Anda di halaman 1dari 43

MANAJEMEN PEMELIHARAAN

1. KONDISI SAAT INI

PLN merupakan BUMN dengan jumlah total asset terbesar saat ini, dalam
mewujudkan tujuannya yakni sebagai perusahaan pelayanan jasa tenaga lstrik di Indonesia.
Untuk memberikan pelayanan terbaik bagi konsumennya yakni kehandalan pasokan listrik
tersebut maka PLN harus dapat memastikan aset-aset yang dimiliki terutama di sisi teknik
jaringan dalam kondisi yang baik. Kondisi tersebut dapat terwujud dengan pelaksanaan
kegiatan pemeliharaan preventif (sebelum terjadinya gangguan) terhadap tiap peralatan/asset
yang dimiliki. Energi listrik saat ini sudah merupakan kebutuhan primer seluruh masyarakat di
seluruh tingkatan ekonomi, sehingga bila terjadi pemadaman aliran listrik maka akan
menimbulkan complain yang mengakibatkan citra PLN tidak baik. Dengan pola pemeliharaan
preventif yang terstruktur dan tepat sasaran hal ini sangat mungkin dicapai oleh PLN Distribusi
Jawa Timur dalam tujuan utama yakni kepuasan pelanggan serta meningkaatnya pencitraan.

Pola inspeksi dan pemeliharaan yang tidak baik adalah tanpa perencanaan dan tanpa
adanya monitoring terhadap hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan
peralatan / terputusnya aliran listrik. Selain itu kelemahan yang sering terjadi adalah kurang
nya konsistensi terhadap tools/tata cara inspeksi dan pemeliharaan yang telah disusun mulai
dari level Kantor Distribusi dan Area. Hal lainnya yang mengakibatkan keberhasilan
pemenangan terhadap Perang Padam Jawa Bali (PPJB) tidak dapat dirasakan oleh seluruh Area
di Distribusi Jawa Timur yakni belum adanya keseragaman pola inspeksi dan pemeliharaan
antara Area sehingga Area yang melakukan pola yang tepat akan memperoleh hasil yang
maksimal sedangkan area yang menggunakan pola inspeksi dan pemeliharaannya belum
maksimal maka hasilnya pun tidak maksimal.

Gambar 1 Perbandingan Hasil Tindak Lanjut Pemeliharaan terhadap Inspeksi

Kondisi saat ini tampak seperti Gambar 1 diatas dimana hasil temuan inspeksi masih
belum dapat diselesaikan dengan konsisten sehingga potensi-potensi terjadinya gangguan
masih dapat terjadi. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan akibat pola monitoring terhadap
hasil temuan belum maksimal atau juga dikarenakan keterbatasan anggaran operasional /
investasi terkait temuan inspeksi peralatan-peralatan yang sudah tua atau penambahan
peralatan baru.
2. GOAL YANG DIHARAPKAN

Kondisi jaringan PLN telah terbangun dan melayani pelanggan di seluruh daerah
dalam jangka waktu puluhan tahun, hal tersebut memerlukan perhatian khusus dalam
mengamati dan mendata kondisi jaringan dengan pelaksanaan inspeksi secara detail atau
dengan melakukan pendataan/indexing terhadap usia seluruh material yang ada di jaringan
dan selalu di update data-data tersebut.

Tujuan yang diharapkan dengan penerapan pola pemeliharaan yang terstruktur dan
tepat sasaran antara lain :

1. Penurunan gangguan penyulang sehingga dapat mencapai target kinerja

2. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap frekuensi padam semakin membaik

3. Terdapat pola pemeliharaan yang terstruktur dan seragam di Distribusi Jawa


Timur

4. Terciptanya efisiensi biaya operasional pemeliharaan

5. Terciptanya tertib administrasi teknik dan manajemen data asset teknis

6. Kondisi Jaringan Tegangan Menengah (JTM) yang tahan terhadap kondisi cuaca
hujan,angin, dan petir.

Gambar 2. Alur Kegiatan Inspeksi sampai dengan Pemeliharaan

Analisis SWOT yang dapat dilakukan dalam pencapaian strategi Optimalisasi


Pemeliharaan di PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur adalah sebagai berikut:

2.1. Strengths
- Meningkatkan citra PLN.
- Proses bisnis pemeliharaan terstruktur dan tepat sasaran.
- Keandalan penyulang dapat ditingkatkan/dipertahankan sehingga tercipta
kepuasan pelanggan.
- Efisiensi anggaran investasi dan operasional dengan pemeliharaan berdasarkan
prioritas/healthy index
- Meningkatkan kepedulian PLN terhadap asset perusahaan yang telah ada.
- SDM pegawai PLN dan mitra kerja yang mencukupi di sisi kuantitas.

2.2. Weaknesses
- Membutuhkan SDM di sisi PLN dan mitra kerja yang kompeten untuk dapat
menjalankan aplikasi SPT2 sehingga dapat sesuai dengan harapan.
- Proses penyatuan visi dan persepsi mengenai struktur pemeliharaan yang ideal
masih sulit dilaksanakan.
- Job description yang ada tidak mengikat petugas untuk menjalankan tugas yang
seharusnya menjadi tanggung jawabnya terutama evaluasi kegiatan inspeksi
sampai dengan tindak lanjut pemeliharaan.

2.3. Opportunities
- Mulai mampu mengembalikan alur proses bisnis yang awalnya tidak sesuai
dengan cara manual dan dikelola dalam bentuk database yang mudah untuk
dievaluasi.
- Melakukan perbaikan-perbaikan secara bertahap sehingga dapat diterima
seluruh user.
- Menumbuhkan rasa kepedulian akan aset teknik yang terdapat dilapangan.

2.4. Threats
- Pelaksanaan program PPJB 2 dengan sasaran target kinerja gangguan penyulang
yang semakin meningkat dan memulai pada kinerja gangguan JTR, SR, APP.
- Kondisi cuaca ekstrem yang sulit ditebak dapat menjadi tantangan dalam proses
mencari solusi penyelesaiannya.
- Tuntutan dari masyarakat untuk kinerja keandalan khususnya mengenai
pemadaman ketenagalistrikan agar lebih baik lagi dan telah mengarah pada
tingkat mutu tenaga listrik.

3. METODE YANG DIGUNAKAN

KEPUTUSAN DIREKSI yang memuat mengenai kegiatan Pemeliharaan di sisi Distribusi


antara lain :

• SK DIR No : 003/PST/1988 tanggal 22 Januari 1988


Tentang : Pemeliharaan Inst. Pembangkitan,Transmisi & Distribusi
• SK DIR No : 040.E/152/DIR/1999 tanggal 12 Maret 1999
Tentang : Manajemen Pemeliharaan Distribusi
• SK DIR No : 074.K/DIR/2008 tanggal 28 Februari 2008
Tentang : Pedoman pengelolaan aset sistem distribusi
Saat ini di wilayah kerja Distribusi Jawa Timur telah terdapat suatu aplikasi pendukung kegiatan
pemeliharaan mulai dari perencanaan, inspeksi, sampai dengan tindak lanjut hasil temuan
yang dinamakan Sistem Pelayanan Teknik Terpadu (SPT2). Tools dan form yang mendukung
terciptanya tertib administrasi dan pola monitoring serta evaluasi yang tepat sasaran telah
tersedia dengan dukungan system berbasis web. Dengan adanya aplikasi tersebut diharapkan :
- Proses bisnis pelayanan teknik standar
- Form pelaporan seragam
- Monitoring dan evaluasi lebih mudah dan dapat dilakukan dimana saja (web based)
- Hasil inspeksi dan pemeliharaan terdatabase
Dalam mendukung pemenangan Perang Padam Jawa Bali (PPJB) Jilid ke 3 maka
Distribusi Jawa Timur mengembangkan suatu konsep pemeliharaan dengan berfokus kepada
kesempurnaan di setiap bidang antara lain Sempurna Material, Sempurna Konstruksi,
Sempurna ROW Jaringan, Sempurna Pemeliharaan Tuntas, dan Sempurna Proteksi.

