Anda di halaman 1dari 45

TUGAS MATA AJAR KEPERAWATAN SISTEM PERKEMIHAN

Studi Kasus
“Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Chronic Glomerulonephritis”

Fasilitator :
Iqlima Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., M.Kep.

Disusun Oleh :
Kelompok 5 A2 2015
Siska Kusuma Ningsih (131511133037)
Fitria Kusnawati (131511133038)
Kifayatus Sa’adah (131511133047)
Elly Ardianti (131511133058)
Asti Pratiwi (131511133069)
Alfian Gafar (131511133121)
Dewita Pramesti S. (131511133125)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Chronic Glomerulonephritis”. Penulisan
makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Perkemihan di
Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya. Selain itu, pembuatan makalah
ini juga bertujuan untuk memberikan manfaat yang berguna bagi ilmu pengetahuan
khususnya ilmu keperawatan.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini banyak mengalami
kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah
dari Allah SWT sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada:
1. Iqlima Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., M.Kep. selaku fasilitator mata kuliah Keperawatan
Sistem Perkemihan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga;
2. Serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para
pembaca. Dalam penulisan makalah, penulis merasa masih ada kekurangan baik pada
penulisan maupun isi materi makalah ini. Untuk itu, penulis mengharapkan adanya kritik
dan saran dari semua pihak untuk penyempurnaan makalah ini.

Surabaya, 10 April 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR....................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................................2
1.3 Tujuan...............................................................................................................................2
1.4 Manfaat.............................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................................3
2.1 Anatomi dan Fisiologi Ginjal...........................................................................................3
2.2 Definisi Chronic Glomerulonephritis...............................................................................4
2.3 Klasifikasi Chronic Glomerulonephritis...........................................................................5
2.4 Etiologi Chronic Glomerulonephritis...............................................................................5
2.5 Patofisiologi Chronic Glomerulonephritis.......................................................................6
2.6 WOC Chronic Glomerulonephritis..................................................................................7
2.7 Manifestasi Klinis Chronic Glomerulonephritis..............................................................8
2.8 Pemeriksaan Diagnostik Chronic Glomerulonephritis.....................................................9
2.9 Penatalaksanaan Chronic Glomerulonephritis................................................................11
2.10 Komplikasi Chronic Glomerulonephritis........................................................................12
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS....................................................................13
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KASUS..........................................................................22
BAB V KESIMPULAN...............................................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................41

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Glomerulonefritis saat ini merupakan penyebab ketiga gagal ginjal di seluruh
pupulasi dan menduduki peringkat ketiga setelah diabetes dan hipertensi (Hricik et al.,
1998). Glomerulonefritis menjadi penyebab ketiga dari terjadinya gagal ginjal tahap akhir
atau end stage renal disease (ESRD), setelah kasus refluks, obstruksi dan displasia ginjal
(Collins et al., 2008). Setiap tahunnya diperkirakan terdapat 470.000 kasus baru dan
5.000 kematian akibat glomerulonefritis, dimana 97% kasus terjadi di negara yang
berkembang (Carapetis et al, 2005).
Glomerulosnefritis kronis adalah suatu kondisi peradangan yang lama dari sel-sel
glomerolus. Kelainan ini dapat terjadi akibat glomerolonefritis akut yang tidak membaik
atau timbul secara spontan. (Arif muttaqin & kumala Sari, 2011). Penyakit
glomerulusnefritis kronis bersifat progresif dan irreversible dimana terjadi uremia karena
kegagalan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan serta
elektrolit (Smeltzer C, Suzanne, 2002).
Penyebab glomerulonefritis kronik yang sering adalah diabetes melitus dan hipertensi
kronik. Kedua penyakit ini berkaitan dengan cidera glomerulus yang bermakna dan
berulang. Hasil akhir dari peradangan tersebut adalah pembentukan jaringan parut dan
menurunnya fungsi glomerulus. Kerusakan glomerulus sering diikuti oleh atrofi tubulus
(Muttaqin, Arif & Sari,Kumala, 2011). Manifestasi klinis yang sering muncul, sekaligus
merupakan prediktor luaran terpenting pada glomerulonefritis adalah proteinuria (Reich
et al, 2010).
Salah satu komplikasi dari glomerulonephritis adalah berkembangnya penyakit ginjal
kronis, yang ditandai dengan adanya proteinuria persisten (Reich et al., 2010). Penyakit
ginjal kronis dibuktikan meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat penyakit
kardiovaskuler (Foley et al., 1998). Dalam usaha mengurangi mortalitas dan
memperbaiki kualitas hidup pasien akibat glomerulonephritis, perlu diketahui terlebih
dahulu kemungkinan suatu gagal ginjal akut berkembang menjadi penyakit ginjal kronis.
Hal ini penting untuk diketahui karena akan menjadi dasar pembuatan keputusan untuk

1
memberi pengobatan kepada pasien dengan glomerulonefritis. Pengobatan secara adekuat
dari penyakit serta komplikasi yang timbul akan memperbaiki prognosis bagi pasien
glomerulonefritis (Park & Shin, 2011).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi Chronic Glomerulonephritis?
2. Apa klasifikasi Chronic Glomerulonephritis?
3. Apa etiologi dari Chronic Glomerulonephritis?
4. Bagaimana manifestasi klinik Chronic Glomerulonephritis?
5. Bagaimana patofisiologi dari Chronic Glomerulonephritis?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik Chronic Glomerulonephritis?
7. Bagaimana penatalaksanaan Chronic Glomerulonephritis?
8. Apa komplikasi dari Chronic Glomerulonephritis?
9. Bagaimana asuhan keperawatan Chronic Glomerulonephritis?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan definisi Chronic Glomerulonephritis
2. Menjelaskan klasifikasi Chronic Glomerulonephritis
3. Menjelaskan etiologi dari Chronic Glomerulonephritis
4. Menjelaskan patofisiologi Chronic Glomerulonephritis
5. Menjelaskan manifestasi klinik dari Chronic Glomerulonephritis
6. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik Chronic Glomerulonephritis
7. Menjelaskan penatalaksanaan Chronic Glomerulonephritis
8. Menjelaskan komplikasi dari Chronic Glomerulonephritis
9. Menjelaskan asuhan keperawatan Chronic Glomerulonephritis.

1.4 Manfaat
A. Menambah wawasan pengetahuan mengenai kasus Chronic Glomerulonephritis dan
penerapan konsep keperawatan pada kasus Chronic Glomerulonephritis.
B. Menambah wawasan pengetahuan mengenai penerapan diagnosa keperawatan pada
kasus Chronic Glomerulonephritis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Ginjal


Ginjal merupakan organ ganda yang terletak di daerah abdomen, retroperitoneal
antara vetebra lumbal 1 dan 4. Ginjal terdiri dari korteks dan medula. Tiap ginjal
terdiri dari 8-12 lobus yang berbentuk piramid.. Pada daerah korteks terdapat
glomerulus, tubulus kontortus proksimal dan distal. Panjang dan beratnya bervariasi

2
yaitu ± 6 cm dan 24 gram pada bayi lahir cukup bulan, sampai 12 cm atau lebih dari
150 gram. Tiap ginjal mengandung ± 1 juta nefron. Tiap nefron terdiri dari
glomerulus dan kapsula bowman, tubulus proksimal, anse henle dan tubulus distal.

Gambar 1. Bagian-bagian ginjal

Fungsi dasar nefron adalah membersihkan atau menjernihkan plasma darah dan
substansi yang tidak diperlukan tubuh sewaktu darah melalui ginjal. Substansi yang
paling penting untuk dibersihkan adalah hasil akhir metabolisme seperti urea,
kreatinin, asam urat dan lain-lain. Selain itu ion-ion natrium, kalium, klorida dan
hidrogen yang cenderung untuk berakumulasi dalam tubuh secara berlebihan.
Mekanisme kerja utama nefron dalam membersihkan substansi yang tidak
diperlukan dalam tubuh adalah :
1. Nefron menyaring sebagian besar plasma di dalam glomerulus yang akan
menghasilkan cairan filtrasi.
2. Jika cairan filtrasi ini mengalir melalui tubulus, substansi yang tidak diperlukan
tidak akan direabsorpsi sedangkan substansi yang diperlukan direabsorpsi kembali
ke dalam plasma dan kapiler peritubulus.
Mekanisme kerja nefron yang lain dalam membersihkan plasma dan substansi
yang tidak diperlukan tubuh adalah sekresi. Substansi-substansi yang tidak diperlukan
tubuh akan disekresi dan plasma langsung melewati sel-sel epitel yang melapisi
tubulus ke dalam cairan tubulus. Jadi urine yang akhirnya terbentuk terdiri dari
bagian utama berupa substansi-substansi yang difiltrasi dan juga sebagian kecil
substansi-substansi yang disekresi.

