Anda di halaman 1dari 117

KOPERASI DAN UMKM

(Dari Teori Sampai Manajemen )

Penulis:
Khaeruman
Ahmad Mukhlis

PENERBIT:
YAYASAN RELAWAN SOSIAL EKONOMI

i
KOPERASI DAN UMKM
(Dari Teori Sampai Manajemen )

Penulis:
Khaeruman
Ahmad Mukhlis

ISBN : 978-602-52767-0-5

Editor:
Syamsul Hidayat

Penyunting:
Hafidz Hanafiah

Penerbit:
Yayasan Relawan Sosial Ekonomi
Taman Banten Lestari Blok J6C No. 46
Warung Jaud, Kasemen, Kota Serang, 42119 Prov. Banten
Telp. 0254-7923774
Email: relawansosialekonomi@gmail.com

Cetakan Pertama, September 2018

Copyright © 2018 Yayasan Relawan Sosial Ekonomi


Hak cipta dilindungi undang -undang
All right reserved
ii
KATA PENGANTAR

Seraya memanjatkan puji dan syukur kekhadirat


Allah SWT. atas limpahan rahmat dan karuniaNya buku ini
dapat diselesaikan. Hanya kepada-Nya kami memohon
pertolongan dan kemudahan dalam segala urusan.
Allahumma salli ‘ala Muhammad, Shalawat dan salam penulis
panjatkan kepada junjungan baginda Nabi besar kita Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan kaum
muslimin muslimat yang mengikuti jejak tingkah lakunya
sampai akhir zaman.
Buku Koperasi dan UMKM ini merupakan buku
yang berkaitan dengan koperasi dan UMKM beserta bagian
yang berkaitan didalamnya. Buku ini disusun sebagai buku
ajar atau sebagai buku referensi dapat membantu dalam
mempelajari dan memahami tetang koperasi atau
perkoperasian dan UMKM di indonesia.
Sudah pasti buku ini jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis sangat berterima kasih apabila para
pembaca memberi kritik dan saran atas materi dan cakupan
materi buku ini. Dengan kritik dan saran yang
disampaikan, penulis berharap di masa yang akan datang
buku ini dapat menjadi lebih lengkap dan sempurna.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan
terimakasih kepada :
1. Allah SWT, yang memberikan Rahmat dan KaruniaNya
sehingga penulis diberikan kemudahan dalam
menyelesaikan buku ini.

iii
2. Kedua orang tua yang selalu memberikan duku ngan
dan do’a kepada penulis sehingga buku ini dapat
selesai.
Akhir kata penulis menyampaikan terima kasih
kepada pihak-pihak yang tidak dapat disebut satu per satu
yang telah membantu dari persiapan hingga buku ini dapat
dipergunakan.

Serang, September 2018

Penulis

iv
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................... iii


DAFTAR ISI ......................................................................... v

BAB 1
PENDAHULUAN ................................................................ 1

BAB 2
KOPERASI............................................................................ 8
A. Pengertian Koperasi dan Perkoperasian .................... 8
B. Tujuan, Fungsi dan Peran Koperasi Di Indonesia .... 13
C. Bentuk dan Struktur Koperas i ..................................... 14
D. Prinsip-Prinsip Koperasi ............................................... 19
E. Koperasi dalam Pandangan Pemerintah .................... 22

BAB 3
UMKM................................................................................... 32
A. Definisi UMKM .............................................................. 32
B. Prinsip-prinsip UMKM ................................................. 33
C. Permasalahan UMKM ................................................... 35
D. UMKM dalam Pandangan Pemerintah ...................... 43
E. Hambatan dalam Pemberdayaan UMKM di
Indonesia ......................................................................... 48

BAB 4
STRATEGI DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN
UMKM................................................................................... 52
A. Dasar Strategi dan Kebijakan UMKM ......................... 52
B. Strategi Model dan Pengembakan UMKM ................ 55
v
C. Kebijakan Pengembangan UMKM .............................. 62
D. Faktor yang mempengaruhi Pengembangan
UMKM ............................................................................. 67

BAB 5
EKONOMI KREATIF DAN INOVATIF ........................ 74
A. Pengertian Ekonomi Kreatif dan Inovatif ................... 74
B. Teori Ekonomi Biaya Transaksi ................................... 76
C. Konsep Masyarakat Ekonomi ...................................... 78
D. Pemanfaatan Teknologi ................................................. 80

BAB 6
KOMPETENSI DAN KINERJA PELAKU UMKM ....... 86
A. Kompetensi ..................................................................... 86
B. Karakteristik Kompetensi ............................................. 89
C. Faktor yang Mempengaruhi Kompetensi ................... 92
D. Kinerja.............................................................................. 93
E. Pengukuran Kinerja ....................................................... 94
F. Penilaian Kinerja ............................................................ 94
G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja ............... 98
H. Tujuan Penilaian Kinerja ............................................... 99
I. Peran Kompetensi dan Kinerja Pelaku UMKM di
Indonesia ......................................................................... 100

DAFTAR PUSTAKA .......................................................... 106


DAFTAR ISTLAH .............................................................. 108

vi
BAB 1 Pendahuluan

BAB 1
PENDAHULUAN

1
BAB 1 Pendahuluan

PENDAHULUAN

Ekonomi berjalan akibat adanya sistem, dimana


suatu sistem ekonomi merupakan sekumpulan institusi
ekonomi yang memiliki keteraturan, dimana setiap institusi
ekonomi tersebut bersifa t saling mempengaruhi dalam
pencapaian tujuan bersama dalam perekonomian. Suatu
sistem yang berlaku dalam sejarah peradaban manusia
antara lain despotisme. Sistem depostime mengatur
ekonomi sebagai otoritas tunggal. Namun sesuai
perkembangan jaman pada sis tem modern dapat merujuk
sistem kapitalis dan sosialisme. Menurut M. Nur Rianto Al-
Arif (2011) Kapitalisme merupakan sistem yang didasarkan
atas pertukaran yang suka rela pada pasar bebas.
Sedangkan sistem sosialisme mencoba mengatasi problem
produksi, distribusi, beserta konsumsi. Gagalnya kedua
sistem tersebut mengharuskan negara -negara untuk
menghasilkan sistem yang lebih baik.
Selain itu, Unsur-unsur yang harus terpenuhi dalam
sistem ekonomi adalah faktor -faktor produksi yang
terdapat dalam perekonomian , motivasi dan perilaku
pengambil keputusan atau pemain dalam sistem itu, proses
pengambilan keputusan dan lembaga -lembaga yang
terdapat di dalamnya. Sistem ekonomi merupakan sistem
yang memberikan solusi atas berbagai masalah yang
muncul dalam dunia perek onomian.
Kajian ekonomi dibagi menjadi ekonomi mikro
serta ekonomi makro. Ekonomi mikro mempelajari suatu
perilaku tiap individu dalam melakukan setiap unit

2
BAB 1 Pendahuluan

ekonomi. Yang dapat perperan sebagai konsumen, pekerja,


investor, pemilik tanah maupun perilaku se buah industri.
Pembahasan ekonomi mikro ekonomi dalam pembahasan
didasarkan pada teori. Teori dibangun Adiwarman, (2012).
untuk menerangkan fenomena yang terjadi dalam suatu
waktu dengan menggunakan hukum yang tidak
bertentangan dengan syariah. Dengan tuju an untuk
mendapatkan keyakinan yang kuat tentang teori ekonomi
Islam yang relevan dan dapat diterapkan di dunia nyata.
Kegiatan yang menunjang dari sebuah
perekonomian dimana produksi, distribusi dan konsumsi
menjadi sebuah mata rantai yang saling terhubun g.
Menurut ilmu ekonomi pengertian produksi adalah
kegiatan menghasilkan barang maupun jasa atau kegiatan
menambah nilai kegunaan atau manfaat suatu barang.
Konsep produksi secara umum dimana konsumen
menyukai produk yang tersedia di mana saja dengan harga
terjangkau. Maka pada saat seperti ini, perusahaan praktis
berkonsentrasi pada masalah produksi. Produksi
ditingkatkan terus menerus dan di edarkan dengan jalur
distribusi yang banyak.
Pengaruh dari UndangUndang No. 32 Tahun 2004
tersebut adalah pada terb entuknya daerah-daerah otonom.
Di mana dalam UndangUndang tersebut, dijelaskan bahwa
daerah otonom merupakan suatu kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas -batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut pra karsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pengertian
tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap daerah otonom
berhak mengatur pemerintahannya sendiri. Dengan kata
lain, pemerintahan di Indonesi a bukan hanya sekedar
tanggung jawab pemerintah pusat, akan tetapi juga

3
BAB 1 Pendahuluan

merupakan tanggung jawab dari pemerintah daerah itu


sendiri.
Akibat lain dari pemberian hak otonom tersebut
adalah adanya perubahan pada pendekatan pembangunan.
Pendekatan yang digunak an tidak lagi bersifat Top Down
dan sentralistis, tetapi lebih mengutamakan peran serta
masyarakat (Bottom Up) dan desentralisasi, seiring dengan
meningkatnya partisipasi dan tingginya gairah kehidupan
demokrasi di masyarakat.
Sesuai dengan pasal 33 ayat 1 UUD 1945 bahwa
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan. Hal ini lebih ditegaskan lagi dalam
penjelasan pasal 33 tersebut bahwa kemakmuran
masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran
orang seorang.
Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) adalah representasi rakyat Indonesia dalam
kehidupan ekonomi nasional, sehingga perlu diberikan
prioritas yang tinggi dalam pembangunan nasional. Untuk
itu, perlu disusun strategi pengembangan koperasi dan
UMKM di Indonesia yang terintegrasi, sistematis, dan
berkelanjutan.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan
bagian integral dunia usaha nasional, mempunyai
kedudukan, potensi, dan peranan yang sangat penting dan
strategis dalam mewujudkan tujuan pembangunan
ekonomi pada khususnya. Usaha kecil merupakan kegiatan
usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan
memberikan pelayanan ekonomi yang luas pada
masyarakat, dapat berperan dalam proses pemerataan dan
peningkatan pendapatan masyarakat serta mendorong
pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan
stabilitas nasional pada umumnya dan stabilitas ekonomi
pada khususnya.

4
BAB 1 Pendahuluan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah memberikan


kontribusi yang cukup besar terhadap pembentukan
produk nasional, peningkatan ekspor, perluasan
kesempatan kerja dan berusaha, serta peningkatan dan
pemerataan pendapatan. Keberadaan usaha kecil tidak
dapat dipisahkan dari pertumbuhan perekonomian secara
nasional, karena usaha kecil merupakan wujud kehidupan
ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia.
Dalam upaya membangun ekonomi nasional sub -
sektor industri mikro kecil dan menengah (UMKM) yang
dalam istilah sering disebutkan UKM ataupun usaha kecil.
Usaha kecil mendapat prioritas untuk dibina dan
dikembangkan dalam rangka memperkuat struktur
ekonomi nasional.
Sektor industri baik skala besar maupun skala
mikro, kecil, dan menengah merupakan salah satu sektor
yang turut memberikan kontribusi ( contributor) terhadap
pertumbuhan ekonomi nasional, oleh karena itu kebijakan
pembinaan dan pengembangan ( Development Policy)
terhadap masing-masing sub-sektor dilakukan secara
berkesinambungan dan program pembinaan senantiasa
dikembangkan sesuai dengan karakter dan permasalahan
yang dihadapi.
Untuk mengatasi permasalahan atau kendala yang
dihadapi para pengusaha kecil di dae rah-daerah, maka
dibutuhkan peran Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah Pemerintah, antara lain :
a. Memberikan bantuan pelatihan dalam bentuk pelatihan
kewirausahaan dan bimbingan teknologi (Bintek).
Dengan adanya program pembinaan tersebut akan
meningkatkan keterampilan teknis produksi,
kemampuan managerial, kemampuan inovasi produk
dan daya saing akan meningkat, sehingga akan
meningkatkan volume penjualan, mendorong

5
BAB 1 Pendahuluan

pertumbuhan unit usaha dan peningkatan struktur unit


usaha industri. (Mc Celland : 1993 dalam Simanjuntak:
1998).
b. Memberikan bantuan fasilitasi pemasaran hasil
produksi yaitu dengan cara promosi serta perluasan
jaringan pasar.
Melalui bantuan pemasaran tersebut masalah hasil
pemasaran produk dapat di atasi dan akhirnya akan
meningkatkan jumlah penjualan, berkembangnya usaha
dan mendorong perubahan struktur pertumbuhan
industri. (UU No. 9 Tahun 1995, pasal 16).

---oo0oo---

6
BAB 2 Koperasi

BAB 2
KOPERASI

A. Pengertian Koperasi dan Perkoperasian


B. Tujuan, Fungsi dan Peran Koperasi Di
Indonesia
C. Bentuk dan Struktur Koperasi
D. Prinsip-Prinsip Koperasi
E. Koperasi dalam Pandangan Pemerintah

7
BAB 2 Koperasi

KOPERASI

A. Pengertian Koperasi d an Perkoperasian


Sebelum menguraikan apa itu koperasi, secara
detail ada sebuah manajemen koperasi. Manajemen
koperasi adalah penting bagi para pembaca untuk
memahami terlebih dahulu pengertian koperasi dan
manajemen serta sejarah perkembangan ilmu man ajemen
secara umum. Dengan memahami pengertian koperasi
manajemen dan sejarah manajemen para pembaca
diharapkan memiliki pemahaman yang baik terhadap
palsafah koperasi dan manajemen baik sebagai ilmu
maupun manajemen sebagai seni sehingga pada gilirannya
akan lebih mudah untuk memahami konsepsi manajemen
koperasi.
Mencari definisi koperasi yang sesuai dengan
konsep manajemen koperasi dan definisi tersebut dapat
diterima secara logis adalah penting karena terdapat
puluhan definisi koperasi. Di berbagai ne gara, konsep
pemahaman koperasi akan berubah tergantung dari sudut
mana kita memandang. Dengan definisi yang sesuai, kita
akan mampu menentukan karakteristik koperasi yang
berlaku secara universal (umum). Berikut ini adalah
beberapa definisi dan pengerti an koperasi yang dapat
memperkuat landasan bagi manajemen koperasi.
• Istilah Koperasi, di mana kata tersebut berasal dari
Bahasa Inggris, Cooperation ( atau copetative) berarti
Kerjasama, yakni kata co yang berarti bersama -sama
dan operation yang berarti bekerja.
• Dari bahasa Belanda adalah Cooperatik.

8
BAB 2 Koperasi

• Koperasi bukan hanya berarti kerjasama, tetapi sudah


merupakan Lembaga Ekonomi yang merupakan bagian
dari pembangunan perekonomian suatu Negara.
• Koperasi adalah salah satu bangun usaha yang secara
legal ada dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945
pasal 33 ayat 1 berbunyi ; “Perekonomian disusun
berdasarkan usaha bersama berdasar asas
kekeluargaan”. (sebelum diamandemen, dalam
penjelasannya bangun usaha yang sesuai adalah
Koperasi).
• Koperasi sering disebut sebagai organisasi yang
‘demokrasi’ dan ‘partisipatif’.
• Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden RI dalam
pidato Hari Koperasi pertama tanggal 12 Juli 1951
bahwa koperasi mempunyai tugas dalam
meningkatkan kemakmuran dilihat dari tempat, waktu,
dan keadaan, yaitu : “(1) Memperbanyak produksi,
terutama produksi barang makanan dan barang
kerajinan dan pertukaran yang diperlukan sehari -hari
oleh rakyat kita dalam rumah tangganya; (2)
Memperbaiki kualitas barang yang dihasilkan rakyat;
(3) Memperbaiki distribusi, pembagi an barang kepada
rakyat; (4) Memperbaiki harga, yang menguntungkan
bagi masyarakat; (5) Menyingkirkan penghisapan dari
lintah darat; (6) Memperkuat pemanduan kapital; (7)
Memelihara lumbung simpanan padi atau mendorong
supaya tiap-tiap desa menghidupkan ke mbali lumbung
desa” (Mohammad Hatta, 1951: 11 -12).
• Konvensi PBB dan Sidang ILO tahun 2002 ,
Pembangunan koperasi harus secara jelas memberikan
kontribusi dalam pembangunan ekonomi, yaitu berupa:
a. Membantu meningkatkan produksi, antara lain
pangan dan menjaga stabilitas harganya.
b. Mendorong pengembangan inovasi dan persaingan
pasar.

9
BAB 2 Koperasi

c. Mendorong peningkatan dan pemerataan


pendapatan masyarakat.
d. memperkuat kesempatan kerja.
e. Merubah taraf hidup masyarakat
Pengertian koperasi menurut berbagai pendapat,
yaitu :
1. Menurut UU No. 25 tahun 1992, koperasi Indonesia
didefiniskan sebagai ”badan usaha yang beranggotakan
orang seorang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip -prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat
yang berdasar atas asas kekeluargaan” . Pengertian ini
disusun tidak hanya berdasar pada konsep koperasi
sebagai organisasi ekonomi dan sosial tetapi secara
lengkap telah mencerminkan norma -norma dan kaidah-
kaidah yang berlaku bagi bangsa Indonesia. Norma
dan kaidah tersebut dalam UU tersebut lebih tegas
dijabarkan dalam fungsi dan peran koperasi Indonesi
sebagai:
 Alat untuk membangun dan mengembangkan
potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan
sosialnya.
 Alat untuk mempertinggi kehidupan manusia dan
masyarakat.
 Alat untuk memperkokoh perekonomian rakyat
sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional, dan
 Alat untuk mewujudkan dan mengembangkan
perekonomian nasional yang merupakan usaha
bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan
demokrasi ekonomi.
2. Menurut International Cooperative Alliance (ICA)
koperasi didefinisikan ” coperative is an autonomous

10
BAB 2 Koperasi

association of persons united voluntarily to meet their


common aconomic, social, and cultural needs and aspiration
through a jointly-owned and democratically -controlled
enterprise yang artinya bahwa koperasi adalah assosiasi
yang bersifat otonom debgan keanggotaan bersifat
terbuka dan sukarela untuk meningkatkan kebutuhan
ekonomi, social dan budaya melalui usaha bersama
saling membantu dan mengontrol usahanya secara
demokratis. Menurut devinisi ini ada beberapa prinsip
koperasi yang dominant seperti assosiasi otonom,
keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka, prinsip
control secara demokratik dan partisipasi anggota
secara ekonomi.
3. Menurut International Labour Organiation ( ILO ), melalui
rekomendasi No. 127, koperasi didefinisikan sebagai
perkumpulan orang, yang bergabung secara sukarela
untuk mewujudkan tujuan bersama, mela lui
pembentukan suatu organisasi yang diawasi secrara
demokratis, dengan memberi kontribusi yang sama
sebanyak jumlah yang diperlukan, turut serta
menanggung risiko yang layak, untuk memperoleh
kemanfaatan dari kegiatan usaha, dimana para anggota
berperan serta secara aktif.
4. Definisi koperasi menurut Roy, Paul dalam Ramudi
Arifin 2003, “a cooperative is defined as a business voluntary
organized, operating at cost, which is owned capitalized by
members patrons as user, sharing risk and benefits,
proportional to their participation”.
5. Muenkner, Hanel dan Muller pada tahun 1976 koperasi
sebagai sistem sosio -ekonomi memiliki karakteristik
sebagai berikut:
a. adanya sekelompok orang yang menjalin hubungan
antar sesamanyaatas dasar sekurang -kurangnya
satu kebutuhan atau kepentingan yang sama
(cooperative group).

11
BAB 2 Koperasi

b. adanya dorongan dan motivasi untuk


mengorganisasikan diri dalam kelompok guna
memenuhi kebutuhan ekonomi melalui usaha
bersama atas dasar swadaya dan saling tolong
menolong (self help).
c. adanya perusahaan yang didirikan dan dikelola
secara bersama-sama (cooperative entreprises)
d. tugas perusahaan tersebut adalah memberikan
pelayanan kepada anggotanya dengan jalan
menawarkan barang atau jasa yang dibutuhkan
anggota dalam kegiatan ekonominya ( member
promotion ).

Jadi, untuk keperluan mamajemen koperasi,


pengerian organisasi koperasi yang telah diuraikan diatas
dapat disarikan bahwa koperasi adalah organisasi bisnis
yang para pemilik atau anggotanya juga adalah pelanggan
utama perusahaan terse but (kriteria identitas). Kriteria
identitas ganda anggota suatu koperasi merupakan dalil
atau prinsip yang membedakan baik usaha koperasi
dengan usaha perusahaan kapitalistik maupun usaha

12
BAB 2 Koperasi

koperasi dengan perusahaan nir laba yang memberikan


pelayanan umum serti yayasan dan sejenisnya.
Identitas ganda anggota juga secara cepat dapat
digunakan untuk mengidentifikasi dan sekaligus
megelompokkan jenis kopersi seperti dijelaskan sebagai
berikut:
a. Jika para pemilik dan para pelanngan adalah para
pembeli pelayanan dari organisasinya adalah individu
yang sama, maka organisasi tersebut dapat
dikgolongkan kedalam koperasi pembelian ( purchasing
cooperative).
b. Koperasi pemasaran ( marketing cooperative ) adalah
koperasi yang para anggotanya menjual produk dari
hasil usaha mereka masing-masing kepada koperasi.
c. Jika produk yang dibeli dari perusahaan adalah barang
konsumsi akhir dan para pelanggannya adalah orang -
orang yang sama sebagai pemilik perusahaan, maka
organisasi tersebut dapat digolongkan sebagai koperasi
konsumen (consumer cooperative).
Koperai produksi ( productive cooperative )
didefinisikan sebagai suatu perusahaan yang dimiliki oleh
para pekerjanya. Anggota dari koperasi ini adalah para
pekerja yang secara bersama -sama memproduksi produk
tertentu di koperasinya, kemudian produk tersebut dijual
ke pasaran umum atau untuk memenuhi pesanan para
pelanggan.

