Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat.
Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan
zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau
solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi
larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut
pelarutan atau solvasi.

Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut
di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut
dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan
jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta
(part per million, ppm). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan
sebagai encer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi).

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat
terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat
terlarut). Hukum Roult merupakan dasar dari sifat koligatif larutan. Keempat sifat itu ialah:

 Penurunan tekanan uap relatif terhadap tekanan uap pelarut murni.


 Peningkatan titik didih
 Penurunan titik beku
 Gejala tekanan osmotik.

Sifat koligatif larutan dapat dibedakan menjadai dua macam, yaitu sifat larutan nonelektrolit
dan elektrolit. Hal itu disebabkan zat terlarut dalam larutan elektrolit bertambah jumlahnya
karena terurai menjadi ion-ion, sedangkan zat terlarut pada larutan nonelektrolit jumlahnya
tetap karena tidak terurai menjadi ion-ion, sesuai dengan hal-hal tersebut maka sifat koligatif
larutan nonelektrolit lebih rendah daripada sifat koligatif larutan elektrolit. Larutan
merupakan suatu campuran yang homogen dan dapat berwujud padatan, maupun cairan.
Akan tetapi larutan yang paling umum dijumpai adalah larutan cair, dimana suatu zat tertentu
dilarutkan dalam pelarut berwujud cairan yang sesuai hingga konsentrasi tertentu.

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat larutan itu
sendiri. Namun sebelum itu kita harus mengetahui hal- hal berikut:

• Molar, yaitu jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan

• Molal,yaitu jumlah mol zat terlarut dalam 1 kg larutan


• Fraksi mol, yaitu perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol zat pelarut dan zat
terlarut.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan titik didih larutan?

2. Apa saja faktor yang mempengaruhi titik didih larutan?

3. Bagaimana kenaikan titik didih pada larutan elektrolit?

4. Bagaimana kenaikan titik didih pada larutan non elektrolit?

5. Bagaimana menyelesaikan pertanyaan yang berkatan dengan kenaikan titik didih?

C. Tujuan

1. Menguraikan kenaikan titik didih

2. Menguraikan faktor yang mempengaruhi titik didih larutan.

3. Menguraikan kenaikan titik didih pada larutan elektrolit.

4. Menguraikan kenaikan titik didih pada larutan non elektrolit.

5. Menyelesaikan pertanyaan yang berkatan dengan kenaikan titik didih?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Kenaikan Titik Didih

Titik didih larutan selalu lebih tinggi dibandingkan titik didih pelarut. hal sebaliknya berlaku
pada titik beku larutan yang lebih rendah dibandingkan pelarut. Sifat ini dirumuskan sebagai
berikut :

Bila suatu zat cair dinaikkan suhunya, maka semakin banyak zat cair yang menguap. Pada
suhu tertentu jumlah uap diatas permukaan zat cair akan menimbulkan tekanan uap yang
sama dengan tekanan udara luar. Keadaan saat tekanan uap zat cair diatas permukaan zat cair
tersebut sama dengan tekanan udara disekitarnya disebut mendidih dan suhu ketika tekanan
uap diatas pemukaan cairan sama dengan tekanan uap luar disebut titik didih. Pada saat zat
konvalatil ditambahkan kedalam larutan maka akan terjadi kenaikan titik didih dari larutan
tersebut.

Titik didih air murni pada tekanan 1 atm adalah 100 C. Hal itu berarti tekanan uap air murni
akan mencapai 1 atm ( sama dengan tekanan udara luar) pada saat air dipanaskan sampai 100
C. Dengan demikian bila tekanan udara luar kurang dari 1 atm (misalnya dipuncak gunung)
maka titik didih air kurang dari 100 C.

Bila kedalam air murni dilarutkan suatu zat yang sukar menguap, maka pada suhu 100 C
tekanan uap air belum mencapai 1 atm dan berarti air itu belum mendidih. Untuk dapat
mendidih ( tekanan uap air mencapai 1 atm) maka diperlukan suhu yang lebih tinggi.
Besarnya kenaikan suhu itulah yang disebut kenaikan titik didih.

Menurut hukum Roult, besarnya kenaikan titik didih larutan sebanding dengan hasil kali
molalitas larutan (m) dan kenaikan titik didih molalnya (Kb). Dapat dirumuskan sebagai:

Δ Tb = Kb . m

Jika

M = n x (1000/P)

Maka rumus diatas dapat dinyatakan sebagai berikut:

Tb = Kb ( n x 1000 )

Tb = besar kenaiakan titik didih

Kb = konstanta kenaikan titik didih


m = molalitas dari zat terlarut

n = jumlah mol zat terlarut

p = massa pelarut

Harga Kb bervariasi untuk masing-masing pelarut. Kb diperoleh dengan mengukur kenaikan


titik didih dari larutan encer yang molalitasnya diketahui (artinya, mengandung zat terlarut
yang diketahui jumlah dan massa molalnya). Titik didih larutan merupakan titik didih pelarut
murni ditambah dengan kenaikan titik didihnya atau Tb = Tb + Tb (Oxtoby, 2001).

B. Faktor Yang Mempengaruhi Titik Didih Larutan

Faktor yang mempengaruhi kenaikan titik didih adalah konsentrasi (molalitas) dan harga Kb.

 Semakin tinggi konsentrasi, kenaikan titik didih larutan semakin tinggi.


 Semakin tinggi harga Kb, kenaikan titik didih larutan semakin tinggi.

