Anda di halaman 1dari 3

Nama : Tyas Dwi Rahmadhani

NIM : 131511133019
Kelas : A2/2015

TUGAS RESUME KEPERAWATAN KRITIS II (T2)

IMA (Infark Miokard Akut)


 Definisi
Infark miokard akut adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena sumbatan pada
arteri koroner. Sumbatan akut terjadi oleh karena adanya aterosklerotik pada dinding
arteri koroner sehingga menyumbat aliran darah ke jaringan otot jantung (M. Black,
Joyce, 2014 : 343)
 Etiologi
a. Faktor internal : a) Karakteristik plak, seperti ukuran dan konsistensi dari inti lipid
dan ketebalan lapisan fibrosa, dan b) Kondisi bagaimana plak tersebut terpapar,
seperti status koagulasi dan derajat vasokontriksi arteri.
b. Faktor eksternal : a) Aktivitas klien atau kondisi eksternal yang memengaruhi klien.
Aktivitas fisik berat dan stress emosional berat terjadi peningkatan respon system
saraf simpatis yang dapat menyebabkan rupture plak. Pada waktu yang sama, respon
system saraf simpatis akan meningkatkan kebutuhan oksigen miokardium, dan b)
Paparan dingin dan waktu tertentu dalam satu hari, juga dapat memengaruhi rupture
plak.
 Klasifikasi
a. Infark Miokard Subendokardial: infark miokard subendokardial terjadi akibat aliran
darah subendokardial yang relatif menurun dalam waktu yang lama sebagai akibat
perubahan derajat penyempitan arteri koroner atau dicetuskan oleh kondisi-kondisi
seperti hipotensi, perdarahan dan hipoksia (Rendy & Margareth, 2012 : 87).
b. Infark Miokard Transmural: pada lebih dari 90% pasien infark miokard transmural
berkaitan dengan trombosis koroner. Trombosis sering terjadi di daerah yang
mengalami penyempitan arteri
 Manifestasi klinis
Nyeri dada, perut, punggung, atau lambung yang tidak khas; mual atau pusing ; sesak
napas dan kesulitan bernapas; kecemasan, kelemahan, atau kelelahan yang tidak dapat
dijelaskan; palpitasi, kringat dingin, pucat; perubahan ekg (q patologis, segmen st elevasi,
gelombang t meninggi atau menurun); dan kenaikan enzim otot jantung.
 Pemeriksaan
Pemeriksaan Lab; Pemeriksaan EKG; Pemeriksaan radiologi; Pemeriksaan
Ekokardiografi:; dan Pemeriksaan radioisotope.
 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaannya adalah mengembalikan aliran darah koroner untuk
menyelamatkan jantung dari infark miokard, membatasi luasnya infark miokard, dan
mempertahankan fungsi jantung. Pada prinsipnya, terapi pada kasus ini di tujukan untuk
mengatasi nyeri angina dengan cepat, intensif dan mencegah berlanjutnya iskemia serta
terjadinya infark miokard akut dan kematian mendadak.
 Komplikasi
Kemungkinan kematian akibat komplikasi selalu menyertai IMA, disritmia, syok
kardiogeni, gagal jantung dan edema paru, dan emboli paru (M.Black, Joyce, 2014 :347).

Coronary Artery Bypass Graft (CABG)


 Definisi
CABG adalah operasi pembedahan yang dilakukan dengan membuat pembuluh darah
baru atau bypass terhadap pembuluh darah yang tersumbat sehingga melancarkan kembali
aliran darah yang membawa oksigen untuk otot jantung yang diperdarahi pembuluh
tersebut.
 Indikasi
Pasien penyakit jantung koroner (PJK) yang dianjurkan operasi CABG adalah pasien
yang hasil kateterisasi jantung ditemukan adanya: a) Penyempitan >50 % dari left
main disease atau left main equivelant yaitu penyempitan menyerupai left main arteri
misalnya ada penyempitan bagian proximal dari arteri anterior desenden dan arteri
circumflex, b) Penderita dengan 3 vessel disease yaitu 3 arteri koroner semuanya
mengalami penyempitan bermakna yang fungsi jantung mulai menurun (EF:<50%>, c)
Penderita yang gagal dilakukan balonisasi dan stent, d) Penyempitan 1 atau 2 pembuluh
namun pernah mengalami gagal jantung, dan e)Anatomi pembuluh darah suitable (sesuai)
untuk CABG.Adapun kontraindikasi CABG secara mutlak tidak ada,tetapi secara relatif
CABG dikontraindikasikan bila terdapat berbagai faktor yang akan memperberat atau
meningkatkan resiko selama dan sesudah operasi.
 Komplikasi
Komplikasi jantung, seperti gangguan preload, gangguan afterload, hipertensi, aritmia,
gangguan kontraktilitas dan infark Miokard Post Operasi (PMI); Komplikasi Paru-paru
seperti hematothorax dan pneumothorax, atelectasis, pneumonia, emboli paru, kegagalan
weaning; Komplikasi Neurologis; Gagal ginjal dan ketidakseimbangan elektrolit; dan
Infeksi.

