Anda di halaman 1dari 52

Organ Penyusun Sistem Pencernaan pada Manusia

00.54

Sistem pencernaan pada manusia melibatkan banyak organ. Apa saja organ
penyusun sistem pencernaan pada manusia ?

Organ penyusun sistem pencernaan pada manusia terdiri atas rongga mulut,
kerongkongan, lambung, pankreas, usus, dan anus. Berikut uraian dari masing-
masing organ pencernaan pada manusia.

a. Rongga mulut
Rongga mulut merupakan organ yang pertama mencerna makanan. Di dalam
rongga mulut terdapat beberapa alat pencernaan, yaitu :
1. Gigi
Gigi berperan dalam proses pencernaan mekanik, yaitu mengubah makanan
yang besar menjadi ukuran yang lebih kecil agar lebih mudah ditelan. Ada
beberapa jenis gigi :
a. Gigi seri, berguna untuk memotong makanan. Jumlah gigi seri pada manusia
ada 8 buah.
b. Gigi taring, berguna untuk merobek makanan. Jumlah gigi taring pada
manusia ada 4 buah.
c. Gigi geraham, berguna untuk mengunyah makanan. Jumlah gigi geraham
pada manusia ada 8 buah.
Pada anak-anak terdapat gigi susu, yaitu gigi yang masig tumbuh jika gigi yang
lain tumbuh.
2. Lidah
Lidah berperan sebagai indra perasa. Manusia dapat merasakan rasa manis,
pahit, asin, pedas karena adanya sel-sel perasa pada lidah. Lidah juga
membantu memdorong makanan menuju lambung.
3. Kelenjar ludah
Kelenjar ludah pada mulut berguna untuk menghasilkan enzim ptialin yang
membantu pencernaan makanan secara kimiawi.

b. Kerongkongan
Kerongkongan melakukan gerak
peristaltik, yaitu gerakan mendorong dan meremas
makanan menuju lambung.

c. Lambung
Lambung melakukan pencernaan secara mekanik dan kimiawi. Pencernaan
kimiawi di dalam lambung yaitu peremasan makanan yang dilakukan oleh otot-
otot dinding lambung. Sedangkan pencernaan kimiawi dibantu oleh enzim yang
dihasilkan oleh lambung.
Lambung menghasilkan enzim :
1. Renin : berfungsi mengendapkan protein susu yang terdapat pada air susu
2. HCL : berfungsi membunuh kuman
3. Pepsin : berfungsi mengubah protein menjadi peptida

d. Pankreas
Pankreas tidak mencerna makanan, tetapi menghasilkan enzim-enzim yang
berperan membantu proses pencernaan.
Pankreas menghasilkan enzim :
1. Lipase : berfungsi mengubah lemak menjadi gliserol dan asam lemak
2. Tripsin : membantu proses penguraian protein
3. Amilase : membantu proses penguraian amilum
e. Hati
Sama halnya dengan pankreas, hati berperan menghasilkan empedu. Hati juga
berguna untuk menimbun sari-sari makanan. Hati merupakan organ
pencernaan makanan terbesar dengan berat 2 kg.

f. Usus
Usus pada manusia dibagi menjadi :
1. Usus duabelas jari : menghubungkan lambung dengan usus halus. Usus
duabelas jari memiliki saluran dengan hati dan pankreas yang berfungsi untuk
menyalurkan enzim pencernaan dari pankreas.
2. Usus halus : usus halus merupakan usus terpanjang di dalam sistem
pencernaan manusia. Panjang usus halus orang dewasa 6-8m. di dalam usus
halus terjadi proses penyerapan sari-sari makanan.
3. Usus besar : di dalam usus besar terjadi penyerapan air dan pembusukan
sisa sari sari makanan oleh bentuan bakteri Escherichia coli.

g. Anus
Berfungsi untuk mengeluarkan sisa sari sari makanan yang tidak diserap oleh
tubuh.

Demikianlah sekilas tentang organ penyusun sistem pencernaan pada manusia.


Semoga bermanfaat.

Proses Pencernaan Makanan Dalam


Sistem Pencernaan Pada Manusia
Pertama-tama, pencernaan dilakukan oleh mulut. Disini dilakukan pencernaan mekanik yaitu
proses mengunyah makanan menggunakan gigi dan pencernaan kimiawi menggunakan enzim
ptialin (amilase). Enzim ptialin berfungsi mengubah makanan dalam mulut yang mengandung
zat karbohidrat (amilum) menjadi gula sederhana (maltosa). Maltosa mudah dicerna oleh organ
pencernaan selanjutnya. Enzim ptialin bekerja dengan baik pada pH antara 6,8 – 7 dan suhu
37oC.
Makanan selanjutnya dibawa menuju lambung dan melewati kerongkongan. Makanan bisa
turun ke lambung karena adanya kontraksi otot-otot di kerongkongan. Di lambung, makanan
akan melalui proses pencernaan kimiawi menggunakan zat/enzim sebagai berikut:
 Renin, berfungsi mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu (ASI). Hanya
dimiliki oleh bayi.
 Pepsin, berfungsi untuk memecah protein menjadi pepton.
 HCl (asam klorida), berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai
disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus
halus.
 Lipase, berfungsi untuk memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Namun
lipase yang dihasilkan sangat sedikit.
Setelah makanan diproses di lambung yang membutuhkan waktu sekitar 3 – 4 jam, makanan
akan dibawa menuju usus dua belas jari. Pada usus dua belas jari terdapat enzim-enzim berikut
yang berasal dari pankreas:

1. Amilase. Yaitu enzim yang mengubah zat tepung (amilum) menjadi gula lebih
sederhana (maltosa).
2. Lipase. Yaitu enzim yang mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
3. Tripsinogen. Jika belum aktif, maka akan diaktifkan menjadi tripsin, yaitu enzim
yang mengubah protein dan pepton menjadi dipeptida dan asam amino yang siap
diserap oleh usus halus.
Selain itu, terdapat juga empedu. Empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung di dalam kantung
empedu. Selanjutnya, empedu dialirkan melalui saluran empedu ke usus dua belas jari.
Empedu mengandung garam-garam empedu dan zat warna empedu (bilirubin). Garam empedu
berfungsi mengemulsikan lemak. Zat warna empedu berwarna kecoklatan, dan dihasilkan
dengan cara merombak sel darah merah yang telah tua di hati. Empedu merupakan
hasil ekskresi di dalam hati. Zat warna empedu memberikan ciri warna cokelat pada feses.
Selanjutnya makanan dibawa menuju usus halus. Di dalam usus halus terjadi proses
pencernaan kimiawi dengan melibatkan berbagai enzim pencernaan. Karbohidrat dicerna
menjadi glukosa. Lemak dicerna menjadi asam lemak dan gliserol, serta protein dicerna
menjadi asam amino. Jadi, pada usus dua belas jari, seluruh proses pencernaan karbohidrat,
lemak, dan protein diselesaikan. Selanjutnya, proses penyerapan (absorbsi) akan berlangsung
di usus kosong dan sebagian besar di usus penyerap. Karbohidrat diserap dalam bentuk
glukosa, lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol, dan protein diserap dalam
bentuk asam amino. Vitamin dan mineral tidak mengalami pencernaan dan dapat langsung
diserap oleh usus halus.
Makanan yang tidak dicerna di usus halus, misalnya selulosa, bersama dengan lendir akan
menuju ke usus besar menjadi feses. Di dalam usus besar terdapat bakteri Escherichia coli.
Bakteri ini membantu dalam proses pembusukan sisa makanan menjadi feses. Selain
membusukkan sisa makanan, bakteri E. coli juga menghasilkan vitamin K. Vitamin K berperan
penting dalam proses pembekuan darah. Sisa makanan dalam usus besar masuk banyak
mengandung air. Karena tubuh memerlukan air, maka sebagian besar air diserap kembali ke
usus besar. Penyerapan kembali air merupakan fungsi penting dari usus besar.
Selanjutnya sisa-sisa makanan akan dibuang melalui anus berupa feses. Proses ini dinamakan
defekasi dan dilakukan dengan sadar.

5. Gangguan Pada Sistem Pencernaan


Manusia
Gangguan pada sistem pencernaan cukup beragam. Faktor penyebabnya-pun bermacam-
macam, di antaranya makanan yang kurang baik dari segi kebersihan dan kesehatan,
keseimbangan nutrisi, pola makan yang kurang tepat, adanya infeksi, dan kelainan pada organ
pencernaan.
Ada beberapa gangguan atau kelainan yang dapat terjadi pada sistem pencernaan pada
manusia. Diantaranya:

5.1. Gastritis
Merupakan suatu peradangan akut atau kronis pada lapisan mukosa (lender) dinding lambung.
Penyebabnya ialah penderita memakan yang mengandung kuman penyakit. Kemungkinan juga
karena kadar asam klorida (HCL) pada lambung terlalu tinggi.

5.2. Hepatitis
Hepatitis merupakan penyakit yang terjadi akibat infeksi virus pada hati. Virus dapat masuk ke
dalam tubuh melalui air atau makanan.

5.3. Diare
Diare terjadi karena adanya iritasi pada selaput dinding usus besar atau kolon. Fases penderita
diare berbentuk encer. Penyebabnya adalah penderita memakan makanan yang mengandung
bakteri atau kuman. Akibatnya gerakan peristaltic dalam usus tidak terkontrol. Sehingga, laju
makanan meningkat dan usus tidak dapat menyerap air. Namun, apabila fases yang
dikeluarkan bercampur dengan darah dan nanah, kemudian perut terasa mulas, gejala tersebut
menunjuk pada penyakit desentri. Penyebabnya yakni infeksi bakteri Shigella pada dinding
usus besar.

5.4. Konstipasi
Konstipasi atau yang sering kita sebut dengan sebutan “sembelit” adalah keadaan yang dialami
seseoang dengan gejala fases mengeras sehingga susah dikeluarkan. Sembelit disebabkan
oleh adanya penyerapan air pada sisia makanan. Akibatnya, fases kekurangan air dan menjadi
keras. Ini terjadi dari kebiasaan buruk yang menunda-nunda buang besar. Selain itu, juga
karenakurangnya penderita dalam mengkonsumsi makanan berserat. Oleh karena itu, banyak
memakan buah-buahan dan sayur-sayuran berserat serta minum banyak air dapat mencegah
gangguan ini.