B. Tujuan, Fungsi dan Peran Koperasi Di Indonesia


Tujuan, Fungsi dan Peran Koperasi Di Indonesia
adalah sebagai berikut :
 Tujuannya : dituangkan dalam pasal 3 (UU
Perkoperasian No. 25 tahun 1992), yaitu : “Koperasi
bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut
membangun tatanan perekonomian nasional dalam

13
BAB 2 Koperasi

rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan


makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”.
 Fungsi dan peran koperasi Indonesia, (pasal 4 ,UU
Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992)
1. Membangun dan mengembangkan potensi dan
kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosial;
2. Berperan serta secara aktif dalam upaya
mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat;
3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar
kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional
dengan koperasi sebagai soko gurunya;
4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan
perekonomian nasional yang merupakan usaha
bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan
demokrasi ekonomi;
5. Membangun dan mengembangkan potensi dan
kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya untuk me ningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosial;
6. Berperan serta secara aktif dalam upaya
mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat;
7. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar
kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional
dengan koperasi sebagai soko gurunya;
Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan
perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama
berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi;

C. Bentuk dan Struktur Koperasi


Kajian ilmiah mengenai bentuk dan struktur
koperasi secara komprehensip salah satunya telah

14
BAB 2 Koperasi

dilakukan oleh Dulfer dalam Prasetyo Budisaksono, 1988.


Untuk mempelajari bentuk dan tipe koperasi dapat
dilakukan dari berbagai dimensi diantaranya, yaitu:
1. Dimensi struktur dasar ekonomi anggota yang
membentuk koperasi maka terdapat 3 tipe koperasi,
yaitu:
a. Koperasi kombinasi operasional, yaitu koperasasi
yang struktur dasar ekonomi anggotanya sebagai
rumah tangga produsen. Di Indonesia koperasi
yang termasuk kedalam jenis ini meliputi KUD,
Kopti, Kopinkra, Koperasi pet ernakan, koperasi
pertanian, koperasi taksi dsb.
b. Koperasi kombinasi ekonomi pasar, yaitu koperasi
yang struktur dasar ekonomi anggotanya
merupakan rumah tangga konsumen. Koperasi
karyawan, koperasi pegawai, KSP, koperasi
konsumen adalah tergmasuk dalam ko perasi jenis
ini.
c. Koperasi kombinasi karya, adalah koperasi yang
struktur dasar ekonomi anggotanya adalah rumah
tangga yang menawarkan faktor produksi keahlian
dan tenaga kerja kepada perusahaan koperasinya
untuk menghasilkan barang dan jasa dan
perusahaan koperasi akan memberikan gaji atau
upah. Koperasi Jasa Konsultan seperti KJA,
koperasi pondok pesantren (Kopontren) adalah
contoh dari koperasi jenis ini.
Dari struktur dasar ekonomi anggota pada ketiga
jenis koperasi tersebut, akan menentukan deraj at
kompleksitas penerapan manajmen koperasi yang
dicerminkan dari kebutuhan ekonomi anggota, fungsi
pelayanan unit usaha yang harus diselenggarakan oleh
koperasi, pelaksanaan promosi anggota dan sistem
komunikasi antara anggota dengan perusahaan
koperasinya. Dalam beberapa hal, koperasi kombinasi

15
BAB 2 Koperasi

karya cenderung memilik derajat konflik antara


anggota dengan manajemen koperasi yang tinggi,
karenanya fakta empirik menunjukkan bahwa jenis
koperasi ini cenderung sulit untuk berkembang.
2. Intensitas dan Interaksi antara konomi anggota dengan
perusahaan koperasi
Jika dilihat dari intensitas dan derajat keeratan
hubungan antara ekonomi anggota dengan perusahaan
koperasinya, Dulfer lebih lanjut membedakan juga
kedalam 3 jenis koperasi, yaitu:
a. Koperasi tradisional at au koperasi tipe pelaksana
(executively operating cooperative) , adalah koperasi
yang ekonomi anggotanya menyatakan secara
eksplisit tentang berbagai kebutuhan layanan dari
perusahaan koperasinya dan perusahaan koperasi
meresponnya dengan memberikan layan an secara
tepat. Perusahaan koperasi hanya melayani
anggota, karenanya loyalitas dan intensitas
hubungan antara anggota dengan perusahaan
koperasi sangat baik. Contoh praktik yang baik
koperasi tradisional adalah koperasi Rohdale
(Ingris), Kredit Union (USA), Koperasi Kredit dan
Koperasi Setia Bakti Wanita (Indonesia).
b. Koperasi Tipe Pedagang atau koperasi merkhantil
(market linkage cooperative ), adalah koperasi yang
membrikan pelayanan kepada anggotanya bersaing
dengan perusahaan -perusahaan lain yang
memberikan pelayanan sejenis di pasar. Dengan
pertimbangan sekala usaha dan efisiensi usaha,
koperasi juga melayani bukan anggota. Loyalitas
dan interaksi hubungan antara ekonomi anggota
dengan perusahaan koperasi seringkali lemah
karena anggota dapat mem peroleh pelayanan
serupa dari perusahaan lain pesaing koperasi.
Banyak pakar menyebutkan, tingkat kegagalan

16
BAB 2 Koperasi

koperasi ini cukup tinggi dan cenderung dikuasai


oleh kelompok vested interest ( Gupta dan Gaikuad,
1984 ).
Koperasi Tipe terpadu ( integrated cooperative), adalah
koperasi yang dalam melakukan perencanaan kegiatannya
tidak hanya pada tingkat perusahaan koperasi melainkan
juga diintegrasikan dengan kegiatan ekonomi anggotanya.
Koperasi jenis ini berorientasi pada peningkatan
pendapatan bersih anggota melalui peningkatan
produktivitas anggota, peningkatan nilai tambah dan
pemanfaatan produk sampingan yang dicirikan dengan
cakupan wilayah kerja yang luas. Praktik -praktik terbaik
koperasi jenis ini dicontohkan oleh Amul Dairy
Cooperative dan Maharastra Suger cane Cooperative
(India), koperasi-koperasi pertanian di Jepang, termasuk
Kopersi peternakan dan KUD di Indonesia juga termasuk
kedalam model koperasi terpadu.
Koperasi memiliki inti dari norma -norma atau
aturan-aturan dalam koperasi adalah nilai Ko perasi, yaitu
konsep-konsep atau pengertian-pengertian yang dipahami,
dihayati, dan dianggap bermanfaat serta disepakati oleh
sebagian besar anggota masyarakat Koperasi untuk
dijadikan pengikat di dalam berperilaku kelompok
koperasi.
Nilai-nilai koperasi itu ada dua macam :
a. Ide-ide dasar dan etika dasar; falsafah dasar koperasi
b. Prinsip dasar, yaitu pedoman instrumental bagi praktek
koperasi.
Adapun ide atau gagasan dasar Koperasi yang
relatif permanen;
1) Menolong diri sendiri dan solidaritas ; menolong diri
sendiri bukan dalam bentuk tindakan individual secara
terpisah dari tindakan bersama, tetapi melalui
kebersamaan atau joint action
2) Demokrasi; satu orang satu suara

17
BAB 2 Koperasi

3) Peranan modal yang terbatas ; harus selalu dihindarkan


adanya dominasi modal yang mengancam hi langnya
sarana keadilan dan kemanusiaan.
4) Ekonomi; koperasi itu bukan badan sosial, atau
organisasi masa/politik, tetapi organisasi ekonomi di
mana dinamika perkembangannya terkait erat dengan
solidaritas sosial para anggotanya. Jadi intinya efisiensi,
maka manfaat ekonomi koperasi akan dirasakan oleh
anggotanya.
5) Kebebasan; prakondisi bagi inidividu untuk
mengembangkan aspirasinya tanpa tekanan.
6) Keadilan; unsur sosial psikolgis yang harus selalu
diperhatikan dalam koperasi.
Etika dasaryang paling utama dan tak boleh
diabaikan adalah :
1) Kejujuran; sesuai dengan apa yang
dipelajari/dimengerti, tidak ada manipulasi -manipulasi
yang bisa memberi kesan lain
2) Kepedulian; nilai yang mengantarkan kepada sikap
kemanusiaan, artinya selalu sadar bahwa hidup itu
tidak sendirian.
3) Kemajemukan (pendekatan demokratis); kenyataan
yang harus selalu disadari oleh para koperasiawan
(insan Koperasi), kenyataan menunjukkan bahwa
orang-orang yang menjalani nasib yang sama dalam
tingkat kehidupan sosial -ekonomi memiliki latar
belakang sosial yang berbeda-beda, tetapi mempunyai
kesamaan kepentingan.
Konstruktif (percaya kepada cara -cara koperasi);
merasa yakin atas keampuhan koperasi berdasarkan
karakteristiknya yang sudah dipahami dengan baik.
Artinya harus memiliki kepercayaan bahwa pe rmasalahan
yang mereka hadapi (skala individual, kelompok lokal,
regional, dan nasional) dapat diatasi dengan cara -cara
koperasi, artinya koperasi bukan hanya berbeda dengan

18
BAB 2 Koperasi

yang lain akan tetapi juga memiliki keunggulan


komparatif.

D. Prinsip-Prinsip Koperasi
Prinsip-prinsip koperasi adalah penjabaran lebih
operasional dari nilai-nilai koperasi yang dijadikan sebagai
pedoman dalam pelaksaanaan kegiatan koperasi baik
kegiatan organisasi maupun kegiatan usaha koperasi.
Prinsip koperasi yang dianut oleh gera kan koperasi
internasional saat ini adalah prinsip yang disepakati pada
kongres ICA di Mancester, Inggris pada tanggal 23
September 1995. ICA adalah gabungan gerakan koperasi
internasional yang beranggotakan 700 juta orang lebih,
berasal dari 70 negara, b erpusat di Genewa, Swiss. Untuk
wilayah Asia-Fasifik berkantor di New Delhi, India.
Prinsip-prinsip koperasi yang dimaksud meliputi:
1. Keanggotaan sukarela dan terbuka . Koperasi adalah
organisasi yang keanggotaannya bersifat sukarela dan
terbuka bagi setiap orang yang bersedia menggunakan
jasa-jasa pelayanannya, dan bersedia menerima
tanggung jawab keanggotaan, tanpa membedakan
gender (jenis kelamin), latar belakang sosial, ras, politik
atau agama. Di dalam praktek, keanggotaan sukarela
dan terbuka ini tentunya dapat dijabarkan dengan
persyaratan-peryaratan yang mengatur hak dan
kewajiban sebagai anggota koperasi yang lebih lanjut
diatur dalam Anggaran Dasar Koperasi.
2. Pengawasan oleh anggota secara demokratis .
Koperasi adalah organisasi terbuka yang dem okratis
diawasi oleh para anggotanya, yang secara aktif
menetapkan kebijakan dan membuat keputusan.
Anggota baik laki-laki maupun perempuan yang dipilih
sebagai pengurus atau pengawas bertanggung jawab
kepada Rapat Anggota. Dalam koperasi primer
anggota memiliki hak suara yang sama (satu anggota

19
BAB 2 Koperasi

satu suara). Pada tingkat lainnya, koperasi juga


dikelola secara demokratis.
3. Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi . Anggota
menyetorkan modal mereka secara adil dan melakukan
pengawasan secara demokratis. Sebagian dari modal
tersebut adalah milik bersama untuk dijadikan modal
perusahaan koperasi yang menjalankan fungsi ekonomi
dalam memberikan pelayanan kepada anggota.
Pelayanan yang disediakan oleh perusahaan koperasi
ini harus dimanfaatkan sebaik -baiknya oleh anggota
(partisipasi pemanfaatan pelayanan). Partisipasi
pemanfaatan pelayanan ini bila koperasi efisien akan
menghasilkan surplus yang di Indonesia dikenal
dengan Sisa Hasil Usaha (SHU). Bila ada balas jasa
terhadap modal, diberikan secara terba tas. An ggota
mengalokasikan SHU untuk beberapa atau semua dari
tujuan seperti di bawah ini:
a. Mengembangkan koperasi, caranya dengan
membentuk cadangan untuk menambah
permodalan koperasi.
b. Dibagikan kepada anggotanya secara proporsional
dan adil berdasarkan jasa transaksi masing-masing
anggota kepada koperasinya.
c. Mendukung kegiatan lainnya yang disepakati
dalam Rapat Anggota.
4. Otonomi dan kemandirian . Koperasi adalah organisasi
otonom dan mandiri yang dimodali, dikelola, diawasi
dan dipergunakan oleh para ang gotanya. Apabila
koperasi membuat perjanjian dengan pihak lain,
termasuk pemerintah, atau memperoleh modal dari
luar, maka hal itu harus berdasarkan peryaratan yang
tetap menjamin adanya upaya: pengambilan keputusan
dan pengawasan yang demokratis oleh ang gotanya
dengan tetap mempertahankan otonomi koperasi.

20
BAB 2 Koperasi

5. Pendidikan, pelatihan, dan informasi . Koperasi


memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anggota,
pengurus, pengawas, manajer, dan karyawannya..
Tujuannya agar mereka dapat melaksanakan tugas
dengan lebih efektif bagi perkembangan koperasi.
Koperasi juga wajib memberikan informasi kepada
anggota dan masyarakat umum, khususnya kepada
orang-orang muda dan tokoh -tokoh masyarakat
mengenai hakekat dan manfaat berkoperasi.
6. Kerjasama antar kioperasi . Dengan bekerjasama pada
tingkat lokal, nasional , regional, dan internasional,
maka gerakan koperasi diharapkan mampu melaayani
anggotanya dengan efektif dan dapat memperkuat
jaringan gerakan koperasi.
7. Kepedulian terhadap masyarakat . Koperasi
melakukan kegiatan dituntut untuk mengembangkan
masyarakat sekitarnya secara berkelanjutan, dengan
tetap memperhatikan kelestarian lingkungan ekosistem
melalui kebijakan yang diputuskan oleh Rapat
Anggota.
Disamping prinsip-prinsip koperasi internasional
yang telah diuraikan di atas, koperasi Indonesia secara
khusus memiliki prinsip -prinsip koperasi Indonesia yang
dituangkan dalam UU No.25 tahun 1992 tentang
perkoperasian yaitu:
1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
3. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil
sebanding dengan besarnya jasa usaha masing -masing
anggota
4. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
5. Kemandirian
6. Pendidikan perkoperasian
7. Kerjasama antar koperasi.

21
BAB 2 Koperasi

Koperasi yang merupakan suatu sistem organisasi


terdiri dari tiga dimensi menurut Rusidi , yaitu :
• Dimensi Keanggotaan dengan konsep dasar partisipasi
anggota dalam Kopeasi (members participation)
• Dimensi Kepengurusan dengan konsep dasar
kepemimpinan Koperasi (cooperative leadership)
• Dimensi Keusahaan dengan konsep dasar keterampilan
manajerial (managerial skill)
Dimensi-dimensi tersebut memiliki kemampuan
untuk memainkan peranannya, seperti kemampuan
anggota untuk berpartisipasi, kemampuan pengurus dalam
memimpin dan kemampuan pengelolaan dalam
melakukan usahanya agar dapat mencapai tujuan. Masing -
masing dimensi tersebut memainkan perannya dan
kemampuan yang dimiliki, yaitu :
• Peran anggota yaitu menyumbangkan ide,
menyumbangkan modal, ikut mengawasi, dan
memanfaatkan pelayanan anggota, dengan
kemampuan anggota dalam berpartisipasi.
• Peran pengurus yaitu mengelola organisasi Koperasi
dan membina anggota serta mengawasi jalannya usaha
Koperasi, dengan kemampuan pengurus dalam
memimpin dan membuat kebijakan -kebijakan demi
kemajuan Koperasi.
Peranan keusahaan yaitu melaksanakan tugas dari
pengurus untuk mengelola Koperasi dan memberikan
pelayanan yang sebaik-baiknya pada anggota, dengan
kemampuan untuk mengelola usaha dengan baik.

E. Koperasi dalam Pandangan Pemerintah


Perkembangan usaha koperasi yang ditunjukkan
dari aspek-aspek modal, volume usaha dan sisa hasil usaha
(SHU) juga menunjukkan kinerja yang terus meningkat. Di
samping itu juga saya melihat Kinerja UMKM secara
umum cukup bervariasi dari tahun ke tahun. Kontribusi

22
BAB 2 Koperasi

UMKM mengalami tren penurunan, Rendahn ya


produktivitas menjadi kendala bagi UMKM untuk
berkembang dan mencapai skala ekonomi yang semakin
besar. Namun terlepas dari produktivitas yang rendah,
UMKM memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap
krisis, yang terbentuk karena struktur organisasi da n
tenaga kerja UMKM yang lebih fleksibel dalam
menyesuaikan dengan perubahan pasar. Daya tahan dan
fleksibilitas ini menjadikan UMKM digunakan oleh
sebagian besar masyarakat sebagai sumber utama
penghidupan.
Tingkat produktivitas dan kebutuhan untuk
meningkatkan populasi usaha kecil dan menengah, maka
peningkatan produktivitas usaha mikro dijadikan sebagai
target pemberdayaan UMKM ke depan. Perbaikan
kapasitas dan produktivitas usaha mikro dapat dilakukan
melalui penguatan aset, keterampilan dan
keterhubungannya dengan jaringan usaha dan pemasaran
dalam satu system bisnis yang mapan. Peningkatan
kapasitas usaha mikro juga diharapkan dapat meningkatan
pendapatan masyarakat secara umum yang selanjutnya
akan berkontribusi pada pengurangan angka kemiskinan.
Peran usaha kecil dan menengah juga perlu ditingkatkan
dalam memperkuat basis produksi di dalam negeri, dan
partisipasi di pasar ekspor dan investasi.
Dalam lima tahun ke depan yaitu 2015 -2019,
pemberdayaan koperasi dan UMKM akan dilaksanakan
melalui berbagai kebijakan untuk meningkatkan daya saing
koperasi dan UMKM. Kebijakan -kebijakan tersebut
mencakup upaya-upayapeningkatan kapasitas dan kinerja
usaha koperasi dan UMKM, penguatan dan perluasan
peran sistem pendukung usaha, dan peningkatan
dukungan iklim usah a. Hal ini sejalan dengan tiga tataran
pemberdayaan koperasi dan UMKM dimana pada tataran
makro, kebijakan pemberdayaan koperasi dan UMKM

23
BAB 2 Koperasi

mencakup perbaikan lingkungan usaha yang diperlukan


untuk mendukung perkembangan koperasi dan UMKM.
Beberapa isu lingkungan usaha di antaranya berkaitan
dengan peraturan, persaingan usaha, biaya transaksi,
formalisasi usaha, serta peran pemerintah, swasta dan
masyarakat.
Kebijakan pemberdayaan koperasi dan UMKM
pada peningkatan sistem pendukung usaha yang
mencakup lembaga atau sistem yang menyediakan
dukungan bagi peningkatan akses koperasi dan UMKM ke
sumber daya produktif dalam rangka perluasan usaha dan
perbaikan kinerja. Sumber daya produktif mencakup bahan
baku, modal, tenaga kerja terampil, informasidan teknologi.
Perluasan usaha mencakup peningkatan tata laksana
kelembagaan, peningkatan kapasitas dan perluasan
jangkauan pasar. Sementaraitu kebijakan pemberdayaan
koperasi dan UMKM pada tataran mikro mencakup
peningkatan kualitas kelembagaan koperasi dan UMKM
serta perbaikan kapasitas dan kualitas sumber daya
manusia (SDM) baik dari aspek kewirausahaan, maupun
kemampuan teknis, manajeman dan pemasaran.
Ketiga tataran kebijakan pemberdayaan koperasi
dan UMKM tersebut telahmenjadi acuan rencana kerja
Kementerian Koperasi dan UKM dalam periode 2000 -2004,
2004-2009 dan 2010-2014. Hasilnya menunjukkan masih
banyak perbaikan yang perlu dilakukan untuk
mewujudkan koperasi dan UMKM yang memiki usaha
yang berkelanjutan, mandiri dan berdaya saing.
Perkembangan koperasi dan UMKM ju ga masih
membutuhkan dukungan kebijakan yang membantu
koperasi dan UMKM dalam merespon perubahan pasar
dan perekonomian yang dinamis. Koperasi dan UMKM
juga perlu diperkuat sehingga mampu berkontribusi pada
perbaikan struktur pelaku usaha nasional menjadi lebih

24
BAB 2 Koperasi

kokoh dan seimbang, baik dalam skala usaha, strata


maupun sektoral.
Di era kepemimpinan presiden Joko Widodo,
mencanangkan sebuah Nawa Cita, ada juga ni sembilan
agenda prioritas Presiden, namun dari Sembilan agenda
presiden tersebut adatiga Nawa Cit amenjadi prioritas
Kementerian Koperasi dan UKM dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya dalam periode 2015 -2019, yaitu:
Pertama, Membuat Pemerintah selalu hadir dengan
membangun tatakelola pemerintahan yang bersih, efektif,
demokratis, dan terpercaya yangme ncakup upaya-upaya
yang diarahkan antara lain untuk:
 Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang
transparan, meningkatkan pengelolaan dan pelayanan
informasi di lingkungan instansi Pemerintah Pusat,
membuat laporan kinerja, dan membuka akses
informasi publik.
 Menjalankan agenda reformasi publik dengan
restrukturisasi kelembagaan, perbaikan kualitas
pelayanan publik, meningkatkan kompetensi aparatur,
memperkuat monitoring dan supervise atas kinerja
pelayanan publik.
 Membuka ruang partisipasi publik dalam pengam bilan
kebijakan publik.
Kedua, Meningkatkan produktivitas rakyat dan
daya saing di pasar Internasional sehingga bangsa
Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa -bangsa
Asia lainnya yang mencakup upaya -upaya yang diarahkan
antaralain untuk:
 Membangun pasar tradisional sebanyak 5.000 pasar
tradisional di seluruhIndonesia dan memodernisasikan
pasar tradisional yang telah ada.
 Membangun sejumlah Science dan Techno Park di
daerah-daerah.