Percutaneous Coronary Intervention (PCI)


 Definisi dan Prosedur PCI
PCI adalah suatu tindakan untuk mengalirkan kembali arteri koroner yang tersumbat
trombus, yang menyebabkan infark miokard dg ST-elevasi (STEMI), dengan
menggunakan balon–kateter koroner, baik diikuti dengan pemasangan stent maupun
tidak. Pasien yang sedang mengalami serangan jantung tipe STEMI segera dilakukan
angiografi koroner, lalu setelah diidentifikasi arteri koroner yang tersumbat,dilanjutan
dengan upaya membuka sumbatan tersebut dengan cara dimasukkan kawat penuntun dari
metal dengan ujung yang floppy untuk menembus sumbatan trombus tersebut lalu
dilebarkan dengan balon dan kalau perlu dipasang stent; bila gumpalan yang menumbat
terlalu banyak dapat diaspirasi dulu dengan kateter aspirasi sebelum dibalon atau
dipasang stent. Terapi reperfusi diindikasikan pada pasien dengan nyeri dada yang
konsisten dengan STEMI dengan durasi kurang dari 12 jam.

 Komplikasi
Komplikasi dari tindakan PCI antara lain : komplikasi vaskular meliputi perdarahan,
hematoma, pseudoaneurisma dan fistula arteriovenous (2–3%), nefropati karena kontras
radiografi (2%) terjadi pada pasien insufisiensi renal, usia tua, dan shock kardiogenik.
Takikardi ventrikel dan fibrilasi ventrikel dilaporkan pada 4,3% pasien yang mendapatkan
terapi PCI.

Terapi Fibrinolitik
 Definisi dan Indikasi
Fibrinolitik merupakan strategi reperfusi yang penting, terutama di layanan medis yang
tidak dapat melakukan IKP/ICP pada pasien IMA-EST dalam waktu yang disarankan.
Terapi fibrinolitik direkomendasikan diberikan dalam 12 jam sejak awitan gejala pada
pasien-pasien tanpa kontaindikasi apabila IKP primer tidak bisa dilakukan oleh tim yang
berpengalaman dalam 120 menit sejak kontak medis pertama (Kelas I-A). Fibrinolitik
bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan plasminogen untuk membentuk
plasmin, yang mendegradasi fibrin dan kemudian memecah trombus.
 Jenis Terapi Fibrinolitik
Agen yang spesifik terhadap fibrin (tenecteplase, alteplase, reteplase) lebih disarankan
dibandingan agen-agen yang tidak spesifik terhadap fibrin (streptokinase). Harus
diberikan aspirin oral. Clopidogrel diindikasikan diberikan sebagai tambahan untuk
aspirin. Antikoagulan direkomendasika pada pasien-pasien IMA-EST yang diobati
dengan fibrinolitik sampai revakularisasi (bila dilakukan) atau selama dirawat di rumah
sakit hingga 5 hari (Kelas I-A). Antikoagulan yang digunakan dapat berupa:
1. Enoxaparin subkutan (lebih disarankan dibandingan heparin tidak terfraksi) (Kelas I-
A)
2. Heparin tidak terfraksi diberikan secara bolus intravena sesuai berat badan dan infus
selama 3 hari (Kelas I-C)
3. Pada pasien-pasien yang mendapatkan streptokinase, fondaparinux intravena secara
bolus dilanjutkan dengan dosis subkutan 24 jam kemudian (Kelas IIa-B)

Sumber:
M. Black. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular.
Jakarta : Salemba Medika
PERKI. 2018. Pedoman Tatalaksana Sindrom Koroner Akut. Indonesian Heart Association,
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI)
Rifqi, Sodiqur. 2012. Primary Percutaneous Coronary Intervention (Primary PCI), Senjata
“Baru”untuk Melawan Serangan Jantung Akut. Jurnal Med Hosp 2012; vol 1 (2) : 139-
142
Udjianti, Wajan Juni. 2010. Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta : Salemba Medik