Anda di halaman 1dari 13

Diabetes Mellitus

DI SUSUN OLEH :

UCIA MAHYA DEWI


8176141011

Dosen Pengampu:
Prof.Dr. Ramlan Silaban, M.Si

Mata Kuliah
Biokimia Lanjut

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN KIMIA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2018
Diabetes Mellitus

I. PENDAHULUAN

Diabetes Mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan


metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula
darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat
insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan
atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau
disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
WHO menyatakan Diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronis yang
disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai
karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol dan
menurut American Diabetes Association (ADA) Diabetes mellitus merupakan penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya.
Orang lanjut usia mengalami kemunduran dalam sistem fisiologisnya seperti kulit
yang keriput, turunnya tinggi badan, berat badan, kekuatan otot, daya lihat, daya dengar,
kemampuan berbagai rasa (senses), dan penurunan fungsi berbagai organ termasuk apa
yang terjadi terhadap fungsi homeostatis glukosa, sehingga penyakit degeneratif seperti
DM akan lebih mudah terjadi (Rochmah, 2006).
Umur secara kronologis hanya merupakan suatu determinan dari perubahan yang
berhubungan dengan penerapan terapi obat secara tepat pada orang lanjut usia. Terjadi
perubahan penting pada respon terhadap beberapa obat yang terjadi seiring dengan
bertambahnya umur pada sejumlah besar individu (Katzung, 2004).
Walaupun Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan
kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila pengelolaannya tidak tepat.
Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara multidisiplin yang mencakup terapi
non-obat dan terapi obat.
II. PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Diabetes Mellitus


Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau mengalihkan”
(siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau madu. Penyakit
diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume urine yang banyak
dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai
dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative insensitivitas sel terhadap
insulin (Corwin, 2009).
Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat kadar
glukosa darah yang tinggi yang disebabkan jumlah hormone insulin kurang atau jumlah
insulin cukup bahkan kadang-kadang lebih, tetapi kurang efektif (Sarwono, 2006).
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Diabetes Mellitus
adalah suatu keadaan dimana terjadinya peningkatan kadar gula dalam darah yang
mengakibatkan gangguan metabolisme dan berkembang menjadi gangguan multisistem
karena keterbatasan insulin di dalam tubuh seseorang

II.2 Gejala Diabetes Mellitus


Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang
tinggi.Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air
kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk
mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih
dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak
(poliuri). Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak
minum (polidipsi).
Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat
badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar
biasa sehingga banyak makan (polifagi).Dengan memahami proses terjadinya kelainan pada
diabetes melitus tersebut diatas, mudah sekali dimengerti bahwa pada penderita diabetes
melitus akan terjadi keluhan khas yaitu lemas, banyak makan, (polifagia) , tetapi berat badan
menurun, sering buang air kecil (poliuria), haus dan banyak minum (polidipsia).
Penyandang diabetes melitus keluhannya sangat bervariasi, dari tanpa keluhan sama
sekali, sampai keluhan khas diabetes melitusseperti tersebut diatas. Penyandang diabetes
melitus sering pula datang dengan keluhan akibat komplikasi seperti kebas, kesemutan akibat
komplikasi saraf, gatal dan keputihan akibat rentan infeksi jamur pada kulit dan daerah
khusus, serta adapula yang datang akibat luka yang lama sembuh tidak sembuh (Sarwono,
2006).