25
BAB 2 Koperasi

 Meningkatkan daya saing dengan memanfaatkan


potensi yang belumtergarap dengan baik tetapi
memberi peluang besar untuk meningkatkanakselerasi
pertumbuhan ekonomi nasional, yakni, industri
manufaktur,industri pangan, sektor maritim, dan
pariwisata.
Keempat : Mewujudkan kemandirian ekonomi
dengan menggerakkan sektor -sektor strategis ekonomi
domestik yang mencakup upaya -upaya yangdiarahkan
antara lain untuk mewujudkan kedaulatan pangan melalui
pendirian Bank Petani dan UMKM Berdasarkan Visi dan
Misi Presiden, Norma dan Dimensi Pembangunan, serta
Nawa Cita, maka disusun Tujuan Kem enterian Koperasi dan
UKM yaitu: Mewujudkan Koperasi dan UMKM yang
berdaya saing dan berkontribusi pada peningkatan
perekonomian nasional dankesejahteraan rakyat
berlandaskan semangat wirausaha, kemandirian koperasi
dan keterpaduan.
Jadi, arah kebijakan te rsebut akan dijabarkan lebih
lanjut menjadi kebijakan -kebijakan bidang, dimana
kebijakan di bidang Koperasi dan UMKM pada tahun 2015 -
2019 diarahkan untuk meningkatkan daya saing Koperasi
dan UMKM sehingga mampu tumbuh menjadi usaha yang
berkelanjutan dengan skala yang lebih besar dalam rangka
mendukung kemandirian perekonomian nasional. Dan
setelah ini arah kebijakan tersebut akan kita laksanakan
melalui lima strategi sebagai berikut:
1. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
Jadi dalam strategi ini kita bis a menguatkan sektor-
sektor wirausaha dengan melakukaan penataan dan
pengembangan dibidang lembaga kependidikan , bisa
juga ni kita harus lebih mengembangkan suatu
pelatihan-pelatihan dan pendampingan dalam
mendorong dukungan untuk menaikkan kualitas
perorangan yang akan memulai berwirausaha. Perlu

26
BAB 2 Koperasi

juga menyediakan dan mendukung ketersediaan alat


khususnya bagi wanita yang berbasis teknologi guna
mampu bersaing dalam hal penataan dan persaingan
usaha secara global.
2. Peningkatan akses pembiayaan dan perluasan skema
pembiayaan
Melalui pengembangan lembaga pembiayaan/bank
Koperasi dan UMKM, serta optimalisasi sumber
pembiayaan non-bank, integrasi sistem informasi
debitur UMKM dari lembaga pembiayaan bank dan
non-bank dan advokasi pembiayaan bagi Koperasi dan
UMKM.
3. Peningkatan nilai tambah produk dan jangkauan
pemasaran
Melalui perluasan penerapan teknologi tepat guna
diversifikasi produkberbasis rantai nilai dan
keunggulan lokal peningkatan penerapanstandardisasi
produk (Standar Nasional Indonesia/SNI, HaKI),
sertifikasi (halal, keamanan pangan dan obat) dan
integrasi fasilitasi pemasaran dan sistem distribusi baik
domestik maupun ekspor;
4. Penguatan kelembagaan usaha
melalui kemitraan investasi berbasisketerkaitan usaha
(backward-forward linkages dan peningkatan
perankoperasi dalam penguatan sistem bisnis pertanian
dan perikanan, dan sentra industri kecil di kawasan
industri
5. Kemudahan, kepastian dan perlindungan usaha
melalui harmonisasi perizinan sektoral dan daerah,
pengurangan jenis, biaya dan waktu pengurusan
perizinan, penyusunan rancangan undang -undang
tentang Perkoperasian, peningkatan efektivitas
penegakan regulasi persainganusaha yang sehat, dan
peningkatan sinergi dan kerja sama pemangku
kepentingan (publik, swasta dan masyarakat) yang

27
BAB 2 Koperasi

didukung sistem terpa du yang berbasis data Koperasi


dan UMKM secara sektoral danwilayah.
Arah kebijakan, strategi dan berbagai langkah
strategis untuk menaikkan kelas UMKM tersebut juga
dilengkapi dengan Norma Standar Operasional
Kementerian Koperasi dan UKM dalam pelaksanaan
program dan kegiatan sebagai berikut:
1. Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya,
seluruh jajaran Kementerian Koperasi dan UKM harus
memperhatikan azas ketaatandengan mengacu pada
peraturan perundangan yang ada.
2. Kinerja diukur dengan pencapaian Sasaran St rategis
yaitu:
o Meningkatnya kontribusi UMKM dalam
perekonomian melaluipengembangan komoditas
berbasis koperasi/sentra di sektor -sektorunggulan;
o Meningkatnya daya saing koperasi dan UMKM;
o Meningkatnya wirausaha baru dengan usaha yang
layak danberkelanjutan ; dan
o Meningkatnya kualitas kelembagaan dan usaha
koperasi, sertapenerapan praktek berkoperasi yang
baik oleh masyarakat.
3. Penguatan koperasi dan UMKM difokuskan pada
peningkatan kinerja dandaya saing koperasi dan
UMKM di sektor-sektor utama yang menjadi pr ioritas
Presiden melalui Nawa Cita;
4. Seluruh upaya pencapaian sasaran kinerja melalui
program, kegiatan, maupun output harus dilaksanakan
melalui keterpaduan dan kerjasama antar unit dalam
proses perencanaan, pelaksanaan dan monev yang
didukung kelengkapan data dan informasi koperasi
dan UMKM;
5. Pelaksanaan program dan kegiatan harus mencakup
keseimbangan antara pemihakan dan pembangunan
kemandirian koperasi dan UMKM, serta bersifat

28
BAB 2 Koperasi

inklusif yang memperhatikan akses dan kesempatan


yang sama antar kelompok pend apatan, antar gender,
antar wilayah, dan keberpihakan kepada
kelompok/golongan yang kurang mampu.
6. Pelaksanaan program dan kegiatan didukung
kemitraan dan kerjasama strategis dengan
Kementerian/ Lembaga/ Daerah serta organisasi
masyarakat, organisasi/lembag a profesi, pelaku usaha,
serta kerjasama bilateral dan multilateral yang
didasarkan pada prinsip kesetaraan dan saling
melengkapi; dan
7. Kementerian Koperasi dan UMKM mendorong
profesionalisme pelayanan publik dengan
mengembangkan unit -unit pelayanan yang da pat
mandiri,memberikan kontribusi pada Penerimaan
Negara Bukan Pajak, dan secaralangsung melayani
kebutuhan masyarakat.
Itulah kurang lebihnya yang mungkin bisa di lihat
berbagai kebijakan yang telah atau diambil oleh
pemerintah untuk memperdayakan ukm & k operasi yang
ada di Indonesia. Pemerintah melalui berbagai elemen
seperti Departemen Koperasi, Departemen Perindustrian
dan Perdagangan, BUMN juga institusi keuangan lainnya
baik bank maupun nonbank, telah melakukan berbagai
upaya untuk mewujudkan UMKM& koperasi agar dapat
menjadi tangguh dan mandiri serta dapat berkembang
untuk mewujudkan perekonomian nasional yang kukuh.
Berbagai dukungan diwujudkan melalui kebijakan maupun
pengadaan fasilitas dan stimulus lain. Selain itu, banyak
dukungan atau bantuan y ang diperlukan dengan upaya
tersebut, misalnya saja ni, bantuan berupa pengadaan alat
produksi, pengadaan barang fisik lainnya juga diperlukan
adanya sebuah metode, mekanisme dan prosedur yang
memadai, tepat guna, dan aplikatif serta mengarah pada
kesesuaian pelaksanaan usaha dan upaya pengembangan

29
BAB 2 Koperasi

dengan kemampuan masyarakat sebagai elemen pelaku


usaha dalam suatu sistem perekonomian yang berbasis
masyarakat, yaitu dalam bentuk Koperasi & UMKM.

---oo0oo---

30
BAB 3 UMKM

BAB 3
UMKM

A. Definisi UMKM
B. Prinsip-prinsip UMKM
C. Permasalahan UMKM
D. UMKM dalam Pandangan Pemerintah
E. Hambatan dalam Pemberdayaan UMKM
di Indonesia

31
BAB 3 UMKM

UMKM

A. Definisi UMKM
Di Indonesia, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM) dikenal dengan nama microfinance. Microfinance
adalah penyediaan layanan keuangan untuk kalangan
berpenghasilan rendah, termasuk konsumen dan
wiraswasta, yang secara tradisional tidak memiliki akses
terhadap perbankan dan layanan terkait. Microfinance saat
ini dianggap sebagai cara yang efektif dalam pengentasan
kemiskinan.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan
kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian
Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman
perekonomian nasional dalam masa krisis, serta me njadi
dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi.
Selain menjadi sektor usaha yang paling besar
kontribusinya terhadap pembangunan nasional, Usaha
Mikro Kecil dan Menengah juga menciptakan peluang kerja
yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam ne geri, sehingga
sangat membantu upaya mengurangi pengangguran.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terdiri
dari :
 Usaha Mikro : usaha produktif milik orang perorang
dan/atau badan usaha perorangan yang memiliki
kekayaan bersih maksimal Rp. 50 juta tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha atau hasil penjualan
tahunan maksimal Rp. 300 juta rupiah.
 Usaha Kecil : usaha ekonomi produktif yang berdiri
sndiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau

32
BAB 3 UMKM

badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan


atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai,
atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dari usaha menengah atau usaha besar yag
memiliki kekayaan bersih > Rp. 50 juta s.d. Rp. 500
juta. tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
atau hasil penjualan tahunan Rp. 300 juta s.d. Rp. 2,5
milyar.
Usaha menengah : usaha ekonomi produktif yang
berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan
atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan
atau cabang perusahaan yang dimiliki, diku asai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung
dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah
kekayaan bersih > Rp. 500 juta sampai s.d. Rp. 10 milyar
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau
hasil penjualan tahunan > Rp. 2,5 m ilyar s.d. Rp. 150
milyar.

B. Prinsip-prinsip UMKM
Prinsip pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah (UMKM), antara lain:
1. Penumbuhan kemandirian, kebersamaan dan
kewirausahaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;
2. Perwujudan kebijakan publik yang transparan,
akuntabel dan berkeadilan;
3. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan
berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah;
4. Peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah;
5. Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian secara terpadu

33
BAB 3 UMKM

Sedangkan tujuan pemberdayaan Usaha Mikro,


Kecil dan Menengah, (UU No. 20 tahun 2008) antara lain:
1. Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang
seimbang, berkembang dan berkadilan;
2. Menumbuhkan dan mengembangkan Kemampuan
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menjadi sistem
usaha yang tangguh dan mandiri;
3. Meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan
lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan
ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.
Sesuai dengan UU No.20 tahun 2008,
pemberdayaan UMKM bertujuan:
a. mewujudkan struktur perekonomian nasional yang
seimbang, berkembang, dan berkeadilan;
b. menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi usaha yang
tangguh dan mandiri; dan
c. meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan
kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi,
dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.
Menurut Suarja (2007) dalam Sudrajat
mengungkapkan pemberdayaan Koperasi dan UMKM
dilakukan melalui:
a. Revitalisasi peran koperasi dan perkuatan posisi
UMKM dalam sistem perkonomian nasional
b. Revitalisasi koperasi dan perkuatan UMKM dilakukan
dengan memperbaiki akses UMKM terhadap
permodalan, tekologi, informasi dan pasar serta
memperbaiki iklim usaha;
c. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya
pembangunan
d. Mengembangkan potensi sumberdaya lokal.

34
BAB 3 UMKM

C. Permasalahan UMKM
Kriteria jumlah karyawan berdasarkan jumlah
tenaga kerja atau jumlah karyawan merupakan suatu tolak
ukur yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)
untuk menilai usaha kecil atau besar, sebagai berikut:
Tabel 3.1
Kriteria Jumlah Karyawan Berdasarkan Jumlah
Tenaga Kerja
Usaha Usaha Usaha Usaha
Mikro Kecil Menengah Besar
Jumlah <4 5-19 20-99 > 100
Tenaga Kerja orang orang orang orang

1. Usaha Mikro
Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun
2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yaitu
usaha produktif milik orang perorangan dan/atau
badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria
Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang -
Undang. Adapun kriteria usaha Mikro menurut
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun
2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan M enengah, antara
lain:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp
50.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp
300.000.000,00
(ket.: nilai nominal dapat diubah sesuai dengan
perkembangan perekon omian yang diatur oleh Peraturan
Presiden)

35
BAB 3 UMKM

Ciri-ciri usaha mikro, antara lain:


a. Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap,
sewaktu-waktu dapat berganti;
b. Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu -
waktu dapat pindah tempat;
c. Belum melakukan admin istrasi keuangan yang
sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan
keuangan keluarga dengan keuangan usaha;
d. Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum
memiliki jiwa wirausaha yang memadai;
e. Tingkat pendidikan rata -rata relatif sangat rendah;
f. Umumnya belum akses kepada perbankan, namun
sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga
keuangan non bank;
g. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau
persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
Contoh usaha mikro, antara lain:
 Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan,
peternak, nelayan dan pembudidaya;
 Industri makanan dan minuman, industri meubelair
pengolahan kayu dan rotan,industri pandai besi
pembuat alat-alat;
 Usaha perdagangan seperti kaki lima serta
pedagang di pasar dll.;
 Peternakan ayam, itik dan perikanan;
 Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon
kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).

Dilihat dari kepentingan perbankan, usaha mikro


adalah suatu segmen pasar yang cukup potensial untuk
dilayani dalam upaya meningkatkan fungsi
intermediasi-nya karena usaha mikr o mempunyai
karakteristik positif dan unik yang tidak selalu dimiliki
oleh usaha non mikro, antara lain :

36
BAB 3 UMKM

a. Perputaran usaha ( turn over) cukup tinggi,


kemampuannya menyerap dana yang mahal dan
dalam situasi krisis ekonomi kegiatan usaha masih
tetap berjalan bahkan terus berkembang;
b. Tidak sensitive terhadap suku bunga;
c. Tetap berkembang walau dalam situasi krisis
ekonomi dan moneter;
d. Pada umumnya berkarakter jujur, ulet, lugu dan
dapat menerima bimbingan asal dilakukan dengan
pendekatan yang tepat.
Namun demikian, disadari sepenuhnya bahwa
masih banyak usaha mikro yang sulit memperoleh
layanan kredit perbankan karena berbagai kendala baik
pada sisi usaha mikro maupun pada sisi perbankan
sendiri.
Profil usaha mikro yang selama ini berhubungan
dengan Lembaga Keuangan, adalah:
a. Tenaga kerja, mempekerjakan 1-5 orang termasuk
anggota keluarganya.
b. Aktiva Tetap, relatif kecil, karena labor-intensive.
c. Lokasi, di sekitar rumah, biasanya di luar pusat
bisnis.
d. Pemasaran, tergantung pasar lokal dan jarang
terlibat kegiatan ekspor-impor.
e. Manajemen, ditangani sendiri dengan teknik
sederhana.
f. Aspek hukum: beroperasi di luar ketentuan yang
diatur hukum: perijinan, pajak, perburuhan, dll.
Jika melihat sekeliling kita, banyak sekali usaha
mikro yang terus berjalan. Dan waktu telah
menunjukkan bahwa pada saat krisis ekonomi terjadi di
Indonesia, maka usaha mikro termasuk usaha yang
tahan dalam menghadapi krisis, karena biasanya tidak
mendapat pinjaman dari luar, pasar domestik, biaya

37
BAB 3 UMKM

tenaga kerja murah karena dibantu oleh anggota


keluarga. Dan rata-rata usaha mikro banyak yang telah
bertahan lebih dari 8 tahun, dan tetap bertahan, bahkan
ada yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun.

2. Usaha Kecil
Usaha kecil merupakan usaha yang integral dalam
dunia usaha nasional yang memiliki ked udukan,
potensi, dan peranan yang signifikan dalam
mewujudkan tujuan pembangunan nasional pada
umumnya dan pembangunan ekonomi pada
khususnya. Selain itu, usaha kecil juga merupakan
kegiatan usaha dalam memperluas lapangan pekerjaan
dan memberikan pelayana n ekonomi yang luas, agar
dapat mempercapat proses pemerataan dan
pendapatan ekonomi masyarakat.
Definisi usaha kecil menurut Undang -Undang
Republik Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah yaitu usaha ekonomi
produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh
orang perorangan yang dilakukan atau badan usaha
yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung
dari usaha menengah atau usa ha besar yang memenuhi
kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang. Adapun kriteria usaha kecil Undang -
Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, antara lain:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banya k Rp
50.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp
500.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha; atau

38
BAB 3 UMKM

b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp


300.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp
2.500.000.000,00
(ket.: nilai nominal dapat d iubah sesuai dengan
perkembangan perekonomian yang diatur oleh Peraturan
Presiden)
Perbedaan usaha kecil dengan usaha lainnya,
seperti usaha menengah dan usaha kecil, dapat dilihat
dari:
a. Usaha kecil tidak memiliki sistem pembukuan, yang
menyebabkan pengusaha kecil tidak memiliki akses
yang cukup menunjang terhadap jasa perbankan.
b. Pengusaha kecil memiliki kesulitan dalam
meningkatkan usahanya, karena teknologi yang
digunakan masih bersifat semi modern, bahkan
masih dikerjakan secara tradisional.
c. Terbatasnya kemampuan pengusaha kecil dalam
mengembangkan usahanya, seperti: untuk tujuan
ekspor barang-barang hasil produksinya.
d. Bahan-bahan baku yang diperoleh untuk kegiatan
usahanya, masih relatif sulit dicari oleh pengusaha
kecil.
Secara umum bentuk usaha kecil adalah usaha kecil
yang bersifat perorangan, persekutuan atau yang
berbadan hukum dalam bentuk koperasi yang didirikan
untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota, ketika
menghadapi kendala usaha. Dari bentuk usaha kecil
tersebut, maka penggolongan usah a kecil di Indonesia
adalah sebagai berikut:
a. Usaha Perorangan. Merupakan usaha dengan
kepemilikan tunggal dari jenis usaha yang
dikerjakan, yang bertanggung jawab kepada pihak
ketiga/pihak lain. maju mundurnya usahanya
tergantung dari kemampuan pengusaha tersebut

39
BAB 3 UMKM

dalam melayani konsumennya. harta kekayaan


milik pribadi dapat dijadikan modal dalam kegiatan
usahanya.
b. Usaha Persekutuan. Penggolongan usaha kecil yang
berbentuk persekutuan merupakan kerja sama dari
pihak-pihak yang bertanggung jawab secara prib adi
terhadap kerja perusahaan dalam menjalankan
bisnis.
Sedangkan, pada hakikatnya penggolongan usaha
kecil, yaitu:
 Industri kecil, seperti: industri kerajinan tangan,
industri rumahan, industri logam, dan lain
sebagainya.
 Perusahaan berskala kecil, seper ti: toserba, mini
market, koperasi, dan sebagainya.
 Usaha informal, seperti: pedagang kaki lima yang
menjual barang-barang kebutuhan pokok.
 Contoh Usaha Kecil, antara lain:
 Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang
memiliki tenaga kerja;
 Pedagang dipasar grosir (agen) dan pedagang
pengumpul lainnya;
 Pengrajin industri makanan dan minuman, industri
meubelair, kayu dan rotan, industri alat -alat rumah
tangga, industri pakaian jadi dan industri kerajinan
tangan;
 Peternakan ayam, itik dan perikanan;Kopera si
berskala kecil.

