Anda di halaman 1dari 7

Alat kontrasepsi dalam rahim

A. Definisi AKDR

Definisi AKDR adalah lalat kontrasepsi yang terbuat dari plastik disertai barium sulfat ( agar
terlihat melalui sinar X atau sonografi ), dan mengandung tembaga ( Cu T 380A ParaGard
produksi Ortho ),progesteron ( Progesterone T Progestasert System produksi ALZA Corporation
), atau levonorgestrel ( mirena produksi Berlex). Alat ini dimasukkan kedalam ruang
endometrium,melalui kanalis servikalis, serta memiliki ujung monofilamen nilon yang
membentang dari serviks ke vagina. AKDR bekerja terutama dengan mencegah sperma
membuahi ovum. Ketika AKDR ini bekerja dengan menciptakan infeksi lokal dan meningkatkan
cairan dalam tuba dan uterus yang dapat mengganggu transportasi sperma maupun ovum. Selain
itu, Mirena dan Progestasert mempertebal mukus serviks serta mengganggu aktivitas
endometrium sehingga menghambat gerakan sperma.

B. Keefektifan
1. Sebesar 97-99 % efektif
2. Durasi keefektifan
a. ParaGard- efektif selama 10 tahun
b. Mirena – efektif selama 5 tahun
c. Progestasert – efektif selama 1 tahun
C. Keuntungan
1. Merupakan metode yang relatif bebas – perawatan
2. Efektivitas tinggi
3. Mirena
a. Penurunan insidens perdarahan : sebanyak 20 % akan mengalami amonere setelah
1 tahun
b. Merupakan terapi tambahan pada terapi awal menopause
D. Kerugian
1. Perdarahan menstruasi atau bercak intramenstruasi yang banyak ( lebih sering pada
pemakaian ParaGard dibandingkan dengan mirena )
2. Nyeri dan rasa kram ( menurun seiring waktu )
3. Kemungkinan ekspulsi,terutama selama 6 bulan pertama penggunaan
4. Kemungkinan perlekatan atau perforasi uterus
5. Peningkatan resiko PRP
6. Resiko lebih tinggi terinfeksi HIV ( pada penggunaan AKDR )
E. Kontra indikasi
1. Absolut
a. Infeksi panggul aktif ( akut atau subakut ), termasuk gonore atau klamidia yang
diduga atau diketahui
b. Kehamilan yang diduga atau telah diketahui
2. Relatif kuat
a. Nulipara
b. Memiliki banyak pasangan seksual atau kecenderungan yang kuat,bahwa wanita
tersebut akan memiliki pasangan selama memakai AKDR
c. Pasangan seksual multipel pada pasangan pengguna AKDR
d. Endometritis pascapartum atau aborsi yang terinfeksi pada tahun tersebut
e. Servisitis akut atau purulen
f. Gangguan perdarahan yang belum terdiagnosis
g. Riwayat kehamilan ektopik atau kondisi yang dapat mencetuskan terjadi kasus ini
h. Periode tunggal infeksi panggul, jika pasien ingin hamil lagi
i. Imunosupresi – AIDS,diabets,terapi kortikosterosid,dan sebagainya
j. Gangguan koagulais darah
k. Kehamilan sebelumnya saat pasien maish memakai AKDR
l. Riwayat atau diagnosis HPV terkini pada serviks
3. Kondisi lain yang mengontraindikasi pemasangan AKDR
a. Penyakit katup jantung ( berpotensi membuat pasien rentan terkena endokarditis
bakterial subakut )
b. Keganasan pada endometrium atau serviks
c. Stenosis serviks berat
d. Uterus berdiameter kecil, diduga kurang dari 6 cm
e. Polip endometrium
f. Abnormalitas uterus kongenital atau fibroid yang dapat menghalangi penempatan
g. Alergi terhadap tembaga ( kuprum )
h. Ketidak mampuan memantau tali AKDR
i. Riwayat gonore,klamadia, herpes,sifilis atau PRP
j. Aktinomikosis genital
k. Masalah terdahulu pernah mengalami ekspulsi AKDR
l. Rabas atau infeksi vagina
F. Penatalaksanaan
1. Wawancara dan pengkajian fisik lengkap,termasuk uji pap smear terbaru harus
tercantum dalam catatan pasien.
a. Setiap kemungkinan adanya IMS atau kehamilan harus dicari tahu
b. AKDR dapat dipasang saat pemeriksaan pascapartum
c. Pasien yang datang pernah berkunjung, memerlukan kunjungan awal, uji pap