5.5. Apendisitis
Apendisitis merupakan gangguan yang terjadi karena peradangan apendiks. Penyebabnya
ialah adanya infeksi bakteri pada umbai cacing (usus buntu). Akibatnya, timbul rasa nyeri dan
sakit.

5.6. Hemeroid/Wasir/Ambeyen
Hemoroid/Wasir/Ambeyen merupakan gangguan pembengkakan pada pembuluh vena disekitar
anus. Orang yang sering duduk dalam beraktivitas dan ibu hamil seringkali mengalami
gangguan ini.

5.7. Maag
Orang yang mengalami maag memiliki ciri-ciri rasa perih pada dinding lambung, mual, muntah,
dan perut kembung. Gangguan ini disebabkan meningkatnya kadar asam lambung yang dipicu
karena pikiran tegang, pola makan yang tak teratur, dan lain sebagainya.

5.8. Keracunan
Keracunan makanan dapat terjadi karena pengaruh beberapa bakteri semisal bakteri
Salmonela yang menyebabkan penyakit demam tipus dan paratipus.
5.9. Tukak Lambung
Tukak lambung adalah salah satu kelainan sistem pencernaan yakni kerusakan pada selaput
lendir. Tukak lambung dapat disebabkan oleh factor-faktor kuman, toksin, ataupun
psikosomatis. Kecemasan, ketakutan, stress, dan kelelahan merupakan faktor psikosomatis
yang akhirnya dapat merangsang pengeluaran HCL di lambung. Jika HCL berlebihan, selapu
lendir lambung akan rusak.

5.10. Malnutrisi (kurang gizi)


Yakni penyakit yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan enzim pencernaan.
Gangguan tersebut disebabkan oleh sel-sel pancreas atropi yang kehilangan banyak reticulum
endoplasma. Sebagai contoh adalah kwashiorkor, yakni penyakit akibat kekurangan protein
yang parah dan pada umumnya menyerang anak-anak.

6. Organ Sistem Pencernaan pada


Manusia
Terdapat 6 organ utama dalam sistem pencernaan yaitu mulut, kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar, dan anus. Berikut adalah 6 organ pencernaan
manusia beserta bagian-bagiannya.

6.1. MULUT
Mulut adalah pintu masuk makanan. Di dalam mulut terdapat lidah, rongga mulut,
kelenjar ludah, dan gigi. Jadi fungsi mulut bermacam-macam yaitu menghancurkan
makanan, mencerna makanan, mengecap rasa makanan, dan membantu menelan
makanan. Di dalam mulut terjadi pencernaan mekanis (dengan gigi dan lidah) dan
pencernaan kimiawi (dengan ludah yang mengandung enzim ptialin). Berikut adalah
gambar anatomi mulut beserta bagian-bagiannya:
Mulut terdiri dari:
1. Langit-langit
2. Gigi
3. Gusi
4. Tulang langit-langit
5. Pembuluh darah dan saraf langit-langit
6. Amandel
7. Lidah
8. Anak lidah
6.2. Kerongkongan

Kerongkongan adalah penghubung antara mulut dan lambung. Kerongkongan disebut


juga esofagus. Kerongkongan berbentuk tabung dan terdapat otot. Otot pada
kerongkongan berfungsi untuk membawa makanan dari mulut ke lambung dengan
menggunakan gerak peristaltik. Berikut adalah gambar anatomi kerongkongan beserta
bagian-bagiannya:
Kerongkongan dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1. Bagian superior yang sebagian besar terdiri dari otot rangka.
2. Bagian tengah yang terdiri dari campuran otot rangka (otot lurik) dan
otot polos.
3. Bagian inferior yang terdiri dari otot polos.
6.3. Lambung

Lambung adalah organ pencernaan yang berfungsi untuk mencerna berbagai zat-zat
makanan. Letak lambung berada di bawah sekat rongga badan. Di dalam lambung
terjadi pencernaan kimiawi dengan menggunakan enzim pepsin, enzim renin, enzim
lipase, dan asam lambung (HCl). Berikut adalah gambar anatomi lambung beserta
bagian-bagiannya:
Lambung terdiri dari tiga bagian utama yaitu kardiak, fundus, dan pilorus. Di ujung
bagian atas lambung yang berbatasan dengan kerongkongan terdapat sfingter yang
berfungsi untuk menjaga makanan agar tidak keluar dari lambung dan dimuntahkan
kembali. Sedangkan di bagian bawah yang berbatasan dengan usus dua belas jari
disebut sfingter pilorus.

6.4. Usus Halus

Usus halus adalah tempat penyerapan sari-sari makanan. Disini juga terjadi
proses pencernaan kimiawi dengan bantuan enzim tripsin, enzim disakarase,
enzim erepsin, dan enzim lipase. Sari-sari makanan diserap melalui jonjot-jonjot
usus yang disebut vili. Seluruh sari makanan kecuali asam lemak dan gliserol
diangkut melalui vena porta menuju ke hati. Sedangkan asam lemak dan gliserol
diangkut melalui pembuluh limfa. Berikut adalah gambar anatomi usus halus
beserta bagian-bagiannya:
Di usus halus juga terdapat duodendum (usus dua belas jari), jejunum, dan ileum.

6.5. Usus Besar

Usus besar adalah usus yang terbesar. Fungsi usus besar adalah untuk memilah
kembali hasil pencernaan. Disini terjadi penyerapan air dengan jumlah yang
terbesar daripada organ lain dan terjadi proses pembusukan sisa-sisa makanan
dengan bantuan bakteri. Berikut adalah gambar anatomi usus besar beserta
bagian-bagiannya:
Struktur usus besar terdiri dari:
1. Usus buntu
2. Kolon asedens (kolon naik)
3. Kolon transversum (kolon datar)
4. Kolon desendens (kolon turun)
5. Rektum. Tempat menyimpan feses sebelum dikeluarkan melalui anus.
6.6. Anus

Anus atau dubur adalah penghubung antara rektum dengan lingkungan luar tubuh. Di
anus terdapat otot sphinkter yang berfungsi untuk membuka dan menutup anus. Fungsi
utama anus adalah sebagai alat pembuangan feses melalui proses defekasi (buang air
besar). Berikut adalah gambar anatomi anus beserta bagian-bagiannya:
Di anus terdapat otot sphinkter, rektum, dan vena. Fungsi otot sphinkter adalah untuk
membuka atau menutup anus. Sedangkan fungsi rektum adalah untuk menyimpan
feses sementara waktu.

Sumber:
1. Sistem pencernaan makanan pada manusia (gurungeblog.wordpress.com)
2. Sistem pencernaan (id.wikipedia.org)
3. Pencernaan (id.wikipedia.org)
4. Sistem Pencernaan pada Manusia (wandylee.wordpress.com)
5. Ganguan atau Kelainan pada Sistem Pencernaan Manusia (donnarevita-sciencetwo-
duablas.blogspot.com

Pengertian Sistem Pencernaan Manusia


Pencernaan makanan merupakan proses mengubah makanan dari ukuran besar menjadi ukuran yang
lebih kecil dan halus, serta memecah molekul makanan yang kompleks menjadi molekul yang sederhana
dengan menggunakan enzim dan organ-organ pencernaan. Enzim ini dihasilkan oleh organ-organ
pencernaan dan jenisnya tergantung dari bahan makanan yang akan dicerna oleh tubuh. Zat makanan
yang dicerna akan diserap oleh tubuh dalam bentuk yang lebih sederhana. Proses pencernaan makanan
pada tubuh manusia dapat dibedakan atas dua macam, yaitu :
1. Proses pencernaan secara mekanik
Yaitu proses perubahan makanan dari bentuk besar atau kasar menjadi bentuk kecil dan halus. Pada
manusia dan mamalia umumnya, proses pencernaan mekanik dilakukan dengan menggunakan gigi.
2. Proses pencernaan secara kimiawi (enzimatis)
Yaitu proses perubahan makanan dari zat yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana dengan
menggunakan enzim. Enzim adalah zat kimia yang dihasilkan oleh tubuh yang berfungsi mempercepat
reaksi-reaksi kimia dalam tubuh. Proses pencernaan makanan pada manusia melibatkan alat-alat
pencernaan makanan. Alat-alat pencernaan manusia adalah organ-organ tubuh yang berfungsi
mencerna makanan yang kita makan. Alat pencernaan dapat dibedakan atas saluran pencernaan dan
kelenjar pencernaan. Kelenjar pencernaan menghasilkan enzim-enzim yang membantu proses
pencernaan kimiawi. Kelenjar-kelenjar pencernaan manusia terdiri dari kelenjar air liur, kelenjar getah
lambung, hati (hepar), dan pankreas. Berikut ini akan dibahas satu per satu proses pencernaan yang
terjadi di dalam saluran pencernaan makanan pada manusia
B. Saluran Pencernaan Manusia
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan
mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (penguyahan, penelanan,
dan pencampuran) dengan enzim zat cair yang terbentang mulai dari mulut sampai anus. Saluran
pencernaan makanan pada manusia terdiri dari beberapa organ berturut-turut dimulai dari mulut (cavum
oris), kerongkongan (esofagus), lambung (ventrikulus), usus halus (intestinum), usus besar
(colon), dan anus. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Saluran pencernaan manusia


1. Mulut
Proses pencernaan dimulai sejak makanan masuk ke dalam mulut. Di dalam mulut terdapat alat-alat
yang membantu dalam proses pencernaan, yaitu gigi, lidah, dan kelenjar ludah (air liur). Di dalam rongga
mulut, makanan mengalami pencernaan secara mekanik dan kimiawi. Beberapa organ di dalam mulut,
yaitu :
a. Gigi
Gigi berfungsi untuk mengunyah makanan sehingga makanan menjadi halus. Keadaan ini
memungkinkan enzim-enzim pencernaan mencerna makanan lebih cepat dan efisien. Gigi dapat
dibedakan atas empat macam yaitu gigi seri, gigi taring, gigi geraham depan, dan gigi geraham belakang.
Secara umum, gigi manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu mahkota gigi (korona), leher gigi (kolum), dan
akar gigi (radiks). Mahkota gigi atau puncak gigi merupakan bagian gigi yang tampak dari luar. Setiap
jenis gigi memiliki bentuk mahkota gigi yang berbeda-beda. Gigi seri berbentuk seperti pahat, gigi taring
berbentuk seperti pahat runcing, dan gigi geraham berbentuk agak silindris dengan permukaan lebar dan
datar berlekuk-lekuk. Bentuk mahkota gigi pada gigi seri berkaitan dengan fungsinya untuk memotong
dan menggigit makanan. Gigi taring yang berbentuk seperti pahat runcing untuk merobek makanan.
Sedangkan gigi geraham dengan permukaan yang lebar dan datar berlekuk-lekuk berfungsi untuk
mengunyah makanan. Leher gigi merupakan bagian gigi yang terlindung dalam gusi, sedangkan akar gigi
merupakan bagian gigi yang tertanam di dalam rahang. Bila kita amati gambar penampang gigi, maka
akan tampak bagian-bagian seperti pada gambar berikut ini.

