informasi dengan mengukur dan melaporkan faktor manusia yang mempengaruhi
keputusan bisnis dan hasil mereka. Akuntansi keperilakuan menyediakan suatu kerangka
yang disusun berdasarkan teknik berikut ini:
1. Untuk memahami dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-orang dan
kinerja perusahaan
2. Untuk mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan terhadap
perencanaan strategis
3. Untuk mempengaruhi pendapat dan perilaku guna memastikan keberhasilan
implementasi kebijakan perusahaan

LANDASAN TEORI DAN PENDEKATAN AKUNTANSI KEPERILAKUAN

5
Sebagai bagian dari ilmu keperilakuan (behavioral science), teori-teori akuntansi
keperilakuan dikembangkan dari riset empiris terhadap perilaku manusia dalam organisasi.
Dengan demikian, peranan riset dalam pengembangan ilmu itu sendiri sudah tidak diragukan
lagi. Ruang lingkup riset di bidang akuntansi keperilakuan sangat luas, bukan hanya meliputi
bidang akuntansi manajemen, tetapi juga menyangkut bidang etika, audit, sistem informasi
akuntansi, bahkan akuntansi keuangan.

1. Dari Pendekatan Normatif ke Deskriptif


Pada awal perkembangannya, riset dalam bidang akuntansi manajemen masih sangat
sederhana, yaitu hanya fokus pada masalah-masalah perhitungan harga pokok produk. Seiring
dengan perkembangan teknologi produksi, permasalahan riset diperluas dengan diangkatnya
topik mengenai anggaran, akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting) dan
masalah harga transfer (transfer pricing). Meskipun demikian, berbagai riset tersebut masih
bersifat normative karena hanya mengangkat permasalahan mengenai desain pengendalian
manajemen dengan berbagai model matematis, seperti arus kas yang didiskonto (discounted
cash flow) atau pemrograman linear (linear programming) guna membantu manajer dalam
mengambil keputusan ekonomi yang optimal, tanpa melibatkan faktor-faktor lain yang
mempengaruhi efektivitas desain pengendalian manajemen, seperti perilaku manusia serta
kondisi lingkungan organisasi. Pada masa itu, berbagai faktor tersebut dianggap sebagai
“kotak hitam” yang kurang diperhatikan.
Sejak tahun 1950-an, tepatnya sejak C. Argyris menerbitkan risetnya pada tahun 1952,
desain riset akuntansi manajemen mengalami perkembangan yang signifikan dengan
dimulainya usaha untuk menghubungkan desain sistem pengendalian manajemen suatu
organisasi dengan perilaku manusia. Sejak saat itu, desain riset lebih bersifat deskriptif dan
diharapakan lebih bisa menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi oleh para pelaku
organisasi. Sejak riset Argyris yang berjudul “The Impact of Budget on People”, suatu studi
yang disponsori oleh The Controllership Foundation Cornell University Scholl of Business
and Public Administrative, sejarah penelitian akuntansi keperilakuan mulai berkembang.
Sejak saat itu, tumbuhlah kesadaran untuk mengintegrasikan ilmu akuntansi dengan ilmu-
ilmu keperilakuan, terutama ilmu psikologi dan risetdalam riset akuntansi.
Riset Argyris tersebut menguji peranan informasi akuntansi menggunakan “reliance
on accounting performance measure” (RAPM) sebagai alat untuk mencari jawaban atas
dugaan bahwa informasi akuntansi yang digunakan suatu perusahaan mempunyai pengaruh
negative terhadap karyawannya. Kesimpulan riset tersebut menunjukkan RAPM dapat
menimbulkan dampak negatif yang menyebabkan munculnya perilaku disfungsional

