Anda di halaman 1dari 4

9

MODUL 3
ROUTING SHEET

3.1 Pengertian Routing Sheet

Routing sheet atau lembar pengurutan merupakan langkah-langkah yang


dicakup dalam memproduksi komponen tertentu dan rincian yang perlu diketahui
dari hal-hal yang saling berkaitan satu sama lain. Sebuah routing sheet menujukan
secara detail mengenai operasi yang dibutuhkan untuk sebuah bagian dalam
sebuah produksi. Hal ini memungkinkan juga untuk mengatur waktu untuk setiap
operasi dan setiap mesin. Proses routing ini menyimpulkan langkah-langkah
operasi yang diperlukan untuk merubah bahan baku menjadi produk yang
dikehendaki dimana untuk itu beberapa informasi harus menyertai di dalam
langkah ini yaitu nama dan komponen yang akan dibuat, nomor dari gambar kerja
dari komponen tersebut, macam operasi kerja dan nomor operasinya, mesin dan
peralatan produksi yang dipakai, serta waktu standar yang ditetapkan untuk
masing-masing operasi kerja (Apple, 1990).
Mesin, perkakas, peralatan pembantu seperti jigs dan fixture, dan lain-lain
yang harus dicantumkan secara spesifik didalam proses routing ini karena pada
akhirnya perencanaan tata letak pabrik akan ditujukan untuk mengatur semua
fasilitas produksi ini. Routing sheet menghasilkan beberapa informasi yang
diperlukan dalam perancangan tata letak fasilitas yaitu jumlah mesin teoritis yang
diperlukan untuk setiap proses pengerjaan, banyaknya siklus mesin dan bahan
baku yang diperlukan, memperbaiki metode kerja, dengan menurunkan waktu
standar, dan menentukan apakah waktu lembur lebih murah dibanding
penambahan mesin, serta menentukan apakah kerusakan mesin dapat
mengganggu seluruh lintasan produksi. Pembuatan Routing sheet memerlukan
data-data sebagai berikut yaitu kapasitas mesin, persentase scrap, dan efisiensi
mesin (Apple, 1990).Suatu langkah dasar dalam pengaturan tata letak pabrik yang
baik adalah dengan menentukan jumlah mesin atau peralatan produksi yang
dibutuhkan secara tepat. Tentu saja di samping penentuan jumlah mesin ini, suatu
keputusan yang tepat di dalam pemilihan jenis atau tipe mesinnya itu sendiri juga
merupakan langkah yang harus diperhatikan benar-benar. Pemilihan alternatif
penggunaan tipe mesin tertentu pada dasarnya akan dilandasi dengan
pertimbangan- pertimbangan yang bersifat tekni
dan ekonomis. Untuk keperluan penentuan jumlah mesin yang dibutuhkan, maka
di sini terdapat beberapa informasi yang harus diketahui sebelumnya, yaitu
volume produksi yang dicapai, estimasi scrap pada setiap proses operasi, dan
waktu kerja standar untuk proses operasi yang berlangsung (Wignjosoebroto,
2009).