Bagian-bagian gigi
Email gigi merupakan lapisan keras berwarna putih yang menutupi mahkota gigi. Tulang gigi, tersusun
atas zat dentin. Sumsum gigi (pulpa), merupakan rongga gigi yang di dalamnya terdapat serabut saraf
dan pembuluh-pembuluh darah. Itulah sebabnya bila gigi kita berlubang akan terasa sakit, karena pada
sumsum gigi terdapat saraf.

b. Lidah
Lidah berfungsi untuk mengaduk makanan di dalam rongga mulut dan membantu mendorong makanan
(proses penelanan). Selain itu, lidah juga berfungsi sebagai alat pengecap yang dapat merasakan manis,
asin, pahit, dan asam. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di
tempat yang berbeda-beda. Letak setiap rasa berbeda-beda, yaitu:
1. Rasa asin —–> lidah bagian tepi depan
2. Rasa manis —–> lidah bagian ujung
3. Rasa asam —–> lidah bagian samping
4. Rasa pahit —–> lidah bagian belakang / pangkal lidah
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini.

letak kepekaan lidah terhadap rasa


Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Lidah merupakan organ
yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung
kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok
sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut yang disebut papila
c. Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah menghasilkan ludah atau air liur (saliva). Kelenjar ludah dalam rongga mulut ada
3 pasang, yaitu :
1. Kelenjar parotis, terletak di bawah telinga.
2. Kelenjar submandibularis, terletak di rahang bawah.
3. Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah.
Letak kelenjar ludah di dalam rongga mulut dapat dilihat pada gambar berikut.

Kelenjar ludah di dalam mulut


Kelenjar parotis menghasilkan ludah yang berbentuk cair. Kelenjar submandibularis dan
kelenjar sublingualismenghasilkan getah yang mengandung air dan lendir. Ludah berfungsi untuk
memudahkan penelanan makanan. Jadi, ludah berfungsi untuk membasahi dan melumasi makanan
sehingga mudah ditelan. Selain itu, ludah juga melindungi selaput mulut terhadap panas, dingin, asam,
dan basa. Di dalam ludah terdapat enzim ptialin (amilase). Enzim ptialinberfungsi mengubah makanan
dalam mulut yang mengandung zat karbohidrat (amilum) menjadi gula sederhana (maltosa). Maltosa
mudah dicerna oleh organ pencernaan selanjutnya. Enzim ptialin bekerja dengan baik pada pH antara
6,8 – 7 dan suhu 37oC.
2. Kerongkongan
Kerongkongan (esofagus) merupakan saluran penghubung antara rongga mulut dengan lambung.
Kerongkongan berfungsi sebagai jalan bagi makanan yang telah dikunyah dari mulut menuju lambung.
Jadi, pada kerongkongan tidak terjadi proses pencernaan.
Otot kerongkongan dapat berkontraksi secara bergelombang sehingga mendorong makanan masuk ke
dalam lambung. Gerakan kerongkongan ini disebut gerak peristalsis. Gerak ini terjadi karena otot yang
memanjang dan melingkari dinding kerongkongan mengkerut secara bergantian. Jadi, gerak peristalsis
merupakan gerakan kembang kempis kerongkongan untuk mendorong makanan masuk ke dalam
lambung. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar berikut.

Gerak peristalsis dalam kerongkongan


Makanan berada di dalam kerongkongan hanya sekitar enam detik. Bagian pangkal kerongkongan
(faring) berotot lurik. Otot lurik pada kerongkongan bekerja secara sadar menurut kehendak kita dalam
proses menelan. Artinya, kita menelan jika makanan telah dikunyah sesuai kehendak kita. Akan tetapi,
sesudah proses menelan hingga sebelum mengeluarkan feses, kerja otot-otot organ pencernaan
selanjutnya tidak menurut kehendak kita (tidak disadari).
3. Lambung
Lambung (ventrikulus) merupakan kantung besar yang terletak di sebelah kiri rongga perut sebagai
tempat terjadinya sejumlah proses pencernaan. Lambung terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian atas
(kardiak), bagian tengah yang membulat (fundus), dan bagian bawah (pilorus). Kardiak berdekatan
dengan hati dan berhubungan dengan kerongkongan. Pilorus berhubungan langsung dengan usus dua
belas jari. Di bagian ujung kardiak dan pilorusterdapat klep atau sfingter yang mengatur masuk dan
keluarnya makanan ke dan dari lambung. Struktur lambung dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Struktur lambung
Dinding lambung terdiri dari otot yang tersusun melingkar, memanjang, dan menyerong. Otot-otot
tersebut menyebabkan lambung berkontraksi, sehingga makanan teraduk dengan baik dan bercampur
merata dengan getah lambung. Hal ini menyebabkan makanan di dalam lambung berbentuk seperti
bubur. Dinding lambung mengandung sel-sel kelenjar yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan yang
menghasilkan getah lambung. Getah lambung mengandung air lendir (musin), asam lambung,
enzim renin, dan enzim pepsinogen. Getah lambung bersifat asam karena banyak mengandung asam
lambung. Asam lambung berfungsi membunuh kuman penyakit atau bakteri yang masuk bersama
makanan dan juga berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin berfungsi memecah
protein menjadi pepton dan proteosa. Enzim renin berfungsi menggumpalkan protein susu (kasein) yang
terdapat dalam susu. Adanya enzim renin dan enzim pepsin menunjukkan bahwa di dalam lambung
terjadi proses pencernaan kimiawi.
Selain menghasilkan enzim pencernaan, dinding lambung juga menghasilkan hormon gastrin yang
berfungsi untuk pengeluaran (sekresi) getah lambung. Di dalam lambung terjadi gerakan mengaduk.
Gerakan mengaduk dimulai dari kardiak sampai di daerah pilorus. Gerak mengaduk terjadi terus menerus
baik pada saat lambung berisi makanan maupun pada saat lambung kosong. Jika lambung berisi
makanan, gerak mengaduk lebih giat dibanding saat lambung dalam keadaan kosong. Mungkin kita
pernah merasakan perut terasa sakit dan berbunyi karena perut kita sedang kosong. Hal itu disebabkan
gerak mengaduk saat lambung kosong. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar berikut.

Gerak mengaduk pada lambung.


Makanan umumnya bertahan tiga sampat empat jam di dalam lambung. Makanan berserat bahkan dapat
bertahan lebih lama. Dari lambung, makanan sedikit demi sedikit keluar menuju usus dua belas jari
melalui sfingter pilorus.
4. Usus Halus
Usus halus (intestinum) merupakan tempat penyerapan sari makanan dan tempat terjadinya proses
pencernaan yang paling panjang. Usus halus terdiri dari :
1. Usus dua belas jari (duodenum)
2. Usus kosong (jejenum)
3. Usus penyerap (ileum)
Pada usus dua belas jari bermuara saluran getah pankreas dan saluran empedu. Pankreas
menghasilkan getah pankreas yang mengandung enzim-enzim sebagai berikut :
1. Amilopsin (amilase pankreas) Yaitu enzim yang mengubah zat tepung (amilum) menjadi gula lebih
sederhana (maltosa).
2. Steapsin (lipase pankreas) Yaitu enzim yang mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
3. Tripsinogen Jika belum aktif, maka akan diaktifkan menjadi tripsin, yaitu enzim yang mengubah
protein dan peptonmenjadi dipeptida dan asam amino yang siap diserap oleh usus halus.
Empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung di dalam kantung empedu. Selanjutnya, empedu dialirkan
melalui saluran empedu ke usus dua belas jari. Empedu mengandung garam-garam empedu dan zat
warna empedu (bilirubin).Garam empedu berfungsi mengemulsikan lemak. Zat warna empedu berwarna
kecoklatan, dan dihasilkan dengan cara merombak sel darah merah yang telah tua di hati. Zat warna
empedu memberikan ciri warna cokelat pada feses. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar

berikut.
Pada bagian usus dua belas jari bermuara saluran getah pankreas dan saluran empedu.
Selain enzim dari pankreas, dinding usus halus juga menghasilkan getah usus halus yang mengandung
enzim-enzim sebagai berikut :
1. Maltase, berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa.
2. Laktase, berfungsi mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
3. Sukrase, berfungsi mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
4. Tripsin, berfungsi mengubah pepton menjadi asam amino.
5. Enterokinase, berfungsi mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin.
Di dalam usus halus terjadi proses pencernaan kimiawi dengan melibatkan berbagai enzim pencernaan.
Karbohidrat dicerna menjadi glukosa. Lemak dicerna menjadi asam lemak dan gliserol, serta protein
dicerna menjadi asam amino. Jadi, pada usus dua belas jari, seluruh proses pencernaan karbohidrat,
lemak, dan protein diselesaikan. Selanjutnya, proses penyerapan (absorbsi) akan berlangsung di usus
kosong dan sebagian besar di usus penyerap. Karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa, lemak diserap
dalam bentuk asam lemak dan gliserol, dan protein diserap dalam bentuk asam amino. Vitamin dan
mineral tidak mengalami pencernaan dan dapat langsung diserap oleh usus halus. Struktur usus halus
dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Penampang Usus Halus Manusia