3
Gambar 2. Bagian-bagian nefron

2.2 Definisi Chronic Glomerulonephritis


Glomerulosnefritis kronis adalah suatu kondisi peradangan yang lama dari sel-sel
glomerolus. Kelainan ini dapat terjadi akibat glomerolonefritis akut yang tidak
membaik atau timbul secara spontan. (Arif muttaqin & kumala Sari, 2011). Penyakit
Glomerulusnefritis kronis bersifat progresif dan irreversible dimana terjadi uremia
karena kegagalan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan
cairan serta elektrolit (Smeltzer C, Suzanne, 2002).
Glomerulonefritis kronis mungkin mempunyai awitan sebagai glomerulonefritis
akut atau mungkin menunjukan reaksi antigen – antibodi tipe yang lebih ringan dan
tidak terdeteksi. Setelah reaksi ini berulang ukuran ginjal berkurang sedikitnya
seperlima dari ukuran normalnya dan mengandung jaringan fibrosa dalam jumlah
banyak. Dengan berkembangnya glomerulonefritis kronis, gejala-gejala dan tanda-
tanda berikut serta insufiensi ginjal dan gagal ginjal kronis terjadi. Akibatnya adalah
kerusakan hebat glomerulus yang menyebabkan penyakit ginjal tahap akhir (PGTA)
(Davey, Patrick. 2005).

2.3 Klasifikasi Chronic Glomerulonephritis


Berdasarkan sumber terjadinya kelainan, glomerulonefritis dibedakan menjadi 2 :
1. Glomerulonefritis primer apabila penyakit dasarnya berasal dari ginjal sendiri.

4
2. Glomerulonefritis sekunder apabila kelainan ginjal terjadi akibat penyakit
sistemik lain seperti diabetes melitus, lupus eritematosus sistemik (LES), mieloma
multipel, atau amiloidosis (Prodjosudjadi, 2006).
Berdasarkan bentuk klinisnya, glomerulus juga dibedakan menjadi 3 :
1. Akut : Jenis gangguan yang klasik dan jinak, yang selalu diawali oleh infeksi
stroptococcus dan disertai endapan kompleks imun pada membrane basalis
glomerulus dan perubahan proliferasif seluler.
2. Sub akut : Bentuk glomerulonefritis yang progresif cepat, ditandai dengan
perubahan-perubahan proliferatif seluler nyata yang merusak glomerulus sehingga
dapat mengakibatkan kematian akibat uremia dalam waktu beberapa bulan.
3. Kronik : Glomerulonefritis progresif lambat berlangsung 2-40 tahun yang
berjalan menuju perubahan sklerotik dan abliteratif pada glomerulus, ginjal
mengisut dan kecil, kematian akibat uremia.

2.4 Etiologi Chronic Glomerulonephritis


Penyebab glomerulonefritis kronik yang sering adalah diabetes melitus dan
hipertensi kronik. Kedua penyakit ini berkaitan dengan cidera glomerulus yang
bermakna dan berulang. Hasil akhir dari peradangan tersebut adalah pembentukan
jaringan parut dan menurunnya fungsi glomerulus. Kerusakan glomerulus sering
diikuti oleh atrofi tubulus (Muttaqin, Arif & Sari,Kumala, 2011).
Penyebab lain dari Glomerulonefritis Kronis yaitu (Smeltzer C, Suzanne, 2002) :
1. Lanjutan glomerulonefritis akut
2. Keracunan
3. Trombosis vena renalis
4. Penyakit kolagen
5. Pielonefritis
6. Obstruksi saluran kemih
7. Penyakit ginjal polikistik
8. Gangguan vaskuler
9. Lesi herediter
10. Agen toksik (timah, kadmium, dan merkuri)

5
2.5 Patofisiologi Chronic Glomerulonephritis
Glomerulonefritis kronis adalah peradangan lama di sel-sel glomerulus. Kelainan
ini dapat terjadi akibat glomerulonefritis akut yang tidak membaik atau timbul secara
spontan. Glomerulonefritis kronis sering timbul beberapa tahun setelah cidera dan
peradangan glomerulus subklinis yang disertai oleh hematuria dan proteinuria ringan.
Penyebab seringkali diabetes mellitus dan hipertensi kronis. Kedua penyakit ini
berkaitan dengan cedera glomerulus yang bermakna dan berulang. Hasil akhir dari
Obstruksi
Infeksi Vaskular Zat toksik
peradangan tersebut adalah pembentukan jaringan parutsaluran kemih
dan menurunnya fungsi
glomerulus. Arterioklerosis
Reaksi Kerusakan glomerulus sering diikuti di
Tertimbun Cidera
oleh atrofi tubulus. Para pengidap
antigen dan ginjal atau yangRetensi jaringan
glomerulonefritis kronis yang disertai diabetes mungkin mengalami
antibody urin
Suplai darah ke
hipertensi ringan, memiliki prognosis fungsi ginjal jangka panjang yang kurang baik.
ginjal menurun Hematuria
Glomerulonefritis kronis juga dapat menyertai lupus eritematosus sistemik kronis
(Elizabeth, 2009).
Setelah terjadinya infeksi yang berulang menyebabkan ukuran ginjal sedikit Anemia
GFR menurun
berkurang sekitar seperlima dari ukuran normal, dan terdiri dari jaringan fibrosa yang
MK:
luas. Berkas jaringan parut merusak sisa korteks, menyebabkan permukaan ginjal
Glomerulonefritis Intoleransi
kasar dan ireguler. Sejumlah glomeruli dan tubulusnya berubah menjadi jaringan aktivitas
parut, dan cabang-cabang arteria renal menebal. Akhirnya terjadi kerusakan
Sekresi protein
glomerulus Retensi
yang parah (Suharyanto, Toto,Na
2009). Sekresi eritropoitis
terganggu

CES meningkat
Sindrom uremia HB menurun

Tekanan kapiler Oksihemoglobin


Gangguan
2.6 Urukom
WOC Chronic Glomerulonephritis
meningkat
keseimbangan tertimbun
asam basa di kulit suplai oksigen
Vol. intertisial menurun
meningkat
Produksi asam
Perubahan
meningkat MK : Gangguan
warna kulit Edema perfusi jaringan
Asam lambung
meningkat MK : MK: Kelebihan
Kerusakan volume cairan
mual dan integritas
muntah kulit

MK: MK : 6
Ketidakseimbangan Gangguan
nutrisi kurang dari citra tubuh
kebutuhan
2.7 Manifestasi Klinis Chronic Glomerulonephritis
Gejala glomerulonephritis kronis bervariasi. Banyak klien dengan penyakit yang
telah parah memperlihatkan kondisi tanpa gejala sama sekali untuk beberapa tahun.
Kondisi mereka secara incidental dijumpai ketika terjadi hipertensi atau peningkatan
kadar BUN dan kreatinin serum. Indikasi pertama penyakit dapat berupa perdarahan
hidung, stroke atau kejang yang terjadi secara mendadak. Mayoritas klien mengalami
gejala umum seperti kehilangan berat badan dan kekuatan badan, peningkatan
iritabilitas, dan peningkatan berkemih di malam hari (nokturia). Sakit kepala, pusing,
dan gangguan pencernaan yang umumnya terjadi.

7
Neuropati perifer disertai hilangnya reflex tendon dan perubahan neurosensory
muncul setelah penyakit terjadi. Pasien mengalami konfusi dan memperlihatkan
rentang perhatian yang menyempit. Temuan lain mencakup pericarditis disertai friksi
pericardial dan pulsus paradoksus (perbadaan tekanan darah lebih dari 10 mmHg
selama inspirasi dan ekspirasi). (Smeltzer & Bare. 2002)
Glomerulonefritis kronis ditandai dengan kerusakan glomerulus secara progresif
lambat akibat glomerulonefritis yang berlangsung lama. Gejala utama yang
ditemukan adalah :
a. Kadang-kadang tidak memberikan keluhan sama sekali sampai terjadi gagal ginjal
b. Hematuria
c. Edema, penurunan kadar albumin
d. Hipertensi (biasanya ada serangan ensefalopatihipertensi)
e. Peningkatan suhu badan
f. Sakit kepala, lemah, gelisah
g. Mual, tidak ada nafsu makan, berat badan menurun
h. Ureum dan kreatinin meningkat
i. Oliguri dan anuria
j. Suhu subfebril
k. Kolestrol darah naik
l. Fungsi ginjal menurun
m. Ureum meningkat + kreatinin serum
n. Anemia
o. Gagal jantung
p. Selalu merasa haus dan miksi pada malam hari (nokturia).