II.3 Faktor-Faktor Penyebab Diabetes Mellitus


Menurut Wijayakusuma (2004), penyakit DM dapat disebabkan oleh beberapa hal,
yaitu:
a. Pola Makan
Pola makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan
oleh tubuh dapat memacu timbulnya DM. Hal ini disebabkan jumlah atau kadar insulin
oleh sel β pankreas mempunyai kapasitas maksimum untuk disekresikan.
b. Obesitas
Orang yang gemuk dengan berat badan melebihi 90 kg mempunyai
kecenderungan lebih besar untuk terserang DM dibandingkan dengan orang yang tidak
gemuk.
c. Faktor genetik
Seorang anak dapat diwarisi gen penyebab DM dari orang tua. Biasanya,
seseorang yang menderita DM mempunyai anggota keluarga yang terkena juga.
d. Bahan-bahan kimia dan obat-obatan
Bahan kimiawi tertentu dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang
pankreas. Peradangan pada pankreas dapat menyebabkan pankreas tidak berfungsi
secara optimal dalam mensekresikan hormon yang diperlukan untuk metabolisme dalam
tubuh, termasuk hormon insulin.
e. Penyakit dan infeksi pada pancreas
Mikroorganisme seperti bakteri dan virus dapat menginfeksi pancreas sehingga
menimbulkan radang pankreas. Hal itu menyebabkan sel β pada pankreas tidak bekerja
secara optimal dalam mensekresi insulin

II.4 Komplikasi DM
Jika DM dibiarkan tidak terkendali, akan menimbulkan komplikasi yang dapat
berakibat fatal. Komplikasi diabetes dapat dicegah, ditunda atau diperlambat dengan
mengontrol kadar gula darah. Mengontrol kadar gula darah dapat dilakukan dengan terapi
misalnya patuh meminum obat (Sidartawan, 2007).
Komplikasi DM adalah semua penyakit yang timbul sebagai akibat dari DM, baik
sistemik, organ ataupun jaringan tubuh lainya. Proses glikosilasi (pengaruh gkukosa pada
semua jaringan yang mengandung protein) sangat berpengaruh pada timbulnya komplikasi
konis. Akhir-akhir ini AGE (Advanced Glycosylated Endoproduct) diduga yang bertanggung
jawab atas timbulnya komplikasi kronis. Karena AGE inilah yang merusak jaringan tubuh
terutama yang mengandung protein, dan juga disebabkan disfungsi endotel dan disfungsi
makrofag (Tjokroprawiro, 2007).
Klasifikasi komplikasi DM dibagi menjadi :
1) Komplikasi Akut
a. Hipoglikemi
Hipoglikemi merupakan komplikasi yang serius pada pengelolaan DM Tipe
2 terutama pada penderita DM usia lanjut, pasien dengan insufisiensi renal, dan
pasien dengan kelainan mikro maupun makroangiopati berat. Upaya untuk
mencegah terjadinya komplikasi diperlukan kendali gula darah yang berat
mendekati normal, sedangkan akibat dari kendali gula darah yang berat resiko
terjadinya hipoglikemi semakin bertambah berat. Diagnosis hipoglikemi
umumnya berdasarkan atas Trias Whipple yaitu adanya gejala hipoglikemi,
dengan darah berkadar gula yang rendah dan akan membaik bila kadar gula
kembali normal setelah pemberian gula dari luar. disebut gula darah rendah adalah
bila gula darah vena < 60 mg/dl. Penyebab terjadinya hipoglikemi :
 olah raga yang berlebih dari biasanya
 dosis obat diabetes berlebihan
 jadwal makan yang tidak tepat dengan obat diabetes yang diminum
 menghilangkan atau tidak menghabiskan makan atau snack
 minum alcohol
 tidak pernah kontrol sehingga obat yang diberikan dosisnya tidak tepat

b. Keto Asidosis Diabetes ( KAD )


Merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan penyakit
DM. Kriteria diagnosis KAD adalah sebagai berikut :
 Klinis : poliuria, polidipsia, mual dan atau muntah, pernafasan lemah,
dehidrasi, hipotensi sampai syok, kesadaran terganggu sampai koma.
 Darah : hiperglikemi lebih dari 300 mg/dl (biasanya melebihi 500 mg/dl).
Bikarbornat kurang dari 20 mEq/l dan pH < 7,35 (asidosis metabolik ),
ketonemia.
 Urine : glukosuria, ketonuria.
2) Komplikasi Kronis
Komplikasi kronis pada DM pada umumnya terjadi gangguan pembuluh darah
atau angiopati dan kelainan pada saraf atau neuropati.Angiopati pada pembuluh
darah besar disebut makroangiopati dan bilakena pembuluh darah kecil disebut
mikroangiopati, sedangkan neuropati bisa merupakan neuropati perifer maupun
neuropati otonom. Manifestasi klinis komplikasi kronis DM pada :
a. Infeksi (furunkel, karbunkel, TBC paru, UTI, mikosis)
b. Mata
 Lensa cembung sewaktu hiperglikemia (miopi – reversible, tetapi
katarak irreversible)
 Retinopati DM = RD (Non – Prolifeverative Retinopathy, dan
Proliferative Retinopathy)
c. Mulut (Tjokroprawiro, 2007)
 Ludah (kental, mulut kering = Xerostamia Diabetes)
 Gingiva (udematus, merah tua, gingivitis)
 Periodontium (rusak biasanya karena mikroangiopati periodontitis DM,
(semua menyebabkan gigi mudah goyah– lepas)
 Lidah (tebal, rugae, gangguan rasa akibat dari neuropati)
d. Saraf (Neuropathy)
Sistem saraf tubuh kita terdiri dari susunan saraf pusat, yaitu otak dan sum-
sum tulang belakang, susunan saraf perifer di otot, kulit, dan organ lain, serta
susunan saraf otonom yang mengatur otot polos di jantung dan saluran cerna. Hal
ini biasanya terjadi setelah glukosa darah terus tinggi, tidak terkontrol dengan
baik, dan berlangsung sampai 10 tahun atau lebih. Apabila glukosa darah berhasil
diturunkan menjadi normal, terkadang perbaikan saraf bisa terjadi. Namun bila
dalam jangka yang lama glukosa darah tidak berhasil diturunkan menjadi normal
maka akan melemahkan dan merusak dinding pembuluh darah kapiler yang
memberi makan ke saraf sehingga terjadi kerusakan saraf yang disebut neuropati
diabetik (diabetic neuropathy). Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf
tidak bisa mengirim atau menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah
kirim atau terlambat kirim. Tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf dan
saraf mana yang terkena.
II.5 Klasifikasi Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus dapat diklasifikasikan menjadi :
1) Diabetes Mellitus mencakup 3 sub kelompok diagnostik, yaitu :
a. Diabetes Mellitus tipe I (Insulin dependent) : DM jenis ini paling sering terdapat
pada anak-anak dan dewasa muda, namun demikian dapat juga ditemukan pada
setiap umur. Destruksi sel-sel pembuat insulin melalui mekanisme imunologik
menyebabkan hilangnya hampir seluruh insulin endogen. Pemberian insulin
eksogen terutama tidak hanya untuk menurunkan kadar glukosa plasma
melainkan juga untuk menghindari ketoasidosis diabetika (KAD) dan
mempertahankan kehidupan.
b. Diabetes Mellitus tipe II (non-insulin dependent) : DM jenis ini biasanya timbul
pada umur lebih 40 tahun. Kebanyakan pasien DM jenis ini bertubuh gemuk,
dan resistensi terhadap kerja insulin dapat ditemukan pada banyak kasus.
Produksi insulin biasanya memadai untuk mencegah KAD, namun KAD dapat
timbul bila ada stress berat. Insulin eksogen dapat digunakan untuk mengobati
hiperglikemia yang membandel pada para pasien jenis ini.
c. Diabetes Mellitus lain (sekunder) : Pada DM jenis ini hiperglikemia berkaitan
dengan penyebab lain yang jelas, meliputi penyakit-penyakit pankreas,
pankreatektomi, sindroma cushing, acromegaly dan sejumlah kelainan genetik
yang tak lazim.
2) Toleransi Glukosa yang terganggu merupakan klasifikasi yang cocok untuk para
penderita yang mempunyai kadar glukosa plasma yang abnormal namun tidak
memenuhi kriteria diagnostik.
3) Diabetes Mellitus Gestasional : istilah ini dipakai terhadap pasien yang menderita
hiperglikemia selama kehamilan. Ini meliputi 2-5% dari seluruh diabetes. Jenis ini
sangat penting diketahui karena dampaknya pada janin kurang baik bila tidak
ditangani dengan benar (Suyono, 2006).