Pada dinding usus penyerap terdapat jonjot-jonjot usus yang disebut vili (Lihat gambar
diatas). Vili berfungsi memperluas daerah penyerapan usus halus sehingga sari-sari makanan dapat
terserap lebih banyak dan cepat. Dinding vili banyak mengandung kapiler darah dan kapiler limfe
(pembuluh getah bening usus). Agar dapat mencapai darah, sari-sari makanan harus menembus sel
dinding usus halus yang selanjutnya masuk pembuluh darah atau pembuluh limfe. Glukosa, asam amino,
vitamin, dan mineral setelah diserap oleh usus halus, melalui kapiler darah akan dibawa oleh darah
melalui pembuluh vena porta hepar ke hati. Selanjutnya, dari hati ke jantung kemudian diedarkan ke
seluruh tubuh. Asam lemak dan gliserol bersama empedu membentuk suatu larutan yang disebut misel.
Pada saat bersentuhan dengan sel vili usus halus, gliserol dan asam lemak akan terserap. Selanjutnya
asam lemak dan gliserol dibawa oleh pembuluh getah bening usus (pembuluh kil), dan akhirnya masuk
ke dalam peredaran darah. Sedangkan garam empedu yang telah masuk ke darah menuju ke hati untuk
dibuat empedu kembali. Vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K) diserap oleh usus halus
dan diangkat melalui pembuluh getah bening. Selanjutnya, vitamin-vitamin tersebut masuk ke sistem
peredaran darah. Umumnya sari makanan diserap saat mencapai akhir usus halus. Sisa makanan yang
tidak diserap, secara perlahan-lahan bergerak menuju usus besar.

5. Usus Besar
Makanan yang tidak dicerna di usus halus, misalnya selulosa, bersama dengan lendir akan menuju ke
usus besar menjadi feses. Di dalam usus besar terdapat bakteri Escherichia coli. Bakteri ini membantu
dalam proses pembusukan sisa makanan menjadi feses. Selain membusukkan sisa makanan, bakteri E.
coli juga menghasilkan vitamin K. Vitamin K berperan penting dalam proses pembekuan darah. Sisa
makanan dalam usus besar masuk banyak mengandung air. Karena tubuh memerlukan air, maka
sebagian besar air diserap kembali ke usus besar. Penyerapan kembali air merupakan fungsi penting
dari usus besar. Usus besar terdiri dari bagian yang naik, yaitu mulai dari usus buntu (apendiks), bagian
mendatar, bagian menurun, dan berakhir pada anus. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar

berikut ini.
Struktur usus besar
Perjalanan makanan sampai di usus besar dapat mencapai antara empat sampai lima jam. Namun, di
usus besar makanan dapat disimpan sampai 24 jam. Di dalam usus besar, feses di dorong secara teratur
dan lambat oleh gerakan peristalsis menuju ke rektum (poros usus). Gerakan peristalsis ini dikendalikan
oleh otot polos (otot tak sadar).

6. Anus
Merupakan lubang tempat pembuangan feses dari tubuh. Sebelum dibuang lewat anus, feses ditampung
terlebih dahulu pada bagian rectum. Apabila feses sudah siap dibuang maka otot spinkter
rectum mengatur pembukaan dan penutupan anus. Otot spinkter yang menyusun rektum ada 2, yaitu otot
polos dan otot lurik. Jadi, proses defekasi (buang air besar) dilakukan dengan sadar, yaitu dengan
adanya kontraksi otot dinding perut yang diikuti dengan mengendurnya otot sfingter anus dan kontraksi
kolon serta rektum. Akibatnya feses dapat terdorong ke luar anus. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat

pada gambar berikut ini.


Struktur anus
Organ Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan pada manusia terdiri atas beberapa organ yang berawal dari mulut,
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Pada sistem pencernaan manusia
terdiri dari alat saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Kelenjar pencernaan tersebut
adalah kelenjar ludah, hati, kelenjar dinding lambung, dan pankreas. Organ tersebut
mencerna makanan melalui proses mekanik maupun kimiawi. Berikut ini penjelasan organ-
organ pencernaan pada manusia.

1. MULUT

Mulut merupakan organ pencernaan yang pertama yang bertugas dalam proses pencernaan
makanan. Di dalam mulut, makanan akan dicerna secara sadar menjadi bagian-bagian lebih
kecil. Di dalam rongga mulut terdapat gigi, lidah dan kelenjar ludah. Lidah di dalam mulut
berfungsi untuk merasakan makanan. Pada lidah terdapat ujung saraf pengecap yang disebut
sebagai papila lidah. Papila lidah pengecap rasa manis terdapat pada ujung lidah sampai ke
tepi lidah bagian ujung depan. Bagian tepi lidah tengah merasakan rasa asam, bagian pangkal
lidah yang berbatasan dengan kerongkongan rasa pahit. Di dalam mulut juga terjadi pross
pencernaan secara mekanis dan kimiawi.

A. Proses mekanis
Proses pencernaan secara mekanis di dalam mulut dilakukan melalui gerakan-gerakan
mengunyah, menghancurkan, dan menelan makanan. Fungsi mengunyah tersebut bertujuan
mengubah makanan menjadi berukuran kecil sehingga mudah dicerna hal ini dilakukan oleh
gigi. Sedangkan fungsi menelan adalah mendorong makanan supaya masuk ke dalam saluran
selanjutnya yaitu kerongkongan.

B. Proses kimiawi
Proses pencernaan kimiawi di dalam mulut dilakukan oleh enzim ludah. Ludah dikeluarkan
oleh kelenjar ludah yang berfungsi untuk membantu pencernaan makanan. Pada ludah
terkandung beberapa komponen, anatara lain sebagai berikut:

1. Enzim maltase(ptialin)

Untuk mencerna makanan yang mengandung karbohidrat menjadi gula sederhana yang
disebut maltosa.

2. Air

Berfungsi untuk membasahi makanan supaya mudah dicerna

3. Enzim lisosom

Sebagai antibakteri karena bersifat asam

4. Lendir

Pada ludah berfungsi untuk menggumpalkan makanan supaya lebih mudah ditelan.

5. Aminoglobulin

Zat semacam putih telur yang berfungsi untuk menetralkan makanan yang bersifat asam.

6. Garam-garam
2. KERONGKONGAN

Setelah makanan dikunyah di mulut kemudian makanan ditelan agar masuk lambung nah
melalui kerongkongan jadi fungsi kerongkongan yaitu menyalurkan makanan dari mulut ke
lambung. Di bagian dalam mulut juga terdapat epiglotis yaitu ppersimpangan antara 2
saluran yang dijaga oleh sebuah klep. Pada waktu bernapas klep ini membuka sehingga udara
masuk kedalam tenggorokan dan pada waktu menelan makanan klep tersebut akan menutup.
Sebenarnya klep ini menjaga kerja antara kerongkongan dan tenggorokan supaya proses
pencernaan dan pernapasan berjalan lancar. Di dalam kerongkongan juga terjadi gerakan
peristaltik yaitu gerakan melebar dan menyempit, bergelombang, dan meremas-remas untuk
mendorong makanana sedikit demi sedikit ke lambung dan di dinding kerongkongan juga
terdapat lendir supaya makanaan mudah untuk melaluinya.

3. LAMBUNG

Setelah makanan melewati kerongkongan kemudian makanan menuju ke lambung. Sebelah


dalam lambung dilapisi oleh epithelium, nah ephitelium ini mengandung kelenjar-kelenjar
pencernaan. Kelenjar pencernaan pada lambung ini akan menghasilkan suatu senyawa yaitu
getah lambung. Di getah lambung ini mempunyai kandungan-kandungan sebagai berikut :

1. HCL
Kadar HCL dalam getah lambung adalah 0,5 % dari total getah lambung. HCL berfungsi
sebagai desinfektan atau pembunuh kuman dan mengubah pepsinogen menjadi pepsin. HCL
juga dapat merangsang usus, hati dan pankreas untuk mencerna makanan. Enzim pepsin yang
dihasilkan dari pemecah pepsinogen akan mencerna protein menjadi protein yang lebih
sederhana (albuminosa dan pepton).

2. Enzim lipase

Berfungsi untuk mencerna lemak.

3. Hormon Gastrin

Fungsinya untuk mengaktifkan kelenjar-kelenjar pada pencernaan dilambung melalui proses


mekanik dan kimiawi.

Proses mekanik
Otot lambung mengerut dan mengembang dengan gerakan seperti meremas untuk
mencampur makanana dengan getah lambung.

Proses kimiawi
Dilakukan oleh getah lambung

Selanjutnya makanan yang sudah dicerna oleh lambung yang disebut kimus atau bubur halus
akan meninggalkan lambung menuju usus halus.

4. USUS HALUS (Intestinum)

Panjang usus halus orang dewasa mencapai 6,3 meter dengan diameter 2,5 cm. Usus halus
terbagi menjadi 3 bagian yaitu usus dua belas jari(duodenum), usus kosong(jejunum), dan
usus penyerapan (ileum).
a. Usus 12 jari

Usus 12 jari terletak paling dekat dengan lambung. Disebut 12 jari karena panjangnya kurang
lebih 12 kali ruas jari. Sebelum memasuki usus 12 jari, setelah makanan dicerna oleh
lambung, makanan akan melalui jalan keluar lambung menuju usus 12 jari yang berbentuk
kleb yang disebut pylorik. Pylorik ini berfungsi untuk mengatur jalan makanan menuju usus
12 jari.

b. Jejenum

Setelah makanan melewati usus 12 jari makanan akan masuk ke dalam saluran intestinum
berikutnya, yaitu jejenum atau disebut juga intestinum bagaian tengah.

c. Ileum

Ileum merupakan bagian akhir daripada intestinum. Dinding dalam usus halus dilapisi oleh
bermiliar-miliar tonjolan mikroskopis menyerupai jari. Tonjolan ini disebut villi. Kelenjar
usus halus menghasilkan getah cerna yang akan mencerna makanan yang massuk ke dalam
usus halus dan menyaring bagian yang dapat dilewati villi dan mengandung air. Bagian yang
diserap usus melalui villi berupa sari makanan yang masuk ke dalam pembuluh darah untuk
selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. Zat sisa pencernaan makanan akan dikeluarkan oleh
tubuh melalui rektum atau usus besar kemudian keluar ke anus menjadi feses. Proses
pencernaan pada usus halus hampir sebagian beasar dilakukan secara kimiawi. Adapun getah
usus halus tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Enterokinase

Enzim yang mengubah tripsinogen menjadi tripsin

2. Erepsin

Enzim yang mengubah pepton menjadi asam amino

3. Maltase

Enzim yang mengubah maltosa menjadi glukosa

4. Lipase

Enzim yang mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.