5
(dysfunctional behavior), sperti ketegangan, demam, curiga, khawatir dan kurang percaya
diri.
Hasil riset Argyris selama dua dekade tidak ditanggapi para peneliti lain sampai pada
tahun 1972, ketika Hopwood membuka kembali topik tersebut dengan mengajukan
pertanyaan “Apakah perilaku negatif para manajer tersebut tergantung pada cara yang tepat
dalam menggunakan informasi akuntasi tersebut?” Secara lebih spesifik, riset tersebut
menguji pengaruh jenis penilaian kinerja yang meliputi: gaya keterbatasan anggaran (budget
constrained style), gaya sadar laba (profit conscious style) dan gaya non-akuntansi (non-
accounting style) terhadap ketegangan kerja (job related tensions), tekanan biaya karyawan
terhadap penyelianya. Riset Hopwood ini sangat monumental dan mendapat banyak perhatian
dari peneliti lainnya. Bahkan sampai saat ini, berbagai variabel dari riset tersebut banyak
digunakan oleh para peneliti lain.
Pada tahun 1978, riset Hopwood diulang oleh Otley dengan temuan yang berbeda.
Pertama, Otley tidak dapat membuktikan peneuan Hopwood bahwa ketegangan bawahan
akan semakin meningkat dengan gaya keterbatasan laba. Kedua, bertentangan dengan
penemuan Hopwood, Otley menemukan bahwa kinerja manajer lebih baik dengan gaya
keterbatasan laba. Adanya pertemuan yang bertolak belakan tersebut, mengundang banyak
peneliti untuk menyelidikinya, hingga kemudian digunakan teori kontinjensi (contingency
theory) dalam riset akuntansi.

2. Dari Pendekatan Universal ke Pendekatan Kontijensi


Riset keperilakuan pada awalnya dirancang dengan pendekatan universal (universalistic
approach), seperti riset Argyris (1952), Hopwood (1972), dan Otley (1978). Tetapi, karena
pendekatan ini memiliki banyak kelemahan, maka segera muncul pendekatan lain yang
selanjutnya mendapat perhatian besar dalam bidang riset, yaitu pendekatan kontinjensi
(contingency approach).
Secara umum, teori ini menyatakan penyusunan dan penggunaan desain sistem
pengendalian manajemen bergantung pada karakteristik organisasi dan kondisi lingkungan
dimana sistem tersebut akan diterapkan. Teori ini menanggapi klaim dari pendekatan
universal yang menyatakan suatu sistem pengendalian bisa diterapkan dalam karakteristik
perusahaan dan kondisi lingkungan apapun. Pendekatan universal tersebut didasarkan pada
teori manajemen ilmiah (scientific management theory).
Berbagai riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi dilakukan dengan tujuan
mengidentifikasi berbagai variabel kontinjensi yang mempengaruhi perancangan dan

5
penggunaan sistem pengendalian manajemen. Secara ringkas, berbagai variabel kontinjensi
yang mempengaruhi desain sistem pengendalian manajemen tersebut adalah sebagai berikut:
Ketidakpastian (uncertainty) seperti tugas, rutinitas, repetisi dan faktor-faktor eksternal
lainnya.
1. Teknologi dan saling ketergantungan (technology and interdependence) seperti proses
produksi, produk masal, dan lainnya.
2. Industri, perusahaan dan unit variabel seperti kendala masuk ke dalam industri, rasio
konsentrasi dan ukuran perusahaan.
3. Strategi kompetitif (competitive strategy) seperti penggunaan biaya rendah atau
keunikan.
4. Faktor-faktor yang dapat diamati (observability factor) seperti desentralisasi,
sentralisasi, budaya organisasi dan lainnya
Kompleksitas desain riset yang menggunakan pendekatan kontijensi bisa dibagi dalam empat
tingkatan, yaitu:
1. Desain riset yang menghubungkan satu variabel kontijensi dengan satu variabel
sistem pengendalian.
2. Desain riset yang menguji interaksi antara satu variabel kontijensi dan satu variabel
sistem pengendalian terhadap variabel dependen tertentu, seperti kinerja atau
kepuasan kerja.
3. Desain riset yang menguji interaksi antara satu variabel kontijensi dengan lebih dari
satu variabel sistem pengendalian manajemen terhadap variabel konsekuensi.
4. Desain riset yang memasukkan berbagai variabel kontijensi untuk menentukan desain
pengendalian optimal.