2.8 Pemeriksaan Diagnostik Chronic Glomerulonephritis


a. Urinalisis menunjukkan gravitasi mendekati 1.010, proteinuria dan endapan
urinarius (butir-butir yang disekresi oleh tubulus ginjal yang rusak). Kriteria
pemeriksaan urin :
- Warna, secara abnormal warna urin keruh kemungkinan disebabkan oleh pus,
bakteri, lemak, fosfat atau uratsedimen. Warna urine kotor, kecoklatan
menunjukkan adanya darah, Hb, mioglobin, porfirin.
- Volume urine, biasanya kurang dari 400 ml/24 jam bahkan tidak ada urine
(anuria)
- Berat jenis, kurang dari 1,010 menunjukkn kerusakan ginjal berat
- Osmolalitas, kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan ginjal tubular
dan rasio urin/serum sering 1:1

8
- Protein, Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkkan
kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada
- Klirens kreatinin, mungkin agak menurun
- Natrium, lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi
natrium
b. Ketika gagal ginjal terjadi dan filtrasi glomerulus menurun dibawah 50ml/menit
(N : 100-120ml/menit,1,67-2,00 ml/detik), maka terjadi perubahan :
- Hiperkalemia akibat penurunan eskresi,masukan dari makanan dan
medikasi,asidosis dan katabolisme.
- Asidosis metabolic akibat sekresi asam oleh ginjal dan
ketidakmampuan untuk regenerasi bikarbonat.
- Anemia akibat penurunan eritropoesis (produk SDM)
- Hipoalbuminemia disertai edema akibat kehilangan protein melalui membrane
glomerulus yang rusak.
- Serum kalsium meningkat
- Hipermagnesrumia akibat penurunan eskresi dan ingesti antacid yang
mengandung magnesium.
- Kerusakan hantaman saraf akibat abnormalitas elektrolidt dan uremia
- Pemeriksaan sinar X pada dada menunjukkan pembesaran jantung dan edema
pulmoner
c. EKG mungkin normal, dapat juga menunjukkan adanya hipertensi disertai
hipertropi ventrikel kiri dan gangguan elektrolit, seperti hiperkalemia dan puncak
gelombang T.
d. Ultrasonografi Ginjal (untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya masa , kista,
obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas)
e. Endoskopi Ginjal, Nefroskopi (untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu,
hematuria dan pengangkatan tumor selektif)
f. Arteriogram Ginjal (mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi
ekstravaskular, massa)
g. Pemeriksaan laboratorium
- LED (Laju Endap Darah) meningkat.
- Kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi garam dan air).
- Ht : menurun karena adanya anemia. Hb biasanya kurang dari 7-8 gr/dl
- Pemeriksaan urin menunjukkan jumlah urin menurun, Berat jenis urine
meningkat.
- Hematuri makroskopis ditemukan pada 50% pasien, ditemukan :Albumin (+),
eritrosit (++), leukosit (+), silinder leukosit, eritrosit, dan hialin.

9
- Albumin serum sedikit menurun, komplemen serum (Globulin beta- IC)
sedikit menurun.
- Ureum dan kreatinin meningkat.
- Titer antistreptolisin umumnya meningkat, kecuali kalau infeksi streptococcus
yang mendahului hanya mengenai kulit saja.
- BUN/ kreatinin: meningkat, kadar kreatinin 10 mg/dl diduga tahap akhir
- Uji fungsi ginjal normal pada 50% pasien.
- GDA: asidosis metabolik, pH kurang dari 7,2

2.9 Penatalaksanaan Chronic Glomerulonephritis


a. Penatalaksanaan Medik
- Pengobatan ditujukan pada gejala klinik dan gangguan elektrolit.
- Pengobatan aktivitas sehari-hari sesuai batas kemampuan pasien.
- Pengawasan hipertenasi antihipertensi.
- Pemberian antibiotik untuk infeksi.
- Dialisis berulang untuk memperpanjang harapan hidup pasien.
Tidak ada pengobatan yang khusus yang mempengaruhi penyembuhan
kelainan di glomerulus. Penatalaksanaan pada umumunya yaitu :
- Istirahat mutlak selama 3-4 minggu dahulu dianjurkan selama 6-8 minggu.
- Pemberian penisilin pada fase akut.
- Pemberian antibiotik ini tidak mempengaruhi beratnya glomerulonefritis,
melainkan mengurangi penyebaran infeksi streptococcus yang mungkin masih
ada. Pemberian penisilin dianjurkan hanya untuk 10 hari. Pemberian
profilaksis yang lama sesudah nefritisnya sembuh terhadap kuman penyebab
tidak dianjurkan, karena terdapat imuntas yang menetap.
- Pengaturan dalam pemberian cairan (perlu diperhatikan keseimbangan cairan
dan elektrolit). Pemberian diet rendah protein ( 1 gr/kg BB/hari) dan rendah
garam (1 gr/hari). Makanan lunak dinerikan pada pasien dengan suhu tinggi
dan makanan biasa bila suhu normal kembali. Bila ada anuria/muntah
diberikan IVFD dengan larutan glukosa 10%. Komplikasi seperti gagal
jantung, edema, hipertensi dan oliguria maka jumlah cairan yang diberikan
harus dibatasi.
- Pengobatan terhadap hipertensi.
- Bila anuri berlangsung lama (5-7) hari, maka ureum harus dikeluarkan dari
dalam darah. Dapat dengan cara peritoneum dialisis, hemodialisis, transfusi
tukar dan sebagainya.

10
- Diuretikum dulu tidak diberikan pada glomerulonefritis akut, tetapi akhir-
akhir ini pemberian furosemid (lasix) secara intravena (1 mg/kg BB/kali)
dalam 5-10 menit tidak berakibat buruk pada hemodinamika ginjal dan filtrasi
glomerulus.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
- Disesuaikan dengan keadaan pasien.
- Pasien dianjurkan secara teratur untuk senantiasa kontrol pada ahlinya.
- Program diet ketat tetapi cukup asupan gizinya.
- Penjelasan kepada pasien tentang pambatasan aktivitas sesuai kemampuannya.
- Anjuran kontrol ke dokter harus ditaati untuk mencegah berlanjut ke sindrom
nefrotik atau GGK.
c. Manajemen Terapi Gizi
1. Tujuan Diet Rendah Garam
a. Mengganti kehilangan protein terutama albumin.
b. Mengurangi edema dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.
c. Memonitor hiperkolesterolemia dan penumpukan trigliserida.
d. Mengontrol hipertensi.
e. Mengatasi anoreksia.
2. Syarat Diet
a. Energi cukup untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif, yaitu
35 kkal/kg BB per hari.
b. Protein cukup, yaitu 1,0 g/kg BB atau 0,8 g/kg BB. Utamakan penggunaan
protein bernilai biologik tinggi.
c. Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total.
d. Karbohidrat sebagai sisa kebutuhan energi. Utamakan penggunaan
karbohidrat kompleks.
e. Natrium dibatasi, yaitu 600-800 mg/hari.
f. Kolesterol dibatasi < 300 mg, begitu pula gula murni, bila ada peningkatan
trigliserida darah.
g. Cairan disesuaikan dengan banyaknya cairan yang dikeluarkan melalui
urin ditambah 500 ml pengganti cairan yang dikeluarkan melalui kulit dan
pernapasan.
3. Jenis Diet dan Indikasi Pemberian
Diet Garam Rendah diberikan kepada pasien dengan edema atau asites dan
atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit dekompensasio kordis,
sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, toksemia pada kehamilan, dan hipertensi
esensial. Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai dengan keadaan
penyakit dapat diberikan berbagai tingkat Diet Rendah Garam.