5. Sekretin

merupakan hormon pada usus halus yang akan merangsang sekresi enzim-enzim pada usus
halus.

5. USUS BESAR (Rektum)

Merupakan saluran pembuangan sisa makanan menuju lubang pengeluaran anus. Usus besar
juga mempunyai bagian yang disebut usus buntu.Usus besar jga sebagai tempat menampung
sisa makanan yang sudah tidak dapat dicerna lagi. Pada bagian usus besar sudah tidak
terdapat enzim-enzim pada bagian usus bsar ini sudah tidak ada proses pencernaan lagi. Usus
besar hanya sebagai jalan keluar serta tempat menampung tinja selanjutnya yang dikeluarkan
oleh anus.
ORGAN-ORGAN LAIN PADA SISTEM PENCERNAAN
1. HEPAR (HATI)
Hati merupakan organ yang terbesar dan penting dalam tubuh organ ini terletak didalam
rongga perut sebelah kanan terdiri atas 2 bagian yang besar. Fungsi hati adalah :

a) Menyimpan zat-zat makanan seperti vitamin, lemak, dan glukogen

b) Mengatur suhu tubuh

c) Mengatur disribusi makanan

d) Menyimpan darah

e) Menghailkan empedu. Empedu yang mempunyai fungsi mengemulsikan lemak dan


mempengaruhi penyerapan vitamin K oleh usus.

f) Menyaring zat-zat racun, termasuk membantu metabolisme obat.


2. PANKREAS
Terletak didalam rongga perut bagian belakang, bentuknya memanjang dan menghasilkan
getah-getah pankreas. Pankreas juga mempunyai salah satu fungsi utama yaitu mengatur
kadar gula dalam darah. Di dalam pankreas terdapat hormon insulin yang berfungsi
mengubah gula darah (glukosa) menjadi glikogen.

Getah yang terdapat didalam pankreas adalah sebagai berikut :

1. Tripsinogen

2. Enterokinase

Mengubah tripsin menjadi tripsin yang kemudian tripsin mengubah amilum menjadi maltosa.

3. Lipase

Mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol

4. NaHCO3
Asam natrium karbonat yang terkandung di dalam getah pankreas memberi sifat asam
pada lemak dan berperan membantu enzim lipase mencerna lemak menjadi asam lemak dan
gliserol.

Transpor aktif adalah proses yang memerlukan energi untuk memompa


molekul dan ion melintasi membran melawan gradien konsentrasi. Pompa
Natrium-kalium merupakan pompa transportasi aktif yang terjadi pertukaran
ion natrium dengan ion kalium. Apa objek yang luar biasa ini? Apakah Anda
akan terkejut jika mengetahui bahwa itu adalah sel manusia?

Gambar ini merupakan sel saraf manusia yang aktif. Bagaimana sel-sel saraf
berfungsi akan menjadi fokus konsep lain. Namun, proses transpor aktif
memainkan peran penting dalam fungsi sel-sel ini. Secara khusus, itu adalah
pompa natrium-kalium yang aktif di dalam akson dari sel saraf tersebut.

Pompa Natrium-Kalium
Transpor aktif adalah proses yang memerlukan energi untuk memompa
molekul dan ion melintasi membran “menanjak” – melawan gradien
konsentrasi. Untuk memindahkan molekul-molekul melawan gradien
konsentrasi mereka, protein pembawa (carrier protein) akan diperlukan.

Protein pembawa dapat bekerja dengan gradien konsentrasi (selama


transportasi pasif), tetapi beberapa protein pembawa dapat memindahkan zat
terlarut melawan gradien konsentrasi (dari konsentrasi rendah ke konsentrasi
tinggi), dengan masukan energi. Pada transpor aktif, protein pembawa yang
digunakan untuk memindahkan bahan melawan gradien konsentrasi mereka,
protein ini dikenal sebagai pompa. Seperti pada jenis-jenis kegiatan selular,
ATP memasok energi untuk kebanyakan transportasi aktif. Salah satu cara ATP
dapat memberi kekuatan selama transpor aktif adalah dengan mentransfer
gugus fosfat langsung ke protein pembawa. Hal ini dapat menyebabkan
protein pembawa untuk mengubah bentuknya, yang menggerakan molekul
atau ion ke sisi lain dari membran.

Contoh dari jenis sistem transpor aktif, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
di bawah, adalah pompa natrium-kalium, yang melakukan pertukaran ion
natrium ion kalium melintasi membran plasma dari sel-sel hewan.
Sistem pompa
natrium-kalium menggerakkan ion natrium dan kalium melawan gradien konsentrasi besar. Ia
menggerakkan dua ion kalium ke dalam sel di mana kadar kalium yang tinggi, dan memompa tiga ion
natrium keluar dari sel dan ke dalam cairan ekstraseluler.

Seperti ditunjukkan pada Gambar di atas, tiga ion natrium berikatan pada
pompa protein di dalam sel. Protein pembawa kemudian mendapat energi
dari ATP dan terjadi perubahan bentuk. Dengan demikian, memompa tiga ion
natrium dari sel. Pada saat itu, dua ion kalium dari luar sel mengikat dengan
pompa protein. Ion-ion kalium kemudian diangkut ke dalam sel, dan proses
berulang. Pompa Natrium-kalium ditemukan dalam membran plasma dari
hampir setiap sel manusia dan umum untuk semua kehidupan selular. Ini
membantu menjaga potensial sel dan mengatur volume selular.

Mekanisme
Seperti ditunjukkan pada Gambar di atas, pompa natrium-kalium mengangkut
ion Na+ dan ion K+dengan cara sebagai berikut:

1. pompa Natrium-kalium mengikat ATP dan tiga ion Na + intraseluler.


2. ATP dihidrolisis menghasilkan adenosin difosfat (ADP) dan fosfat
anorganik. Fosfat bebas memfosforilasi pompa natrium-kalium.
3. Perubahan konformasi pada pompa mengekspos ion Na+ ke luar.
4. Bentuk pompa yang terfosforilasi memiliki afinitas ion Na + lebih rendah,
sehingga mereka dilepaskan. Pompa mengikat dua ion K + ekstraseluler.
Hal ini menyebabkan defosforilasi pompa, kembali ke keadaan
konformasi sebelumnya, mengangkut ion K +ke dalam sel.
5. Bentuk pompa yang tidak terfosforilasi memiliki afinitas yang lebih
tinggi untuk Na + ion daripada ion K +, sehingga dua ion K + yang terikat
dilepaskan.
6. ATP mengikat, dan proses dimulai lagi.

Gradien Elektrokimia
Transpor aktif ion melintasi membran menyebabkan gradien listrik akan
terbangun pada membran plasma. Jumlah ion bermuatan positif di luar sel
lebih besar dari jumlah ion bermuatan positif dalam sitosol. Hal ini
menyebabkan muatan yang relatif negatif pada bagian dalam membran, dan
muatan positif di luar. Perbedaan dalam muatan menyebabkan tegangan
melintasi membran. Tegangan adalah energi potensial listrik yang disebabkan
oleh pemisahan muatan yang berlawanan, dalam hal ini melintasi membran.
Tegangan membran disebut potensial membran. Potensial membran ini
sangat penting untuk konduksi impuls listrik di sepanjang sel-sel saraf.

Karena dalam sel adalah lebih negatif dibandingkan dengan di luar sel,
potensial membran akan mendukung pergerakan ion bermuatan positif
(kation) ke dalam sel, dan gerakan ion negatif (anion) keluar dari sel. Jadi, ada
dua kekuatan yang mendorong difusi ion melintasi membran plasma (ion’
gradien konsentrasi), dan kekuatan listrik (efek potensial membran pada ion’
gerakan). Kedua gaya bekerja bersama-sama disebut gradien elektrokimia,
dan akan dibahas secara rinci dalam artikel “Sel saraf” dan ” Impuls saraf “.

Transportasi molekul, zat atau partikel melintasi membran plasma sangat


penting untuk kehidupan sel. Zat tertentu harus pindah ke dalam sel untuk
mendukung reaksi metabolik. Zat lain yang telah diproduksi oleh sel akan diekspor
atau limbah sebagai produk seluler harus bergerak keluar dari sel.
Zat umumnya bergerak melintasi membran selular melalui proses
transportasi yang dapat diklasifikasikan sebagai pasif atau aktif, tergantung apakah
mereka memerlukan energi atau tidak. Dalam transport pasif, zat bergerak
menuruni gradien untuk menyeberangi membran hanya menggunakan energi
kinetik sendiri. Energi kinetik adalah intrinsik untuk partikel yang bergerak.
Contohnya adalah difusi sederhana (simple diffusion). Dalam proses yang aktif,
energi sel digunakan untuk menggerakkan substansi menaiki atau bergerak
melawan konsentrasi atau gradien listrik. Energi selular yang digunakan biasanya
dalam bentuk ATP. Contohnya termasuk endositosis, di mana vesikel terlepas dari
membran plasma sambil membawa bahan ke dalam sel, dan eksositosis,
penggabungan vesikel dengan membran plasma untuk melepaskan substansi, zat,
atau partikel dari sel.
A. TRANSPORT PASIF
Transport pasif merupakan suatu perpindahan molekul berdasarkan
perbedaan gradien konsentrasinya, yaitu molekul berpindah dari konsentrasinya
yang tinggi ke konsentrasi rendah (sesuai dengan gradient konsentrasi) melalui
lapisan lipid bilayer, channel protein (saluran protein) ataupun carrier protein
(protein pembawa) dan tidak ada energi metabolik yang terlibat. Transport Pasif
meliputi transport difusi (simple), difusi difasilitasi, dan osmosis.