C. Kenaikan Titik Didih Larutan Elektrolit

Sifat koligatif larutan hanya bergantung pada banyaknya zat terlarut sehingga sifat koligatif
larutan elektrolit selalu lebih tinggi dibandingkan dengan larutan nonelektrolit.

Satu molal gula pasir dapat meningkatkan titik didih hingga 1,86°C. Adapun satu molal
larutan garam dapur dapat meningkatkan titik didih menjadi dua kali lipat atau setara dengan
3,72°C. Kenaikan titik didih larutan MgCl2 1 m menjadi tiga kali lebih tinggi dibandingkan
larutan gula pasir sebab dalam larutan MgCl2 terbentuk tiga mol ion, yaitu satu mol ion
Mg2+ dan dua mol ion Cl–. Persamaan ionnya: MgCl2(aq) → Mg2+(aq) + 2Cl–(aq)

Untuk larutan elektrolit lemah, seperti CH3COOH dan HF, kenaikan titik didih berkisar di
antara larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit sebab larutan elektrolit lemah terionisasi
sebagian.

Hubungan antara jumlah mol zat terlarut dan jumlah mol ionnya di dalam larutan telah
dipelajari oleh van’t Hoff, yang dinamakan faktor van’t Hoff, dan dilambangkan dengan i.

∆Tb = Kb . m . i

∆Tb = kenaikan titik didih larutan

Kb = tetapan titik didih larutan


m = kemolalan

i = faktor van’t Hoff

i = 1 + (n – 1) α

D. Kenaikan Titik Didih Larutan Non Elektrolit

Untuk larutan nonelektrolit encer, besarnya i= 1 karena tidak mengalami ionisasi


sehingga kenaikan titik didih sebanding dengan jumlah zat terlarut relatif terhadap massa

pelarut

Garis AB adalah garis didih air, artinya pada setiap titik pada garis AB terdapat
kesetimbangan antara cair dan gas. Garis AC adalah garis beku air, artinya setiap garis AC
terdapat kesetimbangan antara padat dan cair. Titik A disebut titik tripel air, artinya pada titik
A itu tercapai kesetimbangan antara caur, padat, dan gas. Suhu pada titik tripel itu adalah
0,0099 oC dan tekanannya 0,0060 atm. Pada tekanan udara luar 1 atm, air mendidih pada
suhu 100 oC (titik B). selisih titik didih larutan dengan titik didih pelarut disebut kenaikan
titik didih (∆Tb).
∆Tb = titik didih (Tb) larutan – titik didih (Tb) pelarut
Atau
∆Tb = Tb larutan – 100 oC
Kenaikan titik didih dirumuskan sebagai berikut.
∆Tb = Kb x m

Keterangan: ∆Tb = kenaikan titik didih larutan (oC)


Kb = tetapan kenaikan titik didih molal (oC/m)
m = molalitas larutan (mol/kg)

E.Contoh Soal 1

Tentukan kenaikan titik didih larutan gula 0,2 molal jika Kb air = 0,52 °C /molal!

Jawab:

Diketahui:

m = 0,2 molal

Kb air = 0,52 °C /molal

Ditanyakan: ΔTb =?

Penyelesaian:

ΔTb = m.Kb

ΔTb = 0,2 molal. 0,52 °C /molal

ΔTb = = 0,104 °C

Jadi, kenaikan titik didih larutan gula tersebut adalah 0,104 °C.

Contoh Soal 2

Suatu zat nonelektrolit yang massanya 3,42 gram dilarutkan dalam 200 gram air. Larutan itu

mendidih pada suhu 100,026 °C. Tentukan massa molekul zat tersebut jika Kb air = 0,52

°C/molal.

Jawab:
Diketahui:

massa nonelektrolit = 3,42 gr

massa air = 200 gr = 0,2 kg

Δ Tb = 100,026 °C

Kb air = 0,52 °C/molal

Ditanyakan: Mr nonelektrolit = ?

Penyelesaian:

ΔTb = titik didih larutan - titik didih pelarut

ΔTb = 100,026 °C - 100 °C

ΔTb = 0,026 °C

ΔTb = m.Kb

0,026 °C = m. 0,52 °C/molal

m = 0,026 °C/(0,52 °C/molal)

m = 0,05 molal

m = n/p

0,05 molal = n/0,2 kg

n = 0,05 molal.0,2 kg

n = 0,01 mol

n = massa/Mr

Mr = massa/n

Mr = 3,42 gr/0,01 mol


Mr = 342 gr/mol

Jadi, massa molekul relatif zat nonelektrolit tersebut adalah 342 gr/mol.

3. Suatu larutan mengandung 3,24 gram zat yang tak mudah menguap juga nonelektolit dan

200 gram air mendidih pada 100,130°C pada 1 atmosfer. Berapakah berat molekul zat

telarut? Kd molal air adalah 0,51?

Jawab:

∆Tb = 100,13-100 = 0,13

∆Tb = Kb x m

0,13 = 0,51 x m

m = 0,25

0,25 = mol x 1000/200

Mol = 0,25/5 = 0,05

Mr = gram/mol = 3,24/0,05 = 64,8


BAB III

KESIMPULAN

Titik didih larutan adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan sama dengan tekanan
luarnya (tekanan pada permukaan cairan) disebut dengan titik didih. Jika tekanan uap sama
dengan tekanan luar, maka gelembung uap yang terbentuk dalam cairan dapat mendorong diri
ke permukaan menuju fase gas.