11
a) Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na)
Diet Garam Rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites
dan/atau hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak
ditambahkan garam dapur. Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar
natriumnya.
b) Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)
Diet Gararn Rendah II diberikan kepada pasien dengan edema, asites
dan/atau hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama
dengan Diet Garam Rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh
menggunakan 1/2 sdt garam dapur (2 gram). Dihindari makanan yang
tinggi kadar natriumnya.
c) Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)
Diet Garam Rendah III diberikan kepada pasien dengan edema, asites
dan/atau hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet
Garam Rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan 1 sdt
garam dapur (4 gram).
4. Bahan Makanan yang Dianjurkan
Makanan yang dianjurkan dalam diet rendah garam ini adalah semua makanan
yang segar dan tidak diawetkan menggunaan garam dapur atau jenis natrium
lainnya.
5. Bahan Makanan yang Tidak Dianjurkan
Diet Rendah Garam relatif banyak makanan yang harus dibatasi karena rata-
rata produk olahan khususnya mengandung banyak sekali garam atau natrium.
Berikut makanan yang harus dibatasi, diantaranya:
a. Sumber karbohidrat: Roti, biskuit dan kue-kue yang dibuat menggunakan
garam dapur dan soda.
b. Sumber makanan hewani: jeroan, keju, sarden, bahan makanan yang
diawetkan seperti ikan asin, dendeng, abon, daging asap, ikan kaleng, telur
asin, jeroan, otak, lidah, dan sebagainya
c. Sumber protein nabati: pindakas dan semua kacang-kacangan yang diolah
dengan garam dapur.

12
d. Sayuran dan buah-buahan: sayuran yang dimasak dan diawetkan dengan
garam dapur seperti: sawi asin, asinan, sayuran kaleng dan acar.
e. Lemak: margarin, mentega, cream dan sebgaianya
f. Minuman: minuman ringan dan beralkohol
g. Bumbu: garam, baking powder, soda kue, MSG, kecap, terasi, ketchup,
sambal botol, petis, tauco, bumbu instan, dan sebagainya

2.10 Komplikasi Chronic Glomerulonephritis


a. Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi sebagai akibat
berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti insufisiensi ginjal akut
dengan uremia, hiperkalemia, hiperfosfatemia dan hidremia. Walau aliguria atau
anuria yang lama jarang terdapat pada anak, namun bila hal ini terjadi maka
dialisis peritoneum kadang-kadang di perlukan.
b. Esefalopati hipertensi yang merupakan gejala serebrum karena hipertensi.
Terdapat gejala berupa gangguan pada penglihatan, pusing, muntah, dan kejang-
kejang. Hal ini disebabkan spasme pembuluh darah local dengan anoksia dan
edema otak.
c. Gangguan sirkulasi berupa dispneu, orthopneu, terdapat ronchi basah, pembesaran
jantung dan meningkatnya TD yang bukan saja disebabkan spasme pembuluh
darah, tetapi juga disebabkan oleh bertambahnya volume plasma. Jantung dapat
membesar dan terjadi Gagal Jantung akibat HT yang menetap dan kelainan di
miocardium.
d. Anemia karena adanya hipervolemia disamping adanya sintesis eritropoetik yang
menurun.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

3.1 Asuhan Keperawatan Umum Chronic Glomerulonephritis


A. Pengkajian
a. Anamnesa
1. Identitas

13
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan, alamat, dan lain-lain.
2. Keluhan Utama
Pada umumnya pasien dengan glomerulonephritis kronis mengeluh nyeri dan
adanya proteinuria atau hematuria.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit sekarang
- Kaji dan tanyakan tentang riwayat kesehatan pasien, seperti penyakit
sistemik, penyakit ginjal atau gangguan urologi, penyakit infeksi (contoh
infeksi streptokokus) dan paparan infeksi yang baru saja terjadi.
- Tanyakan juga tentang status kesehatan secara komprehensif dan
peningkatan fatigue dan letargi yang telah terjadi.
- Identifikasi pola berkemih pasien. Tanyakan frekuensi berkemih yang
meningkat atau jumlah urin yang menurun. Tanyakan tentang perubahan
warna, bau, atau kejernihan urin dan kejadian disuria atau inkontinensia.
Nocturia juga merupakan gejala yang umum terjadi.
- Kaji kenyamanan umum pasien dan tanyakan apakah ada dispnea saat
istirahat atau dispnea terjadi pada saat melakukan aktivitas, karena
kelebihan cairan dapat terjadi dengan penurunan urin yang dikeluarkan.
b. Riwayat penyakit dahulu
Pada umumnya pasien dengan glomerulonephritis kronis disebabkan diabetes
melitus dan hipertensi kronik, serta glomerulonephritis akut.
c. Riwayat penyakit keluarga
Pada umumnya keluarga pasien dengan glomerulonephritis kronis tidak
ditemukan penyakit yang sama karena tidak diturunkan secara genetik.
4. Pengkajian Kognitif dan Psikososial
Tanyakan dan observasi tentang perubahan fungsi mental, seperti emosi yang
labil atau ketidakmampuan untuk melakukan pekerjaan seperti biasa atau
kegiatan lain yang membutuhkan konsentrasi. Perubahan dalam mengingat dan
kemampuan berkonsentrasi sebagai akibat dari produk sisa yang menumpuk di
darah.
b. Pemeriksaan Fisik

14
- Kaji gejala-gejala yang terjadi karena adanya kelebihan sirkulasi sistemik.
- Auskultasi paru-paru, apakah terdengar suara crackles, observasi respiratory rate
dan kedalamannya, dan kaji tekanan darah dan berat badan.
- Auskultasi jantung untuk mendengarkan jumlah, ritme, dan bunyi suara S3.
Inspeksi adanya peningkatan vena jugularis dileher.
- Kaji apakah ada atau tidaknya edema di kaki dan pergelangan kaki, di kulit, dan
di atas sakrum.
- Kaji gejala-gejala uremik seperti bicara cadel, ataxia, tremor, atau asterixis (jari-
jari mengalami flapping tremor atau ketidakmampuan untuk mempertahankan
posture yang tetap dengan lengan diekstensikan dan pergelangan tangan
hiperekstensi).
- Inspeksi kulit apakah berwarna kekuningan, tekstur, membengkak, memerah, atau
erupsi. Tanyakan tentang gatal yang dirasakan dan dokumentasikan area kulit
yang kering atau mengalami ekskeriasi yang disebabkan garukan.
c. Pemeriksaan Penunjang
- Pada pasien dengan glomerulonefritis kronik terjadi penurunan urin output, tetapi
penampakan urin normal kecuali jika terjadi infeksi saluran kemih (ISK).
Urinalisis menunjukkan adanya protein, biasanya kurang dari 2 gr dalam
pengumpulan urin 24 jam. Massa jenis urin biasanya mencapai level normal
(sekitar 1,010). Sel darah merah mungkin ada di dalam urin.
- GFR (Glomerular filtration rate) diukur dengan kreatinin menunjukkan hasil yang
rendah. Serum kreatinin meningkat, biasanya lebih dari 6 mg/dL tetapi mungkin
bisa mencapai 30 mg/dL atau lebih. BUN meningkat, biasanya meningkat setinggi
100-200 mg/dL
- Fungsi ginjal menurun karena ketidaknormalan kadar serum elektrolit. Retensi
sodium paling sering terjadi, tetapi pengenceran plasma karena kelebihan cairan
dapat menimbulkan hasil normal palsu kadar sodium dalam serum (135-145
mEq/L) atau level sodium dalam serum rendah (<135 mEq/L). Ketika
berkembang menjadi oliguria, postasium tidak diekskresikan dan hiperkalemia
terjadi ketika level yang diekskresikan mencapai 5,4 mEq/L.