A.1 DIFUSI
Difusi ini adalah transport membran yang paling sederhana, yang dikenal
dengan simple diffusion, merupakan proses pasif di mana zat bergerak bebas
melalui lapisan ganda lipid dari membran plasma sel tanpa bantuan protein
transport membran, bergerak melintasi membran dengan sederhana atau secara
langsung.
Zat terlarut yang dapat berdifusi ada yang berupa zat nonpolar dan polar.
Nonpolar, molekul hidrofobik bergerak melintasi bilayer lipid melalui proses difusi
sederhana. Molekul tersebut termasuk oksigen, karbon dioksida, dan gas nitrogen,
asam lemak, steroid, dan vitamin larut lemak (A, D, E, dan K). Polar molekul
seperti air, urea, dan alkohol kecil juga melewati melalui bilayer lipid dengan
difusi sederhana.
Difusi ini penting dalam pergerakan oksigen dan karbon dioksida antara sel-
sel darah dan tubuh, dan antara darah dan udara dalam paru-paru saat bernafas. Ini
juga merupakan rute untuk penyerapan beberapa nutrisi dan ekskresi beberapa
limbah oleh sel-sel tubuh.
Prinsip Difusi
Difusi atau diffusion (di-FU-zhun; diffus- penyebaran) adalah proses pasif di
mana pencampuran acak partikel dalam larutan terjadi karena energi kinetik
partikel. Dimana larutan mengandung zat terlarut dan pelarut, difusi ini
perpindahan atau pergerakan zat terlarut bukan pelarut. Jika zat terlarut dalam
konsentrasi tinggi dalam satu bidang (luar sel) dan dalam konsentrasi rendah
daerah lain (dalam sel), molekul zat terlarut akan bergerak ke daerah rendah
konsentrasi dimaksud tansport pasif karena zat bergerak menuruni gradien
konsentrasi, dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah tanpa membutuhkan
energi. Zat ini akan berhenti bergerak melintasi membran hingga kedua tempat,
luar sel dan dalam sel memiliki konsentrasi yang sama atau telah mencapai
keseimbangan. Membran untuk difusi ini bersifat permeable.
Beberapa faktor yang mempengaruhi difusi

1. Kecuraman dari gradien konsentrasi. Semakin besarperbedaan konsentrasi


antara dua sisi membran, semakin tinggi tingkat difusi.
2. Suhu. Semakin tinggi suhu, semakin cepat tingkat difusi. Semua proses
difusi tubuh terjadi lebih cepat pada orang dengan demam.
3. Massa bahan yang ditransportasikan. Semakin besar massanya, semakin
lambat laju difusi. Molekul yang lebih kecil menyebar lebih cepat daripada
yang lebih besar.
4. Luas permukaan. Semakin besar luas permukaan membran yang tersedia
untuk difusi, semakin cepat laju difusi. Sebagai contoh, kantung udara dari
paru-paru memiliki luas permukaan yang besar yang tersedia untuk difusi
oksigen dari udara ke dalam darah. Beberapa penyakit paru-paru, seperti
emphysema, mengurangi luas permukaan. Hal ini memperlambat laju difusi
oksigen dan membuat pernapasan lebih sulit.
5. Jarak Difusi. Semakin besar jarak di mana difusi harus terjadi, semakin lama
waktu yang dibutuhkan. Difusi melintasi membran plasma hanya
membutuhkan sepersekian detik karena membran sangat tipis. Pada
pneumonia, cairan terkumpul dalam paru-paru; cairan tambahan
meningkatkan jarak difusi karena oksigen harus bergerak melalui cairan dan
membran untuk mencapai aliran darah.

A.2 DIFUSI DIFASILITASI


Zat terlarut yang terlalu polar atau sangat dituntut untuk bergerak melalui
lipid bilayer dengan difusi sederhana dapat melintasi membran plasma dengan
proses pasif yang disebut difusi difasilitasi. Dalam proses ini, sebuah protein
membran integral membantu zat tertentu di membran. Protein membran integral
dapat berupa channel membran atau carrier membran.
CHANNEL MEDIATED (SALURAN)
CHANNEL-dimediasi DIFUSI difasilitasi dalam saluran dimediasi
difasilitasi difusi, zat terlarut bergerak menuruni konsentrasi gradien melintasi
bilayer lipid melalui membran channel. Sebagian besar saluran membran saluran
ion, protein trans membran integral yang memungkinkan zat atau molekul kecil,
anorganik ion yang terlalu hidrofilik untuk menembus nonpolar yang interior dari
lapisan ganda lipid. Setiap ion dapat menyebar di seluruh membran hanya pada
situs tertentu.
Dalam membran plasma ion yang paling banyak yaitu K+ (ion kalium) atau
Cl- (ion klorida) dan ion yang sedikit yaitu Na+ (ion natrium) atau Ca2+ (ion
kalsium). Difusi ion melalui saluran umumnya lebih lambat dari difusi gratis
melalui lapisan ganda lipid karena saluran menempati sebagian kecil dari total luas
permukaan membran daripada lipid. Namun, difasilitasi difusi melalui saluran
adalah proses yang sangat cepat yaitu lebih dari juta ion kalium dapat mengalir
melalui channel ini.
Sebuah channel dikatakan terjaga keteraturannya ketika bagian dari protein
saluran bertindak sebagai gerbang, berubah bentuk dalam satu cara untuk
membuka pori dan cara lain untuk menutupnya. Ion-ion akan keluar masuk dengan
seiringnya terbuka dan tertutupnya gerbang tersebut, ini diatur oleh perubahan
kimia atau listrik di dalam dan di luar sel. Ketika gerbang saluran terbuka, ion
berdifusi ke dalam atau keluar dari sel, menuruni gradien elektrokimia.

CARRIER MEDIATED (PEMBAWA)


CARRIER-dimediasi DIFUSI difasilitasi dalam pembawa dimediasi difusi
difasilitasi, pembawa (juga disebut transporter) digunakan untuk memindahkan zat
terlarut menuruni gradien konsentrasinya melintasi membran plasma. Zat terlarut
ke satu sisi membran dan dilepaskan di sisi lain setelah pembawa mengalami
perubahan bentuk. Zat terlarut lebih sering mengikat pada membran dengan
konsentrasi yang lebih tinggi dari zat terlarut. Setelah konsentrasi adalah sama di
kedua sisi membran, zat terlarut molekul mengikat pembawa di sisi sitosol dan
pindah ke cairan ekstraselular secepat mereka mengikat carrier pada sisi
ekstraseluler.

Tingkat carrier-dimediasi difusi difasilitasi (seberapa cepat itu terjadi)


adalah ditentukan oleh kecuraman gradien konsentrasi di membran. Difusi
difasilitasi mencakup glukosa, fruktosa, galaktosa, dan beberapa vitamin. Glukosa
memasuki banyak sel-sel tubuh oleh carrier- dimediasi difasilitasi difusi seperti
sebagai berikut:
Glukosa mengikat jenis tertentu pada protein pembawa yang disebut
transporter glukosa (GLUT) pada permukaan luar membran, transporter
mengalami perubahan bentuk, glukosa melewati membran, dan transporter glukosa
melepaskan glukosa di sisi lain dari membran yaitu dalam sel.
Permeabilitas selektif membran plasma sering diatur untuk mencapai
homeostasis. Misalnya, hormon insulin, melalui aksi dari reseptor insulin,
mempromosikan penyisipan dari banyak salinan transporter glukosa menjadi
plasma membran sel tertentu. Dengan demikian, efek dari insulin adalah untuk
meningkatkan maksimum transport difusi difasilitasi glukosa ke dalam sel. Dengan
transporter glukosa lebih tersedia, sel-sel tubuh dapat mengambil glukosa dari
darah lebih cepat. Ketidakmampuan untuk memproduksi atau menggunakan
insulin disebut diabetes mellitus.

A.3 OSMOSIS
Osmosis adalah proses perpindahan zat, molekul atau partikel pelarut dari
yang lebih encer ke yang lebih pekat, dengan tidak menggunakan energi melalui
membran semi permeable. Selama osmosis, molekul air melewati membran plasma
dalam dua cara yaitu dengan bergerak melalui bilayer lipid melalui difusi
sederhana, seperti telah dijelaskan sebelumnya, dan dengan bergerak melalui
aquaporins, protein membran integral yang berfungsi sebagai saluran air .
Seperti pada percobaan yang menunjukkan osmosis adalah pada tabung U
yang dimana disini pelarut berupa air berpindah dari yang lebih encer ke yang
lebih pekat, melintasi lapisan semi permeable, pelarut berupa air akan berhenti
bergerak saat telah mencapai titik keseimbangan antara tabung kanan dan kiri.
Osmosis ada 3 bentuk berupa hipotonik, hipertonik, dan isotonik. Isotonik
adalah kadaan dimana larutan di luar dan di dalam sel sama seperti pada kondisi
eritrosit diatas, eritrosit akan berbentuk normal bikonkaf pada isotonik. Hipertonik
adalah tekanan osmosis tinggi yang dimana pelarut air akan bergerak melintasi
membran semi permeable ke luar eritrosit, karena zat yang berada di luar lebih
pekat daripada yang berada di dalam eritrosit lebih encer, sehingga eritrosit
mengkerut bentuknya. Hipotonik adalah tekanan osmosis rendah yang dimana
pelarut air akan bergerak melintasi membran semi permeable ke dalam eritrosit
karena di dalam zatnya lebih pekat daripada di luar yang lebih encer, sehingga
eritrosit akan berbentuk besar.