II.6 Etiologi
1) Diabetes Mellitus tipe 1/ IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) DM tipe 1
ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas; faktor genetik; imunologi; dan
mungkin pula lingkungan (virus) diperkirakan turut menimbulkan distruksi sel beta.
a. Faktor genetic
Penderita DM tipe I mewarisi kecenderungan genetik kearah DM tipe I,
kecenderungan ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe HLA (Human
Leucocyt Antigen) tertentu. Resiko meningkat 20 x pada individu yang
memiliki tipe HLA DR3 atau DR4.
b. Faktor Imunologi
Respon abnormal dimana anti bodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan
cara bereaksi jaringan tersebut sebagai jaringan asing.
c. Faktor lingkungan
Virus / toksin tertentu dapat memacu proses yang dapat menimbulkan destruksi
sel beta.

2) DM tipeII / NIDDM
Mekanisme yang tepat menyebabkan resistensi insulin dan sekresi insulin pada DM
tipe 11 masin belum diketahui. Faktor resiko yang berhubungan adalah obesitas,
riwayat keluarga, usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia  65 tahun.
( Brunner dan Suddarth, 2002)

II.7 Patofisiologi
Diabetes Mellitus mengalami defisiensi insulin menyebabkan etaboli meningkat
sehingga terjadi pemecahan gula baru (Glukoneogenesis) yang menyebabkan etabolic
lemak meningkat kemudian terjadi proses pembentukan keton (ketogenesis). Terjadinya
peningkatan keton didalam plasma akan menyebabkan ketonuria (keton didalam urine) dan
kadar natrium menurun serta PH serum menurun yang menyebabkan asidosis.
Difisiensi insulin menyebabkan penggunaan glukosa oleh sel menjadi menurun
sehingga kadar glukosa darah dalam plasma tinggi (hiperglikemia). Jika hiperglikemianya
parah dan melebihi ambang ginjal maka timbul glikosuria. Glukosuria ini akan menyebabkan
deuresis etabol yang meningkatkan pengeluaran kemih (poliuri) dan timbul rasa haus
(polidipsi) sehingga terjadi dehidrasi. Glukosuria menyebabkan keseimbangan kalori etaboli
sehingga menimbulkan rasa lapar (polifagfi).Penggunaan glukosa oleh sel menurun
mengakibatkan produksi etabolic etabo menjadi menurun sehingga tubuh menjadi lemah.
Hiperglikemia dapat mempengaruhi pembuluh darah kecil (arteri kecil) sehingga suplai
makanan dan oksigen ke perifer menjadi berkurang yang akan menyebabkan luka tidak
sembuh-sembuh . Karena suplai makanan dan oksigen tidak adekuat yang mengakibatkan
terjadinya infeksi dan terjadi ganggren atau ulkus.
Gangguan pembuluh darah menyebabkan aliran ke retina menurun sehingga suplai
makanan dan oksigen berkurang, akibatnya pandangan menjadi kabur. Salah satu akibat
utama dari perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktur dan fungsi ginjal
sehingga terjadi nefropati.Diabetes mempengaruhi saraf – saraf perifer, sistem saraf otonom
dan sistem saraf pusat sehingga mengakibatkan neuropati.