3. Usaha Menengah
Usaha Menengah sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun
2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah
usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

40
BAB 3 UMKM

dilakukan oleh orang perseoran gan atau badan usaha


yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan
usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan
bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur
dalam undang-undang.
Adapun kriteria usaha Menengah menurut
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun
2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, antara
lain:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp
500.000.000,00 sampai dengan pa ling banyak Rp
10.000.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp
2.500.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp
50.000.000.000,00
(ket.: nilai nominal dapat diubah sesuai dengan
perkembangan perekonomian yang diatur oleh Peraturan
Presiden)
Ciri-ciri usaha menengah, antara lain:
a. Pada umumnya telah memiliki manajemen dan
organisasi yang lebih baik, lebih teratur bahkan
lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas
antara lain, bagian keuanga n, bagian pemasaran
dan bagian produksi;
b. Telah melakukan manajemen keuangan dengan
menerapkan sistem akuntansi dengan teratur,
sehingga memudahkan untuk auditing dan
penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh
perbankan;

41
BAB 3 UMKM

c. Telah melakukan aturan atau pengelolaa n dan


organisasi perburuhan, telah ada Jamsostek,
pemeliharaan kesehatan dll;
d. Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara
lain izin tetangga, izin usaha, izin tempat, NPWP,
upaya pengelolaan lingkungan dll;
e. Sudah akses kepada sumber -sumber pendanaan
perbankan;
f. Pada umumnya telah memiliki sumber daya
manusia yang terlatih dan terdidik.
Jenis atau macam usaha menengah hampir
menggarap komoditi dari hampir seluruh sektor
mungkin hampir secara merata, yaitu:
a. Usaha pertanian, perternakan, perkebunan,
kehutanan skala menengah;
b. Usaha perdagangan (grosir) termasuk expor dan
impor;
c. Usaha jasa EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut),
garment dan jasa transportasi taxi dan bus antar
propinsi;
d. Usaha industri makanan dan minuman, elektronik
dan logam;
e. Usaha pertambangan batu gunung untuk kontruksi
dan marmer buatan.
Dari uraian diatas, permasalahan dalam
pengembangan koperasi dan UMKM adalah sebagai
berikut :
1. Terbatasnya modal dan akses kepada sumber dan
pelaku lembaga keuangan.
2. Masih rendahnya kualitas SDM pelaku usaha (termasuk
pengelola koperasi)
3. Kemampuan pemasaran yang terbatas.
4. Akses informasi usaha rendah.

42
BAB 3 UMKM

5. Belum terjalin dengan baik kemitraan saling


menguntungkan antar pelaku usaha (UMKM, Usaha
Besar dan BUMN).
Sehingga dari permasalahan -permasalahan tersebut,
maka strategi dalam mengatasi permasalahan
pengembangan koperasi dan UMKM adalah sebagai
berikut :
1. Penyediaan modal dan akses kepada sumber dan
lembaga keuangan.
2. Meningkatkan kualitas dan kapasitas kompetensi SDM.
3. Meningkatkan kemampuan pemasaran UMKMK.
4. Meningkatkan akses informasi usaha bagi UMKMK.
5. Menjalin kemitraan yang saling menguntungkan antar
pelaku usaha (UMKMK, Usaha Besar dan BUMN)

D. UMKM dalam Pandangan Pemerintah


Pada negara berkembang salah satu yang menjadi
prioritas utama dalam melaksanakan kegi atan negaranya
adalah pembangunan nasional, begitu halnya dengan
bangsa Indonesia. Salah satu hal yang diperhatikan dalam
pembangunan nasional di Indonesia adalah di bidang
ekonomi.
Menurut Siagian menyatakan bahwa peranan
penting pemerintah terlibat dalam lima wujud utama,
yaitu: Pertama, selaku stabilisator, peran pemerintah
sebagai stabilitator sangat penting dan harus dimainkan
secara efektif. Kedua, selaku inovator, pemerintah sebagai
keseluruhan harus menjadi sumber dari hal -hal baru. Ketiga
selaku modernisator, pemerintah bertugas untuk
menggiring masayarakat ke arah kehidupan yang modern.
Keempat, selaku pelopor, pemerintah harus menjadi
panutan (role model) bagi seluruh masyarakat. Kelima,
selaku pelaksana sendiri, pemerintah masih dituntut untuk
berperan sebagai pelaksana sendiri berbagai kegiatan.

43
BAB 3 UMKM

Semenjak Indonesia merdeka, pemerintah berusaha


mencetak pengusaha-pengusaha baru untuk merobohkan
sistem ekonomi kolonial dan diganti dengan ekonomi
kerakyatan. Beberapa program disusun oleh pemerintah
Orde Lama. Di masa demokrasi liberal, dikenal Program
Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menumbuhkan
wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional
agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan
membatasi impor barang tertentu dan memberi kan lisensi
impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan
kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya
dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi
nasional. Namun usaha ini gagal, karena sifat pengusaha
pribumi yang cenderung konsumt if dan tak bisa bersaing
dengan pengusaha non-pribumi.
Gagal dengan Program Benteng, pemerintah
mengenalkan program baru yakni sistem ekonomi Ali -Baba
(kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak
Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama anta ra
pengusaha cina (baba) dan pengusaha pribumi (ali).
Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan -
latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah
menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha -usaha swasta
nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik , karena
pengusaha pribumi kurang berpengalaman, sehingga
hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit
dari pemerintah.
Di masa Orde Baru, pengembangan UMKM terus
berlanjut. Pemerintah Orba membuat UU No.9 Tahun 1995
tentang Usaha Kecil guna membe rdayakan usaha kecil. UU
ini berisi XI bab dan 38 pasal dan mengatur pelaksanan
permberdayaan UMKM di Indonesia.
Sehubungan dengan perkembangan lingkungan
perekonomian yang semakin dinamis dan global, Undang -

44
BAB 3 UMKM

Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, yang


hanya mengatur Usaha Kecil perlu diganti, agar Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia dapat
memperoleh jaminan kepastian dan keadilan usaha. UU
tersebut diganti dengan UU No.20 Tahun 2008 tentang
UMKM. Dalam UU tersebut, disebutkan peran pemeri ntah
untuk memberdayakan UMKM.
Terkait dengan urusan pemerintahan, setiap
Menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan
(Pasal 4 ayat 1). Kementerian Koperasi dan UKM RI
merupakan Kementerian di kelompok ketiga yaitu urusan
pemerintahan dalam rang ka penajaman, koordinasi, dan
sinkronisasi program pemerintah (Pasal 4 ayat 2, huruf C),
berkaitan dengan urusan pemerintahan bidang Koperasi,
Usaha Kecil dan Menengah (Pasal 5 ayat 3).
Undang-Undang telah memberi amanat terhadap
pemerintah untuk mengemban gkan UMKM. Dalam UU
No.20 Tahun 2008 tentang UMKM disebutkan peran
pemerintah antara lain:
a. Bersama Pemerintah Daerah melaksanakan
pengawasan dan pengendalian kesempatan berusaha
(Pasal 13).
b. Bersama Pemerintah Daerah melaksanakan kegiatan
promosi dagang (Pasal 14, ayat2).
c. Bersama Pemerintah Daerah memfasilitasi
pengembangan usaha dalam bidang produksi dan
pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia, dan
desain dan teknologi (Pasal 16 ayat 1).
d. Menyusun Peraturan Pemerintah mengenai tata cara
pengembangan, prioritas, intensitas, dan jangka waktu
pengembangan usaha dimaksud (Pasal 16 ayat 3).
e. Bersama dengan Pemerintah Daerah menyediakan
pembiayaan bagi Usaha Mikro dan Kecil (Pasal 2l).
Dalam hal ini Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan

45
BAB 3 UMKM

dunia usaha dapat memberik an hibah, mengusahakan


bantuan luar negeri, dan mengusahakan sumber
pembiayaan lain yang sah serta tidak mengikat untuk
Usaha Mikro dan Kecil(Pasal 2l ayat4).
f. Memberikan insentif datam bentuk kemudahan
persyaratan perizinan, keringanan tarif sarana
prasarana, dan bentuk insentif lainnya yang sesual
dengan ketentuan peraturan perundang -undangan
kepada dunia usaha yang menyediakan pembiayaan
bagi Usaha Mikro dan Kecil (Pasal 21 ayat 5).
g. Meningkatkan sumber pembiayaan Usaha Mikro dan
Usaha Kecil (Pasal 22).
h. Bersama Pemerintah Daerah, meningkatkan akses
Usaha Mikro dan Kecil terhadap sumber pembiayaan
(Pasal 23 ayat 1).
i. Bersama dengan Pemerintah Daerah melakukan
pemberdayaan Usaha Menengah dalam bidang
pembiayaan dan penjaminan (Pasal 24).
j. Bersama Pemerintah Daerah, dunia usaha dan
masyarakat memfasilitasi, mendukung, dan
menstimulasi kegiatan kemitraan, yang saling
membutuhkan, mempercayai, memperkuat, dan
menguntungkan (Pasal 25 ayat 1). Kemitraan antar
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Kemitraan
antara Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan
Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di
bidang produksi dan pengolahan, pemasaran,
permodalan, sumberdaya manusia, dan teknologi
(Pasal 25 ayat 2).
k. Menteri Koperasi dan UKM dan Menteri teknis lain
mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang
melakukan kemitraan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah melalui inovasi dan pengembangan produk
berorientasi ekspor, penyerapan tenaga kerja,

46
BAB 3 UMKM

pengunaan teknologi tepat guna dan ramah


lingkungan, serta menyelen ggarakan pendidikan dan
pelatihan (Pasal 25 ayat 3).
l. Menteri Koperasi dan UKM dapat membentuk lembaga
koordinasi kemitraan usaha nasional dan daerah untuk
memantau pelaksanaan kemitraan (Pasal 34).
m. Melarang Usaha Besar memiliki dan/atau menguasai
Usaha Mikro, Kecil, dan/atau Menengah sebagai mitra
usahanya dalam pelaksanaan hubungan kemitraan
(Pasal 35).
n. Melarang Usaha Menengah memiliki dan/atau
menguasai Usaha Mikro dan/atau Usaha Kecil mitra
usahanya(Pasal 35).
o. Menteri Koperasi dan UKM melaksanakan ko ordinasi
dan pengendalian pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah (Pasal 38 ayat 1).
p. Mengatur dan menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang tata cara pemberian sanksi administratif
pelaggaran UU Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha
Mikro, Kecil dan Menen gah (Pasal 39 ayat 3).
Sehubungan dengan amanat Undang -Undang,
pemerintah melaksanakan berbagai program yang
bertujuan untuk memberdayakan UMKM. Program
tersebut antara lain adalah program Gerakan
Kewirausahaan Nasional (GKN) dan pemberian Kredit
Usaha Rakyat (KUR).
Gerakan Kewirausahaan Nasional bertujuan
memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Meningkatkan semangat dan jiwa kewirausahaan bagi
masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadi
wirausaha yang mandiri handal dan tangguh, serta
memiliki daya saing.
b. Memotivasi agar tumbuh wirausaha baru kreatif,
inovatif dan berwawasan global.

47
BAB 3 UMKM

c. Mampu melakukan interaksi melalui tukar menukar


informasi dan peningkatan kerjasama di segala sektor.
d. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
berwirausaha khusus bagi wirausa ha baru.
e. Mendorong tumbuh dan berkembangnya usaha
koperasi dan UMKM yang dilakukan oleh para pelaku
wirausaha.
f. Mengekspose dan memberikan inspirasi atas
keberhasilan wirausaha dari dalam dan luar negeri dan
diharapkan dapat mendorong tumbuh dan
berkembangnya wirausaha baru.

E. Hambatan dalam Pemberdayaan UMKM di Indonesia


Meskipun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah telah
menunjukkan peranannya dalam perekonomian nasional,
namun masih menghadapi berbagai hambatan dan
kendala, baik yang bersifat internal maupun e ksternal.
Sebagai usaha yang ruang lingkup usahanya dan
anggotanya adalah (umumnya) rakyat kecil dengan modal
terbatas dan kemampuan manajerial yang juga terbatas,
UMKM sangat rentan terhadap masalah -masalah
perekonomian.
Perlu digaris bawahi bahwa lebih d an 51 juta usaha
yang ada, atau lebih dan 99,9% pelaku usaha adalah Usaha
Mikro dan Kecil, dengan skala usaha yang sulit
berkembang karena tidak mencapai skala usaha yang
ekonomis. Dengan badan usaha perorangan, kebanyakan
usaha dikelola secara tertutup, d engan Legalitas usaha dan
administrasi kelembagaan yang sangat tidak memadai.
Upaya pemberdayaan UMKM makin rumit karena jumlah
dan jangkauan UMKM demikian banyak dan luas, terlebih
bagi daerah tertinggal, terisolir dan perbatasan.
Kuncoro (2000) mengungka pkan ada beberapa
kendala yang dialami oleh UMKM dalam menjalankan

48
BAB 3 UMKM

usahanya. Kendala tersebut berupa tingkat kemampuan,


ketrampilan, keahlian, manajemen sumber daya manusia,
kewirausahaan, pemasaran dan keuangan. Lemahnya
kemampuan manajerial dan sumberday a manusia ini
mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan
usahanya dengan baik.
Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi
pengusaha kecil adalah: Pertama, kelemahan dalam
memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa
pasar. Kedua, kelemahan dalam struktur permodalan dan
keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber -
sumber permodalan. Ketiga, kelemahan di bidang
organisasi dan manajemen sumber daya manusia.
Keempat, keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar
pengusaha kecil (sist em informasi pemasaran). Kelima,
iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang
saling mematikan. Keenam, pembinaan yang telah
dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya
kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha
kecil.
Kuncoro juga mengungkapkan bahwa tantangan
yang dihadapi pengusaha kecil dapat dibagi dalam dua
kategori: Pertama, bagi PK dengan omset kurang dari Rp 50
juta umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana
menjaga kelangsungan hidup usahanya. Bagi mereka,
umumnya asal dapat berjualan dengan “aman” sudah
cukup. Mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang
besar untuk ekspansi produksi; biasanya modal yang
diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja.
Bisa dipahami bila kredit dari BPR -BPR, BKK, TPSP
(Tempat Pelayanan Simpan Pinjam -KUD) amat membantu
modal kerja mereka.
Kedua, bagi PK dengan omset antara Rp 50 juta
hingga Rp 1 milyar, tantangan yang dihadapi jauh lebih

49
BAB 3 UMKM

kompleks. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk


melakukan ekspansi usaha lebih lanjut. Berdas arkan
pengamatan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil UGM,
urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh PK jenis
ini adalah:
(1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi
keuangan dan manajemen yang baik karena belum
dipisahkannya kepemilikan dan pengelola an
perusahaan;
(2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat
studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman baik dari
bank maupun modal ventura karena kebanyakan PK
mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit,
agunan tidak memenuhi syarat, dan tingkat b unga
dinilai terlalu tinggi;
(3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena
persaingan dalam merebut pasar semakin ketat;
(4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar
dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan
selera konsumen cepat berubah;
(5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena
adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan
bahan baku, bahan baku berkulaitas rendah, dan
tingginya harga bahan baku;
(6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi
terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor
karena selera konsumen berubah cepat, pasar dikuasai
perusahaan tertentu, dan banyak barang pengganti; (7)
Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga
kerja yang terampil.

---oo0oo---

50
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

BAB 4
STRATEGI DAN
KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN
UMKM

A. Dasar Strategi dan Kebijakan UMKM


B. Strategi Model dan Pengembakan
UMKM
C. Kebijakan Pengembangan UMKM
D. Faktor yang mempengaruhi
Pengembangan UMKM

51
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

STRATEGI DAN KEBIJAKAN


PENGEMBANGAN UMKM

A. Dasar Strategi dan Kebijakan UMKM


Secara umum UMKM dalam perekonomian
nasional memiliki peran :
1. Sebagai pemeran utama dalam kegiatan ekonomi,
2. Penyedia lapangan kerja terbesar,
3. Pemain penting dalam pengembangan perekonomian
lokal dan pemberdayaan masy arakat,
4. Pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta
5. Kontribusinya terhadap neraca pembayaran.
Efendi Ishak, (2005) sebagai pilar perekonomian
nasional, UMKM ternyata bukan sektor usaha yang tanpa
masalah. Dalam perkembangannya, sektor ini justru
menghadapi banyak masalah yang sampai saat ini belum
mendapat perhatian serius untuk mengatasinya. Selain
masalah permodalan yang disebabkan sulitnya memiliki
akses dengan lembaga keuangan karena ketiadaan jaminan
(collateral), salah satu masalah yang dihadapi dan sekaligus
menjadi kelemahan UMKM adalah kurangnya akses
informasi, khususnya informasi pasar. Hal tersebut menjadi
kendala dalam hal pemasaran, karena dengan terbatasnya
akses informasi pasar mengakibatkan rendahnya orientasi
pasar dan lemahnya daya sa ing di tingkat global.
Miskinnya informasi mengenai pasar tersebut,
menjadikan UMKM tidak dapat mengarahkan
pengembangan usahanya secara jelas dan fokus, sehingga
jalannya lambat kalau tidak dikatakan stagnan.

52
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

Dalam menghadapi mekanisme pasar yang makin


terbuka dan kompetitif, penguasaan pasar merupakan
prasyarat untuk meningkatkan daya saing UMKM. Agar
dapat menguasai pasar, maka UMKM perlu mendapatkan
informasi dengan mudah dan cepat, baik informasi
mengenai pasar produksi maupun pasar faktor produksi.
Informasi tentang pasar produksi sangat diperlukan untuk
memperluas jaringan pemasaran produk yang dihasilkan
oleh UMKM. Menurut Effendi Ishak, Informasi pasar
produksi atau pasar komoditas yang diperlukan misalnya
(1) jenis barang atau produk apa yang dib utuhkan oleh
konsumen di daerah tertentu, (2) bagaimana daya beli
masyarakat terhadap produk tersebut, (3) berapa harga
pasar yang berlaku, (4) selera konsumen pada pasar lokal,
regiona, maupun internasional. Dengan demikian, UKM
dapat mengantisipasi berba gai kondisi pasar sehingga
dalam menjalankan usahanya akan lebih inovatif.
Sedangkan informasi pasar faktor produksi juga diperlukan
terutama untuk mengetahui :
1. Sumber bahan baku yang dibutuhkan,
2. Harga bahan baku yang ingin dibeli,
3. Di mana dan bagaimana memperoleh modal usaha,
4. Di mana mendapatkan tenaga kerja yang professional,
5. Tingkat upah atau gaji yang layak untuk pekerja,
6. Di mana dapat memperoleh alat -alat atau mesin yang
diperlukan Informasi pasar yang lengkap dan akurat
dapat dimanfaatkan oleh U MKM untuk membuat
perencanaan usahanya secara tepat, misalnya: membuat
desain produk yang disukai konsumen, menentukan
harga yang bersaing di pasar, mengetahui pasar yang
akan dituju, dan banyak manfaat lainnya. Oleh karena
itu peran pemerintah sangat dipe rlukan dalam
mendorong keberhasilan UMKM dalam memperoleh
akses untuk memperluas jaringan pemasarannya. Selain

53
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

memiliki kemudahan dan kecepatan dalam


memperoleh informasi pasar, UMKM juga perlu
memiliki kemudahan dan kecepatan dalam
mengkomunikasikan atau mempromosikan usahanya
kepada konsumen secara luas baik di dalam maupun di
luar negeri.
Menurut Naisbit, perkembangan ekonomi dunia
akan didominasi oleh usaha kecil dan menengah, negara
yang memiliki jaringan yang kuat pada usaha kecilnya
akan berhasil dalam persaingan dipasar global.
Pengembangan UMKM juga tidak bisa lepas dari
peran LKM (Lembaga Keuangan Mikro), karena LKM
merupakan pihak yang diharapkan mampu memberikan
dukungan kepada UMKM dari sisi permodalan. Berangkat
dari fenomena itu maka salah sa tu syarat pengembangan
UMKM adalah pemberdayaan LKM. Aspek pemberdayaan
LKM meliputi dua aspek, yaitu aspek regulasi dan
penguatan kelembagaaan yang bertujuan untuk
mendorong agar kebijakan yang dikeluarkan oleh LKM
lebih memihak pada UMKM terutama untuk a ksesbilitas
permodalan. Oleh karena itu pemberdayaannya LKM
harus dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan, yang
dapat mendorong peningkatan produktivitas dan daya
saing UMKM, serta menumbuhkan wirusahawan baru
yang tangguh.
Tantangan Pengembangan Us aha Mikro, Kecil -
Menengah (UMKM) sebagai perwujudan konkret ekonomi
rakyat dirasakan strategis untuk dikembangkan, karena
sektor ini mampu menyediakan lapangan kerja yang
mampu menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi sehingga
diharapkan dapat membantu me ningkatkan pendapatan
untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup masyarakat.
Mubyarto menyatakan bahwa ekonomi rakyat adalah
kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh rakyat yang secara

54
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

swadaya mengelola sumberdaya yang dapat dikuasainya


dan ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan
keluarganya. Masalah yang dihadapi dalam
pengembangan UMKM adalah permasalahan internal
usaha mikro kecil dan menengah; rendahnya
profesionalisme sumber daya manusia yang mengelola,
keterbatasan permodalan dan akses terhadap perbank an
dan pasar, kemampuan penguasaaan teknologi yang
rendah, sedangkan permasalahan eksternal ; iklim usaha
yang kurang menguntungkan bagi pengembangan usaha
kecil, kebijakan pemerintah yang belum memihak bagi
pengembangan usaha kecil, kurangnya pembinaaan
manajemen dan peningkatan kualitas sumberdaya
manusia.