Sempurna Material :
• Perencanaan Investasi dan Operasional yang berkualitas
• Memperketat pengujian material teknik sesuai dengan standar pengujian dan
pengukuran
• Pengadaan barang langsung dari pabrikan yang terjamin kualitasnya
• Spesialisasi kontraktor, dan pemberlakuan vendor manajemen untuk mengukur hasil
kinerja vendor
• Kompetensi pengawasan ditingkatkan
• Pengawas dibekali dengan RAB pekerjaan untuk cross check kesesuaian material
Sempurna Konstruksi :
• Selalu mengacu pada Buku Standar Konstruksi dalam setiap kegiatan teknik
• Pengawasan setiap pekerjaan AI dan AO Pemasaran maupun Konfigurasi Jaringan
(Vendor Management)
• Melakukan pengecekan ulang material yang akan dipasang/dioperasikan
• Penyampaian SOP kegiatan operasional gangguan dan pemeliharaan kepada Yantek
Sempurna ROW Jaringan :
• 4 regu rabas + 2 regu mobil gangguan konsisten setiap hari (selalu ingat diatas
jaringan hanya ada langit / standar >2.5 meter)
• Patroli layang-layang dan kawat ngelokor
• Patroli bangunan mendekati jaringan
• Kordinasi dengan Dinas Cipta Karya & PU Propinsi untuk pohon2 besar rawan
tumbang
Sempurna Pemeliharaan Tuntas
• Berdasarkan Prioritas Penyulang gangguan tertinggi
• Mengacu pada prioritas temuan inspeksi yang di entry pada SPT2
• Penggantian material yang sudah tua >15 tahun dengan melihat kondisi saat
pemeliharaan (P2TST)
• Dengan jumlah SDM Har mencukupi dalam setiap pemadaman dan hasil tuntas
semua TO
• Setiap Minggu telah dilakukan penjadwalan pemeliharaan per section dengan
melihat kondisi pelanggan
Sempurna Proteksi :
• Optimalisasi LBS Motorise dengan penambahan open delta transformer untuk
mengaktifkan relay dgr (relay mendukung)
• Pendalaman mengenai recloser dan bedah kasus setting proteksi bila terjadi
kegagalan peralatan
• Sisir dan tindak lanjut ketidaksesuaian pembatas Fuselink, NH fuse pada gardu
distribusi
• Diklat dan usulan sertifikasi pegawai & OS dibidang proteksi
• Pelanggan TM harus sudah dilengkapi dengan standar proteksi lengkap sehingga
tidak sampai mentripkan penyulang bila terganggu
• Pelanggan TM harus memiliki sumber DC terpisah sehingga saat PT tidak bekerja,
tripping coil tetap dapat bekerja

3.1 PERENCANAAN
Perintah kerja adalah suatu alat dasar yang utama dalam proses pelaksanaan
pekerjaan inspeksi dan pemeliharaan. Dalam perintah kerja tersebut berisi, antara lain :
- Rincian pekerjaan yang akan dilakukan
- Waktu yang dipergunakan
- Personel pelaksana kegiatan
- Tujuan / lokasi pelaksanaan kegiatan
- Daftar material/alat kerja yang digunakan selama kegiatan
Untuk mencapai tujuan berupa penurunan gangguan dengan sistematis pola inspeksi dan
pemeliharaan yang perlu diperhatikan adalah proses perencanaan awalnya. Schedule / jadwal
inspeksi dan pemeliharaan disusun bulan n-1 sehingga kesiapan material dan personel dapat
lebih terarah/sesuai.
Tabel 1 Jadwal inspeksi bulanan di Rayon

Dalam perencanaan kegiatan inspeksi dan pemeliharaan, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan sehingga setiap kegiatan yang dilakukan telah mengacu pada prioritas dan
tercipta suatu kegiatan yang efektif dan efisien, antara lain :

- Berdasarkan data statistic gangguan penyulang beberapa periode waktu

- Pareto penyebab gangguan yang sering terjadi

- Kondisi medan/wilayah kerja yang terpengaruh terhadap cuaca

- Jumlah SDM dan kompetensi

- Ketersediaan material dan alat kerja

Gambar 3 Diagram Perencanaan Pemeliharan

3.2 METODE INSPEKSI JARINGAN

Inspeksi adalah suatu kegiatan pemeriksaan dengan seksama dan dilakukan secara
langsung dengan visual terhadap suatu kondisi fisik. Dalam inspeksi kecenderungan
menangkap suatu gap/temuan berupa kondisi tidak aman maupun perilaku tidak aman yang
dapat menyebabkan kerugian. Tahap pelaksanaan inspeksi dilakukan dengan konsep
manajemen PDCA (Plan-Do-Check-Action), yakni :

1. Plan atau perencanaan inspeksi adalah dengan membuat persiapan-persiapan


inspeksi seperti pembuatan perintah kerja, jadwal kegiatan inspeksi, form
checklist inspeksi, peralatan untuk inspeksi, dll
2. Do atau pelaksanaan inspeksi yakni berfokus pada jadwal yang sudah ditentukan
dan melakukan sesuai dengan SOP yang telah ada dibantu dengan checklist
inspeksi yang dibawa.

3. Check atau pelaporan inspeksi dilakukan melalui suatu alat atau sarana yang
dapat digunakan sebagai bahan informasi dan komunikasi efektif sehingga dapat
dilakukan pengelolaan sampai dengan tindak lanjut temuan. Dalam hal ini PLN
Distribusi Jawa Timur telah memiliki Aplikasi Sistem Pelayanan Teknik Terpadu
(SPT2)

4. Action atau tindak lanjut atau pemantauan yakni dengan membuat skala
prioritas terhadap upaya-upaya perbaikan yang harus dikerjakan dengan
menyesuaikan anggaran pemeliharaan yang ada sehingga gap/temuan untuk
menuju kesempurnaan jaringan dapat terwujud.

Tujuan Inspeksi :

- Mencegah terjadinya kerusakan peralatan yang mengakibatkan kerugian meluas

- Memelihara keamanan lingkungan kerja

- Mencegah tindakan tidak aman

- Sebagai acuan dalam perencanaan pemeliharaan dan rencana kerja tahunan

Jenis inspeksi :

1. Inspeksi Rutin dilakukan dengan melintasi seluruh area kerja sesuai dengan
jadwal yang telah dibuat dengan mengamati keseluruhan asset yang ada secara
mendetail.

2. Inspeksi Berkala adalah inspeksi yang dilakukan dalam jangka waktu 1 bulan s/d
6 bulanan, contohnya inspeksi gardu beton pelanggan potensial.

3. Inspeksi Khusus adalah inspeksi pada saat terjadi kejadian tertentu yang tidak
terduga, contohnya : inspeksi pasca terjadinya gangguan yang belum ditemukan
penyebab gangguannya.

Kualifikasi personil/Inspektor :

- Mempunyai pengetahuan tentang seluruh jenis asset PLN

- Dapat membedakan kondisi asset dalam kategori baik atau perlu perbaikan segera /

- Dapat berkomunikasi dengan baik


- Memiliki integritas yang tinggi

- Mengetahui prosedur inspeksi sesuai SOP dan teliti dalam proses pengamatan

- Mampu mengoperasikan alat bantu inspeksi

- Dapat membuat laporan inspeksi dan melakukan monitoring terhadap tindak lanjut

Hal-hal / item peralatan jaringan tegangan menengah (JTM) yang harus diperhatikan saat
pelaksanaan inspeksi dan pemeliharaan antara lain :

- ROW jaringan terhadap pepohonan yakni 2,5 meter

- ROW terhadap bangunan / reklame yakni 2,5 meter

- ROW terhadap sampah jaringan seperti laying-layang, pita kaset, benang, plastic

- Peralatan switching (LBS, LBS motorise, Recloser, PMCB, PGS, AVS, Pemisah/DS, Cut
out)

- Penghantar (A3C, A3CS, kabel TM/XLPE, kabel MVTIC, TIC TR)

- Transformator (Trafo Distribusi, PT, CT)

- Isolasi TM (Isolator Pin/hang, isolator penghantar, minyak trafo)

- Peralatan proteksi (Arrester, Ground steel wire )

Berdasarkan jenis peralatan kerja yang digunakan, inspeksi dibagi menjadi 3 yakni :

1. Inspeksi Visual

Pelaksanaan inspeksi dengan mata telanjang dapat dilakukan disisi ROW yakni
kondisi jarak aman SUTM terhadap pohon, bangunan, reklame dan juga kebersihan
jaringan kita dari layang-layang. Selain itu kaitannya dengan konduktor kendor,
ngelokor, atau ketidak sesuaian konstruksi juga dapat dilakukan.

2. Inspeksi menggunakan alat bantu lihat

a. Kamera

Dengan program lihat semua, foto semua serta didukung dengan kamera
khusus > 35 x zoom maka akan dapat lebih detail/teliti dalam proses
pengamatan terhadap asset peralatan kita yang jaraknya dari permukaan
tanah > 6 meter.
Gambar 4 Contoh pengambilan menggunakan kamera super zoom

b. Teropong

Teropong merupakan alat utama yang tercantum dalam kontrak petugas


inspeksi sehingga bila terdapat keterbatasan penglihatan mata, dengan
adanya teropong dapat membantu meyakinkan kondisi suatu jaringan yang
dalam proses pengamatan.

c. Kamera Thermovision

Kamera thermovison sangat bermanfaat untuk mendeteksi peralatan-


peralatan yang akan mengalami breakdown dimana indikasi awalnya
adalah panas. Standar panas pada peralatan yang memerlukan
o
penggantian yakni >60 C.

Gambar 5 Contoh pengambilan menggunakan kamera Thermovision

3. Inspeksi menggunakan alat bantu ukur

a. Tahanan isolasi / megger

b. Micro tang ampere

c. Alat ukur arrester online

d. Earth tester

No. Bidang Inspeksi Metode Alat Kerja Min. SDM Periode /


tahun

1 Material Foto seluruh Camera foto zoom Khusus Min. 1x


tiang > 35x
2 Konstruksi Foto seluruh Camera foto zoom Khusus Min. 1x
tiang > 35x

3 ROW Foto pohon Camera foto zoom Khusus Min. 12x


> 10x

Tabel 2 Metode Inspeksi dan Kebutuhan Alat Kerja

3.3 METODE PEMELIHARAAN

Suatu sistem kelistrikan dapat dikatakan baik apabila telah memenuhi aspek
keandalan, mutu serta efisiensi terhadap biaya. Dalam pemenuhan di sisi aspek keandalan
yang merupakan point penting adalah adanya struktur pemeliharaan. Pemeliharaan adalah
semua aktivitas yang berkaitan untuk mempertahankan peralatan system dalam kondisi layak
bekerja. Pemeliharaan preventif adalah pemeliharaan untuk mencegah terjadinya kerusakan
peralatan yang lebih parah atau untuk mempertahankan unjuk kerja jaringan agar tetap
beroperasi dengan keandalan dan efisiensi yang tinggi, kegiatan pokok pemeliharaan preventif
ditentukan berdasarkan periode/waktu dan kondisi peralatan. Pemeliharaan korektif adalah
pemeliharaan dengan maksud untuk memperbaiki kerusakan hingga kembali pada kondisi /
kapasitas semula. Sedangkan terdapat pula pemeliharan darurat yakni pemeliharan yang
sifatnya mendadak, tidak terencana akibat gangguan atau kerusakan diluar kemampuan kita
sehingga perlu dilakukan pemeriksaan, serta perbaikan berupa penggantian peralatan.