smear jika pasien tidak melakukannya dalam 1 tahun, kultur klamidia,serta kultur
gonore. AKDR akan dipasang pada kunjungan kedua
2. Semua pasien harus membaca, mendiskusikan, dan menandatangani persetujuan
tindakan pemasangan AKDR
3. Pemasangan pada waktu kapanpun dari silus menstruasi masih diperbolehkan. Namun
, faktor-faktor berikut ini perlu dipertimbangakan saat pemasangan AKDR
a. Infeksi dan laju eskpulsi lebih tinggi bila AKDR dipasang saat menstruasi.
b. Serviks berdilitasi pada siklus pertengahan sama seperti saat menstruasi sehingga
AKDR dapat dipasang semudah waktu siklus pertengahan, namun dnegan laju
infeksi dan ekspulsi yang lebih rendah.
c. Pemasangan setelah hari ke 18 siklus dapat berakibat lebih nyeri dan perdarahan
singkat
d. Bila pasien bersenggama tanpa alat kontrasepsi sejak hari menstruasi terakhir atau
sejak pelahiran,harus diperiksa adanya kehamilan
4. Prosedur berikut ini perlu dipatuhi, saat memasang AKDR :
a. Ingatkan pasien untuk bergerak perlahan dan hati-hati saat pemasangan AKDR.
Bacalah selalu aturan pakai AKDR khusus yang anda pasang
b. Setengah jam setelah pemasangan, pertimbangkan untuk memberi inhibitor
prostaglandin, seperti ibuprofen untuk mengatasi ketidaknyamanan.
c. Jelaskan prosedur untuk membantu pasien relaks
d. Perlihatkan dan jelaskan tentangt AKDR
e. Lakukan pemeriksaan bimanual untuk memastikan posisi uterus. Perforasi paling
sering terjadi pada uterus yang berada dalam keadaan retrofleksi yang tidak
terdiagnosis sebelum AKDR terpasang
f. Perlihatkan seriks dan bersihkan serviks dengan larutan antiseptik, misalnya
larutan yodium 1:2500. Bila yodium tersedia dalam bentuk larutan,lakukan uji
alergi terhadap yodium
g. Pertimbangkan pemberian inkeis anastesi lokal intraserviks pada proses
pemasangan atau gunakan Hurricaine Spray
h. Genggam bibir anterior serviks dengan tenakulum, kira-kira 1,5 – 2 cm dari
tulang jia uterus dalam keadaan antervesi. Bila posisi uterus retroversi, genggam
bagian posterior serviks. Penggunaan tenakulum tidak selalu diperlukan, namun
umunya direkomendasikan
i. Pasang sonde uterus perlahan dan hati-hati. Letakkan kapas pada serviks saat
sonde dipasang. Angkatsonde dan kapas pada waktu yang sama. Tindakan ini
dapat memfasilitasi pengukuran tinggi uterus sampai 0,25 cm
j. Pasang AKDR kedalam barel penginsersi dengan tehnik steril
k. Lakukan traksi lembut pada tenakulum dan masukan sampai abrel penginsersi
kedalam kanalis serviks sampai ke fundus
l. Masukkan AKDR kedalam rongga tersebut,sesuai intruksi AKDR
m. Pada kelompok wanita ayang tidak hamil selama beberapa tahun, perlu diberikan
kewaspadaan mengenai latihan prosedur. Mereka lebih cenderung mengalami
serangan vasovagal dan nyeri pasca-pemasangan. Masalah ini juga umum terjadi
pada wanita yang sedang cemas atau mereka yang memiliki kanalis servikalis
yang smepit, ruang uterus yang kecil,lambung dalam keadaan kosong atau riwayat
pingsan
n. Bila menggunakan AKDR yang bertali, jepit tali tersebut. Biarkan menjuntai
sampai 5 cm. hal ini memungkinkan untuk memotongnya pada waktu nanti.
Pastikan untuk slalu mencatat panjang tali pada catatan pasien
o. Biarkan pasien merasakan sendiri tali AKDR tersebut sebelum meninggalkan
ruang pemeriksaan. Pasien perlu pula diingatkan untuk merasakan AKDR snediri,
setiap masa setelah menstruasi.
5. Dianjurkan kontrol setelah menstruasi pertama atau saat pascapartum, ia harus
memeriksa ulang setelah 2 minggu
G. Efek samping dan indikasi
1. Bercak, perdarahan, hemoragi dan anemia ; sekitar 15 % wanita akan memutuskan
untuk melepas AKDR- nya karena peningkatan aliran menstruasi, kram pada masa