B. Strategi Model dan Pengembakan UMKM


Seorang wirausaha yang berhasil, membutuhkan
strategi yang tepat untuk memaksimalkan sumber -sumber
dalam menciptakan suatu nilai terhadap barang dan jasa.
Dalam upaya pengembangan usaha pelaku UMKM melalui
pemberdayaan entrepreneurship dan ekonomi kerakyatan,
maka dirumuskan strategi -strategi yang perlu dilakukan di
antaranya:
1. Penguatan dan Pengembangan Pasar
Selama ini pengusaha UMKM dalam memasarkan
produknya masih terpusat pada tempat atau lokasi
keberadaannya saja. Kalau pun produk yang dihasilkan
memiliki konsumen yang berasal dari daerah yang
berbeda, namun untuk mendapatkannya, konsumen
sendirilah yang langsung mendatangi lokasi dimana
usaha tersebut dijalankan.
Perluasan terhadap zona pasar dengan
mengembangkannya ke wilayah yang belum terlayani
oleh produk serupa merupakan strategi yang efektif,

55
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

mengingat minimnya pesaing yang ada. Namun


demikian kondisi pasar tanpa pesaing bukan
merupakan jaminan akan kebe rhasilan pasar, tentunya
pengusaha harus mengetahui selera, karakter dari
target konsumennya secara tepat, sehingga produk
yang dilempar ke pasar, adalah tepat sasaran. Dengan
demikian maka ketersediaan informasi yang memadai
mengenai kebutuhan akan produk yang dihasilkan
sangat dibutuhkan dalam rangka pengembangan pasar.
Untuk itu maka diperlukan sistem informasi pasar
(market intelligent) yang berfungsi sebagai penyedia
informasi bagi pengusaha tentang kebutuhan dan
kondisi pasar. Informasi tentang pasar ini diperoleh
dari data yang merupakan feedback atas kebijakan
perusahaan.
2. Efisiensi Model Promosi
Dalam hal ini promosi produk memiliki peran yang
dominan. Untuk memperoleh hasil yang maksimal,
promosi harus dilakukan secara profesional dalam
artian pengusaha harus dapat memilih bentuk promosi
yang memiliki efektifitas dan efisiensi tinggi.
Untuk itu beberapa bentuk yang perlu
dilakukan oleh UMKM adalah: Pertama, membuat
website, e-mail atau bener iklan produk melalui
internet. Bentuk promosi secara onl ine seperti ini
cukup efektif dalam daya jangkau konsumen.
Karena dengan biaya yang relatif terjangkau,
dengan berada di tempatnya saja pengusaha dapat
mempromosikan produknya ke seluruh konsumen
maupun perusahaan lain yang berada dalam
jangkauan jaringan internet. Profil dari produk
dapat diakses via online, transaksi dilakukan
melalui transfer rekening dengan kode pembelian

56
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

dan kemudian barang atau produk dikirimkan ke


alamat konsumen. Kelemahan bentuk ini adalah
karena banyaknya perusahaan fiktif yang
bertebaran di dunia maya sehingga menyebabkan
kepercayaan bisnis menjadi rendah. Namun
setidak-tidaknya untuk memperkenalkan produk
dan jenis usaha kepada publik, media ini sangat
efektif untuk dilakukan.
Kedua, turut serta dalam kegiatan pameran.
Pameran merupakan bentuk promosi dimana
pengusaha secara langsung bertemu dengan calon
konsumennya dalam jumlah yang cukup banyak.
Target utama dari pameran ialah bukan
mendapatkan pembelian yang sebanyak -
banyaknya dalam even tersebut, tetapi justru
setelah pameran dilakukan perusahaan dan
produk yang dipamerkan dapat meraup konsumen
sebesarnya-besarnya. Untuk itu desain penampilan
dan pemilihan produk khususnya yang memiliki
keunikan atau yang merupakan keunggulan
produk harus ditampilkan sehingga dapat diterima
oleh konsumen pada saat pameran. Kendala dalam
kegiatan promosi ini adalah karena pengusaha
UMKM rata-rata memiliki kelemahan finansial
sehingga kesulitan dalam hal pembiayaan kegiatan
tersebut khususnya pada persoalan teknis seperti
bentuk, tempat dan lama k egiatan. Komponen
biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan promosi di
luar modal kerja adalah:
 Sewa tempat;
 Biaya administrasi;

57
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

 Biaya pengepakan;
 Biaya pengangkutan dan biaya petugas UMKM
yang ikut dalam pameran (penjaga pameran).
Untuk itu kegiatan prom osi dalam bentuk ini
harus dipersiapkan secara matang melalui
perencanaan strategi model promosi.
Ketiga, Desain kemasan, Umumnya kemasan untuk
produk-produk yang dihasilkan oleh UMKM. Kemasan
yang digunakan masih sekedar memenuhi kebutuhan
fungsionalnya saja. Sedangkan unsur pasar berupa
daya tarik terhadap konsumen dalam desain kemasan
belum menjadi perhatian. Desain kemasan memeliki
kemampuan yang cukup besar dalam mempengaruhi
keputusan pelanggan. Oleh karena itu diperlukan
keseriusan untuk mendesain m odel kemasan yang
menarik di mata pelanggan. Dalam desain kemasan
agar dapat memiliki daya terik terhadap konsumen,
maka faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah
bentuk fisik kemasan, bahan yang digunakan, warna
dan tulisan. Secara keseluruhan desain k emasan harus
memiliki kesan yang mewakili keunggulan produk
yang dijual. Oleh sebab itu dalam desain kemasan
antara bentuk, warna, jenis dan ukuran tulisan harus
konsisten terhadap tema yang sama dari produk.
Sementara bahan yang digunakan untuk kemasan
harus disesuaikan dengan jenis produk. Khususnya
untuk produk ikan asap dan produk makanan lainnya,
tentunya sangat mengutamakan jaminan kesehatan dan
kebersihannya. Jenis bahan yang digunakan ini secara
keseluruhan dipengaruhi oleh kebutuhan waktu
bertahan produk di pasar.
3. Pendampingan dan Pembinaan
Salah satu persoalan yang sering dihadapi oleh
pelaku UMKM adalah kurangnya pendampingan dan

58
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

pembinaan dalam program -program pemberdayaan


UMKM. Akhirnya program -program pemberdayaan
yang dilakukan baik oleh peme rintah, perguruan tinggi
maupun LSM dan lembaga lainnya, tidak dapat
menyentuh dan menjawab akar permasalahan yang
sesungguhnya. Kegiatan pelatihan -pelatihan yang
dilakukan, kebanyakan tidak ditindaklanjuti dengan
pendampingan dan pembinaan secara kontunyu
sehingga hasilnya tidak maksimal.
Di mana-mana setiap pengusaha menginginkan
adanya laba yang memadai dalam usaha yang
dijalankan sehingga dapat menunjang perputaran
usaha. Namun ternyata banyak pengusaha yang
mendapatkan persoalan dalam pencapaian targe t
pendapatan. Akibatnya ketersediaan dana untuk
menjamin keberlangsungan produksi pun mengalami
kekurangan.
Pelaku UMKM sering mengalami persoalan yang
terkait dengan modal. Bahkan seringkali menyalahkan
pemerintah, karena kurang proaktif dalam membantu
menyelesaikan persoalan tersebut. Tapi, hal ini
kelihatannya tidak sebanding dengan data -data di
lapangan terkait program pemodalan bagi UMKM yang
belakangan ini dengan gencar dilakukan oleh lembaga
bantuan keuangan yang ada. Salah satu kelemahan
yang dihadapi oleh pelaku UMKM disebabkan oleh
kurangnya pendampingan dan pembinaan. Pembinaan
di bidang manajemen yang kurang terhadap UMKM
berakibat pada gagalnya program pemberdayaan itu
sendiri. Maka pendampingan dan pembinaan dalam
hal penataan sistem manajemen yang baik dan
proporsional adalah sangat dibutuhkan bagi setiap
pelaku usaha.

59
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

Melalui pendampingan dan pembinaan dijelaskan


fungsi setiap elemen dalam perusahaan. Panduan inilah
yang menjadikan dasar dalam pelaksanaan operasional
perusahaan, agar proses perencanaan, pelaksanaan
dilapangan, evaluasi dan pelaporan dapat dijalankan
dengan baik. Beberapa aspek dalam UMKM yang perlu
mendapatkan pendambingan dan pembinaan antara
lain: (1) Keuangan (penganggaran, laporan, pembelian,
dll), (2) Produksi (pengerjaa n, quality control,
pengepakan, pemilihan bahan baku, dll), (3) Pemasaran
(penerapan strategi pemasaran, kontroling, laporan
penjualan, dll), (4) Operasional (Peraturan Perusahaan,
Budaya Kerja, Jam Kerja, dll) dan (4) SDM (sistem
rekrutmen, penggajian dan tunjangan, dll).
4. Membentuk Keunikan atau Kekhasan sebagai
Keunggulan Produk
Strategi ini menekankan pada upaya perubahan
karakteristik produk yang berbasis pada inovasi dan
kreatifitas. Tujuannya adalah menciptakan karakteristik
produk sehingga memiliki ciri khas khusus (speciality
goods) yang membedakannya dengan produk serupa
yang ada di pasar. Dalam persaingan untuk
mendapatkan tempat dan penerimaan pasar yang
positif maka memiliki produk yang berciri khas khusus
adalah penting dalam karena dengan kar akter yang
berbeda dari produk -produk sejenisnya, membuat
produk yang ditawarkan akan menjadi sebuah varian
tersendiri bagi konsumen. Ini penting dalam proses
pembentukan brand di benak konsumen.
Ciri khusus yang dimiliki produk ini pula
merupakan sebuah n ilai tambah atau keunggulan
produk, karena tentunya tidak dimiliki oleh produk -
produk sejenisnya yang ada di pasar. Dengan
keunggulan yang dimiliki, maka akan memperbesar

60
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

daya tarik pada konsumen untuk membeli produk


tersebut. Kelebihan lain yang juga dipe roleh lewat
strategi ini ialah, produk akan lebih mudah diingat oleh
konsumen sehingga berpeluang menjadi pilihan
pertama bagi konsumen ketika mendatangi pasar. Jika
permintaan mengalami peningkatan, maka akan secara
alamiah meningkat pula harga produk. Pe ningkatan
harga produk ini sesuai dengan perbandingan
perubahan permintaan pasar agar laju pembelian masih
berada pada rasio yang normal sehingga tidak merubah
siklus pasar dan produksi.
Jika tidak ada peningkatan harga produk ketika
permintaan meningkat drastis, maka keadaan ini akan
menyebabkan adanya titik kulminasi atau kejenuhan
permintaan pasar yang berakhir pada berhentinya
permintaan produk. Selanjutnya produksi pun menjadi
tertunda dan mempengaruhi siklus secara keseluruhan.
Adapun beberapa sektor yang dapat dikembangkan
untuk menemukan keunikan produk di antaranya
adalah, Pertama, Menciptakan manfaat, dalam hal ini
pengusaha harus menemukan item tambahan yang
dapat memperkuat atau menambah fungsi atau
manfaat dari produk itu sendiri. Cara ini bisa dilakukan
dengan memadukan beberapa produk lain menjadi
sebuah produk yang lebih variatif.
Kedua, Meningkatkan inovasi. Perusahaan yang
dapat bertahan dalam persaingan pasar jangka panjang,
adalah perusahaan yang selalu melakukan inovasi
terhadap produk yang dihasilkan. Inovasi dapat
dilakukan jika adanya evaluasi mengenai persepsi
konsumen terhadap produk. Dengan menggunakan
data tersebut maka pengusaha akan mengetahui
kekurangan dan kelebihannya menurut konsumen

61
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

sehingga inovasi yang dilakukan dapat ses uai dengan


permintaan.
Ketiga, Beradaptasi dengan lingkungan sosial
ekonomi pelanggan. Langkah ini dilakukan untuk
mendapatkan penerimaan sosial terhadap produk.
Strategi ini bisa berupa desain kemasan, nama, manfaat
dan lain sebagainya, sehingga produk t ersebut bisa
langsung menyesuaikan diri dengan kondisi
permintaan pasar yang ada.
Keempat, Menyediakan sesuatu yang berharga.
Seorang entrepreneur yang berhasil, selalu
memperhatikan nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat.
Dia akan mengetahui manakah hal -hal yang oleh
masyarakat bernilai tinggi. Maka dalam pemilihan jenis
produk, akan memprioritaskan untuk menyajikan apa
yang dianggap bernilai oleh masyarakat atau sekurang -
kurangnya nilai-nilai itu turut tersisipkan di dalam
produk. Dengan menerapkan langka h-langkah di atas
secara konsisten dan berkesinambungan maka
perusahaan akan dapat terus bertahan pada persaingan
pasar dalam jangka panjang.

C. Kebijakan Pengembangan UMKM


1. Kebijakan
Kebijakan merupakan salah satu tahapan penting
dalam siklus kebijakan publ ik. Dengan implementasi atau
penerapan, serangkaian keputusan yang disusun
berdasarkan analisis pada apa yang diharapkan untuk
menuju keadaan yang lebih baik, dalam proses
pelaksanaan mencapai tujuan tersebut.
Wahab menjelaskan bahwa tahap dalam
implementasi kebijakan adalah :

62
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

a) Keluaran kebijakan (keputusan)


Merupakan penterjemahan dari keputusan dalam
bentuk peraturan-peraturan khusus, prosedur
pelaksanaan yang baku atau tetap untuk memproses
kasus tertentu yang terjadi, keputusan penyelesaian
menyangkut perizinan, serta pelaksanaan keputusan
penyelesaian sangketa
b) Kepatuhan kelompok sasaran
Merupakan suatu sikap ketaatan secara konsisten dari
para pelaksana atau pengguna (aparat pemerintah dan
masyarakat) terhadap keluaran kebijakan yang telah
ditetapkan.
c) Dampak nyata kebijakan
Adalah hasil nyata dari perubahan prilaku antara
kelompok sasaran dengan tercapainya tujuan yang
telah digariskan, hal ini berarti bahwa keluaran
kebijakan sudah sejalan dengan undang -undang,
kelompok sasaran patuh, tidak ada p enggrogotan
terhadap pelaksanaan serta peraturan tersebut memiliki
dampak sebab akibat yang tinggi
d) Persepsi terhadap dampak
Yaitu penilaian atau pemahaman yang akan didasarkan
pada nilai-nilai tertentu yang dapat diatur atau
dirasakan manfaatnya oleh kel ompok masyarakat dan
lembaga tertentu terhadap dampak nyata pelaksanaan
suatu kebijakan, yang kemudian menimbulkan upaya
untuk mempertahankan, mendukung, atau merubha
serta merevisi kebijakan
e) Revisi (perbaikan) kebijakan
Yaitu merupakan upaya penyesuaian atau tindak lanjut
terhadap kekeliruan atau kegagalan pelaksana
kebijakan. Dengan jalan merubah secara mendasar
kebijakan tersebut atau hanya memperbaiki aspekdari

63
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

muatan atau isinya yang dinilai menghambat


pencapaian tujuan.

2. Pengembangan UMKM
Kata ”pengembangan” yang dikemukakan oleh J. S.
Badudu sebagaimana tercantum dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia mengandung arti sebagai hal, cara, atau
hasil mengembangkan; sedangkan mengembangkan
sendiri berarti membuka, memajukan, menjadi maju, dan
bertambah baik.
Definisi lain mengenai pengembangan menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalahsebagai berikut :
”Pengembangan merupakan proses, cara, perbuatan
mengembangkan, sedangkan mengembangkan merupakan
perintah selalu berusaha di pembangunan secara bertahap
dan teratur yang menjurus pada sasaran yang
dikehendaki”.
Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa
pengembangan merupakan suatu upaya untuk
meningkatkan segala aspek dalam tubuh organisasi agar
mengarah pada pencapaian tujuan. Adapun pendapat
Amin Widjaja Tunggal yang dikutip dari Wijayanti
mengenai pengembangan yaitu bahwa pengembangan
merupakan suatu usaha yang dilakukan organisasiuntuk
memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang mengacu pada
kemampuan meningkatkan dayatanggap organisasi
terhadap perubahan lingkungan untuk mencapai efisiensi
dan efektivitas. ”Development (pengembangan) adalah
kriteria efektivitas yang mengacu pada kemampuan daya
tanggap organisasi terhadap tuntutan lingkungan pada saat
sekarang danmasa datang”.
Sedangkan menurut Moekijat dala m Wijayanti,
pengertian pengembangan adalahsebagai berikut :
”Pengembangan merupakan setiap usaha untuk

64
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang


maupun yang akan datang, dengan memberi keterangan,
mempengaruhi sikapsikap atau menambah kecakapan”.
Prinsip dan Tujuan Pengembangan UMKM
Menurut Bab II Pasal 4 dan Pasal 5 UU No. 20 tahun 2008
tentang UMKM, prinsip dan tujuan pengembangan UMKM
adalah :
a. Pengembangan UMKM
Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan
kewirausahaan UMKM untuk berkarya dengan
prakarsa sendiri. Mewujudkan kebijakan publik yang
transparan, akuntabel, dan berkeadilan Pengembangan
usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar
sesuai dengan kompetensi UMKM Peningkatan daya
saing UMKM Penyelenggaraan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu
b. Tujuan pengembangan UMKM
Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang
seimbang, berkembang, dan berkeadilan
Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan
UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri
Meningkatkan peran UMKM dalam p embangunan
daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan
pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan
kemisikinan
Arah kebijakan, strategi dan berbagai langkah
strategis untuk menaikkan - kelas UMKM tersebut juga
dilengkapi dengan Norma Standar Operasi onal
Kementerian Koperasi dan UMKM dalam pelaksanaan
program dan kegiatan sebagai berikut:
1. Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya,
seluruh jajaran Kementerian Koperasi dan UKM harus
memperhatikan azas ketaatan dengan mengacu pada
peraturan perundangan yang ada.

65
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

2. Kinerja diukur dengan pencapaian Sasaran Strategis


yaitu:
 Meningkatnya kontribusi UMKM dalam
perekonomian melalui pengembangan komoditas
berbasis koperasi/sentra di sektor -sektor unggulan;
 Meningkatnya daya saing koperasi dan UMKM;
 Meningkatnya wirausaha baru dengan usaha yang
layak dan berkelanjutan; dan d. Meningkatnya
kualitas kelembagaan dan usaha koperasi, serta
penerapan praktek berkoperasi yang baik oleh
masyarakat.
3. Penguatan koperasi dan UMKM difokuskan pada
peningkatan kinerja dan daya s aing koperasi dan
UMKM di sektor-sektor utama yang menjadi prioritas
Presiden melalui Nawa Cita;
 Seluruh upaya pencapaian sasaran kinerja melalui
program, kegiatan, maupun output harus
dilaksanakan melalui keterpaduan dan kerjasama
antar unit dalam proses perencanaan, pelaksanaan
dan monev yang didukung kelengkapan data dan
informasi koperasi dan UMKM;
 Pelaksanaan program dan kegiatan harus
mencakup keseimbangan antara pemihakan dan
pembangunan kemandirian koperasi dan UMKM,
serta bersifat inklusif yang mem perhatikan akses
dan kesempatan yang sama antar kelompok
pendapatan, antar gender, antar wilayah, dan
keberpihakan kepada kelompok/golongan yang
kurang mampu.
 Pelaksanaan program dan kegiatan didukung
kemitraan dan kerjasama strategis dengan
Kementerian/Lembaga/Daerah serta organisasi
masyarakat, organisasi/lembaga profesi, pelaku
usaha, serta kerjasama bilateral dan multilateral

66
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

yang didasarkan pada prinsip kesetaraan dan saling


melengkapi; dan
 Kementerian Koperasi dan UKM mendorong
profesionalisme pelayan an publik dengan
mengembangkan unit-unit pelayanan yang dapat
mandiri, memberikan kontribusi pada Penerimaan
Negara Bukan Pajak, dan secara langsung melayani
kebutuhan masyarakat.

D. Faktor yang mempengaruhi Pengembangan UMKM


1. Kendala Pengembangan UMKM
Masalah yang masih krusial dihadapi oleh UMKM
di antaranya adalah masih rendahnya permodalan. UMKM
masih menghadapi kendala dalam menambah permodalan,
baik untuk modal kerja maupun modal investasi. Dalam
hal ini terdapat keengganan pihak perbankkan dalam
memberikan kredit kepada UMKM. Untuk membantu
permodalan bagi UMKM ini pemerintah telah mewajibkan
kepada perbankan untuk menyalurkan Kredit Usaha
Rakyat (KUR). KUR ditujukan untuk memperluas akses
kredit Perbankan bagi UMKM yang produktif, layak
namun belum bankable.
Ketentuan dalam Program KUR untuk Usaha Mikro
(Menteri Koperasi dan UMKM, 2010) adalah:
a. KUR Mikro dengan plafon kredit maksimal Rp 5 juta.
b. Suku bunga KUR Mikro maksimal 22%
c. KUR Mikro tidak diwajibkan memakai agunan
d. KUR Mikro tidak diperlukan pengec ekan Sistem
Informasi Debitur
e. Pemerintah mentargetkan penyaluran KUR Rp 20
triliun per tahun sampai dengan Tahun 2014.
Kesulitan dalam masalah permodalan, membawa ke
masalah mendasar yang mempengaruhi proses inovasi dan
transformasi UMKM, mengimbas pula pa da kesulitan

67
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

dalam pemasaran terutama dari segi pengenalan pasar,


penentuan harga, negosiasi, serta jalur distribusi dan
penjualan. Di samping itu, pengusaha kecil pada umumnya
tidak dapat mempromosikan produknya melalui media
massa, karena volume pendapat an produksi yang tidak
mampu menutup biaya promosi. Apabila terdapat biaya
promosi, media yang dipilih biasanya yang muruah dan
mencakup daerah yang sempit, seperti radio swasta
daerah, selebaran, atau mobil dengan megaphone.
Kendala lain yang cukup krusi al adalah kesulitan
bahan baku, terutama UMKM di sektor processing, dan
manufacturing. Hal ini dapat terjadi akibat minimnya modal
kerja sehingga semua transaksi harus dilaksanakan dalam
bentuk uang tunai. Misalnya pengusaha garmen kesulitan
untuk memperoleh benang atau pengusaha kecap kesulitan
bahan baku kedelai, karena sedikitnya penawaran atau
kalau ada harganya relative mahal. Di sisi lain, fasilitas
perlengkapan produksi seperti control kualitas, gudang
tempat penyimpanan, alat distribusi sering tidak dimiliki
oleh pengusaha UMKM. Akibat perlengkapan yang kurang
lengkap ini berdampak pada terbatasnya jumlah, jenis dan
variasi produk yang dihasilkan sehingga produk yang
dihasilkan menjadi statis dan tidak mampu lagi untuk
bersaing di pasar.
Berbagai kendala lainnya yang masih sering
ditemui pada UMKM adalah masih rendahnya kualitas
SDM, yang tercermin dari kurang berkembangnya perilaku
kewirausahaan, lemahnya kaderisasi, kreativitas, disiplin,
etos kerja, dan profesionalisme. Berbagai kendala tersebut,
menyebabkan sangat rentannya UMKM dalam
menghadapi persaingan. Pengalaman menunjukkan bahwa
eksistensi UMKM yang teramcam bahkan mati sebelum
bersentuhan dengan iklim liberalisasi perdagangan dunia.

