Anda di halaman 1dari 8

TUGAS RUTIN

DI SUSUN OLEH :

UCIA MAHYA DEWI


8176141011

Dosen Pengampu:
Prof.Dr. Ramlan Silaban, M.Si

Mata Kuliah
Biokimia Lanjut

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN KIMIA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2018
LATIHAN 1

Suatu enzim protease diisolasi dari pankreas sapi. Reaksi enzim dilakukan pada suhu 37oC dan
pH 5,0 selama 60 menit. Jika substrat semula ada sebanyak 0,050 g dan sesudah reaksi sisa 0,045
g. Tentukanlah aktifitas enzim jika dalam preparat enzim ada protein sebanyak 0,020 g

JAWAB

Dik: T = 37oC

pH =5

t = 60 menit

msubstratawal = 0,050 gr

msubtratsisa = 0,045 gr

mprotein = 0,020 gr

Dit: Aktifitas enzim = ………..?

JAWAB

𝑠𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑢𝑏𝑡𝑟𝑎𝑡 0,050−0,045


Aktifitas Unit (IU) = = = 8x10-5 gram/menit
𝑡 (𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡) 60

8𝑥10−5
Aktiitas Spesifik (AS) = 2 𝑥 10−2 = 4x10-3 menit
LATIHAN 2

1. Mengapa suatu enzim rusak? Jelaskan beberapa faktor yang mungkin dapat merusak enzim

JAWAB

Enzim adalah merupakan protein yang bersifat termolabil atau sifat mudah rusak karena
pengaruh suhu yang terlalu tinggi ataupun dibawah 0oC. Jika suhu enzim terlalu tinggi dapat
mengakibatkan denaturasi protein atau kerusakan pada protein, demikian sebaliknya jika
suhu terlalu rendah akan menghambat kinerja/aktifitas enzim. Tinggi rendahnya suhu
lingkungan menimbulkan perubahan pH dan jumlah konsentrasi pada enzim tidak seimbang
dengan jumlah substrat Hal ini akan menyebabkan enzim kehilangan fungsinya sama sekali.
Kerja enzim juga dipengaruhi oleh molekul lain. Inhibitor adalah molekul yang menurunkan
aktivitas enzim, sedangkan aktivator adalah yang meningkatkan aktivitas enzim.
Faktor-faktor yang mungkin dapat merusak enzim:

1. Pengaruh Temperatur
Enzim memiliki rentang temperatur tertentu agar dapat bereaksi dengan optimal. Pada
temperatur yang tinggi, enzim akan rusak (terdenaturasi) sebagai sifat umum dari protein.
Pada kondisi ini, struktur enzim sudah berubah dan rusak sehingga tidak dapat digunakan
lagi. Adapun pada temperatur yang rendah, enzim berada pada kondisi inaktif (tidak aktif).
Enzim akan bekerja kembali dengan adanya kenaikan temperatur yang sesuai. Semua enzim
memiliki kondisi temperatur yang spesifik untuk bekerja optimal.

2. Pengaruh pH
Perubahan pH pada lingkungan sekitar enzim akan membuat perubahan asam amino
kunci di sisi aktif enzim. Hal ini membuat sisi aktif enzim terhalangi untuk dapat bergabung
dengan substrat. pH optimum yang diperlukan masing-masing enzim mempunyai kisaran
yang berbeda, tergantung dari jenis enzimnya.
Pada umumnya, enzim akan bekerja optimum pada pH 6-8. Perubahan pH lingkungan
akan mengakibatkan terganggunya ikatan hidrogen yang ada pada struktur enzim. Jika enzim
berada pada kondisi pH yang tidak sesuai, enzim dapat berada pada keadaan inaktif. Dengan
adanya kondisi pH yang spesifik ini, enzim tidak akan merusak sel lain yang berada di
sekitarnya.