B. TRANSPORT AKTIF
Merupakan proses perlaluan zat yang membutuhkan energy selain itu juga
membutuhkan bantuan dari carrier protein dan saluran protein. Energi yang
digunakan dalam pemindahan molekul tersebut ada yang diperoleh dari hidrolisis
ATP karena melawan gradient konsentrasi. Kinerja transport aktif dilakukan oleh
protein spesifik yang tertanam pada membrane. Dua jenis transport aktif yaitu :

B.1 TRANSPORT AKTIF PRIMER


Transport aktif primer (energy dari hidrolisis ATP) yaitu transport yang
bergantung pada potensial membrane. Dalam keadaan stabil, ekstraseluler
memiliki konsentrasi Na+ 10 kali lebih tinggi dari pada di dalam sel, sedangkan
konsentrasi ion K+ lebih rendah di dalam sel dari pada di luar sel. Kalau
konsentrasi Na+ dalam sel meningkat maka Na+perlu dikeluarkan, maka diperlukan
ATP untuk memompa Na+ keluar dengan cara Na+ akan terikat pada sisi spesifik
pada saluran protein, sehingga menyababkan rangsangan fosforilasi dan terjadi
hidrolisis ATP, menghasilkan suatu perubahan pada konformasi saluran protein
berakibat Na+ yang terikat bergerak keluar sel dan terjadi reduksi afinitas ikatan
Na+ pada protein saluran sehingga Na+ terlepas.

Pada waktu bersamaan, di bagian ekstraseluler K+ mengalami afinitas di


bagian sisi protein saluran, terjadi stimulus defosforilasi berakibat perubahan
konformasi saluran protein sehingga terjadi gerakan yang menyebabkan
K+ bergerak ke bagain interseluler. Saluran protein memiliki tiga tempat spesifik
untuk ikatan Na+ dan dua untuk K+, sehingga setiap kali siklus transpor tiga
Na+ dan dua K+ lewat membran sel membutuhkan satu molekul ATP yang
terhidrolisa.
Tiga ion Na akan menempel dan masuk ke dalam protein membran yang
+

akan merangsang terhidrolisisnya ATP menjadi P dan ADP, yang dimana P ini
akan digunakan energi untuk memindahkan 3 ion Na ke luar sel dan merubah
+

bentuk daripada protein membran. Dua ion K dari luar sel menempel dan masuk
+

ke dalam protein membran sesuai bentuk protein membran, menempelnya ion ini
membuat P terlepas dari protein membran dan mendorong ino K bergerak menuju
+

dalam sel, lepasnya P dan ion K ini membuat berubah bentuk pada protein
+

membran.

B.2 TRANSPORT AKTIF SEKUNDER


Transport aktif sekunder (energy dari gradient ion) Transpor aktif juga
memindahkan mikromolekul yang berada di daerah lumen usus, misalnya
perpindahan glukosa dan asam amino berkonsentrasi rendah ke dalam sel usus
dengan konsentrasi relatif tinggi. Perpindahan ini tidak menggunakan ATP hasil
hidrolisis tetapi digerakkan karena perbedaan gradien Na+. Konsentrasi
Na+ ekstraseluler usus lebih rendah dari pada dalam sel,sehingga terjadi
perpindahan ion ke dalam sel dengan cara berikatan dengan bagian sisi protein
saluran, selanjutnya diikuti oleh glukosa yang berikatan dengan protein saluran
yang sama tetapi pada sisi yang lain. Transpor seperti ini disebut transpor aktif
sekunder.

Pada transpor aktif sekunder, energi yang tersimpan dalam Na atau +

H gradien konsentrasi digunakan untuk menggerakkan zat lain melintasi membran


+

terhadap gradien konsentrasi mereka sendiri. Karena Na atau H lereng didirikan


+ +

oleh transpor aktif primer, sekunder aktif transportasi tidak langsung menggunakan
energi yang diperoleh dari hidrolisis ATP.
Natrium - kalium pompa mempertahankan konsentrasi curam gradien
+
Na melintasi membran plasma. Sebagai hasilnya, ion natrium telah disimpan atau
potensi energi, seperti air di belakang bendungan. Dengan demikian, jika ada rute
untuk Na+ bocor kembali dalam, beberapa energi yang tersimpan dapat diubah
menjadi energi kinetik (energi gerak) dan digunakan untuk mengangkut zat lain
melawan gradien konsentrasinya.
Pada intinya, sekunder aktif protein transpor memanfaatkan energi di
Na konsentrasi gradien dengan menyediakan rute untuk Na+bocor ke dalam sel, di
+

transpor aktif sekunder, protein pembawa secara bersamaan mengikat Na+ dan
substansi lain dan kemudian berubah bentuk sehingga kedua zat melintasi
membran pada waktu yang sama. Jika transporter ini bergerak dua zat dalam arah
yang sama mereka disebut symporters (sama), antiporters sebaliknya, bergerak dua
zat dalam arah yang berlawanan di seluruh membran (anti-melawan). Salah satu
bentuk transport aktif adalah:

EKSOSITOSIS
Eksositosis adalah mekanisme transpor molekul besar seperti protein dan
polisakarida, melintasi membran plasma dari dalam ke luar sel (sekresi) dengan
cara menggabungkan vesikula berisi molekul tersebut dengan membran plasma.
Vesikula transpor yang lepas dari aparatus Golgi dipindahkan oleh sitoskeleton ke
membran plasma. Ketika membran vesikula dan membran plasma bertemu,
molekul lipid membran menyusun ulang dirinya sendiri sehingga kedua membran
bergabung. Kandungan vesikulanya kemudian tumpah ke luar sel. Banyak sel
sekretoris menggunakan eksositosis untuk mengirim keluar produk-produknya.
Misalnya sel tertentu dalam pankreas menghasilkan hormon insulin dan
mensekresikannya ke daam darah melalui eksositosis. Contoh lain adalah neuron
atau sel saraf yang menggunakan eksositosis untuk melepaskan sinyal kimiawi
yang merangsang neuron lain atau sel otot. Ketika sel tumbuhan sedang membuat
dinding, eksositosis mengeluarkan karbohidrat dari vesikula Golgi ke bagian luar
selnya.

ENDOSITOSIS
Endositosis sel memasukkan makromolekul dan materi yang sangat kecil
dengan cara membentuk vesikula baru dari membran plasma. Langkah-langkahnya
pada dasarnya merupakan kebalikan dari eksositosis. Sebagian kecil luas membran
plasma terbenam ke dalam membentuk kantong. Begitu kantong ini semakin
dalam, kantong terjepit, membentuk vesikula yang berisi materi yang telah terdapat
diluar selnya. Terdapat tiga jenis endositosis yaitu :

FAGOSITOSIS
Fagositosis (pemakan seluler) berasal dari bahasa yunani phagein “makan”
dan cytos “sel”, berupa padatan yang ukurannya lebih besar. Sel menelan suatu
partikel dengan pseudopod yang membalut disekeliling partikel tersebut dan
membungkusnya di dalam kantong berlapis-membran yang cukup besar untuk
digolongkan sebagai vakuola. Contoh cilliata atau organisme mikroskopik lain
yang dimakan atau ditelan oleh amoeba. Selama fagositosis mangsa menjadi tidak
berdaya oleh sekresi dari sel pemangsa (Fagositik).

PINOSITOSIS
Pinositosis (peminum seluler) dari bahasa yunani pinein “minum” dan cytos
“sel”, sel “meneguk” tetesan fluida ekstraseluler dalam vesikula kecil. Karena
salah satu atau seluruh zat terlarut yang larut dalam tetesan tersebut dimasukkan ke
dalam sel, pinosistosis tidak spesifik dalam substansi yang ditranspornya.
Pinositosis merupakan gejala umum yang terjadi pada berbagai macam sel seperti
leukosit, sel-sel ginjal, epithelium usus, makrofag hati dan sel akar tumbuhan.

Pinositosis dapat terjadi jika terdapat konsentrasi yang cocok dari protein,
asam amino atau ion-ion tertentu pada medium sel.prosesnya adalah menempelnya
bahan penyebab (inducer) pada reseptor khusus pada membrane plasma kemudian
diikuti dengan terjadinya lekukan (invaginasi) dari membrane membentuk
selubung atau membrane pinositik.

PERANTARA RESEPTOR
Endositosis yang diperantarai reseptor, hampir sama dengan pinositosis
hanya saja, selektif terhadap substansi yang ditranspornya. Endositosis yang
diperantarai reseptor memungkinkan sel dapat meperoleh substansi spesifik dalam
jumlah yang melimpah sekalipun substansi itu mungkin saja konsentrasinya tidak
tinggi dalam fluida seluler. Misalnya, sel manusia menggunakan proses ini untuk
menyerap kolesterol dan digunakan dalam sintesis membran dan sebagai prekursor
untuk sintesis steroid lainnya.

RANSPORT AKTIF
Kali ini saya akan up load materi yang berhubungan dengan Transportasi sel . sebuah proses
yang mutlak terjadi pada sel untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Memenuhi kebutuhan
materi organik maupun anorganik dari luar sel dan membuang sisa ekskresi ke luar sel .
Transportasi yang kali ini dibahas bukan Transport pasif seperti Osmosis atau difusi
namun Transportasi aktif yang ada di sel hidup karena memerlukan energi ATP untuk mediasi
transport tersebut. Meski juga disinggung transport pasif untuk pembanding OK
Transpor aktif adalah pengangkutan lintas membran dengan menggunakan energi ATP,
melibatkan pertukaran ion Na+ dan K+ (pompa ion) serta protein kontraspor yang akan
mengangkut ion Na+ bersama melekul lain seperti asam amino dan gula.
 Arahnya dari daerah berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
 Misal perpindahan air dari korteks ke stele melalui endodermis yang tekanan
osmotiknya rendah
 Transpor aktif merupakan transpor yang mengkonsumsi atau menggunakan energi
untuk mengeluarkan dan/atau memasukkan ion-ion dan molekul melalui membran sel, melawan
perbedaan konsentrasi . gradasi konsentrasi
 Ini menunjukkan, bahwa sel pada suatu waktu tidak dapat hanya mengandalkan difusi
dan osmosis untuk memperoleh keperluan hidupnya , namun juga perlu memasukkan materi
secara transport altif yang mengabaikan osmosis dan difusi
 Energi diperlukan karena ada zat yang harus dipindahkan melawan kecenderungan
alami berdifusi ke arah yang berlawanan.
 Berbeda dengan difusi yang dapat berjalan ke dua arah, transpor aktif merupakan
gerakan satu arah dan dipengaruhi oleh muatan listrik di dalam dan di luar sel.
 Muatan listrik ini terutama ditentukan oleh ion-ion Natrium (Na+), Kalium (K+), dan ion
klor (Cl-). Keluar masuknya ion Na+, dan K+ dilakukan oleh pompa natrium-kalium (pompa
Na+-K-) dengan menggunakan energi yang diperoleh dari ATP (adenosin triphospate).
 Pompa Na+- K- bekerja memompa ion Na+ ke luar sel dan memasukkan ion K- ke
dalam sel.
 Konsentrasi ion K+ yang tinggi diperlukan untuk sintesis protein, glikosis, fotosintesis
dan proses vital lainnya.
 Keberadaan ion-ion Na+ dan K+ penting untuk mengendalikan pengaturan osmosis,
mempertahankan kegiatan listrik dalam sel saraf dan memacu transpor aktif bagi zat-zat lain
seperti glukosa dan asam amino.
 Dalam beberapa hal, kombinasi antara transpor aktif dan difusi dapat terjadi.
Transpor aktif terjadi melawan kemiringan konsentrasi, sehingga melibatkan energi. Transpor
aktif melibatkan reseptor dan transporter.