68
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

2. Tantangan UMKM
Lingkungan ekonomi internasional di saat i ni dan
mendatang berubah sangat cepat. Dengan
dikembangkannya Teknologi Informasi (TI), seperti
internet, CD-rom, komunikasi satelit, maka informasi dari
satu negara ke negara lain dalam sekejab dapat berpindah.
Dampak dari percepatan informasi ini, dapat dirasakan
dalam kehidupan ekonomi, keuangan, dan jasa
telekomunikasi.
Dengan demikian, melalui TI usaha bisnis lebih
berpeluang meningkatkan daya saing sekaligus
memenangkan persaingan yang semakin ketat.
Persoalannya, masih sedikit UMKM yang memanfaatkan
TI.
Menurut Eko Wahyudi (Direktur Pembinaan
Koperasi dan UMKM Bappenas), menyatakan bahwa dari
245 ribu unit UMKM potensial di Indonesia, hanya 12%
saja yang sudah memanfaatkan TI. Lemahnya akses
terhadap TI mengakibatkan banyak peluang bisnis tidak
bias dimanfaatkan.
Tantangan lain yang dihadapi oleh UMKM adalah
liberalisasi ekonomi dan globalisasi. Secara formal
liberalisasi di tingkat Asia Tenggara (AFTA) pada tahun
2003, di tingkat Asia Pasifik (APEC) pada tahun 2010, dan
di tingkat dunia pada tahun 2020. Hal ini membawa
sejumlah tantangan bagi pengembangan UMKM, yaitu:
a. Semakin ketatnya persaingan pasar domestic. Produk
UMKM akan semakin bersaing dengan produk luar
negeri. Pesaing luar negeri relative memiliki
keunggulan dalam manajemen, penguasaan te knologi,
sumberdaya manusia, keuangan, akses pasar, dan akses
lainnya.
b. Persaingan tidak hanya di pasar output tetapi juga di
pasar input. Dengan segala keunggulannya, para

69
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

ekspatriat lebih mudah memanfaatkan kekayaan


sumberdaya alam Indonesia, sehingga kek ayaan alam
kita lebih banyak dinikmati oleh asing dari pada bangsa
sendiri.
c. Pemerintah tidak bias bertindak melakukan intervensi
guna melindungi UMKM, baik melalui pemberian
subsidi ataupun proteksi lainnya.
Menteri Koperasi dan UMKM dalam Sidang Pleno
ISEI di Bandung (2010) mengemukakan bahwa tantangan
yang dihadapi UMKM adalah:
 Adanya Globalisasi, dimana persainagn semakin tajam,
termasuk dalam memperoleh sumberdaya.
 Pengembangan UMKM bersifat lintas sektoral/
multidimensi, sehingga membutuhkan perencanaa n
yang sistemik dan partisipatif.
 Menjaga daya saing UMKM sebagai industry kreatif
dengan desain dan kualitas produk melalui aplikasi
iptek dan kewirausahaan.
 Perlu diversifikasi output dan stabilitas pendapatan
Usaha Mikro, agar tidak “jatuh” ke kelompok
masyarakat miskin.
 Mengembalikan koperasi sebagai pilihan kelembagaan
usaha produktif masyarakat yang: (1) mengayomi
kepentingan bersama; dan (2) memberikan nilai
tambah, perbaikan posisi tawar dan peningkatan akses
terhadap sumberdaya produktif.

3. Pemberdayaan UMKM
Pemberdayaan UMKM merupakan bagian integral
dai pembangunan nasional untuk mewujudkan masyarakat
Indonesia yang demokratis, adil dan makmur sesuai
dengan amanat konstitusi UUD 1945.
Pengembangan lingkungan usaha yang kondusif
bagi UMKM dimaksud kan untuk meningkatkan daya saing

70
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

UMKM dengan menciptakan peluang usaha seluas -


luasnya, serta menjamin adanya mekanisme pasar yang
sehat. Dalam rangka penumbuhan lingkungan usaha yang
kondusif bagi UMKM, maka diperlukan serangkaian
kebijakanekonomi makro, kebijakan sektoral dan kebijakan
pembangunan daerah yang saling melengkapi, selaras dan
sinergi dalam rangka memberdayakan UMKM. Kebijakan
pengembangan lingkungan usaha yang kondusif bagi
UMKM tidak berada pada suatu instansi tertentu, dan
cenderung tersebar pada berbagai instansi. Untuk itu,
diperlukan kemampuan advokasi, persuasi dan koordinasi
dengan instansi lain untuk menumbuhkan iklim berusaha
yang kondusif bagi UMKM.

---oo0oo---

71
BAB 4 Strategi dan Kebijakan Pengembang an UMKM

72
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

BAB 5
EKONOMI KREATIF
DAN INOVATIF

A. Pengertian Ekonomi Kreatif dan Inovatif


B. Teori Ekonomi Biaya Transaksi
C. Konsep Masyarakat Ekonomi
D. Pemanfaatan Teknologi

73
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

EKONOMI KREATIF
DAN INOVATIF

A. Pengertian Ekonomi Kreatif dan Inovatif


Era ekonomi kreatif dan inovatif merupakan
pergeseran dari era ekonomi pertanian, era industrialisasi,
dan era informasi. Ekonomi kreatif dan inovatif dapat
dikatakan sebagai sistem transaksi penawaran dan
permintaan yang bersumber pada kegiatan ekonomi yan g
digerakkan oleh sektor industri yang disebut industri
kreatif. Pemerintah menyadari bahwa ekonomi kreatif yang
berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan
mengandalkan keahlian, bakat, dan kreativitas sebagai
kekayaan intelektual adalah harapan bagi ekonomi
Indonesia untuk bangkit, bersaing, dan meraih keunggulan
dalam ekonomi global.
Perkembangan dunia ekonomi saat ini telah
mengalami pergeseran paradigma, yaitu dari ekonomi
berbasis sumber daya menjadi paradigma ekonomi berbasis
pengetahuan dan krea tivitas. Howkins (2001) menyatakan
bahwa kehidupan ekonomi manusia saat ini telah
memasuki era baru yaitu orbit ekonomi pengetahuan atau
orbit ekonomi kreatif (creativity based economy). Keberadaan
Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memegang
peranan penting dalam perekonomian, baik dalam
menyerap tenaga kerja, menyumbang devisa maupun
kontribusinya dalam menyumbang pendapatan daerah
dalam bentuk pajak.
Meningkatnya jumlah pelaku UMKM tentu saja
mengakibatkan adanya persaingan pasar yang semakin
ketat. Bahkan, persaingan antara pelaku UMKM satu

74
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

dengan yang lain pada saat ini sudah meningkat. Setiap


UMKM khususnya pada UMKM berbasis kreativitas
memiliki keunggulan masing -masing dalam bentuk inovasi
dan kreativitas, namun kurangnya perlindungan terhadap
kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh para pelaku
UMKM masih terbatas. Hal ini mengakibatkan masih
sering terjadinya penjiplakan pada produk -produk UMKM
sehingga membuat pelaku UMKM enggan untuk
menggembangkan inovasi dan kreativitas. Oleh karena itu
perlu ada langkah strategis dalam mendorong UMKM
berbasis kreativitas tetap berkembang dengan inovasi dan
kreativitas masing-masing.
Industri kreatif di Indonesia didefinisikan sebagai
industri yang memanfaatkan kapabilitas dan bakat
individu dalam mengkreasi kan ide-ide baru untuk
menyediakan layanan dan produk yang bernilai ekonomis
budaya Indonesia, dimana inovasi dan kreativitas untuk
menciptakan produk produk kreatif bersumber pada
budaya lokal yang telah menjadi milik komunitas. Industri
seperti ini mencakup berbagai industri di sektor kriya,
fashion, dan kuliner yang keberadaannya telah diwariskan
dari generasi ke generasi. Kelompok industri ini
mengembangkan kreativitas dengan memanfaatkan
pengetahuan lokal yang berakar pada kekayaan budaya
yang telah turun temurun ada. Akibatnya, proses kreatif
dan proses untuk memanfaatkan pengetahuan bersifat
“diwariskan” yang seringkali turun kepada kelompok,
komunitas atau keluarga. Sifat ini berbeda dengan industri
kreatif yang pada umumnya sarat dengan pemanfaatan
teknologi media misalnya aplikasi & game developer dan
animasi, film, & video.
Pengertian ini membawa implikasi bahwa industri
kreatif adalah industri yang sarat akan inovasi dan
pemanfaatan teknologi serta pengetahuan baru. Namun

75
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

pada faktanya, situasi i ni tidak sepenuhnya terjadi di


Indonesia. Maka kajian tentang indsutri kreatif perlu untuk
dipertajam dan diperluas agar upaya untuk memfasilitasi,
mendorong dan memperkuat industri kreatif di Indonesia
dapat berjalan dengan baik. Secara umum, industri kre atif
di Indonesia mencakup industri yang telah lama berakar
dalam konteks sosial dan Budaya.

B. Teori Ekonomi Biaya Transaksi


Dalam teori ekonomi, salah satu penyebab
kegagalan pasar adalah adanya biaya transaksi yang tinggi.
Biaya transaksi memiliki beragam definisi yang berbeda
seperti yang telah dikemukakan oleh para ahli diantaranya:
a. Ropke (2000) biaya transaksi terdiri atas biaya mencari
pemasok dari inputnya, biaya informasi mengenai
kualitas dan harga, biaya tawar menawar, biaya
monitor kontrak dengan pemasok input, biaya legal
apabila kontrak dilanggar, kerugian yang mungkin
timbul sebagai akibat investasi pada aset yang sangat
khusus atau spesifik.
b. Mburu (2002) menyebutkan biaya transaksi adalah
biaya untuk pencarian informasi, biaya negosiasi, biaya
pengawasan, pemaksaan ( enforcement) dan biaya
pelaksanaan.
c. Ropke (2000) biaya transaksi terdiri atas biaya mencari
pemasok dari inputnya, biaya informasi mengenai
kualitas dan harga, biaya tawar menawar, biaya
monitor kontrak dengan pemasok input, biaya l egal
apabila kontrak dilanggar, kerugian yang mungkin
timbul sebagai akibat investasi pada aset yang sangat
khusus atau spesifik.
d. Mburu (2002) menyebutkan biaya transaksi adalah
biaya untuk pencarian informasi, biaya negosiasi, biaya

76
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

pengawasan, pemaksaan (enforcement) dan biaya


pelaksanaan.
Biaya Transaksi dapat dikelompokan yaitu :
a. Managerial Transaction Cost
Managerial transaction cost adalah biaya terkait dengan
upaya menciptakan keteraturan, antara lain:
2) Biaya membuat, mempertahankan atau mengubah
rancangan/struktur organisasi, meliputi biaya
personal management , mempertahankan
kemungkinan pengambilalihan pihak lain, public
relation, dan lobby.
3) Biaya menjalankan organisasi, meliputi: biaya
informasi (biaya pembuatan keputusan,
pengawasan pelaksanaa n perintah sesuai
keputusan, mengukur kinerja pegawai, biaya agen,
manajemen informasi) dan juga biaya pemindahan
barang intra perusahaan.
b. Political Transaction Cost
Political transaction cost adalah biaya terkait pembuatan
tata aturan/kelembagaan ( public goods) sehingga
transaksi pasar dan manajerial bisa berlangsung dengan
baik, meliputi:
1) Biaya pembuatan ( setting up) pemeliharaan
pengubahan organisasi politik formal dan informal,
seperti biaya penetapan kerangka hukum, struktur
administrasi pemerintaha n, militer, sistem
pendidikan, pengadilan dll.
2) Biaya menjalankan bentuk pemerintahan, peraturan
pemerintah atau masyarakat yang bertata negara,
seperti biaya legislasi, pertahanan, administrasi
hukum, pendidikan, termasuk didalamnya semua
biaya pencarian/pengumpulan dan pengolahan
informasi yang diperlukan agar tata pemerintahan
dapat berjalan. Biaya upaya pelibatan masyarakat

77
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

dalam proses politik termasuk ke dalam transaksi


politik.
Biaya transaksi digunakan untuk mengukur efisien
atau tidaknya desain ke lembagaan. Semakin tinggi biaya
transaksi maka desain kelembagaan semakin tidak efisien,
semakin rendah biaya transaksi maka desain kelembagaan
semakin efisien. Hambatan dalam penentuan biaya
transaksi yaitu secara teoritis masih belum terungkap
secara tepat definisi biaya transaksi, kesulitan merumuskan
variabel biaya transaksi karena bersifat spesifik, dan
kesulitan dalam menentukan alat pengukuran yang akurat
untuk analisisnya.

C. Konsep Masyarakat Ekonomi


Secara etimologi (bahasa), pengertian ekonomi
adalah aturan rumah tangga atau manajemen rumah
tangga. Sedangkan secara umum, Pengertian ekonomi
adalah salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas
manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi,
konsumsi terhadap barang dan jasa. Seseorang yang
dikatakan sebagai teladan ilmu ekonomi adalah dinamakan
dengan ahli ekonomi atau ekonom. Ekonom adalah orang
yamg menggunakan konsep ekonomi, dan data dalam
bekerja.
Gambaran karakteristik utama masyarakat ekonomi
adalah pasar tunggal dan basis produksi; ka wasan ekonomi
yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan
ekonomi yang adil; dan kawasan yang terintegrasi ke
dalam ekonomi global. Dampak terciptanya masyarakat
ekonomi adalah terciptanya pasar bebas di bidang
permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja.
Konsekuensi atas kesepakatan masyarakat ekonomi yakni
dampak aliran bebas barang bagi negara -negara khususnya
ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas

78
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak


arus bebas modal.
Pemerintah berusaha mengubah paradigma
kebijakan yang lebih mengarah ke kewirausahaan dengan
mengedepankan kepentingan nasional. Untuk bisa
menghadapi persaingan masyarakat ekonomi, tidak hanya
swasta (pelaku usaha) yang dituntut harus siap namun juga
pemerintah dalam bentuk kebijakan yang pro pengusaha.
Negara lain sudah berpikir secara
entrepreneurial (wirausaha), bagaimana agar pemerintah
berjalan dan berfungsi laksana seubah organisasi
entrepreneurship yang berorientasi pada hasil. Maka dengan
momentum masyarakat ekonomi ini sudah tiba saatnya
pemerintah Indonesia mengubah pola pikir lama yang
cenderung birokratis dengan pola pikir entrepreneurship
yang lebih taktis, efektif dan efisien. Sebagai contohnya
adalah kebijakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM)
sebesar Rp 300 triliun (US $ 30 miliar) yang kurang
produktif diarahkan kepada pembiayayaan yang lebih
produktif misalnya investasi infrastruktur.
Dalam bidang Perindustrian, Menteri Perindustrian
memaparkan strategi Kementrian Perindustrian
mengembangkan masyar akat ekonomi yaitu dengan
strategi ofensif dan defensif. Strategi ofensif yang dimaksud
meliputi penyiapan produk -produk unggulan. Dari
pemetaan Kemenperin, produk unggulan dimaksud adalah
industri agro seperti kakao, karet, minyak sawit, tekstil dan
produk tekstil, alas kaki kulit, mebel, makanan dan
minimum, pupuk dan petrokimia, otomotif, mesin dan
peralatan, serta produk logam, besi, dan baja. Adapun
strategi defensive dilakukan melalui penyusunan Standar
Nasional Indonesia untuk produk -produk manufaktur.
Menteri Perdagangan punya langkah -langkah yang
akan dilakukan untuk mengembangkan masyarakat

79
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

ekonomi. Salah satunya adalah mencanangkan Nawa Cita


Kementerian Perdagangan, dengan menetapkan target
ekspor sebesar tiga kali lipat selama lima tahun ke depan .
Cara tersebut bisa dilakukan dengan membangun 5.000
pasar, pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) serta peningkatan penggunaan produk dalam
negeri. Oleh karena itu, industri manufaktur diharapkan
tumbuh dan fokus pada peningkatan kapasitas pr oduksi,
untuk meningkatkan ekspor sampai 2019.

D. Pemanfaatan Teknologi
Pengaruh teknologi dalam kehidupan kita saat ini
memang nggak bisa dihindari. Sekarang, hampir seluruh
kegiatan yang kita lakukan selalu berkaitan dengan
teknologi internet. Mulai dari m emesan makanan, mencari
hiburan, bahkan memesan ojek pun, hampir semua telah
menggunakan teknologi internet.
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mempunyai
peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi dan
industri suatu negara. Usaha kecil penting untuk dik aji
karena mempunyai peranan yang krusial dalam
pertumbuhan ekonomi pada skala nasional dan regional.
Di negara berkembang seperti Indonesia, industri
usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan
salah satu tulang punggung ekonomi negara. Pertumbuhan
UMKM yang meningkat 6% setiap tahun , pertumbuhannya
terus didorong oleh banyak pihak, termasuk pemerintah
dan lembaga swasta yang kerap melakuka n pembinaan
dan pendampingan usaha. Walau begitu, dalam
perkembangannya tentu tak lepas dari masalah.
Permasalahan yang umum ditemui, banyak dari pelaku
usaha masih enggan mengenal teknologi internet untuk
mengembangkan usahanya. Padahal pemanfaatan
teknologi, informasi, dan jaringan internet semakin mudah

80
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

dijangkau dan digunakan bahkan untuk orang awam


sekalipun.
Masyarakat Indonesia memiliki kreativitas yang
beragam, hal itu sangat berpotensi membangun UKM yang
memiliki daya saing tinggi. Hanya saja sebag ian orang
tidak tahu cara membangun suatu produk menjadi dikenal
dan punya potensi pasar yang luas dengan pemanfaatan
teknolgi internet. Kondisi tersebut merupakan kesempatan
yang kini dimanfatkan oleh para penggiat teknologi yang
turut serta membantu para pelaku UMKM mengadaptasi
layanan berbasis teknologi untuk menjalankan pemasaran
secara online,sehingga dari hal ini bisa menciptakan ragam
peluang baru yang menguntungkan.
Sebagai salah satu contohnya, jika pelaku usaha
memiliki produk sebuah kerajinan ta ngan yang unik,
Mereka bisa menjualnya secara online untuk menjaring
lebih banyak pelanggan seperti dengan memanfaatkan
banyak layanan marketplace online seperti: Kaskus,
OLX, BukaLapak, hingga CraftLine yang fokus pada
layanan jual beli kerajinan tangan.
Pelaku usaha tidak perlu mengerti bahasa
pemrograman untuk membuat sebuah situs penjualan,
banyak startup lokal yang menyediakan layanan
pembuatanwebsite dengan harga yang variatif. Melihat
manfaat yang bisa didapatkan dengan memiliki toko online,
tentu saja memberikan tugas baru bagi para pelaku usaha
yang masih asing dengan industri ini. Ada baiknya jika
para pelaku usaha memiliki sedikit pengetahuan dasar
tentang Search Engine Optimizer , keyword, backlink, dan
sebagainya. Karena mempelajari teknologi masa kini
bukanlah sesuatu yang percuma, langkah tersebut
diharapkan oleh pemerintah demi menghadapi pasar
bebas.