Sasaran utama dalam manajemen pemeliharaan antara lain:

- Tercapainya suatu tingkat kesiapan operasi peralatan yang tinggi

- SOP dan prosedur pemeliharaan yang telah ada dapat terlaksana dengan baik

- Tersusunnya standar pemeliharaan untuk menghindari kerusakan yang berulang dan


dapat memperkirakan waktu perbaikan yang diperlukan

- Pengendalian biaya pemeliharaan

Dalam membuat suatu struktur pemeliharaan dapat dibagi berdasarkan 2 kategori


yakni :

- Pemeliharaan berdasarkan kondisi / Condition Based Maintenance (CBM)

- Pemeliharaan berdasarkan waktu / Time Based Maintenance (TBM)

Dengan kedua pola/struktur pemeliharaan tersebut dapat menjadi acuan penentuan


tindakan pemeliharaan.
Tujuan dari CBM adalah melaksanakan pemeliharaan peralatan yang benar di
saat/waktu yang tepat. Evaluasi CBM digunakan dengan menggabungkan tools yang terdapat
di OPI yakni RCPS (Root Cause Problem Solving) untuk memprioritaskan dan mengoptimalkan
sumber-sumber daya pemeliharaan yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan inspeksi.

Disamping penekanan struktur pemeliharaan terhadap kondisi / CBM juga terdapat


pemeliharaan berdasarkan waktu/usia peralatan. Item peralatan yang rencana akan dilakukan
menggunakan struktur pemeliharaan berdasarkan waktu antara lain transformator dan
peralatan switching ( LBS, PGS, AVS, PMCB ). Dengan mengumpulkan data waktu pembuatan
suatu peralatan dapat di buat jadwal pemeliharaan secara berkala untuk tiap peralatan. Hasil
dari evaluasi pemeliharaan berdasarkan waktu (TBM) dapat menjadi ukuran bila suatu
peralatan telah difungsikan dengan sesuai/optimal atau sebaliknya bila suatu peralatan dengan
masa usia standar tidak tercapai maka harus dievaluasi ulang penggunaan peralatan tersebut.

Pemeliharaan adalah suatu proses kegiatan yang sangat penting dilaksanakan untuk
menjaga kondisi aset dalam keadaan yang selalu prima sehingga kerusakan dapat
diminimalkan. Tahapan-tahapan proses pemeliharaan mulai dari perencanaan inspeksi sampai
dengan tindak lanjut pemeliharaan harus dapat ditaati sesuai dengan alur yang telah dibuat.
Dengan konsistensi untuk tetap sesuai dengan SOP yang telah dibuat maka administrasi teknik
yang tertib akan dapat tercipta sehingga memudahkan dalam proses analisa dan evaluasi
setiap kegiatan pemeliharaan.

Gambar 6 Alur proses pemeliharaan


No. Bidang Har Metode Alat Kerja Min. SDM/Rayon Periode /
tahun
1 JTM CBM, TBM PDKB/Area 1 Timsus Conditional

2 Gardu CBM, TBM - 1 Timsus Min. 2x

3 Kubikel CBM, TBM - 1 Timsus Min. 2x


Tabel 3 Metode Pemeliharaan

3.3.1 ROW (Right Of Way) SUTM


Jarak aman / ROW merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga suatu sistem
ketenagalistrikan dalam kondisi handal. Jarak aman adalah jarak antara bagian aktif/fase dari
jaringan terhadap benda-benda di sekelilingnya baik secara mekanis atau elektromagnetis yang
tidak memberikan pengaruh membahayakan.
No Uraian/objek Jarak Aman

1 Terhadap permukaan jalan raya ≥ 6 meter


2 Pohon ≥ 2.5 meter
3 Atap rumah/bangunan ≥ 2.5 meter
4 Antena TV/radio ≥ 2.5 meter
5 Lintasan kereta api ≥ 2.5 meter
6 Antara TM - TM ≥ 1 meter
7 Antara TM - TR ≥ 1 meter
Tabel 4. Jarak Aman SUTM
Gambar 7 Jarak Aman SUTM dengan Pohon dan Bangunan

Berdasarkan evaluasi penyebab gangguan di Distribusi Jawa Timur, pohon masih


menjadi penyebab dominan terputusnya aliran listrik terutama saat kondisi hujan disertai
angin. Tiap pohon memiliki karakteristik pertumbuhan serta pengaruh yang berbeda saat
pohon tersebut dirabas. Selain itu beberapa lokasi juga mengalami masalah dengan
karakteristik masyarakat terkait larangan melakukan perabasan terutama di pohon-pohon
produktif.
Untuk menjamin keberlangsungan perabasan telah sesuai dengan kaidah ROW, perlu
dilakukan perencanaan awal mengenai jalur yang akan dirabas berdasarkan pemetaan
karakteristik pertumbuhan pohon atau hasil temuan dari inspeksi yang telah dibuatkan dalam
peta pohon .
Waktu Pemangkasan kembali
No Jenis Pohon
Tiang 9 M Tiang 11 M

1 Bambu & sejenisnya 14 hari 21 hari

Petai cina / lamtoro &


2 30 hari 45 hari
sejenisnya

3 Angsana & sejenisnya 50 hari 60 hari

4 Kelapa/Palem & sejenisnya 75 hari 80 hari

5 Mahoni & sejenisnya 90 hari 100 hari

180 hari/ 200 hari/ stelah


6 Mangga & Rambutan
stelah berbuah berbuah

90 hari/ stelah 100 hari/ stelah


7 Nangka & Durian
berbuah berbuah

8 Kedondong & Jambu 60 hari 75 hari

Tabel 5 Karakteristik Pertumbuhan Pohon

3.3.2. JTM BERSIH DARI SAMPAH


Di beberapa daerah permainan layang-layang menjadi hal favorit untuk dilakukan,
jenis layangan yang digunakan pun beraneka ragam. Terdapat beraneka ragam modifikasi
layangan yang peruntukannya sebagai layangan hias atau layangan petarung. Kondisi dimana
terdapat suatu daerah yang mayoritas warganya gemar melakukan kegiatan bermain layang-
layang maka kemungkinan Jaringan Tegangan Menengah dihinggapi sampah berupa kerangka
layangan serta benang pun semakin besar.
Untuk layangan dengan dimensi yang besar serta menggunakan bahan berupa
benang yang dapat menghantarkan aliran listrik, bila mengenai jaringan PLN 20 KV bukan tidak
mungkin akan langsung mengakibatkan gangguan pada penyulang tersebut. Sedangkan untuk
layang-layang biasa pun tetap berpotensi menyebabkan terjadinya gangguan penyulang
dimana pada saat kondisi hujan maka sampah berupa kerangka layangan atau benang tersebut
dapat membuat jalur konduktif antara fasa atau antara fasa dan ground.
Untuk itu diperlukan beberapa strategi untuk meminimalkan jumlah gangguan yang
disebabkan oleh layang-layang, antara lain :
Sosialisasi di daerah potensi bermain layangan yang tinggi untuk menghindari
bermain layangan di dekat jaringan PLN
Pemasangan/penyebaran spanduk mengenai bahaya bermain layangan di dekat
jaringan PLN
Berkordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk menjadikan perhatian
khusus terhadap penggunaan layangan yang tidak sewajarnya (dari segi dimensi dan
bahan benang yang digunakan)
Melaksanakan patroli gabungan dengan pihak kepolisian bila terdapat daerah
khusus yang rawan menyebabkan potensi gangguan
Mensosialisasikan langsung kepada pengguna dan produsen layangan mengenai
kerugian yang akan timbul bila bermain layangan tidak pada tempatnya serta
penggunaan bahan layangan yang tidak seharusnya
Secara rutin melaksanakan inspeksi dan pembersihan layangan yang dilakukan oleh
petugas pelayanan teknik di daerah-daerah potensi
Pemasangan GSW atau penggantian konduktor A3C menjadi A3CS agar bila terdapat
layangan tidak langsung menyebabkan penyulang terganggu

3.3.3. PEMELIHARAAN PENGHANTAR/KONDUKTOR


Sebagai alat penyalur tenaga listrik, penghantar, baik kawat ataupun kabel harus
terpasang dengan baik, yaitu tidak menyebabkan kerugian lsitrik yang besar serta aman
terhadap peralatan dan orang dari bahaya akibat listrik (tegangan menengah). Oleh karena itu,
maka pelaksanaan pemeliharaan penghantar hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah :
• Jarak aman
• Andongan kawat / lendutan
• Kondisi fisik
• Jumper / joint
• Pengikat penghantar pada isolator / klem.
Sedangkan pekerjaan yang dilakukan untuk pemeliharaan penghantar antara lain :
• Penggantian penghantar
Berupa penghantar/konduktor dengan jenis yang sama akibat terdapat cacat
pada konduktor lama atau penggantian menjadi penghantar berisolasi (A3CS)
untuk meningkatkan kehandalan atau bahkan memperbesar kapasitas/ukuran
penghantar
• Perbaikan kondisi / pemasangan penghantar
Pelaksanaan kegiatan pengencangan penghantar/konduktor atau perbaikan
penghantar yang rantas dapat menggunakan joint repair sleeve
Yang dimaksud dengan andongan ialah jarak antara posisi terendah dari penghantar
yang direntangkan dengan posisi dimana penghantar tersebut ditumpang / sangga / digantung
pada tiang.
Bagan lendutan (SAG) menurut Tegangan tarik (Tension) dan Rentangan (SPAN)
sebenarnya.