15
- Hiperpospatemia berkembang dengan serum level yang lebih dari 4,7 mg/dL.
Level serum kalsium biasanya berada di bawah nilai normal atau sedikit di bawah
normal.
- Asidosis berkembang dari retensi ion hidrogen dan kehilangan bikarbonat.
Namun, biasanya akan diikuti dengan adanya penurunan kadar karbon dioksida
(CO2) sebagai akibat dari pernapasan pasien yang cepat untuk mengimbangi
asidosis. Apabila kompensasi dari sistem pernapasan terjadi, pH darah arteri
antara 7,35 dan 7,45. Apabila pH kurang dari 7,35 berarti kompensasi yang
dilakukan untuk mengatasi asidosis tidaklah lengkap.
- Ginjal akan terlihat tidak normal (semakin kecil) pada penampakan X-Ray dan di
IV urography dan dapat dipastikan kembali dengan menggunakan sonografi atau
CT.
- Biopsi renal perlu dilakukan dalam pemeriksaan tahap awal glomerulonefritis,
ketika protein atau darah pertama kali muncul dalam urin. Perubahan jaringan
yang terjadi meliputi berbagai sel infiltrasi jaringan glomerulus, penumpukan
kompleks imun, dan sklerosis pembuluh darah. Jika penyakit sudah memasuki
tahap lanjut yang ditandai dengan mengecilnya ginjal, biopsi renal biasanya tidak
dilakukan lagi.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan hilangnya protein plasma dalam darah
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakcukupan jumlah makanan yang dimakan akibat mual dan muntah
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara oksigen
dibutuhkan dan disediakan
4. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan pigmentasi kulit
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No. NOC NIC
Keperawatan
1. Kelebihan volume Setelah dilakukan Manajemen Cairan :
cairan berhubungan tindakan keperawatan 1. Pertahankan posisi tirah
dengan hilangnya selama 2x24 jam baring selama masa akut
protein plasma dalam keseimbangan cairan 2. Kaji adanya peningkatan

16
darah pasien normal dengan JVP, edema dan asites
indikator : 3. Tinggikan kaki saat
1. TD dalam rentang berbaring
yang diharapkan 4. Buat jadwal masukan
2. CVP dalam rentang cairan
yang diharapkan 5. Monitor intake nutrisi
3. Tekanan arteri rata- 6. Timbang BB secara
rata dalam rentang berkala
yang diharapkan 7. Monitor TTV
4. Nadi perifer teraba 8. Pantau haluaran urine
5. Keseimbangan intake (karakteristik, warna,
dan output dalam 24 ukuran)
jam 9. Keseimbangan cairan
6. Suara nafas secara 24 jam
tambahan tidak ada 10. Monitor tanda dan gejala
7. Berat badan stabil asites dan edema
8. Tidak ada asites 11. Ukur lingkar abdomen,
9. Tidak ada distensi awasi tetesan infus
vena 12. Pantau albumin serum
10. Tidak ada edema 13. Kaji turgor kulit
perifer Monitor Cairan :
11. Hidrasi kulit 1. Tentukan riwayat jumlah
12. Membran mukosa dan tipe intake cairan
basah dan eliminasi
13. Tidak ada haus yang 2. Tentukan kemungkinan
abnormal faktor resiko daari
14. Tidak ada sunken ketidakseimbangan
eyes cairan (hipertermia,
15. Urine output normal terapi diuretik, kelainan
16. Mampu berkeringat renal, gagal jantung,
17. Tidak demam diaporesis, disfungsi

17
hati)
3. Monitor berat badan
4. Monitor serum dan
elektrolit urine
5. Monitor serum dan
osmolaritas urine
6. Monitor BP, HR, RR
7. Monitor tekanan darah
orthostatik dan
perubahan irama jantung
8. Monitor parameter
hemodinamik invasif
9. Catat secara akurat
intake dan output
10. Monitor membran
mukosa dan turgor kulit,
serta rasa haus
11. Monitor warna dan
jumlah urin
2. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Monitor Nutrisi :
nutrisi: kurang dari tindakan keperawatan 1. Berat badan pasien dalam
kebutuhan tubuh selama 2x24 jam status batas normal
berhubungan dengan nutrisi pasien normal 2. Monitor adanya
ketidakcukupan dengan indikator : penurunan berat badan
jumlah makanan yang 1. Intake nutrien 3. Monitor tipe dan jumlah
dimakan akibat mual normal aktivitas yang biasa
dan muntah 2. Intake makanan dan dilakuakn
cairan normal 4. Monitor lingkungan
3. Berat badan normal selama makan
4. Massa tubuh normal 5. Monitor kulit kering dan
5. Pengukuran perubahan pigmentasi

18
biokimia normal 6. Monitor turgor kulit
7. Monitor kekeringan,
rambut kusam, total
protein, Hb dan kadar Ht
8. Monitor makanan
kesukaan
9. Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
10. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
11. Monitor kalori dan intake
nutrisi
12. Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas
oval
13. Catat jika lidah berwarna
megenta, scarlet
Manajemen Nutrisi :
1. Kaji adanya alergi
makanan
2. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien
3. Yakinkan diet yang
dimakan mengandung
tinggi serat untuk
mencegah konstipasi

19
4. Berikan makanan yang
terpilih yaitu yang
mengandung sedikit
protein (sudah
dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
5. Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan
makanan harian
6. Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
7. Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
3. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan Terapi Aktivitas :
berhubungan dengan tindakan keperawatan 1. Kaji tanda dan gejala
ketidakseimbangan selama 2x24 jam daya yang menunjukan
antara oksigen tahan pasien akan ketidaktoleransi terhadap
dibutuhkan dan meningkat dengan aktivitas dan memerlukan
disediakan indikator: pelaporan terhadap
1. Menunjukan perawat dan dokter
kebiasaan rutin 2. Tingkatkan pelaksanaan
2. Aktivitas ROM pasif sesuai indikasi
3. Konsentrasi 3. Buat jadwal latihan
4. Tertarik dengan aktivitas secara bertahap
lingkungan untuk pasien dan berikan
5. Pola makan periode istirahat
6. Tidak ada letargi 4. Berikan suport dan
7. Hb normal libatkan keluarga dalam
8. Ht normal program terapi
9. Gula darah normal 5. Berikan berikan
10. Elektrolit serum reinforcemen untuk

20
normal pencapaian aktivitas
sesuai program latihan
Setelah dilakukan 6. Kolaborasi ahli fisioterapi
tindakan keperawatan Pengelolaan Energi /
selama 2x24 jam Manajemen Energi :
toleransi aktivitas pasien 1. Bantu pasien untuk
akan meningkat dengan mengidentifikasi pilihan-
indikator : pilihan aktivitas
1. Saturasi oksigen 2. Rencanakan aktivitas
dalam rentang yang untuk periode dimana
diharapkan dalam pasien mempunyai energi
respon aktivitas paling banyak
2. Heart rate dalam 3. Bantu dengan aktivitas
rentang yang fisik teratur
diharapkan dalam 4. Tentukan persepsi lain
respon aktivitas pasien tentang penyebab
3. RR dalam rentang fatigue
yang diharapkan 5. Dorong verbalisasi
dalam respon perasaan keterbatasan
aktivitas 6. Tentukan penyebab
4. Tekanan darah fatigue
dalam rentang yang 7. Monitor pola tidur pasien
diharapkan dalam dan jumah jam tidur
respon aktivitas 8. Batasi stimulus
lingkungan
9. Batasi pengunjung
10. Dorong bedrest
11. Gunakan ROM pasif atau
aktif untuk mengurangi
ketegangan otot
4. Risiko kerusakan Setelah dilakukan Pengawasan Kulit :

21
integritas kulit tindakan keperawatan 1. Observasi ekstremitas
berhubungan dengan selama 2x24 jam untuk warna, panas,
perubahan pigmentasi integritas jaringan: kulit keringat, nadi, tekstur,
kulit dan mukosa normal edema, dan luka
2. Monitor warna kulit
dengan indikator:
3. Monitor temperatur kulit
1. temperatur jaringan 4. Catat perubahan kulit dan
dalam rentang yang membran mukosa
diharapkan Manajemen Kulit :
2. elastisitas dalam 1. Tempatkan pasien pada
rentang yang terapeutik bed
2. Monitor sumber tekanan
diharapkan
3. Ajarkan pasien untuk
3. hidrasi dalam rentang
menggunakan paskaian
yang diharapkan
longgar
4. pigmentasi dalam 4. Ajarkan pasien untuk
rentang yang tidak menggaruk kulit
diharapkan, tidak yang gatal
5. Berikan sarung tangan
mengalami jaundice
halus saat tidur dan
5. warna dalam rentang
potong kuku pasien
yang diharapkan
6. Monitor status nutrisi
6. tektur dalam rentang
pasien
yang diharapkan
7. bebas dari lesi
8. kulit utuh
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

4.1 Kasus
Tn. A usia 54 tahun, datang ke RS B dengan keluhan mengalami edema atau bengkak
pada daerah wajah sampai kaki, badan lemah, lesu, mual, berkeringat dingin. Badan lemah
ini dirasakan sejak 2 hari terakhir disertai dengan mual, muntah, porsi makan Tn.A tidak
pernah habis selalu tersisa ½ porsi, dan buang air besar (BAB) mencret sebanyak 5 kali.