II.8 Pengobatan Diabetes Mellitus


Pengobatan Diabetes Mellitus bertujuan untuk menghilangkan gejala dan tanda
Diabetes Mellitus, tercapainya pengendalian kadar glukosa dalam darah dan mencegah
terjadinya progresivitas penyulit seperti mikroangiopati dan neuropati. Pada DM tipe 1 dan
DM gestasional, pengobatan menggunakan insulin sedangkan pada DM tipe 2, pengobatan
menggunakan obat hiperglikemik oral (OHO). Sedangkan pengobatan farmakologi, pada
penderita DM harus diiringi dengan pengobatan non farmakologi, yaitu pengaturan pola
makan dan olahraga yang teratur.
Penggolongan obat hiperglikemik oral :
1. Sulfonilurea
Golongan ini bekerja dengan merangsang produksi insulin. Yang termasuk dalam
golongan ini adalah glibenklamid, glikazid, gliplizid, dan glimepirid.
2. Biguanid
Golongan ini bekerja dengan meningkatkan sensitivitas insulin. Yang termasuk
dalam golongan ini adalah metformin.
3. Thiazolidindion
Golongan obat ini bekerja dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin di otot,
hepar, dan jaringan lemak secara tidak langsung dengan mengaktivitasi PPAR-γ.
PPAR-γ merupakan etabo penting dalam transkripsi inti pada diferensi sel lemak
dan etabolic asam lemak. Contoh golongan ini adalah pioglitazon dan
rosiglitazon.
4. α-Glukosidase Inhibitors
Golongan ini bekerja dengan cara mencegah pemecahan sukrosa dan karbohidrat
oleh enzim α glukosidase di usus halus sehingga waktu absorpsi karbohidrat lebih
lama. Contoh golongan ini adalah akarbose.

II.9 Faktor-faktor Meringankan DM


a. Kebiasaan konsumsi sayur dan buah
Kebiasaan konsumsi sayur dan buah sangatlah penting untumenghambat
penyerapan hidrat arang, protein dan lemakKonsumsi tinggi serat memberikan
keuntungan perasaaan kenyang dan puas yang membantu mengendalikan nafsu makan.
Makanan tinggi serat biasanya rendah kalori sehingga membantu penurunaberat badan.
Jenis serat tertentu (terutama terdapat pada beberapa jenis buah seperti apel dan jeruk
serta kacang-kacangan) memperlambat penyerapan glukosa darah sehingga mempunyai
pengaruh pada penurunan gluosa darah.

b. aktivitas fisik
Aktifitas fisik mencerminkan gerakan tubuh yang disebabkan oleh kontraksi otot
menghasilkan etabo. Berjalan kaki, bertanam, menaiki tangga, bermain bola, menari,
merupakan aktifitas fisik yang baik untuk dilakukan. Untuk kepentingan kesehatan,
aktifitas fisik haruslah sedang atau bertenanga serta dilakukan lebih 30 menit setiap
harinya dalam seminggu. Untuk penurunan berat badan atau mencegah peningkatan
berat badan, dibutuhkan aktifitas fisik sekitar 60 menit dalam sehari .Olahraga ringan
sangat baik dilakukan pada penderita DM tipe 2, karena mempunyai beberapa
keuntungan antara lain:
1. Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa up-take) apabila dilakukan setiap
11/2 jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada
penderita kegemukan atau menambah reseptor insulin.
2. Mencegah kegemukan.
3. Memperbaiki aliran darah perifer dan menambah suplai oksigen.
4. Berkurangnya glikogen otot dan hati merangsang pembentukan glikogen
yang baru.
5. Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena
pembakaran asam lemak menjadi lebih baik.
6. Karena etabo-faktor tersebut diatas maka regulasi DM akn menjadi lebih
mudah

c. Faktor Umur
Umur merupakan salah satu etabo yang sangat penting dalam pengaruhnya
terhadap prevalensi DM maupun gangguan toleransi glukosa. Prevalensi DM maupun
gangguan toleransi glukosa naik bersama bertambahnya umur, dan membentuk suatu
plateu dan kemudian menurun. Waktu terjadinya kenaikan dan kecepatan kenaikan
prevalensi tersebut serta pencapaian puncak dan penurunannya sangat bervariasi
diantara studi pernah dilakukan. Namun demikian tampaknya para peneliti mensepakati
bahwa kenaikan prevalensi didapatkan mulai sejak awal masa dewasa (Rochmah,
2006). WHO menyatakan bahwa setelah seseorang mencapai umur 30 tahun, maka
kadar glukosa darah akan naik 1-2% per tahun pada saat puasa dan akan naik sekitar
5,6-13mg% pada 2 jam setelah makan. Berdasarkan hal tersebut tidaklah mengherankan
apabila umur merupakan etabo utama terjadinya peningkatan prevalensi DM serta
gangguan toleransi (Rochmah, 2006).