7,0 m 5,8 m
4,0 m

50 m
Gambar 8 Standar Andongan Jaringan Tegangan Menengah

Andongan harus disesuaikan dengan standard kuat tarik hantaran, jarak antar
hantaran, lebar bentangan antar tiang. Andongan harus senantiasa dijaga agar tidak terlalu
kencang maupun terlalu kendor. Karena jika terlalu kencang dapat mengakibatkan tarikan
hantaran mempengaruhi impedansi/ daya hantar akibat pemuluran pada saat penghantar
panas oleh beban listrik pelanggan. Dan jika terlalu kendor antar penghantar dapat berhimpit/
hubung singkat karena angin/ benang layangan.

3.3.4. PEMELIHARAAN GARDU DISTRIBUSI


Gardu Distribusi merupakan item di jaringan tegangan menengah (JTM) yang
memiliki banyak peralatan dan assesoris yang perlu dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan
bulanan trafo dilaksanakan dalam keadaan beroperasi, pekerjaan berupa pemeriksaan -
pemeriksaan visual yang meliputi: tinggi permukaan minyak, kondisi bushing, tangki radiator,
pengukuran beban menggunakan aplikasi SIMONTRA (Sistem Monitoring Onleine Trafo),
tegangan dan penyetelan sadapan. Sedangkan pemeliharaan tahunan dilaksanakan dalam
keadaan tidak bertegangan, pekerjaan berupa pemeriksaan- pemeriksaan seperti pada
pemeliharaan bulanan, ditambah dengan pemeriksaan dan perawatan terhadap arester, spark
gap, pentanahan, terminal - terminal, tempat kedudukan trafo, serta mengukur / menguji
kontinyuitas belitan, tahanan isolasi, polaritas index, dan dielektrik minyak isolasinya.
Dengan difasilitasi menggunakan aplikasi SIMONTRA yang memperoleh input data
dari alat ukur portable EMT (Energy Measurement and Data Transmit) maka sangat
memudahkan dalam menganalisa dan mengevaluasi kondisi fisik, pola pembebanan, serta
Distorsi arus dan tegangan dimana terdapat standar yang menentukan prioritas suatu
transformator harus dipelihara. Saat ini di Distribusi Jawa Timur manajemen pengelolaan
transformator menggunakan fasilitas SIMONTRA telah menjadi sesuatu budaya.
Pada Gardu distribusi beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :

No Objek inspeksi/pemeliharaan Pemeliharaan instant

1 Line tap connector penggantian bila tidak sesuai


2 Cut Out -Ganti Fuse link bila tidak sesuai
-Ganti rumah CO bila retak
3 Arrester & kawat pembumian -Ganti arrester bila pecah / pengukuran tidak baik
-Bersihkan dan kencangkan
Perbaiki atau penggantian mengunakan sepatu
4 Jumperan kabel
5 Kabel Incoming
-Sepatu kabel -Ganti/kencangkan
-Kabel incoming -Bila di megger jelek, lakukan penggantian
-Pipa pelindung -Betulkan sambungan
6 Kabel Outgoing
-Sambungan di LV panel -Bersihkan, kencangkan
-Kabel Outgoing -Betulkan posisi
-Konektor ke SUTR -Bersihkan,kencangkan
7 LV panel
-Kunci Laporkan
-Body,pintu -Bersihkan, Cat, Laporkan
-Fuse holder -Bersihkan/penggantian
-NH Fuse (utama & jurusan) -Bersihkan/ganti bila tidak sesuai
-Rel tembaga -Bersihkan,kencangkan
-Saklar utama -Bersihkan, beri pelumas
-Terminal pembumian -Penggantian, kencangkan
8 Pembumian
-Kawat pembumian -Ganti bila putus/hilang
-Sambungan ke ground rod -Ukur,perbaiki bila putus/hilang
9 Trafo (Menguji tahanan isolasi trafo)
-Preventif Maintenance (Preman)
-Minyak -Tegangan tembus 30 KV / 2,5 mm
-Bushing -Bersihkan, ganti nut, kencangkan
-Seal -Sealen ulang
-Tap Changer -Periksa untuk setiap posisi
-Tanki,sirip,konservator,gelas
penduga -Laporkan
Tabel 6 Objek Inspeksi dan Pemaliharaan pada Gardu Distribusi

3.3.4.1. Transformator
Diperlukan beberapa pemeriksaan dan pemeliharaan pada Transformator antara lain :

1. Pemeriksaan Elektrik

Dilakukan dengan mengukur tahanan isolasi dari transformator menggunakan alat ukur
megger yakni :
- Antara sisi Tegangan rendah (TR) dengan sisi Tegangan Tinggi (TT).
- Antara sisi Tegangan rendah (TR) dengan bodi (E).
- Antara sisi Tegangan Tinggi (TT) dengan bodi (E).
- X1- X 2dan X 3- X 4untuk transformator 1 phasa.
- Periksa hubungan phasa-phasa pada sisi TT dan sisi TR apakah terhubung dengan
baik ( Megger 0 Ohm).
Pada transformator 1 phasa dengan 4 bushing tegangan rendah X 1terhubung dengan X 2dan X 3
terhubung dengan X 4dan antara X 1-X2dan X 3-X4tidak terhubung ( Open ).

Pada transformator 1 phasa CSP (dengan pengaman) periksa apakah mekanisme breker
bekerja, dengan meng On/Off kan breker.

Pada saat On hubungan phasa X 1– X 2dan X 3– X 4terhubung atau jika diukur dengan megger
menunjuk nilai 0 (short), pada saat Off hubungan phasa terbuka (Open).

2. Pemeriksaan Tap Changer

Ubah-ubah posisi tap changer mulai tap 1 sampai tap ter akhir, dengan cara
pengendurkan pengunci pada kepala tap tap changer, tarik kepala keatas dan putar pada
tapping yang dikehendaki. Pada tiap tap, terminal phasa tersambung (megger 0 Ω).

3. Pemeriksaan Minyak Trafo

Untuk transformator yang telah lama dan tersimpan digudang yang tidak digunakan
(lebih dari 1 - tahun) sebelum diberi tegangan perlu diadakan pemeriksaan tegangan tembus
minyak trafo. Hal ini diperlukan karena dimungkinkan adanya benturan-benturan atau
kebocoran-kebocoran yang menyebabkan sil packing yang rusak sehingga adanya udara yang
masuk ke trafo, dan juga yang perlu diperhatikan saat penerimaan trafo dari pabrikan agar
diperiksa pada tahun pembuatannya.
Pemeriksaan tegangan tembus minyak dianjurkan 3 tahun pertama setelah
transformator dioperasikan dan tiap tahun untuk tahun-tahun berikutnya. Jika hasil
pemeriksaan labolatorium oli tersebut dibawah standart maka perlu dimurnikan kembali atau
diganti dengan oli yang baru.
Berdasarkan IEC 76 transformator yang dirancang dengan syarat pelayanan antara
lain bahwa untuk transformator yang berpendingin udara maka suhu udara tidak boleh
melampaui :
- 30 °C rata-rata harian
- 20 °C rata-rata tahunan
Selain itu suhu udara tidak boleh melampaui 40 °C dan lebih rendah dari -25 °C (pasangan luar)
atau -5 °C (pasangan dalam). Transformator tersebut dapat dibebani 100% selama 24 jam
selama terus menerus.
Menurut SPLN 17 - 1979 suhu rata-rata tahunan di Indonesia antara 24 °C sampai 27
°C untuk musim penghujan dan kemarau dan di beberapa daerah di Indonesia suhu rata-rata
tahunan pada musim kemarau 30 °C.

Dengan demikian jelaslah bahwa bila sebuah transformator dioperasikan dengan


beban penuh secara kontinue dan tidak terputus, maka transformator ini akan mengalami
"Kenaikan Susut Umur", dengan kata lain mengalami umur yang lebih pendek. Maka perlu
untuk memperhatikan pembebanannya sehingga tidak melampaui batas pemburukan isolasi
yang layak karena efek termis dan dicapai umur kerja transformator selama 20 tahun (7300
hari) sesuai dengan Publikasi IEC 354 (1972) sehingga transformator akan mempunyai susut
umur normal (normal loss of life) 0.0137 0 per hari.