22
Pasien juga mengeluhkan mudah merasa lelah dan tidak sanggup lagi beraktivitas berat.
Pasien mengaku mempunyai riwayat darah tinggi dan meminum obat-obat darah tinggi jika
ada keluhan saja, setelah keluhannya menghilang ia tidak meminumnya lagi. Pasien
mengaku telah menjalani hemodialisis rutin selama 1 tahun terakhir. Pasien menyangkal
mempunyai kencing manis, muntah berdarah, BAB berdarah, riwayat kecelakaan. Pasien
sudah sering mendapat transfusi sebelum hemodialisis, terdapat hipertensi namun tekanan
darah terkontrol. Kedua orangtua memiliki riwayat hipertensi.
Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran kompos
mentis, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 70 x/menit (regular, isi cukup), pernafasan 16
x/menit (regular), suhu 37,5˚C, berat badan 43 kg, tinggi badan 160 cm, status gizi kurang.
Pada mata didapatkan konjungtiva anemis. Bising usus meningkat, turgor kulit baik.
Pemeriksaan laboratorium didapatkan b hemoglobin 7,8 gr/dl, hematokrit 22,3 L%, eritrosit
2,48x106 /uL, leukosit 21,8x103 /uL, mean corpuscular volume 90 fl, mean corpuscular
hemoglobin 31,4 pg, ureum 276 mg/dl, kreatinin 10,5 mg/dl. Input cairan: 1700 cc dan
Output cairan 1175 cc. Diagnosa Medis: Glumerulonefritis Kronis.

4.2 Pengkajian
A. Anamnesa
1. Identitas :
a. Nama : Tn. A
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. Usia : 54 tahun
d. Agama : Islam
e. Suku : Jawa
f. Alamat : Surabaya
g. Diagnosa Medis : Glumerulonefritis Kronis
2. Keluhan utama
Klien mengeluh mengalami edema atau bengkak pada daerah wajah sampai kaki,
badan lemah, lesu, mual, berkeringat dingin
3. Riwayat Penyakit Sekarang

23
Klien mengatakan badan lemah ini dirasakan sejak 2 hari terakhir disertai dengan
mual, muntah, dan buang air besar (BAB) mencret sebanyak 5 kali. Klien juga
mengeluhkan mudah merasa lelah dan tidak sanggup lagi beraktivitas berat.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan mempunyai riwayat darah tinggi dan meminum obat-obat darah
tinggi jika ada keluhan saja, setelah keluhannya menghilang ia tidak meminumnya
lagi. Klien telah menjalani hemodialisis rutin selama 1 tahun terakhir. Klien sudah
sering mendapat transfusi sebelum hemodialisis, terdapat hipertensi namun tekanan
darah terkontrol.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Kedua orangtua klien memiliki riwayat hipertensi.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan TTV
a. Tekanan Darah : 130/80 mmHg
b. Nadi : 70x/menit
c. Suhu : 37,5 ˚C
d. RR : 16x/menit
2. Review of System (ROS)
a. B1 (Breath) : RR 16x/menit
b. B2 (Blood) : TD 130/80 mmHg, Hb: 7,8 gr/dl, Ht: 22,3 L%, albumin
serum: 1,9 gr/dl (hipoalbuminemia).
c. B3 (Brain) : Compos mentis, tidak ada gangguan
d. B4 (Bladder) : jumlah urine Tn. A hanya sedikit (oliguria), warnanya
kuning kecoklatan pekat,dan tidak ada nyeri saat
BAK, terdapat protein pada urine +4
Input Cairan = Output Cairan
Cairan per oral (1000 cc) + Cairan Infus (500 cc) + Air
metabolism (200 cc) = urine 24 jam (500 cc), muntah (200
cc) , IWL (475 cc).
Input cairan 1700 cc dan Output cairan 1175 cc
e. B5 (Bowel) : Anoreksia, mual, muntah, BAB 5x/hari

24
f. B6 (Bone) : Edema pada bagian wajah hingga kaki, terjadi kelelahan.
C. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Laboraturium:
- Hemoglobin : 7,8 gr/dl
- Hematokrit : 22,3 L%
- Eritrosit : 2,48x106 /uL
- Leukosit : 21,8x103 /uL
- Mean corpuscular volume : 90 fl
- Mean corpuscular hemoglobin : 31,4 pg
- Ureum : 276 mg/dl
- Kreatinin : 10,5 mg/dl
- Albumin serum : 1,9 gr/dl
2. Pemeriksaan Urin
- Leukosit urin : +3
- Protein urin : +4
- Eritrosit urin : +5
D. Analisa Data
No. Data Etiologi Masalah Keperawatan
1. DS : Glomerulonefritis Kelebihan volume
- Klien mengeluh
cairan
Permeabilitas membrane
bagian wajah sampai
filtrasi turun
kaki terasa bengkak
DO : Proteinuria
- Klien tampak edema Hipoalbuminemia
- Albumin serum: 1,9
Tekanan onkotik
gr/dl
membrane sel turun
(Hipoaalbuminemia).
- Balance cairan: Ekstravasasi cairan ke

a. Input Cairan = intertisial

Output Cairan Edema


b. 1700 cc = 1175 cc

25
(Kelebihan volume Kelebihan volume cairan
cairan 525 cc)

2. DS : Glomerulonefritis Ketidakseimbangan
- Klien mengeluh
nutrisi : kurang dari
Respon GIT
mual dan muntah kebutuhan tubuh
- Klien mengeluh Fetoruremia
tidak nafsu makan
Peradangan mukosa
DO :
saluran pencernaan
- A= BB: 43 Kg, TB:
160 cm, IMT: 16,7 Anoreksia
(kurang dari normal) Intake nutrisi tidak
- B= albumin serum:
adekuat
1,9gr/dl, Hb: 7,8
gr/dl Ketidakseimbangan
- C= Tn. A tampak nutrisi : kurang dari
lesu dan kebutuhan tubuh
- D= porsi makan
tidak pernah habis
selalu tersisa ½ porsi
3. DS : Glomerulonefritis Intoleransi aktivitas
- Klien mengeluhkan
Struktur ginjal rusak
mudah merasa lelah
parah
dan tidak sanggup lagi
beraktivitas berat Defisiensi erirtopoietin
DO : Eritopiesis menurun
- Klien tampak lemah
- Konjungtiva tampak Anemia
anemis Terjadi metabolisme
anaerob di sel

ATP menurun

Intoleransi aktivitas

26
4.3 Diagnosa Keperawatan
a. Domain 2. Nutrisi. Kelas 5. Hidrasi. Kelebihan Volume Cairan b.d Gangguan
Mekanisme Regulasi. (00026).
b. Domain 2. Nutrisi. Kelas 1. Makan. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang Dari
Kebutuhan Tubuh b.d Kurang Asupan Makanan. (00002).
c. Domain 4. Respons Kardiovaskular/Pulmonal. Intoleransi Aktivitas b.d Imobilitas.
(00092).

4.4 Intervensi Keperawatan


No. Diagnosa NOC (Kriteria Hasil) NIC (Intervensi)
Keperawatan
1. Domain 2. Nutrisi. Kelas Setelah dilakukan Manajemen Cairan
5. Hidrasi. Kelebihan tindakan keperawatan (4120):
1. Timbang berat badan
Volume Cairan b.d 3x24 jam, kelebihan
setiap hari dan
Gangguan Mekanisme volume cairan teratasi.
monitor status klien.
Regulasi. (00026). Dengan kriteria hasil:
2. Jaga intake/asupan
Keseimbangan cairan
yang akurat dan catat
(0601):
output klien.
1. Tekanan darah tetap 3. Monitor tanda-tanda
dalam rentang normal. vital klien.
2. Asites tidak ada. 4. Monitor perubahan
3. Edema perifer
berat badan sebelum
berkurang.
dan setelah dialisis.
Keseimbangan Elektrolit 5. Berikan cairan dengan
dan Asam Basa (0600): tepat.
6. Konsultasikan dengan
1. Frekuensi pernapasan
dokter jika tanda-
tetap dalam rentang
tanda dan gejala
normal.
2. Irama pernapasan kelebihan volume
tetap reguler. cairan menetap atau
3. Serum albumin
memburuk.
normal. Manajemen Asam Basa
Tanda-Tanda Vital (1910):