menstruasi, bercak serta perdarahan
2. Kram dan nyeri
a. Kram, ringan sampai sedang yang terjadi segera setelah pemasangan AKDR dan
berlangsung selama beberapa hari : kontrol disertai pemberian obat
b. Kram berat :
(1) Bila kondisi ini terjadi setelah pemasangan pertimbangkan untuk melepas
AKDR
(2) Konfirmasi bila terjadi PRP
3. Ekspulsi AKDR ( sebagian atau komplet ) :pasien harus waspada terhadap tanda dan
gejala ekspulsi AKDR, seperti pemanjangan atau hilangnya tali AKDR,
meningkatkan rasa kram, bercak intermenstruasi atau pascakoitus,dispareunia, atau
meningkatnya rabas vagina.
a. Bagian AKDR yang tampak mencuat, harus dikeluarkan
b. Tali AKDR yang hilang dapat mengindikasikan eskpulsi atau perforasi uterus,
atau tali telah terdorong masuk kedalam kanalis servikalis atau uterus. Kanalis
servikalis, dapat dieksplorasi untuk menemukan tali tersebut. Jangan pernah
melakukan eskplorasi, sebelum uji kehamilan
(1) Tali akan menjadi jels terlihat bila menempatkan Cytobrush pada serviks dan
memutarnya
(2) Dengan bantuan ultrasonografi atau radiografi, letak tali yang lenyap akan
terlihat
(3) Bila AKDR berada dalm uterus, ruang endometrium perlu diperiksa dengan
forseps aligator, forsep set uterus, atau kurate novak
4. Perforasi uterus : konfirmasikan serta konsultasikan
5. Kehamilan
a. Kehamilan harus diindikasikan, untuk itu perlu diperiksa dnegan ultrasonografi
guna memastikan kehamilan ektopik, dan pantau bila terjadi kehamilan
intrauterus, letak AKDR, dan plasenta, konsultan bila perlu
b. AKDR harus dilepas secepatnya setelah pasien diketahui hamil
c. Bila AKDR tetap terpasang, akan diketahui, akan terdapat insidens yang lebih
tinggu pada aborsi spontan,aborsi septik,yang kehamilan ektopik
d. Bila pasien menginginkan aborsi atas kehendak sendiri, AKDR dapat dilepas pada
saat hamil
6. Aktinomikosis genitalis : normalnya spesies aktinomikosisetes ditemkan pada saluran
cerna. Spesies ini berperan dalam terjadinya endometritis, PRP,abses panggul dan
abdominal. Aktinomikosis yang ditemukan pada uji pap smear menunjukan infeksi
genitalia.
a. Tidak ada tanda dan gejala : beritahu pasien dan pantau tanda atau gejala PRP
secara cermat. Pertimbangkan pemberian antibiotik, seperti doksisiklin 100 mg
2X sehari selama 14 hari. Anjurkan uji pap smear lain dalam 1-2 bulan. Bila
positif ditemukan aktinomikosisetes, diskusikan temuan ini kepada pasien,lalu
lepas AKDR, atau jelaskan kepadanya untuk memantau tanda dan gejala PRP
b. Gejala PRP : atasi dengan obat antibiotik sesuai pedoman Centers for Disease
Control and Provention (CDC), lalu lepas AKDR dan segera tangani PRP
7. PRP
a. Lepas AKDR sesegera mungkin jika di diagnosis PRP
b. Berikan terapin yang cepat, CDC merekomendasikan sebagai berikut :
(1) Program A : Ofloksasin 400 mg per oral 2X sehari selama 14 hari, ditambah
metrodinazol ( Flagyl ) 500 mg per oral 2X sehari selama 14 hari
(2) Program B :Cefriakson ( Rocephin ) 250 mg IM, atau Cefoksitin 2 g IM dan
probenesid, 1 g per oral secara bersamaan ditambah doksisiklin 100 mg per
oral 2X sehari selama 10-14 hari
H. Pelepasan
1. Pelepasan AKDR selama menstruasi sedikit lebih mudah
2. Prosedur pelepasan sebagai berikut :
a. Hindari putusnya tali dengan cara menarik secara mantap dan perlahan, serta
lepaskan AKDR secara perlahan. Bila AKDR tidak mudah dikeluarkan,lakukan
sonde uterus dan secara perlahan putar sonde 900
b. Bila dengan penarikan lembut AKDR tidak lepas, konsultasikan untuk tindakan
dilaktasi dan kuretase

( sumber referensi buku : Morgan, Geri, dkk, OBSTETRI & GINEKOLOGI,2009, jakarta)