81
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

Pertumbuhan positif industri ini jelas memberi


prospek yang menjanjikan. Meskipun begitu, pemerintah
belum banyak campur tangan langsung menaungi industri
digital untuk kelas menengah.
Selain dari pada itu, menggunakan teknologi
mampu menghemat biaya pemasaran yang biasanya
menghabiskan dana cukup besar bagi UMK M. Dengan
melakukan pemasaran secara digital, bisa melakukan
kegiatan pemasaran dengan anggaran biaya yang murah,
tetapi memiliki efektivitas yang sangat tinggi.
Teknologi pengembangan UMKM untuk
mendapatkan informasi bisa dilakukan dengan melakukan
riset dari artikel, sosial media, ataupun bergabung dengan
forum yang membahas topik -topik terkait bidang bisnismu.
Jika hal tersebut belum terasa signifikan bagi
pengembangan bisnismu, di tahap yang lebih kompleks,
kamu bisa menggunakan teknologi berbasis data untuk
mendapatkan informasi dan mengolah data sesuai dengan
kebutuhan UMKM yang kamu rintis.
Dari uraian di atas, manfaat teknologi
pengembangan UMKM tentunya sangat terbatas pada
beberapa saja, sebab teknologi sifatnya terus berkembang.
Oleh karena itu, sangat penting bagi UMKM untuk terus
mengikuti perkembangan teknnologi dan menerapkannya
dalam praktik nyata. Namun demikian, pastikan juga
selalu memanfaatkan teknologi pengembangan UMKM
dengan benar.
1. Adopsi Inovasi Dalam Pemanfaatan Teknologi
Informasi Pada UMKM
Definisi adopsi beragam tergantung pada
konteksnya. Adopsi dapat diartikan sebagai praktik
mengasuh anak yang bukan merupakan keturunannya
(anak secara biologis). Kata adopsi tersebut dapat
dijumpai ketika seseorang hendak mengadopsi anak

82
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

(yakni yang akan diasuh bukan miliknya/anaknya,


melainkan dari orang lain anak tersebut dilahirkan).
Sedangkan inovasi merupakan ide/gagasan, praktek,
atau benda yang dianggap baru oleh individu atau
diadopsi oleh kelompok lain.
Dalam mengadopsi inovasi yang perlu diperhatikan
bahwa terdapat karakteristik inovasi yang kemudian
menjadi pertimbangan oleh banyak individu untuk
memutuskan apakah akan di adopsi atau tidak.
Karakter inovasi antara lain menurut Rogers (1983),
keuntungan relatif ( relative advantage), keserasian
(compatibility), kerumitan (complexity), dapat diuji coba
(trialability), dan dapat dilihat ( observability). Sehingga
adopsi inovasi dapat dikatakan merupakan serangkaian
tahapan penerimaan awal terhadap suatu objek
(inovasi: ide/gagasan yang diangga p baru) hingga
kemudian diterapkan dan digunakan.
2. Pemanfaatan Teknologi Informasi pada UMKM
Sebagai Suatu Inovasi
Sebagai suatu inovasi oleh UMKM tentunya
teknologi informasi memiliki sejumlah keuntungan
diantaranya memberikan peluang memperluas akses
pasar, sebagai media pemasaran, dan masih banyak
lagi. Komputer dan alat komunikasi merupakan bagian
dari teknologi informasi (McKeown, 2009). McKeown
menambahkan bahwa teknologi informasi adalah
teknologi yang digunakan untuk menciptakan,
menyimpan, bertukar, dan menggunakan informasi
dengan beragam cara.
Kemajuan teknologi hingga saat ini berkembang
sangat pesat. Banyak penemuan baru dalam bidang
teknologi menunjukkan begitu cepatnya perkembangan
teknologi, mulai teknologi sederhana hingga teknologi
yang mutakhir. Pemanfaatan teknologi informasi

83
BAB 5 Ekonomi Kreatif dan Inovatif

meningkatkan kualitas hidup, dan mendukung aktifitas


sehari-hari seperti kerja, transportasi, dan hiburan juga
serta berlaku baik pada bisnis dan pemerintahan.
Bentuk teknologi informasi sendiri sangat beragam
seperti komputer, internet, e-mail, web, dan sebagainya.
Dalam sektor ekonomi -bisnis, teknologi informasi
memberikan keuntungan dalam bentuk efektifitas dan
efisiensi. Berdasarkan Silvius (2008) bahwa faktor kunci
dalam mensukseskan perusahaan dalam lingkungan
yang dinamis adalah efektif dan efisien melalui
penggunaan teknologi informasi untuk mendukung
proses dan strategi bisnis.
Dalam pemanfaatan teknologi informasi oleh calon
adopter seringkali dipengaruhi oleh bagaimana fungsi
teknologi informasi dapat memberi kan sejumlah
keuntungan. Namun juga tidak jarang para adopter
mendapati kerumitan dalam proses penggunaan suatu
teknologi. Teknologi informasi sebagai suatu inovasi
maka dalam proses adopsi perlu dipertimbangkan.
Pertimbangan untuk mengadopsi ini dapat dil ihat pada
karakteristik inovasi (teknologi informasi) apakah dapat
diterima atau tidak. Dalam tahapan Nagy merupakan
tahap dimana individu melakukan evaluasi, pernyataan
ketertarikan, dan memilih atau memutuskan apakah
mengadopsi atau tidak suatu inovasi ( teknologi
informasi).
Sebagai suatu inovasi pada UMKM pemanfaatan
teknologi informasi seringkali dihadapkan pada
ketidakpastian, ini tidak terlepas dari kerumitan yang
melekat pada teknologi, tingkatan individu dalam
menerima resiko, kemudian yang sering d itemui adalah
biaya.

---oo0oo---

84
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

BAB 6
KOMPETENSI
DAN KINERJA
PELAKU UMKM

A. Kompetensi
B. Karakteristik Kompetensi
C. Faktor yang Mempengaruhi Kompetensi
D. Kinerja
E. Pengukuran Kinerja
F. Penilaian Kinerja
G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kinerja
H. Tujuan Penilaian Kinerja Karyawan
I. Peran Kompetensi dan Kinerja Pelaku
UMKM di Indonesia

85
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

KOMPETENSI
DAN KINERJA PELAKU
UMKM

A. Kompetensi
Kompetensi berasal dari kata “ competency”
merupakan kata benda yang menurut Powell diartikan
sebagai: 1) kecakapan, kemampuan, kompetensi; 2)
wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang
berarti cakap, mampu, dan tangkas. Pengertian kompetensi
ini pada prinsipnya sama dengan pengertian kompetensi
menurut Stephen Robbin (2007:38) bahwa kompetensi
adalah “kemampuan ( ability) atau kapasitas seseorang
untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan,
dimana kemampuan ini ditentukan oleh 2 (dua) faktor
yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.
Kompetensi menurut Spencer Dan Spencer dalam
Palan (2007) adalah sebagai karakteristik da sar yang
dimiliki oleh seorang individu yang berhubungan secara
kausal dalam memenuhi kriteria yang diperlukan dalam
menduduki suatu jabatan. Kompetensi terdiri dari 5 tipe
karakteristik, yaitu motif (kemauan konsisten sekaligus
menjadi sebab dari tindakan ), faktor bawaan (karakter dan
respon yang konsisten), konsep diri (gambaran diri),
pengetahuan (informasi dalam bidang tertentu) dan
keterampilan (kemampuan untuk melaksanakan tugas).
Hal ini sejalan dengan pendapat Becker and Ulrich
dalam Suparno bahwa competency refers to an individual’s
knowledge, skill, ability or personality characteristics that directly
influence job performance . Artinya, kompetensi mengandung
aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan (keahlian) dan

86
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

kemampuan ataupun karakteristik kepriba dian yang


mempengaruhi kinerja.
Berbeda dengan Fogg yang membagi Kompetensi
kompetensi menjadi 2 (dua) kategori yaitu kompetensi
dasar dan yang membedakan kompetensi dasar ( Threshold)
dan kompetensi pembeda ( differentiating) menurut kriteria
yang digunakan untuk memprediksi kinerja suatu
pekerjaan. Kompetensi dasar ( Threshold competencies ) adalah
karakteristik utama, yang biasanya berupa pengetahuan
atau keahlian dasar seperti kemampuan untuk membaca,
sedangkan kompetensi differentiating adalah kompetensi
yang membuat seseorang berbeda dari yang lain.
Pengertian kompetensi sebagai kecakapan atau
kemampuan juga dikemukakan oleh Robert A. Roe sebagai
berikut: ”Competence is defined as the ability to adequately
perform a task, duty or role. Competence integrate s knowledge,
skills, personal values and attitudes. Competence builds on
knowledge and skills and is acquired through work experience and
learning by doing“ Kompetensi dapat digambarkan sebagai
kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau
tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan,
ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai
pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan
dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan
pembelajaran yang dilakukan.
Secara lebih rinci, Spencer dan S pencer dalam Palan
mengemukakan bahwa kompetensi menunjukkan
karakteristik yang mendasari perilaku yang
menggambarkan motif, karakteristik pribadi (ciri khas),
konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan atau keahlian yang
dibawa seseorang yang berkinerja unggul (superior
performer) di tempat kerja. Ada 5 (lima) karakteristik yang
membentuk kompetensi yakni :

87
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

1. Faktor pengetahuan meliputi masalah teknis,


administratif, proses kemanusiaan, dan sistem.
2. Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang
untuk melakukan suatu kegiatan.
3. Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap, nilai -
nilai dan citra diri seseorang, seperti kepercayaan
seseorang bahwa dia bisa berhasil dalam suatu situasi.
4. Karakteristik pribadi; merujuk pada karakteristik fisik
dan konsistensi tanggap an terhadap situasi atau
informasi, seperti pengendalian diri dan kemampuan
untuk tetap tenang dibawah tekanan.
5. Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis
atau dorongan-dorongan lain yang memicu tindakan.
Pernyataan di atas mengandung makna bahwa
kompetensi adalah karakteristik seseorang yang berkaitan
dengan kinerja efektif dan atau unggul dalam situasi
pekerjaan tertentu. Kompetensi dikatakan sebagai
karakteristik dasar ( underlying characteristic ) karena
karakteristik individu merupakan bagian y ang mendalam
dan melekat pada kepribadian seseorang yang dapat
dipergunakan untuk memprediksi berbagai situasi
pekerjaan tertentu. Kemudian dikatakan berkaitan antara
perilaku dan kinerja karena kompetensi menyebabkan atau
dapat memprediksi perilaku dan ki nerja.
Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2004,
tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)
menjelaskan tentang sertifikasi kompetensi kerja sebagai
suatu proses pemberian sertifikat kompetensi yang
dilakukan secara sistimatis dan objektif melalu i uji
kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi
kerja nasional Indonesia dan atau Internasional.
Menurut Keputusan Kepala Badan Kepegawaian
Negeri Nomor: 46A tahun 2003, tentang pengertian
kompetensi adalah :kemampuan dan karakteristik yang

88
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil berupa


pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang
diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga
Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan
tugasnya secara profesional, efektif dan efisien.
Dari uraian pengertian di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa kompetensi yaitu sifat dasar yang
dimiliki atau bagian kepribadian yang mendalam dan
melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat
diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan
sebagai dorongan untuk mempunyai prestasi dan
keinginan berusaha agar melaksanakan tugas dengan
efektif. Ketidaksesuaian dalam kompetensi -kompetensi
inilah yang membedakan seorang pelaku unggul dari
pelaku yang berprestasi terbatas. Kompetensi terbatas dan
kompetensi istimewa untuk suatu pekerjaan tertentu
merupakan pola atau pedoman dalam pemilihan karyawan
(personal selection), perencanaan pengalihan tugas
(succession planning), penilaian kerja (performance appraisal)
dan pengembangan (development).
Dari pengertian kompetensi tersebut di atas, terlihat
bahwa fokus kompetensi adalah untuk memanfaatkan
pengetahuan dan ketrampilan kerja guna mencapai kinerja
optimal. Dengan demikian kompetensi adalah segala
sesuatu yang dimiliki oleh seseorang berupa pengetahuan
ketrampilan dan faktor-faktor internal individu lainnya
untuk dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan. Dengan kata
lain, kompetensi adalah kemampuan melaksanakan tugas
berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki
setiap individu.

B. Karakteristik Kompetensi
Spencer menjelaskan terdapat lima tipe karakteristik
kompetensi, yaitu sebagai berikut:

89
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

1. Motif adalah suatu yang secara konsisten dipikirkan


atau diinginkan orang yang menyebabkan tindakan.
2. Sifat adalah karakteristik fisik dan respons yang
konsisten terhadap situasi atau informasi.
3. Konsep diri adalah sikap, nilai -nilai, atau citra diri
seseorang.
4. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki seseorang
dalam bidang spesifik.
5. Keterampilan adalah kemampan mengerjakan tugas
fisik atau mental tertentu.
Sedangkan Wibowo menjelaskan ada beberapa tipe
kompetensi yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Planning competency , dikaitkan dengan tindakan
tertentu seperti menetapkan tujuan, menilai resiko dan
mengembangkan urutan tindakan untuk mencapai
tujuan.
2. Influence competency, dikaitkan dengan tindakan seperti
mempunyai dampak pada orang lain, memaksa
melakukan tindakan tertentu atau membuat keputusan
tertentu, dan memberi inspirasi untuk bekerja menuju
tujuan organisasi.
3. Communication competency , dalam bentuk kemampuan
berbicara, mendengarkan orang lain, komunikasi
tertulis dan nonverbal.
4. Interpersonal competency , meliputi, empati, membangun
konsensus, networking, persuasi, negosiasi, diplomasi,
manajemen konflik, menghargai orang lain, dan jadi
team player.
5. Thinking competency, berkenaan dengan, berpikir
strategis, berpikir analitis, berkomitmen terhadap
tindakan, memerlukan kemampuan kognitif,
mengidentifikasi mata rantai dan membangkitkan
gagasan kreatif.

90
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

6. Organizational competency , meliputi kemampuan


merencanakan pekerjaan , mengorganisasi sumber daya
mendapatkan pekerjaan dilakukan, mengukur
kemampuan, dan mengambil resiko yang
diperhitungkan.
7. Human resouces management competency , merupakan
kemampuan dalam bidang, team building, mendorong
partisipasi, mengembangkan bakat, m engusahakan
umpan balik kinerja, dan menghargai keberagaman.
8. Leadership competency , merupakan kompetensi meliputi
kecakapan memosisikan diri, pengembangan
organisasional, mengelola transisi, orientasi strategis,
membangun visi, merencanakan masa depan,
menguasai perubahan dan melopori kesehatan tempat
kerja.
9. Client service competency , merupakan kompetensi
berupa: mengidentifikasi dan menganalisis pelanggan,
orientasi pelayanan dan pengiriman, bekerja dengan
pelanggan, tindak lanjut dengan pelanggan,
membangun patnership dan berkomitmen terhadap
kualitas.
10. Bussines competency, merupakan kompetensi yang
meliputi : manajemen finansial, keterampilan
pengambilan keputusan bisnis, bekerja dalam sistem,
menggunakan ketajaman bisnis, membuat keputusan
bisnis dan membangkitkan pendapatan.
11. Self management competency , kompetensi berkaitan
dengan menjadi motivasi diri, bertindak dengan
percaya diri, mengelola pembelajaran sendiri,
mendemonstrasikan fleksibilitas, dan berinisiatif.
12. Technical/operational competency , kompetensi berkaitan
dengan mengerjakan tugas kantor, bekerja dengan
teknologi komputer, menggunakan peralatan lain,

91
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

mendemonstrasikan keahlian tekhnis dan profesional


dan membiasakan bekerja dengan data dan angka.

C. Faktor yang Mempengaruhi Kompetensi


Michael Zwell dalam Wibowo mengungkapkan
bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
kecakapan kompetensi seseorang, yaitu sebagai berikut:
1. Keyakinan dan nilai-nilai
Keyakinan orang tentang dirinya maupun terhadap
orang lain akan sangat mempengaruhi per ilaku.
Kepercayaan banyak pekerja bahwa manajemen
merupakan musuh yang mencegah mereka melakukan
inisiatif yang seharusnya dilakukan.
2. Keterampilan
Keterampilan memainkan peran di kebanyakan
kompetensi. Berbicara didepan umum merupakan
keterampilan yang dap at dipelajari, dipraktikkan, dan
diperbaiki.
3. Pengalaman
Keahlian dari banyak kompetensi memerlukan
pengalaman mengorganisasi orang, komunikasi
dihadapan kelompok, menyelesaikan masalah, dan
sebagainya.
4. Karakteristik kepribadian
Kepribadian dapat mempengar uhi keahlian manajer
dan pekerja dalam sejumlah kompetensi, termasuk
dalam penyelesaian konflik, menunjukkan kepedulian
interpersonal, kemampuan bekerja dalam tim,
memberikan pengaruh dan membangun hubungan.
5. Motivasi
Motivasi merupakan faktor dalam kompete nsi yang
dapat berubah. Dengan memberikan dorongan,
apresiasi terhadap pekerja bawahan, memberikan
pengakuan, dan perhatian individual dari atasan dapat

92
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

mempunyai pengaruh terhadap motivasi seseorang


bawahan.
6. Isu emosional
Hambatan emosional dapat membatas i penguasaan
kompetensi. Takut membuat kesalahan, menjadi malu,
merasa tidak disukai, atau tidak menjadi bagian,
semuanya cenderung membatasi motivasi dan inisiatif.
7. Kemampuan intelektual
Kompetensi tergantung pada pemikiran kognitif sepeti
pemikiran konseptual dan pemikiran analitis. Tidak
mungkin memperbaiki melalui setiap intervensi yang
diwujudkan suatu organisasi.
8. Budaya organisasi
Budaya organisasi mempengaruhi kompetensi sumber
daya manusia dalam kegiatan seperti: rekrutmen dan
seleksi karyawan,praktik pengambilan keputusan.

D. Kinerja
Kinerja pegawai secara umum adalah sebuah
perwujudan kerja yang dilakukan oleh karyawan yang
biasanya digunakan sebagai dasar atau acuan penilaian
terhadap karyawan didalam suatu organisasi. Kinerja yang
baik merupakan suatu langkah untuk menuju tercapainya
tujuan organisasi oleh karena itu, kinerja juga merupakan
sarana penentu dalam mencapai tujuan organisasi sehingga
perlu diupayakan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Menurut Rivai konsep kinerja adalah perilaku nyata
yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang
dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam
perusahaan.
Sedangkan menurut pendapat Ilyas mengatakan
bahwa pengertian kinerja adalah penampilan, hasil karya
personil baik kualitas, maupun kuantitas penampilan
individu maupun kelompok kerja personil, penampilan
hasil karya tidak terbatas kepada personil yang memangku
93
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

jabatan fungsional maupun struktural tetapi juga kepada


keseluruhan jajaran personil di dalam organisasi.
Berdasarkan dari beb erapa pendapat ahli di atas,
maka dapat ditarik sebuah kesimpulan yakni arti kinerja
merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang dalam
melaksanakan tugas atau beban tanggung jawab menurut
ukuran atau standar yang berlaku pada masing -masing
organisasi.

E. Pengukuran Kinerja
Untuk mengetahui tinggi rendahnya
kinerja seseorang, maka diperlukan suatu pengukuran
kinerja. Pengukuran kinerja menurut Simamora adalah
suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas
pengambilan keputusan dan akuntabilitas.
Menurut Dharma pengukuran kinerja harus
mempertimbangkan hal -hal berikut :
b. Kuantitas
Kualitas yaitu jumlah yang harus diselesaikan harus
dicapai.
c. Kualitas
Kualitas yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik atau
tidaknya).
d. Ketepatan waktu
Ketepatan waktu yaitu sesuai ti daknya dengan waktu
yang direncanakan.

F. Penilaian Kinerja
Setiap perusahaan atau organisasi harus dapat
menyediakan suatu sarana untuk menilai kinerja karyawan
dan hasil penilaian dapat dipergunakan sebagai informasi
pengambilan keputusan manajemen tentan g kenaikan
gaji/upah, penguasaan lebih lanjut, peningkatan
kesejahteraan karyawan dan berbagai hal penting lainnya

94
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

yang dapat mempengaruhi karyawan dalam melaksanakan


pekerjaannya.
Penilaian kinerja sangat berguna untuk menentukan
kebutuhan pelatihan kerj a secara tepat, memberikan
tanggung jawab yang sesuai kepada karyawan sehingga
dapat melaksanakan pekerjaan yang lebih baik di masa
mendatang dan sebagai dasar untuk menentukan kebijakan
dalam promosi jabatan atau penentuan imbalan.
Penilaian kinerja memac u pada suatu sistem formal
dan terstruktur yang digunakan untuk mengukur, menilai
dan mempengaruhi sifat -sifat yang berkaitan dengan
pekerjaan. Menurut Mangkunegara Evaluasi kinerja
adalah penilaian yang dilakukan secara sistematis untuk
mengetahui hasil p ekerjaan karyawan dan kinerja
organisasi.
Ada beberapa metode penilaian kinerja karyawan
dalam suatu organisasi atau perusahaan. Menurut
pendapat Rivai menyatakan bahwa metode yang dapat
digunakan adalah metode penilaian berorientasi masa lalu,
dan metode penilaian berorientasi masa depan. Adapun
penjelasan lengkap dari kedua metode yang dimaksud
Rivai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Metode penilaian berorientasi masa lalu
Ada beberapa metode untuk menilai prestasi kerja
di waktu yang lalu, dan hampir semua teknik tersebut
merupakan suatu upaya untuk meminimumkan
berbagai masalah tertentu yang dijumpai dalam
pendekatan-pendekatan ini. Dengan mengevaluasi
prestasi kerja masa lalu, karyawan dapat mendapat
umpan balik atas upaya -upaya mereka. Umpan balik
ini selanjutnya bisa mengarah kepada perbaikan -
perbaikan prestasi.
Teknik-teknik penilaian dari metode berorientasi
masa lalu ini meliputi sebagai berikut :

95
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

a. Skala peringkat (Rating Scale)


Didalam metode ini para penilai diharuskan
melakukan suatu pe nilaian yang berhubungan
dengan hasil kerja karyawan dalam skala -skala
kerja tertentu, mulai dari yang paling rendah
sampai dengan yang paling tinggi.
b. Daftar pertanyaan (Checklist)
Didalam penilaian berdasarkan metode ini terdiri
dari sejumlah pertanyaan y ang menjelaskan
beraneka ragam tingkat perilaku bagi suatu
pekerjaan tertentu.
c. Metode dengan penilaian terarah ( Forced Choice
Methode)
Didalam metode ini dirancang untuk meningkatkan
objektivitas dan mengurangi subjektivitas dalam
penilaian.
d. Metode peristiwa kritis (Critical Incident Methode )
Didalam metode ini merupakan pemilihan yang
mendasarkan pada catatan kritis penilai atas prilaku
karyawan, seperti sangat baik atau sangat jelek
dalam melaksanakan pekerjaan.
e. Metode catatan prestasi
Didalam metode ini berkaitan erat dengan peristiwa
kritis, yaitu catatan penyempurnaan.
f. Skala peringkat dikaitkan dengan tingkah laku
(Behaviorally Anchore Rating Scale=BARS )
Didalam metode ini merupakan suatu cara
penilaian prestasi kerja satu kurun waktu tertentu
di masa lalu dengan mengaitkan skala peringkat
prestasi kerja dengan perilaku tertentu
g. Metode peninjauan lapangan ( Field Review Methode)
Didalam metode ini, penyelia turun ke lapangan
bersama-sama dengan ahli dari SDM.