3.3.5. ARRESTER DAN GROUND STEEL WIRE SEBAGAI PROTEKSI TERHADAP PETIR

Kondisi jaringan tegangan menengah (JTM) yang terdapat di wilayah kerja Distribusi
Jawa Timur rata-rata usianya sudah tua yakni >15 tahun, hal tersebut menjadi celah untuk
terjadinya gangguan saat kondisi petir yang mengakibatkan beberapa peralatan isolasi tembus
dimana insulation level nya telah mengalami degradasi/berkurang akibat usia dan kualitas
material. Beberapa kegiatan pemeliharaan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan
terjadinya hal tersebut antara lain :

1. Pemasangan Ground Steel Wire (GSW) yang idealnya dilakukan mulai dari GI
sampai dengan ujung JTM. Hal tersebut membutuhkan anggaran investasi yang
besar sehingga dapat dilakukan pemetaan terlebih dahulu melalui peta petir
dan evaluasi gangguan akibat petir beberapa periode yang lalu untuk
menentukan prioritas pemasangan GSW tersebut.
2. Pemasangan dan perbaikan pembumian setiap 5 tiang atau paling baik
dilakukan setiap tiang sehingga dapat menyalurkan gelombang petir/surja ke
tanah lebih cepat dan tidak mengganggu/merusak isolasi peralatan.
3. Pemasangan arrester lengkap dengan pembumian yang dilakukan pada :
a. Tiang awal (TM11) dan tiang akhir (TM4)
b. Trafo distribusi
c. Peralatan switching (LBS, Recloser, PGS, AVS, PMCB)
d. Setiap tempat yang terdapat perubahan impedansi yakni dari Kabel
XLPE/MVTIC ke konduktor SUTM

3.3.5.1. Arrester
Arrester berfungsi sebagai by-pass di sekitar lokasi yang membentuk jalan dengan
mudah dilalui oleh tegangan lebih ke sistim pentanahan sehingga tidak menimbulkan tegangan
lebih yang tidak merusak peralatan isolasi listrik. By-pass ini sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu aliran frequensi 50 Hz. Pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator,
bila timbul gangguan surja, alat ini berfungsi sebagai konduktor yang tahanannya relative
rendah agar dapat mengalirkan arus yang tinggi ke tanah. Setelah surja hilang, arrester dengan
cepat kembali menjadi isolasi.

Besaran- besaran yang perlu dipertimbangkan dalam memelihara suatu arrester :


 Rumah isolator ; periksa rumah isolator isolator secara visual apakah ada
keretakan.
 Tahanan pentanahan; Ukur tahanan pentanahan dari arrester apakah masih
memenuhi persyaratan.
 Pengukuran tahanan antara elektroda dengan elektroda apakah masih
memenuhi persyaratan (1 M Ohm/1 kV).
3.3.5.2. Pembumian (Grounding)
Pembumian pada peralatan ditiang diperlukan untuk tujuan :
1. Membatasi besar tegangan yang disebabkan petir
2. Membatasi besar tegangan yang disebabkan oleh terjadinya hubung tidak sengaja
dengan bagian yang bertegangan .
3. Menstabilkan tegangan ke tanah dalam kondisi normal.

Karena itu pemasangan sistem pembumian harus dilakukan dengan standard sesuai
ketentuan yang berlaku sebagai elektroda pembumian biasanya digunakan elektroda batang
berbentuk pipa baja galvanis diameter 25 mm atau baja berdiameter 15 mm yang dilapisi
tembaga setebal 2,5 meter dengan panjang 2,5 m atau 3 m. Untuk penghantar bumi biasanya
digunakan tembaga 50 mm2 dan sampai dengan 2,5 meter dari atas tanah harus dilindungi
dengan pipa baja dari kerusakan mekanis.
Tahanan pembumian yang dapat dicapai sangat tergantung pada jenis elektroda, jenis
tanah dan ke dalaman penanaman elektroda. Pada tanah kering yang berbatu tidak mungkin
untuk mendapatkan harga di bawah 100 ohm bila hanya ditanam 1 batang elektroda 3 m.
Walaupun dengan memasang beberapa elektroda secara parallel dapat menurunkan
harga tahanan pembumian, tetapi kenyataannya penurunannya tidaklah menjadi R/n (R
tahanan untuk 1 elektroda, n jumlah elektroda seperti diperkirakan. Bila peralatan dan kondisi
tanah setempat memungkinkan akan lebih menguntungkan bila elektroda ditanam secara seri.
Keuntungan lain dengan cara ini adlah pengaruh musim dapat diperkecil karena dicapainya air
tanah. Bila kondisi tanah tidak memungkinkan untuk menanam secara seri beberapa batan
pipa, maka untuk memperoleh harga tahanan yang rendah pipa – pipa elektroda dapat
dipasang secara parallel. Jarak antar elektroda tersebut minimum harus dua kali panjang
elektroda (PUIL 1987 pasal 3221 A4).
Pemeliharaan Pembumian antara lain yang dilakukan pada :
• Pemeriksaan secara visual kondisi pembumian
• Pemeriksaan / perbaikan terhadap baut kelm yng kendor, lepas atau putus
• Membersihkan bagian–bagian dari kotoran dan benda–benda yang bersifat
menyekat
• Menganti kabel yang sudah rusak.
Jenis Tanah Tanah Liat Pasir Kerikil Pasir Tanah
Tanah Rawa dan basah basah basah dan berbatu
Ladang kerikil
kering
Tahanan
Jenis
30 100 200 500 1000 3000
(OHM
Meter)
Tabel 7 Tahanan Jenis Tanah

3.3.6. PEMELIHARAAN ACCESSORIS JTM


Konduktor dan transformator merupakan material utama dalam suatu jaringan
tegangan menengah. Namun terdapat peralatan lain di jaringan yang tidak kalah penting dari
kedua material tersebut. Material pendukung lainnya antara lain LBS, pin isolator, hang
isolator, connector TM, bending wire, LLC, dll. Perlu perlakuan yang sama berupa inspeksi
secara mendetail serta pemeliharaan untuk memastikan kondisi material-material tersebut
dalam kondisi yang baik.

No Objek Metode inspeksi Jenis pemeliharaan

Penggantian/perbaikan bila
1 Tiang beton/besi Visual, kamera pecah/keropos
LBS, Recloser, PGS, Kamera Extra Perbaikan pisau LBS, kirim ke
2 AVS Zoom/P2TST workshop
Kamera Extra Penggantian bila mengalami
3 Pin Isolator Zoom/P2TST retak/flashover
Kamera Extra Penggantian bila mengalami
4 Hang Isolator Zoom/P2TST retak/flashover
5 Connector TM, LLC Thermovision Penggantian/penambahan
6 Bending wire Visual, kamera Perbaikan/penggantian
7 Crossarm/Travers Visual, kamera Penggantian bila keropos
8 Arm tie Visual, kamera Penggantian bila keropos
9 Schoer (Trek/druck) Visual, kamera Perbaikan/penambahan
Tabel 8 Metode inspeksi dan pemeliharaan accessoris JTM

3.3.6.1. Travers/Crossarm
Berdasarkan besarnya sudut tarikan kawat ukuran panjang travers dibedakan menjadi 3 yaitu :
0 0
 Panjang 1800 mm untuk sudut tarikan dari 0 s/d 18
0 0
 Panjang 2000 mm untuk sudut tarikan dari 18 s/d 60
0 0
 Panjang 2500 mm untuk sudut tarikan dari 60 s/d 90

5 CM

5
7,5 CM
C
M

10 CM
7,5 CM

Tabel 9 Jenis Travers yang digunakan di PLN Distribusi Jawa TImur

Dalam pemeliharaan travers, gunakan model kanal U yang bahannya dari besi baja
dilapisi galvanis berukuran 10 x 5 x 5 cm dengan ketebalan 5 mm seperti gambar diatas
dikarenakan untuk yang berbentuk persegi panjang rentan akan keropos karna digunakan
tempat tinggal burung.

3.3.6.2. Isolator
Fungsi utamanya adalah sebagai penyekat listrik pada penghantar terhadap
penghantar lainnya dan penghantar terhadap tanah. Bahan isolator untuk SUTM adalah
porselin / keramik yang dilapisi glazur dan gelas, tetapi yang paling banyak adalah dari porselin
ketimbang dari gelas, dikarenakan udara yang mempunyai kelembaban tinggi pada umumnya
di Indonesia isolator dari bahan gelas permukaannya mudah ditempeli embun. Konstruksi
Isolator pada umumnya dibuat dengan bentuk lekukan-lekukan yang bertujuan untuk
memperjauh jarak rambatan, sehingga pada kondisi hujan maka ada bagian permukaan
isolator yang tidak ditempeli air hujan.

1. Isolator tumpu (Pin Isolator)


Beban yang dipikul oleh isolator berupa beban berat penghantar, jika
penghantar dipasang di bagian atas isolator ( top side ) untuk tarikan dengan
sudut maksimal 2 ° dan beban tarik ringan jika penghantar dipasang di bagian
sisi ( leher ) isolator untuk tarikan dengan sudut maksimal 18 ° . Isolator
dipasang tegak-lurus dii atas travers.
2. Isolator tarik (Hang Isolator)
Beban yang dipikul oleh isolator berupa beban berat penghantar ditambah
dengan beban akibat pengencangan ( tarikan ) penghantar, seperti pada
konstruksi tiang awal / akhir, tiang sudut , tiang percabangan dan tiang
penegang. Isolator dipasang di bagian sisi Travers atau searah dengan tarikan
penghantar. Penghantar diikat dengan Strain Clamp dengan pengencangan mur
- bautnya.