3. Pengaruh Konsentrasi Substrat dan Enzim


Reaksi kerja enzim dapat optimum jika perbandingan antara konsentrasi substrat dan
enzim berada dalam jumlah yang seimbang. Bila jumlah enzim lebih sedikit dibanding
jumlah substratnya, maka reaksi hanya akan berjalan lambat sehingga ada beberapa substrat
yang tidak terkatalisasi. Sementara, bila jumlah enzim lebih banyak dibanding jumlah
substratnya, maka reaksi akan berjalan sangat cepat.

4. Pengaruh Inhibitor
Laju reaksi enzim sebagai biokatalisator suatu substrat juga dipengaruhi adanya zat
penghambat atau inhibitor. Bila inhibitor ditambahkan atau muncul dalam lingkungan reaksi,
maka kecepatan kerja enzim akan menurun. Secara umum, ada 2 jenis inhibitor dalam faktor
yang mempengaruhi kerja enzim. Keduanya yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor non
kompetitif.
a. Inhibitor kompetitif
Inhibitor kompetitif adalah inhibitor yang mempunyai struktur mirip dengan substrat.
Oleh karenanya, antara inhibitor dan substrat akan saling bersaing dalam melakukan ikatan
dan bergabung dengan sisi aktif enzim. Bila inhibitor yang lebih dulu berikatan, maka
substrat tidak akan terkatalis, begitupun sebaliknya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar
ilustrasi mekanisme penghambatan oleh inhibitor kompetitif pada gambar di bawah ini.
b. Inhibitor non kompetitif
Inhibitor non kompetitif adalah inhibitor yang jika telah melakukan ikatan pada suatu
bagian enzim mampu mengubah sisi aktif enzim menjadi tidak sesuai dengan struktur
substrat. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar ilustrasi mekanisme penghambatan oleh
inhibitor non kompetitif pada gambar di atas.
2. Seorang ibu rumah tangga memasak ekstrak nenas untuk membuat kue. Apakah nama enzim
dalam nenas, lalu bagaimana kah nasib enzim kandungannya?
JAWAB
Enzim pada buah nenas yaitu enzim bromelain. Bromelin adalah enzim proteolitik yang
ditemukan pada bagian batang dan buah nanas (Ananas comosus). Enzim ini diproduksi
sebagai hasil sampingan dari pabrik jus nanas. Dalam memproduksi bromelin, beberapa
senyawa yang dapat digunakan untuk presipitasi (pengendapan) enzim ini adalah amonium
sulfat dan alkohol. Berdasarkan data dari enzim bromelin yang dikandung oleh buah nanas
dan batangnya, bahwa ketika digunakan sebagai bahan pembuatan kue maka sangat bagus
dalam menambah kandungan nutrisii dari kue itu sendiri. Namun ekstrak yang digunakan
tidak bisa menggunakan proses pemasakan kue dengan suhu yang diatas 65 C dan kondisi
dengan pH diatas 5,5 karena akan membuat ekstrak nanas yang digunakan pada kue tidak
dapat menghasilkan manfaat bagi tubuh, sebab sudah terdenaturasi oleh suhu tinggi dan pH
yang terlalu tinggi atau keadaan basa.

3. Apa beda enzim terdenaturasi dengan enzim terhidrolisis? Jelaskan


JAWAB
Perbedaan enzim terdenaturasi dengan enzim terhidrolisis:
Peningkatan suhu di atas suhu optimum menyebabkan putusnya ikatan hydrogen dan ikatan
lain yang merangkai molekul enzim, sehingga enzim mengalami denaturasi. Denaturasi
adalah rusaknya bentuk tiga dimensi enzim yang menyebabkan enzim tidak dapat lagi
berikatan dengan substratnya. Sedangkan enzim yang terhidrolisis adalah proses pemecahan
polimer menjadi monomer penyusunnya dengan bantuan enzim.
LATIHAN 3