10
3.2 Laporan dan Tabel. Routing Sheet

Scrap Good Pieces to Machine Machine


OPT Cycle Eff
No NEXT OPT Description Equipment MPPH Losses Piecces be Req Req
CODE Time Product
(%) Req Started (Theory) (Actual)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Kaki Meja
C-1 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 2,00 2,00 210,58 5,26 5
C-2 Memotong Gergaji 56 1,07 0,02 2,00 2,00 222,28 3,97 4
C-3 Menghaluskan Gerinda 52 1,15 0,01 2,00 2,00 222,24 4,27 4
C-4 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 2,00 2,00 222,22 5,56 6
C-5 Bending Alat Bending 38 1,58 0,00 2,00 2,00 222,22 5,85 6
C-6 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 2,00 2,00 222,22 5,56 6
C-7 Drill (4) Mesin Drill 40 1,50 0,00 2,00 2,00 222,22 5,56 6
Tiang
C-8 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 2,00 2,00 211,01 5,28 5
C-9 Memotong Gergaji 56 1,07 0,21 2,00 2,00 222,73 3,98 4
C-10 Menghaluskan Gerinda 52 1,15 0,02 2,00 2,00 222,26 4,27 4
C-11 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 2,00 2,00 222,22 5,56 6
C-12 Drill (4) Mesin Drill 40 1,50 0,00 2,00 2,00 222,22 5,56 6
Perakitan 1
C-13 Mengelas Mesin Las 54 1,11 0,00 2,00 2,00 210,53 3,90 4
Besi Penyangga (2)
C-14 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 4,01 4,01 422,27 10,56 11
C-15 Memotong Gergaji 56 1,07 0,24 4,00 4,01 445,73 7,96 8
C-16 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 4,00 4,00 444,67 11,12 11
C-17 Bending Ragum 38 1,58 0,00 4,00 4,00 444,67 11,70 12
C-18 Menghaluskan Gerinda 52 1,15 0,03 4,00 4,00 444,67 8,55 9
C-19 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 4,00 4,00 444,52 11,11 11
C-20 Drill Mesin Drill 40 1,50 0,02 4,00 4,00 444,52 11,11 11
Papan
C-21 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 2,00 2,00 210,53 5,26 5
C-22 Memotong Gergaji 56 1,07 0,00 2,00 2,00 222,22 3,97 4
C-23 Menghaluskan Mesin Amplas 52 1,15 0,00 2,00 2,00 222,22 4,27 4
C-24 Pernis Kuas 80 0,75 0,00 2,00 2,00 222,22 2,78 3
C-25 Mengukur Meteran 40 1,50 0,00 2,00 2,00 222,22 5,56 6
C-26 Drill Mesin Drill 40 1,50 0,00 2,00 2,00 222,22 5,56 6
Perakitan 2
C-27 Merakit Meja Perakitan 40 1,50 0,00 2,00 2,00 210,53 5,26 5
Perakitan 3
C-28 Pengecatan Meja Perakitan 80 0,75 0,00 2,00 2,00 210,53 2,63 3
Pemeriksaan 1
I-1 Memeriksa Meja Pemeriksaan 120 0,50 0,00 2,00 2,00 210,53 1,75 2

Variabel routing sheet merupakan suatu lembaran yang terdiri dari beberapa
kolom perhitungan. Kolom 1 merupakan nomor operasi, dimana berisi nomor urut
operasi-operasi yang dilakukan dalam menghasilkan suatu produk. Kolom 2
merupakan deskripsi yaitu nama operasi yang dilakukan pada urutan nomor urut
operasi. Kolom 3 merupakan nama mesin yaitu nama mesin yang digunakan pada
setiap operasi sesuai dengan urutan mesin yang digunakan. Kolom 4 merupakan
produksi mesin/jam, dimana berisi banyak unit produk yang dihasilkan dalam
waktu 1 jam atau 60 menit (Elib Unikom, 2013).

60 menit
Produksi Mesin/Jam =
Waktu Operasi

Kolom 5 merupakan scrap yaitu jumlah buangan bahan baku atau persentase

10
kerusakan yang diperkirakan, yang dilakukan dalam satu operasi (dalam %).
Kolom 6 merupakan bahan diminta. Bahan diminta merupakan jumlah bahan
yang diharapkan setelah melalui suatu proses. Perhitungan bahan diminta pertama
kali dilakukan pada proses terakhir dari produk akhir, dimana jumlah produk awal
yang digunakan pada perhitungan bahan diminta, sehingga bahan

disiapkan dapat dihitung. Kolom 7 merupakan bahan disiapkan. Kolom jumlah


bahan yang harus disiapkan, berisi jumlah bahan yang harus tersedia dengan
mempertimbangkan persen scrap sebelum melakukan proses operasi tertentu.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung bahan yang disiapkan yaitu (Elib
Unikom, 2013). Bahan yang disiapkan =
Bahan yang diminta 1- %scrapKolom 8
merupakan efisiensi mesin yaitu tingkat pemanfaatan mesin. Kolom 9 merupakan
jumlah mesin teoritis (JMT) yaitu jumlah mesin secara teoritis untuk setiap
operasi sesuai dengan peta proses operasi. Kolom 10 merupakan jumlah mesin
aktual. Kolom ini berisi tentang jumlah mesin yang akan digunakan pada proses
produksi, dimana diperoleh dari pembulatan hasil pada jumlah mesin teoritis.
Persamaan yang digunakan untuk perhitungan efisiensi mesin dan jumlah mesin
teoritis dapat dilihat di bawah ini (Elib Unikom, 2013).

Efisiensi M esin
Jumlah M esin Teoritis =
mesin kerja
Produksi × Reabilitas × Jam
jam hari

11