3.3.6.3. Bending Wire


Cara melakukan pengikatan kawat konduktor adalah menggunakan kawat pengikat
dari bahan sama dengan penghantarnya (binding wire), bila konduktor A3C maka
menggunakan binding wire dari A3C dan bila konduktor A3CS dapat menggunakan binding wire
dari A3C dengan kedua ujung binding wire di satukan atau dengan menggunakan binding wire
dari bahan berisolasi juga.

3.3.6.4. Connector/ Material Sambungan

Merupakan peralatan accessories yang penting dikarenakan menajadi material


penghubung antara konduktor sehingga dibutuhkan jenis material serta kualitas pemasangan
material yang baik untuk menjaga sehingga tidak terjadi loss kontak. Beberapa cara untuk
menjaga hasil sambungan yang baik antara lain :

- Menggunakan material dengan kualitas yang baik


- Menggunakan material yang senyawa ( bila tembaga menggunakan connector tembaga
dan bila aluminium menggunakan connector alumunium )
- Menggunakan Compression dies yang baik serta penggunaan mata dies yang sesuai
dengan ukuran konduktor
- Melakukan penggandaan (double) sambungan/jumper sehingga dapat meningkatkan
kehandalan
- Penggantian parallel clamp dengan sambungan tipe press

3.3.7. PEMELIHARAAN GARDU BETON / KUBIKEL


Dengan berkembanganya perekonomian di Jawa Timur, meningkatkan pula
permintaan terhadap daya listrik oleh konsumen. Permintaan penyambungan baru pelanggan-
pelanggan potensial yang mengharuskan didirikannya gardu beton/kubikel semakin banyak
sehingga memerlukan perhatian khusus dari sisi pemeliharaannya mengingat terdapat 2 tipe
gardu beton yakni model konvensional dimana peralatan dapat terlihat secara visual dan
model kubikel dimana seluruh peralatan berada pada satu lemari besi yang sulit untuk
melaksanakan inspeksi visual. Untuk itu memerlukan suatu pemeliharaan peralatan-peralatan
pada gardu beton tersebut secara berkala dan tuntas terhadap semua peralatan yang ada pada
suatu gardu beton tersebut.
Gambar 9 Konstruksi Kubikel
Beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan pemeliharaan kubikel antara lain :
- Dilakukan dalam keadaan tidak bertegangan
- Memastikan kondisi heater/pemanas dalam keadaan baik
- Mengukur tahanan isolasi setiap peralatan
- Mengukur tahanan pembumian body kubikel
- Membersihkan bagian-bagian berisolasi menggunakan cairan khusus
(Emulsion Degreaser)
- Pengukuran burden peralatan
- Pengukuran rasio CT/PT
- Uji fungsi relay dan kinerja PMT
- Pengukuran tahanan kontak (maksimal 100 micro ohm)
- Pemeriksaan keserempakan alat kontak (selisih waktu maksimal 5 mili
second)

Gambar 10 Kegiatan Pemeliharaan Kubikel

3.3.8. PEMELIHARAAN SALURAN KABEL TEGANGAN MENENGAH (SKTM) & SALURAN KABEL
UDARA TEGANGAN MENENGAH (SKUTM)
Penggunaan kabel saat ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kehandalan
suplai listrik khususnya di daerah-daerah perkotaan yang semakin sulit untuk mendapatkan
lahan pendirian tiang dan beberapa kawasan pohon produktif yang tidak bisa dipotong.
Konstruksi kabel beraneka ragam bergantung kepada kebutuhan serta lokasi tempat kabel
tersebut akan dipasang. Di PLN jenis kabel tanam (SKTM) menggunakan tipe XLPE yang
memiliki isolasi serta armor sebagai pelindung konduktor inti, sedangkan untuk kabel udara
menggunakan jenis MVTIC yang memiliki isolasi serta 3 fasa dipilin menjadi 1 dimana jenis
kabel ini tanpa menggunakan armor/pelindung.
Beberapa kekurangan menggunakan SKTM dan SKUTM :
- Panjang kabel terbatas sehingga untuk jaringan yang berjarak jauh akan terdapat
banyak jointing kabel yang dapat menjadi potensi gangguan bila tidak diawasi
dengan baik pemasangannya
- Untuk SKTM berada di bawah tanah sehingga sulit untuk dilakukan inspeksi
visual/pemeliharaan
- Investasi SKTM dan SKUTM terbilang cukup mahal
- Membutukan orang dengan kompetensi khusus saat pelaksanaan jointing dan
terminasi kabel
- PLN belum memiliki jalur kabel khusus sehingga berbahaya bagi warga yang
membangun/menggali tanah
Beberapa cara untuk meningkatkan kehandalan penggunaan SKTM dan SKUTM
- Pengawasan secara ketat pada saat pemasangan terminasi dan jointing kabel oleh
petugas yang telah bersertifikat
- Penggunaan material jointing dan terminasi yang original dan kualitas yang baik
- Setiap titik jointing dan terminasi harus dapat digaransi oleh petugas pelaksananya
- Untuk SKUTM, titik sambungan dapat dilakukan dengan cara jointing kabel dan
dilindungi dengan pipa luar atau dengan cara kedua sisi menggunakan terminasi
dengan menggunakan sepatu kabel 2 lubang dan dihubungkan menggunakan plat
tembaga.
- Untuk SKUTM, titik jointing dan terminasi dilakukan inspeksi menggunakan kamera
thermovision
- Penggelaran SKTM harus mengikuti standar konstruksi yang ada
- Untuk SKTM, setiap titik sambungan dan jalur kabel diberikan tanda khusus/patok
sehingga saat terganggu lebih memudahkan pencarian titik gangguan.
Gambar 11 Metode Terminasi dengan cara Heatshrink dan Coldshrink