96
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

h. Tes dan observasi prestasi kerja ( Comparative


Evaluation Approach)
Didalam metode ini mengutamakan perbandingan
prestasi kerja seseorang karyawan lain yang
menyelenggarakan kegiatan sejenis.
2. Metode Penilaian Berorientasi Masa Depan
Metode ini menggunakan asumsi bahwa karyawan
tidak lagi sebagai obyek penilaian yang tunduk dan
tergantung pada penyelia, tetapi karyawan dilibatkan
dalam proses penilaian. Karyawan mengambil peran
penting bersama-sama dengan penyelia dalam
menetapkan tujuan-tujuan perusahaan.
Teknik-teknik penilaian dari metode berorientasi
masa depan meliputi sebagai berikut :
a. Penilaian diri sendiri ( Self Appaisal)
Perusahaan mengemukakan harapan -harapan yang
diinginkan dari karyawan,tujuan perusahaan, dan
tantangan-tantangan yang dihadapi perusahaan
pada karyawan.
b. Manajemen berdasarkan sas aran (Manajemen By
Objective)
Suatu bentuk penilaian dimana karyawan dan
penyelia bersama-sama menetapkan tujuan -tujuan
atau sasaran-sasaran pelaksanaan kerja di waktu
yang akan datang.
c. Penilaian secara psikologis
Penilaian yang dilakukan oleh ahli psikolo gi untuk
mengetahui potensi karyawan.
d. Pusat penilaian (Assessment Center)
Serangkaian teknik penilaian oleh sejumlah penilai
untuk mengetahui potensi seseorang dalam
melakukan tanggung jawab yang lebih besar.

97
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

Jadi pengertian dari penilaian kinerja adalah cara


untuk menilai atau menentukan nilai kinerja seorang
pegawai atau karyawan.

G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja dari pegawai didalam suatu
organisasi atau perusahaan. Menurut Mangkunegara
(2005:13-14) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kinerja, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Kemampuan (ability)
Secara psikologis, kemampuan (ability) terdiri dari:
a. Kemampuan potensi(IQ)
b. Kemampuan reality (knowledge + skill).
Maksudnya adalah pimpina n dan karyawan yang
memilki IQ di atas rata -rata (IQ 110-120) apalagi IQ
superior, very superior, gifted dan genius dengan
pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan
terampil dalam pekerjaan sehari -hari, maka akan
lebih mudah dalam mencapai kinerja maksi mal.
2. Faktor Motivasi (Motivation)
Motivasi diartikan sebagai suatu sikap (attitude)
pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja
(situation) di lingkungan organisasinya. Mereka yang
bersikap positif (pro) terhadap situasi kerjanya akan
menunjukan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika
mereka bersikap negatif (kontra) terhadap situasi
kerjanya akan menunjukan motivasi kerja yang rendah.
Situasi kerja yang dimaksud mencakup antara lain
hubungan kerja , fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan
pimpinan, pola kepemimpinan kerja, dan kondisi kerja.
Menurut Saparuddin Supervisi kepemimpinan
termasuk dalam salah satu faktor yang mempengaruhi

98
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

kinerja pegawai, karena dengan melakukan supervisi


kepemimpinan berupa:
a. Pembinaan yang terus menerus
b. Pengembangan kemampuan profesional pegawai
c. Perbaikan situasi kerja dengan sasaran akhir
pencapaian peningkatan kinerja bagi pegawai.

H. Tujuan Penilaian Kinerja


Tujuan dari penilaian kinerja adalah untuk
memperbaiki atau meningkatkan kinerja organisasi melalui
peningkatan kinerja sumber daya manusia organisasi.
Menurut Mangkunegara yang mengatakan bahwa tujuan
penilaian kinerja ialah memperbaiki atau mengembangkan
uraian tugas (job description).
Menurut Sendow mengemukakan bahwa terdapat
enam (6) kriteria pokok untuk mengukur kin erja yaitu
sebagai berikut:
1. Quality
Arti dari quality adalah tingkat sejauh mana proses atau
hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan
atau mendekati tujuan yang diharapkan.
2. Quantity
Arti dari quantity adalah jumlah yang dihasilkan,
misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus
kegiatan yang diselesaikan.
3. Timelines
Arti dari timelines adalah tingkat sejauh mana suatu
kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki,
dengan memperhatikan koordinasi output lain serta
waktu yang tersedia untuk ke giatan lain.
4. Cost-effectiveness
Arti dari cost effectiveness adalah tingkat sejauh mana
penggunaan sumberdaya organisasi (manusia,
keuangan, teknologi, material) yang dimaksimalkan

99
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

untuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan


kerugian dari setiap unit p enggunaan sumberdaya.
5. Need for Supervision
Arti dari need for supervision adalah tingkat sejauh mana
seseorang pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi
pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang
supervisor untuk mencegah tinndakan yang kurang
diinginkan.
6. Interpersonal impact
Arti dari interpersonal impact adalah tingkat sejauh mana
karyawan memelihara harga diri, nama baik dan kerja
sama diantara rekan kerja dan bawahan.
Ukuran kinerja atau prestasi kerja secara umum
yang kemudian diterjemahkan kedalam pe nilaian perilaku
secara mendasar menurut Hady Sutrisno meliputi sebagai
berikut:
1. Hasil kerja
2. Pengetahuan pekerjaan
3. Inisiatif
4. Kecekatan mental
5. Sikap dan
6. Disiplin.

I. Peran Kompetensi dan Kinerja Pelaku UMKM di


Indonesia
Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini,
kompetensi menjadi syarat yang harus dipenuhi untuk
meningkatkan daya saing bangsa. Sejalan dengan itu,
Kementerian Koperasi dan UKM RI, terus berupaya
meningkatkan kompetensi SDM di bidang koperasi dan
UMKM, salah satunya melalui kegiatan sertifikas i
kompetensi SDM Koperasi dan UKM. Kegiatan ini berupa
fasilitasi pelatihan serta sertifikasi kompetensi bagi para
pelaku Koperasi serta UMKM. Tujuannya untuk

100
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

meningkatkan daya saing, mengingat pemberlakuan MEA,


sangat berpengaruh kepada banyak masuknya te naga kerja
asing yang mengakibatkan persaingan semakin ketat.
Selain memberi bekal pelatihan dan sertifikasi,
Kementerian Koperasi UKM juga menyarankan agar
pelaku usaha yang sudah mendapatkan pelatihan dan
sertifikasi membentuk usaha koperasi. Pasalnya, manfaat
koperasi bisa memperbesar jaringan dan skala usaha.
Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari
Deputi Bidang Pengemb angan SDM KUKM, Kementerian
Koperasi dan UKM, pada tahun 2017 dari target 5.000 SDM
Koperasi dan UMKM yang tersertifikasi kompetensinya,
sampai dengan pertengahan tahun kurang lebih sudah
1.350 orang yang terfasilitasi uji kompetensi namun hanya
1.024 orang yang lulus kompetensi. Selain itu, Kementerian
Koperasi dan UKM juga melakukan terobosan, yaitu
dengan menargetkan tiap provinsi memiliki Lembaga
Sertifikasi Profesi (LSP) di Bidang Perkoperasian. Upaya ini
dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Nasio nal
Sertifikasi Profesi (BNSP) serta mendorong Pemerintah
Daerah dan pihak swasta agar dapat mendirikan LSP
Perkoperasian di seluruh wilayah Indonesia. Menurut
Deputi Bidang Pengembangan SDM KUKM, Kementerian
Koperasi dan UKM, Prakoso BS, saat ini jumlah L SP
Perkoperasian di Indonesia hanya ada di daerah Jawa
Tengah, Jakarta dan Jawa Timur. Hal ini tentu menjadi
kendala dalam peningkatan kompetensi SDM di bidang
perkoperasian. Pasalnya, jika hanya mengand alkan lima
LSP, maka peningkatan standar kompetensi kepada pelaku
dan pengurus Koperasi sangat memakan waktu yang
terbilang lama untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi.
Adapun ketentuan sertifikasi pengurus dan pengelola
koperasi sudah diputuskan dalam P eraturan Menteri
Koperasi dan UKM No.15 Tahun 2009 Tentang Usaha

101
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

Simpan Pinjam oleh Koperasi. guna mempercepat adanya


pendirian LSP di berbagai daerah tentunya harus ada
upaya dengan cara bekerja sama dengan BNSP, karena
lembaga tersebut yang resmi dari pe merintah untuk
memberikan ijin terhadap pendirian LSP.
Kementerian Koperasi dan UKM mencatat saat ini
ada 62.922.617 unit UMKM. Dengan perincian, usaha mikro
sebanyak 62.106.900 unit (98,70%), usaha kecil 757.090 unit
(1,20%), dan usaha menengah sekitar 58.627 unit.
Sementara usaha besar hanya 5.460 unit. Dengan jumlah
usaha mikro yang mencapai 62.9 juta lebih, maka profesi
pendamping UKM ini menjadi industri tersendiri. Pada
hari Selasa tanggal 24 Juli 2018 diadakan kegiatan ‘Uji
Kompetensi Bagi Konsultan Pendamping UMKM’.
Kegiatan ini bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi
Profesi (LSP) Perkoperasian Indonesia dan Badan Nasional
Sertifikasi Profesi ( BNSP). Sebanyak 40 konsultan
pendamping UMKM mengikuti uji kompetensi. Para
konsultan ini setelah lulus uji kompetensi diharapkan
dapat meningkatkan kapasitas SDM UMKM. Menurut
Abdul Kadir Damanik, Deputi Bidang Restrukturisasi
Usaha Kementerian Koperasi d an UKM, profesi konsultan
pendamping UMKM ini sama pentingnya dengan profesi
lainnya. Profesi yang amat dibutuhkan dalam membangun
karakter SDM UMKM. U ji kompetensi bagi konsultan
pendamping UMKM ini untuk pertama kalinya diadakan.
Jadi, para konsultan yan g ikut uji kompetensi ini menjadi
angkatan pertama, menjadi pionir, yang diharapkan ikut
menyebarkan virus perubahan agar para konsultan lainnya
ikut uji kompetensi ini. Dikatakan pionir, karena memang
secara legal peraturannya baru keluar tahun 2017 pada
tanggal 19 Juni dengan diterbitkannya Keputusan Menteri
Ketenagakerjaan Nomor 181 tahun 2017. Keputusan ini
mengatur tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja

102
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

Nasional Indonesia kategori Aktivitas Profesional, Ilmiah


dan Teknis Golongan Pokok Aktivitas Ka ntor Pusat dan
Konsultasi Manajemen Bidang Pendampingan Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah.
Sebelumnya, pengembangan Pendamping UMKM
ini berawal dari terbitnya Peraturan Menteri Koperasi dan
UKM No: 02/Per/M.KUMKM/I/2016 tanggal 4 Januari
2016 tentanf Pendampingan Koperasi dan Usaha Mikro dan
Kecil. Jadi butuh waktu sekitar 1,5 tahun peraturan
mengenai Uji Kompetensi bagi Konsultan Pendamping
UMKM ini keluar.
Berhubung bidang UMKM ada kementerian yang
mengurusi, maka Menteri Tenaga Kerja memutuskan
pemberlakuan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia) dan penyusunan jenjang kualifikasi nasional
ditetapkan oleh Menteri Koperasi dan UKM sesuai tugas
dan fungsi.
Karenanya, diterbitkanlah Peraturan Menteri
Koperasi dan UKM No: 04 tahun 2018 tentang Kual ifikasi
Nasional Indonesia Bidang Pendamping Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah.
Biaya uji kompetensi ini dibebankan kepada APBN.
Untuk angkatan pertama ini khusus untuk Jakarta dan
Jawa Barat, nantinya uji kompetensi ini juga akan
dilanjutkan di Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Nusa
Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Dikatakan, konsultan pendamping UMKM ini tak
harus berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Yang
penting, memiliki kemampuan teknis dalam memberikan
advokasi dan konsultasi. Harus juga memiliki pe ngetahuan
dan pendidikan, serta keahlian yang memadai.
Selain itu, memiliki network yang baik dengan
pihak perbankan dan asosiasi. Pendamping juga harus
memiliki sikap dan perilaku yang baik dan berintegras,

103
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

serta bersertifikat yang terstandarisasi,”. Peni ngkatan


kapasitas bagi konsultan pendamping UMKM ini penting
untuk membantu usaha naik kelas. Peran pendamping
sangat dibutuhkan dalam memfasilitasi peningkatan
kompetensi SDM UMKM dan menjadikan kegiatan
usahanya tumbuh dan berkembang. Keberhasilan
pendampingan UMKM sangat ditentukan oleh kompetensi
kerja SDM pendamping, baik sebagai konsultan
pendamping UMKM maupun sebagai pengelola lembaga
pendamping KUMKM dengan fokus pemberdayaan pada
usaha mikro yang memiliki asset di bawah Rp50 juta atau
omzet di bawah Rp300 juta per tahun.
Mengapa fokus di UMKM, karena ternyata banyak
UMKM yang membutuhkan pendampingan, hanya saja
mereka tidak sanggup untuk membayar jasa
pendampingan. Nah, melalui konsultasi UMKM ini nanti
jasa pendampingan dibayar setelah terlihat u sahanya
meningkat. Yang misalnya awalnya Rp100 juta, terus
meningkat jadi Rp200 juta, baru konsultan ini dibayar.
Dengan kata lain, kerja dulu baru dibayar.
Uji Kompetensi bagi Konsultan Pendamping
UMKM ini sebagai jawaban permasalahan aspek
pemberdayaan yang dibutuhkan UMKM. Pendekatan
peningkatan kapasitas SDM UMKM ini menjadi inti
penyelesaian keseluruhan permasalahan tersebut,
khususnya upaya peningkatan kapasitas SDM melalui
kegiatan pendamping.Diharapkan pendamping UMKM ini
memiliki peran penting dala m membantu mengembangkan
usaha sehingga harus memiliki kapasitas yang baik dalam
menjalankan perannya.
Sebagai salah satu strategi dalam upaya
meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM)
pada program pendampingan usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM), Kementerian Koperasi dan UKM

104
BAB 6 Kompetensi dan Kinerja

menyiapkan asesor kompeten melalui bimbingan teknis


asesor, pelatihan, dan sertifikasi kompetensi metode
asesmen. Peran pendamping sangat dibutuhkan dalam
memfasilitasi peningkatan kompetensi SDM koperasi dan
UMKM, serta menjadikan usahanya tumbuh dan
berkembang. Keberhasilan pendampingan koperasi dan
UMKM sangat ditentukan oleh kompetensi kerja SDM
pendamping, baik sebagai konsultan pendamping maupun
pengelola lembaga pendamping KUMKM. Kegiatan ini
diikuti oleh 20 peserta dari latar belakang Pendamping
UMKM, Tim Perumus Standar Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia (SKKNI), akademisi, dan praktisi tersebut
mengacu pada SKKNI Pendamping UMKM dan Kualifikasi
Nasional Indonesia Bidang Pendamping UMKM. Materi
yang diberikan di antaranya Kebijakan Badan Nasional
Sertifikasi Profesi (BNSP), Kebijakan Pengembangan Skema
Sertifikasi, Merencanakan dan Mengorganisasikan
Asesmen, Mengembangkan Perangkat Asesmen, dan
Mengasesmen Kompetensi. Dalam pelatihan pendamping
UMKM, telah disusun 1 0 modul pelatihan berbasis
kompetensi (PBK) atas 10 unit kompetensi dari 60 unit
kompetensi pada SKKNI Pendamping UMKM. Ke -10 unit
kompetensi tersebut mencakup unit kompetensi jenjang
atau level IV jabatan Pendamping UMKM. Pada 2017 telah
dilakukan pelatihan bagi pendamping di lima lokasi
dengan peserta 200 orang. Kegiatan yang dilaksanakan
hasil kerja sama Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha
Kementerian Koperasi dan UKM dengan Lembaga
Sertifikasi Profesi (LSP) Perkoperasian Indonesia, dan
BNSP diharapkan b isa membantu pemerintah dalam
penyediaan asesor kompeten dalam metodologi asesmen
sesuai dengan pedoman BNSP.

---oo0oo---

105
Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

Al-arif, M. Nur Rianto. 2011, Dasar-dasar Ekonomi Islam,


Solo: PT Era Adicitra Intermedia

Alwi, Syafarudin., 2008. “ Manajemen Sumber Daya Manusia.


Edisi kedua”. Yogyakarta: BPFE

Dharma, Surya. 2004. Manajemen Kinerja, Falsafah, Teor i dan


Penerapannya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Ishak, Effendi. 2005. Artikel : Peranan Informasi Bagi


Kemajuan UKM. Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta

Islamy, M. Irfan., 2003. “ Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan


Negara”. Jakarta: Bumi Aksara

Karim, Adiwarman A, 2012, Ekonomi Mikro Islami, Jakarta:


PT Raja Grafindo Persada

Meleong, Lexy J. 2007. Metedologi Penelitian Kualitatif .


Bandung: Rosdakarya

Mangkunegara, Anwar Prabu. 2005. Manajemen Sumber


Daya Manusia Perusahaan, Cetakan keenam . Remaja
Rosda Karya: Bandung

106
Daftar Pustaka

Rivai, Veithzal. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia


Untuk Perusahaan, Dari Teori Ke Praktek . PT.
Rajagrafindo Persada: Jakarta

Sendow. 2007. Pengukuran Kinerja Karyawan . Gunung


Agung: Jakarta

Simamora, Hendry. 2004. Manajemen Sumber Daya Manu sia.


STIE.YKPN: Jogjakarta

Soetomo, 2009.Pembangunan Masyarakat . Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Sutrisno, Hadi. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia .


Andi Offset: Yogyakarta

Trisanti, Theresia. 2001. Strategi Pemberdayaan Ekonomi


Kerakyatan pada Saat Krisi s Ekonomi. Manajemen
Usahawan Indonesia. No. 8 Th XX, Agustus

Wahab, Solichin Abdul, 2005. Analisis Kebijakasanaan, Dari


FormulasiKeimplementasi Kebijaksanaan Negara .
Jakarta: Bumi Aksara

Yaslis, Ilyas. 2005. Kinerja, Teori dan Penelitian. Liberty:


Yogyakarta

107
Daftar Istilah

DAFTAR ISTILAH

Ekonomi Kreatif adalah konsep ekonomi yang


mewujudkan nilai tambah produk dan/atau jasa
melalui gagasan yang mengandung orisinalitas
dan intelektualitas, lahir dari kreativitas, dan
berbasis ilmu pengetahuan, keterampilan, atau
warisan budaya dan teknologi.
Kreatif adalah karakteristik yang berhubungan dengan
kemampuan untuk menciptakan karya dan/atau
produk orisinal yang memiliki sifat kebaruan
berdasarkan kecerdasan dan imajinasi.
Industri Kreatif adalah industri yang aktivitas inti nya
mencakup penciptaan nilai tambah melalui ide
yang orisinil dan mengandung unsur kebaruan
dan seringkali berbasis warisan budaya, seni,
media dan kreasi fungsional.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang ekonomi krea tif.
Pengusaha Ekonomi Kreatif adalah orang atau sekelompok
orang yang mengelola usaha dan/atau
memberdayakan produk -produk kreatif.
Pelaku Ekonomi Kreatif adalah orang atau sekelompok
orang yang melakukan aktivitas kreatif dan
inovatif.
Pelaku Ekonomi Kreatif Pemula adalah pelaku aktivitas
dan/atau usaha kreatif yang baru menjalankan
usahanya paling lama 3 tahun setelah berstatus
badan hukum.

108
Daftar Istilah

Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut pemerintah


adalah Presiden Republik Indonesia yang
memegang kekuasaan pemerintahan negara
Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil
Presiden dan Menteri sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah yang
memimpin pelaksanaan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah otonom yang
meliputi provinsi atau kota/kabupaten.
Produk Ekonomi Kreatif adalah hasil karya kreatif yang
bernilai ekonomis.

109