Dalam reaksi yang melibatkan NAD+ atau NADP+ (enzim-enzim dehidrogenase), sifat
NADH atau NADPH (tetapi bukan NAD+ atau NADP+ ) yang menyerap cahaya dengan panjang
gelombang 340 nm (Gambar 8-4) membawa manfaat. Oksidasi NADH menjadi NAD+ terjadi
disertai dengan penurunan densitas optik (OD, optical density) pada 340 nm, yang proporsional
dengan jumlah NADH yang dioksidasi. Demikian pula, kalau NAD+ direduksi, OD pada 340 nm
akan meningkat sebanding dengan jumlah NADH yang terbentuk. Perubaahan OD pada 340 nm
ini dapat dimanfaatkan bagi pemeriksaan analisis kuantitatif setiap enzim dehidrogenase yang
bergantung NAD+ atau NADP+ sebagai berikut. Bagi enzim dehidrogenase yang mengatalitis
oksidasi NADH oleh substratnya yang teroksidasi, kecepatan penurunan OD pada 340 nm akan
berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Oleh karena itu, hasil pengukuran kecepatan
Penurunan OD pada 340 nm memungkinkan kita menyimpulkan kuantitas enzim, yang
dinyatakan dengan unit aktivvitas, yang terdapat di dalam sampel biologik tertentu seperti serum
atau ekstrak jaringan.
LATIHAN 4

Data dari suatu penelitian tentang enzim amilase diperoleh data berikut:

No Konsentrasi substrat Laju reaksi 1/[S] 1/V


Perc
(mmol/L) (mmol/L.Det)
1 0,01 0,005 100 200
2 0,02 0,010 50 100
3 0,04 0,020 25 50
4 0,06 0,022 16,7 45,45
5 0,08 0,022 12,5 45,45

 Buatlah rancangan eksperimen (reka ulanglah) dimana enzim amilase diperoleh dari air
ludah, substratnya pati.
 Tentukanlah parameter kinetika reaksi berupa Vm dan Km, menurut persamaan Michaelis-
Menten dan persamaan Lineweaver-Burk.

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengatahui nilai kecepatan reaksi maksimum
(Vmaks) dan konstanta Michaelis-Menten (Km) enzim amilase pada substrat pati. Sehingga
berdasarkan nilai Km akan diketahui pada konsentrasi berapa substrat pati menghasilkan
kecepatan reaksi sebesar ½ dari kecepatan maksimum. Penentuan Vm dan Km dilakukan dengan
menggunakan kurva Lineweaver-Burk dengan membuat grafik hubungan antara (1/v) sebagai
sumbu Y dan (1/[S] sebagai sumbu X. Selanjutnya data-data yang diperoleh dibuat regresi
liniernya dan diperoleh persamaan garis.
Dari data pengalihan persamaan yaitu dengan menggunakan nilai 1/s dan 1/v, diperoleh
persamaan grafik y = a + bx yaitu y = 1,833x + 13,3 untuk mendapatkan nilai Km dan Vm dari
proses reaksi enzimatis amilase terhadap substrat pati. dimana nilai a = 1,883 dan nilai b = 13,3.
Dari pengalihan persamaan Michelis-Menten (1/Vo = Km/Vmaks[S] + 1/Vmaks) dapat diketahui
bahwa nilai a = 1/Vmaks dan nilai b = Km/Vmaks. sehingga dari persamaan tersebut dapat
diperoleh:

Nilai intersep = 13,3 (b)


nilai slope = 1,833 (a)
1/Vmax = 13,3
Vmax = 1/13,3 = 0,075 mmol/Det
a = Km/Vmaks
Km = 1,833 x 0,075 = 0,137
Dari perhitungan di atas maka didapatkan nilai Vmaks = 0,075 mmol/L.Det dan nilai Km =
0,137. Dari nilai Km dapat disimpulkan bahwa reaksi hidrolisis pati yang dikatalisis oleh enzim
amilase optimalnya terjadi pada konsentrasi pati sebesar 0,137 mmol dengan kecepatan
maksimun sebesar 0,075 mmol/L.Det, artinya apabila kecepatan melebihi kecepatan maksimum
yang ditandai dengan semakin banyaknya substrat yang masuk, maka kecepatan reaksi akan
menurun hingga enzim amilase akan jenuh terhadap pati sehingga kecepatan reaksi cenderung
tidak akan meningkat. Setiap enzim memiliki nilai Km yang spesifik.