3.3.9. PEMELIHARAAN DALAM KEADAAN BERTEGANGAN (PDKB)


Saat ini PLN memiliki tantangan yang sangat berat berkaitan dengan keandalan dan
kualitas tenaga listrik. Disisi lain usia peralatan yang rata-rata diatas 15 tahun mengharuskan
dilaksanakannya pemeliharaan dalam jumlah besar. Oleh karena itu perencanaan terhadap
segala titik pekerjaan pemeliharaan harus dilaksanakan dengan pertimbangan beberapa aspek,
salah satu contohnya :
1. Apakah daerah tersebut merupakan daerah vital yang tidak diijinkan pemadaman
sama sekali ?
2. Apakah daerah tersebut telah sering kali merasakan pemadaman listrik akibat
gangguan/pemeliharaan ?
3. Apakah pekerjaan pemeliharaan dapat selesai sesuai dengan jadwal pemberitahuan,
yakni maksimal 3 jam ?
Dalam mewujudkan kepuasan pelanggan serta tetap terciptanya kondisi aset peralatan yang
baik maka pengoptimalan pekerjaan pemeliharaan menggunakan regu khusus PLN yakni PDKB
adalah salah satu cara yang dianggap tepat.
PDKB merupakan tim khusus dengan keahlian serta sertifikasi yang dimiliki oleh tiap-tiap
personel sesuai dengan standar serta aturan yang ada. Ketaatan terhadap SOP merupakan
harga mati yang harus ditaati oleh tiap personel pekerjaan serta pengawas pekerjaan berkaitan
dengan pekerjaan yang dilakukan dalam keadaan bertegangan.
Beberapa pekerjaan pemeliharaan yang dapat dilaksanakan dengan PDKB antara lain :
Bobot
No Jenis Pekerjaan Waktu
Kesulitan
1 Penggantian Jumper Atas 2 4
2 Penggantian Jumper Bawah Lurus 2 4
3 Penyambungan Jumper Menggunakan Make Switch 2 4
4 Penggantian Jumper Menggunakan Paralel Group 2 2
5 Penggantian Jumper Atas Menggunakan Connector Type H 2 4
6 Sambungan Baru Bawah Lurus 2 3
7 Sambungan Baru Percabangan Tumpu Lurus 2 3
8 Sambungan Baru Percabangan Isolator Penegang Lurus 2 3
9 Pemasangan Arrester 1 3
10 Pemasangan Fuse Cut Out Pada Percabangan 2 3
11 Pemasangan Jumper Transformator 3 Phasa Pada Satu Tiang 1 3
Pemasangan Jumper Transformator 3 Phasa Pada Dua Tiang /
12 1 3
Portal
13 Pemasangan Jumper Transformator 1 Phasa 1 2
14 Pemasangan Sambungan Baru SKTM ke SUTM 2 3
15 Pemeliharaan Pole Top Switch Posisi Normal Close 4 4
16 Pemeliharaan Pole Top Switch Posisi Normal Open 4 4
Pemasangan Pole Top Switch Baru Dibawah Konstruksi Double
17 4 4
Dead End
18 Penggantian Isolator Tumpu Metode Coulie Phasa Pinggir 1 3
19 Penggantian Isolator Tumpu Metode Lutut Phasa Pinggir 1 3
20 Penggantian Isolator Tumpu Metode Mast Phasa Tengah 1 3
21 Penggantian Double Isolator Tumpu Phasa Tengah 2 4
Penggantian Double Isolator Tumpu Phasa Pinggir Sudut Dalam
22 2 4
Metode Lutut
Penggantian Double Isolator Tumpu Phasa Pinggir Sudut Luar
23 2 4
Metode Lutut
Merubah Konstruksi Dari Isolator Tumpu Menjadi Double Dead
24 5 4
End (Penegang)
25 Penggantian Isolator Penegang 1 3
26 Memasang Tiang Sisipan 4 4
27 Penggantian Isolator Gantung Vertikal 1 3
28 Penggantian Isolator Gantung Lurus 1 3
29 Menggeser Jaringan (Tiang Baru & Konstruksi Sudah Terpasang) 4 4
30 Penggantian Cross Arm 2 4
Pemeliharaan Kawat Terurai Phasa S Ditengah Gawang Dengan
31 2 3
Mobil Pendukung
32 Pemasangan Fault Indikator Overhead Line (FIOHL) 1 2
33 Pemeliharaan Fault Indikator Overhead Line (FIOHL) 1 2
34 Pemasangan Penangkap Petir 1 3
Perbaikan Kawat Terurai Ditengah Gawang Dengan Tiang
35 1 2
Pendukung
36 Perbaikan Kawat Terurai Dengan Bantuan Tangga Isolasi 2 3
Pembongkaran Recloser (AVS) Dan Disconecting Switch (DS)
37 3 4
SUTM
38 Perbaikan Lilitan Kawat Mekar 2 3
39 Perbaikan SUTM Terurai Posisi Dekat Isolator 1 2
40 Pemasangan Jumper Out Door 2 3
41 Penyamaan Phasa Untuk Keperluan Operasi Dan Pemeliharaan 1 2
42 Pembongkaran Track Schoor Tiang Sudah Tidak Berfungsi 1 2
Penyambungan Baru Medium Voltage Twisted Insulating Cable
43 2 3
(MVTIC)
Penggantian Kawat Pengikat Jamper Kupu-Kupu Untuk
44 1 3
Pemasangan Arrester SUTM
45 Pelapisan Isolator Dengan Spray Holder Remote 1 2
46 PengecatanTravers Dengan Spray Holder Remote 1 2
Mengupas Konduktor Yang Berisolasi Tunggal Untuk Persiapan
47 1 2
Pekerjaan Penjumperan
Pemasangan Temporary Open Disconection Cut Out
48 2 3
Percabangan
Penggantian Paralel Groove Menjadi Joint Sleeve Khusus Phasa R
49 2 3
&T
50 Pelumasan Mekanik LBS/PTS 1 2
51 Pembongkaran Recloser Dan Disconecting Switch (DS) 3 4
52 Mengganti Single Arm Band 3 4
53 Pekerjaan Perbaikan Cross Arm Miring 2 3
54 Menaikkan Cross Arm Dan Jaringan Pada Konstruksi Tiang Lurus 3 4
55 Menaikkan Cross Arm Dan Jaringan Pada Konstruksi Tiang Sudut 4 4
56 Mengganti Arm Tie 1 4
57 Pemeliharaan Jumperan Transformator Distribusi 1 Phasa 2 3
58 Pekerjaaan Pengecatan Tiang Besi Pada TM-1 (6 tiang) 8 2
59 Pembebasan Tegangan SUTM Dengan Bypass Cable Jumper 4 4
60 Pekerjaan Pemasangan Tree Guard Pada SUTM 2 2
Pekerjaan Penggantian Arm Tie Pada TM-1 Dengan Mounting
61 1 2
Bracket Siku
62 Pemeliharaan / penggantian Trafo dengan Unit Gardu Bergerak 3 4
Tabel 10 Jenis Pekerjaan PDKB besertawaktu dan tingkat kesulitan

Dengan memaksimalkan kinerja regu PDKB maka kemungkinan pekerjaan-pekerjaan


prioritas/urgent di daerah-daerah yang tidak dapat dipadamkan serta meminimalkan jumlah
pelanggan padam dapat dilaksanakan dengan baik.
Persyaratan dalam pelaksanaan pekerjaan dengan metode PDKB antara lain :
1. Pelaksana pekerjaan harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan
2. Petugas PDKB memiliki surat ijin kerja
3. Petugas dalam keadaan sehat, sadar, tidak mengantuk atau tidak dalam keadaan
mabuk
4. Saat bekerja harus berdiri pada tempat yang berisolasi (sesuai standar)
5. Menggunakan alat kerja yang berisolasi dan handal
6. Menggunakan alat pelindung diri yang sesuai standar PDKB
7. Dilarang melanjutkan pekerjaan dalam kondisi cuaca yang tidak memungkinkan
(hujan lebat/petir)
8. Dilarang bekerja dalam ruangan dengan bahaya kebakaran/ledakan, lembab dan
sangat panas

Gambar 12 Petugas PDKB melaksanakan pekerjaan pemeliharaan penggantian Pin Isolator

Terjadinya gangguan disisi gardu beton beberapa kali terjadi bukan karena
breakdown peralatan melainkan akibat eksternal yakni binatang dan air hujan akibat
kebocoran atap. Oleh karena itu kondisi fisik bangunan gardu beton juga memerlukan
perbaikan sesuai standar. Hal yang perlu diperhatikan disisi fisik gardu beton antara lain :
- Perhatikan kondisi permukaan gardu beton, batas ketinggian air yang mungkin
masuk kedalam gardu bila kondisi hujan
- Ventilasi udara tidak perlu terlalu banyak, cukup 1 buah bila perlu menggunakan
exhaust fan atau AC
- Mainhole / parit kabel harus dibeton/semen supaya tidak terdapat rembesan air atau
udara berlebihan dari luar masuk ke dalam gardu
o
- Kondisi atap gardu beton harus memiliki kemiringan 5 sehingga air dapat mengalir
dengan lancar
- Lapisi bagian atap gardu beton dengan material yang tidak mudah tembus air (dapat
menggunakan cat anti air)
- Menutup/memperbaiki lubang/ram-raman yang sudah rusak sehingga
meminimalkan binatang untuk masuk kedalam gardu.

3.3.10. ALAT KERJA PEMELIHARAAN


No Alat Kerja Fungsi
1 Roll alat untuk mengurangi gesekan luar konduktor yang akan
ditarik
2 Pulling grip alat untuk mengikat ujung konduktor dengan swivel
3 Swivel alat untuk menetralkan putaran konduktor dalam proses
penarikan
4 Pilot rope tali pancingan untuk main rope
5 Main rope tali utama untuk perantara tarikan konduktor
6 Stringing Vise alat untuk mengencangkan tarikan konduktor
7 Compresion dies press peralatan konektor, terminal lug, joint dengan sistim
hidrolik
8 Megger alat untuk mengetahui besaran tahanan isolasi dari
pengahantar
9 Came along alat bantu untuk pengikat konduktor pada stringing vise (
biasanya digunakan untuk konduktor AAACS 150 mm, AAAC
240 mm atau sejenisnya )
10 Transformer Hoist alat menaikkan trafo pada konstruksi satu tiang / type cantol (
dibawah daya 160 kVA )
11 Kaki Tiga alat menaikkan/menurunkan trafo ( sejenisnya ) dari atas
mobil dengan bak terbuka
Tabel 11 Alat Kerja Pemeliharaan

3.4. MEKANISME EVALUASI


Pola pemeliharaan yang saat ini telah berlangsung di Distribusi Jawa Timur adalah
dengan 2 sarana yakni menggunakan kontrak Pelayanan Teknik dimana terdapat jumlah SDM
yang cukup banyak serta dengan menggunakan kontrak kerja dengan rekanan diluar YANTEK
dan diakomodir dalam Anggaran Operasional. Dibutuhkan suatu proses pengendalian disisi PLN
sebagai pengawas terlaksananya suatu pemeliharaan yang tepat sesuai dengan SOP yang ada.
Selain itu pengendalian pemeliharaan juga bertujuan agar pekerjaan pemeliharaan tepat
sasaran dan efisien sehingga berdampak terhadap frekuensi terjadinya gangguan menurun.
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1. Jumlah SDM terhadap target operasi pemeliharaan

2. Kompetensi SDM pelaksana dan pengawas kegiatan pemeliharaan

3. Kelengkapan alat kerja


4. Jumlah material terhadap target operasi pemeliharaan dan kualitas material

5. SOP pelaksanaan pemeliharaan mulai dari kegiatan manuver dan pembebasan


tegangan

6. Checklist target pemeliharaan dan realisasi / administrasi teknik (dapat berupa single
line diagram)

7. Penerapan penalti apabila ditemukan ketidaksesuaian/wanprestasi yang dilakukan


oleh vendor

Struktur organisasi pengendalian pemeliharaan dapat disusun berdasarkan :

- Inspeksi, laporan, dan entry pada SPT2 : SPV Teknik dan Manajer Rayon

- Perencanaan pemeliharaan

o Tanpa pemadaman : SPV Teknik

o Butuh pemadaman : SPV Har Area dan Asman Jaringan

- Tindak lanjut pemeliharaan : SPV Teknik dan pengawas yang ditunjuk

3.5. KOMITMEN ZERO ACCIDENT

Sumber hukum yang paling mendasar tentang keselamatan kerja di Indonesia ialah
Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Undang-undang ini dibuat
dengan menimbang bahwa :

a. Bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas


keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan
meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
b. Bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula
keselamatannya
c. Bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman
dan efisien.
d. Bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya upaya untuk
membina norma-norma perlindungan kerja
e. Bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam Undang-undang
yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang
sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.
Tidak setiap bahaya mengakibatkan kecelakaan. Tapi kecelakaan terjadi karena ada
bahaya, baik itu berupa :

tingkah laku yang tak aman (unsafe act).


kondisi yang tak aman (unsafe condition).
manajemen/ prosedur yang tak benar / tak ada (miss manajemen).