27
(0802): 1. Ambil specimen yang
1. Suhu tubuh klien diinstruksikan untuk
tetapdalam rentang mendapatkan analisa
yang normal. keseimbangan asam
2. Denyut nadi radial
basa (misalnya
normal.
Analisa gas darah,
3. Tingkat pernapasan
urin, dan serum) jika
tetap dalam rentang
diperlukan.
normal.
2. Monitor penyebab
4. Irama pernapasan
potensial sebelum
tetap dalam rentang
memberikan
normal.
5. Tekanan darah perawatan
diastolik tetap dalam ketidakseimbangan
rentang normal. asam basa, dimana
6. Tekanan darah sistolik
akan lebih efektif
tetap dalam rentang
untuk merawat
normal.
penyebabnya daripada
mengengola
ketidakseimbanganny
a
3. Monitor pola
pernapasan.
Monitor Tanda-Tanda
Vital (6680):
1. Monitor tekanan
darah, suhu, nadi, dan
status pernapasan
klien dengan tepat.
2. Monitor tekanan
darah setelah klien
minum obat jika
memungkinkan.
3. Monitor irama dan

28
laju pernapasan
(kedalaman,
kesimetrisan).
4. Identifikasi
kemungkinan
penyebab perubahan
tanda-tanda vital.
2. Domain 2. Nutrisi. Kelas Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi
1. Makan. tindakan keperawatan (1100):
Ketidakseimbangan 3x24 jam, nutrisi klien 1. Kolaborasi dengan
Nutrisi: Kurang Dari kembali terpenuhi. ahli gizi untuk
Kebutuhan Tubuh b.d Dengan kriteria hasil: menentukan jumlah
Kurang Asupan Makanan. Status Nutrisi (1004): kalori dan jenis nutrisi
(00002). 1. Asupan gizi klien yang dibutuhkan
terpenuhi sesuai untuk memenuhi
dengan kebutuhan persyaratan gizi
2. Monitor kalori dan
tubuh.
2. Asupan makanan asupan makanan
3. Monitor
klien terpenuhi.
3. Klien memiliki kecenderungan
energi untuk terjadinya penurunan
beraktifitas dan kenaikan berat
Nafsu Makan (1014): badan pada klien.
4. Anjurkan pada
1. Hasrat/keinginan
keluarga untuk
untuk makan
menyajikan makanan
meningkat.
2. Intake makanan dengan menarik
5. Berikan edukasi pada
adekuat sesuai
keluarga untuk
dengan kebutuhan
memberikan klien
tubuh.
makanan sedikit-
sedikit tapi sering.

29
Manajemen Gangguan
Makan (1030):
1. Rundingkan dengan
ahli gizi dalam
menentukan asupan
kalori harian yang
diperlukan untuk
mempertahankan
berat badan yang
sudah ditentukan.
2. Dorong klien untuk
mendiskusikan
makanan yang disukai
bersama ahli gizi.
3. Observasi klien
selama dan setelah
pemberian makan
untuk meyakinkan
bahwa intake
makanan yang cukup
tercapai dan
dipertahankan.
4. Beri dukungan
(misalnya terapi
relaksasi, latihan
desensitisasi,
kesempatan untuk
membicarakan
perasaan) sembari
klien juga berusaha
mengintegrasikan
perilaku makan yang

30
baru, perubahan citra
tubuh dan perubahan
gaya hidup.
5. Monitor berat badan
klien secara rutin
3. Domain 4. Respons Setelah dilakukan Manajemen Energi
Kardiovaskular/Pulmonal. tindakan keperawatan (0180):
1. Kaji status fisiologis
Intoleransi Aktivitas b.d 3x24 jam,intoleransi
klien yang
Imobilitas. (00092). aktivitas teratasi. Dengan
menyebabkan
kriteria hasil:
kellelahan sesuai
Daya Tahan (0001):
denan konteks usia
1. Klien dapat
dan perkembangan.
melakukan aktivitas
2. Anjurkan pasien
rutin.
mengungkapkan
2. Klien dapat
perasaan secara
melakukan aktivitas
verbal mengenai
fisik.
3. Kelelahan tidak ada. keterbatasan yang
Tingkat kelelahan dialami.
3. Tentukan jenis dan
(0007):
banyakya aktivitas
1. Kelelahan yang
yang dibutuhkan
dirasakan klien tidak
untuk menjaga
ada.
2. Kelesuan tidak ada. ketahanan.
3. Klien dapat 4. Monitor
melakukan kegiatan intake/asupan nutrisi
sehari-hari (ADL). untuk mengetahui
4. Performa kerja pada
sumber energi yang
klien meningkat.
adekuat.
5. Anjurkan aktivitas
fisik (misalnya
ambulasi, ADL)
sesuai dengan

31
kemampuan (energi)
klien.
Manajemen
Lingkungan (6480):
1. Ciptakan lingkungan
yang aman bagi klien.
2. Dampingi klien
selama tidak ada
kegiatan bangsal
dengan tepat.
3. Atur persediaan dan
linen dengan rapi
yang harus tetap ada
dalam jangkauan
pandangan pasien.
Bantuan Perawatan Diri
(1800):
1. Monitor kemampuan
perawatan diri secara
mandiri.
2. Berikan bantuan
sampai klien mampu
melakukan
perawatann diri
mandiri.
3. Dorong klien untuk
melakukan aktivitas
normal sehari-hari
sampai batas
kemampuan klien.

4.5 Implementasi Keperawatan


No Diagnosa
NIC (Intervensi) Implementasi
. Keperawatan

32
1. Domain 2. Nutrisi. Manajemen Cairan Manajemen Cairan
Kelas 5. Hidrasi. (4120): (4120):
1. Timbang berat badan 1. Menimbang berat badan
Kelebihan Volume
setiap hari dan monitor setiap hari dan monitor
Cairan b.d Gangguan
status klien. status klien.
Mekanisme Regulasi.
2. Jaga intake/asupan 2. Menjaga intake/asupan
(00026).
yang akurat dan catat yang akurat dan catat
output klien. output klien.
3. Monitor tanda-tanda 3. Memonitor tanda-tanda
vital klien. vital klien.
4. Monitor perubahan 4. Memonitor perubahan
berat badan sebelum berat badan sebelum
dan setelah dialisis. dan setelah dialisis.
5. Berikan cairan dengan 5. Memberikan cairan
tepat. dengan tepat.
6. Konsultasikan dengan 6. Berkonsultasi dengan
dokter jika tanda-tanda dokter jika tanda-tanda
dan gejala kelebihan dan gejala kelebihan
volume cairan menetap volume cairan menetap
atau memburuk. atau memburuk.

Manajemen Asam Basa Manajemen Asam Basa


(1910): (1910):
1. Ambil specimen yang 1. Mengambil specimen
diinstruksikan untuk yang diinstruksikan
mendapatkan analisa untuk mendapatkan
keseimbangan asam analisa keseimbangan
basa (misalnya Analisa asam basa (misalnya
gas darah, urin, dan Analisa gas darah, urin,
serum) jika diperlukan. dan serum) jika
2. Monitor penyebab
diperlukan.
potensial sebelum 2. Memonitor penyebab
memberikan perawatan potensial sebelum
ketidakseimbangan memberikan perawatan

33
asam basa, dimana ketidakseimbangan
akan lebih efektif asam basa, dimana
untuk merawat akan lebih efektif
penyebabnya daripada untuk merawat
mengengola penyebabnya daripada
ketidakseimbangannya mengengola
3. Monitor pola
ketidakseimbangannya
pernapasan. 3. Memonitor pola
Monitor Tanda-Tanda
pernapasan.
Vital (6680): Monitor Tanda-Tanda
1. Monitor tekanan
Vital (6680):
darah, suhu, nadi, dan 1. Memonitor tekanan
status pernapasan darah, suhu, nadi, dan
klien dengan tepat. status pernapasan
2. Monitor tekanan darah
klien dengan tepat.
setelah klien minum 2. Memonitor tekanan
obat jika darah setelah klien
memungkinkan. minum obat jika
3. Monitor irama dan laju
memungkinkan.
pernapasan 3. Memonitor irama dan
(kedalaman, laju pernapasan
kesimetrisan). (kedalaman,
4. Identifikasi
kesimetrisan).
kemungkinan 4. Mengidentifikasi
penyebab perubahan kemungkinan
tanda-tanda vital. penyebab perubahan
tanda-tanda vital.
2. Domain 2. Nutrisi. Manajemen Nutrisi Manajemen Nutrisi
Kelas 1. Makan. (1100): (1100):
Ketidakseimbangan 1. Kolaborasi dengan ahli 1. Berkolaborasi dengan
Nutrisi: Kurang Dari gizi untuk menentukan ahli gizi untuk
Kebutuhan Tubuh b.d jumlah kalori dan jenis menentukan jumlah
Kurang Asupan nutrisi yang kalori dan jenis nutrisi