d. Faktor Genetik
Setiap orang mempunyai potensi yang sama untuk terkena diabetes. Namun,
orang-orang yang memiliki riwayat kesehatan keluarga diabetes berpotensi terkena
diabetes lebih dini, bila menjalankan hidup tidak sehat seperti banyak mengkonsumi
makanan berlemak, bergula dan kurang beraktivitas. Riwayat kesehatan keluarga sangat
perlu diperhatikan. Tidak hanya dilihat dari kondisi kesehatan ayah dan ibu, tetapi juga
kakek, nenek, paman, bibi atau sepupu yang memiliki hubungan darah. Kalau salah satu
diantara mereka ada yang terkena, hendaknya mulai dari sekarang mengatur pola makan
agar tidak menyesal di kemudian hari (Sidartawan, 2010).

e. Faktor Jenis Kelamin


Dalam penelitian Kuezmarski melaporkan bahwa wanita lebih sering mengalami
kelebihan berat badan daripada pria (Sutejo, 1994). Wanita mempunyai lebih banyak
jumlah sel lemak dibandingkan pria, di samping itu wanita juga mempunyai basal
etabolic rate yang lebih rendah dari pria.
III. PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit gangguan etabolic yang ditandai dengan
hiperglikemia dan kelainan (abnormalitas) dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein. Gangguan metabolik ini disebabkan oleh adanya kerusakan sekresi insulin,
sensitivitas insulin, atau keduanya. Diabetes Mellitus dapat digolongkan menjadi Diabetes
Mellitus tipe 1, Diabetes Mellitus tipe 2, dan Diabetes Gestasional. Pengobatan Diabetes
Mellitus bertujuan untuk menghilangkan gejala dan tanda Diabetes Mellitus, tercapainya
pengendalian kadar glukosa dalam darah dan mencegah terjadinya progresivitas penyulit
seperti mikroangiopati dan neuropati.

III.2 Saran
Sebaiknya para pembaca memahami tentang diabetes mellitus dan dapat menerapkan
pengetahuan mengenai penyakit ini, agar banyak yang mengetahui bahaya penyakit tesebut.
Bagi para pembaca hendaknya kita menjaga lingkungan sekitar kita dan mulai bisa
mengontrol makanan yang dapat membuat kadar gula kita naik serta dianjurkan agar kita
mengecek kadar gula kita untuk mewaspadainya dan jangan lupa untuk mengkonsumsi
makanan yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Siddarth, (2002),Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC,


Jakarta.

Corwin, E., (2009).Buku Saku Patofisiologi. EGC, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes. (2005). Pharmaceutical
Care untuk Diabetes Mellitus. Jakarta.

Katzung, B. G., (2004) . Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi XIII. Buku 3. Translation of
Basic and Clinical Pharmacology Eight Edition Alih bahasa oleh Bagian Farmakologi
Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Salemba Medika

Rochmah,W.,(2006), Diabetes Mellitus pada usia lanjut,Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Sarwono,W., (2006). Kaki Diabetes. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3. Edisi
IV. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta.

Suyono S., (2006), Diabetes Melitus di Indonesia. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. IV ed.
Pusat penerbitan Ilmu Penyakit dalam FK UI, Jakarta.

Sidartawan,Soewondo,P dan Subekti,I., (2007), Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.


Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Tjokoprawiro,A., (2006), Hidup sehat dan bahagia bersama diabetes. Gramedia Pustaka
Utama,Jakarta.

Turdiyanto,T. 2013. Tri Rahayu Ningsih., editors. Farmakologi untuk SMK Farmasi. EGC,
2013. Jakarta

Wijayakusuma,H., (2004) . Diabetes mellitus. Dalam : Bebas diabetes mellitus ala hembing.
Edisi 1. Jakarta : Puspa Swara