BEKERJA PADA BEBAS TEGANGAN.


a. Perhatikan perlengkapan bebas tegangan :
b. Tempat kerja telah dinyatakan aman oleh Pengawas.
c. Perlengkapan yang dikerjakan harus dibumikan.
d. Bila ada sirkuit ganda :
o pekerjaan dilakukan pada salah satu sirkuit.
o masing-masing kawat harus dibumikan pada kedua ujungnya .
o tempat yang berdekatan dengan yang dikerjakan.
e. Harus ada penanggungjawab / pengawas penuh pada sirkuit tersebut.
f. Pekerjaan boleh dimulai bila semua persyaratan tersebut atas telah dipenuhi.

BEKERJA PADA KEADAAN BERTEGANGAN.


a. Memiliki ijin kerja dari yang berwenang sesuai kompetensinya.
b. Minimum harus 2 (dua) orang ( 1 pengaawas, 1 pekerja).
c. Pekerja dalam keadaan sadar, tidak mengantuk, tidak mabuk.
d. Pekerja berdiri di tempat yang berisolasi.
e. Pekerja menggunakan alat pengaman diri dan peralatan kerja utama yang
diwajibkan.
f. Semua peralatan harus telah diperiksa setiap kali mau dipakai sesuai petunjuk
yang diberikan.
g. Cuaca harus baik, tidak mendung, tidak hujan.
h. Dilarang menyentuh peralatan listrik bertegangan dengan telanjang.
i. Dilarang bekerja dalam keadaan bertegangan di ruang dengan bahaya kebakaran,
ruang lembab, ruang sangat panas.

BEKERJA DI DEKAT INSTALASI BERTEGANGAN


a. Harus tahu jarak minimum aman dari perlengkapan bertegangan
b. Perlengkapan yang digunakan bebas dari kebocoran isolasi atau imbas yang
membahayakan, selain harus dibumikan.
c. Tidak menggunakan peralatan yang panjang, tali dari logam, tangga yang diperkuat
dengan logam.
d. Jika jarak tidak aman, harus menggunakan pengaman dari bahan isolasi.

3.5.1. STANDING OPERATION PROCEDURE (SOP)


SOP Pemeliharaan distribusi berarti ketentuan tentang prosedur / langkah – langkah
kerja untuk memelihara distribusi pada Gardu Induk, Gardu Hubung dan Gardu Distribusi serta
komponen pada Jaringan Tegangan Menengah.

Untuk membuat SOP perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu :


 Keterlibatan pihak-pihak yang terkait dengan pengoperasian distribusi untuk
membuat ketentuan berkoordinasi.
 Kondisi jaringan berupa data kemampuan Trafo, Kemampuan Hantar Arus
(KHA) hantaran penyulang, pemanfaatan energi listrik pada konsumen.
 Struktur jaringan
Terdapat contoh SOP pada lampiran untuk dapat dipelajari serta diimplementasikan.

3.5.2. ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

No Alat Keselamatan Kerja Kegunaan / Pemakaiannya


1 Topi keselamatan Melindungi batok kepala terhadap tertumbuk/
kejatuhan benda dari atas .
2 Kap las tangan . Melindungi muka dan mata waktu mengelas listrik.
3 Kap las kepala . Melindungi muka dan mata waktu mengelas listrik.
4 Kap las kepala dengan topi. Melindungi muka, mata dan batok kepala waktu
mengelas listrik .
5 Pelindung muka. Mengasah, menotok, bekerja dengan ramuan
kimia.
6 Pelindung mata. Mengasah, menotok, bekerja dengan ramuan
kimia.
7 Kacamata las . Mengelas dengan las karbit/asitilin.
8 Kacamata warna bening. Mengecat, membelah, menotok beton, dsb.
9 Kacamata karet. Bekerja dengan debu.
10 Pelindung mata kedok (yang Mengasah, menetak (terutama) bagi yang
dibuka). berkacamata.
11 Pelapis dada dari kulit. a. Mengelas karbid dan listrik.
b. Menempa, menuang, kerja hangat lainnya.

12 Pelapis dada karet hitam. Bekerja dengan ramuan kimia.

13 Pelapis dada karet putih. a. Bekerja di instalasi TEL.


b. Membersihkan tangki-tangki bensin yang
mengandung TEL.
14 Sarung tangan asbes. Kerja panas, tuang, membengkokkan pipa, tukang
api, buka tutup kran uap.
15 Sarung tangan kain. Kerja ringan : mematri, mengecat, menyemprot,
dsb.
16 Sarung tangan utk kerja. a. Kerja konstruksi yang ringan.
b. Kerja pengangkutan yang ringan.
c. Membuka keran uap.
17 Sarung tangan. Mengelas listrik dan gas karbid.

18 Sarung tangan utk tukang listrik Bekerja pada hubungan listrik.

19 Sarung tangan karet (plastic). a. Bekerja dengan ramuan kimia.


b. Bekerja dengan gemuk-gemuk kotor.

20 Pelindung lengan. Mengelas listrik, karbid.


21 Sepatu karet panjang hitam. a. Bahan kimia (asam garam, asam belerang,
dsb)
b. Komponen minyak kasar (bensin, minyak,
gas)
22 Sepatu keselamatan. c. Kerja tanah dan kerja kotor lainnya
Pelindung jari kaki dari tertumbuk benda berat/
jatuh.
23 Sepatu karet panjang hitam
sampai paha. Pekerjaan tanah.

24 Pelindung kaki dari kulit.


Mengelas listrik, karbid, menempa dan untuk
pekerjaan tuang-menuang.

25 Tali pinggang keselamatan. Untuk bekerja diketinggian 2,5 meter.

26 Jaring keselamatan. Dipakai dimana tidak memungkinkan pakai tali


pinggang keselamatan.
27 Sumbat telinga (ear plug) Untuk mengurangi suara masuk telinga

28 Tutup telinga (ear muff) Untuk mengurangi suara yang bernada tinggi atau
keras
29 Schakel stock Untuk memasukkan “pemisah”, dilengkapi untuk
chek tegangan menengah (TM).

30 Tester Untuk mengetahui adanya tegangan rendah

31 Klem hubungan tanah Untuk menbumikan jaringan, trafo generator


Tabel 12 Alat Pelindung Diri dan Pengaman
Tanda peringatan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan ditempatkan pada tempat yang :

o Mudah dan kelihatan.


o Menuju ke tempat yang ada bahaya.
PERENCANAAN
INSPEKSI (SPV.
TEKNIK)

PEMBUATAN PK
INSPEKSI (SPV.
TEKNIK)
TIDAK

LAPORAN
GANGGUAN
APPROVAL PK (OPERATOR)
INSPEKSI (M.
RAYON)

YA
PENANGANAN
GANGGUAN
PELAKSANAAN
(YANTEK)
INSPEKSI
(SURVEYOR)

ENTRY TEMUAN SORT DATA


INSPEKSI TEMUAN INSPEKSI
PERLU
(OPERATOR) (ALL PERAN)
PEMAKAIAN
MATERIAL? TIDAK

ENTRY PK PEMELIHARAAN (SPV. TEKNIK)


YA

TIDAK PERLU PERLU PADAM, TIDAK PERLU


PERLU PADAM, STOCK MATERIAL PENYELESAIAN
PADAM, TIDAK TIDAK PERLU PADAM, PERLU CUKUP
PERLU DROPPING MOBIL YANTEK? GANGGUAN
PERLU DROPPING DROPPING DROPPING
MATERIAL
MATERIAL MATERIAL MATERIAL

USULAN JADWAL
USULAN JADWAL USULAN DROPPING
PEMADAMAN DAN
PEMADAMAN (SPV. MATERIAL (SPV.
DROPPING MATERIAL TIDAK, DROPPING MATERIAL
TEKNIK) TEKNIK)
(SPV. TEKNIK) KURANGI MOBIL YANTEK
MATERIAL RAYON (OPERATOR)
(OPERATOR)

TIDAK/ EVALUASI SPV.


BELUM OPDIS

TIDAK/ EVALUASI SPV.


BELUM HAR MATERIAL
KOREKTIF
(KARENA
EVALUASI SPV. GANGGUAN)
TIDAK/
HAR DAN SPV.
BELUM OPDIS

YA

YA
YA
MATERIAL
DROPPING
STOCK MATERIAL PREFENTIF
MATERIAL
AREA (KARENA
(SPV HAR)
STATUS PEMELIHARAAN)
PEMROSESAN KEBUTUHAN
YA, KURANGI MATERIAL RAYON
MATERIAL
(SPV. TEKNIK)
RAYON
STOCK MATERIAL
RAYON

TIDAK

TIDAK/ APPROVAL PK
BELUM OLEH M. RAYON

YA

ENTRY REALISASI
SELESAI PEMELIHARAAN
(SPV. TEKNIK) Gambar 13. Flowchart Pemeliharaan