34
Makanan. (00002). dibutuhkan untuk yang dibutuhkan untuk
memenuhi persyaratan memenuhi persyaratan
gizi gizi
2. Monitor kalori dan 2. Memonitor kalori dan
asupan makanan asupan makanan
3. Monitor 3. Memonitor
kecenderungan kecenderungan
terjadinya penurunan terjadinya penurunan
dan kenaikan berat dan kenaikan berat
badan pada klien. badan pada klien.
4. Anjurkan pada 4. Memberikan anjuran
keluarga untuk pada keluarga untuk
menyajikan makanan menyajikan makanan
dengan menarik dengan menarik
5. Berikan edukasi pada 5. Memberikan edukasi
keluarga untuk pada keluarga untuk
memberikan klien memberikan klien
makanan sedikit- makanan sedikit-sedikit
sedikit tapi sering. tapi sering.
Manajemen Gangguan
Manajemen Gangguan
Makan (1030):
Makan (1030):
1. Mendiskusikan dengan
1. Rundingkan dengan
ahli gizi dalam
ahli gizi dalam
menentukan asupan
menentukan asupan
kalori harian yang
kalori harian yang
diperlukan untuk
diperlukan untuk
mempertahankan berat
mempertahankan
badan yang sudah
berat badan yang
ditentukan.
sudah ditentukan. 2. Mendorong klien untuk
2. Dorong klien untuk
mendiskusikan
mendiskusikan
makanan yang disukai
makanan yang disukai
bersama ahli gizi.

35
bersama ahli gizi. 3. Mengobservasi klien
3. Observasi klien
selama dan setelah
selama dan setelah
pemberian makan
pemberian makan
untuk meyakinkan
untuk meyakinkan
bahwa intake makanan
bahwa intake
yang cukup tercapai
makanan yang cukup
dan dipertahankan.
tercapai dan 4. Memberikan dukungan
dipertahankan. (misalnya terapi
4. Beri dukungan
relaksasi, latihan
(misalnya terapi
desensitisasi,
relaksasi, latihan
kesempatan untuk
desensitisasi,
membicarakan
kesempatan untuk
perasaan) sembari klien
membicarakan
juga berusaha
perasaan) sembari
mengintegrasikan
klien juga berusaha
perilaku makan yang
mengintegrasikan
baru, perubahan citra
perilaku makan yang
tubuh dan perubahan
baru, perubahan citra
gaya hidup.
tubuh dan perubahan 5. Memonitor berat badan
gaya hidup. klien secara rutin.
5. Monitor berat badan
klien secara rutin.
3. Domain 4. Respons Manajemen Energi Manajemen Energi
Kardiovaskular/Pulmo (0180): (0180):
1. Kaji status fisiologis 1. Mengkaji status
nal. Intoleransi
klien yang fisiologis klien yang
Aktivitas b.d
menyebabkan menyebabkan
Imobilitas. (00092).
kellelahan sesuai kellelahan sesuai
denan konteks usia denan konteks usia
dan perkembangan. dan perkembangan.
2. Anjurkan pasien 2. Mengarahkan klien

36
mengungkapkan untuk mengungkapkan
perasaan secara verbal perasaan secara verbal
mengenai keterbatasan mengenai keterbatasan
yang dialami. yang dialami.
3. Tentukan jenis dan 3. Menentukan jenis dan
banyakya aktivitas banyakya aktivitas
yang dibutuhkan untuk yang dibutuhkan untuk
menjaga ketahanan. menjaga ketahanan.
4. Monitor intake/asupan 4. Memonitor
nutrisi untuk intake/asupan nutrisi
mengetahui sumber untuk mengetahui
energi yang adekuat. sumber energi yang
5. Anjurkan aktivitas
adekuat.
fisik (misalnya 5. Menganjurkan
ambulasi, ADL) sesuai aktivitas fisik
dengan kemampuan (misalnya ambulasi,
(energi) klien. ADL) sesuai dengan
kemampuan (energi)
Manajemen Lingkungan
klien.
(6480):
1. Ciptakan lingkungan
Manajemen Lingkungan
yang aman bagi klien.
(6480):
2. Dampingi klien
1. Menciptakan
selama tidak ada
lingkungan yang
kegiatan bangsal
aman bagi klien.
dengan tepat. 2. Mendampingi klien
3. Atur persediaan dan
selama tidak ada
linen dengan rapi yang
kegiatan bangsal
harus tetap ada dalam
dengan tepat.
jangkauan pandangan 3. Mengatur persediaan
pasien. dan linen dengan rapi
Bantuan Perawatan Diri
yang harus tetap ada
(1800):
dalam jangkauan
1. Monitor kemampuan
pandangan pasien.

37
perawatan diri secara Bantuan Perawatan Diri
mandiri. (1800):
2. Berikan bantuan 1. Memonitor
sampai klien mampu kemampuan perawatan
melakukan perawatann diri secara mandiri.
2. Memberikan bantuan
diri mandiri.
3. Dorong klien untuk sampai klien mampu
melakukan aktivitas melakukan perawatann
normal sehari-hari diri mandiri.
3. Mendorong klien
sampai batas
untuk melakukan
kemampuan klien
aktivitas normal
sehari-hari sampai
batas kemampuan
klien

4.6 Evaluasi
a. Kelebihan Volume Cairan b.d Gangguan Mekanisme Regulasi.
S : Klien mengatakan bengkak pada bagian wajah sampai dengan kaki berkurang.
O : Edema pada klien sedikit berkurang
A : Kriteria hasil belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi
b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d. ketidakmampuan makan
S : Klien mengatakan sudah mau makan dan tidak merasakan mual dan muntah lagi
O : Berat badan klien meningkat, dank lien menghabiskan satu porsi makan.
A : Kriteria hasil tercapai
P : Hentikan intervensi, lanjutkan dengan observasi
c. Intoleransi Aktivitas b.d Imobilitas.
S : Klien mengatakan rasa lelahnya mulai berkurang
O : Klien mulai bisa beraktivitas meskipun masih ringan.
A : Kriteria hasil tercapai sebagian
P : Lanjutkan intervensi.

38
BAB V
KESIMPULAN

Glomerulosnefritis kronis adalah suatu kondisi peradangan yang lama dari sel-sel
glomerolus. Kelainan ini dapat terjadi akibat glomerolonefritis akut yang tidak membaik
atau timbul secara spontan. (Arif muttaqin & kumala Sari, 2011). Penyakit
glomerulusnefritis kronis bersifat progresif dan irreversible dimana terjadi uremia karena
kegagalan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan serta
elektrolit (Smeltzer C, Suzanne, 2002).
Penyebab glomerulonefritis kronik yang sering adalah diabetes melitus dan hipertensi
kronik. Kedua penyakit ini berkaitan dengan cidera glomerulus yang bermakna dan
berulang. Hasil akhir dari peradangan tersebut adalah pembentukan jaringan parut dan
menurunnya fungsi glomerulus. Kerusakan glomerulus sering diikuti oleh atrofi tubulus
(Muttaqin, Arif & Sari, Kumala, 2011). Manifestasi klinis yang sering muncul, sekaligus

39
merupakan prediktor luaran terpenting pada glomerulonefritis adalah proteinuria (Reich
et al, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Aschenbrenner, D.S., Cleveland, L.W., & Venable, S.J. (2002). Drug Therapy in Nursing.
Philadelphia : Lippincot.
Black, Joice. M., & Hawk, Jane. H. (2005). Medical Surgical Nursing; clinical
management for positive outcomes. 7th Edition. Elsevier. Inc : St. Louis.
Brunner & Suddart 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta : AGC.
Bulechek, Gloria M. et al. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC) Sixth
Edition. Missouri: Mosby Elsevier.
Corwin. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta: EGC.
Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Guyton (2001), Human Physiology and Deseases Mechanism, 3rd – ed, (Terjemahan oleh
Petrus Andrianto, 2001). Jakarta : EGC.

40
Grace, Pierce A., Borley, Neil R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga.
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). (2014). Nursing Diagnoses Definitions and
Classifications (NANDA) 2015-2017. Oxford: Willey Blackwell.
Moorhead, Sue et al. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth Edition.
Missouri: Mosby Elsevier.
Muttaqin, Arif & Sari, kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid: I. Edisi: IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI.
Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2002. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses – Proses
Penyakit. Volume: 2. Edisi: 6. Jakarta: ECG.
Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddart, Edisi 8 volume 2. Jakarta : EGC.

41