Transpor aktif terdiri dari :


1. Uniport, jika macam zat dan arahnya satu.
2. Symport, jika macam zat dua dan arah sama.
3. Antiport, jika macam zat dua dan arah berbeda.
Transport pasif merupakan transport ion, molekul, dan senyawa yang tidak memerlukan energi
untuk melewati membran plasma. Transport pasif mencakup osmosis dan difusi.
 Difusi dibedakan menjadi difusi dipermudah dengan saluran protein dan difusi
dipermudah dengan protein pembawa.
 Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati
membran yang bersifat selektif permeabel.
 Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi
terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan
isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama).
 Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati
membran sampai kedua larutan seimbang.
 Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air terikat
(tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa
melewati membran.
 Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak
terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran.
 Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran netto molekul air adalah dari larutan hipotonik ke
hipertonik.
 Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika
terdapat pada larutan yang berbeda.
 Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini,
sel akan mendapat dan kehilangan air yang sama.
 Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting
(Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya.
 Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka sel tersebut akan mendapatkan
banyak air, sehingga bisa menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel
tumbuhan).
 Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul
air, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian.
 Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka
diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi.
DIFUSI

 Difusi (transpor pasif) Zat berdifusi menurut perbedaan konsentrasi, jadi tidak
memerlukan energi (ATP) terjadi alamiah
 Difusi bebas (langsung) Yaitu tidak memerlukan protein carrier dengan menggunakan
prinsip kerja menyeimbangkan konsentrasi zat.
 Zat yang berdifusi langsung adalah zat yang larut dalam lemak, O2, CO2 dan N2, juga
zat lain yang bermolekul kecil seperti CO2, air, etanol, gliserol, dan urea.
 Difusi berfasilitas Difusi berfasilitas menggunakan protein dalam pengangkutan molekul
besar dan ion anorganik yang tidak dapat diangklut melalui difusi langsung.
 Protein tersebut terdiri atas reseptor dan trasporter Difusi berfasilitas juga bekerja
berdasarkan kemiringan konsentrasi antara sitosol dan cairan interseluler.
Perbedaan antara transpor aktif dengan transpor pasif
1. Transpor aktif memerlukan suatu energi, sedangkan transpor pasif terjadi tidak
memerlukan energi atau tanpa energi.
2. Transpor aktif bersifat melawan gradien konsentrasi sedangkan transpor pasif
hanya diam.
3. Transpor aktif terdiri melalui endositosis dan eksositosis, sedangkan transpor
pasif terdiri dari difusi, osmosis.
Cytosis adalah transpor yang melibatkan membran pecah. Proses ini melibatkan lisosom,
berarti zat dicerna dan ditranspor dalam vesikula.
 Cytosis dibagi dua berdasarkan arah keluar-masuknya, yaitu endocytosis dan
exocytosis.
 Endocytosis, yaitu memasukkan zat.
 Phagocytosis (makan, mencytosis zat dalam bentuk padat), hal ini terjadi pada sel
makrofaga dan leukosit inti polimorf, yang keduanya dibutuhkan dalam menjaga imunitas tubuh.
Untuk diphagocytosis suatu zat harus memiliki reseptor khusus pada membran sel yang
melekat pada tempat tertentu (binding site).
 Zat yang akan dimakan masuk ke dalam fogosom dan bergabung dengan lisosom
membentuk lisosom II dan terjadilah pencernaan, yang terderna berdifusi lewat membran
lisosom ke dalam sitosol dan yang tak tercerna sebagai bahan residu di dalam lisosom.

 Pinocytosis (minum, mencytosis zat dalam bentuk cair larutan atau suspensi), zat yang
masuk ke dalam vesikula halus (pinosom) dan kemudian bergabung dengan lisosom I dan
membentuk lisosom II, maka terjadilah pencernaan.
 Pinocytosis umum terjadi pada banyak sel tubuh. Exocytosis, yaitu mengeluarkan zat
yang berupa sekresi atau menggetahkan.
 Sekret ada yang disimpan dalam vesikula sekresi dan ada yang diexocytosis kalau
dirangsang oleh sinyal ekstraseluler (aksi potensial, hormon, neurtransmitter) yang diikat oleh
reseptor khusus membran, hal ini membuat kadar Ca2+ naik (yang berasal dari mitokondria
atau RE), dan ini mendorong terjadi exocytosis.
 Transpor tanpa lisosom, hal ini dikarenakan zat yang dicytosis tidak perlu dicerna. Ini
terdapat pada sel endotel pembuluh kapiler darah.
 Zat yang diendocytosis akan dilakukan exocytosis lagi, sehingga membran banyak yang
berlobang
Proses Pergerakan Cairan Tubuh

 Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme
transpor pasif dan aktif.
 Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan energi sedangkan mekanisme transpor
aktif membutuhkan energi.
 Difusi dan osmosis adalah mekanisme transpor pasif.
 Sedangkan mekanisme transpor aktif berhubungan dengan pompa Na-K yang
memerlukan ATP.
 Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:
1. Osmosis

 Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran semipermeabel


(permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju larutan berkadar lebih tinggi
hingga kadarnya sama.
 Seluruh membran sel dan kapiler permeabel terhadap air, sehingga tekanan osmotik
cairan tubuh seluruh kompartemen sama.
 Membran semipermeabel ialah membran yang dapat dilalui air (pelarut), namun tidak
dapat dilalui zat terlarut misalnya protein.
 Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan dengan tekanan osmotik
kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%, Ringer laktat).
 Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik (akuades), sedangkan
lebih tinggi disebut hipertonik.
 Jadi Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan bergerak dari
konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah.
 Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi melewati pori-
pori tersebut.
 Jadi difusi tergantung kepada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik.
 Merupakan perpindahan molekul zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sehingga
konsentrasinya menjadi sama yang berlangsung melalui membran atau tidak.
 Zat yang berkonsentrasi tinggi disebut Hipertonis, zat yang berkonsentrasi rendah disebut
Hipotonis, sementara zat yang berkonsentrasi sama disebut Isotonis. contoh zat gas (gas baygon,parfum) ,
cair (sirup), dan padat (kopi,susu,teh).

Difusi terbagi menjadi 2, yaitu Difusi sederhana dan


Difusi terfasilisasi
1. Difusi Sederhana = difusi tanpa melalui membran. contohnya larutan gula dalam air.
2. Difusi Terfasilisasi = difusi melalui membran dengan bantuan protein pembantu yaitu
protein integral. contohnya pembuatan telur asin, respirasi sel, dan membuat asinan buah.
Kecepatan difusi dipengaruhi oleh :

1. Konsentrasi zat -> semakin tinggi konsentrasi zat, semakin cepar terlarut.
2. Ukuran molekul zat -> semakin kecil ukuran molekul zat, semakin cepat proses difusi.
3. Luas bidang permukaan -> semakin luas bidang permukaan, semakin lama larutnya.
4. Suhu -> kecenderungan zat bergerak ke segala arah, sehingga menimbulkan tekanan.
semakin panas suhu, difusi semakin cepat.

Pompa Natrium Kalium pada Transport aktif


 Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang memompa ion natrium
keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion kalium dari luar ke dalam.
 Tujuan dari pompa natrium kalium adalah untuk mencegah keadaan hiperosmolar di
dalam sel.
NOTE

 Endosmosis = proses masuknya air ke dalam sel akibat sel berada pada lingkungan
hipotonik.
 Eksosmosis = proses keluarnya air dari dalam sel akibat sel berada pada lingkungan
hipertonik.
 Hemolisis = sel mengembang dan pecah karena mengalami endosmosis yang
berlebihan.
 Turgor = tekanan yang terjadi antara isi sel dengan dinding sel.
 Krenasi = penyusutan sel karena mengalami eksosmosis.
 Plasmolisis = lepasnya membran sel dari dinding sel akibat sel berada pada larutan
hipertonik.

TRANSPORTASI ZAT

 Pemahaman tentang transpor pasif (difusi, osmosis) dapat membantu


mengatasi permasalahan dalam pertanian,
 Misalnya, untuk menentukan dosis pupuk dan obat2 an yang aman untuk tanaman.
 Jika dosis terlalu pekat, akan menimbulkan plasmolisis yang dapat mematikan
tanaman.
 Kita juga dapat mengetahui bahwa zat yang diberikan sebagai nutrien seharusnya
berupa ion-ion yang mudah masuk ke dalam sel tanaman.
 Zat-zat organik seperti gula dan protein tidak dapat masuk ke dalam sel karena zat
tersebut berukuran besar.
 Zat tersebut justru memicu plasmolisis dan akhirnya mematikan tanaman.
 Pemahaman tentang transpor aktif juga dapat digunakan untuk memahami
terjadinya berbagai penyakit, misalnya silikosis dan rematik.